Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN MANAJEMEN KLINIK INFEKSI MENULAR SEKSUAL

KLINIK GRIYA ASA PERIODE JANUARI 2014


PERKUMPULAN KELUARGA BERENCANA INDONESIA (PKBI)
KOTA SEMARANG

Diajukan guna melengkapi tugas kepaniteraan senior


Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro

Disusun oleh:
Gery Rifano

22010112210023
Olivia Bunga P. 22010112210037
Patricia Vanessa 22010112210038
Wicaksono N 22010112210059
Agnesia Nuarima K 22010112210082

PRAKTEK BELAJAR LAPANGAN


BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2014
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Manajemen Klinik Infeksi Menular Seksual Klinik Griya Asa


Periode Januari 2014 Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Kota
Semarang ini telah diseminarkan, diterima, dan disetujui di depan Tim Penilai
PKBI Kota Semarang guna melengkapi tugas kepaniteraan klinik Ilmu Kesehatan
Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang.

Semarang, 5 Februari 2014

Disahkan Oleh:

Pembimbing,

dr. Bambang Darmawan dr. Yoga

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Infeksi Menular Seksual (IMS) atau sexual transmitted diseases (STD)
merupakan penyakit-penyakit yang dapat menular dari satu orang ke orang
yang lain melalui kontak seksual, baik dengan cara genitogenital (alat kelamin
dengan alat kelamin), anogenital (anus dengan alat kelamin), maupun
orogenital (mulut dengan alat kelamin), dan menimbulkan manifestasi klinis
tidak hanya disekitar genital, tetapi bisa secara sistemik dalam tubuh.
Penyakit-penyakit tersebut antara lain Gonorrhae (GO), Sifilis, Chlamydia,
Trichomoniasis, Ulcus Mole (Canchroid), LGV, HIV/AIDS, dan Hepatitis.1
Di Indonesia, angka IMS saat ini cenderung meningkat. Oleh karena
itu, IMS menjadi perhatian khusus bagi Perkumpulan Keluarga Berencana
Indonesia (PKBI) karena berkaitan dengan kesehatan reproduksi. Menurut The
Center for diseae Control and Prevention (CDC) terdapat lebih dari 15 juta
kasus IMS dilaporkan per tahun. Kelompok remaja dan dewasa muda (15 -24
tahun) adalah kelompok umur yang memiliki risiko paling tinggi untuk tetular
IMS, 3 juta kasus baru tiap tahun adalah dari kelompok ini.2
Jumlah kasus baru IMS berdasarkan Profil Kesehatan Provinsi Jawa
Tengah berdasarkan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2012
sebanyak 8.671 kasus, lebih sedikit dibanding tahun 2011 (10.752 kasus).3
Kelompok usia 21 30 tahun adalah kelompok usia dengan kasus terbanyak,
hal tersebut mungkin karena aktifitas seksual pada kelompok umur tersebut
cukup tinggi. Selain itu, kasus IMS yang ada lebih banyak ditemukan pada
perempuan dibandingkan laki laki.1
Untuk wilayah Kota Semarang, salah satu program PKBI Kota
Semarang yang telah dilakukan sejak tahun 2002 dalam rangka mengatasi
permasalahan IMS bersama dengan HIV / AIDS adalah melalui Griya ASA.
Resosialisasi Argorejo atau Sunan Kuning merupakan lokalisasi resmi terbesar

3
di Jawa Tengah, dengan penghuni sekitar 700 orang berdasarkan sensus
penguni SK tahun 2012, di mana separuh diantaranya adalah para pendatang
di kota lain.4 Griya ASA Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI)
Kota Semarang merupakan suatu program dari Lembaga Swadaya
Masyarakat (LSM) PKBI Kota Semarang yang bergerak di bidang Keluarga
Berencana (KB), pencegahan IMS dan HIV/AIDS di kota Semarang.
Tujuannya adalah membantu pemerintah dalam program KB, pencegahan
penularan IMS dan HIV/AIDS yang setiap tahun jumlahnya semakin
meningkat. Salah satu kegiatan Griya ASA adalah menyelenggarakan klinik
IMS, yaitu klinik induk yang berlokasi di resosialisasi Sunan Kuning. Dalam
pelayanannya, klinik IMS juga melakukan pendampingan kelompok risiko
tinggi (WPS, HRM, MSM, waria, dan penasun), antara lain dengan
mewajibkan WPS (Wanita Pekerja Seks) yang bekerja di resosialisasi Sunan
Kuning melakukan skrining IMS setiap 2 minggu sekali, yang disertai dengan
pengobatan dan edukasi mengenai IMS.4
Apabila tidak diobati sejak dini, IMS dapat menimbulkan komplikasi
serius dan berbagai gejala sisa lainnya, seperti infertilitas, gangguan pada
bayi, kehamilan ektopik, kanker di daerah anogenital, kematian dini, serta
infeksi neonatus. Mengingat penularan dan komplikasi yang dapat
ditimbulkannya, perlu dilakukan upaya deteksi dini, pengobatan, dan
pencegahan yang efektif, terlebih karena IMS tidak selalu menunjukkan tanda
atau gejala, baik pada laki-laki maupun perempuan. IMS sering tidak
menunjukkan gejala, terutama pada wanita. Oleh karena itu diperlukan
perhatian khusus terhadap wanita yang berisiko tinggi terkena IMS seperti
wanita pekerja seks.1
Melalui deteksi dini dan penatalaksanaan IMS yang efektif diharapkan
akan menurunkan prevalensi dan mencegah timbulnya komplikasi dan
kelainan lebih lanjut yang menetap, mengurangi penyebaran penyakit di
masyarakat, dan memberikan kesempatan untuk menjangkau kelompok
sasaran dengan melakukan penyuluhan tentang upaya mencegah IMS dan
HIV. Oleh karena hal-hal tersebut diatas, maka laporan ini diharapkan dapat

4
memberikan gambaran mengenai screening IMS di resosialisasi Argorejo,
Klinik PKBI Sunan Kuning Semarang sebagai upaya deteksi dini IMS.

1.2 TUJUAN
Tujuan Umum
Mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian IMS pada WPS
di resosialisasi Sunan Kuning Gang V-VI.
Tujuan Khusus
1. Mengetahui prevalensi kasus IMS pada WPS di resosialisasi Sunan
Kuning Gang V-VI.
2. Menggali permasalahan terkait faktor pelayanan klinik IMS Griya ASA,
pengaruh lingkungan, peran mucikari dan pengurus resosialisasi, serta
perilaku WPS yang mempengaruhi kejadian IMS pada WPS di
resosialisasi Sunan Kuning Gang V-VI.
3. Menyusun usulan pemecahan masalah terkait faktor-faktor yang
mempengaruhi kejadian IMS pada WPS di resosialisasi Sunan Kuning
Gang V-VI.

1.3 SASARAN
Sasaran kegiatan ini adalah petugas Griya ASA serta WPS, mucikari,
dan pengurus resosialisasi yang berada di resosialisasi Sunan Kuning. Ada
pun subjek yang dipilih berasal dari gang V VI resosialisasi Sunan Kuning.

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 INFEKSI MENULAR SEKSUAL (IMS)5


Infeksi menular seksual (IMS) adalah infeksi yang ditularkan melalui
hubungan seksual, yang popular disebut penyakit kelamin. Semua tehnik
hubungan seks lewat vagina, dubur atau mulut bisa menjadi wahana penularan
penyakit kelamin. Baik laki-laki maupun perempuan bisa beresiko tertular
penyakit kelamin. Perempuan beresiko lebih besar untuk tertular karena bentuk
alat reproduksi perempuan lebih rentan terhadap penularan IMS. Sayangnya, 50%
(separuh) dari perempuan yang tertular IMS tidak tahu bahwa sudah tertular.
Setiap orang yang sudah aktif seksual terpapar resiko IMS. Kebanyakan
mengira hanya bisa tertular jika berhubungan seks dengan pekerja seks. Di
Indonesia ISR/IMS yang paling sering trejadi adalah Gonore dan Sifilis. Beberapa
jenis IMS termasuk infeksi HIV/AIDs mungkin baru timbul gejalanya setelah
melewati masa tunas beberapa bulan atau tahun.
IMS tidak dapat dicegah hanya dengan:
Membersihkan alat kelamin setelah berhubungan seksual
Minum jamu
Minum obat antibiotic sebelum dan sesudah berhubungan seksual
Beberapa IMS yang umum terdapat di Indonesia adalah:
Gonore
Sifilis
Klamidia
Herpes genital
Trikomoniasis
Ulkus Mole (Chancroid)
Kutil Kelamin
HIV/AIDS
2.2 PELAYANAN SKRINING KLINIK GRIYA ASA
Definisi Skrining
Skrining adalah pemeriksaan pada orang yang tidak mengeluhkan
gejala penyakit namun berada dalam resiko terkena penyakit (WPS, Waria,
dan MSM) yang dilakukan secara berkala. 6 Yang menjadi sasaran klinik IMS
adalah kelompok resiko tinggi lokalisasi, kelompok resiko tinggi non
lokalisasi yang meliputi panti pijat, pekerja seks panggilan dan pekerja seks
jalanan, klien, dan ODHA. Target program skrining adalah 100% WPS
melakukan skrining 2 minggu sekali, 100% WPS diperiksa secara
laboratorium, dan 100% kasus IMS mendapat pengobatan yang tepat.
Tujuannya adalah untuk menegakkan diagnosis berdasarkan pemeriksan
laboratorium dengan reaksi cepat dan tepat, untuk memonitor pendampingan
yaitu perubahan perilaku kelompok dampingan dengan turunnya angka IMS,
HIV-AIDS. Prinsip pemeriksaannya adalah one day one service, pelayanan
yang nyaman, rahasia, tidak lama. Target skrining untuk para WPS yaitu
skrining setiap 2 minggu sekali, setiap kali WPS datang untuk skrining akan
mendapatkan konseling.
Instruksi Walikota Semarang No. 447/3/2005, tentang penanggulangan
HIV/AIDS:
1. Menggunakan kondom pada setiap aktivitas seksual yang mengandung
risiko tertular HIV/AIDS.
2. Menggunakan jarum suntik steril setiap melakukan penyuntikan maupun
membuat tattoo/tindik tubuh.
3. Melakukan konseling/tes HIV/AIDS secara sukarela untuk pencegahan
dan pengobatan secara dini.

Pelayanan Skrining IMS


- Melakukan pelayanan skrining IMS dalam waktu sehari (One Day Service)
di klinik Griya ASA PKBI Semarang.
- Melakukan pelayanan pengobatan pada pasien skrining yang positif
menderita IMS.
- Melakukan pelayanan konseling kepada pasien yang telah mengikuti
skrining untuk menjaga perilaku seks yang sehat atau menggunakan
kondom setiap berhubungan seks.
- Bekerjasama dengan mucikari dan petugas resosialisasi untuk
mengingatkan seluruh WPS untuk melakukan skrininig IMS sesuai jadwal.
- Melatih beberapa wanita pekerja seks di lingkungan resosialisasi Argorejo
agar dapat menjadi percontohan (PE) bagi rekan sebaya.
- Memberikan pelayanan skrining IMS di Griya ASA PKBI Kota Semarang
setiap hari kerja pada jam kerja.
- Pelayanan skrining, pengobatan, dan konseling dilakukan oleh tenaga
medis yang terlatih.

Waktu Pelayanan
Akses yang adekuat dalam memberikan pelayanan pada kelompok risiko
tinggi dan pasien lain, diperoleh dengan memprioritaskan pelaksanaan jam buka
klinik yang tepat. Pelayanan klinik Griya ASA tersedia hari Senin Jumat, pukul
09.00 15.00 WIB.

2.3 SOP PELAYANAN IMS DI GRIYA ASA


Tujuan : Memberikan panduan pemeriksaan bagi dokter atau paramedis yang
bertugas di ruang pemeriksaan
Penanggungjawab : Dokter dan paramedis
Alat dan Bahan :
- Kursi
- Meja tempat alat dan bahan
- Bedgyn
- Selimut/kain penutup
- Examination lamp
- Speculum
- Anuskopi
- Tripod dan bashin
- Sarung tangan bersih
- Sabun cuci tangan dan air mengalir untuk cuci tangan
- Lubricant
- Senter
- Spatel tongue
- Thermometer
- 2 ember (untuk tempat alat bekas pakai yang telah diisi dengan larutan
hipochloride 0,5% serta larutan air dan sabun cair)
- Tempat sampah limbah medis
- Tempat sampah
Prosedur
Setelah dari ruang administrasi, pasien dipersilakan untuk ke ruang pemeriksaan,
petugas administrasi membawa baki berisi slide dan CM pasien dan menyerahkan
kepada petugas pemeriksaan
1. Kenalkan diri pada pasien dan jelaskan posisi Anda di klinik IMS
2. Menganamnesa keluhan pasien dan mengisi CM
3. Jelaskan pada pasien prosedur yang akan dilakukan, adalah :
i. Tujuan pengambilan sediaan
ii. Cara pengambilan sediaan
iii. Berapa lama harus menunggu hasil
iv. Pasien membuka pakaian dalamnya
v. Menaiki meja pemeriksaan
4. Setelah membuka pakaian dalam, minta pasien untuk naik ke meja
pemeriksaan, bimbing pasien untuk mendapatkan posisi yang baik dalam
melakukan pemeriksaan
5. Tutupi bagian bawah tubuh pasien dengan selimut atau kain untuk membuat
pasien lebih nyaman
6. Tenangkan pasien, beri dukungan, minta pasien untuk rileks dan petugas
memulai pemeriksaan fisik

Pasien Perempuan
- Lakukan pemeriksaan bagian mulut dan kelenjar getah bening yang terkait,
telapak tangan dan telapak kaki
- Inspeksi dan palpasi perut bagian bawah, amati ekspresi pasien apakah tampak
kesakitan
- Inspeksi dan palpasi kelenjar inguinal, apakah ada pembesaran dan atau tanda
radang
- Inspeksi genitalia eksterna, amati adanya kelainan atau gangguan (misal : ada
kutu, luka / ulkus, benjolan dan duh tubuh)
- Lakukan pemeriksaan dengan speculum
- Ambil sediaan
- Keluarkan speculum dan tunjukan kepada pasien apabila ada duh tubuh
- Lakukan pemeriksaan pH
- Lakukan pemeriksaan sniff test/whiff test
- Masukkan speculum yang telah dipakai ke larutan chlorine 0,5%
- Lakukan vaginal toucher, rasakan adanya kelainan atau gangguan, catat
apakah ada nyeri goyang serviks
- Catatan : perlakukan sebelum dan sesudah pemeriksaan, seperti cuci tangan,
dll

Pasien Laki-laki atau Waria


- Minta pasien untuk duduk di tepi tempat tidur dan lakukan pemeriksaan
bagian mulut dan kelenjar getah bening yang terkait, telapak tangan dan kaki
- Kemudian pasien diminta untuk membuka celana / rok dan pakaian dalamnya
- Pasien diminta untuk tidur
- Inspeksi dan palpasi kelenjar inguinal, amati adanya pembesaran dan atau
tanda radang
- Inspeksi dan palpasi penis amati adanya duh tubuh dan kelainan atau
gangguan lain seperti kutil pada orificium uretra eksterna, bagi yang tidak
sirkumsisi buka preputium amati sulkus apakah ada luka, kutil
- Inspeksi dan palpasi scrotum amati adanya kutu, dan kelainan atau gangguan
lain kemudian ditelusuri mulai dari testis bandingkan besarnya antara scrotum
kiri dan kanan, epididimis, saluran sperma
- Bila pasien melakukan seks insertive, tidak terlihat adanya duh tubuh, ajari
pasien untuk melakukan milking
- Ambil sediaan dari ostium urethra eksternum
- Inspeksi daerah sekitar anus apakah ada duh tubuh, luka / bekas luka, benjolan
atau kutil
- Bila pasien melakukan seks receptive, lakukan rectal toucher, lihat adanya
kelainan yang tidak memungkinkan dilakukan anuskopi
- Lakukan pemeriksaan anuskopi
- Ambil sediaan dari anus
- Masukkan anuskopi ke dalam larutan chlorine 0,5%
- Minta pasien untuk memakai pakaiannya kembali
- Minta pasien untuk menunggu hasil
- Catat semua hasil pemeriksaan dan asal specimen (urethra/anus/ cerviks) pada
CM
- Bawa ke ruang laboratorium bersama slide

2.4 PENGOBATAN, KONSELING, DAN RUJUKAN


Pengobatan
Obat-obatan yang digunakan sebaiknya termasuk dalam daftar obat esensial
nasional (DOEN) dan dalam memilih obat-obatan tersebut harus dipertimbangkan
tingkat kemampuan dan pengalaman dari tenaga kesehatan yang ada. Obat yang
digunakan untuk IMS di semua fasilitas pelayanan kesehatan sekurang-kurangnya
memenuhi kriteria sebagai berikut:
1. Angka kesembuhan dan kemanjuran tinggi (sekurang-kurangnya 90% di
wilayahnya)
2. Harga murah
3. Toksisitas dan toleransi yang masih dapat diterima
4. Diberikan dalam dosis tunggal
5. Cara pemberian peroral
6. Tidak merupakan kontra indikasi pada ibu hamil atau menyusui

Konseling
Konseling disiapkan agar dapat dimanfaatkan oleh siapa saja yang
membutuhkan, baik untuk perorangan maupun untuk mitra seksual. Konsultasi
untuk IMS merupakan peluang penting untuk dapat memberikan penyuluhan
tentang pencegahan infeksi HIV dan IMS pada seseorang yang beresiko terhadap
penyakit tersebut. Konseling yang diberikan yaitu seputar perilaku seks yang
aman, penggunaan kondom, penyuluhan untuk mengurangi resiko terhadap
penularan HIV dan aids. Pada umumnya pasien IMS membutuhkan penjelasan
tentang penyakit, jenis obat yang digunakan, dan pesan-pesan yang bersifat
umum. Penjelasan dokter diharapkan dapat mendorong pasien untuk mau
menuntaskan pengobatannya. Dalam memberikan penjelasan biasanya
menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan dimengerti.
Hal-hal yang perlu dijelaskan mengenai IMS yang diderita dan
pengobatannya, diantaranya :
1. Menjelaskan kepada pasien tentang IMS yang diderita dan pengobatan yang
diperlukan, termasuk nama obat dan dosisnya serta cara penggunaannya. Bila
perlu dituliskan secara rinci untuk panduan pasien
2. Memberitahu tentang efek samping pengobatan
3. Menjelaskan tentang komplikasi dan akibat lanjutnya
4. Menganjurkan agar pasien mematuhi pengobatan

Rujukan
Tatalaksana rujukan :
1. Menjelaskan alasan selengkap mungkin kepada pasien
2. Komunikasi antara dokter dengan dokter yang dimintai rujukan
3. Keterangan yang disampaikan sewaktu merujuk harus selengkap mungkin
4. Sesuai kode etik profesi
Biasanya yang dilakukan rujukan yaitu kondilom yang perlu dilakukan
kauter. Rujukan biasanya di RS Kariadi Semarang
BAB III
HASIL PENGAMATAN

3.1. KUNJUNGAN KE WPS


Wawancara dilakukan kepada 6 orang WPS di wilayah Sunan Kuning Gang
V dan VI pada tanggal 30 Januari 2014. WPS tersebut berasal dari kota Semarang (3
orang), dan dari kota Kendal (3 orang). Umur WPS paling muda yang diwawancarai
adalah berusia 22 tahun dan yang paling tua berusia 31 tahun. Dari 6 orang WPS
yang diwawancarai 3 orang menjanda.
Dari WPS yang diwawancarai yang masa kerjanya sebagai WPS paling
singkat 1 orang yaitu bekerja selama 1 tahun, WPS lainnya sudah bekerja lebih dari
2 tahun, dan yang paling lama bekerja sebagai WPS selama 4 tahun.
Alasan bekerja sebagai WPS semua responden (100%) menyatakan karena
alasan ekonomi.
Berdasarkan pendidikannya, 16,67% WPS yang diwawancarai memiliki
pendidikan lulusan SD, 50% nya lulusan SMP, dan 33,33%nya lulusan SMA.
Semua responden (100%) sudah mendapatkan informasi mengenai IMS dan
HIV. Sumber utama semua informasi yang diterima WPS adalah berasal dari
Pertemuan Gedung (sekolah) dan Griya Asa.
Semua WPS yang diwawancarai (100%) sudah pernah periksa/skrining ke
klinik Griya Asa, dan semua responden yang diwawancarai sudah mengetahui
manfaat dari skrining tersebut.
Semua responden yang diwawancarai (100%) melakukan skrining atas
kesadaran diri sendiri, meskipun ada satu WPS yang diwawancarai menyatakan
pertamanya diingatkan oleh bapak asuhnya tapi lama kelamaan melakukan
screening atas kesadaran sendiri.
Semua WPS yang diwawancarai, 6 orang (100 %) melakukan skrining rutin
2 minggu sekali.
Berdasarkan wawancara, dari 6 orang (100%) WPS pernah mendapatkan
pengobatan presumtif berkala. 3 (50%) dari 6 WPS tersebut pernah mendapatkan
obat selain untuk pengobatan presumtif berkala karena infeksi.
Dari 6 WPS yang melakuan skrining yang saat diwawancarai sedang
menderita IMS didapatkan 3 WPS (50 %) yang sedang menjalani pengobatan dari
Girya Asa karena infeksi.
Dari ke 6 WPS yang melakukan skrining di Griya Asa, semuanya (100%)
tidak pernah meminum obat selain yang diberikan oleh Griya Asa.
Semua WPS yang diwawancarai (100%) selain melakukan skrining juga
telah melakukan VCT.
Dari 6 WPS yang diwawancarai 3 WPS (50%) mengaku memiliki kebisaan
minum beralkohol.
Semua WPS yang diwawancarai (6 orang) memiliki kebiasaan membilas
vagina. Berdasarkan informasi dari 6 WPS yang diwawancarai, semua WPS (100%)
menyatakan hanya menggunakan kondom saat dengan pelanggan, tetapi tidak
menggunakan kondom saat berhubungan dengan pacar.

3.2. KUNJUNGAN KE MUCIKARI


Kami melakukan kunjungan kepada 2 orang mucikari dengan inisial nama
masing-masing Tn. W dan Ny. O. Menurut penuturan Tn. W dan Ny. O mereka
mendukung program skrinning IMS dan rajin mengingatkan WPS untuk melakukan
skrining. Beberapa WPS sudah menyadari pentingnya skrining, namun masih
banyak juga yang malas dan enggan melakukan skrining. Hal itu menjadi tugas dan
tanggung jawab mucikari untuk selalu mengingatkan para WPS asuhannya untuk
melakukan skrining dan memantau hasil dari skrining tersebut.
Berdasarkan hasil wawancara, kedua mucikari tersebut mengetahui hasil
skrining anak asuhnya yang positif IMS dan keduanya mengaku selalu memantau
hasil skrining WPS asuhan mereka. Ny.O memberlakukan peraturan kepada anak
asuhnya yang positif IMS untuk libur bekerja minimal 1 minggu sampai dinyatakan
sembuh.

3.3. KUNJUNGAN KE PENGURUS RESOSIALISASI


Data mengenai peran pengurus resosialisasi didapatkan dari wawancara
dengan salah satu pengurus resosialisasi yang bertugas di wilayah Gang V VI,
yaitu Tn. S. Menurut penuturan pengurus resosialisasi, ada tiga masalah utama yang
menjadi perhatian para pengurus, yaitu mengenai kesehatan, keamanan, dan peluang
alih profesi para WPS. Masalah yang akan dibahas dalam laporan tersebut adalah
masalah kesehatan, karena merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
kejadian IMS.
Mengenai masalah kesehatan, pengurus resosialisasi bekerja sama dengan
Griya ASA telah menjalankan beberapa program, antara lain mewajibkan WPS
untuk melakukan skrining IMS tiap 2 minggu, mengadakan kegiatan pembinaan
(sekolah) seminggu sekali, menyediakan kondom, mengadakan senam seminggu
sekali, dan menjatuhkan sanksi bagi WPS yang melanggar aturan.
Skrining IMS dilakukan dengan bantuan dari Griya ASA. Skrining bisa
dilakukan langsung dengan mengunjungi klinik Griya ASA, atau pada saat kegiatan
pembinaan. Selain itu juga dilakukan kunjungan rumah ke rumah untuk menjaring
WPS yang belum melakukan skrining sesuai jadwal yang telah ditentukan.
Kegiatan pembinaan bagi para WPS diadakan seminggu sekali, dengan
pembagian jadwal hari Senin untuk Gang I II, hari Selasa untuk Gang III IV,
hari Rabu untuk WPS yang tinggal di kos, dan hari Kamis untuk Gang V VI.
Dalam kegiatan tersebut, diberikan penyuluhan, pendataan WPS baru,
pengumuman-pengumuman, dan juga diadakan skrining IMS. Materi yang
diberikan saat penyuluhan antara lain adalah kesehatan reproduksi, IMS, HIV /
AIDS, dan lain-lain.
Mengenai penyediaan kondom, pengurus resosialisasi memberikan fasilitas
pengadaan kondom yang dapat dibeli dengan harga Rp 1.000,00 per kondom.
Pembelian dan distribusi kondom kepada para WPS dikelola oleh mucikari dengan
jatah 20 kondom per minggu untuk masing-masing WPS. Selanjutnya, beberapa
WPS yang ditunjuk (petugas peer educated atau PE) melakukan pemantauan rutin
tiap minggu kepada setiap WPS untuk mengetahui sisa kondom yang telah
dibagikan. Hasil ini kemudian dicocokkan dengan jumlah pelanggan untuk
mengetahui tingkat penggunaan kondom. Akan tetapi pemantauan masih sulit
dilakukan untuk WPS yang tinggal di kos (tidak berdomisili di lokasi resosialisasi).
Masalah lain yang dikemukakan adalah tidak semua WPS menggunakan kondom.
Untuk kasus-kasus WPS yang tidak menggunakan kondom, tidak ada sanksi khusus
yang diberikan. Selain itu, pemantauan hanya dilakukan dengan menanyakan
langsung kepada WPS yang bersangkutan, sehingga belum tentu jawaban yang
diperoleh sesuai dengan kondisi yang sesungguhnya.
Penjatuhan sanksi terkait dengan masalah kesehatan yang diberikan antara
lain adalah dengan memberikan teguran/peringatan, memberlakukan sekolah
malam, dan menjatuhkan denda. Jika WPS tidak mengikuti sekolah pagi, maka
WPS tersebut didenda Rp.50.000,00 dan harus mengikuti sekolah malam. Sekolah
malam yang dimaksud adalah mengambil WPS pada jam 8 malam dan
dikembalikan pada jam 3 pagi sehingga WPS yang bersangkutan tidak bisa bekerja
pada jam-jam ramai tersebut. Jika WPS tidak mengikuti senam akan didenda
Rp.50.000,00. Tujuan pemberian sanksi-sanksi tersebut adalah agar WPS menjadi
jera sehingga bisa menjadi lebih disiplin mematuhi peraturan yang ada. Berdasarkan
penuturan pengurus resosialisasi yang diwawancarai, sebagian besar WPS yang
bermasalah adalah WPS yang tinggal di kos (tidak berdomisili di resosialisasi Sunan
Kuning) karena kelompok ini sulit dipantau.

3.4. PENGAMATAN SKRINNING KLINIK IMS GRIYA ASA


Man (SDM)
3 petugas PKBI
1 dokter
1 analis
Sarana prasarana
- Ruang registrasi
- Ruang pemeriksaan : speculum, object glass, cotton applicator, lampu sorot, kertas
pH, handscoon
- Ruang laboratorium : 1 mikroskop
- Ruang dokter
Metoda
Terdapat SOP pengambilan dan pemeriksaan specimen
Cara pengambilan specimen
Pengambilan sampel sekret vagina
a) Pengambilan sampel pasien wanita dilakukan oleh pemeriksa wanita.
b) Menjelaskan kepada pasien mengenai tindakan yang akan dilakukan dan
menganjurkan kepada pasien untuk merasa rileks.
c) Setiap pengambilan sampel untuk masing-masing pemeriksaan harus
menggunakan spekulum/ cotton applicator steril
d) Masukkan daun spekulum cocor bebek steril dalam keadaan tertutup dengan
posisi tegak/ vertikal ke dalam vagina dan setelah seluruhnya masuk, kemudian
putar pelan-pelan sampai daun spekulum dalam posisi datar/ horizontal. Buka
spekulum dan dengan bantuan lampu sorot vagina, cari serviks. Kunci spekulum
pada posisi itu sehingga serviks terfiksasi.
e) Lakukan pemeriksaan serviks, vagina dan pengambilan spesimen
f) Dari forniks posterior dan dinding vagina: dengan cotton applicator steril untuk
pembuatan sediaan, mengoleskan pada objek glass
g) Untuk pemeriksaan pH, setelah cotton applicator dioleskan pada objek glass, juga
dioleskan pada pita pH untuk mengetahui pH vagina
h) Lepas spekulum: kunci spekulum dilepaskan sehingga spekulum dalam posisi
tertutup, putar spekulum 90 derajat sehingga daun spekulum dalam posisi tegak,
dan keluarkan spekulum perlahan-lahan.
Cara pemeriksaan specimen
Pemeriksaan laboratorium dilakukan oleh seorang analis.
i. Keringkan sediaan diudara
ii. Fiksasi dengan melewatkannya diatas api
iii. Genangi/Tetesi sediaan dengan Methylen blue 0.3% - 1% selama 30
detik
iv. Cuci dengan air mengalir
v. Keringkan sediaan
vi. Periksa sediaan dibawah mikroskop dengan lensa objektif 100x
menggunakan minyak imersi untuk melihat adanya lekosit PMN dan
diplokokus intraseluler
vii. Interpretasi hasil:
Lekosit PMN Positif bila:
Ditemukan 30 PMN/lpb (sampel secret wanita)
Ditemukan 5 PMN/lpb (sampel secret uretra/pria)
Diplokokus Positif bila:
Ditemukan 1 Diplokokus Intrasel/100 lpb
Klinik IMS Griya ASA menjangkau WPS di gang IV, V, dan, VI, tetapi tidak
menutup kemungkinan WPS di gang I, II, dan III untuk datang dan memeriksakan
diri di klinik IMS griya ASA. Hal ini dikarenakan WPS yang berada di gang I, II,
dan III merupakan jangkauan dari wilayah kerja Puskesmas setempat.
Peran yang seharusnya dilaksanakan klinik IMS di Sunan Kuning : dapat
mengurangi angka IMS. Pada tanggal 30 Januari 2014, dilaporkan bahwa dari 63
WPS dari Gang V-VI yang melakukan skrining, sebanyak 30 orang ditemukan
hasil laboratorium positif IMS. Hal tersebut bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor,
mulai dari peran mucikari dan pengurus resosialisasi, peran pelayanan klinik IMS,
lingkungan setempat, serta perilaku WPS itu sendiri.
Hubungan klinik IMS dengan tim outreach :
Bekerja sama dalam melakukan penyuluhan kepada WPS, menyediakan pemateri
penyuluhan, melaporkan WPS yang terkena IMS agar tim outreach dapat
melakukan pendekatan personal kepada WPS yang menderita IMS.
Upaya yang dilakukan klinik IMS bila ditemukan WPS dengan episode servisitis
lebih dari 2 kali saat skrining :
Melakukan konseling kepada WPS tersebut, melakukan koordinasi dengan tim
outreach agar melakukan pendekatan personal IRA (Individu Risk Assessment).
Peran yang diharapkan klinik IMS dalam penanggulangan HIV :
dapat berperan dalam terjadinya perubahan perilaku para WPS dalam rangka
mencegah penularan HIV sehingga dapat menurunkan angka HIV/AIDS
Hubungan klinik IMS dengan Dinkes Kota Semarang, dan dengan KPA Kota
Semarang :
Melakukan koordinasi mengenai program-program kesehatan yang dilaksanakan
serta mengenai pelaporan angka IMS dan angka HIV/AIDS

BAB IV
MASALAH

Dari pembahasan fakta yang didapat dari hasil pengamatan yang dilakukan pada
tanggal 30 Januari 2014 3 Februari 2014 terhadap 3 WPS dengan servisitis (+), 3 WPS
dengan servisitis (-), 2 mucikari dan 1 pengurus resosialisasi di Gang V-VI serta petugas
klinik IMS Griya ASA, dan data sekunder dari Griya ASA, diperoleh masalah yang
berkaitan dengan kejadian IMS yakni sebagai berikut:
1. Pemakaian kondom pada WPS di resosialisasi Sunan Kuning belum 100%
2. Tidak dilakukan skrining IMS untuk mitra seksual
3. Kurangnya pengawasan tentang pemakaian kondom dari pengurus resosialisasi dan
petugas PE Sunan Kuning
4. Kurangnya kesadaran dan kepatuhan minum obat 3 orang WPS yang menderita IMS
5. Kurangnya perhatian mucikari terhadap status penyakit IMS dari WPS yang
diasuhnya
BAB V
ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH

Berikut ini adalah pemecahan masalah yang didapat dari hasil pengamatan skrining
Infeksi Menular Seksual Klinik Griya ASA Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia
(PKBI) kota semarang di lokalisasi Sunan Kuning Januari 2014, meliputi sebagai berikut:
1. Meningkatkan sistem pelaporan dan pemantauan penggunaan kondom yang dilakukan
pengurus resosialisasi, petugas PE, dan mucikari serta memberikan sanksi berupa
sekolah pagi bagi WPS yang tidak menggunakan kondom 100%
2. Mewajibkan skrining kepada seluruh mitra seksual (pasangan/pelanggan) WPS yang
datang ke Sunan Kuning di Griya ASA
3. Melakukan pengawasan langsung terhadap jumlah kondom untuk memantau
penggunaan kondom oleh WPS
4. Melakukan sosialisasi kepada mucikari masing-masing wisma untuk mengingatkan
jadwal skrining rutin kepada WPS yang ada di wismanya
5. Melakukan pendekatan personal terhadap mucikari agar lebih giat mengingatkan WPS
untuk minum obat sesuai anjuran dokter dan memberi libur minimal 1 minggu untuk
WPS yang dalam 3 kali skrining terbukti positif IMS
6. Menginformasikan status penyakit IMS WPS yang melakukan skrining kepada
mucikari setiap WPS yang bersangkutan

BAB VI
SIMPULAN DAN SARAN

6.1. SIMPULAN
Dari hasil pengamatan dan wawancara terhadap petugas di Klinik Griya ASA, WPS,
mucikari, dan pengurus resosialisasi didapatkan simpulan sebagai berikut :
1. Terdapat 2 orang WPS menderita IMS dari hasil skrining
2. Kesadaran dan kepatuhan minum obat1 orang WPS yang menderita IMS kurang
3. Terdapat 2 orang WPS yang tidak menggunakan kondom saat berhubungan seks
dengan pacar

Pemecahan masalah yang diusulkan adalah:


1. Melakukan pendekatan personal terhadap mucikari agar lebih giat mengingatkan
WPS untuk minum obat sesuai anjuran dokter
2. Memberikan sangsi kepada WPS yang tidak menggunakan kondom saat
berhubungan seks

6.2. SARAN
Pelaksanaan manajemen skrining IMS di klinik Griya ASA PKBI Kota Semarang
sudah berjalan dengan baik. Disarankan kepada pihak-pihak yang terlibat untuk menjaga
koordinasi yang telah ada agar program skrining rutin dan pengobatan IMS serta KIE
mengenai pentingnya perilaku seksual yang aman dapat terus berjalan. Pengetahuan
pelanggan seks mengenai IMS dan bahayanya juga perlu ditingkatkan agar mereka dapat
memiliki kesadaran untuk menggunakan kondom saat berhubungan seks.