Anda di halaman 1dari 19

STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN ENTITAS TANPA AKUNTABILITAS PUBLIK (SAK

ETAP)

1. Pengertian Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik


Dalam menentukan suatu entitas tergolong dalam entitas tanpa akuntabilitas publik (ETAP) dapat
dilihat dari dua kriteria yaitu :
a. Tidak memiliki akuntabilitas publik yang signifikan
Entitas dengan akuntabilitas publik yang signifikan ialah entitas yang telah mengajukan
pernyataan pendaftaran atau dalam proses pengajuan pernyataan pendaftaran pada
otoritas pasar modal atau regulator lain untuk tujuan penerbitan efek di pasar modal.
Selain itu, entitas juga menguasai aset dalam kapasitas sebagai fidusia untuk
sekelompok besar masyarakat, seperti bank, reksa dana, bank investasi dan masih
banyak lagi.
b. Menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum bagi pengguna eksternal.
Yang dimaksud pengguna eksternal adalah pemilik yang tidak terlibat langsung dalam
pengelolaan usaha, kreditur dan juga lembaga pemeringkat kredit.

2. Pengertian Entitas Nirlaba

Secara harfiah, entitas nirlaba adalah entitas yang tidak bertujuan mencari laba. Terdapat
beberapa undang-undang yang secara langsung mengatur dan mendefinisikan entitas nirlaba
secara khusus, yaitu UU No.28 Tahun 2004 tentang Yayasan dan UU No.2 Tahun 2008 tentang
Partai Politik. Di Indonesia tidak ada peraturan atau UU yang secara khusus mendefinisikan
tentang entitas nirlaba.

Tujuan utama organisasi nirlaba yaitu untuk mendukung isu publik atau kepedulian terhadap
kepentingan umum yang tidak berkaitan dengan aspek komersial, menyangkut masalah bencana
kemanusiaan maupun bencana alam atau hal lain yang relevan. Entitas nirlaba dikelola dengan
beberapa dasar seperti yang dinyatakan oleh Tri Purwanto yaitu kewajaran (fairness),
transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab (responsibility), kebutuhan komunitas (community
needs), inisiatif dan komunikasi.

Karakteristik entitas nirlaba menurut PSAK 45: Pelaporan Keuangan Entitas Nirlaba ialah:
1) Sumber daya berasal dari para penyumbang yang tidak mengharapkan pembayaran
kembali atau manfaat ekonominya sebanding dengan jumlah sumber daya yang
diberikan.
2) Menghasilkan barang atau jasa tanpa tujuan memupuk laba, dan jika entitas
menghasilkan laba maka jumlahnya tidak dibagikan kepada para pendiri atau pemiliki
entitas tersebut.
3) Tidak ada kepemilikan dalam arti bahwa kepemilikan dalam entitas nirlaba tidak dapat
dijual, dialihkanatau ditebus kembali, atau kepemilikan tidak mencerminkan proporsi
pembagian sumber daya pada saat likuidasi atau pembubaran entitas.

3. Pengertian SAK Umum dan PSAK 45


Untuk entitas nirlaba, dapat memilih SAK Umum atau SAK ETAP jika memenuhi kriteria.
PSAK 45: Pelaporan Keuangan Entitas Nirlaba menjadi acuan pelaporan untuk entitas nirlaba
karena laporan keuangan dapat lebih mudah dipahami, memiliki relevansi dan daya banding
yang tinggi.
PSAK 45 merupakan bagian dari SAK Umum. Tetapi, PSAK 45 menyebutkan bahwa pengaturan
yang tidak diatur dalam pernyataan tersebut mengacu pada SAK atau SAK ETAP bagi entitas
yang tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan. Maka entitas nirlaba yang memenuhi
kualifikasi ETAP tetap menggunakan SAK ETAP digabungkan dengan PSAK 45 untuk acuan
format laporan keuangannya.

4. Pengertian Standar Akuntansi Pemerintah


PP 71 Tahun 2010 yang disusun oleh Komite Standar Akuntansi Pemerintah (KSAP) merupakan
standar akuntansi bagi entitas pemerintahan dan entitas yang dikonsolidasikan ke laporan
keuangan pemerintah di Indonesia. Tetapi tidak semua entitas Negara menggunakan SAP. Ada
beberapa entitas, yang sesuai peraturan perundang-undangan diharuskan membuat laporan
keuangan menggunakan SAK Umum.
SAP yang saat ini berlaku menggunakan dua basis yaitu basis modifikasi dan basis akrual. Ini
terjadinya karena adanya masa transisi untuk perubahan selama lima tahun sejak PP 71/2010
dikeluarkan. Setelah masa transisi, seluruh instansi pemerintah menerapkan akuntansi basis
akrual. SAP basis akrual terdiri atas kerangka konseptual dan 12 PSAP.

5. Pengertian Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK


ETAP)
Pada tanggal 17 Juli 2009 lalu, Ikatan Akutansi Indonesia (IAI) menerbitkan Standar Akuntansi
Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK-ETAP), penerapannya secara efektif
pada atau setelah 1 Januari 2011. IAI menerbitkan standar ini dengan tujuan untuk
mempermudah perusahaan kecil dan menengah (UKM) yang saat ini jumlahnya hampir
mencapai 90% dari total perusahaan yang ada di Indonesia, dalam menyusun laporan
keuangannya. Bila standar ini tidak diterbitkan maka pengusaha UKM harus mengikuti SAK
baru yang sedang dalam tahap pengadopsian IFRS-konvergensi penuh pada tahun 2012. SAK
berbasis IFRS ini relatif lebih kompleks dan juga memerlukan biaya mahal untuk
penggunaaannya bagi perusahaan kecil dan menengah untuk menerapkannya dalam bisnis
mereka. Entitas yang memenuhi definisi ETAP diharuskan menggunakan standar ini

Dengan adanya SAK berbasis IFRS, berdampak atas perubahan empat pilar akuntansi di
Indonesia, yaitu :

1. Standar Akuntansi Keuangan berbasis IFRS


2. SAK-ETAP
3. Standar Akuntansi Syariah
4. Standar Akuntansi Pemerintahan

SAK-ETAP mengadopsi sebagian dari IFRS untuk usaha kecil menengah (IFRS for
Small-Medium-sized Entities/SMEs). Dalam definisi IFRS Small and Medium Entities (SMEs)
menurut IFRS diartikan sebagai :

Perusahaan kecil dan menengah adalah perusahaan yang tidak memiliki akuntabilitas
publik.
Menerbitkan laporan keuangan untuk pengguna eksternal.

Alasan SAK ETAP diterbitkan karena ketidakterterapan PSAK berbasis IFRS bagi entitas
kecil dan menengah yaitu :
a. Sulit diterapkannya PSAK berbasis IFRS pada entitas kecil dan menengah karena
penentuan fair value yang memrlukan biaya yang tinggi.
b. Rumitnya implementasi PSAK berbasis IFRS.
c. Penggunaan principle based pada PSAK berbasis IFRS yang membutuhkan banyak
professional judgement.
d. Perlunya dokumentasi dan IT yang kuat pada PSAK berbasis IFRS, yang tidak dimiliki
oleh entitas kecil dan menengah.

PERBEDAAN SAK ETAP DENGAN IFRS


Untuk lebih jelasnya, perbedaan antara SAK-ETAP dengan IFRS dapat dilihat dengan tabel
perbandingan dibawah ini :

No ELEMEN IFRS SAK ETAP


.
1. Sumber - IAS1, - PSAK No.1 (Revisi 1998),
Presentation of Penyajian Laporan
Financial Keuangan
Statements
2. Laporan kinerja - Laporan laba rugi - Laporan laba rugi
keuangan komprehensif
3. Laporan arus kas - Arus kas operasi - Hanya menggunakan
dapat metode tidak langsung
menggunakan
metode langsung
dan metode tidak
langsung
4. Tanggung jawab aas - Ada - Tidak ada
laporan keuangan
5. Komponen laporan - Laporan posisi - Neraca, Laporan laba-rugi,
. keuangan keuangan, laporan laporan perubahan ekuitas,
laba-rugi laporan arus kas, catatan
komprehensif, atas laporan keuangan.
lapotan perubahan
ekuitas, laporan
arus kas, catatan
atas laporan
keuangan.

6. Ruang Lingkup SAK ETAP

SAK ETAP dimaksudkan untuk digunakan entitas tanpa akuntabilitas publik, yaitu:

a. Tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan; dan


b. Menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum (general purposed financial
statement) bagi pengguna eksternal.

Entitas yang memiliki akuntabilitas publik signifikan dapat menggunakan SAK ETAP jika
otoritas berwenang membuat regulasi mengizinkan penggunaan SAK ETAP.
Konsep dan Prinsip Pervasif

Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi posisi keuangan, kinerja keuangan, dan
laporan arus kas suatu entitas yang bermanfaat bagi sejumlah besar pengguna dalam
pengambilan keputusan ekonomi oleh siapapun yang tidak dalam posisi dapat meminta laporan
keuangan khusus untuk memenuhi kebutuhan informasi tertentu.

Karakteristik kualitatif informasi dalam Laporan Keuangan terdiri dari:

- Dapat dipahami - Pertimbangan sehat


- Relevan - Kelengkapan
- Materialitas - Dapat dibandingkan
- Keandalan - Tepat waktu
- Substansi mengungguli bentuk - Keseimbangan antara biaya dan
manfaat

Posisi keuangan suatu entitas terdiri dari asset, kewajiban, dan ekuitas pada suatu waktu tertentu.
Sedangkan, kinerja keuangan adalah hubungan antara penghasilan dan beban dari entitas
sebagaimana disajikan dalam laporan laba rugi. Pengakuan suatu unsur laporan keuangan
merupakan proses pembentukan suatu pos dalam neraca atau laporan laba rugi yang memenuhi
definisi suatu unsur dan memenuhi kriteria sebagai berikut:

1. Ada kemungkinan bahwa manfaat ekonomi yang terkait dengan pos tersebut akan
mengalir dari atau ke dalam entitas; dan
2. Pos tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal.

Dasar pengakuan yang umum adalah biaya historis dan nilai wajar. Dalam hal tidak ada suatu
pengaturan tertentu dalam SAK ETAP untuk transaksi atau peristiwa lain, SAK ETAP
memberikan panduan untuk membuat pertimbangan dan menetapkan hirarki yang diikuti oleh
entitas dalam memutuskan kebijakan akuntansi yang sesuai dalam keadaan tersebut. Pada tingkat
kedua hirarki tersebut mensyaratkan entitas untuk menggunakan prinsip pengakuan dan
pengukuran pervasif. Entitas harus menyusun laporan keuangan, kecuali laporan arus kas,
dengan menggunakan dasar akrual. Saling hapus tidak diperkenankan atas asset dengan
kewajiban, atau penghasilan dengan beban, kecuali diyaratkan atau diizinkan oleh SAK ETAP.

7. Penyajian Laporan Keuangan Menurut SAK ETAP


Laporan keuangan menyajikan dengan wajar posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas
suatu entitas. Pengungkapan tambahan diperlukan ketika kepatuhan atas persyaratan tertentu
dalam SAK ETAP tidak memadai bagi pemakai untuk memahami pengaruh dari transaksi
tertentu, peristiwa dan kondisi lain atas posisi keuangan dan kinerja keuangan tertentu. Entitas
yang laporan keuangannya mematuhi SAK ETAP harus membuat suatu persyaratan eksplisit dan
secara penuh atas kepatuhan tersebut dalam catatan atas laporan keuangan.

Pada saat menyusun laporan keuangan, manajemen entitas yang menggunakan SAK ETAP
mempunyai penilaian atas kemampuan entitas melanjutkan kelangsungan usaha. Ketika entitas
tidak menyusun laporan keuangan berdasarkan asumsi kelangsungan usaha, fakta tersebut harus
diungkapkan, bersama dengan dasar penyusunan laporan keuangan dan alasan mengapa entitas
tidak dianggap mempunyai kelangsungan usaha. Entitas menyajikan secara lengkap laporan
keuangan minimum satu tahun sekali.

Penyajian dan klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan antarperiode harus konsisten. Jika
penyajian atau pengklasifikasian pos-pos dalam laporan keuangan diubah, entitas harus
mereklasifikasi jumlah komparatif, kecuali jika reklasifikasi tidak praktis. Informasi harus
diungkapkan secara komparatif dengan periode sebelumnya kecuali dinyatakan lain oleh SAK
ETAP. Pos-pos yang material disajikan terpisah dalam laporan keuangan. Sedangkan, yang tidak
material digabungkan dengan jumlah yang memiliki sifat atau fungsi yang sejenis. Kelalaian
dalam mencantumkan atau kesalahan dalam mencatat suatu pos dianggap material jika baik
secara individual maupun bersama-sama dapat mempengaruhi pengguna laporan dalam
pengambilan keputusan ekonomi.

Laporan keuangan entitas meliputi:

1. Neraca
2. Laporan laba rugi
3. Laporan perubahan ekuitas
4. Laporan arus kas, dan
5. Catatan atas laporan keuangan yang berisi ringkasan kebijakan akuntansi yang
signifikan dan informasi penjelasan lainnya.

Berikut ini adalah penjelasan dari masing-masing laporan keuangan.

1. Neraca
Informasi yang disajikan dalam neraca menurut SAK ETAP minimal mencakup:

a. Kas dan setara kas a. Asset tidak berwujud


b. Piutang usaha dan piutang lainnya b. Utang usaha dan utang lainnya
c. Persediaan c. Asset dan kewajiban pajak
d. Properti investasi d. Kewajiban diestimasi
e. Asset tetap e. Ekuitas.

SAK ETAP tidak menentukan format atau urutan terhadap pos dalam neraca. Entitas
harus menyajikan asset lancar dan asset tidak lancar, kewajiban jangka pendek dan
kewajiban jangka panjang, sebagai suatu klasifikasi yang terpisah dalam neraca, kecuali
jika penyajian berdasarkan likuiditas memberikan informasi yang andal dan lebih
relevan. Informasi yang disajikan di Neraca atau Catatan Atas Laporan Keuangan secara
substantif sama dengan pengaturan dalam PSAK

2. Laporan Laba Rugi


Laporan laba rugi menurut SAK ETAP minimal mencakup:
a. Pendapatan
b. Beban keuangan
c. Bagian laba atau rugi dari investasi yang menggunakan metode ekuitas
d. Beban pajak
e. Laba atau rugi neto.

Entitas tidak boleh menyajikan atau mengungkapkan pos pendapatan dan beban sebagai
pos luar biasa, baik dalam laporan laba rugi maupun catatan atas laporan keuangan.
Analisis beban dalam SAK ETAP secara substantif serupa dengan pengaturan di PSAK
1, dimana entitas menyajikan analisis beban dalam suatu klasifikasi berdasarkan sifat atau
fungsi beban dalam entitas, mana yang memberikan informasi yang lebih andal dan
relevan.

Selain itu, perbedaan utama SAK ETAP dengan PSAK dalam laporan laba rugi ini adalah
tidak digunakannya istilah penghasilan komprehensif lain dalam nama laporan laba
rugi di SAK ETAP. Hal ini disebabkan SAK ETAP memang tidak mengatur tentang
penghasilan komprehensif lain sehingga item tersebut tidak muncul dalam laporan laba
rugi.

3. Laporan Perubahan Ekuitas dan Laporan Laba Rugi dan Saldo Laba
Entitas menyajikan Laporan perubahan ekuitas yang menunjukkan:
a. Laba atau rugi untuk periode;
b. Pendapatan dan beban yang diakui langsung dalam ekuitas;
c. Untuk setiap komponen ekuitas, pengaruh perubahan kebijakan akuntansi dan
koreksi kesalahan yang diakui sesuai dengan ketentuan mengenai kebijakan
akuntansi, estimasi, dan kesalahan dalam SAK ETAP.
d. Untuk setiap komponen ekuitas, suatu rekonsiliasi antara jumlah tercatat awal dan
akhir periode.

Laporan laba rugi dan saldo laba merupakan laporan yang khas dalam SAK ETAP.
Laporan ini terkait dengan penjelasan Laporan Keuangan Lengkap dan tidak terdapat
dalam PSAK 1. Jika entitas memenuhi kriteria untuk membuat laporan laba rugi dan
saldo laba, entitas menyajikan dalam laporan tersebut pos-pos berikut sebagai tambahan
atas informasi yang telah disyaratkan dalam laporan laba rugi, yaitu:

a. Saldo laba pada awal periode pelaporan


b. Dividen yang diumumkan dan dibayarkan atau terutang selama periode
c. Penyajian kembali saldo laba setelah koreksi kesalahan periode lalu
d. Penyajian kembali saldo laba setelah perubahan kebijakan akuntansi
e. Saldo laba pada akhir periode pelaporan.
4. Laporan Arus Kas
Pengaturan laporan arus kas dalam SAK ETAP secara umum serupa dengan
pengaturan dalam PSAK 2: Laporan Arus Kas. Entitas menyajikan laporan arus kas
yang melaporkan arus kas untuk suatu periode dan mengklasifikasikan menurut
aktivitas operasi, aktivitas investasi, dan aktivitas pendanaan.

Entitas melaporkan arus kas dari aktivitas operasi dengan menggunakan metode tidak
langsung. Arus kas dari bunga dan dividen diungkapkan secara terpisah secara
konsisten antarperiode sebagai aktivitas operasi, investasi, atau pendanaan. Pajak
penghasilan diungkapkan terpisah sebagai aktivitas operasi kecuali dapat secara
spesifik diidentifikasi sebagai aktivitas investasi atau pendanaan. Transaksi nonkas
tidak dapat disajikan dalam laporan arus kas. Entitas mengungkapkan komponen kas
dan setara kas dan menyajikan rekonsiliasi jumlah yang dilaporkan dalam laporan
arus kas dengan pos yang sama yang disajikan dalam neraca. Entitas
mengungkapkan, bersama dengan pendapat manajemen, jumlah kas dan setara kas
yang signifikan yang dimiliki entitas, tetapi tidak dapat digunakan oleh entitas. Hal
ini Karena adanya pembatasan lalu lintas devisa atau pembatasan hokum.
Perbedaan signifikan dengan PSAK 2, yaitu terkait pada dua hal, yaitu:
a. SAK ETAP menentukan bahwa arus kas dari aktivitas operasi diperoleh dengan
metode tidak langsung. Sedangkan, PSAK 2 memberikan pilihan menggunakan
metode langsung atau tidak langsung.
b. SAK ETAP tidak mengatur arus kas dari mata uang asing.
5. Catatan Atas Laporan Keuangan
Catatan atas Laporan Keuangan berisi informasi sebagai tambahan informasi yang
disajikan dalam laporan keuangan. Catatan atas laporan keuangan harus
mengungkapkan, (a) dasar penyusunan laporan keuangan, (b) kebijakan akuntansi
tertentu yang digunakan, (c) informasi tambahan yang tidak disajikan dalam laporan
keuangan, tetapi relevan untuk memahami laporan keuangan. Catatan atas laporan
keuangan disajikan secara sistematis dan merujuk silang ke pos-pos dalam laporan
keuangan.

Pada umumnya, urutan penyajian catatan atas laporan keuangan adalah sebagai
berikut:

a. Pernyataan kepatuhan sesuai SAK ETAP;


b. Ringkasan kebijakan akuntansi signifikan yang diterapkan;
c. Informasi yang mendukung pos-pos laporan keuangan, sesuai dengan urutan
penyajian setiap komponen laporan keuangandan urutan penyajian pos tersebut;
d. Pengungkapan lain.
Entitas harus mengungkapkan pertimbangan secara terpisah dari hal-hal yang
melibatkan estimasi. Selain itu, diungkapkan juga asumsi pokok tentang masa depan
dan sumber-sumber pokok lain untuk mengestimasi ketidakpastian yang berisiko
signifikan.

8. Pengaturan terkait aset

SAK ETAP mengatur dalam bab terpisah tujuh jenis aset. Seperti halnya bab lain, substansi
pengaturan dalam setiap bab pada umumnya sama dengan PSAK terkait, walaupun tetap terdapat
beberapa perbedaan.

a. Investasi pada efek tertentu


Efek yang dimaksud adalah surat berharga baik berupa efek utang maupun efek ekuitas.
Pada saat perolehan, efek harus diklasifikasikan menjadi salah satu diantara:
- Dimiliki hingga jatuh tempo/held to maturiy (HTM): yaitu jika entitas mempunyai
maksud untuk memiliki efek utang hingga jatuh tempo, maka investasi dalam efek
utang tersebut harus diklasifikasikan dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo
- Diperdagangkan (trading): yaitu efek yang dibeli dan dimiliki untuk dijual kembali
dalam dalam waktu dekat harus diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan.
- Tersedia untuk dijual/available for sale (AFS): efek yang tidak diklasifikasikan dalam
kelompok diperdagangkan dan dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo,
harus diklasifikan dalam kelompok tersedia untuk dijual.

Berdasarkan ketentuan SAK, efek HTM disajikan sebesar biaya perolehan dikurangi amortisasi
premi atau diskonto. Sementara efek trading dan AFS dinilai pada nilai wajar pada tanggal
neraca. Keuntungan dan kerugian karena perubahan nilai wajar untuk trading diakui di laba rugi
sementara untuk AFS harus dimasukkan sebagai komponen ekuitas.

Pada ketentuan berdasarkan SAK ETAP, SAK ETAP tidak melarang perubahan dari dan ke
kelompok investasi manapun, dan tidak ada aturan mengenai tainting rule. Selain itu, terkait
penurunan nilai, SAK ETAP mengatur bahwa jika penurunan nilai bersifat permanen maka biaya
perolehan diturunkan ke nilai wajarnyadan diakui sebagai biaya perolehan yang baru dan tidak
boleh diubah kembali. Tidak terdapat pengaturan mengenai bukti obyektif dalam penurunan nilai
efek di SAK ETAP.

Efek trading diklasifikasikan sebagai aset lancar, dan semua arus kas yang terkait dengan efek
tersebut dimasukkan sebagai arus kas aktivitas operasi. Sementara AFS dan held to maturity
disajikan sebagai aset lancar dan tidak lancar sesuai keputusan manajemen, dan semua arus kas
yang terkait diklasifikasikan sebagai arus kas investasi.

b. Persediaan

SAK ETAP mengatur bahwa entitas harus mengukur nilai persediaan pada nilai mana yang lebih
rendah antara biaya perolehan dan harga jual dikurangi biaya untuk menyelesaikan dan menjual.
SAK ETAP juga hanya mengizinkan penggunaan rumus biaya masuk-pertama keluar-pertama
(MPKP) atau rata-rata tertimbang, dan tidak memperkenankan masuk-terakhir keluar-pertama
(MTKP) seperti halnya PSAK. Selain itu, SAK ETAP juga mengatur mengenai biaya persediaan,
penurunan nilai serta pemulihan rugi penurunan nilai, pengakuan sebagai beban, dan
pengungkapan dengan substansi yang serupa dengan PSAK 14. Satu hal yang tidak diatur dalam
SAK ETAP adalah persediaan pialang-pedagang komoditi menggunakan nilai wajar.

c. Investasi pada Entitas Asosiasi, Entitas Anak, Joint Venture, dan Properti Investasi

Pengertian entitas asosiasi dan entitas anak sejalan dengan pengertian dalam SAK:

entitas asosiasi adalah suatu entitas, termasuk entitas bukan Perseroan Terbatas seperti
persekutuan, dimana investor mempunyai pengaruh signifikan dan bukan merupakan entitas
anak ataupun bagian dalam joint venture. Sedangkan entitas anak adalah entitas yang
dikendalikan oleh entitas induk. Namun, ketentuan tentang pengaruh signifikan dan
pengendalian dalam SAK ETAP lebih sederhana yaitu dengan kepemilikan saham pada entitas
asosiasi dan hak suara pada entitas anak. Sementara di SAK mengatur lebih detail yaitu adanya
pengaturan mengenai hak suara potensial.

Investasi pada entitas asosiasi di PSAK 15 dicatat menggunakan metode ekuitas (equity method),
sementara investasi pada entitas asosiasi di SAK ETAP dicatat menggunakan metode biaya (cost
method). Terkait entitas anak, PSAK 15 dan SAK ETAP mengatur pengukuran investasi pada
entitas anak menggunakan metode ekuitas. PSAK 65 mengharuskan entitas anak
dikonsolidasikan dalam laporan keuangan investor, sementara SAK ETAP tidak mengenal
konsolidasi. SAK ETAP mengharuskan investasi pada entitas anak dicatat dengan metode ekuitas
namun tidak dikonsolidasikan.

Investasi pada joint venture yang diatur dalam Bab 13 SAK ETAP pengaturannya tidak jauh
berbeda dengan PSAK 15. SAK ETAP mendefinisikan joint venture sebagai perjanjian
kontraktual di mana dua pihak atau lebih menjalankan aktivitas ekonomi yang menjadi subyek
dari pengendalian bersama. Joint venture dapat berbentuk pengendalian bersama operasi,
pengendalian bersama aset, dan pengendalian bersama entitas. PSAK mensyaratkan pencatatan
transaksi joint venture menggunakan metode ekuitas sementara SAK ETAP menerapkan metode
biaya.

d. Aset tetap dan properti investasi


Perbedaan utama pengaturan aset tetap dalam SAK ETAP dibandingkan SAK umum adalah tidak
diberikannya model revaluasi karena SAK ETAP menganut penilaian aset berdasarkan biaya
perolehan. Namun, entitas yang menggunakan model SAK ETAP dapat menggunakan model
revaluasi, selisih revaluasi dan jumlah tercatat diakui dalam ekuitas sebagai Surplus Revaluasi
Aset Tetap dan kemudian akan direklasifikasikan ke saldo laba sebagaimana pengaturan dalam
PSAK 16.

Sejalan dengan pengaturan aset tetap, perbedaan utama pengaturan properti investasi di SAK
ETAP dengan SAK Umum adalah terkait pengukuran setelah pengakuan awal, dimana seluruh
properti investasi harus diukur pada biaya perolehan dikurangi akumulasi penyusutan dan
kerugian penurunan nilai. SAK ETAP tidak memberikan pilihan untuk mengukur pada nilai
wajar seperti PSAK 13.

e. Aset tidak berwujud

Entitas yang memenuhi klasifikasi sebagai ETAP dapat memiliki aset tidak berwujud hanya dari
perolehan internal dan eksternal. Perolehan internal dapat dilakukan melalui riset dan
pengembangan dan perolehan eksternal dapat diperoleh melalui jual beli, pertukaran dengan satu
atau beberapa aset nonmoneter, atau kombinasi aset moneter dan aset nonmoneter.

SAK ETAP mengatur bahwa entitas harus mengakui pengeluaran internal yang terjadi atas aset
tidak berwujud, termasuk biaya riset dan pengembangan (R&D) sebagai beban saat terjadinya,
kecuali pengeluaran tersebut memenuhi kriteria sebagai biaya perolehan dari aset lain. Hal ini
berbeda dengan pengaturan di SAK umum, dimana pengeluaran internal tertentu, seperti biaya
pengembangan setelah tercapai economic viability dapat dikapitalisasi sebagai aset tidak
berwujud. Sedangkan aset yang diperoleh melalui eksternal diukur dengan biaya perolehan.

Perbedaan lainnya terletak pada pengukuran setelah pengakuan awal. SAK ETAP menentukan
bahwa untuk tujuan SAK ETAP semua aset tidak berwujud dianggap mempunyai umur manfaat
yang terbatas, sehingga harus diamortisasi. Tidak ada aset tidak berwujud yang memiliki umur
manfaat terbatas sehingga harus direviu penurunan nilainya di setiap periode seperti yang
dijelaskan pada PSAK 19. Jika entitas tidak mampu mengestimasi umur manfaat aset tidak
berwujud, maka umur manfaatnya dianggap 10 tahun. Hal ini terkait dengan tidak adanya
konsolidasi dalam SAK ETAP, sehingga tidak ada kemungkinan munculnya goodwill yang
memiliki umur manfaat yang tidak terbatas.

f. Biaya pinjaman dan penurunan nilai aset

Pengaturan biaya pinjaman di SAK ETAP sangat sederhana, dimana semua biaya pinjaman yang
muncul harus diakui sebagai beban pada periode terjadinya. Tidak ada pengaturan mengenai
kapitalisasi seperti di PSAK 26.

Sementara itu, terkait penurunan nilai ast, ada beberapa perbedaan pengaturan antara SAK ETAP
dengan PSAK 48. Pertama, ruang lingkup aset yang diatur dalam penurunan nilai SAK ETAP
lebih luas. Pengecualilan dalam SAK ETAP hanyalah atas aset yang muncul dari imbalan kerja.
Secara spesifik mengatur mengenai penurunan nilai pinjaman yang diberikan dan piutang dan
persediaan yang dikecualikan dalam pengaturan PSAK 48.

Penurunan nilai pinjaman yang diberikan dan piutang dalam SAK ETAP dibentuk sebesar
estimasi kerugianyang tidak dapat ditagih. Sementara untuk persediaan, seperti konsep lower
cost or net realizable value dalam SAK Umum yaitu jumlah tercatat dibandingkan dengan harga
jual dikurangi biaya untuk menyelesaikan dan menjual dalam menentukan penurunan nilai
persediaan.

Untuk aset lainnya, perbedaan utama penurunan nilai dalam SAK ETAP dengan SAK Umum
adaah tidak adanya istilah jumlah terpulihkan (recoverable amount) dan nilai pakai (value in use)
dalam SAK ETAP. Jika ada indikasi penurunan nilai, maka entitas harus mengestimasi nilai
wajar dikurangi biaya untuk menjual, dan penurunan nilai terjadi ketika nilai tersebut lebih
rendah dari jumlah tercatat aset. Tidak ada pengaturan untuk membandingkan nilai wajar
dikurangi biaya untuk menjual dengan nilai pakai untuk menentukan jumlah terpulihkan.

SAK ETAP juga tidak mengatur penurunan nilai untuk goodwill karena memang tidak ada
pengaturan mengenai pengakuan goodwill dalam SAK ETAP.

8. Pengaturan Lainnya
a. Kewajiban Diestimasi dan Kontinjensi, Ekuitas, Pendapatan dan Pajak Penghasilan
SAK ETAP menggunakan istilah kewajiban diestimasi, namun peraturannya sama dengan
provisi dalam PSAK 57. Entitas mengakui kewajiban diestimasi jika:
a) entitas memiliki kewajiban kini sebagai hasil dari peristiwa masa lalu, dan
b) kemungkinan (lebih mungkin dibandingkan tidak mungkin) terjadi bahwa entitas akan
disyaratkan untuk mentransfer manfaat ekonomis pada saat penyelesaian; dan
c) jumlah kewajiban dapat diestimasi secara andal.
Pengaturan Aset dan Kewajiban Kontinjensi dalam SAK ETAP dan PSAK 57 serupa yaitu,
hanya diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.

SAK ETAP mengatur ekuitas serupa dengan PSAK 21 yang telah dicabut, kecuali tidak adanya
pengaturan mengenai reorganisasi dan selisih penilaian kembali. SAK ETAP mengatur
pendapatan yang muncul sebagai akibat dari transaksi penjualan barang, pemberian jasa, kontrak
konstruksi, penggunaan aset entitas oleh pihak lain yang menghasilkan bunga, royalti atau
dividen. Hal ini tidak jauh berbeda dengan PSAK 23 yang menyatakan bahwa akuntansi
pendapatan timbul atas transaksi dan kejadian penjualan barang, penjualan jasa, dan penggunaan
aset entitas oleh pihak lain yang menghasilkan bunga, royalti, dan dividen. Untuk kontrak
konstruksi diklasifikasikan sebagai penjualan jasa dan diatur lebih detail pada PSAK 34 tentang
Kontrak Konstruksi.

Pengaturan tentang Pajak penghasilan pada SAK ETAP jauh lebih sederhana dibandingkan
PSAK 46. SAK ETAP menggunakan konsep pajak terutang, sementara PSAK 46 menggunakan
konsep pajak tangguhan. SAK ETAP hanya mengatur bahwa Entitas harus mengakui kewajiban
atas seluruh pajak penghasilan periode berjalan dan periode sebelumnya yang belum dibayar.
Jika jumlah yang telah dibayar untuk periode berjalan dan periode sebelumnya melebihi jumlah
yang terutang untuk periode tersebut, entitas harus mengakui kelebihan tersebut sebagai aset.
Tidak ada pengaturan mengenai pajak tangguhan.

b. Sewa
Pengaturan mengenai sewa dalam SAK ETAP hanya mencakup transaksi sewa. Bab ini tidak
mengatur mengenai transaksi yang mengandung sewa seperti yang dijelaskan dalam ISAK 8.
Ketentuan pengklasifikasian sewa pada SAK ETAP serupa dengan PSAK 30. Suatu sewa
diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan jika sewa mengalihkan secara substansial seluruh
manfaat dan risiko kepemilikan aset. Suatu sewa diklasifikasikan sebagai sewa operasi jika sewa
tidak mengalihkan secara substansial seluruh manfaat dan risiko kepemilikan aset.

Untuk akuntansi lessor, SAK ETAP tidak mengatur lessor pabrikan atau dealer, dan transaksi
jual dan sewa balik (sale dan leaseback) tidak diatur tersendiri melainkan digabungkan dalam
sub laporan keuangan lessee. Pengaturan lainnya sejalan dengan PSAK 30 yang berlaku saat ini.

c. Imbalan Kerja
SAK ETAP mengatur tentang imbalan kerja jangka pendek, imbalan pascakerja, imbalan kerja
jangka panjang lainnya, dan pesangon pemutusan kerja. Hal ini serupa dengan yang diatur dalam
PSAK 24. Perbedaan signifikan terdapat pada pengukuran kewajiban imbalan pasti dan beban
yang terkait. Metode projected unit credit (PUC) yang membutuhkan berbagai asumsi aktuarial
diharuskan dalam PSAK 24, sementara pada SAK ETAP jika entitas tidak mampu untuk
menggunakan metode ini, maka entitas diperkenankan untuk membuat penyederhanaan berikut
dalam pengukuran kewajiban imbalan pasti untuk pekerja kini:
1. Mengabaikan estimasi kenaikan gaji akan datang
2. Mengabaikan jasa akan datang dari pekerja
3. Mengabaikan kemungkinan mortalitas pekerja kini selama masa jasa antara tanggal
pelaporan dan tanggal pekerja diekspektasikan mulai menerima manfaat imbalan
pascakerja akan tetap perlu dipertimbangkan.
Entitas yang mengambil manfaat dari penyederhanaan pengukuran di atas harus memasukan
manfaat yang sudah menjadi vested dan belum vested dalam mengukur kewajiban imbalan
pasti.

d. Mata Uang Pelaporan dan Transaksi dalam Mata Uang Asing


Substansi pengaturan terkait mata uang pelaporan dalam SAK ETAP secara garis besar serupa
dengan pengaturan dalam PSAK 10, hanya terdapat beberapa perbedaan minor. SAK ETAP
memiliki definisi mata uang fungsional, mata uang pelaporan, dan mata uang pencatatan,
sedangkan istilah mata uang pencatatan tidak digunakan dalam PSAK 10. Namun, karena mata
uang pencatatan harus sama dengan mata uang pelaporan, secara substansi tidak ada perbedaan
antara SAK ETAP dengan PSAK 10. Selain itu pada PSAK 10 digunakan istilah mata uang
penyajian yang sama intinya dengan mata uang pelaporan dalam SAK ETAP. SAK ETAP
mengatur bahwa jika entitas menggunakan mata uang selain mata uang lokal sebagai mata uang
pelaporan, maka mata uang pelaporan tersebut harus merupakan mata uang fungsional.
Pengaturan ini berbeda dengan PSAK 10 yang menyebutkan bahwa entitas dapat menyajikan
laporan keuangan dalam mata uang (atau beberapa mata uang) selain mata uang fungsional.

Perbedaan lainnya adalah SAK ETAP tidak mengatur mengenai penjabaran kegiatan usaha luar
negeri dan pengaruh pajak atas semua selisih nilai tukar. Pengaturan lainnya secara substantif
sama, antara lain tentang penentuan mata uang fungsional, pengakuan awal transaksi dalam mata
uang asing, dan pelaporan pada akhir periode pelaporan dimana laba rugi selisih kurs dapat
diakui dalam laba rugi ataupun ekuitas (other comprehensive income dalam PSAK 10) sesuai
dengan aset yang terkait.

Sebagai tambahan, SAK ETAP mengatur penentuan saldo awal untuk tujuan pencatatan
akuntansi dimana perlu dilakukan pengukuran kembali atas akun-akun laporan keuangan seolah-
olah mata uang fungsional tersebut telah digunakan sejak tanggal terjadinya transaksi.
Pengukuran kembali tersebut dilakukan secara retrospektif untuk membuat penyajian komparatif
jika periode yang diperbandingkan tidak menggunakan mata uang fungsional.

e. Peristiwa Setelah Akhir Periode Pelaporan dan Pengungkapan Pihak-Pihak yang


Mempunyai Hubungan Istimewa

SAK ETAP mengatur peristiwa setelah akhir periode pelaporan dengan substansi yang serupa
dengan PSAK 8, dimana ada pengaturan untuk peristiwa yang memerlukan penyesuaian dan
yang tidak memerlukan penyesuaian. Hanya saja SAK ETAP tidak mengatur secara spesifik
tentang kelangsungan usaha seperti yang diatur dalam PSAK 8.

Sementara terkait pengungkapan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa, pengaturan


dalam SAK ETAP juga sejalan dengan pengaturan dalam PSAK 7, baik pengertian pihak-pihak
yang mempunyai hubungan istimewa, maupun pengungkapan yang diperlukan. Hanya saja SAK
ETAP tidak mengatur spesifik mengenai entitas yang mempunyai hubungan istimewa dengan
pemerintah, dan justru mengatur pengungkapan kompensasi manajemen kunci dalam sub
pengaturan tersendiri dalam bagian pengungkapan.

f. Ketentuan Transisi

SAK ETAP diterapkan oleh entitas secara retrospektif. Namun jika tidak praktis, entitas dapat
menerapkannya secara prospektif. Entitas yang memenuhi persyaratan ETAP tetapi memilih
untuk tidak menerapkan SAK ETAP, harus secara konsisten menggunakan SAK Umum tersebut,
seperti yang telah dijelaskan di awal Bab. Bab ini mengatur bahwa entitas yang sebelumnya
tidak memenuhi persyaratan ETAP, tetapi kemudian memenuhi persyaratan tersebut, dapat
menggunakan SAK ETAP, baik secara retrospektif maupun prospektif. Entitas yang sebelumnya
telah menyusun laporan keuangan dengan SAK Umum dan akan menerapkan SAK ETAP secara
prospektif akan:
1. Mengakui semua aset dan kewajiban yang pengakuannya dipersyaratkan dalam SAK
ETAP.
2. Tidak mengakui pos-pos sebagai suatu jenis aset jika SAK ETAP tidak mengizinkan
pengakuan tersebut.
3. Mereklasifikasikan pos-pos yang diakui sebagai suatu jenis aset, kewajiban atau
komponen ekuitas berdasarkan kerangka pelaporan sebelumnya, tetapi merupakan jenis
aset, kewajiban, atau komponen ekuitas yang berbeda berdasarkan SAK ETAP.
4. Menerapkan SAK ETAP dalam pengukuran seluruh aset dan kewajiban yang diakui.

Jika kebijakan akuntansi untuk saldo awal berbeda antara sebelum dan sesudah menerapan SAK
ETAP, hasil penyesuaian yang muncul dari transaksi, kejadian atau kondisi lainnya sebelum
tanggal efektif SAK ETAP diakui secara langsung pada saldo laba pada tanggal penerapan SAK
ETAP.

9. Penerapan SAK ETAP


a. Kelebihan dan Kekurangan Penggunaan SAK ETAP
SAK ETAP diperuntukkan bagi entitas yang umumnya tidak memiliki kewajiban menyajikan
laporan keuangan sempurna seperti yang dibutuhkan oleh investor di pasar modal, karena
kebutuhan informasi dan variasi pengguna laporan keuangan mereka lebih sederhana daripada
entitas dengan akuntabilitas publik. Selain itu, kebanyakan entitas tanpa akuntabilitas publik
adalah UKM, yang umumnya mengalami keterbatasan sumber daya untuk mengikuti aturan
dalam SAK Umum, sehingga SAK ETAP digunakan untuk menghemat biaya penyusunan
laporan keuangan tanpa menghilangkan keandalan informasi laporan keuangan tersebut bagi para
penggunanya. Standar-standar dalam SAK-ETAP juga tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu
yang panjang, sehingga penerapan SAK-ETAP dalam pelaporan keuangan lebih konsisten.

Kekurangan dari penggunaan SAK ETAP utamanya berasal dari berkurangnya informasi yang
dihasilkan. Peraturan yang lebih sederhana dalam SAK ETAP menjadikan laporan keuangan
entitas yang menerapkannya akan relatif kurang informatif dibandingkan entitas yang
menerapkan SAK Umum. Namun laporan keuangan berdasarkan SAK ETAP tentunya tetap
dapat menggambarkan kondisi entitas yang sebenarnya jika diikuti secara menyeluruh. Selain
itu, penggunaan SAK ETAP juga membatasi pilihan entitas dalam perlakuan akuntansi untuk
beberapa pos atau transaksi.
10. Praktik Penerapan SAK ETAP

Beberapa penelitian menemukan bahwa dalam penerapan SAK ETAP masih terdapat beberapa
kekurangan, walaupun ada juga yang telah menerapkannya dengan baik. Beberapa hasil
penelitian menyatakan bahwa penerapan SAK ETAP belum seluruhnya dilakukan dengan baik
oleh entitas UKM, Koperasi, maupun entitas lain yang berhak menggunakan SAK ETAP. Faktor
penyebab belum diterapkannya SAK ETAP dengan baik adalah masih ada pemilik UKM yang
belum mengetahui keberadaan SAK ETAP, kurangnya sumber daya dan pemahaman mengenai
SAK ETAP, dan tidak adanya keharusan penggunaan SAK ETAP dari pemerintah (Safri, 2013;
Rudiantoro dan Siregar, 2011).

Selain penelitian atas kekurangan dalam penerapan SAK ETAP, cerita sukses penerapan SAK
ETAP juga banyak terjadi. Penelitian Suintri (2013) membuktikan bahwa penerapan SAK ETAP
di Bank Perkreditan Rakyat (BPR) menyimpulkan bahwa laporan keuangan BPR sudah
memadai. Beberapa yayasan dan entitas nirlaba lain juga banyak yang menerapkan SAK ETAP
yang dikombinasikan dengan PSAK 45 untuk pelaporan keuangannya.
Referensi

Mardiasmo. 2015. Modul Chartered Accountant Pelaporan Korporat. Jakarta: Ikatan Akuntan

Indonesia.

Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik. 2009. Dewan Standar

Akuntansi Keuangan.

Standar Akuntansi Keuangan. 2014. Dewan Standar Akuntansi Keuangan.