Anda di halaman 1dari 7

I.

PENDAHULUAN

A. Judul
Marking dan Tagging

B. Tujuan
1. Mengetahui macam-macam metode marking dan tagging
2. Dapat melakukan marking pada ikan nila

II. METODE

A. Cara Kerja
Masing-masing kelompok diberi satu akuarium yang berisi dua ikan
nila. Satu ikan nila dijadikan kontrol (tidak diberi perlakuan) dan yang satu
lagi dilalukan marking. Ikan nila yang diberi perlakuan marking diambil, lalu
diberi tanda pada daerah yang telah ditentukan ( sirip atas, sirip bawah yang
berada di belakang, sirip samping yang ada di kiri dan ekor) dengan
menggunakan alat pelubang kertas. Setelah itu, ikan dikembalikan ke dalam
akuarium. Pergerakan ikan yang telah demarking di amati serta dibandingkan
dengan pergerakan ikan kontrol selama 5 menit. Hasil kemudian dicatat.

III.HASIL DAN PEMBAHASAN

Tagging adalah pemberian tanda pada tubuh ikan dengan menempelkan


benda asing. Menurut Rounsefell dan Everhart (1953), benda asing yang
digunakan adalah benda-benda yang tidak mudah berkarat, seperti emas, perak,
aluminium, nikel, plastik, ebonit, seluloid, dan sebagainya. Pada tag ini dapat
diberi tanggal, nomor seri atau kode lainnya yang dapat memberi keterangan atau
informasi tentang ikan tersebut atau yang empunya. Hal ini merupakan salah satu
keuntungan dibanding dengan marking sehingga memudahkan identifikasi
individu yang telah diberi tag. Bagian tubuh ikan yang biasa diberi tag yaitu:
1. Bagian Kepala : Tulang rahang bawah dan tutup insang
2. Bagian Tubuh : Bagian depan sirip punggung, bagian belakang sirip
punggung, bagian dalam tubuh, bagian sirip lemak, batang ekor
Menurut Jensen (1962), ada beberapa jenis tagging yaitu sebagai berikut:
1. Petersen Tag
Tag ini menggunakan 2 piringan selluloid atau plastik dengan diameter
sebesar 1,5 inci. Tag dihubungkan dengan besi atau sejenis kabel kecil ke
bagian tubuh ikan seperti tutup insang, bagian dorsal ikan atau bagian
berdaging di dekat ekor.
2. Atkins Tag
Tag ini simpel, menggunakan piringan atau pelat datar yang dihubungkan
dengan benang atau kawat yang menindik jaringan. Tag ini memiliki variasi
bentuk dan ukuran dan material plat yang digunakan. Bahan yang paling
banyak digunakan adalah vinyl plastic untuk plat dan vinyl plastic tubing
untuk kawat.
3. Body-cavity tag
Tag ini menggunakan label selluloid dengan panjang 1-1,5 inci, lebar 0,25 inci
dan ketebalan 0,1 inci yang dilekatkan dengan membuat sayatan vertikal
kecil pada tubuh ikan dengan skalpel lalu label dimasukan. Label yang
digunakan terbuat dari nikel dan memiliki bentuk dan ukuran yang bervariasi
sesuai dengan ukuran ikan.
4. Strap tag
Tag ini berbentuk lempengan metal lurus yang ditindikan pada jaringan yang
dipasang dengan penjepit khusus. Tag ini diadaptasi dari penanda telinga sapi.
Tag ini dapat dipasang pada penutup insang, rahang bawah, atau pada atas
sirip ekor.
5. Internal anchor tag
Tag ini berupa rantai atau benang fleksibel yang ditindikan pada bagian tubuh
dan ditambatkan kedalam tubuh. Tag ini berbentuk kapsul seluloid yang berisi
nomor seri dan pesan tertentu yang terdapat di gulungan kertas di dalamnya.
Tag ini dipasang dengan membuat sayatan kecil di bagian tubuh ikan
6. Spaghetti tag
Tag ini berbentuk tabung yang terbuat dari vinyl plastic dan bentuknya
menyerupai spaghetti. Tag ini digunakan dalam variasi panjang bergantung
ukuran ikan dan biasanya ditempelkan pada bagian punggung menggunakan
jarum dan diikat dengan benang. Tag ini berisi informasi nomor seri, alamat
laboratorium, dan pesan khusus yang diprint menggunakan tinta tahan air
7. Miscellaneous Tag
Banyak Tag lain yang digunakan dalam studi khusus atau digunakan spesifik
pada spesies ikan tertentu. Misalnya Barb Tag yang didesain dengan bentuk
batang lurus, dengan atau tanpa plat tambahan, yang dimasukan kedalam
jaringan dan ditahan oleh satu atau lebih penahan. Collar tag, yang
mengelilingi suatu bagian tubuh tertentu pada ikan tanpa membenamkan di
jaringan tubuh ikan. Tag terbaru adalah menggunakan perangkat sonic kecil
yang ditempatkan di otot dorsal untuk mengetahui pergerakan ikan. Tag ini
berbentuk kapsul dengan panjang 2-0,5 inci dan diameter inci yang
mentrasmisikan sinyal ke penerima sinyal khusus.
Marking merupakan pemberian tanda pada tubuh ikan, dimana tanda
tersebut bukan berupa benda asing (Effendi, 1979). Menurut Hutomo (1982),
untuk studi parameter populasi dengan menggunakan marking akan lebih baik
karena murah dan dapat dilakukan lebih cepat sehingga dalam waktu singkat
jumlah spesies yang ditandai cukup banyak daripada menggunakan tagging,
karena luka pada waktu pemberian tanda akan memberikan pengaruh lebih besar
daripada dengan marking. Selain itu, marking dapat digunakan untuk penandaan
larva atau juvenil yang sensitif terhadap handling. Kelemahan teknik marking
adalah dengan teknik pewarnaan biasanya warna tidak bertahan lama, warna yang
dipakai terbatas, sehingga percobaan yang dilakukan juga terbatas, warna kadang
sukar dibedakan, sifat regenerasi beberapa spesies cepat sehingga percobaan
penangkapan kembali harus dilakukan dalam waktu cepat (untuk cara
pemotongan).

Tanda yang termasuk dalam katagori marking adalah :


a. Pemotongan sirip,
Biasanya dilakukan terhadap sirip perut ikan sebelah kanan atau
sebelah kiri. Dapat pula dilakukan pemotongan sirip lainnya selain sirip perut.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penerapan pemotongan sirip : akibat
pemotongan sirip tersebut tidak tumbuh kembali, sehingga memudahkan kita
mengamati apabila ikan tersebut tertangkap kembali, Akibat pemotongan tsb
tidak berpengaruh besar terhadap tingkah laku ikan, sehingga perilaku ikan
tidak wajar dan mudah tertangkap pemangsanya.
b. Pemberian lubang pada tutup insang
Pemberian lubang yang berbentuk bundar atau segitiga kecil pada
tutup insang dengan menggunakan klip atau tindik yang diatur khusus untuk
keperluan tersebut. Tidak semua ikan dapat diperlakukan dengan hasil
memuaskan menggunakan metode ini, hal tersebut berkaitan dengan kondisi
ikan, misalnya pada ikan yang berlendir tebal.
c. Pemberian tattoo.

Pemberian tanda dan pemakaian tanda merupakan hal yang penting untuk
diperhatikan, karena apabila penandaan tidak dilakukan dengan baik maka akan
dapat menimbulkan masalah pada ikan. Menurut Effendi (1979), tanda yang baik
seyogyanya memenuhi syarat sebagai berikut:
1. Tanda tidak berubah selama ikan hidup.
2. Tidak mengganggu tingkah laku ikan sehingga mudah ditangkap oleh
pemangsa.
3. Tidak mudah menyebabkan tersangkut pada tanaman akustik.
4. Tanda itu murah dan mudah diperoleh.
5. Tepat untuk tiap ukuran ikan dengan penyesuaian yang minimal.
6. Mudah diterapkan pada ikan tanpa menggunakan zat pembius dan gangguan
stress diusahakan sekecil mungkin.
7. Cukup banyak variasi untuk membedakan kelompok-kelompok ikan yang
kecil perbedaannya.
8. Tidak menyebabkan kesehatan ikan terganggu.
9. Tidak berbahaya atau menyebabkan bahaya pada ikan sebagai ikan pangan.
10. Tanda mudah dikenal oleh orang yang tidak mendapat latihan sekalipun.
Menurut Vitri, dkk (2012), ikan nila memiliki lima buah sirip, yaitu sirip
punggung (dorsal fin), sirip dada (pectoral fin), sirip perut (ventral fin), sirip anal
(anal fin), dan sirip ekor (caudal fin). Berikut ini adalah keterang dari masing-
masing sirip nila:
1. Sirip dada
Sirip yang terletak di posterior operculum atau pada pertengahan tinggi pada
kedua sisi tubuh ikan. Fungsi sirip ini adalah untuk pergerakan maju, ke
samping dan diam (mengerem).
2. Sirip perut
Sirip yang berada pada bagian perut ikan dan berfungsi dalam membantu
menstabilkan ikan saat renang. Selain itu juga, berfungsi dalam membantu
untuk menetapkan posisi ikan pada suatu kedalaman.
3. Sirip punggung
Sirip yang keberadaannya tidak pada semua jenis ikan dimana letak sirip ini
adalah pada dorsal tubuh, sedikit didepan pinna caudalis.
4. Sirip dubur/anal
Sirip yang berada dibagian ventral tubuh di daerah posterior anal. Fungsi sirip
ini adalah membantu dalam stabilitas berenang ikan.
5. Sirip ekor
Sirip ikan yang berada di bagian posterior tubuh dan biasanya disebut sebagai
ekor. Pada sebagian besar ikan, sirip ini berfungsi sebagai pendorong utama
ketika berenang (maju) dan juga sebagai kemudi ketika bermanuver.

Berdasarkan percobaan marking yang telah dilakukan, di dapat perilaku


ikan nila yang ada pada tabel dibawah ini.
Tabel 1. Perilaku Ikan Nila
Lokasi Pelubangan Pengaruh pada Ikan
Sirip Atas Tidak ada
Sirip Bawah (belakang) Tidak ada
Sirip Samping (Kiri) Ada (posisi berenang ikan menjadi
miring)
Ekor Tidak ada

DAFTAR PUSTAKA

Effendi, M.I. 1979. Metode Biologi Perikanan. Yayasan Dewi Sri, Bogor.

Hutomo, M. 1982. Teknik Mark-Recapture dalam Biologi Perikanan. Lembaga


Oseanologi Nasional, Jakarta.
Jensen, A.C. 1962. Marking and Tagging Fishes. Biological Laboratory Bureau of
Commercial Fisheries, Massachusetts.

Rounsefell, G.A. dan Everhart, W.H. 1953. Fishery Science its Methods and
Aplication. John Wiley and Sons, New York.

Vitri, Roesma dan Syaifullah. 2012. Analisis morfologi ikan Puntius binotatus
Valenciennes 1842 (Pisces: Cyprinidae) dari beberapa lokasi di Sumatera
Barat. Jurnal Biologi Universitas Andalas 1(2): 139-143.