Anda di halaman 1dari 8

BAB VII PENGUJIAN MULUR KELOMPOK 10

BAB VII

PENGUJIAN MULUR
7.1 Tujuan
1. Untuk mengetahui tata cara pengujian mulur
2. Untuk mengetahui sifat-sifat logam
3. Untuk mengetahui batas mulur dari suatu material dan laju mulur yang
sering terjadi dengan peningkatan waktu
4. Untuk melihat respon suatu material terhadap beban tarik pada temperatur
tinggi
7.2 Teori Dasar
Definisi creep adalah aliran plastis yang dialami material pada tegangan
tetap. Meskipun sebagian besar pengujian dilakukan dengan kondisi beban
tetap, tersedia peralatan yang mampu mengurangi pembebanan selama
pengujian sebagai kompensasi terhadap pengurangan penampang benda uji.
Pada temperatur relatif tinggi, creep terhadi pada semua level tegangan,
tetapi pada temperatur tertentu laju creep bertambah dengan meningkatnya
tegangan.
Pada temperature tinggi, kekuatan bahan akan menurun. Selain itu,
bila pada yemperatur tinggi komponen dikenai beban maka omponen
tersebut akan mengalami mulur (creep), yaitu bertambahnya deformasi
bahan pada tegaangan yang tetap. Perubahan bentu atau deformasi ini
akan semakin besar dengan makin lamanya pembebanan.
Pengujian mulur dilakukan dilakukan dengan beban dan
temperature yang konstan.
Data pengujian mulur yang dilakukan pada suatu temperature dan
pada berbagai tingkat tegangan selanjutnya diolah dan dipresentasikan
dalam bentuk kurva.
Batas mulur suatu bahan didefinisikan sebagai tegangan yang
menyebabkan terjadinya regangan mulur sebesar selama 100.000 jam
(11,4 tahun).
Temperature yang dipergunakan untuk pengujian ini adalah diatas
temperature equicohesif, yaitu temperature dimana butir dan batas butir
mempunyai kekeuatan yang sama. Temperature ini diperkirakan sama

Laboratorium Logam Teknik Metalurgi T.A 2016-2017 1


BAB VII PENGUJIAN MULUR KELOMPOK 10

dengan temperature homolog yaitu perbandingan temperature uji dengan


temperature cair dalam skala Kelvin. Pada umumnya, mulur mempunyai
arti teknis yang penting pada temperature homolog yang lebih besar dari
0,5.
temperatur operasi
Temperatur homolog=
temperatur cair

Laboratorium Logam Teknik Metalurgi T.A 2016-2017 2


BAB VII PENGUJIAN MULUR KELOMPOK 10

7.3 Alat dan Bahan

7.3.1 Alat

Mesin Uji Mulur (creep)


Jangka Sorong
Waterpass
Dial Indicator
Kunci Inggris

7.3.2 Bahan

Baja ST-52 yang telah dikarburasi


Buku dan Alat tulis

7.4 Tata Cara Praktikum

7.4.1 Skema Proses


Kesimpulan Analisa
Pengukuran dimensiPengamatan
akhir Pengujian Creep
Pengukuran dimensi awal (gau

Gambar 7.1 skema proses

7.4.2 Penjelasan Skema Proses

1. Siapkan alat dan bahan berupa baja ST-52 yang telah di karburasi.
2. Ukur dimensi awal spesimen
3. Pasang spesimen pada mein uji creep dan thermo couplenya atur pada
suhu 650C
4. Amati spesimen 5 menit sekali lalu amati perpanjangannya hingga putus
5. Pengukuran dimensi akhir setelah putus

Laboratorium Logam Teknik Metalurgi T.A 2016-2017 3


BAB VII PENGUJIAN MULUR KELOMPOK 10

6. Analisa
7. kesimpulan

7.5 Pengumpulan dan Pengolahan Data

7.5.1 Pengumpulan Data

Temperatur (C) 650C


Beban (Kg) 6,4 Kg
Panjang Awal (mm) 27,40 mm
Panjang Akhir (mm) 41,3 mm
Diameter Awal (mm) 6,10 mm
Diameter Akhir (mm) 1,4 mm
Jenis Spesimen Baja ST-52 yang telah di
karburasi

7.5.2 Pengolahan Data

Perhitungan Luas Penampang Awal


D = 6,1mm
1 2
Ao= d
4
1 2
.3,14 ( 6,1 mm )
4

= 29,2 mm2

Pengukuran Tegangan maksimal


Keadaan setimbang (Mtotal = 0)
Mtot = Ma + Mc
0 = (-6,4 kgf . 500mm)+ (W2 . 50mm)
6,4 . 500
W 2= =64 kgf
50

= 64kgf . 9,8m/s2
= 627,2N (F kerja)
Tegangan Maksimum
Fkerja 627,2 N
u = =21,46 N
Ao 29,22 /mm2

Perhitungan Regangan
Tahap I (Primer Creep)
T = 0 menit
l 3,9
= = =0,1150
lo 33,9

T = 5 menit

Laboratorium Logam Teknik Metalurgi T.A 2016-2017 4


BAB VII PENGUJIAN MULUR KELOMPOK 10

l 4,11
= = =0,1212
lo 33,9

T = 10 menit
l 4,24
= = =0,1250
lo 33,9

T = 15 menit
l 4,26
= = =0,1156
lo 33,9

T = 20 menit
l 4,29
= = =0,1265
lo 33,9

Tahap II (Secondary Creep)


T = 100 menit
l 4,31
= = =0,1271
lo 33,9

T = 400 menit
l 4,27
= = =0,1271
lo 33,9

T = 600 menit
l 4,28
= = =0,1262
lo 33,9

T = 800 menit
l 4,27
= = =0,1259
lo 33,9

T = 1000 menit
l 4,27
= = =0,1259
lo 33,9

T = 1300 menit
l 4,29
= = =0,1265
lo 33,9

T = 1500 menit
l 4,29
= = =0,1265
lo 33,9

T = 1700 menit

Laboratorium Logam Teknik Metalurgi T.A 2016-2017 5


BAB VII PENGUJIAN MULUR KELOMPOK 10

l 4,29
= = =0,1265
lo 33,9

T = 2500 menit
l 4,26
= = =0,1156
lo 33,9

T = 2900 menit
l 4,31
= = =0,1271
lo 33,9

Tahap III (Tersier Creep)


T = 3000 menit
l 4,3
= = =0,1268
lo 33,9

T = 5000 menit
l 4,33
= = =0,1277
lo 33,9

T = 7000 menit
l 4,36
= = =0,1286
lo 33,9

T = 9000 menit
l 4,41
= = =0,1306
lo 33,9

T = 11000 menit
l 4,58
= = =0,1351
lo 33,9

T = 12000 menit
l 4,87
= = =0,1436
lo 33,9

T = 13000 menit
l 4,93
= = =0,1454
lo 33,9

T = 14000 menit
l 5,09
= = =0,1501
lo 33,9

T = 15000 menit
l 5,42
= = =0,1598
lo 33,9

T = 16000 menit

Laboratorium Logam Teknik Metalurgi T.A 2016-2017 6


BAB VII PENGUJIAN MULUR KELOMPOK 10

l 6,59
= = =0,1943
lo 33,9

Perhitungan Luas Penampang Akhir


1
Af = . . d 2
4
1
.3,14 . (140)2
4

= 1,53mm2

7.6 Analisa dan Pembahasan


pada modul 5 ini melakukan pengujian mulur dan pada pengujian mulur
terdapat 3 daerah yaitu primery atau awalan perubahan panjang tidak konstan
kemudian sekonderi dengan pertambahan panjang yang konstan serta daerah
daerah tersieri yang dengan beban yang signifikan meningkat dan relatif
cepat.
Kemudian terjadi patah atau kegagalan. Mulur merupakan dimana beban
bekerja pada suhu tinggi dengan temperatur 650C. Pada daerah primer yang
didapat nilai perpanjangan rata-rata 0.126 mm/mnt sedangkan pada daerah
sekunder didapati nilai rata-rata perpanjangan 0.135 mm/menit dan untuk
daerah tersieri nilai rata-rata didapat 0.161 mm/mnt perpanjangannya.
Ini menunjukan bahwa perpanjangan semakin kecil akan meningkatkan
tegangan yang diberikan karena terdapat pengkonsentrasian tegangan. Fasa
dengan temperatur 650C inipun sangat mempengaruhi sifat mulur karena
operasi mulur pada temperatur dan tegangan yang statis. Karena ST-52
merupakan baja dengan unsur karbon sekitar 05.% ini menunjukan baja
karbon medium dan jika pada diagram fasa maka didapat daerah fasa ferite +
austenit.
Pada pengujian inipun terjadi pengerasan regangan dengan berjalanannya
waktu, kemudian untuk patahan yang terjadi merupakan patah ulet yang
menunjukan pada temperatur pengujian mempengaruhi yang berakibat pada
penurunan pengerasan.

Laboratorium Logam Teknik Metalurgi T.A 2016-2017 7


BAB VII PENGUJIAN MULUR KELOMPOK 10

7.7 Kesimpulan
1. Pada mulur terdapat 3 daerah yaitu primery, secundery dan tersiery
2. Nilai rata-rata perpanjangan pada daerah primer yaitu 0.126 mm/mnt
3. Nilai rata-rata perpanjangan pada daerah secundery yaitu 0.135 mm/mnt
4. Nilai rata-rata perpanjangan pada daerah tersiery yaitu 0.161 mm/mnt
5. Rata-rata perpanjangan pada keseluruhan 0.0165% /menit
6. Pengaruh temperatur merubah fasa pada spesimen

Laboratorium Logam Teknik Metalurgi T.A 2016-2017 8