Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Katarak berasal dari bahasa Yunani Katarrhakies, Inggris Cataract, dan Latin
Cataracta yang berarti air terjun. Dalam bahasa indonesia disebut bular dimana
penglihatan seperti tertutup air terjun akibat lensa yang keruh. Katarak adalah setiap
keadaan kekeruhan pada lensa, denaturasi protein lensa atau akibat kedua-duanya.1
Katarak ini dapat terjadi di setiap usia. Kekeruhan pada lensa yang terjadi
sejak lahir dikenal dengan istilah katarak kongenital. Insidensi katarak kongenital
1:250 bayi baru lahir. Belum ada data mengenai insidensi katarak kongenital di
Indonesia. Menurut WHO angka rata-rata katarak kongenital di negara berkembang
mungkin dapat lebih tinggi.2
Katarak kongenital dapat terjadi unilateral maupun bilateral dan
penyebabnya bermacam-macam. Penyebab katarak kongenital unilateral antara lain
80% idiopatik, 10% kelainan okular, 9% trauma dan sisanya karena infeksi
intrauterin.3

BAB II

1
TINJAUAN PUSTAKA

2. 1. Anatomi dan Fisiologi Lensa

A. Anatomi Lensa

Pada manusia, lensa mata bikonveks, tidak mengandung pembuluh darah,


tembus pandang, dengan diameter 9 mm, dan tebal sekitar 5 mm. Lensa terdiri
dari kapsul, epitel lensa, korteks dam nucleus. Ke depan, lensa berhubungan
dengan cairan bilik mata, ke belakang berhubungan dengan badan kaca. Di
belakang iris, lensa digantung pada prosesus siliaris oleh zonula Zinii
(ligamentum suspensorium lentis), yang melekat pada ekuator lensa, serta
menghubungkannya dengan korpus siliare. Zonula Zinni berasal dari lamina basal
epitel tidak berpigmen prosesus siliare. Zonula Zini melekat pada bagian ekuator
kapsul lensa, 1,5 mm pada bagian anterior dan 1,25 pada bagian posterior.4

Permukaan lensa pada bagian posterior lebih cembung daripada


permukaan anterior. Di sebelah anterior lensa terdapat humor akuous dan di
sebelah posteriornya korpus vitreus. Lensa diliputi oleh kapsula lentis, yang
bekerja sebagai membran semipermeabel, yang menkagalirkan air dan elektrolit
untuk makanannya. Di bagian anterior terdapat epitel subkapsuler sampai
ekuator.4

2
Gambar 1: Anatomi Lensa

B. Fisiologi Lensa

Lensa berfungsi sebagai :


1. Media refraksi yang merupakan bagian optic bola mata untuk memfokuskan
sinar ke bintik kuning.
2. Fungsi akomodasi yaitu dengan kontraksinya otot-otot siliar maka ketegangan
zonula zinni berkurang sehingga lensa menjadi lebih cembung untuk melihat
obyek yang lebih dekat.1

Pada foetus, bentuk lensa hampir sferis dan lemah. Pada orang dewasa
lensanya lebih padat dan bagian posterior lebih konveks. Proses sklerosis bagian
sentral lensa, dimulai pada masa kanak-kanak dan terus berlangsung secara
perlahan-lahan sampai dewasa dan setelah ini proses bertambah cepat dimana
nukleus menjadi lebih besar dan korteks bertambah tipis. Pada orang tua lensa
menjadi lebih besar, lebih gepeng, warna kekuning-kuningan, kurang jernih dan
tampak sebagai "grey reflex" atau "senile reflex", yang sering disangka katarak,
padahal salah. Karena proses sklerosis ini, lensa menjadi kurang elastis dan daya
akomodasinya pun berkurang. Keadaan ini disebut presbiopia, pada orang
Indonesia dimulai pada umur 40 tahun.4

3
Gambar 2: Akomodasi Lensa

2. 2. Katarak Kongenital
A. Definisi
Katarak kongenital adalah katarak yang terjadi segera setelah lahir dan bayi
berusia kurang dari 1 tahun. Katarak kongenital merupakan penyebab kebutaan
pada bayi yang cukup berarti terutama akibat penanganannya yang kurang tepat.1

4
Gambar 3: Gambaran Katarak Kongenital

B. Epidemologi
Katarak kongenital merupakan penyebab hampir 10 % kebutaan pada
anak-anak diseluruh dunia. Frekuensi atau jumlah kejadian total katarak
kongenital di seluruh dunia belum diketahui pasti. Di Amerika Serikat disebutkan
sekitar 500-1500 bayi lahir dengan katarak kongenital tiap tahunnya dengan
insiden 1,2-6 kasus per 10.000 kelahiran. Sedangkan di Inggris, kurang lebih 200
bayi tiap tahunnya lahir dengan katarak kongenital dengan insiden 2,46 kasus per
10.000 kelahiran. Di Indonesia sendiri belum terdapat data mengenai jumlah
kejadian katarak kongenital, tetapi angka kejadian katarak kongenital pada
negara berkembang adalah lebih tinggi yaitu sekitar 0,4 % dari angka kelahiran.5

C. Etiologi
Untuk mengetahui penyebab katarak kongenital diperlukan pemeriksaan
riwayat prenatal infeksi ibu setelah rubela pada kehamilan trimester pertama dan
pemakaian obat selama kehamilan. Kadang-kadang pada ibu hamil terdapat
riwayat kejang, tetani, ikterus, atau hepatosplenomegali. Bila katarak disertai
dengan uji reduksi pada urin yang positif, mungkin katarak ini terjadi akibat
galaktosemia. Sering katarak kongenital ditemukan pada bayi prematur dan

5
gangguan sistem syaraf seperti retardasi mental. Hampir 50 % dari katarak
kongenital adalah sporadik dan tidak diketahui penyebabnya.1
Kelainan umum yang menampakan proses penyakit pada janin atau
bersamaan dengan proses penyakit ibu yang sedang mengandung.1,2 Pada
umumnya katarak kongenital bersifat sporadik dan tidak diketahui penyebabnya.
Dua puluh tiga persen dari katarak kongenital merupakan penyakit keturunan
yang diwariskan secara autosomal dominan. Penyakit yang menyertai katarak
kongenital yang merupakan penyakit herediter adalah mikroftalmus, aniridia,
kolobama iris, keratokonus, lensa ektopik, displasia retina dan megalo kornea.
Selain itu katarak kongenital dapat ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu
yang menderita infeksi seperti rubella, rubeola, chiken pox, cytomegalo virus,
herpes simplek, herpes zoster, poliomyelitis, influenza, Epstein-Barr syphilis dan
toxoplasmosis saat kehamilan terutama pada trimester I. Sementara yang
behubungan dengan penyakit metabolik adalah galaktosemia, homosisteinuria,
diabetes mellitus dan hipoparatiroidisme.5
Katarak terbentuk saat protein didalam lensa menggumpal bersama-sama
membentuk sebuah clouding atau bentuk yang menyerupai permukaan es. Ada
banyak alasan yangmenyebabkan katarak kongenital, yaitu antara lain:
1. Herediter (Tanpa dihubungkan dengan kelainan mata atau sistemik, seperti
autosomal dominant inheritance)
2. Herediter yang dihubungkan dengan kelainan sistemik dan sindrom
multisistem
a. Kromosom: Downs syndrome (trisomy 21), Turners syndrome
b. Penyakit otot skelet atau kelainan otot: Stickler syndrome, Myotonic
dystrophy
c. Kelainan sistem saraf pusat: Norries disease
d. Kelainan ginjal: Lowes syndrome, Alports syndrome
e. Kelainan mandibulo-facial: Nance-Horan cataract-dental syndrome
f. Kelainan kulit: Congenital icthyosis, Incontinentia pigmenti.
3. Infeksi: toxoplasma, rubella(paling banyak), cytomegalovirus, herpes
simplex,sifilis, poliomielitis, influenza, Epstein-Barr virus saat hamil
4. Obat-obatan prenatal (intra-uterine) seperti kortikosteroid dan vitamin A
5. Radiasi ion prenatal (intra-uterine) seperti x-rays,
6. Kelainan metabolik seperti diabetes pada kehamilan,
7. Tapi penyebab terbanyak pada kasus katarak adalah idiopatik, yaitu tidak
diketahui penyebabnya.

D. Patofisioologi

6
Pada katarak kongenital, kelainan utama terjadi di nukleus lensa (nukleus
fetal atau nukleus embrional, tergantung pada waktu stimulus karaktogenik) atau
di kutub anterior atau posterior lensa apabila kelainannya terletak di kapsul lensa.
Pada katarak developmental, kekeruhan pada lensa timbul pada saat lensa
dibentuk. Jadi lensa belum pernah mencapai keadaan normal. Hal ini merupakan
kelainan kongenital. Kekeruhan lensa, sudah terdapat pada waktu bayi lahir.
Kekeruhan pada katarak kongenital jarang sekali mengakibatkan keruhnya
seluruh lensa. Letak kekeruhannya, tergantung saat terjadinya gangguan pada
kehidupan janin, sesuai dengan perkembangan embriologik lensa. Bentuk katarak
kongenital memberikan kesan tentang perkembangan embriologik lensa, juga
saat terjadinya gangguan pada perkembangan tersebut.
Katarak kongenital yang menyebabkan penurunan penglihatan yang
bermakna harus dideteksi secara dini, baik di ruang bayi baru lahir oleh dokter
anak atau dokter keluarga. Katarak putih yang dan besar dapat tampak sebagai
leukokoria yang dapat dilihat oleh orangtua. Katarak infantilis unilateral yang
padat, terletak di tengah, dan garis tengahnya lebih besar dari 2 mm akan
menimbulkan ambliopia deprivasi permanen apabila tidak diterapi dalam masa 2
bulan pertama kehidupan sehingga mungkin memerlukan tindakan bedah segera.
Katarak bilateral simetrik memerlukan penatalaksanaan yang tidak terlalu segera,
tetapi apabila penanganannya ditunda tanpa alasan yang jelas, dapat terjadi
ambliopia deprivasi bilateral.

E. Manifestasi Klinis
Tanda yang sangat mudah untuk mengenali katarak kongenital adalah
bila pupil atau bulatan hitam pada mata terlihat berwana putih atau abu-abu
disebut dengan leukoria, Walaupun 60% pasien dengan leukoria adalah katarak
congenital. Leukoria juga terdapat pada retiboblastoma, ablasio retina, fibroplasti
retrolensa dan lain-lain.5
Pada katarak kongenital total penyulit yang dapat terjadi makula lutea
yang tidak cukup mendapatkan rangsangan. Proses masuknya sinar pada saraf
mata sangat penting bagi penglihatan bayi pada masa mendatang, karena bila
terdapat gangguan masuknya sinar setelah 2 bulan pertama kehidupan, maka
saraf mata akan menjadi malas dan berkurang fungsinya. Makula tidak akan
berkembang sempurna hingg walaupun dilakukan ekstraksi katarak maka
biasanya visus tidak akan mencapai 5/5. Hal ini disebut ambliopia sensoris.4

7
Selain itu katarak kongenital dapat menimbulkan gejala nistagmus,
strabismus dan fotofobia. Apabila katarak dibiarkan maka bayi akan mencari-cari
sinar melalui lubang pupil yang gelap dan akhirnya bola mata akan bergerak-
gerak terus karena sinar tetap tidak ditemukan. Katarak kongenital sering terdapat
bersamaan dengan nistagmus, displasia ovea, dan strabismus. Atau ada pula yang
menyertai kelainan pada mata sendiri, yang juga merupakan kelainan bawaan
seperti heterokromia iris.4

F. Differential Diagnosis
a. Retinoblastoma
Retinoblastoma adalah kanker pada retina (daerah di belakang mata yang
peka terhadap cahaya) yang menyerang anak berumur kurang dari 5 tahun.
Sekitar 2% dari kanker pada masa kanak-kanak adalah retinoblastoma.

Gambar 4: Retinoblastoma

b. Retrolental fibroplasia
Retinopati prematuritas (ROP), sebelumnya dikenal sebagai Retrolental
fibroplasia (RLF), adalah gangguan mata pada bayi yang lahir prematur . Hal
ini diduga disebabkan oleh pertumbuhan tidak sempurna dari retina pembuluh
darah yang dapat menyebabkan jaringan parut dan ablasi retina. ROP dapat
ringan dan dapat menghilang secara spontan, tetapi dapat mengakibatkan
kebutaan dalam kasus yang tidak ringan. Semua bayi prematur beresiko untuk
ROP, dan berat lahir sangat rendah merupakan faktor risiko tambahan. Kedua
toksisitas oksigen dan relatif hipoksia dapat berkontribusi untuk
pengembangan ROP.

G. Penatalaksanaan

8
Beberapa katarak tidak menyebabkan gangguan penglihatan dan tidak
membutuhkan terapi pembedahan. Jika katarak memberi efek pada penglihatan,
dipertimbangkan pembedahan untuk mengeluarkan lensa dari mata. Katarak
sedang hingga berat yang mengganggu penglihatan, atau sebuah katarak yang
hanya ada pada satu mata membutuhkan operasi pengangkatan katarak.
Kebanyakan bedah katarak (non-kongenital), dimasukkan lensa intraokular
buatan (IOL) kedalam mata. Namun penggunaan IOL pada anak-anak masih
kontroversi. Tanpa IOL, bayi akan membutuhkan lensa kontak.

Evaluasi sebelum operasi


Karena seluruh proses dalam penanganan sebuah katarak kongenital
lebih komplek, sangatlah penting untuk membuat keputusan yang tepat selama
evaluasi sebelum operasi. Pada dewasa, kita ketahui bahwa hal yang paling
menyebabkan hasil tidak baik pada bedah katarak disebabkan oleh pemilihan
kasus yang tidak tepat. Keputusan yang tidak tepat pada anak-anak stadium ini
dapat menyebabkan buta sepanjang hidup mereka.
Katarak kongenital tidak hanya berefek pada anak-anak namun juga
kepada keluarga dekat mereka. Uang yang digunakan untuk pengobatan lebih
bermanfaat untuk menyekolahkan anak lain. Sangatlah penting untuk
memastikan bahwa keluarga mengerti tentang prognosis dan lamanya pengobatan
karena sebagian besar merekalah yang melakukan tanggung jawab akan hal
tersebut. Keluarga juga harus mencari partner dan kolega dalam menangani anak-
anak mereka.

Investigasi
Katarak yang dihubungkan dengan umur biasanya terjadi dalam isolasi,
dan kita jarang memeriksa pasien untuk mencari beberapa hal yang menyebabkan
kekeruhan pada lensa. Mekipun demikian, pada anak-anak, katarak adalah hal
yang jarang, dan lebih dihubungkan dengan kondisi sistemik.
Ada banyak kondisi yang dihubungkan dengan katarak pada masa anak-
anak. Kebanyakan dari penyebab tersebut adalah jarang, dan pada banyak anak
kita tidak mengetahui penyebabnya. Bahkan di negara kaya, yang dengan hampir
penelitian tak terhitung, tidak ada penyebab paling besar yang menyebabkan
katarak terjadi pada anak-anak. Tidak ada keuntungan melakukan banyak tes dan
investigasi pada semua anak dengan katarak. Akan lebih baik jika melakukan
sebuah anamnesis dengan teliti, termasuk riwayat penyakit keluarga, dari kedua

9
orang tua. Bertanya tentang penyakit atau obat-obatan yang digunakan selama
kehamilan, dan memastikan anak-anak berkembang dengan normal. Ingat bahwa
setiap anak yang buta akan mengalami beberapa perkembangan yang terlambat,
dan hal ini biasanya akan baik bila penglihatan diperbaiki. Meskipun,
perkembangan bicara dan dengar pasien seharusnya normal.
Jika mungkin, anak-anak seharusnya diperiksa oleh dokter spesialis anak,
yang dapat melihat kelainan kongenital, dan menentukan apakah anak tersebut
cukup sehat untuk dilakukan anastesi umum. Jika pada anamnesis dan
pemeriksaan tidak ada petunjuk yang mengarahkan penyebab katarak, ada hal-hal
kecil yang dilakukan pada investigasi selanjutnya.

Pembedahan
Bedah katarak pada anak-anak sangat berbeda dengan orang dewasa.
Operasi dilakukan dengan anastesi umum, yang mungkin berhubungan dengan
kelainan jantung kongenital atau kelainan kongenital lainnya. Perlakuan mata
pada anak sangat berbeda dengan mata orang dewasa. Bedah katarak kongenital
sebaiknya hanya dilakukan dipusat-pusat yang mempunyai perlengkapan untuk
memenuhi persyaratan prosedur.
Apabila didapatkan katarak unilateral yang padat, sentral dengan
diameter lebih dari 2 mm atau katarak menyerang kedua mata, dianjurkan
ekstrasi katarak pada bayi berusia 2 bulan untuk memungkinkan berkembangnya
tajam pengelihatan dan mencegah ambliopi. Apabila operasi ini berhasil baik,
operasi mata kedua dapat dilakukan segera. Bila tidak, operasi ditunda 1-2 tahun
kemudian sehingga risiko penylit operasi lebih rendah.
Anak-anak tidak mempunyai inti lensa yang keras, sehingga
memungkinkan untuk ekstraksi seluruh katarak hanya dengan aspirasi saja. Ada
dua operasi yang digunakan secara luas pada katarak kongenital.
1. Lensektomi
2. Extra-capsular cataract extraction (ECCE)

Intra ocular lenses (IOLs)


Pada anak-anak sangatlah penting untuk mengkoreksi apakia sesegera
mungkin setelah pembedahan. Salah satu pilihan adalah untuk menanam sebuah
IOL ketika katarak di ekstraksi. Sayangnya hal tersebut bukanlah hal yang
sederhana. Saat lahir lensa manusia lebih sferisdibanding orang dewasa. Lensa
tersebut mempunyai kekuatan sekitar 30D, dimana mengkompensasi untuk jarak

10
axial lebih dekat dari mata bayi. Hal ini turun sekitar 20-22D setiap 5 tahun.
Artinya bahwa sebuah IOL yang memberikan penglihatan normal pada seorang
bayi akan membuat miopia yang signifikan saat dia lebih tua. Hal tersebut
merupakan komplikasi lanjut karena perubahan kekuatan kornea dan
perpanjangan axial dari bola mata. Perubahan-perubahan ini paling cepat terjadi
beberapa tahun pertama kehidupan dan hal ini hampir tidak mungkin untuk
memprediksi kekuatan lensa untuk bayi. Penanaman IOL implantation hampir
menjadi hal yang rutin untuk anak yang lebih besar, tapi masih kontroversi untuk
anak yang usia lebih muda, beberapa pada anak dibawah dua tahun. (lihat
Community Eye Health Vol.14 No.40, 2001)

Setelah operasi
Pada dewasa, perawatan setelah operasi dibutuhkan, berupa tetes mata
dan kacamata- jika dibutuhkan. Pada anak-anak, pembedahan hanyalah awal dari
pengobatan karena bisa rekuren dan hal ini harus dijelaskan sejak awal.
Kacamata harus segera disesuaikan ketika anak sudah bisa memakainya.
Setelah operasi mata mungkin akan terasa tidak nyaman dan gatal. Mata akan
ditutup untuk beberapa hara untuk membantu proses penyembuhan dan
melindunginya. Rumah sakit akan memberikan tetes mata yang mencegah
inflamasi dan infeksi, yang biasanya dipakai selama satu atau dua bulan untuk
membantu proses penyembuhan. Tetes mata segera dipakai setelah penutup mata
dilepas (biasanya sehari setelah operasi). Jika mata masih terasa tidak nyaman,
pertimbangkan pemberian analgetik.
Monitor penyembuhan post-operasi dan lihat perkembangannya. Ajarkan
cara menetes mata kepada orang tua atau keluarga terdekat cara meneteskan tetes
mata. Ajarkan beberapa tehnik perawatan post-operasi seperti memandikan anak
(agar terkena air kotor dan shampoo), memakaikan plastik pelindung mata
(pakaikan selalu kepada anak, kecuali malam hari untuk mencegah anak
mengucek mata setelah operasi), tetap menjaga kebersihan mata tanpa
menguceknya dan mencucinya hingga bersih, beritahu berapa lama pelindung
mata tersebut digunakan. Semua ini dilakukan agar mendapatkan penyembuhan
terbaik dan meminimalisasi risiko infeksi.

11
Refraksi
Prioritas utama adalah mengkoreksi afakia dan hal ini harus ditangani
sesegera mungkin. Di negara maju lensa kontak digunakan secara luas. Mereka
dapat diganti dengan mudah dan kekuatan dapat dimodifikasi. Meskipun,
penggunaan lensa kontak membutuhkan kebersihan, water solution dan sanitasi.
Alternatif lain menggunakan kacamata atau IOL. Bahkan meskipun IOL
digunakan akan tetap ada error refraksi yang risidual dan kacamata tetap menjadi
pilihan untuk kemungkinan mendapatkan penglihatan yang terbaik. Kacamata
harus disesuaikan sesegera mungkin saat anak sudah bisa menggunakannya.
Refraksi harus di periksa secara reguler, setidaknya setiap 4 bulan sampai
berumur 2 tahun, dan menjadi setahun sekali setelah berumur 5 tahun.

H. Komplikasi
Kebanyakan anak-anak dengan katarak kongenital akan menjadi
ambliopia. Karena gambaran retina menjadi buram oleh katarak., penglihatan
tidak berkembang sebagaimana mestinya, dan otak tidak dapat menangkap
sensitivitas informasi dari mata. Ekstraksi katarak dan koreksi apakia, akan
mengembalikan kejernihan gambar tetapi otak masih butuh pembelajaran untuk
melihat, dan hal ini membutuhkan waktu. Jika mata tidak pernah memiliki
penglihatan yang jernih, mereka tidak akan pernah melihat atau memandang
secara benar dan dapat menyebabkan nistagmus. Jika penglihatan diperbaiki,
nistagmus sering berubah, jadi nistagmus pada anak-anak bukanlah
kontraindikasi untuk pembedahan.
Seringkali satu mata akan menjadi lebih baik dari yang lain dan hal ini
akan menjadi mata yang dominan, yang membuat mata lainnya menjadi
amblopia. Satu-satunya cara untuk mendeteksi hal ini adalah pengukuran visus
secara reguler pada setiap mata. Jika satu mata memiliki satu atau dua derajat
lebih buruk dari mata yang lain tanpa penjelasan yang jelas, hal tersebut mungkin
merupakan amblopia dan anak tersebut membutuhkan pengobatan untuk mata
yang dominan. Risiko amblopia merupak risiko terbesar selama tahun pertama
kehidupan dan menurun secara signifikan setelah tahun kelima.

12
Setiap anak yang tidak dilakukan kapsulektomi posterior, kapsul tersebut
akan berkembang menjadi keruh. Hal ini dapat diobati dengan membuat sebuah
bukaan didalam kapsul dengan laser atau jarum. Alternatif lain kapsul posterior
dan vitreous anterior dapat di ekstraksi dengan sebuah vitrektor. Jika kapsul
dibuka tanpa mengeluarkan vitreus, kekeruhan mungkin akan rekuren pada
anterior hyaloid face. Kehilangan penglihatan satu mata dari peningkatan
kekeruhan kapsul akan menjadi asimptomatis dan bisa dideteksi hanya dengan
pemeriksaan yang reguler. Komplikasi lanjut seperti glaukoma, infeksi mata,
ablasio retina mungkin terjadi setelah bedah sekita 2 % dari kasus. Terdapat
pengobatan yang bisa dilakukan untuk kondisi dan informasi ini dari RNIB.
Glaukoma mungkin timbul setelah lensektomi, sebagian jika di ekstraksi
pada minggu pertama kehidupan. Glaukoma ini sangat susah untuk diobati dan
frekuensi nya mengarah kekebutaan. Menunda operasi sampai bayi berumur 3-4
bulan membuat visus mata tidak sampai 6/6 namun dapat menurunkan risiko
glaukoma. Ablasio retina lebih sering terjadi pada bedah katarak kongenital.
Sering timbul sangat lambat, sekitar 35 tahun setelah operasi. Jika beberapa
pasien mengeluh tiba-tiba kehilangan penglihatan, bahkan meskipun bertahun-
tahun setelah operasi katarak kongenital, hal tersebut dianggap sebagai akibat
dari ablasio retina sampai dibuktikan terdapat penyebab yang lain.
Komplikasi lebih biasa terjadi pada anak dibawah umur satu tahun yang
melakukan operasi katarak kongenital, seperti bengak, perdarahan, nyeri atau
kemerahan didalam atau disekitar mata yang dioperasi. Masalah ini dapat
ditangani dengan sempurna bila orang tua segera membawa anak tersebut ke
rumah sakit.

I. Prognosis
Prognosis penglihatan adalah bagus setelah operasi. Di Kenya, 47% mata
mencapai visus 6/18 atau lebih baik dan hanya 5% kurang dari 6/60. Hampir
semua anak katarak yang melakukan operasi dapat bersekolah dengan normal.
Ekstraksi sebuah katarak kongenital merupakan suatu prosedur yang aman dan
efektif. Anak-anak membutuhkan tindak lanjut untuk rehabilitasi penglihatan
mereka. Kebanyakan anak-anak mempunyai tingkat "lazy eye/mata malas"
(amblyopia) sebelum pembedahan. Menurut emedecine, seorang dengan

13
unilateral katarak kongenital, 40% mencapai visus 20/60 atau lebih baik.
Sedangkan seorang dengan bilateral katarak kongenital 70% mencapai visus
20/60 atau lebih baik. Prognosis menjadi lebih buruk bila melibatkan penyakit
mata atau sistemik lainnya.

BAB III
LAPORAN KASUS

3.1. Identitas Pasien


Nama : An. L
Umur : 3 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Ledok, Bojonegoro
Agama : Islam
Pekerjaan :-

14
Tgl Pemeriksaan : Selasa, 28 Februari 2017
No. Rekam Medis : 507010

3.2. Anamnesis (Hetero-anamnesa)


a. Keluhan Utama
Bagian tengah mata berwarna putih
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien anak laki-laki datang ke poli Mata RSUD R. Sosodoro Djatikusumo
Bojonegoro dintar oleh bibinya. Menurut keterangan bibinya bagian tengah mata
pasien terlihat putih sejak lahir. Kemudian pasien dirasa tidak dapat melihat.
Ketika pasien berjalan pasien terlihat meraba-raba sekitarnya dan tidak dapat
melakukan aktivitas dan bermain dengan baik. Sebelumnya pasien didiagnosa
katarak ketika ibu pasien memeriksakannya di acara bakti sosial di desanya dan
sehingga keluarga pasien memeriksakannya ke dokter spesialis mata. Sekitar 4
bulan yang lalu pasien doperasi pada mata kanannya. Sehingga saat ini pasien
mulai dapat berjalan dan bermain sendiri.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
-Riwayat trauma mata disangkal.
-Riwayat sakit mata sebelumnya disangkal
d. Riwayat Prenatal
-Tidak ada data (Ibu pasien tidak hadir saat pemeriksaan)
e. Riwayat Neonatus
-Tidak ada data (Ibu pasien tidak hadir saat pemeriksaan)
f. Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada keluarga yang mengalami keluhan seperti ini.
g. Riwayat Pengobatan
Operasi katarak kurang lebih 4 bulan yang lalu.
h. Riwayat Alergi
Tidak memiliki alergi makanan atau obat-obatan tertentu.

3.3. Pemeriksaan Fisik


a. Tanda-Tanda Vital
Tekanan Darah :-
Nadi : 112 x/m
Respirasi : 24 x/m
Suhu : afebris

b. Status Generalis
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Kepala/Lehaer : Dalam batas normal
Thoraks : Dalam batas norma
Abdomen : Dalam batas normal
Ekstremitas : Dalam batas normal

15
c. Status Lokalis
OD OS

Pseudofakia Lensa Keruh

ODLeukoria (+) Pemeriksaan OS


Mengikuti arah cahaya Pemeriksaan Visus Mengikuti arah cahaya
- TIO -
Oedem (-) Oedem (-)
L Palpebra
Hiperemi (-) Hiperemi (-)
CVI (-) CVI (-)
Konjungtiva
PCVI (-) PCVI (-)
Jernih Jernih
Kornea
Infiltrat (-) Infiltrat (-)
Dalam Dalam
Hifema (-) Bilik Mata Depan Hifema (-)
Hipopion (-) Hipopion (-)
Radier (+) Iris Radier (+)
Bulat, Sentral, reguler, Bulat, Sentral, reguler,
Ukuran <3mm Ukuran <3mm
Pupil
Reflek Cahaya (+) Reflek Cahaya (+)
Leukoria (+)
Pseudofakia Lensa Keruh
(+) Nistagmus (+)

3.4. Assesment
- OD Pseudofakia
- OS Katarak Kongenital
Differential Diagnosis :
- Retinoblastoma
- Retrolental fibroplasia

16
3.5. Planning
-Rawat Inap
-Tindakan Operatif
-Terapi Post-operatif
Farmakologi
-Anti biotik topikal
-Anti Inflamasi topikal
-Analgesik
Non-farmakologi
-Bebat mata

3.6. Prognosis
Dubia ad Bonam

3.7. Edukasi
Menjelaskan kepada kedua keluarga pasien bahwa:
1. Terdapat kekeruhan lensa pada mata kiri anak yang menyebabkan mata menjadi
putih, kekeruhan lensa terjadi sejak lahir.
2. Diperlukan tindakan operasi untuk mengambil lensa mata yang telah mengalami
katarak dan dilakukan pemasangan lensa tanam.
3. Satu minggu setelah operasi harus kontrol untuk memantau kesembuhan bekas
operasi.
4. Mengajarkan cara menetes mata kepada orang tua atau keluarga terdekat cara
meneteskan tetes mata.
5. Mengajarkan beberapa tehnik perawatan post-operasi seperti memandikan anak
(agar terkena air kotor dan shampoo), memakaikan plastik pelindung mata
(pakaikan selalu kepada anak, kecuali malam hari untuk mencegah anak
mengucek mata setelah operasi), tetap menjaga kebersihan mata tanpa
menguceknya dan mencucinya hingga bersih.
6. Setelah operasi pasien akan mengenakan kacamata sesegera mungkin saat anak
sudah bisa menggunakannya.
7. Kontrol secara reguler untuk pemeriksaan refraksi setiap 1 tahun sekali jika anak
lebih dari 5 tahun.
DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata.Edisi ketiga. FKUI. Jakarta : 2007 : 210-214


17
2. Bashour M. Congenital Cataract. 2005. Available from URL:
http://emedicine.medscape.com.
3. Friedman NJ, Kaiser PK. Essential of Ophthalmology. 2009. Saunders Elsevier, India,
92-95.
4. Wijana, Nana S.D, Ilmu Penyakit Mata, Cetakan ke-6, Penerbit Abadi Tegal, Jakarta,
1993 : 190-196.
5. Vaughan DG, Asbury T. Lensa. Oftalmologi Umum, Edisi 14, Alih Bahasa Tambajong
J, Pendit UB. Widya Medika. Jakarta, 2000 : 175,183-4

18