Anda di halaman 1dari 22

Case Report Session

NASKAH PSIKIATRI
Gangguan Skizofrenia Paranoid

Nama Perseptor :dr. Yaslinda Yaunin, Sp. KJ

Nama Dokter Muda : Zulbasri P 1990 B


Farisah Dini P 1989 B

BAGIAN PSIKIATRI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS


ANDALAS
RSUP M DJAMIL PADANG
2017

0
BAB 1
TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi Skizofrenia Paranoid


Skizofrenia merupakan suatu deskripsi sindroma dengan variasi penyebab
(banyak yang belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis
atau "deteriorating") yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada
perimbangan pengaruh genetik, fisik, dan sosial budaya. Perjalanan penyakit ini
secara bertahap akan menuju kronisitas, tetapi sekali-kali bias menimbulkan
serangan. Jarang bias terjadi pemulihan sempurna dengan spontan dan jika tidak
diobati biasanya berakhir dengan personalitas yang rusak.1,2
Skizofrenia merupakan sindrom klinis yang paling membingungkan dan
melumpuhkan. Skizofrenia merupakan gangguan psikologis yang paling
berhubungan dengan pandangan popular tentang gila atau sakit mental. Hal ini
sering menimbulkan rasa takut, kesalahpahaman, dan penghukuman, bukannya
simpati dan perhatian. Skizofrenia menyerang jati diri seseorang, memutus
hubungan yang erat antara pemikiran dan perasaan serta mengisinya dengan
persepsi yang terganggu, ide yang salah, dan konsepsi yang tidak logis. Mereka
mungkin berbicara dengan nada yang mendatar dan menunjukkan sedikit
ekspresi.1,3
Gejala pada skizofrenia terdiri atas indikator premorbid (pra-sakit) pre-
skizofrenia antara lain ketidakmampuan seseorang mengekspresikan emosi, wajah
dingin, wajah tersenyum, acuh tak acuh. Penyimpangan komunikasi : pasien sulit
melakukan pembicaraan terarah, kadang menyimpang (tangensial) atau berputar-
putar (sirkumstantial). Gangguan atensi : penderita tidak mampu memfokuskan,
mempertahankan, atau memindahkan atensi. Gangguan perilaku : menjadi
pemalu, tertutup, menarik diri secara sosial, tidak bias menikmati rasa senang,
menantang tanpa alasan jelas, mengganggu dan tak disiplin.1,3
Skizofreniatipe paranoid merupakan tipe yang tersering dan paling banyak
ditemukan. Awitan subtype ini biasanya terjadi lebih belakangan dibandingkan
dengan bentuk skizofrenia lain. Gejala terlihat sangat konsisten, sering paranoid,
pasien dapat atau tidak bertindak sesuai dengan wahamnya. Pasien sering

1
kooperatif dan sulit untuk mengadakan kerjasama, dan mungkin agresif, marah,
atau ketakutan, tetapi pasien jarang sekali memperlihatkan perilaku inkoheren
atau disorganisasi. Waham dan halusinasi menonjol sedangkan afek dan
pembicaraan hamper tidak terpengaruh. Beberapa contoh gejala paranoid yang
sering ditemui berupa waham kejar, rujukan, kebesaran, waham dikendalikan,
dipengaruhi, dan cemburu. Halusinasi akustik berupa ancaman, perintah, atau
menghina.1,4,5

2. Gejala Skizofrenia Paranoid


Beberapa contoh dari gejala-gejala paranoid yang paling umum: a). waham
kejaran, rujukan (reference), exalted birth (merasa dirinya tinggi, istimewa),
misi khusus, perubahan tubuh atau kecemburuan. b). Suara-suara halusinasi yang
mengancam pasien atau member perintah, atau halusinasi auditorik tanpa bentuk
verbal berupa bunyi pluit (whistling), mendengung (humming), atau bunyi tawa
(laughing). c). Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual,
atau lain-lain perasaan tubuh; halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang
menonjol. Gangguan pikiran mungkin jelas dalam keadaan-keadaan yang akut,
tetapi sekali pun demikian kelainan itu tidak menghambat diberikannya deskripsi
secara jelas mengenai waham atau halusinasi yang bersifatkhas. Keadaan afektif
biasanya kurang mengumpul di bandingkan jenis skizofrenia lain, tetapi suatu
derajat yang ringan mengenai ketidakserasian dan gangguan suasana perasaan
(mood) seperti iritabilitas, negatif serta dorongan kehendak (volition) sering
dijumpai tetapi tidak mendominasi gambaran klinisnya. 1,3
Gejala-gejala skizofrenia dapat dibagi dalam dua kelompok yaitu:
a. Gejala positif

Delusi atau waham
Suatu keyakinan yang tidak rasional (tidak masuk akal). Meskipun telah
dibuktikan secara objektif bahwa keyakinannya itu tidak rasional, namun
penderita tetap meyakini kebenarannya.

Halusinasi

2
Pengalaman panca indera tanpa ada rangsangan (stimulus). Misalnya
penderita mendengar suara-suara/ bisikan-bisikan di telinganya padahal tidak
ada sumber dari suara/ bisikan itu.

Kekacauan alam pikiran
Dapat dilihat dari isi pembicaraannya. Misalnya bicaranya kacau, sehingga
tidak dapat diikuti alur pikirannya.

Gaduh, gelisah, tidak dapat diam, mondar-mandir, agresif, bicara dengan
semangat dan gembira berlebihan.

Merasa dirinya Orang Besar, merasa serba mampu dan sejenisnya.

Pikirannya penuh dengan kecurigaan atau seakan-akan ada ancaman
terhadap dirinya.

Menyimpan rasa permusuhan.1

b. Gejala negatif

Alam perasaan (affect) tumpul dan mendatar
Gambaran alam perasaan ini dapat terlihat dari wajahnya yang tidak
menunjukkan ekspresi.

Menarik diri atau mengasingkan diri, tidak mau bergaul atau kontak
dengan orang lain dan suka melamun.

Kontak emosional amat sedikit, sukar diajak bicara dan pendiam.

Pasif dan apatis serta menarik diri dari pergaulan sosial.

Sulit dalam berpikir nyata.

Pola pikir steorotip.

Tidak ada/ kehilangan dorongan kehendak dan tidak ada inisiatif.1,4
Perjalanan penyakit skizofrenia paranoid dapat terjadi secara episodik,
dengan remisi sebagian atau sempurna, atau bersifat kronis. Pada kasus-kasus
yang kronis, gejala yang nyata menetap selama bertahun-tahun dan sukar untuk
membedakan episode-episode yang terpisah. Onset cenderung terjadi pada usia
yang lebih tua dibandingkan pada bentuk-bentuk hebefrenik dan katatonik.1

3. Faktor Risiko Skizofrenia Paranoid

3
Faktor resiko skizofrenia adalah sebagai berikut:
1. Riwayat skizofrenia dalam keluarga
2. Kembar identik
Kembar identik memiliki risiko skizofrenia 50%, walaupun gen mereka
identik 100%
3. Struktur otak abnormal
Dengan perkembangan teknik pencitraan teknik noninvasif, seperti CT scan,
Magnetic Resonance Imaging (MRI), dan Positron Emission Tomography
(PET) dalam 25 tahun terakhir, para ilmuwan meneliti struktur otak dan
aktivitas otak individu penderita skizofrenia. Penelitian menunjukkan bahwa
individu penderita skizofrenia memiliki jaringan otak yang relatif lebih
sedikit.1

4. Tatalaksana Skizofrenia Paranoid


Penanganan pasien skizofrenia dibagi secara garis besar menjadi :
Terapi somatik, terdiri dari obat anti psikotik
Terapi psikososial
Perawatan rumah sakit (Hospitalize)
Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati Skizofrenia adalah
antipsikotik. Antipsikotik bekerja mengontrol halusinasi, delusi dan perubahan
pola fikir yang terjadi pada Skizofrenia. Pasien mungkin dapat mencoba beberapa
jenis anti psikotik sebelum mendapatkan obat atau kombinasi obat antipsikotik
yang benar-benar cocok bagi pasien. Antipsikotik pertamadi perkenalkan 50 tahun
yang lalu dan merupakan terapi obat-obatan pertama yang efekitif untuk
mengobati Skizofrenia.Terdapat 3 kategori obat antipsikotik yang dikenal saat ini,
yaitu antipsikotik generasi pertama (konvensional), generasi kedua(atypical),
danClozaril (Clozapine).1,3
Walaupun medikasi antipsikotik adalah inti dari pengobatan skizofrenia,
penelitian telah menemukan bahwa intervensi psikososial dapat memperkuat
perbaikan klinis. Farmakologis digunakan untuk mengobati ketidakseimbangan
kimia, sedangkan nonfarmakologis berkaitan dengan masalah
nonbiologikal.Modalitas psikososial harus diintegrasikan secara cermat kedalam
regimen obat dan harus mendukung regimen tersebut.Sebagian besar pasien

4
skizofrenia mendapatkan manfaat dari pemakaian kombinasi pengobatan anti
psikotik dan psikososial.1,3
5. Prognosis Skizofrenia
Secaraumum prognosis skizofreniatergantung pada:1
1. Usia pertama kali timbul (onset): semakin muda semakin buruk
2. Mulai timbulnya akut atau perlahan: bila akut lebih baik
3. Tipe skizofrenia: episode skizofrenia akut dan katatonik lebih baik
4. Cepat, tepat, serta teraturnya pengobatan yang didapat
5. Ada atau tidaknya factor pencetus: jika ada lebih baik
6. Ada atau tidaknya factor keturunan: jika ada lebih jelek
7. Kepribadian prepsikotik: jika schizoid, skizotim, atau introvert lebih jelek
8. Keadaan sosial ekonomi: bila rendah lebih jelek

BAB 2

LAPORAN KASUS

5
I. IDENTITAS
KETERANGAN PRIBADI PASIEN

Nama (inisial) : Tn. RY / Panggilan Rian


Jenis kelamin : Laki-laki
Tempat & tanggal lahir/ Umur :Padang/ 12 Januari 1994/ 23 tahun
Status perkawinan : Belum Menikah
Kewarganegaraan : Indonesia
Suku bangsa : Minangkabau
Negeri Asal : Padang
Agama : Islam
Pendidikan : SMK
Pekerjaan : Karyawan toko
Alamat : Nanggalo, Padang
Tanggal masuk : 23 Desember 2016
Tanggal Periksa : 28 Desember 2016

II. RIWAYAT PSIKIATRI

Keterangan/ anamnesis di bawah ini diperoleh dari (lingkari angka di bawah ini
1. Autoanamnesis
2. Alloanamnesis dengan :

1. Pasien datang ke fasilitas kesehatan ini atas keinginan (lingkari pada huruf
yang sesuai)
a. Sendiri
b. Keluarga : Paman
c. Polisi
d. Jaksa/ Hakim
e. Dan lain-lain

2. Sebab Utama
Pasien mengamuk, mengancam dan mengejar ayahnya dengan pisau sejak 1
hari sebelum masuk rumah sakit sehingga pasien dibawa ke RSJ Prof. HB
Saanin.

6
3. Keluhan Utama (Chief Complaint)
Pasien semakin gelisah sejak 10 hari sebelum masuk rumah sakit

4. Riwayat Perjalanan Penyakit Sekarang


Pasien murung sejak 1 tahun yang lalu. Pada saat itu pasien mendengar bisikan
suara-suara orang yang telah mati, melihat bayangan hitam dan sering
mengalami mimpi buruk. Menurut pasien mimpinya tersebut merupakan
pertanda sesuatu yang buruk akan terjadi, sehingga pasien memberititahukan
kepada orang-orang sekitarnya, tetapi tidak ada yang peduli. Pasien sering
curiga bahwa orang di sekitarnya sering membicarakan hal buruk terhadapnya.
Pasien sering berbicara ngawur, berkata kotor, dan marah-marah tanpa sebab.
Pasien susah tidur sejak 1 bulan yang lalu dan pasien semakin gelisah sejak 10
hari sebelum masuk rumah sakit. Sebelumnya pasien pernah berobat dengan
dukun dan ruqyah, akan tetapi tidak ada perubahan pada kesembuhan pasien.

5. Riwayat Penyakit Sebelumnya


a. Riwayat Gangguan Psikiatri
Pasien tidak pernah menderita gangguan jiwa sebelumnya
b. Riwayat Gangguan Medis
Sekitar 2 tahun yang lalu pasien pernah terjatuh dari motor dan dirawat di
Rumah Sakit karena patah pada tungkai kiri
c. Riwayat Penggunaan NAPZA
Pasien merokok 1 bungkus sehari dan pernah menggunakan alkohol.
Tetapi tidak pernah menggunakan narkoba

6. Riwayat keluarga
a) Identitas orang tua

IDENTITAS Orang tua/ Pengganti Keterangan


Bapak Ibu
Kewarganegaraan Indonesia Indonesia
Suku bangsa Minangkabau Melayu
Agama Islam Islam
Pendidikan SMA SMA
Pekerjaan Petani Kebun Sawit Ibu Rumah
Tangga
Umur 50 tahun 48 tahun
Alamat Padang Padang

Hubungan pasien* Akrab Akrab


Biasa Biasa
Kurang Kurang
Tak peduli Tak peduli

7
Dan lain-lain :- :-
`Ket : * coret yang tidak perlu
b) Sifat/ Perilaku Orang tua kandung
Bapak (Dijelaskan oleh pasien dapat dipercaya/ diragukan)
Pemalas ( - )**, Pendiam ( - ), Pemarah ( - ), Mudah tersinggung ( - ), Tak
suka Bergaul ( - ), Banyak teman ( - ), Pemalu ( - ), Perokok berat ( + ),
Penjudi ( - ), Peminum ( - ), Pecemas ( - ), Penyedih ( - ), Perfeksionis (
- ), Dramatisasi ( - ), Pencuriga ( - ), Pencemburu ( - ), Egois ( - ),
Penakut ( - ), Tak bertanggung jawab ( - ).

Ibu ( Dijelaskan oleh pasien dapat dipercaya/ diragukan )


Pemalas ( - )**, Pendiam ( - ), Pemarah ( - ), Mudah tersinggung ( - ), Tak
suka Bergaul ( - ), Banyak teman ( - ), Pemalu ( - ), Perokok berat ( - ),
Penjudi ( - ), Peminum ( - ), Pecemas ( - ), Penyedih ( - ), Perfeksionis (
- ), Dramatisasi ( - ), Pencuriga ( - ), Pencemburu ( - ), Egois ( - ),
Penakut ( - ), Tak bertanggung jawab ( - ).

c) Saudara
Jumlah bersaudara 4 orang dan pasien anak pertama

d) Urutan bersaudara dan cantumkan usianya dalam tanda kurung untuk pasien
sendiri lingkari nomornya.*
1. Lk/ pr 2. Lk/ Pr 3. Lk/Pr 4. Lk/Pr
e) Gambaran sikap/ perilaku masing-masing saudara pasien dan hubungan pasien
terhadap masing-masing saudara tersebut, hal yang dinyatakan serupa dengan
yang dinyatakan pada gambaran sikap/ perilaku pada orang tua.*

Saudara Gambaran sikap dan perilaku Kualitas hubungan


ke dengan saudara (akrab/
biasa,/kurang/tak peduli)
1 Biasa Biasa
2 Biasa Biasa
3 Biasa Biasa

Ket:
*) coret yang tidak perlu
**) diisi dengan tanda ( + ) atau ( - )

f) Orang lain yang tinggal di rumah pasien dengan gambaran sikap dan tingkah
laku dan bagaimana pasien dengan mereka.*
No Hubungan dengan pasien Gambaran sikap dan Kualitas hubungan
tingkah laku (akrab/
biasa,/kurang/tak
peduli)

8
Ket:
untuk e) dan f) hanya diisi bila informan benar-benar mengetahuinya.

g) Apakah ada riwayat penyakit jiwa, kebiasaan-kebiasaan dan penyakit fisik


( yang ada kaitannya dengan gangguan jiwa) pada anggota keluarga o.s :

Anggota Penyakit Kebiasaan- Penyakit


keluarga jiwa kebiasaan fisik
Bapak - - -
Ibu - - -
Saudara 2 - - -
Saudara 3 - - -
Saudara 4 - - -
- - -

Skema Pedegree

Keterangan : : Pria : Pasien

: Wanita : Meninggal

h) Riwayat tempat tinggal yang pernah didiami pasien:


No Rumah tempat Keadaan rumah
tinggal Tenang Cocok Nyaman

9
1. Rumah orang tua Tenang Cocok Nyaman

i) Dan lain-lain

7. Gambaran seluruh faktor-faktor dan mental yang bersangkut paut dengan


perkembangan kejiwaan pasien selama masa sebelum sakit (premorbid) yang
meliputi :

a) Riwayat sewaktu dalam kandungan dan dilahirkan.


- Keadaan ibu sewaktu hamil (sebutkan penyakit-penyakit fisik dan
atau kondisi- kondisi mental yang diderita si ibu )
Kesehatan Fisik : baik
Kesehatan Mental : baik
- Keadaan melahirkan :
Aterm (+ ), partus spontan ( + )
Pasien adalah anak yang direncanakan/ diinginkan
(ya/tidak)

b) Riwayat masa bayi dan kanak-kanak


Pertumbuhan Fisik : baik, biasa, kurang*
Minum ASI : ( + ), sampai usia 2 tahun
Usia mulai bicara : 1 tahun
Usia mulai jalan : 2 tahun
Sukar makan ( - ), anoreksia nervosa ( - ), bulimia ( - ), pika ( - ),
gangguan hubungan ibu-anak ( - ), pola tidur baik ( - ), cemas
terhadap orang asing sesuai umum ( - ), cemas perpisahan (- ), dan
lain-lain.....

c) Simtom-simtom sehubungan dengan problem perilaku yang dijumpai pada


masa kanak-kanak, misalnya: mengisap jari ( - ), ngompol ( - ), BAB di
tempat tidur (- ), night teror ( - ), temper tantrum ( - ), gagap ( - ), tik (- ),
masturbasi (- ), mutisme selektif ( - ), dan lain-lain.

d) Toilet training
Umur : 4 tahun
Sikap orang tua:(memaksa/menghargai/membiarkan/memberikan arahan)
Perasaan anak untuk toilet training ini: biasa

e) Kesehatan fisik masa kanak-kanak : demam tinggi disertai menggigau (


- ), kejang-kejang ( - ), demam berlangsung lama ( - ), trauma kapitis
disertai hilangnya kesadaran ( -), dan lain-lain.

f) Temperamen sewaktu anak-anak : pemalu ( - ), gelisah ( - ) overaktif ( - ),


menarik diri ( - ), suka bergaul ( + ), suka berolahraga ( - ), dan lain-lain.

10
g) Masa Sekolah
Perihal SD SMP SMA
Umur 6 tahun 12 tahun 15 tahun
Prestasi* Baik Baik Baik
Sedang Sedang Sedang
Kurang Kurang Kurang
Aktifitas Sekolah* Baik Baik Baik
Sedang Sedang Sedang
Kurang Kurang Kurang
Sikap Terhadap Teman * Baik Baik Baik
Kurang Kurang Kurang
Sikap Terhadap Guru Baik Baik Baik
Kurang Kurang Kurang
Kemampuan Khusus (Bakat) (-) ( - ) ( - )
Tingkah Laku (baik) (baik) (baik)

h) Masa remaja: Fobia ( - ), masturbasi ( - ), ngompol ( - ), lari dari rumah


(+), kenakalan remaja ( - ), perokok berat ( - ), penggunaan obat terlarang
(- ), peminum minuman keras (- ), problem berat badan ( - ), anoreksia
nervosa ( -), bulimia (- ), perasaan depresi ( - ), rasa rendah diri ( - ),
cemas ( - ), gangguan tidur ( - ), sering sakit kepala ( - ), dan lain-lain.

Ket: * coret yang tidak perlu


** ( ) diisi (+) atau (-)

i) Riwayat Pekerjaan
Pasien seorang karyawan toko.
Keadaan ekonomi*: baik, sedang,kurang (menurut pasien)

j) Percintaan, Perkawinan, Kehidupan Seksual dan Rumah Tangga


Pasien belum menikah
k) Situasi sosial saat ini:
1. Tempat tinggal : rumah sendiri (-), rumah kontrak (-), rumah susun (-),
apartemen (-), rumah orang tua (+), serumah dengan mertua (-), di
asrama (-) dan lain-lain (-).
2. Polusi lingkungan : bising (-), kotor (-), bau (-), ramai (-) dan lain-lain.

Ket: * coret yang tidak perlu, ** ( ), diisi (+) atau (-)


ai : atas indikasi

m) Ciri Kepribadian sebelumnya/ Gangguan kepribadian (untuk axis II)


Keterangan : ( ) beri tanda (+) atau (-)

11
Kepribadian Gambaran Klinis

Skizoid Emosi dingin ( - ), tidak acuh pada orang lain ( - ), perasaan hangat
atau lembut pada orang lain ( - ), peduli terhadap pujian maupun
kecaman ( - ), kurang teman ( - ), pemalu (- ), sering melamun ( - ),
kurang tertarik untuk mengalami pengalaman seksual (- ), suka
aktivitas yang dilakukan sendiri ( - )
Paranoid Merasa akan ditipu atau dirugikan ( - ), kewaspadaan berlebihan ( -),
sikap berjaga-jaga atau menutup-nutupi (- ), tidak mau menerima
kritik ( - ), meragukan kesetiaan orang lain (- ), secara intensif
mencari-cari kesalahan dan bukti tentang prasangkanya ( - ),
perhatian yang berlebihan terhadap motif-motif yang tersembunyi (
-), cemburu patologik ( - ), hipersensifitas (+), keterbatasan
kehidupan afektif ( - ).
Skizotipal Pikiran gaib ( - ), ideas of reference (- ), isolasi sosial ( - ), ilusi
berulang (- ), pembicaraan yang ganjil ( - ), bila bertatap muka
dengan orang lain tampak dingin atau tidak acuh ( - ).
Siklotimik Ambisi berlebihan ( - ), optimis berlebihan ( - ), aktivitas seksual
yang berlebihan tanpa menghiraukan akibat yang merugikan ( - ),
melibatkan dirinya secara berlebihan dalam aktivitas yang
menyenangkan tanpa menghiraukan kemungkinan yang merugikan
dirinya ( - ), melucu berlebihan ( - ), kurangnya kebutuhan tidur (- ),
pesimis (- ), putus asa (- ), insomnia ( - ), hipersomnia ( - ), kurang
bersemangat (- ), rasa rendah diri (- ), penurunan aktivitas ( - ),
mudah merasa sedih dan menangis ( - ), dan lain-lain.
Histrionik Dramatisasi (- ), selalu berusaha menarik perhatian bagi dirinya (- ),
mendambakan rangsangan aktivitas yang menggairahkan ( - ),
bereaksi berlebihan terhadap hal-hal sepele ( - ), egosentris ( - ), suka
menuntut ( - ), dependen ( - ), dan lain-lain.
Narsisistik Merasa bangga berlebihan terhadap kehebatan dirinya ( - ),
preokupasi dengan fantasi tentang sukses, kekuasaan dan kecantikan
(- ), ekshibisionisme ( - ), membutuhkan perhatian dan pujian yang
terus menerus (- ), hubungan interpersonal yang eksploitatif (- ),
merasa marah, malu, terhina dan rendah diri bila dikritik (- ) dan lain-
lain.
Dissosial Tidak peduli dengan perasaan orang lain (-), sikap yang amat tidak
bertanggung jawab dan berlangsung terus menerus ( - ), tidak
mampu mengalami rasa bersalah dan menarik manfaat dari
pengalaman ( - ), tidak peduli pada norma-norma, peraturan dan
kewajiban sosial ( - ), tidak mampu memelihara suatu hubungan agar
berlangsung lama (-), iritabilitas ( -), agresivitas ( -), impulsif (- ),
sering berbohong ( - ), sangat cendrung menyalahkan orang lain atau
menawarkan rasionalisasi yang masuk akal, untuk perilaku yang
membuat pasien konflik dengan masyarakat ( - )
Ambang Pola hubungan interpersonal yang mendalam dan tidak stabil ( - ),
kurangnya pengendalian terhadap kemarahan ( + ), gangguan
identitas ( - ), afek yang tidak mantap ( - ) tidak tahan untuk berada

12
sendirian ( - ), tindakan mencederai diri sendiri ( - ), rasa bosan
kronik ( - ), dan lain-lain
Menghindar Perasaan tegang dan takut yang pervasif ( - ), merasa dirinya tidak
mampu, tidak menarik atau lebih rendah dari orang lain ( - ),
keengganan untuk terlibat dengan orang lain kecuali merasa yakin
disukai (-), preokupasi yang berlebihan terhadap kritik dan penolakan
dalam situasi social (-), menghindari aktivitas sosial atau pekerjaan
yang banyak melibatkan kontak interpersonal karena takut dikritik,
tidak didukung atau ditolak ( - ).
Anankastik Perasaan ragu-ragu yang hati-hati yang berlebihan ( - ), preokupasi
pada hal-hal yang rinci (details), peraturan, daftar, urutan, organisasi
dan jadwal ( - ), perfeksionisme ( - ), ketelitian yang berlebihan ( - ),
kaku dan keras kepala ( - ), pengabdian yang berlebihan terhadap
pekerjaan sehingga menyampingkan kesenangan dan nilai-nilai
hubungan interpersonal ( - ), pemaksaan yang berlebihan agar orang
lain mengikuti persis caranya mengerjakan sesuatu ( - ), keterpakuan
yang berlebihan pada kebiasaan sosial ( - ) dan lain-lain.
Dependen Mengalami kesuitan untuk membuat keputusan sehari-hari tanpa
nasehat dan masukan dari orang lain (-), membutuhkan orang lain
untuk mengambil tanggung jawab pada banyak hal dalam hidupnya
(-), perasaan tidak enak atau tidak berdaya apabila sendirian, karena
ketakutan yang dibesar-besarkan tentang ketidakmampuan mengurus
diri sendiri (-), takut ditinggalkan oleh orang yang dekat dengannya(-)

7. Stresor psikososial (-)

8. Pernah suicide ( - )

9. Riwayat pelanggaran hukum

10. Riwayat agama


Pasien beragama Islam
11. Persepsi Dan Harapan Keluarga
Keluarga berharap agar pasien dapat sehat kembali.

12. Persepsi Dan Harapan Pasien


Pasien berharap agar dapat keluar secepatnya.

13
III. STATUS INTERNUS
Keadaan Umum : baik
Kesadaran : CMC
Tekanan Darah : 120/70 mmHg
Nadi : 90x/menit
Nafas : 20x/menit
Suhu : 37 C
Tinggi Badan : 165 cm
Berat Badan : 46 kg
Status Gizi : Normoweight
Sistem Kardiovaskuler : Dalam batas normal
Sistem Respiratorik : Dalam batas normal
Kelainan Khusus : Tidak ditemukan

IV. STATUS NEUROLOGIKUS


GCS : E4M5V6
Tanda ransangan Meningeal : tidak ada
Tanda-tanda efek samping piramidal :
Tremor tangan : tidak ada
Akatisia : tidak ada
Bradikinesia : tidak ada
Cara berjalan : tidak ada
Keseimbangan : tidak ada
Rigiditas : tidak ada
Kekuatan motorik :lengan 555/555, tungkai 555/555
Sensorik : tidak ada
Refleks : bisep (++/++), trisep (++/++), archiles (++/++),
patella (++/++)
Sucking (-), glabella (-), grasping(-), snout (-)
Corneomandibular (-), palmomental (-), kaki
klonik (-)

V. STATUS MENTAL
A. Keadaan Umum

1. Kesadaran/ sensorium : composmentis


2. Penampilan
Sikap tubuh: biasa ( + ),berpakaian sesuai gender (+).
Cara berpakaian : rapi ( + ), Kesehatan fisik : sehat ( + )
3. Kontak psikis
Dapat dilakukan ( + ), wajar ( + ), lama ( + ).
4. Sikap
Kooperatif ( + ), penuh perhatian (+), berterus terang ( - )

14
5. Tingkah laku dan aktifitas psikomotor
Cara berjalan : biasa ( + )

B. Verbalisasi dan cara berbicara


Arus pembicaraan : biasa
Produktivitas pembicaraan : banyak
Perbendaharaan : biasa
Nada pembicaraan : biasa
Volume pembicaraan : biasa
Isi pembicaraan : sesuai
Penekanan pada pembicaraan : Ada
Spontanitas pembicaraan : spontan
Logorrhea ( - ), poverty of speech ( - ), diprosodi ( - ), disatria ( - ),
gagap ( - ), afasia ( - ), bicara kacau ( - ).

C. Emosi
Hidup emosi*: stabilitas (stabil/ tidak), pengendalian (adekuat/tidak
adekuat), echt/unecht, dalam/dangkal, skala diffrensiasi ( sempit/luas),
arus emosi (biasa/lambat/cepat).

1. Afek
Afek appropriate/ serasi( + ), afek inappropriate/ tidak serasi( - ), afek
tumpul ( - ), afek yang terbatas ( - ), afek datar ( - ), afek yang labil ( - ).

2. Mood
mood eutim ( +), mood disforik ( - ), mood yang meluap-luap (expansive
mood) ( - ), mood yang iritabel ( - ), mood yang labil (swing mood) ( - ),
mood meninggi (elevated mood/ hipertim) ( - ), euforia ( - ), ectasy ( - ),
mood depresi (hipotim) ( - ), anhedonia ( - ), dukacita ( - ), aleksitimia (
-), elasi ( - ), hipomania ( - ), mania( - ), melankolia ( - ), La belle
indifference ( - ), tidak ada harapan ( - ).

3. Emosi lainnya
Ansietas ( - ), free floating-anxiety ( - ), ketakutan ( - ), agitasi ( - ),
tension (ketegangan) ( - ), panic ( - ), apati ( - ), ambivalensi ( - ),
abreaksional ( - ), rasa malu ( - ), rasa berdosa/ bersalah( - ), kontrol
impuls ( - ).

4. Gangguan fisiologis yang berhubungan dengan mood


Anoreksia ( - ), hiperfagia ( - ), insomnia ( - ), hipersomnia ( - ), variasi
diurnal ( - ), penurunan libido ( - ), konstispasi ( - ), fatigue ( - ), pica ( -
), pseudocyesis ( - ), bulimia ( - ).

Keterangan : *)Coret yang tidak perlu,

15
( ) diisi (+) atau (-)

D. Pikiran/ Proses Pikir (Thinking)


Kecepatan proses pikir (biasa/cepat/lambat)
Mutu proses pikir (jelas/tajam)

1. Gangguan Umum dalam Bentuk Pikiran


Gangguan mental ( - ), psikosis ( - ), tes realitas ( terganggu/ tidak ),
gangguan pikiran formal ( - ), berpikir tidak logis ( - ), pikiran autistik ( -
), dereisme ( - ), berpikir magis ( - ), proses berpikir primer ( - ).

2. Gangguan Spesifik dalam Bentuk Pikiran


Neologisme ( - ), word salad ( - ), sirkumstansialitas ( - ), tangensialitas (
- ), inkohenrensia ( - ), perseverasi ( - ), verbigerasi ( - ), ekolalia ( - ),
kondensasi ( - ), jawaban yang tidak relevan ( - ), pengenduran asosiasi (
- ), derailment ( - ), flight of ideas ( - ), clang association ( - ), blocking (
- ), glossolalia ( - ).

3. Gangguan Spesifik dalam Isi Pikiran


Kemiskinan isi pikiran ( - ), Gagasan yang berlebihan ( - )
Delusi/ waham
waham bizarre ( - ), waham tersistematisasi ( - ), waham yang sejalan
dengan mood ( - ), waham yang tidak sejalan dengan mood ( - ), waham
nihilistik ( - ), waham kemiskinan ( - ), waham somatik ( - ), waham
persekutorik ( - ), waham kebesaran ( - ), waham referensi ( - ), though of
withdrawal ( - ), though of broadcasting ( - ), though of insertion ( - ),
though of control ( - ), Waham cemburu/ waham ketidaksetiaan ( - ),
waham menyalahkan diri sendiri ( - ), erotomania ( - ), pseudologia
fantastika ( - ), waham agama.
Idea of reference
Preokupasi pikiran ( - ), egomania ( - ), hipokondria ( - ), obsesi ( - ),
kompulsi ( - ), koprolalia ( - ), hipokondria ( - ), obsesi ( - ), koprolalia (
- ), fobia ( - )Ulat noesis ( - ), unio mystica ( - ).

E. Persepsi
Halusinasi
Non patologis: Halusinasi hipnagogik ( - ), halusinasi hipnopompik ( - ),
Halusinasi auditorik ( + ), halusinasi visual ( + ), halusinasi olfaktorik ( -
), halusinasi gustatorik ( - ), halusinasi taktil ( - ), halusinasi somatik ( - ),
halusinasi liliput ( - ), halusinasi sejalan dengan mood ( - ), halusinasi
yang tidak sejalan dengan mood ( - ), halusinosis ( - ), sinestesia ( - ),
halusinasi perintah (command halusination), trailing phenomenon ( - ).
Ilusi ( - )

16
Depersonalisasi ( - ), derealisasi ( - )

F. Mimpi dan Fantasi


Mimpi : Tidak ada
Fantasi : Tidak ada

Keterangan : *)Coret yang tidak perlu, ( ) diisi (+) atau (-)


G. Fungsi kognitif dan fungsi intelektual
1. Orientasi waktu (baik/ terganggu), orientasi tempat (baik/ terganggu),
orientasi personal (baik/ terganggu), orientasi situasi (baik/ terganggu).
2. Atensi (perhatian) ( + ), distractibilty ( - ), inatensi selektif ( - ),
hipervigilance ( - ), dan lain-lain
3. Konsentrasi (baik/terganggu), kalkulasi ( baik/ terganggu )
4. Memori (daya ingat) : gangguan memori jangka lama/ remote ( - ),
gangguan memori jangka menengah/ recent past ( - ), gangguan memori
jangka pendek/ baru saja/ recent ( - ), gangguan memori segera/ immediate
( - ).
Amnesia ( - ), konfabulasi ( - ), paramnesia ( - ).
5. Luas pengetahuan umum: baik/ terganggu
6. Pikiran konkrit : baik/ terganggu
7. Pikiran abstrak : baik/ terganggu
8. Kemunduran intelek : (Ada/ tidak), Retardasi mental ( - ), demensia (
- ), pseudodemensia ( - ).

H. Dicriminative Insight*
Derajat I (penyangkalan)
Derajat II (ambigu)
Derajat III (sadar, melemparkan kesalahan kepada orang/ hal lain):
Derajat IV ( sadar, tidak mengetahui penyebab)
Derajat V (tilikan intelektual)
Derajat VI (tilikan emosional sesungguhnya)

I. Discriminative Judgement :
Judgement tes : tidak terganggu
Judgement sosial : tidak terganggu

VI. Ikhtisar Penemuan Bermakna


Telah diperiksa pasien pada tanggal 28 Desember 2016 Tn. RY berusia 22
tahun, agama Islam, suku minang dan belum menikah. Pasien murung sejak 1
tahun yang lalu. Pasien mendengar bisikan suara-suara orang yang telah mati.
Pasien sering melihat bayangan hitam Pasien sering mengalami mimpi buruk
dan menurut pasien mimpinya tersebut merupakan pertanda sesuatu yang
buruk akan terjadi, sehingga pasien memberititahukan kepada orang-orang
sekitarnya, tetapi tidak ada yang peduli. Pasien sering curiga bahwa orang di

17
sekitarnya sering membicarakan hal buruk terhadapnya. Pasien sering
berbicara ngawur, berkata kotor, dan marah-marah tanpa sebab. Pasien susah
tidur sejak 1 bulan yang lalu. Sebelumnya pasien pernah berobat dengan dukun
dan ruqyah, akan tetapi tidak ada perubahan pada kesembuhan pasien

Dari hasil wawancara didapatkan interpretasi pasien kooperatif dengan


mood eutim, halusinasi visual (+) dan halusinasi auditorik (+), tilikan derajat
IV dan judgement yang baik terhadap personal maupun sosial.
VII. Diagnosis Multiaksial

Aksis I : F20 Skizofrenia Paranoid


Aksis II : Tidak ada diagnosis
Aksis III : Tidak Ada Diagnosis
Aksis IV : Tidak ada diagnosis
AksisV : GAF 70-61

VIII. Diagnosis Banding Axis I


- Tidak ada diagnosis banding
IX. Daftar Masalah
Organobiologik
Pasien pernah mengalami trauma kepala sebelumnya
Psikologis
Gaduh gelisah, marah-marah tanpa sebab.
Halusinasi auditorik dan visual (+)
Waham curiga (+)
Lingkungan dan psikososial
Tidak ada masalah.

X. Penatalaksanaan
A. Farmakoterapi
Risperidon 2x2 mg
lorazepam 1x 2 mg (malam)
B. Non Farmakoterapi
C. Psikoterapi
Kepada pasien:
Psikoterapi suportif
Memberikan dukungan, kehangatan, empati, dan optimistic
kepada pasien, membantu pasien mengendalikan emosinya.
Psikoedukasi

18
Membantu pasien untuk mengetahui lebih banyak mengenai
gangguan yang dideritanya, diharapkan pasien mempunyai
kemampuan yang semakin efektif untuk mengenali gejala,
mencegah munculnya gejala dan segera mendapatkan
pertolongan. Menjelaskan kepada pasien untuk menyadari
bahwa obat merupakan kebutuhan bagi dirinya agar sembuh.
Kepada keluarga:
Psikoedukasi
Memberikan penjelasan yang bersifat komunikatif, informatif,
dan edukatif tentang penyakit pasien (penyebab, gejala,
hubungan antara gejala dan perilaku, perjalanan penyakit, serta
prognosis). Pada akhirnya, diharapkan keluarga bisa
mendukung proses penyembuhan dan mencegah kekambuhan.
Serta menjelaskan bahwa gangguan jiwa merupakan penyakit
yang membutuhkan pengobatan yang lama dan berkelanjutan.
Terapi
Memberi penjelasan mengenai terapi yang diberikan pada
pasien (kegunaan obat terhadap gejala pasien dan efek
samping yang mungkin timbul pada pengobatan). Selain itu,
juga ditekankan pentingnya pasien kontrol dan minum obat
secara teratur.

XIII. PROGNOSIS
Quo et vitam : bonam
Quo et fungsionam : dubia ad bonam
Quo et sanationam : dubia ad malam

XIV. DISKUSI/ ANALISIS KASUS


Diagnosis pada pasien ini ditegakkan berdasarkan anamnesis, dimana
ditemukan gejala klinis yang mengarah pada Gangguan Skizofrenia Paranoid
sesuai dengan pedoman diagnostik berdasarkan PPDGJ III. Pada pasien saat ini
ditemukan gejala halusinasi auditorik dan visual (+).
Pada pasien diberikan Risperidon 2 mg x 2 sehari, lorazepam 2 mg x 1
sehari. Risperidon merupakan anti-psikotik yang atipikal, dengan efek samping

19
gangguan ekstrapiramidal yang minimal dan harga terjangkau. Obat ini diberikan
untuk mengatasi gejala psikotik.. lorazepam merupakan obat antianxietas
golongan benzodiazepin yang juga dapat berperan sebagai antiinsomnia pada
pasien..
Terapi non farmakologis memegang peranan yang juga penting pada
pasien ini. Jenis terapi non farmakologis yang bisa dilakukan terhadap pasien ini
adalah psikoterapi suportif, psikoedukasi saat kondisi sudah mulai stabil dan bisa
berkomunikasi. Psikoterapi suportif bertujuan untuk memperlihatkan minat kita
pada pasien, memberikan perhatian, dukungan, dan optimis. Dalam psikoterapi
suportif, terapis menunjukkan penerimaan terhadap kasus dengan cara
menunjukkan perilaku yang hangat, ramah namun tetap berwibawa. Tujuannya
adalah agar pasien merasa aman, diterima dan dilindungi.

20
DAFTAR PUSTAKA

1. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan
Perilaku Psikiatri Klinis Jilid Satu. Jakarta. Binarupa Aksara. 2010.
2. Dorland, W.A Newman. Kamus Kedokteran Dorland edisi kedua puluh
sembilan. Jakarta:EGC. 2002.
3. DavidA. Tomb, Buku Saku Psikiatri, Edisi6. Jakarta:EGC, 2003.
4. Depkes RI Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. Pedoman Penggolongan
dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III. Jakarta. Departemen
Kesehatan. 1993.
5. DSM-IV-TR, 2000. Diagnostic and statistical manual of mental disorders,
Fourth edition.American Psyciatric association.

21