Anda di halaman 1dari 3

Pada waktu sma, pasien pernah jatuh cinta dengan seorang wanita.

Pasien sudah
menyatakan perasaannya, tetapi wanita itu menolak untuk jadi kekasih pasien.
Semenjak saat itu pasien menjadi murung, beberapa minggu kemudian perilaku
pasien berubah menjadi pemarah. Emosi pasien menjadi tidak stabil. Pasien sering
marah-marah kepeda orangtua, adik-adiknya, serta kepada orang yang ada di
sekitarnya. Pasien berubah menjadi orang yang berkuasa, semua keinginannya
harus dipenuhi pada saat itu juga. Kalau tidak dikabulkan, pasien menjadi marah.
Karena tidak tahan dengan kelakuan pasien, keluarga membawa pasien ke RSJ HB
saanin. Pasien dirawat selama sebulan. Setelah keluar, pasien sempat membaik
beberapa saat, tetapi karena tidak patuh minum obat, penyakit pasien menjadi
kambuh lagi. Pasien sering mengamuk-ngamuk dan meresahkan orang-orang
terdekatnya. Kemudian pasien di bawa lagi ke rumah sakit. Hal itu berulang berkali-
kali sampai tahun 2006. Dalam masa itu, pasien juga pernah mengalami depresi
dan sempat bunuh diri dengan meminum racun serangga. Setelah itu pasien rutin
kontrol dan minum obat. Sekitar 3 bulan yang lalu, pasien mengenal seorang
tukang urut nenek-nenek. Karena pengaruh nenek tersebut, pasien merasa dirinya
sudah sembuh sehingga pasien tidak mau minum obat lagi. Hal itu membuat
penyakit pasien kambuh lagi. Emosi pasien menjadi tidak stabil. Pasien merasa
dirinya bos, semua keinginannya harus dipenuhinya. Puncaknya pada awal
November 2016, pasien berselisih paham dengan ayahnya, pasien menganggap
ayahnya terlalu kasar sehingga pasien memaki-maki ayahnya dan sempat akan
membunuh ayahnya dengan pisau, sehingga pasien dibawa ke rumah sakit. Pasien
dirawat selama 1 bulan. Setelah keluar, pasien tidak teratur minum obat. Menurut
keterangan keluarga, pasien minum obat sesuka hatinya saja. Obat tidur sering
tidak diminum. Beberapa hari setelah pulang terrsebut perilaku pasien berubah
menjadi tak tentu arah. Setiap hari pasien pergi keluar dengan motor berkeliling-
keliling tak tentu arah dari pagi sampai dini hari esoknya. Di rumah, kelakuan
pasien menjadi-jadi. Pasien berubah menjadi orang yang berkuasa . Setiap hari
pasien meminta uang yang banyak kepada orang tuanya. Jika tidak dipenuhi, pasien
akan marah-marah. Nafsu makan pasien menjadi meningkat, semua makanan yang
ada di rumah dihabiskan oleh pasien, sehingga adik-adik pasien tidak mendapat
bagian makanan. Pasien juga menghabiskan rokok lebih banyak dari sebelumnya,
sehari bisa sampai lebih dari 3 bungkus bahkan sampai 20 bungkus. Hubungan
pasien dengan saudara pasien juga tidak baik, bahkan pasien pernah menjual hp
adiknya satu-satunya dan uangnya dipakai pasien keperluan pribadinya. Awalnya
keluarga masih bisa menahan kelakuan pasien, namun lama-kelamaan kelakuan
pasien menjadi-jadi. Pada awal tahun pasien marah-marah dan menghajar polisi
yang bertugas di dekat bandara. Keluarga menyarankan kepada polisi pasien
ditangkap saja. Namun polisi tidak sanggup, karena sikap keras yang ditunjukkan
pasien. Sehingga pasien dibawa lagi ke RSJ.

Pasien mengamuk di pos polisi sehari sebelum masuk Rumah Sakit. Saat pasien mengamuk,
pasien berteriak-teriak, berkata-kata kotor, dan meninju petugas polisi. Pasien meninju petugas
polisi dikarenakan ketidaksigapan polisi saat terjadi kecelakaan di tempat sekitar pos polisi
tersebut. Pasien merasa kesal dan marah kemudian meninju polisi tersebut. Setelah itu pasien
pulang dan berdiam diri di rumah. Sore harinya pasien dijemput oleh petugas security dan
dibawa ke IGD RS Prof. HB. Saanin Padang.
Sebelumnya, 2 bulan yang lalu pasien pernah dirawat di RSJ HB Saanin karena
mengamuk-ngamuk dan berniat membunuh ayah pasien. Setelah dirawat selama 1
bulan, pasien pulang. Pada awalnya pasien teratur minum obat, tetapi 3 hari
kemudian pasien tidak lagi teratur minum obat. Menurut keterangan keluarga,
pasien minum obat sesuka hatinya saja. Obat tidur sering tidak diminum. Beberapa
hari kemudian tampak perubahan yang sangat drastic pada pasien. Pasien merasa
menjadi orang yang paling berkuasa. Semua kehendaknya harus dipenuhi, kalau
tidak pasien akan marah-marah dan mengamuk. Pasien sering meminta uang
dalam jumlah banyak kepada orangtua pasien. Pasien juga suka membongkar-
bongkar lemari orangtua dan saudara pasien untuk mendapatkan uang. Bahkan
pasien pernah menjual hp adik perempuan pasien untuk mendapatkan uang.
Keluarga tidak tahu uang tersebut untuk keperluan apa. Aktivitas pasien sehari-hari
menurut keluarga kurang wajar. Setiap hari pasien pergi keluar dengan motor
berkeliling-keliling tak tentu arah dari pagi sampai dini hari esoknya. Pasien sering
begadang dan tidur tidak teratur. Perilaku makan pasien juga tidak seperti biasanya,
semua makanan yang ada di rumah dihabiskan oleh pasien, sehingga adik-adik
pasien tidak mendapat bagian makanan. Pasien juga menghabiskan rokok lebih
banyak dari sebelumnya, sehari bisa sampai lebih dari 3 bungkus bahkan sampai 20
bungkus. Awalnya keluarga masih bisa bersabar dengan kelakuan pasien, namun
lama-kelamaan kelakuan pasien semakin parah sehingga pada saat kejadian di pos
polisi keluarga menganjurkan agar pasien dibawa ke rumah sakit.
Pasien tidak ada keluhan melihat bayangan dan mendengar suara-suara. Pasien
juga tidak ada merasa curiga dengan sesuatu.

Pasien sebelumnya sudah pernah dirawat di RSJ HB Saanin sejak tahun


2003. Pasien sudah 10x dirawat dan ini yang ke-11 kalinya. Selama
pengobatan pasien mendapat obat Risperidon, Merlopam, dan
Karbamazepin.
Pada saat pasien menduduki bangku SMA, pasien pernah jatuh cinta
kepada seseorang. Tetapi wanita itu tidak menerima cinta pasien.
Semenjak itu pasien menjadi murung dan tidak bersemangat. Beberapa
minggu kemudian perilaku pasien berubah. Emosi pasien menjadi tidak
stabil. Pasien sering marah-marah kepeda orangtua, adik-adiknya, serta
kepada orang yang ada di sekitarnya. Pasien merasa menjadi orang yang
berkuasa, semua keinginannya harus dipenuhi pada saat itu juga. Kalau
tidak dikabulkan, pasien menjadi marah. Karena tidak tahan dengan
kelakuan pasien, keluarga membawa pasien ke RSJ HB Saanin. Pasien
dirawat selama sebulan. Setelah keluar, pasien sempat membaik beberapa
saat, tetapi karena tidak patuh minum obat, penyakit pasien menjadi
kambuh lagi. Pasien sering mengamuk-ngamuk dan meresahkan orang-
orang terdekatnya. Kemudian pasien di bawa lagi ke rumah sakit. Hal itu
berulang berkali terjadi sampai tahun 2006. Dalam masa itu, pasien juga
pernah mengalami depresi dan sempat bunuh diri dengan meminum racun
serangga. Setelah itu pasien rutin kontrol dan minum obat. Sekitar 3 bulan
yang lalu, pasien mengenal seorang tukang urut nenek-nenek. Diduga
akibat pengaruh nenek tersebut, pasien merasa dirinya sudah sembuh
sehingga pasien tidak mau minum obat lagi. Hal itu membuat penyakit
pasien kambuh lagi. Emosi pasien menjadi tidak stabil. Pasien merasa
dirinya paling berkuasa, semua keinginannya harus dipenuhinya.
Puncaknya pada awal November 2016, pasien berselisih paham dengan
ayahnya, pasien menganggap ayahnya terlalu kasar sehingga pasien
memaki-maki ayahnya dan sempat akan membunuh ayahnya dengan
pisau, sehingga pasien dibawa ke rumah sakit dan dirawat selama 1 bulan