Anda di halaman 1dari 4

RINGKASAN

Tanaman melinjo (Gnetum gnemon) merupakan salah satu jenis tanaman yang banyak
tumbuh subur di Indonesia dan tidak memerlukan budidaya khusus. Seiring dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, banyak dilakukan penelitian tentang manfaat
senyawa-senyawa yang terkandung dari setiap bagian tanaman melinjo khususnya pada bagian
daun, biji, kulit batang maupun kulit buah tanaman melinjo. Berdasarkan hasil penelitian,
diperoleh informasi bahwa pada bagian daun dan kulit buah tanaman melinjo terdapat senyawa
antimikroba yakni resveratrol. Resveratrol merupakan salah satu jenis senyawa polifenol yang
dapat digunakan untuk mengobati penyakit kanker. Selain dapat digunakan sebagai obat kanker,
resveratrol juga dapat digunakan sebagai pengawet makanan karena memiliki kandungan
antimikroba. Hasil penelitian lain menunjukkan kulit melinjo merah mengandung senyawa
fenolik, flavonoid, likopen, vitamin C dan -karoten. Senyawa fenolik (Vigil, 2005) dan
flavonoid (Shanmugam et al,. 2010) termasuk dalam golongan senyawa antimikroba. Dengan
pertimbangan tersebut dapat diketahui bahwa adanya kandungan senyawa-senyawa antimikroba
dalam tanaman melinjo ini dapat digunakan sebagai pengawet alami yang dapat dimanfaatkan
untuk makanan, buah-buahan maupun sayuran. Pembuatan pengawet alami dilakukan dengan
mengekstraksi sampel berupa daun dan kulit buah tanaman melinjo dengan pelarut organik polar
tertentu yang dapat mengikat senyawa-senyawa antimikroba yang terdapat didalamnya.
Penggunaan pelarut polar karena senyawa flavonoid, fenolik dan resveratrol bersifat polar
sehingga diperlukan pelarut yang juga bersifat polat untuk dapat melarutkan dan mengikat
senyawa tersebut. Ekstrak yang diperoleh dipekatkan dan difraksinasi dengan menggunakan
kromatografi dengan pelarut non polar agar senyawa lain (non polar) yang tidak diinginkan dapat
dipisahkan dari ekstrak tersebut. Setelah dipisahkan, dilakukan pengujian untuk mengetahui
kandungan senyawa apa saja yang terdapat dalam ekstrak tersebut dengan melakukan identifikasi
struktur dengan spektofotometer uv-vis, FTIR dan NMR. Apabila setelah dilakukan pengujian
sudah diketemukan ekstrak mengandung senyawa antimikroba tersebut maka ekstrak sudah
dapat digunakan untuk pengawet. Ekstrak dapat dilarutkan dalam akuades kemudian sayuran
yang akan diawetkan dicelupkan ke dalam ekstrak encer tersebut.
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Tanaman melinjo (Gnetum gnemon) merupakan salah satu tanaman yang banyak
tumbuh di Indonesia. Tanaman ini termasuk jenis tanaman yang mudah dibudidayakan
karena dapat tumbuh dengan baik pada berbagai kondisi tanah baik tanah berkapur, tanah
liat, berpasir, pada dataran tinggi maupun dataran rendah asalkan tidak pada kondisi
tanaha yang masam dan tergenang. Selain itu, tanaman melinjo juga memiliki masa hidup
hingga 100 tahun. Setiap kali panen buah melinjo dapat diperoleh hasil yang terhitung
cukup besar yakni 80 kg per tanaman. Masyarakat banyak menggunakan bagian dari
tanaman melinjo untuk produk bahan makanan seperti biji melinjo digunakan untuk
membuat emping sedangkan daun melinjo muda serta kulit buah digunakan sebagai
sayuran. Sejauh ini dalam penerapannya di masyarakat, tanaman melinjo tidak banyak
dimanfaatkan untuk keperluan lain sehingga hanya terbatas pada penggunaan untuk
bahan olahan makanan dan itupun hanya beberapa bagian tanaman saja, sedangkan untuk
bagian lain biasanya tidak dimanfaatkan. Padahal di Indonesia sendiri, terdapat tanaman
melinjo dengan jumlah yang relatif banyak. Akan tetapi hal ini tidak didukung dengan
pemanfaatan tanaman tersebut menjadi produk yang bernilai tinggi dan lebih bermanfaat
untuk masyarakat.
Seiring dengan perkembangan IPTEK banyak dilakukan penelitian tentang
khasiat tanaman melinjo terutama pada bagian daun, biji, kulit batang maupun kulit buah
tanaman melinjo. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh informasi bahwa
setiap bagian tanaman melinjo mempunyai kandungan senyawa-senyawa tertentu yang
bermanfaat untuk kesehatan, antimikroba, dll. Untuk itu, penulis mencoba
mengaplikasikan hasil penelitian tersebut menjadi sebuah gagasan yakni pembuatan
pengawet alami sayuran dari ekstrak daun dan kulit buah melinjo.
Pengawet alami untuk sayuran ini perlu dibuat karena sayuran mudah sekali
busuk setelah disimpan dalam waktu beberapa hari, bahkan ada beberapa jenis sayuran
hijau yang hanya dalam waktu dua hari saja sudah mulai busuk sehingga diperlukan cara
lain agar sayuran tidak mudah busuk dan tetap segar. Sejauh ini cara yang sering
diterapkan di masyarakat hanya penyimpanan sayuran dalam lemari es. Padahal
penyimpanan dalam lemari es ini dapat menurunkan kualitas gizi dari sayuran tersebut
serta tidak menjamin akan terbebas dari bakteri-bakteri yang masih mampu hidup dalam
kondisi yang dingin (tidak menguntungkan) sehingga dimungkinkan sayuran masih dapat
diserang bakteri walaupun sudah disimpan dalam lemari pendingin. Untuk itu, diperlukan
cara lain agar sayuran tetap segar dan tidak busuk tanpa harus disimpan dalam lemari es.
Alternatif cara lain adalah dengan pembuatan pengawet alami tersebut. Hal ini tentunya
akan bermanfaat untuk para petani pada saat pengiriman sayuran agar tidak mudah
terkontaminasi oleh bakteri yang dapat merusak nilai gizi, sayuran, maupun bakteri yang
menyebabkan pembusukan. Pertimbangan digunakannya pengawet alami karena
pengawet alami tidak memiliki efek samping tertentu dan aman digunakan daripada
pengawet buatan seperti formalin yang memiliki efek samping yang dapat menyebabkan
kematian apabila kadar formalin sudah menumpuk dalam tubuh. Dalam praktiknya, saat
ini penggunaan formalin untuk pengawet sering disalahgunakan, yakni digunakan untuk
pengawet bahan makanan. Padahal hal ini telah dilarang oleh pemerintah mengingat efek
samping dari penggunaan formalin sangat berbahaya. Formalin apabila digunakan untuk
pengawet makanan akan tetap menempel pada makanan tersebut walaupun sudah dicuci
beberapa kali, sehingga dapat terjadi penumpukan / akumulasi formalin dalam tubuh
tanpa disadari. Oleh sebab itu, perlu dibuat pengawet alami dari tanaman atau hewan
yang tentunya aman digunakan dan mudah diproduksi. Tanaman melinjo memiliki
kandungan senyawa antioksidan dan antimikroba terutama pada bagian daun dan kulit
buahnya. Adanya kandungan senyawa antimikroba ini tentunya dapat dimanfaatkan untuk
pembuatan pengawet makanan, sayuran ataupun buah-buahan.

B. TUJUAN
Tujuan dari penulisan PKM-GT ini antara lain:
1. Mengetahui teknik pemisahan senyawa antimikroba yang terkandung dalam daun dan
kulit buah tanaman melinjo.
2. Membuka pemikiran masyarakat untuk memanfaatkan tanaman melinjo tidak hanya
terbatas pada penggunaan dalam bidang pangan tetapi juga dalam bidang lain seperti
kesehatan, penelitian dan ilmu pengetahuan.

C. MANFAAT
1. Menambah wawasan masyarakat tentang pemanfaatan lain tanaman melinjo terutama
di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
2. Memberikan informasi tentang pemisahan senyawa antimikroba dalam daun dan kulit
buah tanaman melinjo.
3. Sebagai bahan pertimbangan untuk dapat dikembngkan dan diaplikasikan dalam
produksi suatu produk baru berupa pengawet alami untuk sayuran, makanan, ataupun
buah-buahan.