Anda di halaman 1dari 25

ANATOMI SISTEMA RESPIRATORIUS DENGAN PENDEKATAN KLINIS

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Calon Asisten Laboratorium Anatomi


Semester III Angakatan 2012

Disusun Oleh :

Nama : Rizadin Anshar

Nim : J500120038

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2014

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahirabbilalamin, puji dan syukur saya panjatkan kepada Allah
SWT, berkat rahmat, karunia serta hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan makalah
yang berjudul Anatomi Sistema Respiratorius Dengan Pendekatan Klinis.
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas calon asisten
laboratorium anatomi fakultas kedokteran universitas muhammadiyah surakarta.
Makalah ini dibuat dengan dukungan penuh dari kedua orangtua dan juga teman-
teman angkatan 2012 yang tak pernah bosan memberikan saya semangat dan doa.
Maka pada kesempatan ini saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-
besarnya kepada:
1. Orangtua tercinta yang selalu memberikan doa, semangat dan bantuan baik berupa
materil maupun moril yang tidak ternilai harganya.
2. Teman-teman FKUMS angkatan 2012 yang senantiasa memberikan semangat dan
doa selama penulisan makalah ini.
3. Semua pihak yang telah memberikan doa dan dukungannya untuk penulisan
makalah ini.
Semoga makalah ini dapat berguna bagi saya pribadi. Kepada pihak-pihak
yang telah membantu dari segi moril dan kepada siapa saja yang ingin
memanfaatkannya sebagai referensi keilmuanya. Amiin..

Surakarta, 16 Januari 2014


DAFTAR ISI

penulis KATA PENGANTAR

..I
DAFTAR ISI II
BAB I PENDAHULUAN ..1
1.1 Latar Belakang ....1
1.2 Maksud dan Tujuan .2
1.3 Manfaat Penulisan2
1.4 Rumusan Masalah .2
BAB II DASAR TEORI.3
2.1 Pengertian Sistem Pernapasan Manusia3
2.2 Fungsi Sistem Pernapasan.3
2.3 Saluran Penghantar Udara4
2.4 Mekanisme Pernapasan dan Kapasitas Pernafasan...4

PEMBAHASAN.7
3.1 Penjelasan anatomi organ pernafasan manusia .7
3.2 Mekanisme pernafasan serta otot-otot yang terlibat..12
3.3 Keadaan klinis pada sistem respirasi dan penjelasannya...14
BAB III PENUTUP ..21
4.1 Kesimpulan .21
4.2 Saran 21
DAFTAR PUSTAKA ..22

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Anatomi adalah ilmu yang mempelajari struktur tubuh manusia. Struktur
tubuh manusia sangat penting untuk diketahui karena hal ini akan berhubungan
dengan sesuatu yang terjadi pada tubuh. Dalam struktur tubuh manusia terdapat
beberapa sistem, salah satunya adalah sistem respirasi/pernafasan. Organ yang
berperan penting dalam proses respirasi adalah paru paru/pulmo. System respirasi
terdiri dari hidung/nasal, faring, laring, trakea, brokus, bronkiolus, dan alveolus.
Sistem pernafasan pada manusia terjadi melalui saluran penghantar udara
yaitu organ-organ pernapasan yang terdapat dalam tubuh, dimana masing-masing
organ pernapasan tersebut memiliki fungsi yang berbeda-beda.
Akan tetapi, dari berbagai macam bentuk, organ, dan fungsinya, serta
keadaan klinis yang menyertainya sebagian besar dari kita tidak mengetahui. Disini
saya akan menguraikan dari keadaan Anatomisnya dan juga keadaan klinisnya yang
sering dialami oleh pasien dengan gangguan pada sistem pernafasan.

1.2 Maksud dan Tujuan

Adapun maksud dan tujuan dari penulisan ini, yaitu:


a). Untuk mengetahui anatomi dan fisiologi sistem pernapasan.
b). Untuk mengetahui struktur organ atau bagian-bagian alat pernapasan atau saluran
penghantar udara pada manusia.
c). Untuk mengetahui penyakit-penyakit yang sering terjadi pada sistem pernafasan

1.3 Manfaat Penulisan

Manfaat dari penulisan ini, yaitu:


a) Sebagai bahan pengetahuan untuk dikembangkan lebih jauh lagi.
b) Dengan mengetahui struktur anatomis dan klinis organ pernapasan pada manusia
beserta fungsi dari system pernapasan, mempermudah bagi para calon Aslab
Anatomi dalam mempelajari dan mengajar ketika diterima sebagai Aslab
Anatomi.
c) Menambah wawasan dan pengetahuan.

1.4 Rumusan Masalah

a) Penjelasan mengenai Anatomi sistem pernafasan pada manusia !


b) Bagaimana mekanisme pernafasan saat inspirasi dan ekspirasi serta otot-otot
yang terlibat ?
c) Contoh keadaan klinis pada sistem respirasi dan berikan penjelasannya !

BAB II
DASAR TEORI

2.1. Pengertian Sistem Pernapasan Manusia


Respirasi atau pernapasan merupakan pertukaran Oksigen (O 2) dan
karbondioksida (CO2) antara sel-sel tubuh serta lingkungan. Semua sel mengambil
Oksigen yang akan digunakan dalam bereaksi dengan senyawa-senyawa sederhana
dalam mitokondria sel untuk menghasilkan senyawa-senyawa kaya energi, air dan
karbondioksida. Jadi, pernapasan juga dapat di artikan sebagai proses untuk
menghasilkan energi. Pernapasan dibagi menjadi 2 macam, yaitu:
A. Pernapasan Eksternal (luar) yaitu proses bernapas atau pengambilan Oksigen dan
pengeluaran Karbondioksida serta uap air antara organisme dan lingkungannya.
B. Pernapasan Internal (dalam) atau respirasi sel terjadi di dalam sel yaitu
sitoplasma dan mitokondria.
Sistem pernapasan terdiri atas saluran atau organ yang berhubungan dengan
pernapasan. Oksigen dari udara diambil dan dimasukan ke darah, kemudian di angkut
ke jaringan. Karbondioksida (CO2) di angkut oleh darah dari jaringan tubuh ke paru-
paru dan dinapaskan ke luar udara.

2.2 Fungsi Sistem Pernapasan


Fungsi utama sistem pernapasan adalah untuk memungkinkan ambilan oksigen
dari udara kedalam darah dan memungkinkan karbon dioksida terlepas dari dara ke
udara bebas.
Meskipun fungsi utama system pernapasan adalah pertukaran oksigen dan
karbon dioksida, masih ada fungsi-fungsi tambahan lain yaitu:
Tempat menghasilkan suara.
Untuk meniup (balon, kopi/the panas, tangan, alat musik dan lain sebagainya)
Tertawa.
Menangis.
Bersin.
Batuk.
Homeostatis (pH darah)
Otot-otot pernapasan membantu kompresi abdomen (miksi,defekasi,partus).

2.3 Saluran Penghantar Udara


Pada manusia, pernapasan terjadi melalui alat-alat pernapasan yang terdapat
dalam tubuh atau melalui jalur udara pernapasan untuk menuju sel-sel tubuh. Struktur
organ atau bagian-bagian alat pernapasan pada manusia terdiri atas Rongga hidung,
Farings (Rongga tekak), Larings (kotak suara), Trakea (Batang tenggorok), Bronkus
dan Paru-paru.
2.4 Mekanisme Pernapasan dan Kapasitas Pernafasan
Menurut tempat terjadinya pertukaran gas maka pernapasan dapat dibedakan
atas 2 jenis, yaitu pernapasan luar dan pernapasan dalam. Pernapasan luar adalah
pertukaran udara yang terjadi antara udara dalam alveolus dengan darah dalam
kapiler, sedangkan pernapasan dalam adalah pernapasan yang terjadi antara darah
dalam kapiler dengan sel-sel tubuh.
Masuk keluarnya udara dalam paru-paru dipengaruhi oleh perbedaan tekanan
udara dalam rongga dada dengan tekanan udara di luar tubuh. Jika tekanan di luar
rongga dada lebih besar maka udara masuk. Sebaliknya, apabila tekanan dalam
rongga dada lebih besar maka udara akan keluar. Pernapasan yang dilakukan
menyediakan suplai udara segar secara terus menerus ke dalam membran alveoli.
Keadaan ini terjadi melalui dua fase yaitu inspirasi dan ekspirasi. Kedua fase ini
sangat tergantung pada karakter paru dan rongga torax.

2.4.1 Inspirasi
inspirasi terjadi karena adanya kontraksi otot dan mengeluarkan
energi maka inspirasi merupakan proses aktif. Agar udara dapat mengalir masuk ke
paru-paru, tekanan di dalam paruharus lebih rendah dari tekanan atmosfer. Tekanan
yang rendah ini ditimbulkan oleh kontraksi otot-otot pernapasan yaitu diafragma dan
m.intercosta. kontraksi ini menimbulkan pengembangan paru, meningkatnya volume
intrapulmoner. Peningkatan volume intrapulmoner menyebabkan tekanan
intrapulmoner (tekanan di dalam alveoli) dan jalan nafas pada paru menjadi lebih
kecil dari tekanan atmosfer sekitar 2 mmHg atau sekitar dari 1% tekanan atmosfer,
disebabkan tekanan negative ini udara dari luar tubuh dapat bergerak masuk ke dalam
paru-paru sampai tekanan intrapulmonal seimbang kembali dengan tekanan atmosfer.
2.4.2 Ekspirasi
Seperti halnya inspirasi, ekspirasi terjadi disebabkan oleh
perubahan tekanan di dalam paru. Pada saat diafragma dan m. intercostalis eksterna
relaksasi, volume rongga thorax menjadi menurun. Penurunan volume rongga thorax
ini menyebabkan tekanan intrapulmoner menjadi meningkat sekitar 2 mmHg diatas
tekanan atmosfer (tekanan atmosfer 760 mmHg pada permukaan laut). Udara keluar
meninggalkan paru-paru sampai tekanan di dalam paru kembali seimbang dengan
tekanan atmosfer.
Ekspirasi merupakan proses yang pasif, dimana di hasilkan akibat
relaksasinya otot-otot yang berkontraksi selama inspirasi. Ekspirasi yang kuat dapat
terjadi karena kontraksi yang kuat/aktif dari m.intercostalis interna dan m.
abdominalis. Kontraksi m. abdominalis mengkompresi abdomen dan mendorong isi
abdomen mendesak diafragma ke atas.

2.4.3 Tabel jumlah udara dalam paru

Pada Pada
Wanita Pria
Volume residu Adalah volume udara 1,1L 1,2L
yang tertinggal dalam
paru sesudah ekspirasi
maksimal.
Tidal Volume Adalah volume udara
yang masuk dan keluar
pada pernapasan biasa,
sebanyak 0,5L setiap kali
bernapas.
Inspiratory Adalah volume udara 1,9L 3,3L
reserve volume yang tersisa setelah
inspirasi maksimal,
selain tidal volume.
Expiratory Adalah volume udara 0,7L 1,0L
reserve volume yang tersisa setelah
ekspirasi maksimal,
selain tidal volume.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Anatomi organ pernafasan manusia terdiri atas beberapa organ, yaitu:
Tractus Respiratorius Superior :
a. Cavum Nasi (Rongga Hidung)
Nasus adalah bangunan berongga yang terbagi oleh sebuah sekat di tengah
menjadi rongga hidung kiri dan kanan. Hidung meliputi bagian eksternal yang
menonjol dari wajah dan bagian internal berupa rongga hidung sebagai alat penyalur
udara.
Di bagian depan berhubungan keluar melalui nares (cuping hidung) anterior
dan di belakang berhubungan dengan bagian atas faring (nasofaring). Masing-masing
rongga hidung dibagi menjadi bagian vestibulum, yaitu bagian lebih lebar tepat di
belakang nares anterior, dan bagian respirasi.
Permukaan luar hidung ditutupi oleh kulit yang memiliki ciri adanya kelenjar
sabesa besar, yang meluas ke dalam vestibulum nasi tempat terdapat kelenjar sabesa,
kelenjar keringat, dan folikel rambut yang kaku dan besar. Rambut ini berfungsi
menapis benda-benda kasar yang terdapat dalam udara inspirasi.
Pada potongan frontal, rongga hidung berbentuk seperti buah alpukat, terbagi
dua oleh sekat (septum mediana). Dari dinding lateral menonjol tiga lengkungan
tulang yang dilapisi oleh mukosa, yaitu:
Concha nasalis superior,
Concha nasalis medius, dan
Concha nasalis inferior.

Sinus paranasal adalah rerongga berisi udara yang terdapat dalam tulang-
tulang tengkorak dan berhubungan dengan rongga hidung. Macam-macam sinus yang
ada adalah sinus maksilaris, sinus frontalis, sinus etmoidalis, dan sinus sfenoidalis.

b. Pharynx
Pharynx merupakan saluran yang memiliki panjang kurang lebih 13 cm yang
menghubungkan nasal dan rongga mulut kepada larings pada dasar tengkorak.
Pharynx dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:
Nasopharynx, yang terletak di bawah dasar tengkorak, belakang dan
atas palatum molle. Pada bagian ini terdapat dua struktur penting yaitu adanya saluran
yang menghubungkan dengan tuba eustachius dan tuba auditory. Tuba Eustachii
bermuara pada nasopharynx dan berfungsi menyeimbangkan tekanan udara pada
kedua sisi membrane timpani. Apabila tidak sama, telinga terasa sakit. Untuk
membuka tuba ini, orang harus menelan. Tuba Auditory yang menghubungkan
nasopharynx dengan telinga bagian tengah.
Oropharynx merupakan bagian tengah pharynx antara palatum lunak
dan tulang hyodi. Pada bagian ini traktus respiratory dan traktus digestif menyilang
dimana oropharynx merupakan bagian dari kedua saluran ini. Orofaring terletak di
belakang rongga mulut dan permukaan belakang lidah. Dasar atau pangkal lidah
berasal dari dinding anterior orofaring, bagian orofaring ini memiliki fungsi pada
system pernapasan dan system pencernaan. refleks menelan berawal dari oropharynx
menimbulkan dua perubahan makanan terdorong masuk ke saluran cerna
(oesophagus) dan secara stimulant, katup menutup laring untuk mencegah makanan
masuk ke dalam saluran pernapasan. Orofaring dipisahkan dari mulut oleh fauces.
Fauces adalah tempat terdapatnya macam-macam tonsila, seperti tonsila palatina,
tonsila pharyngeal, dan tonsila lingual.
Laryngopharynx terletak di belakang larings. Laryngopharynx
merupakan posisi terendah dari farings. Pada bagian bawah Laryngopharynx sistem
respirasi menjadi terpisah dari sitem digestif. Udara melalui bagian anterior ke dalam
larynx dan makanan lewat posterior ke dalam esophagus melalui epiglottis yang
fleksibel.

c. Larynx
Larynx adalah suatu katup yang rumit pada persimpangan antara lintasan
makanan dan lintasan udara. Larynx terangkat dibawah lidah saat menelan dan
karenanya mencegah makanan masuk ke trachea. Fungsi utama pada Larynx adalah
untuk melindungi jalan napas atau jalan udara dari pharynx ke saluran napas lainnya ,
namun juga sebagai organ pembentuk suara atau menghasilkan sebagian besar suara
yang dipakai berbicara dan bernyanyi.
Larynx ditunjang oleh tulang-tulang rawan, diantaranya yang terpenting
adalah tulang rawan tiroid (Adams apple), yang khas nyata pada pria, namun kurang
jelas pada wanita. Di bawah tulang rawan ini terdapat tulang rawan krikoid, yang
berhubungan dengan trachea.
Epiglotis terletak diatas seperti katup penutup. Epiglotis adalah sekeping
tulang rawan elastis yang menutupi lubang larings sewaktu menelan dan terbuka
kembali sesudahnya. Pada dasarnya, Larynx bertindak sebagai katup, menutup
selama menelan unutk mencegah aspirasi cairan atau benda padat masuk ke dalam
batang tracheobronchial.
Mamalia menghasilkan getaran dari pita suara pada dasar Larynx. Sumber
utama suara manusia adalah getaran pita suara (Frekuensi 50 Hertz adalah suara bas
berat sampai 1700 Hz untuk soprano tinggi). Selain pada frekuensi getaran, tinggi
rendah suara tergantung panjang dan tebalnya pita suara itu sendiri. Apabila pita lebih
panjang dan tebal pada pria menghasilkan suara lebih berat, sedangkan pada wanita
pita suara lebih pendek. Kemudian hasil akhir suara ditentukan perubahan posisi
bibir, lidah dan palatum molle.
Disamping fungsi dalam produksi suara, ada fungsi lain yang lebih penting,
yaitu larynx bertindak sebagai katup selama batuk, penutupan pita suara selama
batuk, memungkinkan terjadinya tekanan yang sangat tinggi pada batang
tracheobronchial saat otot-otot trorax dan abdominal berkontraksi, dan pada saat pita
suara terbuka, tekanan yang tinggi ini menjadi pemicu ekspirasi yang sangat kuat
dalam mendorong sekresi keluar.
Tractus Respiratorius Inferior :
d. Trachea
Trachea adalah tabung terbuka berdiameter 2,5 cm dan panjang 10 sampai 12
cm. Trachea terletak di daerah leher depan esophagus dan merupakan pipa yang
terdiri dari gelang-gelang tulang rawan. Di daerah dada, trachea meluas dari larings
sampai ke puncak paru, tempat ia bercabang menjadi bronkus kiri dan kanan. Jalan
napas yang lebih besar ini mempunyai lempeng-lempeng kartilago di dindingnya,
untuk mencegah dari kempes selama perubahan tekanan udara dalam paru-paru.
Tempat terbukanya trachea disebabkan tunjangan sederetan tulang rawan (16-20
buah) yang berbentuk huruf C (Cincin-cincin kartilago) dengan bagian terbuka
mengarah ke posterior (esofagus).
Trachea dilapisi epitel bertingkat dengan silia (epithelium yang menghasilkan
lendir) yang berfungsi menyapu partikel yang berhasil lolos dari saringan hidung, ke
arah faring untuk kemudian ditelan atau diludahkan atau dibatukkan dan sel gobet
yang menghasikan mukus. Potongan melintang trachea khas berbentuk huruf D.

e. Bronkus dan Percabangannya


Bronkus yang terbentuk dari belahan dua trachea pada ketinggian kira-kira
vertebrata torakalis kelima, mempunyai struktur serupa dengan trakea dan dilapisi
oleh jenis sel yang sama. Bronkus-bronkus itu berjalan ke bawah dan kesamping ke
arah tampuk paru.
Trachea bercabang menjadi bronkus utama (primer) kiri dan kanan. Bronkus
dextra lebih pendek, lebih lebar, dan lebih vertikal daripada yang sinistra, sedikit
lebih tinggi dari arteri pulmonalis dan mengeluarkan sebuah cabang utama lewat di
bawah arteri disebut bronkus lobus bawah. Bronkus sinistra lebih panjang dan lebih
langsing dari yang dextra, dan berjalan di bawah arteri pulmonalis sebelurn di belah
menjadi beberapa cabang yang berjalan ke lobus atas dan bawah.
Cabang utama bronkus dextra dan sinistra bercabang lagi menjadi bronkus
lobaris (sekunder) dan kemudian menjadi lobus segmentalis (tersier). Percabangan ini
berjalan terus menjadi bronchus yang ukurannya semakin kecil, sampai akhirnya
menjadi bronkhiolus terminalis, yaitu saluran udara terkecil yang tidak mengandung
alveoli (kantong udara). Bronkhiolus terminalis memiliki diameter kurang lebih 1
mm. saluran ini disebut bronkiolus. Bronkiolus tidak diperkuat oleh cincin tulang
rawan. Tetapi dikelilingi oleh otot polos sehingga ukurannya dapat berubah.
Bronkiolus memasuki lolubus pada bagian puncaknya, bercabang lagi membentuk
empat sampai tujuh bronkiolus terminalis. Seluruh saluran udara ke bawah sampai
tingkat bronkbiolus terminalis disebut saluran penghantar udara karena fungsi
utamanya adalah sebagai penghantar udara ke tempat pertukaran gas paru-paru.
Alveolus adalah unit fungsional paru. Setiap paru mengandung lebih dari 350
juta alveoli, masing-masing dikelilingi banyak kapiler darah. Alveoli bentuknya
peligonal atau heksagonal. Alveolus yaitu tempat pertukaran gas assinus terdiri dari
bronkhiolus dan respiratorius (lintasan berdinding tipis dan pendek) yang terkadang
memiliki kantong udara kecil atau alveoli pada dindingnya. Ductus alveolaris
seluruhnya dibatasi oleh alveoilis dan sakus alveolaris terminalis merupakan akhir
paru-paru, asinus atau kadang disebut lobolus primer memiliki tangan kira-kira 0,5
s/d 1,0 cm. Terdapat sekitar 20 kali percabangan mulai dari trachea sampai Sakus
Alveolaris. Alveolus dipisahkan oleh dinding yang dinamakan pori-pori kohn.

f. Pulmo (paru-paru)
Pulmo adalah struktur elastis sperti spons. Pulmo berada dalam rongga torak,
yang terkandung dalam susunan tulang-tulang iga dan letaknya di sisi kiri dan kanan
mediastinum (struktur blok padat yang berada di belakang tulang dada. Pulmo
menutupi jantung, arteri dan vena besar, esophagus dan trachea).
Pulmo memilki :
Apeks, Apeks Pulmo meluas kedalam leher sekitar 2,5 cm diatas calvicula.
Permukaan costo vertebra, menempel pada bagian dalam dinding dada.
Permukaan mediastinal, menempel pada perikardium dan jantung.
Basis, Terletak pada diafragma.
Pulmo juga di lapisi oleh pleura yaitu parietal pleura (dinding thorax) dan
visceral pleura (membrane serous). Di antara rongga pleura ini terdapat rongga
potensial yang disebut rongga pleura yang didalamnya terdapat cairan surfaktan
sekitar 10-20 cc cairan yang berfungsi untukmenurunkan gaya gesek permukaan
selama pergerakan kedua pleura saat respirasi. Tekanan rongga pleura dalam keadaan
normal ini memiliki tekanan -2,5 mmHg.
Pulmo dextra relative lebih kecil dibandingkan yang sinistra dan memiliki
bentuk bagian bawah seperti concave karena tertekan oleh hepar. Pulmo dextra dibagi
atas tiga lobus yaitu lobus superior, medius dan inferior. Sedangkan Pulmo sinistra
dibagi dua lobus yaitu lobus superior dan inferior. Tiap lobus dibungkus oleh jaringan
elastik yang mengandung pembuluh limfe, arteriola, venula, bronchial venula, ductus
alveolar, sakkus alveolar dan alveoli.
Pulmo divaskularisasi dari dua sumber, yaitu:
1. Arteri bronchial yang membawa zat-zat makanan pada bagian conduction
portion, bagian paru yang tidak terlibat dalam pertukaran gas. Darah kembali
melalui vena-vena bronchial.
2. Arteri dan vena pulmonal yang bertanggung jawab pada vaskularisasi bagian
paru yang terlibat dalam pertukaran gas yaitu alveolus.

3.2. Mekanisme pernafasan saat inspirasi dan ekspirasi serta otot-otot


yang terlibat sebagai berikut :

- Inspirasi : merupakan gerakan aktif untuk menghirup nafas. Saat menarik


napas, otot-otot pernapasan akan berkontraksi sehingga rongga dada
mengembang dan membesar sehingga udara akan mengalir dari atmosfer
(bertekanan tinggi) ke dalam paru (bertekanan rendah).
- Ekspirasi : yaitu gerakan pasif dimana udara dipaksa keluar akibat
terjadinya relaksasi (pengendoran) otot-otot pernapasan yang memaksa
paru-paru untuk kempes kembali.
Respirasi terdiri dari respirasi thoracal dan abdominal dimana proses ini
melibatkan otot dan dinding dada baik pada respirasi regulair (biasa) ataupun
pada respirasi auxillair (paksa).
Otot-otot pernafasan
Inspirasi :
1. Regulair (Biasa) otot ekstrinsik, melibatkan :
- m. intercostalis eksternus
- m. levator costae
- m. serratus posterior superior
- m. intercartilagenius
2. auxillair (paksa), melibatkan :
- m. scaleni
- m. sternocleidomastoideus
- m. pectoralis major et minor
- m. latisimus dorsi
- m. serratus anterior

Ekspirasi :
1. Regulair :
- m. intercostalis internus
- m. subcostalis
- m. transverses thoracis
- m. serratus posterior inferior
2. Auxillair :
- m. obliqus externus et internus abdominis
- m. transverses abdominis
- m. rectus abdominis
( Pantom, 2010 )

3.3. Keadaan klinis pada sistem respirasi dan penjelasannya :

A). Epistaksis
1. Definisi
Epistaksis adalah perdarahan yang keluar dari lubang hidung, rongga hidung
dan nasofaring. Penyakit ini disebabkan oleh kelainan lokal maupun sistemik dan
sumber perdarahan yang paling sering adalah dari pleksus Kiessel-bachs. Diagnosa
ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis, pemeriksaan laboratorium
dan radiologik. Prinsip penanggulangan epistaksis adalah menghentikan perarahan,
mencegah komplikasi dan kekambuhan. Epistaksis anterior ditanggulangi dengan
kauter dan tampon anterior, sedangkan epistaksis posterior dengan tampon Bellocq
dan ligasi arteri atau embolisasi.
Epistaksis adalah perdarahan akut yang berasal dari lubang hidung, rongga
hidung atau nasofaring dan mencemaskan penderita serta para klinisi. Epistaksis
bukan suatu penyakit, melainkan gejala dari suatu kelainan yang mana hampir 90 %
dapat berhenti sendiri.

Gambar 2.3 Vascularisasi Cavum nasi


( sumber. http://.higgins.com )

2. Patogenesis
Patogenesis dari epistaksis tidak diketahui secara jelas namun keadaan
perdarahan pada mukosa hidung ( epistaksis) disebabkan pecahnya pembuluh darah
lokal atau yang lebih dikanal dengan plexus kiesselbach, dimana plexus ini muara
dari beberapa cabang arteri seperti a. labium superior, a. spenopalatina, a. etmoidalis
anterior, dan a. etmoidalis posterior.

4. Klasifikasi Epistaksis
Berdasarkan lokasinya epistaksis dapat dibagi atas beberapa bagian, yaitu:
1. Epistaksis anterior
Merupakan jenis epistaksis yang paling sering dijumpai terutama pada anak-
anak dan biasanya dapat berhenti sendiri. Perdarahan pada lokasi ini bersumber dari
pleksus Kiesselbach (little area), yaitu anastomosis dari beberapa pembuluh darah di
septum bagian anterior tepat di ujung postero superior vestibulum nasi. Perdarahan
juga dapat berasal dari bagian depan konkha inferior. Mukosa pada daerah ini sangat
rapuh dan melekat erat pada tulang rawan dibawahnya. Daerah ini terbuka terhadap
efek pengeringan udara inspirasi dan trauma. Akibatnya terjadi ulkus, ruptur atau
kondisi patologik lainnya dan selanjutnya akan menimbulkan perdarahan.

2. Epistaksis posterior
Epistaksis posterior dapat berasal dari arteri sfenopalatina dan arteri etmoid
posterior. Pendarahan biasanya hebat dan jarang berhenti dengan sendirinya. Sering
ditemukan pada pasien dengan hipertensi, arteriosklerosis atau pasien dengan
penyakit kardiovaskuler. Thornton (2009) melaporkan 81% epistaksis posterior
berasal dari dinding nasal lateral.

B). Sinusitis
1. Definisi
Sinusitis adalah peradangan, atau pembengkakan, dari jaringan yang melapisi
sinus. Biasanya sinus berisi udara, tetapi ketika sinus tersumbat dan berisi cairan,
kuman (bakteri, virus, dan jamur) dapat berkembang dan menyebabkan infeksi.
Anatomi Sinus Paranasal

Sinus paranasal merupakan salah satu organ tubuh manusia yang sulit
dideskripsi karena bentuknya sangat bervariasi pada tiap individu. Ada empat pasang
sinus paranasal, mulai dari yang terbesar yaitu sinus maksila, sinus frontal, sinus
etmoid dan sinus sfenoid kanan dan kiri. Sinus paranasal merupakan hasil
pneumatisasi tulang-tulang kepala, sehingga terbentuk rongga di dalam tulang. Semua
sinus mempunyai muara (ostium) ke dalam rongga hidung. Semua sinus dilapisi oleh
epitel saluran pernafasan bersilia yang mengalami modifikasi dan mampu
menghasilkan mukus serta sekret yang disalurkan ke dalam rongga hidung. Pada
orang sehat, sinus terutamanya berisi udara.
Pada sepertiga tengah dinding lateral hidung yaitu di meatus media, ada
muara-muara saluran dari sinus maksila, sinus frontal, dan sinus etmoid anterior.
Daerah ini rumit dan sempit, dan dinamakan kompleks ostio-meatal (KOM), terdiri
dari infundibulum etmoid yang terdapat di belakang prosesus unsinatus, resesus
frontalis, bula etmoid dan sel-sel etmoid anterior dengan ostiumnya dan ostium sinus
maksila.
Secara embriologik, sinus paranasal berasal dari invaginasi mukosa rongga
hidung dan perkembangannya dimulai pada fetus usia 3-4 bulan, kecuali sinus frontal
dan sinus sfenoid. Sinus maksila dan sinus etmoid telah ada saat bayi lahir, sedangkan
sinus frontal berkembang dari sinus etmoid anterior pada anak yang berusia kurang
lebih delapan tahun. Pneumatisasi sinus sfenoid dimulai pada usia 8-10 tahun dan
berasal dari bagian postero-superior rongga hidung. Sinus-sinus ini umumnya
mencapai besar maksimal pada usia antara 15-18 tahun.
Gambar. 2.4 sinus paranasalis
(Sumber. http://.higgins-sinus.com)

2. Patogenesis

sinusitis dibagi kepada sinusitis tipe rinogen dan sinusitis tipe dentogen.
Sinusitis tipe rinogen terjadi disebabkan kelainan atau masalah di hidung dimana
segala sesuatu yang menyebabkan sumbatan pada hidung dapat menyebabkan
sinusitis. Sinusitis tipe dentogen pula terjadi disebabkan kelainan gigi serta yang
sering menyebabkan sinusitis adalah infeksi pada gigi geraham atas yaitu gigi pre
molar dan molar.

3. Klasifikasi Sinusitis
Klasifikasi secara klinis untuk sinusitis dibagi atas sinusitis akut, subakut dan
kronis. Sedangkan berdasarkan penyebabnya sinusitis dibagi kepada sinusitis tipe
rinogen dan sinusitis tipe dentogen. Sinusitis tipe rinogen terjadi disebabkan kelainan
atau masalah di hidung dimana segala sesuatu yang menyebabkan sumbatan pada
hidung dapat menyebabkan sinusitis. Sinusitis tipe dentogen pula terjadi disebabkan
kelainan gigi serta yang sering menyebabkan sinusitis adalah infeksi pada gigi
geraham atas yaitu gigi pre molar dan molar.

C). Rinorea Cairan Serebrospinal ( RCS )


1. Definisi
Rinorea Cairan Serebrospinal (RCS) adalah suatu keadaan adanya hubungan
yang tidak normal antara ruang subarachnoid dengan rongga hidung. Hal ini
disebabkan oleh karena rusaknya semua pertahanan yang memisahkan antara ruang
subarachnoid dengan rongga hidung, yang ditandai dengan adanya pembukaan pada
arachnoid, dura dan tulang, yang merupakan jalan keluar cairan serebrospinal (CSS)
ke rongga hidung.
CSS dapat berasal dari fossa kranii anterior, media dan posterior. CSS yang
berasal dari fossa kranii anterior mengalir melalui sinus frontal, sfenoid dan etmoid
atau langsung melalui lamina kribriform. CSS dari fossa kranii media dapat masuk
kehidung secara langsung melalui sinus sphenoid ataupun tidak langsung dari sel-sel
udara mastoid (telinga tengah) melalui tuba eustakius. Keluarnya CSS dari fossa
kranii posterior ke rongga hidung sering secara tidak langsung dari sel-sel udara
mastoid (telinga tengah) melalui tuba eustakius.
Gambar. 2.5. Lokasi kebocoran LCS
(sumber. http//:google.?mnc.)

2. Patogenesis
Mekanisme kebocoran CSS oleh karena trauma biasanya terjadi pada bagian
dasar fossa kranii anterior, dimana terjadi kerusakan pada arachnoid, dura dan fraktur
tulang yang kemudian menyebabkan fistel. Tulang tengkorak anterior tipis dan
melekat erat pada dura, sehingga jika terjadi fraktur pada tulang tersebut maka akan
terjadi kerusakan pada dura. Lokasi anterior yang paling sering terjadi fistel adalah
daerah fovea etmoidalis (atap sinus etmoid), dinding posterior dari sinus frontal,
lamina kribriform, dan sinus sfenoid.
Fraktur pada fossa kranii media lebih jarang, dimana dapat menyebabkan
kebocoran ke hidung melalui sinus sfenoid atau tuba eustakius. RCS juga terjadi oleh
karena fraktur fossa kranii posterior yang masuk melalui sinus sfenoid dan fraktur
bagian petrosus tulangtemporal yang menyebabkan CSS masuk ke selsel udara
mastoid dan kemudian ke tuba eustakius (pada membran timpani yang utuh).

3. Klasifikasi Rinorea
Kebocoran CSS karena tindakan bedah biasanya tergantung dari tipe operasi
pada dasar tengkorak, misalnya terganggu atap sinus oleh karena eksisi tumor pada
sinus, prosedur intradural yang meluas kedalam sinus seperti eksisi meningocele,
prosedur didalam dan sekitar telinga termasuk diseksi ruang subarachnoid misal
eksisi neuroma akustik dan trans-sphenoidal hipofisectomi. Juga pada bedah
endoskopi sinus etmoid yang dapat menyebabkan kebocoran CSS.
RCS non-trauma biasanya terjadi setelah adanya peristiwa bersin-bersin,
batuk atau infeksi saluran pernapasan atas yang ringan. Gejala awalnya tidak jelas
sehingga sering salah diagnosa dengan rinitis. Fistel yang terjadi karena tekanan intra
kranial yang tinggi biasanya pada area kribriform. Hal ini disebabkan oleh karena
rapuh dan uniknya anatomi daerah ini serta adanya filament olfactory pada ruang
subarachnoid. Sedangkan fistel karena tekanan intracranial yang normal dapat terjadi
melalui defek kongenital pada tegmen atau melalui mastoid. Selain itu erosi langsung
pada dasar tengkorak oleh tumor atau infeksi juga dapat menyebabkan kebocoran
CSS.

BAB III
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Sistem pernapasan terjadi melalui alat-alat pernapasan yang terdapat dalam


tubuh atau melalui jalur udara pernapasan untuk menuju sel-sel tubuh. Struktur organ
atau bagian-bagian alat pernapasan pada manusia terdiri atas Cavitas Nasi, pharynx,
Larynx (kotak suara), Trachea (Batang tenggorok), Bronkus dan Pulmo (Paru-paru).

Saluran nafas berdasarkan letak anatomisnya dibagi dua yaitu, tractus


respiratorius superior (atas) terdiri dari Cavitas Nasi dan pharynx, sedangkan tractus
respiratorius inferior (bawah) terdiri dari Larynx (kotak suara), Trachea (Batang
tenggorok), Bronkus dan Pulmo (Paru-paru).
Adapun beberapa kelainan pada organ-organ respirasi, seperti epistaksis,
sinusitis, rinorea, dan lain-lain. Dari semua gejala-gejala klinis dari gangguan pada
organ respirasi disebabkan oleh infeksi ataupun karena trauma.

4.2 Saran
sebagai calon asisten laboratorium anatomi FK UMS, kita tidak hanya
dituntut untuk paham dan mengerti keadaan Anatomi dan fisiologisnya saja, tapi kita
juga dituntut untuk paham dan mengerti bagaimana keadaan klinisnya, sehingga kita
mampu memberikan ilmu yang benar dan bermanfaat bagi adik-adik tingkat yang
diajar ataupun para medis yang diajar. Untuk itu jangan pernah berpuas diri dengan
keadaan, terus merasa haus akan ilmu agar terus bisa meningkatkan pengetahuan
khusunya di bidang Anatomi Manusia.

DAFTAR PUSTAKA

1. Setiadi Tangguh, Safitri HK, Nawawi S. Anatomi dan Fisiologi Manusia. 2nd
ed. Graha Ilmu: Yogyakarta; 2007.

2. Munir Delfitri. 2011 July 4. Epistaksis. Kedokteran Nusantara. Volume 47.


Available from http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20688/1/mkn-
sep2006-%20sup%20%2815%29.pdf. 2014 January 17

3. Fitch Kathleen, Gennine Zinner. 2009 April 8. Sinusitis. The Health Care of
Homeless Persons. Part I Volume 11. Available from
http://translationjournal.net/journal/65naive.htm, 2014 January 17
4. Haryono Yuritna. 2009 September 23. Rinorea Cairan Serebrospinal.
Kedokteran Nusantara. Volume 39. Available from
http://repository.usu.ac.id/bitstream/1 9/20707/1/mkn-sep2006-%20sup
%20%2826%29.pdf. 2014 January 17