Anda di halaman 1dari 7

PROGRAM MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN

UNIT KERJA

RUANG KEMOTERAPI
SUKARDJA
INSTALASI RAWAT INAP
BEDAH
RSUD DR SOETOMO
SURABAYA

I. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Pada saat ini pelayanan kesehatan sangatlah kompleks, lebih efektif namun
apabila pemberi pelayanan kurang hati-hati dapat berpotensi terjadinya kesalahan
pelayanan. Keselamatan (safety) telah menjadi isu global termasuk juga untuk rumah
sakit. Ada lima isu penting yang terkait dengan keselamatan (safety) di rumah sakit
yaitu: keselamatan pasien (patient safety), keselamatan pekerja atau petugas kesehatan,
keselamatan bangunan dan peralatan di rumah sakit yang bisa berdampak terhadap
keselamatan pasien dan petugas, keselamatan lingkungan (green productivity) yang
berdampak terhadap pencemaran lingkungan dan keselamatan bisnis rumah sakit
yang terkait dengan kelangsungan hidup rumah sakit. Kelima aspek keselamatan
tersebut sangatlah penting untuk dilaksanakan disetiap rumah sakit. Namun harus diakui
kegiatan institusi rumah sakit dapat berjalan apabila ada pasien. Karena itu
keselamatan pasien merupakan prioritas utama untuk dilaksanakan dan hal tersebut
terkait dengan isu mutu dan citra perumahsakitan.
Publikasi WHO pada tahun 2004, mengumpulkan angka-angka penelitian
rumah sakit di berbagai Negara : Amerika, Inggris, Denmark, dan Australia, ditemukan
KTD dengan rentang 3,2 16,6 %. Dengan data-data tersebut, berbagai negara segera
melakukan penelitian dan mengembangkan Sistem Keselamatan Pasien. Di Indonesia
data tentang Kejadian Tidak Diharapkan apalagi Kejadian Nyaris Cedera (Near miss)
masih langka, namun dilain pihak terjadi peningkatan tuduhan mal praktek, yang
belum tentu sesuai dengan pembuktian akhir. Seperti halnya di RSU. DR. Soetomo
Surabaya, hingga saat ini belum ditemukan data yang signifikan tentang KTD dan KNC
yang terjadi.
Ruang Rawat Inap Bedah Kemoterapi Sukardja sebagai bagian dari pelayanan
terpadu RSU. DR. Soetomo Surabaya, memberikan pelayanan perawatan dan
pengobatan terhadap pasien kanker. Kanker merupakan penyakit yang paling ditakuti
dan mencemaskan dari semua penyakit. Pasien yang menderita kanker akan mengalami
program perawatan yang lama, prosedur pemeriksaan yang rumit dan dampak
pengobatan yang tidak menyenangkan. Salah satu pengobatan kanker yang sering
dilakukan adalah kemoterapi yaitu dengan memberikan obat-obat sitostatika. Obat-obat
sitostatika banyak yang diberikan secara intra venus baik secara bolus maupun drip.
Karena obat ini bersifat karsinogenik, maka perlu penanganan yang aman dalam
pemberiannya terutama obat sitostatika yang bersifat vesikan dan iritan. Vesikan adalah
obat kemoterapi yang mengakibatkan kerusakan jaringan parah hingga nekrosis.
Misalnya obat daunorubicin, doxorubicin, epirubicin, vincristin, vinblastin, navelbine,
vinorelbine. Sedangkan Iritan adalah obat kemoterapi yg menyebabkan reaksi lokal yang
lebih ringan seperti rasa sakit pada lokasi penusukan sepanjang vena dengan atau tanpa
inflamasi. Misalnya obat carboplatin, cisplatin, dacarbazine, docetaxel, etoposide,
curacil, irinotecan, oxaliplatin, paclitaxel. Pelayanan terpadu yang diberikan tersebut
diikuti adanya masalah yang semakin kompleks dan berpotensi terjadinya Kejadian
Tidak Diharapkan - KTD (Adverse event) dan Kejadian Nyaris Cedera KNC (Near
miss) apabila tidak dilakukan dengan hati-hati.
Dalam rangka meningkatkan keselamatan pasien di rumah sakit maka RSU. DR.
Soetomo Surabaya telah mengambil inisiatif membentuk Komite Mutu dan Keselamatan
Pasien Rumah Sakit dengan para Champion Mutu-nya sebagai pelaksana di masing-
masing ruangan rawat inap. Komite tersebut telah aktif melaksanakan langkah-langkah
persiapan pelaksanaan keselamatan pasien rumah sakit dengan melakukan berbagai
pelatihan dan pengarahan terhadap para Champion Mutu selaku pelaksananya.
Mengingat keselamatan pasien sudah menjadi tuntutan masyarakat maka pelaksanaan
program peningkatan keselamatan pasien rumah sakit perlu dilakukan.

2. Tujuan
2.1 Tujuan Umum
Melaksanakan upaya peningkatan mutu dan keselamatan pasien di unit kerja secara
berkesinambungan sehingga mencapai hasil yang maksimal.
2.2 Tujuan Khusus
a. Menetapkan dan melakukan implementasi program keselamatan pasien,
pengendalian infeksi dan JCI liberary dalam pelayanan unit kerja.
b. Menetapkan dan melaksanakan program mutu lingkungan 5R dan 1R dalam
perbaikan kualitas lingkungan unit kerja.
c. Menetapkan dan melakukan monitoring prioritas indikator mutu di unit kerja.
d. Melakukan pencatatan dan pelaporan insiden yang meliputi kejadian sentinel,
kejadian tidak diharapkan (KTD), dan Kejadian Nyaris Cedera (KNC) di unit
kerja.
e. Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap surveillans pencegahan dan
pengendalian infeksi.
f. Melakukan proses perbaikan indikator mutu yang ditetapkan dengan metode
PDSA.

3. Visi dan Misi


3.1 Visi
Menjadikan Ruang Kemoterapi Sukardja Irna Bedah sebagai salah satu unit
pelayanan pasien kemoterapi yang terbuka dalam pelayanan ,pendidikan ,dan
penelitian di kawasan Asia Tenggara (ASEAN).
3.2 Misi
a) Menyelenggarakan pelayanan rawat inap yang mengacu pada asuhan
keperawatan dan berfokus pada keselamatan pasien kemoterapi.
b) Membangun sumber daya manusia (perawat dan tenaga non keperawatan) rawat
inap yang ramah dan trampil.
c) Mendukung proses pendidikan yang menunjang pelayanan rawat inap.

II. PROGRAM KERJA

NO PROGRAM KEGIATAN INDIKATOR WAKTU PIC

1 Ketepatan Identifikasi Identifikasi pasien saat 100% Januari-Maret Cellin


Pasien pasien masuk atau 2017
keluar RS
Identifikasi pasien setiap
akan melakukan
tindakan
Identifikasi penggunaan
gelang identitas sesuai
jenis kelamin
Identifikasi penggunaan
pin berwarna kuning
pada pasien resiko jatuh.

2 Komunikasi yang Efektif


Sosialisasi teknik 100% Januari-Maret Billy
komunikasi efektif 2017
melalui metode SBAR
dengan TBAK
Dokumentasi
komunikasi efektif pada
RM 13

Evaluasi pelaksanaan
dokumentasi

3 Keamanan Pemakaian Sentralisasi obat _ _ _


Obat yang Perlu dilakukan oleh apotik
Diwaspadai Teknik pemberian obat 100% Januari-Maret Khoirul
sitostatika yang bersifat 2017
vesikan dan iritan.
Penatalaksanaan
perawatan pasien yang
mengalami kerusakan
jaringan maupun
extravasasi.

4 Keamanan Operasi Pasien pro tindakan _ _ _


(Tepat Lokasi, Tepat operasi di pindah ke
Prosedur, Tepat Pasien ruangan elektif.
Operasi)

5 Pengurangan Resiko Penyuluhan cuci tangana. IDO : 1,5% Januari-Maret Ferry


Infeksi untuk keluarga pasien 2017
Pengukuran kepatuhan b. IADP : 1,5%
cuci tangan
Satu set rawat luka c. Kepatuhan cuci
untuk 1 pasien tangan 80%
Penyediaan sarana
Universal Precaution
Pelaporan data PPI

6 Pengurangan Resiko Identifikasi penggunaan 100% Januari-Maret Reni


Pasien Jatuh pin kuning pada pasien 2017
risiko jatuh
Pemasangan pagar
tempat tidur
Waspadai penggunaan
obat yang beresiko jatuh
: furosemide, manitol,
MST, MOIR, dan
Fentanyl path.
Fasilitas pemenuhan
kebutuhan ADL diatas
tempat tidur.

III. INDIKATOR MUTU


1. Indikator Mutu Prioritas :
Berdasarkan hasil analisa data mutu, menunjukkan bahwa keamanan pemakaian
obat yang perlu diwaspadai khususnya perawatan pasien yang beresiko mengalami
kerusakan jaringan maupun extravasasi akibat obat sitostatika vesikan masih belum 100%.
Masih ditemukan data adanya pasien yang belum mampu merawat kerusakan jaringan
ataupun extravasasi yang timbul saat dirumah secara mandiri dengan benar.

2. Kamus Indikator :

INDIKATOR IPSG
STANDAR IPSG 3 : Peningkatan Keamanan Pemakaian Obat yang Perlu
Diwaspadai
JUDUL Penggunaan kompres hangat pada pasien resiko tinggi
INDIKATOR mengalami kerusakan jaringan maupun extravasasi akibat obat
sitostatika vesikan
TIPE Struktur Proses Outcome Proses & Outcome
INDIKATOR
TUJUAN Tergambarnya upaya rumah sakit dalam menjaga keselamatan pasien
melalui upaya peningkatan keamanan pemakaian obat yang perlu
diwaspadai.
DEFINISI Kompres hangat adalah suatu metode dalam penggunaan suhu hangat
OPERASIONAL (39oC 42oC) yang dapat menimbulkan beberapa efek fisiologis seperti
mengurangi atau membebaskan nyeri, memperlancar sirkulasi darah,
serta mencegah spasme otot.
Perawatan pasien resiko tinggi adalah pelayanan keperawatan yang
diberikan kepada pasien yang memiliki resiko tinggi mengalami
gangguan fungsional tubuh.
Kerusakan jaringan adalah suatu keadaan dimana seseorang
mengalami kerusakan membrane mukosa, corneal, jaringan
pembungkus atau jaringan subkutan.
Extravasasi adalah kondisi masuknya obat ke dalam jaringan
ekstravaskuler.
Sitostatika vesikan adalah obat anti kanker yang dapat mengakibatkan
terjadinya kerusakan jaringan parah hingga kematian sel (nekrosis).
ALASAN/ Penderita kanker yang menjalani pengobatan kemoterapi
IMPLIKASI/ menggunakan obat sitostatika vesikan merupakan pasien dengan
RASIONALISASI resiko tinggi mengalami extravasasi ataupun kerusakan jaringan yang
parah hingga nekrosis. Hal ini dikarenakan obat sitostatika vesikan
mempunyai kemampuan untuk menyebabkan pembentukan lepuh
(bula) dan lecet. Namun pada kenyataannya masih banyak pasien yang
belum bisa merawat hal tersebut secara mandiri dengan benar,
sehingga perlu dilakukan perawatan dan health educations yang tepat
untuk menghindari terjadinya itu semua. Yaitu dengan cara
memberikan kompres hangat sebelum, selama, dan setelah diberikan
kemoterapi sitostatika vesikan tersebut. Hal ini bertujuan untuk
memvasodilatasi pembuluh darah agar obat kemoterapi bisa masuk
dengan lancar dan tidak menimbulkan kerusakan jaringan.
FORMULA Jumlah seluruh pasien kemoterapi vesikan yang menggunakan
kompres hangat saat sebelum, selama, dan sesudah kemoterapi dibagi
dengan jumlah seluruh pasien yang menjalani pengobatan kemoterapi
sitostatika vesikan dalam 1 bulan x 100% = . %
NUMERATOR Jumlah seluruh pasien kemoterapi sitostatika vesicant yang
menggunakan kompres hangat saat sebelum, selama, dan sesudah
kemoterapi di unit kerja rawat inap kemoterapi sukardja.
DENOMINATOR Jumlah seluruh pasien kemoterapi sitostatika vesicant selama satu
bulan di unit kerja rawat inap kemoterapi sukardja.
TARGET 100%
SAMPLING Pengumpulan data dilakukan dengan total sampling, yaitu dengan
melihat dokumentasi seluruh hasil observasi jumlah seluruh pasien
kemoterapi sitostatika vesicant.
KRITERIA Hasil observasi terhadap seluruh pasien kemoterapi sitostatika
INKLUSI vesicant baik yang menggunakan kompres hangat saat sebelum,
selama, dan sesudah kemoterapi maupun tidak.
KRITERIA Hasil observasi terhadap seluruh pasien kemoterapi sitostatika non-
EKSKLUSI vesicant.
PENCATATAN Dilaksanakan oleh Champion mutu ruangan Rawat Inap dengan
melakukan pencatatan pada lembar observasi perawatan dan
selanjutnya dilaporkan kepada komite mutu rumah sakit untuk
dilakukan analisis lebih lanjut.
ANALISA & Rekapitulasi dilaksanakan oleh Champion Mutu Ruang Rawat Inap,
PELAPORAN kemudian data akan dilaporkan kepada Kepala Instalasi Setempat dan
komite mutu rumah sakit. Data beberapa Ruang Rawat Inap akan
direkapitulasi dan dianalisis oleh Kepala Instalasi, kemudian akan
dilaporkan kepada komite mutu RS.
Data Rumah sakit akan direkapitulasi dan dianalisis oleh komite mutu
dan selanjutnya dilaporkan kepada Direktur. Secara umum data akan
dievaluasi serta dideseminasikan kepada seluruh komponen rumah
sakit setiap bulan yang dikoordinasikan oleh komite mutu RS.
AREA Unit Rawat Inap Kemoterapi Sukardja
PIC Kepala Instalasi Unit Rawat Inap Kemoterapi Sukardja.
FORMAT
PENCATATAN Nama TANGGAL Jumlah Prosen
NO N/D
indikator 1 2 3 4 5 6 7
1 N
D
Verifikasi : dilakukan oleh komite mutu dan
keselamatan pasien RS

IV. PROGRAM PDSA

Form PDSA (plan-do-check-act)


TOOL: Lembar Observasi perawatan, STEP: Observasi Langsung, CYCLE: siklus 1

PLAN
Saya berencana :

Mengetahui kepatuhan pasien dalam merawat diri secara mandiri dengan benar.
Dilakukan pengamatan terhadap perilaku pasien apakah menggunakan kompres hangat
saat sebelum, selama, dan setelah diberikan kemoterapi sitostatika vesikan.

Saya berharap :

Dalam 1 bulan ada 90% pasien dari keseluruhan pasien yang menjalani kemoterapi
sitostatika vesikan yang menggunakan kompres hangat saat sebelum, selama, dan setelah
diberikan kemoterapi sitostatika vesikan.
Tindakan :

1. Dilakukan sosialisasi kepada seluruh pasien yang menjalani kemoterapi sitostatika


vesikan tentang cara serta manfaat menggunakan kompres hangat saat sebelum, selama,
dan setelah diberikan kemoterapi sitostatika vesikan.

2. Lembar observasi kami berikan kepada masing-masing perawat penanggung jawab dinas
dan meminta untuk melakukan pencatatan perilaku kepatuhan pasien dalam menggunakan
kompres hangat saat sebelum, selama, dan setelah diberikan kemoterapi sitostatika
vesikan.

3. Dalam 1 bulan kami akan melihat berapa prosentase pasien yang menggunakan kompres
hangat saat sebelum, selama, dan setelah diberikan kemoterapi sitostatika vesikan.

DO

Apa yang anda amati?

1. Perawat penanggung jawab dinas mengatakan ada sebagian pasien yang tidak
menggunakan kompres hangat, melainkan menggunakan kompres dingin dengan alasan
lebih cepat menghilangkan nyeri yang timbul saat obat kemoterapi diberikan.

2. Beberapa pasien memerlukan bantuan untuk melakukan kompres hangat dikarenakan


takut dan tidak bias melakukan sendiri.

3. Belum ada alat yang praktis untuk membuat kompres hangat yg mudah dan praktis namun
tetap aman saat digunakan pasien.
CHECK

Apa yang dapat anda pelajari? Apakah sesuai measurement goal?

Kami memperoleh hasil 75 % pasien melakukan kompres hangat saat sebelum, selama,
dan setelah diberikan kemoterapi sitostatika vesikan. Proses ini belum berhasil.

ACT

Apa yang dapat anda simpulkan dari siklus ini?

Belum Berhasil

1. Waktu sosialisasi kepada pasien terlalu singkat, sehingga pemahamannya kurang.


2. Pasien masih memiliki anggapan bahwa kompres dingin lebih cepat menurunkan
nyeri yang timbul dari obat vesikan, tanpa memikirkan kerusakan yang bisa
ditimbulkan dari vasokontriksi yang diberikan kompres dingin.
3. Pasien yang menjalani kemoterapi sitostatika vesicant rata-rata sudah berusia
lanjut, sehingga tidak mampu melakukan secara mandiri kompres hangat.