Anda di halaman 1dari 33

MAKALAH

KERJA DAN ENERGI


Diajukan sebagai syarat untuk memenuhi kegiatan pembelajaran program studi
Fisika di Universitas Padjadjaran

Disusun oleh:
1. Adi Sugiarto 140310160037
2. Karina Ramadayanthi Afessa Putri 140310160038

FAKULTAS MATEMATIKA DAN PENGETAHUAN ALAM


PRODI FISIKA
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR-SUMEDANG
2016

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala rahmat yang
diberikan-Nya sehingga tugas Makalah yang berjudul Usaha dan Energi ini
dapat kami selesaikan. Makalah ini kami buat sebagai salah satu kewajiban untuk
memenuhi tugas.

Dalam kesempatan ini, kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang
telah membantu menyumbangkan ide dan pikiran demi terwujudnya makalah ini.
Kami membutuhkan saran maupun kritik dari pembaca makalah ini yang
dimaksud untuk mewujudkan kesempurnaan makalah ini.

Penulis

2
DAFTAR ISI

Judul ...............................................................................................................1
Kata Pengantar ...............................................................................................2
Daftar Isi.........................................................................................................3
Bab I : Pendahuluan
1.1 Latar Belakang .............................................................................4
1.2 Rumusan Masalah .......................................................................5
1.3 Tujuan .........................................................................................5
Bab II : Pembahasan
2.1 Usaha dan Energi .........................................................................6
2.2 Implus dan Momentum linear.....................................................19
2.3 Gerak Translasi dan Rotasi serta Kesetimbangan Benda Tegar..26
Bab III : Penutup
3.1 Kesimpulan ...............................................................................32
3.2 Saran .........................................................................................32

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Beberapa masalah terkadang lebih sulit dari apa yang terlihat. Seperti anda
mencoba untuk mencari laju anak panah yang baru dilepaskan dari anak busurnya.
Anada menggunakan hukum Newton dan segala teknik penyelesaian soal yang
pernah kita pelajari. Lalu kamu menemukan kesulitan.setelah pemanah
melepaskan anak panah, tali busur memberi gaya yang berubah-ubah yang
bergantung pada posisi busur. Akibatnya metode sederhana yang kita pelajari
tidak cukup untuk menghitungn lajunya. Jangan takut,karena masih ada metode
lain untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Metode baru yang akan kita lihat itu menggunakan ide kerja dan energi.
Kita akan menggunakan konsep energi untuk mempelajari rentang fenomena fisik
yangsangat luas. Kita akan mengembangkan konsep kerja dan energi kinetik
untuk memahamikonsep umum mengenai energi dan kita akan melihat bagaimana
kekekalan energi muncul.
Sebelum kita mengetahui latar belakang pembahasan Impuls dan
Momentum Linear maka terlebih dahulu kita pahami apa yang dimaksud dengan
Impuls dan Momentum Linear. Impuls adalah besaran vektor yang arahya sejajar
dengan arah gaya dan Menyebabkan perubahan momentum dan Momentum
Linear adalah momentum yang dimiliki benda-benda yang bergerak pada lintasan
lurus
Pernahkah menyaksikan tabrakan antara dua kendaraan di jalan. apa yang terjadi
ketika dua kendaraan bertabrakan. kondisi mobil atau sepeda motor mungkin
hancur berantakan. Kalau kita tinjau dari ilmu fisika, fatal atau tidaknya tabrakan
antara kedua kendaraan ditentukan oleh momentum kendaraan tersebut. Dalam
ilmu fisika terdapat dua jenis momentum yakni momentum linear dan momentum
sudut. Kadang-kadang momentum linear disingkat momentum.

4
B. RUMUSAN MASALAH
a. Apa yang dimaksud dengan usaha DAN ENERGI?
b. Apa yang dimaksud dengan energi?
c. Apa saja aplikasi usaha dan energi dalam ke hidupan sehari hari ?

C. TUJUAN
Makalah ini dimaksudkan untuk dapat membantu meningkatkan
pemahaman mengenaiaplikasi usaha dan energi dalam kehidupan sehari-hari
sehingga akan memungkinkan kitadapat lebih mengerti bahwa pelajaran fisika itu
bisa di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

BAB II

5
PEMBAHASAN

2.1. Usaha dan Energi


A. USAHA
1. PENGERTIAN USAHA
Dalam kehidupan sehari-hari, pengertian usaha identik dengan
kemampuan untuk meraih sesuatu. Misalnya, usaha untuk bisa naik kelas atau
usaha untuk mendapatkan nilai yang besar. Namun, apakah pengertian usaha
menurut ilmuFisika?
Ketika benda didorong ada yang berpindah tempat dan ada pula yang tetap
di tempatnya. Ketika kamu mendorong atau menarik suatu benda, berarti kamu
telah memberikan gaya pada benda tersebut. Oleh karena itu, usaha sangat
dipengaruhi oleh dorongan atau tarikan (gaya). Menurut informasi tersebut, jika
setelah didorong benda itu tidak berpindah, gayamu tidak melakukan usaha.
Dengan kata lain, usaha juga dipengaruhi oleh perpindahan. Dengan demikian,
dapat disimpulkan bahwa usaha dihasilkan oleh gaya yang dikerjakan pada suatu
benda sehingga benda itu berpindah tempat
Bagaimanakah ketika kamu mendorong dinding kelasmu? Apakah dinding
berpindah tempat? Walaupun kamu telah sekuat tenaga mendorongnya, tetapi
dinding tetap ditempatnya. Oleh sebab itu, menurut Fisika gayamu dikatakan tidak
melakukan usaha.

Apabila gaya disimbolkan dengan F dan perpindahan dengan s, secara matematis


usaha dituliskan dalam persamaan berikut: W = F s dengan:
W = usaha (J)
F = gaya (N)
s = perpindahan (m)

6
Usaha memiliki satuan yang sama dengan energi, yaitu joule. Dengan
ketentuan bahwa 1 joule sama dengan besar usaha yang dilakukan oleh gaya
sebesar 1 N dengan perpindahan 1 m.
Kamu sudah mengetahui usaha yang dilakukan untuk memindahkan
sebuah benda ke arah horisontal, tetapi bagaimanakah besarnya usaha yang
dilakukan untuk memindahkan sebuah benda ke arah vertikal? Memindahkan
benda secara vertikal memerlukan gaya minimal untuk mengatasi gaya gravitasi
bumi yang besarnya sama dengan berat suatu benda. Secara matematis gaya
tersebut dapat ditulis sebagai berikut: F = m g
Karena perpindahan benda ke arah vertikal sama dengan ketinggian benda
(h), usaha yang dilakukan terhadap benda tersebut sebagai berikut.
W=Fs
W = m g h dengan:
W = usaha (J)
m = massa (kg)
g = percepatan gravitasi (N/kg)
h = perpindahan atau ketinggian (m)

Dari persamaan rumus usaha, dapat dikatakan bahwa usaha yang dilakukan oleh
suatu gaya:
a. Berbanding lurus dengan besarnya gaya,
b. Berbanding lurus dengan perpindahan benda,
c. Bergantung pada sudut antara arah gaya dan perpindahan benda.
Jadi, usaha adalah besarnya gaya yang bekerja pada suatu benda sehingga
benda tersebut mengalami perpindahan.

2. Usaha oleh Resultan Gaya Tetap


Usaha yang dilakukan oleh gaya tetap F adalah W = F.s, hal itu setara dengan luas
bidang segi empat yang dinaungi kurva/garis F. Pada grafik tersebut tampak
bahwa W = Luas bidang. Usaha dapat bernilai nol bila salah satu atau kedua
variabelnya yaitu resultan gaya dan perpindahan bernilai nol. Sebagai contoh ,

7
orang yang mendorong almari yang sangat berat, tidak melakukan usaha bila
almari tidak bergeser, sekuat apapun Ia mendorong.Orang yang mendorong benda
yang terlalu berat hingga tidak ada perpindahan benda yang didorong,dinyatakan
bahwa usaha W = 0.
Demikian pula pada orang yang mendorong tembok,karena tidak ada perpindahan
atau s = 0 maka dapat dikatakan bahwa usaha W = 0.Usaha juga dapat bernilai nol
pada kasus benda yang bergerak lurus beraturan (GLB).Misalnya sebuah kereta
ekspres pada rentang waktu tertentu mempertahankan kecepatannya dengan
kelajuan konstan (v = tetap). Walaupun kereta itu berpindah menempuh jarak
tertentu dikatakan tidak melakukan usaha (W =0) karena resltan gaya nol ( F =
0). Usaha juga dapat bernilai nol apabila tidak ada gaya bekerja pada arah
perpindahan. Misalnya, seorang atlet angkat besi yang sedang mengangkat beban,
karena s = 0 maka dikatakan usaha yang dilakukan nol (W = 0).Seorang pedagang
asongan di terminal bus yang berjalan sambil mengangkat barang dagangan dalam
kotak, dikatakan W = 0 , karena walaupun perpindahan kotak ada,pedagang
asongan menjinjing kotak berisi dagangannya, pada arah perpindahan kotak
dinyatakan bahwa usaha W = 0 namun F yang searah perpindahan kotak
bernilai 0,artinya hanya berlaku gaya berat ke bawah yang tidak memiliki
proyeksi gaya searah perpindahan kotak.

Aplikasi Usaha Dalam Kehidupan


Mendorong rumah usaha yang sia-sia. Nilai W = 0 N
Mendorong mobil mogok, menarik gerobak, memukul orang W ada nilainya.
Katrol menggunakan keuntungan mekanis (KM)

Usaha yang dilakuakn oleh gaya tetap ( besar maupun arahnya ) didefenisikan
sebagai hasil perkalian antara perpindahan titik tangkapnya dengan komponen
gaya pada arah perpindahan tersebut.
Contoh :
a. Seseorang menarik kotak pada bidang datar dengan tali membentuk
sudut terhadap horizontal
b. Gaya F membentuk sudut terhadap perpindahan

8
Contoh diatas menunjukkan gaya tarik pada sebuah benda yang terletak pada
bidang horizontal hingga benda beerpindah sejauh s sepanjang bidang. Jika gaya
tarik tersebut dinyatakan dengan F(contoh(b)) maka gaya F yang membentuk
sudut terhadap arah perpindahan benda. Berapa usaha yang dilakukan oleh gaya
F pada benda?
Vektor gaya F diuraian menjadi dua komponen yang saling tegak lurus. Salah satu
komponen searah dengan perpindahan benda dan komponen yang lain tegak lurus
dengan arah perpindahan benda. Besar masing-masing komponen adalah F
cos dan F sin .Dalam hal ini yang melakukan usaha adalah :
W = ( F cos )
Contoh soal :
Seorang anak menarik sebuah kereta mainan dengan gaya tetap, 40 N.
Tentukan :
a. Besar usaha yang dilakukan anak itu jika arah gaya yang membentu sudut
37 sejauh 5 m;
b. Besar usaha yang dilakukan anak itu selama 5 sekon. Jika benda bermassa 8
kg dan = 0!
Penyelesaian :
Diketahui : F = 40 N
Ditanya : W =?
Jawab :
a. Tan 37 = 0,75 cos 37 = 0,8
W = F.s.cos
= 40.5.cos 37 = 200 x 0,8
= 160 J
b. V0 = 0; m = 8 kg
t = tAB = 5 s ; = 0
Gaya mendatar sehingga = 0
a = = 40/8 = 5 m/s2
s = v0t + 1/2at2
s = 0 + 1/2 x 5 x 52 = 62,5 m.

9
W = F s cos
= 40 x 62,5 cos 00 = 2500 J

3. USAHA OLEH RESULTAN GAYA TIDAK TETAP


Salah satu contoh gaya tidak konstan adalah gaya pegas. Besar gaya pegas selalu
berubah sehingga usaha yang dilakukan oleh gaya pegas pada suatu benda tidak
dapat dihitung menggunakan rumus usaha yang dilakukan oleh gaya konstan.
Jika pegas diregangkan, semakin panjang pegas, gaya yang diperlukan juga
semakin besar.
Demikian juga sebaliknya, semakin ditekan, gaya ketika pegas semakin pendek,
gaya yang diperlukan semakin besar. Selama pegas ditekan atau diregangkan,
gaya pegas berubah dari 0 (x = 0) hingga maksimum (F = k x) maka gaya pegas
dihitung menggunakan rata-rata. Besar gaya pegas rata-rata adalah :
F = (0 + kx) = k x
Usaha yang dilakukan oleh gaya pegas pada suatu benda adalah :
W = F x = k x2
Keterangan :
W = usaha (satuan Joule)
x = pertambahan panjang pegas (satuan meter)
F = gaya pegas (satuan Newton)

4. USAHA YANG BERNILAI NEGATIF


Berdasarkan persamaan W = F.s cos a , ketika berada pada rentang 90
<a <270, usaha bernilainegatif.
Hal ini disebabkan cos a bernilai negatif.

5. MENGHITUNG USAHA DENGAN GRAFIK


Usahayang dilakukan oleh suatu gaya samadengan luas daerah di bawah grafik ga
ya terhadap perpindahan.

10
6. USAHA YANG DILAKUKAN OLEH GAYA BERAT
Anggap sebuah benda bermassa m dilepaskan dari ketinggian
h di ataspermukaan bumi.
Benda akan jatuh karena pengaruh gaya gravitasi.Besarnya usaha yang dilakukan
oleh gaya gravitasi adalah:
Usaha ini positif karena arah gaya dan perpindahan sama-sama ke bawah.
Sekarang kita lihat kasus di mana benda dinaikkan perlahan lahanhingga keting
gian h. Disini arah perpindahan ke atas berlawanandengan arah gaya berat (ke ba
wah) sehingga usahanya negatif W = - (m g
h). Ketika benda berpindah secara horizontal gaya gravitasi tidakmelakukan usaha
karena arah perpindahan tegak lurus arah gaya.
Berdasarkan ketiga hal tersebut, dapat disimpulkan sebagai berikut :

Jika benda berpindah sejauh h vertikal ke atas, maka besarnya usaha gaya gravit
asi adalah W = - (m g h).

Jika benda berpindah sejauh h vertikal ke bawah, maka besarnyausaha gaya gra
vitasi adalah W = m g h.
Jika benda berpindah sejauh
h mendatar, maka besarnya usahagravitasi adalah W = 0.

7. SATUAN USAHA
Satriawan (2008) menyatakan bahwa.
Dalam SI satuan gaya adalah newton (N) dan satuan perpindahan adalah meter
(m). Sehingga, satuan usaha merupakan hasil perkalian antara satuan gaya dan
satuan perpindahan, yaitu newton meter atau joule. Satuan joule dipilih untuk
menghormati James Presccott Joule (1816 1869), seorang ilmuwan Inggris yang
terkenal dalam penelitiannya mengenai konsep panas dan energi.
1 joule = 1 Nm
karena 1 N = 1 Kg . m/s2
maka 1 joule = 1 Kg . m/s2 x 1 m

11
1 joule = 1 Kg . m2/s2
Untuk usaha yang lebih besar, biasanya digunakan satuan kilo joule (kJ) dan mega
joule (MJ).
1 kJ = 1.000 J
1 MJ = 1.000.000 J

8. SOAL DAN PENYELASAIAN TENTANG USAHA


Gaya 20 Newton dikerjakan pada balok hingga balok berpindah sejauh 2 meter.
Usaha yang dikerjakan gaya F pada balok adalah
Pembahasan
Diketahui :
Gaya(F)=20N
Perpindahan(s)=2meter
Sudut = 0 (arah gaya sama dengan arah perpindahan atau arah gaya berhimpit
dengan arah perpindahan sehingga sudut yang dibentuk oleh gaya dengan
perpindahan adalah nol)
Ditanya :Usaha(W)
Jawab :
Catatan :
Jika arah gaya sama dengan arah perpindahan, hitung usaha menggunakan rumus
W = F s, tanpa perlu menambahkan cos.
Sebuah benda diam di atas permukaan lantai licin. Pada benda dikerjakan gaya
F = 10 N, membentuk sudut 30o terhadap permukaan lantai. Jika benda bergerak
sejauh 1 meter, berapa usaha yang dilakukan oleh gaya F pada benda ?
Pembahasan
Diketahui :
Gaya (F) = 10 Newton
Gaya yang searah perpindahan (Fx) = F cos 30o = (10)(0,53) = 53 Newton
Perpindahan (s) = 1 meter
Ditanya : usaha (W) ?

12
Jawab :
W = Fx s = (53)(1) = 53 Joule
Benda bermassa 1 kg jatuh bebas dari ketinggian 2 meter. Jika percepatan
gravitasi 10 m/s2, tentukan usaha yang dilakukan oleh gaya gravitasi pada benda
tersebut!
Pembahasan
Diketahui :
Massa benda (m) = 1 kg
Ketinggian (h) = 2 meter
Percepatan gravitasi (g) = 10 m/s2
Ditanya : Usaha yang dilakukan oleh gaya gravitasi pada benda (W)
Jawab :
Arah gaya gravitasi atau gaya berat (w) adalah vertikal ke bawah, arah
perpindahan (s) benda juga vertikal ke bawah sehingga gaya gravitasi searah
dengan perpindahan benda.
W=Fs=wh=mgh
W = (1)(10)(2) = 20 Joule
Pegas digantungi beban bermassa 1 kg sehingga pegas mengalami pertambahan
panjang 2 cm. Jika percepatan gravitasi 10 m/s2, tentukan (a) konstanta pegas (b)
usaha yang dilakukan oleh pegas pada beban
Pembahasan
Diketahui :
Massa (m) = 1 kg
Percepatan gravitasi (g) = 10 m/s2
Pertambahan panjang pegas (x) = 2 cm = 0,02 meter
Ditanya : konstanta pegas dan usaha yang dilakukan oleh gaya pegas
Jawab :
(a) Konstanta pegas
Rumus hukum Hooke :
F = k x.
Balik rumus ini untuk menghitung konstanta pegas :

13
k=F/x=w/x=mg/x
k = (1)(10) / 0,02 = 10 / 0,02
k = 500 Newton/meter
(b) Usaha yang dilakukan oleh gaya pegas
W = k x2
W = (500)(0,02)2
W = (250)(0,0004)
W = -0,1 Joule
Usaha yang dilakukan oleh gaya pegas pada beban bernilai negatif karena arah
gaya pegas berlawanan dengan dengan arah perpindahan beban.
Sebuah kotak yang diam di atas permukaan lantai dipercepat dengan gaya
sebesar 10 N sehingga kotak berpindah sejauh 2 meter. Jika gaya dorong searah
dengan perpindahan kotak dan pada kotak bekerja gaya gesek kinetis sebesar 2
Newton maka usaha total yang dikerjakan pada kotak adalah
Pembahasan
Diketahui :
Gaya (F) = 10 Newton
Gaya gesek kinetis (Fk) = 2 Newton
Perpindahan (s) = 2 meter
Ditanya : Usaha total (Wtotal)
Jawab :
Usaha yang dilakukan oleh gaya (F) :
W1 = F s cos 0 = (10)(2)(1) = 20 Joule
Usaha yang dilakukan oleh gaya gesek kinetis (Fk) :
W2 = Fk s = (2)(2)(cos 180) = (2)(2)(-1) = -4 Joule
Usaha total adalah :
Wtotal = W1 W2
Wtotal = 20 4
Wtotal = 16 Joule

B. ENERGI

14
1. PENGERTIAN ENERGI
Energi memegang peranan penting dalam kehidupan ini. Energi menyatakan
kemampuan untuk melakukan usaha. Manusia , hewan , atau benda dikatakan
mempunyai energy jika mempunyai kemampuan untuk melakukan usaha.
Energi memiliki berbagai bentuk, misalnya energy listrik, energy kalor , energy
cahaya, energy potensial, energy nuklir dan energy kimia. Energy dapat berubah
dari satu bentuk ke bentuk lain, misalnya energy listrik dapat berubah ke energy
cahaya atau energy kalor.

2. MACAM MACAM ENERGI


Energi Potensial. Energi potensial adalah energi yang dimiliki oleh setiap
benda.
Energi Panas. Energi panas adalah energi yang terdapat pada benda yang
menyala atau terbakar.
Energi Kimia. Energi kimia adalah energi yang dihasilkan dan disimpan
dalam bahan kimia.
Energi Mekanik. Energi mekanik adalah energi yang mampu mengerakan
benda-benda yang diam
Energi Kinetik. Energi kinetik dalah energi yang timbul dari sebuah benda
yang bergerak
Energi Listrik. Energi yang dihasilkan dari pergerakan ion negatif dan ion
positif dalam suatu benda.
Energi Cahaya. Energi yang berasal dari sinar atau cahaya suatu benda yang
sangat kuat yang dapat digunakan untuk melakukan usaha atau merubah suatu
benda
Energi Bunyi. Energi bunyi adalah suatu energi yang ditimbulkan oleh suatu
bunyi.
Energi Nuklir. Energi nuklir adalah energi yang muncul akibat reaksi fisi dan
reaksi fusi yang terjadi dalam suatu atom. Dll

3. ENERGI KINETIK
Setiap benda bergerak juga memiliki energy. Angin yang bertiup sanggup
memutar kincir, air terjun sanggup memutar turbin, dan gelombang air laut
sanggup menggerakkan turbin.

15
Selanjutnya, kincir atau turbin dapat digunakan untuk melakukan usaha, misalnya
untuk memutar mesin atau generator pembangkit tenga listrik. Energy yang
dimiliki oleh angin, air terjun, atau benda-benda yang bergerak disebut energy
gerak atau energy kinetic.
Berapa besarkah energy yang dimiliki benda bermassa m yang bergerak dengan
laju v. Berdasarkan hukum Newton II :
a=
telah diketahui bahwa sebuah benda yang diam, jika memperoleh percepatan a
melalui jarak s,kecepatan akhirnya dapat dinyatakan dengan persamaan :
v2 = 2as , jika disubtitusikan dengan hukum Newton II , maka :
Fs = mv2
Ek = Fs
Contoh soal :
Berapa energy kinetik sebuah bola yang bermassa 2 kg jika bergerak dengan
kecepatan 10 m/s?

Penyelesaian :
Diketahui : m = 2 kg
V = 10 m/s
Ditanya : Ek = ?
Jawab :
Ek = mv2 = x 2 x (10)2 = 100 J

4. ENERGI POTENSIAL
Energy potensial merupakan energy yang dimiliki oleh benda karena keadaan atau
kedudukannya. Adanya energy potensial tersebut disebabkan karena pengaruh
gaya konservatif.
Energy yang dimiliki oleh air danau ataupun benda-benda lain yang
kedudukannya lebih tinggi disebut energy potensial gravitasi.
Energy yang dimiliki pada pegas, karet, ketapel dan busur panah memiliki tenaga
kepegasan disebut energy potensial gas.

16
usaha yang diperlukan F untuk mengangkat benda(ke atas dinyatakan positif )
sampai ketinggian h adalah;
WF = mgh
Jika gaya F dihilangkan benda tersebut jatuh kembali ke tanah, usaha yang
dilakukan w sebesar : (nilai negative menyatakan kearah bawah)
Ww = -mgh

5. HUKUM KEKELAN ENERGI MEKANIK


Energy mekanik adalah jumlah energy potensial dan energy kinetic suatu benda,
secara matematis, energy mekanik dirumuskan :

Em = Ep + Ek

6. HUBUNGAN ANTARA USAHA DAN ENERGI


Jika suatu gaya dilakukan pada benda bergerak, sehingga menimbulkan
terjadinya perubahan kecepatan benda tersebut, maka besarnya usaha yang
bekerja pada benda akan memenuhi persamaan berikut.
W = Ek2 Ek1
= m v22 m v12
Contoh soal:
Sebuah benda dengan massa 5 kg mengalami jatuh bebas dari posisi A di atas
lantai seperti pada gambar. Jika g = 10 m/, tentukan:
a. Energi potensial di titik A
b. Energi kinetik di titik B
c. Energi mekanik di titik C
Pemecahan :
Diketahui: m = 5 kg
=6m
=2m
=0
g = 10 m/

17
penyelesaian:
a. E = mg
= 5.10.6
= 300 j
b. E=E
E+E=E+E
1. + EE + mg
300 = E + 5.10.2
300 = E + 100
E = 200j
c. E = E = E = 300

7. PENERAPAN HUKUM KEKELAN ENERGI MEKANIK DALAM


KEHIDUPAN SEHARI-HARI
a. Ayunan bandul jam
b. Roller coaster
c. Lompat galah
d. Pisol mainan

2.2. IMPULS DAN MOMENTUM LINEAR


2.2.1. PENGERTIAN IMPULS DAN MOMENTUM LINEAR
Impuls
Hasil kali gaya dengan selang waktu singkat bekerjanya gaya terhadap
bendayang menyebabkan perubahan momentum.

Momentum
Ukuran kesukaran untuk memberhentiikan suatu benda yang sedang bergerak.
Makin sukar memberhentikannya, makin besar momentumnya. Momentum

18
Disebabkan adanya impuls serta Besar dan arahnya = besar dan arah impuls

Dalam ilmu fisika terdapat dua jenis momentum yakni momentum linear dan
momentum sudut. Kadang-kadang momentum linear disingkat momentum.
Dirimu jangan bingung ketika membaca buku pelajaran fisika yang hanya menulis
momentum. Yang dimaksudkan buku itu adalah momentum linear. Seperti pada
gerak lurus, kita seringkali hanya menyebut kecepatan linear dengan kecepatan.
Tetapi yang kita maksudkan sebenarnya adalah kecepatan linear. Momentum
linear merupakan momentum yang dimiliki benda-benda yang bergerak pada
lintasan lurus, sedangkan momentum sudut dimiliki benda-benda yang bergerak
pada lintasan melingkar.

Momentum suatu benda didefinisikan sebagai hasil kali massa benda dengan
kecepatan gerak benda tersebut

p = m .v
atau
P = m.v1 m.v0

Apabila pada t1 kecepatan v1 dan pada t2 kecepatan adalah v2 maka :


F (T1 T2) = m.v2 m.v1

P adalah lambang momentum, m adalah massa benda dan v adalah kecepatan


benda. Sedangkan T adalah aksi gaya. Momentum merupakan besaran vektor, jadi
selain mempunyai besar alias nilai, momentum juga mempunyai arah. Besar
momentum p = mv. Terus arah momentum bagaimana-kah ? arah
momentum sama dengan arah kecepatan. Misalnya sebuah mobil bergerak ke
timur, maka arah momentum adalah timur, tapi kalau mobilnya bergerak ke
selatan maka arah momentum adalah selatan. Bagaimana dengan satuan
momentum ? karena p = mv, di mana satuan m = kg dan satuan v = m/s, maka
satuan momentum adalah kg m/s.

19
Dari persamaan di atas, tampak bahwa momentum (p) berbanding lurus dengan
massa (m) dan kecepatan (v). Semakin besar kecepatan benda, maka semakin
besar juga momentum sebuah benda. Demikian juga, semakin besar massa sebuah
benda, maka momentum benda tersebut juga bertambah besar. Perlu anda ingat
bahwa momentum adalah hasil kali antara massa dan kecepatan. Jadi walaupun
seorang berbadan gendut, momentum orang tersebut = 0 apabila dia diam alias
tidak bergerak. Jadi momentum suatu benda selalu dihubungkan dengan massa
dan kecepatan benda tersebut. kita tidak bisa meninjau momentum suatu benda
hanya berdasarkan massa atau kecepatannya saja.

Jika Partikel dengan massa m bergerak sepanjang garis lurus, gaya F pada partikel
dianggap tetap dengan arah sejajar gerak partikel jadi Jika kecepatan (v) partikel
pada t =0 adalah Vo maka kecepatan pada waktu t adalah

V = Vo + at
( V = Vo + at ) m
Vm = Vo. m + M.at
Vm = Vo.m + F.t
m.V m.Vo = F.t
Perubahan momentum linear = m.v m.Vo
Impuls gaya = F.t

Dalam suatu tumbukan, misalnya bola yang dihantam tongkat pemukul, tongkat
bersentuhan dengan bola hanya dalam waktu yang sangat singkat, sedangkan pada
waktu tersebut tongkat memberikan gaya yang sangat besar pada bola. Gaya yang
cukup besar dan terjadi dalam waktu yang relatif singkat ini disebut gaya
impulsif.

Tampak bahwa gaya impulsif tersebut tidak konstan. Dari hukum ke-2 Newton
diperoleh

20
F = dp/dt
F dt = dp
I = F dt = p = Impuls

Jika dilihat dengan grafik, impuls dapat dicari dengan menghitung luas daerah di
bawah kurva F(t) (yang diarsir). Bila dibuat pendekatan bahwa gaya tersebut
konstan, yaitu dari harga rata-ratanya, Fr , maka:

I=F t = p
Fr= I /t =p/t

Impuls dari sebuah gaya sama dengan perubahan momentum partikel .

2.2.2. HUBUNGAN MOMENTUM DENGAN HUKUM II NEWTON


Pada pokok bahasan Hukum II Newton, kita telah belajar bahwa jika ada gaya
total yang bekerja pada benda maka benda tersebut akan mengalami percepatan,
di mana arah percepatan benda sama dengan arah gaya total. Jika dirimu masih
bingung dengan Hukum II warisan Newton, sebaiknya segera meluncur ke TKP
dan pelajari dulu. Nah, apa hubungan antara hukum II Newton dengan momentum
? yang benar, bukan hubungan antara Hukum II Newton dengan momentum tetapi
hubungan antara gaya total dengan momentum. Sekarang pahami penjelasan
berikut ini.
Misalnya ketika sebuah mobil bergerak di jalan dengan kecepatan tertentu, mobil
tersebut memiliki momentum. Nah, untuk mengurangi kecepatan mobil pasti
dibutuhkan gaya (dalam hal ini gaya gesekan antara kampas dan ban ketika mobil
direm). Ketika kecepatan mobil berkurang (v makin kecil), momentum mobil juga
berkurang. Demikian juga sebaliknya, sebuah mobil yang sedang diam akan
bergerak jika ada gaya total yang bekerja pada mobil tersebut (dalam hal ini gaya

21
dorong yang dihasilkan oleh mesin).Ketika mobil masih diam, momentum mobil
= 0. pada saat mobil mulai bergerak dengan kecepatan tertentu, mobil tersebut
memiliki momentum. Jadi kita bias mengatakan bahwa perubahan momentum
mobil disebabkan oleh gaya total. Dengan kata lain, laju perubahan momentum
suatu benda sama dengan gaya total yang bekerja pada benda tersebut. Ini adalah
hukum II Newton dalam bentuk momentum. Newton pada mulanya menyatakan
hukum II newton dalam bentuk momentum. Hanya Hukum II Newton yang
menyebut hasil kali mv sebagai kuantitas gerak, bukan momentum.
Secara matematis, versi momentum dari Hukum II Newton dapat dinyatakan
dengan
persamaan :
F= pt
F= gaya total yang bekerja pada benda
p = perubahan momentum
t = selang waktu perubahan momentum

Catatan = lambang momentum adalah p kecil, bukan P besar. Kalau P besar itu
lambang daya. p dicetak tebal karena momentum adalah besaran vektor.

Dari persamaan ini, kita bisa menurunkan persamaan Hukum II Newton yang
sebenarnya untuk kasus massa benda konstan alias tetap.Sekarang kita tulis
kembali persamaan di atas :
F= pt
Jika Vo = kecepatan awal, Vt = kecepatan akhir, maka persamaan di atas akan
menjadi :
F= mvt-mvt
F= m(vt-v)t
F= vt
F= ma
ini adalah persamaan Hukum II Newton untuk kasus massa benda tetap, yang
sudah kita pelajari pada pokok bahasan Hukum II Newton. Di atas sebagai

22
Hukum II Newton yang sebenarnya.

Terus apa bedanya penggunaan hukum II Newton yang sebenarnya dengan


hukum II Newton versi momentum ? Hukum II Newton versi momentum di atas
lebih bersifat umum, sedangkan Hukum II Newton yang sebenarnya hanya bisa
digunakan untuk kasus massa benda tetap. Jadi ketika menganalisis hubungan
antara gaya dan gerak benda, di mana massa benda konstan, kita bisa
menggunakan Hukum II Newton yang sebenarnya, tapi tidak menutup
kemungkinan untuk menggunakan Hukum II Newton versi momentum. Ketika
kita meninjau benda yang massa-nya tidak tetap alias berubah, kita tidak bisa
menggunakan Hukum II Newton yang sebenarnya (F = ma). Kita hanya bisa
menggunakan Hukum II Newton versi momentum. Contohnya roket yang
meluncur ke ruang angkasa. Massa roket akan berkurang ketika bahan bakarnya
berkurang atau habis.

2.2.3 HUBUNGAN MOMENTUM LINEAR DAN IMP


ULSKetika terjadi tumbukan, gaya meningkat dari nol pada saat terjadi kontak
dan menjadi nilai yang sangat besar dalam waktu yang sangat singkat. Setelah
turun secara drastis menjadi nol kembali. Ini yang membuat tangan terasa lebih
sakit ketika dipukul sangat cepat (waktu kontak antara jari pemukul dan tangan
yang dipukul sangat singkat).Hukum II Newton versi momentum yang telah kita
turunkan di atas menyatakan bahwa laju perubahan momentum suatu benda sama
dengan gaya total yang bekerja pada benda tersebut. Besar gaya yang bekerja pada
benda yang bertumbukan dinyatakan dengan persamaan :Ingat bahwa impuls
diartikan sebagai gaya yang bekerja pada benda dalam waktu yang sangat singkat.
Konsep impuls membantu kita ketika meninjau gaya-gaya yang bekerja pada
benda dalam selang waktu yang sangat singkat. Misalnya ketika ronaldinho
menendang bola sepak, atau ketika tanganmu dipukul dengan cepat.

2.2.4 HUBUNGAN MOMENTUM LINEAR DAN TUMBUKAN

23
Sekarang coba dirimu bandingkan, bagaimana akibat yang ditimbulkan dari
tabrakan antara dua sepeda motor dan tabrakan antara sepeda motor dengan mobil
? anggap saja kendaraan tersebut bergerak dengan laju sama. Tentu saja tabrakan
antara sepeda motor dan mobil lebih fatal akibatnya dibandingkan dengan
tabrakan antara dua sepeda motor. Kalo ga percaya silahkan buktikan Massa
mobil jauh lebih besar dari massa sepeda motor, sehingga ketika mobil bergerak,
momentum mobil tersebut lebih besar dibandingkan dengan momentum sepeda
motor. Ketika mobil dan sepeda motor bertabrakan alias bertumbukan, maka pasti
sepeda motor yang terpental. Bisa anda bayangkan, apa yang terjadi jika mobil
bergerak sangat kencang (v sangat besar) ? Kita bisa mengatakan bahwa makin
besar momentum yang dimiliki oleh sebuah benda, semakin besar efek yang
timbulkan ketika benda tersebut bertumbukkan.

2.2.5 KEKALAN MOMENTUM LINEAR


Oleh karena masing-masing benda memberi gaya pada benda lainnya maka
momentum masing-masing benda berubah. Dalam setiap selang waktu, perubahan
vector momentum. Dua buah partikel saling bertumbukan. Pada saat bertumbukan
kedua partikel saling memberikan gaya (aksi-reaksi), F12 pada partikel 1 oleh
partikel 2 dan F21 pada partikel 2 oleh partikel 1.
Perubahan momentum pada partikel 1 :
p12= F12 dt = Fr12 t
Perubahan momentum pada partikel :
p2= F21 dt = Fr21 t
Karena F21= - F12 maka Fr21 = - Fr12
oleh karena itu p1 = - p2
Momentum total sistem : P = p1+ p2 dan perubahan momentum total sistem :
P= p1 + p2 = 0
Jika tidak ada gaya eksternal yang bekerja, maka tumbukan tidak mengubah

24
momentum total sistem.
partikel yang satu besarnya sama dan arahnya berlawanan dengan
perubahanvector momentum partikel yang lain.
Catatan : selama tumbukan gaya eksternal (gaya grvitasi, gaya gesek) sangat kecil
dibandingkan dengan gaya impulsif, sehingga gaya eksternal tersebut dapat
diabaikan.

2.2.6 HUKUM KEKALAN MOMENTUM LINEAR


Pada pokok bahasan Momentum dan Impuls , kita telah berkenalan dengan
konsep momentum serta pengaruh momentum benda pada peristiwa tumbukan.
Pada kesempatan ini kita akan meninjau momentum benda ketika dua buah benda
saling bertumbukan. Ingat ya, momentum merupakan hasil kali antara massa
benda dengan kecepatan gerak benda tersebut. Jadi momentum suatu benda selalu
dihubungkan dengan massa dan kecepatan benda. Kita tidak bisa meninjau
momentum suatu benda hanya berdasarkan massa atau kecepatannya saja.
Hukum Kekekalan Momentum Tidak peduli berapapun massa dan kecepatan
benda yang saling bertumbukan, ternyata momentum total sebelum tumbukan =
momentum total setelah tumbukan. Hal ini berlaku apabila tidak ada gaya luar
alias gaya eksternal total yang bekerja pada benda yang bertumbukan. Jadi
analisis kita hanya terbatas pada dua benda yang bertumbukan, tanpa ada
pengaruh dari gaya luar Sekarang perhatikan gambar di bawah ini.
Jika dua benda yang bertumbukan diilustrasikan dengan gambar di atas, maka
secara matematis,hukum kekekalan momentum dinyatakan dengan persamaan
:Momentum sebelum tumbukan = momentum setelah tumbukan
m1v1 + m2v2 = m1v1 + m2v2
Keterangan :
m1 = massa benda 1,
m2 = massa benda 2,
v1 = kecepatan benda 1 sebelum tumbukan,
v2 = kecepatan benda 2 sebelum tumbukan,
v= kecepatan benda 1 setelah tumbukan,

25
v2 = kecepatan benda 2 setelah tumbukan
Jika dinyatakan dalam momentum, maka :
m1v1 = momentum benda 1 sebelum tumbukan,
m2v2 = momentum benda 2 sebelum tumbukan,
m1v1 = momentum benda 1 setelah tumbukan,
m2v2 = momentum benda 2 setelah tumbukan

Perlu anda ketahui bahwa Hukum Kekekalan Momentum ditemukan melalui


percobaan pada pertengahan abad ke-17, sebelum eyang Newton merumuskan
hukumnya tentang gerak (mengenai Hukum II Newton versi momentum telah
saya jelaskan pada pokok bahasan Momentum, Tumbukan dan Impuls). Walaupun
demikian, kita dapat menurunkan persamaanHukum Kekekalan Momentum dari
persamaan hukum II Newton. Yang kita tinjau ini khusus untuk kasus tumbukan
satu dimensi, seperti yang dilustrasikan pada gambar di atas.

2.3. GERAK TRANSLASI DAN ROTASI SERTA KESETIMBANGAN


BENDA TEGAR

A. Translasi dan Rotasi


Gerak translasi dapat didefinisikan sebagai gerak pergeseran suatu benda dengan
bentuk dan lintasan yang sama di setiap titiknya. Jadi sebuah benda dapat
dikatakan melakukan gerak translasi (pergeseran) apabila setiap titik pada benda
itu menempuh lintasan yang bentuk dan panjangnya sama. Contoh gerak translasi
silahkan lihat gambar di bawah ini.

26
Gambar di atas merupakan gerak sebuah balok di atas suatu permukaan datar
tanpa mengguling, dari posisi 1 ke posisi 2 pada jarak yang sama yaitu sebesar s.

Sedangkan, gerak rotasi dapat didefinisikan sebagai gerak suatu benda dengan
bentuk dan lintasan lingkaran di setiap titiknya. Jadi, benda disebut melakukan
gerak rotasi jika setiap titik pada benda itu (kecuali titik-titik pada sumbu putar)
menempuh lintasan berbentuk lingkaran. Sumbu putar adalah suatu garis lurus
yang melalui pusat lingkaran dan tegak lurus pada bidang lingkaran. Contoh gerak
rotasi silahkan lihat gambar di bawah ini.

Gambar di atas merupakan contoh gerak rotasi, di mana setiap titik pada benda
yang berotasi bergerak melingkar mengelilingi sumbu putarnya.

Apa yang menyebabkan suatu benda mengalami gerak translasi dan gerak rotasi?
Penyebab suatu benda mengalami gerak translasi karena adanya gaya yang
bekerja pada benda tersebut. Sedangkan, penyebab suatu benda mengalami gerak
rotasi karena adanya momen gaya (torsi) yang bekerja pada benda tersebut

B. Keseimbangan Benda Tegar

27
Translasi Rotasi Hub. Translasi & Rotasi
Massa m I (momen inersia) -
Jarak s = v.t = w.t s = .R
Kecepatan v = s/t w = 2/t v = w.R
Percepatan a = vt v0
t = wt w0
t
=a/R
Gaya F = m.a = I. = F.d
Momentum P = m.v L = I.w -
Kekekalan momentum P = P L = L -

MOMEN GAYA
Momen Gaya atau torsi () merupakan besaran yang dipengaruhi oleh gaya dan
lengan. Besar momen gaya didefinisikan sebagai hasil kali antara gaya yang
bekerja dengan lengan yang saling tegak lurus. Dari definisi tadi dapat
dirumuskan :
= F . d ; atau ket : = Momen Gaya (Nm)
= F . d sin F = Gaya yang bekerja (N)
d = Panjang lengan (m)
= Sudut kontak
MOMEN INERSIA
Momen Inersia (I) merupakan besaran yang mempunyai nilai tetap pada suatu
gerak rotasi. Besaran ini analog dengan massa pada gerak translasi. Besarnya
momen inersia sebuah partikel yang berotasi dengan jari-jari (R), didefinisikan
sebagai hasil kali massa dengan kuadrat jari-jarinya. Dari definisi tadi dapat
dirumuskan :
I = m . R2 ket : I = Momen Inersia (kg m2)
m = Massa Benda (kg)
R = Jari-jari (m)

KESEIMBANGAN BENDA TEGAR


Keseimbangan benda tegar berasal dari persamaan hukum I Newton. Jika benda
dipengaruhi gaya yang jumlahnya nol F = 0 maka benda akan lembam atau
seimbang translasi. Syarat itulah yang dapat digunakan untuk menjelaskan
mengapa sebuah benda tegar itu seimbang. Dari syarat itulah maka berlaku
persamaan :
F = 0 dan
=0

GERAK ROTASI
Pada hukum II Newton disebutkan, jika benda dipengaruhi gaya yang tidak nol
maka benda itu akan mengalami percepatan. Apabila Hukum II Newton ini

28
diterapkan pada gerak rotas, maka saat benda bekerja momen gaya yang tidak
bekerja momen gaya yang tidak nol, maka bendanya akan bergerak rotasi
dipercepat. Dari penjelasan ini dapat disimpulkan hukum II Newton pada gerak
translasi dan rotasi sebagai berikut :
Gerak Translasi : F = m.a
Gerak Rotasi : = I.

ENERGI GERAK ROTASI


Sebuah benda yang bergerak rotasi juga memiliki energi kinetik. Energi ini
dinamakan Energi Kinetik Rotasi. Energi kinetik rotasi dipengaruhi oleh besaran-
besaran yang sama dengan massa, yaotu I dan analog kecepatan linier yaitu
kecepatan anguler w. dari kesimpulan diatas, dapat dirumuskan :
Translasi : EkT = mv2
Rotasi : EkR = Iw2
Menggelinding : EkToT = EkT + EkR
EkToT = (1 +k) mv2

MOMENTUM SUDUT
Telah diketahui Besaran Linier (gerak translasi) adalah analog dari besaran sudut
(gerak rotasi). Analog ini juga berlaku pada momentum. Pada gerak translasi
benda memiliki momentum linier sedangkan pada gerak rotasi ada momentum
sudut. Dari definisi tadi, dapat disimpulkan :
Linier : p = mv
Sudut : L = Iw

KEKEKALAN MOMENTUM SUDUT


Momentun sudut memiliki hubungan dengan momen gaya. Hubungannya adalah :
t=L
=L
t
Jika benda yang bergerak tidak bekerja gaya (impuls) maka momentumnya akan
kekal. Konsep ini juga berlaku pada gerak rotasi. Dapat disimpulkan : Jika pada
benda yang berotasi tidak bekerja momen gaya ( = 0) maka pada gerak benda
itu akan terjadi kekekalan momentum sudut. Maka berlaku :
Lawal = Lakhir

TITIK BERAT
Titik berat merupakan titik tempat keseimbangan gaya berat yang letaknya tepat
pada perpotongan diagonal benda (bila benda homogen). Dari definisi tersebut
maka letak titik berat dapat ditentukan dengan langkah berikut :

a. Bangun dan Bidang simetris (homogen)

Untuk bangun simetris (homogen) titik beratnya berada pada titik perpotongan
sumbu simetrisnya. Contoh kubus, bujur sangkar , dan bola.

29
b. Bangung atau bidang lancip

Benda ini titik beratnya dapat ditentukan dengan digantung benang beberapa kali,
titik potong garis-garis benang (garis berat) itulah yang merupakan titik beratnya.
Atau dapat memakai kesamaan berikut :

Untuk bidang lancip y0 = 1/3 h


Untuk bangun lancip y0 = h

c. Bagian bola dan lingkaran

Untuk bagian bola atau lingkaran y = 3/8 R

d. Gabungan benda

Untuk gabungan benda-benda homogeny, letak titik beratnya dapat ditentukan


dari rata-rata jaraknya terhadap benda acuan. Rata-rata ditentukan dari momen
gaya dan gaya berat.
x0 = xw
w

y0 = yw
y

2.4. Elastisitas dan Hukum Hooke


Hukum Hooke menyelidiki hubungan antara gaya F yang merenggangkan sebuah
pegas dengan pertambahan panjang pegas (x), pada daerah batas elastisitas
pegas. Pada daerah elastisitasnya, Besar gaya luar yang dibrikan (F) sebanding
dengan pertambahan panjang pegas (x).

Persamaan hukum Hooke


Dari bunyi hukum Hooke di atas, hukum Hooke dapat dituliskan :
F = K . x atau K = F / x
Dimana:
F : besar gaya luar yang diberikan pada Pegas (N)
x : Pertambahan panjang pegas (m)
K : Konstanta Pegas (N/m)

30
BAB III
PENUTUP

A. SIMPULAN
Usaha merupakan hasil kali antara gaya yang bekerja dengan perpindahan yang
dialami oleh benda. Satuan usaha dalam SI adalah joule (J).
Energi menyatakan kemampuan untuk melakukan usaha.Energi yang dimiliki oleh

31
benda-benda yang bergerak disebut energi kinetik,sedangkan energi yang dimiliki
oleh benda karena kedudukannya disebut energi potensial.

B. SARAN

Bagi pembaca disarankan supaya makalah ini dapat dijadikan sebagai media
pembelajaran dalam rangka peningkatan pemahaman tentang usaha dan energi.
Dan bagi penulis-penulis lain diharapkan agar karya tulis ini dapat dikembangan
lebih lanjut guna menyempurnakan makalah yang telah dibuat sebelumnya.

DAFTAR PUSTAKA

Resnick, Halliday. 1985. Fisika Jilid 1 Edisi Ketiga. Jakarta: Erlangga.


Satriawan, Mirza. 2008. Materi Fisika Dasar, (Online),
Young, Hugh D & Roger A Freedman. 1999. Fisika Universitas Edisi Kesepuluh
Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

32
33