Anda di halaman 1dari 3

BAB IV

PEMBAHASAN

1.1 Tingkat Pengetahuan


Berdasarkan kuesioner evaluasi yang disebarkan pada 27 lansia di RW 3
Kelurahan Kedungkandang, didapatkan hasil bahwa tingkat pengetahuan
lansia meningkat, yaitu:
a. Definisi
Pada pengkajian sebelumnya didapatkan hasil tingkat pengetahuan
lansia terhadap definisi hipertensi sebanyak 35%. Setelah dilakukan
intervensi edukasi meningkat menjadi 96%.
b.
c. Penyebab
Selama pengkajian didapatkan hasil tingkat pengetahuan penyebab
hipertensi sebesar 37%. Setelah dilakukan intervensi meningkat menjadi
100%.
d. Penatalaksanaan
Tingkat pengetahuan penatalaksanaan hipertensi sebesar 41% dan
setelah dilakukan intervensi meningkat 93%.
Hal tersebut dapat terjadi sesuai dengan penelitian Beigi et al (2014),
mengenai keefektifan edukasi terhadap modifikasi gaya hidup dan kontrol
tekanan darah. Dalam penelitian ini edukasi dilakukan secara face to face
dan secara langsung melibatkan lansia dalam memonitor hipertensinya.
Edukasi dengan cara face to face dapat membuat lansia memahami lebih
baik karena cara komunikasi disesuaikan dengan kondisi lansia. Selain itu,
edukasi dengan metode ini dapat melibatkan keluarga sehingga keluarga
dapat membantu memonitor hipertensi lansia.

1.2 Tingkat Respon Afektif


Hasil kuesioner evaluasi afektif pada 27 lansia menunjukkan bahwa 100%
lansia bersedia untuk melakukan managemen diet, yaitu garam, MSG, kecap,
saos, makanan cepat saji, minyak goreng, lemak daging, dan makanan
bersantan. Namun perubahan konsumsi buah didapatkan hasil 93%.
Bersedianya lansia untuk merubah perilaku sesuai dengan beberapa model
perubahan perilaku (Sudarma, 2008), yaitu:
a. Model Keyakinan Sehat
Dalam model ini dikatakan bahwa terdapat empat keyakinan utama dalam
perubahan perilaku, yaitu keyakinan tentang kerentanan terhadap
keadaan sakit, keyakinan tentang keseriusan atau keganasan penyakit,
keyakinan tentang kemungkinan biaya, dan keyakinan tentang efektivitas
tindakan ini sehubungan dengan adanya kemungkinan tindakan alternatif.

67
68

Edukasi yang telah diberikan sebelumnya mengenai hipertensi dapat


membuat lansia memahami kerentanan dirinya terhadap penyakit
sehingga muncullah keingginan untuk merubah perilakunya.
b. Model Kurt Lewin
Pada model ini, dikatakan bahwa terdapat 4 variabel yang dapat merubah
perilaku, yaitu kerentanan yang dirasakan, keseriusan yang dirasakan,
manfaat, dan isyarat atau tanda-tanda. Pemahaman yang didapat
mengenai hipertensi membuat lansia sadar akan keseriusan dari penyakit
yang dideritanya.

1.3 Tingkat Respon Psikomotor


Berdasarkan hasil intervensi yang dilakukan selama 3 minggu dengan
dilakukan 6 kali kunjungan rumah pada pasien lansia di RW 3 kelurahan
Kedung Kandang dapat dilihat hasil dari kepatuhan diet pada aggregat lansia
yaitu masih sebagian kecil lansia yang menerapkan kepatuhan diet yang
baik, kemudian 68 % lansia kepatuhan diet sedang setelah dilakukan
edukasi. Hal ini sesuai dengan pendapat (Mohammad Ali, dkk, 2014) pada
penelitiannya yang mengatakan bahwa tercapainya managemen hipertensi
sangat bergantung pada tingkat pengetahuan pasien tentang hipertensi dan
modifikasi gaya hidup untuk menurunkan tekanan darah dimana salah satu
metodenya adalah edukasi secara per orangan ataupun kelompok. Dimana
hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa setelah progarm edukasi 3
bulan, terdapat peningkatan gaya hidup ke arah positif pada pasien yang
sebelumnya sedikit melakukan aktivitas fisik, penggunaan garam berlebih,
dan kurang mengkonsumsi buah, sayur dan ikan. Namun masih ada
sebagian kecil lansia yang memiliki kepatuhan diet yang buruk yaitu
sebanyak 3%, hal ini mungkin disebabkan masih kurangnya pemahaman
lansia mengenai diet hipertensi yang tepat dikarenakan tingkat pendidikan
yang rendah dimana sebagian besar lansia hanya mencapai tingkat Sekolah
Dasar serta kesulitan untuk mengubah kebiasaan diet selama ini sehingga
dibutuhkan waktu edukasi dan pemantauan yang lebih lama untuk mencapai
hasil yang maksimal.
Kemudian untuk gaya hidup didapatkan hasil 58% lansia memiliki gaya
hidup yang baik, 38% memiliki gaya hidup yang sedang dan 3% lansia
memiliki gaya hidup yang buruk hal ini dilihat dari kebiasaan lansia
mengontrol tekanan darah, kemudian melakukan aktivitas fisik dimana salah
satu penelitian menunjukan bahwa dengan melakukan aktivitas fisik seperti
69

jalan pagi selama 30 menit setiap harinya dapat menurunkan tekanan darah
karena dengan adanya latihan bersifat dinamis, dapat meningkatkan cardiac
output serta tekanan darah sistolik dan diastolik dan juga intervensi berjalan
yang merupakan salah satu jenis latihan aerobic, dapat meningkatkan kadar
HDL-C dan menurunkan kadar LDL- C sehingga akan meningkatkan cardiac
out put sehingga peredaran darah menjadi lebih lancar dan efisien. Oleh
karena itu selain edukasi mengenai diet hipertensi yang tepat lansia juga
didorong untuk melakukan aktivitas fisik dan pengontrolan tekanan darah
yang rutin serta gaya hidup sehat. Selain dikarenakan oleh edukasi tersebut,
lansia dapat termotivasi dan disiplin dalam merubah diet serta gaya hidupnya
disebabkan oleh dukungan keluarga yang selalu memonitor lansia.