Anda di halaman 1dari 15

REFORMASI MANAJEMEN KEUANGAN DAERAH

MAKALAH INI DIBUAT UNTUK MEMENUHI TUGAS


MANAJEMEN KEUANGAN NEGARA DAN DAERAH

KELOMPOK
NAMA NIM
1. M. NUR CHANIAGO 15043059
2. ANUGERAH AKBAR A.P 15043069
3. RIFANDRA ADWITIYA 15043099

DOSEN MATA KULIAH :


VITA FITRI SARI, S.E.,M.SI.

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2017
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT., Yang Maha Pengasih Lagi Maha
Penyayang kami haturkan puji syukur atas kehadirat-Nya yang telah melimpahkan
Rahmat, Hidayah dan Inayah-Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul Reformasi Manajemen Keuangan Daerah.
Adapun makalah tentang Reformasi Manajemen Keuangan Daerah ini telah kami
usahakan semaksimal mungkin dengan bantuan berbagai pihak sehingga dapat
memperlancar pembuatan makalah ini, untuk itu kami tidak lupa menyampaikan
banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan
makalah ini.
Namun tidak lepas dari semua itu kami sadar sepenuhnya bahwa ada kekurangan
baik dari segi penyusunan bahasanya maupun dari segi lainnya. Oleh karena itu
dengan lapang dada dan tangan terbuka kami membuka selebar-lebarnya bagi
pembaca yang ingin memberikan saran dan kritik kepada kami sehingga kami dapat
memperbaiki makalah ini.
Akhirnya penyusun mengharapkan semoga dari makalah tentang Reformasi
Manajemen Keuangan Daerah ini dapat diambil hikmah dan manfaatnya sehingga
dapat memberikan inspirasi terhadap pembaca.

Padang, 09 Februari 2017

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................Error: Reference source not found

DAFTAR ISI.............................................................Error: Reference source not found

BAB I PENDAHULUAN............................................................................................. 4

A. LATAR BELAKANG............................................................................................ 4

B. RUMUSAN MASALAH.................................. Error: Reference source not found

C. TUJUAN PENULISAN.....................................Error: Reference source not found

BAB II PEMBAHASAN...................................................................................................5

A. PERKEMBANGAN REFORMASI MANAJEMEN KEUANGAN DAERAH 5

B. ASPEK UTAMA REFORMASI MANAJEMEN KEUANGAN DAERAH.....8

BAB III PENUTUP.....................................................................................................14

DAFTARPUSTAKA...................................................................................................15
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Masalah Manajemen keuangan daerah tidak terlepas dari perencanaan dan


pelaksanaan anggaran daerah oleh pemerintah daerah demi mewujudkan
pelayanan publik yang sebaik-baiknya. Di era otonomi ini, masing-masing daerah
memiliki hak dan kewajiban untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan
pemerintahannya untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan
pemerintahan. Kualitas pelayanan yang baik tergantung pada kelancaran
pemerintah daerah dalam hal pendanaan untuk belanja dan membiayai semua
aktivitas kepemerintahan. Banyaknya aktivititas yang harus didanai dan dengan
terbatasnya sumber dana, mengharuskan pemerintah daerah untuk lebih bijak
dalam membelanjakan sumber dananya. Optimalisasi sumber dana harus
dilakukan sebaik mungkin guna ketersediaannya kepada satuan-satuan kerja yang
memberikan pelayanan kepada publik. Untuk mencapai pengelolaan keuangan
daerah yang efektif, efisien, transparan, dan akuntabel, bupati/walikota wajib
melakukan pengendalian atas penyelenggaraan kegiatan pemerintahan. Tuntutan
transparansi dan akuntabilitas pada laporan keuangan pemerintah daerah harus
diimbangi dengan adanya suatu sistem yang mengatur dan mengelola keuangan
daerah. Penerapan sistem pengendalian intern pemerintah (SPIP) dan sistem
akuntansi pemerintah daerah.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana perkembangan Reformasi Manajemen Keuangan Daerah ?

2. Apasajakah Aspek-aspek utama Reformasi Manajemen Keuangan Daerah?

C. Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui bagaimana perkembangan reformasi keuangan daerah.


4
2. Mampu memahami aspek utama reformasi keuangan daerah.
BAB II

PEMBAHASAN

Perkembangan sistem tata kelola pemerintahan di Indonesia dalam satu


dasawarsa terakhir (1998) s.d. 2008) mengalami kemajuan yang sangat pesat.
Dalam kurun yang relatif singkat, pemerintah Indonesia telah melewati
serangkaian proses r waktueformasi sektor publik, khususnya reformasi
manajemen keuangan daerah. Pada dasarnya reformasi manajemen keuangan
daerah tersebut merupakan suatu berkah (blessing in disquesed) dari gerakan
reformasi yang digelorakan pada tahun 1998 setelah Indonesia mengalami Krisis
multidimensi. Tonggak sejarah reformasi manajemen keuangan daerah ditandai
dengan pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal yang dimulai 1
Januari 2001. Tujuan pelaksanaan otonomi daerah tersebut secarah umum adalah
untuk meningkatkan kemandirian daerah, meningkatkan responsivitas pemerintah
terhadap kebutuhan publik, meningkatkan partisivasi publik dalam pembangunan
daerah, meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan keuangan dan
pelayanan publik, serta mendorong demokratisasi di daerah.

A. Perkembangan Reformasi Manajemen Keuangan Daerah

Reformasi manajemen keuangan daerah di Indonesia dapat dikatakan cukup


terlambat hampir dua dasawarsa dibandingkan dengan reformasi yang telah
dilakukan oleh negara-negara maju di Eropa dan Amerika Serikat. Pemerintah
Indonesia juga termasuk terlambat jika dibandingkan dengan negara tetangga
seperti Malaysia, Filipina, Singapura, dan Selandia Baru yang sudah sejak tahun
1970an dan 1980an telah melakukan serangkaian reformasi dibidang manajemen
keuangan publik. Singapura misalnya, telah menggunakan anggaran berbasis
kinerja (peformance budget) sejak tahun 1980an, sedangkan pemerintah daerah di
Indonesia baru menerapkannya pada tahun 2001. Pemerintah Inggris telah
memulai mereformasi sektor publiknya dengan konsep New Public Management
sejak tahun 1980an. Amerika Serikat menggunakan anggaran dengan pendekatan
5
Planning (PBBS) secara luas tahun 1965 dan Zero Base Budgeting (ZBB) tahun
1973. Selandia Baru secara radikal menggunakan akutansi akrual sejak tahun
1990an. Meskipun relatif terlambat, reformasi manajemen keuangan sektor publik
di Indonesia dapat dikatakan mengalami kemajuan yang cukup pesat.

Jika dilihat dari aspek historis, perjalanan reformasi manajemen keuangan


daerah di Indonesia dapat dibagi dalam tiga fase, yaitu: 1) era pra-otonomi daerah
dan desentralisasi fiskal (1974-1999), 2) era transisi otonomi (2000-2003), dan 3)
era pascatransisi (2004-sekarang). Era pra-otonomi daerah merupakan
pelaksanaan otonomi ala Orde Baru berdasarkan UU No. 5 Tahun 1974 yang
bersifat sentralistis,top down planning dan budgeting, penggunaan anggaran
tradisional, rezim anggaran berimbang (balance budget), sistem pembekuan
tunggal (single entry) dan akutansi basis kas (cash basis) Selama masa pra-
otonomi daerah dan desentralisasi fiskal tersebut praktis belum ada sistem
akutansi keuangan daerah yang baik, yang ada baru sebatas tata buku.
Pengelolaan keuangan daerah mendasarkan pada buku Manual Administrasi
Keuangan Daerah (MAKUDA) tahun 1981 yang ada esensinya belum meru
pakan sistem akuntansi, tetapi sekadar penatausahaan keuangan atau tata buku.

Era otonomi semu ini berlangsung selama 25 tahun sampai dengan


pelaksanaan otonomi luas dan nyata berdasarkan UU No. 22 Tahun 1999 dan UU
No. 25 Tahun 1999 yang bersifat desentralisasi, bottom up (participative )
planning & budgeting, penggunaan anggaran berbasis kinerja, sistem pembukuan
berpasangan (double entry bookeeping), dan akutansi basis kas modifikasian
(modifiedcash basis).

Reformasi manajemen keuangan daerah mulai dilaksanakan setelah


diberlakukannya UU No. 22 Tahun 1999 dan UU No. 25 Tahun 1999. Sebagai
upaya konkret, pemerintah mengeluarkan PP No. 105 tahun 2000 tentang
Pengelolaan dn Pertanggungjawaban Keuangan Daerah dan PP No. 108 Tahun
2000 tentang Pertanggungjawaban Daerah dalam Pengelolaan Keuangan Daerah.
Sementara itu dikeluarkan pula petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan PP No.
105 Tahun 2000, serta untu secara bertahap mengganti model tata buku
6 sebagaimana dalam Manual Administrasi Keuangan Daerah menjadi sistem
akuntansi, pemerintah mengeluarkan Kepmendagri No. 29 Tahun 2002.
Kopmendagri No. 29 Tahun 2002 tersebut menjadi era transisi otonomi menuju
sistem yang lebih ideal.
Era transisi otonomi adalah masa antara tahun 2000 hingga 2003 yang
merupakan masa awal implementasi otonomi daerah. Masa transisi otonomi ini
ditandai dengan masih belum mantapnya hukum, kelembagaan, infrastruktur, dan
sumber daya manusia (SDM) daerah dalam mewujudkan tujuan otonomi daerah.
Dalam masa transsi ini masih sering terjadi uji coba sistem baru, belum
mantapnya sistem sehinggasering terjadi revisi peraturan perundangan di bidang
pengelolaan keuangan negara/daerah. Peraturan perundangan yang menonjol
dalam era ini adalah Kepmendagri No. 29 Tahun 2002.

Era pascatransisi adalah masa setelah diberlakukannya paket peraturan


perundangan yang merupakan suatu peraturan menyeluruh dan komprehensif
(amnibus regulations) mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pelaporan,
pengauditan, dan evaluasi kinerja atas pengelolaan keuangan daerah. Paket
peraturan perundangan yang merupakan omnibus regulations itu antara lain:

1. UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang menggantikan paket


peraturan perundangan yang (ICW) warisan Pemerintahan Hindia Belanda.

2. UU No. 1 Tahun 2004 tentang Pembendaharaan Negara.

3. UU No. 15 Tahun 2004 Tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung


Jawab Keuangan Negara.

4. UU No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.

5. UU. No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (merupakan revisi UU


No. 22 Tahun 1999).

6. UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah


Pusat dan Daerah ( revisi UU No. 25 Tahun 1999).

7. PP No. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah.

7 8. PP No. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.

9. PP No. 8 Tahun 2006 tentang Laporan Keuangan dan Kinerja Instansi


Pemerintah.
10. PP No. E Tahun 2007 tentang Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah
(LPPD) Kepada Pemerintah, Laporan Keterangan Pertanggungjawaban
(LKPJ) Kepada DPRD, dan Informasi LPPD Kepada Masyarakat.

11. Permendagri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan


Daerah.

12. Permendagri No. 59 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Permendagri No. 13
Tahun 2006.

Tabel 1.1 Perkembangan Peraturan Perundangan Terkait Manajemen Keuangan


Daerah

Pra-otonomi Daerah Transisi otonomi Pascatransisi


dan Desentralisai (Reformasi Tahap 1) Otonomi (Reformasi
Fisikal Tahap 2)

UU No. 17 Thn 2003

UU No. 1 Thn 2004

UU No. 5 Thn 1974 UU No. 22 Thn 1999 UU No. 15 Thn 2004

UU No. 25 Thn 1999 UU No. 25 Thn 2004

UU No. 32 Thn 2004

UU No. 33 Thn 2004

PP No. 5 Thn 1975 PP No. 105 Thn 2000 UU No. 24 Thn 2005

PP No. 6 Thn 1975 PP No. 108 Thn 2000 UU No. 58 Thn 2005

8 Manual Administrasi Kepmendagri No. 29 Permendagri No. 13


Tahun 2006 (Direvisi
Keuangan Daerah Thn 2002
menjadi Permendagri
(MAKUDA 1981) Peraturan Daerah : No. 59 Tahun 2007)

Pokok-pokok
Pengelolaan

Keuangan Daerah

Peraturan KDH

B. Aspek Utama Reformasi Manajemen Keuangan Daerah


Aspek Utama Reformasi Manajemen Keuangan Daerah meliputi :
Perubahan Sistem Anggaran
Perubahan system anggaran traisional menjadi system anggaran berbasis
prestasi kerja. Perubahan system penganggaran ini meliputi perubahan dalam
proses penganggaran dan perubahan struktur anggaran. Perubahan system ini
tidak hanya menyangkut proses penganggarannya saja, tapi juga perubahan
struktur anggaran. Struktur anggaran dirubah dari struktur anggaran tradisional
menjadi penganggaran berbasis kinerja.

Penggunaan system penganggaran kinerja di pemerintah daerah telah


membawa perubahan yang radikal terkait dengan perubahan dalam perencanaan
anggaran, pengisian anggaran, dan pelaporan anggaran. Secara manajerial
perubahan struktur ini berpengaruh terhadap perubahan paradigma anggaran,
sedangkan secara teknis berpengaruh pada kode rekening anggaran dan tata cara
pencatatannya.

Pada anggaran tradisional, kinerja anggaran diukur dari sisi inputnya, yakni
dilihat dari kemampuannya dalam penyerapan anggaran. Anggaran yang tidak
terserap (sisa anggaran) harus dikembalikan lagi ke rekening kas Negara dan
sebagai konsekuensinya anggaran satuan kerja tersebut untuk tahun berikutnya
terancam tidak akan ditambah bahkan bisa dikurangi.

9 Perubahan Kelembagaan Pengeloalaan Keuangan Daerah


Perubahan kelembagaan pengelolaan keuangan daerah dari system
sentralisiasi pada bagian keuangan secretariat daerah menjadi system
desentralisasi ke masing-masing satuan kerja.
Penataan ulang kelembagaan pengelolaan keuangan daerah itu bukan saja
untuk menyesuaikan system anggaran yang baru, tapi juga dimaksudkan untuk
mendukung tercapainya tujuan desntralisasi fiscal. Beberapa perubahan
kelembagaan pengelolaan keuangan daerah tersebut antara lain:

a. Perubahan pengelolaan keuangan di pemerintah daerah dari system


sentralisasi pada Bagian Keuangan Sekretariat Daerah menjadi system
desentralisasi ke masing-masing satuan kerja. Konsekuensinya setiap Satuan
Kerja Perangkat Daerah harus menyelenggarakan akuntansi dan menyusun
laporan keuangan satuan kerja bersangkutan yaitu Laporan Realisasi Anggaran,
Neraca, dan Catatan Atas Laporan Keuangan. Bagian Keuangan (BPKD)
selanjutnya bertugas mengkonsolidasikan laporan keuangan seluruh satuan kerja
yang ada menjadi Laporan Keuangan Pemerintah Daerah.

b. Pejabat yang terkait dengan pengelolaan keuangan daerah meliputi :


1. Kepala Daerah selaku Pemegang Kekuasaan Pengelolaan Keuangan
Daerah
2. Sekretariat Daerah selaku Kuasa Pemegang Kekuasaan Pengelolaan
Keuangan Daerah sekaligus merupakan Koordinator Pengelolaan
Keuangan Daerah
3. Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah (Biro/Bagian Keuangan)
selaku Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD) sekaligus
merupakan Bendahara Umum Daerah (BUD)
4. Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah selaku Pengguna Anggaran/
Pengguna Barang
5. Kuasa Pengguna Anggaran/ Kuasa Pengguna Barang
6. Pejabat Penatausahaan Keuangan Satuan Kerja Perangkat Daerah
(PPK-SKPD)
7. Bendahara Penerimaan/Pengeluaran SKPD
8. Bendahara Penerimaan/ Pengeluaran Pembantu
9. Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK)

Perubahan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah


Perubahan system akuntansi dari system tata buku tunggal (single entry
bookkeeping) menjadi sistem tata buku berpasangan (double entry bookkeeping).
10
Untuk meningkatkan transparasi dan akuntabilitas public dalam rangka
mendukung pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiscal, maka
diperlukan reformasi akuntansi sector public di Indonesia.
Aspek yang diperlukan dalam reformasi akuntansi adalah perlunya dimiliki
standar akuntansi pemerintahan dan perlunya dilakukan perubahan sistem
akuntansi, yaitu perubahan dari single entry menjadi double entry.

Single entry pada awalnya digunakan sebagai dasar pembukuan di


pemerintahan karena cukup mudah dan praktis. Namun karena single entry tidak
dapat memberikan informasi yang komprehensif dan mencerminkan kinerja yang
sesungguhnya. Maka beralihlah dari sistem single entry ke double entry.

Double entry ditujukan untuk menghasilkan laporan keuangan yang lebih


mudah untuk dilakukan audit dan pelacakan antara bukti transaksi, catatan, dan
keberadaan akekayaan, utang, dan ekuitas organisasi. Dengan sistem ini maka
pengukuran kinerja dapat dilakukan secara lebih komprehensif.

Perubahan Basis Pencatatan Akuntansi


Basis kas ini dinilai mengandung banyak kelemahan. Memang setiap basis
akuntansi yang digunakan, baik basis kas, basis kas modifikasian, akrual
modifikasian maupun basis akrual masing-masing memiliki keunggulan dan
kelemahan. Perubahan teknik akuntansi dari basis kas menjadi akrual bertujuan
agar pemerintah daerah dapat menghasilkan laporan keuangan yang lebih dapat
dipercaya, akurat, komprehensif, dan relevan untuk pengambilan keputusan
ekonomi, social, dan politik.

Perubahan dari Basis Kas Menuju Akrual (Cash Towards Accrual)


Perubahan basis akuntansi dari basis kas (cash basis) menjadi basis akrual
(accrual basis).
Basis akuntansi merupakan dasar akuntansi yang menetapkan kapan
transaksi-transaksi yang berpengaruh terhadap keuangan organisasi harus diakui/
dibukukan untuk tujuan pelaporan keuangan. Ada beberapa basis pencatatan
akuntansi yang bias dipilih oleh pemerintah daerah, diantaranya :

1. Akuntansi basis kas (cash basis)


2. Akuntansi basis kas modifikasian (modified cash basis)
3. Akuntansi basis akrual modifikasian (modified accrual basis)
4. Akuntansi basis akrual (accrual basis)
11
Keempat pendekatan ini pada dasarnya bersifat continuum dari basis kas
sampai basis akrual. Perbedaan Basis kas Akuntansi tersebut berkaitan dengan
penetapan waktu pengakuan dan pengukuran suatu transaksi (timing of
recognition).

Basis Kas mengakui dan mencatat transkasi pada saat kas diterima/
dikeluarkan. Basis Kas tidak mencat utang, piutang dan aktiva secara
komprehensif. Akuntansi basis kas digunakan untuk menunjukan ketaatan pada
anggaran belanja (spending limits). Akuntansi basis kas mempunyai kelemahan,
yaitu menghasilkan laporan keuangan yang kurang komprehensif untuk
pengambilan keputusan serta tidak dapat menggambarkan kinerja organisasi
secara lebih baik. Dan tidak mampu memberikan informasi aset, utang-piutang,
dan ekuitas secara komprehensif.

Basis Akrual mengakui transaksi keuangan pada saat terjadinya, yaitu


ketika sudah menjadi hak atau kewajibannya meskipun belum diterima/
dikeluarkan kasnya. Dengan basis akrual organisasi akan mengakui adanya utang,
piutang dan asset.

Pemerintah daerah bias saja langsung pindah dar basis kas ke basis akrual.
Namun Kepmendagri No. 29 Tahun 2002 mengatur pemerintah daerah untuk
menggunakan basis kas modifikasian, yaitu kombinasi dasar kas dengan akrual.
Berdasrkan basis kas tersebut, transaksi penerimaan kas atau pengeluaran kas
dibukukan pada saat uang diterima/ dibayarkan (basis kas). Dan pada akhir
periode dilakukan penyesuaian untuk menghasilkan neraca yaitu dengan cara
mengakui transaksi dan kejadian dalam periode berjalan walaupun penerimaan/
pengeluaran kas belum terealisir. Dengan demikian, pencatatan anggaran
menggunakan basis kas, sedangkan untuk menghasilkan laporan neraca di akhir
periode akuntansi digunakan basis akrual.

Perubahan secara langsung dari basis kas menjadi basis akrual akan bersifat
radikal, padahal selama bertahun-tahun basis kas telah mendarah daging bagi
pegawai keuangan pemerintah daerah. Penerapan secara langsung basis akrual
membutuhkan daya dukung teknologi serta sumber daya manusia yang memiliki
latar belakang pendidikan akuntansi yang memadai. Permasalahan penerapan
12
basis akuntansi bukan sekedar masalah teknis akuntansi, yaitu bagaimana
mencatat transaksi dan menyajikan laporan keuangan, tapi yang lebih penting
adalah bagaimana menentukan kebijakan akuntansi (accounting policy),
perlakuan akuntansi untuk suatu transaksi (accounting treatment), pilihan
akuntansi (accounting choice) dan mendesain/ menganalisis sistem akuntansi
yang ada.

Masih terdapat beberapa permasalahan yang akan dihadapi apabila


menggunakan secara langsung akuntansi basis akrual. Hal ini terkait dengan
definisi, pengakuan, pengukuran serta kebijakan akuntansi asset, modal (ekuitas),
pendapatan dan belanja untuk organisasi pemerintah. Kepmendagri No. 29 Tahun
2002 meskipun belum ideal dan dalam beberapa hal masih terdapat kelemahan,
tapi juga bagi daerah cukup membantu, terutama dalam tahap awal implementasi
sistem anggaran kinerja dan sistem akuntansi keuangan daerah. UU No. 17/2003
juga secara eksplisit menegaskan tentang pengguanaan akuntansi akrual,
demikian juga dengan PP No. 24/2005 tentang standar Akuntansi Pemerintahan.
Munculnya PP No. 24/2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan merupakan
penyempurnaan dari Kepmendagri No. 29/2002 dilihat dari aspek akuntansinya.
Dalam PP No. 24/2005 ini, basis pencatatan akuntansi yang digunakan sudah
diarahkan menuju akrual. Memang unit kerjanya dimungkinkan menggunakan
basis akrual sepenuhnya, namun untuk pencatatan akuntansi pendapatan, belanja
dan pembiayaan perlu dilakukan penyesuaian ke basis kas di akhir periode.

Untuk memberikan kesan bahwa PP No. 24/2005 tersebut masih


memberikan ruang gerak untuk melakukan transisi dari Kepmendagri No. 29/
2002 dengan pendekatan basis kas modifikasian, maka istilah yang kemudian
dimunculkan adalah pendekatan kas menuju akrual (cash towards accrual).
Dengan kenyataan tersebut , sebenarnya PP No. 24/ 2005 itu belum ideal. Karena
adanya perbedaab basis akuntansi untuk akun riil (neraca) dan akun nominal
(laporan realisasi anggaran) dapat menimbulkan permasalahan teknis pencatatan
akuntansinya.

Permasalahan yang muncul terkait dengan reformasi menuju akrual tersebut


diantaranya :

1. Masalah SDM terkait dengan masih kurangnya tenaga akuntan di daerah.


13

2. Masih rendahnya dukungan Teknologi Informasi di daerah.


3. Masih rendahnya tingkat penggunaan laporan keuangan daerah untuk
pengambilan keputusan.

4. Belum adanya penghargaan (reward) yang masih memadai bagi daerah yang
memiliki sistem informasi akuntansi daerah yang baik.

5. Masih tingginya ancaman korupsi sistematik di daerah yang dapat menggagalkan


implementasi akrual.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Tujuan pelaksanaan otonomi daerah adalah mewujudkan sistem tata kelola
pemerintah yang baik (good governance) yang ditandai dengan meningkatnya
kemadirian daerah, adanya transparasi dan akuntabilitas publik,pemerintah daerah
yang semakin responsif terhadap masyarakat, meningkatny partisipasi publik dalam
pembangunan daerah, meningkanya efesiensi dan efektifitas pengelolaan keuangan
dan pelayanan publik serta meningkatnya demokratisasi di daerah
Secara historis, reformasi manajemen keuangan daerah dapat dibagi dalam tiga
fase, yaitu: 1). era pra-otonomi daerah dan desentralisasi fiskal (1974-1999), 2) era
transisi otonomi (2000-2003), dan 3) era pascatransisi (2004-2008).
Aspek utama reformasi manajemen keuangan daerah meliputi perubahan sistem
anggaran, perubahan kelembagaan pengelolaan keuangan daerah, perubahan sistem
akuntansi, dan perubahan basis akuntansi.
B. SARAN
Diharapkan dengan adanya reformasi ini, pengelolaan keuangan daerah dapat
berjalan dengan lebih baik sehingga tidak ada lagi penyimpangan yang dilakukan oleh
oknum yang tidak bertanggung jawab dan menyebabkan masih tingginyan ancaman
korupsi sistematik di daerah sehingga dapat menggagalkan implementasi akrual.
14
DAFTAR PUSTAKA

Mahmudi (2009) Manajemen Keuangan Daerah Buku Seri Membudayakan


Akuntabilitas Publik, Yogyakarta: Erlangga.

15

Anda mungkin juga menyukai