Anda di halaman 1dari 52

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi selalu berbanding lurus
dengan perkembangan zaman yang semakin modern. Manusia sebagai makhluk
yang tidak memiliki batas kepuasan akan selalu menuntut adanya hal perubahan
dalam hidup mereka, seperti halnya kebutuhan akan makanan, obat, kosmetik,
dan lain-lain.
Farmasi merupakan ilmu terapan dari ilmu pengetahuan alam seperti
kimia, fisika dan biologi yang mempelajari tentang obat, kosmetik dan makan.
Dalam farmasi dipelajari mekanisme kerja obat dalam tubuh. Selain itu, farmasi
pun juga mempelajari cara membuat, mencampur, meracik formulasi,
memformulasikan suatu sediaan yang baik, identifikasi, kombinasi, analisis dan
standarisasi/pembakuan obat serta pengobatan (Ansel, 2008).
Obat dan bahan-bahan farmasetik yang digunakan harus tercampurkan
satu dengan yang lainnya untuk menghasilkan satu produk obat yang stabil,
menarik, mudah dibuat dan aman. Dalam bentuk sediaan setengah padat
contohnya seperti, krim, salep sedangkan dalam bentuk cair contohnya sirup,
eliksir, suspensi, emulsi.
Obat dalam bentuk sediaan cair lebih dibutuhkan bagi masyarakat
terutama bagi bayi, anak-anak dan orang tua yang sukar menelan obat dalam
bentuk padat. Sediaan solution (larutan) meliputi larutan oral dan topikal.
Larutan oral misalnya potionos, elixir, sirup dan lain-lain.
Dalam laporan ini akan membahas khususnya tentang sediaan solution
yang berbentuk larutan. Harapanya dalam praktikum kali ini agar dapat
memberikan kenyamanan dan kemudahan bagi pasien yang sulit mengkonsumsi
obat karena salah satu keuntungan dari sediaan larutan ini adalah dapat di
berikan dalam larutan encer dan mudah di absorpsi.
2.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
2.2.1 Maksud Percobaan
Adapun maksud percobaan ini yaitu mengetahui dan memahami cara
pembuatan sediaan larutan, sirup dan eliksir dari berbagai zat aktif disertai
evaluasi dari masing-masing sediaan.
2.2.2 Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini yaitu mengetahui cara pembuatan sediaan
larutan, sirup dan eliksir dengan zat aktif Piperazin Sitrat, Temulawak
(Curcuma Xanthoriza) dan Teofillin disertai evaluasi dari masing-masing
sediaan.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dasar Teori
Larutan didefinisikan sebagai sediaan cair yang mengandung satu atau
lebih zat kimia yang dapat larut, biasanya dilarutkan dalam air, yang karena
bahan-bahannya, cara peracikan atau penggunanya, tidak dimasukkan kedalam
golongan produk lainnya (Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi edisi IV, 304)
Larutan dibedakan menjadi beberapa jenis
1. Berdasarkan perbandingan solut solvent :
a. Larutan encer adalah larutan yang mengandung sejumlah kecil zat A
yang terlarut.
b. Larutan adalah larutan yang mengandung zat A yang terlarut.
c. Larutan jenuh adalah larutan yang mengandung jumlah maksimum zat A
yang dapat larut dalam air pada tekanan dan temperatur tertentu.
d. Larutan lewat jenuh adalah larutan yang mengandung jumlah zat A yang
terlarut melebihi batas kelarutannya di dalam air pada temperatur
tertentu.
2. Menurut cara pemberianya larutan di bedakan menjadi 2 bagian yaitu:
a. Larutan oral
Adalah sediaan cair yang di buat untuk pemberian oral, mengandung
satu atau lebih zat dengan dengan atau tampa bahan
pengaroma,pemanis,atau pewarna yang larut dalam air atau campuran
kosolven-air.
b. Sirup adalah larutan oral yang mengandung sukrosa atau gula lain dalam
kadar tinggi (sirop simplex adalah sirop yang hamper jenuh dengan
sukrosa). Larutan oral yang tidak mengandung gula tetapi bahan
pemanis buatan seperti sorbitol atau aspartam, dan bahan.

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Stabilitas Sediaan Sirup :


1. Faktor Internal :
a. Formulasi
b. Kemasan atau wadah primer
2. Faktor Eksternal:
a. Suhu
b. pH
c. Pelarut
d. Kelembaban
e. Intensitas Cahaya
4. Keuntungan dan Kerugian sediaan sirup :
1. Keuntungan :
a. Lebih mudah di telan dibandingkan bentuk padat sehingga dapat di
gunakan untuk bayi, anak-anak,dan usia lanjut.
b. Mengurangi resiko iritasi pada lambung oleh zat-zat iritan karena
larutan akan segera di encerkan oleh isi lambung
2. Kerugian :
a. Larutan bersifat voluminous, sehingga kurang menyenangkan untuk
di angkut dan di simpan. Apabila kemasan rusak, keseluruh sediaan
tidak dapat digunakan.
b. Stabilitas dalam bentuk larutan biasanya kurang baik di bandingkan
bentuk sediaan tablet atau kapsul.
c. Rasa obat yang kurang menyenangkan akan lebih terasa jika
diberikan dalam larutan dibandingkan dalam bentuk padat. Walaupun
demikian larutan dapat di berikan pemanis dan perasa agar
penggunaanya lebih nyaman.
3. Komponen Sirup :
a. Gula, biasanya sukrosa atau pengganti gula yang digunakan untuk
memberi rasa manis dankental
b. Pengawet antimikroba, Jumlah pengawet yang dibutuhkan untuk
menjaga sirup terhadap pertumbuhan mikroba berbeda-beda sesuai
dengan banyaknya air yang tersedia untuk pertumbuhan, sifat dan
aktifitas sebagai pengawet yang dipunyai beberapa bahan formulasi
dan dengan kemampuan pengawet itu sendiri. Pengawet-pengawet
yang umum digunakan sebagai pengawet sirup adalah asam benzoat
(0,1-0,2%), natrium benzoat (0,1-0,2%) dan berbagai campuran
metil, propil dan butil paraben(total 0,1%).
c. Pengaroma, Untuk menambah pengaroma harus memilih yang cocok
untuk obat dan tidak mengganggu zat aktif obat tersebut. Hampir
semua sirup di sedapkan dengan pemberian rasa buatan atau bahan-
bahan yang berasal dari alam untuk membuat sirup memiliki rasa
yang enak. Karena sirup adalah sediaan cair, pemberi rasa ini harus
mempunyai kelarutan dalam air yang cukup. Pengaroma
ditambahkan ke dalam sirup untuk memberi aroma yang enak dan
wangi. Pemberian pengaroma harus sesuai dengan rasa sediaan sirup,
misalnya sirup dengan rasa jeruk di beri aroma citrus.
d. Pewarna, Untuk menambah daya tarik sirup, umumnya digunakan zat
pewarna yang berhubungan dengan pemberi rasa yang digunakan
(misalnya hijau untuk rasa permen, coklat untuk rasa coklat dan
sebagainya)
e. Perasa, Hampir semua sirup disedapkan dengan pemberi rasa buatan
atau bahan-bahan yang berasal dari alam seperti minyak-minyak
menguap (contoh minyak jeruk), vanili dan lain-lainnya. Untuk
membuat sirup yang sedap rasanya karena sirup adalah sediaan cair,
pemberi rasa ini harus mempunyai kelarutan dalam air yang cukup.
Contoh perasa adalah sukrosa, glukosa.
4. Cara pembuatan sediaan larutan sirup:
a. Air sebagai pelarut atau pembawa harus dididihkan kemudian
didinginkan dalam keadaan tertutup
b. Penimbangan zat aktif dan bahan pembantu yang di perlukan
c. Pembuatan sirup dapat menggunakan pengental dan pemanis
d. Zat aktif dan bahan pembantu berbentuk serbuk dihaluskan dalam
mortir
e. Melarutkan zat aktif dengan cara penambahan zat aktif sedikit-sedikit
ke dalam sejumlah volume pelarut sambil di aduk hingga larut
c. Eliksir adalah larutan oral yang mengandung etanol (95%) sebagai
kosolven (pelarut). Untuk mengurangi kadar etanol yang dibutuhkan
untuk pelarut, dapat ditambahkan kosolven lain seperti gliserin dan
propilen glikol.
1. Keuntungan :
a. Lebih mudah di telan daripada bentuk padat, Sehingga dapat
digunakan untuk bayi,anak-anak dan usia lanjut.
b. Segera di absorbsi karena sudah dalam bentuk larutan.
c. Obat secara homogen terdistribusi dalam seluruh sediaan (Ansel, 34)
d. Kemudahan penyesuaian dosis dan pemberian terutama pada anak-
anak (Dispensing of pharmaceutical stident, 67; disp of med,
502) Dosis selalu seragam(bentuk larutan)sehingga tidak perlu
pengocokan
e. Dosis dapat di ubah sesuai penyediaanya
f. Absorbsi lebih cepat
g. Sifat mengiritasi obat bisa di atasai dengan sediaan bentuk larutan
karena adanya faktor pengenceran
h. Bagi bayi, anak-anak dan lanjut usia yang sukar menelan tablet akan
lebih mudah dalam menelan sediaan larutan
2. Kekurangan:
a. Voluminus, susah untuk di angkut atau di simpan
b. Stabilitas dalam bentuk larutan lebih jelek di bandingkan dalam
bentuk tablet atau kapsul
c. Rasa obat yang kurang enak akan lebih terasa dalam bentuk larutan di
bandingkan dalam bentuk tablet (Ansel, 341)
d. Di bandingkan dengan sirup,eliksir biasanya kurang manis dan
kurang kental karena mengandung kadar gula yang lebih rendah
sehingga kurang efektif dalam menutupi rasa obat.
2.2 Permasalah zat aktif
2.2.1 Sirup
a. Karakteristik khas rimpang temulawak adalah rasa pahit dan agak pedas.
Rasa pahit dan agak pedas tersebut menjadi kelemahan temulawak, sehingga
banyak orang enggan mengkonsumsi temulawak. Salah satu cara untuk
menghilangkan rasa pahit dan pedas pada temulawak adalah dibuat dalam
bentuk sirup (Badan POM, 2006)
b. Sirup merupakan alat yang menyenangkan untuk pemberian suatu bentuk
cairan dari suatu obat yang rasanya tidak enak. Sirup efektif dalam
pemberian obat untuk anak-anak karena rasanya yang enak biasanya
menghilangkan keengganan pada sebagian anak-anak untuk meminum obat.
Jadi dalam formulasi ini temulawak dibuat dalam bentuk sirup dan ditujukan
untuk anak-anak.
c. Dalam formulasi ini ditambahkan anti caploocking. Hal ini dikarenakan
pemanis yang digunakan adalah sukrosa. Dimana sukrosa pada konsentrasi
yang tinggi dapat membentuk kristalisasi.
d. Ditinjau dari kestabilannya temulawak tidak stabil terhadap pengaruh cahaya
karena adanya gugus metilen aktif pada strukturnya, sehingga sirup
temulawak disimpan dalam botol coklat.
e. Dalam formulasi ini tidak digunakan pewarna karena dilihat dari pemerian
zat aktif temulawak memiliki warna kuning atau kuning jingga.
f. Dalam formulasi ini digunakan pendapar sitrat karena dilihat dari zat aktif
curcumin merupakan senyawa yang tidak stabil pada pH 6,5 sedangkan
range dari dapar sitrat antara 2,2-9,0 (Ronesen dan Karslen, 1985 dan
Astuti, 2009).
2.2.2 Eliksir
a. Ditinjau dari pemeriannya teofilin memiliki rasa yang pahit dan tidak
berbau sehingga dalam formula ini ditambahkan pemanis untuk menutupi
rasa pahit dari zat aktif (FI III, hal 597).
b. Pada formulasi ini dibuat sediaan eliksir karena teofilin sukar larut dalam
air, dan karena eliksir bersifat hidroalkohol maka dapat menjaga stabilitas
obat baik yang larut dalam air maupun alkohol dalam larutan eliksir (FI III,
hal 597).
c. Dalam formulasi ini digunakan pelarut campur yaitu etanol dan
propilenglikol karena teofilin sendiri sukar larut dalam air, 1:80 sehingga
dibutuhkan pelarut lain untuk meningkatkan kelarutannya.
d. Pada formulasi ini formulator menambahkan pendapar yang bertujuan
untuk mengontrol pH dari produk larutan oral pada saat penyimpanan
sehingga pH dari sediaan akan tetap stabil.
e. Dilihat dari pemerian teofilin yang memiliki karakteristik tidak berbau
maka formulator menambahkan pengaroma sehingga dapat memberikan
bau yang menyenangkan.
f. Pada formulasi ini digunakan pelarut air, dimana air merupakan media
pertumbuhan mikroba, sehingga ditambahkan propilenglikol sebagai
pengawet (Kibbe, 2000).
g. Dilihat dari stabilitas teofilin yang cepat menyerap air apabila terpapar
udara maka teofilin harus disimpan pada wadah yang tertutup dengan baik
(FI III, hal 597)
h.
II.2.3 Larutan
a. Piperazini citras memiliki PH 5-6, dimana PH dari zat aktif ini termasuk
range yang sempit sehingga dalam formula ini formulator menambahkan
pendapar yang bertujuan untuk mengontrol PH dari produk larutan oral
pada saat menyimpanan sehingga PH dari sediaan akan tetap stabil, selain
itu pendapar yang digunakan dalam formula yaitu dapar fosfat karena
dapar fosfat mempunyai range PH 6-8 dapat mempertahankan PH sediaan
baik pada saat penyimpanan maupun saat penyerapan dalam usus.
b. Ditinjau dari pemeriannya zat aktif hamper tidak berbau sehingga dalam
formula ini dtambahkan pengaroma dan pewarna dapat memberikan rasa
dan aroma yang menyenangkan bagi pasien terutama anak-anak.
c. Dalam formulaini dibuat dalam bentuk larutan karena piperazin sitrat
memiliki kelarutan larut dalam air sehingga lebih baik dibuat dalam
bentuk larutan, dalam sediaan larutan juga, obat dapat larut dalam cairan
tubuh sehingga cepat di absorbs baik melalui lambung atau usus di
bandingkan dengan sediaan tablet (Anwar, 2012).
d. Dilihat dari pemerian zat aktif memiliki rasa asam, shingga dalam
pembuatan formula ini ditambahkan pemanis untuk mengurangi rasa asam
dari zat aktif.
e. Ditinjau dari sediaannya formulasi piperazin sitrat menggunakan pelarut
air, dimana air merupakan salah satu media pertumbuhan bakteri
(Winarno, 1992). Sehingga formulator menggunakan pengawet untuk
menghindari pertumbuhan bakteri dalam sediaan, pengawet yang
digunakan adalah propilenglikol pada konsentrasi 15%.
f. Ditinjau dari pelarut zat aktif peparazi sitrat larut dalam air sehingga
dalam formulasi ini digunakan aquadestillata sebagai pelarut.
g. Ditinjau dari inkompatibilitas zat aktif piperazin sitrat inkom dengan
fruktosa dan glukosa sehingga dalam formulasi ini digunakan sorbitol
sebagai pemanis.
2.3 Alasan penambahan bahan
II.3.1 Sirup
a. Sukrosa
Kebanyakan sirup mengandung sebagian besar sukrosa, biasanya 60-80%,
tidak hanya disebabkan karena rasa manis dan kekentalan yang diinginkan
dari larutan seperti itu. Tapi juga karena sifat stabilitasnya yang berbeda
denagn sifat larutan encer dari sukrosa yang tidak stabil. (Ansel, hal 333)
Sukrosa merupakan pemanis alami yang memiliki rasa manis dan stabil
diudara dan kelarutannya sangat mudah larut dalam air. (FI IV, hal 762)
Dibandingkan dengan sakarin sebagai pemanis menimbulkan rasa manis
serta rasa pahit (FI III,1979) , selain itu juga pemanis sintesis dapat
menyebabkan kanker (karsinogenik). (Ghaji, 2013)
Dibandingkan dengan bahan pemanis lain seperti laktosa yang memiliki
pemerian berasa sedikit manis. (FI III,hal 338)
Sukrosa banyak digunakan sebagai pembawa dalam bentuk sediaan larutan
oral untuk meningkatkan sediaan oral.
Sukrosa memiliki kelarutan sangat mudah dalam air, sehingga cocok untuk
sediaan larutan . (FI IV , hal 762)
Pemanis buatan merupakan bahan tambahan yang dapat menyebabkan rasa
manis dalam makanan tetapi tidak memiliki nilai gizi. Senyawa yang
secara substansial memiliki tingkat kemanisan yang lebih tinggi 30 sampai
ribuan kali lebih manis dibandingkan pemanis alami.
Hasil penelitian menunjukan bahwa beberapa jenis pemanis buatan
berpotensi menyebabkan migren dan sakit kepala, kehilangan daya ingat,
bingung, insomnia, iritasi asma, sakit perut serta bersifat karsinogenik
seperti kanker otak dan kantung kemih.
Dalam formulasi ini konsentrasi sukrosa yang digunakan 60% karena
menurut ansel sirup sebagian besarnya mengandung sukrosa 60-80%.
Penggunaan sukrosa dengan konsentrasi terendah, karena jika
menggunakan sukrosa dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan karies
gigi pada anak (Wiranto,2012)
b. Sorbitol
Tidak digunakan anticaplocking lain seperti gelatin, karena gelatin dapat
dihidrolisis menjadi bentuk asam amino (Arthur, 2000)
Penambahan sorbitol berpengaruh terhadap ukuran partikel, semakin
meningkatnya konsentrasi sorbitol maka meningkat pula ukuran partikel.
Sorbitol tidak dapat dihidrolisis oleh mikroorganisme saluran cerna
sehingga dapat digunakan oleh pasien yang menderita diabetes karena tidak
dapat diabsorbsi sebagai karbohidrat (gula) (Anwar,2012)
Tidak digunakan gliserin, karena gliserin bereaksi berlangsung pada tingkat
lebih lambat dan beberapa produk oksidasi yang tebentuk. Jadi tidak cocok
untuk sediaan larutan. Gliserin juga akan berubah warna hitam dihadapan
cahaya (Hope,hal 285)
Sorbitol digunakan sebagai anti caplocking untuk mencegah adanya
kristalisasi pada mulut botol.
Konsentrasi sorbitol sebagai anti caplocking dalam sediaan sirup dan
eliksir 15-30%
Sorbitol dapat meningkatkan kemampuan untuk terdispersi dalam suatu
sediaan (Siswanto,2008)
Inkompatibilitas dari sorbitol akan membentuk kelat yang larut dalam air
dengan banyak divalent dengan kondisi sangat asam dan basa. Penambahan
poliethilen glikol cair terjadi agitasi kua, menghasilkan lilin larut dalam air
gel dengan titik leleh 35-40oC. larutan sorbitol juga bereaksi dengan besi
oksida menjadi berubah warna. Sorbitol meningkatkan tingkat degradasi
penisilin dinetral dan larutan air.
c. Natrium benzoat
Digunakan konsentrasi pengawet pada formula ini yaitu 0,1 % karena
konsentrasi pengawet lazim yang efektif untuk natrium benzoat yaitu 0,1-
0,2% (Ansel, hal 334)
Tidak digunakan benzil alkohol karena meskipun benzil alkohol terdaftar
sebagai antimikroba yang diijinkan FDA namun banyak factor yang harus
diperhatikan sebelum menggunakannya dalam sediaan cair serta tidak
dianjurkan untuk bayi prematur (Anwar,2012)
Tidak digunakan gliserin dalam formulasi ini karena gliserin menurut Hope
6 hal 285 dalam larutan reaksi berlangsung pada tingkat lebih lambat
dengan beberapa oksidasi yang terbentuk. Gliserin juga akan berubah
warna hitam dihadapan cahaya.
Natrium benzoat berfungsi sebagai pengawet antimikroba yang dapat
mencegah pertumbuhan bakteri dan jamur. Natrium benzoat sebagai anti
mikroba, pengawet dalam kosmetik, makanan dan obat-obatan. Konsentrasi
natrium benzoat 0,1%-0,5% (Rowe,2009)
Dalam formulasi ini konsentrasi natrium benzoat sebagai pengawet yang
digunakan 0,1%
Inkompatibilitas dari natrium benzoat yang tidak sesuai dengan senyawa
kuartener, gelatin, besi, garam kalsium dan garam dari logam berat (Kibbe
A, 2000)
Natrium benzoat lebih efektif manghambat khamir, bakteri dan pada jamur
(Hughes,1987)
Dibandingkan dengan pengawet lainnya seperti asam benzoat dan metil
paraben keduanya memiliki kelarutan yaitu asam benzoat memiliki sifat
yang sukar larut dalam air begitupun dengan metil paraben.
Penggunaan melebihi angka maksimum atau lebih dari 0,1% bisa
menyebabkan migren, kelelahan dan kesulitan tidur (Cahyadi,2008)
Penggunaan natrium metasulfat sebagai bahan pengawet bisa menyebabkan
alergi pada kulit (Riawan.S,1990)
d. Pendapar sitrat
Penambahan dapar sitrat maupun pendapar lain mempertinggi kestabilan
dari produk secara kimia serta untuk mengatur kelarutan dalam produk
Dapar sitrat merupakan salah satu pendapar yang dapat mengontrol pH dari
formulasi produk larutan oral serta untuk memastikan penampilan fisika
kimia produk (Fasstrack)
Rentan pH asam sitrat-natrium sitrat 2,2-9,0
Zat pendapar digunakan untuk menahan pH pada pengenceran dan
penambahan asam dan basa
Kombinasi buffer digunakan untuk memperoleh rentan pH yang besar
dibanding penggunaan tunggal (Effionora, hal 175)
2.3.2 Eliksir
1. Propilenglikol
Propilenglikol banyak digunakan sebagai pelarut dan pembawa dalam
pembuatan sediaan farmasi dan kosmetik. Khususnya untuk zat-zat yang
tidak stabil atau tidak dapat larut dalam air (Loden, 2009).
Propilenglikol adalah bahan pengawet yang merupakan substansi alami
atau sintesis yang ditambahkan dalam suatu produk makanan, obat-obatan,
kosmetik dengan maksud untuk mencegah terjadinya dekomposisi karena
adanya pertumbuhan mikroba atau terjadinya perubahan secara kimiawi
(Dwiartyani, 2012).
Propilenglikol merupakan pengawet antimikroba, desinfektan, pelarut,
agent stabilitas dan yang banyak digunakan adalah pencampur dan
pengawet (Dwiartyani, 2012).
Propilenglikol juga digunakan sebagai bahan pada kosmetik dan industri
makanan, bahan ini dinyatakan stabil secara kimia ketika dicampur dengan
etanol 95%, gliserol atau air, propilenglikol digunakan secara luas pada
formulasi obat-obatan, kosmetik hingga makanan karena bahan ini
dianggap tidak toksik tetapi penggunaan bahan ini sebesar 35% pada suatu
formulasi dapat menyebabkan hemolisis pada manusia (Dwiartyani, 2012).
Konsentrasi propilenglikol sebagai kosolven (pelarut) 10-25 %, sedangkan
sebagai pengawet 15-30% (Kibbe, 2000)
Konsentrasi propilenglikol pada formula ini digunakan 25% karena pada
konsentrasi ini efektif sebagai kosolven dan pengawet.
Propilenglikol secara umum merupakan pelarut yang lebih baik dari
gliserin dan dapat melarutkan berbagai bahan seperti kortikosteroid, fenol,
obat-obatan, sulfa barbiturat, vitamin A dan D, alkaloid dan anastesi lokal
(Hope, 2009).
Benzil alkohol terdaftar sebagai antimikroba yang diijinkan FDA namun
banyak faktor yang harus diperhatikan sebelum menggunakan dalam
sediaan cair serta tidak di anjurkan untuk bayi prematur (Anwar, 2012).
Tidak digunakan gliserin dalam formula ini karena gliserin dalam larutan
encer reaksi berlangsung pada tingkat lebih lambat dengan beberapa
oksidasi yang terbentuk, gliserin juga akan berubah warna hitam dihadapan
cahaya (HOPE, hal 285).
Propilenglikol digunakan sebagai penghambat pertumbuhan jamur (Loden,
2009).
2. Sorbitol
Sorbitol bersifat non karsinogenik (tidak menyebabkan kanker) dan
berguna bagi orang-orang yang penderita diabetes (Smith, 1991).
Dibandingkan dengan pemanis lain seperti aspartam, aspartam bersifat
karsinogenik, selain itu juga aspartam tidak tahan terhadap pemanasan
(Cahyadi, 2006).
Selain itu pemanis buatan seperti sakarin, karena sakarin didalam tubuh
tidak mengalami metabolisme sehingga diekskresi melalui urin tanpa
perubahan kimia sehingga dapat menyebabkan kanker (Subani, 2008).
Sakarin juga mempunyai rasa pahit dengan kemurnian yang rendah dan
proses sintesis (Sutrisno, 1993).
Tidak digunakan gliserin, karena dalam larutan encer bereaksi berlangsung
pada tingkat lebih lambat dan beberapa produk oksida yang terbentuk jadi
tidak cocok untuk sediaan larutan. Gliserin juga akan berubah warna hitam
dihadapan cahaya (HOPE, hal 285).
Konsentrasi sorbitol sehingga anti cuplooking dalam sediaan sirup dan
eliksir 15-30% (HOPE, hal 515).
Konsentrasi sorbitol sebagai pemanis 20-35% (Kibbe, 2000).
Konsentrasi yang digunakan pada formula ini 20% karena sorbitol dalam
konsentrasi sedikit sudah memberikan rasa manis yang kuat.
Sorbitol tidak dapat dihidrolisis oleh mikroorganisme saluran pencernaan
sehingga dapat digunakan oleh pasien yang menderita diabetes karena tidak
dapat diabsorbsi sebagai karbohidrat (gula) (Anwar, 2012).
3. Dapar Sitrat
Penambahan dapar sitrat maupun pendapar lain dapat mempertinggi
kestabilan dari produk secara kimia serta untuk mengatur kelarutan dalam
produk (Fasttrack, 2008).
Dapar sitrat merupakan salah satu pendapar yang dapat mengontrol pH
dan formulasi produk larutan oral serta untuk memastikan penampilan
fisika kimia produk (Fasttrack, 2008).
Kombinasi buffer digunakan untuk memperoleh rentang pH yang besar
dibanding penggunaan tunggal (Effionora, hal 175).
Banyak formulasi dilengkapi dengan buffer untuk mengontrol
kemungkinan terjadinya perubahan pH larutan (Effionora, hal 175).
Rentang pH asam sitrat-natrium sitrat 2,2-9,0
Zat pendapar digunakan untuk menahan pH dari sediaan pada saat
pengenceran dan penambahan asam atau basa (Ansel, 1989).
4. Etanol
Etanol dapat digunakan dalam formulasi sebagai pelarut utama dimana untuk
meningkatkan kelarutan (Anggraini, 2012).
Etanol banyak digunakan sebagai pelarut berbagai bahan-bahan kimia yang
ditujukan untuk dikonsumsi dan kegunaan manusia
Sediaan eliksir merupakan sediaan hidroalkohol sehingga penambahan etanol
sangat penting karena mampu mempertahankan komponen larutan yang larut
dalam air dan larut dalam alkohol dibandingkan sirup.
Tujuan penambahan eliksir dengan penambahan etanol untuk mempertinggi
kelarutan zat berkhasiat, agar homogenitas lebih terjamin dan zat berkhasiat
lebih mudah terabsorbsi dalam keadaan terlarut
Biasanya sediaan eliksir mengandung 5-10% etanol (Anief 2005, hal 29)
Konsentrasi etanol yang terdapat dalam sediaan OTC oral berdasarkan FDA
anak >12 tahun dan dewasa maksimal 10%.
Dalam sediaan eliksir yang terdapat dalam pustaka digunakan etanol 95%
(Codex, 1973).

5. Aquadest
Aquadest merupakan pelarut yang umum digunakan dalam sediaan oral
karena tidak toksik, mudah didapatkan dan murah, aquadest untuk
pengobatan sediaan farmasi harus digunakan air minum yang sempurna
(Voight, 1984)
Aquadest merupakan bahan yang hampir selalu digunakan sebagai
eksipient formulasi dibidang farmasi berupa cairan bening, tidak berwarna,
tidak berbau dan tidak berasa.
Aquadest adalah air murni yang dapat diperoleh dengan cara penyulingan,
pertukaran ion, osmosis terbaik atau dengan cara yang sesuai. Air murni
lebih bebas kotoran maupun mikroba (Lachman, 1986)
6. Citrus Orange
Citrus orange merupakan pewarna yang biasanya digunakan dalam sediaan
farmasi guna menutupi bau yang kurang sedap dari zat-zat yang digunakan
dalam formulasi (Parrot, hal 177).
Penggunaan citrus orange untuk menciptakan aroma segar pada sediaan
karena sebagian besar sediaan tidak berbau (Wiyono, hal 11).
Pewarna dan perasa yang digunakan untuk memberikan rasa yang sedap
dan menimbulkan aromawangi pada sediaan eliksir (Ansel, 1989).
Digunakan citrus orange karena citrus orange dapat larut dalam air
dibandingkan citrus oil (Wiyono, hal 11).
Citrus orange biasanya digunakan sebagai pengaroma sekaligus pewarna
biasanya larut dalam air tidak bereaksi dengan komponen lain dan
warnanya stabil pada kisaran pH selama masa penyimpanan (Ansel, hal
335).
Tidak digunakan pewarna lain seperti FDA dan C Blue NO2 ditemukan
memudar cepat dengan adanya gula (sorbitol, sukrosa, manitol) (Anwar,
2012).
Pewarna yang digunakan untuk memberikan atau meningkatkan warna
produk bahan adalah zat yang digunakan untuk memberikan atau
meningkatkan suatu produk pangan dan membuat produk lebih menarik
(Wijana, 2009).
2.3.3 Larutan
1. Propilenglikol
Propilenglikol digunakan sebagai penghambat pertumbuhan jamur ( Loden,
2009 ).
Propilenglikol secara umum merupakan pelarut yang lebih baik dari
gliserin dan dapat melarutkan berbagai bahan seperti kortikosteroid, fenol,
obat-obatan, sulfa barbiturat, vitamin A dan D, alkaloid dan anastesi lokal
(Rowe, 2009).
Benzin alkohol terdaftar sebagai antimikroba yang dijinkan FDA namun
banyak faktor yang harus diperhatikan sebelum menggunakan dalam
sediaan cair serta tidak di anjurkan untuk bayi premature (Anwar, 2012).
Tidak digunakan gliserin dalam formula ini karena gliserin menurut HOPE
6 hal 285, dalam larutan encer reaksi berlangsung pada tingkat lebih lambat
dengan beberapa oksidasi yang terbentuk, gliserin juga akan berubah warna
hitam dihadapan cahaya (HOPE 6, 285).
Salah satu bahan pengawet yang paling banyak digunakan adalah asam
benzoate tapi asam benzoate lebih banyak digunakan dalam bentuk
garamnya karena kelarutannya lebih baik dari asamnya. Bentuk garam dari
asam benzoate adalah natrium benzoate. Natrium benzoate bekerja efektif
pada PH 2,5-4 ( Winarno, 1980). Sedangkan PH piperazin sitrat adalah 5-6
dan piperazin sitrat di absorbs pada usus sehingga tidak digunakan natrium
benzoate karena tidak bekerja efektif sebagai pengawet pada PH 5-6
(Codex, 1009).
2. Sorbitol
Sorbitol memiliki kelarutan sangat mudah larut dalam air, sehingga cocok
untuk sediaan larutan ( FI III, 567 ).
Dibandingkan dengan pemanis lain seperti aspartame yang memiliki
kelarutan sedikit larut dalam air, sehingga digunakan sorbitol sebagai
pemanis.
Ketika digunakan pemanis alam ada penigkatan resiko kontaminasi dari
mikroba dan pertumbuhannya dalam sediaan cair, ada juga resiko bahwa
pemanis dalam cairan dapat mengkristal dengan berjalnnya waktu atau
perubahan temperature. Akan tetapi hal tersebut dapat di atasi dengan
menambahkan sorbitol (Anwar, 2012).
Sorbitol tidak dapat dihidrolisis oleh mikroorganisme saluran pencernaan
sehingga dapat digunakan oleh pasien yang menderita diabetes karena tidak
dapat di absorbs sebagai karbohidrat (gula) (Anwar, 2012).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa jenis pemanis buatan
berpotensi menyebabkan migren dan sakit kepala, kehilangan daya ingat,
bingung, insomnia, iritasi, asma, sakit perut, serta bersifat karsinogenik
seperti kanker otak dan kanker kantung kemih.
Konsentrasi yang digunakan dalam formulasi ini adalah 20%, karena
apabila sorbitol digunakan dalam jumlah yang berlebihan dapat
menyebabkan diare (Kusuma ningsi, 1999). Sehingga digunakan range
konsentrasi sorbitol terendah.
Sorbitol baik digunakan sebagai pemanis pengganti sukrosa Karena
mempunyai keuntungan antara lain tidak bersifat karsinogenik (Mahan dan
Alim, 1996)/
3. Aquadestillata
Aquadestillata meruapakan pelarut umum yang digunakan dalam sediaan
oral, karena tidak toksik, mudah didapat dan murah. Aquadestillata untuk
pengobatan sediaan formulasi dibidang farmasi merupakan cairan bening,
tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa.
Penggunaan aquadestillata sebagai pelarut dalam formulasi ini dilihat dari
kelarutan zat aktif yang larut dalam air.
Dibandingkan dengan pelarut lain seperti etanol dan eter sehingga
digunakan pelarut aquadestillata.
4. Essence Orange
Dalam formula ini ditambahkan essence orange sebagai pewarna dan
pengaroma untuk memberikan larutan lebih menarik dan menambahkan
selera (Ansel, 1989).
Tidak digunakan pewarna lain seperti FD dan C Blue NO2 ditemukan
memudar cepat dengan adanya gula (sorbitol,sukrosa,manitol) (Anwar,
2012).
Pewarna yang digunakan untuk memberikan atau meningkatkan warna
suatu produk bahan adalah zat yang digunakan untuk memberikan atau
meningkatkan suatu produk pangan dan membuat produk lebih menarik
(Wijaya dan Mulyono, 2009).
Digunakan essence orange karena essence orange dapat larut dalam air di
bandingkan dengan citrus oil (Wiyono, 11).
2.4 Uraian Bahan
2.4.1 Sirup
1. Temulawak
Nama resmi : Curcuma xanthorriza
RM/BM : C21H20O6/ 368
Rumus struktur :

Nama kimia : 1,7-bis-4(4hidroksi-3-metoksi fenil) hepta -1,6diene-


3,5-dion
Pemerian : Berbentuk serbuk, warna kuning atau kuning jingga,
aroma khas, rasa tajam dan pahit
Kelarutan : Larut dalam aseton, alkohol asam asetat glacial dan
alkali hidroksida. Tidak larut dalam air dan dietil eter
Stabilitas : Kurkumin merupakan senyawa yang tidak stabil pada
pH diatas 6,5 dan pengaruh cahaya karena adanya
gugus metilen
Nama dagang : Curcuma curson, Heparviton, Lanagagum.
2. Sukrosa (FI III, hal 762. ; Hope, hal 763)
Pemerian : Serbuk Kristal putih, tidak berbau dan memiliki rasa
manis.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, lebih mudah larut dalam
air mendidih, sukar larut dalam etanol, tidak larut
dalam kloroform dan dalam eter.
Stabilitas : Sukrosa memiliki stabilitas yang baik dalam suhu
kamar, menyerap kelembapan hingga 1% yang dirilis
setelah pemanasan 90oC. Sukrosa akan berbentuk
karamel ketika dipanaskan pada suhu diatas 160oC.
Inkompatibilitas : Sukrosa inkom dengan logam berat seperti asam
askorbat, sukrosa juga dapat terkontaminasi dengan
sulfat dari proses penyulingan.
Konsentrasi : 60%-80%.
Kegunaan : Sebagai pemanis.
3. Sorbitol (FI III, hal : 567)
Pemerian : Serbuk butiran atau kepingan putih rasa manis
higroskopik
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, sukar larut dalam etanol
(95%) P, dalam methanol P dan dalam asam asetat
Stabilitas : Relatif inert dan kompatibel dengan sebagian besar
eksipien, stabil di udara dengan tidak adanya katalis
dan dingin, mengencerkan asam basa sorbitol tidak
terurai di suhu yang tinggi atau dihadapan amina tidak
mudah terbakar non korosif dan non volatif
Inkompatibilitas : Sorbitol akan membentuk kelat yang larut dalam air
dengan banyak divalent dengan kondisi sangat asam
dan basa. Penambahan poliethilen glikol cair terjadi
agitasi kua, menghasilkan lilin larut dalam air gel
dengan titik leleh 35-40oC. larutan sorbitol juga
bereaksi dengan besi oksida menjadi berubah warna.
Sorbitol meningkatkan tingkat degradasi penisilin
dinetral dan larutan air.
Konsentrasi : 15-30%
Kegunaan : Sebagai anti cuploocking.
4. Natrium benzoat
Pemerian : Butiran atau serbuk hablur putih tidak berbau atau
hampir tidak berbau
Kelarutan : mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol
dan lebih mudah larut dalam etanol 95%
Stabilitas : Larutan dapat disterilkan dengan autoklaf dan filtrasi
Inkompatibilitas : Inkompatibilitas dengan bahan-bahan kuartener,garam
besi, garam kalsium dan logam berat
Konsentrasi : 0,02-0,5%
Kegunaan : Sebagai pengawet

5. Asam Sitrat (FI IV, 48)

Pemerian : Hablur bening tidak berwarna atau serbuk hablur


granul sampai halus, putih; tidak berbau atau praktis
tidak berbau; rasa sangat asam. Bentuk hidrat mekar
dalam udara kering.

Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air; mudah larut dalam


etanol; agak sukar larutndalam eter.
Stabilitas :

Inkompatibilitas :

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.

Kegunaan : Bahan dasar pendapar

6. Natrium Sitrat (FI IV, 588)

Pemerian : Hablur tidak berwarna atau serbuk hablur


Kelarutan : Dalam bentuk hidrat mudah larut dalam air, sangat
mudah larut dalam air mendidih, tidak larut dalam
etanol
Stabilitas : Stabil terutama air dapat disterilkan dengan autoklaf,
harus disimpan dalam wadah kedap udara ditempat
yang sejuk dan kering
Inkompatibilitas : Larutan air yang sedikit basa, akan bereaksi dengan zat
asam, dengan basa, zat pereduksi dan agen
pengoksidasi
2.4.2 Eliksir
1. Teofilin (FI III, 1979; HOPE, 2009)
Struktur Kimia :

Rumus Molekul : C7H8N4O2. H2O


Nama Kimia : 1,3-dimetilxantina
Pemerian : Serbuk hablur putih, tidak berbau, rasa pahit, mantap
diudara
Berat Molekul : 198,18
Suhu Lebur : Lebih kurang 272o
Kandungan : Teofilin mengandung tidak kurang dari 98,5% dan
tidak lebih dari 101,0% C7H8N4O2. Dihitung terhadap
zat yang telah dikeringkan
pH/pKa : 3,5-9,5/< 1
Kelarutan : Larut dalam lebih kurang 180 bagian air, lebih mudah
larut dalam air panas, larut dalam lebih kurang 120
bagian etanol (95%) P, mudah larut dalam larutan
alkali hidroksida dan dalam amonia encer P
Stabilitas : Dalam bentuk anhidrat terpapar udara dengan cepat
menyerap air kurang 4%
Inkompatibilitas : Inkompatibel terhadap senyawa tanin
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Nama Dagang : Asbron, aminophyllinum, asmadex, asmano
2. Propilenglikol (FI III, 1979; HOPE, 2009)
Pemerian : Cairan kental jernih, tidak berwarna, tidak berbau, rasa
agak manis dan higroskopik
Kelarutan : Dapat tercampur dengan air, dengan etanol (90%) P,
dan dengan kloroform P, larut dalam 6 bagian eter P,
tidak dapat bercampur eter, minyak tanah P, dan
minyak tanah lemak.
Stabilitas : Pada temperatur yang dingin, propilenglikol stabil
dalam wadah tertutup baik, tetapi pada suhu tinggi,
ditempat terbuka, propilenglikol cenderung
mengoksidasi sehingga menimbulkan produk
propional dehida, asam laktat, asam piruvat, dan asam
asetat. Propilenglikol secara kimiawi bila dicampur
dengan etanol (95%) gliserin atau air
Inkompatibilitas : Propilenglikol inkom dengan bahan pengoksidasi
seperti potasium permanganat
Konsentrasi : 15-30%

3. Sorbitol (
Pemerian : Serbuk butiran atau kepingan putih, rasa mantap,
higroskopik, berbau lemah.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, sukar larut dalam etanol
95% dalam metanol atau dalam asam asetat
Stabilitas : Stabil terhadap bahan pengkatalis, larutan asam dan
alkali
Konsentrasi : 15-30%
4. Asam Sitrat (
Pemerian : Hablur kering tidak berwarna, atau serbuk hablur
granul sampai halus putih tidak berbau atau praktis
tidak berbau, agak asam bentuk hidrat mekar dalam
udara kering
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, mudah larut dalam
etanol, agak sukar larut dalam eter
Stabilitas : Asam sitrat nonhidrat kehilangan kristal dipanaskan
pada 40oC sedikit mencair pada udara lembab
Inkompatibilitas : Asam sitrat inkompatibilitas dengan potasium tartrat
alkali dan alkali tanah karbonat, bikarbonat, asetat dan
sulfide, inkompatibel juga dengan bahan pengoksida,
basa, bahan pereduksi dan nitrat
5. Natrium Sitrat (
Pemerian : Hablur tidak berwarna, atau serbuk hablur
Kelarutan : Dalam bentuk hidrat mudah larut dalam air, sangat
mudah larut dalam air mendidih, tidak larut dalam
etanol.
Stabilitas : Stabil, terutama dapat disterilkan dengan autoklaf
harus disimpan dalam wadah kedap udara ditempat
yang sejuk dan kering.
Inkompatibilitas : Larutan air yang sedikit basa akan bereaksi dengan zat
asam, dengan basa, zat pereduksi, dan agen
pengoksidasi.
6. Etanol (FI IV, 1995; HOPE, 2009)
Pemerian : Cairan mudah menguap, jernih, tidak berwarna,
berbau khas dan menyebabkan rasa terbakar pada
lidah, mudah menguap pada suhu rendah dan mudah
terbakar
Kelarutan : Bercampur dengan air dan praktis bercampur dengan
semua pelarut organic
Stabilitas : Larutan etanol yang mengandung air, disterilkan
dalam wadah tertutup rapat ditempat dingin
7. Air
Pemerian : Jernih tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa
Stabilitas : Secara kimiawi stabil pada semua fase (es, cairan dan
uap)
Inkompatibilitas : Air dapat bereaksi dengan obat dan eksipient lain yang
mudah terhidrolisis pada suhu tertentu dan
peningkatan suhu. Air dapat bereaksi cepat dengan
logam alkali dan oksidanya seperti kalsium oksida,
dan magnesium oksida. Air juga ereaksi dengan garam
anhidrat menjadi bentuk hidrat
2.4.3 Larutan
1. Propilenglikol ( FI IV, 1995 : HOPE, 2009)
Pemerian : Cairan kental, jernih, tidak berwarna, tidak berbau,
rasa agak manis, higroskopis
Kelarutan : Dapat bercampur dengan air, dengan etanol (95%) dan
dengan kloroform, larut dalam 6 bagian eter, tidak
dapat bercampur dengan eter minyak tanah dan
dengan minyak lemak
Konsentrasi : Larutan oral 10-25%, pengawet 15-30%
Stabilitas : Pada suhu dingin propilenglikol stabil, tetapi pada
suhu tinggi ditempat terbuka cenderung mengoksidasi
sehingga menimbulkan produk seperti
propionaldehida, as.laktat, pirufat asam, dan asam
asetat propilenglikol stabil secara kimia saat dicampur
dengan etanol, gliserin, atau air
Inkompatibilitas : Propilenglikol inkom dengan reagen pengoksidasi
seperti kalium permanganate
Kegunaan : Sebagai pengawet
2. Sorbitol
Pemerian : Serbuk butiran atau kepingan putih rasa manis
higroskopik
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, sukar larut dalam etanol
(95%) P, dalam methanol P dan dalam asam acetat
Stabilitas : Relatif inert dan kompatibel dengan sebagian besar
eksipien, stabil di udara dengan tidak adanya katalis
dan dingin, mengencerkan asam basa sorbitol tidak
terurai di suhu yang tinggi atau dihadapan amina tidak
mudah terbakar non korosif dan non volatif
Inkompatibilitas : Sorbitol akan membentuk kelat yang larut dalam air
dengan banyak divalent dengan kondisi sangat asam
dan basa. Penambahan poliethilen glikol cair terjadi
agitasi kua, menghasilkan lilin larut dalam air gel
dengan titik leleh 35-40oC. Larutan sorbitol juga
bereaksi dengan besi oksida menjadi berubah warna.
Sorbitol meningkatkan tingkat degradasi penisilin
dinetral dan larutan air.
Konsentrasi : 20-35%
Kegunaan : Sebagai pemanis
3. Essence Orange ( Martindal, hal 680 )
Pemerian : Terbuat dari kulit jeruk yang masih segar dan diproses
secara mekanik dan terkandung kurang lebih 90%
lemon
Kelarutan : Mudah larut dalam alkohol 90%
Kegunaan : Pewarna dan pengaroma
BAB 3

METODE KERJA

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
1. Alu
2. Batang pengaduk
3. Botol coklat
4. Cawan porselin
5. Corong pisah
6. Gelas kimia
7. Gelas ukur
8. Kaca arloji
9. Lumpang
10. Neraca analitik
11. Pot salep
12. Sendok tanduk
3.1.2 Bahan
1. Alkohol 70%
2. Alumunium foil
3. Aquadest
4. Asam fospat
5. Asam sitrat
6. Brosur
7. Citrus orange
8. Etanol 95%
9. Etiket
10. Kemasan
11. Natrium benzoat
12. Natrium fospat
13. Natrium sitrat
14. Piperazin sitrat
15. Propilenglikol
16. Sorbitol
17. Sukrosa
18. Temulawak
19. Teofillin
20. Tissue
3.2 Prosedur Kerja
3.2.1 Eliksir
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Dibersihkan alat menggunakan alkohol 70%
3. Ditimbang teofillin sebanyak 1,224 gram, propilenglikol 30,6 gram,
sorbitol 24,48 gram, asam sitrat 0,208 gram, dan natrium sitrat 0,354
gram
4. Dikalibrasi botol 60 mL
5. Dicampurkan aquadest, alkohol, dan propilenglikol kedalam gelas bekker
lalu diaduk hingga tercampur sempurna (Larutan 1)
6. Dilarutkan teofillin kedalam larutan 1 sedikit demi sedikit sambil digerus
perlahan-lahan
7. Ditambahkan sorbitol kedalam larutan 1lalu digerus perlahan-lahan
8. Ditambahkan larutan pendapar kedalam larutan 1
9. Ditambahkan citrus orange secukupnya
10. Dimasukkan kedalam botol yang telah dikalibrasi
11. Dicukupkan air sampai batas kalibrasi
12. Dievaluasi sediaan
13. Diberi etiket dan brosur
14. Dimasukkan kedalam kemasan
7.2.2 Sirup
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Dibersihkan alat dan bahan menggunakan alkohol 70%
3. Dikalibrasi botol sampai 60 ml
4. Ditimbang temulawak,sukrosa, sorbitol, na benzoate , asam sitrat dan
natrium sitrat
5. Dilarutkan temulawak dengan menggunakan air secukupnya
6. Dilarutkan sukrosa dan natrium benzoat menggunakan air sampai larut
7. Dicampurkan asam sitrat dan natrium sitrat kemudian dilarutkan
8. Ditambahkan larutan dapar kedalam larutan temulawak dan tambahkan
sukrosa, natrium benzoat, dan sorbitol diaduk hingga homogen
9. Dimasukkan kedalam botol coklat yang telah dikalibrasi
10. Diberi etiket dan brosur
11. Dievaluasi sediaan
7.2.3 Larutan
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dan dikalibrasi botol
sampai 60ml.
2. Dibersihkan alat menggunaka alkohol 70%.
3. Dipanaskan air kemudian didinginkan.
4. Ditimbang piperazin sitrat, sorbitol, propilenglikol, As.Fosfat, Na.Fosfat.
5. Dilarutkan piperazin sitrat dengan air kemudian digerus hingga homogen.
6. Ditambahkan sedikit demi sedikit propilenglikol kemudian digerus.
7. Ditambahkan sorbitol digerus hingga homogen.
8. Ditambahkan essence orange secukupnya.
9. Ditambahkan sisa pelarut campur.
10. Dimasukkan kedalam wadah dan diberi etiket.
11. Dievaluasi.

BAB IV
PERHITUNGAN DAN EVALUASI SEDIAAN

IV. 1. Perhitungan
IV.1.1 Sirup
IV.1.1.1 Perhitungan bahan
R/ Temulawak 100 mg/5 ml
Sukrosa 65%
Sorbitol 15%
Na.benzoat 0,1 %
As. Sitrat 0,17 g
Na sitrat 0,54 g
Aquadest add 100%

100
Temulawak = 5 x 61,8 ml = 1,236 g

65
Sukrosa = 100 x 61,8 ml = 40,17 g

15
Sorbitol = 100 x 61,8 ml = 9,27 g

0,1
Na.benzoat = 100 x 61,8 ml = 0,1236 g

Asam sitrat = 0,2 g


Natrium sitrat = 0,3 g

Aqua destillata ad =100 ( 2%+65%+15 %+0,1%+0,3%+0,4%)


=100- 82,8
= 17,2g
IV.1.1.2 Perhitungan dapar
pH obat = < 6,5
Rentan pH dapar = 2,2-9,0
pH stabil = 5
pKa1 = 3,128 pKa2 = 4,761 pKa3 = 6,396
pKa = - log Ka
4,761 = - log Ka
Ka = 10-4,761
= 1,73 x10-5
pH = - log [H+]
5 = - log [H+]
[H+] = 10-5
H +

H +
= 2,303 x C x Ka+ [ ) 2

Ka

( 1,73 x 105 )+ (105 )


0,01 = 2,303 x C x 1,73.105 x 105 2

1,73.1010
0,01 = 2,303 x C x ( 2,73 x 105 ) 2

1,73.1010
0,01 = 2,303 x C x ( 7,45 x 1010 )

0,01 = 2,303 x C x 0,232


0,01
C= 0,543

C = 0,018
G
pH = pKa + log A

G
5 = 4,761 log A

G
0,24 = log A

[G] = 2,48 asam


C = [G] + [A]
0,018 = 1.73 asam + asam
0,018 = 2,73 asam
0,018
[A]asam = 2,73 = [0,006]

[G] = C- [A]
= 0,018 0,006
= [0,012]
Massa Asam Sitrat = BM x Casam x V
= 294,10 x 0,006 x 0,12
= 0,2
Massa Natrium Sitrat = BM x Cgaram x V
= 210,14 x 0,012 x 0,12
= 0,3
IV.1.1.3 Perhitungan dosis
IV.1.2 Eliksir
IV.1.2.1 Perhitungan bahan
R/ Teofillin 50mg/5cc
Propilenglikol 25 %
Sorbitol 20 %
As. Sitrat 0,17 %
Na.Sitrat 0,29 %
Etanol 10 %
Aqudest add 100%

50 mg
Teofillin = 5 x 122,4 = 1224 mg = 1,224 gram

25
Propilenglikol = 100 x 122,4 = 30,6 gram

20
Sorbitol = 100 x 122,4 = 24,48 gram
0,17
Asam Sitrat = 100 x 122,4 = 0,208 gram

0,29
Natrium Sitrat = 100 x 122,4 = 0,354 gram

Perhitungan Konstanta Dielektrik


Misalkan etanol untuk menjernihkan 4,5 mL
KD Teofillin = (% air x KD air) + (% etanol x KD etanol)
10 4,7
( x 81) ( x 23,7)
= 14,7 + 14,7

= 55,10 + 7,57
= 62,67
KD Pelarut Campur = (% etanol x KD etanol) + (% PG x KD PG) + (% air
x KD air)
= (10% x 23,7) + (25% x 32) + (65% x 81)
= 2,37 + 8 + 52,65
= 63,02
VI.1.2.2 Perhitungan Dapar
pH obat = 3,5-9,5
Rentan pH dapar = 2,2-9,0
pH stabil = 6
pKa1 = 3,128 pKa2 = 4,761 pKa3 = 6,396
pKa = - log Ka
6,396 = - log Ka
Ka = 10-6,396
= 0,4017x10-6
pH = - log [H+]
6 = - log [H+]
[H+] = 10-6
H +

H +
= 2,303 x C x Ka+ [ ) 2

Ka

( 0,4017 x 106 ) + ( 106 )


0,01 = 2,303 x C x 0,4017.106 x 106 2

0,4017.1012
0,01 = 2,303 x C x ( 1,4017 x 106 ) 2

0,4017.1012
0,01 = 2,303 x C x ( 1,9647 x 1012 )

0,01 = 2,303 x C x 0,204


0,01
C= 0,46

C = 0,021
g
pH = pKa + log a

g
6 = 6,396 log a

g
0,396 = log a

[G] = 2,48 asam


C = [G] + [A]
0,021 = 2,48 asam + asam
0,021 = 3,48 asam
0,021
[A]asam = 3,48 = [0,00603]

[G] = C- [A]
= 0,021 0,00603
= [0,014]
Massa Asam Sitrat = BM x Casam x V
= 294,10 x 0,00603 x 0,1
= 0,17
Massa Natrium Sitrat = BM x Cgaram x V
= 210,14 x 0,014 x 0,1
= 0,29

IV.1.2.3 Perhitungan Dosis Eliksir


Dosis anak-anak 6-12 tahun 125-200 mg tiap 12 jam
Kekuatan sediaan 50mg/5mL
n
x DM
20

1. Umur 6 tahun
6
x 125=37,5 mg
Sekali = 20

637,5
x 100 =30
% Sekali 125

2. Umur 7 tahun
7
x 125=43,75 mg
Sekali = 20

43,75
x 100 =35
% Sekali 125
3. Umur 8 tahun
8
x 125=50 mg
Sekali = 20

50
x 100 =40
% Sekali 125

4. Umur 9 tahun
9
x 125=56,25 mg
Sekali = 20

56,25
x 100 =45
% Sekali 125

5. Umur 10 tahun
10
x 125=62,5 mg
Sekali = 20

62,5
x 100 =50
% Sekali 125

6. Umur 11 tahun
11
x 125=68,75 mg
Sekali = 20

IV.1.3 larutan
IV.1.3.1 Perhitungan bahan
100 mg
Piperazin Sitrat = 5 ml x 122,4 = 1224 mg = 1,224 gram

20
Sorbitol = 100 x 122,4 = 24,48 gram

15
Propilenglikol = 100 x 122,4 = 18,36 gram

Essence Orange
0,05
Asam Fosfat = 100 x 122,4 = 0,061 gram

0,5
Natrium Fosfat = 100 x 122,4 = 0,612 gram

Aquadestillata = 60 ml ( 24,48+2,448+18,36+0,061+0,0612)
= 60 ml 45,96
= 14,04 ml

IV.1.3.2 Perhitungan dapar


pH obat = 5-6
Rentan pH dapar = 6-9
pH stabil = 6
pKa1 = 3,128 pKa2 = 4,761 pKa3 = 6,396
pKa = - log Ka
6,396 = - log Ka
Ka = 10-6,396
= 0,4017x10-6
pH = - log [H+]
6 = - log [H+]
[H+] = 10-6
H +

H +
= 2,303 x C x Ka+ [ ) 2

Ka

( 0,4017 x 106 ) + ( 106 )


0,01 = 2,303 x C x 0,4017.106 x 106 2

0,4017.1012
0,01 = 2,303 x C x ( 1,4017 x 106 ) 2

0,4017.1012
0,01 = 2,303 x C x ( 1,9647 x 1012 )

0,01 = 2,303 x C x 0,204


0,01
C= 0,46

C = 0,021
G
pH = pKa + log A

G
6 = 6,396 log A

G
0,396 = log A

[G] = 2,48 asam


C = [G] + [A]
0,021 = 2,48 asam + asam
0,021 = 3,48 asam
0,021
[A]asam = 3,48 = [0,00603]

[G] = C- [A]
= 0,021 0,00603
= [0,014]
Massa Asam Fosfat= BM x Casam x V
= 98,00 x 0,00603 x 0,1
= 0,059
Massa Natrium Fosfat = BM x Cgaram x V
= 3,58,14 x 0,014 x 0,1
= 0,501
IV.1.3.3 Perhitungan dosis
Dosis anak-anak 1-2 tahun 1 gram
Dosis anak-anak 3-5 tahun 2 gram
Dosis anak-anak > 6 tahun 3 gram
Dosis Lazim untuk anak-anak di bawah 6 tahun sekali 150 mg
5
x kandungan zat aktif dalam botol 60 ml
Untuk Sekali Minum = 60

5 ml
x 1,224=0,101 gram
1 Sendok teh 60 ml

15 ml
x 1,224=0,306 gram
1 Sendok Makan 60 ml

Untuk Sehari Minum


1 Sendok teh = 3x1 = 3x101 = 303 mg

IV.2 Evaluasi
Waktu Evaluasi Pengamatan
Warna : Putih
Uji organoleptis
Bau : Mint
Uji pH pH = 6,9
T0
Bj = 0,918605
Uji densisitas Larutan
Rj = 0,954839
40 ml tidak terpindahkan
Uji volume terpindahkan
(Selama 30 menit)
- Warna : Putih
T1 Uji organoleptis
- Bau : Mint
Uji Ph - pH : 6,1
Bj = 0,918605
Rj = 0,954839
Uji densisitas larutan

40 ml tidak terpindahkan = 40
Uji volume terpindahakan
(Selama 30 menit)

- Warna : Putih
T2 Uji organoleptis
- Bau : Min
Uji pH
- pH : 6,3

Bj = 0,918605
Rj = 0,954839
Uji densisitas larutan

39 ml terpindahkan = 39
Uji volume terpindahkan
(Selama 30 menit)

- Warna : Putih
T3 Uji organoleptis
- Bau : Mint
Uji pH - pH : 6,3
Bj = 0,918605
Rj = 0.954839
Uji densisitas larutan

Uji volume terpindahkan


39 ml terpindahkan = 39
(Selama 30 menit)
- Warna : Putih
T4 Uji organoleptis
- Bau : Mint
Uji pH - pH : 6.3
Uji densisitas larutan Bj = 0,918605
Rj = 0.954839

Uji volume terpindahkan 38 ml terpindahkan = 38


(Selama 30 menit)
- Warna : Putih
T5 Uji organoleptis
- Bau : Mint
Uji pH - pH : 6,1
Bj = 0,918605
Rj = 0.954839
Uji densisitas larutan

Uji volume terpindahkan


38 ml terpindahkan = 38
(Selama 30 menit)

BAB 5
PEMBAHASAN

V.1 Sirup
Dalam Farmakope Indonesia edisi III, sirup adalah sediaan cair berupa
larutan yang mengandung sakarosa. Kecuali dinyatakan lain,kadar sakarosa,
C12H22O11,tidak kurang dari 64,0% dan tidak lebih dari 66,0%. Sedangkan
menurut Ansel 1989 sirup adalah sediaan pekat dalam air dari gula atau
perngganti gula dengan atau tanpa penambahan bahan pewangi dan zat obat.
Adapun dari sirup yaitu merupakan campuran yang homogen, dosis dapat
diubah-ubah dalam pembuatan, bat lebih mudah diabsorbsi, mempunyai rasa
manis. mudah diberi bau-bauan dan warna sehingga menimbulkan daya tarik
untuk anak, membantu pasien yang mendapat kesulitan dalam menelan obat
tablet.
Pada praktikum kali ini dilakukan pembuatan sediaan sirup dengan
temulawak sebagai zat aktif dengan kekuatan sediaan 100 mg/5ml yang
diindikasikan untuk membantu memperbaiki nafsu makan dan sebagai nutrisi
atau sebagai hepatoprotektor (mencegah penyakit hati).
Temulawak memiliki pemerian Berbentuk serbuk, warna kuning atau kuning
jingga, aroma khas, rasa tajam dan pahit. Berdasarkan pemerian ini rasa pahit dan
agak pedas tersebut menjadi kelemahan temulawak, sehingga banyak orang
enggan mengkonsumsi temulawak. Salah satu cara untuk menghilangkan rasa
pahit dan peadas pada temulawak adalah dibuat dalam bentuk sirup (Badan
POM, 2006)
Langkah pertama dalam pembuatan sirup dibersihkan alat menggunakan
alkohol 70%, hal ini bertujuan untuk menghilangkan debu dan mikroba yang
menempel pada alat dan bahan yang akan digunakan (Dirjen POM, 1995).
Kemudian semua bahan yang digunakan ditimbang, yaitu zat aktif
temulawak 1,236 gram, sukrosa 40,7 gram, sorbitol 9,28 gram dan natrium sitrat
0,3 gram dan asam sitrat 0,2 gram (pendapar). Setelah itu, zat aktif temulawak
dilarutkan dengan air tujuannya untuk mempertinggi kelarutan zat aktif, agar
homogenitas lebih terjamin dan lebih mudah terabsorpsi (Angraini, 2012; Anief,
2012).
Dalam sediaan sirup ini juga ditambahkan sukrosa. Dimana penambahan
sukrosa berfungsi sebagai pemanis dengan tujuan untuk menutupi rasa obat yang
kurang enak. Setelah itu ditambahkan sorbitol yang berfungsi sebagai
anticaplocking untuk mencegah adanya kristalisasi pada mulut botol. Pada
formulasi ini tidak ditambahkan pengaroma karena temulawak sudah memiliki
bau yang khas.
Langkah terakhir dari pembuatan adalah menambahkan larutan pendapar
yang terdiri dari asam sitrat dan natrium sitrat. Dengan tujuan untuk menahan
perubahan ph dan pengenceran terhadap sediaan dengan penambahan asam atau
basa (Ansel, 1989). Selanjutnya Setelah itu sirup di evaluasi, lalu dimasukan
kedalam botol yang telah diberi etiket.
5.2 Eliksir
Menurut Farmakope Indonesia Edisi Ketiga, eliksir adalah sediaan berupa
larutan yang mempunyai rasa dan bau yang sedap, mengandung selain obat, juga
zat tambahan seperti gula dan atau zat pemanis lainnya, zat warna, zat wewangi
dan zat pengawet, digunakan sebagai obat dalam. Sebagai pelarut utama
digunakan etanol yang dimaksudkan untuk mempertinggi kelarutan obat.
Pada praktikum ini dilakukan pembuatan sediaan eliksir dengan zat aktif
teofillin dengan kekuatan sediaan 10mg/5cc yang diindikasikan untuk
pengobatan penyakit asma. Adapun zat tambahan yang digunakan diantaranya
propilenglikol (kosolven dan pengawet), sorbitol (pemanis) dan pendapar
(natrium sitrat dan asam sitrat), citrus orange (pengaroma dan pewarna) dan
etanol 95% (pelarut).
Langkah pertama dilakukan persiapan alat dan bahan yang digunakan.
Kemudian dibersihkan alat menggunakan alkohol 70%, hal ini bertujuan untuk
menghilangkan debu dan mikroba yang menempel pada alat dan bahan yang
akan digunakan (Dirjen POM, 1995).
Kemudian semua bahan yang digunakan ditimbang, yaitu zat aktif teofilin
1,224 gram, propilenglikol (kosolven dan pengawet) 30,6 gram, sorbitol
(pemanis) 24,28 gram dan natrium sitrat 0,354 gram dan asam sitrat 0,208 gram
(pendapar), etanol 95% (pelarut) 6,12 gram dan aquadest 66,76 gram. Setelah itu,
zat aktif teofilin dilarutkan dengan pelarut etanol 95% tujuannya untuk
mempertinggi kelarutan zat berkhasiat, agar homogenitas lebih terjamin dan zat
berkhasiat lebih mudah terabsorpsi dalam keadaan terlarut dengan konsentrasi 5-
10% (Angraini, 2012; Anief, 2012).
Dalam sediaan eliksir ini juga ditambahkan pelarut campur, yang terdiri dari
propilenglikol, air dan etanol. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kelarutan
suatu zat dengan melihat kelarutan masing-masing pelarut (The Theory and
practice of industrial pharmacy hal 458-459). Pada sediaan ini ditambahkan
pengawet karena pelarut yang digunakan adalah air, dimana air merupakan salah
satu media pertumbuhan mikroba (Winarno, 1992). Sehingga digunakan
propilenglikol yang berfungsi sebagai pengawet sekaligus kosolven. Setelah itu
ditambahkan gliserin yang berfungsi sebagai pemanis dalam sediaan eliksir
tujuannya adalah untuk menutupi rasa obat yang kurang enak. Kemudian
ditambahkan citrus orange sebagai pewarna dan perasa agar sediaan yang dibuat
lebih menarik. Langkah terakhir dari pembuatan adalah menambahkan larutan
pendapar yang terdiri dari asam sitrat dan natrium sitrat. Dengan tujuan untuk
menahan perubahan pH dan pengenceran terhadap sediaan dengan penambahan
asam atau basa (Ansel, 1989). Dimana suatu senyawa yang bersifat asam atau
basa akan berubah kelarutannya dalam air apabila pH dari suatu sediaan tidak
stabil sehingga stabilitas dari sediaan perlu dijaga. Setelah ditambahkan pendapar
kemudian dimasukkan kedalam botol lalu dicukupkan aquadest sampai batas
kalibrasi.
Setelah pembuatan eliksir selesai dilakukan evaluasi sediaan dimana pada
evaluasi sediaan ini meliputi uji organoleptik, uji stabilitas (pH), uji densisitas
larutan dan uji volume terpindahkan. Pada uji organoleptik, sediaan memiliki
rasa yang sedikit manis, bau khas jeruk, dan berwarna orange, untuk uji
stabilitas, sediaan memiliki pH 6 seperti yang diinginkan

V.3 Larutan
Menurut Farmakope Indonesia Edisi Ketiga, larutan adalah
sediaan cair yang mengandung bahan kimia terlarut, kecuali
dinyatakan lain, sebagai pelarut digunakan air suling.
Pada praktikum ini dilakukan pembuatan sediaan larutan
dengan zat aktif piperazin sitrat dengan kekuatan sediaan 100 mg/ 5 ml
yang diindikasikan untuk pengobatan infeksi cacing askaris. Adapun
zat tambahan yang digunakan diantaranya sorbitol (sebagai pemanis),
propilenglikol (sebagai pengawet), essence orange (pewarna dan
pegaroma), aquadestillata (sebagai pelarut).
Langkah pertama dilakukan persiapan alat dan bahan yang
digunakan. Kemudian dibersihkan alat menggunakan alkohol 70%, hal
ini bertujuan untuk menghilangkan debu dan mikroba yang menempel
pada alat yang akan digunakan (Dirjen POM 1995).
Kemudian semua bahan yang digunakan ditimbang, yaitu zat
aktif piperazin sitrat 2,448 gram, sorbitol 24,48 gram (pemanis),
propilenglikol 18,36 gram (pengawet), essence orange qs (pewarna
dan pengaroma), asan fosfat 0,05 gram (Pendapar), natrium fosfat 0,5
gram (pendapar). Setelah itu zat aktif piperazin sitrat dilarutkan
dengan pelarut aquadestillata tujuannya untuk mempertinggi kelarutan
zat berkhasiat, agar homogenotas lebih terjamin dan zat berkhasiat
lebih mudah terabsorbsi dalam keadaan terlarut (Anief, 2012).
Dalam sediaan larutan ini juga ditambahkan pelarut campur,
yang terdiri dari propilenglikol dan aquadestillata. Diamana
propilenglikol juga berfungsi sebagai pengawet. Setelah itu
ditambahkan sorbitol yang berfungsi sebagai pemanis dalam sediaan
larutan tujuannya adalah untuk menutupi rasa obat yang kurang enak.
Kemudian ditambahkan essence orange secukupnya tujuannya adalah
untuk membuat sediaan lebih menarik. Langkah terakhir dari
pembuatan adalah menambahkan larutan pendapar PH dan
pengenceran terhadap sediaan dengan penambahan asam atau basa
(Ansel, 1989).
BAB VI
PENUTUP
7.3 Kesimpulan
Larutan didefinisikan sebagai sediaan cair yang mengandung satu atau
lebih zat kimia yang dapat larut, biasanya dilarutkan dalam air, yang karena
bahan-bahannya, cara peracikan atau penggunaanya, tidak dimasukkan
kedalam golongan produk lainnya
7.4 Saran
Diharapkan bagi praktikan, hendaknya selalu menjunjung kedisiplinan
terutama saat sedang melakukan praktikum, agar data yang yang diperoleh
akurat dan bermanfaat. Selain itu, kepada asisten, diharapkan agar dapat
memperhatikan kembali kelengkapan alat maupun bahan yang digunakan
dalam praktikum, agar dapat menunjang kelancaran suatu praktikum.

LAMPIRAN
Diagram Alir
LARUTAN

PIPERAZIN SITRAT

Disiapkan alat dan bahan yang akan


digunakan
Dibersihkan alat yang akan digunakan
dengan alkohol 70%
Dikalibrasi botol 60 ml
Ditimbang semua bahan yang akan
digunakan
Dilarutkan piperazin sitrat dengan air
kemudian digerus
Ditambahkan sedikit-demi sedikit PG
kemudian di gerus
ditambahkan sorbitol kemudian digerus
hingga homogen
Ditambahkan essens orange secukupnya
Ditambahkan sisa pelarut campur
Dimasukkan kedalam wadah dan diberi
etiket dan brosur

LARUTAN

PIPERAZIN SITRAT

ELIKSIR
1. Pembuatan Eliksir

TEOFILIN

Disiapkan alat dan bahan yang akan


digunakan
Dibersihkan alat yang akan digunakan
dengan alkohol 70%
Dikalibrasi botol 60 ml
Ditimbang masing-masing bahan,
Dilarutkan teofilin dengan air digerus
Ditambahkan sorbitol, as.sitrat, na.sitrat,
dan diaduk hingga homogen
Ditambahkan orange essensial
secukupnya
Dimasukkan kedalam botol
Ditambahkan aquadest sampai batas
kalibrasi
Dikocok hingga homogen
Diberi brosur dan etiket

ELIKSIR

TEOFILIN
SIRUP
1. Pembuatan Sari Mayana

TEMULAWAK
Ditimbang sebanyak 10 gram daun
mayana
Dihaluskan temulawak
Ditambahkan sedikit air
Diperas

2. Pembuatan sirupSARI MAYANA

MAYANA

Disiapkan alat dan bahan yang akan


digunakan
Dibersihkan alat yang akan digunakan
dengan alkohol 70%
Dikalibrasi botol 60 ml
Ditimbang semua bahan yang akan
digunakan
Dilarutkan sukrosa dengan air sedikit
demi sedikit
Dimasukkan temulawak kedalam
beker gelas
Ditambahkan masing-masing eksipien
kedalam beker gelas
Dicampur semua bahan hingga
homogen
Dimasukkan kedalam botol coklat
Ditambahkan air hingga batas
kalibrasi
Diberi brosur dan etiket
SIRUP

TEMULAWAK

DAFTAR PUSTAKA

Ansel, H. 1985. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi . Jakarta: UI press


Cahyadi, W. 2006. Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan. Jakarta:
PT. Bumi aksara

Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III . Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia

Dirjen POM. 1989. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia

Emulgel: a new platform for topical drug delivery Vikas singla*1, seema saini1,
baibhav joshi1 and a.c rana2 2009.

Lund, W. 1994. The Pharmaceutical Codex. London: The Pharmaceutical Press

Sean, C. 2009. Handbook Martindale Edition 35th . London: Pharmaceutical press

Siswandono dan Soekardjo, B., (2000). Kimia Medisinal. Edisi 2. Surabaya:


Airlangga University Press. hal. 291.303

Snow,E,K,dkk. 2010. AHFS Drug Information 1-4 Berhesda. Mangcand: American


Society Of Health System Pharmacist