Anda di halaman 1dari 14

Pengaruh Paham Marxisme Terhadap Gagasan Pemikiran Politik Lenin

Pada Abad Ke-19

Oleh
Alvin Daniswara, Heny Vatma Karinah, Siti Balqis Nur Saadah ,Yuni Susanti.

ABSTRAK

Marxisme adalah sebuah ideologi yang didasarkan pada dialektika dan sejarah filsafat
materialisme gagasan Karl Marx. Vladimir llyich Ulyanov Lenin merupakan pengikut setia ajaran
Karl Marx. Setelah terjadinya Revolusi Bolshevick di Rusia, Lenin menerapkan Marxisme sebagai
dasar kebijakan politik Lenin dalam menjalankan sistem pemerintahan di Rusia. Marxisme-
Leninisme adalah suatu teori politik dan ekonomi yang dirumuskan Lenin dalam kerangka
tafsirannya terhadap pemikiran Marx. Teori politik dan ekonomi ini nantinya akan menjadi
ideologi yang mendasari semua partai Komunis yang ada di dunia.
Kata Kunci: Marxisme, Karl Marx, Kebijakan Politik Lenin, Leninisme.

Pendahuluan
Tulisan ini digunakan sebagai pedoman untuk lebih mengetahui tentang
paham Marxisme yang berkembang di Rusia ketika Marxisme hasil pemikiran
Kalr Marx diterapkan oleh Vladimir Ilyich Lenin yang merupakan salah satu figur
politik yang menonjol dan juga seorang pemikir revolusioner Eropa pada abad ke-
19. Gagasan Karl Marx dijadikan sebagai pola untuk membentuk masyarakat baru
atas runtuhnya masyarakat lama melalui suatu revolusi. Lenin berhasil mendirikan
suatu negara yang menerapkan dan meneruskan ajaran Marxisme Karl Marx.
Gagasan Marxisme telah diberi tafsiran yang khusus di Rusia, dinamakan dengan
Marxisme-Leninisme atau Komunisme. Sebelum membahas pengaruh paham
Marxisme terhadap gagasan pemikiran politik Lenin pada abad ke-19. Terlebih
dahulu kita akan membahas sejarah paham Marxisme Karl Marx. Marxisme
menjadi IdeologI diartikan sebagai sebuah aliran pemikiran yang mengikuti
pemikiran Karl Marx (1818-1883). Marxisme berasal dari dua kata, yaitu Marx
diambil dari nama tokoh Marxisme sendiri yaitu Karl Marx. Dan isme berarti
paham atau penganut. Jadi Marxisme adalah paham yang berpegang pada prinsip
Karl Marx. Marxisme sangat menekankan bahwa kesadaran masyarakat dibentuk
oleh faktor sosial-budaya dan bukan sebaliknya. Marxisme juga berpendapat
bahwa ada hubungan antara infrastruktur (cara dan alat-alat produksi) dan
suprastuktur (sistem politik, kepercayaan, seni, dan lain-lain) dimana infrastruktur
menentukan suprastuktur. Pengikut ideologi Marxisme ini disebut sebagai
Marxis (Hart, 2009 : 86).
Sejarah Munculnya Ideologi Marxisme
Ideologi Marxisme muncul pada permulaan abad ke-19 dimana keadaan
kaum buruh di Eropa barat pada saat itu sangat menyedihkan. Kemajuan indsutri
secara pesat menimbulkan keadaan sosial yang sangat merugikan kaum buruh,
seperti upah yang rendah, jam kerja yang meningkat, tenaga wanita dan anak
disalahgunakan sebagai tenaga kerja yang murah, keadaan dalam pabrik-pabrik
yang membahayakan dan mengganggu kesehatan para buruh, ini menjadi modal
utama untuk menyelamatkan kaum buruh dari ketidakadilan para penguasa.
Keadaan buruk ini menggugah hati cendekiawan-cendekiawan seperti
Robert Owen (1771-1858) di Inggris, Saint Simon (1760-1825) dan Fourier
(1772-1837) di Perancis untuk mencoba memperbaikinya. Orang-orang ini
terdorong oleh perasaan peri-kemanusiaan, tanpa disertai tindakan-tindakan
maupun konsepsi yang nyata mengenai tujuan dan strategi dari perbaikan itu,
sehingga oleh orang lain teori-teori mereka dianggap angan-angan belaka. Karena
itu mereka lalu disebut sebagai kaum Sosialis Utopia (Utopia = dunia khayalan).
Gerakan sejenis, kemudian bermunculan seperti Sosialisme model Gilde yang
dipelopori oleh Hobson, Sosialisme model Fabian yang diprakarsai oleh Bernard
Shaw (Suseno, 2005: 36-37).
Walaupun mereka bertujuan sama, tetapi cara pelaksanaannya masing-
masing berbeda. Perbedaan ini disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain latar
belakang mereka, situasi dan kondisi sosial politik, persepsi dan konsepsi para
pemikirnya. Jadi boleh dikatakan pada abad ke-19, di Eropa Barat banyak
bermunculan gerakan Sosialis yang mengatasnamakan kepentingan rakyat, di
antaranya termasuk Marxisme. Marxisme sendiri merupakan salah satu bentuk
pemikiran sosialisme yang mencoba memberikan alternatif jawaban terhadap
problematik pemikiran, sejarah, politik, sosial, ekonomi dan sistem
kemasyarakatan yang ada. Keberadaan dan kelahiran Marxisme sebenarnya sama
dengan gerakan Sosialis lainnya yakni, mengkritik cara kerja kapitalisme yang
rakus dan tidak manusiawi. Bahkan, kemudian Karl Marx saat berada di Jerman
menganggap bahwa pemikirannya lebih ilmiah dibanding pemikiran sosialisme
terdahulu, yang dianggapnya tidak bersifat praksis (Suseno, 2005: 37-38).
Karl Marx banyak mengecam keadaan ekonomi dan sosial disekelilingnya,
dia berpendapat bahwa masyarakat tidak dapat diperbaiki secara tambal-sulam
dan harus diubah secara radikal melalui perubahan pada sendi-sendinya. Untuk
keperluan itu ia menyusun suatu teori sosial yang menurut dia didasari hukum-
hukum ilmiah dan karena itu pasti akan terlaksana. Untuk membedakan ajarannya
dari Sosialis Utopia, ia menamakan ajarannya Sosialisme Ilmiah (Scientific
Socialism) (Suseno, 2005: 38). Menurut Karl Marx untuk mengubah struktur
sosial masyarakat yang kapitalis, harus didasari oleh perubahan pada tatanan
infrastruktur agar relasi dan sistem ideologi juga dapat berubah. Hal ini
menurutnya hanya dapat dicapai lewat perjuangan revolusi kelas. Untuk itu Karl
Marx mendorong kaum Proletar (buruh dan tani), sebagai kaum kelas dalam
masyarakat Borjuis yang tertindas untuk membentuk suatu kekuatan bersama
untuk memperjuangkan haknya. Hal itu dikemukakan Karl Marx pada bukunya
yang terkenal dengan judul Manifesto Komunis (1848). Buku ini yang pada
akhirnya menjadi bacaan dunia (Alkatiri, 2016: 15).
Karl marx beranggapan bahwa sosialisme terdahulu bersifat utopis dan
tidak mendasar, sehingga selalu gagal dalam implementasi dan realisasinya.
Sedangkan konsepsi pemikiran Marxis adalah menciptakan tatanan masyarakat
baru, dengan ciri sebagai berikut: 1) masyarakat tanpa kelas, tanpa stratifikasi
sosial atau perbedaan sosial, 2) tidak mengenal hak milik pribadi atas alat-alat
produksi atau tidak memegang kendali atas alat dan mekanisme produksi, 3)
menghapuskan model pembagian kerja. Menurut pemikirannya, para pekerja
dapat digilir sesuai dengan kemampuannya, 4) negara hanya mengatur
administrasi birokrasi dan bukan mengatur kekuasaan, 5) para pekerja perlu
melakukan perjuangan fisik dan kekerasan guna menghancurkan bangunan dasar
struktur negara, sekaligus menghancurkan kategori sistem kemasyarakatan
Borjuis dan feodal yang ada terlebih dahulu. Hal itu dilakukan untuk
menghilangkan kelas-kelas (stratifikasi sosial) dalam masyarakat. Asumsinya,
dengan demikian akan hilang pula penindasan manusia atas manusia lainnya
(Suseno, 2005: 39).
Marxisme dilandasi dengan dasar pemikiran landasan Materialisme dan
Dialektika Histrois. Landasan pertama, Materialisme yakni bahwa materi sebagi
satu-satunya yang realis dan nyata yang perlu dijadikan sandaran dasar pemikiran.
Sedangkan obyek lainnya, seperti agama, idealisme dan lain-lain merupakan
refleksi metafisika dan bersifat tidak nyata. Atas dasar itu, maka asumsinya bahwa
manusia sebagai bagian dari alam juga merupakan bagian dari materi. Oleh karena
itu, manusia harus mempertahankan hidupnya dengan bekerja.
Dalam masyarakat kapitalis, menurut Marx para pekerja akan menjadi
terasingkan dengan dirinya dan dengan masyarakatnya, sekaligus dengan hasil
karyanya (produksinya) yang apapun bentuknya. Hal ini diakibatkan karena alat-
alat produksi (perangkat sistemnya) dikuasai oleh pemilik modal yang tanpa
disadari telah mencuri serta membodohi tenaga para buruh untuk kepentingannya.
Akibatnya kehidupan buruh menjadi sengsara, jauh dari arti konsepsi
sesungguhnya sebagai makhluk sosial seperti dikemukakan di atas. Atas dasar itu,
Marxisme hadir untuk mengembalikan keadaan para buruh kepada kedudukannya
semula. Dengan kata lain, Marxisme muncul sebagai reaksi terhadap dampak
Kapitalisme. Kehadiran Marxisme sekaligus bertujuan mengkritik pemikiran
kapitalisme yang notabene dianggap merusak tatanan masyarakat yang ada
(Suseno, 2005: 40).
Landasan kedua adalah Dialektika Historis, pengaruh dari prinsip konsepsi
Idealisme Hegel yakni thesa, antithesa, dan sinthesa. Menurut Marx, sejarah hidup
manusia adalah sejarah pertentangan kelas.sejarah manusia tunduk pada hukum
dialektis, yakni dari masyarakat purba (sebagai thesa) yang tanpa kelas
berinteraksi dengan masyarakat kelas yang terstruktur (antithesa) dan akhirnya
sebagai synthesa akan membentuk masyarakat tanpa kelas dalam bentuk
kehidupan di komune-komune atau di lingkungan yang dibentuk berdasarkan
derajat kesamaan, tanpa perbedaan baik pendidikan, gender, usia maupun budaya
(Suseno, 2005: 41).
Jadi Marxisme merupakan bentuk protes Karl Marx terhadap paham
kapitalisme. Ia menganggap bahwa kaum kapital mengumpulkan uang dengan
mengorbankan kaum proletar. Kondisi kaum proletar sangat menyedihkan karena
dipaksa bekerja berjam-jam dengan upah minimum sementara hasil keringat
mereka dinikmati oleh kaum kapitalis. Banyak kaum proletar yang harus hidup di
daerah pinggiran dan kumuh. Karl Marx berpendapat bahwa masalah ini timbul
karena adanya kepemilikan pribadi dan penguasaan kekayaan yang didominasi
orang-orang kaya. Untuk mensejahterakan kaum proletar, Karl Marx berpendapat
bahwa paham kapitalisme diganti dengan paham Komunisme. Bila kondisi ini
terus dibiarkan, menurut Karl Marx kaum proletar akan memberontak dan
menuntut keadilan. Itulah dasar dari Marxisme (Supardan, 2008: 334).
Gerakan Asosiasi Buruh Internasional 1 dan Partai Sosial Demokrat
Jerman menjadi penitis dan acuan bagi partai-partai buruh di seluruh penjuru
dunia yang berorientasi pada Marxisme. Munculnya varian Marxisme disebabkan
oleh keinginan untuk menyesuaikan ajaran dogma tersebut dengan kondisi
setempat. Atas dasar itu, berkembang pula model Marxis di Hongaria, Marxis di
Chekoslovakia, Marxis di Yugoslavia, Marxis di Cina, Marxis di Cuba dan Marxis
di Korea Utara yang walaupun berangkat dari pokok yang sama, tapi dalam
pelaksanaannya berbeda (Alkatiri, 2016: 42).
Dalam abad ke-20, Marxisme pecah dalam tiga cabang yang kemudian
berkembang nyaris tanpa interaksi dan masing-masing menemukan nasibnya
sendiri-sendiri. Pertama, Komunisme yang oleh Lenin Marxisme digunakan
untuk mengembleng ideologi partai Komunis yaitu Marxisme-Leninisme yang
menjadi dasar legitimatif sistem kekuasaan diktatoral paling kejam. Kedua,
sosialisme-demokratis yang dirintis oleh Eduard Bernstein merupakan penolakan
terhadap Komunisme Lenin menempatkan sosialisme demokratis tersebut dengan
tegas dalam cakupan mereka yang berkeyakinan demokartis. Sosialisme-
demokratis memperjuangkan pembentukan negara sosial yang khas bagi
kebanyakan negara di Eropa. Meskipun untuk sementara masih mempertahankan
retorikan Marxis, sosialisme-demokratis secara substansial telah meningglakan
sosialisme Marx sejak tahun 20-an abad ke-20. Ketiga, NeoMarxisme dan Kiri
Baru mencapai puncaknya pada tahun 1965 dan 1975 di universitas-universitas di
Eropa. Karena lemahnya basis sosial dalam masyarakat, gerakan ini tidak dapat
bertahan lama. Sebagian besar kembali ke sistem, sebagian kecil mengambil
jalan terorisme dan kemudian dihancurkan pada akhir tahun 70-an dan 80-an,
sedangkan sebagian cukup besar masuk ke dalam suatu gerakan lingkungan hidup
(Suseno, 2005 : 254-255).
Pengaruh Marxisme Terhadap Kebijakan Politik Lenin Pada Abad 19.
Marxisme merupakan salah satu pemikiran yang amat kaya, salah satu
alasannya adalah bahwa Marxisme memadukan tiga tradisi intelektual yang
masing-masing telah sangat berkembang saat itu, yakni filsafat Jerman, teori
politik Prancis, dan ilmu ekonomi inggris. Maka, Marxisme tidak begitu saja
dikategorikan sebagai filsafat seperti filsafat lainnya. Marxisme mengandung
suatu dimensi filosofis yang utama, dan bahkan memberikan pengaruh yang luar
biasa besar terhadap banyak pemikiran filsafat setelahnya itu. Sehingga, sejarah
filsafat zaman modern tidak mungkin mengabaikannya (Magee, 2008: 171).
Karya tulisan Karl Marx merupakan basis teoritis dari paham Komunisme.
Pada waktu Karl Marx wafat, belum ada satu negarapun yang mempraktikkan ide-
idenya. Dalam waktu satu abad, pemerintahan Komunis telah berdiri di banyak
tempat, termasuk Rusia, China dan berbagai gerakan yang berbasiskan tulisan-
tulisannya bangkit di penjuru negeri lainnya (Hart, 2009: 86).
Salah satu tokoh penganut paham Marxisme Karl Marx di Rusia adalah
Lenin. Vladimir llyich Ulyanov Lenin merupakan seorang ahli teori yang
terkemuka dan juga politikus yang efektif, praktis, dan tangkas. Lenin adalah
orang yang pertama mengambil teori Karl Marx dan menerjemahkannya dalam
politik praktis nyata (Hart, 2009: 143). Menurut Lenin Marxisme itu komplit dan
harmonis, karena Marxisme mampu memberi jawaban pada masalah-masalah
yang sudah diajukan oleh ahli-ahli pikir manusia yang terkemuka. Lenin
merupakan orang yang secara prinsip bertanggungjawab terhadap berdirinya
Komunisme di Rusia. Ajaran Komunis Lenin juga dikenal dengan Marxisme-
Leninisme yang menyatakan bahwa sistem ekonomi harus berdasarkan prinsip
ekonomi distribusi menurut kebutuhan (Njoto, 1962: 64).
Munir Che Anam (2008: 177) mengatakan bahwa Marxisme tidak sama
dengan Komunisme. Sebab, Komunisme adalah sebuah gerakan dan kekuatan
politik-politik partai-partai Komunis, yang keberadaannya muncul sejak revolusi
Oktober 1917 di bawah kepemimpinan Lenin. Sementara itu Marxisme digunakan
untuk ajaran Komunisme yang merupakan ajaran atau ideologi resmi
Komunisme. Inti ajaran tersebut adalah cita-cita terbentuknya masyrakat dimana
segala hak pribadi dihapus dan semuanya dimiliki bersama. Pengertian ini biasa
disebut dengan sosialisme lawan dari istilah kapitalisme.
Adapun gagasan-gagasan Lenin yang berkaitan dengan ajaran Marx,
diantaranya (Budiardjo, 2008: 146):
1. Melihat pentingnya peranan kaum petani dalam menyelenggarakan revolusi
(Marx hanya melihat peranan kaum buruh).
2. Melihat peranan suatu partai politik yang militan yang terdiri atas proffesional
revolutionaries untuk memimpin kaum proletar (Marx berpendapat bahwa kaum
proletar akan bangkit sendiri) dan merumuskan cara-cara merebut kekuasaan.
3. Melihat imperialisme sebagai gejala yang memperpanjang hidup kapitalisme
(Marx berpendapat bahwa kapitalisme pada puncak perkembangannya akan
menemui ajalnya dan diganti oleh Komunisme), sehingga kapitalisme pada saat
itu belum mati.
Pada Oktober tahun 1917 terjadi sebuah revolusi di Rusia yang dipimpin
oleh Lenin disebut dengan Revolusi Bolshevick. Lenin berhasil menjatuhkan
pemerintahan Tsar II. Dia memimpin revolusi dan menguasai Uni Soviet dengan
membentuk diktator proletariat seperti yang dibayangkan oleh Marx. Dalam
Undang-Undang Dasar 1918 telah mencerminkan tahap pertama revolusi, yang
memusnahkan golongan-golongan yang dianggap sebagai penindas, seperti tuan
tanah, pejabat agama, pengusaha, dan polisi Tsar. Revolusi itu berhasil
menyingkirkan sekaligus dua musuh proletar, yaitu kaum feodal dan Borjuis
(Budiardjo, 2008: 146).
Kebijakan Lenin terhadap persoalan politik, Lenin mengeluarkan
kebijakan politik dengan pembentukan perangkat hukum. Oleh karena itu, pada
sidang Soviet seluruh Rusia V mengesahkan Konstirusi RSFR 1918. Konstitusi ini
sejalan dengan Gerakan Kaum Proletar dan menempatkan Deklarasi Hak Kaum
Pekerja dan Kaum Tertindas pada bagian awal konstitusi. Dalam UUD dijelaskan
bahwa bentuk negara adalah Diktator Proletariat dalam bentuk kekuasaan Soviet
seluruh Rusia yang kuat. Tujuan utama dari Diktator Proletariat adalah untuk
menghancurkan praktek-praktek borjuasi dan penghentian penindasan manusia
oleh manusia dan perwujudan sosialisme dimana tidak terdapat lagi perbedaan
kelas dan kekuasaan negara (Fahrurodji, 2005: 132-133).
Menurut Ebeinstein & Fogelman (dalam Alkatiri, 2016: 38-40)
mengatakan bahwa dalam sistem pemerintahan Soviet, Sidang Soviet seluruh
Rusia merupakan dewan tertinggi dari Perwakilan Soviet Kota (Gorodskie
Soviety) dan Soviet Provinsi (Gubernskie Soviety). Sidang dilaksanakan
setidaknya dua kali dalam setahun. Menurut Lenin, untuk membangun kesadaran
rakyat perlu dipupuk atau dibimbing terlebih dahulu. Masalah pemupukan dan
pebimbingan ini merupakan tugas dari golongan intelektual untuk mendidik para
buruh agar sadar akan tugas ploretariatnya. Golongan intelektual ini harus tertib,
dan untuk itu mereka perlu dimasukkan dalam struktur organisasi partai. Hal ini
untuk menghindari kecenderungan golongan intelektual berpikir bebas dan
semaunya.
Partai Komunis, walaupun bernama partai massa (buruh), tetapi dalam
kenyataannya mirip partai politik sekelompok orang. Mereka berasumsi bahwa
massa perlu dipimpin oleh sekelompok golongan menengah (elite). Kelompok ini
kemudian bergabung dalam bentuk yang dinamakan Komite Sentral. Komite
ini kemudian berubah fungsinya menjadi semacam Diktator Proletariat. Menurut
Lenin, kediktatoran stuktural ini diperlukan guna menjaga keseimbangan
keberaturan sistem partai. Tugas partai yaitu mendidik, mengatur dan membina
massa rakyat mengambang (floating mass) yang tidak terdidik sesuai dengan
kepentingan revolusioner yang totaliter dan berkesinambungan.
Dalam kebijakan ekonomi, awal mula kekuasaan pemerintahan
Komunisme Lenin dihadapkan oleh kondisi yang sangat memprihatinkan yang
dialami masyarakat Rusia pada saat itu. Dimana pada akhir perang saudara tahun
1921, Rusia terlempar ke dalam situasi chaos. Roda perekonomian terhenti, dan
jika tetap keras kepala tidak melibatkan Borjuis dalam sistem ekonomi dan
pemerintahan, negara akan hancur. Oleh karena itu pada tahun 1921 Lenin mulai
melancarkan kebijakan Ekonomi Baru atau New Ecconomic Policy. Lenin
menganjurkan NEP sebagai kebijakan sementara untuk memperbolehkan pasar
bebas dan investasi asing. Dimana hasil bumi boleh dijual dengan bebas.
Perusahaan-perusahaan milik pribadi di beberapa sektor dibenarkan, dan orang-
orang yang ahli dalam bidangnya kembali dipakai dengan bayaran besar
(Fahrurodji, 2005: 133).
Untuk menyaingi sistem pertanian bebas, diadakan pula pertanian kolektif
(kolkhoz) dan pertanian negara (sovkhoz) untuk menyaingi pertanian bebas
daripara kulak. NEP ini terbukti berjalan dengan baik, para kulak makin terdesak
dan semakin banyak petani yang menggabungkan diri ke dalam kolkhoz. Tujuan
utama dari kebijakan ini ialah mempertahankan dan meningkatkan produksi
pertanian, bengkel dan pabrik dengan tetap menerapkan insentifisiensi dan laba
dari sistem kapitalisme. Pelaksanaan kebijakan Ekonomi Baru ini memberi
kesempatan pada Rusia untuk menarik napas selama tujuh tahun (Fahrurodji,
2005: 40).
Kelemahan Gagasan Marxisme-Leninisme
1. Ajaran Marxisme tidak mampu melakukan revolusi, sampai dengan saat
ini tidak ada perubahan yang signifikan dalam perjuangan kelas buruh.
Kehidupan buruh juga masih belum banyak berubah seperti yang pernah
dikhayakalkan oleh Karl Marx (Alkatiri, 2016: 16).
2. Negara gagal mensejahterakan rakyatnya (Alkatiri, 2016: 16).
3. Terbatasnya gerak warga negara oleh hukum-hukum dan ketentuan yang
sama rata sama ras, sehingga kebebasan masyarakatnya terbatasi (Alkatiri,
2016: 17).
4. Gerak rakyat dikontrol oleh Partai Komunis, dan yang bebas berpartisipasi
dalam partai politik hanya golongan Komunis (Gellately, 2007: 41).
5. Dalam praktek Komunisme, pernghargaan kepada nyawa manusia sama
sekali tidak ada (Gellately, 2007: 41).
6. Kreativitas rakyat termatikan oleh sistem Komunisme, sehingga rakyat
seperti benda mati yang tidak mempunyai keinginan untuk berkembang
maju dan mandiri. Rakyat bagaikan mesin produksi yang tidak mempunyai
cita-cita dan harapan hidup (Gellately, 2007: 42).
7. Karena pusat perekonomian dipegang oleh pemerintah, maka terjadilah
monopoli yang dapat menyengsarakan masyarakat dan semakin
menjayakan pemerintah (Alkatiri, 2016: 17).
8. Anggapan bahwa tenaga kerja menjadi dasar nilai barang merupakan dasar
yang lemah dan tidak bertahan, nilai barang tidak hanya tergantung pada
tenaga kerja (Alkatiri, 2016: 17).
9. Perluasan konflik akibat dari banyaknya kemunculan perjuangan kelas
sosial atau gerakan sosial kaum Proletarian yang anti kapitalis (Alkatiri,
2016: 17).
Kelebihan Gagasan Marxisme-Leninisme
1. Tidak adanya kelas sosial menciptakan masyarakat yang adil dan setara.
Hal ini karena pemerintah mengatur kegiatan produksi (Alkatiri, 2016:
18).
2. Modal dan tanah akan dikendalikan oleh negara, negara yang akan
mendistribusikan alat-alat kekayaan produktif untuk digunakan (Alkatiri,
2016: 18).
3. Dengan adanya kekuatan dan persatuan dari kaum Proletarian dapat
menekan pihak-pihak yang berkuasa agar memenuhi tuntutan ataupun hak
mereka (Alkatiri, 2016: 18).
4. Semua kegiatan produksi dapat ditangani masyarakat luas (Alkatiri, 2016:
18).
5. Semua eksploitasi sumber daya akan hilang karena kaum buruh diberikan
pekerjaan yang layak dan tidak diperbudak seperti saat bekerja pada kaum
Borjuis (Ramly, 2000: 164).
6. Berkurangnya sifat matrealistik, yang hanya mengejar profit tanpa
memikirkan bagaimana perasaan kaum budak yang hanya diperas
tangannya saja (Ramly, 2000: 164).
Dampak Dari Adanya Ideologi Marxisme-Leninisme
1. Munculnya paham Komunisme yang mana untuk mencapai masyarakat
Komunis yang materials harus ditempuh dengan segala cara yang
mengabaikan nilai-nilai agama dan susila (Suseno, 2005: 68).
2. Sikap keras, konfrontatif dan tak kenal komporomi dari penganut Komunis
sering membawa dampak buruk, yakni banyaknya korban jiwa jatuh
dikalangan pihak gerakan golongan Marxis dan pihak lawan Marxis
(Samsudin, 2004: 13).
3. Selain kehilangan korban jiwa sikap keras, konfrontatif dan tak kenal
kompromi gerakan golongan Marxis juga banyak mengakibatkan
kerusakan harta benda yang banyak di wilayah konflik (Samsudin, 2004:
13).
4. Menurut Taufiq Ismail (dalam Samsudin, 2004 : 13) mengatakan menurut
catatan selama 74 tahun (1917-1991), ideologi Marxisme-Leninisme telah
membunuh sekitar 100 juta manusia di 76 negara. Artinya, orang-orang
dengan alasan ideologi Marxisme-Leninisme di dunia telah membunuh
rata-rata 1,35 juta jiwa setiap tahunnya, atau 3,702 jiwa setiap hari atau
156 jiwa setiap jamnya (Samsudin, 2004: 13).
5. Dengan mengikuti ajaran ideologi Marxisme, banyak penganutnya yang
pindah dari agama yang pertama mereka panuti lalu menjadi atheis
(Ramly, 2000: 163).
6. Munculnya Marxisme, mulai menggerakkan berbagai kalangan buruh di
seluruh penjuru dunia untuk membentuk organisasi gerakan perlawanan
terhadap kapitalisme (Hart, 2009: 143).
7. Aktivitas gerakan golongan Marxis membuat dunia selama bertahun-tahun
terus bergejolak, dimana maraknya propaganda, pembunuhan, terorisme,
pemberontakan dalam pencapaian kekuasaan, perang, resepsi brutal, dan
pembersihan berdarah setelah kekuasaan tercapai (Gellately, 2007: 41).
8. Dengan adanya perang berkelanjutan dengan Jerman, berdampak buruk
terhadap produksi pangan di Rusia dan mulai banyak masyarakat yang
mati karena kelaparan. Lenin ketika berkuasa, telah membantai 1,5 juta
bangsanya sendiri (Gellately, 2007: 41).
9. Munculnya pertentangan sosial dalam masyarakat, yang mana satu sama
lainnya bersaing memperebutkan pengaruh dan kekuasaan, yakni
kelompok moderat, konservatif dan radikal (Gellately, 2007: 41).
10. Marxisme-Leninisme memberi pengaruh terhadap beberapa gagasan para
pendiri bangsa lain, seperti di Kuba, Korea Utara, China, Indonesia seperti
pengaruh terhadap pemikiran Presiden Indonesia Ir. Soekarno terhadap
paham Marhaenisme (Kasenda, 2014: 17).
Eksistensi Ideologi Marxisme Pada Masa Kini
Banyak orang yang mengira paham Komunisme mati dengan bubarnya
Uni Soviet di tahun 1991. Komunisme internasional tidak mati sama sekali,
seperti kata banyak orang bahwa ideologi apapun tidak pernah mati. Sebuah
ideologi akan selalu ada pendukungnya. Ia hanya surut sebentar atau dalam waktu
lama, namun tidak akan pernah mati. Untuk terus mempertahankan ideologi ini,
dalam politik, untuk melakukan suatu perubahan perlu keberanian yang kuat oleh
penganutnya (Munif, 2007: 129).
Paul A Samuelson (dalam Ramly, 2000: 162) menyatakan bahwa jika ada
bagian yang dirasa kurang dan lemah dalam sistem Marxisme, maka penganutnya
senantiasa memperbaharui dan menghidupkan Marxisme kembali dalam berbagai
bentuk. Partai Komunis tetap ada di seluruh dunia dan tetap aktif mempejuangkan
hak-hak buruh, pelajar dan anti-imperialisme. Saat ini di banyak negara,
Komunisme berubah menjadi bentuk baru. Baik itu kiri baru ataupun Komunisme
khas seperti di Kuba dan Vietnam. Di negara-negara lain, komunisme masih ada
di dalam masyarakat, namun kebanyakan dari mereka membentuk oposisi
terhadap pemerintah yang berkuasa.
Beberapa partai Komunis kontemporer terus menganggap Marxisme-
Leninisme sebagai ideologi dasar mereka, meskipun beberapa telah dimodifikasi
untuk beradaptasi dengan keadaan politik dan lokal yang baru. Dalam nama
partai, sebutan "Marxis-Leninis" biasanya digunakan oleh partai Komunis yang
ingin membedakan diri dari beberapa partai Komunis lain (dan mungkin
revisionis) di negara yang sama. Kebingungan yang populer bertambah mengenai
terminologi yang kompleks ketika menggambarkan berbagai aliran pemikiran
Marxis yang diturunkan. Sebutan "Marxis-Leninis" sering digunakan oleh mereka
yang tidak akrab dengan ideologi Komunis secara rinci (misalnya banyak surat
kabar dan media lainnya) sebagai sinonim untuk setiap jenis Marxisme (Alkatiri,
2016: 36).
Dengan gejala kegagalan Marxisme-Leninisme di Rusia, banyak pengikut
Marxisme yang kemudian mencoba merevisi kembali teori Karl Marx dengan
penafsiran baru yang sesuai dengan kondisi zaman. Revisionisme adalah revolusi
sosial diganti dengan evolusi sosial dalam bentuk reformasi sosial secara bertahap,
yakni melalui perjuangan parlementer. Gagasan Revisionisme ini digagas oleh
tokoh Marxis yang bernama Eduard Bernstein (Jerman), Karl Kautsky (Rusia) dan
Rosa Luxemburg (Polandia). Konsepsi Revisionisme ini dapat dikatakan sebagai
kritik dan revisi terhadap konsepsi Marxisme yang tidak berjalan dan tidak sejalan
dengan bentuk masyarakat kapitalisme yang tidak dapat dihentikan (Alkatiri,
2016: 36-37).
Daftar Rujukan

Alkatiri, Zeffry. 2016. Transisi Demokrasi di Eropa Timur: Baltik, Jerman Timur,
Rumania dan Balkan. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Anam, Munir Che. 2008. Muhammad SAW dan Karl Marx Tentang Masyarakat
Tanpa Kelas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Budiardjo, Miriam Prof. 2008. Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama.
Fahrurodji, Ahmad. 2005. Rusia Baru Menuju Demokrasi: Pengantar Sejarah
dan Latar Belakang Budayanya. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Gellately, Robert. 2007. Lenin, Stalin And Hitler: The Age Of Social Catastrophe.
United States: Alfred A. Knopf
Hart, H Michael. 2009. 100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia Sepanjang
Sejarah. Jakarta: Hikmah.
Kasenda, Peter. 2014. Bung Karno Panglima Revolusi. Yogyakarta: Galang
Pustaka.
Magee, Bryan. 2008. The Story Of Philosophy (Edisi Indonesia). Yogyakarta:
Kanisius.
Munif, Achmad. 2007. 50 Tokoh Politik Legendaris Dunia. Yogyakarta: Narasi.
Njoto. 1962. Marxisme: Ilmu dan Amalnya (Paparan Populer). Jakarta: Harian
Rakjat.
Ramly, A Muawiyah. 2000. Peta Pemikiran Karl Marx: Materialisme Dialektis
dan Materialisme Historis. Yogyakarta: LkiS
Samsudin, Mayor (Purn). 2004. Mengapa G30S/PKI Gagal?. Jakarta: Yayasan
Obor Indonesia.
Supardan, Dadang. 2008. Pengantar Ilmu Sosial. Jakarta: Bumi Aksara.
Suseno, Franz Magnis. 2005. Pemikiran Karl Marx: dari Sosialisme Utopis ke
Perselisihan Revisionisme. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.