Anda di halaman 1dari 12

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam millenium yang ketiga ini, manusia tidak pernah jauh dari bangunan
yang terbuat dari beton. Beton adalah materi bangunan yang paling banyak digunakan
di seluruh dunia. Beton mempunyai pengaruh besar terhadap pembangunan
(konstruksi) di seluru dunia, tak terkecuali di Negara Indonesia. Dengan beton
dibangunlah bendungan, pipa saluran, fondasi, basement, bangunan gedung pencakar
langit maupun jalan raya dan lain-lain (Nugaraha & Antoni, 2004: 1). Kata beton
dalam bahasa Indonesia berasal dari kata yang sama dalam bahasa Belanda. Kata
concrete dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa Latin concretus yang berarti
tumbuh bersama atau menggabungkan menjadi satu. Dalam bahasa Jepang digunakan
kata kotau-zai, yang arti harafiahnya material-material seperti tulang; mungkin karena
agregat mirip tulang-tulang hewan (Nugraha & Antoni, 2004: 1). Nawy (dalam
Mulyono, 2004: 3) mendefinisikan beton sebagai sekumpulan interaksi mekanis dan
kimiawi dari material pembentuknya.
Sejarah permulaan penggunaan teknologi beton dimulai dari tahun 6500 SM
ditepian Sungai Danube di Lepenski Vir, daerah negara Yugoslavia. Ada catatan
bahwa bangsa Assyria dan Babilonia kuno telah menggunakan tanah liat sebagai
semen pengikat. Bahkan ada kemungkinan bahwa api ditemukan untuk tujuan
mengubah batu kapur menjadi gamping, yang memanas waktu dicampur dengan air,
dan secara lambat menjadi kaku. Sekitar tahun 3000 SM, orang Mesir kuno juga telah
menggunakan tanah liat yang dikombinasikan dengan jerami untuk mengikat batu
bata yang dikeringkan, dan membangun piramida-piramida Ramses yang terkenal.
Ilustrasi pengecoran beton yang paling dini terdapat pada mural di Thebes, dari tahun
1950 SM. (Mulyono, 2004: 3-4).
Ketrampilan membuat beton kemudian menyebar dari Mesir ke Laut Tengah
(Mediterranian) bagian timur, dan pada tahun 500 SM digunakan di Yunani kuno.
Orang Yunani menggunakan komposisi dasar kapur untuk menutupi dinding dari bata
yang tidak dibakar. Istana Croesus dan Attalus dibangun dengan cara ini. Beton pada
masa itu terdiri dari batu-batu besar yang diikat menjadi satu oleh satu mortar kapur
dan pasir. Sekitar 300 SM orang Romawi pun menyempurnakan perekat tersebut.
Mereka memakai gamping pada bahan bangunan koloseum, jaringan aquaduct dan
berbagai struktur lainnya. Pada abad kedua Sebelum Masehi orang Romawi menggali
bahan seperti pasir berwarna jambu dari sumber di Pozzuoli, dekat Gunung Vesuvius
Italia. Penemuan ini sangat berpengaruh pada bangunan dalam 800 tahun berikutnya
karena material tersebut bukanlah pasir tetapi abu gunung berapi yang mengandung
silica dan alumina, yang kombinasinya secara kimiawi dengan kapur menghasilkan
apa yang dikenal sebagai semen pozzolan.
Penggunaan beton dan bahan-bahan beton seperti semen pozzolan telah
dimulai sejak zaman Romawi. Pada tahun 1801, F. Coignet menerbitkan tulisannya
mengenai prinsip-prinsip kosntruksi dengan meninjau kelembaban bahan beton
terhadap taruknya. Pada tahun 1850 J.L Lambot untuk pertama kalinya membuat
kapal kecil dari bahan semen untuk dipamerkan pada pameran dunia tahun 1855 di
Perancis. J. Monier, seorang ahli taman dari Perancis mematenkan rangka metal
sebagai tulangan beton untuk mengatasi taruknya yang digunakan untuk tempat
tanamannya. Pada tahun 1866, Koenen menerbitkan tulisan mengenai teori dan
perancangan struktur beton. C.A.P Turner mengembangkan pelat slab tanpa balok
pada tahun 1906. Seiring dengan kemajuan besar yang terjadi dalam bidang ini,
terbentuklah German Committee Reinforce Concrete, Australian Concrete
Committee, American Concrete Institute, dan British Concrete Institue (Mulyono,
2004: 5-6).
Pernyataan di atas adalah sejarah dan perkembangan teknologi beton di dunia,
melalui penulisan makalah ini penulis pun membuat makalah tentang sejarah
perkembangan teknologi beton di Indonesia untuk berbagi ilmu dan pengetahuan,
sehingga diharapkan siapapun yang membaca makalah ini dapat menambah ilmu
yang dimilikinya.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah di makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana sejarah terjadinya teknologi beton di Indonesia?
2. Bagaimana perkembangan teknologi beton di Indonesia?
3. Bagaimana manfaat teknologi beton terhadap masyarakat di
Indonesia?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui sejarah terjadinya teknologi beton di Indonesia
2. Untuk mengetahui perkembangan teknologi beton di Indonesia
3. Untuk mengetahui dampak dari adanya teknologi beton terhadap
masyarakat di Indonesia
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Terjadinya Teknologi Beton di Indonesia

Beton dikenal sebagai bahan bangunan yang populer yang tersusun dari
komposisi utama bahan batuan, air dan semen. Dikenal luas dan populer karena
bahan pembuatannya relative mudah didapat secara local, harganya juga murah dan
teknologi pembuatannya relatif mudah. Pada umunya, beton mengandung rongga
udara sekitar 1% - 2%, pasta semen (semen dan air) sekitar 25% - 40%, dan agregat
(agregat halus dan agregat kasar) sekitar 60% - 75%. Untuk mendapatkan kekuatan
yang baik, sifat dan karakteristik dari masing-masing bahan penyusun tersebut perlu
dipelajari. Struktur mikro beton menjadi salah satu bidang yang sedang popular untuk
diteliti. Proses hidrasi semen, hubungan antara pori-pori di dalam betonm zona
pertemuan antara agregat dengan pasta semen (ITZ) adalah struktur mikro yang
berpengaruh pada sifat beton secara makro, misalnya kekuatan maupun durabilitas
beton (Samekto dkk, 2001: 5).
Sepanjang sejarah Hindia dan Indonesia pada abad ke-20, beton sebagaimana
yang telah kita lihat adalah bahan yang penting secara teknologis. Banyak bangunan
paling menonjol dari masa kolonial-akhir dan pasca penjajahan itu dibuat dari beton
dan ke-beton-annya itu dengan bangga diumumkan. Professor Rooseno seorang
insyinyur teman Presiden Ir. Soekarno, dan sepanjang periode kemerdekaan,
pembangun kebanyakan lambing arsitektural paling menyolok republik itu dengan
amat mesra dikenal sebagai Bapak Beton Indonesia. Beton dan beton bertulang
adalah lambang kekuatan Hindia-Belanda modern dan Indonesia modern (Mrazek,
2006: 301).
2.2 Perkembangan Teknologi Beton di Indonesia

Pengembangan beton sudah sedemikian pusat pesat, dari material yang hanya
terdiri dari air, semen, pasir dan kerikil sampai penggunaan bahan lain yang
meningkatkan kinerja beton, misalnya fiber, semen komposit, polimer dan lain
sebagainya. Penelitian untuk mendayagunakan material-material sisa juga menjadi
prioritas di mana beton diharapkan menjadi semakin ramah lingkungan, memakai
energy yang sedikit dan dapat didaur ulang. Penggunaan material hasil pembakaran
sampah kota dalam beton misalnya. Pemakaian agregat dari bangunan yang sudah
dihancurkan dapat mengurangi beban lingkungan untuk selalu menyediakan material
yang baru. Sifat- sifat dari beton yang getas, tidak kuat menahan tarik juga perlu
diperbaiki (Nugraha & Antoni, 2004: 20).
Di Indonesia perkembangan beton terlihat setelah tahun 1960 dengan
memakai standard beton tahun 1955 yang di buat berdasarkan standard Belanda.
Mengingat perkembangan teknologi beton sangat besar maka peraturan beton 1955
diganti dengan peraturan beton yang baru dikenal dengan PBI 1971 (N 1-2). Dan PBI
1971 ini pun telah diganti dengan SNI 1991 atau sering disebut PBI 1991. Dewasa ini
perkembangan beton masih terus berlanjut, yang mana banyajk terlihat dari bangunan
mempergunakan beton sebagai bahan bangunan. Sehingga boleh dikatakan beton
merupakan bahan bangunan yang paling penting dan popular di era saat ini (Hendy,
2009).
Di Indonesia terbentuk Departemen Pekerjaan Umum yang selalu mengikuti
perkembangan beton melalui Lembaga Penyelidikan Masalah Bangunan (LPMB).
Melalui lembaga ini diterbitkan peraturan-peraturan standar beton yang biasanya
mengadopsi peraturan internasional yang disesuaikan dengan keadaan bahan-bahan
bangunan di Indonesia (Samekto, 2001: 6). Peraturan atau Pedoman Standard yang
mengatur perencanaan dan pelaksanaan bangunan beton telah beberapa kali
mengalami perubahan dan pembaharuan. Sejak Peraturan Beton Bertulang Indonesia
tahun 1955, kemudian PBI 1971, standard Tata Cara Perhitungan Struktur Beton
Nomor SK SNI T-15-1991-03 dan yang terakhir adalah Standar SK SNI 03-2847-
2002. Pembaharuan tersebut tiada lain dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan
dalam upaya mengimbangi pesatnya laju perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, khususnya yang berhubungan dengan beton atau beton bertulang (Antono,
1993: 8).
PBI 1955 merupakan terjemahan dari GBVI (Gewapend Beton Voorchriften
in Indonesia) 1935, ialah suatu perubahan pemerintahan penjajah Belanda di
Indonesia. PBI 1955 memberikan ketentuan tata cara perencanaan menggunakan
metode elastik atau cara n, dengan menggunakan nilai banding modulus elastisitas
baja dan beton yang bernilai tetap untuk segala keadaan bahan dan pembebanan.
Batasan mutu bahan dalam peraturan baik, untuk beton maupun tulangan baja masih
rendah disamping peraturan tata cara pelaksanaan yang sederhana sesuai dengan taraf
teknologi yang dikuasai pada waktu itu (Antono, 1993: 8-9).
Pada peraturan lama seperti PBI 1971, metode analisis struktur masih
menggunakan metode elastis, sedangkan pada peraturan yang lebih baru metode
analisis sudah menggunakan metode kemampuan batas, sehingga dari hal ini dapat
dilihat jelas tingkat kemampuan yang lebih tinggi dari suatu komponen beton
bertulang telah digunakan dalam peraturan -peraturan baru sehingga kekuatan
potensial yang dimiliki oleh beton bertulang akan dapat dipergunakan dengan lebih
maksimal (Herina, 2007). Pengelompokan beton pada dasarnya berkembang dari
waktu ke waktu, dan menyesuaikan pula dengan kebutuhan di tiap negara atau
instansi yang berkepentingan. Di Indonesia pada umumnya pengelompokan dan
peraturan beton mengikuti standar yang berlaku di Amerika Serikat (ACI) (Nurlina.
2008: 17).
Pada umumnya pengelompokan beton terbagi atas beberapa kategori : berat
satuan, mutu/kekuatan karakteristik (umumnya kuat tekan), pembuatan, lingkungan
layan, tegangan pra-layan dan lain sebagainya.
a. Jenis beton berdasarkan berat satuan (SNI 03-2847-2002)
Beton ringan : berat satuan < 1.900 kg/m
Beton normal : berat satuan 2.200 kg/m 2.500 kg/m
Beton berat : berat satuan > 2.500 kg/m
SNI tidak menggolongkan beton berat, namun pada umumnya beton dengan
berat satuan di atas 2.500 kg/m dikategorikan beton berat, walaupun ada yang
menerapkan nilai 3.200 kg/m sebagai batas bawah beton berat. Beton yang berat
satuannya berada di antara kategori di atas pada umumnya tidak efektif perbandingan
berat sendiri dan kekuatannya, walaupun tidak ada larangan untuk membuat beton
dengan berat satuan di antara 1.900 kg/m - 2.200 kg/m (Wahyudi & Rahim, 1999:
26).
b. Jenis beton berdasarkan kuat tekan karakteristik (PBI 1971 N.I.-2 )

c. Jenis beton berdasarkan kuat tekan (SNI 03-6468-2000, ACI 318, ACI
363R-92)
Beton mutu rendah (low strength concrete) : fc < 20 MPa
Beton mutu sedang (medium strength concrete) : fc = 21 MPa
40 MPa
Beton mutu tinggi (high strength concrete) : fc > 41 MPa
d. Jenis beton berdasarkan pembuatan
Beton cast in-situ, yaitu beton yang dicor di tempat, dengan
cetakan atau acuan yang dipasang di lokasi elemen struktur pada
bangunan atau gedung atau infrastruktur.
Beton pre-cast, yaitu beton yang dicor di lokasi pabrikasi khusus,
dan kemudian diangkut dan dirangkai untuk dipasang di lokasi
elemen struktur pada bangunan atau gedung atau infrastruktur.
e. Berdasarkan jenis lingkungan
Beton di lingkungan khusus pada umumnya dikelompokkan berdasarkan
kondisi yang mengancam ketahanan konstruksi beton bertulang :
beton di lingkungan korosif, karena pengaruh sulfat, klorida, garam
alkali, dsb
beton di lingkungan basah non korosif
beton di lingkungan yang terpapar cuaca
beton di lingkungan yang terlindung dari cuaca
Pada umumnya diperlukan perlakuan, bahan atau persyaratan desain dan
pelaksanaan yang khusus untuk lingkungan yang berpotensi mengancam ketahanan
atau keawetan konstruksi.
f. Jenis beton berdasarkan tegangan pra-layan
Beton konvensional, adalah beton normal yang tidak mengalami tegangan pra
layan
Beton pre-stressed, adalah beton yang diberikan tegangan pra-layan pada saat
pembuatannya, dengan sistem pre-stressing
Beton post- tensioned, adalah beton yang diberikan tegangan pra-layan pada
saat pembuatannya, dengan sistem post-tensioning
Pemberian tegangan pra-layan pada umumnya dirancang untuk memberikan
gaya berlawanan dengan gaya layan, sehingga pada saat konstruksi beton bertulang
tersebut memikul beban, secara praktis mengurangi beban kerja. eton jenis atau
kelompok ini harus didesain, dilaksanakan dan diawasi oleh Konsultan dan
Kontraktor Spesialis yang berpengalaman (Wahyudi & Rahim, 1999: 26-27).

2.3 Manfaat Teknologi Beton Terhadap Masyarakat di Indonesia

Beton mempunyai beberapa manfaat penting untuk pembangunan yang


mempermudah masyrakat yaitu :
Beton adalah material konstruksi yang pada saat ini sudah sangat umum
digunakan. Saat ini berbagai bangunan sudah menggunakan material dari beton.
Pentingnya peranan konstruksi beton menuntut suatu kualitas beton yang memadai.
Penelitian-penelitian telah banyak dilakukan untuk memperoleh suatu penemuan
alternatif penggunaan konstruksi beton dalam berbagai bidang secara tepat dan
efisien, sehingga akan diperoleh mutu beton yang lebih baik (Nurlina, 2008: 4).
Beton sangat berperan penting dalam sebuah pembangunan, Agar sebuah
bangunan mereka menjadi bangunan yang kokoh dan tertata rapi sesuai dengan model
aristektur yang mereka inginkan. Berikut adalah manfaat kegunaan semen :
1. Beton untuk pembuatan rumah
Beton yang digunakan untuk membangun rumah adalahkekuatan dan mutu
beton dapat disesuaikan k-225, k-250, k-350 dan seterusnya. Mudah dibentuk dengan
menggunakan bekisting sesuai dengan kebutuhan bangunan (Aris, 2010).
2. Beton untuk pembuatan jembatan
Beton yang digunakan untuk membangun jembatan adalah beton bertulang
berfungsi sebagai penahan beban yang bekerja karena sifatnya yang tahan terhadap
getaran, tidak termakan karat, serta tahan terhadap gempa. Artikel ini adalah
informasi dasar seputar kelebihan dan kekurangan struktur beton bertulang.
Kelebihan lain dari beton bertulang adalah hampir tidak memerlukan pemeliharaan
serta bisa dibentuk sesuai kebutuhan konstruksi yang berbeda-beda (Aris, 2010).
3. Beton untuk pembuatan saluran irigasi
Untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi kehilangan air karena
kebocoran (leakage) dan rembesan (seepage) sering saluran dilapisi dengan bahan
yang tahan terhadap gerusan air. Pelapisan saluran atau sering dinamakan dengan
lining saluran (canal lining) juga bertujuan untuk memantapkan stabilitas tanggul.
Pelapisan ini dapat berupa pasangan dari batu, bata merah, beton atau baja (untuk
talang dan sipon) (Tjokrodimulyo, 2009).
4. Beton untuk pembuatan jalan raya
Beton sekarang relatif cukup populer digunakan di jalan-jalan di ibukota
maupun di daerah-daerah. karena jalan beton tersebut lebih kuat, awet dan bebas
perawatan. Hal lain yang mendasari pemilihan dan penggunaan beton sebagai bahan
konstruksi adalah faktor efektifitas dan tingkat efisiensinya. Secara umum bahan
pengisis (filler) beton terbuat dari bahan-bahan yang mudah diperoleh, mudah diolah
(workability) dan mempunyai keawetan (durability) serta kekuatan (strenght) yang
sangat diperlukan dalam pembangunan suatu konstruksi.
Dari manfaat dan contoh peggunan Beton diatas. Hampir pada setiap aspek
kehidupan manusia selalu terkait dengan beton baik secara langsung maupun tidak
langsung, sebagai contoh adalah jalan dan jembatan yang strukturnya terbuat dari
beton, lapangan terbang, pemecah gelombang, bendungan. Bahan susuan beton yang
umum digunakan sampai saat ini adalah semen, pasir, kerikil, batu pecah dan air.
Kualitas beton bergantung pada bahan-bahan penyusunnya (Tjokrodimulyo, 2009).

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dalam perkembangan dunia yang semakin maju dan serba canggih, teknologi
beton mempunyai potensi yang luas dalam bidang konstruksi. Hal ini menyebabkan
beton banyak digunakan untuk konstruksi bangunan gedung, jembatan, dermaga dan
lain-lain. Banyaknya jumlah penggunaan beton dalam konstruksi tersebut
mengakibatkan peningkatan kebutuhan material beton, sehingga memicu
penambangan batuan sebagai salah satu bahan pembentuk beton secara besara-
besaran yang menyebabkan turunnya jumlah sumber alam yang tersedia untuk
keperluan pembetonan.

Daftar Rujukan
Antono, A. 1993. Teknologi Beton. Jurusan Teknik Sipil Universitas Atma Jaya:
Yogyakarta.

Aris, Sutrisno S Widodo. 2010. Analisis Variasi Kandungan Semen Terhadap Kuat
Tekan Beton Ringan Struktural Agregat Pumice. Jurnal Teknik Sipil. Program Studi
Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta : 2010 Email:
aris_ino@yahoo.com

Hendy, Febriyatno. 2009. Pemanfaatan Limbah Bahan Padat Sebagai Agregat Kasar
Pada Pembuatan Beton Normal. Jurusan Teknik Sipil Fakultas Tekik Sipil dan
Perencanaan, Universitas Gunadarma : 2009 (hendyfebriyatno@yahoo.co.id)

Herina, 2007. Kajian Aplikasi Standar Tata Cara Perencanaan Struktur Beton Untuk
Bangunan Gedung Dalam Pelaksanaan Bangunan di Indonesia. Jurnal
Standardisasi-Bsn

Tjokrodimulyo, Kardiyono. 2009. Teknologi Beton. Yogyakarta: Teknik Sipil


Universitas Gadjah Mada
Mulyono, Tri. 2004. Teknologi Beton. Yogyakarta: C.V Andi Offset.

Nugraha & Antoni. 2004. Teknologi Beton Dari Material, Pembuatan ke Beton
Kinerja Tinggi. Yogyakarta: C.V Andi Offset.

Mrazek, Rudolf. 2006. Engineers Of Happy Land: Perkembangan Teknologi dan


Nasionalisme di Sebuah Koloni. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Nurlina, Siti. 2008. Struktur Beton. Surabaya: Srikandi

Samekto, dkk. 2001. Teknologi Beton. Yogyakarta: Kanisius.


Wahyudi & Rahim. 1999. Struktur Beton Bertulang. Jakarta: Gramedia Pustaka
SEJARAH PERKEMBANGAN TEKNOLOGI BETON DI INDONESIA

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Sejarah IPTEKS
Yang dibina oleh bapak Aditya Nugroho Widiadi, M.Pd

Oleh
Siti Balqis Nur Saadah (120731435897)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS ILMU SOSIAL
JURUSAN SEJARAH
PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN SEJARAH
APRIL 2017