Anda di halaman 1dari 13

PENERAPAN METODE KARYA WISATA KE ISTANA ASSERAYYAH AL-

HASYIMIAH BERDASARKAN MATERI PEMBELAJARAN SEJARAH KERAJAAN


ISLAM DI KOTA SIAK

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Strategi Pembelajaran Sejarah
yang dibina oleh Ibu Ulfatun Nafiah, M.Pd.

Oleh:

Siti Balqis Nur Saadah


120731435897

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS ILMU SOSIAL
JURUSAN SEJARAH
Februari 2017
1
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL .............................................................................. i


DAFTAR ISI............................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang Masalah...................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah................................................................................ 2
1.3 Tujuan.................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN 3
2.1 Konsep Dasar dari Metode Karya Wisata 3
2.2 Penerapan Metode Karya Wisata ke Istana Asserayyah Al- 4
Hasyimiyah Dalam Pembelajaran Sejarah Kerajaan Islam Di Kota
Siak...............................................................................................................
BAB III PENUTUP 9
3.1 Kesimpulan............................................................................................ 9
3.2 Saran...................................................................................................... 9
DAFTAR RUJUKAN................................................................................. 10

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

2
Pembelajaran pada hakikatnya terkait dengan bagaimana membangun interaksi yang
baik antara guru dan siswa. Interaksi yang baik dapat digambarkan dengan suatu keadaan
dimana guru dapat membuat siswa belajar dengan mudah dan terdorong oleh kemauannya
sendiri untuk mempelajari apa yang ada dalam kurikulum sebagai kebutuhan mereka. Proses
pembelajaran yang dilakukan oleh siswa dan guru gunanya untuk mencapai suatu tujuan
pendidikan. Salah satu cara untuk mencapai tujuan pendidikan di dalam pembelajaran dengan
mengoptimalkan peran guru sebagai pengajar. Tujuan pendidikan dapat tercapai dengan
optimal apabila peran seorang guru dapat menyajikan pembelajaran secara kreatif dan variatif
bagi siswa. Pembelajaran yang kreatif tidak akan terlepas dari cara atau metode mengajar
yang diterapkan oleh seorang guru (E. Mulyasa, 2006: 164).
Dalam dunia pendidikan, metode mengajar merupakan cara atau langkah untuk
mencapai tujuan yang diharapkan sesuai dengan perkembangan siswa. Metode mengajar
menurut Dwi Siswoyo (2008: 133) menyatakan bahwa cara yang berfungsi sebagai alat untuk
mencapai tujuan. Nana Sujana (2011: 76) menyatakan bahwa metode mengajar ialah cara
yang dipergunakan oleh seorang guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat
berlangsungnya pelajaran. Metode mengajar merupakan hal yang penting dalam proses
pembelajaran. Dalam kegiatan belajar-mengajar biasanya siswa terbatas hanya belajar di kelas
atau di rumah saja, akan tetapi hal ini bisa membuat siswa jenuh. Agar siswa tidak mengalami
kejenuhan di dalam kelas, maka guru dituntut lebih kreatif dalam menyampaikan materi
pembelajaran agar siswa menjadi tertarik dengan materi yang diajarkan. Sehingga perlu
adanya metode pembelajaran yang lain agar siswa tidak mengalami kejenuhan di dalam kelas.
Adapun metode pembelajaran yang dapat digunakan ialah metode karya wisata. Dalam
metode karya wisata, Menurut Suyanto dan Jihad (2013: 132) menyatakan bahwa guru dapat
mengajak siswa mengunjungi objek tertentu untuk mempelajari sesuatu. Ini berbeda dengan
darmawisata yang tujuannya adalah rekreasi. Metode karya wisata berguna bagi siswa dalam
memahami kehidupan riil beserta segala masalahnya. Karya wisata juga merupakan metode
yang menekankan pada pemahaman dan pengembangan pada sejumlah pengetahuan tertentu
pada diri siswa agar mereka mampu memproses informasi sehingga ditemukan pengetahuan
yang baru yang bermanfaat. Baik berupa fakta maupun nilai apresiasi. Sehingga siswa dapat
mudah menguasai materi pelajaran yang diajarkan oleh guru.
Di Kota Siak terdapat situs Istana Asserayyah Al-Hasyimiyah yang merupakan
peninggalan Kesultanan Siak Sri Indrapura. Kesultanan Siak Sri Indrapura adalah salah satu
kerajaan Islam terbesar yang pernah ada di Sumatera. Sebagai sebuah kerajaan, Kesultanan
Siak Sri Indrapura memiliki peninggalan yang masih dapat dilihat dan disaksikan sekarang
sebagaimana kerajaan-kerajaan yang berada di wilayah Jawa, Kalimantan,Sulawesi serta
3
wilayah lainnya. Keberadaan dari situs Istana Asserayyah Al-Hasyimiyah bisa dijadikan
sebagai sumber sejarah lokal khususnya daerah Riau dan juga bisa dimanfaatkan sebagai
sumber belajar pembelajaran sejarah Indonesia terkait materi kerajaan Islam di pulau
Sumatera (Roza, 2005: 6).
Berdasarkan SKKD kurikulum 2013 mata pelajaran Sejarah Indonesia kelas X
semester 2, Istana Asserayyah Al-Hasyimiyah dapat dikaitkan dengan kompetensi dasar 3.8
yaitu menganalisis karakteristik pemerintahan, ekonomi, sosial dan budaya pada masa
kerjajaan-kerajaan Islam di Indonesia dan menunjukkan contoh bukti-bukti yang masih
berlaku pada kehidupan masyarakat Indonesia masa kini. Pemilihan situs Istana Asserayyah
Al-Hasyimiyah sebagai tujuan kegiatan karya wisata, karena Istana Asserayyah ini memiliki
ciri khas yang unik dan bangunan Istananya adalah satu-satunya peninggalan istana
kesultanan yang utuh di daerah kerajaan Islam yang ada di pulau Sumatera. Berdasarkan latar
belakang masalah tersebut, maka penulis ingin membahas makalah Penerapan Metode Karya
Wisata ke Istana Asserayyah Al-Hasyimiyah Berdasarkan Materi Pembelajaran Sejarah
Kerajaan Islam Di Kota Siak.
.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah di makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana konsep dari metode pembelajaran karya wisata?
2. Bagaimana penerapan metode karya wisata ke Istana Asserayyah Al-Hasyimiyah
berdasarkan materi pembelajaran sejarah lokal di Kota Siak?

1.3 Tujuan
1. Mendeskripsikan konsep dari metode pembelajaran karya wisata
2. Mendeskripsikan implementasi metode karya wisata ke Istana Asserayyah Al-hasyimiyah
dalam pembelajaran sejarah kerajaan Islam di kota Siak

BAB II
PEMBAHASAN

2.2 Konsep Dasar dari Metode Karya Wisata

4
Pengertian metode menurut kamus Besar Bahasa Indonesia (2001: 740) yaitu cara
yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai suatu maksud. Sedangkan karya wisata
adalah berpergian atau mengunjungi suatu objek dalam rangka memperluas pengetahuan.
Adapun pengertian karya wisata menurut beberapa ahli adalah:
a. Menurut Meliyawati (2016: 69) karya wisiata adalah metode mengajar dengan
peragaan secara langsung berupa objek pelajaran yang sesungguhnya, sehingga siswa
memperoleh gambaran langsung tentang apa yang dipelajarinya.
b. Menurut Prayitno (2009: 56) metode karya wisata adalah metode yang
mengembangkan pengalaman dan aktivitas lapangan.
c. Menurut Sumar & Razak (2016: 135) metode karya wisata adalah suatu metode
melaksanakan suatu perjalanan atau pesiar yang dilakukan oleh siswa untuk
memperoleh suatu pengalaman belajar terutama pengalaman langsung dan merupakan
bagian integral dari kurikulum sekolah yang ada hubungannya dengan mata pelajaran
terutama yang berkaitan dengan pengembangan wawasan pengalaman tentang dunia
luar.
d. Menurut Isjoni, dkk. (2007: 153) menyatakan bahwa karya wisata merupakan cara
mengajar yang dilaksanakan dengan mengajak siswa ke suatu tempat atau objek di
luar sekolah seperti meninjau pabrik sepatu, bengkel mobil, peternakan, perkebunan
dan museum. Metode karya wisata efektif digunakan oleh guru untuk menyampaikan
kompetensi yang sesuai, karena metode karya wisata memberikan pengalaman
langsung terhadap siswa yang lebih bermakna jika dibandingkan dengan siswa hanya
membaca buku ataupun mendengar penjelasan saja.
e. Menurut Djamarah & Zain (dalam Bahri, 2012) metode karyawisata adalah metode
mengajar dengan cara mengajak siswa ke suatu tempat atau objek tertentu di luar
sekolah untuk mempelajari atau menyelidiki sesuatu, seperti meninjau pabrik, tempat
wisata, toko serba ada dan sebagainya.
f. Menurut Sujana (dalam Bahri, 2012) menyatakan bahwa karya wisata dalam arti
metode mengajar mempunyai arti tersendiri yang berbeda dalam arti karya wisata
umum. Karya wisata disini berarti kunjungan ke luar kelas dalam rangka belajar.
Berdasarkan pengertian dari beberapa ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa
karya wisata merupakan cara mengajar yang dilaksanakan dengan cara mengajak
siswa keluar sekolah ke suatu tempat atau objek tertentu untuk melihat, mengamati,
meninjau objek secara langsung untuk mendapatkan pelajaran yang tidak didapatkan
oleh mereka ketika kegiatan belajar-mengajar di dalam kelas.

5
2.2 Penerapan Metode Karya Wisata ke Istana Asserayyah Al-Hasyimiyah Dalam
Pembelajaran Sejarah Kerajaan Islam Di Kota Siak
Penerapan metode karya wisata ke Istana Asserayyah Al-Hasyimiah dalam pembelajaran
sejarah antara lain dengan cara mengunjungi Istana Asserayyah Al-Hasyimiyah yang terletak
di hulu sungai Siak, sekitar 120 km dari kota Pekanbaru. Nama lain Istana Asserayyah Al-
Hasyimiyan ini adalah Istana Matahari Timur. Istana sultan Siak ini tampil dalam arsitektur
gaya Eropa dan Arab yang dipadukan dengan arsitektur Melayu tradisional (Mazuki, 2009:
43). Istana Siak dibangun oleh Sultan as-Said asy-Syarif Hasyim Abdul Jalil Saifuddin.
Barang-barang atau perlengkapan istana tersebut kebanyakan di datangkan dari eropa. Istana
perlengkapannya sampai sekarang dapat dilihat dan disaksikan oleh masyarakat yang ingin
membuktikannya. Selain itu Sultan juga membangun sebuah balai atau semacam gedung
pertemuan yang dinamakan Balairung Sari atau Balai Besar Kerapatan Tinggi yang digunakan
untuk kegiatan pemerintahan kerajaan Siak Sri Indrapura. Dengan adanya kedua bangunan
yang megah tersebut menjadikan Kerajaan Siak Sri Indrapura semakin maju dan pihak
Belanda nampaknya semakin menekan beliau. Namun Sultan tetap gigih untuk meningkatkan
taraf hidup rakyatnya dan menolak untuk bekerjasama dengan pihak Belanda (Roza,
2005:18).
Penerapan metode karya wisata ke Istana Asserayyah Al-Hasyimiyah ini diharapkan
berguna untuk menambah pengetahuan siswa. Kunjungan ini juga mengenalkan siswa tentang
kekayaan budaya daerah tempat tinggal siswa. Dari kunjungan ini, siswa dapat menganalisis
objek sejarah dan membuktikan secara langsung teori-teori yang dipelajari di kelas sehingga
pengetahuan yang didapat di kelas menjadi relevan dengan kenyataan. Selain itu, pengalaman
sosial siswa juga bertambah ketika mereka berpartisipasi secara langsung dalam berbagai
kegiatan yang dilakukan oleh para petugas di situs sejarah tersebut. Metode karya wisata
membuat siswa melihat, mendengar, dan mencoba sesuatu yang dihadapinya kemudian siswa
dapat menyimpulkan kompetensi yang sedang dipelajari.

6
Gambar 2.1 Lambang Kerajaan Siak Sri Indrapura

Gambar 2.2 Tampak Luar Istana Siak Asserayah Hasyimiah

7
Gambar 2.3 Tampak Dalam Istana Siak Asserayah Hasyimiah di Ruang Musyawarah

Gambar 2.4 Ruang Makan Keluarga dan Tamu Kerajaan

8
Gambar 2.5 Balairungsari Gedung Pertemuan Untuk Kegiatan Pemerintahan Kerajaan Siak
Sri Indrapura
Penerapan metode karya wisata ini selaras dengan prinsip-prinsip dalam pengajaran
IPS/Sejarah. Sebagaimana dijelaskan Depdikbud (dalam Hasnawati, 2012) diantaranya yaitu
(1) Dalam mengajarkan bahan-bahan pada IPS/Sejarah hendaknya dimulai dari lingkungan
yang terdekat (sekitar), yang sederhana sampai kepada bahan yang lebih luas dan kompleks,
(2) Dalam belajar sejarah pengalaman langsung melalui pengamatan, observasi maupun
mencoba suatu akan membantu siswa lebih memahami pengertian akan ide-ide dasar dalam
pembelajaran IPS/Sejarah sehingga kegiatan siswa terhadap konsep-konsep yang
dipelajarinya akan lebih mendalam, (3) Agar pembelajaran sejarah tetap menarik, dapat
digunakan bermacam-macam metode dan perlu adanya variasi pelajaran, (4) Dalam
pembelajaran sejarah ada bagian yang perlu dilafalkan dan latihan serta pengalaman langsung
juga perlu dilaksanakan melalui suatu kegiatan pemecahan masalah sehingga pengertian
pemahaman siswa terhadap suatu konsep dapat diterapkan.
Langkah-langkah kegiatan karyawisata menggunakan Istana Assayyerah Al-
Hasyimiyyah sebagai sumber sejarah meliputi: (1) Persiapan karya wisata, (2) Pelaksanaan
karya wisata (observasi, memperhatikan objek, mendengarkan, menggali dan mencatat
informasi yang ditemukan, melakukan presentasi atau tanya jawab), tahap ini merupakan
kegiatan sesungguhnya dari karya wisata, (3) Tindak lanjut karya wisata (pembuatan laporan
karya wisata, mendiskusikan di kelas). Penerapan metode karyawisata disesuaikan dengan
tingkat kemampuan siswa, maka dalam kegiatan karyawisata ke Istana Asayyerah Al-
Hasyimiyyah ini aspek yang mereka telusuri ialah mengenai latar belakang sejarah Istana,

9
ciri-ciri/arsitektur Istana dan sebagainya sesuai dengan petunjuk lembar kegiatan siswa yang
berisi panduan hal-hal apa saja yang akan mereka observasi, temukan, dan eksplorasi selama
kegiatan di situs tersebut.
Menurut Syaiful Sagala (2006: 215) mengemukakan bahwa kelebihan metode karya
wisata adalah:
a. Anak didik dapat mengamati kenyataan-kenyataan yang beraneka ragam dari dekat.
b. Anak didik dapat menghayati pengalaman-pengalaman baru dengan mencoba turut
serta di dalam suatu kegiatan.
c. Anak didik dapat menjawab masalah-masalah atau pernyataan-pernyaatan dengan
melihat, mendengar, mencoba dan membuktikan secara langsung.
d. Anak didik dapat memperoleh informasi dengan jalan mengadakan wawancara atau
mendengar ceramah yang diberikan selama kegiatan pembelajaran berlangsung.
e. Anak didik dapat mempelajari sesuatu secara intensif dan komprehensif.
Menurut Syaiful Sagala (2006: 215) mengemukakan bahwa kekurangan metode karya
wisata adalah:
a. Memerlukan persiapan oleh banyak pihak.
b. Jika karya wisata sering dilakukan akan emnggangu kelancaran pelaksanaan
pembelajaran, apalagi jika tempat-tempat yang dikunjungi jauh dari sekolah.
c. Kadang-kadang terjadi kesulitan dalam pengangkutan.
d. Jika tempat yang dikunjungi itu sukar untuk diamati, akibatnya siswa menjadi bingung
dan tidak akan mencapai tujuan yang diharapkan.
e. Memerlukan pengawasan yang tepat.
f. Memerlukan biaya yang relatif tinggi.

10
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pembelajaran yang kreatif tidak akan terlepas dari cara atau metode mengajar yang
diterapkan oleh seorang guru. Metode karya wisata berguna bagi siswa dalam memahami
kehidupan riil beserta segala masalahnya. Karya wisata juga merupakan metode yang
menekankan pada pemahaman dan pengembangan pada sejumlah pengetahuan tertentu pada
diri siswa agar mereka mampu memproses informasi sehingga ditemukan pengetahuan yang
baru yang bermanfaat. Baik berupa fakta maupun nilai apresiasi. Sehingga siswa dapat mudah
menguasai materi pelajaran yang diajarkan oleh guru. Keberadaan dari situs Istana
Asserayyah Al-Hasyimiyah bisa dijadikan sebagai sumber sejarah lokal khususnya daerah
Riau dan juga bisa dimanfaatkan sebagai sumber belajar pembelajaran sejarah Indonesia
terkait materi kerajaan Islam di pulau Sumatera. Penerapan metode karya wisata ke Istana
Asserayyah Al-Hasyimiah dalam pembelajaran sejarah antara lain dengan cara mengunjungi
Istana Asserayyah Al-Hasyimiyah yang terletak di hulu sungai Siak, sekitar 120 km dari kota
Pekanbaru. Nama lain Istana Asserayyah Al-Hasyimiyan ini adalah Istana Matahari Timur.
Istana sultan Siak ini tampil dalam arsitektur gaya Eropa dan Arab yang dipadukan dengan
arsitektur Melayu tradisional (Mazuki, 2009: 43). Penerapan metode karya wisata ke Istana
Asserayyah Al-Hasyimiyah ini diharapkan berguna untuk menambah pengetahuan siswa.
Penerapan metode karya wisata ini selaras dengan prinsip-prinsip dalam pengajaran
IPS/Sejarah. Dalam setiap metode pembelajaran pasti ada kelbihan dan keurangan dari tiap
metode. Tidak ada metode yang paling baik dan tidak ada metode yang paling buruk.

3.2 Saran
Semoga makalah ini dapat memberikan sebuah informasi kepada para pendidik terkait
penerapan metode karya wisata terlebih lagi khusus untuk wilayah daerah Riau.

11
DAFTAR RUJUKAN

Bahri, Saiful. 2012. Peningkatan Kemampuan Menilus Puisi Dengan Metode Karya Wisata
Siswa Kelas VII-A MTs Wahid Hasyim Balung-Jember Tahun Pelajaran 2011/2012.
1 (1). (Online),
(http://jurnalonline.um.ac.id/data/artikel/artikelF78BCA502D8AE2F2
5E929693F71A3EED.pdf), diakses 28 Januari 2017.
Hasnawati, Noviana. 2012. Perbedaan Hasil Belajar IPS Sejarah Antara Siswa Yang Diajar
Dengan Menggunakan Metode Karyawisata Dan Metode Konvensional Di Kelas VII
MTs Sunan Kalijogo Malang. Malang: Universitas Negeri Malang (Online),
(http://jurnal-
online.um.ac.id/data/artikel/artikel6E2EADB0C9FE1183C03DBCD53FD215F7.pdf)
, diakses 28 Januari 2017.
Isjoni, dkk. 2007. Pembelajaran Visioner Perpaduan Indonesia-Malaysia. Yogyakarta:

Pustaka Pelajar.

KBBI. 2001 Jakarta: Balai Pustaka.


Marzuki, N. 2008. Mengenal Lebih Dekat: Bangunan Bersejarah Indonesia. Jakarta: Pacu

Minat Baca.

Meliyawati. 2016. Pemahaman Dasar Membaca. Yogyakarta: Deepublish.

Mulyasa, E. 2006. Menjadi Guru Professional Menciptakan Pembelajaran Kreatif Dan

Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Prayitno. 2009. Dasar Teori Dan Praksis Pendidikan. Jakarta: Grasindo.

Roza. Elya. 2005. Sumbangan Kerajaan Siak Sri Indrapura Dalam Mempertahankan

Kemerdekaan: Suatu Refleksi Historis. Siak: Pemerintah Kabupaten Siak Dinas

Pariwisata Seni Budaya Pemuda Dan Olah Raga.

Sumar, Tune & Razak, Abdul. 2016. Strategi Pembelajaran Dalam Kurikulum Berbasis Soft

Skill. Yogyakarta: Deepublish.

Syaiful, Sagala. 2006. Konsep Dan Makna Pembelajaran. Bandung: CV. Alfabeta.

Suyanto, dan Jihad. 2013. Menjadi Guru Profesional: Strategi Meningkatkan Kualifikasi Dan

Kualitas Guru Di Era Global. Jakarta: Erlangga.


12
13