Anda di halaman 1dari 13

Tuli pada Telinga Kiri Akibat Bising

Johanes Romandy N Wawin


102012064
Kelompok F5
Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No. 6, Jakarta Barat
Johanesromandi@yahoo.co.id

Pendahuluan
Latar Belakang
Kemajuan teknologi terjadi di berbagai bidang dalam kehidupan manusia,
tidak terkecuali di bidang industry. Dalam industri, keutuhan faal pendengaran
menajadi sesuatu yang cukup mendapat perhatian serius. Bising industri sudah lama
merupakan masalah yang sampai sekarang belum bisa ditanggulangi secara baik
sehingga dapat menjadi ancaman serius bagi pendengaran para pekerja, karena dapat
menyebabkan kehilangan pendengaran yang sifatnya permanen.
Gangguan pendengaran akibat bising (noise induced hearing loss / NIHL)
adalah tuli akibat terpapar oleh bising yang cukup keras dalam jangka waktu yang
cukup lama dan biasanya diakibatkan oleh bising lingkungan kerja. Secara umum
bising adalah bunyi yang tidak diinginkan. Banyak hal yang mempermudah seseorang
menjadi tuli akibat terpapar bising antara lain intensitas bising yang lebih tinggi,
berfrekuensi tinggi, lebih lama terpapar bising, kepekaan individu dan faktor lain
yang dapat menimbulkan ketulian.

Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana cara
menentukan diagnosis okupasi terkait dengan skenario yang dilakukan melalui
beberapa tahap sehingga bisa disimpulkan apakah penyakit tersebut berhubungan
dengan pekerjaan atau tidak berhubungan dengan pekerjaannya.
Isi
Skenario 8.
Seorang laki-laki, usia 45 tahun datang ke balai UKK (Upaya Kesehatan Kerja)
dengan keluhan pendengaran yang menurun pada telinga kiri, sejak 1 bulan yang lalu.

1 | Page
Kedokteran Okupasi
Kedokteran okupasi adalah cabang dari kedokteran komunitas yang
memberikan perhatian khusus kepada komunitas pekerja. Kedokteran okupasi
melakukan intervensi kesehatan yang ditujukan kepada para pekerja dan lingkungan
kerjanya, yang bersifat pencegahan primer (health promotion, specific protection),
sekunder (early detection and prompt treatment), dan tersier (disability limitation,
rehabilitation, prevention of premature death). Kedokteran okupasi atau kedokteran
kerja juga dikenal dengan nama hiperkes medis.1
Kedokteran okupasi melakukan penilaian tentang berbagai risiko dan bahaya (hazard)
di tempat kerja bagi kesehatan pekerja, dan menerapkan upaya pencegahan penyakit
dan cedera, serta meningkatkan kesehatan populasi pekerja. Dokter okupasi
melakukan upaya menurunkan risiko, mencegah terjadinya penyakit dan cedera akibat
kerja, dengan menerapkan ventilasi setempat, penggunaan peralatan protektif
perorangan, perubahan cara bekerja, dan vaksinasi. Dokter okupasi juga melakukan
pencegahan tersier, yakni melakukan upaya pelayanan medis perorangan pasca
penyakit untuk membatasi kecacatan, disfungsi sisa, dan kematian, melakukan
rehabilitasi, dan mencegah rekurensi penyakit, untuk memulihkan dan meningkatkan
derajat kesehatan masing-masing pekerja.1
Selain itu, dokter okupasi juga memberikan pelayanan medis langsung kepada
pekerja yang sakit. Dokter okupasi menaksir besarnya masalah dan memberikan
pelayanan kuratif untuk mengatasi masalah penyakit yang dialami pekerja. Dokter
okupasi melakukan penatalaksanaan medis terhadap gangguan-gangguan penyakit
penting yang berhubungan dengan pekerjaan, mencakup pernapasan, kulit, luka bakar,
kontak dengan agen fisik atau kimia, keracunan, dan sebagainya. Dokter okupasi
menganalisis absensi pekerja, dan menghubungkannya dengan faktor-faktor
penyebab.1
Semua kegiatan kedokteran okupasi tersebut ditujukan untuk melindungi,
memelihara, dan meningkatkan derajat kesehatan pekerja. Derajat kesehatan yang
optimal memberikan kontribusi bagi kinerja perusahaan, seperti produktivitas, laba
(profitability), dan kelangsungan hidup (survival).1

Diagnosis Okupasi

2 | Page
Diagnosis okupasi ditentukan oleh dokter okupasi. Dalam menentukan
diagnosis okupasi, ada 7 hal yang harus diperhatikan, antara lain :
Diagnosis klinis
Pajanan yang dialami
Hubungan pajanan dengan diagnosis klinis
Jumlah pajanan yang dialami
Peranan faktor individu (genetic, dll)
Faktor lain diluar pekerjaan
Diagnosis penyakit akibat kerja (PAK) atau bukan PAK

Diagnosis Klinis
Untuk dapat menentukan diagnosis klinis, dokter harus melakukan
serangkaian anamnesis dan pemeriksaan terkait dengan kasus.
Anamnesis
- Identitas : Nama, tempat tinggal, pekerjaan, usia, dst.
Pada skenario : Pasien bekerja di pabrik mobil di bagian perakitan. Pasien
sudah bekerja selama 5 tahun. Selama bekerja pasien tidak menggunakan alat
pelindung diri (APD) berupa ear plug.
- Keluhan Utama : Pendengaran menurun sejak 1 bulan lalu, yang
sesungguhnya sudah dirasakan sejak 3 tahun yang lalu dan dirasakan semakin
berat.
- Riwayat pengobatan : Pasien sudah berobat ke puskesmas namun keluhan
tidak menghilang

Pemeriksaan Fisik
- TTV : Dalam batas normal
- Pemeriksaan telinga : Tidak ada nyeri, tidak ada cairan yang keluar dari
telinga, dan tidak ada kebiasaan korek telinga.

Pemeriksaan Penunjang
- Tes dengan garpu tala ( tes rinne, weber, dan swabach ), audiometri nada
murni, speech audiometri, timpanometri, evoked response audiometry.

Pemeriksaan pada Tempat Kerja


- UKK melakukan pengecekan pada tempat kerja pasien dan melakukan tes
pada intensitas bunyi di tempat kerja tersebut dan didapatkan hasil 100 dB.
3 | Page
Pajanan yang Dialami
Bising adalah suara atau bunyi yang mengganggu atau tidak dikehendaki. Dari
definisi ini menunjukkan bahwa sebenarnya bising itu sangat subyektif, tergantung
dari masing-masing individu, waktu dan tempat terjadinya bising. Sedangkan secara
audiologi, bising adalah campuran bunyi nada murni dengan berbagai frekwensi.2
Bising industri sudah lama merupakan masalah yang sampai sekarang belum
bisa ditanggulangi secara baik sehingga dapat menjadi ancaman serius bagi
pendengaran para pekerja, karena dapat menyebabkan kehilangan pendengaran yang
sifatnya permanen. Sedangkan bagi pihak industri, bising dapat menyebabkan
kerugian ekonomi karena biaya ganti rugi.2
Bising dapat diklasifikasikan menjadi :3,4
1. Bising kontinu
Jenis bising ini adalah bising yang terdengar secara terus-menerus
Contoh : Berada dalam/pesawat helikopter, mendengar gergaji sirkuler, suara mesin,
kipas angin.
2. Bising terputus-putus
Bising jenis ini sering disebut juga intermittent noise, yaitu kebisingan tidak
berlangsung terus menerus, melainkan ada periode relatif tenang.
Contoh : Suara lalu lintas, kebisingan di lapangan terbang.
3. Bising impulsive
Bising jenis ini memiliki perubahan tekanan suara melebihi 40 dB dalam waktu
sangat cepat dan biasanya me-ngejutkan pendengarnya.
Contoh : Suara ledakan mercon, tembakan, meriam.

Hubungan Pajanan dengan Diagnosis Klinis


Perubahan ambang dengar tergantung pada frekwensi bunyi, intensitas dan
lama waktu paparan. Adapun efek yang ditimbulkan dapat berupa:4
Adaptasi

4 | Page
Bila telinga terpapar oleh kebisingan, mula-mula telinga akan merasa terganggu oleh
kebisingan tersebut, tetapi lama-kelamaan telinga tidak merasa terganggu lagi karena
suara terasa tidak begitu keras seperti pada awal pemaparan.
Peningkatan ambang dengar sementara
Terjadi kenaikan ambang pendengaran sementara yang secara perlahan-lahan akan
kembali seperti semula. Keadaan ini berlangsung beberapa menit sampai beberapa
jam bahkan sampai beberapa minggu setelah pemaparan. Kenaikan ambang
pendengaran sementara ini mula-mula terjadi pada frekwensi 4000 Hz, tetapi bila
pemaparan berlangsung lama maka kenaikan nilai ambang pendengaran sementara
akan menyebar pada frekwensi sekitarnya. Makin tinggi intensitas dan lama waktu
pemaparan makin besar perubahan nilai ambang pendengarannya. Respon tiap
individu terhadap kebisingan tidak sama tergantung dari sensitivitas masing-masing
individu.
Peningkatan ambang dengar menetap
Kenaikan terjadi setelah seseorang cukup lama terpapar kebisingan, terutama terjadi
pada frekwensi 4000 Hz. Gangguan ini paling banyak ditemukan dan bersifat
permanen, tidak dapat disembuhkan . Kenaikan ambang pendengaran yang menetap
dapat terjadi setelah 3,5 sampai 20 tahun terjadi pemaparan, ada yang mengatakan
baru setelah 10-15 tahun setelah terjadi pemaparan. Penderita mungkin tidak
menyadari bahwa pendengarannya telah berkurang dan baru diketahui setelah
dilakukan pemeriksaan audiogram.

Selain efek yang ditimbulkan di atas, aka nada beberapa gangguan yang
dialami pasien yang secara terus-menerus terpapar kebisingan. Gangguan tersebut
terbagi menjadi gangguan yang berhubungan dengan auditori dan gangguan yang non
auditori.5,6
o Gangguan fisiologis
Pada umumnya, bising bernada tinggi sangat mengganggu, apalagi bila terputus-putus
atau yang datangnya tiba-tiba. Gangguan dapat berupa peningkatan tekanan darah (
10 mmHg), peningkatan nadi, konstriksi pembuluh darah perifer terutama pada tangan
dan kaki, serta dapat menyebabkan pucat dan gangguan sensoris.

5 | Page
o Gangguan psikologis
Gangguan psikologis dapat berupa rasa tidak nyaman, kurang konsentrasi, susah tidur,
cepat marah. Bila kebisingan diterima dalam waktu lama dapat menyebabkan
penyakit psikosomatik berupa gastritis, stres, kelelahan, dan lain-lain.
o Gangguan komunikasi
Gangguan komunikasi biasanya disebabkan masking effect (bunyi yang menutupi
pendengaran yang jelas) atau gangguan kejelasan suara. Komunikasi pembicaraan
harus dilakukan dengan cara berteriak. Gangguan ini bisa menyebabkan ter-
ganggunya pekerjaan, sampai pada kemungkinan terjadinya kesalahan karena tidak
mendengar isyarat atau tanda bahaya. Gangguan komunikasi ini secara tidak langsung
membahayakan keselamatan tenaga kerja.
o Gangguan keseimbangan
Bising yang sangat tinggi dapat menyebabkan kesan berjalan di ruang angkasa atau
melayang, yang dapat me-nimbulkan gangguan fisiologis berupa kepala pusing
(vertigo) atau mual-mual.
o Efek pada pendengaran
Efek pada pendengaran adalah gangguan paling serius karena dapat menyebabkan
ketulian. Ketulian bersifat progresif. Pada awalnya bersifat sementara (Temporary
Treshold Shift) dan akan segera pulih kembali bila menghindar dari sumber bising.
Namun bila terus menerus bekerja di tempat bising, daya dengar akan hilang secara
menetap (Permanent Temporaly Shift ) dan tidak akan pulih kembali

Jumlah Pajanan yang Dialami


Untuk mengetahui jumlah pajanan yang dialami oleh pasien, seorang dokter
terlebih dahulu harus mengetahui patofisiologi dari terjadinya tuli akibat bising dan
juga bukti epidemiologi yang memperkuat diagnosis. Selain itu, seorang dokter juga
dapat memperoleh melalu data kualitatif berupa keterangan mengenai cara kerja,
proses kerja, lingkungan kerja, masa kerja, dan apakah pasien menggunakan alat
pelindung diri selama bekerja.7
Patofisiologi
Telah diketahui secara umum bahwa bising menimbulkan kerusakan di telinga
dalam. Lesi yang ditimbulkan sangat bervariasi dari dsosiasi organ corti, rupture
membrane, perubahan stereosilia, dan organel subseluler. Bising juga menimbulkan

6 | Page
efek pada sel ganglion, saraf, membrane tektoria, pembuluh darah, dan stria
vaskularis. Pada observasi kerusakan organ corti dengan mikroskop electron ternyata
bahwa sel-sel sensor dan sel penunjang merupakan bagian yang paling peka di telinga
dalam.8
Jenis kerusakan pada struktur organ tertentu yang ditimbulkan bergantung
pada intensitas, lama pajanan, dan frekuensi bising. Penelitian menggunakan
intensitas bunyi 120 dB dan kualitas bunyi nada murni sampai bising dengan waktu
pajanan 1-4 jam menimbulkan beberapa tingkatan kerusakan sel rambut. Kerusakan
juga dapat dijumpai pada sel penyangga, pembuluh darah, dan serat aferen. Stimulasi
bising dengan intensitas sedang mengakibatkan perubahan ringan pada silia dan
hensens body, sedangkan stimulasi dengan intensitas yang lebih keras dengan waktu
pajanan yang lebih lama akan mengakibatkan kerusakan pada struktur sel rambut lain
seperti mitokondria, granula lisosom, lisis sel, dan robekan di membrane reisner.
Pajanan bunyi dengan efek destruksi yang tidak begitu besar menyebabkan terjadinya
floopy silia yang sebagian masih reversible. Kerusakan silia menetap ditandai
dengan rootlet silia pada lamina retikularis.8

Bukti Epidemiologi
Oetomo, A dkk dalam penelitiannya terhadap 105 karyawan pabrik dengan
intensitas bising antara 79 s/d 100 dB didapati bahwa sebanyak 74 telinga belum
terjadi pergeseran nilai ambang, sedangkan sebanyak 136 telinga telah mengalami
pergeseran nilai ambang dengar, derajat ringan sebanyak 116 telinga ( 55,3% ), derajat
sedang 17 ( 8% ) dan derajat berat 3 ( 1,4% ).
Kamal, A ( 1991 ) melakukan penelitian terhadap pandai besi yang berada di
sekitar kota Medan. Ia mendapatkan sebanyak 92,30 % dari pandai besi tersebut
menderita sangkaan NIHL. Sedangkan Harnita, N ( 1995 ) dalam suatu penelitian
terhadap karyawan pabrik gula mendapati sebanyak 32,2% menderita sangkaan
NIHL.
Lingkungan Kerja
Pasien bekerja di pabrik mobil bagian perakitan dan setelah dilakukan
pengecekan intensitas bunyi, didapatkan hasil 100 dB yang sudah dapat dimasukkan
ke dalam kategori bising.

7 | Page
Alat Pelindung Diri ( APD )
Selama bekerja pasien tidak menggunakan ear plug, yang kondisi ini semakin
memperkuat diagnosis pasien yaitu tuli akibat kebisingan karena pekerjaannya di
pabrik perakitan mobil.

Peranan Faktor Individu


Berhubungan dengan riwayat pendengaran pasien, apakah sebelum bekerja di
pabrik pasien tersebut memang sudah mengalami gangguan pendengaran.

Faktor Lain Diluar Pekerjaan


- Kebiasaan pasien mendengarkan music dengan volume keras
- Pajanan bising diluar pabrik tempat dia bekerja

Diagnosis Okupasi
Setelah meneliti langkah 1 sampai 6 maka di simpulkan diagnosisnya adalah
Noise Induced Hearing Loss atau Tuli Akibat Kerja, karena gangguan pendengaran
yang di alami pasien disebabkan oleh pajanan bising di tempat kerjanya.
Ketulian akibat pengaruh bising ini dikelompokkan sbb:

1. Temporary Threshold Shift = Noise-induced Temporary Threshold Shift =


auditory fatigue = TTS
non-patologis
bersifat sementara
waktu pemulihan bervariasi
reversible/bisa kembali normal
Penderita TTS ini bila diberi cukup istirahat, daya dengarnya akan pulih sempurna.
Untuk suara yang lebih besar dari 85 dB dibutuhkan waktu bebas paparan atau
istirahat 3-7 hari. Bila waktu istirahat tidak cukup dan tenaga kerja kembali terpapar
bising semula, dan keadaan ini berlangsung terus menerus maka ketulian sementara
akan bertambah setiap hari-kemudian menjadi ketulian menetap. Untuk mendiagnosis
TTS perlu dilakukan dua kali audiometri yaitu sebelum dan sesudah tenaga kerja
terpapar bising. Sebelumnya tenaga kerja dijauhkan dari tempat bising sekurangnya
14 jam.

8 | Page
2. Permanent Threshold Shift (PTS) = Tuli menetap
patologis
menetap
PTS terjadi karena paparan yang lama dan terus menerus. Ketulian ini disebut tuli
perseptif atau tuli sensorineural. Penurunan daya dengar terjadi perlahan dan bertahap
sebagai berikut :
Tahap 1 : timbul setelah 10-20 hari terpapar bising, tenaga kerja mengeluh
telinganya berbunyi pada setiap akhir waktu kerja.
Tahap 2 : keluhan telinga berbunyi secara intermiten, sedangkan keluhan
subjektif lainnya menghilang. Tahap ini berlangsung berbulan-bulan sampai
bertahun-tahun.
Tahap 3 : tenaga kerja sudah mulai merasa terjadi gangguan pendengaran
seperti tidak mendengar detak jam, tidak mendengar percakapan terutama bila
ada suara lain.
Tahap 4 : gangguan pendengaran bertambah jelas dan mulai sulit
berkomunikasi. Pada tahap ini nilai ambang pendengaran menurun dan tidak
akan kembali ke nilai ambang semula meskipun diberi istirahat yang cukup.

3. Tuli karena Trauma akustik


Perubahan pendengaran terjadi secara tiba-tiba, karena suara impulsif dengan
intensitas tinggi, seperti letusan, ledakan da lainnya. Diagnosis mudah dibuat karena
penderita dapat mengatakan dengan tepat terjadinya ketulian. Tuli ini biasanya
bersifat akut, tinitus, cepat sembuh secara parsial atau komplit.

Faktor-faktor yang menimbulkan gangguan pendengaran antara lain :


1. Intensitas kebisingan
2. Frekwensi kebisingan
3. Lamanya waktu pemaparan bising
4. Kerentanan individu
5. Jenis kelamin
6. Usia
7. Kelainan di telinga tengah

Tabel 1. Intensitas bising dan waktu yang diperbolehkan.


Intensitas Bunyi Waktu Pajanan / Hari
85 8

9 | Page
88 4
91 2
94 1
97 0,5
100 0,25
103 0,125

Tabel 2. Beberapa intensitas bunyi dan efeknya pada pendengaran

Penatalaksanaan
Sesuai dengan penyebab ketulian, penderita sebaiknya dipindahkan kerjanya
dari lingkungan bising. Bila tidak mungkin dipindahkan dapat dipergunakan alat
pelindung telinga yaitu berupa sumbat telinga ( ear plugs ), tutup telinga ( ear muffs )
dan pelindung kepala ( helmet).8
Oleh karena tuli akibat bising adalah tuli saraf koklea yang bersifat menetap
(irreversible), bila gangguan pendengaran sudah mengakibatkan kesulitan
berkomunikasi dengan volume percakapan biasa, dapat dicoba pemasangan alat bantu

10 | P a g e
dengar ( ABD ). Apabila pendengarannya telah sedemikian buruk, sehingga dengan
memakai ABD pun tidak dapat berkomunikasi dengan adekuat, perlu dilakukan
psikoterapi supaya pasien dapat menerima keadaannya. Latihan pendengaran
(auditory training) juga dapat dilakukan agar pasien dapat menggunakan sisa
pendengaran dengan ABD secara efisien dibantu dengan membaca ucapan bibir (lip
reading), mimik dan gerakan anggota badan serta bahasa isyarat untuk dapat
berkomunikasi.8

Pencegahan
Tujuan utama perlindungan terhadap pendengaran adalah untuk mencegah
terjadinya NIHL yang disebabkan oleh kebisingan di lingkungan kerja. Program ini
terdiri dari 3 bagian yaitu :9
1. Pengukuran pendengaran
Test pendengaran yang harus dilakukan ada 2 macam, yaitu :
Pengukuran pendengaran sebelum diterima bekerja.
Pengukuran pendengaran secara periodik.

2. Pengendalian suara bising


Dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu :
Melindungi telinga para pekerja secara langsung dengan memakai ear muff
( tutup telinga), ear plugs ( sumbat telinga ) dan helmet ( pelindung kepala ).
Mengendalikan suara bising dari sumbernya, dapat dilakukan dengan cara :
memasang peredam suara
menempatkan suara bising ( mesin ) didalam suatu ruangan yang terpisah dari
pekerja

3.Analisa bising
Analisa bising ini dikerjakan dengan jalan menilai intensitas bising, frekwensi bising,
lama dan distribusi pemaparan serta waktu total pemaparan bising. Alat utama dalam
pengukuran kebisingan adalah sound level meter .

Program pencegahan di bidang kedokteran okupasi terbagi menjadi 5, yaitu :


- Eliminasi

11 | P a g e
Eliminasi ini berarti menghilangkan alat produksi yang bisingnya tinggi. Namun,
apabila memang tidak dapat di eliminasi, berarti dokter harus mengusulkan untu
dilakukan substitusi alat produksi tersebut.
- Substitusi
Substitusi ini berarti pengganti alat produksi yang tingkat bisingnya tinggi menjadi
alat produksi yang tingkat bisingnya lebih rendah.
- Rekayasa Teknis
Rekaya teknis ini berarti mengusahakan agar transmisi bising ini dapat diredam
- Rekayasa administrative
Rekayasa administrative ini dapat diusahakan dalam bentuk pengaturan jadwal
produksi, rotasi tenaga kerja, ataupun penjadwalan pengoperasian mesin sehingga
mesin tidak dinyalakan secara terus-menerus
- Alat Pelindung Diri
Penggunaan alat pelindung diri ( APD ) ini adalah cara terakhir ketika 4 cara diatas
tidak dapat diusahakan. Penggunaan APD ini juga harus memenuhi syarat-syarat
seperti harus dapat menutupi seluruh liang telinga dan harus nyaman digunakan. APD
ini dapat berupa ear plug, ear muff, dan helmet.

Tabel 3. Pedoman penggunaan APD


Intensitas (dB) Pemakaian APD
< 85 Tidak wajib
85-89 Optional
90-94 Wajib
95-99 Wajib
>100 Wajib

Penutup
Kesimpulan
Bising dengan frekuensi dan intensitas tertentu dapat menimbulkan gangguan
pendengaran apabila terpajan secara terus-menerus. Pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan audiometri secara berkala sangat diperlukan untuk tenaga kerja yang
terutama bekerja pada tempat bising untuk mencegah terjadinya gangguan
pendengaran. Oleh karena jenis ketulian akibat terpapar bising adalah tuli saraf koklea

12 | P a g e
yang sifatnya menetap dan tidak dapat diobati secara medikamentosa ataupun
pembedahan, maka yang terpenting dilakukan adalah pencegahan terjadinya ketulian.
Penatalaksanaan pada tenaga kerja yang sudah mengalami gangguan pendengaran
hanyalah dengan menggunakan alat bantu dengar untuk membantunya tetap dapat
berkomunikasi. Sedangkan untuk pencegahan yang bisa dilakukan oleh tenaga kerja
yang bekerja pada tempat bising adalah dengan menggunakan ear plug, ear muff, dan
juga penggunaan helmet.

Daftar Pustaka
1. Agius R, Seaton A. Practical Occupational Medicine. 2nd edition. Oxford
University. 2005. p. 1-12
2. Jeyaratnam J, Koh D. Praktik kedokteran kerja. EGC. Jakarta. 2010. h. 237-42
3. Gabriel JF. Fisika kedokteran. EGC. Jakarta. 2006. h. 89-95
4. Latifah NL. Fisika bangunan dan kebisingan dalam industri. Griya Kreasi
Penebar Swadaya. Jakarta. 2015. h. 243-51
5. Moore GF, Ogren FP, Yonkers AJ. Anatomy and embryology of the ear. Dalam
: Lee KJ, Ed. Textbook of otolaryngology and head and neck surgery. New
York : Elsevier Science Publishing. 2009. p.10-20
6. Handoko Y. Penyakit akibat pajanan fisik. FK Ukrida. Jakarta. 2015. h. 139-44
7. Hudyono J. Langkah menentukan diagnosis penyakit akibat kerja. FK Ukrida.
Jakarta. 2015. h. 11-2
8. Bashiruddin J, Soetirto I. Gangguan pendengaran akibat bising. Edisi Ketujuh.
Badan Peneribit FKUI. Jakarta. 2012. h. 42-5
9. Oedono RMT. Penatalaksanaan penyakit akibat lingkungan kerja dibidang
THT. Batu-Malang. 2006.

13 | P a g e