Anda di halaman 1dari 9

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Laporan Keuangan


PSAK 1 (Penyajian Laporan Keuangan) menyebutkan bahwa, laporan keuangan
adalah suatu penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu
entitas. Laporan keuangan merupakan bagian dari proses laporan keuangan. Laporan
keuangan yang lengkap biasanya meliputi laporan posisi keuangan, laporan laba rugi
komprehensif, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, catatan atas laporan
keuangan, serta laporan posisi keuangan pada awal periode.
Tujuan laporan keuangan menurut PSAK No. 1 Paragraf 7 (Revisi 2009) adalah
menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan
posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam
pengambilan keputusan ekonomi. Para pemakai laporan akan menggunakannya untuk
meramalkan, membandingkan, dan menilai dampak keuangan yang timbul dari
keputusan ekonomis yang diambilnya. Beberapa tujuan laporan keuangan dari berbagai
sumber dapat disimpulkan bahwa:
a. Informasi posisi laporan keuangan yang dihasilkan dari kinerja dan aset perusahaan
sangat dibutuhkan oleh para pemakai laporan keuangan, sebagai bahan evaluasi dan
perbandingan untuk melihat dampak keuangan yang timbul dari keputusan ekonomis
yang diambilnya.
b. Informasi keuangan perusahaan diperlukan juga untuk menilai dan meramalkan
apakah perusahaan di masa sekarang dan di masa yang akan datang sehingga akan
menghasilkan keuntungan yang sama atau lebih menguntungkan.
c. Informasi perubahan posisi keuangan perusahaan bermanfaat untuk menilai aktivitas
investasi, pendanaan dan operasi perusahaan selama periode tertentu. Selain untuk
menilai kemampuan perusahaan, laporan keuangan juga bertujuan sebagai bahan
pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi.

2.2 Analisis Laporan Keuangan


Analisis laporan keuangan merupakan proses untuk mempelajari data-data
keuangan agar dapat dipahami dengan mudah untuk mengetahui posisi keuangan, hasil
operasi dan perkembangan suatu perusahaan dengan cara mempelajari hubungan data
keuangan serta kecenderungannya terdapat dalam suatu laporan keuangan, sehingga
analisis laporan keuangan dapat dijadikan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan
bagi pihak-pihak yang berkepentingan dan juga dalam melakukan analisisnya tidak
akan lepas dari peranan rasio-rasio laporan keuangan, dengan melakukan analisis
terhadap rasio-rasio keuangan akan dapat menentukan suatu keputusan yang akan
diambil. Kegunaan dari analisis laporan keuangan adalah:
a. Dapat memberikan informasi yang lebih luas, lebih dalam daripada yang terdapat
dari laporan keuangan biasa.
b. Dapat menggali informasi yang tidak tampak secara kasat mata (explicit) dari suatu
laporan keuangan atau yang berada di balik laporan keuangan (implicit).
c. Dapat mengetahui kesalahan yang terkandung dalam laporan keuangan.
d. Dapat membongkar hal-hal yang bersifat tidak konsisten dalam hubungannya
dengan suatu laporan keuangan baik dikaitkan dengan komponen intern maupun
kaitannya dengan informasi yang diperoleh dari luar perusahaan.
e. Mengetahui sifat-sifat hubungan yang akhirnya dapat melahirkan model-model dan
teori-teori yang terdapat di lapangan seperti untuk prediksi, peningkatan.
f. Dapat memberikan informasi yang diinginkan oleh para pengambil keputusan.
g. Dapat menentukan peringkat (rating) perusahaan menurut kriteria tertentu yang
sudah dikenal dalam dunia bisnis.
Analisis laporan keuangan merupakan alat yang sangat penting untuk
memperoleh informasi sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil-hasil yang telah
dicapai perusahaan yang bersangkutan. Data keuangan tersebut akan lebih berarti bagi
pihak-pihak yang berkepentingan apabila data tersebut diperbandingkan untuk dua
periode atau lebih, dan dianalisa lebih lanjut sehingga akan dapat diperoleh data yang
akan dapat mendukung keputusan yang akan diambil. Tujuan dari analisis laporan
keuangan adalah:
a. Untuk mengetahui posisi keuangan perusahaan dalam satu periode tertentu, baik
aset, kewajiban, ekuitas, maupun hasil usaha yang telah dicapai untuk beberapa
periode.
b. Untuk mengetahui kelemahan-kelemahan apa saja yang menjadi kekurangan
perusahaan.
c. Untuk mengetahui kekuatan-kekuatan yang dimiliki.
d. Untuk mengetahui langkah-langkah perbaikan apa saja yang perlu dilakukan ke
depan berkaitan dengan posisi keuangan perusahaan saat ini.
e. Untuk melakukan penilaian kinerja manajemen ke depan apakah perlu penyegaran
atau tidak karena sudah dianggap berhasil atau gagal.
f. Dapat juga digunakan sebagai pembanding dengan perusahaan sejenis tentang hasil
yang mereka capai.
2.3 Teknik Analisis Laporan Keuangan
Secara umum, metode analisis laporan keuangan dapat diklasifikasikan menjadi
dua kelompok, yaitu metode analisis horizontal dan vertical. Metode dan teknik analisis
manapun yang digunakan, pada dasarnya bertujuan sama yaitu untuk memperjelas dan
mempermudah dalam membaca dan menginterpretasikan laporan keuangan yang
disajikan oleh manajemen perusahaan sehingga dapat digunakan sebagai dasar
pengambilan keputusan bagi pihak-pihak yang membutuhkan.
1. Metode analisis horizontal (dinamis) adalah metode analisis yang dilakukan
dengan cara membandingkan laporan keuangan untuk beberapa periode sehingga
dapat diketahui perkembangan dan kecenderungannya. Disebut Metode Horizontal
karena analisis ini membandingkan pos yang sama untuk beberapa periode yang
berbeda. Disebut Analisis Dinamis karena metode ini bergerak dari tahun ke tahun
(periode). Teknik analisis yang dapat digunakan antara lain :
a. Analisis Perbandingan, yaitu teknik analisis yang dilakukan dengan cara
membandingkan laporan keuangan untuk dua periode atau lebih. Teknik ini
merupakan teknik analisis laporan keuangan yang dilakukan dengan cara
menyajikan laporan keuangan secara horizontal dan membandingkan antara satu
dengan yang lain, dengan menunjukkan informasi keuangan atau data lainnya
baik dalam rupiah atau dalam unit. Teknik perbandingan ini juga dapat
menunjukkan kenaikan dan penurunan dalam rupiah atau unit dan juga dalam
presentase atau perbandingan dalam bentuk angka perbandingan atau rasio.
Tujuan analisis perbandingan ini adalah untuk mengetahui perubahan-perubahan
berupa kenaikan atau penurunan akun-akun laporan keuangan atau data lainnya
dalam dua atau lebih periode yang dibandingkan. Perbandingan antar pos laporan
keuangan dapat dilakukan melalui: perbandingan dalam dua atau beberapa tahun
(horizontal), perbandingan dengan perusahaan yang dianggap terbaik, ataupun
perbandingan dengan budget (anggaran).
b. Analisis Trend (indeks), yaitu teknik analisis untuk mengetahui tendensi
(kecenderungan) dari keadaan/posisi keuangan dan kinerja, apakah menunjukkan
tendensi tetap, menurun atau naik. Trend analysis ini biasanya dibuat melalui
grafik dan untuk itu perlu dibantu oleh pengetahuan statistik misalnya
menggunakan linear programming , rumus chi square, rumus y = a + bx.
c. Analisis Sumber Dan Penggunaan Dana (modal kerja atau kas), yaitu teknik
analisis yang digunakan untuk mengetahui sumber dan alokasi dana, serta faktor-
faktor yang mempengaruhi perubahannya.
d. Analisis Perubahan Laba Kotor, yaitu teknik analisis yang digunakan untuk :
mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan perubahan laba kotor yang dicapai
perusahaan dari periode ke periode, dan mengetahui tingkat laba kotor yang
dicapai dalam satu periode tertentu dibandingkan dengan anggaran yang telah
ditetapkan.
2. Metode analisis vertikal (statis) adalah metode analisis yang dilakukan dengan
cara menganalisis laporan keuangan pada satu periode tertentu dengan
membandingkan antara pos yang satu dengan pos yang lainnya pada laporan
keuangan yang sama. Disebut metode statis karena metode ini hanya
membandingkan pos-pos laporan keuangan pada periode yang sama. Disebut
analisis vertikal karena membandingkan antara pos yang satu dengan pos yang
lainnya pada laporan keuangan yang sama. Teknik analisis yang dapat digunakan
antara lain:
a. Analisis Persentase Perkomponen (Common Size), yaitu analisis yang digunakan
untuk mengetahui persentase investasi pada masing-masing aktiva terhadap total
aktivanya, struktur permodalannya, dan komposisi pembiayaan yang terjadi
dihubungkan dengan penjualannya.
b. Analisis Rasio, yaitu analisis yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara
pos-pos tertentu dalam Neraca atau Laporan Laba/Rugi (Perhitungan Hasil
Usaha) baik secara individual, maupun kombinasi dari kedua laporan tersebut.
c. Analisis Impas, yaitu analisis yang digunakan untuk menentukan tingkat
penjualan yang harus dicapai oleh perusahaan/koperasi agar perusahaan tidak
mengalami kerugian, tetapi juga belum memperoleh keuntungan. Dengan analisis
ini dapat diketahui tingkat penjualan minimal yang harus dicapai agar tidak rugi,
tingkat penjualan terendah utnuk mengambil keputusan menutup atau
meneruskan usaha, margin pengaman untuk mempertahankan tingkat keuntungan
tertentu, atau pun leverage operasi untuk mengetahui kemampuan bersaing dari
perusahaan/koperasi atas pesaingnya.

2.4 Kinerja Keuangan Perusahaan


Kinerja keuangan perusahaan merupakan satu diantara dasar penilaian mengenai
kondisi keuangan perusahaan yang dilakukan berdasarkan analisa terhadap rasio
keuangan perusahaan. Pihak yang berkepentingan sangat memerlukan hasil dari
pengukuran kinerja keuangan perusahaan untuk dapat melihat kondisi perusahaan dan
tingkat keberhasilan perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasionalnya. Pada
umumnya, kinerja keuangan perusahaan dikategorikan baik jika besarnya rasio
keuangan perusahaan bernilai sama dengan atau di atas standar rasio keuangan.
Pengukuran kinerja keuangan perusahaan mempunyai beberapa tujuan diantaranya:
a. Untuk mengetahui tingkat likuiditas, yaitu kemampuan perusahaan dalam memenuhi
kewajiban keuangannya yang harus segera dipenuhi pada saat ditagih.
b. Untuk mengetahui tingkat solvabilitas, yaitu kemampuan perusahaan dalam
memenuhi kewajiban keuangannya apabila perusahaan tersebut dilikuidasi.
c. Untuk mengetahui tingkat profitabilitas, yaitu kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan laba selama periode tertentu yang dibandingkan dengan penggunaan
aset atau ekuitas secara produktif.
d. Untuk mengetahui tingkat aktivitas usaha, yaitu kemampuan perusahaan dalam
menjalankan dan mempertahankan usahanya agar tetap stabil, yang diukur dari
kemampuan perusahaan dalam membayar pokok utang dan beban bunga tepat
waktu, serta pembayaran dividen secara teratur kepada para pemegang saham tanpa
mengalami kesulitan atau krisis keuangan.

2.5 Analisis Rasio Keuangan


Rasio menggambarkan suatu hubungan antara suatu jumlah tertentu dengan
jumlah lain, dan dengan menggunakan alat analisis berupa rasio yang akan menjelaskan
atau menggambarkan kepada penganalisa baik atau buruknya keadaan posisi keuangan
suatu perusahaan. Umumnya rasio dapat dikelompokkan dalam 4 (empat) tipe dasar,
yaitu :
a. Rasio Likuiditas, adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan untuk
memenuhi kewajiban finansial jangka pendeknya. Untuk dapat memenuhi
kewajibannya yang sewaktu-waktu ini, maka perusahaan harus mempunyai alat-alat
untuk membayar yang berupa aset-aset lancar yang jumlahnya harus jauh lebih besar
dari pada kewajiban-kewajiban yang harus segera dibayar berupa kewajiban-
kewajiban lancar.
1) Rasio Lancar atau Current Ratio. Rasio lancar menunjukkan kemampuan untuk
membayar kewajiban yang segera harus dipenuhi dengan aktiva lancar. Apabila

Current ratio = (Aktiva lancar / Hutang Lancar ) x 100%


rasio lancar ini 1 : 1 atau 100 %, berarti aktiva lancar dapat menutupi semua
hutang lancar.

2) Rasio Cepat (Quick ratio). Rasio ini menunjukan kemampuan aktiva lancar yang
paling likuid mampu menutupi hutang lancar. Semakin besar rasio ini maka
semakin baik, rasio ini disebut juga dengan acid test ratio.

Current ratio = (Aktiva lancar Persediaan) / Hutang Lancar ) x 100%


3) Rasio Kas. Rasio ini menunjukan porsi jumlah kas yang dapat menutupi hutang
lancar.

Cash ratio = (Kas / Hutang Lancar ) x 100%

b. Rasio Solvabilitas, adalah rasio yang mengukur seberapa jauh perusahaan dibelanjai
dengan hutang. Setiap penggunaan utang oleh perusahaan akan berpengaruh
terhadap rasio dan pengembalian. Rasio ini dapat digunakan untuk melihat seberapa
resiko keuangan perusahaan.
1) Rasio Hutang Ekuitas (Total Debt to Equity Ratio). Rasio ini menggambarkan
sampai sejauh mana modal pemilik dapat menutupi hutang-hutang kepada
pihak luar. Semakin kecil rasio ini semakin baik.

Total Debt to Equity Ratio = Total Hutang / Total Ekuitas x 100%


2) Rasio Total Hutang (Total Debt to Assets Ratio). Rasio ini menunjukan sejauh
mana seluruh hutang dapat ditutupi oleh seluruh aktiva, lebih besar rasionya maka
lebih aman, supaya aman porsi hutang terhadap aktiva harus lebih kecil. Rasio ini
untuk mengukur seberapa besar perusahaan dibiayai oleh kreditur dibandingkan
dengan equity.

Total Debt to Assets Ratio = Total Hutang / Total Aktiva x 100%

c. Rasio Aktivitas adalah rasio yang mengukur seberapa efektif perusahaan


menggunakan sumber dananya. Rasio aktivitas menggambarkan aktivitas yang
dilakukan perusahaan dalam menjalankan operasinya baik dalam kegiatan penjualan,
pembelian, dan kegiatan lainnya. Rasio ini dinyatakan sebagai perbandingan
penjualan dengan berbagai elemen aset. Elemen aset sebagai pengguna dana
seharusnya bisa dikendalikan agar bisa dimanfaatkan secara optimal. Semakin
efektif dalam memanfaatkan dana semakin cepat perputaran dana tersebut, karena
rasio aktivitas umunya diukur dari perputaran masing-masing elemen aset.
1) Receivable Turn Over. Rasio ini menunjukan berapa cepat penagihan piutang.
Semakin besar semakin baik karena penagihan piutang dilakukan dengan cepat.

Receivable Turn Over Ratio = Penjualan / Piutang x 100%

2) Inventory Turn Over. Rasio ini menunjukkan seberapa cepat perputaran


persediaan dalam siklus produksi normal. Semakin besar rasio ini semakin baik
karena dianggap bahwa kegiatan penjualan berjalan cepat.

Inventory Turn Over = HPP / Persediaan x 100%

3) Fixed Asset Turn Over. Rasio ini menunjukkan berapa kali nilai aktiva berputar
jika diukur dari nilai penjualan. Semakin tinggi rasio ini semakin baik artinya
kemamapuan aktiva tetap menciptakan penjualan tinggi. Rasio ini berguna untuk
mengevaluasi seberapa besar tingkat kemampuan perusahaan dalam
memanfaatkan aktivatetap yang dimiliki secara efisien dalam rangka
meningkatkan pendapatan.

4) Total Asset Fixed AssetsRasio


Turn Over. Turnini
Over = Penjualan
menunjukkan / Aktivatotal
perputaran Tetap x 100%
aktiva diukur dari
volume penjualan dengandengan kata lain seberapa jauh kemampuan semua
aktiva menciptakan penjualan. Semakin tinggi rasio ini semakin baik.

Total Assets Turn Over Ratio = Penjualan / Total Aktiva x 100%

d. Rasio Profitabilitas, adalah rasio yang mengukur hasil akhir dari sejumlah
kebijaksanaan dan keputusan-keputusan. Rasio profitabilitas menggambarkan
kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui semua kemampuannya, dan
sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, ekuitas, jumlah karyawan, jumlah
cabang dan sebagainya.
1) Net Profit Margin. Angka ini menunjukkan berapa besar persentase laba bersih
yang diperoleh dari setiap penjualan. Semakin besar rasio ini semakin baik karena
dianggap kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba cukup tinggi.

Net Profit Margin = (EAT / Penjualan ) x 100%


2) Operating Income Ratio. Rasio ini untuk mengukur kemampuan perusahaan
dalam mendapatkan laba operasi sebelum bunga dan pajak dari penjualan.
Operating income ratio = EBIT - HPP / Penjualan x 100%

3) Return On Total Assets. Rasio ini menunjukan berapa besar laba bersih diperoleh
perusahaan bila diukur dari nilai aktiva. Rasio ini mengukur kemampuan seluruh
aset dalam menghasilkan laba.

Return On Total Assets = (EAT / Total Aktiva) x 100%

4) Return On Equity. Rasio ini menunjukan berapa persen diperoleh laba bersih bila
diukur dari modal pemilik. Semakin besar maka akan semakin baik. Rasio ini
mengukur kemampuan modal diinvestasikan dalam menghasilkan laba.

Return On Equity = (EAT / Total Ekuitas) x 100%

2.6 Kepatuhan Entitas


Audit kepatuhan (compliance audit), berkaitan dengan kegiatan memperoleh dan
memeriksa bukti-bukti untuk menetapkan apakah kegiatan keuangan atau operasi suatu
entitas telah sesuai dengan persyaratan ketentuan, atau peraturan tertentu. Audit
kepatuhan/ ketaatan berfungsi menentukan sejauh mana peraturan, kebijakan, hukum,
perjanjian, atau peraturan pemerintah dipatuhi oleh entitas yang sedang diaudit. Sebagai
contoh pemeriksaan SPT individu dan perusahaan oleh kantor pajak untuk
kepatuhannya terhadap hukum pajak. Pengujian ketaatan, auditor melakukan pengujian
ketaatan yang mengkonfirmasikan eksistensi, efektivitas, dan kesinambungan operasi
pengendalian intern yang diandalkan oleh organisasi. Pengujian ketaatan membutuhkan
pemahaman atas pengendalian yang akan di uji, jika pengendalian yang akan di uji
adalah komponen-komponen sistem informasi perusahaan, auditor harus
memperhatikan teknologi yang harus digunakan oleh sistem informasi. Ini
membutuhkan pemahaman teknik-teknik sistem yang umum digunakan untuk
mendokumentasikan sistem informasi.
Entitas pada umumnya diatur oleh berbagai peraturan perundang-undangan yang
memberikan dampak terhadap laporan keuangannya. Entitas pemerintahan, organisasi
nirlaba, atau perusahaan dapat menugasi auditor untuk mengaudit laporan keuangan
entitas tersebut berdasarkan Standar Audit. Auditor dapat melaporkan masalah
kepatuhan peraturan perundang-undangan dan pengendalian intern dalam laporan audit
atas laporan keuangan atau dalam suatu laporan terpisah. Laporan auditor tentang
kepatuhan didasarkan atas hasil prosedur yang dilaksanakan sebagai bagian dari audit
atas laporan keuangan. Adapun hal-hal yang perlu dipertimbangkan oleh auditor dalam
pelaporan tentang kepatuhan adalah:
a. Laporan audit atas laporan keuangan harus menjelaskan lingkup pengujian auditor
atas kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dan atas pengendalian intern
dan menyajikan hasil pengujiannya, atau mengacu pada laporan terpisah yang berisi
informasi tersebut.
b. Pelaporan ketidakpatuhan. Ketidakpatuhan material didefinisikan sebagai kegagalan
mematuhi persyaratan, atau pelanggaran terhadap larangan, batasan dalam peraturan,
kontrak, atau bantuan yang menyebabkan auditor berkesimpulan bahwa kumpulan
salah saji sebagai akibat kegagalan atau pelanggaran tersebut adalah material bagi
laporan keuangan.
c. Unsur pelanggaran hukum. Standar Audit mengharuskan auditor untuk melaporkan
hal-hal atau indikasi unsur perbuatan melanggar/melawan hukum yang dapat
berakibat ke penuntutan pidana. Namun, auditor tidak memiliki keahlian untuk
menyimpulkan tentang apakah suatu unsur pelanggaran hukum atau kemungkinan
pelanggaran hukum dapat berakibat ke penuntutan pidana. Auditor harus memahami
peraturan perundang-undangan yang mempunyai pengaruh langsung dan material
terhadap penentuan jumlah dalam laporan keuangan. Auditor mungkin memerlukan
jasa penasihat hukum dalam menentukan peraturan perundang-undangan yang
kemungkinan mempunyai dampak langsung dan material terhadap laporan
keuangan, merancang pengujian kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan,
dan menilai hasil pengujian tersebut.