Anda di halaman 1dari 16

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Beberapa Istilah Sustainbility Reporting Lainnya dan Peraturan di Indonesia


Istilah triple bottom line menjadi lazim di dunia akuntansi pada aikhir 1990-an
yang menganjurkan bahwa fokus dari proses akuntansi tidak hanya pada transaksi-
transaksi keuangan untuk menghasilkan laporan keuangan. Setiap transaksi dan
interaksi yang dilakukan oleh entitas dengan masyarakat dan lingkungan akan
menimbulkan hubungan sebab akibat, sehingga dibutuhkan kegiatan
pertanggungjawaban sosial lingkungan untuk menjaga keberlangsungan usaha entitas
dimasa-masa yang akan dating, contohnya kegiatan corporate social responsibility
(CSR).
Di Indonesia sustainability reporting (SR) tertuang dalam Undang-Undang
Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas yang disahkan pada Juli 2007. April
2012 Pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2012 tentang
Pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial Lingkungan Perseroan, sehingga mulai tahun 2012
kegiatan tanggung jawab social lingkungan dan penyampaian informasinya menjadi
kewajiban seluruh perseroan.

2.2 Mengapa Integrated Reporting


Dalam integrated reporting (IR), entitas diminta membuat pelaporan yang
berfokus bagaimana entitas menciptakan value (Value Creation) dan akan sustain dalam
jangka panjang. Gambar 1 menjelaskan konsep integrated reporting dan posisinya
terhadap laporan-laporan lain. Keunggulan integrated reporting adalah:
1. Menunjukkan komitmen terhadap keberlanjutan bisnis kepada para stakeholder
2. Membantu mengintegrasikan sustainabilitas bisnis ke dalam strategi dan operasi
3. Meningkatkan relasi dengan para stakeholder utama
4. Meningkatkan transparasi dan akuntabilitas entitas
5. Menyederhanakan pelaporan eksternal (Laporan Keuangan, Laporan Manajemen,
Sustainability Report)
6. Menunjukkan posisi entitas sebagai leader dan innovator
7. Meningkatkan relasi dengan komunitas investor, kreditor dan mitra usaha
8. Meningkatkan akses modal/ pendanaan
9. Meningkatkan reputasi dan memperkuat citra (brand) entita
10. Patuh terhadap regulasi.

2
3

Gambar 1. Konsep Integrated Reporting

Saat ini yang banyak digunakan oleh entitas dalam pembuatan sustainability
reporting (SR) adalah standar yang dikeluarkan oleh GRI yang sudah mulai
mempelopori pembuatan standar ini sejak tahun 1999. Untuk integrated reporting (IR),
belum ada standar rinci seperti dalam pembuatan sustainability reporting (SR). Sebuah
konsil bernama IIRC (International Integrated Reporting Council) yang didukung oleh
Yayasan Pangeran Charles baru membuat semacam kerangka konseptual dari
Integrated reporting (IR) pada tahun 2013.

2.3 Laporan Berkelanjutan


2.3.1 Apa Itu Laporan Berkelanjutan dan Manfaatnya
Sustainability Reporting adalah pelaporan yang dilakukan oleh entitas untuk
mengukur, mengungkapkan (disclose) semua kegiatan yang dilaksanakan entitas yang
berkaitan dengan upaya pelestarian lingkungan sosialnya, serta upaya entitas untuk
menjadi entitas yang akuntabel bagi seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) untuk
tujuan kinerja entitas menuju pembangunan yang berkelanjutan. Entitas yang telah go
public memiliki kewajiiban membuat laporan keberlanjutan (sustainability report)
sesuai dengan amanat Pasal 66 ayat 2 Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang
Perseroan Terbatas. Bapepam-LK telah mengeluarkan aturan yang mengharuskan
entitas publik untuk mengungkapkan pelaksanaan kegiatan corporate social
responbility (CSR) di dalam laporan tahunannya. Melalui penerapan Sustainability
Reporting diharapkan entitas dapat berkembang secara secara berkelanjutan
(sustainability growth) yang didasarkan atas etika bisnis (business ethics).
4

Dengan adanya penyampaian sustainability reporting yang dilakukan entitas,


maka ada tambahan informasi yang dapat digunakan oleh pihak-pihak berkepentingan
(stakeholder) sebagai bahan pertimbangan untuk pengambilan keputusan. Manfaat
sustainbility reporting adalah:
1. Bagi entitas sustainability reporting berguna sebagai alat ukur pencapaian target
kerja dalam isu triple bottom line (ekonomi, sosial, lingkungan)
2. Bagi investor sustainability reporting berguna sebagai alat kontrol atas capaian
kinerja entitas sekaligus sebagai media pertimbangan investor dalam
mengalokasikan sumber daya keuangan yang mereka miliki terutama dalam lingkup
sustainable & responsible investment (SRI)
3. Bagi pemangku kepentingan lainnya (media masa, pemerintah, akademisi,
konsumen), sustainability reporting berguna sebagai tolak ukur menilai
kesungguhan komitmen entitas terhadap pembangunan berkelanjutan lingkungan
sekitarnya.

Gambar 2. Sustainability Framework for CRE Players

Berdasarkan gambar diatas dapat dilihat bahwa terdapat tiga aspek yang
merasakan manfaat dari sustainability reporting yaitu: aspek ekonomi, aspek sosial, dan
aspek lingkungan. Manfaat aspek ekonomi yaitu mengurangi biaya life cycle,
meminimalisir risiko bisnis dan keunggulan dalam sewa, hunian dan penilaian
(superior rent, occupancy and valuation). Manfaat yang diperoleh dari aspek sosial
yaitu meningkatnya citra entitas, meningkatnya transparansi dan kolaborasi/ hubungan
5

dengan pemangku kepentingan. Manfaat aspek lingkungan yang diperoleh yaitu


mengurangi penggunaan energi air dan emisi gas, mengurangi risioko lingkungan dan
penggunaan yang lebih tinggi terhadap sumber energi terbarukan.

2.3.2 Langkah-Langkah Pembuatan Sustainbility Reporting


Berdasarkan Global Reporting Intiative langkah dalam proses penyusunan
sustainability reporting yaitu:
1. Prepare
Tahap ini manajemen mempersiapkan dan melakukan perencanaan terhadap apa saja
yang sebaiknya dilaporkan dalam sustainability reporting (SR) entitas dan impact
entitas. Juga langkah-langkah apa yang akan dilaksanakan ke depan untuk menjalani
program pembangunan berkelanjutan. Tahap ini entitas membuat action plan dan
jika semuanya sudah didiskusikan maka entitas dapat membuat Kick Off Meeting
2. Connect
Tahap ini manajemen entitas mengidentifikasikan siapa saja key stakeholder.
Kegiatan apa saja yang perlu dilakukan entitas untuk membuat bisnis dan
lingkungan berkelanjutan dan apa saja yang perlu dilaporkan. Pada tahapan ini
entitas berdiskusi dengan para stakeholder untuk mencari tahu informasi.
3. Define
Entitas kemudian membuat assessment internal. Diskusi internal dengan manajemen
akan mengidentifikasikan hal-hal penting apa yang perlu dilaporkan baik untuk
kebutuhan internal dan eksternal. Perlu dipertimbangkan ruang lingkup dan besarnya
pengaruh entitas terhadap lingkungan, kapasitas dan komitmen entitas.
4. Monitor
Tahapan ini entitas memonitor proses dan sistem juga memonitor aktivitas dan data
untuk memastikan kualitas informasi yang akan dilaporkan. Tatapkan target-target
capaian yang akan dilaporkan dan menindaklanjuti (follow up) jika ada target yang
belum tercapai.
5. Report
Tulis informasi yang telah dikumpulkan dan buat laporan sustainability reporting
(SR). Laporan ini harus dikomunikasikan kepada para stakeholder untuk
mendapatkan masukan dan senantiasa dimutakhirkan.

2.3.3 Standar Pembuatan Sustainbility Reporting


Standar pembuatan sustainability reporting berdasarkan GRI 4 terbagi menjadi
dua yaitu: Standar Umum Pengungkapan dan Standar Spesifik Pengungkapan. Standar
6

Umum Pengungkapan berlaku untuk semua organisasi yang menyiapkan Sustainability


Report, dibagi menjadi tujuh bagian yaitu:
a. Strategi dan Analisis
Standar pengungkapan ini menyajikan pernyataan dari pembuat keputusan
paling senior dari organisasi CEO, ketua, dan posisi senior yang setara tentang
relevansi keberlanjutan terhadap organisasi dan strategi organisasi untuk menuju
keberlanjutan. Pernyataan tersebut harus menyajikan visi secara keseluruhan,
strategi jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang, terutama yang
berkaitan dengan pengelolaan ekonomi, lingkungan dan dampak sosial yang
disebabkan oleh organisasi dan turut memberikan kontribusi, atau dampak yang
dapat dihubungkan dengan kegiatannya sebagai akibat dari hubungan dengan orang
lain seperti pemasok, orang atau organisasi dalam masyarakat lokal. Pernyataan
harus mencakup:
1. Prioritas strategis dan topik utama untuk jangka pendek dan menengah yang
berkaitan dengan keberlanjutan, termasuk menghormati standar yang diakui
secara internasional dan bagaiman standar tersebut berhubungan dengan strategi
jangka panjang organisasi dan keberhasilannya.
2. Tren yang lebih luas seperti makro ekonomi dan politik yang mempengaruhi
prioritas keberlanjutan
3. Peristiwa utama, pencapaian dan kegagalan selama periode pelaporan
4. Gambaran kinerja sehubungan dengan target
5. Outlook pada tantangan utama organisasi dan target untuk tahun depan dan tujuan
untuk 3-5 tahun ke depan
6. Item lainnya yang berkaitan dengan pendekatan strategis organisasi
Pernyataan harus menyajikan penjelasan mengenai dampak, risiko dan
peluang. Organisasi harus menyediakan dua bagian narasi singkat tentang dampak,
risiko dan peluang. Bagian satu harus fokus pada dampak penting organisasi pada
keberlanjutan dan efek pada pemangku kepentingan, termasuk hak-hak seperti yang
didefinisikan oleh hukum nasional dan standar yang diakui secara internasional
secara relevan. Bagian ini mencakup:
1. Uraian tentang dampak ekonomi, lingkungan dan sosial yang signifikan dari
organisasi, tantangan dan peluang yang terkait
2. Penjelasan tentang pendekatan untuk memprioritaskan tantangan dan peluang
3. Kesimpulan utama tentang kemajuan dalam mengatasi topik ini dan kinerja yang
terkait dalam periode pelaporan. Ini mencakup pengkajian alasan untuk kinerja
yang kurang atau over-kinerja
7

4. Sebuah deskripsi tentang proses utama di tempat untuk menunjukkan kinerja dan
perubahan yang relevan.
Bagian kedua harus fokus pada dampak dari tren keberlanjutan , risiko, dan
peluang pada prospek jangka panjang dan kinerja keuangan organisasi. Ini harus
berkonsentrasi khusus pada informasi yang relevan dengan pemangku kepentingan.
Bagian kedua ini meliputi:
1. Penjelasan risiko yang paling penting dan peluang bagi organisasi yang timbul
dari tren keberlanjutan
2. Prioritas topik utama keberlanjutan sebagai risiko dan peluang berdasarkan
relevansinya untuk strategi jangka panjang organisasi, posisi kompetitif,
kualitatif, dan jika mungkin nilai pendorong keuangan kuantitatif
3. Tabel yang meringkas:
a) Target, kinerja terhadap target, dan pelajaran untuk periode pelaporan saat ini
b) Target untuk periode pelaporan berikutnya, tujuan dan sasaran (3-5 tahun)
jangka menengah terkait dengan risiko dan peluang.
b. Profil Organisasi
Standar pengungkapan ini memberikan gambaran tentang karakteristik
organisasi dalam rangka memberikan konteksuntuk pelaporan selanjutnya yang lebih
rinci terhadap bagian lain pedoman. Pengungkapan mencakup hal-hal seperti
berikut:
1. Nama organisasi
2. Brand utama, produk dan pelayanan
3. Lokasi kantor organisasi
4. Jumlah Negara di mana organisasi beroperasi dan nama-nama Negara di mana
organisasi beroperasi secara signifikan atau secara khusus relevan dengan topik
keberlanjutan yang tercakup dalam laporan
5. Sifat kepemilikan dan bentuk hukum
6. Pasar yang dilayani
7. Jumlah total karyawan berdasarkan kontrak kerja dan jenis kelamin
8. Jumlah total karyawan berdasarkan jenis pekerjaan dan jenis kelamin
9. Total angkatan kerja menurut karyawan dan pekerja yang yang diawasi dan
berdasarkan gender
10. Total angkatan kerja menurut wilayah dan jenis kelamin
11. Penjelasan mengenai apakah sebagian besar dari pekerjaan organisasi dilakukan
oleh pekerja yang secara hukum diakui sebagai wiraswasta atau oleh individu
selain karyawan atau pekerja diawasi, termasuk karyawan dan karyawan yang
diawasi kontraktor
12. Variasi yang signifikan dalam jumlah pekerjaan
c. Identifikasi Aspek Material dan Batas
8

Standar pengungkapan ini memberikan gambaran proses bahwa organisasi


telah diikuti untuk menetapkan konten laporan, aspek material yang telah
diidentifkasi batasan-batasannya dan peninjauan kembali. Pengungkapan mencakup:
1. Daftar semua entitas yang termasuk dalam laporan keuangan konsolidasi
organisasi atau dokumen serupa
2. Laporan mengenai apakah entitas yang termasuk dalam laporan keuangan
konsolidasi organisasi atau dokumen serupa tidak tercakup dalam laporan
3. Proses untuk menentukan isi laporan dan batas aspek
4. Penjelasan bagaimana organisasi telah menerapkan prinsip pelaporan untuk
menentukan isi laporan
5. Daftar semua aspek materi yang diidentifikasi dalam proses penentuan isi laporan
6. Laporan mengenai perubahan signifikan dari periode pelaporan sebelumnya
dalam lingkup dan batas aspek
d. Stakeholder Engagement
Standar pengungkapan ini memberikan gambaran tentang keterlibatan
pemangku kepentingan organisasi selama periode pelaporan. Pengungkapan
mencakup:
1. Daftar kelompok pemangku kepentingan yang dilibatkan oleh organisasi
2. Dasar untuk identifikasi dan seleksi pemangku kepentingan yang akan dilibatkan
3. Pendekatan organisasi untuk keterlibatan pemangku termasuk frekuensi
keterlibatan jenis dan kelompok pemangku kepentingan dan indikasi apakah ada
keterlibatan yang dilakukan secara khusus sebagai bagian dari proses penyusunan
laporan
4. Topik utama dan masalah yang telah menanggapi topik-topik utama dan masalah,
termasuk melalui pelaporannya.
e. Profil Laporan
Standar pengungkapan ini memberikan gambaran tentang informasi dasar
tentang laporan tersebut, konten GRI Index dan pendekatan untuk mencari jaminan
pihak luar. Pengungkapan mencakup:
1. Periode
2. Tanggal terbaru untuk laporan sebelumnya
3. Siklus
4. Kontak untuk pertanyaan mengenai laporan atau isinya
f. Pemerintahan
Standar pengungkapan memberikan gambaran tentang:
1. Struktur tata kelola dan komposisinya
Gambaran mengenai bagaimana badan pemerintahan tertinggi didirikan dan
terstruktur dalam mendukung tujuan organisasi dan bagaimana tujuan ini
berkaitan dengan dimensi ekonomi, lingkungan dan sosial
2. Peran badan pemerintahan tertinggi dalam menetapkan tujuan organisasi, nilai-
nilai, dan strategi
3. Kompetensi dan evaluasi kinerja badan pemerintahan tertinggi
9

Standar pengungkapan ini menggambarkan tata kelola badan tertinggi dan


kemauan eksekutif senior dan kemampuan untuk memahami, mendiskusikan, dan
secara efektif merespon dampak ekonomi, lingkungan dan sosial serta
menunjukkan bahwa proses dilakukan di tempat, secara internal maupun
eksternal, untuk memastikan efektivitas tata kelola badan tertinggi. Hal ini
mencakup:
a) Kebijakan yang diambil untuk mengembangkan dan meningkatkan
pengetahuan kolektif badan pemerintahan tertinggi terhadap topik ekonomi,
lingkungan dan sosial.
b) Proses evaluasi kinerja tata kelola badan tertinggi sehubungan dengan tata
kelola ekonomi, lingkungan dan sosial. Laporan mengenai apakah evaluasi
tersebut bersifat independen atau tidak dan frekuensinya serta laporan
mengenai apakah evauasi tersebut adalah evaluasi diri.
4. Peran badan pemerintahan tertinggi dalam manajemen risiko
Standar pengungkapan ini menjelaskan apakah badan pemerintahan tertinggi
bertanggung jawab atas risiko proses manajemen dan efektivitas secara
keseluruhan
5. Peran badan pemerintahan tertinggi dalam pelaporan keberlanjutan
Standar pengungkapan ini menunjukkan tingkat keterlibatan badan pemerintahan
tertinggi dalam mengembangkan dan menyetujui pengungkapan keberlanjutan
organisasi, dan tingkat dimana hal itu dapat selaras dengan proses sekitar
pelaporan keuangan
6. Peran badan pemerintahan tertinggi dalam mengevaluasi kinerja ekonomi,
lingkungan dan sosial
Standar pengungkapan ini menunjukkan bagaimana badan pemerintahan tertinggi
terlibat dalam pemantauan dan bereaksi terhadap kinerja organisasi dalam
lingkup ekonomi, lingkungan dan sosial
7. Remunerasi dan insentif
Standar pengungkapan ini berfokus pada kebijakan remunerasi yang telah ada
untuk memastikan bahwa remunerasi tersebut mendukung tujuan strategis
organisasi, sejajar dengan kepentingan stakeholder, dan memungkinkan
perekrutan motivasi dan retensi anggota badan pemerintahan tertinggi, senior
eksekutif dan karyawan.
8. Etika dan Integritas
Standar pengungkapan ini memberikan gambaran tentang:
1. Nilai-nilai organisasi, prinsip, standard an norma
2. Mekanisme internal dan eksternal untuk mencari nasihat tentang perilaku etis dan
sesuai aturan atau hukum
10

3. Mekanisme internal dan eksternal untuk kekhawatiran tentang perilaku yang tidak
etis atau melanggar hukum dan integritas

2.3.4 Standar-Standar SR Lain Selain GRI


Standar lain yang berkaitan dengan Sustainability Report seperti AA1000, ISO
14000, ISO 26000, ISO 14000 merupakan standar internasional tentang system
manajemen lingkungan dimana membahas berbagai aspek pengelolaan lingkungan. ISO
14001:2004 menetapkan kriteria untuk system manajemen lingkungan dan untuk dapat
disertifikasi. Manfaat menggunakan ISO 14001:2004 adalah:
a. Mengurangi biaya pengelolaan sampah
b. Penghematan konsumsi energi dan material
c. Biaya distribusi yang lebih rendah
d. Peningkatan citra entitas di kalangan regulator, pelanggan dan masyarakat
ISO 26000 memberikan pedoman bagaimana bisnis dan organisasi dapat
beroperasi dengan cara yang bertanggungjawab secara sosial. ISO 26000 membantu
menjelaskan apa tanggung jawab sosial, membantu bisnis dan organisasi
menerjemahkan prinsip-prinsip ke dalam tindakan dan praktik terbaik yang berkaitan
dengan tanggungjawab sosial yang efektif secara global. Standar ini diluncurkan pada
tahun 2010 setelah lima tahun negosiasi antara berbagai pihak di seluruh dunia.

AA1000 terdiri atas tiga standar, yaitu:


a. The AA1000 Account Ability Principles Standard (AA1000APS), menyediakan
kerangka kerja bagi suatu organisasi untuk mengidentifikasi, memprioritaskan dan
menanggapi tantangan keberlanjutan.
b. The AA1000 Assurance Standard (AA1000AS), menyediakan metodologi untuk
praktisi jaminan untuk mengevaluasi sifat dan sejauh mana sebuah organisasi
mematuhi Prinsip Akuntabilitas
c. The AA1000 Stakeholder Engagement Standard (AA1000SES), menyediakan
kerangka kerja untuk membantu organisasi memastikan proses pelibatan pemangku
kepentingan adalah tujuan didorong, kuat dan memberikan hasil.

2.3.5 Praktik Sustainbility Reporting di Indonesia


11

National Center for Sustainability Reporting (NCSR) Indonesia adalah sebuah


wadah (organisasi )independen dalam rangka pengembangan, pembinaan, pengukuran
dan pelaporan atas implementasi kegiatan CSR/keberlanjutan entitas (corporate
sustainability). NCSR dideklarasikan pada tanggal 23 Juni 2005. NCSR setiap tahun
menyelenggarakan ajang/penghargaan Indonesia Sustainability Reporting Awards
(ISRA). Terdapat 3 (tiga) kriteria yang sering dipakai sebagai penilaian ajang
penghargaan Indonesia Sustainability Reporting Awards (ISRA) antara lain:
a. Kelengkapan (completeness), meliputi profil entitas, dampak penting, kebijakan
sosial/lingkungan, komitmen manajemen, target dan tujuan kebijakan
sosial/lingkungan, layanan produk dan jasa, kebijakan pengadaan bahan baku dan
isu-isu yang terkait dengannya, kebijakan pelaporan dan pembukuan, dan
hubungan antara pelaporan sosial/lingkungan dengan masalah pembangunan yang
berkelanjutan (sustainability development), sistem manajemen (management
system) serta tata kelola entitas (corporate governance)
b. Kepercayaan (Credibility), meliputi pencapaian utama saat ini, penyebutan
anggota tim yang bertanggung jawab untuk isu sosial/ekonomi, sistem
manajemen dan integrasinya ke kegiatan usaha, perencanaan ketidakpastian dan
manajemen risiko, proses audit internal, ketaatan (compliance) atau ketidaktaatan
terhadap peraturan, data-data mengenai dampak sosial/ekonomi, data-data
keuangan konvensional yang berhubungan, laporan keuangan sosial/lingkungan
dan full cost accounting, akreditasi atau sertifikasi ISO, penjabaran mengenai
interaksi dengan pihak terkait atau proses dialog, pemanfaatan masukan dari
pihak-pihak yang terkait, serta pernyataan dari pihak ketiga.
c. Komunikasi (Communication), meliputi tata letak dan penampilan, kemudahan
dipahami, dibaca dan proporsional uraian setiap bagian, mekanisme komunikasi
dan umpan balik (feedback), ringkasan pelaporan (executive summary), tersedia
petunjuk kemudahan untuk membaca laporan, pemanfaatan sarana intranet &
internet, acuan bagi website dan pelaporan lain, dan hubungan antar pelaporan,
kesesuaian grafik, gambar dan foto dengan narasi, dan integrasi dengan laporan
keuangan (financial statement)
Saat ini ada sekitar 40 entitas di Indonesia yang membuat sustainability report.
Prima Coal adalah perusahaan pertama di Indonesia yang membuat sustainability
report pada tahun 2005. Tahun-tahun berikutnya jumlah perusahaan yang membuat
sustainability report terus bertambah, kondisi menunjukkan bahwa semakin tingginya
12

kesadaran sebagian besar perusahaan di Indonesia terhadap pembangunan


berkelanjutan dan kepedulian perusahaan terhadap lingkungan.

2.4 Perbedaan Integrated Reporting dan Sustainbility Reporting


2.4.1 Apa Itu Laporan Terintegrasi dan Manfaatnya
Integrated report adalah suatu komunikasi yang ringkas dan terintegrasi tentang
bagaimana strategi tata kelola dan remunerasi, kinerja dan prospek suatu organisasi
menghasilkan penciptaan nilai dalam jangka pendek, menengah dan jangka panjang.
Dalam membuat Integrated report (IR) fokus entitas adalah melaporkan bagaimana
entitas menciptakan nilai untuk keberlanjutan entitas di masa depan.
Tujuannya adalah untuk menjelaskan kepada penyedia modal keuangan
bagaimana organisasi menciptakan nilai dari waktu ke waktu. Proses Integrated
reporting akan menguntungkan manajemen pihak yang bertanggungjawab atas tata
kelola, karena mereka akan memiliki informasi yang lebih baik dan dapat menjadi dasar
keputusan tentang bagaimana organisasi dapat menciptakan nilai dalam jangka pendek,
menengah dan panjang.

2.4.2 Perbedaan Integrated Reporting dan Sustainbility Reporting


Sustainability reporting bertujuan untuk membantu organisasi dalam menetapkan
tujuan, mengukur kinerja dan mengelola perubahan menuju ekonomi global yang
berkelanjutan. Integrated reporting berfokus untuk melaporkan penciptaan nilai entitas
dengan membuat semua jenis pelaporan menjadi terpadu atau terintegrasi.
Sustainability reporting merupakan bagian intrinsik dalam integrated Reporting
dan menjadi pondas dalam persiapan Integrated Reporting. Sustainability reporting
mempertimbangkan relevansi keberlanjutan sebuah organisasi dan juga membahas
prioritas keberlanjutan dan topik utama dengan fokus pada dampak dari tren
keberlanjutan, risiko dan peluang pada prospek jangka panjang dan kinerja keuangan
organisasi.

2.4.3 Kerangka Prinsip Integrated Reporting


Tujuan Integrated Reporting Framework adalah untuk membangun Panduan
Prinsip dan Elemen-elemen yang mengatur keseluruhan isi Integrated Reporting dan
13

untuk menjelaskan konsep dasar yang mendukungnya. Integrated Reporting


Framework adalah suatu kerangka untuk:
a. Mengidentifikasi informasi untuk dimasukkan secara terpadu laporan untuk
digunakan dalam menilai kemampuan organisasi untuk menciptakan nilai; tidak
menetapkan standar untuk seperti hal-hal seperti kualitas strategi organisasi atau
tingkat kinerjanya.
b. Ditujukan kepada sektorswasta, untuk entitas dari berbagai ukuran. Tetapi kerangka
ini juga dapat diterapkan dan disesuaikan seperlunya untuk digunakan oleh sector
public dan organisasi nirlaba. Prinsip-prinsip yang mendasari penyusunan Integrated
Reporting, menginformasikan isi laporan dan bagaimana informasi disajikan:
1. Fokus Strategi dan orientasi masa depan: Integrated Reporting (IR) harus memuat
informasi mengenai strategi entitas dan bagaimana strategi ini menciptakan nilai
untuik jangka pendek, menengah, dan jangka panjang dan bagaimana dampaknya
terhadap modal.
2. Konektivitas informasi: Integrated Reporting (IR) harus menunjukkan gambaran
menyeluruh kombinasi, keterhubungan dan ketergantungan dari factor-faktor
yang mempengaruhi penciptaan nilai.
3. Keterhubungan para pemangku kepentingan: Integrated Reporting (IR) harus
menyediakan informasi bagaimana kualitas hubungan entitas dengan para key
stakeholders. Juga harus menjelaskan seberapa jauh perusahaan harus memahami
kebutuhan para pemangku kepentingan dan merespon kebutuhan dan kepentingan
mereka.
4. Materialitas: Integrated Reporting (IR) harus menunjukkan informasi hal-hal
material yang secara substantif mempengaruhi proses penciptaan nilai jangka
pendek, menengah dan panjang.
5. Keringkasan: Integrated Reporting (IR) harus ringkas.
6. Keandalan dan kelengkapan: Integrated Reporting (IR) harus lengkap memuat
hal-hal yang bersifat material dan bebas dari kesalahan material. Konsistensi dan
keterbandingan: informasi yang dimuat dalam Integrated Reporting (IR) harus
konsisten dari waktu ke waktu dan dapat dibandingkan dengan laporan entitas
lain.
Integrated Reporting mencakup delapan elemen konten yang fundamental terkait
satu sama lain dan tidak saling eksklusif, yaitu:
a. Ikhtisar tentang Organisasi dan lingkungan eksternalnya: Apa yang sebenarnya
dilakukan oleh entitas dan keadaan lingkungan tempat ia beroperasi.
14

b. Tata kelola (Governance): Bagaimana tata kelola entitas dapat mendukung


penciptaan nilai dalam jangka pendek, menengah dan jangka panjang?
c. Model Bisnis: Bagaimanakah model bisnis entitas?
d. Risiko dan peluang: Apa saja risiko dan peluang entitas dalam proses penciptaan
nilai dalam jangka pendek, menengah dan panjang?
e. Strategi dan alokasi sumber daya: Kemana tujuan entitas dan bagaimana cara entitas
mencapai tujuan-tujuan tertentu tersebut?
f. Kinerja: Sejauh mana entitas telah mencapai tujuan-tujuan strategis entitas untuk
periode pelaporan dan Bagaimana dampaknya terhadap permodalan?
g. Outlook: Apa tantangan dan ketidakpastian yang kemungkinan akan dihadapi entitas
di masa depan dalam menjalankan strategi-strateginya dan bagaimana potensi dari
implikasinya terhadap model bisnis entitas dan kinerja masa depan
h. Dasar-dasar penyajian: Bagaimana entitas memutuskan informasi yang material dan
harus dilaporkan dalam Integrated Reporting (IR). Bagaimana data-data itu diukur
kuantitasnya dan dievaluasi
Modal pendapatan nilai berdasarkan gambar 3 ini menekankan bahwa pendiptaan
nilai oleh entitas tergantung dari banyak faktor dan tidak hanya tertumpu pada entitas
semata. Penciptaan nilai sangat dipengaruhi oleh lingkungan eksternal entitas,
keterkaitan antar pemangku kepentingan dan dipengaruhi oleh hubungan antar elemen.
Lingkungan eksternal entitas termasuk lingkungan hidup, kondisi ekonomi,
perubahan teknologi, masalah-masalah social dan tantangan kelestarian lingkungan
menciptakan konteks dari operasi entitas. Operasi entitas sangat dipengaruhi oleh
keadaan dan perkembangan lingkungan eksternalnya.
15

Gambar 3. Proses Penciptaan Nilai Dalam Entitas

Setiap model bisnis didalam entitas terdiri dari berbagai masukan (input) melalui
aktiftas bisnis sehingga menghasilkan keluaran (output) yang terdiri dari produk, kasa,
produk sampingan dan limbah. Aktivitas dan keluaran entitas ini kemudian
menciptakan hasil (outcome) yang memiliki efek terhadap modal. Perlu ditekankan
bahwa proses penciptaan nilai bukanlah sesuatu yang bersifat statis. Penilaian ulang
terhadap komponen-komponen penciptaan nilai perlu dilakukan secara berkala.

2.4.4 Permodalan Entitas Bukan Hanya Finansial


Modal entitas untuk menciptakan nilai bukan hanya dari modal keuangan tapi ada
enam macam modal yang dikategorikan oleh Integrated Reporting (IR) Framework
yakni: Financial Capital, Manufactured Capital, Intellectual Capital, Human Capital,
Social and Relationship Capital and Natural Capital.
1. Financial Capital
Modal keuangan (Financial Capital) adalah sumber dana yang tersedia atau dimiliki
oleh sebuah organisasi atau entitas, dimana dana tersebut digunakan untuk produksi
barang atau penyediaan layanan jasa. Dana tersebut diperoleh melalui pembiayaan,
seperti utang, ekuitas atau hubah, ataupun dihasilkan melalui operasi atau investasi.
2. Manufactured Capital
16

Modal produksi (Manufactured capital) adalah modal yang dimiliki organisasi atau
entitas yang berupa benda-benda fisik yang digunakan untuk mendukung proses
produksi barang ataupun penyediaan jasa. Manufactured capital terdiri dari, antara
lain, bangunan, peralatan, mesin, infrastruktur (jalan, jembatan, system pengolahan
limbah dan air) dan lain-lain. Manufactured capital biasanya dibuat oleh organisasi
lain (eksternal), tetapi asset tersebut juga dapat diproduksi oleh organisasi pelapor
untuk dijual atau disimpan untuk digunakan sendiri.
3. Intellectual Capital
Modal intelektual (Intellectual Capital) adalah modal yang dimiliki oleh organisasi
atau entitas yang berupa pengetahuan organisasi yang tak berwujud. Intellectual
capital terdiri dari antara lain properti intelektual seperti hak cipta, hak dan lisensi
cipta perangkat. Modal organisasi seperti tacid knowledge system, prosedur dan
protokoler.
4. Human Capital
Modal manusia (Human capital) adalah modal yang dimiliki oleh organisasi atau
entitas yang berupa kemampuan, kompetensi dan pengalaman karyawan, serta
motivasi dan berinovasi. Termasuk didalamnya 1) kemampuan menyelaraskan dan
mendukung kerangka tata kelola organisasi, pendekatan manajemen resiko dan etika
nilai-nilai, 2) kemampuan memahami, mengembangkan dan menerapkan strategi
organisasi, 3) loyalitas dan motivasi untuk meningkatkan proses barang dan jasa,
termasuk kemampuan mereka untuk memimpin, mengelola dan berkolaborasi.
5. Social and Relationship Capital
Modal sosial dan hubungan (Social and Relationship Capital) adalah modal yang
dimiliki oleh organisasi atau entitas lembaga-lembaga dan hubungan diantara
masyarakat, kelompok-kelompok pemangku kepentingan dan jaringan lainnya, serta
kemampuan untuk berbagi informasi, baik secara individu maupun kolektif. Social
and Relationship Capital meliputi: 1) berbagi norma-norma, nilai-nilai umum dan
perilaku, 2) hubungan pemangku kepentingan dan kepercayaan serta kesediaan
untuk melibatkan organisasi yang telah mengembangkan dan mengupayakan untuk
membangun dan melindungi bersama pemangku kepentingan eksternal, 3) asset tak
berwujud terkait dengan merek (brand) dan reputasi yang telah dikembangkan oleh
entitas, 4) lisensi sosial untuk organisasi dapat beroperasi (misalnya persetujuan
dengan suku adat setempat).
6. Natural Capital
Modal alam (Natural capital) adalah modal yang dimiliki oleh organisasi atau
entitas yang berupa sumber daya alam yang ada dilingkungan baik itu yang dapat
17

diperbarui dan yang tidak dapat diperbarui. Sumber daya ini berperan dalam
penyediaan barang dan jasa yang mendukung masa lalu, saat ini dan masa depan dari
sebuah organisasi atau entitas. Natural capital terdiri dari, antara lain air, tanah,
mineral, udara dan hutan, serta keanekaragaman hayati dan ekosistem kesehatan.