Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pajak adalah beban bagi perusahaan, sehingga wajar jika tidak satupun perusahaan
(wajib pajak) yang dengan senang hati dan suka rela membayar pajak. Mengingat pajak
adalah beban yang akan mengurangi laba bersih perusahaan- maka perusahaan akan
berupaya semaksimal mungkin agar dapat membayar pajak sekecil mungkin dan berupaya
untuk menghindari pajak. Namun demikian penghindaran pajak harus dilakukan dengan cara-
cara yang legal agar tidak merugikan perusahaan di kemudian hari. Penghindaran pajak
dengan cara illegal adalah penggelapan pajak. Hal ini perbuatan kriminal, karena menyalahi
aturan yang berlaku.
Pajak merupakan sumber penerimaan Negara disamping penerimaan dari sumber
lain. Dengan posisi yang sedemikian penting itu pajak merupakan penerimaan strategis yang
harus dikelola dengan baik oleh negara. Dalam struktur keuangan Negara tugas dan fungsi
penerimaan pajak dijalankan oleh Direktorat Jenderal Pajak dibawah Departemen Keuangan
Republik Indonesia.
Pemerintahan dinilai terlalu menyederhanakan kasus mafia pajak yang melibatkan
Gayus HP Tambunan. Akibatnya, pengungkapan kasusnya tidak tuntas dan penegakan
hukumnya juga tidak maksimal. Oleh sebab itu, tak heran jika di saat kasus Gayus masih
ditangani, muncul lagi kasus lainnya.
Dalam hal ini, makalah ini akan membahas tentang penyelewengan pajak oleh perusahaan
pertambangan PT Ancora Mining Service, dimana dugaan penyelewengan pajaknya diadukan
ke Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak. Seperti yang dikutip dalam artikel yang menyebutkan
penyelewengan yang dilakukan oleh PT Ancora adalah sebagai berikut. Jakarta - PT Ancora
Mining Service diduga melakukan penyelewengan pajak. Perusahaan tambang ini diadukan
ke Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak.
Laporan ini dilakukan karena perusahaan ini diduga sewenang-wenang karena dimiliki oleh
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan.
"Komitmen Presiden SBY untuk menjalankan pemerintahan yang bersih pun sebaiknya
dibuktikan, bukan cuma jadi alat pencitraan," ujar Juru Bicara Forum Masyarakat Peduli
Keadilan, Yosef Rizal di kantor Pusat Ditjen Pajak, Jalan Gatot Subroto

Laporan itu dilakukan terkait beredarnya dokumen dugaan penyelewengan pajak yang
dilakukan PT Ancora Mining Service.
Dalam dokumen laporan keuangan yang terdiri dari neraca, laporan laba rugi, dan laporan
perubahan modal yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 ditemukan berbagai
kejanggalan sehingga aparat pajak perlu menelusuri jumlah potensi kerugian negara yang
diakibatkan perusahaan tersebut. Yaitu dengan cara menghindari pembayaran pajak.
"Kuat dugaan, tindakan manipulasi laporan keuangan tersebut tidak terjadi sekali. Selain itu,
tindakan serupa juga diduga dilakukan di sejumlah perusahaan grup Ancora yang menjamur
ketika Gita menduduki posisi Kepala BKPM," tegas Yosef Rizal.

1
Lebih lanjut Yosef Rizal menjelaskan, kejanggalan dalam dokumen neraca PT Ancora Mining
Service per tanggal 31 Desember 2008 itu antara lain ,tidak terdapat pergerakan investasi atau
tidak ada kegiatan investasi. Tetapi dalam laporan laba rugi tahun buku yang sama,
perusahaan tersebut malah membukukan penghasilan Rp 34.942.600.000.
"Di neraca yang sama, PT Ancora Mining Service mengaku tidak memiliki utang, namun
anehnya dalam laporan laba rugi ditemukan pembayaran bunga sebesar Rp 18.346.170.191,"
ujar Yosef.
Dikatakan Yosef, pada laporan fiskal per tanggal 31 Desember 2008 ditemukan bukti
pemotongan pajak senilai Rp 5.331.840.000 dari sebuah perusahaan. Tetapi tidak ada
kejelasan atas transaksi apa pemotongan pajak tersebut dilakukan. "Akan muncul pertanyaan,
apakah potongan tersebut sudah benar-benar disetorkan?" jelasnya.

Yosef mendesak agar aparat pemeriksa pajak dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)
memeriksa sebuah perusahaan tambang Middle East Coal (MEC) yang berbasis di Singapura
dan Jakarta. MEC diketahui telah menyumbang dana sebesar 500 ribu dolar AS kepada
Yayasan Ancora yang didirikan Gita Wirjawan.

Berdasarkan surat PT Bank Mandiri kepada Middle East Coal Pte Ltd No: 4
Sp.JWM/1426/2009 tertanggal 15 Desember 2009 tentang penjelasan 'Transaksi Transfer
Valuta Asing to Ancora' jelas terlihat adanya transfer sebesar US$ 500.000 dari Middle East
Company ke Yayasan Ancora.
"Perintah transfer ke Yayasan Ancora itu sendiri telah terjadi pada tanggal 27 November
2009, sebagaimana terlihat pada bukti telex Single Transaction Credit Master," ujarnya.

Pada bukti telex dengan sender's reference ':20:0912208002130802' itu, terlihat transfer
terjadi pada tanggal 27 November 2009 senilai US$ 500.000 dari Middle East Indonesia
beralamat di Sudirman Plaza-Plaza Marein Lt.20 Jalan Jenderal Sudirman Kav 76-78, dengan
benerficiary customer (penerima kiriman dana) adalah Yayasan Ancora/Ancora Foundation.
Juga dijelaskan melalui telex itu mengenai remittance information: MEC Sponsorship for
Indonesia Pintar Program.

Menurut Yosef Rizal, sumbangan itu mencurigakan karena selain tidak pernah dilaporkan
pajak penerimaannya oleh yayasan bersangkutan, juga dinilai sarat kepentingan. Diduga hal
ini terkait posisi Gita sebagai Kepala BKPM dan MEC yang memperoleh konsesi tambang di
Kalimantan Timur.
"Sebagai perusahaan multinasional, MEC punya yayasan sejenis dengan Yayasan Ancora.
Kenapa harus menyumbang ke Ancora, bukan diberikan ke yayasan sendiri. Apalagi jika
uang tersebut dapat digunakan untuk kepentingan rakyat di sekitar tambang. Ada motif apa
ini?" tanya Yosef Rizal.

Menurutnya, PT MEC yang memiliki investasi tambang di Kaltim, sebelum menyetor dana
sponsor kepada Yayasan Ancora, juga telah menyetor dana sponsorship sebesar US$ 110.000
kepada PT Ancora Sports. Dana sponsorship itu dalam rangka pertandingan Golf President
Cup yang digelar pada bulan Juli 2009, sebelum Gita menjabat Kepala BKPM.
2
"Kita mencium gelagat tidak baik dari keanehan laporan keuangan dan transaksi tersebut.
Jangan sampai ada motif dagang, suap, penyalahgunaan wewenang dan sebagainya di balik
itu semua," tegasnya.

1.2 Rumusan Masalah


Apakah PT. Ancora Mining Service dapat dikenakan tuduhan melakukan penggelapan
pajak?
Apakah laporan ini dapat dikategorikan sebagai salah satu sengketa pajak?
Bagaimanakah Sengketa pajak dan cara penyelesaiannya?

1.3 Tujuan

1. Mengetahui dasar-dasar hukum perpajakan di indonesia


2. Mengetahui Sengketa pajak dan cara penyelesaiannya.
3. Mengetahui keberadaan Pengadilan Pajak sebagai solusi untuk menyelesaikan masalah
sengketa pajak.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Dasar-Dasar Hukum Perpajakan Di Indonesia

Pajak merupakan salah satu sumber pemasukan kas negara yang digunakan untuk
pembangunan dengan tujuan akhir kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Oleh karena itu,
sektor pajak memegang peranan penting dalam perkembangan kesejahteraan bangsa. Namun,
tak bisa dipungkiri bahwa sulitnya Negara melakukan pemungutan pajak karena banyaknya
wajib pajak yang tidak patuh dalam membayar pajak merupakan suatu tantangan tersendiri.
Pemerintah telah memberikan kelonggaran dengan memberikan peringatan terlebih dahulu
melalui Surat Pemberitahuan Pajak (SPP). Akan tetapi, tetap saja banyak wajib pajak yang
lalai untuk membayar pajak bahkan tidak sedikit yang cenderung menghindari kewajiban
tersebut.

Hal ini mendorong pemerintah menciptakan suatu mekanisme yang dapat


memberikan daya pemaksa bagi para wajib pajak yang tidak taat hukum. Salah satu
mekanisme tersebut adalah gijzeling atau lembaga paksa badan. Keberadaan lembaga ini
masih kontroversial. Beberapa kalangan beranggapan bahwa pemberlakuan lembaga paksa
badan merupakan hal yang berlebihan. Di lain pihak, muncul pula pendapat bahwa lembaga
ini diperlukan untuk memberikan efek jera yang potensial dalam menghadapi wajib pajak
yang nakal.

Saat ini, penyelesaian permasalahan sengketa dibidang perpajakan telah memiliki


sarana dengan adanya Pengadilan Pajak. Sebelum Pengadilan Pajak berdiri, media yang
digunakan untuk menyelesaikan masalah sengketa pajak adalah Majelis Pertimbangan Pajak
yang kemudian berkembang menjadi Badan Penyelesaian Sengketa Pajak (BPSP). Hadirnya
Pengadilan Pajak menimbulkan kerancuan mengingat obyek sengketa pajak adalah Surat
Ketetapan Pajak (SKP) yang masih merupakan lingkup obyek Peradilan Tata Usaha Negara
(PTUN).

Lahirnya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak (UU


Nomor 14 Tahun 2002) memang terkesan memunculkan dualisme bahwa seolaholah
Pengadilan Pajak, yang hanya berkedudukan di Jakarta, itu berada di luar kekuasaan
kehakiman yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-
Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman (UU Nomor 14 Tahun 1970) sebagaimana telah
diubah dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 1999 dan terakhir diubah lagi dengan
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman (UU Nomor 4 Tahun
2004).

Pajak juga merupakan sarana reformasi negara dalam meningkatkan kemandirian


keuangan negara, meningkatkan tingkat keadilan, serta progresivitas dari pungutan pajak itu
sendiri.

4
Pemungutan pajak beserta perangkat hukum untuk mengatur tata caranya merupakan
amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945). Secara
singkat dan tegas, pernyataan tentang pajak tercantum dalam Amandemen Ketiga UUD 1945
Pasal 23A yang berbunyi, Pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan
negara diatur dengan undang-undang.

Dahulu, sebelum amandemen atas UUD 1945 dilakukan, aturan tentang pajak
dicantumkan dalam Pasal 23 ayat (2) yang menyatakan, Segala pajak untuk keperluan
negara berdasarkan undang-undang. Dengan demikian, dibandingkan dengan UUD 1945
terdahulu, redaksi kalimat konstitusi pascaamandemen menunjukkan ketegasannya dalam
mengatur hal perpajakan.

Peraturan perundang-undangan mengenai pajak yang berlaku saat ini adalah Undang-
Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU
Nomor 6 Tahun 1983) yang telah direvisi melalui Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1994
tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum
dan Tata Cara Perpajakan (UU Nomor 9 Tahun 1994). Karena merupakan saat dibentuknya
sebuah aturan pajak nasional yang baru, maka tahun 1983 disebut sebagai tahun reformasi
pajak.

Sebelum dibentuk dan diberlakukannya UU Nomor 6 Tahun 1983, dunia perpajakan


di negara ini mengenal asas-asas pemungutan pajak yang disebut Tri Dharma Perpajakan.
Ketiga asas tersebut adalah sebagai berikut.
a. Bahwa pemungutan pajak harus adil dan merata yang meliputi subyek maupun obyek
perpajakan. Sifatnya universal atau nondiskriminatif.
b. Harus ada kepastian hukum mengenai pemungutan pajak. Dengan kepastian hukum
yaitu bahwa sebelum pemungutan pajak dilakukan harus ada undang-undang terlebih
dahulu.
c. Ketepatan waktu pemungutan pajak. Membayar dan menagih harus tepat pada
waktunya, artinya pada saat orang memiliki uang (asas conveniency dan efisiensi).

Selanjutnya, sejak UU Nomor 6 Tahun 1983 berlaku sebagai undang-undang pajak


nasional, asasasas perpajakan yang melandasi ketentuan tersebut adalah seperti di bawah ini.
a. Kesederhanaan (simplification of law) Bahwa undang-undang tentang perpajakan agar
disusun sesederhana mungkin sehingga mudah dimengerti isi maupun susunan kata-
katanya.
b. Kegotong-royongan nasional Bahwa warga masyarakat harus berperan aktif dalam
pemenuhan kewajiban perpajakan sebagai kewajiban kewarganegaraan.
c. Pelimpahan kepercayaan sepenuhnya kewajiban perpajakan kepada wajib pajak sendiri,
maksud pemberian kepercayaan diharapkan agar warga sadar akan kewajiban kenegaraan
karena Negara sudah memberikan kepercayaan untuk menghitung, memperhitungkan,
membayar pajaknya sendiri. Kepercayaan yang diberikan kepada masyarakat disebut self
assessment.
d. Adanya kesamaan hak dan kewajiban antara wajib pajak dan fiskus.
5
e. Kepastian dan jaminan hokum Bahwa dalam pelaksanaan pemungutan pajak harus
dihormati adanya asas-asas kebenaran dan asas praduga tak bersalah. Artinya, wajib pajak
belum dinyatakan bersalah apabila belum ada bukti-bukti nyata.

2.1.1 Pengertian Dan Sistematika Hukum Pajak

Hukum pajak atau hukum fiskal ialah keseluruhan dari peraturan-peraturan yang
meliputi wewenang pemerintah untuk mengambil kekayaan seseorang dan menyerahkannya
kembali kepada masyarakat dengan melalui kas Negara, sehingga ia merupakan bagian dari
hukum publik, yang mengatur hubungan-hubungan hukum antara negara dan orang-orang
atau badan-badan (hukum) yang berkewajiban membayar pajak. Hukum Pajak mengatur
siapa subjek dan wajib pajak, obyek pajak, kewajiban wajib pajak kepada pemerintah,
timbul/hapusnya hutang pajak, cara penagihan pajak dan cara megajukan keberatan/banding
serta pengadilan pajak.

Hukum Pajak secara sistematis dibedakan antara Hukum Pajak Materiil (Material tax
law) dan hukum Pajak Formal (Formal tax law):
a. Hukum Pajak Materiil adalah hukum pajak yang memuat ketentuan-ketentuan tentang
siapa-siapa yang dikenakan pajak, dan siapa-siapa dikecualikan dari pengenaan pajak, apa
saja yang dikenakan pajak dan berapa yang harus dibayar. Hukum pajak material
membuat norma-norma yang menerangkan keadaan-keadaan, perbuatan-perbuatan dan
peristiwa-peristiwa hukum yang harus dikenakan pajak, siapa-siapa yang harus dikenakan
pajak ini, berapa besar pajaknya, dengan kata lain segala sesuatu tentang timbulnya,
besarnya, dan hapusnya hutang pajak dan pola hubungan hukum antara pemerintah dan
wajib pajak.
b. Hukum Pajak Formal adalah hukum pajak yang memuat ketentuan-ketentuan bagaimana
mewujudkan hukum pajak materiil menjadi kenyataan. Secara mudah dapat dirumuskan
bahwa hukum pajak materiil berisi ketentuan-ketentuan tentang siapa, apa, berapa dan
bagaimana. Dengan demikian, hukum pajak formal merupakan ketentuan-ketentuan yang
mengatur bagaimana mewujudkan hukum pajak materiil menjadi kenyataan. Yang
termasuk hukum pajak formal adalah peraturan-peraturan mengenai cara-cara untuk
menjelmakan hukum material tersebut diatas menjadi suatu kenyataan. Bagian hukum ini
memuat cara-cara penyelenggaraan mengenai penetapan suatu utang pajak, kontrol oleh
pemerintah terhadap penyelenggaranya, kewajiban para wajib pajak (Sebelum dan
sesudah menerima surat ketetapan pajak), kewajiban pihak ketiga, dan prosedur dalam
pemungutanya. Maksud hukum formal adalah untuk melindungi, baik Fiskus maupun
wajib pajak. Jadi untuk memberi jaminan bahwa hukum materialnya akan dapat
diselenggarakan setepat-tepatnya. (tulisan ini sengaja disisipkan oleh penyusun: Sentot
Baskoro) Misalnya hukum pajak materiil menetapkan, bahwa seseorang yang bertempat
tinggal di Indonesia lebih dari 183 hari dalam jangka waktu dua belas bulan, dan
mempunyai penghasilan yang jumlahnya di atas PTKP, maka orang yang bersangkutan
telah mempunyai kewajiban untuk membayar pajak dan statusnya telah menjadi Wajib
Pajak.
6
2.1.2 Sanksi Pajak

Sanksi administrasi menurut UU KUP dibagi atas 3 macam yaitu berupa denda, bunga
dan kenaikan. Sanksi administrasi berupa denda dikenakan terhadap pelanggaran peraturan
yang bersifat hukum publik. Dalam hal ini, sanksi administrasi dikenakan terhadap
pelanggaran ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang akibat
pelanggarannya pada umumnya tidak merugikan negara. Sanksi administrasi berupa bunga
sebesar 2% sebulan dikenakan terhadap wajib pajak yang membetulkan SPT, dikenakan
SKPKB (Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar), tidak melunasi utang pajak pada saat jatuh
tempo, terlambat membayar SKPKB dan SKPKBT, mengangsur atau menunda pembayaran
pajak serta menunda penyampaian SPT. Sedangkan sanksi administrasi berupa kenaikan
(kenaikan pajak atau tambahan pajak) dikenakan terhadap pelanggaran ketentuan perundang-
undangan perpajakan, yang akibat pelanggaran itu negara dirugikan. Menurut Undang-
Undang KUP tahun 2000, kenaikan adalah sanksi administrasi yang menaikkan jumlah pajak
yang harus dibayar wajib pajak dengan persentase antara 50-100% dari jumlah pajak yang
tidak/kurang dibayar.

Pemberian sanksi atau hukuman mempunyai empat buah latar belakang falsafah
yakni:
a. Retribution sebagai falsafah tertua dengan semboyan an eye for an eye yang berbasis
balas dendam; narapidana harus membayar utang mereka kepada masyarakat melalui
hukuman yang sesuai dengan kejahatannya.
b. Deterrence yang bertujuan, bahwa pemberian hukuman berfungsi sebagai contoh yang
akan menghalangi mereka yang berniat melakukan kejahatan (general deterrence) dan
meyakinkan narapidana untuk tidak berbuat perbuatan pidana lainnya (specific
deterrence).
c. Incapacitation; pemberian hukuman melalui penahanan atau membuat narapidana tidak
berdaya, bermaksud supaya narapidana diasingkan dari masyarakat sehingga mereka
tidak akan lagi merupakan ancaman atau bahaya bagi yang lainnya.
d. Rehabilitation yang berupaya mengintegrasikan kembali narapidana ke dalam
masyarakat melalui program koreksi dan layanan.

Penegakan hukum di bidang perpajakan adalah tindakan yang dilakukan oleh pejabat
terkait untuk menjamin supaya Wajib Pajak dan calon Wajib Pajak memenuhi ketentuan
undang-undang perpajakan seperti menyampaikan SPT, pembukuan dan informasi lain yang
relevan serta membayar pajak pada waktunya. Sarana melakukan penegakan hukum dapat
meliputi sanksi atas kelalaian menyampaikan SPT, bunga yang dikenakan atas keterlambatan
pembayaran dan dakwaan pidana dalam hal terjadi penyeludupan pajak. Salah satu faktor
yang juga ikut menentukan tinggi rendahnya kepatuhan adalah besarnya biaya-biaya yang
harus dikeluarkan oleh Wajib Pajak, yang dalam literatur disebut sebagai compliance cost.
Sedangkan biaya yang dikeluarkan fiskus dalam rangka pelaksanaan fungsi-fungsinya disebut
sebagai administrative cost. Time cost adalah waktu yang terpakai oleh Wajib Pajak dalam
memenuhi kewajiban perpajakannya, mulai dari waktu yang terpakai untuk membaca
7
formulir SPT dan buku petunjuknya, waktu untuk berkonsultasi dengan akuntan dan
konsultan pajak untuk mengisi SPT, serta waktu yang terpakai untuk pergi dan pulang ke
kantor pajak.

Faktor penentu cost of taxation dapat diuraikan sebagai berikut :


a. Sacrifice of income adalah pengorbanan Wajib Pajak menggunakan sebagian
penghasilan atau harta/uangnya untuk membayar pajak itu.
b. Distortion cost adalah biaya yang timbul sebagai akibat perubahan-perubahan
dalam proses produksi dan faktor produksi karena adanya pajak tersebut, yang
pada gilirannya akan merubah pola perilaku ekonomi. Sebagai contoh adalah
pajak dapat merupakan disincentive terhadap individu maupun perseroan dalam
berkonsumsi dan berproduksi.
c. Cost of taxation yang ketiga adalah running cost, yakni biaya-biaya yang tidak
akan ada jika sistem perpajakan tidak ada baik bagi pemerintah maupun bagi
individu. Biaya ini disebut juga tax operating cost yang dibagi menjadi biaya
untuk sektor publik dan sektor swasta/private.

2.1.3 Wajib Pajak

Wajib Pajak, sering disingkat dengan sebutan WP adalah orang pribadi atau badan
yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan ditentukan untuk
melakukan kewajiban perpajakan, termasuk pemungut pajak atau pemotong pajak tertentu.
Wajib pajak bisa berupa wajib pajak orang pribadi atau wajib pajak badan. Wajib pajak
pribadi adalah setiap orang pribadi yang memiliki penghasilan diatas pendapatan tidak kena
pajak. Di Indonesia, seiap orang wajib mendaftarkan diri dan mempunyai nomor pokok wajib
pajak (NPWP), kecuali ditentukan dalam undang-undang.

Kepatuhan perpajakan dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana Wajib Pajak
memenuhi semua kewajiban perpajakan dan melaksanakan hak perpajakannya. Menurut
pengamatan penulis ada dua macam kepatuhan yakni kepatuhan formal dan kepatuhan
materiil. Yang dimaksud dengan kepatuhan formal adalah suatu keadaan dimana Wajib Pajak
memenuhi kewajiban perpajakan secara formal sesuai dengan ketentuan formal dalam
undang-undang perpajakan. Sedangkan kepatuhan materiil adalah suatu keadaan dimana
Wajib Pajak secara substantif/hakikat memenuhi semua ketentuan materiil perpajakan yakni
sesuai isi dan jiwa undang-undang perpajakan. Kepatuhan materiil meliputi juga kepatuhan
formal.

Upaya-upaya pemerintah di seluruh dunia untuk mengurangi tax evasion telah lama
diadakan. Untuk Indonesia, pada tahun 1972 melalui SGATAR (Study Group on Asian Tax
Administration and Research) telah disidangkan di Jakarta dengan salah satu tema utama
adalah Some Aspects of Income Tax Avoidance or Evasion. Upaya untuk mengurangi tax
evasion lebih dini pada tingkat yang lebih mengglobal telah diadakan oleh IFA pada tahun
1980 di Paris dengan tema yang lunak yakni The Dialogue between the tax administration

8
and the taxpayer up to the filing of the tax return. Ketidakpatuhan secara bersamaan dapat
menimbulkan upaya menghindarkan pajak secara melawan hukum atau tax evasion.

Perilaku Wajib Pajak yang tidak sepenuhnya memenuhi kewajiban perpajakannya


oleh Bernard P. Herber, dibedakan menjadi tiga yakni tax evasion, tax avoidance dan tax
delinquency:

Dari kutipan di atas dapat dipahami bahwa tax evasion adalah perbuatan melanggar
undang-undang. Misalnya menyampaikan di dalam SPT jumlah penghasilan yang lebih
rendah daripada yang sebenarnya (understatement of income) di satu pihak dan atau
melaporkan biaya yang lebih besar daripada yang sebenarnya (overstatement of the
deductions) di lain pihak. Bentuk tax evasion yang lebih parah adalah apabila Wajib Pajak
sama sekali tidak melaporkan penghasilannya (non-reporting of income). Perbuatan ini
melanggar baik jiwa atau semangat maupun kalimat-kalimat dalam undang-undang
perpajakan. Di Indonesia perbuatan yang termasuk dalam tax evasion diancam dengan
hukuman pidana fiscal yang diatur dalam Pasal 38 dan Pasal 39 UU KUP 2000.

Dalam tax avoidance Wajib Pajak memanfaatkan peluang-peluang (loopholes) yang


ada dalam undang-undang perpajakan, sehingga dapat membayar pajak yang lebih rendah.
Perbuatannya ini secara harfiah tidak melanggar undangundang perpajakan, tapi dari segi
jiwa undang-undang perpajakan termasuk perbuatan yang melanggar. Misalnya pada bulan
Desember 2000 Wajib Pajak A akan menerima penghasilan sebesar Rp 25.000.000,- yang
akan terkena tarif Pajak Penghasilan sebesar 10%.

Adapun cara-cara mencegah Wajib Pajak melakukan tax evasion antara lain dapat
berupa pemeriksaan pajak (tax audit); sistem informasi yaitu dialog dan saling tukar
pandangan antara Wajib Pajak dan fiskus harus tetap diadakan; administrasi pajak dalam arti
sebagai prosedur meliputi antara lain tahap-tahap pendaftaran Wajib Pajak, penetapan, dan
penagihan.; kemungkinan ketahuan dan penegakan hukum (probability of detection and level
of penalties). Hal ini pada hakikatnya terkait dengan penegakan hukum pajak atau tax law
enforcement serta tingginya tarif pajak, rasa keadilan yang tak terpenuhi dan pemanfaatan
dana pajak.

2.1.4 Subyek & Obyek Pajak


Subyek Pajak adalah orang yang dituju oleh UU untuk dikenakan pajak. Subyek pajak
berkenaan dengan penghasilan yang diperolehnya dalam tahun pajak. Subyek pajak meliputi
orang pribadi, warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan, badan dan bentuk usaha
tetap. Yang dimaksud dengan Bentuk Usaha Tetap (BUT atau dalam bahasa Inggris:
permanent establishment) adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang
tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus
delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, atau badan yang tidak
didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia, untuk menjalankan usaha atau
melakukan kegiatan di Indonesia.
9
Suatu bentuk usaha tetap mengandung pengertian adanya suatu tempat usaha (place
of business) yaitu fasilitas yang dapat berupa tanah dan gedung termasuk juga mesin-mesin
dan peralatan.Tempat usaha tersebut bersifat Permanen dan digunakan untuk menjalankan
usaha atau melakukan kegiatan dari Orang Pribadi yang tidak bertempat tinggal atau badan
yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia.

Pengertian bentuk usaha tetap mencakup pula orang pribadi atau badan selaku agen
yang kedudukannya tidak bebas yang bertindak untuk dan atas nama orang pribadi atau
badan yang tidak bertempat tinggal atau tidak bertempat kedudukan di Indonesia. Orang
pribadi yang tidak bertempat tinggal atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat
kedudukan di Indonesia tidak dapat dianggap mempunyai bentuk usaha tetap di Indonesia
apabila orang pribadi atau badan dalam menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di
Indonesia menggunakan agen, broker atau Perantara yang mempunyai kedudukan bebas,
asalkan agen atau perantara tersebut dalam kenyataannya bertindak sepenuhnya dalam rangka
menjalankan perusahaannya sendiri.

Perusahaan Asuransi yang didirikan dan bertempat kedudukan di luar Indonesia


dianggap mempunyai bentuk usaha tetap di Indonesia apabila perusahaan asuransi tersebut
menerima pembayaran Premi Asuransi di Indonesia atau menanggung risiko di Indonesia
melalui pegawai, perwakilan atau agennya di Indonesia. Menanggung risiko di Indonesia
tidak berarti bahwa peristiwa yang mengakibatkan risiko tersebut terjadi di Indonesia. Yang
perlu diperhatikan adalah bahwa pihak tertanggung bertempat tinggal, berada atau bertempat
kedudukan di Indonesia. Menurut Undang-Undang Perpajakan Indonesia, bentuk usaha yang
dipergunakan oleh Subjek Pajak Luar Negeri untuk menjalankan usaha ataumelakukan
kegiatan di Indonesia, dapat dikatakan sebagai BUT yang dapat berupa: tempat kedudukan
manajemen; cabang perusahaan; kantor perwakilan; gedung kantor; pabrik; bengkel;
pertambangan dan penggalian sumber alam; wilayah kerja pengeboran yang digunakan untuk
eksplorasi pertambangan; perikanan, peternakan, pertanian, perkebunan, atau kehutanan;
proyek konstruksi, instalasi, atau proyek perakitan; pemberian jasa dalam bentuk apapun
oleh pegawai atau oleh orang lain, sepanjang dilakukan lebih dari 60 hari dalam jangka waktu
12 bulan; orang atau badan yang bertindak selaku agen yang kedudukannya tidak bebas; dan
agen atau pegawai dari perusahaan asuransi yang tidak didirikan dan tidak bertempat
kedudukan di Indonesia yang menerima premi asuransi atau menanggung risiko di Indonesia.

Obyek Pajak adalah sasaran pengenaan pajak dan dasar untuk menghitung pajak
terutang.

2.1.5 Utang Pajak

Pajak dipandang dari segi hukum akan terutang apabila memenuhi syarat subjektif
yang berhubungan dengan objek pajak dan syarat objektif yang berhubungan dengan subjek
pajak. Utang Pajak menurut faham formal timbul karena perbuatan fiskus, yakni fiskus
menerbitkan SKP. Secara ekstrim, seseorang tidak mempunyai kewajiban membayar pajak
10
penghasilan/ pendapatannya jika fiskus belum menerbitkan SKP. Sedangkan menurut faham
materiil utang pajak timbul karena terpenuhinya ketentuan-ketentuan yang disyaratkan
dalam undang-undang. Terpenuhinya ketentuan dalam undang-undang tersebut disebut
sebagai tatbestand. Misalnya syarat timbulnya utang pajak bagi seseorang (A) menurut UU
PPh 2000 antara lain: Jika si A telah bertempat tinggal atau berada di Indonesia lebih dari 183
hari dalam jangka waktu dua belas bulan, dan si A telah mempunyai penghasilan setahun di
atas PTKP, maka sudah timbul utang pajak bagi si A. Dia tidak perlu menunggu fiskus
menerbitkan SKP. Timbulnya utang pajak menurut faham materiil secara sederhana dapat
dikatakan karena Undang-Undang atau karena tatbestand, yaitu rangkaian dari keadaan-
keadaan, perbuatan-perbuatan dan peristiwa-peristiwa (baik yang feitelijk, yuridis,
persoonlijk maupun zakelijk) yang dapat menimbulkan utang pajak. Terutangnya suatu pajak
sekurang-kurangnya harus memenuhi unsur-unsur rumus pajak, yakni adanya tax base atau
dasar pengenaan pajak, tax rate atau tariff pajak dan adanya tax payer atau Wajib Pajak. Tarif
pajak dikalikan dasar pengenaan pajak akan menghasilkan utang pajak atau tax liability, yang
dapat juga disajikan dan persamaan:
Pajak = Tarif x Dasar Pengenaan Pajak (Tax = Rate x Base)

Di dalam Hukum Pajak juga dikenal istilah Tatbestand, yaitu rangkaian dari keadaan-
keadaan, perbuatan-perbuatan dan peristiwa-peristiwa (baik yang feitelijk, yuridis,
persoonlijk maupun zakelijk) yang dapat menimbulkan utang pajak.

2.1.6 Hukum Pajak Formal

Beberapa hukum pajak formal yaitu: UU No.28/2007 tentang perubahan ketiga


Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, UU No. 16/2000 tentang perubahan kedua dari
UU No 6/1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan; UU No 19/2000 Tentang
Penagihan Pajak Dan Surat Paksa; UU No. 20/1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak
(PNBP); UU No. 17/2000 tentang perubahan kedua atas UU No. 7/1983 tentang Pajak
Penghasilan; UU No. 18/2000 tentang perubahan kedua atas UU No. 8/1983 tentang Pajak
Pertambahan Nilai Barang Dan Jasa Dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah; UU No.
20/2000 tentang perubahan UU No. 21/1997 tentang Peralihan Hak Atas Tanah Dan
Bangunan; UU No. 34/2000 tentang perubahan atas UU No. 18/1997 tentang Pajak Daerah
Dan Retribusi Daerah; UU No. 17/1985 tentang Bea Dan Material; UU No. 17/1994 tentang
perubahan atas UU No. 12/1985 tentang Pajak Bumi Dan Bangunan; UU No. 14/2002
tentang Pengadilan Pajak sebagai pengganti UU No. 17/ 1997 tentang Badan Penyelesaian
Sengketa Pajak .

2.1.7 Administrasi Hukum Pajak

Ilmu administrasi adalah cabang atau disiplin ilmu sosial yang melakukan studi
terhadapadministrasi sebagai salah satu fenomena masyarakat modern. Administrasi
11
sebagai objek studi Ilmu Administrasi paling sedikitnya mempunyai 10 (sepuluh) aspek yang
penting yakni administrasi merupakan suatu fenomena sosial, suatu perwujudan tertentu di
dalam masyarakat (modern). Eksistensi daripada Administrasi ini berkaitan dengan
organisasi (dalam arti moder), artinya: administrasi itu terdapat di dalam suatu
organisasi. Jadi, barang siapa hendak mengetahui adanya administrasi dalam masyarakat
dia harus mencari terlebih dahulu suatu organisasi yang masih hidup; di situ terdapat
administrasi.

2.1.8 Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan

Ketentuan tatacara perpajakan dimulai dengan Surat Pemberitahuan, Surat Setoran


Pajak, Surat Ketetapan Pajak, Surat Tagihan, Pembukuan / Pemeriksaan, Penyidikan, Surat
Paksa, Keberatan, Banding dan PK. Secara fungsional SPT merupakan sarana komunikasi
antara wajib pajak dan fiskus. Bagi wajib pajak merupakan sarana pertanggungjawaban
kewajiban perpajakan selama satu periode fiskal, sedang bagi fiskus sebagai sarana
pamantauan terhadap pemenuhan kewajiban perpajakan wajib pajak. Secara fisik SPT adalah
formulir yang telah disiapkan fiskus untuk diisi wajib pajak guna melaporkan pemenuhan
kewajiban perpajakannya.

Proses pengisian SPT secara benar dan lengkap sesuai undang-undang perpajakan
merupakan tahap yang penting dalam administrasi pajak, sebab timbulnya sanksi fiskal baik
yang bersifat administratif maupun pidana dapat berawal dari pengisian SPT yang tidak benar
dan tidak lengkap. Eksistensi SPT dalam sistem perpajakan yang menganut self assessment
merupakan suatu hal yang mutlak, sebab tanpa SPT maka sistem perpajakan yang menganut
self assessment akan berubah menjadi official assessment dimana perhitungan jumlah pajak
yang terutang hanya akan didasarkan pada perkiraan fiskus semata-mata. Penetapan oleh
fiskus dalam kondisi yang demikian ini yakni Wajib Pajak tidak menyampaikan SPT
walaupun telah ditegur dan diperingatkan disebut sebagai penetapan secara jabatan atau
penetapan secara ex-officio. Jumlah pajak terutang dalam SKP yang ex-officio dapat
dipastikan berjumlah jauh lebih besar daripada yang seharusnya, karena perhitungan fiskus
hanya didasarkan pada taksiran saja. Tidak menyampaikan SPT tepat pada waktunya diancam
dengan sanksi administrasi berupa denda administrasi. Tidak menyampaikan SPT atau
menyampaikan SPT yang isinya tidak benar diancam dengan sanksi pidana.
Prosedur pajak (Corporate tax procedures) di Indonesia berdasarkan UU No. 16
Tahun 2000 menyangkut masalah Due date for Filing Corporate Tax Returns, atau batas
waktu penyampaian SPT Pajak Penghasilan; Procedures for extending due date for filing,
atau prosedur untuk memperpanjang masa penyampaian SPT; Estimated tax return atau
perkiraan pajak penghasilan yang terutang untuk tahun depan. Ketentuan ini di Indonesia
diatur dalam Pasal 25 UU PPh 2000; Penalties and Interest; Statute of limitations for
examination of returns; Claim for refund procedures atau prosedur untuk mendapatkan
kembali kelebihan pembayaran pajak dan appeal Procedures to Tax Authority and Court, atau
prosedur mengajukan keberatan ke Direktur Jenderal Pajak dan Pengadilan Pajak.

2.1.9 Peradilan Pajak


12
Manusia pada dasarnya lahir ke permukaan bumi bebas dan merdeka, dan pada
dirinya melekat hak-hak asasi yang mendasarinya. Namun dia tidak mungkin hidup seorang
diri di tengah-tengah masyarakat, seperti cerita Robinson Crusoe, seorang pelaut yang
terdampar disebuah pulau kecil. Dia hidup tak berkawan kecuali dengan binatang-binatang,
dia tidak butuh hukum, karena hukum itu baru dibutuhkan dalam suatu pergaulan hidup
manusia. Realitasnya manusia hidup bermasyarakat, dimana didalamnya ada kepentingan
individu dan kepentingan masyarakat antara keduanya selalu berkaitan atau kadang-kadang
terjadi pertentangan. Disinilah pentingnya kehadiran hukum termasuk didalamnya lembaga
peradilan yang berfungsi menyelesaikan masalah/sengketa diantara pihak, setelah upaya
penyelesaian internal (kemanusiaan, tidak berhasil dicapai kata sepakat/kata damai).

Demikian halnya dengan masalah pajak, praktis merupakan peradilan kekayaan dari
sektor pergaulan hidup manusia ke sektor organisasi Negara, guna mempertahankan
kehidupannya. Untuk mengatur keharmonisan dalam mengalihkan kekayaan dari individu
kepada masyarakat (negara), diperlukanlah peraturan mengenai perpajakan. Bagaimana bila
terjadi sengketa antara rakyat sebagai individu dan alat-alat negara (sebagai
pemungut/penanggung-jawab pajak misalnya).

Pada mulanya, bila terjadi sengketa antara rakyat dengan alat-alat Negara, secara
umum diselesaikan oleh Pengadilan Negeri (Umum), yang hasilnya kurang memuaskan,
karena perselisihan itu terjadi di bidang tata usaha Negara.Tetapi setelah lahirnya Undang-
undang No.5 Tahun 1986, permasalahan tersebut menjadi kewenangan Peradilan
Administrasi Negara/Peradilan Tata Usaha Negara.

Dengan adanya undang-undang ini, penyelesaian sengketa pajak masuk dalam


kekuasaan pengadilan, yang akhirnya dapat bermuara ke Mahkamah Agung. Sejarah hukum
ternyata berkehendak lain, dimana kedudukan dan Kompetensi dikembalikan pada fungsi
semula yaitu setelah diundangkannya Undang-undang No.9 Tahun 1994 (Jo Undang-undang
Nomor 6 Tahun 1983 / Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. Pasal 27 ayat (1)
Undang-undang Nomor 9 Tahun 1994 menyebutkan bahwa Wajib Pajak dapat mengajukan
permohonan hanya kepada Badan Peradilan terhadap Keputusan mengenai keberatannya
yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak. Namun sebelum Badan Peradilan Pajak
tersebut dibentuk, permohonan Banding tetap diajukan ke Majelis Pertimbangan Pajak (MPP)
yang putusannya bukan merupakan Keputusan Tata Usaha Negara.

Pada kasus PT. Ancora Mining Service terdapat dua kemungkinan ketidak-cocokan
antara laporan keuangan dan arus lalu lintas uang yang ada, yaitu perusahaan secara sengaja
telah menggunakan jasa akuntan baik internal maupun akuntan publik untuk mengeluarkan
laporan keuangan yang tidak benar ini, atau sering disebut dengan penggunaan pembukuan
ganda, dimana pembukuannya terbagi menjadi pembukuan untuk kepentingan internal dan
pembukuan untuk konsumsi publik dan/atau pajak.

13
Kemungkinan kedua adalah perusahaan menjadi korban dari tindak kejahatan
pemalsuan yang dilakukan sendiri oleh akuntannya. Kembali lagi, akuntan yang dimaksud
adalah akuntan internal maupun akuntan publik. Dapat terjadi bahwa tindakan pemalsuan
tersebut dilakukan oleh akuntan internal yang membutuhkan penilaian baik atas kinerjanya
sehingga melakukan kerjasama kejahatan pemalsuan laporan keuangan bersama dengan
akuntan publik.

Di sisi lain juga terdapat pelanggaran atas laporan keuangan Yayasan yang terkait
dengan perusahaan, yaitu Yayasan Ancora, dimana tidak melakukan laporan atas sumbangan
dari pihak MEC yang melebihi Rp.500.000.000,- juta sebagaimana diatur dalam Pasal 52 ayat
2 (b) Undang Undang no. 28 tahun 2004 yang memperbaiki Undang Undang no. 16 tahun
2001 tentang Yayasan.

Jika dapat dibuktikan bahwa perusahaan telah melakukan perbuatan pemalsuan


laporan keuangan sebagaimana diperdugakan, maka perusahaan dapat dikenakan tuduhan
melakukan pemalsuan berdasarkan Pasal 263 (1), 263 (2), dan 378 KUHP, di mana pengguna
dan pelaku pemalsuan dapat diancam hukuman penjara selama enam tahun.
Selain itu perusahaan juga dapat langsung dikaitkan dengan tuduhan penggelapan
pajak sesuai dengan Pasal 55 Undang-undang no. 5 tahun 2011 tentang Akuntan Publik jo
pasal 24 Undang-undang No. 15 tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung
Jawab Keuangan Negara.

2.2 Sengketa Pajak dan Penyelesaiannya

Adanya kewajiban bagi masyarakat untuk membayar pajak terkadang tidak


berbanding lurus dengan tingkat kesadaran wajib pajak dalam mematuhi ketentuan tersebut.
Keterbatasan pemerintah melalui aparat penagih pajaknya juga mengakibatkan munculnya
masalah persengketaan di bidang perpajakan.

Masalah sengketa pajak ini dari masa ke masa ditanggapi oleh pemerintah yang
berkuasa dengan jalan lembaga penyelesaian sengketa pajak. Pada masa Pemerintahan Hindia
Belanda, di negara ini telah ada badan penyelesaian sengketa pajak yang dibentuk dengan
Ordonansi 1915 (Staatsblad Nomor 707) dengan nama Raad van het Beroep voor
Belastingzaken (Badan Banding Administrasi Pajak), yang kemudian diganti dengan
Ordonansi 27 Januari 1927, Staatsblad 1927 Nomor 29 tentang Peraturan Pertimbangan
Urusan Pajak (Regeling van het Beroep in Belastingzaken). Selanjutnya, lembaga tersebut
oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1959 diubah menjadi Majelis Pertimbangan Pajak yang
tugasnya memberi keputusan atas surat pemeriksaan banding tentang pajak-pajak negara dan
pajak-pajak daerah. Berdasarkan UU Nomor 6 Tahun 1983, MPP diberlakukan sebagai badan
peradilan pajak yang sah dan tidak bertentangan dengan kekuasaan kehakiman sebagaimana
tercantum dalam UU Nomor 14 Tahun 1970. UU Nomor 6 Tahun 1983 mengatur hal ini
dalam Pasal 27 ayat (1) yang berbunyi sebagai berikut: Wajib Pajak dapat mengajukan

14
permohonan banding hanya kepada badan peradilan pajak terhadap keputusan mengenai
keberatannya yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pajak.

Selanjutnya, ayat (2) pasal yang sama menyebutkan sebagai berikut: Sebelum badan
peradilan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibentuk, permohonan banding diajukan
kepada Majelis Pertimbangan Pajak, yang putusannya bukan merupakan keputusan Tata
Usaha Negara.

Seiring berkembangnya aturan mengenai pajak dan semakin meningkatnya potensi


sengketa pajak, MPP dianggap sudah tidak memadai dalam melakukan penyelesaian sengketa
pajak. Oleh sebab itu, pemerintah merasa perlu membentuk lembaga peradilan di bidang
perpajakan yang lebih komprehensif dan dibentuk melalui undang-undang. Tujuannya adalah
menjamin hak dan kewajiban pembayar pajak sesuai dengan undang-undang bidang
perpajakan serta memberikan putusan hukum atas sengketa pajak. Putusan lembaga peradilan
pajak dapat dijadikan pedoman dalam melaksanakan undang-undang perpajakan sehingga
ketentuan-ketentuan di dalamnya dapat memberikan kepastian hukum dan keadilan bagi
semua pihak.

Maka, berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1997 dibentuklah Badan


Penyelesaian Sengketa Pajak (BPSP) yang arah dan tujuan pembentukannya adalah sebagai
berikut.
a. BPSP bertugas memeriksa dan memutus sengketa pajak berupa:
1. banding terhadap pelaksanaan keputusan pejabat yang berwenang;
2. gugatan terhadap pelaksanaan peraturan perundang-undangan perpajakan di bidang
penagihan.
b. Putusan BPSP bersifat final dan mempunyai kekuasaan eksekutorial dan berkedudukan
hokum yang sama dengan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum
tetap.
c. Pengajuan banding atau gugatan ke BPSP merupakan upaya hukum terakhir bagi
pembayar pajak dan putusannya tidak dapat digugat ke peradilan umum atau Peradilan
Tata Usaha Negara (PTUN).

Dalam undang-undang tersebut juga ditentukan bahwa untuk mendapatkan keadilan


pengenaan pajak, wajib pajak dapat menempuh jalur-jalur sebagai berikut.
a. Jalur keberatan pajak dan banding ke BPSP.
b. Jalur melalui Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN).
c. Jalur melalui peradilan umum.

Ditentukan pula keberadaan BPSP sebagai badan peradilan pajak hanya untuk
menyelesaikan sengketa administratif, yaitu dari segi perhitungan dan akuntansi, bukan
mengenai pidana pajak.

Walaupun tidak bertentangan dengan UU Nomor 14 Tahun 1970, BPSP pada


kenyataannya belum merupakan badan peradilan yang berpuncak di Mahkamah Agung. Oleh
15
karena itu, dibutuhkan suatu pengadilan pajak yang sesuai dengan sistem kekuasaan
kehakiman yang berlaku di Indonesia sekaligus mampu menciptakan keadilan dan kepastian
hukum dalam penyelesaian sengketa pajak.
Atas berbagai pertimbangan tersebut, Pemerintah Republik Indonesia mengesahkan
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak (UU Nomor 14 Tahun
2002). Definisi pengadilan pajak dijelaskan dalam Pasal 2, yaitu Pengadilan Pajak adalah
badan peradilan yang melaksanakan kekuasaan kehakiman bagi Wajib Pajak atau penanggung
pajak yang mencari keadilan terhadap sengketa pajak.

Laporan penggelapan pajak ini dapat dijadikan dasar terjadinya sengketa pajak, yaitu
tatkala PT. Ancora Mining Service selaku wajib pajak mempunyai perhitungan hutang dan
pembayaran pajak yang berbeda dengan Pemerintah (fiscus) sesuai dengan Pasal 39 Ayat (1)
huruf a jo Pasal 43 Ayat (1) UU No 6/1983 sebagaimana diubah menjadi UU No 16/2000
tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. Sementara itu jika terbukti terjadi
penggelapan pajak maka dikenakan ancaman penggelapan pajak tahun 2008-2010 yang diatur
dalam Pasal 39a huruf b jo Pasal 43 Ayat (1) UU No. 6/1983 sebagaimana diubah menjadi
UU No. 16/2000 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan dengan ancaman
hukuman maksimal enam tahun penjara.

Namun dalam keadaan dimana terbukti dan telah memperoleh kekuatan hukum tetap
bahwa telah terjadi pemalsuan laporan keuangan, maka proses pengajuan sengketa pajak ini
tidak dapat dilakukan oleh PT Ancora Mining Services, melainkan hanya dapat diajukan oleh
Dirjen Pajak semata.

Dalam keadaan terjadi kondisi terbukti pemalsuan laporan keuangan dan sengketa pajak
yang diajukan ternyata benar menurut perhitungan Direktorat Jenderal Pajak, maka PT
Ancora Mining Services akan menghadapi dua tuntutan berbeda yang sungguh akan
merugikan nama baik dan reputasi perusahaan maupun para pemegang sahamnya secara
sendiri-sendiri.

2.3 Dasar Hukum Pengadilan Pajak

Sebagaimana diuraikan pada bab terdahulu, Pengadilan Pajak dibentuk melalui UU


Nomor 14 Tahun 2002. Lembaga ini memiliki kewenangan untuk memutus perkara mengenai
sengketa pajak. Pasal 1 butir 5 undang-undang ini menyebutkan pengertian sengketa pajak
seperti di bawah ini.

Sengketa pajak adalah sengketa yang timbul dalam bidang perpajakan antara Wajib
Pajak atau penanggung pajak dengan Pejabat yang berwenang sebagai akibat dikeluarkannya
keputusan yang dapat diajukan banding atau gugatan kepada Pengadilan Pajak berdasarkan
peraturan perundang-undangan perpajakan, termasuk gugatan atas pelaksanaan penagihan
berdasarkan Undang- Undang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa.

16
Dalam hal ini sengketa pajak dapat terjadi akibat adanya perbedaan nilai perhitungan
dan pembayaran hutang pajak antara Wajib Pajak dan Pemerintah (fiscus). Nilai tersebut
dapat didasarkan atas laporan keuangan dari wajib Pajak, maupun temuan-temuan lain dari
Direktorat Jenderal Pajak atas kegiatan Wajib Pajak yang bersangkutan.

Pengadilan pajak sendiri merupakan pengadilan tingkat pertama sekaligus terakhir


dalam memeriksa dan memutus sengketa pajak. Kewenangan pengadilan pajak tertera dalam
Bab III tentang Kekuasaan Pengadilan Pajak.

Kekuasaan Pengadilan Pajak dalam memeriksa dan memutus sengketa pajak meliputi
semua jenis sengketa pajak yang dipungut oleh Pemerintah Pusat, termasuk Bea Masuk dan
Cukai, dan pajak yang dipungut oleh Pemerintah Daerah, berdasarkan peraturan
perundangundangan yang berlaku.

Oleh karena karakteristiknya yang unik, maka sifat Pengadilan Pajak adalah tidak
harus in persona (para pihak harus dihadirkan). Dalam Pengadilan Pajak yang diperiksa
hanyalah dokumen, yaitu berupa laporan keuangan, rekening bank, data transaksi, mengenai
omzet, dan sebagainya.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1997 dibentuklah Badan Penyelesaian


Sengketa Pajak (BPSP) yang arah dan tujuan pembentukannya adalah sebagai pemeriksa dan
pemutus sengketa pajak berupa:
1. banding terhadap pelaksanaan keputusan pejabat yang berwenang;
2. gugatan terhadap pelaksanaan peraturan perundang-undangan perpajakan di bidang
penagihan.
3. Keputusan BPSP bersifat final dan mempunyai kekuasaan eksekutorial dan
berkedudukan hokum yang sama dengan putusan pengadilan yang telah mempunyai
kekuatan hukum tetap.
4. Pengajuan banding atau gugatan ke BPSP merupakan upaya hukum terakhir bagi
pembayar pajak dan putusannya tidak dapat digugat ke peradilan umum atau
Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN).

Dalam undang-undang tersebut juga ditentukan bahwa untuk mendapatkan keadilan


pengenaan pajak, wajib pajak dapat menempuh jalur-jalur melalui BPSP, PTUN maupun
peradilan umum.

Ditentukan pula keberadaan BPSP sebagai badan peradilan pajak hanya untuk
menyelesaikan sengketa administratif, yaitu dari segi perhitungan dan akuntansi, bukan
mengenai pidana pajak.

Walaupun tidak bertentangan dengan UU Nomor 14 Tahun 1970, BPSP pada


kenyataannya belum merupakan badan peradilan yang berpuncak di Mahkamah Agung. Oleh
karena itu, dibutuhkan suatu pengadilan pajak yang sesuai dengan sistem kekuasaan

17
kehakiman yang berlaku di Indonesia sekaligus mampu menciptakan keadilan dan kepastian
hukum dalam penyelesaian sengketa pajak.

Atas berbagai pertimbangan tersebut, Pemerintah Republik Indonesia mengesahkan


Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak (UU Nomor 14 Tahun
2002). Definisi pengadilan pajak dijelaskan dalam Pasal 2, yaitu Pengadilan Pajak adalah
badan peradilan yang melaksanakan kekuasaan kehakiman bagi Wajib Pajak atau penanggung
pajak yang mencari keadilan terhadap sengketa pajak.

18
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 KESIMPULAN
PT. Ancora Mining Service dapat dikenakan tuduhan melakukan penggelapan pajak
selama dapat dibuktikan bahwa telah terjadi pemalsuan laporan keuangan sesuai dengan
pasal 263 KUHP mengenai Pemalsuan Surat jo Pasal 55 Undang-undang no. 5 tahun 2011
tentang Akuntan Publik jo pasal 24 Undang-undang No. 15 tahun 2004 tentang
Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.
Laporan penggelapan pajak ini dapat dijadikan dasar terjadinya sengketa pajak, yaitu
tatkala PT. Ancora Mining Service selaku wajib pajak mempunyai perhitungan hutang
dan pembayaran pajak yang berbeda dengan Pemerintah (fiscus) sesuai dengan Pasal 39
Ayat (1) huruf a jo Pasal 43 Ayat (1) UU No 6/1983 sebagaimana diubah menjadi UU No
16/2000 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. Sementara itu jika terbukti
terjadi penggelapan pajak maka dikenakan ancaman penggelapan pajak tahun 2008-2010
yang diatur dalam Pasal 39a huruf b jo Pasal 43 Ayat (1) UU No. 6/1983 sebagaimana
diubah menjadi UU No. 16/2000 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
dengan ancaman hukuman maksimal enam tahun penjara
Sejak 1959, pemerintah telah memiliki badan peradilan pajak, yaitu Majelis Pertimbangan
Pajak (MPP) yang selanjutnya diganti dengan Badan Penyelesaian Sengketa Pajak
(BPSP) pada 1997. Akan tetapi, lembaga-lembaga tersebut belum merupakan badan
peradilan yang berpuncak di Mahkamah Agung. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu badan
peradilan pajak yang sesuai dengan sistem kekuasaan kehakiman yang berlaku di
Indonesia sekaligus mampu menciptakan keadilan dan kepastian hukum dalam
penyelesaian sengketa pajak, maka dibentuklah Pengadilan Pajak pada 2002.

3.2 Saran

Sebaiknya Presiden dan dirjen Pajak lebih teliti dalam pemeriksaan yang berkaitan
dengan laporan keuangan dan pembayaran pajak perusahaan-perusahaan yang berada di
Indonesia, agar tidak seperti penyelewengan yang dilakukan oleh PT. Ancora Mining
Services yang dimana perusahaan ini notabene dimiliki oleh salah satu pejabat tinggi negara
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan. Tindakan pemeriksaan
ini diharapkan menjadi bukti nyata keseriusan Presiden dalam pemberantasan korupsi di
Indonesia.
Tindak lanjut dari pemeriksaan Direktorat Pajak tersebut dapat meminta bantuan dari
berbagai akuntan publik yang terlibat dalam penyusunan laporan keuangan perusahaan PT.
Ancora Mining Services maupun akuntan publik independen lain yang mempunyai reputasi
baik dalam integritas kerjanya.

Untuk tetap menempatkan kasus penyelidikan penggelapan pajak ini diperlukan


kerjasama yang erat dari berbagai jajaran seperti DPR sebagai institusi yang mewakili
kepentingan rakyat maupun media massa dalam tetap menjaga agar kasus ini tidak

19
ditenggelamkan dari perhatian publik. Dengan demikian kemungkinan terjadinya penutupan
kasus akibat terlupakan oleh perhatian masyarakat dapat dihindarkan.

20
DAFTAR PUSTAKA

Firmansyah, Analisis Kebijakan Pemberian insentif Pajak atas Sumbangan dalam Kegiatan
Penelitian dan Pengembangan, dalam Jurnal Ilmu Administrasi dan Organisasi Vol.17 No.1,
Bisnis & Birokrasi, Jakarta, 2010.

Handoko, Rukiah, Pengantar Hukum Pajak: Seri Buku Ajar. Depok: Fakultas Hukum
Universitas Indonesia, 2000.

Heru Suyanto dan Agung Palwono, Hukum Pajak dan Penyelesaian Sengketa Pajak, Cetakan
I, Heru Suyanto Publishing, Jakarta, 2011

Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Pajak, Fasilitas dan Insentif
Pajak Penghasilan Indonesia, 2012

Price Waterhouse Cooper, Insentif Pajak untuk Donatu/Sponsor Kegiatan Seni Budaya, 2013

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.


Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman

Sumber Artikel : http://syabiladj.blogspot.nl/2014/11/tugas-softskill-3.html

21