Anda di halaman 1dari 9

TUGAS TERSTRUKTUR NUTRISI

MIKROMINERAL

Zat Besi

Disusun Oleh :

Taradifa Nur Insi G1F013004

Syifa Zakiyyah G1F013006

Ismi Fadhila G1F013022

Senandung Nacita G1F013054

Nurul Angraeni G1F013060

Muhammad Aulia Akbar G1F013072

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN

JURUSAN FARMASI

PURWOKERTO

2015
I. PENDAHULUAN

Mikromineral
Mineral merupakan unsur isensial bagi fungsi normal sebagian enzim
dan sangat penting dalam pengendalian komposisi cairan tubuh 65% adalah
air dalam bobot tubuh. Mineral adalah bahan anorganik atau bahan kimia
yang didapat makhluk dari alam, yang asalnya ialah dari tanah. Mineral ada
yang larut dalam air lalu masuk tubuh lewat air minum atau air yang dipakai
untuk mencuci sayur dan memasak. Mineral masuk ke dalam tubuh dalam
bentuk garam lalu digunakan dalam bentuk elektrolit. Elektrolit adalah bentuk
ion dari mineral yang bermuatan positif (+) dan negatif (-), ada sebagian
mineral yang dipakai sel sebagai poros atau inti suatu molekul, ada pula yang
dipakai untuk menghubungkan suatu cabang ke cabang yang lain. Mineral
yang masuk kedalam tubuh lewat makanan sebagian diabsorpsi oleh dinding
usus. Makanan yang masuk kedalam tubuh terdiri dari bahan organik dan air
sebesar 96 % dan sisanya terdiri dari unsur mineral. Mineral dikenal sebagai
zat anorganik atau kadar abu, dalam proses pembakaran, bahan-bahan organik
terbakar, tetapi zat anorganik tidak terbakar, karena itu bahan anorganik
disebut abu (Winarno 1992).
Berdasarkan dari kebutuhannya, mineral terbagi menjadi 2 kelompok
yaitu makromineral dan mikromineral. Mikromineral dibutuhkan dengan
jumlah > 100 mg per hari sedangkan mikromineral dibutuhkan dengan jumlah
<100 mg per hari. Mikromineral adalah mineral yang dibutuhkan dalam
jumlah sedikit. Mikromineral terdiri atas: Besi (Fe), Seng (Zn), Iodium (I),
Selenium (Se), Tembaga (Cu), Mangan (Mn), Flour, Kobalt, Kromium (Cr),
Timah, Nikel, Vanadium, silicon (Winarno 1992)

II. PEMBAHASAN

II.1. Zat Besi


Zat besi merupakan mikromineral yang kandungannya dalam tubuh
sebesar 35 mg perkilogram berat badan wanita atau 50 mg perkilogram berat
badan pria (Winarno, 1997), yang sangat penting untuk pembentukan
hemoglobin (Hb) (Moehji, 1992).
Zat besi yang terdapat dalam semua sel tubuh berperan penting dalam
berbagai reaksi biokimia, diantaranya dalam produksi sel darah merah. Sel ini
diperlukan untuk mengangkut oksigen ke seluruh jaringan tubuh (Martin,
2001).
Zat besi adalah unsur esensial untuk kehidupan manusia, terutama sebagai
konstituen dari hemoglobin, mioglobin dan sejumlah enzim lainnya. Sekitar
30% besi ditemukan dalam tubuh sebagai simpanan besi seperti feritin dan
homosiderin dalam hati dan tulang, dan dalam jumlah sedikit dalam transferin
yang berfungsi dalam transport darah (Goldhaber, 2003).
RDA (Reference Dose Allowance) untuk zat besi adalah 8 mg per hari
untuk laki- laki dan perempuan sampai usia 51 tahun, sementara untuk wanita
umur 19-50 tahun adalah 18 mg/ hari. Kebutuhan zat besi untuk wanita dalam
usia produktif relatif besar karena wanita kehilangan darah setiap bulan pada
saat menstruasi dan kehamilan/kelahiran (Goldhaber, 2003). Kebutuhan zat
besi yang sangat tinggi pada laki-laki dalam masa pubertas dikarenakan
peningkatan volume darah, massa otot dan mioglobin. Pada wanita kebutuhan
zat besi setelah menstruasi sangat tinggi karena jumlah darah yang hilang rata-
rata 20mg zat besi tiap bulan (Stoltzfus, 2000).
Ada dua jenis zat besi yaitu zat besi berasal dari hem dan bukan dari
hem. Zat yang berasal dari hem merupakan penyusun hemoglobin dan
mioglobin, zat besi ini terdapat dalam daging, ikan, dan unggas serta hasil
olahan darah. Zat besi berasal dari bukan hem terdapat pada tumbuh-
tumbuhan yang ditemukan kadarnya dalam jumlah yang berbeda ( Demaeyer,
1993).
Zat besi hampir seluruhnya dalam bentuk ikatan kompleks dengan
protein. Ikatan ini kuat dalam bentuk organik, yaitu sebagai ikatan non ion dan
lebih lemah dalam bentuk anorganik, yaitu sebagai ikatan ion. Besi mudah
mengalami oksidasi atau reduksi. Kira-kira 70 % dari Fe yang terdapat dalam
tubuh merupakan Fe fungsional atau esensial, dan 30 % merupakan Fe yang
nonesensial. Fe esensial ini terdapat pada : Hemoglobin 66 % Mioglobin 3 %
Enzim tertentu yang berfungsi dalam transfer elektron misalnya sitokrom
oksidase, suksinil dehidrogenase dan xantin oksidase sebanyak 0,5% Pada
transferin 0,1 %. Besi nonesensial terdapat sebagai cadangan dalam bentuk
feritin dan hemosiderin sebanyak 25 %, dan pada parenkim jaringan kira-kira
5 % (Suharjo, 1988).
Fungsi zat besi diantaranya sebagai berikut (Almatsier, 2002) :
a. Sebagai alat angkut oksigen dari paru-paru ke jaringan
b. Sebagai alat angkut eletron pada metabolisme energi
c. Sebagai enzim pembentuk kekebalan tubuh dan sebagai pelarut obat-
obatan
Sumber makanan yang mengandung zat besi diantaranya (Almatsier, 2002):
a. Zat besi yang berasal dari hewani yaitu: daging, ayam, ikan, telur.
b. Zat besi yang berasal dari nabati yaitu;kacang-kacangan, sayuran
hijau, dan pisang ambon
Keanekaragaman konsumsi makanan berperan penting dalam
membantu meningkatkan penyerapan Fe didalam tubuh. Kehadiran protein
hewani, vitamin C, vitamin A, asam folat zat gizi mikro lain dapat
meningkatkan penyerapan zat besi dalam tubuh. Manfaat lain dari
mengkonsumsi makanan sumber zat besi adalah terpenuhinya kecukupan
vitamin A, karena makanan sumber zat besi biasanya juga merupakan sumber
vitamin A (Almatsier, 2002).
Penyerapan zat besi dipengaruhi oleh banyak faktor. Protein hewani
dan vitamin C meningkatkan penyerapan. Kopi, teh, garam kalsium,
magnesium dapat mengikat Fe sehingga mengurangi jumlah serapan. Karena
itu sebaiknya tablet Fe ditelan bersamaan dengan makanan yang dapat
memperbanyak jumlah serapan, sementara makanan yang mengikat Fe
sebaiknya dihindarkan, atau tidak dimakan dalam waktu bersamaan.
Disamping itu, penting pula diingat, tambahan besi sebaiknya diperoleh dari
makanan (Almatsier, 2002).

II.2. Klasifikasi defisiensi besi


Defisiensi besi dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu (Bakta IM, 2007):
a. Deplesi besi (Iron depleted state) adalah keadaan dimana cadangan besinya
menurun, tetapi penyediaan besi untuk eritropoesis belum terganggu.
b. Eritropoesis Defisiensi Besi (Iron Deficient Erytropoesis) adalah keadaan
dimana cadangan besinya kosong dan penyediaan besi untuk eritropoesis
sudah terganggu, tetapi belum tampak anemia secara laboratorik.
c. Anemia defisiensi besi : keadaan dimana cadangan besinya kosong dan
sudah tampak gejala anemia defisiensi besi

Beberapa hal yang dapat menjadi penyebab dari anemia defisiensi besi
diantaranya (Bakta IM, 2007) :

a. Kehilangan darah yang bersifat kronis dan patologis


b. Kebutuhan yang meningkat pada prematuritas, pada masa pertumbuhan,
kehamilan, wanita menyusui, wanita menstruasi.
c. Malabsorbsi : sering terjadi akibat dari penyakit coeliac, gastritis atropi dan
pada pasien setelah dilakukan gastrektomi.
d. Diet yang buruk/ diet rendah besi.

II.3. Terapi Defisiensi Besi


Pemberian terapi haruslah tepat setelah diagnosis ditegakkan supaya
terapi pada anemia ini berhasil. Dalam hal ini kausa yang mendasari
terjadinya anemia defisiensi besi ini harus juga diterapi.Pemberian terapi ini
dapat dibagi menjadi tiga
bagian yaitu:
a. Terapi kausal: terapi ini diberikan berdasarkan penyebab yang mendasari
terjadinya anemia defisiensi besi. Terapi kausal ini harus dilakukan segera
kalau tidak, anemia ini dengan mudah akan kambuh lagi atau bahkan
pemberian preparat besi tidak akan memberikan hasil yang diinginkan.
b. Terapi dengan preparat besi, pemberiannya dapat secara oral.

II.4. Preparat Besi


a. Ferro Sulfat : merupakan preparat yang terbaik, dengan dosis 3 x 200 mg,
diberikan saat perut kosong (sebelum makan). Jika hal ini memberikan efek
samping misalkan terjadi mual, nyeri perut, konstipasi maupun diare maka
sebaiknya diberikan setelah makan/bersamaan dengan makan atau
menggantikannya dengan preparat besi lain (Metha A, Hoffbrand AV,
2000).
b. Ferro Glukonat: merupakan preparat dengan kandungan besi lebih rendah
daripada ferro sulfat. Harga lebih mahal tetapi efektifitasnya hampir sama.
c. Ferro Fumarat, Ferro Laktat. Waktu pemberian besi peroral ini harus
cukup lama yaitu untuk memulihkan cadangan besi tubuh kalau tidak,
maka anemia sering kambuh lagi. Berhasilnya terapi besi peroral ini
menyebabkan retikulositosis yang cepat dalam waktu kira-kira satu
minggu dan perbaikan kadar hemoglobin yang berarti dalam waktu 2-4
minggu, dimana akan terjadi perbaikan anemia yang sempurna dalam
waktu 1-3 bulan. Hal ini bukan berarti terapi dihentikan, tetapi terapi
harus dilanjutkan sampai 6 bulan untuk mengisi cadangan besi tubuh.
Jika pemberian terapi besi peroral ini responnya kurang baik, perlu
dipikirkan kemungkinan kemungkinannya sebelum diganti dengan preparat
besi parenteral( Bakta IM, 2007).

II.5. Pencegahan defisiensi besi


1 Pembatasan konsumsi tanin

Teh mengandung tanin yang dapat menyerap zat besi pada


pencernaan, karena jika tanin pada teh dikonsumsi bersama
dengan makanan, maka tanin tersebut akan mengikat besi (Fe)
pada makanan, sehingga Fe tidak terserap oleh tubuh.
Pengurangan konsumsi teh saat makan dapat mengurangi
pengikatan Fe oleh tanin (Wiryawan dan Marliana, 2008).

2 Hindari konsumsi obat golongan antasida

Jika asam lambung meningkat atau disebut maag, cenderung


orang akan mengkonsumsi obat golongan antasida, yaitu penekan
asam lambung. Namun golongan antasida akan membentuk kelat
bersama Fe pada lambung, sehingga Fe tidak terserap oleh tubuh
dan terjadi defisiensi Fe yang dapat menyebabkan anemia (Ikawati,
2008).

III. Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
Winarno, F, G. 1992. Kimia Pangan dan Gizi. Penerbit PT Gramedia Pustaka
Utama. Jakarta
Almatsier, 2002, Prinsip Dasar Ilmu Gizi, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Demaeyer. E. M., 1993, Pencegahan dan Pengawasan Anemia Defensiasi
Besi, Widia Medika, Jakarta.
Goldhaber. S.B., 2003, Trace element risk assessment: essentiality vs. toxicity,
. Regulatory Toxicology and Pharmacology , 38: 232242.
Martin, 2001, Iron, Gale Encyclopediaof Alternative Medicane, Gale Group.
Moehji, 1992, Ilmu Gizi, Bhratara, Jakarta
Stoltzfus. R. J., Dreyfuss. M. L., 2000, Guidelines for the Use of Iron
Supplements to Prevent and Treat Iron Deficiency Anemia, International
Nutritional Anemia Consultative Group (INACG) International Life Sciences
Institute1126 Sixteenth Street, N. W.Washington, D. C. 20036-4810
Suhardjo, 1988, Perencanaan Pangan dan Gizi, Bumi Aksara, Jakarta
Winarno. F. G., 1997, Kimia Pangan dan Gizi, PT Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta
Bakta, IM. 2007. Hematologi Klinik Ringkas. Jakarta: EGC.

Almatsier, Sunita, 2001, Prinsip Dasar Ilmu Gizi, Gramedia Pustaka


Utama, Jakarta.

Ikawati, Zullies, 2008, Pengantar Farmakologi Molekuler, Gadjah


Mada University Press, Yogyakarta

Raspati H, Reniarti L, Susanah S, 2012, Buku Ajar Hematologi-


Onkologi Anak, Ikatan Dokter Anak Indonesia : Jakarta

Wiryawan, I.K.G dan Christian Marlina, 2008, Deaktivasi tanin


kaliandra (Calliandra calothyrsus) menggunakan mineral Fe
dan Cu (In Vitro), Sem Fak Peternakan IPB Bogor