Anda di halaman 1dari 3

Nama : Diki Ramdan

NPM : 14.06.1.0108

ANALISIS PENERAPAN GCG DI PT JAMSOSTEK

Kinerja keuangan merupakan ukuran keberhasilan atas pelaksanaan


fungsi- fungsi keuangan dan hal ini sangat penting, baik bagi investor maupun
bagi perusahaan yang bersangkutan. Pentingnya penilaian prestasi kinerja
perusahaan dengan melakukan analisis terhadap laporan keuangan telah memicu
pemikiran para pemimpin perusahaan bahwa mengelola suatu perusahaan di era
modern dengan perkembangan teknologi yang pesat menjadi hal yang sangat
kompleks. Semakin kompleks aktivitas pengelolaan perusahaan maka akan
meningkatkan kebutuhan akan praktik tata kelola perusahaan (corporate
governance) untuk memastikan bahwa manajemen perusahaan berjalan dengan
baik (Wijayanti, 2012).

Kebutuhan akan praktik corporate governance sebenarnya bukan


fenomena yang baru. Berles dan Means (1932) dalam Berthelot et al., (2010)
telah berpendapat bahwa para manajer harus dikontrol dan diawasi dalam rangka
mencegah kerugian bagi perusahaan. Terungkapnya skandal keuangan berskala
besar seperti Enron, Worldcom, Tyco, dan Global Crossing telah menyebabkan
kajian mengenai corporate governance meningkat pesat. Isu mengenai
corporate governance mulai mengemuka, khususnya di Indonesia pada tahun
1998 ketika Indonesia mengalami krisis ekonomi yang berkepanjangan.
Hal ini berdampak pada banyaknya perusahaan yang tidak mampu bertahan,
salah satu penyebabnya adalah karena pertumbuhan yang dicapai tidak dibangun
diatas landasan yang kokoh sesuai dengan prinsip pengelolaan perusahaan yang
sehat. Serta banyak pihak yang mengatakan lamanya proses perbaikan di
Indonesia disebabkan oleh sangat lemahnya corporate governance yang
diterapkan dalam perusahaan di Indonesia. Ciri utama dari lemahnya corporate
governance adalah adanya tindakan mementingkan diri sendiri di pihak para
manajer perusahaan. Jika para manajer perusahaan melakukan tindakan-tindakan
yang mementingkan diri sendiri dengan mengabaikan kepentingan investor,
maka akan menyebabkan jatuhnyaharapan para investor tentang pengembalian
Nama : Diki Ramdan
NPM : 14.06.1.0108

(return) atas investasi yang telah mereka tanamkan sehingga harga saham
menjadi turun dan pasar modal tidak berkembang.

Contoh kasus perusahaan yang menyimpang dari good corporate


governance (GCG) adalah Badan Pemeriksa Keuangan menemukan beberapa
pelanggaran kepatuhan PT Jamsostek atas laporan keuangan 2011 dengan nilai di
atas Rp7 triliun. Hal tersebut terungkap dalam makalah presentasi Bahrullah
Akbar, anggota VII Badan Pemeriksa Keuangan dalam diskusi Indonesia Menuju
Era Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. Bahrullah mengatakan ada empat
temuan BPK atas laporan keuangan 2011 Jamsostek yang menyimpang dari
aturan. Pertama, Jamsostek membentuk Dana Pengembangan Progran Jaminan
Hari Tua (JHT) sebesar Rp7,24 triliun yang tidak sesuai dengan Peraturan
Pemerintah 22/2004. Kedua, Jamsostek kehilangan potensi iuran karena terdapat
penerapan tarif program yang tidak sesuai dengan ketentuan. Pada laporan
keuangan 2011, potensi penerimaan Jamsostek yang hilang mencapai Rp36,5
miliar karena tidak menerapkan tarif jaminan kecelakaan kerja sesuai ketentuan.
Ketiga, Jamsostek masih perlu membenahi sistem informasi dan teknologi
informasi yang mendukung kehandalan data. Keempat, Jamsostek belum efektif
melakukan perluasan dan pembinaan kepersertaan. Hal tersebut terlihat bahwa
Jamsostek belum menjangkau seluruh potensi kepersertaan dan masih terdapatnya
peserta perusahaan yang tidak patuh, termasuk BUMN. Kelima, Jamsostek tidak
efektif memberikan perlindungan dengan membayarkan JHT kepada 1,02 juta
peserta tenaga kerja usia pensiun dengan total saldo Rp1,86 triliun.

Penerapan prinsip-prinsip good corporate governance yaitu fairness,


transparency, accountability, dan responsibility merupakan upaya agar tercipta
keseimbangan antar kepentingan dari para stakeholder yaitu pemegang saham
mayoritas, pemegang saham minoritas, kreditur, manajemen perusahaan,
karyawan perusahaan, suppliers, pemerintah, konsumen, dan tentunya para
anggota masyarakat yang merupakan indikator tercapainya keseimbangan
kepentingan, sehingga benturan kepentingan yang terjadi dapat diarahkan dan
dikontrol serta tidak menimbulkan kerugian bagi masing-masing pihak.
Nama : Diki Ramdan
NPM : 14.06.1.0108

Dengan melihat latar belakang diatas maka saya menganalisis beberapa hal
yang harus diperbaiki sesuai dengan prinsif GCG.

1. Jamsostek harus efektif mengevaluasi kebutuhan pegawai dan beban


kerja untuk mendukung penyelenggaran program JHT.
2. Jamsostek harus efektif dalam mengelola data peserta JHT.
3. Jamsostek masih perlu membenahi sistem informasi dan teknologi
informasi yang mendukung kehandalan data.
4. Jamsostek harus efektif melakukan perluasan dan pembinaan
kepersertaan. Hal tersebut terlihat bahwa Jamsostek belum
menjangkau seluruh potensi kepersertaan dan masih terdapatnya
peserta perusahaan yang tidak patuh, termasuk BUMN.
5. Jamsostek harus efektif memberikan perlindungan dengan
membayarkan JHT kepada 1,02 juta peserta tenaga kerja usia pensiun
dengan total saldo Rp1,86 triliun.

Dari contoh kasus diatas merupakan kasus penyimpangan laporan


keuangan 2011 dan ketidakefektifan dalam kinerja Jamsostek. Oleh karena itu
menurut saya kasus seperti ini harus lah segera diselesaikan tentunya dengan
cara pembenahan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance).
Peristiwa ini yang diakibatkan karena kurang baiknya sistem good corporate
governance, harapan agar dapat segera teratasi dan tidak dapat terulang kembali.
Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) juga
harus dapat menjaga kestabilan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate
governance) sehingga tercipta ativitas pasar modal yang jujur,trasparan, aman
dan sesuai dengan undang-undang hukum yang berlaku.