Anda di halaman 1dari 11

Mastitis

1. Pengertian

Mastitis adalah peradangan payudara, suatu hal yang biasa pada wanita yang

pernah hamil. (Mitayani : 2009)

Mastitis adalah suatu inflamasi atau infeksi jaringan payudara dan terjadi

paling umum pada payudara wanita yang menyusui, meskipun hal ini bisa terjadi

pada wanita yang tidak menyusui. (Suzanne C. Smeltzer : 2001)

Mastitis adalah inflamasi jaringan payudara yang biasanya disebabkan oleh

infeksi atau oleh stasis ASI dalam duktus. (Barbara R. Straight : 2004)

2. Klasifikasi

Mastitis lazim dibagi menjadi mastitis gravidarum*, dan mastitis puerperalis*,

karena memang penyakit ini boleh dikatakan hampir selalu timbul pada waktu

hamil dan laktasi. (Mitayani : 2009)

*gravidarum : kehamilan anak pertama.

*puerperal : berkaitan dengan masa nifas atau puerperium. (Perustakaan

Nasional : Katalog Dalam Terbitan : 1998)

3. Etiologi

Pada umumnya yang dianggap sebagai kuman penyebab ialah puting susu yang

luka atau lecet, dan kuman per kontinuitatum menjalar ke duktulus-duktulus dan

sinus. Sebagian besar yang ditemukan pada biakan pus ialah stafilokokus aureus.

(Mitayani : 2009)

Infeksi dapat terjadi akibat perpindahan mikroorganisme ke payudara oleh

tangan pasien atau oleh tangan pemberi perawatan atau dari bayi menyusui yang
mengalami infeksi oral, mata, atau kulit. Mastitis juga dapat disebabkan oleh

organism yang ditularkan oleh darah. (Suzanne C. Smeltzer : 2001)

Organism yang paling sering menyebabkan infeksi adalah stafilokokus aureus

atau streptokok. (Sylvia Anderson Prince : 2005)

Organism penyebab yang tersering adalah staphylococcus aureus yang

dijumpai pada 40% wanita mastitis. Organism yang juga sering diisolasi adalah

stafilococus koagulase-negatif dan streptokokos viridian. Sumber organism yang

hampir selalu menyebabkan mastitis adalah hidung dan tenggorokan bayi. Pada

saat menyusui, organism masuk ke payudara melalui putting di tempat fisura atau

abrasi, yang mungkin berukuran cukup kecil. Pada kasus mastitis sejati, organism

penyebab biasanya dapat dibiak dari air susu.

(Kenneth J. Leveno : 2009)

Penyebab dominan bacteria mastitis adalah staphylococcus aureus. Bakteri ini

dapat masuk melalui perlukaan putting susu, limfogen, atau hematogen. Bahaya

yang paling penting diperhatikan adalah pembentukan abses mama yang

memerlukan tindakan bedah dengan jalan insisi. (Ida Bagus Gde Manuaba : 2003)

Infeksi mastitis yang epidemic didapaat dari sumber nosokomial, biasanya S.

aureus dan terlokalisasi di dalam kelenjar dan duktu laktiferus. Infeksi mastitis

endemic terjadi secara acak dan terlokalisasi pada jaringan ikat periglandular.

Cedera pada payudara merupakan factor predisposisi utama (misalnya, putting

susu yang mengalami distensi berlebihan, statis, atau pecah-pecah). (Barbara R.

Straight : 2004)
4. Tingkat Penyakit

Tingkat penyakit ini ada dua, yaitu : tingkat awal peradangan dan tingkat abses.

Pada peradangan dalam taraf permulaan ibu hanya merasa nyeri setempat, suhu

sedikit meningkat, dan pemeriksaan menunjukan ke arah radang. (Mitayani :

2009)

5. Manifestasi Klinis

Nyeri bertambah hebat di payudara kulit, di atas abses* mengkilap, dan suhu

sangat tinggi (39-40C) dan bayi dengan sendirinya tidak mau menyusui pada

payudara yang sakit, seolah-olah dia tahu bahwa susu sisi ini bercampur nanah.

(Mitayani : 2009)

Payudara menjadi merah, panas jika disentuh membengkak dan nyeri tekan.

Gejala-gejalanya berupa demam tinggi, menggigil, dan malaise. (Sylvia Anderson

Prince : 2005)

Gejala mastitis supuratif jarang timbul sebelum akhir minggu pertama

pascapartum dan biasanya, belum timbul hingga minggu ketiga atau keempat.

Infeksi hampir selalu bersifat unilateral dan peradangan biasanya didahului oleh

pembengkakan hebat, dengan tanda vital awal berupa menggigil atau rigor yang

segera diikuti oleh demam dan takikardi. Payudarah menjadi keras dan memerah,

dan wanita yang bersangkutan mengeluh nyeri. Sekitas 10% wanita mastitis

mengalami abses, dan gejala kontitisional ringan atau tidak ada. Pada keadaan

seperti ini, diindikasi pertama diagnosis sering diberikan oleh adanya fluktuasi.

(Kenneth J. Leveno : 2009)


Pemeriksaan akan teraba : tumor kisteus-dengan undulasi atau padat, nyeri

tekan, terasa panas. (Ida Bagus Gde Manuaba : 2003)

*abses : kumpulan nanah setempat dalam suatu rongga yang terbentuk akibat

kerusakan jaringan. (Perustakaan Nasional : Katalog Dalam Terbitan : 1998)

6. Patofisiologi

Mastitis adalah suatu inflamasi atau infeksi jaringan payudara dan terjadi

paling umum pada payudara wanita yang menyesui, meskipun hal ini dapat terjadi

pada wanita yang tidak menyusui. (Suzanne C. Smeltzer : 2001)

Mekanisme pengeluaran ASI berlangsung karena setelah 2-3 hari estrogen

plasenta berkurang sampai menghilang sehingga hambatan sekresi prolaktin

(pituitary lactogenic hormone ) menyebabkan pembentukan ASI yang dituangkan

kedalam asinus kelenjar mama.

Untuk dapat mengeluarkan ASI diperlukan isapan bayi yang akan

menimbulkan refleks menuju hipofise posterior. Untuk itu keluarlah aksitosin

sehingga terjadi kontraksi mioepitel sekitar asinus dan duktus alveoli.

Disamping itu, oksitosin akan merangsang pula uterus sehingga mengalami

involusi dan ibu merasakan kontraksi saat memberikan ASI. Hambatan dalam

pengeluaran ASI ketika bayi mengisap menimbulkan perlukaan dan memberikan

peluang untuk terjadinya infeksi mama mastitis. (Ida Bagus Gde Manuaba :

2003)

Tidak menyusui, Bra yang terlalu kencang, atau gangguan menyusui pada bayi

merupakan factor - faktor yang berperan. ( Barbara R. Straight : 2004)


Penyebabnya adalah payudara bengkak yang tidak disusui secara adekuat yang

akhirnya terjadi mastitis. Putting lecet memudahkan masuknya kuman dan

terjadinya payudara bengkak. Bra/ bh yg terlalu ketat mengakibatkan

engorgement segmental. Bila tidak disusui dengan adekuat, dapat terjadi mastitis.

Ibu yang dietnya buruk, kurang istirahat, atau anemia akan mudah terkena infeksi.

(Bahiyatun : 2009)

Organism yang paling sering menyebabkan infeksi adalah stafilokokus

aureus atau steptokok. Payudara menjadi merah, panas jika disentuh,

membengkak dan nyeri tekan. Infeksi dapat terjadi akibat perpindahan

mikroorganism ke payudara oleh tangan pasien atau oleh tangan pemberi

perawatan atau dari bayi yang mengalami infeksi oral, mata atau, kulit. Mastitis

juga dapat disebabkan oleh mikroorganisme melalui darah. Sejalan dengan

berkembangnya inflamasi, terjadi infeksi pada duktus, sehingga menyebabkan

stagnasi ASI pada satu lobus atau lebih. Tekstur payudara menjadi keras atau

memadat, dan pasien mengeluhkan nyeri pecak pada region yang terkena.

(Suzanne C. Smeltzer : 2001)

Gejala mastitis meliputi bengkak, nyeri seluruh payudara/nyeri local,

kemerahan pada seluruh payudara atau hanya local, payudara keras dan berbenjol-

benjol, panas badan, dan rasa sakit umum. (Bahiyatun : 2009)

7. Pemeriksaan Penunjang

Sonografi mungkin berguna untuk mendeteksi adanya abses. (Kenneth J.

Leveno : 2009)
8. Komplikasi

Bahaya yang paling penting diperhatikan adalah pembentukan abses mama

yang memerlukan tindakan bedah dengan jalan insisi. (Ida Bagus Gde Manuaba :

2003)

Abses laktasional. Abses payudara dapat terjadi sebagai konsekuensi mastitis

akut. Dalam kasus seperti ini, area yang terkena menjadi nyeri tekan dan berwarna

merah. Cairan purulen biasanya dapat dikeluarkan dari putting susu, dan insisi

serta drainase biasanya diperlukan untuk mengatasi ini. specimen yang diambil

melalui drainase dikumpulkan guna keperluan pemeriksaan kultur. (Suzanne C.

Smeltzer : 2001)

9. Pencegahan

Infeksi mastitis secara umum padat dicegah dengan tindakan-tindakan

profilaksis, seperti higyne payudara yang baik. (Barbara R. Straight : 2004)

10. Penatalaksanaan Mandiri

1. Menyusui tetap dilanjutkan. Pertama, bayi disusukan pada payudara yang sakit

selama dan sesering mungkin agar payudara kosong, kemudian lakukan hal yang

sama pada payudara yang normal.

2. Beri kompres panas dengan menggunakan shower hangat atau lap basah panas

pada payudara yang terkena

3. Ubah posisi menyusui pada setiap kali menyusui, yaitu dengan posisi tidur,

duduk, atau posisi memegang bola (football position)

4. Kenakan bra/bh yang longgar

5. Istirahat yang cukup dan makan yang bergizi


6. Banyak minum (sekitar 2 liter per hari)

Dengan cara diatas, biasanya peradangan akan menghilang setelah 48 jam dan

jarang sekali yang menjadi abses. Tetapi bila dengan cara diatas tidak ada

perbaikan setelah 12 jam, ibu perlu diberikan antibiotic selama 5-10 hari dan

analgetik (Bahiyatun : 2009)

11. Penatalaksanaan Medis

Pengobatan terdiri dari pemberian antibiotic dan pemanasan local. Antibiotic

berspektrum luas dapat diresepkan selama 7 sampai 10hari. Pasien harus

mengenakan bra yang pas dan melakukan higine personal dengan cermat. Istirahat

dan hidrasi yang cukup adalah aspek penting dari penatalaksanaan kondisi ini.

(Suzanne C. Smeltzer : 2001)

Penanganan berupa pemanasan local, antipiretik, analgetik ringan,

pengosongan payudara berkala dengan memberikan ASI atau memompa, dan anti

biotika oral. Jika terjadi abses pasien perlu masuk rumah sakit untuk mendapatkan

antibiotic intravena, aspirasi, atau insisi dan jika perlu drainse. Setiap cairan

aspirasi perlu dilakukan pemeriksaan histologik untuk menyingkirkan keganasan.

(Sylvia Anderson Prince : 2005)

Asalkan terapi yang memadai diberikan sebelum terjadi supurasi, infeksi

biasanya mereda dalam 48 jam. Sebelum pemberian terapi antimokroba, harus

dilakukan pemerasan air susu dari payudara yang terkena untuk dilakukan

pembiakan dan asupan. Dikloksasilin (500 mg 4x sehari/oral) dapat dimulai

secara empiris. Eritromisin diberikan kepada wanita yang sensitive terhadap

penicillin. Jika infeksi disebabkan oleh stafilokokus penghasil penisilinase yang


resisten, atau dicurigai penyebabnya adalah organism yang resisten sementara

menunggu hasil biarakan, harus diberikan antimikroba yang efektif terhadap

stafilokokus resisten-metisilin, seperti vankomisin. Terapi harus dilanjutkan

selama 7-10 hari. Jika payudara yang terinfeksi terlalu nyeri untuk diisap oleh

bayi, dianjurkan pemompaan secara hati-hati hingga wanita yang bersangkutan

kembali dapat menyusui. Saat menyusui dengan kedua payudara, sebaiknya bayi

mula-mula mengisap payudara yang tidak sakit. Hal ini memungkinkan

terjadinya milk let-down sebelum bayi dipindahkan ke payudara yang sakit.

(Kenneth J. Leveno : 2009)

(Ida Bagus Gde Manuaba : 2003)

12. Penyuluhan Klien dan Keluarga

1. Jelaskan cara mencegah infeksi dengan cuci tangan secara seksama dan

memberi perhatian cepat pada kasus ASI yang tersumbat.

2. Kenali tanda dan gejala infeksi.

3. Anjurkan ibu untuk melakukan hal berikut ini :

1. Sering menyusui

2. Lakukan perawatan payudara dan putting dengan adekuat (misalnya, sokongan

payudara secara nonkonstriktif searah jarum jam yang adekuat, kelembutan

selama perawatan, menghindari bahan pembersih yang kasar atau keras dan

merusak putting, sering mengganti pelapis payudara, dan pajankan putting ke

udara secara intermiten). ( Barbara R. Straight : 2004)


13. Kesimpulan

Jadiii, bagi para kaum hawa nih khususnya baik yang belum dan sedang hamil

anak pertama jaga baik-baik yah payudaranya, jangan sampai terjadi mastitis yang

penyebabnya memang sangat terdengar sepele tuuuh

Bagi yang belum atau yang sedang hamil anak pertama cobalah gunakan bra

yang tidak terlalu ketat, gunakan bra yang cukup menopang saja. Dan jika masa

nifas datang dan teman-teman sedang menyusui susuilah kedua payudaranya

yaah, jangan sebelah-sebelah, resiko tinggi tuh terjadi stagnansi ASI, stagnansi

ASI kan dapat memicu terjadi mastitis. Sereemkaaan. Dan jangan lupa higine

personalnya dijaga juga yoo!

Daftar Pustaka

Bahiyatun.2009. Buku ajar asuhan kebidanan nifas normal. Jakarta : EGC

Leveno, Kenneth J. 2009. Obstetric Williams : panduan ringkas. Jakarta : EGC

Straight, Barbara R. 2004. Panduan belajar : keperawatan ibu-bayi baru lahir.

Jakarta : EGC

Manuaba, Ida Bagus Gde. 2003. Penuntun kepatenan klinik obstentri dan

ginekologi. Jakarta : EGC

Mitayani. 2009. Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta : Salemba Medika

Suzanne C. Smeltzer. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &

Suddarth. Jakarta : EGC

Prince, Sylvia Anderson : 2005. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses

Penyakit. Jakarta : EGC


Mastitis

1. Definisi

Mastitis adalah peradangan pada payudara memerah, bengkak kadang kala diikuti

rasa nyeri dan panas, suhu tubuh meningkat.

2. Penyebab

a. Payudara bengkak yang tidak disusui secara adekuat, akhirnya terjadi mastitis.

b. Puting lecet akan mempermudah masuknya kuman dan terjadinya payudara

bengkak.

c. Bra yang terlalu ketat mengakibatkan segmental engorgement, jika tidak disusui

dengan adekuat, maka bisa terjadi mastitis.

d. Ibu yang dietnya buruk, kurang sehat dan anemia mudah terkena infeksi.

3. Gejala

a. Bengkak, nyeri pada seluruh payudara/nyeri lokal.

b. Kemerahan pada seluruh payudara atau hanya lokal.

c. Payudara keras dan berbenjol-benjol.

d. Panas badan dan rasa sakit umum.

4. Penatalaksanaan

a. Teruskan menyusui, pertama bayi disusukan pada payudara yang terkena

selama dan sesering mungkin, agar payudara kosong. Kemudian pada payudara

yang normal.

b. Berilah kompres hangat, bisa menggunakan shower hangat atau lap basah

hangat pada payudara yang terkena.


c. Ubahlah posisi menyusui dari waktu ke waktu, yaitu dengan posisi tiduran,

duduk atau posisi memegang bola.

d. Pakailah baju dan Bra yang longgar.

e. Istirahat yang cukup dan makan makanan bergizi.

f. Banyak minum sekitar 2 liter per hari.

g. Dengan cara-cara tersebut biasanya peradangan akan menghilang setelah 48

jam, jarang sekali yang menjadi abses. Tetapi bila dengan cara-cara tersebut diatas

tidak ada perbaikan setelah 12 jam, maka berikan antibiotika selama 5-10 hari dan

analgesik.