Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

Bahasa merupakan sesuatu yang paling kompleks dari perilaku yang ditunjukkan oleh
manusia, karena bahasa melibatkan memori, belajar, keterampilan penerimaan pesan, proses,
dan ekspresi. Bahasa merupakan instrument dasar bagi komunikasi pada manusia dan
merupakan dasar dan tulang punggung bagi kemampuan kognitif. Bila terdapat defisit pada
sistem berbahasa, penilaian faktor kognitif seperti memori verbal. Interpretasi pepatah dan
berhitung lisan menjadi sulit dan mungkin tidak dapat dilakukan. Kemampuan
berkomunikasi dengan menggunakan bahasa sangat penting. Pemahaman bicara dan bahasa
adalah tugas yang melibatkan sebagian besar korteks serebri. Karena alasan ini, lesi di
berbagai bagian korteks dapat menyebabkan gangguan pemahaman bicara dan bahasa. Bila
terdapat gangguan hal ini akan mengakibatkan hambatan yang berarti bagi pasien.
Permasalahan bahasa dapat tampak dalam bentuk language delay atau gangguan dalam
berbahasa. Istilah language delay digunakan berdasarkan kepada perkembangan bahasa
secara normal yang terhambat. Apabila perkembangan bahasa itu mengikuti pola-pola
normal, mereka terlihat adanya kelambatan jika dibandingkan dengan usia yang sama.
Gangguan cara berbahasa dinamakan afasia. Lebih tepat untuk menggunakan istilah disfasia,
karena umumya kemampuan berbahasa tidak hilang secara mutlak. Gangguan berbahasa
tidak mudah di deteksi dengan pemeriksaan yang tergesa-gesa
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi
Manusia memahami suatu kata dari pengalamannya atau imajinasinya. Manusia
mendapatkan kosakata dari apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan. Area cerebrum yang
mengintegrasi semua stimulus ini menjadi kemampuan berbahasa adalah area Wernicke.
Area wernicke terletak pada ujung posterosuperior girus temporalis superior. Area wernicke
berdekatan dengan area pendengaran primer dan sekunder. Hubungan antara area
pendengaran dengan area Wernicke memungkinkan adanya interpretasi bahasa terhadap apa
yang didengar. Selain berhubungan dengan area pendengaran, area wernicke juga
berhubungan dengan area asosiasi penglihatan. Oleh karena itu pemahaman bahasa juga
dapat terjadi melalui membaca.
Semua impuls auditorik disampaikan kepada korteks auditorik primer kedua sisi.
Pada hemisferium yang dominan data auditorik itu dikirim ke pusat wernicke. Pengiriman
data dari hemisferium yang tidak dominan ke pusat wernicke dilaksanakan melalui serabut
korpus kalosum. Di pusat wernicke suara dikenal sebagai simbol bahasa. Kemudian data itu
dikirim ke pusat pengertian bahasa. Di situ simbol bahasa lisan (auditorik) diintegrasikan
dengan simbol bahasa visual dan sifat-sifat lain dari bahasa.
Bahasa lisan dihasilkan oleh kegiatan di pusat pengertian bahasa yang
menggalakkan pusat pengenalan kata (wernicke), yang pada gilirannya mengirimkan pesan
kepada pusat broca (yang menyelenggarakan produksi kata-kata) melalui daerah motorik
primer dan melalui lobus frontalis (area motorik suplementer), yang ikut mengatur produksi
aktivitas motorik yang tangkas dalam bentuk kata- kata yang jelas. Bahasa visual
dikembangkan melalui persepsi visual bilateral. Dari korteks visual primer kedua sisi data
visual disampaikan kepada korteks visual sekunder di hemisferium yang dominan. Data
tersebut dikirim ke pusat wernicke dan ke pusat pengintegrasian pengertian bahasa.
B. Definisi
Pengertian tentang aphasia, masing-masing ahli memberikan batasan yang berbeda-
beda, akan tetapi pada intinya sama. Seperti yang dikemukakan:
a. Wood (1971) mengatakan bahwa aphasia merupakan parsial or complete loss of ability
to speak or to comprehend the spoken word due to injury, disease. Or aldevelopment of
brain. (Kehilangan kemampuan untuk bicara atau untuk memahami sebagaian atau
keseluruhan dari yang diucapkan oleh orang lain, yang diakibatkan karena adanya
gangguan pada otak).
b. Wiig dan Semel (1984) bahwa Aphasia as involving those who have acquired a language
disorder because of brain damage resulting in impairment of language comprehension
formulation, and use. (Mereka yang memiliki gangguan pada perolehan bahasa yang
disebabkan karena kerusakan otak yang mengakibatkan ketidakmampuan dalam
memformulasikan pemahaman bahasa dan pengguanaan bahasa).
Jadi pengertian aphasia secara umum berkaitan dengan disorder of brain, injury of
the brain. Selanjutnya sekarang ini banyak perbedaan dari tipe-tipe aphasia atau kondisi-
kondisi yang dikaitkan dengan aphasia seperti agnosia, paraphasia dan dysprosody.
Gangguan bahasa aphasia dikelompokkan kepada masalah receptive dan ekspresive. Afasia
adalah suatu gangguan berbahasa yang diakibatkan oleh kerusakan otak.

Afasia tidak termasuk gangguan perkembangan bahasa (disebut juga disfasia),


gangguan bicara motorik murni, ataupun gangguan berbahasa sekunder akibat gangguan
pikiran primer, misalnya skizofrenia. Afasia mencakup gangguan berbahasa secara
menyeluruh walaupun biasanya terdapat gangguan yang lebih menonjol daripada gangguan
lainnya. Tercakup di dalam afasia adalah gangguan yang lebih selektif, misalnya gangguan
membaca (alexia) atau gangguan menulis (agrafia). Gangguan yang berkaitan misalnya
apraksia (gangguan belajar atau ketrampilan), gangguan mengenal (agnosia), gangguan
menghitung (akalkulias), serta defisit perilaku neurologis seperti demensia dan delirium. Ini
semua bisa muncul bersama-sama dengan afasia atau muncul sendiri.

C. Etiologi

Afasia adalah suatu tanda klinis dan bukan penyakit. Afasia dapat timbul akibat cedera
otak atau proses patologik pada area lobus frontal, temporal atau parietal yang mengatur
kemampuan berbahasa, yaitu Area Broca, Area Wernicke, dan jalur yang menghubungkan
antara keduanya. Kedua area ini biasanya terletak di hemisfer kiri otak dan pada
kebanyakan orang, bagian hemisfer kiri merupakan tempat kemampuan berbahasa diatur.
Pada dasarnya kerusakan otak yang menimbulkan afasia disebabkan oleh stroke, cedera
otak traumatik, perdarahan otak aku dan sebagainya. Afasia dapat muncul perlahan-lahan
seperti pada kasus tumor otak. Afasia juga terdaftar sebagai efek samping yang langka dari
fentanyl, suatu opioid untuk penanganan nyeri kronis

D. Epidemiologi
Diperkirakan ada 80.000 kasus baru afasia per tahun di Amerika Serikat (National
Stroke Association, 2008). Prevalensi afasia mengacu pada jumlah orang yang hidup
dengan afasia dalam jangka waktu tertentu. The National Institute of Neurological
Disorders and Stroke (NINDS) memperkirakan bahwa sekitar 1 juta orang, atau 1 dari 250
di Amerika Serikat saat ini, menderita afasia (NINDS, nd). Lima belas persen dari individu-
individu di bawah usia 65 menderita afasia; Persentase ini meningkat menjadi 43% bagi
individu usia 85 tahun dan lebih tua. Tidak ada perbedaan yang signifikan telah ditemukan
dalam kejadian afasia pada pria dan wanita. Namun, beberapa data menunjukkan perbedaan
yang mungkin ada menurut jenis dan tingkat keparahan afasia. Sebagai contoh, Wernicke
dan afasia global yang terjadi lebih sering pada wanita dan afasia Broca terjadi lebih sering
pada pria (Hier, Yoon, Mohr, & Price, 1994; Afasia National Association, 2011).

E. Klasifikasi
Tabel 1. Klasifikasi Afasia

Bentuk Ekspresi Komprehens Repetisi Menamai Komprehen Menulis Lesi


si
Afasia i verbal
membaca
Tergangg
Ekspresi Tak Relatif Frontal Inferior
Terganggu u Bervariasi Terganggu
(Broca) lancar terpelihara posterior
Temporal
Reseptif Tergangg
Terganggu Superior
(Wernicke) Lancar Terganggu Terganggu u Terganggu
Posterior (Area
Wernicke)
Tergangg
Tak Terganggu Fronto
Global Terganggu Terganggu u Terganggu
lancar temporal
Fasikulus
Relatif Tergangg
Konduksi Lancar Terganggu Bervariasi Terganggu arkualtus, girus
terpelihara u
supramarginal
Girus angular,
Relatif
Tergangg temporal
Nominal Lancar terpelihara Terpelihara Bervariasi Bervariasi
u superior
posterior
Transkortikal Tak Relatif Tergangg Peri sylvian
Terpelihara Bervariasi Terganggu
Motor lancar terpelihara u anterior
Transkortikal Tergangg PerisylvianPos
Lancar Terganggu Terpelihara Terganggu Terganggu
sensorik u terior

Dasar untuk mengklasifikasi afasia beragam, diantaranya ada yang mendasarkan kepada :
1. Manifestasi klinik
a. Afasia tidak lancar atau non-fluent
b. Afasia lancar atau fluent
2. Distribusi anatomi dari lesi yang bertanggung jawab bagi defek
a. Sindrom afasia peri-silvian
1) Afasia Broca (motorik, ekspresif)
2) Afasia Wernicke (sensorik, reseptif)
3) Afasia konduksi
b. Sindrom afasia daerah perbatasan (borderzone)
1) Afasia transkortikal motorik
2) Afasia transkortikal sensorik
3) Afasia transkortikal campuran
c. Sindrom afasia subkortikal
1) Afasia talamik
2) Afasia striatal
d. Sindrom afasia non-lokalisasi
1) Afasian anomik
2) Afasia global
3. Gabungan pendekatan manifestasi klinik dengan lesi anatomik

F. Patofisiologi
Afasia terjadi akibat kerusakan pada area pengaturan bahasa di otak. Pada manusia,
fungsi pengaturan bahasa mengalami lateralisasi ke hemisfer kiri otak pada 96-99% orang
yang dominan tangan kanan (kinan) dan 60% orang yang dominan tangan kiri (kidal). Pada
pasien yang menderita afasia, sebagian besar lesi terletak pada hemisfer kiri. Afasia paling
sering muncul akibat stroke, cedera kepala, tumor otak, atau penyakit degeneratif. Kerusakan
ini terletak pada bagian otak yang mengatur kemampuan berbahasa, yaitu area Broca dan
area Wernicke. Area Broca atau area 44 dan 45 Broadmann, bertanggung jawab atas
pelaksanaan motorik berbicara. Lesi pada area ini akan mengakibatkan kersulitan dalam
artikulasi tetapi penderita bisa memahami bahasa dan tulisan . Area Wernicke atau area 41
dan 42 Broadmann, merupakan area sensorik penerima untuk impuls pendengaran. Lesi pada
area ini akan mengakibatkan penurunan hebat kemampuan memahami serta mengerti suatu
bahasa. Secara umum afasia muncul akibat lesi pada kedua area pengaturan bahasa di atas.
Selain itu lesi pada area disekitarnya juga dapat menyebabkan afasia transkortikal. Afasia
juga dapat muncul akibat lesi pada fasikulus arkuatus, yaitu penghubung antara area Broca
dan area Wernicke.

G. Penegakan Diagnosis
Diagnosis afasia ialah berdasarkan tanda dan gejala klinis yang ditemukan pada
pemeriksaan fisik dan kejiwaan. Sedangkan pemeriksaan tambahan lainnya dilakukan untuk
mengetahui penyebab kerusakan otaknya.
1. Afasia Yang Lancar (Fluent)
Pada afasia ini penderita bicara lancar, artikulasi dan irama baik, tetapi isi bicara
tidak bermakna dan tidak dapat dimengerti artinya. Penderita tidak dapat mengerti
bahasa sehingga tidak dapat berbicara kembali. Gambaran klinisnya ialah :
a. Keluaran bicara yang lancar
b. Panjang kalimat normal
c. Artikulasi dan irama bicara baik
d. Terdapat parafasia
e. Kemampuan memahami pendengaran dan membaca buruk
f. Repetisis terganggu
g. Menulis lancar tadi tidak ada arti

Seorang afasia yang non-fluen mungkin akan mengatakan dengan tidak lancar dan
tertegun-tegun: mana rokok beli. Sedangkan seorang afasia fluen mungkin akan
mengatakan dengan lancar: rokok beli tembakau kemana situ tadi gimana dia toko jalan.
2. Afasia Tidak Lancar
Pada afasia ini, output atau keluaran bicara terbatas. Penderita menggunakan kalimat
pendek dan bicara dalam bentuk sederhana. Sering disertai artikulasi dan irama bicara yang
buruk. Gambaran klinisnya ialah :
a. Pasien tampak sulit memulai bicara
b. Panjang kalimat sedikit (5 kata atau kurang per kalimat)
c. Gramatika bahasa berkurang dan tidak kompleks
d. Artikulasi umumnya terganggu
e. Irama bicara terganggu
f. Pemahaman cukup baik, tapi sulit memahami kalimat yang lebih kompleks
g. Pengulanan (repetisi) buruk
h. Kemampuan menamai, menyebut nama benda buruk

3. Afasia Wernicke
Disebut juga afasia sensorik atau afasia perseptif. Disebabkan oleh lesi di daerah
antara bagian belakang lobus temporalis, lobus oksipitalis dan lobus parietalis dari hemisfer
kiri (dominan) yaitu area Wernicke. Pada afasia ini kemampuan untuk mengerti bahasa
verbal dan visual terganggu atau hilang sama sekali. Tetapi kemampuan untuk secara aktif
mengucapkan kata-kata dan menulis kata-kata masih ada, kendatipun apa yang diucapkan
dan ditulis tidak mempunyai arti sama sekali. Penderita dengan afasia ini tidak mengerti
lagi bahasa yang didengarnya walaupun ia tidak tuli. Ia pun tidak mengerti lagi isi surat
yang dibacanya, walaupun ia tidak buta huruf. Penyimpanan storage berikut proses
coding dari apa yang didengar dan ditulis terjadi di daerah Wernicke. Jika daerah tersebut
rusak, proses decoding tidak akan menghasilkan apa-apa. Hilangnya pengertian berarti
juga hilangnya gnosis dan kognisio. Oleh karena kata dan tulisan yang masih dapat
diucapkan dan ditulis oleh seorang penderita tidak lagi dikenal dan diketahui, maka dia
akan berbicara dan menulis suatu bahasa yang tidak dimengerti oleh dirinya sendiri
ataupun orang lain. Adakalanya bahasa baru (neologisme) mengandung kata-kata yang
menyerupai kata-kata yang wajar, tetapi kebanyakan merupakan ocehan yang tidak
mempunyai arti. Ocehan itu dinamakan juga jargon aphasia.
Lesi yang menyebabkan afasia jenis Wernicke terletak di daerah bahasa bagian
posterior. Semakin berat defek dalam komprehensi auditif, semakin besar kemungkinan lesi
mencakup bagian posterior dari girus temporal superior. Bila pemahaman kata tunggal
terpelihara, namun kata kompleks terganggu, lesi cenderung mengenai daerah lobus
parietal, ketimbang lobus temporal superior. Afasia jenis Wernicke dapat juga dijumpai
pada lesi subkortikal yang merusak isthmus temporal memblokir signal aferen inferior ke
korteks temporal .Semacam afasia sensorik yang ringan, yang dikenal sebagai tuli kata-
kata (word-deafness), bisa dijumpai. Dalam hal itu, penderita sama sekali tidak mengerti
bahasa verbal yang didengarnya, tetapi ia masih bisa mengerti bahasa tertulis dengan baik.
Juga afasia sensorikyang dinamakan buta kata-kata (word-blindness) pada mana bahasa
verbal masih bisa dimengerti, tetapi bahasa visual tidak mempunyai arti baginya, jarang
dijumpai. Tuli kata-kata dan buta kata-kata timbul akibat lesi kecil di sekitar daerah
Wernicke, yang terletak baik di lobus temporalis ataupun parietalis bahkan lobus oksipitalis.
Sebagai suatu varian dari buta kata-kata ialah agrafia, akalkulia dan aleksia reseptif. Dalam
hal agrafia ekspresif (akibat lesi di sekitar daerah broca), ekspresi melalui berbahasa ikut
terganggu. Jika kemampuan untuk mengerti bahasa verbal masih utuh tetapi daya untuk
mengerti bahasa tertulis hilang, maka dinamakan gejala tersebut agrafia reseptif. Demikian
juga arti istilah akalkulia reseptif, dimana penderita masih bisa mengerti mengerti bahasa
verbal tetapi ia tidak dapat mengerti soal-soal yang menyangkut hitung berhitung. Pada
aleksia reseptif, hanya kemampuan untuk mengerti apa yang dibaca terganggu, sedangkan
ia masih mengerti bahasa verbal. Lesi-lesi yang relevan bagi afasia reseptif fraksional itu
terbatas pada girus angularis dan supramarginalis. Girus yang tersebut pertama terletak di
ujung sulkus temporalis superior dan girus yang tersebut terakhir terletak di ujung fisura
serebri lateralis. Afasia reseptif lesinya terletak di temporo-parietal pasien justru bicara
terlalu banyak, cara mengucapkan baik dan irama kalimat juga baik, namun didapat
gangguan berat pada memformulasi dan menamai sehingga kalimat yang diucapkan tidak
mempunyai arti.

Bahasa lisan dan tulisan tidak atau kurang dipahami, dan menulis secara motorik
terpelihara, namun isi tulisan tidak menentu. Pasien tidak begitu sadar akan kekurangannya.
Gambaran klinik afasia Wernicke :
a. Keluaran afasik yang lancar
b. Panjang kalimat normal
c. Artikulasi baik
d. Prosodi baik
e. Anomia (tidak dapat menamai)
f. Parafasia fonemik dan semantik
g. Komprehensi auditif dan membaca buruk
h. Repetisi terganggu
i. Menulis lancar tapi isinya "kosong"

4. Afasia konduksi
Merupakan ketidakmampuan mengulangi kata atau kalimat lawan bicara terutama
yang multisilabis (bersuku kata banyak). Namun penderita masih mampu mengeluarkan isi
pikiran dan menjawab kalimat lawan bicaranya meskipun bahasa verbalnya terganggu. Afasia
konduksi merupakan kerusakan pada fasikulus arcuata yang berdampak pada transmisi
informasi dari daerah Wernicke ke daerah Brocca. Lokasi lesi atau kerusakan tersebut berada
pada girus supramarginalis dari hemisfer yang dominan (area transisional antara lobus
temporalis posterior dan lobus parietalis). Gejala kerusakan ini karena informasi leksikal dari
daerah Wernicke tidak dapat dipindahkan ke daerah Brocca, sehingga ujarannya secara
semantic tidak padu (tidak koheren). Afasia konduksi merupakan gangguan berbahasa yang
lancar (fluent) yang ditandai oleh gangguan berat pada repetisi, kesulitan dalam membaca
kuat-kuat (namun pemahaman dalam membaca baik), gangguan dalam menulis, parafasia
yang jelas, namun umumnya pemahaman bahasa lisan terpelihara. Terputusnya hubungan
antara area wernicke dan broca diduga menyebabkan kelainan ini. Terlibatnya girus
supramarginal, sering lesi di massa alba subkortikal-dalam korteks parietal inferior dan
mengenai fasikulus arkuatus yang menghubungkan korteks temporal dan frontal .

4. Afasia anomik
Disebut juga afasia nominatif atau afasia amnestik, merupakan afasia motorik yang
ringan. Penderitanya tidak bisa menemukan simbolik verbal dari benda yang diperlihatkan
kepadanya (tidak mampu menamai benda yang dihadapkan kepadanya). Berbicara spontan
biasanya lancar dan kaya gramatika, namun sering tertegun mencari kata dan terdapat
parafasia mengenai nama objek. Ia tahu abstraksi dari benda tersebut dalam pikiran, tetapi
lafal dari abstraksi itu tidak bisa dinyatakan. Misalnya penderita diminta untuk menyebut
nama benda yang disodorkan kepadanya. Ia bisa menjawab sebagai berikut : ituitu,tu,
tulis-tulis. Tetapi ia tidak bisa temukan atau ucapkan kata pensil. Baru setelah dibantu
dengan mengucapkan suku pertama kata pensil, penderita dapat meneruskannya pen
sil. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa penyimpanan kata pensil utuh, juga persandian
abstraksi masih utuh. Tetapi decoding dari abstraksi terganggu. Afasia jenis ini membuat
penderita tidak mampu menyebut nama benda yang dilihat, angka, huruf, bentuk benda dan
kata kerja dari gambar yang dilihat. Ia juga tidak bisa menyebutkan nama binatang yang
didengar suaranya atau benda yang diraba. Afasia ini merupakan yang relatif ringan. Letak
lesinya tidak tentu, tapi bisa di girus angular dan temporal superior posterior atau berada
antara daerah Brocca dan Wernicke. Pada penemuan postmortem memperkirakan bahwa
tipe afasia ini disebabkan oleh lesi yang mengganggu serat-serat assosiasi yang
menghubungkan area sensorik bicara dengan region hipokampus. Lesi biasanya tumor dan
kadang-kadang suatu abses otogenus dalam substansia alba yang lebih dalam dari bagian
posterior dan basal lobus temporalis (kemungkinan area 37) atau suatu proses atrofi, seperti
misalnya versi lobus temporalis dari penyakit Pick. Gambaran klinik afasia anomik :
a. Keluaran lancar
b. Komprehensi baik
c. Repetisi baik
d. Gangguan (defisit) dalam menemukan kata.

5. Afasia transkortikal

Afasia transkortikal secara umum ditandai oleh repetisi bahasa yang baik
(terpelihara), namun fungsi bahasa lainnya terganggu. Afasia transkortikal disebabkan oleh
lesi yang luas, berupa infark berbentuk bulan sabit, di dalam zona perbatasan antara
pembuluh darah serebral mayor (misalnya di lobus frontal antara daerah arteri serebri
anterior dan media). Dipercaya bahwa afasia ini disebabkan oleh terpisahnya area bicara
sensorik dari korteks, sisanya karena gangguan sirkulasi dalam korteks dan substansia alba
sepanjang zona batas arterial antara arteri serebri anterior, media dan posterior. Lesi ini
tidak mengenai atau tidak melibatkan korteks temporal superior dan frontal inferior (area 22
dan 44 dan lingkungan sekitar) dan korteks peri sylvian parietal. Korteks perisylvian yang
utuh ini dibutuhkan untuk kemampuan mengulang yang mbaik.Keyakinan ini berasal dari
kejadian keadaan tersebut dalam kasus henti jantung sementara tanpa mempertimbangkan
penyebabnya. Dibagi menjadi a. Afasia transkortikal motorik (masuk afasia non-fluent)
Pasien dengan afasia ini mampu mengulang (repetisi), memahami dan membaca, namun
dalam bicara spontan terbatas, seperti pasien dengan afasia broca. Gambaran kliniknya yaitu
ekspresi tidak lancar (non-fluent), pemahaman verbal relative terpelihara, pengulangan
baik, menamai terganggu, ungkapan-ungkapan singkat, parafasia semantik, ekolali,
pemahaman komprehensi) baik. Biasanya akibat lesi di anterior atau superior dari area
broca. Gambaran klinik afasia motorik transkortikal :
1) Keluaran tidak lancar (non fluent)
2) Pemahaman (komprehensi) baik
3) Repetisi baik
4) Inisiasi pun lambat
5) Ungkapan-ungkapan singkat
6) Parafasia semantik
7) Ekholalia

Untuk jenis afasia ini digunakan juga istilah awam pure word-dumbness atau bisu kata-
kata yang tulen. Jika seorang afasia motorik masih bisa membeo, namun tidak mampu lagi
untuk mengeluarkan kata-kata sebagai cara ekspresi aktifnya, maka afasia motorik semacam
itu disebabkan oleh suatu lesi kortikal yang agak besar di antara daerah broca dan wernicke.
Afasia motorik berat dengan masih adanya kemampuan untuk membeo ini dinamakan
afasia motorik transkortikal. Afasia transkortikal motorik terlihat pada lesi di perbatasan
anterior yang menyerupai huruf c terbalik.
6. Afasia transkortikal sensorik
Ini adalah afasia yang berkaitan dengan hilangnya pemahaman pendengaran dan
penglihatan dan kata-kata dan ketidakmampuan untuk menulis dan membaca dengan
pengertian. Kata-kata yang diucapkan dapat diulang, tapi artinya tidak dapat dimengerti.
Gambaran klinisnya, yaitu ekspresi lancar (fluent), pemahaman verbal terganggu,
pengulangan baik, menamai terganggu, pemahaman membaca terganggu, menulis
terganggu, defisit motorik dan sensorik jarang dijumpai, didapatkan defisit lapangan
pandang di sebelah kanan. Biasanya akibat lesi di area informasi dari non bahasa area ke
cerebrum tidak bisa di transfer ke area wernickes untuk diubah menjadi suatu bentuk
bahasa. Afasia ini dapat mengulang (repetisi) baik, namun tidak memahami apa yang
didengarnya atau yang diulanginya. Gambaran klinik afasia sensorik transkortikal :
1) Keluaran (output) lancar (fluent)
2) Pemahaman buruk
3) Repetisi baik
4) Ekholalia
5) Komprehensi auditif dan membaca terganggu
6) Defisit motorik dan sensorik jarang dijumpai
7) Didapatkan defisit lapangan pandang di sebelah kanan.

7. Afasia transkortikal campuran


Gambaran klinisnya, yaitu tidak lancar (non-fluent), komprehensi buruk, repetisi baik dan
ekolali yang mencolok. Penyebab paling sering dari afasia transkortikal ialah anoksia
sekunder terhadap sirkulasi darah yang menurun, seperti yang dijumpai pada henti jantung,
oklusi atau stenosis berat arteri karotis, anoksia oleh keracunan karbon monoksida dan
demensia. Gambaran klinik afasia transkortikal campuran :
1) Tidak lancar (nonfluent)
2) Komprehensi buruk
3) Repetisi baik
4) Ekholalia mencolok

8. Afasia Brocca
Disebut juga sebagai afasia motorik atau afasia ekspresif. Disebabkan oleh lesi di
bagian posterior daerah girus ketiga frontal dari hemisfer kiri (dominan) yaitu sekitar area
Brocca (area 44). Afasia Brocca terberat ialah jika penderita sama sekali tidak dapat
mengeluarkan kata-kata. Adakalanya hanya dapat mengucapkan ya atau he-ng saja,
sambil menganggukan kepalanya. Namun demikian ia masih mengerti bahasa verbal dan
visual. Juga perintah-perintah untuk melakukan sesuatu (praksis) bisa dilaksanakan sesuai
dengan makna perintah. Ketidak mampuan untuk menyatakan pikirannya dengan kata- kata
menjengkelkan penderita. Dan lebih-lebih menekan jiwanya adalah bahwa ia sadar akan apa
yang hendak diucapkan, tetapi ia tidak mampu mengucapkan kata-kata yang terkandung
dalam fikirannya. Jadi bahasa internalnya masih utuh. Pada afasia motorik umumnya
kemampuan untuk menulis kata-kata masih tidak terganggu, tetapi bisa juga terjadi adanya
agrafia (hilangnya kemampuan untuk ekspresi dengan tulisan). Pada afasia motorik yang
terberat, adakalanya kata-kata yang bersifat ledakan-ledakan emosional masih bisa diucapkan
secara spontan misalnya da-ilah, asu, G..verdom, dan sebagainya.
Afasia motorik yang mencerminkan kerusakan terhadap seluruh korteks daerah
Brocca ialah afasia dimana penderita tidak bisa melakukan ekspresi dengan cara apapun, baik
dengan cara verbal maupun visual (afasia motorik kortikal). Afasia motorik dimana penderita
tidak bisa mengucapkan satu kata apapun, namun masih bisa mengutarakan pikirannya
dengan jalan tulis menulis, bisa timbul akibat lesi di masa putih area Brocca. Oleh karena itu,
afasia motorik ini dinamakan juga afasia motorik subkortikal . Gejala utamanya adalah
berbicara spontan yang tidak lancar, non- fluent dan terbata-bata. Tata bahasanya kurang
sempurna, dan biasanya disertai dengan hemiparesis kanan. Ciri klinik afasia Broca:
a. bicara tidak lancar
b. tampak sulit memulai bicara
c. kalimatnya pendek (5 kata atau kurang per kalimat)
d. pengulangan (repetisi) buruk
e. kemampuan menamai buruk
f. Kesalahan parafasia
g. Pemahaman lumayan (namun mengalami kesulitan memahami kalimat yang sintaktis
kompleks)
h. Gramatika bahasa kurang, tidak kompleks
i. Irama kalimat dan irama bicara terganggu

Tergolong dalam afasia motorik adalah juga akalkulia ekspresif dan agrafia ekspresif,
yang berarti hilangnya kemampuan untuk ekspresi dengan menggunakan simbolik
matematika dan huruf. Pada akalkulia ekspresif dan agrafia ekspresif, ekspresi dengan cara
berbahasa masih ada, tetapi apabila ekspresi itu diwujudkan dalam bentuk tulisan, penderita
sendiri sadar akan ketidakmampuannya. Lesi berkorelasi dengan gangguan yang terletak di
lobus frontalis yang berdampingan dengan korteks motorik.

7. Afasia global
Afasia global adalah bentuk afasia yang paling berat, keadaan ini ditandai oleh tidak
adanya lagi bahasa spontan atau berkurang sekali dan menjadi beberapa patah kata yang
diucapkan secara stereotipe (itu-itu saja, berulang), misalnya : iiya, iiya, iiya, atau : baaah,
baaaah, baaaah. Komprehensi menghilang atau sangat terbatas, misalnya hanya mengenal
namanya saja atau satu atau dua patah kata. Repetisi (mengulangi) juga sama berat
gangguannya seperti bicara spontan. Membaca dan menulis juga terganggu berat. Afasia
global disebabkan oleh lesi luas yang merusak sebagian besar atau semua daerah bahasa.
Penyebab lesi yang paling sering ialah oklusi arteri karotis interna atau arteri serebri media
pada pangkalnya. Kemungkinan untuk pulih buruk. Lesi luas terletak di perysilvian atau
sebagian dari frontal dan temporal. Seseorang disebut afasia global bila semua modalitas
bahasa, meliputi kelancaran berbicara, pengertian bahasa lisan, penamaan, pengulangan,
membaca, dan menulis terganggu berat. Pasien yang terkena hanya dapat menggumamkan
beberapa suara atau mengacaukan pembicaraan selanjutnya dan hanya mengerti beberapa
suara atau kata yang segera akan dilupakan. Mereka tidak dapat mengulang kembali kata-
kata yang diucapkan dan tidak mampu membaca atau menulis. Afasia global ini disertai oleh
hemiplegia, hemianestesia dan hemianopsia. Hal ini terjadi karena kerusakan otak berupa
infark yang luas yang disebabkan oleh obstruksi arteri serebri media.

H. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan kelancaran berbicara. Seseorang disebut berbicara , lancar bila bicara
spontannya lancar, tanpa tertegun-tegun untuk mencari kata yang diinginkan. Kelancaran
berbicara verbal merupakan refleksi dari efisiensi menemukan kata. Bila kemampuan ini
diperiksa secara khusus di deteksi masalah berbahasa yang ringan pada lesi otak yang ringan
pada demensia dini. Defek yang ringan dapat dideteksi melalui tes kelancaran, menemukan
kata yaitu jumlah kata tertentu yang dapat dlproduksi selama jangka waktu yang terbatas.
Misalnya menyebutkan sebanyak-banyaknya nama jenis hewan selama jangka waktu satu
menit, menyebutkan kata-kata yang mulai dengan huruf tertentu, misalnya huruf S atau huruf
B dalam satu menit. Menyebutkan nama hewan : Pasien disuruh menyebutkan sebanyak
mungkin nama hewan dalam waktu 60 detik. Kita catat jumlahnya serta kesalahan yang ada,
misalnya parafasia. Skor : Orang normal umumnya mampu menyebutkan 18 - 20 nama
hewan selama 60 detik, dengan variasi I 5 - 7. Usia merupakan faktor yang berpengaruh
secara bermakna dalam tugas ini. Orang normal yang berusia di bawah 69 tahun akan mampu
menyebutkan 20 nama hewan dengan simpang baku 4,5. Kemampuan ini menurun menjadi
17 (+ 2,8) pada usia 70-an, dan menjadi 15,5 ( 4,8) pada usia 80-an. Bila skor kurang dari
13 pada orang normal di bawah usia 70 tahun, perlu dicurigai adanya gangguan dalam
kelancaran berbicara verbal. Skor yang dibawah 10 pada usia dibawah 80 tahun, sugestif bagi
masalah penemuan kata. Pada usia 85 tahun skor 10 mungkin merupakan batas normal
bawah. Menyebutkan kata yang mulai dengan huruf tertentu: Kepada pasien dapat juga
diberikan tugas menyebutkan kata yang mulai dengan huruf tertentu, misalnya huruf S, A
atau P. Tidak termasuk nama orang atau nama kota. Skor: Orang normal umumnya dapat
menyebutkan sebanyak 36 60 kata, tergantung pada usia, inteligensi dan tingkat
pendidikan. Kemampuan yang hanya sampai 12 kata atau kurang untuk tiap huruf di atas
merupakan petunjuk adanya penurunan kelancaran berbicara verbal. Namun kita harus hati-
hati monginterpretasi tes ini pada pasien dengan tingkat pendidikan tidak melebihi tingkat
Sekolah Menengah Pertama. Pemeriksaan pemahaman (komprehensi) bahasa lisan.
Kemampuan pasien yang afasia untuk memahami sering sulit di nilai. Pemeriksaan klinis
disisi-ranjang dan tes yang baku cenderung kurang cukup dan dapat memberikan hasil yang
menyesatkan. Langkah terakhir dapat digunakan untuk mengevaluasi pemahaman
(komprehensi) secara klinis, yaitu dengan cara konversasi, suruhan, pilihan (ya atau tidak),
dan menunjuk. Konversasi.

Dengan mengajak pasien bercakap-cakap dapat dinilai kemampuannya memahami


pertanyaan dan suruhan yang diberikan oleh pemeriksa. Suruhan. Serentetan suruhan, mulai
dari yang sederhana (Satu langkah) sampai pada yang sulit (banyak langkah) dapat digunakan
untuk menilai kemampuan pasien memahami. Mula-mula suruh pasien bertepuk tangan,
kemudian tingkatkan kesulitannya, misalnya: mengambil pinsil, letakkan di kotak dan taruh
kotak di atas kursi (suruhan ini dapat gagal pada pasien dengan apraksia dan gangguan
motorik, walaupun pemahamannya baik; hal ini harus diperhatikan oleh pemeriksa).
Pemeriksa dapat pula mengeluarkan beberapa benda, misalnya kunci, duit, arloji, vulpen,
geretan. Suruh pasien menunjukkan salah satu benda tersebut, misalnya arloji. Kemudian
suruhan dapat dlpermilit, misalnya: tunjukkan jendela, setelah itu arloji, kemudian vulpen.
Pasion tanpa afasia dengan tingkat inteligensi yang rata-rata mampu menunjukkan 4 atau
lebih objek pada suruhan yang beruntun. Pasien dengan Afasia mungkin hanya mampu
menunjuk sampai 1 atau 2 objek saja. Jadi, pada pemeriksaan ini pemeriksa (dokter)
menambah jumlah objek yang hams ditunjuk, sampai jumlah berapa pasien selalu gagal. Ya
atau tidak. Kepada pasien dapat juga diberikan tugas berbentuk pertanyaan yang dijawab
dengan "ya" atau "tidak". Mengingat kemungkinan salah ialah 50%, jumlah pertanyaan harus
banyak, paling sedikit 6 pertanyaan, misalnya :
"Andakah yang bernama Santoso?"
"Apakah AC dalam ruangan ini mati ?"
"Apakah ruangan ini kamar di hotel ?"
"Apakah diluar sedang hujan?"
"Apakah saat ini malam hari?"
Menunjuk. Kita mulai dengan suruhan yang mudah difahami dan kemudian
meningkat pada yang lebih sulit. Misalnya: "tunjukkan lampu", kemudian "tunjukkan gelas
yang ada disamping televisi". Pemeriksaan sederhana ini, yang dapat dilakukan di sisi-
ranjang, kurang mampu menilai kemampuan pemahaman dengan baik sekali, namun dapat
memberikan gambaran kasar mengenai gangguan serta beratnya. Korelasi anatomis dengan
komprehensi adalah kompleks. Pemeriksaan repetisi (mengulang). Kemampuan mengulang
dinilai dengan menyuruh pasien mengulang, mula-mula kata yang sederhana (satu patah
kata), kemudian ditingkatkan menjadi banyak (satu kalimat). Jadi, kita ucapkan kata atau
angka, dan kemudian pasien disuruh mengulanginya.

Cara pemeriksaan Pasien disuruh mengulang apa yang diucapkan oleh pemeriksa.
Mula-mula sederhana kemudian lebih sulit. Contoh:
a. Map
b. Bola
c. Kereta
d. Rumah Sakit
e. Sungai Barito
f. Lapangan Latihan
g. Kereta api malam
h. Besok aku pergi dinas
i. Rumah ini selalu rapi
j. Sukur anak itu naik kelas
k. Seandainya si Amat tidak kena influensa
Pemeriksaan harus memperhatikan apakah pada tes repetisi ini didapatkan parafasia,
salah tatabahasa, kelupaan dan penambahan. Orang normal umumnya mampu mengulang
kalimat yang mengandung 19 suku-kata. Banyak pasien afasia yang mengalami kesulitan
dalam mengulang (repetisi), namun ada juga yang menunjukkan kemampuan yang baik
dalam hal mengulang, dan sering lebih baik daripada berbicara spontan. Umumnya dapat
dikatakan bahwa pasien afasia dengan gangguan kemampuan mengulang mempunyai
kelainan patologis yang melibatkan daerah peri-sylvian. Bila kemampuan mengulang
terpelihara, maka daerah -sylvian bebas dari kelainan patologis. Umumnya daerah ekstra-
sylvian yang terlibat dalam kasus afasia tanpa defek repetisi terletak di daerah perbatasan
vaskuler (area water-shed). Pemeriksaan menamai dan menemukan kata. Kemampuan
menamai objek merupakan salah satu dasar fungsi herbahasa. Hal ini sedikit-banyak
terganggu pada semua penderita afasia. Dengan demikian, semua tes yang digunakan untuk
menilai afasia mencakup penilaian terhadap kemampuan ini. Kesulitan menemukan kata erat
kaitannya dengan kemampuan menyebut nama (menamai) dan hal ini disebut anomia.
Penilaian harus mencakup kemampuan pasien menyebutkan nama objek, bagian dari objek,
bagian tubuh, warna, dan bila perlu gambar geometrik, simbol matematik atau nama suatu
tindakan. Dalam hal ini, perlu digunakan aitem yang sering digunakan (misalnya sisir, arloji)
dan yang jarang ditemui atau digunakan (misalnya pedang). Banyak penderita afasia yang
masih mampu menamai objek yang sering ditemui atau digunakan dengan cepat dan tepat,
namun lamban dan tertegun, dengan sirkumlokusi (misalnya, melukiskan kegunaannya) atau
parafasia pada objek yang jarang dijumpainya.
Bila pasien tidak mampu atau sulit menamai, ia dapat dibantu dengan memberikan
suku kata pemula atau dengan menggunakan kalimat penuntun. Misalnya: pisau. Kita dapat
membantu dengan suku kata pi atau dengan kalimat: "kita memotong daging dengan ". Yang
penting kita nilai ialah sampainya pasien pada kata yang dibutuhkan, kemampuannya
(memberi nama objek). Ada pula pasien yang mengenal objek dan mampu melukiskan
kegunaannya (sirkumlokusi) namun tidak dapat menamainya. Misalnya bila ditunjukkan
kunci ia mengatakan : "Anu ... itu...untuk masuk rumah...kita putar". Cara pemeriksaan.
Terangkan kepada pasien bahwa ia akan disuruh menyebutkan nama beberapa objek juga
warna dan bagian dari objek tersebut. Kita dapat menilai dengan memperlihatkan misalnya
arloji, bolpoin, kaca mata, kemudian bagian dari arloji (jarum menit, detik), lensa kaca mata.
Objek atau gambar objek berikut dapat digunakan: Objek yang ada di ruangan: meja, kursi,
lampu, pintu, jendela. Bagian dari tubuh : mata, hidung, gigi, ibu jari, lutut Warna: merah,
biru, hijau, kuning, kelabu. Bagian dari objek: jarum jam, lensa kaca mata, sol sepatu, kepala
ikat pinggang, bingkai kaca mata. Perhatikanlah apakah pasien dapat menyebutkan nama
objek dengan cepat atau lamban atau tertegun atau menggunakan sirkumlokusi, parafasia,
neologisme dan apakah ada perseverasi. Disamping menggunakan objek, dapat pula
digunakan gambar objek. Bila pasien tidak mampu menyebutkan nama objek, dapatkah ia
memilih nama objek tersebut dari antara beberapa nama objek. Gunakanlah sekitar 20 objek
sebelum menentukan bahwa tidak didapatkan gangguan. Area bahasa di posterior ialah area
kortikal yang terutama bertugas memahami bahasa lisan. Area ini biasa disebut area
Wernicke; mengenai batasnya belum ada kesepakatan. Area bahasa bagian frontal berfungsi
untuk produksi bahasa. Area Brodmann 44 merupakan area Broca. Penelitian dengan PET
(positron emission tomography) tentang meta-bolisme glukosa pada penderita afasia,
menyokong spesialisasi regional tugas ini. Namun demikian, pada hampir semua bentuk
afasia, tidak tergantung pada jenisnya, didapat pula bukti adanya hipometabolisme di daerah
temporal kiri. Penelitian ini memberi kesan bahwa sistem bahasa sangat kompleks secara
anatomi-fisiologi, dan bukan merupakan kumpulan dari pusat-pusat kortikal dengan tugas-
tugas terbatas atau terpisah-pisah atau sendiri-sendiri. Pemeriksaan sistem bahasa. Evaluasi
sistem bahasa harus dilakukan secara sistematis. Perlu diperhatikan bagaimana pasien
berbicara spontan, komprehensi (pemahaman), repetisi (mengulang) dan menamai (naming).
Membaca dan menulis harus dinilai pula setelah evaluasi bahasa lisan. Selain itu, perlu pula
diperiksa sisi otak mana yang dominan, dengan melihat penggunaan tangan (kidal atau
kandal).
Dengan melakukan penilaian yang sistematis biasanya dalam waktu yang singkat
dapat diidentifikasi adanya afasia serta jenisnya. Pasien yang afasia selalu agrafia dan sering
aleksia, dengan demikian pengetesan membaca dan menulis dapat dipersingkat. Namun
demikian, pada pasien yang tidak afasia, pemeriksaan membaca dan menulis harus dilakukan
sepenuhnya, karena aleksa atau agrafia atau keduanya dapat terjadi terpisah (tanpa afasia).
Pemeriksaan penggunaan tangan (kidal atau kandal). Penggunaan tangan dan sisi otak yang
dominan mempunyai kaitan yang erat. Sebelum menilai bahasa perlu ditentukan sisi otak
mana yang dominan, dengan melihat penggunaan tangan. Mula-mula tanyakan kepadn p
irsion apakah ia kandal (right handed) atau kidal. Banyak orang kidal telah illnjarkan sejak
kecil untuk menulis dengan tangan kanan. Dengan ilcmikian, mengobservasi cara menulis
saja tidak cukup untuk menentukan apakah seseorang kandal atau kidal. Suruh pasien
memperagakan tangan mana yang digunakannya untuk memegang pisau, melempar bola,
dsb. Tanyakan pula apakah ada juga kecenderungannya menggunakan tangan yang lainnya.
Spektrum penggunaan tangan bervariasi dari kandal yang kuat; kanan sedikit lebih kuat dari
kiri; kiri sedikit lebih kuat dan kanan dan kidal yang kuat. Ada individu yang kecenderungan
kandal dan kidalnya hampir sama (ambi-dextrous) Pemeriksaan berbicara spontan.
Langkah pertama dalam menilai berbahasa ialah mendengarkan bagaimana pasien berbicara
spontan atau bercerita. Dengan mendengnrknn pasien berbicara spontan atau bercerita, kita
dapat memperoleh data yang sangat berharga mengenai kemampuan pasien berbahasa. Cara
Ini tidak kalah pentingnya dari tes-tes bahasa yang formal. Kita dapat mengajak pasien
berbicara spontan atau berceritera melalui pertanyaan berikut : Coba ceriterakan kenapa anda
sampai dirawat di rumah sakit. Coba ceritakan mengenai pekerjaan anda serta hobi anda. Bila
mendengarkan pasien berbicara spontan atau bercerita, perhatikan:
1. Apakah bicaranya pelo, cadel, tertegun-tegun, disprosodik (irama, ritme, intonasi bicara
terganggu). Pada afasia sering ada gangguan ritme dan irama (disprosodi).
2. Apakah ada afasia, kesalahan sintaks, salah menggunakan kata (parafasia, neologisme),
dan perseverasi. Perseverasi sering dijumpai pada afasia.
Parafasia, Parafasia ialah men-substitusi kata. Kita mengenai 2 jenis parafasia, yaitu parafasia
semantik (verbal) dan parafasia fonomik (literal). Parafasia semantik ialah mensubstitusi satu
kata dengan kata yang lain misalnya: "kucing" dengan "anjing". Parafasia fonemik, ialah
mensubstitusi suatu bunyi dengan bunyi yang lain, misalnya bir dengan kir, balon dengan
galon. Afasia motorik yang berat biasanya mudah dideteksi.

Pasien berbicaranya sangat terbatas atau hampir tidak ada; mungkin ia hanya
mengucapkan: "ayaa, ayaa, aaai, Hi". Sesekali ditemukan kasus dimana pasien sangat
terbatas kemampuan bicaranya, namun bila ia marah, beremosi tinggi, keluar ucapan makian
yang cara mengucapkannya cukup baik. Afasia ialah kesulitan dalam memahami dan/atau
memproduksi bahasa yang disebabkan oleh gangguan (kelainan, penyakit) yang melibatkan
hemisfer otak. Didapatkan berbagai jenis afasia, masing-masing mempunyai pola
abnormalitas yang dapat dikenali, bila kita berbincang dengan pasien serta melakukan
beberapa tes sederhana.

I. Terapi
Penatalaksanaan gangguan bahasa terlebih dahulu didasarkan mengatasi penyebabnya
seperti stroke, perdarahan akut, tumor otak dan sebagainya. Penanganan yang paling efektif
adalah dengan rehabilitasi nberupa terapi bicara. Tujuan dari rehabilitasi ini adalah untuk
melatih sel-sel yang tidak rusak menggantikan sel-sel yang telah rusak. Salah satu rehabilitasi
untuk mengatasi gangguan berbicara dan berbahasa adalah dengan speech therapy merupakan
penyediaan pelayanan yang diberikan oleh health care profesional untuk membantu
seseorang dalam memperbaiki komunikasi. Didalamnya meliputi bagaimana membuat suara
dan bahasa, termasuk pengertian dan pemilihan kata yang digunakan. Menurut hsdc (2006),
terapi ini dimulai dari 24 jam pasien stroke masuk rumah sakit (bila kondisi fisiknya telah
memungkinkan), dan kemudian dilakukan secara berkelanjutan sampai 1 2 tahun post
stroke. Rehabilitasi secara dini akan mempercepat proses penyembuhan, rehabilitasi ini harus
rutin sehingga otak mampu untuk mengingatnya. Rehabilitasi pasien dengan gangguan
bahasa umumnya perlu :
1. menimbulkan motivasi agar pasien mau belajar berbicara lagi,
2. memberikan banyak stimulasi verbal dan tulisan.
3. melakukan repetisi secara kontinue.
Sedangkan, latihan pada pasien afasia berupa bina wicara dapat diberikan oleh
seorang yang profesional dan oleh keluarga yang telah mendapat petunjuk-petunjuk
mengenai terapi di rumah, karena pasien membutuhkan latihan terus menerus. Prinsip bina
wicara ialah motivasi, stimulasi dan repetisi. Pasien perlu mendapat motivasi untuk melatih
bicaranya. Jangan dibiarkan menggunakan bahasa isyarat dalam percakapan sehari-hari, juga
di rumahnya. Keluarga diberi tahukan untuk tidak membiarkan pasien memakai bahasa
isyarat. Pasien harus dipaksakan mengucapkan kata disamping isyarat yang dipakainya.
Terapis akan membuat program latihan bagi pasien yang disesuaikan dengan latar
belakang pendidikan dan berat-ringan afasianya. Program ini ditujukan untuk memberikan
stimulasi yang kontinu secara auditif atau tertulis. Pengulangan atau repetisi perlu dilakukan
secara teratur. Stimulasi taktil juga dapat dipakai bila diperlukan. Bina wicara (speech
therapy) pada afasia didasarkan pada:
1. Dimulai seawal mungkin. Segera diberikan bila keadaan umum pasien sudah
memungkinkan pada fase akut penyakitnya.
2. Dikatakan bahwa bina wicara yang diberikan pada bulan pertama sejak mula sakit
mempunyai hasil yang paling baik.
3. Hindarkan penggunaan komunikasi non-linguistik (seperti isyarat).
4. Program terapi yang dibuat oleh terapis sangat individual dan tergantung dari latar
belakang pendidikan, status sosial dan kebiasaan pasien. \
5. Program terapi berlandaskan pada penumbuhan motivasi pasien untuk mau belajar (re-
learning) bahasanya yang hilang. Memberikan stimulasi supaya pasien memberikan
tanggapan verbal. Stimuli dapat berupa verbal, tulisan ataupun taktil. Materi yang telah
dikuasai pasien perlu diulangulang (repetisi).
6. Terapi dapat diberikan secara pribadi dan diseling dengan terapi kelompok dengan
pasien afasi yang lain.
7. Penyertaan keluarga dalam terapi sangat mutlak.
BAB III
KESIMPULAN

1. Afasia adalah suatu gangguan berbahasa yang diakibatkan oleh kerusakan otak. Afasia tidak
termasuk gangguan perkembangan bahasa (disebut juga disfasia), gangguan bicara motorik
murni, ataupun gangguan berbahasa sekunder akibat gangguan pikiran primer, misalnya
skizofrenia.
2. Afasia dapat timbul akibat cedera otak atau proses patologik pada area lobus frontal, temporal
atau parietal yang mengatur kemampuan berbahasa.
3. Afasia diklasifikasikan berdasarkan manifestasi klinis, Distribusi anatomi dari lesi yang
bertanggung jawab bagi defek, Gabungan pendekatan manifestasi klinik dengan lesi anatomik.
DAFTAR PUSTAKA

1. Mahar mardjono, Priguna Sidharta. Neurologi Klinis Dasar. 2008. Dian Rakyat. Jakarta
2. Stefan Silbernagl, Florian Lang. Teks dan Atlas Berwarna Patofisiologi. 2007. EGC. Jakarta.
3. Adult Aphasia. American Speech Language Hearing Association.2012
4. Sidiarto L, Kusumoputro S. Cermin Dunia Kedokteran No.34, Afasia Sebagai Gangguan
Komunikasi Pada Kelainan Otak. Bagian Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Jakarta.
5. Kirshner HS, Jacobs DH. eMedicine Neurology Specialties: Aphasia. 2009.
6. Pennstate, Health & Disease Information. Aphasia. 2010 Available at:
http://www.hmc.psu.edu/healthinfo/a/aphasia.htm
7. National Institute On Deafness and Other Communication Disorders. Aphasia, Voice, Speech
and Language Health Info. 2010. Available at:
http://www.nidcd.nih.gov/health/voice/aphasia.html
8. Lumbantobing SM, Neurologi Klinis, Pemeriksaan Fisik dan Mental. Bab XI: Berbahasa.
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 2008
9. Guyton AC, Hall JE. Bab 57: Korteks Serebri; Fungsi Intelektual Otak; dan Proses Belajar
dan Mengingat. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi.
10 . Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 1997. Price SA, Wilson LM. Bagian IX: Penyakit
Neurologi, Pemeriksaan Neurologis, Evaluasi Penderita Neurologis. Patofisiologi: Konsep
Klinis Proses Penyakit Edisi 4. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. 1995
11. Stroke and aphasia. American Stroke Association.2012