Anda di halaman 1dari 40

MAKALAH

OPERASI KELAMIN (Transgender)

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Bioetika

Dosen Pengampu : Dr. Tri Cahyanto, S.Pd., M.Si.

Disusun Oleh :

Silvi Rismayanti Rahman (1157020070)

Siti halimatussadiah (1157020071)

Tuti Muflihah (1157020075)

BIOLOGI 4/B

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI

BANDUNG

2017
2
KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah


SWT karena atas ridho-Nya makalah yang berjudul Operasi
Kelamin ini dapat diselesaikan dan diajukan untuk memenuhi
tugas matakuliah Bioetika. Terima kasih penulis ucapkan kepada
dosen mata kuliah Bioetika yang telah membimbing dalam
pembuatan makalah ini. Dan tak lupa pula ucapan terimakasih,
penulis ucapkan kepada teman-teman yang telah mendukung
untuk penyelesaian makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih terdapat
kekurangan dan mungkin jauh dari sempurna, penulis pun sadar
bahwa kesempurnaan hanyalah milik allah SWT. Namun sebagai
manusia kita pun harus berusaha mempersembahkan yang
terbaik dalam hal apapun. Oleh karena itu kritik dan saran dari
semua pihak yang bersifat membangun selalu penulis harapkan
demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini
memberikan banyak manfaat kepada pembacanya.
Akhir kata, penulis sampaikan terima kasih kepada semua
pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini
dari awal sampai akhir. Penulis berharap semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi penulis maupun pembacanya. Semoga
Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.

Bandung, 01 Mei
2017

1
Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................
DAFTAR ISI...........................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang............................................................................................
1.2 Rumusan Masalah........................................................................................
1.3 Tujuan........................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Defnisi Pergantian Kelamin...........................................................................
2.2 Hukum Operasi Kelamin Menurut Islam.........................................................
2.3 Faktor Penyebab Transseksual.....................................................................
2.4 Cara Melakukan Operasi Kelamin................................................................
2.5 Pandangan Hukum Perundang-Undangan Mengenai Transgender......................
2.6 matrix etika
transgender .........................................................................25
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan..............................................................................................
3.2 Saran.......................................................................................................
DAFTAR
PUSTAKA ......................................................................................
....28

2
3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada dasarnya Tuhan menciptakan manusia terdiri dari dua
jenis kelamin yaitu laki-laki dan perempuan, namun pada
kenyataannya selain dua jenis kelamin tersebut ada yang
mengalami kebingungan dalam menentukan jenis kelaminnya.
Kebingungan yang dimaksud adalah tidak adanya kesesuaian
antara jenis kelaminnya dan kejiwaannya. Tidak sesuainya jenis
kelamin dan kejiwaan ini bisa terjadi pada seseorang yang
terlahir dengan alat kelamin wanita yang sempurna dan tidak
cacat, tetapi dia merasa bukan seorang wanita melainkan
seorang pria atau sebaliknya, keadaan seperti ini disebut
Transgender. Sebelum bicara lebih jauh tentang transgender,
terlebih dahulu harus dipahami konsep gender, dan
membedakan kata gender dan seks. Seks (jenis kelamin)
merupakan pembagian dua jenis kelamin (penyifatan) manusia
yang ditentukan secara biologis yang melekat pada jenis kelamin
tertentu1.
Misalnya manusia berjenis kelamin (seks) laki-laki adalah
manusia yang memiliki atau bersifat bahwa laki-laki adalah yang
memiliki penis dan memproduksi sperma. Perempuan memiliki
alat reproduksi, seperti rahim dan saluran untuk melahirkan,
memproduksi sel telur, memiliki vagina, dan mempunyai alat
untuk menyusui2. Hal tersebut secara biologis melekat pada
manusia yang memiliki jenis kelamin laki-laki dan perempuan.
Artinya, secara biologis alat kelamin atau jenis kelamin tersebut

1 Dr. Riant Nugroho, 2008, Gender Dan Administrasi Publik, Pustaka Pelajar, yogyakarta, hlm.30

2 Ibid; hlm.31.

1
tidak bisa dipertukarkan atau diganti. Secara permanen jenis
kelamin tidak bisa berubah dan merupakan kodrat (ketentuan
Tuhan)3.
Gender adalah pencirian manusia yang didasarkan pada
pendefinisian yang bersifat sosial budaya, bukan pendefisian
yang berasal dari ciri-ciri fisik biologis seperti seks (jenis
kelamin)4. Dalam ilmu sosial, gender adalah perbedaan yang
bukan biologis dan bukan kodrat Tuhan. Gender merupakan
perbedaan perilaku antara laki-laki dan perempuan yang
dikonstruksi secara sosial, yakni perbedaan yang bukan
ketentuan Tuhan, melainkan diciptakan sendiri oleh manusia itu
sendiri melalui proses kultural dan sosial.
Gender seseorang dapat berubah, sedangkan jenis
kelamin biologis akan tetap tidak berubah5. Hal inilah yang
membuat seseorang dapat berubah orientasi seksnya bahkan
ada dorongan untuk merubah gendernya. Orang yang merubah
gendernya sering disebut dengan waria, bahkan yang lebih
ekstrem, ada dorongan untuk merubah seks atau jenis
kelaminnya dengan operasi pergantian kelamin seperti yang
dilakukan kaum transgender.
Pada hakikatnya, masalah kebingungan jenis kelamin atau
yang lazim disebut juga sebagai gejala transexsualisme atau
transgender merupakan gejala ketidak puasan seseorang karena
merasa tidak adanya kecocokan antara bentuk fisik dan kelamin
dengan kejiwaan ataupun adanya ketidak puasan dengan alat
kelamin yang dimilikinya. Ekspresinya bisa dalam bentuk

3 Ibid.

4 Ibid.

5 Ibid.

2
dandanan, gaya dan tingkah laku, bahkan sampai kepada operasi
penggantian kelamin.
Kemajuan teknologi di Indonesia khususnya di bidang
kedokteran, memungkinkan penderita transseksual untuk
melakukan operasi bedah plastik, sebagai salah satu jalan untuk
mengatasi gangguan kejiwaannya, dengan merubah kelamin
sesuai dengan yang dikehendakinya menjadi jenis kelamin lawan
jenisnya. Operasi ini dikenal dengan operasi ubah jenis kelamin
atau dalam istilah kedokteran disebut operasi transseksual
dengan cara rekonstruksi genital. Operasi perubahan kelamin
pertama kali dilakukan di Eropa pada tahun 19306.
Pada operasi kelamin ini akan dibentuk alat genital
eksternal yang semirip mungkin dengan alat genital gender yang
diinginkan. Orang yang telah menjalani operasi ini dapat
melakukan aktifitas seksual, bahkan mencapai orgasme, namun
mereka tidak mampu mempunyai atau melahirkan anak karena
tidak memiliki organ reproduksi internal dan gender baru yang
dibentuk ini7.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa definisi operasi pergantian kelamin ?
2. Apa hukum operasi kelamin menurut islam ?
3. Apa faktor yang menjadi penyebab transseksual?
4. Bagaimana tata cara operasi kelamin yang baik ?
5. Bagaimana pandangan hukum mengenai Transgender ?
6. Bagaimana matrix etika mengenai transgender ?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui definisi operasi pergantian kelamin.
2. Mengetahui hukum operasi kelamin menurut islam.
3. Mengetahui faktor yang menjadi penyebab transseksual.

6 Gerald C Davison, Dkk, Psikologi Abnormal, edisi ke-9, (Yogyakarta: PT Raja


Grafindo Persada, 2010), hlm. 618.

7 Jeffrey S. Nevid, DKK, Psikologi Abnormal, jilid 2, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2003),
hlm.74

3
4. Mengetahui tata cara operasi kelamin yang baik.
5. Mengetahui bagaimana pandangan hukum mengenai
Transgender.
6. Mengetahui matrix etika mengenai transgender.

4
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Defnisi Pergantian Kelamin
Istilah transeksual berasal dari dua kata trans (trance)
yang berarti menyebrang atau melintas, dan seksual yang
berarti karakteristik kelamin. Gabungan dua kata tersebut
dalam kamus kedokteran memiliki dua pengertian yaitu:
pertama, seseorang yang anatomi luarnya telah diubah
menjadi anatomi luar seks yang berlawanan, misalnya
sebelum operasi memiliki organ kelamin berupa penis,
melalui operasi penis tersebut dirubah menjadi vagina.
Kedua, bermakna seseorang yang menderita
transeksualisme. Transeksualisme sendiri diartikan sebagai
manifestasi gangguan identitas jenis kelamin berupa
keinginan yang kuat dan menetap untuk melepaskan ciri-ciri
kelamin primer dan sekundernya dan mendapatkan ciri-ciri
kelamin lawannya8.
Transgender merupakan suatu gejala ketidakpuasan
seseorang karena merasa tidak adanya kecocokan antara
bentuk fisik dan kelamin dengan kejiwaan ataupun adanya
ketidakpuasan dengan kelamin yang dimilikinya. Transgender
dapat diakibatkan faktor bawaan (hormon dan gen) dan
faktor lingkungan. Faktor lingkungan di antaranya pendidikan
yang salah pada masa kecil dengan membiarkan anak laki-
laki berkembang dalam tingkah laku perempuan, pada masa
pubertas dengan homoseksual yang kecewa dan trauma, dan
trauma pergaulan seks. Perlu dibedakan penyebab
transgender kejiwaan dan bawaan. Pada kasus transgender
karena keseimbangan hormon menyimpang (bawaan),
8 Huriawati dkk, Kamus Kedokteran Dorland (terj), Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC, 2002, hlm. 2276

5
menyeimbangkan kondisi hormonal guna mendekatkan
kecenderungan biologis jenis kelamin bisa dilakukan. Mereka
yang sebenarnya normal karena tidak memiliki kelainan
genetikal maupun hormonal dan memiliki kecenderungan
berpenampilan lawan jenis hanya untuk memperturutkan
hawa nafsu adalah sesuatu yang menyimpang dan tidak
dibenarkan menurut syariat islam9.
Operasi ganti kelamin (taghyir al-jins) adalah operasi
pembedahan untuk mengubah jenis kelamin dari laki-laki
menjadi perempuan atau sebaliknya. Pengubahan jenis
kelamin laki-laki menjadi perempuan dilakukan dengan
memotong dzakar dan testis, kemudian membentuk kelamin
perempuan (vagina) dan membesarkan payudara. Sedang
pengubahan jenis kelamin perempuan menjadi laki-laki
dilakukan dengan memotong payudara, menutup saluran
kelamin perempuan, dan menanamkan organ genital laki-laki
(dzakar). Operasi ini juga disertai pula dengan terapi
psikologis dan terapi hormonal10.
Jika menurut Agama Islam, transgender dalam bahasa Arabnya
disebut Mukhannats adalah laki-laki yang menyerupai perempuan dalam
kelembutan, cara bicara, melihat, dan gerakannya. Sedangkan dalam kamus
wikipedia disebutkan bahwa Waria (portmanteau dari perempuan-laki-laki)
atau Wadam (dari hawa-adam) adalah laki-laki yang lebih suka berperan
sebagai perempuan dalam kehidupannya sehari-hari. Istilah khuntsa berasal
dari bahasa Arab khanatsa yang berarti lunak atau melunak11.

9 Setiawan Budi Utomo, Fiqih Aktual. (Jakarata: Gema Insani Press: 2003)

10 Mahjuddin, Masailul Fiqhiyah. Jakarta: Kalam Mulia, 2005.hal. 199

11 Esterlita, Krista Marsha. 2013. Dilema Pengungkapan Identitas Wanita Transeksual. Kajian
Fenomenologi Wanita Transeksual di Surabaya.

6
Menurut Ensiklopedi Hukum Islam, Khuntsa adalah seorang yang
diragukan jenis kelaminnya apakah laki-laki atau perempuan karena memiliki
alat kelamin secara bersamaan ataupun tidak memiliki alat kelamin sama
sekali, baik alat kelamin laki-laki atau perempuan. Khuntsa memiliki dua
jenis yang pertama Khuntsa Musykil yaitu yang sama sekali tidak bisa
dihukumi status kelaminnya, karena tidak ada tanda-tanda yang mengarahkan
kecenderungan ke laki-laki ataupun perempuan. Sedangkan Khuntsa Ghoiru
Musykil yaitu yang masih bisa dihukumi status kelaminnya sebab ada tanda-
tanda kecenderungan pada salah satunya12.
Secara umum identitas seksual yang berkembang dalam masyarakat
mengacu pada identitas heteroseksual, yaitu rasa ketertarikan terhadap
individu yang berlawanan jenis dengan atau tanpa disertai hubungan fisik.
Realitasnya tidaklah demikian, identitas sebagai transgender sejak dahulu
bahkan dewasa ini telah berkembang dan kian menunjukkan eksistensinya.
Identitas ini mengundang berbagai reaksi dalam masyarakat, baik penolakan
dan penerimaan, namun diatas itu semua para transgender memperoleh
perlakuan yang berbeda di tengah kuasa heteronormavitas. Heteronormavitas
adalah norma, hukum, atau aturan dan pandangan yang hanya mengutamakan
kepentingan kaum heteroseksual, sehingga di luar hubungan heteroseksual
mengalami diskriminasi dan penyingkiran13.
Kata trans yang merujuk pada perubahan, berubah bentuk atau
transform. Selanjutnya menurut mengartikan kata trans sebagai pergerakan
melintasi ruang dan batas, sama dengan merubah hal yang bersifat alamiah,
natural. Transgender secara umum ialah orang yang cara berperilaku atau
penampilannya tidak sesuai dengan peran gender pada umumnya14.

12 Fromm, Erich. 2011. Cinta, Seksualitas, dan Matriarki. Yogyakarta: Jalasutra.

13 Kadir, Hatib Abdul. 2007. Tangan Kuasa Dalam Kelamin, Yogyakarta: INSIST Press.

14 Masjfuk Zuhdy, Masailu Fiqhiyah (Jakara: Mas Agung, 1989), h. 170

7
Saat ini di dalam masyarakat masih ditemukan kesalahpahaman dalam
membedakan antara sex dan gender dalam memahami jenis kelamin. Sex
adalah perbedaan jenis kelamin yang ditentukan secara biologis yang melekat
pada individu yang dibedakan dari genetik, hormon dan anatomi antara laki-
laki dan perempuan, dimana kromosom 46,XX akan menghasilkan seorang
wanita dan kromosom 46,XY akan menjadi pria. Sementara gender mengacu
pada perbedaan laki-laki dan perempuan dalam peran, fungsi, hak, tanggung
jawab dan perilaku yang dikonstuksikan oleh tata nilai sosial melalui proses
budaya dari kelompok masyarakat tertentu15.
Meskipun peran gender telah ditetapkan oleh sebuah budaya,
penyimpangan identitas gender tetap saja terjadi. Hal tersebut terjadi saat
individu meng-identifikasikan jenis yang berbeda dengan kuat dan cenderung
menetap pada tubuh dengan jenis kelamin yang mereka miliki saat ini 18.
Akibatnya muncul perasaan laki-laki atau perempuan pada fisik yang
berbeda, yang membuat dirinya ingin hidup dalam identitas gender yang tidak
sesuai jenis kelaminya; mereka disebut sebagai transgender, dan perubahan
dapat terjadi dari female to male atau male to female. Pria transgender meng-
internalisasikan ke dalam otak mengenai jenis kelamin yang akan
menentukan sikap dan perilaku pada kehidupan sosialnya16.
2.2 Hukum Operasi Kelamin Menurut Islam
Segala sesuatu yang dilakukan tentu mempunyai
tujuan, melakukan operasi kelamin kalau tujuannya untuk
pengobatan hukumnya diperbolehkan. Dalam dunia
kedokteran dikenal tiga bentuk operasi kelamin, 1) Operasi
perbaikan atau penyempurnaan kelamin yang dilakukan
terhadap orang sejak lahir memiliki cacat kelamin seperti

15 Yusuf Qardawi, Fatwa-Fatwa Kontemporer (Jakarta: Gema Insani Press,


2002), h. 465.

16 Masjfuk Zuhdy, optic.(Jakara: Mas Agung, 1989), h. 171

8
penis atau vagina yang tidak berlubang. 2) Operasi
pembuangan dari salah satu kelamin ganda yang dilakukan
terhadap orang yang sejak lahir memiliki dua jenis kelamin
(penis dan vagina). 3) Operasi penggantian kelamin yang
dilakukan terhadap orang yang sejak lahir memiliki kelamin
normal.
Mencermati ketiga bentuk operasi kelamin tersebut di
atas, maka bentuk operasi kelamin pertama dan kedua, yaitu
operasi dengan tujuan untuk memperbaiki kelamin yang
cacat atau kelamin ganda hukumnya adalah boleh (mubah)
bahkan dianjurkan karena dikategorikan sebagai pengobatan,
hal ini sesuai dengan hadis Nabi riwayat Ahmad bin Hambal
dan lain-lain dari Usamah:

. Artinya; Berobatlah hai hamba-hamba Allah!
Karena sesungguhnya Allah tidak mengadakan penyakit
kecuali mengadakan pula obatnya, kecuali satu penyakit,
ialah penyakit tua17.
Masjfuk Zuhdi, ahli fikih Indonesia, menyatakan bahwa
orang yang lahir dengan alat kelamin tidak normal bisa
mengalami kelainan psikis dan sosial sehingga biasanya
tersisih dari kehidupan masyarakat normal serta mencari
jalan sendiri seperti melacurkan diri atau melakukan
homoseks18.Untuk menghindari hal ini operasi perbaikan atau
penyempurnaan kelamin boleh dilakukan, sesuai dengan
kaidah fikih yang menyatakan : daful-mafasid muqaddam

17 Al-Sayuthi, Al-Jami Al-Shagir, Vol II (Mustafa Al-Babi Al-Halabi Wa Auladuhu, 1954), Hal.
130.

18 Asis Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam, Jilid IV, h. 1354.

9
ala jalb al-masalih (menolak bahaya lebih didahulukan dari
pada mengupayakan manfaat).
Apabila seseorang mempunyai alat kelamin ganda,
yaitu penis dan vagina, maka untuk memperjelas identitas
dan fungsi kelaminnya, maka ia boleh melakukan operasi
kelamin untuk mematikan salah satu alat kelamin dan
menghidupkan/memfungsikan yang lainnya sesuai dengan
keadaan organ kelamin bagian dalam kelaminnya. Misalnya,
jika seseorang memiliki zakar dan vagina, sedangkan pada
bagian dalam kelaminnya ada rahim dan ovarium yang
menjadi ciri khas dan utama jenis kelamin wanita, maka ia
boleh mengoperasi zakarnya (membuang) untuk
memfungsikan vagina, dengan demikian ia mempertegas
identitasnya sebagai seorang wanita. Hal ini dianjurkan dalam
syariat Islam19.
Begitu juga, apabila seseorang yang mempunyai alat
kelamin satu tetapi kurang sempurna bentuknya. Misalnya,
vagina yang tidak berlubang dan ia mempunyai rahim dan
ovarium maka, ia boleh bahkan dianjurkan oleh agama untuk
memberi lubang pada vaginya. Demikin pula seseorang
mempunyai penis dan testis, tetapi lubang penisnya tidak
berada diujung penisnya, tetapi berada dibagian bawah
penisya, maka ia pun boleh operasi untuk dibuatkan lubang
yang normal20.
Sedangkan operasi kelamin yang dilakukan oleh
seseorang yang memiliki penis dan vagina, kemudian
bagian dalam kelaminnya sesuai dengan fungsi penis lalu
19Ahmad Azhar Basyir, Refleksi Atas Persoalan KeIslaman (Bandung: Mizan, 1996), h. 171. .

20 Masjfuk Zuhdy, Masailu Fiqhiyah (Jakara: Mas Agung, 1989), h. 170.

10
membuang penisnya (operasi) agar memiliki vagina sebagai
wanita, sedangkan di bagian dalam kelaminnya tidak
terdapat rahim dan ovarium, maka operasi seperti ini dilarang
karena operasi kelamin yang dilakukan berbeda dengan
bagian dalam kelamin, begitu juga operasi kelamin yang
dilakukan oleh seseorang yang lahir dengan kelamin yang
normal sebagai laki-laki dan mengganti kelaminnya (operasi)
menjadi kelamin wanita atau sebaliknya seseorang yang lahir
dengan kelamin yang normal sebagai perempuan dan
menggati kelaminnya (operasi) menjadi kelamin laki-laki juga
dilarang, karen termasuk mengubah ciptaan Tuhan 21.
Sebagaimana firman Allah dalam QS. al-Rum 30 : 30











Artinya :
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama
(Allah), Tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan
manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah
Allah22.
Juga hadis Nabi saw. diriwayatkan oleh Bukhari dan enam
ahli hadis lainnya dari Ibn Maud yang berbunyi sebagai
berikut :

Artinya :
Allah mengutuk para wanita tukang tattoo yang meminta
ditatto, yang menghilangkan bulu muka, yang meminta

21 Yusuf Qardawi, Fatwa-Fatwa Kontemporer (Jakarta: Gema Insani


Press, 2002), h. 465.

22 Departemen Agama RI., al-Quran dan Terjemahnya (Jakarta


2001),h. 645.

11
dihilangkan bulu mukanya, dan para wanita yang memotong
giginya; yang semuanya itu dikerjakan dengan maksud untuk
kecantikan dengan mengubah ciptaan Allah23.
Hadis ini menunjukan bahwa seorang pria atau wanita
yang normal jenis kelaminnya dilarang dalam Islam mengubah
(operasi jenis kelaminnya) karena mengubah ciptaan Allah
tanpa alasan yang dibenarkan dalam Islam. Demikian pula
seorang pria atau wanita yang lahir normal jenis kelaminnya
tetapi karena lingkungannya sehingga ia menderita kelainan
semacam kecendrungan sexnya yang mendorong lahiriah
banci dengan berpakaian dan bertingkah laku yang
berlawanan dengan jenis kelamin yang sebenarnya, maka
dalam hal ini juga diharamkan dalam agama mengubah jenis
kelaminnya sekalipun ia menderita kelainan sex, sebab pada
hakekatnya jenis/organ kelaminnya normal, tetapi psikisnya
tidak normal. Karena itu usaha kesehatan mentalnya ditempuh
melalui pendekatan keagamaan dan kejiwaan. Berpakaian dan
bertingkah laku yang berlawanan dengan jenis kelamin dilrang
dalam Islam berdasarkan hadis Nabi saw. Yang berbunyi
sebagai berkut:

Artinya: Allah mengutuk pria-pria yang menyerupai wanita-
wanita dan wanita-wanita yang menyerupai pria-pria24.
Hal ini diperkuat dengan fatwa MUI dalam musyawarah
nasional II tahun 1980 yang memutuskan bahwa :

23 al-Sayuthi, al-Jami al-Shagir, vol II (Mustafa al-Babi al-Halabi wa


Auladuhu, 1954), h. 124.

24 al-Sayuthi, al-Jami al-Shagir, vol II (Mustafa al-Babi al-Halabi wa Auladuhu, 1954),


h. 124.

12
1) Merubah jenis kelamin laki-laki menjadi perempuan atau
sebaliknya hukumnya haram karena bertentangan dengan
al-Quran surah al-Nisa ayat 19 dan bertentangan pula
dengan jiwa syara.
2) Orang yang kelaminnya diganti kedudukan hukum jenis
kelaminnya sama dengan jenis kelamin semula sebelum
dirubah.
3) Seseorang khunsa (banci) yang kelaki-lakiannya lebih jelas
boleh disempurnakan kelaki-lakiannya. Demikian pula
sebaliknya dan hukumnya menjadi positif25.
2.3 Faktor Penyebab Transseksual
Penyebab dari transeksual sampai saat ini masih
menjadi perdebatan, apakah disebabkan oleh kelainan secara
biologis, termasuk di dalamnya kelainan hormonal dan
kromosom, atau karena faktor lingkungan (nurture) seperti
trauma masa kecil, atau karena sering diperlakukan sebagai
jenis kelamin berbeda26. Kondisi-kondisi di atas dapat
dikatakan sebagai suatu ketidakwajaran atau abnormal.
Beberapa teori tentang abnormalitas seksual menyatakan
bahwa keadaan abnormal tersebut timbul karena sugesti
masa kecil. Seseorang akan mengalami atau terjangkit
abnormalitas seksual karena pengaruh dari luar, seperti
misalnya dorongan kelompok tempat tinggal, pendidikan
orang tua yang menjurus pada benih-benih timbulnya
penyimpangan seksual dan pengaruh budaya yang

25 Komisi Fatwa dan Hukum MUI. Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia. Jakarta:
2003. h. 335.

26 Zunly Nadia, Waria : Laknat atau Kodrat, Yogyakarta: Pustaka Marwa, 2005, hlm.
40.

13
diakibatkan oleh komunikasi intens dalam lingkungan
abnormalitas seksual yang disebut acquired27.
Pendapat demikian didukung oleh teori-teori yang
berkaitan dengan perkembangan psikologi, dengan asumsi
bahwa semua orang pada dasarnya dilahirkan dengan jenis
kelamin netral28. Sebagian penderita transeksual
sesungguhnya tidak mempunyai masalah anatomi maupun
fisiologi, mereka memiliki kelenjar prostat, testis, dan penis
sebagaimana layaknya laki- laki dan mereka juga dapat
melakukan senggama, merasakan nikmat dan bahkan
orgasme sebagaimana laki-laki normal. Penyebab transeksual
ialah karena masalah psikologiknya, logikanya
Pengobatannya pun tentu dengan pengobatan psikologik
pula. Bahwa kemudian secara psikologis menjadi laki-laki
atau perempuan adalah karena berbagai variable, di
antaranya ialah dengan siapa lebih dekat bergaul, serta
bagaimana kultur yang ada disekitarnya29.
Pendapat tersebut sejalan dengan pandangan
Djohansyah Marzoeki, seorang ahli bedah plastik RS. Dr.
Soetomo Surabaya yang telah banyak menangani operasi
ganti kelamin yang menyatakan bahwa operasi perubahan
kelamin tidak ada hubungannya dengan kelainan badaniah,
juga tidak ada hubungannya dengan hormon atau kromosom

27 Koeswinarno, Komunikasi Sosial Kaum Minoritas, Jakarta: The Toyota Foundation,


1993, hlm. 5.

28 Sofwan Dahlan, Hukum Kesehatan (Rambu-rambu Bagi Profesi Dokter), Edisi 2,


Universitas Diponegoro, Semarang, 2000, hlm. 110.

29 Setiawan Budi Utomo, Fiqh Kontemporer, Bab Transeksual dan Hukum Operasi
Kelamin, Saksi No. 20, Bandung 2002. Sebagaimana halnya pendapat Buchori Masruri,
Operasi Perubahan Kelamin, (Simposium Pergantian Kelamin, Ungaran : UNDARIS : 16
September 1989), hlm. 7.

14
seseorang. Pada mereka yang sakit adalah jiwanya. Hal ini
dibuktikan berdasarkan pada kondisi pasien yang ditangani,
semua secara genetis laki-laki tulen : kromosom XY,
berbadan segar bugar, tidak ada kelainan hormon, semua
fungsi organnya berjalan normal. Jadi dari data tersebut,
penyakit yang mereka derita adalah penyakit jiwa
transeksual. Kelainan perilaku seksual ini bisa terbentuk sejak
kecil. Kemungkinan karena lingkungan yang keliru dan tidak
menunjang pembentukan pribadi, sehingga setelah dewasa
sulit berubah30.
Berkaitan dengan masalah penyebab transeksualisme
ini, perspektif media mengarah pada kemungkinan
disebabkan oleh predisposisi hormonal, hormon faktor-faktor
indokrin, konstitusi pembawaan, dan beberapa diantaranya
basis biologis pada masa prenatal, sehingga dapat
menumbuhkan perilaku seksual yang menyimpang31.
Menurut kajian Counseling and Mental Health Care of Transgender
Adult and Loved One (2006) fenomena transgender muncul tidak hanya
karena pengaruh lingkungan. Namun dalam sudut pandang ilmu kesehatan
mental, transgender bisa muncul dipengaruhi oleh budaya, fisik, seks,
psikososial, agama dan aspek kesehatan. Banyaknya penyebab muculnya
fenomena transgender dapat menjadi kajian tersendiri bagi konselor dan
profesi helper lainnya seperti psikolog dan psikiater yang menangani masalah
tersebut. Semakin kompleks masalah yang dialami konseli, maka semakin
memerlukan diagnosis khusus terhadap masalah tersebut.
Individu dengan gangguan identitas gender umumnya sudah mulai
merasakan indikasi gangguan tersebut sejak kecil, dimana ia merasa dan

30 Djohansyah Marzoeki, Ini Operasi Ubah Kelamin, Panasea, Januari, 1990, hlm. 93.

31 Kartini Kartono, Psikologi Abnormal dan Abnormalitas Seksual, Bandung: CV.


Mandar Maju, 1990, hlm. 229.

15
meyakini bahwa dirinya adalah jenis kelamin yang berbeda dengan jenis
kelaminnya saat ini, dan perasaan ini terus berlanjut hingga masa dewasa.
Keputusan untuk menjadi pria transgender melalui proses yang panjang.
Meskipun pria transgender menyadari perubahan ini di kemudian hari akan
banyak mendatangkan masalah, seperti kebingungan dengan identitas, tidak
diterimanya mereka dalam lingkungan masyarakat karena pertentangan
konstruksi gender32.
Pengembangan identitas baru di tengah budaya masyarakat yang telah
menjabarkan peran jenis laki-laki dan perempuan yang berujung pada kon-
sekuensi sikap masyarakat yang diskri-minatif, permusuhan, pelecehan
hingga kekerasan fisik sehingga menciptakan iklim teror yang menjadikan
kehidupan mereka semakin sulit33. Komnas HAM mencatat 1000 laporan
penyiksaan per tahun terjadi di Indonesia terhadap pria transgender seperti
pembunuhan, pemerkosaan hingga gangguan pada aktivitas organisasi34.
Menurut Koordinator Waria di seluruh Aceh, diketahui bahwa hal serupa juga
dialami oleh pria transgender yang berada di Aceh35.
Permasalahan transgender menyangkut moral dan perilaku yang
dianggap tidak wajar, karena secara normatif tidak ada kelamin ketiga di
antara laki-laki dan perempuan36. Tercermin dari penerimaan masyarakat
32 Triwulandari, Ajeng. 2012. Wacana Superhero Transgender Dalam Film
Madame X (Critical Discourse Analysis Terhadap Superhero Transgender Dalam
Film Madame X).

33 Ariyanto, & Rido Triawan. 2008. Jadi Kau Tak Merasa Bersalah: Studi Kasus
Diskriminasi Dan Kekerasan Terhadap LGBTI . Jakarta: Arus Pelangi.

34 Benjamin, Harry. (1999). The transsexual phenomenon. Dusseldorf:


Symposium Publishing

35 Fadilatul, Nur. (2013). Fenomena Transgender Dalam Hadis Nabi SAW


(Pemaknaan Hadis Dalam Sunan Abu Dawud Nomor Indeks 4930). Surabaya:
Institut Agama Islam Negeri sunan Ampel.

36 Setyowati, Wijaningsih, & Sismarwono. (2005). Perubahan status kelamin terhadap


penderita transgender. Jurnal pendidikan, 1(1), 78-79.

16
terhadap pria transgender yang sebatas formalitas. Sehingga memunculkan
pertanyaan, bagaimanakah kaum transgender men-dapatkan kepuasan hidup
di tengah diskriminasi sosial dan kebingungan identitas sehingga dapat
menemukan apa yang menjadi sumber kepuasan hidupnya.
Perilaku individu dengan lingkungan memiliki keterkaitan, bukan
hanya ber-perilaku sebagai perempuan saja, tetapi sejauhmana perilaku pria
dan wanita dapat diterima oleh masyarakat. Sikap yang tepat dalam
menghadapi situasi menjadi cara terbaik bagi pria transgender yang hidup
diantara keinginan dan pertentangan masyarakat. Hal ini yang kemudian
membuat mereka memberikan penilaian secara kognitif mengenai seberapa
baik dan memuaskan hal-hal yang sudah dilakukan individu dalam
kehidupannya secara keseluruhan pada area-area utama dalam hidup yang
dianggap penting seperti hubungan interpersonal, kesehatan, pekerjaan,
pendapatan, spiritualitas dan aktivitas diwaktu luang37. Kepuasan hidup dapat
diungkapkan dengan konsep diri yang positif serta yang tercermin antara cita-
cita masa lalu dengan kondisi kehidupan sekarang (berkaitan dengan
perubahan diri dari pria menjadi wanita).
Kepuasan hidup yang positif tercermin dari beberapa aspek: (a)
merasa senang dengan kegiatan yang dilakukan sehari-hari; (b) menganggap
dirinya penuh arti dan menerima kondisinya dengan tulus kondisi hidupnya;
(c) merasa telah berhasil mencapai cita-cita atau sebagian besar tujuan
hidupnya; (d) berpegang teguh pada pendirian yang positif; (e) memiliki
sikap hidup yang positif dan suasana hati yang positif38
Kecenderungan sifat feminin pria transgender dimulai sejak usia dini,
ini terlihat dari ketertarikannya terhadap kegiatan yang umum dilakukan oleh
perempuan. Pada dasarnya mereka ingin diterima oleh lingkungan masyarakat
sebagai jenis kelamin yang diyakininya, untuk itu mereka berusaha merubah

37 Dahlan, Abdul Aziz, 1996. Ensiklopedi Hukum Islam. Jakarta: Ichtiar Baru van
hoeve

38 Karinina, N. (2007). Penyimpangan identitas dan peran gender pendekatan penelitian


masalah kesejahteraan sosial waria. Journal Informasi, 12 (1), 44-53.

17
kondisi fisik dengan menggunakan atribut perempuan. Penerimaan sosial
menjadi suatu kebutuhan bagi semua subjek, meskipun sampai saat
merasakan penerimaan sosial akan keberadaan mereka di tengah masyarakat.
Sifat, sikap, dan tingkah laku yang dianggap menyimpang oleh masyarakat,
membuat pria transgender mencari dan membentuk lingkungan sosial dengan
kelompok senasib. Jenis pekerjaan yang disukai kaum waria pada umumnya
adalah bidang pekerjaan wanita yang dapat mengakomodasi permasalahan
kejiwaan wanita pada pria transgender39.
Keikutsertaan orang lain dalam merasakan kesedihan merupakan
dorongan untuk mengantisipasi permasalahan yang ia hadapi yang dapat
mengurangi beban penderitaan yang ia rasakan40. Hal ini disebabkan
kecenderungan individu untuk melibatkan aspek-aspek negatif dalam menilai
dirinya sendiri, dan umumnya individu selalu membicarakan
permasalahannya hanya pada seseorang yang memiliki hubungan emosional
yang dekat dengannya. Bentuk interaksi yang mendukung dalam hubungan
sosial diantaranya adalah mendengarkan dengan penuh perhatian dan
keyakinan, merefleksikan pernyataan orang yang menceritakan masalahnya,
menawarkan simpati, membagi pengalaman pribadi, meyakinkan kembali dan
menghindari kritik41.
Penolakan menjadi dasar permasalahan utama para pria transgender,
sehingga mereka menjadi sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan dan ini
menimbulkan perasaan cemas karena tidak mampu berfungsi dalam
kehidupan sehari-hari masyarakat. Kecenderungan untuk meng-hindar dari
situasi yang membuat cemas, berharap dapat bertahan dalam kondisi saat ini
meskipun semua subjek merasakan cita-cita telah tercapai, yaitu merubah diri

39 Karinina, N. (2007). Penyimpangan identitas dan peran gender pendekatan penelitian


masalah kesejahteraan sosial waria. Journal Informasi, 12 (1), 44-53.

40 Nainggolan, T. (2010). Gambaran kebahagiaan pada waria. Jurnal Penelitian dan


Pengembangan Kesejahteraan Sosial, 15, 72-84.

41 Setyowati, Wijaningsih, & Sismarwono. (2005). Perubahan status kelamin terhadap


penderita transgender. Jurnal pendidikan, 1(1), 78-79.

18
menjadi wanita. Tetapi dalam diri semua subjek, ada keinginan untuk kembali
menjadi orang normal, sebab menjadi pria transgender di Aceh dirasakan
cukup sulit.
Penyesuaian diri di tengah masyarakat dan penolakan masyarakat
dianggap sebagai hambatan terbesar yang ditemui subjek. Subjek yang
mengalami kekerasan fisik maupun psikologis, merasakan solidaritas dari
teman-teman senasib dimana subjek merasa aman, mendapatkan dukungan
dan dapat memberikan dukungan kepada sesama. Komunitas seperti ini dapat
menjadi sarana dalam mempertahankan integritas diri sebagai pria
transgender.
2.4 Cara Melakukan Operasi Kelamin
Dilansir dari The Washington Post, langkah paling pertama sebelum
melaksanakan operasi ganti kelamin biasanya sesi konsultasi dengan konselor
kesehatan mental profesional untuk melakukan diagnosis dan psikoterapi.
Diagnosis dari gangguan identitas gender atau disforia gender dan surat
rekomendasi resmi dari terapis yang bersangkutan membolehkan individu
tersebut untuk memulai terapi hormon di bawah pengawasan dokter.
Terapi hormon ini kemudian akan diikuti oleh uji penyesuaian hidup
pasien untuk beraktivitas seperti biasa di dunia nyata, bukan lagi dengan
gendernya yang lama namun sebagai orang dengan gender yang ia yakini,
selama kurang lebih satu tahun bersekolah, kerja, belanja bulanan, serta
mengganti nama depan mereka. Hal ini dilakukan untuk membuktikan pada
dokter bedah bahwa orang lain di sekitarnya, selain terapis, mengakui bahwa
ia telah berhasil menjalani hidup sebagai orang yang baru42.
Setelah itu, dokter akan melaksanakan sejumlah prosedur untuk
mengubah genitalia dan bagian tubuh lainnya. Seperti Terapi Hormon, fungsi
terapi hormon Tergantung dari tipe operasi yang akan dilaksanakan,
pemberian jenis hormon juga akan berbeda. Namun, fungsinya tetap sama
untuk membantu perubahan fisik dari dalam. Hormon androgen diberikan

42 Stieqlitz, K. A. (2010). Development, risk, and resilience of transgender youth.


Journal of the Association of Nurses in AIDS Care, 21(3), 192-206.

19
pada pria transgender (dari wanita ke pria) untuk membantu mereka
mengembangkan karakteristik seks sekunder pria, seperti jenggot dan rambut
tubuh, juga suara yang lebih berat. Estrogen dan anti-androgen diberikan
kepada wanita transgender (dari pria ke wanita) untuk membantu mereka
mengubah suara massa otot, kulit, distribusi lemak tubuh, dan melebarkan
pinggul. Sejumlah hal ini akan membuat penampilan fisik mereka lebih
feminin. Rambut tubuh tipikal pria juga akan hilang.
Dari pria ke wanita operasi ganti kelamin dari pria ke wanita
melibatkan prosedur pengangkatan penis dan testis, dan pemotongan uretra
menjadi lebih pendek. Sebagian sisa kulit akan digunakan untuk cangkok
jaringan pendukung vagina dan membentuk vagina utuh yang fungsional.
Sebuah neoklitoris yang memungkinkan wanita transgender bisa merasakan
sensasi orgasme bisa dibuat dari bagian penis43. Wanita transgender akan tetap
mempertahankan prostat mereka. Setelah prosedur usai, pasien akan
melanjutkan penggunaan hormon untuk membentuk kembali kontur tubuh
dan merangsang pertumbuhan payudara atau melakukan pembesaran
payudara. Operasi plastik untuk mempercantik wajah, seperti mengubah
bentuk mata, tulang pipi, hidung, alis, dagu, rambut, dan menghilangkan
jakun juga bisa dilakukan.
Dari wanita ke pria, operasi ganti kelamin wanita ke pria terbagi
dalam tiga tahap. Pertama, akan dilakukan mastektomi subkutan.
Kemudian, rahim dan indung telur akan diangkat, dalam dua prosedur
terpisah. Prosedur terakhir melibatkan transformasi genital, scrotoplasty, dan
konstruksi penis dilakukan menggunakan jaringan dari klitoris atau vulva
atau jaringan tubuh lainnya yang memungkinkan sensasi seksual serta
vaginectomy. Vaginectomy adalah rekonstruksi pemanjangan uretra untuk
memungkinkan pasien tersebut untuk buang air kecil berdiri. Pemanjangan
uretra adalah prosedur tersulit dari keseluruhan proses. Setelah satu tahun,
penis (ereksi) dan testis buatan dapat dicangkokkan saat sensasi seksual telah

43 Karademas. E. C. (2006). Self-efficacy, social support and well-being: The mediating


role of optimism. Journal of Personality and Individual Differences, 40(6),12811290.

20
kembali ke ujung penis. Selain prosedur organ kelamin, operasi plastik akan
dilakukan pada dada dari pria transgender untuk mengubah struktur dan
tampilannya menjadi lebih maskulin. Kapasitas untuk mengalami orgasme
atau setidaknya mengalami tingkatan yang wajar terhadap sensitivitas seksual
dapat diharapkan terjadi, baik pada wanita atau pria transgender.
Walaupun begitu, tingkat kesuksesan operasi ganti kelamin dari
wanita ke pria termasuk rendah, karena terbilang cukup sulit untuk membuat
sebuah penis baru yang fungsional hanya dari jaringan klitoris yang jauh
lebih sedikit. Konstruksi penis tidak akan dilaksanakan kurang dari satu tahun
setelah prosedur awal untuk mengangkat organ kewanitaan44
Layaknya prosedur medis lainnya, operasi ganti kelamin membawa
risiko infeksi, perdarahan, dan mungkin pemeriksaan medis lainnya untuk
memperbaiki kerusakan. Operasi ganti kelamin adalah hal yang permanen
dan tidak bisa diubah kembali. Maka dari itu, kandidat pasien harus benar-
benar yakin untuk merangkul hasil yang didapatkan. Namun, banyak dari
pasien operasi ganti kelamin yang melaporkan kepuasan terhadap
keberhasilan prosedur yang telah mereka jalani. Komplikasi yang paling
umum dari operasi ganti kelamin pria ke wanita adalah menyempitnya vagina
baru. Namun, hal ini dapat ditangani dengan dilasi (pelebaran) atau
menggunakan sebagian jaringan usus besar untuk membuat vagina.
Sementara itu, komplikasi dari prosedur wanita ke pria adalah disfungsi
penis. Cangkok penis buatan adalah prosedur yang sulit dan tidak akan
menghasilkan rupa yang seragam.
Sesi terapi dengan konselor kesehatan mental wajib dilakukan
sebelum dan sesudah menjalani prosedur ganti kelamin untuk menanggulangi
kemungkinan gejala disforia gender yang mungkin kambuh, bahkan setelah
berganti identitas. Orang-orang transgender yang telah melakukan prosedur
ganti kelamin sering kehilangan pasangan, keluarga, teman, bahkan
pekerjaan. Mereka mungkin akan merasa kesulitan, jika diharuskan untuk
pindah dan memulai hidup baru. Sebuah jurnal terbitan PLOS ONE
44 Sunahara. (2004). Analisis gender dan tranformasi sosial. Yogyakarta: Kanisius.

21
tahun 2011 tentang studi tindak lanjut terhadap 324 orang Swedia yang telah
menjalankan operasi ganti kelamin, menunjukkan bahwa mereka memiliki
risiko yang lebih tinggi terhadap angka kematian, perilaku bunuh diri, dan
gangguan psikiatri dibanding populasi umum. Kesimpulan dari studi tersebut
menguraikan bahwa operasi ganti kelamin, walaupun bisa menekan disforia
gender, mungkin tidak akan cukup sebagai terapi transeksualisme, dan
mengharuskan penanganan psikiatrik dan somatik setelah prosedur.
2.5 Pandangan Hukum Perundang-undangan Mengenai Transgender
Sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh PBB tahun 2013 di Special
Rapporteur on Torture menyatakan bahwa pelaksanaan operasi ganti kelamin
(normalisasi) tanpa persetujuan pemilik tubuh adalah ilegal. Jadi, pada bayi
yang terlahir dengan dua kelamin berbeda, operasi kelamin harus dilakukan
setelah ia berusia 18 tahun dan bisa memilih sendiri jenis kelamin apa yang
lebih sesuai dengan keyakinan dirinya.
Operasi ganti kelamin dilakukan untuk mengubah penampilan fisik
dan fungsi karakteristik seksual pada tubuh orang transgender, untuk
menyesuaikan karakteristik anatomi tubuh menyerupai gender yang mereka
yakini. Prosedur ini adalah bagian dari terapi untuk gender dysphoria yang
umum dialami oleh orang-orang transgender.
Transgender memiliki beberapa kategori diantaranya cross dresser,
transvestite, transsexual. Cross dresser adalah seseorang yang menggunakan
pakaian jenis kelamin yang berlawanan sebagai tampilan dalam sebuah
pertujukkan atau memiliki tujuan tertentu. Pelaku cross dresser ini tidak
selalu berkeinginan menjadi jenis kelamin yag berlawanan. Transvestic
iadalah individu yang merasakan kepuasan seksual jika dirinya mengenakan
pakaian jens kelamin sebaliknya, bahkan saat melakukan mastrubasi dan
berhubungan seksual45.
Hak-hak seksual berhubungan dengan perangkat permasalahan yang
berkaitan dengan seksualitas yang berasal dari hak atas kemerdekaan,

45 Zusy Aryanti. Faktor penyebab terjadinya LGBT pada anak remaja. Program pasca sarjana
STAIN jurai siwo metro Lampung. 2016. Halaman 45

22
kesetaraan, privasi, oonomi, integritas, dan harga diri dari semua manusia. Di
samping itu, hak-hak seksual merupakan norma spesifik yang muncul ketika
HAM yang ada diterapkan dalam hal seksualitas.hak-hak seksualitas
melindungi identitas tertentu, melindungi hak manusia untuk membolehkan,
memenuhi dan mengspresikan seksualitasnya dengan mengacu pada hak-hak
yang lainnya dan dalam kerangka kerja non diskriminasi46.
Hak asasi manusia merupakan hak dasar yang sevara kodrati melekat
pada diri manusia, bersifat universal. Oleh karena itu, hak-hak itu harus
dilindungi, dihormati, dipertahankan, dan tidak boleh diabaikan, dikurangi
atau dirampas oleh siapapun. Pasal 28 Ayat 1 UDD 1945 secara jelas
menyatakan bahwa setiap orang berhak untuk hidup serta berhak
mempertahankan hidup dan kehidupannya. Lebih lanjut pasal 71 UU No.
39/1999 tentang Hak Asasi Manusia menyebutkan pemerintah wajib dan
bertanggung jawab menghormati, melindungi, menegakkan, dan memajukan
hak asasi manusia yang diatue dalam undang-undang ini, peraturan
perundang-undangan dan hokum Internasional tentang Hak Asasi Manusia
yang diterima oleh Negara Republik Indonesia47.
Pengakuan HAM terhadap kaum LGBT dimulai ketika APA
(American Pyschiatric Association) melakukan penelitian terhadap orientasi
seksual homo. Hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa homo dan
orientasi seksual lainnya bukan abnormal, bukan penyimpangan psikologis
dan juga bukan merupakan penyakit. Pasca penelitian tersebut, yakni pada
tahun 1974 APA mencabut homo sebagai salah satu daftar dari penyakit
jiwa. Bahkan, ketetapan ini diadopsi oleh Badan Internasional WHO dan
diikuti oleh Departemen Kesehatan RI pada tahun 1983.48

46 Matshuriyah Sadan. Agama dan HAM memandang LGBT. Program pasca sarjana
STAIN jurai siwo metro Lampung. 2016. Halaman 23

47 Matshuriyah Sadan. 2016. Halaman 23

48 Matshuriyah Sadan. 2016. Halaman 23

23
Dokumen Internasional HAM, the Yogyakarta Principles yang
disepakati oleh 25 negara pada tahun 2007 di Yogyakarta menegaskan adanya
perlindungan HAM terhadap kelompok LGBTIQ dengan bunyi Semua
manusia terlahir merdeka dan sejajar dalam martabat dan hak-haknya. Semua
manusia memilik sifat universal, saling bergantung, tak dapat dibagi dan
saling berhubungan. Orientasi seksual dan identitas gender bersifat menyatu
dengan martabat manusia dan kemanusiaan sehingga tidak boleh menjadi
dasar bagi adanya perlakuan diskriminasi dan kekerasan. Dengan demikian,
hak-hak atas kaum LGBT sudah memperoleh pengakuan dari regional
nasional bahkan Internasional sekalipun. 49
Fenomena transgender dalam masyarakat Indonesia dikenal sebagai
sebuah penyimpangan, sering pula dengan istilah waria atau bahkan dengan
istilah yang lebih sarkasme yaitu banci atau bencong. Pada kenyataannya,
pria transgender hadir ditengah masyarakat sebagai sosok maskulin (laki-laki)
yang berubah menjadi feminism (perempuan).50
Kedudukan hukum pelaku transeksual sangat ditentukan oleh hokum
transeksual. Sebagaimana telah dijelaskan, bahwa hukum transeksual-bagi
operasi alat kelamin yang jelas dan normal- dalam Islam adalah haram, maka
hasil transeksual (operasi kelamin) tidak diakui. Pelaku transeksual wanita
merubah kelamin menjadi pria, dalam Islam kedudukan hukum sebagai pria
tidak diakui. Dalam hal ini yang bersangkutan tetap diakui sesuai dengan
kelamin sebelum melakukan transeksual. Demikian pula sebaliknya pria yang
melakukan transeksual menjadi wanita, kedudukan hukumnya tetap diakui
sebagai pria.51

49 Matshuriyah Sadan. 2016. Halaman 23-24

50 Muadil Faizin. Konseling Islam sebagai solusi fenomena transgender. Program pasca sarjana
STAIN jurai siwo metro lampung. 2016. Halaman 81

51 Suhairi. Hukum transeksual dan kedudukan hukum pelakunya dalam kewarisan Islam.
Program pasca sarjana STAIN jurai siwo metro lampung. 2016. Halaman 102-103

24
Kedudukan hukum pelaku transeksual tetap sesuai dengan jenis
kelaminnya sebelum melakukan transeksual, sebagaimana dinyatakan dalam
fatwa Majelis Ulama Indonesia tanggal 1 Juni 1980, keputusan nomor 2,
Orang yang kelaminnya diganti kedudukan hukum jenis kelaminnya sama
dengan jenis kelamin semula sebelum dirubah. Demikian pula hal ini
dipertegas melalui musyawarah nasional MUI tanggal 27 Juli 2010 di Jakarta,
sebagaimana disampaikan oleh sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Niam
Sholeh: Karena keabsahannya tidak boleh ditetapkan, maka kedudukan
hukum jenis kelamin orang yang telah melakukan operasi kelamin tetap
dengan jenis kelamin semula seperti sebelum operasi. Tanpa kecuali bagi
mereka yang sudah mendapat penetapan pengadilan.52
Memperhatikan kedudukan hukum pelaku transeksual tetap diakui
sesuai dengan jenis kelamin semula sebelum operasi kelamin, maka bagi
transgender pria yang merubah kelaminnya menjadi wanita, dalam kewarisan
Islam kedudukan hukumnya tetap diakui sebagai ahli waris pria. Demikian
pula sebaliknya, transgender wanita yang melakukan operasi kelamin menjadi
pria, dalam kewarisan Islam kedudukan hukumnya tetap diakui sebagai ahli
waris wanita.53
Hak Asasi Manusia dengan Negara hukum tidak dapat dipisahkan,
justru berfikir secara hukum berkaitan dengan ide bagaimana keadilan dan
ketertiban dapat terwujud. Dengan demikian, pengakuan dan pengukuhan
Negara hukum salah satu tujuannya melindungi hak asasi manusia, berarti
hak dan sekaligus kebebasan perseorangan diakui, dihormati, dan dijunjung
tinggi54 Didalam pasal 28 ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan
bahwa setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga,

52 Suhairi.. 2016. Halaman 103

53 Suhairi.. 2016. Halaman 103

54 H.A.Masyhur Effendi,1993,Hak Asasi Manusia Dalam Hukum Nasional dan


Internasional,Ghalia Indonesia. Bogor.hlm.27

25
kehormatan martabat dan harta bendanya tak terkecuali hak atas rasa aman
dan perlindungan terhadap ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak
berbuat sesuatu.
Undang-Undang No.39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
(HAM) juga memberikan perlindungan kepada kelompok yang rentan. Waria
atau transgender bukan merupakan fenomena yang baru terjadi, meskipun
tidak diketahui dengan pasti sejak kapan tepatnya aktifitas waria/transgender
bermula, namun fenomena tersebut telah tercatat dalam litelatur dan dokumen
sejarah hingga sebelum zaman masehi. Waria/ transgender berupaya
mendapatkan pengakuan serta perlindungan hukum internasional atas hak
untuk menentukan orientasi seksual dan identitas gender secara mandiri
sesuai dengan pembukaan DUHAM (Deklarasi Universal Hak asasi Manusia)
yang berbunyi
inherent dignity and of the equal and inalienable rights of all
members of the human family is the foundation of freedom, justice and peace
in the world. DUHAM menyatakan bahwa manusia memiliki hak yang
setara dan mutlak tidak terhapuskan terhadap sesamanya. Para waria juga
ingin mendapat perlakuan yang layak seperti orang-orang pada umumnya
seperti halnya mereka dapat bekerja dimanapun mereka inginkan tanpa ada
suatu diskriminasi.
Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang. Ketenagakerjaan
mengatur bahwa setiap orang atau tenaga kerja memiliki kesempatan yang
sama tanpa diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan. Tidak hanya hukum
positif di Indonesia saja yang mengatur tentang perlindungan serta kesetaraan
waria. Hukum Internasional juga mengatur kesetaraan kehidupan waria.
Dewan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menangani tentang Hak
Asasi Manusia juga memperhatikan ketidakadilan, diskriminasi, serta
pelanggaran tentang Hak asasi Manusia berdasarkan orientasi seksual dan
identitas gender, serta kebutuhan untuk mengambil tindakan untuk mencegah
insiden dari pelecehan, penindasan, dan diskriminasi. Dalam keputusan ECJ
transgender atau waria yang sedang bekerja ataupun yang akan bekerja

26
mendapat perlindungan sepenuhnya agar tidak terjadi diskriminasi,
pelecehan, dan penindasan.
Dalam piagam PBB, hak asasi manusia ditegaskan dalam Pasal 1 ayat
(3) Piagam PBB yang isinya mewujudkan kerja sama internasional dalam
memecahkan persoalan-persoalan internasional di lapangan ekonomi, sosial,
kebudayaan, atau yang bersifat kemanusiaan, dan berusaha serta
menganjurkan adanya penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia dan
kebebasan-kebebasan dasar bagi semua manusia tanpa membedakan bangsa,
jenis kelamin, bahasa, atau agama.
Walaupun aturan hukum Indonesia dan hukum internasional menjadi
dasar hukum yang kuat bagi para waria untuk memperoleh perlakuan yang
adil dari negara dan masyarakat, kenyataan di lapangan selama ini para waria
belum diperlakukan sebagaimana warga negara normal lainnya. Para waria
masih mengalami diskriminasi oleh masyarakat, baik di dalam kehidupan
sosial maupun di hadapan hukum, meskipun mereka adalah Warga Negara
Indonesia. Aksesibilitas terhadap pelayanan publik dasar bagi waria belum
diberikan secara adil oleh pemerintah Indonesia55
Setiap manusia mempunyai suatu hak yang sangat mendasar yaitu hak
asasi manusia. Di dalam hak tersebut manusia akan mendapatkan rasa aman
dan hidup bahagia, sehingga bukan merupakan suatu alasan untuk
menjadikan adanya suatu perbedaan jenis kelamin maupun diskriminasi
sosial. Hakikat keberadaan dan dasar hak asasi manusia semata-mata untuk
kepentingan manusia sendiri, artinya setiap manusia/ individu dapat
menikmati hak asasi manusiannya. Manusia merupakan satu pribadi yang
utuh dan dalam masyarakat tidak hilang jati diri/ kepribadiannya sebagai
manusia, ia mempunyai hak atas dirinya sendiri lepas dari orang lain. Dengan
demikian, setiap individu tetap mempunyai hak asasi manusia tanpa kecuali.
Karena itu jabatan, pangkat, kedudukan, kekayaan harus tidak membedakan
hak asasi manusianya.4

55 H.A.Masyhur Effendi,1993,Hak Asasi Manusia Dalam Hukum Nasional dan


Internasional,Ghalia Indonesia. Bogor.hlm.27

27
Kebutuhan akan pelayanan publik yang adil belum sepenuhnya
dipahami oleh aparat birokrasi. Dalam prakteknya, masih banyak pelayanan
publik yang tidak memberi akses yang sama bagi semua lapisan masyarakat.
Diskriminasi dalam pelayanan publik terutama sering dialami oleh kelompok
marginal dalam masyarakat, seperti kelompok miskin dan minoritas. Padahal
prinsip pelayanan publik adalah tidak memihak individu atau kelompok
manapun. Seperti halnya dengan para waria, mereka ingin mendapatkan
pelayanan publik, mereka ingin bekerja di suatu instansi yang diakui oleh
negara, atau menjadi pegawai pemerintahan56
Akan tetapi suatu diskriminasi tetap ada untuk para waria. Hal
tersebut terjadi karena di Negara Indonesia belum ada kesadaran didalam
kehidupan masyarakat tentang pentingnya menghargai dan menghormati hak-
hak asasi manusia. Sehingga status waria belum diakui secara sah karena
belum ada suatu aturan yang tegas dan jelas mengenai hak-hak dan kewajiban
dari para waria sebagai warga Negara Indonesia 57. Para waria merupakan
ciptaan Tuhan, mereka adalah manusia yang mempunyai derajat tertinggi dan
mempunyai hak-hak dan kewajiban yang sama dibandingkan dengan ciptaan
Tuhan yang lain. Untuk itu sangatlah penting bagi waria untuk mendapatkan
perlindungan hukum agar mendapatkan hak-haknya sebagai warga Negara
Indonesia didalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian waria dapat
merasakan keadilan dalam kehidupannya.
2.6 Matrix Etika Transgender
Sasaran Kesejahteraan Malefecience Otonomi Keadilan
Pasien Mendapatkan Mengurangi Kebebasan Mendapatkan
kehidupan yang stress untuk menentukan kepuasan hidup
penuh arti, merasa mendapatkan jenis kelamin
senang dengan keinginan
aktivitas yang

56 H.A.Masyhur Effendi,1993,Hak Asasi Manusia Dalam Hukum Nasional dan


Internasional,Ghalia Indonesia. Bogor.hlm.27

57 H.A.Masyhur Effendi,1993.hlm.27

28
dilakukan, merasa
berhasil mencapai
cita-cita atau
tujuan hidup,
berpegang teguh
pada gambaran
diri yang positif,
mempunyai sikap
hidup yang
optimis
Dokter Berhasil Melakukan Kebebasan Memberikan
membantu pasien pelayanan medis menyamaikan pelayanan medis
dalam dengan informasi sesuai dengan
mewujudkan maksimal keinginan pasien
keinginannya
Pasangan Tinggal bersama Mengurangi Kebebasan Mendapatkan
hidup pasangan dan perbuatan melakukan kepuasan hidup
melakukan negatif hubungan seks
hubungan seks

29
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Menurut Agama Islam, transgender dalam bahasa Arabnya disebut
Mukhannats adalah laki-laki yang menyerupai perempuan dalam kelembutan,
cara bicara, melihat, dan gerakannya. Sedangkan dalam kamus wikipedia
disebutkan bahwa Waria (portmanteau dari perempuan-laki-laki) atau Wadam
(dari hawa-adam) adalah laki-laki yang lebih suka berperan sebagai
perempuan dalam kehidupannya sehari-hari. Apabila seseorang
mempunyai alat kelamin ganda, yaitu penis dan vagina, maka
untuk memperjelas identitas dan fungsi kelaminnya, maka ia
boleh melakukan operasi kelamin untuk mematikan salah
satu alat kelamin dan menghidupkan/memfungsikan yang
lainnya sesuai dengan keadaan organ kelamin bagian dalam
kelaminnya. Penyebab dari transeksual sampai saat ini masih
menjadi perdebatan, apakah disebabkan oleh kelainan secara
biologis, termasuk di dalamnya kelainan hormonal dan
kromosom, atau karena faktor lingkungan (nurture) seperti
trauma masa kecil, atau karena sering diperlakukan sebagai
jenis kelamin berbeda. Persiapan melakukan operasi jenis
kelamin diawali dengan pendekatan psikologi, terapi hormon
dan percobaan gender selama 1 tahun apabila merasa cocok
baru di lakukan operasi.

30
3.2 SARAN
Dalam pembuatan makalah, membutuhkan bahan yang cukup banyak
sehingga cukup sulit untuk memahami materi sebagai bahan makalah. Dan
dengan mempelajari makalah yang singkat ini diharapkan kita dapat
mengetahui mengenai pengertian Transgender, bagaimana pandangan dalam
hukum Islam dan hukum internasional.

31
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Azhar Basyir. 1996.Refleksi Atas Persoalan KeIslaman Bandung: Mizan. h.
171.

Al-Sayuthi, Al-Jami Al-Shagir. 1954.Vol II (Mustafa Al-Babi Al-Halabi Wa


Auladuhu). Hal. 124-130.

Ariyanto, & Rido Triawan. 2008. Jadi Kau Tak Merasa Bersalah:
Studi Kasus Diskriminasi Dan Kekerasan Terhadap LGBTI .
Jakarta: Arus Pelangi.

Asis Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam, Jilid IV, h. 1354.

Baron, R. A. & Byrne, D.2004. Psikologi sosial. Jilid 1, Edisi 10. Jakarta: Penerbit
Erlangga.

Benjamin, Harry.1999.The transsexual


phenomenon.Dusseldorf:Symposium Publishing

Dahlan, Abdul Aziz, 1996. Ensiklopedi Hukum Islam. Jakarta: Ichtiar Baru van
hoeve.

Departemen Agama RI. 2001.al-Quran dan Terjemahnya


:Jakarta.h. 645.

Djohansyah Marzoeki. 1990.Operasi Ubah Kelamin, Panasea, hlm. 93.

Dr.Riant Nugroho.2008.Gender Dan Administrasi Publik, Pustaka Pelajar,


yogyakarta, hlm.30-31.

Esterlita, Krista Marsha.2013. Dilema Pengungkapan Identitas Wanita Transeksual.


Kajian Fenomenologi Wanita Transeksual di Surabaya.

Fadilatul, Nur.2013. Fenomena Transgender Dalam Hadis Nabi


SAW (Pemaknaan Hadis Dalam Sunan Abu Dawud Nomor
Indeks 4930). Surabaya: Institut Agama Islam Negeri sunan
Ampel.

32
Fatimah Halim. 2011. Waria dan operasi kelamin. Al-Risalah
.Volume 11 Nomor 1. Hal.304.

Fromm, Erich. 2011. Cinta, Seksualitas, dan Matriarki. Yogyakarta: Jalasutra.

Gerald C Davison, Dkk. 2010. Psikologi Abnormal edisi ke-9.Yogyakarta: PT Raja


Grafindo Persada. hlm. 618.

H.A.Masyhur Effendi.1993.Hak Asasi Manusia Dalam Hukum Nasional dan


Internasional. Bogor :Ghalia Indonesia.hlm.27

Helgin, R. P. & Whitbourne, S. K.2010. Psikologi abnormal. Jakarta: Penerbit


Salemba.

Huriawati dkk. 2002. Kamus Kedokteran Dorland (terj). Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.hlm. 2276

Jeffrey S. Nevid, DKK.2003.Psikologi Abnormal, jilid 2. Jakarta: Penerbit


Erlangga. hlm.74

Kadir, Hatib Abdul. 2007. Tangan Kuasa Dalam Kelamin, Yogyakarta: INSIST
Press.

Karademas. E. C. 2006. Self-efficacy, social support and well-being: The mediating


role of optimism. Journal of Personality and Individual Differences.
40(6),12811290.

Karinina, N.2007. Penyimpangan identitas dan peran gender pendekatan penelitian


masalah kesejahteraan sosial waria. Journal Informasi.12 (1): 44-53.

Kartini Kartono.1990. Psikologi Abnormal dan Abnormalitas Seksual.Bandung:


CV. Mandar Maju.hlm. 229.

Koeswinarno.1993.Komunikasi Sosial Kaum Minoritas.Jakarta: The Toyota


Foundation. hlm. 5.

Komisi Fatwa dan Hukum MUI. 2003. Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia.
Jakarta. h. 335.

33
Mahjuddin. 2005.Masailul Fiqhiyah.Jakarta: Kalam Mulia.hal. 199

Masjfuk Zuhdy. 1989.Masailu Fiqhiyah. Jakara: Mas Agung.hal. 170.

Matshuriyah Sadan. 2016. Agama dan HAM memandang LGBT. Program pasca
sarjana STAIN jurai siwo metro Lampung.Halaman 23-24

Muadil Faizin. 2016. Konseling Islam sebagai solusi fenomena transgender.


Program pasca sarjana STAIN jurai siwo metro lampung. Halaman 81

Nainggolan, T. 2010. Gambaran kebahagiaan pada waria. Jurnal Penelitian dan


Pengembangan Kesejahteraan Sosial.15: 72-84.

Santrock, J. W. 2007. Life span development (perkembangan masa hidup). Jakarta:


Penerbit Elangga.

Setiawan Budi Utomo.2002.Fiqh Kontemporer, Bab Transeksual dan Hukum


Operasi Kelamin, Saksi No. 20. Bandung. Sebagaimana halnya pendapat
Buchori Masruri, Operasi Perubahan Kelamin, (Simposium Pergantian
Kelamin, Ungaran : UNDARIS : 16 September 1989), hlm. 7.

Setiawan Budi Utomo. 2003.Fiqih Aktual. Jakarata: Gema Insani Press.

Setyowati, Wijaningsih, & Sismarwono. 2005. Perubahan status kelamin terhadap


penderita transgender. Jurnal pendidikan. 1(1): 78-79.

Sofwan Dahlan. 2000.Hukum Kesehatan (Rambu-rambu Bagi Profesi Dokter),


Edisi 2.Universitas Diponegoro:Semarang.hlm. 110.

Stieqlitz, K. A.2010. Development, risk, and resilience of transgender youth.


Journal of the Association of Nurses in AIDS Care.21(3):192-206.

Stieqlitz, K. A.2010. Development, risk, and resilience of transgender youth.


Journal of the Association of Nurses in AIDS Care.21(3):192-206.

Suhairi. 2016. Hukum transeksual dan kedudukan hukum pelakunya dalam


kewarisan Islam. Program pasca sarjana STAIN jurai siwo metro
lampung.Halaman 102-103.

34
Sunahara. 2004. Analisis gender dan tranformasi sosial. Yogyakarta: Kanisius.

Suryakusuma, Julia. 2012. Agama, Seks, dan Kekuasaan. Depok: Komunitas


Bambu.

Triwulandari, Ajeng. 2012. Wacana Superhero Transgender Dalam


Film Madame X (Critical Discourse Analysis Terhadap
Superhero Transgender Dalam Film Madame X).

Yusuf Qardawi. 2002.Fatwa-Fatwa Kontemporer. Jakarta: Gema


Insani Press.h. 465.

Zunly Nadia. 2005.Waria : Laknat atau Kodrat.Yogyakarta: Pustaka Marwa. hlm.


40.

Zusy Aryanti. 2016. Faktor penyebab terjadinya LGBT pada anak remaja.
Program pasca sarjana STAIN jurai siwo metro Lampung. Halaman 45.

35