Anda di halaman 1dari 35

KATA PENGANTAR

Alhamdulilah, segala puji bagi Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-NYA,
sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah dengan judul Komunikasi Pada Anak .
Makalah ini sebagai salah satu persyaratan untuk mata kuliah Ilmu Dasar Keperawatan progam
studi ilmu keperawatan STIKES Ngudia Husada Madura.
Dalam menyelesaikan makalah ini, penulis menyadari adanya kekurangan dan
keterbatasan, namun berkat bantuan dan bimbingan, petunjuk serta dorongan dari semua pihak,
akhirnya makalah ini dapat diselesaikan tepat waktu. Maka dengan kemurahan hati dan
kerendahan hati penulis menucapkan terimakasih kepada:
1. H. Mustofa Haris, S Kep., M. Kes., selaku ketua yayasan Ngudia Husada Madura yang telah
memberikan kesempatan dan fasilitas untuk mengikuti dan menyelesaikan tugas makalah ini.
2. Ns. Ulva Noviana, M Kep., selaku ketua STIKES Ngudia Husada Madura yang telah
memberikan keempatan dan fasilitas untuk mengikuti dan menyelesaikan tugas dan makalah ini.
3. ( Ibu / Bapak dosen yang mengajar ) selaku fasiitator yang membimbing dalam mata kuliah Ilmu
Dasar Keperawatan.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini jauh dari sempurna, untuk itu penulis sangat
mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang sifatnya membangun, sangat diharapkan
penulis dalam perbaikan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis
khususnya, dan bagi pembaca umumnya.

Bangkalan, 18 Februari 2015

Kelompok 3
DAFTAR ISI
Kata Pengantar............................................................................................... i
Daftar isi......................................................................................................... ii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang................................................................................................ 1
1.2 Rumusan masalah........................................................................................... 1
1.3 Tujuan............................................................................................................. 2
1.3.1 Tujuan umum......................................................................................... 2
1.3.2 Tujuan khusus........................................................................................ 2
1.4 Manfaat.......................................................................................................... 2
BAB II TINJAUN PUSTAKA
2.1 PengertianAnatomi SistemPengelihatan(Mata) ................ 3
2.2 PengkajianOptalmik ..........8
2.3 PenegertianAnatomiSistemPendengaran (Telinga) ..................... 10
2.4 PengkajianKemampuanMendengar............... 15
2.5 PengertianAnatomi SistemPenciuman(Hidung) ............... 18
2.6 FisiologiPenciuman ...........20
2.7 PenegertianAnatomiSistemPeraba (Kulit) ................ 20
2.8 FisiologiPeraba . .....22
2.9 SensasiSuhu.. ......23
2.10 PengertianAnatomiSistemPerasa (Lidah) ......... 25
2.11 FisiologiLidah ... .26
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan................................................................................................ 27
3.2 Saran . 27

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PEND AHULUAN
1.1 Latar Belakang
Anatomi dan Fisiologi Sistem Sensori
Indra mempunyai sel-sel reseptor khusus untuk mengenali perubahan lingkungan. Indra yang
kita kenal ada lima, yaitu:
1. Indra penglihat (mata)
2. Indra pendengar (telinga)
3. Indra peraba (kulit)
4. Indra pengecap (lidah)
5. Indra pencium (hidung).
Kelima indra tersebut berfungsi untuk mengenali perubahan lingkungan luar, oleh
karenanya disebut eksoreseptor.
Reseptor yang berfungsi untuk mengenali lingkungan dalam, misalnya nyeri, kadar
oksigen atau karbon dioksida, kadar glukosa dan sebagainya, disebut interoreseptor.
Sel-sel interoreseptor misalnya terdapat pada sel otot, tendon, ligamentum, sendi, dinding
saluran pencernaan, dinding pembuluh darah, dan lain sebagainya. Akan tetapi, sesungguhnya
interoreseptor terdapat di seluruh tubuh manusia. Interoreseptor yang membantu koordinasi
dalam sikap tubuh disebut kinestesis.

1.2 RumusanMasalah
Adapunrumusanmasalahyangmenjadiacuandanpedomandalampenyusanandanpenyajianm
akalahinisebagaiberikut :
1) Apa yang dimaksud dengan saraf ?
2) Bagimana jalanya terjadinya proses saraf sensori pada tubuh?
3) BagaimanaAnatomi&FisiologidariMatadanTelinga ?
4) Bagaimana proses pengkajianOptalmik ?
5) Bagaimana proses pengkajiankemampuanmendengar ?

1.3 TUJUAN
Kelompok kami menyusun makalah ini agar para pembaca bisa mengetahui
tentangAktifitasAnatomiFisiologiSensoridalamTubuhManusia dan denganadanya makalah ini
juga di harapkan dapat menjadi pengetahuan bagi kita semua.

1.3.1. Tujuan Umum

1) Untuk memenuhi tugas mata kuliah pancasila


2) Unuk memahami AktifitasAnatomiFisiologiSensori

1.3.2. Tujuan Khusus

1. Tujuan Kelompok kami menyusun makalah ini agar para pembaca bisa
mengetahui tentang AnfisSensori
2. AnatomisistemPengelihatanyaitu Mata yang Melindungi dari kotoran dan benda asing oleh alis,
bulu mata dan kelopak matadanAnatomi sistem pendengaran merupakan organ pendengaran dan
keseimbangan.
3. Serta dengan adanya makalah ini juga di harapkan dapat menjadipengetahuan bagi kita semua.

1.4. Manfaat
1) Dapat memahami tentang AktifiasAnatomiFisiologiSensori
2) Dapat memahami AnatomiSistemPengelihatandanPendengaran

BAB II
PEMBAHASAN

2.2 PENGERTIAN
2.2.1 Sistem Saraf
Sistem saraf manusia adalah sebuah jaringan yang sangat khusus, yang berisi miliaran neuron,
dan bertanggung jawab untuk mengendalikan dan mengkoordinasikan semua fungsi tubuh.
Sistem ini memungkinkan kita untuk berkomunikasi dengan dunia luar dan terdiri dari dua
komponen, sistem saraf pusat (SSP) dan sistem saraf perifer (PNS).
Sistem saraf pusat meliputi otak dan sumsum tulang belakang, sedangkan sistem saraf perifer
terdiri dari semua neuron tubuh, kecuali yang ditemukan di otak dan sumsum tulang belakang.
Sistem saraf manusia yang bersangkutan dengan menerima informasi dari dunia luar,
pengolahan, dan kemudian menghasilkan respon yang tepat. Ini adalah jaringan yang mengontrol
dan mengkoordinasikan semua kegiatan tubuh, dengan mengirimkan pesan atau sinyal dari otak
ke bagian-bagian berbeda dari tubuh dan sebaliknya.

2.1.2 Cara Kerja Saraf

Cara sistem saraf bekerja benar-benar unik dan kompleks. Ia bekerja melalui jaringan kompleks
neuron, yang merupakan fungsi dasar sel-sel dari sistem saraf. Neuron melakukan sinyal atau
impuls antara dua komponen dari sistem saraf, yaitu pusat dan sistem saraf perifer. Ada terutama
tiga jenis neuron, neuron sensorik, neuron motorik, dan interneuron.

Neuron sensorik mengirimkan rangsangan atau impuls yang diterima dari alat indera, seperti
mata, hidung atau kulit, sistem saraf pusat, yaitu, ke otak dan sumsum tulang belakang. Otak
pada gilirannya, memproses rangsangan tersebut dan mengirimkannya kembali ke bagian lain
dari tubuh, memberitahu mereka bagaimana bereaksi terhadap jenis tertentu dari stimulus. Motor
neuron bertanggung jawab untuk menerima sinyal dari saraf otak dan tulang belakang, dan
mengirim mereka ke bagian lain dari tubuh.

Di sisi lain, interneuron berkepentingan dengan membaca impuls, yang diterima dari neuron
sensorik dan memutuskan respon yang akan dihasilkan. Mereka terutama ditemukan di otak dan
sumsum tulang belakang. Selain neuron, sistem saraf juga mengandung sel-sel glial, yang
mendukung dan memelihara neuron. Neuron menggunakan sinyal elektrokimia, atau
neurotransmitter untuk transmisi impuls dari satu neuron yang lain. Namun, transmisi impuls
dari satu neuron ke lain tidak sesederhana kedengarannya. Jadi, mari kita cari tahu bagaimana
tepatnya neuron mengirimkan impuls ke neuron lain

Fungsi sel saraf sensorik adalah menghantar impuls dari reseptor ke sistem saraf pusat, yaitu otak
(ensefalon) dan sumsum belakang (medula spinalis). Ujung akson dari saraf sensori berhubungan
dengan saraf asosiasi (intermediet).

Fungsi sel saraf motorik adalah mengirim impuls dari sistem saraf pusat ke otot atau kelenjar
yang hasilnya berupa tanggapan tubuh terhadap rangsangan. Badan sel saraf motor berada di
sistem saraf pusat. Dendritnya sangat pendek berhubungan dengan akson saraf asosiasi,
sedangkan aksonnya dapat sangat .

2.2 Impuls

Impuls adalah rangsangan atau pesan yang diterima oleh reseptor dari lingkungan luar, kemudian
dibawa oleh neuron. Impuls dapat juga dikatakan sebagai serangkaian pulsa elektrik yang
menjalari serabut saraf. Contoh rangsangan adalah sebagai berikut.
a. Perubahan dari dingin menjadi panas.
b. Perubahan dari tidak ada tekanan pada kulit menjadi ada tekanan.
c. Berbagai macam aroma yang tercium oleh hidung.
d. Suatu benda yang menarik perhatian.
e. Suara bising.
f. Rasa asam, manis, asin dan pahit pada makanan.

Impuls yang diterima oleh reseptor dan disampaikan ke efektor akan menyebabkan terjadinya
gerakan atau perubahan pada efektor. Gerakan tersebut adalah sebagai berikut.
panjang.
a. Gerak sadar
disadari Gerak sadar atau gerak biasa adalah gerak yang terjadi karena disengaja atau. Impuls
yang menyebabkan gerakan ini disampaikan melalui jalan yang panjang. Bagannya adalah
sebagai berikut.

b. Gerak refleks
Gerak refleks adalah gerak yang tidak disengaja atau tidak disadari. Impuls yang menyebabkan
gerakan ini disampaikan melalui jalan yang sangat singkat dan tidak melewati otak. Bagannya
sebagai berikut.
Contoh gerak refleks
adalah sebagai berikut.
1. Terangkatnya kaki jika terinjak sesuatu.
2. Gerakan menutup kelopak mata dengan cepat jika ada benda asing yang masuk ke mata.
3. Menutup hidung pada waktu mencium bau yang sangat busuk.
4. Gerakan tangan menangkap benda yang tiba-tiba terjatuh.
5. Gerakan tangan melepaskan benda yang bersuhu tinggi

c. Perbedaan Gerak Sadar dan Gerak Reflek


1) Gerak Sadar
Gerak sadar adalah gerakan yang dikontrol oleh pusat kesadaran. Pada gerak itu, otakmu
memberi perintah kepada otot-otot untuk melakukan gerakan tersebut. Jalannya impuls pada
gerak sadar adalah sebagai berikut:
impuls dari reseptor neuron sensorik pusat saraf (otak) respon efektor neuron
motorik efektor (gerak anggota tubuh).
Contoh gerak sadar adalah aktivitas sehari-hari seperti makan, lari, dan melompat.

2) Gerak Refleks
Gerak refleks adalah gerakan spontan yang tanpa disadari.
Contohnya bila tangan menyentuh benda panas tanpa sengaja, maka secara spontan akan
menarik tangan menjauhi benda panas itu.
Jalannya impuls pada gerak refleks sebagai berikut:
impuls dari reseptorneuron sensorik sumsum tulang belakang respon efektor
neuronmotorik efektor
Impuls yang menyebabkan gerakan tersebut dibawa oleh sel saraf sistem eferen somatik dan
suatu jalur rangsangan pendek yang disebut lengkung refleks.
Gerak refleks dibedakan menjadi dua yaitu refleks kranial dan refleks spinal. Pada refleks kranial
(yang terjadi di kepala, misalnya bersin), jalur ini hanya melibatkan sebagian kecil dari otak.
Namun pada refleks spinal (yang terjadi di bagian tubuh lainnya), hanya sumsum tulang
belakang yang terlibat secara aktif, sedangkan otak tidak terlibat. Jalan impuls pada gerak refleks
di atas melibatkan lengkung refleks spina.
d. Saraf

Motorik dan Saraf Sensori

1) Saraf motorik
Saraf motorik menghubungkan sistem saraf pusat dan otot dalam tubuh, melalui neuron motorik,
di mana saraf motorik berasal. Badan sel untuk setiap saraf terletak pada sumsum tulang
belakang. Setiap saraf motorik menghubungkan otot tertentu dalam tubuh, dan membawa impuls,
yang menyebabkan otot berkontraksi.
2) Sistem Saraf Motoris
Adapun sistem saraf motoris atau eferen tersusun atas neuron yang membawa impuls dari sistem
saraf pusat menuju efektor. Sistem saraf eferen dibedakan menjadi dua, yaitu sistem saraf
somatis dan sistem saraf otonom. Sistem saraf somatis membawa impuls menuju otot rangka
sebagai respons dari rangsang yang berasal dari luar. Sistem saraf somatis bekerja secara sadar.
Adapun sistem saraf otonom membawa impuls untuk mengatur kerja otot polos, otot jantung,
sistem peredaran darah, sistem ekskresi, dan sistem endoksin. Saraf otonom bekerja secara tidak
sadar. Sistem saraf otonom dibedakan menjadi dua, yaitu saraf simpatetis dan saraf
parasimpatetis. Ketika saraf tersebut bekerja pada organ yang sama, keduanya bekerja secara
berlawanan (antagonistik). Secara umum, saraf parasimpatetis membawa impuls
yangberhubungan dengan pembentukan energi, misalnya pencernaan. Sebaliknya, saraf
simpatetis akan membawa impuls yang berhubungan dengan penggunaan energi atau
peningkatan laju metabolisme.
2.3 Anatomi Fisiologi Mata
Secara struktral anatomis, bola mata berdiameter 2,5 cm dimana 5/6 bagiannya
terbenam dalam rongga mata, dan hanya 1/6 bagiannya saja yang tampak pada bagian luar.
Perhatikan gambar dibawah ini:

1.1 Struktur Mata Eksternal


A. KavumOrbita
Merupakanronggamata yang
bentuknyasepertikerucutdenganpuncaknyamengarahkedepandankedalam.
Dindingronggamatadibentukolehtulang:
1. Osfrontalis
2. Oszigomatikum
3. Osslenoidal
4. Osetmoidal
5. Ospalatum
6. Oslakrimal

B. Alis
Duapotongkulittebal yang melengkungditumbuhiolehrambutpendek yang
berfungsisebagaipelindungmatadarisinarmatahari yang sangatterikdansebagaialatkecantikan.

C. Kelopak Mata (Palpebra)


Kelopakataupalpebraterdiridari 2 bagiankelopakmataatasdankelopakmatabawah,
mempunyaifungsimelindungi bola mata, sertamengeluarkansekresikelenjarnya yang membentuk
film air mata di depankornea. Palpebramerupakanalatmenutupmata yang
bergunauntukmelindungi bola mataterhadap trauma, trauma sinardanpengeringan bola mata.
Kelopakmatadapatmembukadiriuntukmemberijalanmasuksinarkedalam bola mata yang
dibutuhkanuntukpenglihatan.

a.) Lapisanluar
1. Sklera
Sklera dikenal juga sebagai putih mata, merupakan 5/6 dinding luar bola mata dengan
ketebalan sekitar 1 mm. Sklera mempunyai struktur jaringan fibrosa yang kuat sehingga mampu
mempertahankan bentuk bola mata dan mempertahankan jaringan-jaringan halus pada mata.
Pada anak-anak, sklera akan terlihat berwarna biru sedangkan pada orang dewasa akan terlihat
seperti warna kuning.
2. Konjungtiva
Konjungtiva adalah membrana mukosa (selaput lendir) yang melapisi kelopak & melipat
ke bola mata untuk melapisi bagian depan bola mata sampai limbus. Konjungtiva ada 2, yaitu
konjungtiva palpebra (melapisi kelopak) dan konjungtiva bulbi (menutupi bagian depan bola
mata). Fungsi konjungtiva: memberikan perlindungan pada sklera dan memberi pelumasan pada
bola mata. Konjungtiva mengandung banyak sekali pembuluh darah.
3. Kornea
Kornea adalah jaringan bening, avaskular, yang membentuk 1/6 bagian depan bola mata,
dan mempunyai diameter 11mm. Kornea merupakan kelanjutan dari sklera.

b.) Lapisan Tengah


1. Koroid
Koroid adalah membran berwarna coklat, yang melapisi permukaan dalam sklera. Koroid
mengandung banyak pembuluh darah dan sel-sel pigmen yang memberi warna gelap. Fungsi
koroid: memberi nutrisi ke retina dan badan kaca, dan mencegah refleksi internal cahaya.
2. Badan Siliar
Badan siliar menghubungkan koroid dengan iris. Tersusun dalam lipatan-lipatan yang
berjalan radier ke dalam, menyusun prosesus siliaris yang mengelilingi tepi lensa. Prosesus ini
banyak mengandung pembuluh darah dan saraf. Badan siliaris ini berfungsi untuk menghasilkan
aquous humour.
3. Iris
Iris terdiri dari otot polos yang tersusun sirkuler dan radier. Otot sirkuler bila kontraksi
akan mengecilkan pupil, dirangsang oleh cahaya sehingga melindungi retina terhadap cahaya
yang sangat kuat. Otot radier dari tepi pupil, bila kontraksi menyebabkan dilatasi pupil. Bila
cahaya lemah, otot radier akan kontraksi, shg pupil dilatasi utk memasukkan cahaya lebih
banyak. Fungsi iris: mengatur jml cahaya yang masuk ke mata dan dikendalikan oleh saraf
otonom.
4. Pupil
Merupakanruangterbuka yang bulatpada iris yang harusdilaluicahayauntukdapatmasukke
anterior mata.Ukuran pupil dapatberubahecararefleksi yang dikendalikanotot-ototmelingkarpada
iris.

1.2 Sistem Lakrimal


Sistem sekresi air mata atau lakrimal terletak di daerah temporal bola mata. Sistem
ekskresi mulai pada pungtum lakrimal, kanalikuli lakrimal, sakus lakrimal, duktus nasolakrimal,
meatus inferior.Sistem lakrimal terdiri atas 2 bagian, yaitu :
1. Sistem produksi atau glandula lakrimal. Glandula lakrimal terletak di temporo antero
superior rongga orbita.
2. Sistem ekskresi, yang terdiri atas pungtum lakrimal, kanalikuli lakrimal, sakus lakrimal dan
duktus nasolakrimal. Sakus lakrimal terletak dibagian depan rongga orbita. Air mata dari duktus
lakrimal akan mengalir ke dalam rongga hidung di dalam meatus inferior.
Film air mata sangat berguna untuk kesehatan mata. Air mata akan masuk ke dalam sakus
lakrimal melalui pungtum lakrimal. Bila pungtum lakrimal tidak menyinggung bola mata, maka
air mata akan keluar melalui margopalpebra yang disebut epifora. Epifora juga akan terjadi
akibat pengeluaran air mata yang berlebihan dari kelenjar lakrimal Untuk melihat adanya
sumbatan pada duktus nasolakrimal, maka sebaiknya dilakukan penekanan pada sakus lakrimal.
Bila terdapat penyumbatan yang disertai dakriosistitis, maka cairan berlendir kental akan keluar
melalui pungtum lakrimal.

1.3 Otot Mata


Gerakanmatadikontrololehenamototokuler yang dipersarafiolehsarafkranial III, IV, dan
VI.
Merupakanototekstrinsikmataterdiridari 7 buahotot, 6
buahototdiantaranyamelekatdenganoskavumorbitalis, 1 buahmengangkatkelopakmatakeatas.
1. Muskuluslevatorpalpebralis superior inferior, fungsinyamengangkatkelopakmata.
2. Muskulusorbikularisokuliototlingkarmata, fungsinyauntukmenutupmata
3. Muskulusrektusokuli inferior ( ototsekitarmata ) fungsinyauntukmenutup
mata.
3 Muskulusrektusokuli medial (ototsekitarmata) fungsinyamenggerakkan
matadalam ( bola mata)
4 Muskulusobliquesokuli inferior, fungsinyamenggerakkan bola matakebawahdankedalam.
5 Muskulusobliquesokuli superior, fungsinyamemutarmatakeatas, kebawahdankeluar.
Muskulusrektusokuliberorigopadaanulustendineuskomunis, yang
merupakansarungfibrosus yang menyelubunginervusoptikus.Strabismus (juling)
disebabkantidakseimbangnyaatauparalisakelumpuhanfungsidarisalahsatuototmata.
Otot Mata danPergerakannyasertaInervasinya.

No Otot mata Gerakan Inervasi


M. Rectus N. III
1 Elevasi (+ Abduksi)
Superior (nervus Oculomotorius)
M. Rectus N. III
2 Depresi (+ Abduksi)
Inferior (nervus Oculomotorius)
M. Rectus N. VI
3 Abduksi
Lateralis (nervus Abducens)
M. Rectus N. III
4 Adduksi
Medialis (nervus Oculomotorius)
M.Obliquus Rotasi medial (adduksi + N. IV
5
Superior depresi) (nervus Throchlearis)
M.Obliquus Rotasi lateral (adduksi + N. III
6
Inferior elevasi) (nervus Oculomotorius)

1.4 Suplai Darah


Proses pengalirandarah di matatidakjauhberbedadengan proses pada organ
tubuhlainnyahanyasajasedikitlebihberbedaperpaduanantaraarteridan vena.
Arteri oftalmika dan arteri retinalis menyalurkan darah ke mata kiri dan mata kanan,
sedangkan darah dari mata dibawa oleh vena oftalmika dan vena retinalis. Pembuluh darah ini
masuk dan keluar melalui mata bagian belakang.

1.5 Bola Mata


Bola mata terdiri atas :
a) Dinding bola mata
b) Isi bola mata.

Dinding bola mata terdiri atas :


a) Sclera
b) Kornea .
Isi bola mata terdiri atas uvea, retina, badan kaca dan lensa.
Bola mata berbentuk bulat dengan panjang maksimal 24 mm. Bola mata di bagian depan
(kornea) mempunyai kelengkungan yang lebih tajam sehingga terdapat bentuk dengan 2
kelengkungan yang berbeda.Bola mata dibungkus oleh 3 lapis jaringan, yaitu :
a) Sklera merupakan bagian terluar yang melindungi bola mata.
b) Jaringan uvea merupakan jaringan vaskular. Jaringan sklera dan uvea dibatasi oleh ruang
yang potensial mudah dimasuki darah bila terjadi perdarahan pada ruda paksa yang disebut
perdarahan suprakoroid.
Jaringan uvea ini terdiri atas iris, badan siliar, dan koroid. Pada iris didapatkan pupil yang
oleh 3 susunan otot dapat mengatur jumlah sinar masuk ke dalam bola mata. Otot dilatator
dipersarafi oleh parasimpatis, sedang sfingter iris dan otot siliar di persarafi oleh parasimpatis.
Otot siliar yang terletak di badan siliar mengatur bentuk lensa untuk kebutuhan akomodasi.
Badan siliar yang terletak di belakang iris menghasilkan cairan bilik mata (akuos humor),
yang dikeluarkan melalui trabekulum yang terletak pada pangkal iris di batas kornea dan sklera.
c) Lapis ketiga bola mata adalah retina yang terletak paling dalam dan mempunyai susunan
lapis sebanyak 10 lapis yang merupakan lapis membran neurosensoris yang akan merubah sinar
menjadi rangsangan pada saraf optik dan diteruskan ke otak. Terdapat rongga yang potensial
antara retina dan koroid sehingga retina dapat terlepas dari koroid yang disebut ablasi
retina.Badan kaca mengisi rongga di dalam bola mata dan bersifat gelatin yang hanya menempel
pupil saraf optik, makula dan pars plans. Bila terdapat jaringan ikat di dalam badan kaca disertai
dengan tarikan pada retina, maka akan robek dan terjadi ablasi retina. Lensa terletak di belakang
pupil yang dipegang di daerah ekuatornya pada badan siliar melalui Zonula Zinn. Lensa mata
mempunyai peranan pada akomodasi atau melihat dekat sehingga sinar dapat difokuskan di
daerah makula lutea.

2.4 PENGKAJIAN OPTALMIK


Perawat menggunakan pendekatan sistematis, dari luar ke dalam. Struktur eksternal mata
dan bola mata diperiksa terlebih dahulu, kemudian diperiksa struktur internal. Teknik yang
dipergunakan adalah inspeksi dan palpasi. Inspeksi dilakuakn dengan instrument oftalmik khusus
dan sumber cahaya. Palpasi dilakukan untuk mengkaji nyeri tekan mata, deformitas dan untuk
mengeluarkan cairan dari puncta, serta mendeteksi secara kasar tingkat tekanan intra okuler.
a) Postur dan gambaran klien, catat kombinasi pakaian yang tidak lazim, yang mungkin
mengindikasikan colou vision defect. Demikian juga karakteristik postur yang menarik perhatian
seperti mendongakan kepala yang dapat merupakan tanda sikap kompensasi untuk memperoleh
pandangan yang jelas. Sebagai contoh, klien dengan double vision dapat mengangkat kepalanya
ke satu sisi sebagai usaha untuk memfokuskan pandanagn menjadi satu ( Vaughan, 1999 ).
b) Kesimetrisan mata, observasi kesimetrisan mata kanan dan kiri. Kaji kesimetrisan wajah
klien untuk melihat apakah kedua mata terletak pada jarak yang sama. Kaji letak mata pada orbit.
Periksa apakh salah satu mata lebih besar atau menonjol ke depan.
c) Alis dan kelopak mata, aobservasi kuantitas dan penyebaran bulu alis. Inspeksi kelopak
mata, anjurkan pasien melihat ke depan, bansingkan mata kiri dan kanan, anjurka pasien
menutup kedua mata, amati bentuk dan keadaan kulit dari kedua kelopak mata, serta pinggiran
kelopak mata, catat jika ada kelainan ( kemerahan ). Perhatikan keluasan mata dalam membuka,
catat adanya droping kelopak mata atas atau sewaktu membuka ( ptosis ).
d) Bulu mata, periksa bulu mata untuk posisi dan distribusinya. Selain berfungsi sebagai
pelindung, juga dapat menjadi iritan bagi mata bila menjadi panjang dan salah arah. Dan hal ini
dapat mengakibatkan iritan pada kornea. Orang yang emnderita depigmentasi abnormal,
albinisme, infeksi kronik, dan penyakit autoimun, bulu mata akan memutih atau poliosis
( Vaughan, 1999 ).
e) Kelenjar lakrimalis, observasi bagian kelenjar lakrimal dengan cara meretraksi kelopak
mata atas dan menyuruh klien untuk melihat ke bawah. Kaji adanya edema pada kelenjar
lakrimal, perawat dapat emnekan sakus lakrimalis dekat pangkal hidung untuk memeriksa
adanya obstruksi duktus nasolakrimalis, jika di dalamnya terdapat peradangan akan keluar cairan
pungtum lakrimalis. Punktum lakrimalis dapat diobservasi dengan cara menarik kelopak mata
bawah secara halus melalui pipi. ( Potter, 2006 ).
f) Konjungtiva dan sclera, sclera dan konjungtiva bulbaris diinspeksi secara bersama. Jika
pada konjungtiva palpebra klien dicurigai kelainan, palpebra atas and bawah harus dibalik.
Palpebra bawah dibalik denagn cara menarik batas atas kea rah pipi sambil klien dianjurkan
untuk melihat ke atas. ( Brunner, 2002 ). Amati keadaan konjungtiva, kantong konjungtiva
bagian bawah, catat bila ada pus atau warna tidak normal seperti anemis. Kaji warna sclera, pada
keadaan normal berwarna putih. Warna kekuning kuningan dapat mengindikasikan
jaundis/ikterik atau masalah sistemik.
g) Kornea, observasi dengan cara memberikan sinar secara serong dari beberapa sudut. Korne
seharusnya transparan, halus, jernih dan bersinar. Observasi adanya kekeruhan yang mungkin
adalah infiltrate atau sikatrik akibat trauma atau cedera. Cikatrik kornea dapat berupa nebula
( bercak seperti awan yang hanya dapat dilihat di kamar gelap dengan cahaya buatan ). Macula
( bercak putih yang dapat dilihat di kamar terang ) dan leukoma ( bercak putih seperti porselen
yang dapat dilihat dari jarak jauh). Jika klien sadar juga dapat dilakukan reflek berkedip.
h) Pupil, amati warna iris ukuran dan bentuk pupil yang bulat dan teratur. Pupil yang tidak
bulat dan teratur akibat perlengketan iris dengan lensa/kornea (sinekkia). Lanjutkan pengkajian
terhadap reflek cahaya. Pupil yang normal akan berkontriksi secara reguler dan konsentris,efek
tidak langsung,pupil mengecil pada penyinaran mata disebelahnya. Reaksi yang lambat atau
tidak adanya reaksi dapat terjadi pada kasus peningkatan tekanan intrakranial (bentuk normal:
isokor, pupil yang mengecil (<2mm) disebut miosis, amat kecil disebut : pinpoint, sedangkan
yang melebar (>5mm)disebutmidriasis).Nyatakan besarnya pupil dalam mm ( normalnya 2-
5mm). Pemeriksaan pupil normal biasanya didokumentasikan dan disingkat PERRLA : Pupil
Equal Round and Reaktif to Light and Accomodation (pupil seimbang, bulat, dan bereaksi
terhadap cahaya dan akomodasi).

2.5 ANATOMI FISIOLOGI TELINGA


Anatomi sistem pendengaran merupakan organ pendengaran dan keseimbangan.Terdiri
dari telinga luar, tengah dan dalam. Telinga manusia menerima dan mentransmisikan gelombang
bunyi ke otak dimana bunyi tersebut akan di analisa dan di intrepretasikan. Cara paling mudah
untuk menggambarkan fungsi dari telinga adalah dengan menggambarkan cara bunyi dibawa
dari permulaan sampai akhir dari setiap bagian-bagian telinga yang berbeda.
1.1 Anatomi telinga luar
Telingaluarterdiri dari aurikula (atau pinna) dan kanalis auditorius eksternus, dipisahkan
dari telinga tengan oleh struktur seperti cakram yang dinamakan membrana timpani (gendang
telinga). Telinga terletak pada kedua sisi kepala kurang lebih setinggi mata. Aurikulus melekat ke
sisi kepala oleh kulit dan tersusun terutama oleh kartilago, kecuali lemak dan jaringan bawah
kulit pada lobus telinga. Aurikulus membantu pengumpulan gelombang suara dan perjalanannya
sepanjang kanalis auditorius eksternus. Tepat di depan meatus auditorius eksternus adalah sendi
temporal mandibular. Kaput mandibula dapat dirasakan dengan meletakkan ujung jari di meatus
auditorius eksternus ketika membuka dan menutup mulut. Kanalis auditorius eksternus
panjangnya sekitar 2,5 sentimeter. Sepertiga lateral mempunyai kerangka kartilago dan fibrosa
padat di mana kulit terlekat. Dua pertiga medial tersusun atas tulang yang dilapisi kulit tipis.
Kanalis auditorius eksternus berakhir pada membrana timpani. Kulit dalam kanal mengandung
kelenjar khusus, glandula seruminosa, yang mensekresi substansi seperti lilin yang disebut
serumen. Mekanisme pembersihan diri telinga mendorong sel kulit tua dan serumen ke bagian
luar tetinga. Serumen nampaknya mempunyai sifat antibakteri dan memberikan perlindungan
bagi kulit.

1.2 Anatomi Telinga Tengah


Telinga tengah tersusun atas membran timpani (gendang telinga) di sebelah lateral dan
kapsul otik di sebelah medial celah telinga tengah terletak di antara kedua Membrana timpani
terletak pada akhiran kanalis aurius eksternus dan menandai batas lateral telinga, Membran ini
sekitar 1 cm dan selaput tipis normalnya berwarna kelabu mutiara dan translulen.Telinga tengah
merupakan rongga berisi udara merupakan rumah bagi osikuli (tulang telinga tengah)
dihubungkan dengan tuba eustachii ke nasofaring berhubungan dengan beberapa sel berisi udara
di bagian mastoid tulang temporal.
Telinga tengah mengandung tulang terkecil (osikuli) yaitu malleus, inkus stapes. Osikuli
dipertahankan pada tempatnya oleh sendian, otot, dan ligamen, yang membantu hantaran suara.
Ada dua jendela kecil (jendela oval dan dinding medial telinga tengah, yang memisahkan telinga
tengah dengan telinga dalam. Bagian dataran kaki menjejak pada jendela oval, di mana suara
dihantar telinga tengah. Jendela bulat memberikan jalan ke getaran suara. Jendela bulat ditutupi
oleh membrana sangat tipis, dan dataran kaki stapes ditahan oleh yang agak tipis, atau struktur
berbentuk cincin. anulus jendela bulat maupun jendela oval mudah mengalami robekan. Bila ini
terjadi, cairan dari dalam dapat mengalami kebocoran ke telinga tengah kondisi ini dinamakan
fistula perilimfe.
Tuba eustachii yang lebarnya sekitar 1mm panjangnya sekitar 35 mm, menghubngkan
telingah ke nasofaring. Normalnya, tuba eustachii tertutup, namun dapat terbuka akibat kontraksi
otot palatum ketika melakukan manuver Valsalva atau menguap atau menelan. Tuba berfungsi
sebagai drainase untuk sekresi dan menyeimbangkan tekanan dalam telinga tengah dengan
tekanan atmosfer.

1.3 Anatomi Telinga Dalam


Telinga dalam tertanam jauh di dalam bagian tulang temporal. Organ untuk pendengaran
(koklea) dan keseimbangan (kanalis semisirkularis), begitu juga kranial VII (nervus fasialis) dan
VIII (nervus koklea vestibularis) semuanya merupakan bagian dari komplek anatomi. Koklea
dan kanalis semisirkularis bersama menyusun tulang labirint.
.Koklea berbentuk seperti rumah siput dengan panjang sekitar 3,5 cm dengan dua
setengah lingkaran spiral dan mengandung organ akhir untuk pendengaran, dinamakan organ
Corti. Di dalam lulang labirin, namun tidak sem-purna mengisinya,Labirin membranosa
terendam dalam cairan yang dinamakan perilimfe, yang berhubungan langsung dengan cairan
serebrospinal dalam otak melalui aquaduktus koklearis. Labirin membranosa tersusun atas
utrikulus, akulus, dan kanalis semisirkularis, duktus koklearis, dan organan Corti. Labirin
membranosa memegang cairan yang dinamakan endolimfe. Terdapat keseimbangan yang
sangat tepat antara perilimfe dan endolimfe dalam telinga dalam; banyak kelainan telinga dalam
terjadi bila keseimbangan ini terganggu.
Percepatan angular menyebabkan gerakan dalam cairan telinga dalam di dalam kanalis
dan merang-sang sel-sel rambut labirin membranosa. Akibatnya terjadi aktivitas elektris yang
berjalan sepanjang cabang vesti-bular nervus kranialis VIII ke otak. Perubahan posisi kepala dan
percepatan linear merangsang sel-sel rambut utrikulus. Ini juga mengakibatkan aktivitas elektris
yang akan dihantarkan ke otak oleh nervus kranialis VIII. Di dalam kanalis auditorius internus,
nervus koklearis (akus-dk), yang muncul dari koklea, bergabung dengan nervus vestibularis,
yang muncul dari kanalis semisirkularis, utrikulus, dan sakulus, menjadi nervus koklearis (nervus
kranialis VIII). Yang bergabung dengan nervus ini di dalam kanalis auditorius internus adalah
nervus fasialis (nervus kranialis VII). Kanalis auditorius internus mem-bawa nervus tersebut dan
asupan darah ke batang otak

1.4 Keseimbangan dan Pusing


1. Keseimbangan
Kelainan sistem keseimbangan dan vestibuler mengenai lebih dari 30juta orang Amerika
yang berusia 17 tahun ke atas dan mengakibatkan lebih dari 100.000 patah tulang panggul pada
populasi lansia setiap tahun.
Keseimbangan badan dipertahankan oleh kerja sama otot dan sendi tubuh (sistem proprioseptif),
mata (sistem visual), dan labirin (sistem vestibuler). Ketiganya membawa informasi mengenai
keseimbangan, ke otak (sistem serebelar) untuk koordinasi dan persepsi korteks serebelar. Otak,
tentu saja, mendapatkan asupan darah dari jantung dan sistem arteri. Satu gangguan pada salah
satu dari daerah ini seperti arteriosklerosis atau gangguan penglihatan, dapat mengakibatkan
gangguan keseimbangan.Aparatus vestibularis telinga tengah memberi unipan balik mengenai
gerakan dan posisi kepala, mengkoordinasikan semua otot tubuh, dan posisi mata selama gerakan
cepat gerakan kepala.

2. Pusing
Pusingsering digunakan pada pasien dan pemberi perawatan kesehatan untuk menggambarkan
stiap gangguan sensasi orientasi ruang, namun tidak spesifik dan tidak bisa menggambarkan
dengan jelas. Karena gangguan keseimbangan adalah sesuatu yang hanya bisa dirasakan oleh
pasien, penting untuk menentukan apa gejala yang sebenrnya dirasakan oleh pasien.
1.5 Prinsip Fisiologi yang Mendasari Konduksi bunyi
Bunyi memasuki telinga melalui kanalis auditorius ekternus dan menyebabkan membrana
timpani bergetar Getaran menghantarkan suara, dalam bentukm energi mekanis, melalui gerakan
pengungkit osikulus oval. Energi mekanis ini kemudian dihantarkan cairan telinga dalam ke
koklea, di mana akani menjadi energi elektris. Energi elektris ini berjalan melalui nervus
vestibulokoklearis ke nervus sentral, di mana akan dianalisis dan diterjemahkan dalam bentuk
akhir sebagai suara.
Selama proses penghantaran,gelombang suara menghadapi masa yang jauh lebih kecil,
dari aurikulus yang berukuran sampai jendela oval yang sangat kecil, yang meng batkan
peningkatan amplitudo bunyi.

1.6 Kehilangan Pendengaran


Ada dua jenis kehilangan pendengaran :
1. Kehilangan konduktif
Biasanya terjadi akibat kelainan telinga luar, seperti infeksi serumen, atau kelainan
telinga tengah, seperti otitis media atau otosklerosis. Pada keadaan seperti itu, hantaran suara
efisien suara melalui udara ke telinga dalam terputus.
2. Kehilangansensoris
Melibatkan kerusakan koklea atau saraf vestibulokoklear. Selain kehilangan konduktsi
dan sensori neural, dapat juga terjadi kehilangan pendengaran campuran begitu juga kehilangan
pendengaran fungsional. Pasien dengan kehilangan suara campuran mengalami kehilangan baik
konduktif maupun sensori neural akibat disfungsi konduksi udara maupun konduksi tulang.
Kehilangan suara fungsional (atau psikogenik) bersifat inorganik dan tidak berhubungan
dengan perubahan struktural mekanisme pendengaran yang dapat dideteksi biasanya sebagai
manifestasi gangguan emosional.

2.6 PENGKAJIAN KEMAMPUAN MENDENGAR


a.) Pemeriksaan Telinga.
Telinga luar diperiksa dengan inspeksi dan palpasi lang-sung sementara membrana
timpani diinspeksi, seperti telinga tengah dengan otoskop dan palpasi tak langsung dengan
menggunakan otoskop pneumatic
1. Pengkajian Fisik.
Inspeksi telinga luar merupakan prosedur yang paling sederhana tapi sering terlewat. Aurikulus
dan jaringan sekitarnya diinspeksi adanya :
1. deformitas, lesi,
2. cairan begitu pula ukuran,
3. simetris dan sudut penempelan ke kepala.
Gerakan aurikulus normalnya tak menimbulkan nyeri. Bila manuver ini terasa nyeri,
harus dicurigai adanya otitis eksterna akut. Nyeri tekan pada saat palpasi di daerah mastoid dapat
menunjukkan mastoiditis akut atau inflamasi nodus auri-kula posterior. Terkadang, kista
sebaseus dan tofus (de-posit mineral subkutan) terdapat pada pinna. Kulit bersisik pada atau di
belakang aurikulus biasanya menunjukkan adanya dermatitis sebore dan dapat terdapat pula di
kulit kepala dan struktur wajah.
Untuk memeriksa kanalis auditorius eksternus dan membrana timpani, kepala pasien
sedikit dijauhkan dari pemeriksa.
1. Otoskop dipegang dengan satu tangan sementara aurikulus dipegang dengan tangan lainnya
dengan mantap dan ditarik ke atas, ke belakang dan sedikit ke luar Cara ini akan membuat lurus
kanal pada orang dewasa, sehingga memungkinkan pemeriksa melihat lebih jelas membrana
timpani.
2. Spekulum dimasukkan dengan lembut dan perlahan ke kanalis telinga, dan mata didekatkan ke
lensa pembesar otoskop untuk melihat kanalis dan membrana timpani. Spekulum terbesar yang
dapat dimasukkan ke telinga (biasanya 5 mm pada orang dewasa) dipandu dengan lembut ke
bawah ke kanal dan agak ke depan. Karena bagian distal kanalis adalah tulang dan ditutupi
selapis epitel yang sensitif, maka tekanan harus benar-benar ringan agar tidak menimbulkan
nyeri.
3. Setiap adanya cairan, inflamasi, atau benda asing; dalam kanalis auditorius eksternus dicatat.
4. Membrana, timpani sehat berwarna mutiara keabuanpada dasar kanalis. Penanda harus dttihat
mungkin pars tensa dan kerucut cahaya.umbo, manubrium mallei, dan prosesus brevis.
5. Gerakan memutar lambat spekulum memungkinkan penglihat lebih jauh pada Hpatan malleus
dan daerah perifer. dan warna membran begitu juga tanda yang tak biasa at! deviasi kerucut
cahaya dicatat. Adanya cairan, gele bung udara, atau masa di telinga tengah harus dicatat.
6. Pemeriksaan otoskop kanalis auditorius eksternus membrana timpani yang baik hanya dapat
dilakukan bi kanalis tidak terisi serumen yang besar. Serumen not nya terdapat di kanalis
eksternus, dan bila jumla sedikit tidak akan mengganggu pemeriksaan otoskop.
7. Bila serumen sangat lengket maka sedikit minyak mineral atau pelunak serumen dapat diteteskan
dalam kanalis telinga dan pasien diinstruksikan kembali lagi.

2. Ketajaman Auditorius.
Perkiraan umum pendengaran pasien dapat disaring secara efektif dengan mengkaji
kemampuan pasien mendengarkan
1.Bisikan kata atau detakan jam tangan.
2.Bisikan lembut dilakukan oleh pemeriksa, yang sebelumnya telah melakukan ekshalasi penuh.
Masing-masing telinga diperiksa bergantian. Agar telinga yang satunya tak mendengar,
3.Pemeriksa menutup telinga yang tak diperiksa dengan telapak tangan. Dari jarak 1 sampai 2
kaki dari telinga yang tak tertutup dan di luar batas penglihatan, pasien dengan ketajaman normal
dapat menirukan dengan tepat apa yang dibisikkan. Bila yang digunakan detak jam tangan,
pemeriksa memegang jam tangan sejauh 3 inci dari telinganya sendiri (dengan asumsi pemeriksa
mempunyai pendengaran normal) dan kemudian memegang jam tangan pada jarak yang sama
dari aurikulus pasien. Karena jam tangan menghasilkan suara dengan nada yang lebih tinggi
daripada suara bisikan, maka kurang dapat dipercaya dan tidak dapat dipakai sebagai satu-
satunya cara mengkaji ketajaman auditorius.

3. Penggunaan uji Weber dan Rinne


Memungkinkan kita membedakan kehilangan akibat konduktif dengan kehilangan
sensorineural
Uji Webermemanfaatkan konduksi tulang untuk menguji adanya lateralisasi suara.
Sebuah garpu tala dipegang erat pada gagangnya dan pukulkan pada lutut atau pergelangan
tangan pemeriksa. Kemudian diletakkan pada dahi atau gigi pasien. Pasien ditanya apakah suara
terdengar di tengah kepala, di telinga kanan atau telinga kiri. Individu dengan pendengaran
normal akan mendengar suara seimbang pada kedua telinga atau menjelaskan bahwa suara
terpusat di tengah kepala. Bila ada kehilangan pendengaran konduktif (otosklerosis, otitis
media), suara akan lebih jelas terdengar pada sisi yang sakit. Ini disebabkan karena obstruksi
akan menghambat ruang suara, sehingga akan terjadi peningkatan konduksi tulang. Bila terjadi
kehilangan sensorineural, suara akan meng-alami lateralisasi ke telinga yang pendengarannya
lebih baik. Uji Weber berguna untuk kasus kehilangan pendengaran unilateral.

2.8ANATOMI SISTEM PENCIUMAN (HIDUNG)


Hidung merupakan bagian yang paling menonjol pada wajah. Fungsinya sebagai jalan
napas, alat pengatur kondisi udara (air condition), penyaring & pembersih udara, indera pembau,
resonansi suara, membantu proses berbicara, dan refleksi nasal. Hidung juga merupakan tempat
bermuaranya sinus paranasalis dan saluran air mata. Perhatikan Gambarnya :
Struktur hidung luar terdiri atas 3 bagian, yaitu :
1. Kubah tulang. Letaknya paling atas dan bagian hidung yang tidak bisa digerakkan.
2. Kubah kartilago (tulang rawan). Letaknya dibawah kubah tulang dan bagian hidung yang bisa
sedikit digerakkan.
3. Lobulus hidung. Letaknya paling bawah dan bagian hidung yang paling mudah digerakkan.

Struktur penting dari anatomi hidung :


1. Dorsum nasi (batang hidung) Struktur yang membangun dorsum nasi (batang hidung) :
a. Bagian kaudal dorsum nasi (batang hidung)
b. Bagian kranial dorsum nasi (batang hidung)

Bagian kaudal dorsum nasi (batang hidung) merupakan bagian lunak dari dorsum nasi
(batang hidung). Tersusun oleh kartilago lateralis dan kartilago alaris. Jaringan ikat yang keras
menghubungkan antara kulit dan perikondrium pada kartilago alaris. Bagian kranial dorsum nasi
(batang hidung) merupakan bagian keras dari dorsum nasi (batang hidung). Tersusun oleh os
nasalis dan ossis maksila prosesus fron talis.

2. Septum Nasi
Fungsi utama septum nasi adalah menopang dorsum nasi (batang hidung) dan membagi dua
kavum nasi (lubang hidung).
Struktur yang membangun septum nasi adalah 2 tulang dan 2 kartilago, yaitu :
1. Bagian anterior septum nasi
2. Bagian posterior septum nasi
Bagian anterior septum nasi tersusun oleh tulang rawan, yaitu kartilago quadrangularis,
cartilago alaris mayor crus medial, dan cartilago septi nasi. Bagian anterior septum nasi terdapat
plexus Kiesselbach. Bagian posterior septum nasi tersusun oleh os vomer dan os ethmoidalis
lamina perpendikularis . Kelainan septum nasi yang paling sering ditemukan adalah deviasi septi.

3. Kavum Nasi (Lubang Hidung)


Rongga / lubang hidung (cavum nasi / cavitas nasi) berbentuk terowongan dari depan ke
belakang. Rongga hidung dilapisi 2 jenis mukosa, yaitu mukosa olfaktori dan mukosa respiratori.
Rongga hidung tersusun oleh :
1. Nares anterior (nosetril). Nares anterior merupakan lubang depan rongga hidung (cavitas nasi).
2. Vestibulum nasi. Letaknya dibelakang nares anterior. Vestibulum nasi dilapisi oleh rambut dan
kelenjar sebasea.
3. Nares posterior (choanae). Nares posterior (choanae) merupakan lubang belakang rongga
hidung (cavitas nasi).P enghubung antara rongga hidung (cavitas nasi) dengan nasofaring.

2.9. FISIOLOGI PENCIUMAN


Indera penciuman mendeteksi zat yang melepaskan molekul-molekul di udara. Di atap
rongga hidung terdapat olfactory epithelium yang sangat sensitif terhadap molekul-molekul bau,
karena pada bagian ini ada bagian pendeteksi bau(smell receptors). Receptor ini jumlahnya
sangat banyak ada sekitar 10 juta. Ketika partikel bau tertangkap oleh receptor, sinyal akan di
kirim ke the olfactory bulb melalui saraf olfactory. Bagian inilah yang mengirim sinyal ke otak
dan kemudian di proses oleh otak bau apakah yang telah tercium oleh hidung kita.

2.10 ANATOMI SISTEM PERABA (KULIT)


Kulit merupakan organ tubuh paling luar. Luas kulit orang dewasa 1,5 m2 dengan berat
15% berat badan. Kulit yang elastic dan longgar terdapat pada palpebra, bibir dan preputium, ulit
yang tebal dan tegang terdapat di telapak kaki dan telapak tangan dewasa. Kulit yang tipis
terdapat pada muka, kulit yang lembut terdapat pada leher dan badan, dan kulit yang berambut
kasar terdapat pada kepala. Perhatikan Gambarnya :
Kulit adalah alat indera kita yang mampu menerima rangsangan temperatur suhu,
sentuhan, rasa sakit, tekanan, tekstur, dan lain sebagainya. Pada kulit terdapat reseptor yang
merupakan percabangan dendrit dari neuron sensorik yang banyak terdapat di sekitar ujung jari,
ujung lidah, dahi, dan lain-lain. Lapisan kulit manusia terdapat beberapa lapisan, yaitu:

a. Epidermis
Epidermis merupakan lapisan terluar dari kulit, yang memiliki struktur tipis dengan ketebalan
sekitar 0,07 mm terdiri atas beberapa lapisan, yaitu :
a) Stratum korneum yang disebut juga lapisan zat tanduk
b) Stratum lusidum, yang berfungsi melakukan pengecatan terhadap kulit dan rambut
c) Stratum granulosum, yang menghasilkan pigmen warna kulit, yang disebut melamin
d) Stratum germinativum, sering dikatakan sebagai sel hidup karena lapisan ini merupakan
lapisan yang aktif membelah.

b. Dermis
Jaringan dermis memiliki struktur yang lebih rumit daripada epidermis, yang terdiri atas
banyak lapisan. Jaringan ini lebih tebal daripada epidermis yaitu sekitar 2,5 mm. Dermis
dibentuk oleh serabut-serabut khusus yang membuatnya lentur, yang terdiri atas kolagen, yaitu
suatu jenis protein yang membentuk sekitar 30% dari protein tubuh. Kolagen akan berangsur-
angsur berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Itulah sebabnya seorang yang sudah tua
tekstur kulitnya kasar dan keriput. Lapisan dermis terletak di bawah lapisan epidermis. Lapisan
dermis terdiri atas beberapa bagian, yaitu
a) Akar Rambut
b) Pembuluh Darah
c) Kelenjar Minyak (glandula sebasea)
d) Kelenjar Keringat (glandula sudorifera), dan
e) Serabut Saraf
Pada lapisan dermis kulit terdapat puting peraba yang merupakan ujung akhir saraf
sensoris. Ujung-ujung saraf tersebut merupakan indera perasa panas, dingin, nyeri, dan
sebagainya. Oleh karena itu kulit merupakan organ terluas dimana pada organ ini terdapat
reseptor panas (ruffini), tekanan (paccini), dingin (krause), rasa nyeri atau sakit (ujung saraf
bebas), serta reseptor sentuhan (meissner).

2.11 FISIOLOGI PERABA


Fungsi kulit secara umum :
1. Sebagai proteksi.
a) Masuknya benda- benda dari luar(benda asing ,invasi bacteri.
b) Melindungi dari trauma yang terus menerus.
c) Mencegah keluarnya cairan yang berlebihan dari tubuh.
d) Menyerap berbagai senyawa lipid vit. Adan D yang larut lemak.
e) Memproduksi melanin mencegah kerusakan kulit dari sinar UV.
2. Pengontrol/pengatur suhu.
a) Vasokonstriksi pada suhu dingn dan dilatasi pada kondisi panas peredaran darah meningkat
terjadi penguapan keringat.
3. Proses Hilangnya Panas Dari Tubuh:
a) Radiasi: pemindahan panas ke benda lain yang suhunya lebih rendah.
b) Konduksi : pemindahan panas dari ubuh ke benda lain yang lebih dingin yang bersentuhan
dengan tubuh.
c) Evaporasi : membentuk hilangnya panas lewat konduksi.
d) Kecepatan hilangnya panas dipengaruhi oleh suhu permukaan kulit yang ditentukan oleh
peredaran darah kekulit.(total aliran darah N: 450 ml / menit.)
4. Sensibilitas
a) Mengindera suhu, rasa nyeri, sentuhan dan rabaaan.

5. Keseimbangan Air
a) Sratum korneum dapat menyerap air sehingga mencegah kehilangan air serta elektrolit yang
berlebihan dari bagian internal tubuh dan mempertahankan kelembaban dalam jaringan subcutan.
b) Air mengalami evaporasi (respirasi tidak kasat mata)+ 600 ml / hari untuk dewasa.

2.12 SENSASI SUHU


Tingkatan suhu dibedakan oleh tiga jenis organ akhir sensories, diantaranya reseftor
dingin, reseftor hangat dan dua subtife reseftor nyeri yaitu reseftor nyeri dingin dan reseftor nyeri
panas. Dua jenis reseftor nyeri hanya dirangsang oleh panas atau dingin dalam derajat yang
ekstrim sebingga bertanggung jawab bersama dengan reseftor dingin dan hangat untuk sensasi
dingin yang membekukan atau panas yang membakar.
a) Perangsang Reseftor Suhu
Sensasi Dingin, Sejuk, Indeferen Hangat danPanas. Respon empat jenis serabut saraf, yaitu :
serat nyeri dingin, serat dingin, serat hangat dan serat nyeri panas. Pada daerah sangat dingn
hanya serabut nyeri dingin yang terangsang. Pada suhu di atas 10 sampai 15oC impuls nyeri
berhenti, tetapi reseptor dingin mulai terangsang. Kemudian kira-kira 30oC, reseftor hangat
menjadi terangsang progresif sedangkan reseftor dingin mereda pada kira-kira 43oC. Akhirnya
sekitar 45oC serabut nyeri panas juga mulai terangsang.

Oleh karena itu dapat dipahami bahwa orang menerima suhu dari sensasi suhu oleh tingkat
perangsang relatif dari berbagai jenis ujung saraf tersebut. Dapat dipahami mengapa dingin atau
panas yang luar biasa dapat menyakitkan dan mengapa kedua sensasi ini bila cukup kuat dapat
memberikan kualitas sensasi yang hampir tepat sama, yaitu sensasi dingin membekukan dan
panas yang membakar terasa hampir sama.

b) Efek Perangsang dengan Menaikan dan Menurunkan Suhu


Bila suatu reseftor suhu mengalami perubahan suhu yang tiba-tiba, mula-mula ia
merangsang dengan kuat tetapi perangsangan ini menghilangkan dengan cepat selama semenit
pertama dan secara progresif lebih lambat selama setengah jam atau lebih berikutnya. Dengan
perkataan lain, reseftor tersebut sebagian besar bradaptasi tetapi tidak seluruhnya.
Jadi jelaslah bahwa perubahan suhu bereaksi menyolot terhadap perubahan suhu
disamping dapat bereaksi dengan perubahan suhu yang stabil. Ini berarti abhwa jika suhu kulit
turun secara aktif, orang merasa jauh lebih dingin dari pada bila suhu tersebut tetap pada tingkat
yang sama. Sebaliknay jika suhu meningkat secara aktif orang tersebut merasa jauh lebih hangat
dari pada yang akan dirasakannya pada suhu yang sama seandainya ia konstan.

c) Mekanisme Perangsang Reseftor Suhu


Diduga reseftor suhu terangsang oleh perubahan kecepatan metabolik mereka, perubahan
ini disebabkan oleh fakta bahwa suhu mengubah kecepatan reaksi kimia intra sel kira-kira 2 kali
untuk tiap perubahan 10oC, dengan perkataan lain deteksi suhu mungkin tidak disebabkan oleh
perangsangan fisik langsung tetapi oleh perangsangan kimia dari ujung saraf tersebut karena di
ubah oleh suhu.

d) Penjumlahan Ruangan dari Sensasi Suhu


Jumlah ujung dingin atau hangat dalam tiap sedikit daerah permukaan tubuh sangat kecil,
sehingga sulit untuk menilai gradsi suhu bila daerah kecil dirangsang. Tetapi bila daerah tubuh
yang luas dirangsang, isyarat suhu dari seluruh daerah tersebut dijumlahkan. Sesungguhnya
orang mencapai kemampuan maksimumnya untuk membedakan varian suhu yang kecil bila
seluruh tubuhnya mengalami perubahan suhu tersebut secara serentak. Misalnya perubahan suhu
yang cepat kecil 0,01oC dapat di diteksi jika perubahan ini mempengaruhi seluruh permukaan
tubuh dengan serentak. Sebaliknya perubahan suhu yang yang besarnya 100 kali ini mungkin
tidak mendeteksi bila permukaan kulit yang dipengaruhi hanya berukuran kira-kira satu
sentimeter persegi.
a. Korpuskula Pacini : tekanan

Korpuskula Pacini (vater pacini) ditemukan di jaringan subkutan pada telapak tangan, telapak
kaki, jari, puting, periosteum, mesenterium, tendo, ligamen dan genetalia eksterna. Bentuknya
bundar atau lonjong, dan besar (panjang 2 mm, dan diameter 0,5 1 mm). Bentuk yang paling
besar dapat dilihat dengan mata telanjang, karena bentuknya mirip bawang.

Setiap korpuskulus disuplai oleh sebuah serat bermielin yang besar dan juga telah kehilangan
sarung sel schwannya pada tepi korpuskulus. Akson saraf banyak mengandung mitokondria.
Akson ini dikelilingi oleh 60 lamela yang tersusun rapat (terdiri dari sel gepeng). Sel gepeng ini
tersusun bilateral dengan dua alur longitudinal pada sisinya.

Korpuskulus ini berfungsi untuk menerima rangsangan tekanan yang dalam.

b.Korpuskula Ruffini : panas

Korpuskulus ini ditemukan pada jaringan ikat termasuk dermis dan kapsula sendi. Mempunyai
sebuah kapsula jaringan ikat tipis yang mengandung ujung akhir saraf yang menggelembung.
Korpuskulus ini merupakan mekanoreseptor, karena mirip dengan organ tendo golgi.

Korpuskulus ini terdiri dari berkas kecil serat tendo (fasikuli intrafusal) yang terbungkus dalam
kapsula berlamela. Akhir saraf tak bermielin yang bebas, bercabang disekitar berkas tendonya.
Korpuskulus ini terangsang oleh regangan atau kontraksi otot yang bersangkutan juga untuk
menerima rangsangan panas.

c. Korpuskula Krause : dingin

Korpuskulus gelembung (krause) ditemukan di daerah mukokutis (bibir dan genetalia eksterna),
pada dermis dan berhubungan dengan rambut. Korpuskel ini berbentuk bundar (sferis) dengan
diameter sekitar 50 mikron. Mempunyai sebuah kapsula tebal yang menyatu dengan
endoneurium. Di dalam korpuskulus, serat bermielin kehilangan mielin dan cabangnya tetapi
tetap diselubungi dengan sel schwann. Seratnya mungkin bercabang atau berjalan spiral dan
berakhir sebagai akhir saraf yang menggelembung sebagai gada. Korpuskel ini jumlahnya
semakin berkurang dengan bertambahnya usia.Korpuskel ini berguna sebagai mekanoreseptor
yang peka terhadap dingin.

d. Korpuskula Meissner : sentuhan

Korpuskulus peraba (Meissner) terletak pada papila dermis, khususnya pada ujung jari, bibir,
puting dan genetalia. Bentuknya silindris, sumbu panjangnya tagak lurus permukaan kulit dan
berukuran sekitar 80 mikron dan lebarnya sekitar 40 mikron. Sebuah kapsul jaringan ikat tipis
menyatu dengan perinerium saraf yang menyuplai setiap korpuskel. Pada bagian tengah
korpuskel terdapat setumpuk sel gepeng yang tersusun transversal. Beberapa sel saraf menyuplai
setiap korpuskel dan serat saraf ini mempunyai banyak cabang mulai dari yang mengandung
mielin maupun yang tak mangandung mielin. Korpuskulus ini peka terhadap sentuhan dan
memungkinkan diskriminasi/ pembedaan dua titik (mampu membedakan rangsang dua titik yang
letaknya berdekatan).

e. Korpuskula ujung saraf terbuka: rasa nyeri

Serat saraf sensorik aferen berakhir sebagai ujung akhir saraf bebas padabanyak jaringan tubuh
dan merupakan reseptor sensorik utama dalam kulit.Serat akhir saraf bebas ini merupakan serat
saraf yang tak bermielin, atau seratsaraf bermielin berdiameter kecil, yang semua telah
kehilangan pembungkusnya sebelum berakhir, dilanjutkan serat saraf terbuka yang berjalan di
antara sel epidermis. Sebuah serat saraf seringkali bercabang-cabang banyak dan mungkin
berjalan ke permukaan, sehingga hampir mencapai stratum korneum. Serat yang berbeda
mungkin menerima perasaan raba, nyeri dan suhu. Sehubungan dengan folikel rambut, banyak
cabang serat saraf yang berjalan longitudinal dan melingkari folikel rambut dalam dermis.
Beberapa saraf berhubungan dengan jaringan epitel khusus. Pada epidermisberhubungan dengan
sel folikel rambut dan mukosa oral, akhir sarafmembentuk badan akhir seperti lempengan
(diskus atau korpuskel merkel).Badan ini merupakan sel yang berwarna gelap dengan banyak
juluransitoplasma. Seperti mekanoreseptor badan ini mendeteksi pergerakan antarakeratinosit
dan kemungkinan juga gerakan epidermis sehubungan denganjaringan ikat di bawahnya. Telah
dibuktikan bahwa beberapa diskus merkelmerespon rangsangan getaran dan juga resepor
terhadap dingin

2.13 ANATOMI SISTEM PERASA (LIDAH)


Perhatikan Gambar berikut ini :

Lidah adalah kumpulan otot rangka pada bagian lantai mulut yang dapat membantu
pencernaan makanan dengan mengunyah dan menelan. Lidah dikenal sebagai indera pengecap
yang banyak memiliki struktur tunas pengecap. Lidah juga turut membantu dalam tindakan
bicara.Juga membantu membolak balik makanan dalam mulut.
Struktur lainnya yang berhubungan dengan lidah sering disebut lingual, dari bahasa Latin
lingua atau glossal dari bahasa Yunani.

Sebagian besar, lidah tersusun atas otot rangka yang terlekat pada tulang hyoideus, tulang rahang
bawah dan processus styloideus di tulang pelipis. Terdapat dua jenis otot pada lidah yaitu otot
ekstrinsik dan intrinsik.
Lidah memiliki permukaan yang kasar karena adanya tonjolan yang disebut papila.
Lidah

Lidah adalah kumpulan otot rangka pada bagian lantai mulut yang dapat membantu
pencernaan makanan dengan mengunyah dan menelan.Lidah berfungsi sebagai indera pengecap,
mengatur makanan di dalam mulut agar terkunyah dengan baik, membantu menelan makanan,
dan membantu mengucapkan kata-kata. Lidah sebagai indera pengecap, yaitu untuk merasakan
rangsangan rasa dari benda-benda yang masuk ke dalam mulut. Indera pengecap tersebut terletak
pada bagian permukaan atas yang terbagi menjadi beberapa daerah yang peka terhadap manis,
asam, asin dan pahit. Hal ini dikarenakan pada permukaan lidah terdapat saraf pengecap yang
berupa bintil-bintil yang menyebabkan permukaan lidah menjadi kasar. Bintil-bintil tersebut
disebut juga papilla yang terdiri dari banyak kuncup pengecap (taste bud).

Ujung organ untuk indera pengecap yang disebut taste buds (putting cita rasa) terdiri atas sel-sel
gustatory fusiform, tercampur dengan sel-sel sustakular yang terangkai dalam bentuk kelompok
yang menyerupai tong. Proses yang menyerupai rambut dari sel-sel gustatory ini menjulur
melalui pori pada bagian superficial dari putting cita rasa. Ujung serabut-serabut saraf berakhir di
sekitar sel-sel gustatory ini. Bagian lidah yaitu valet dan papilla fungiform mengandung banyak
sekali putting cita rasa meskipun putting itu terdapat juga pada palatum, farink, dan larink.
Sensasi cita rasa di bawa kearah dua per tiga bagian rostral lidah oleh cabang-cabang saraf fasial
korda timpani yang menyertai cabang lingual dari saraf trigeminus. Sebaliknya bagian lidah
yang sepertiga (arah kaudal = posterior) menerima cita rasa melalui cabang lingual dari saraf
(glosofarinkeal). Sensasi yang lain merupakan campuran dari cita rasa dasar, atau kombinasi
berbagai cita rasa dengan indera penciuman.
Pengecapan adalah sensasi yang dirasakan oleh kuncup kecap, yaitu reseptor yang
terutama terletak pada lidah (terdapat kurang lebih 10.000 kuncup kecap pada lidah manusia)
dan dalam jumlah yang lebih kecil pada polatum mole dan permukaan laringeal dari epiglottis.
Kuncup kecap terbenam dari epitel berlapis dari papilla sirkumvalata, papilla foliota, papilla
fungiformis. Bahan kimia masuk melalui pori pengecap, yaitu lubang kecil menuju ke sel-sel
reseptor. Indera perasa dimediasi oleh Taste Buds dalam rongga mulut. Taste Buds adalah organ
reseptor multiseluler yang mengandung 60-100 sel, dan terus-menerus diperbaharui oleh sel-sel
progenitor yang terletak di membran basal dan sepanjang tepi lateral tunas. Setelah divisi
terminal mereka, sel-sel pengecap yang sudah dewasa masuk ke tunas dan berdiferensiasi
menjadi salah satu dari empat jenis sel pengecap.
Kuncup kecap terdiri atas sekurang-kurangnya empat jenis sel, yang dapat dikenali
dengan mikroskop elektron. Sel tipe 1 dan sel tipe 2 panjang dengan mikrovili pada
permukaannya. Walaupun fungsinya belum diketahui, mereka dapat membantu aktivitas sel tipe
3. Sel tipe 3 juga merupakan sel tipe panjang dicirikan oleh terdapatnya banyak vesikel yang
menyerupai versikel sinaps. Tipe sel ke 4 adalah suatu sel basal pra-kembang yang mungkin
merupakan precursor dari sel-sel yang lebih spesifik dalam kuncup kecap. Tonjolan dendritik
dari saraf sensorik yang paling dekat dengan kumpulan vesikel sinaptik ini adalah dasar untuk
penempatan penerimaan pengecapan pada sel tipe 3.
Kuncup pengecap tersebut dapat mengecap rasa karena mempunyai kumpulan saraf
pengecap. Setiap kuncup pengecap hanya bisa mengenali satu rasa yang khas, yang terdiri dari 2
jenis sel, yaitu sel penyokong dan sel pengecap sebagai reseptor. Pada sel pengecap terdapat
silia(rambut gustatori) yang memanjang ke lubang pengecap (taste pores). Zat-zat makanan yang
terlarut dalam cairan ludah akan merangsang sel-sel ujung saraf melalui rambut gustatori
yangselanjutnya akan menimbulkan impuls yang akan diteruskan ke otak sehingga dapat
diinterpretasikan dengan berbagai rasa. Rasa yang dapat direspon oleh kuncup-kuncup
pengecap,yaitu manis, asam, asin dan pahit. Pada lidah reseptor yang sensitif terhadap rasa manis
terdapat pada ujung lidah, untuk rasa asam terdapat pada bagian samping lidah (kanan dan kiri),
untuk rasa pahit terdapat pangkal lidah dan bagian samping depan sensitif terhadap rasa asin.
Sel reseptor pengecap merupakan sel epitel yang termodifikasi menjadi bentuk yang
memiliki banyak lipatan permukaan atau mikrovili, dan sedikit menonjol melalui pori-pori
pengecap untuk meningkatkan luas permukaan sel yang terpajan dalam mulut. Membran plasma
mikrovili mengandung reseptor yang berikatan secara selektif dengan molekul zat kimia, karena
hanya zat padat yang terlarut dalam saliva atau cairan lain yang dapat berikatan dengan sel
reseptor.

Terdapat 4 jenis papilla, yaitu


Papilla filiformis, terdapat pada bagian posterior

Papilla fungiformis, pada bagian anterior

Papilla foliata, pada pangkal lidah bagian lateral

Papilla sirkumfalata, melintang pada pangkal lidah

2.14. FISIOLOGI LIDAH


1. Substansi yang dirasakan harus berbentuk cairan atau larut dalam saliva.
2. Kuncup pengecap bekerja sama dengan reseptor pada rambut pengecap.
Sensasi Rasa:
1.Kuncup pengecap yang sensitive terhadap rasa manis .terletak di ujung lidah.
2.Substansi asam dirasakan terutama di bagian samping lidah.
3.Substansi asin dapat dirasakan pada hampir seluruh area lidah, tetapi reseptornya terkumpul di
bagian samping lidah.
4. Substansi pahit akan menstimulasi kuncup pengecap di bagian belakang lidah.
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Secara struktral anatomis, bola mata berdiameter 2,5 cm dimana 5/6 bagiannya
terbenam dalam rongga mata, dan hanya 1/6 bagiannya saja yang tampak pada bagian luar.
Anatomi sistem pendengaran merupakan organ pendengaran dan keseimbangan.Terdiri
dari telinga luar, tengah dan dalam. Telinga manusia menerima dan mentransmisikan gelombang
bunyi ke otak dimana bunyi tersebut akan di analisa dan di intrepretasikan. Cara paling mudah
untuk menggambarkan fungsi dari telinga adalah dengan menggambarkan cara bunyi dibawa
dari permulaan sampai akhir dari setiap bagian-bagian telinga yang berbeda.

3.2. Saran
Adapun saran penulis kepada pembaca agar pembaca dapat mengetahui bahwa Anatomi
Fisiologi Sensori ( Anatomi Fisiologi Sistem Pengelihatan dan PEndengaran)sangat penting bagi
kehidupan kita dan agar pembaca.
Selain dari pada itu,penulis memohon maaf apabila terdapat kesalahan karena kami masih
dalam proses pembelajaran. Dan yang kami harapkan dengan adanya makalah ini,dapat menjadi
wacana yang membuka pola pikir pembaca dan memberi saran yang sifatnya tersirat maupun
tersurat.