Anda di halaman 1dari 11

RESPON MENGHINDAR PADA BURUNG GEREJA

(Passer montanus) TERHADAP PREDATOR


LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI HEWAN

Oleh :
Nama : Muhammad Dzaky Alfawwaz
NIM : 1147020044

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2016 M / 1437 H
I. Pendahuluan
A. Tujuan
Tujuan dari dilaksanakannya praktikum kali ini adalah :
1. Mahasiswa dapat mengetahui hubungan antara besarnya kelompok
burung terhadap reaksinya untuk terbang menghindari predator;
2. Mahasiswa dapat mengetahui prilaku makan burung gereja.
B. Latar Belakang
Interaksi adalah suatu hubungan antara satu species dengan species
yang lain. Salah satu jenis interaksi adalah predasi, yaitu suatu hubungan
makan dan dimakan antara satu organisme dengan organisme lain. Subjek
dari predasi adalah predator (pemangsa) dan prey (mangsa). Predator
memiliki suatu perilaku khusus dalam menjalankan interaksi tersebut
misalnya, pada elang akan terbang rendah saat akan mulai menerkam
mangsa, pada harimau yang akan mengendap-ngendap di semak.
Begitu pula prey memiliki kelakuan untuk mempertahankan diri
terhadap pemangsa dengan meningkatkan kewaspadaannya, misalnya pada
burung yang akan memberi peringatan dengan mengeluarkan suara, atau
dengan menggerakkan kepalanya kekanan dan kekiri. Perilaku tersebut
dalam ekologi dinamakan anti-predator, yaitu suatu bentuk kewaspadaan
dari prey terhadap gangguan yang ditimbulkan dari luar (predator). Salah
satu bentuk kewaspadaan terhadap gangguan (anti-predator) dapat dilihat
pada burung gereja (Passer montanus).
C. Dasar Teori
Hewan adalah organisme yang bersifat motil, artinya dapat berjalan
dari satu tempat ke tempat lain. Gerakannya disebabkan oleh rangsang-
rangsang tertentu yang datang dari lingkungannya. Jenis-jenis hewan
pada umumnya dapat tinggal di suatu lingkungan hidup yang sesuai
dengan ciri-ciri kehidupannya. Jika hewan berjalan atau berpindah ke
tempat lain tidak mengalami perubahan bentuk, kecuali perubahan sifat-
sifat fisiologisnya. Faktor-faktor yang merangsang gerakan hewan adalah
makanan, air, cahaya, suhu, kelembaban, dan lain-lain. Beberapa hewan
mampu menempuh jarak tempuh itu dipengaruhi batas toleransinya untuk
merespon perubahan lingkungannya (Hasmar dkk., 2009).
Interaksi adalah suatu hubungan antara satu species dengan species
yang lain. Salah satu jenis interaksi adalah predasi, yaitu suatu hubungan
makan dan dimakan antara satu organisme dengan organisme lain. Subjek
dari predasi adalah predator (pemangsa) dan prey (mangsa). Predator
memiliki suatu perilaku khusus dalam menjalankan interaksi tersebut
misalnya, pada elang akan terbang rendah saat akan mulai menerkam
mangsa, pada harimau yang akan mengendap-ngendap di semak (Jarulis
dkk., 2005).
Respon terhadap predator bervariasi, karena meskipun predatornya
sama akan memberikan tanda yang berbeda pada waktu yang tidak sama.
Misalnya antelop tidak akan melarikan diri bila melihat singa berjalan
kearahnya, tetapi antelop baru bereaksi kalau singa mengendap-ngendap
pada semak-semak. Ada beberapa cara hewan dalam menanggapi predator
yaitu Altruistik, kamuflase dan mimikri. Teknik yang dipergunakan oleh
prey untuk lari dari predator tergantung dari jenis perilaku predator yang
ada (Naughton dan Larry, 2004).
Predator mengembangkan mekanisme untuk meningkatkan
efisiensinya untuk menemukan dan menangkap mangsa. Prey itu sendiri
mengalami tekanan selektif yang kuat untuk mengurangi peluang dapat
termakan. Sifat-sifat dasar untuk suksesnya pelarian prey tersebut yaitu
kecepatan yang lebih besar dibandingkan predator, kemempuan untuk
melakukan manufer terhadap predator, menghindar terhadap predator
ketika sedang diburu dan lain sebagainya (Reni dan Sofian, 2012).
Predasi hanyalah satu dari beberapa kematian yang berpengaruh
pada populasi prey dibawah kondisi alami. Beberapa akan tergantung
pada kondisi fisik ligkungan, sedangkan yang lainnya misalnya dapat
bergantung pada kompetisi dan interaksi biologis lainnya. Predasi dan
kemampuan mengindar (akselerasi) dari predasi berpengaruh kuat
terhadap perilaku hampir semua hewan. Aktivitas dan perilaku dari
predator termasuk menangkap mangsa yang lalu lalang dengan
menggunakan berbagai tehnik, bergantung pada spesies yang terkait
seperti pengejaran, penyerangan, menjebak, dan berbagai trik-trik lainnya
yang digunakan demi mendapatkan prey sebagai mangsanya. Dari sisi
yang dimangsapun yakni prey, mempunyai berbagai karakteristik dan
prilaku untuk mempertahankan dirinya dari keberadaan predator yang
mengancam jiwanya seperti menghindar dan melarikan diri dari predator,
sembunyi dan berkamuflase dan berbagai cara lainnya agar tidak
diinginkan oleh predator, termasuk didalamnya segala bentuk adaptasi
yang terjadi pada frey untuk mempertahankan hidupnya dari predator
(Sudaryanto dan Yusuf, 2008).
Menurut Suharsono (2003) bahwa kemungkinan prey dapat lolos
dari predator merupakan teknik khusus yang nampaknya mempunyai
konsekuensi ekologis. Teknik yang dipergunakan oleh prey untuk lari dari
predator sangat tergantung pada jenis prilaku predator yang ada dalam
interaksi itu. Terdapat 4 metode pokok mengenai larinya prey, yaitu
sebagai berikut.
1. Lari berdasarkan jumlah atau waktu
Populasi prey mengurangi tekanan predator sehingga densitas
predator tidak mungkin memberikan respon terhadap adanya prey
yang secara periodik meninggi. Adaptasi yang dilakukan predator
meliputi soal waktu yaitu peningkatan populasi predator seiring
dengan peningkatan populasi prey. Populasi prey dapat melarikan diri
dalam waktu, dengan cara bereproduksi cepat untuk mempertahankan
populasi predator agar tidak menakan pertambahan prey tersebut. Prey
berkembang biak lebih cepat dari predator khususnya pada saat musim
pertumbuhan populasi keduanya terhambat. Cara lain untuk lolos
berdasarkan jumlah ialah mengelompok bersama untuk mengurangi
peluang bahwa suatu individu akan terambil. Pengelompokkan ini
membuat kelompok menjadi menarik dibandingkan dengan individu
tunggal. Berkelompok itu dapat meningkatkan upaya untuk
menghindari predator dengan membuat pertahanan kelompok
sehingga lebih efektif dengan pertahanan individu tunggal. Lokasi
suatu individu dalam suatu kelompok sangat penting dalam kaitannya
dengan peluang untuk tertangkap. Bila diasumsikan bahwa predator
umumnya akan menyerang individu yang terdekat sehingga yang
tertangkap adalah individu pada kelompok perifer, jadi lebih
menguntungkan bagi individu yang berada pada posisi sentral.
Anggota-anggota kelompok yang lain dapat pula memberi peringatan
pada temannya tentang adanya ancaman dari predator. Tanda
peringatan itu umumnya tidaklah memberi informasi tentang lokasi
atau identitas predator, tetapi hanyalah suatu peringatan tentang
adanya predator. Bergerombol juga memungkinkan adanya
keuntungan, yaitu yang disebut dengan efek konfusi, yaitu prey
melakukan banyak pergerakan untuk mengacaukan konsentrasi
predator, jadi mengurangi peluang keberhasilan penangkapan.
2. Lari dalam Ruang
Pelarian prey dalam ruang menyangkut baik evolusi
mekanisme dispersal jangka panjang, lebih efisien dari predator dan
kemampuan jangka pendek untuk lari dan bersembunyi menurunkan
resiko predasi untuk sekurang-kurangnya suatu bagian dari populasi
prey. Pelarian dalam ruang dimungkinkan apabila bagian dari habitat
tidak secara efektif dieksploitasi oleh populasi predator.
3. Lari oleh Ukuran
Terdapat hubungan antara ukuran predator dengan ukuran rata-
rata dan ukuran ekstrim dari prey yang dimangsa. Batas ukuran untuk
predasi berhubungan dengan imbang-imbangan antara peluang untuk
menangkap, potensi untuk melukai atau mematikan dari predator dan
waktu yang relatif panjang untuk menangani prey. Prey juga memiliki
waktu untuk siap ditangkap.
4. Lari Dengan Mekanisme Pertahanan Lain
Mekanisme lari dalam hal ini diantaranya meliputi mimikri,
kamuflase dan kolorasi disruptif, pertahanan kimiawi dan banyak
mekanisme lainnya, seperti kecepatan yang memungkinkan individu
prey menghindar dari predator.
Menurut Sulin (2003), bahwa selain mekanisme diatas juga dikenal
beberapa taktik lainnya. Perbedaan perkembangan taktik predator dalam
mendapatkan prey sesuai atau mungkin dapat melampaui dari perbedaan
taktik bertahan dan kebiasaan prey tersebut. Perbedaan tersebut terus
berkembang hingga mencjadi adaptasi baru dalam menghadapi predator.
Secara umum taktik anti predator dari prey dapat digambarkan sebagai
berikut :
1. Melarikan diri dengan berlari, berenang, atau terbang menjauh dari
predator. Cara ini merupakan salah satu taktik dasar dan sangat umum
digunakan oleh prey. Tidak diragukan lagi bahwa setiap hewan
memiliki ketangkasan dan kegesitan tersendiri. Pada beberapa species,
prey yang benar-benar diincar mungkin akan pergi jauh atau akan
memutar balik arah tujuan atau melompat atau mungkin pula terbang ke
tempat lain, seperti menyelam ke dasar air atau memanjat pohon.
2. Menggunakan sistem peringatan. Banyak jenis dari prey mempunyai
sistem sensor akut dan dapat mendeteksi pemangsa sebelum mereka
datang terlalu dekat dan membahayakan.
3. Menggunakan pergerakan yang tidak dapat diduga. Tindakan ini
biasanya disebut protean. Pelarian binatang mungkin dilakukan dengan
cara zig-zag, melompat, mengganti arah terbang dan perpindahan
lainnya dengan gaya yang sulit ditebak. Hal ini akan menyulitkan
predator dalam mengikuti prey. Satu diantara banyaknya kebiasaan nilai
pertahanan yang dimiliki hewan adalah melalui berkelompok dengan
individu lainnya. Bila ada yang tertangkap maka ada kemungkinan
bahwa yang tertangkap itu bukan dirinya, sehingga memungkinkan
dirinya untuk kabur menyelamatkan diri. Hal ini dikenal sebagai prinsip
you first.

II. Metode Kerja


A. Alat dan Bahan

Alat Jumlah Bahan Jumlah


Termometer 1 set Ekosistem alami 1 set
Lux Meter 1 buah Burung gereja 1 kelompok
Meteran 1 buah
Hygrometer 1 buah
Tally Counter 1 buah
Tally Sheet 1 buah
Tali Rafia 1 buah
Patok Kayu 4 buah

B. Cara Kerja
Pengamatan dilakukan di sekitar kawab kampus UIN
Sunan Gunung Djati Bandung, lalu ditentukan lokasi
pengamatan yang terdapat banyak burung gereja.
Kemudian dihitung jumlah burung pada kelompok burung
yang akan diamati. Selanjutnya burung yang menjadi pusat
kelompok didekati oleh praktikan sambil membawa 2 buah
patok, lalu patok ditancapkan ketika burung yang menjadi
pusat kelompok terbang untuk menghindari pengamat.
Lalu patok kedua ditancapkan ketika burung lainnya
terbang menghindari pengamat. Kemudian mengukur jarak
antar patok pertama dan kedua dan dicatat hasilnya. Lalu
faktor lingkungan diukur setiap jam pengamatan.
Kemudian diamati dan dicatat perilaku makan burung
gereja serta jenis makanan yang dimakan selama
pengamatan.
III. Hasil Pengamatan
A. Keadaan Faktor Lingkungan
Suhu : 24oC
Kelembapan : 80%

B. Tabel Pengamatan Kelompok Burung Gereja

Jarak Ke Plot Jarak Burung Mulai


Plot Ke- Jumlah Burung
Selanjutnya Terbang Dari Plot
1 3,72 m 4 ekor 3,12 m
2 7,10 m 2 ekor 4,20 m
3 5,40 m 2 ekor 5,24 m
4 16 m 2 ekor 5,20 m
5 8m 4 ekor 5,96
6 7m 1 ekor -
Rata-Rata 7,78 m 3 ekor 4,17

C. Tabel Pengamatan Individu Burung Gereja


Jarak Ke Plot Jarak Burung Mulai
Plot Ke- Jumlah Burung
Selanjutnya Terbang Dari Plot
1 9,20 m 1 ekor 7,80 m
2 10,27 m 1 ekor 9,20 m
3 11,2 m 1 ekor 10 m
Rata-Rata 7,78 m 1 ekor 13,5 m

D. Perilaku Makan Burung Gereja


Perilaku Makan : mematuk dengan paruh
Jenis Makanan : biji-bijian kecil dan rumput

Pembahasan
Praktikum ini membahas mengenai respon menghindar pada burung
gereja (Passer montanus) terhadap predator. Dimna dalam praktium ini,
praktikan seolah-olah menjadi predator. Dimana predator ini yang akan
memangsa burung, dengan cara memperhatikan burung yang hinggap pada
satu pohon, lalu setelah mendapatkan burung yang diincar, praktikan berjalan
mendekati pohon tersebut, seolah-olah akan memangsa burung tersebut
sehingga burung tersebut terbang meninggalkan pohon itu. Setelah itu
praktikan menghitung jarak dari posisi praktikan saat burung tersebut terbang
sampai ke pohon tempat burung tersebut hinggap. Seperti yang dinyatakan
oleh Waluyo (2013), bahwa perilaku tersebut dalam ekologi dinamakan anti-
predator, yaitu suatu bentuk kewaspadaan dari prey terhadap gangguan yang
ditimbulkan dari luar.
Dalam praktikum anti predator, praktikan mengamati tingkah laku
burung serta reaksi yang dilakukan ketika mereka merasa terancam. Reaksi
anti predator yang dapat diamati pada beberapa perilaku burung gereja
(Passer montanus) diantaranya ketika burung menengok ke kanan dan ke kiri
serta pergi menjauh ketika praktikan mendekati pada jarak tertentu.
Sedangkan perilaku mematuk-matuk pada burung merupakan suatu tanda
bahwa sikap kewaspadaan burung tersebut sedang rendah. Ketiga perilaku
tersebut dapat dijadikan indikator dalam mengamati tingkat kewaspadaan
pada burung dalam menghadapi pemangsanya. Perilaku burung menengok ke
kanan dan ke kiri merupakan salah satu bentuk perilaku kewaspadaan dan
antisipasi mereka terhadap gangguan serta keberadaan predator yang akan
mengancam dirinya. Semakin sering burung menengok ke kanan dan ke kiri,
semakin tinggi tingkat kewaspadaannya. Pengamatan dilakukan terhadap
burung gereja (Passer montanus) yang terdapat di sekitar wilayah kampus
UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Burung ini dijadikan sebagai objek
pengamatan anti predator dikarenakan mudah ditemukan berkelompok dan
sudah beradaptasi dengan lingkungan dan keberadaan manusia sehingga
praktikan dapat mengamati perilaku burung tersebut dengan jelas dalam jarak
tertentu karena tingkat kewaspadaanya kurang. Seperti yang dinytakan Sulin
(2003) bahwa sikap kewaspadaan burung gereja dilakukan dengan
memonitoring 50 kali perjam, mengawal kelompok, dan memberi instruksi
serta suara 70 kali perjam. Setelah anaknya sudah mulai belajar terbang,
induk burung akan mengawasi anaknya yang sedang belajar dengan
membentuk formasi kelompok.
Dari data yang diperoleh, didapat hasil bahwa jarak rata-rata burung
secara individu melakukan terbang meninggalkan plot saat didekati praktikan
sekitar 13,5m dengan jumlah rata-rata 3 ekor burung. Sedangkan jarak rata-
rata burung secara kelompok untuk terbang meninggalkan plot saat didekati
praktikan sekitar 4,74 m dengan jumlah rata-rata 1 ekor burung. hal ini
menunjukkan bahwa dalam berkelompok burung gereja lebih berani
menghadapi dan merespon predatornya yang diasumsikan sebagai predator.
Sedangkan dalam individu burung gereja lebih takut menghadapi dan
merespon predatornya yang diasumsikan sebagai predator. Hal ini disebabkan
oleh dalam berkelompok burung gereja merasa aman dengan kumpulan-
kumpulan kawannya yang akan saling melindungi satu sama lain terlebih
dahulu. Jadi burung gereja akan melakukan perilaku altruisme saat predator
datang. Selain itu, ketika keberadaan burung hanya berupa individu tunggal,
maka sebagian besar waktunya dipergunakan untuk memperhatikan keadaan
lingkungan sekitar sebab dia hanya memiliki pertahanan tunggal (individu)
sehingga dia dapat mewaspadai setiap gerakan predator yang akan
menyerangnya. Seperti yang dinyatakan Suharsono (2003) bahwa satu lagi
perilaku anti predator pada burung adalah adanya ketika burung akan terbang
menjauh apabila predator (dalam hal ini manusia) memasuki jarak yang
menurut mereka membahayakan. Menurut teori yang ada, taktik ini
merupakan taktik dasar yang umum digunakan oleh prey untuk menghindari
predator.
Burung gereja memakan makanannya dengan cara mematukkan
kepalanya ke pada makanannya dan makanannnya berupa biji-bijian kecil dan
rerumputan. Seperti yang dinyatakan Sudayanto dan Yusuf (2008) bahwa
burung gereja termasuk burung pemakan segalanya, apabila diperhatikan
aktivitas burung ini di alamnya, dimana burung ini suka hinggap di pelataran,
tepi jalan, sekitar pembuangan sampah juga pepohonan. Burung Gereja suka
memakan biji-bijian dipadang rumput, nasi yang terbuang atau dijemur,
makanan burung kenari yang jatuh ke tanah bahkan burung ini juga suka
mencuri ulat hongkong. Mereka memakan makanannya pada umumya dengan
cara mematuk.

IV. Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa sikap
buurung gerja terbang menghindari prdatornya merupakan perilaku anti-
predator, yaitu suatu bentuk kewaspadaan dari prey terhadap gangguan yang
ditimbulkan dari luar. Reaksi anti predator yang dapat diamati pada beberapa
perilaku burung gereja (Passer montanus) diantaranya ketika burung
menengok ke kanan dan ke kiri serta pergi menjauh ketika praktikan
mendekati pada jarak tertentu. Sedangkan perilaku mematuk-matuk pada
burung merupakan suatu tanda bahwa sikap kewaspadaan burung tersebut
sedang rendah. Dalam berkelompok burung gereja lebih berani menghadapi
dan merespon predatornya yang diasumsikan sebagai predator. Sedangkan
dalam individu burung gereja lebih takut menghadapi dan merespon
predatornya yang diasumsikan sebagai predator. Burung gereja memakan
makanannya dengan cara mematukkan kepalanya ke pada makanannya dan
makanannnya berupa biji-bijian kecil dan rerumptuan.

DAFTAR PUSTAKA
Hasmar, R., dkk. 2009. Keberadaan Jenis Burung Pada Lima Stasiun Pengamatan
Di Sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung, Depok-Jakarta.
Jurnal Vis Vitalis. 2 ( 2) : 50-60.
Jarulis., dkk. 2005. Fauna Buung DI Taman Kota Dan Jalur Hijau Kota Padang.
Jurnal Gradien. 1 (2) : 99-109.
Naughton, M, S. dan Larry, J, W. 2004. Ekologi Umum Edisi 2. Yoyakata : UGM
Press.
Reni, S. dan Sofian, I. 2012. Keanekaragaman Jenis Burung Di Taman Nasional
Kepulauan Wahatobi Dan Taman Nasional Kepulauan Seribu. Junal
Konservasi. 2 (3) : 4-19.
Sudayanto,. Dan Yusuf, K. 2008. Pekenalan Perilaku Hewan. Jakarta : Diva Press.
Suharsono. 2003. Pengantar Ekologi Hewan. Malang : UMM Press.
Sulin, N, M. 2003. Dasar-Dasar Ekologi Hewan. Jakarta : Bumi Aksara.