Anda di halaman 1dari 24

MODUL PRAKTIKUM LAPANGAN

OSEANOGRAFI FISIKA

OLEH:

TIM ASISTEN OSEANOGRAFI FISIKA 2015

PROGRAM STUDI OSEANOGRAFI


JURUSAN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2015
1

GELOMBANG LAUT

I. Tujuan Praktikum
1. Praktikan diharapkan memahami dan mengetahui cara mendapatkan parameter-
parameter gelombang laut di lapangan.
2. Praktikan dapat mengetahui dan menganalisis periode dan tinggi gelombang laut yang
ada di perairan Teluk Awur Jepara.

II. Teori Dasar


Gelombang adalah suatu getaran yang merambat, dalam perambatannya gelombang
membawa energi. Dengan kata lain, gelombang merupakan getaran yang merambat dan
getaran sendiri merupakan sumber gelombang. Jadi, gelombang adalah getaran yang
merambat dan gelombang yang bergerak akan merambatkan energy (tenaga). Gelombang
juga dapat dikatakan sebagai deretan pulsa-pulsa yang berurutan yang terlihat sebagai
perubahan ketinggian permukaan air laut, dari elevasi maximum ke minimum.
Klasifikasi gelombang berdasarkan kedalaman relatif yaitu:
d/L < 0,05 adalah gelombang perairan dangkal (gelombang panjang)
0,05 < d/L < 0,5 adalah gelombang perairan menengah
d/L > 0,5 adalah gelombang perairan dalam (gelombang pendek)
Klasifikasi gelombang berdasarkan periode
NamaGelombang Waktu
Gelombang Kapiler < 0,1 detik
Gelombang Ultra Gravitasi 0,1 1 detik
Gelombang Gravitasi 1 30 detik
Gelombang Infra Gravitasi 30 detik 5 menit
Gelombang PeriodePanjang 5 menit 12 jam
Gelombang Pasang Surut 12 24 jam
Gelombang Trans-Tidal 24 jam

TIM ASISTEN OSEANOGRAFI FISIKA PRODI OSEANOGRAFI 2015


MADA*DIRA*INA*YEREMIA*HUDI*BELLA*RIVAN*DINNY*DYAH
2

Parameter gelombang

Sumber :BambangTriatmojo, Tekni Pantai :1999


Keterangan
X : Sumbu Horisontal (axis)
Z : Sumbu Vertikal (ordinat)
SWL : sea water level (permukaan air laut)
C (Celery) : Kecepatan rambat gelombang Laut
d (depth) : kedalaman perairan dari SWL
L (Length) : Panjang Gelombang
H (height) : tinggi gelombang
a : amplitudo
(eta) : elevasi muka air
2
(sigma) : frekuensi sudut gelombang =
2
k : Bilangan Gelombang =

u : kecepatan horizontal partikel


w : kecepatan vertikal partikel
(epsilon) : Posisi horizontal pertikel/Jarak horizontal partikel terhadap titik pusat
(zeta) : Posisi vertikal pertikel/Jarak vertikal partikel terhadap titik pusat

III. Alat dan Bahan


1. Palem gelombang
- Penyangga terbuat dari kayu/besi dengan bentuk seperti gambar (tinggi tripod 70
cm, tinggi keseluruhan 3 m)

TIM ASISTEN OSEANOGRAFI FISIKA PRODI OSEANOGRAFI 2015


MADA*DIRA*INA*YEREMIA*HUDI*BELLA*RIVAN*DINNY*DYAH
3

- Palem dari bambu dicat warna merah-putih selang-seling dengan interval 5 cm


2. Stopwatch
3. Papan Jalan
4. Alat Tulis

IV. Cara Kerja


1. Pasang palem gelombang di lokasi sebelum gelombang pecah
2. Pada saat gelombang datang menyentuh palem,nyalakan stopwatch dan catat
ketinggian gelombang dengan melihat skala garis di palem
3. Pada saat gelombang berikutnya datang dan menyentuh palem,matikan stopwatch,hal
tersebut menunjukkan 1 periode gelombang
4. Ulangi untuk 200 kali pengambilan data

V. Tugas Praktikum
1. Hitung H (TinggiGelombang), T (PeriodeGelombang), H10 dan T10, H33dan T33 (H
signifikan), H100dan T100 (Gelombang Rerata)

TIM ASISTEN OSEANOGRAFI FISIKA PRODI OSEANOGRAFI 2015


MADA*DIRA*INA*YEREMIA*HUDI*BELLA*RIVAN*DINNY*DYAH
4

2. Gelombang 10% (H10%)

=
= 10% =
1 + 2 + +
10 = =

1 + 2 + +
10 = =

3. Gelombang 33% (Gelombang signifikan, HS)

=
= 33% =
1 + 2 + +
33 = =

1 + 2 + +
33 = =

4. Gelombang 100% (Gelombang rerata, H100)

=
= 100% =
1 + 2 + +
100 = =

1 + 2 + +
100 = =

TIM ASISTEN OSEANOGRAFI FISIKA PRODI OSEANOGRAFI 2015


MADA*DIRA*INA*YEREMIA*HUDI*BELLA*RIVAN*DINNY*DYAH
5

FORMAT LAPORAN RESMI GELOMBANG

COVER
I. PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
1.2 TUJUAN PRAKTIKUM
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 METODE PENGUKURAN GELOMBANG LAUT
2.2 MANFAAT PENGUKURAN GELOMBANG LAUT
2.3 KARAKTERISTIK GELOMBANG LAUT DI PANTAI UTARA
2.4 TINGGI DAN PERIODE GELOMBANG
2.4.1 TINGGI DAN PERIODE GELOMBANG MAKSIMAL (H & Tmax)
2.4.2 TINGGI DAN PERIODE GELOMBANG MINIMAL (H & Tmin)
2.4.3 TINGGI DAN PERIODE GELOMBANG SIGNIFIKAN (H & T signifikan)
III. MATERI DAN METODE
3.1 WAKTU DAN TEMPAT
3.2 MATERI PRAKTIKUM
3.3 ALAT DAN BAHAN (TABEL)
3.4 METODE PRAKTIKUM
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 HASIL
4.1.1 DATA PENGAMATAN GELOMBANG STASIUN 1
A. PERHITUNGAN TINGGI GELOMBANG (H)
HMAX
HMIN
HSIGNIFIKAN
B. PERHITUNGAN PERIODE GELOMBANG
TMAX
TMIN
TSIGNIFIKAN

TIM ASISTEN OSEANOGRAFI FISIKA PRODI OSEANOGRAFI 2015


MADA*DIRA*INA*YEREMIA*HUDI*BELLA*RIVAN*DINNY*DYAH
6

4.1.2 DATA PENGAMATAN GELOMBANG STASIUN 2


A. PERHITUNGAN TINGGI GELOMBANG (H)
HMAX
HMIN
HSIGNIFIKAN
B. PERHITUNGAN PERIODE GELOMBANG
TMAX
TMIN
TSIGNIFIKAN
4.2 PEMBAHASAN
4.1.2 KLASIFIKASI GELOMBANG DI TELUK AWUR BERDASARKAN
PERIODENYA
A. STASIUN 1
B. STASIUN 2
4.2.2 HASIL PERHITUNGAN GELOMBANG 10%, 33%, 100%
A. PERBEDAAN GELOMBANG 10%, 33%, 100%
a. stasiun 1
b. stasiun 2
4.2.3 PERBANDINGAN DATA GELOMBANG ST 1 & 2

TIM ASISTEN OSEANOGRAFI FISIKA PRODI OSEANOGRAFI 2015


MADA*DIRA*INA*YEREMIA*HUDI*BELLA*RIVAN*DINNY*DYAH
7

ARUS LAUT

I. Tujuan Praktikum
1. Mengetahui pengukuran arus laut dengan menggunakan Metode Lagrange
2. Mengetahui besarnya kecepatan arus dengan perhitungan menggunakan bola duga.
3. Memahami profil distribusi kecepatan arus terhadap kedalaman

II. Teori Dasar


Arus adalah proses pergerakan massa air menuju kesetimbangan yang menyebabkan
perpindahan horizontal dan vertikal massa air. Gerakan tersebut merupakan resultan dari
beberapa gaya yang bekerja dan beberapa factor yang mempengaruhinya. Arus laut (sea
current) adalah gerakan massa air laut dari satu tempat ke tempat lain baik secara vertikal
(gerak ke atas) maupun secara horizontal (gerakan ke samping). Pergerakan massa air ini
ditimbulkan oleh beberapa gaya sehingga Herunadi (1996) dalam Kurniawan (2004)
mengemukakan bahwa sinyal arus merupakan resultan dari berbagai sinyal yang
mempunyai frekuensi terstentu yang dibagkitkan oleh beberapa gaya yang berbeda-beda.
Pond dan Pickard 1983 mengklasifikasikan gerakan massa air berdasarkan penyebab
nya, yakni :
a. Gerakan dorongan angin
Angin adalah faktor yang membangkitkan arus, arus yang ditimbulkan oleh angin
mempunyai kecepatan yang berbeda menurut kedalaman. Kecepatan arus yang
dibangkitkan oleh angin memiliki perubahan yang kecil seiring pertambahan kedalaman
hingga tidak berpengaruh sama sekali.
b. Gerakan termohalin
Perubahan densitas timbul karena adanya perubahan suhu dan salinitas antara 2 massa
air yang densitas nya tinggi akan tenggelam dan menyebar dibawah permukaan air
sebagai arus dalam dan sirkulasinya disebut arus termohalin.
c. Arus Pasut
Arus yang disebabkan oleh gaya tarik menarik antara bumi dan benda benda angkasa.
Arus pasut ini merupakan arus yang gerakannya horizontal.
d. Turbulensi
Suatu gerakan yang terjadi pada lapisan batas air dan terjadi karena adanya gaya gesekan
antar lapisan.

TIM ASISTEN OSEANOGRAFI FISIKA PRODI OSEANOGRAFI 2015


MADA*DIRA*INA*YEREMIA*HUDI*BELLA*RIVAN*DINNY*DYAH
8

e. Tsunami
Tsunami sering disebut sebagai gelombang seismic yang dihasilkan dari pergeseran
dasar laut saat terjadi gempa.
f. Gelombang lain ; Internal, Kelvin dan Rossby / Planetary

Pengukuran Arus Metode Lagrange


Pengukuran arus dengan metode lagrange yang kita lakukan dengan prinsipnya adalah
mengikuti jejak partikel air laut yang digerakan oleh arus. Peralatan pengukur yang
diperlukan berupa pelampung dan alatpenentu arah seperti theodolit atau plane table.
Pengukuran biasanya dilakukan dari dua tempat di pantai yang berbeda posisinya sudah
diketahui, sementara itu pelampung dilepaskan ditengah laut. Untuk interval waktu tertentu
posisi pelampung diukur dari kedua waktu tersebut sehingga pergerakan dapat diamati dan
dicatat.

Pengukuran Arus Metode Euler


Pada dasarnya pengukuran arus memberikan informasi mengenai medan kecepatan disetiap
tempat dilaut. Bila kita ingin melakukan analisis dengan metode euler maka yang akan kital
akukan adalah menempatkan alat pengukur kecepatan dan arah arus (current meter).
Current meter dapat diletakan pada kedalaman dan posisi tertentu untuk mencatat arah dan
kecepatan arus dilaut yang akan kita amati. Apabila data-data pengukuran di seluruh titik
dalam daerah yang akan kita tinjau kita plot ke dalam peta maka akan didapatkan pola
sebaran arus pada saat tertentu.

III. Alat dan Bahan


- Alat Tulis ( Kertas dan Pensil / Pulpen )
- Papan Jalan
- Bola Duga
- Tali Tambang
- Lakban
- Kompas Tembak
- Stopwatch
- GPS

TIM ASISTEN OSEANOGRAFI FISIKA PRODI OSEANOGRAFI 2015


MADA*DIRA*INA*YEREMIA*HUDI*BELLA*RIVAN*DINNY*DYAH
9

IV. Cara Kerja


1. Menuju titik pengamatan menggunakan sopek.
2. Menentukan kedalaman titik pengamatan, dan mencatat koordinat pada titik
pengamatan dengan GPS
3. Melepas bola duga ke titik pengamatan, lakukan hal tersebut dengan variasi panjang
kedalaman baling-baling antara 0.2d, 0.4d, dan 0.8.
4. Mengamati arah aliran arus dari arah pergerakan bola duga, dengan menggunakan
kompas tembak tentukan besar derajat simpangan yang terjadi.
5. Mencatat waktu yang diperlukan bola duga untuk mencapai jarak 5 m, jika dalam 5
menit belum menempuh 5 m maka dihitung jarak tempuhnya selama 5 menit.
6. Masukan data yang diperolehke dalam table.

TIM ASISTEN OSEANOGRAFI FISIKA PRODI OSEANOGRAFI 2015


MADA*DIRA*INA*YEREMIA*HUDI*BELLA*RIVAN*DINNY*DYAH
10

FORMAT LAPORAN ARUS LAUT


COVER
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan Praktikum
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian dan Faktor Pembangkit arus laut
2.2 Metode pengukuran arus laut
2.3 Manfaat Pengukuran Arus Laut
2.4 Pola Angin Global
2.5 Pola Umum Arus Permukaan
III. MATERI DAN METODE
3.1 Waktu dan Tempat
3.2 Materi Praktikum
3.3 Alat dan Bahan
3.4 Metode Praktikum
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.1.1 Data Pengamatan arus satu angkatan
4.2 Pembahasan
4.2.1 Perhitungan kecepatan arus
4.2.2 faktor apa saja yang mempengaruhi perbedaan kecepatan di setiap stasiun
V. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Laporan sementara tiap individu
Dokumentasi Praktikum

TIM ASISTEN OSEANOGRAFI FISIKA PRODI OSEANOGRAFI 2015


MADA*DIRA*INA*YEREMIA*HUDI*BELLA*RIVAN*DINNY*DYAH
11

SUHU SALINITAS DAN KECERAHAN

I. Tujuan Praktikum
1. Praktikan dapat memahami penggunaan alat serta mengetahui cara pengukuran Suhu,
Salinitas dan Kecerahan.
2. Praktikan dapat menganalisis hasil pengukuran Suhu, Salinitas dan Kecerahan di
perairan Teluk Awur Jepara.

II. Teori Dasar


2.1 Suhu
Suhu adalah besaran yang menyatakan derajat panas dingin suatu benda dan alat
yang digunakan untuk mengukur suhu adalah thermometer. Dalam kehidupan sehari-hari
masyarakat untuk mengukur suhu cenderung menggunakan indera peraba. Tetapi dengan
adanya perkembangan teknologi maka diciptakanlah termometer untuk mengukur suhu
dengan valid.
Faktor terjadinya perbedaan suhu suatu perairan diantaranya adalah:
1. Radiasi cahaya matahari
2. Penguapan
3. Lelehan es
4. Pengadukan arus dan gelombang

2.2 Salinitas
Salinitas laut adalah jumlah kadar garam yang terdapat dalam air laut. Salinitas
berpengaruh terhadap kehidupan organisme perairan. Setiap daerah perairan di bumi ini
memiliki salinitas yang berbeda-beda. Faktor yang memengaruhi salinitas air laut
diantaranya adalah:
1. Penguapan
Makin besar tingkat penguapan air laut maka kadar salinitasnnya akan semakin
tinggi dan sebaliknya di daerah yang rendah tingkat penguapannya maka salinitasnya akan
semakin rendah.
2. Curah hujan
Semakin besar curah hujan di suatu wilayah laut maka salinitasnya akan rendah dan
jika curah hujan di lautan rendah maka salinitas akan semakin rendah.

TIM ASISTEN OSEANOGRAFI FISIKA PRODI OSEANOGRAFI 2015


MADA*DIRA*INA*YEREMIA*HUDI*BELLA*RIVAN*DINNY*DYAH
12

3. Banyak sedikitnya sungai yang bermuara


Semakin banyak sungai yang bermuara ke laut tersebut maka salinitas semakin
rendah, sedangkan jika sedikit sungai yang bermuara maka kadar salinitasnya akan
semakin tinggi.

2.3 Kecerahan
Kecerahan air merupakan ukuran kejernihan suatu perairan, semakin tinggi suatu
kecerahan perairan semakin dalam cahaya menembus ke dalam air. Kecerahan air
menentukan ketebalan lapisan produktif. Berkurangnya kecerahan air akan mengurangi
kemampuan fotosintesis tumbuhan air, selain itu dapat pula mempengaruhi kegiatan
fisiologi biota air, dalam hal ini bahan-bahan ke dalam suatu perairan terutama yang
berupa suspensi dapat mengurangi kecerahan air. Faktor yang mempengaruhi kecerahan
suatu perairan diantaranya adalah:
1. Radiasi matahari/intensitas cahaya matahari
2. Nilai kekeruhan perairan dekat pantai.
3. Kedalaman perairan

2.4 PH
Derajat keasaman atau pH merupakan suatu indeks kadar ion hidrogen (H+) yang
mencirikan keseimbangan asam dan basa. Derajat keasaman suatu perairan, baik
tumbuhan maupun hewan sehingga sering dipakai sebagai petunjuk untuk menyatakan
baik atau buruknya suatu perairan. Nilai pH juga merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi produktifitas perairan. Biasanya angka pH dalam suatu perairan dapat
dijadikan indikator dari adanya keseimbangan unsur-unsur kimia dan dapat mempengaruhi
ketersediaan unsur-unsur kimia dan unsur-unsur hara yang sangat bermanfaat bagi
kehidupan vegetasi akuatik. Besaran pH berkisar antara 0 14, nilai pH kurang dari 7
menunjukkan lingkungan yang masam sedangkan nilai diatas 7 menunjukkan lingkungan
yang basa, untuk pH =7 disebut sebagai netral. Perairan dengan pH < 4 merupakan perairan
yang sangat asam dan dapat menyebabkan kematian makhluk hidup, sedangkan pH > 9,5
merupakan perairan yang sangat basa yang dapat menyebabkan kematian dan mengurangi
produktivitas perairan. Perairan laut maupun pesisir memiliki pH relatif lebih stabil dan
berada dalam kisaran yang sempit, biasanya berkisar antara 7,7 8,4. pH dipengaruhi oleh
kapasitaspenyangga (buffer) yaitu adanya garam-garam karbonat dan bikarbonat yang
dikandungnya.

TIM ASISTEN OSEANOGRAFI FISIKA PRODI OSEANOGRAFI 2015


MADA*DIRA*INA*YEREMIA*HUDI*BELLA*RIVAN*DINNY*DYAH
13

III. Alat dan Bahan


1. Sopek
2. Botol Nansen
3. Air mineral (fresh water)
4. Refraktometer
5. GPS
6. Secchidisk
7. pH meter
8. Termometer
9. Solasi tulis
10. Alat Tulis

IV. Cara Kerja


1. Menuju titik pengambilan sampel di kedalaman 5 m dan 8 m.
2. Catat koordinat menggunakan GPS di tiap lokasi pengambilan sampel beserta waktu
pengambilan sampel.
3. Tiap kedalaman ukur kecerahan perairan dengan secchidisk sebanyak 3x pengulangan
dan dicari nilai rata-ratanya.
4. Tiap kedalaman diambil sampel air dikedalaman 0,2d; 0,5d; 0,8d dengan
menggunakan botol nansen untuk menentukan nilai Suhu, Salinitas dan pH.
5. Dari nilai suhu dan salinitas, dicari nilai densitas.
6. Masukkan data yang diperoleh kedalam tabel laporan sementara.

TIM ASISTEN OSEANOGRAFI FISIKA PRODI OSEANOGRAFI 2015


MADA*DIRA*INA*YEREMIA*HUDI*BELLA*RIVAN*DINNY*DYAH
14

FORMAT LAPORAN LAPANGAN SSK

COVER
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan Praktikum
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Manfaat Pengukuran Suhu di Laut
2.2 Manfaat Pengukuran Salinitas di Laut
2.3 Manfaat Pengukuran Kecerahan di Laut
2.4 Faktor Penyebab Perbedaan Suhu
2.5 Faktor Penyebab Perbedaan Salinitas
2.6 Faktor Penyebab Perbedaan Kecerahan
III. MATERI DAN METODE
3.1 Waktu dan Tempat
3.2 Materi Praktikum
3.3 Alat dan Bahan
3.4 Metode
3.4.1 Pengamatan Suhu
3.4.2 Pengamatan Salinitas
3.4.3 Pengamatan Kecerahan
3.4.4 Pengamatan pH
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.1.1 Koordinat stasiun pengawasan
4.1.2 Data Pengamatan SSK (1 Angkatan)
4.2 Pembahasan
4.2.1 Penyebab variabilitas SSK antar stasiun
4.2.2 Hubungan Suhu, Salinitas dan Densitas antar stasiun
4.2.3 Hubungan antara data hasil pengamatan dengan kondisi lingkungan
4.2.4 Hubungan kecerahan dengan sedimen tersuspensi
V. PENUTUP
5.1 Kesimpulan

TIM ASISTEN OSEANOGRAFI FISIKA PRODI OSEANOGRAFI 2015


MADA*DIRA*INA*YEREMIA*HUDI*BELLA*RIVAN*DINNY*DYAH
15

5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
1. Laporan Sementara
2. Dokumentasi Kegiatan

TIM ASISTEN OSEANOGRAFI FISIKA PRODI OSEANOGRAFI 2015


MADA*DIRA*INA*YEREMIA*HUDI*BELLA*RIVAN*DINNY*DYAH
16

PASANG SURUT

I. Tujuan Praktikum
1. Menghitung MSL harian di Teluk Awur Jepara
2. Dapat membuat grfaik pasang surut
3. Mengetahui tipe pasut di Teluk Awur Jepara

II. Teori Dasar


2.1 Pengertian Pasang Surut
Pasang surut laut merupakan suatu fenomena pergerakan naik turunnya permukaan air laut
secara berkala yang diakibatkan oleh kombinasi gaya gravitasi dan gaya tarik menarik dari
benda-benda astronomi terutama oleh matahari, bumi dan bulan (Dronkers, 1964).
Pasang surut merupakan hasil dari gaya tarik gravitasi dan efek sentrifugal. Efek
sentrifugal adalah dorongan ke arah luar pusat rotasi. Gravitasi bervariasi secara langsung
dengan massa tetapi berbanding terbalik terhadap jarak. Meskipun ukuran bulan lebih kecil
dari matahari, gaya tarik gravitasi bulan dua kali lebih besar daripada gaya tarik matahari dalam
membangkitkan pasang surut laut karena jarak bulan lebih dekat daripada jarak matahari ke
bumi. Gaya tarik gravitasi menarik air laut ke arah bulan dan matahari dan menghasilkan dua
tonjolan (bulge) pasang surut gravitasional di laut. Lintang dari tonjolan pasang surut
ditentukan oleh deklinasi, sudut antara sumbu rotasi bumi dan bidang orbital bulan dan
matahari (Pariwono, 1989).

2.2 Kurva Pasang Surut

Gambar 2.1 Contoh Kurva Pasang Surut Hasil Pengamatan


Pengertian tinggi pasang surut adalah jarak vertikal antara muka air tertinggi (puncak air
pasang) dan air terendah (lembah air surut) yang berurutan. Periode pasang surut adalah waktu
yang diperlukan dari posisi muka air pada muka air rerata ke posisi yang sama pada waktu

TIM ASISTEN OSEANOGRAFI FISIKA PRODI OSEANOGRAFI 2015


MADA*DIRA*INA*YEREMIA*HUDI*BELLA*RIVAN*DINNY*DYAH
17

berikutnya. Periode pasang surut bias 12 jam 25 menit atau 24 jam 50 menit, yang tergantung
pada tipe pasang surut. Periode di mana muka air naik disebut pasang, sedang pada saat air
turun disebut surut. Variasi muka air menimbulkan arus yang disebut arus pasang surut, yang
mengangkut massa air dalam jumlah sangat besar (Pariwono, 1989).

2.3 Gaya Pembangkit Pasang Surut


Gaya-gaya pembangkit pasang surut ditimbulkan oleh gaya tarik menarik antara bumi,
bulan dan matahari. Penjelasan terjadinya pasang surut dilakukan hanya dengan memandang
suatu sistem bumi-bulan:sedang sistem bumi-matahari penjelasannya adalah identik. Dalam
penjelasan ini dianggap bahwa permukaan bumi, yang apabila tanpa pengaruh gaya tarik bulan,
tertutup secara merata oleh laut (bentuk permukaan air adalah bundar) (Bambang
Triadmojo,1999).

Gambar 2.2 Gambaran Sederhana Terjadinya Pasang Surut


Pasang surut terjadi karena adanya gerakan dari benda benda angkasa yaitu rotasi bumi
pada sumbunya, peredaran bulan mengelilingi bumi dan peredaran bulan mengelilingi
matahari. Gerakan dari benda angkasa tersebut akan mengakibatkan terjadinya beberapa
macam gaya pada setiap titik di bumi ini,yang disebut gaya pembangkit pasang surut.Masing
masing gaya akan memberikan pengaruh pada pasang surut dan disebut komponen pasang
surut, dan gaya tersebut berasal dari pengaruh matahari, bulan atau kombinasi keduanya
(www.digilib.itb.ac.id).
Pariwono dalam ongkosongo (1989) juga menyatakan hal yang serupa bahwa dari semua
benda angkasa yang mempengaruhi proses pembentukan pasang surut air laut, hanya matahari
dan bulan yang sangat berpengaruh melalui tiga gerakan utama yang menentukan paras / muka
air laut di bumi ini. Ketiga gerakan itu adalah :
1. Revolusi bulan terhadap bumi, dimana orbitnya berbentuk elips dan
memerlukan waktu 29,5 hari untuk menyelesaikan revolusinya ;
2. Revolusi bumi terhadap matahari, dengan orbitnya berbentuk elips juga dan

TIM ASISTEN OSEANOGRAFI FISIKA PRODI OSEANOGRAFI 2015


MADA*DIRA*INA*YEREMIA*HUDI*BELLA*RIVAN*DINNY*DYAH
18

periode yang diperlukan 365.25 hari ;


3. Perputaran bumi terhadap sumbunya dan waktu yang diperlukan24 jam (one
solar day). Rotasi bumi tidak menimbulkan pasang surut namun
mempengaruhi muka air pasang surut.

Gambar 2.3 Variasi Pasang Surut


Selain akibat dari rotasi bumi pada sumbunya, revolusi bulan terhadap matahari,
revolusi bumi terhadap matahari,pasang surut juga dapat terjadi akibat perbadaan kedalaman
dan luas perairan, pengaruh rotasi bumi (gaya coriolis), dan gesekan dasar. Selain itu juga
terdapat beberapa faktor lokal yang dapat mempengaruhi pasut disuatu perairan seperti,
topogafi dasar laut, lebar selat, bentuk teluk, dan sebagainya, sehingga berbagai lokasi
memiliki ciri pasang surut yang berlainan (Wyrtki, 1961).

2.4 Tipe Pasang Surut


Perairan laut memberikan respon yang berbeda terhadap gaya pembangkit pasang
surut,sehingga terjadi tipe pasut yang berlainan di sepanjang pesisir. Menurut Dronkers (1964),
ada tiga tipe pasut yang dapat diketahui, yaitu :
1. Pasang surut diurnal. Yaitu bila dalam sehari terjadi satu satu kali pasang dan satu kali
surut. Biasanya terjadi di laut sekitar katulistiwa.
2. Pasang surut semi diurnal. Yaitu bila dalam sehari terjadi dua kali pasang dan dua kali surut
yang hampir sama tingginya.
3. Pasang surut campuran. Yaitu gabungan dari tipe 1 dan tipe 2, bila bulan melintasi
khatulistiwa (deklinasi kecil), pasutnya bertipe semi diurnal, dan jika deklinasi bulan
mendekati maksimum, terbentuk pasut diurnal.

TIM ASISTEN OSEANOGRAFI FISIKA PRODI OSEANOGRAFI 2015


MADA*DIRA*INA*YEREMIA*HUDI*BELLA*RIVAN*DINNY*DYAH
19

Gambar 2.4 Kurva Tipe Pasut


Sedangkan untuk di Indonesia sendiri, Wyrtki (1961) membaginya menjadi empat tipe :
1. Pasang Surut Harian Ganda (Semi Diurnal Tide)
Dalam satu hari terjadi dua kali air pasang dan dua kali air surut dengan tinggi yang hampir
sama dan pasang surut terjadi secara berurutan secara teratur . Periode pasang surut adalah
12 jam 24 menit. Pasang surut tipe ini terjadi di selat Malaka sampai laut Andaman.
2. Pasang Surut Harian Tunggal (Diurnal Tide)
Dalam satu hari terjadi satu kali air pasang dan satu kali air surut. Periode pasang surut
adalah 24 jam 50 menit. Pasang surut tipe ini terjadi di perairan selat karimata.
3. Pasang Surut Campuran Condong ke Harian Ganda (Mixed Tide Prevailing Semidiurnal)
Dalam satu hari terjadi dua kali air pasang dan dua kali air surut, tetapi tinggi dan
periodenya berbeda. Pasang surut jenis ini banyak terdapat di perairan Indonesia timur.
4. Pasang Surut Campuran Condong ke Harian Tunggal (Mixed Tide Prevailing Diurnal)
Pada tipe ini dalam satu hari terjadi satu kali air pasang dan satu kali air surut, tetapi kadang-
kadang untuk sementara waktu terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dengan tinggi dan
periode yang sangat berbeda. Pasang surut jenis ini terdapat di selatKalimantan dan pantai
utara Jawa Barat.

Gambar 2.5 Sebaran Pasang Surut di Perairan Indonesia

TIM ASISTEN OSEANOGRAFI FISIKA PRODI OSEANOGRAFI 2015


MADA*DIRA*INA*YEREMIA*HUDI*BELLA*RIVAN*DINNY*DYAH
20

2.5 Beberapa Definisi Elevasi Muka Air


Mengingat elevasi muka air laut selalu berubah setiap saat, maka diperlukan suatu elevasi
yang ditetapkan berdasar data pasang surut, yang digunakan sebagai pedoman di dalam
perencanaan suatu pelabuhan. Beberapa elevasi tersebut adalah sebagai berikut ini.
1. Mean Sea Level (MSL) atau Duduk Tengah adalah muka laut rata-rata pada suatu
periode pengamatan yang panjang, sebaiknya selama 18,6 tahun.
2. Mean Tide Level (MTL) adalah rata-rata antara air tinggi dan air rendah pada suatu
periode waktu.
3. Mean High Water (MHW) adalah tinggi air rata-rata pada semua pasang tinggi.
4. Mean Low Water (MLW) adalah tinggi air rata-rata pada semua surut rendah.
5. Mean Higher High Water (MHHW) adalah tinggi rata-rata pasang tertinggi dari dua air
tinggi harian pada suatu periode waktu yang panjang. Jika hanya satu air tinggi terjadi pada
satu hari, maka air tinggi tersebut diambil sebagai air tinggi terttinggi.
6. Mean Lower High Water (MLHW) adalah tinggi rata-rata air terendah dari dua air tinggi
harian pada suatu periode waktu yang panjang. Hal ini tidak akan terjadi untuk pasut harian
(diurnal).
7. Mean Higher Low Water (MHLW) adalah tinggi rata-rata air tertinggi dari dua air rendah
harian pada suatu periode waktu yang panjang. Hal ini tidak akan terdapat pada pasut
diurnal.
8. Mean Lower Low Water (MLLW) adalah tinggi rata-rata air terendah dari dua air rendah
harian pada suatu periode waktu yang panjang. Jika hanya satu air rendah terjadi pada satu
hari, maka harga air rendah tersebut diambil sebagai air rendah terendah.
9. Mean High Water Springs (MHWS) adalah tinggi rata-rata dari dua air tinggi berturut-
turut selama periode pasang purnama, yaitu jika tunggang (range) pasut itu tertinggi.
10. Mean Low Water Springs (MLWS) adalah tinggi rata-rata yang diperoleh dari dua air
rendah berturut-turut selama periode pasang purnama.
11. Mean High Water Neaps (MHWN) adalah tinggi rata-rata dari dua air tinggi berturut-
turut selama periode pasut perbani (neap tides), yaitu jika tunggang (range) pasut paling
kecil.
12. Mean Low Water Neaps (MLWN) adalah tinggi rata-rata yang dihitung dari dua air
berturut-turut selama periode pasut perbani.
13. Highest Astronomical Tide (HAT)/Lowest Astronomical Tide (LAT) adalah permukaan
laut tertinggi/terendah yang dapat diramalkan terjadi di bawah pengaruh keadaan
meteorologis rata-rata dan kombinasi keadaan astronomi. Permukaan ini tidak akan dicapai

TIM ASISTEN OSEANOGRAFI FISIKA PRODI OSEANOGRAFI 2015


MADA*DIRA*INA*YEREMIA*HUDI*BELLA*RIVAN*DINNY*DYAH
21

pada setiap tahun. HAT dan LAT bukan permukaan laut yang ekstrim yang dapat terjadi,
storm surges mungkin saja dapat menyebabkan muka laut yang lebih tinggi dan lebih
rendah. Secara umum permukaan (level) di atas dapat dihitung dari peramalan satu tahun.
Harga HAT dan LAT dihitung dari data beberapa tahun.
14. Mean Range (Tunggang Rata-rata) adalah perbedaan tinggi rata-rata antara MHW dan
MLW.
15. Mean Spring Range adalah perbedaan tinggi antara MHWS dan MLWS.
16. Mean Neap Range adalah perbedaan tinggi antara MHWN dan MLWN
(King, 1966).
2.6 Pengukuran Pasang Surut
2.6.1 Alat Pengukuran Pasang Surut
a. Tide Pole (Palem Pasut)
Alat pengukur pasang surut dengan pemberat
Alat pengukur pasang surut dengan pengapung
Alat pengukur pasang surut (Tide Gauge)
Jenis pelampung (float actuated)
Jenis tekanan (diaphragm pressure dan bubbler or gas pressure)
b. Floating Gauge
Adalah alat pengukuran pasang surut berdasarkan naik turunnya permukaan air
laut yang diketahui melalui pelampung kemudian dihubungkan dengan alat recording
unit yang di pasang di darat.
c. Pressure tide gauge
Alat pengukuran pasang surut yang pada prinsipnya sama dengan Floating tide
gauge, namun pada bahagian recording mengalami perbezaan dimana tekanan air laut
dihubungkan dengan alat pencatat.

2.7 Metode Pengamatan Pasang surut


Ada dua cara yang dapat dipakai untuk mengamati kedaan pasang surut laut, yaitu
dengan pengamatan langsung dan pengamatan tidak langsung.
a. Pengamatan Langsung
Pengamatan dilaksanakan dengan membaca skala pada palem pasang surut yang terkena
atau berhimpit dengan permukaan air laut pada saat setiap jangka waktu tertentu. Untuk
pengamatan jangka pendek cara ini banyak dipakai, sebab sangat murah pembiayaannya.
Namun untuk pengamatan jangka panjang cara ini sangat sulit untuk dilaksanakan.

TIM ASISTEN OSEANOGRAFI FISIKA PRODI OSEANOGRAFI 2015


MADA*DIRA*INA*YEREMIA*HUDI*BELLA*RIVAN*DINNY*DYAH
22

b. Pengamatan Tidak Langsung


Pengamatan dilaksanakan dengan memasang alat automatic tide gauge pada tempat-tempat
yang dipilih dan dikenal dengan nama stasiun pasut. Cara ini untuk pengamatan jangka
panjang baik sekali digunakan. Hasil pengamtan yang diperoleh tidak merupakan besaran-
besaran yang langsung menunjukkan kedudukan permukaan air laut. Untuk mendapatkan
besaran-besaran mengenai kedudukan air laut itu, harus dilakukan perubahan dari grafik
yang diperoleh kedalam suatu harga yang didasarkan dari pembacaan rambu pasut yang
dipasang sebagai skala pembanding (standard).
Penentuan lokasi setesen pasang surut merupakan harus memenuhi syarat-syarat sebagai
berikut :
1) Tidak dipengaruhi oleh sifat-sifat pasang surut dari daerah tertentu
2) Dasar lautnya stabil (firm and solid)
3) Tidak dipengaruhi oleh tanah dan Lumpur yang terbawa oleh aliran sungai
4) Diusahakan air lautnya jernih.
5) Tidak dipengaruhi oleh oleh aliran sungai dan gelombang.
6) Peralatan harus disesuaikan dengan ketelitian yang diharapkan.
7) Keadaan lingkungan laut lainya yang dianggap perlu mendukung kemudahan analisis
di kemudian hari.
8) Tidak mengganggu dan terganggu oleh kegiatan setempat.
9) Pada setiap stasiun pasangsurut perlu ditempatkan titik ikat ketinggian (benchmark)
paling sedikit tiga buah dan letaknya harus memperhitungkan tinggi-rendahnya daerah
pantai.

Penempatan alat pengukur pasang surut yang baik adalah sebagai berikut :
1) Tempatkan di dasar perairan.
2) Agar dapat mengukur secara keseluruhan ketinggian muka air laut tempatkan pada
daerah yang terisolasi.
3) Penempatan seperti ini di maksudkan agar tidak mudah diganggu.
4) Tempatkan pada daerah yang tidak dilalui kapal.
5) Selain tidak menggangu perjalanan kapal, penempatan seperti ini juga juga untuk
menghindari gelombang yang dihasilkan agar sehingga data yang diperoleh falid.
Menghindari daerah muara sungai.
6) Daerah aliran muara sungai akan menggangu alat pengukur pasut karena muara sungai
membawa sedimen dan partikel-partikel lainya.

TIM ASISTEN OSEANOGRAFI FISIKA PRODI OSEANOGRAFI 2015


MADA*DIRA*INA*YEREMIA*HUDI*BELLA*RIVAN*DINNY*DYAH
23

7) Manfaat pengukuran pasang surut diantaranya :


- Pembuatan pelabuhan dan bangunan pantai
- Mengukur tinggi daratan dari permukaan laut
- Safety parameter dalam berbagai kegiatan penambangan lepas pantai, dll
- dll

III. Alat dan Bahan


a. Palem pasut (tide staff)
b. Alat Tulis
c. Senter
d. Stopwatch atau penghitung waktu
e. Tabel pengamatan pasut
f. GPS
g. Laporan sementara

IV. Cara Kerja


1. Memasang palem pasut di dermaga (2 stasiun)
2. Mencari koordinat posisi stasiun pengamatan dengan menggunakan GPS
3. Melakukan pengamatan naik turunnya permukaan air laut
4. Mencatat pada tabel pengamatan nilai bacaan pada palem pasut pada saat tinggi muka
air laut terendah dan tertinggi setiap selang waktu yang ditentukan (dalam praktikum
ini dilakukan setiap 15 menit)
5. Mencatat waktu saat pengambilan data

IV. Tugas Praktikum


1. Hitung H untuk setiap waktu penghitungan
2. Tentukan nilai MSL perairan Teluk Awur, Jepara menggunakan langkah:
a. Hitung MSL untuk masing-masing stasiun menggunakan rumus:
b. Hitung MSL menggunakan data MSL semua stasiun
3. Buatlah grafik pasang surut, dengan ketentuan untuk sumbu y adalah tinggi muka air
rata-rata dan sumbu x adalah waktu! Disertai analisis yang jelas
4. Tentukan jenis pasang surut di Perairan Teluk Awur, Jepara! dan sebutkan alasan
kenapa di perairan tersebut memiliki jenis pasang surut seperti yang telah didapatkan?

TIM ASISTEN OSEANOGRAFI FISIKA PRODI OSEANOGRAFI 2015


MADA*DIRA*INA*YEREMIA*HUDI*BELLA*RIVAN*DINNY*DYAH