Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

LABIO PALATOSCHIZIS

Oleh:
Amin Ayu Badriyah
115070207111004

JURUSAN ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015
1. Definisi
Labio palatoshcizis atau sumbing bibir langitan adalah cacat bawaan berupa
celah pada bibir atas, gusi, rahang dan langit-langit (Fitri Purwanto, 2001).
Labio palatoshcizis merupakan suatu kelainan yang dapat terjadi pada daerah
mulut palato shcizis (sumbing palatum) labio shcizis (sumbing pada bibir) yang terjadi
akibat gagalnya perkembangan embrio (Hidayat, 2005).
Labio palatoschizis adalah merupakan congenital anomaly yang berupa adanya
kelainan bentuk pada wajah ( Suryadi SKP, 2001).
Dari ketiga pengertian tersebut dapat disimpulkan labio palatoschizis adalah
suatu kelainan congenital berupa celah pada bibir atas, gusi, rahang dan langit-langit
yang terjadi akibat gagalnya perkembangan embrio.
2. Etiologi
Etiologi labio palatoschizis adalah multifaktorial dan belum dapat diketahui
secara pasti. Pembentukan bibir terjadi pada masa embrio minggu keenam sampai
minggu kesepuluh kehamilan. Penyebab kelainan ini dipengaruhi berbagai faktor,
disamping faktor genetik sebagai penyebabnya, juga faktor non genetik yang justru
lebih sering muncul dalam populasi, kemungkinan terjadi satu individu dengan individu
lain berbeda.
a. Faktor genetic
Faktor herediter mempunyai dasar genetik untuk terjadinya labio palatoschizis telah
diketahui tetapi belum dapat dipastikan sepenuhnya. Kruger (1957) mengatakan
sejumlah kasus yang telah dilaporkan dari seluruh dunia tendensi keturunan
sebagai penyebab kelainan ini diketahui lebih kurang 25-30%.
Dasar genetik terjadinya labio palatoschizis dikatakan sebagai gagalnya
mesodermal berproliferasi melintasi garis pertemuan, di mana bagian ini seharusnya
bersatu dan biasa juga karena atropi dari pada epithelium ataupun tidak adanya
perubahan otot pada epithelium ataupun tidak adanya perubahan otot pada
daerah tersebut. Sebagai tanda adanya hipoplasia mesodermal. Adanya gen yang
dominan dan resesif juga merupakan penyebab terjadinya hal ini. Teori lain
mengatakan bahwa labio palatoschizis terjadi karena:
- Dengan bertambahnya usia ibu hamil dapat menyebabkan ketidak kebalan embrio
terhadap terjadinya celah.
- Adanya abnormalitas dari kromosom menyebabkan terjadinya malformasi
kongenital yang ganda.
- Adanya tripel autosom sindrom termasuk celah mulut yang diikuti dengan
anomali kongenital yang lain.
b. Faktor Non-Genetik
Faktor non-genetik memegang peranan penting dalam keadaan krisis dari
penyatuan bibir pada masa kehamilan. Beberapa hal yang berperan penyebab
terjadinya labio palatoschizis:
- Defisiensi nutrisi
Nutrisi yang kurang pada masa kehamilan merupakan satu hal penyebab terjadinya
labio palatoschizis. Melalui percobaan yang dilakukan pada binatang dengan
memberikan vitamin A secara berlebihan atau kurang, yang hasilnya menimbulkan
celah pada anak-anak tikus yang baru lahir. Begitu juga dengan defisiensi vitamin
riboflavin pada tikus yang sedang dan hasilnya juga adanya celah dengan persentase
yang tinggi, dan pemberiam kortison pada kelinci yang sedang hamil akan
menimbulkan efek yang sama. Pemberian aspirin, kortison dan insulin pada masa
kehamilan trimester pertama dapat meyebabkan terjadinya celah. Obat-obat yang
bersifat teratogenik seperti thalidomide dan phenitonin, serta alkohol, kaffein,
aminoptherin dan injeksi steroid.
- Virus rubella
Frases mengatakan bahwa virus rubella dapat menyebabkan cacat berat, tetapi
hanya sedikit kemungkinan dapat menyebabkan celah. Beberapa hal lain yang juga
berpengaruh yaitu :
Kurang daya perkembangan
Radiasi merupakan bahan-bahan teratogenik yang potent
Infeksi penyakit menular sewaktu trimester pertama kehamilan yang dapat
menganggu fetus
Gangguan endokrin
Pemberian hormon seks, dan tyroid
Merokok, alkohol, dan modifikasi pekerjaan
- Trauma
Strean dan Peer melaporkan bahwa trauma mental dan trauma fisik
dapat menyebabkan terjadinya labio palatoschizis. Stress yang timbul menyebabkan
fungsi korteks adrenal terangsang untuk mensekresi hidrokortison sehingga nantinya
dapat mempengaruhi keadaan ibu yang sedang mengandung dan dapat menimbulkan
labio palatoschizis, dengan terjadinya stress yang mengakibatkan celah yaitu:
terangsangnya hipothalamus adrenocorticotropic hormone (ACTH). Sehingga
merangsang kelenjar adrenal bagian glukokortikoid mengeluarkan hidrokortison,
sehingga akan meningkat di dalam darah yang dapat menganggu pertumbuhan.
3. Klasifikasi
Berdasarkan organ terlihat :
Celah bibir (labioschisis)
Celah gusi (gratoschisis)
Langit-langit ( palatoschisis )
Tingkat kelahiran biasa bervariasi mulai dari ringan sampai parah (celah bias sampai
hidung).
Beberapa jenis bibir sumbing yang di ketahui yaitu :
1. Unilateral Inkomplete
Apabila celah sumbing terjadi hanya di salah satu sisi bibir dan tidak memanjang
hingga ke hidung.
2. Unilateral Complete
Apabila celah sumbing terjadi di kedua sisi bibir dan memanjang hingga ke
hidung.
3. Bilateral Complete
Apabila celah sumbing terjadi di ke dua sisi bibir dan memanjang hingga ke
hidung.

Klasifikasi yang diusulkan oleh Veau dibagi dalam 4 golongan yaitu:


- Golongan I : Celah pada langit-langit lunak (gambar a).
- Golongan II : Celah pada langit-langit lunak dan keras dibelakang foramen insisivum
(gambar b).
- Golongan III : Celah pada langit-langit lunak dan keras mengenai tulang alveolar dan
bibir pada satu sisi (gambar c).
- Golongan IV : Celah pada langit-langit lunak dan keras mengenai tulang alveolar dan
bibir pada dua sisi (gambar d).
Klasifikasi dari American Cleft Association (1962) yaitu :
1. Celah langit-langit primer
a. Celah bibir : unilateral, median atau bilateral dengan derajat luas celah 1/3,
2/3 dan 3/3.
b. Celah alveolar dengan segala variasinya.
2. Celah langit-langit sekunder
c. Celah langit-langit lunak dengan variasinya.
d. Celah langit-langit keras dengan variasinya.
3. Celah mandibular
Klasifikasi celah bibir dan celah langit-langit menurut Kernahan dan Stark
(1958) yaitu:
e. Group I : Celah langit-langit primer. Dalam grup ini termasuk celah bibir, dan
kombinasi celah bibir dengan celah pada tulang alveolar. Celah terdapat
dimuka foramen insisivum.
f. Group II : Celah yang terdapat dibelakang foramen insisivum. Celah langit-
langit lunak dan keras dengan variasinya.
g. Group III : Kombinasi celah langit-langit primer (group I) dengan langit-langit
sekunder (group II)
(A) Celah bibir unilateral tidak komplit, (B) Celah bibir unilateral (C) Celah bibir bilateral dengan
celah langit-langit dan tulang alveolar, (D) Celah langit-langit. (Stoll et al. BMC Medical genetics.
2004, 154.)

4. Patofisiologi
Penyebab utama bibir sumbing karena kekurangan seng dan karena
menikah/kawin dengan saudara/kerabat. Bagi tubuh, seng sangat dibutuhkan enzim
tubuh. Walaupun yang diperlukan sedikit dalam tubuh, tetapi jika tubuh kekurangan
seng/zinc dapat menimbulkan bahaya. Sumber makanan yang mengandung seng
antara lain: daging, sayur sayuran dan air. Menikah antara kerabat atau saudara
memang menjadi pemicu munculnya penyakit generative (keturununan) yang
sebelumnya resesif. Kekurangan gizi lainnya seperti kekurangan vit B6 dan B
complek juga menjadi salah satu faktor resiko kelahiran bayi dengan bibir sumbing.
Infeksi pada janin pada usia kehamilan muda, dan salah minum obat obatan/jamu
juga bisa menyebabkan bibir sumbing.
Proses terjadinya labio palatoshcizis yaitu ketika kehamilan trimester I
dimana terjadinya gangguan karena beberapa penyakit seperti virus. Pada trimester I
terjadi proses perkembangan pembentukan berbagai organ tubuh dan pada saat itu
terjadi kegagalan dalam penyatuan atau pembentukan jaringan lunak atau tulang
selama fase embrio. Apabila terjadinya kegagalan dalam penyatuan proses nasal
medical dan maxilaris maka dapat mengalami labio shcizis (sumbing bibir) dan
proses penyatuan tersebut akan terjadi pada usia 6-8 minggu. Kemudian apabila
terjadi kegagalan penyatuan pada susunan palato selama masa kehamilan 7-12
minggu, maka dapat mengakibatkan sumbing pada palato (palato shcizis)
Cacat terbentuk pada trimester pertama kehamilan, prosesnya karena tidak
terbentuknya mesoderm pada daerah tersebut sehingga kembali juga oleh beberapa
etiologi. Prosesnya karena kegagalan fusi palatum pada garis tengah dan kegagalan
fusi dengan septum nasi.

5. Pemeriksaan Diagnostik
a. Tes pendengaran, bicara dan evaluasi.
b. Laboratorium untuk persiapan operasi; Hb, Ht , leukosit, BT, CT scan.
c. Evaluasi ortodental dan prostontal dari mulai posisi gigi dan perubahan struktur
dari orkumaxilaris.
d. Konsultasi bedah plastik, ahli anak, ahli THT, ortodentisist, spech therapi.
e. MRI
6. Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan medis
Penatalaksanaan tergantung pada kecacatan. Prioritas pertama antara lain pada
tekhnik pemberian nutrisi yang adekuat untuk mencegah komplikasi, fasilitas
pertumbuhan dan perkembangan. Penanganan dapat dilakukan dengan bedah
plastik yang bertujuan menutupi kelainan, mencegah kelainan, meningkatkan
tumbuh kembang anak.
Labio plasty dilakukan apabila sudah tercapai rules of overten yaitu:
- umur diatas 10 minggu
- BB diatas 10 ponds ( 5 kg)
- tidak ada infeksi mulut
- saluran pernafasan unutk mendapatkan bibir dan hidung yang baik
- koreksi hidung dilakukan pada operasi yang pertama.
Palato plasty dilakukan pada umur 12-18 bulan, pada usia 15 tahun dilakukan
terapi dengan koreksi-koreksi bedah plastik. Pada usia 7-8 tahun dilakukan bone
skingraft, dan koreksi dengan flap pharing. Bila terlalu awal sulit karena rongga
mulut kecil. Terlambat, proses bicara terganggu, tidak lanjutnya adalah pengaturan
diet. Diet minum susu sesuai dengan kebutuhan klien.
b. Penatalaksanaan pencegahan infeksi
- Menaati praktek pencegahan infeksi terutama kebersihan tangan serta
memakai sarung tangan.
- Memperhatikan dengan seksam proses yang telah terbukti bermanfaat
untuk dekontaminasi dan pencucian peralatan dan benda kotor,ikuti
dengan sterilisasi dan desinfeksi tingkat tinggi.
- Selalu memperhatikan teknik aseptik sewaktu melakukan tindakan yang
bersifat infasif seperti : suction endotracheal,melakukan penyuntikan
obat-obat pada akses perifer maupun vena central, pemasangan kateter
urine,dll.

7. Komplikasi
a. Masalah asupan makanan
Masalah asupan makanan merupakan masalah pertama yang terjadi pada
bayi penderita celah bibir. Adanya celah bibir memberikan kesulitan pada bayi untuk
melakukan hisapan payudara ibu atau dot. Tekanan lembut pada pipi bayi dengan
labioschisis mungkin dapat meningkatkan kemampuan hisapan oral. Keadaan
tambahan yang ditemukan adalah refleks hisap dan refleks menelan pada bayi
dengan celah bibir tidak sebaik normal, dan bayi dapat menghisap lebih banyak
udara pada saat menyusu. Cara memegang bayi dengan posisi tegak lurus mungkin
dapat membantu proses menyusui bayi dan menepuk-nepuk punggung bayi secara
berkala dapat membantu.
Bayi yang hanya menderita labioschisis atau dengan celah kecil pada
palatum biasanya dapat menyusui, namun pada bayi dengan labio
palatochisis biasanya membutuhkan penggunaan dot khusus. Dot khusus (cairan
dalam
dot ini dapat keluar dengan tenaga hisapan kecil) ini dibuat untuk bayi
dengan labio-palatoschisis dan bayi dengan masalah pemberian makan/ asupan
makanan tertentu.
b. Masalah dental
Anak yang lahir dengan celah bibir mungkin mempunyai masalah tertentu yang
berhubungan dengan kehilangan gigi, malformasi, dan malposisi dari gigi geligi pada
area dari celah bibir yang terbentuk.
c. Infeksi telinga
Anak dengan labio-palatoschisis lebih mudah untuk menderita infeksi telinga karena
terdapatnya abnormalitas perkembangan dari otot-otot yang mengontrol pembukaan
dan penutupan tuba eustachius.
d. Gangguan berbicara
Pada bayi dengan labio-palatoschisis biasanya juga memiliki abnormalitas
pada perkembangan otot-otot yang mengurus palatum mole. Saat palatum mole
tidak dapat menutup ruang/rongga nasal pada saat bicara, maka didapatkan suara
dengan kualitas nada yang lebih tinggi (hypernasal quality of 6 speech).
Meskipun telah dilakukan reparasi palatum, kemampuan otot-otot tersebut diatas
untuk menutup ruang/ rongga nasal pada saat bicara mungkin tidak dapat kembali
sepenuhnya normal. Penderita celah palatum memiliki kesulitan bicara, sebagian
karena palatum lunak cenderung pendek dan kurang dapat bergerak sehingga
selama berbicara udara keluar dari hidung. Anak mungkin mempunyai kesulitan
untuk menproduksi suara/ kata "p, b, d, t, h, k, g, s, sh, dan ch", dan terapi bicara
(speechtherapy) biasanya sangat membantu.
8. Asuhan Keperawatan
A. Pengkajian
a) Biodata pasien dan biodata penanggung jawab
b) Riwayat kesehatan masa lalu
Pasien menderita insufisiensi zat untuk tumbuh kembang organ selama masa
embrional.
c) Riwayat kesehatan sekarang
Pengaruh obat tetatologik termasuk jamu dan kontrasepsi hormonal,kecanduan
alkohol.
d) Riwayat keluarga
Anggota keluarga ada yang bibir sumbing.
e) Pemeriksaan Fisik
1 Mata
Keadaan konjungtiva
Keadaan sclera
Keadaan lensa
2 Hidung
Kemampuan penglihatankepekaan penciuman
Adanya polip/hambatan lain pada hidung, adanya pilek.
3 Mulut dan Bibir
Warna bibir
Apakah ada luka
Apakah ada kelainan
4 Leher
Keadaan vena jugularis
Apakah ada pembesaran kelenjar.
5 Telinga
Bentuk telinga
Kepekaan pendengaran
Kebersihan telinga
6 Dada
Bentuk dan irama napas
Keadaan jantung dan paru-paru
7 Abdomen
Ada kelainan atau tidak
Bentuknya supel atau tidak
8 Genitalia
Kebersihan daerah genetalia
Ada edema atau tidak
Keadaan alat genetalia
9 Ekstermitas atas dan bawah
Bentuknya normal atau tidak
Tonus otot kuat atau lemah
10 Kulit
Warna kulit
Turgor kulit
f) Pengkajian Perpola
a. Aktivitas / istirahat
Sulit mengisap Asi
Sulit menelan Asi
Bayi rewel,menangis
Tidak dapat beristirahat dengan tenang dan nyaman
b. Sirkulasi
Pucat
Turgor kulit jelek
c. Makanan / cairan
Berat badan menurun
Perut kembung
Turgor kulit jelek, kulit kering
d. Neurosensori
Adanya trauma psikologi pada orang tua
Adanya sifat kurang menerima, sensitif
e. Nyaman / nyeri
Adanya resiko tersedak
Disfungsi tuba eustachi
Adanya garis jahitan pada daerah mulut

B. Klasifikasi Data
DS : sulit mengisap Asi, sulit menelan Asi, bayi rewel, menangis, tidak dapat
beristirahat dengan tenang dan nyaman.
DO : pucat, turgor kulit jelek, bert badan menurun, perut kembung, kulit
kering, adanya trauma psikologi padaa orang tua, adanya siat kurang menerima, sensitif,
adanya esiko tersedak, disfungsi tuba eustachi, adanya garis jahitan pada daerah mulut,
adanya sumbing bibir dan sumbing palatum.
.C Analisa Data

No Symptom Etiologi Problem


Pre op Perubahan
1 DS : sulit mengisap dan menelan Asi. nutrisi kurang
DO: pucat, turgor kulit jelek, kulit kering, perut Defek fisik dari kebutuhan
kembung,BB menurun tubuh
2 DS: - Bayi dengan defek Resiko tinggi
DO: adanya trauma psikologi pada orang tua, fisisk yang sangat perubahan
adanya sifat kurang menerima, sensitif, terlihat menjadi orang
adanya sumbing pada bibir dan palatum tua
3 DS: bayi rewel, menangis, tidak dapat beristirahat Prosedur Resiko tinggi
dengan tenang dan nyaman, sulit mengisao pembedahan, trauma sisi
dan menelan Asi. disfungsi menelan pembedan
DO: adanya garis jahitan pada daerah mulut
Post op Gangguan rasa
4 DS: bayi rewel,menangis nyaman : nyeri
DO: adanya garis jahitan pada daerah mulut Insisi bedah

5 DS : - Terpaparnya Resti infeksi


DO : adanya luka operasi tertutup kasa lingkungan dan
prosedur invasi

PRIORITAS MASALAH

PRE OP : - Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh


- resti perubahan menjadi orang tua
- resti trauma sisi
pembedahan
POST OP : - gangguan rasa nyaman nyeri
- resti infeksi

D. DIAGNOSA KEPERAWATAN
PRE OP
a. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d defek fisik yang di tandai
dengan:
DS : Sulit mengisap dan menelan Asi
DO : Pucat, turgor kulit jelek, kulit kering,perut kembung, BB menurun
b. Resiko tinggi perubahan menjadi orang tua b/d bayi dengan defek fisik yang
sangat terlihat yang di tandai dengan :
DS : -
DO : Adanya trauma psikologipada orang tua, adanya sifat kurang menerima,
sensitif, adanya sumbing pada bibir dan palatum
c. Resiko tinggi trauma sisi pembedahan b/d prosedur pembedahan, disfungsi
menelan, yang di tandai dengan :
DS : Bayi rewel, menangis, tidak dapat beristirahat dengan tenang dan nyaman,
sulit mengisap dan menelan Asi.
DO : adanya garis jahitan pada daerah mulut
POST OP
d. gangguan rasa nyaman nyeri b/d insisi bedah yang di tandai dengan :
DS : Bayi rewel, menangis
DO : Adanya garis jahitan pada daerah mulut
e. resti infeksi b/d terpaparnya linkungan dan prosedur invasi, yang di tandai
dengan :
DS : -
DO : Adanya luka operasi tertutup kasa
N Diagnosa Rencana Keperawatan
o Keperawatan Tujuan Intervensi Rasional
Perubahan Setelah 1. Bantu ibu dalam menyusui, 1. Membantu ibu dalam
nutrisi kurang mendapatkan bila ini adalah keinginan memberikan Asi dan
1
dari kebutuhan tindakan ibu. Posisikan dan posisi puting yang stabil
tubah b/d defek keperawatan di stabilkan puting susu membentuk kerja lidah
fisik yang di harapkan dengan baik di dalam dalam pemerasan susu.
tandai : perubahan nutrisi rongga mulut. 2. Karena pengisapan di
DS: Sulit dapat teratasi 2. Bantu menstimulasi refleks perlukan untuk
mengisap dengan kriteria : ejeksi Asi secara manual / menstimulasi susu yang
dan tidak pucat dengan pompa payudara pada awalnya mungkin
menelan turgor kulit sebelum menyusui tidak ada
Asi membaik 3. Gunakan alat makan 3. Membantu kesulitan
DO: Pucat, kulit lembab, khusus, bila menggunakan makan bayi,
turgor kulit alat tanpa puting. (dot, mempermudah menelan
perut tidak
jelek,kulit spuit asepto) letakan dan mencegah aspirasi
kembung
kering, formula di belakang lidah 4. Mempermudah dalam
bayi
perut 4. Melatih ibu untuk pemberian Asi
menunjukan
kembung, memberikan Asi yang baik 5. Untuk mencegah
penambahan
BB bagi bayinya terjadinya
berat badan
menurun 5. Menganjurkan ibu untuk mikroorganisme yang
yang tepat.
tetap menjaga kebersihan, masuk
apabila di pulangkan 6. Untuk mendapatkan
6. kolborasi dengan ahli gizi. nutrisi yang seimbang
2 Cemas / resiko Setelah 1. Berikan kesempatan untuk 1. Mendorong koping
tinggi mendapatkan mengekspresikan keluarga
perubahan tindakan perasaan 2. Meredam sikap sensitif
menjadi orang keperawatan di 2. tunjukan sikap penerimaan orangtua terhadap sikap
tua b/d bayi harapkan resti terhadap bayi dan sensitif orang lain
dengan defek perubahan keluarga 3. Mendorong penerimaan
fisik yang menjadi orang tua 3. tunjukan dengan perilaku terhadap bayi
sangat terlihat, tidak terjadi bahwa anak adalah 4. Untuk mendorong
yang di tandai dengan kriteria : manusia yang berharga adanya pengharapan
dengan : pasien dan 4. gambarkan hasil perbaikan 5. Membantu orangtua
DS : - keluarga bedah terhadap mendiskusikan
DO : Adanya menunjukan defek,gunakan foto hasil kekhawatirannya,
trauma penerimaan yang memuaskan berbagi pengalaman
psikologi terhadap bayi 5. anjurkan pertemuan swehingga timbulnya
pada keluarga dengan orang tua lain sifat menerima terhadap
orang tua, mendiskusikan yang mempunyai bayi
adanya perasaan dan pengalaman serupa dan 6. Untuk mencegah
sifat kekhawatiran dapat menghadapinya terjadinya defek pada
kurang mengenai dengan baik. bayi
menerima defek anak, 6. menganjurkan orangtua
, sensitif, perbaikannya untuk selalu menjaga
adanya dan proses kesehatan bayinya
sumbing masa depan
pada bibir
dan
palatum
3. Resiko tinggi Setelah 1. Beri posisi leher yang 1. Mencegah trauma pada
trauma sisi mendapatkan miring atau duduk sisi operasi
pembedahan tindakan 2. Pertahankan alat 2. Melindungi garis jahitan
b/d prosedur keperawatan di pelindung bibir. Gunakan dan meminimalkan resiko
pembedahan, harapkan trauma teknik pemberian makan trauma.
disfungsi sisi pembedahan nontraumatik. 3. Mencegahnya agr tidak
menelan, yang tidak terjadi 3. Gunakan paket restrain berulang dan menggaruk
di tandai dengan dengan kriteria : pada bayi wajahnya
: bayi tidak 4. Hindarkan menempatkan 4. Mencegah trauma pada
DS : Bayi rewel, rewel dan objek di dalam mulut sisi operasi
menangis, menangis setelah perbaikan kateter 5. Menangis dapat
tidak Bayi dapat mengisap. Spatel lidah menyebabkan tegangan
dapat beristirahat sedalam dot atau pendek pada jahitan
beristirah dengan tenang kecil. 6. Mencegah terjadinya
at dengan dan nyaman, 5. Jaga agar bayi tidak infeksi dan inflamasi
tenang dapat menelan menangis dengan jelas yang mempengaruhi
dan Asi denagan dan terus menerus penyembuhan
nyaman, baik. 6. Bersihkan garis jahitan 7. Meminimalkan terjadinya
sulit dengan perlahan setelah komplikasi setelah
mengisap memberi makan dan jika pulang.
dan perlu sesuai instruksi
menelan dokter
Asi. 7. Ajar tentang pembersihan
DO : adanya dan prosedur restrain
garis khususnya bila bila bayi
jahitan akan di pulangkan
pada sebelum jahitan di lepas.
daerah
mulut
4. gangguan rasa Setelah Observasi 1. Dapat menidentifikasikan
nyaman nyeri mendapatkan 1. Kaji tanda-tanda vital, rasa sakit akut dan
b/d insisi bedah tindakan perhatikan tackikardi dan ketidak nyamanan
yang di tandai keperawatan di peningkatan pernapasan. 2. Ketidak nyamanan
dengan : harapkan 2. Kaji penyebab mungkin di sebabkan
DS : Bayi masalah nyeri ketidaknyamanan yang oleh adanya proses
rewel dan dapat terkontrol mungkin selain dari inflamasi
menangis dengan kriteria : prosedur operasi 3. Membantu mengetahui
DO : Adanya Bayi tidak 3. Kaji skala nyeri, catat derajat ketidak nyamana
garis jahitan rewel lokasi, intensitas nyeri dan keefektifan
pada Tidak Mandiri analgesik sehingga
daerah menangis 4. Anjurkan keluarga untuk memudah dalam
mulut Bayi melakukan masase ringan memberi tindakan

mengalami Penkes 4. Mengurangi rasa nyeri

tingkat 5. Jelaskan orangtua atau 5. Memberi rasa aman dan

kenyamana keluarga untuk terlibat nyaman

yang optimal dalam perawatan bayi 6. Analgesik menelan SSP


6. Kolaborasi, berikan yang memberi respon
Bayi tampak
analgesik / sedatif sesuai pada observasi nyeri
nyaman dan
instruksi.
istirahat
dengan
tenang.
Resti infeksi b/d Setelah Observasi 1. Menentukan intervensi
terpaparnya mendapatkan 1. Kaji tanda-tanda vital. selanjutnya.
lingkungan dan tindakan 2. Kaji tanda-tanda infeksi 2. Membantu tindakan yang
prosedur invasi keperawatan Mandiri tepat
yang di tandai diharapkan 3. Jaga area kesterilan luka 3. Mencegah dan
dengan : masalah resti operasi mengurangi transmisi
DS : - infeksi tidak 4. Lakukan aseptik dan kuman
DO : Adanya terjadi dengan desinfeksidalam 4. Mencegah kontaminasi
luka kriteria : perawatan luka patogen
operasi - luka sembuh 5. Cuci tangan sebelum dan 5. Melindungi dari sumber
tertutup dan tidak sesudah melakukan infeksi, mencegah infeksi
kasa tertutup kasa tindakan perawatan luka. silang
Penkes 6. Mengurangi kontaminasi
6. Menjelaskan kepada pasien dari agen
keluarga untuk infeksius
menciptakan lingkungan 7. Menjaga kesterilan luka
yang bersih dan bebas 8. Membantu mencegah
dari kontaminasi dari luar infeksi.
7. Menjelaskan kepada
keluarga untuk menjaga
kebersihan luka
Kolaborasi
8. Kolaborasi dengan medis
untuk pemberian obat
yang sesuai
(antibiotik )