Anda di halaman 1dari 17

KESULITAN KEUANGAN

(FINANCIAL DISTRESS)
Diajukan untuk memenuhi salah satu mata kuliah
Manajemen Keuangan Lanjutan

Disusun Oleh Kelompok 2:


M. Nurrahman Nirwan
Naila Irfania
Widya Septiana

PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI


UNIVERSITAS WIDYATAMA
BANDUNG
2017
KESULITAN KEUANGAN (FINANCIAL DISTRESS)

PENDAHULUAN
Dalam teori manajemen keuangan, financial distress merupakan situasi dimana arus kas
hasil operasi perusahaan tidak cukup untuk memenuhi kewajiban perusahaan. Semakin besar
hutang akan menyebabkan semakin besar risiko yang dihadapi perusahaan. Risiko tersebut antara
lain adalah kesulitan keuangan, kegagalan membayar bunga dan pokok pinjaman, sampai
kebangkrutan. Menurut Platt dan Platt (2002), financial distress merupakan suatu kondisi dimana
keuangan perusahaan dalam keadaan tidak sehat atau mengalami krisis. Financial Distress
didefinisikan sebagai suatu kondisi dimana perusahaan mengalami kesulitan dalam memenuhi
kewajibannya terhadap kreditur. Jika financial distress tidak dapat diatasi maka hal tersebut
dapat memicu terjadinya kebangkrutan.
Financial distress dapat dimulai dari kesulitan likuiditas (jangka pendek) sebagai indikasi
financial distress yang paling ringan, sampai ke pernyataan kebangkrutan yang merupakan
financial distress yang paling berat (Triwahyuningtias, 2012). Dengan mengetahui kondisi
financial distress diharapkan perusahaan dapat melakukan tindakan-tindakan untuk
mengantisipasi kondisi yang mengarah pada kebangkrutan sedini mungkin.

APAKAH ITU FINANCIAL DISTRESS?


Para ahli mengemukakan beberapa definisi mengenai financial distress, diantaranya:
Wruck (1990) financial distress is a situation where firms operating cash flows are not
sufficient to satisfy current obligations (such as trade credits or interest expense) and the
firm is forced to take corrective action.
Blacks Law Dictionary inability to pay ones debt lack of means of paying ones debts.
Such a condition of a womans or (mans) assets and liabilities that the former made
immediately available would be insufficient to discharge the latter.
Definisi-definisi ini melihat financial distress pada ketidakmampuan membayar utang
secara umum, baik jangka pendek dan jangka panjang, dan juga menyoroti financial distress dari
sisi ketidakmampuan aset menutupi liabilitas.
Secara tersirat terdapat du cara pandang mengenai financial distress, yaitu stocks dan flows
yang dugambarkan seperti dibawah ini:

Dari gambar diatas dapat disimpulkan bahwa cara pandang stocks menekankan pada
adanya net worth (kekayaan bersih) perusahaan yang negatif.

Dari gambar diatas dapat disimpulkan bahwa cara pandang flows melihat pada
ketidakmampuan perusahaan membayar utang jangka pendek maupun jangka panjang.
APA YANG TERJADI KETIKA PERUSAHAAN MENGALAMI FINANCIAL
DISTRESS?
Dibawah ini merupakan beberapa hal yang mungkin dilakukan oleh perusahaan yang
mengalami financial distress, antara lain:
1. Menjual aset-aset utamanya
2. Merger dengan perusahaan lain
3. Mengurangi belanja modal untuk penelitian dan pengembangan
4. Menerbitkan saham atau obligasi baru
5. Negoisasi dengan bank atau kreditor lainnya
6. Mengkonversi utang menjadi ekuitas
7. Mengajukan permohonan kepailitan

Strategi ketika terjadi financial distress:


1. Langkah nomor 1, 2, dan 3 merupakan langkah-langkah yang terkait dengan asset perusahaan
atau disebut dengan asset restructuring.
2. Langkah nomor 4, 5, 6 dan 7 merupakan langkah terkait sisi kanan laporan posisi keuangan
perusahaan (sisi pendanaan) dan merupakah contoh financial restructuring. Perusahaan yang
mengalami financial distress dapat sekaligus melakukan assets restructuring dan financial
restructuring.
3. Manfaat melaksanakan asset restructuring
a. Perusahaan menjual asset-aset yang tidak terkait dengan bisnis utama perusahaan,
misalnya anak perusahaan atau divisi yang tidak berkontribusi kepada keuntungan
perusahaan.
b. Hasil dari asset restructuring adalah perusahaan memiliki struktur organisasi baru yang
lebih ramping dan dapat fokus pada strategi baru yang sesuai dengan core business
perusahaan.

KEBANGKRUTAN, LIKUIDASI, DAN REORGANISASI


Perusahaan yang tidak memperoleh atau memilih untuk tidak membuat kesepakatan terkait
dengan pembayaran utangnya kepada kreditor, memiliki dua pilihan, yaitu melakukan likuidasi
atau reorganisasi.
Likuidasi berarti menghentikan kegiatan operasi perusahaan (going concern). Kegiatan yang
dilakukan dalam likuidasi adalah perusahaan menjual aset-aset yang dimiliki. Hasil dari
penjualan tersebut kemudian dibagikan kepada kreditur dan sisanya (jika ada) kepada
pemegang saham perusahaan.
Reorganisasi berarti pilihan untuk mempertahankan kelangsungan usaha (going concern)
perusahaan, di antaranya dengan menerbitkan efek baru untuk menggantikan efek lama.
Likuidasi dan reorganisasi dapat dilakukan melalui mekanisme kebangkrutan (bankruptcy).
Kebangkrutan (bankruptcy) merupakan sebuah upaya hukum yang permohonannya dapat
diajukan sendiri (voluntary) oleh perusahaan atau dapat diajukan oleh kreditor (involuntary).

LIKUIDASI
Langkah-langkah straight liquidation yang tercantum dalam Chapter 7 of the Bankruptcy
Reform Act of 1978 mencakup:
1) Permohonan diajukan kepada Pengadilan Federal. Permohonan bisa diajukan sendiri oleh
perusahaan (voluntary) maupun oleh kreditor (involuntary bankruptcy). Kurator (bankruptcy
trustee) ditunjuk oleh kreditor untuk mengambilalih asset debitur. Kurator bertugas
melakukan likuidasi asset. Setelah asset dilikuidasi, dan dikurangi pembayaran biaya-biaya
administrasi, hasil likuidasi dibagikan kepada kreditor. Jika asset masih tersisa setelah
digunakan untuk membayar biaya-biaya dan pembayaran kepada kreditor, maka sisanya
dibagikan kepada pemegang saham.
2) Setelah perusahaan ditetapkan bangkrut, maka proses likuidasi dimulai. Pembagian hasil
likuidasi dilakukan berdasarkan urutan prioritas berikut:
a. Beban administrasi terkait proses likuidasi perusahaan yang bangkrut
b. Klaim-klaim tanpa jaminan (unsecured claims) yang terjadi setelah pengajuan
permohonan involuntary bankruptcy
c. Upah, gaji, dan komisi
d. Iuran kepada dana pensiun yang terjadi dalam 180 hari sebelum tanggal pengajuan
permohonan kebangkrutan
e. Klaim dari konsumen
f. Klaim pajak
g. Klaim kreditor baik dengan atau tanpa jaminan.
h. Klaim dari pemegang saham preferen
i. Klaim dari pemegang saham biasa
Urutan prioritas dalam likuidasi disebut absolute priority rule (APR).

REORGANISASI
Langkah-langkah reorganisasi yang diatur dalam Chapter 11 of the Federal Bankruptcy
Reform Act of 1978 adalah sebagai berikut:
1) Permohonan dapat diajukan oleh perusahaan (voluntary petition) atau oleh 3 atau lebih
kreditor (bisa diajukan 1 kreditor jika jumlah kreditor kurang dari 12). Permohonan
kepailitan oleh kreditor (involuntary petition) harus disertai keterangan bahwa perusahaan
tidak membayar utangnya.
2) Waktu untuk menyampaikan rencana reorganisasi adalah 120 hari. Setelah diajukan,
perusahaan diberi waktu 180 hari untuk meminta persetujuan terhadap rencana tersebut.
3) Kreditor dan pemegang saham dibagi ke dalam kelompok-kelompok. Sekelompok kreditor
dianggap menerima rencana jika 2/3 dari kelompok (berdasarkan jumlah kredit) dan dari
kelompok (berdasarkan jumlah kreditor) menyetujui rencana reorganisasi.
4) Setelah disetujui kreditor, rencana reorganisasi disahkan oleh pengadilan.
5) Pembayaran dalam bentuk kas, aset property, dan efek dilakukan kepada kreditor dan
pemegang saham. Rencana reorganisasi bisa juga mencakup penerbitan efek baru.

MANA YANG LEBIH BAIK: PRIVATE WORKOUT ATAU KEPAILITAN?


Perusahaan yang mengalami financial distress memiliki dua pilihan untuk formal
bankruptcy atau private workout. Kedua pilihan tersebut sama-sama menerbitkan efek baru
untuk ditukarkan dengan efek lama. Perbandingan private workouts dengan formal bankruptcy:

1. Berdasarkan data historis, setengah dari financial restructurings dilakukan dengan skema
private workouts, walaupun akhir-akhir ini formal bankruptcies mulai banyak digunakan.
2. Perusahaan yang mampu bangkit dari financial distress dengan menggunakan skema private
workouts mengalami kenaikan harga saham yang jauh lebih tinggi daripada perusahaan yang
bangkit dari financial distress dengan skema formal bankruptcies.
3. Biaya langsung (direct costs) skema private workouts jauh lebih murah daripada biaya
formal bankruptcies.
4. Top management biasanya sama-sama mengalami penurunan gaji atau bahkan kehilangan
jabatan baik dalam private workouts maupun formal bankruptcies.

MENGAPA ADA PERUSAHAAN YANG MEMILIH UNTUK MENGGUNAKAN


FORMAL BANKRUPTCIES?
Melihat hal-hal tersebut, kemudian timbul pertanyaan, mengapa ada perusahaan yang
memilih untuk menggunakan formal bankruptcies?
1) Marginal Firm
Bagi perusahaan pada umumnya, formal bankruptcy biasanya membutuhkan biaya yang
lebih besar, tetapi untuk sebagian perusahaan yang lain biaya untuk formal bankruptcy justru
lebih kecil. Dengan menggunakan skema formal bankruptcy, perusahaan dapat menerbitkan
surat utang debtor in possession (DIP). Bagi perusahaan yang membutuhkan injeksi kas
dalam jangka pendek, surat utang DIP merupakan alternatif yang cukup menarik. Sebab
dengan mekanisme tersebut, perusahaan memperoleh sejumlah keuntungan pajak.
Perusahaan tidak kehilangan kompensasi kerugian karena mengajukan kebangkrutan. Selain
itu, perlakuan pajak untuk pembatalan utang juga lebih menguntungkan bagi perusahaan
yang mengajukan permohonan kebangkrutan.

2) Holdouts
Sebagian proses formal bankruptcies mengabaikan absolute priority rule, sehingga
memberikan keuntungan bagi pemegang saham. Pemegang saham yang tadinya berada pada
prioritas terakhir bisa memperoleh lebih banyak dari yang seharusnya. Oleh karena itu,
pemegang saham akan mendorong perusahaan untuk menggunakan mekanisme formal
bankruptcies saja.
3) Complexity
Perusahaan yang memiliki struktur modal yang kompleks biasanya akan mengalami
kesulitan untuk melakukan private workout. Jenis utang yang bermacam-macam
membuat negosiasi dengan pihak kreditor menjadi semakin rumit.

4) Lack of Information
Pada saat perusahaan mengalami kekurangan kas (cash flow shortfall), tidak dapat
diprediksi apakah hal ini hanya sementara atau akan terus berlanjut. Jika kekurangan kas
terjadi terus menerus, maka kreditor akan mendorong agar dilakukan proses formal
bankruptcy. Akan tetapi, jika kekurangan kas terjadi sementara, maka formal bankruptcy
belum diperlukan. Apabila perusahaan mengetahui informasi tersebut dengan akurat,
maka perusahaan dapat menentukan alternatif mana yang sebetulnya lebih murah
biayanya bagi perusahaan.

PREPACKAGED BANKRUPTCY
Prepackaged bankruptcy merupakan kombinasi antara private workout dengan legal
bankruptcy (perusahaan yang telah diajukan ke pengadilan untuk dinyatakan bangkrut menurut
hukum kebangkrutan atau pailit). Sebelum perusahaan mengajukan permohonan kebangkrutan,
perusahaan terlebih dahulu melakukan pendekatan dengan kreditor serta membawa rencana
reorganisasi perusahaan. Kemudian perusahaan dan kreditor sekaligus menyiapkan dokumen
adminstrasi yang diperlukan sebelum mengajukan kebangkrutan. Permohonan disebut
prepackage jika pada perusahaan mengajukan permohonan ke pengadilan, namun pada saat yang
sama, juga sudah melampirkan rencana reorganisasi lengkap dengan persetujuan dari kreditor.

PREDIKSI KEBANGKRUTAN PERUSAHAAN: MODEL Z-SCORE


Banyak calon kreditor menggunakan credit scoring model untuk mengukur kelayakan
kredit (creditworthiness) dari calon debitor. Hal ini bertujuan agar calon kreditor dapat
mengelompokkan calon debitor berdasarkan risiko kreditnya. Salah satu hal yang ingin diketahui
adalah seberapa besar kemungkinan perusahaan calon debitor akan mengalami kebangkrutan.
Edward Altman menciptakan model dengan menggunakan sejumlah rasio dalam laporan
keuangan dan menganalisis beberapa diskriminan untuk memprediksi kebangkrutan perusahaan
manufaktur yang sahamnya diperdagangkan di bursa.
Model tersebut adalah sebagai berikut:
Market Value Equity Accumulate d Retain Earnings
0,6 1,4
Book Value Equity Total Assets

EBIT Net Workin g Capital Sales


Z 3,3 1,2 1,0
Total Assets Total Assets Total Assets

Dimana:
Z adalah indeks kebangkrutan (index of bankruptcy)
Jika Z-score kurang dari 2,675, hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan memiliki
kemungkinan 95% untuk bangkrut dalam waktu 1 tahun.
Akan tetapi, hasil Altman Z-score menunjukkan bahwa skor 1,81 sampai 2,99 merupakan
grey area (tidak dapat ditentukan apakah perusahaan mengalami kepailitan atau tidak). Dalam
penerapannya, kebangkrutan diprediksi akan terjadi jika Z 1,81 dan perusahaan diprediksi
tidak bangrut jika Z 2,99.
Model Z-Score ini hanya dapat diterapkan pada perusahaan manufaktur yang sahamnya
diperdagangkan di bursa.
Altman kemudian merevisi Model Z-Score ini agar dapat diterapkan untuk perusahaan
non-publik dan bukan perusahaan manufaktur. Model tersebut adalah sebagai berikut:

EBIT Book Value Of Equity


1,05 6,72
Total Assets Total Liabilitie s

Net Workin g Capital Accumulate d Retain Earnings


Z 6,56 3,26
Total Assets Total Assets
Dimana jika:
Z < 1,23 adalah indikasi perusahaan diprediksi akan bangkrut.

1,23 Z 2,90 adalah grey area (tidak dapat ditentukan apakah perusahaan

mengalami kepailitan atau tidak).


Z > 2,90 adalah indikasi perusahaan tidak bangkrut.
Kasus: The Wm. Wringley Jr. Company: Struktur Modal, Valuasi dan Biaya Modal

Pendahuluan
Suku bunga berada pada titik terendah dalam 50 tahun. Namun penggunaan pembiayaan
hutang oleh perusahaan menurun ini terjadi karena mengalami resesi. Dan beberapa deleveraging
disebabkan perubahan strategis dalam industri, seperti inovasi teknologi atau perkembangan lain
yang meningkatkan risiko bisnis. Tapi deleveraging perusahaan tampaknya sudah terlalu jauh.
CEO kehilangan kesempatan berharga untuk menciptakan nilai bagi pemegang saham. Dalam
kondisi ekstrem.
Wrigley memiliki pangsa pasar terkemuka dalam bisnis teknologi murah yang stabil dan
pada saat kasus ini, Wrigley telah secara konservatif dibiayai - tidak membawa utang. Jika kita
bisa membujuk dewan Wrigley untuk melakukan rekapitalisasi leveraged melalui dividen atau
pembelian kembali saham besar, kita bisa menciptakan nilai baru yang signifikan.

Latar Belakang
Blanka Dobrynin, mengelola mitra dari Aurora Borealis LLC, meminta Susan Chandler,
perusahaan asosiasi, untuk memulai penelitian bagi Penanaman Modal di Wrigley. Aurora
Borealis LLC adalah lindung nilai investor aktif sekitar $ 3 miliar, di bawah manajemen dan
strategi investasi yang difokuskan pada perusahaan yang bermasalah, arbitrase merger,
perubahan transaksi kontrol, dan rekapitulasi. Dobrynin sedang mencoba untuk membeli saham
besar di perusahaan dan dengan demikian memaksa manajemen untuk menata kembali struktur
modal dengan meningkatkan utang dan menggunakannya untuk membayar dividen atau
pembelian kembali saham.
Demikian pula, Dobrynin memainkan peran pengusaha keuangan, mengeksploitasi
ketidakefisienan dalam penilaian investasi dan keuangan perusahaan. Dobrynin berusaha untuk
mendapatkan keuntungan dengan merestrukturisasi perusahaan yang memiliki banyak uang tunai
dan kapasitas utang yang tidak terpakai dibandingkan dengan risiko yang rendah yang dihadapi
oleh perusahaan. Dengan menekan direksi dan manajer untuk mengadopsi kebijakan yang lebih
efisien, Dobrynin berharap meraup keuntungan investasi.
Pada bulan Juni 2002, Dobrynin sedang mempertimbangkan keuntungan dilakukan dari
peningkatan kapitalisasi utang Wm. Wrigley Jr Company. Chandler mencatat bahwa nilai pasar
Wrigley murah dari saham biasa sekitar $ 13,1 miliar. Berdasarkan kondisi pasar modal saat ini,
Dobrynin dan Chandler memutuskan untuk fokus pada asumsi bahwa Wrigley bisa meminjam $
3 bilion pada peringkat kredit antara BB dan B untuk menghasilkan 13%.

Profil perusahaan
Wrigley adalah produsen terbesar di dunia dan distributor permen karet. Industri
perusahaan, makanan bermerek dan permen, itu sangat kompetitif dan didominasi oleh pemain
besar . Mereka yang Cadbury Schweppes plc, Hershey Foods Corp, Kraft Foods Inc, Tootsie
Roll Industries, Inc, dan Wrigley sendiri. (Exhibit 1)
Pendapatan yang tumbuh 1999-2001 pada tingkat tahunan gabungan sebesar 10% dari $
1,33 sampai $ 1,61 pada EPS bersih saham biasa dan laba tumbuh 9% per tahun dari $ 308.183
sampai $ 362.986 dari laba bersih. (Exhibit2). Seperti telah disampaikan di atas, Wrigley telah
secara konservatif didanai. Pada akhir tahun 2001, ia memiliki total aset sebesar $ 1.765.648 dan
tidak ada utang. (Exhibit 3) Harga saham Wrigley telah secara signifikan mengungguli S & P 500
Indeks dan berjalan sedikit lebih cepat dari indeks industri.

Hasil Penelitian Chandler


Estimasi Pengaruh dari Rekapitalisasi Leveraged
Wrigley akan diusulkan untuk meminjam $ 3 bilion dan menggunakannya baik untuk
membayar dividen yang sejenis atau untuk membeli kembali nilai saham yang sejenis.
Tindakan yang dapat mempengaruhi nilai saham perusahaan, biaya modal, cakupan utang,
earning per share (EPS), dan pemungutan suara pengendalian. Oleh karena itu perlu untuk
mengevaluasi efek dari rekapitalisasi pada bidang-bidang. Data Keuangan pada Wrigley dan
perusahaan sejenis disajikan. (Exhibit 5)
Evaluasi menurut Chandler, yaitu
1. Dampak terhadap nilai saham
Pengaruh leverage dapat dimodelkan dengan menggunakan rumus PV yang disesuaikan, yang
dihipotesiskan bahwa utang meningkatkan nilai perusahaan dengan cara melindungi arus kas
dari pajak. Dengan demikian, PV dari utang pelindung pajak dapat ditambahkan ke nilai
perusahaan tanpa leverage untuk menghasilkan nilai perusahaan dengan leverage. Tarif pajak
marjinal diajukan adalah 40% yang mencerminkan jumlah dari federal, negara bagian, dan
pajak lokal.
2. Dampak terhadap Penilaian Utang
Setelah asumsi $ 3 miliar utang, apa yang akan menjadi peringkat utang untuk Wrigley dan
apakah perusahaan dapat menutupi pembayaran bunga yang dihasilkan?
Asumsi bahwa Wrigley akan meminjam rating diantara BB dan B. Apakah peringkat BB / B
mungkin? Informasi tentang rasio keuangan rata-rata terkait dengan kategori peringkat utang
yang berbeda disajikan. (Exhibit 6). Biaya pajak sebelumnya Wrigley (Rd) akan menjadi
sekitar 13%. Asumsi terhadap informasi pasar modal yang diberikan dalam Exhibit 7.
3. Dampak terhadap Biaya Modal
Nilai maksimum dari perusahaan dicapai ketika biaya rata-rata tertimbang modal (WACC)
diminimalkan. Mengestimasi biaya ekuitas (KE atau rs) dan WACC mungkin apabila Wrigley
mengejar hal ini untuk mengubah struktur modal hal ini. Biaya diproyeksikan akan tergantung
pada penilaian Chandler tentang peringkat utang Wrigley setelah rekapitulasi dan pada tingkat
pasar modal saat ini. (Exhibit 7). KE atau rs dapat diperkirakan dengan menggunakan capital
asset pricing model (CAPM). Aurora Borealis digunakan untuk premi risiko pasar ekuitas
(RPM) sebesar 7,0%. Wrigley juga perlu disampaikan untuk mencerminkan rekapitalisasi
proyek.
4. Dampak terhadap Laba per Saham
Mengestimasi efek yang diharapkan pada EPS yang akan terjadi pada berbagai tingkat
pendapatan operasional (EBIT) dengan perubahan leverage. Awal dari analisis EBIT / EPS
disajikan dalam Exhibit 8.
5. Dampak terhadap Pengendalian Pemungutan Suara Pengendalian
Wrigley memiliki 232.441.000 saham yang masih beredar. Sebuah pembelian kembali saham
akan mengubah jumlah. Keluarga mereka yang dikendalikan 21% dari saham biasa yang
beredar dan 58% dari Kelas B saham biasa, yang memiliki hak suara lebih unggul dari saham
biasa. Dengan asumsi keluarga mereka tidak menjual saham apapun, bagaimana dengan
pembelian kembali saham alternatif apakah mempengaruhi posisi pengendalian hak suara
keluarga tersebut di perusahaan?

6. Kesimpulan
Mudah untuk Chandler untuk menjalankan angka Perusahaan Wrigley, tetapi sulit untuk
menggambar wawasan yang menguntungkan.

Pernyataan Masalah
Dalam hal ini kita sepakat bahwa masalah yang harus diselesaikan adalah sebagai berikut:
1. Perkirakan potensi perubahan nilai dari re-leveraging Wrigley menggunakan analisis nilai
sekarang disesuaikan.
2. Menilai dampak pada WACC, EPS, peringkat utang perusahaan, dan pengendalian suara di
Wrigley Family
3. Pertimbangkan manfaat dividen atau pembelian kembali saham sebagai cara mengembalikan
kas kepada pemegang saham

Analisis
Wrigley akan diusulkan untuk meminjam $ 3 bilion dan menggunakannya baik untuk
membayar dividen yang sejenis atau untuk membeli kembali nilai saham yang sama.
Rekapitalisasi berdasarkan dividen akan berpengaruh pada jumlah saham yang beredar.
Tapi dengan pembelian kembali (buy back), jumlah saham akan berubah secara material. Jika
kita menyesuaikan harga saham saat ini (P0) hanya untuk kami memperkirakan sebaagai manfaat
pajak, harga pembelian kembali akan $ 61,53 berdasarkan perhitungan sebagai berikut: (Exhibit
5)`

Post Pre The PV of Debt


= +
Recapitalization Recapitalization Tax Shield per
Equity Value of
Equity value of share
Levered Firm
the unlevered
firm
$ 61,53 / share = $ 56,37 + 40 % x $ 3 billion

= $ 56,37 / share + $1,200 billion or


$1,200 b : 232,44
m
$ 5,16 / share
Wrigley saat ini memiliki 232,44 juta saham yang beredar. Ini direncanakan bahwa $ 3
bilion akan digunakan untuk membayar dividen yang sejenis atau untuk membeli kembali saham
dengan perhitungan:
$ 3 bilion / $ 61,53 = 48,757 juta saham
232.440.000 - 48.756.704 = 183.683.296 saham yang beredar
Pada saat itu harga 48,757 juta lembar saham akan dibeli kembali, meninggalkan 183,68
juta saham outstandin.
1. Pengaruh rekapitalisasi pada WACC
Sebelum rekapitalisasi, Wrigley tidak memiliki utang, sehingga struktur modal adalah100%
ekuitas , dan pada titik ini WACC = rs. Biaya ekuitas (rs) dapat diperkirakan dengan
menggunakan capital asset pricing model (CAPM) yaitu:
rs = RRF + (RPM)
Aurora Borealis digunakan untuk ekuitas premi risiko pasar (RPM) sebesar 7,0% Kewajiban
US Treasury selama 20 tahun telah menghasilkan bisa diasumsikan sebagai risk free rate
(RRF) dari 5,65% (Exhibit 7), saat Wrigley atau u dari 0,75 (Exhibit 5)
rs = 5,65% + (7%) 0,75
rs = 10,9% = WACC pre rekapitalisasi
Setelah rekapitalisasi, peningkatan leverage akan mempengaruhi WACC Wrigley setidaknya
dalam 3 cara:

a. Tingkat Utang
Tingkat utang tanpa leverage akan berubah dari AAA (konservatif utang) ke BB/B
peringkat mencerminkan risiko yang lebih tinggi. Dari Exhibit 7, beralih ke hasil menurut
peringkat kredit atas hutang perusahaan selama 10 tahun., perusahaan dapat interpolasi
antara BB (12,753%) dan B (14.663%) untuk mendapatkan biaya utang. Dobrynin, dalam
hal ini, dipilih biaya 13%.
b. Beta
Beta Suatu saham adalah ukuran yang relevan dari risiko bagi investor diversifikasi. Baik
secara teoritis maupun empiris, bahwa kenaikan beta dengan financial leverage. Oleh
karena itu, Wrigley juga perlu disampaikan untuk mencerminkan rekapitalisasi proyek.
Relevering untuk mencerminkan bauran baru modal dari penambahan $ 3 miliar hutang.
Robert Hamada mengembangkan model persamaan berikut untuk menentukan pengaruh
financial leverage terhadap :
= u[1+(1-T)(D/S)]
= 0,75[1+(1-40%)(3.000bilion/(61,53x183,68juta)]
= 0,87
Sebuah leverage tidak banyak perubahan. Karena pertama, dari Exhibit 5, nilai pasar
ekuitas Wrigley adalah begitu besar ($ 13,103 Milyar) sehingga $ 3 milyar lebih dalam
utang tidak relatif sedikit untuk mengubah rasio utang / ekuitas. Kedua, rumus leverage
adalah model linier yang menyumbang pelindung pajak utang, tapi bukan biaya kesukaran
keuangan . A leverage dan sebaliknya dengan asumsi risiko yang sama bebas tingkat dan
ekuitas premi risiko pasar akan menghasilkan perkiraan biaya ekuitas untuk Wrigley
sebagai berikut:
rs = RRF+(RPM)
rs = 5,65%+(7%)0,87
rs = 11,7%
Biaya peningkatan ekuitas 80 basis poin (10,9% menjadi 11,7%) mencerminkan dampak
dari lebih besar pelindung pajak utang dan tidak memasukkan biaya kesulitan keuangan
relatif terhadap leverage.

c. Beban modal berdasarkan nilai pasar ekuitas dan nilai buku utang.
Ini dihitung (diasumsikan) sebelumnya 80% ekuitas dan 20% utang. Menggabungkan
biaya ekuitas dan utang dengan bobot modal direvisi menghasilkan WACC
postrecapitalization:
WACC = wd(1-T)rd+kitars
WACC = 20%(1-40%)13%+80%.11,7%
WACCL = 10,92%
Posting Rekapitalisasi WACC hampir tidak berubah dari setelah Rekapitulasi WACC Pre.
Wrigley ini secara nyata berisiko secara finansial. Estimasi WACC tidak mencerminkan hal
ini. Pada dasarnya, manfaat pajak menggunakan lebih banyak utang ini hampir diimbangi
dengan biaya yang lebih tinggi dari ekuitas, tapi yang paling penting, perkiraan leverage
posting rekapitalisasi gagal untuk mencerminkan memasukkan biaya rasio keuangan.

2. Pengaruh rekapitalisasi pada Laba Dilaporkan per Saham


Analisis EBIT / EPS adalah metode untuk menjelajahi sensitivitas laba per saham (EPS)
terhadap perubahan laba sebelum bunga dan pajak (EBIT). Dalam Exhibit 8, perusahaan
membandingkan EPS status quo (dengan asumsi tidak ada rekapitalisasi) dengan EPS
setelah penambahan $ 3 miliar utang dan mengacu pada data dalam kasus Exhibit 2 dan 3.

Menggunakan hasil utang penurunan laba bersih sebesar 80%, sehingga D1 = $ 0,75 (1-0,8)
= $ 0,15. Jika diasumsikan $ 513,356 juta, penerbitan $ 3 miliar utang mengurangi EPS yang
diharapkan dari $ 1,61 ke $ 0,40 dengan pembelian kembali, atau $ 0,15 dengan dividen.
Hasil ini hanya dari peningkatan beban bunga dan variasi jumlah saham yang beredar. Jelas,
hasil EPS lebih buruk setelah rekapitalisasi, tetapi pada nilai-nilai EBIT dari $ 513,356 juta,
pembelian kembali menghasilkan EPS yang lebih tinggi nilai-nilai daripada rekapitalisasi-
dividen berdasarkan. Total nilai pasar ekuitas sebelum rekapitalisasi (S) dari $ 13.103.000
tapi setelah rekapitalisasi (S1) = $ 61,53 x 183,68 juta saham yang beredar = $ 11.302 juta,
yang identik dengan nilai pasar ekuitas jika perusahaan membayar dividen bukan pembelian
kembali saham.