Anda di halaman 1dari 6

Jurnal Teknologi Pertanian Vol. 9 No.

2 (Agustus 2008) 69 - 74

PENGOLAHAN BIOMASSA BERLIGNOSELULOSA SECARA ENZIMATIS


DALAM PEMBUATAN PULP:
PULP: STUDI KEPUSTAKAAN

Enzimatic Processing of Lignocellulosic Biomass for Pulp Making:


Making:
A Review

Fitria

UPT BPP Biomaterial LIPI


Jl. Raya Bogor KM 46 Cibinong
*Penulis korespondensi: E-mail: fitri12@gmail.com

ABSTRACT

Pulp (cellulose fiber suspension) is the main raw material in paper and medium
density fiber (MDF) board industry. The critical process in pulping is to break down the
linkage of cell wall component among lignin, hemicellulose and cellulose in order to get
individual fiber of cellulose. To enhance fiber refining, pretreatment method can be
applied on biomass before pulping either chemical, mechanical, thermal, biological or
combination of the processes. Biological process can be chosen due to its ability to
degrade the lignin so that the cellulose fiber can be taken easier. This process, called
biopulping uses a set of enzymes produced by white rot fungi. This paper reviews broad
improvement of biopulping and its impact to the environmental friendly goal.

Keywords: pulp, biopulping, natural fiber, white-rot fungi, lignocellulosic biomass

PENDAHULUAN Untuk menjawab tuntutan proses


pembuatan pulp yang lebih ramah
Seiring dengan meningkatnya lingkungan, telah dikembangkan proses
kekhawatiran karena menurunnya yang dapat mengurangi konsumsi energi
kualitas lingkungan hidup, saat ini dan bahan kimia dengan memanfaatkan
masyarakat dunia menghendaki suatu kinerja mikroorganisme yang
industri yang lebih ramah lingkungan dan diaplikasikan pada bahan baku pulp
hemat energi yang mendorong sebelum diolah lebih lanjut menjadi pulp.
dilakukannya penelitian yang berorientasi Usaha ini memunculkan istilah biopulping
lingkungan. Industri pembuatan pulp yaitu proses pembuatan pulp
terkenal sebagai industri yang menggunakan jamur pendegradasi lignin
menghasilkan banyak bahan berbahaya sebelum proses pembuatan pulp
bagi lingkungan yang diakibatkan oleh dilakukan (Kirk and Chang, 1990).
penggunaan bahan kimia yang intensif Kendala yang dihadapi dalam penggunaan
dan konsumsi energi yang tinggi. mikroorganisme dalam pembuatan pulp
Pembuatan pulp melibatkan serangkaian adalah waktu proses yang lama dan
proses yang tujuan akhirnya untuk rendahnya kualitas pulp yang dihasilkan.
mendapatkan serat selulosa yang terpisah Oleh karena itu, dilakukan berbagai
dari komponen penyusun biomassa penelitian yang ditujukan untuk mencari
berlignoselulosa lainnya. Industri jenis mikroorganisme yang paling efektif
pembuatan pulp yang sudah mapan dan efisien dalam pengolahan biomassa
melibatkan kombinasi proses mekanik, berlignoselulosa menjadi pulp. Biomassa
termal dan kimiawi dalam pengolahannya. yang digunakan meliputi tanaman kayu
(pinus, sengon, akasia, dll), tanaman non

69
Tinjauan Pengolahan Biomassa Berlignoselulosa secara Enzimatis (Fitria)

kayu (bambu, sisal, kenaf, rami, dll) serta Rantai selulosa pada dinding
residu pertanian (bagasse, jerami padi, selulosa bergabung membentuk serat
tandan kosong kelapa sawit, dll). selulosa yang secara keseluruhannya
membentuk struktur yang lebih besar
PEMBUATAN PULP DARI BIOMASSA yang disebut bundelan serat. Proses
BERLIGNOSELULOSA pulping bertujuan untuk menguraikan
bundelan serat menjadi unit serat yang
Sumber utama pembuatan pulp dapat dilakukan secara mekanis, termal,
adalah biomassa berlignoselulosa yang kimiawi atau kombinasinya. Pada
disusun oleh tiga jenis polimer, yaitu umumnya, pulp dibuat dengan cara
selulosa, hemiselulosa dan lignin. Bahan delignifikasi kimiawi, penguraian serat
ini merupakan sumber utama bahan secara mekanik, atau kombinasi kimiawi
terbarukan karena ketersediannya yang dan mekanik. Pulping secara mekanik
melimpah di alam. Ketiga polimer ini lebih banyak digunakan karena
berikatan sangat kuat sehingga sulit memberikan rendemen yang lebih tinggi
dirombak. daripada dengan metode kimiawi dan
Selulosa disusun oleh sub unit D- membutuhkan investasi modal yang lebih
glukosa yang berikatan membentuk kecil. Pembuatan pulp dapat dibagi dalam
molekul selobiosa yang membentuk rantai beberapa cara dengan istilah yang umum
panjang (elemental fibrils). Hemiselulosa digunakan yaitu stone ground-wood
dan lignin tersusun melingkupi (SGW) pulping, refiner mechanical
microfibrils (yang dibentuk oleh pulping (RMP), thermomechanical pulping
elemental fibrils). Kumpulan microfibrils (TMP), chemi-thermomechanical pulping
inilah yang membentuk serat selulosa (CTMP) dan chemi-mechanical pulp
(Perez et al., 2002). Hemiselulosa (CMP). Setiap metode menggambarkan
merupakan polisakarida dengan berat kondisi proses selama pembuatan pulp
molekul yang lebih rendah daripada (Bajpai, Bajpai and Kondo, 1999). Proses
selulosa dan lebih mudah terhidrolisis. mekanis dilakukan untuk mencabik serat
Lignin merupakan komponen yang dan bundelan serat dari matriks. Pada
terletak di antara serat yang berfungsi proses semimekanis, bahan baku diberi
sebagai pengikat antar serat. Selain itu, perlakuan dengan bahan kimia untuk
lignin juga terdapat pada dinding sel. melarutkan lignin sebelum dilanjutkan
Lignin tidak mudah larut karena dengan proses mekanis untuk
strukurnya yang kompleks tapi dapat memisahkan serat (Sachs et al., 1989).
dilarutkan dengan bahan kimia tertentu. Dengan proses kimia, tidak hanya hampir
Tujuan penggunaan bahan kimia pada semua lignin terlarut tetapi juga sejumlah
pembuatan pulp adalah untuk melarutkan selulosa dan hemiselulosa. Rendemen
dan memisahkan lignin dari bahan. pembuatan pulp secara kimia relatif lebih
Keberadaan lignin menyebabkan rendah dibandingkan secara mekanik.
lemahnya ikatan antar serat selulosa Rendemen pembuatan pulp secara
yang pada akhirnya menurunkan kualitas mekanik paling tinggi dibandingkan
kertas yang dihasilkan (Karlsson, 2006). proses lain yaitu sekitar 90-95%, secara
Berdasarkan struktur serat di atas, usaha kimiawi antara 40-55% dan sekitar 55-
untuk menghasilkan pulp dengan kualitas 90% bila menggunakan proses kombinasi
baik bertolak dari usaha menghilangkan keduanya. Kualitas pulp yang baik dapat
lignin dari bahan. Keberadaan lignin yang dilihat dari beberapa parameter
mengikat selulosa dan hemiselulosa diantaranya drainability (resistensi serat
membentuk semacam penghalang fisik terhadap aliran air) dan bilangan kappa
pada dua komponen tersebut yang (menunjukkan kandungan lignin yang
mengakibatkan sulitnya penetrasi larutan tersisa) (Karlsson, 2006).
dan enzim pada bahan.

70
Jurnal Teknologi Pertanian Vol. 9 No.2 (Agustus 2008) 69 - 74

Proses pembuatan pulp secara rendemen dan mengurangi dampak


kimiawi menggunakan bahan kimia untuk negatif pada lingkungan.
menghilangkan lignin dari bahan. Bahan
yang sudah lunak karena terlarutnya PENGGUNAAN JAMUR PELAPUK PUTIH
komponen lignin akan lebih mudah PADA BIOPULPING
diproses secara mekanis untuk mengurai
serat selulosanya. Karena kuatnya ikatan Proses kunci biopulping adalah
antar komponen pada biomassa biodegradasi lignin. Jenis mikroorganisme
berlignoselulosa, upaya ini melibatkan yang diteliti secara intensif untuk
penggunaan larutan asam kuat pada mendegradasi lignin adalah jamur pelapuk
kondisi yang sangat korosif dan putih atau white rot fungi dari kelas
temperatur serta pH yang tinggi. Kondisi basidiomicetes. Banyak penelitian
ini juga mengakibatkan terdegradasinya menunjukkan bahwa perlakuan
sebagian selulosa sehingga menurunkan pendahuluan dengan jamur ini pada
rendemen produk yang dihasilkan selain biomassa lignoselulosa sebelum proses
buangan yang mengandung bahan kimia mekanis ataupun kimiawi terbukti mampu
yang berbahaya bagi lingkungan. mengurangi konsumsi enegi, menurunkan
Pengolahan limbah industri pulp polusi lingkungan dan meningkatkan
memakan biaya yang sangat besar untuk kekuatan kertas yang diproses
mengantisipasi bahaya limbah ini. selanjutnya (Chad et al., 2000; Mosai et
Biopulping merupakan alternatif al., 1997) dan juga menguntungkan
pembuatan pulp untuk mengatasi masalah secara ekonomis (Shukla, Rai and
pencemaran yang tinggi karena Subramanyam, 2004; Scott, Akhtar and
penggunaan bahan kimia. Biopulping Swaney, 1998).
adalah proses pelunakan bahan Istilah jamur pelapuk putih mengacu
berlignoselulosa menggunakan jamur pada jamur tertentu dari kelas
pendegradasi lignin sebelum proses basidiomicetes yang memiliki kemampuan
pulping. Pada pembuatan pulp bio- ligninolitik selektif yang tinggi. Jenis
mekanik, penggunaan jamur ditujukan jamur ini merupakan satu-satunya
untuk menggantikan penggunaan bahan kelompok mikroorganisme yang memiliki
kimia pada perlakuan pendahuluan pada kemampuan memecah lignin secara
bahan sebelum diproses secara mekanik. ekstensif menjadi karbon dioksida dan
Pada metode kimiawi, biopulping air. Kelompok jamur ini menghasilkan
dimaksudkan untuk mengurangi jumlah sekelompok enzim yang secara langsung
bahan kimia pemasak dan menambah terlibat dalam perombakan lignin,
kapasitas pemasakan (Bajpai, Bajpai and diantaranya adalah jenis phenol-oxidase
Kondo, 1999). Dengan proses ini, maka yang disebut laccase, lignin peroxidase
diharapkan konsumsi bahan kimia maupun (LiP) dan manganese peroxidase (MnP).
energi pada proses lanjutannya dapat Lignin merupakan biopolimer yang sangat
dikurangi. Sejumlah jamur berfilamen irregular dengan struktur yang unik,
yang ditumbuhkan pada bahan tersusun dari unit-unit fenilpropanoid
berlignoselulosa terbukti memproduksi yang teroksigenasi yang saling berikatan
enzim yang mampu mendegradasi lignin melalui bermacam ikatan CC dan COC
secara selektif tanpa mendegradasi sehingga makromolekul ini sukar
banyak serat selulosa. Biopulping dapat didegradasi secara biologis. Jamur
dilakukan baik pada proses mekanis basidiomicetes ini diketahui dapat
maupun kimiawi. Keuntungan biopulping mengubah dinding sel bahan sehingga
termasuk mengurangi energi untuk melunakkannya dan pada akhirnya
menghaluskan pulp, menambah kekuatan mengurangi kebutuhan energi pada
kertas, mengatasi masalah pitch atau proses pulping.
noda pada kertas. meningkatkan

71
Tinjauan Pengolahan Biomassa Berlignoselulosa secara Enzimatis (Fitria)

Beberapa penelitian mencoba diperlukan oleh reaksi enzimatis (Bajpai,


mengkombinasikan penggunaan lebih dari Bajpai, and Kondo, 1999). Ligninolitik
satu jamur pada saat yang bersamaam oksidoreduktase yang termasuk di
untuk mendegradasi lignin dengan tujuan dalamnya peroksidase, yang mampu
untuk mempercepat metabolisme jamur mengoksidasi lignin non-fenolik dan
ke metabolisme sekunder sehingga laccase yang kerjanya terkait langsung
menstimulasi perombakan kayu dan dan terbatas pada unit fenolik yang hanya
produski enzim pendegradasi lignin. mewakili sejumlah kecil lignin.
Empat jenis jamur Ceriporiopsis Penelitian lanjutan pada sistem
subvermispora, Physisporinus rivulosus, enzim pendegradasi lignin meliputi
Phanaerochaete chrysosporium dan karakternya, produksi, mekanisme aksi
Pleurotus ostreatus dicoba dikokulturkan dan genetika molekuler. Gambaran paling
dengan pleurotus memberi hasil terbaik akhir tentang proses ini adalah
untuk meningkatkan degradasi lignin hemoperoksidase yang bekerja sangat
(Maijala, 2005). baik (lignin peroxidase and manganese
Penggunaan paling luas untuk peroxidase), dan laccase yaitu enzim
pendegradasi lignin adalah jamur yang bertindak diluar sel jamur untuk
Phanaerocahete crysosporium. Dua mengoksidasi lignin tidak spesifik,
kelompok utama enzim dalam lignolisis mendorong species radikal yang
adalah peroksidase dan lacasse. Enzim- mengalami reaksi lanjutan dan
enzim ini bekerja menggunakan perantara mengakibatkan degradasi dan fragmentasi
dengan berat molekul rendah untuk ekstensive polimer tersebut.
degradasi lignin. Tiap jamur memproduksi Laccase yang umum terdapat pada
beberapa jenis enzim untuk kebutuhan ini jamur pelapuk putih diketahui memacu
dengan jenis dan jumlah yang berlainan banyak reaksi. Agar kinerja laccase
(Perez et al., 2002). makin efektif, penggunaan mediator
dilakukan berupa fenol tumbuhan yaitu
MEKANISME DEGRADASI LIGNIN PADA acetosyringone, syringaldehyde and p-
BIOMASSA LIGNOSELULOSA coumaric acid. Penggunaan laccase
dengan mediator alami yang banyak
Jamur pelapuk putih menghasilkan terdapat pada tanaman dan larutan pulp
enzim oksidatif ekstraselular yang mampu menunjukkan kemungkinan melakukan
mengoksidasi lignin. Kemampuannya proses delignifikasi yang ramah
mendegradasi lignin terbukti mampu lingkungan.
meningkatkan derajat putih dan Usaha mempelajari mekanisme
delignifikasi pulp kraft (Shukla, Rai and perombakan lignin oleh jamur pelapuk
Subramanyam, 2004). Enzim yang paling putih banyak menggunakan jamur
penting dalam proses delignifikasi ini Ceriporiopsis subvermispora karena
adalah MnP. Proses biologis melibatkan kemampuannya memperlihatkan
kerja enzim yang dihasilkan jenis perubahan kandungan dan struktur lignin
mikroorganisme tertentu dengan tujuan yang spesifik (Yaghoubi, Pazouki, and
sebagai perombak dan pelonggar ikatan Shojaosadati, 2008). C. subvermispora
dengan cara menguraikan lignin pada menghasilkan banyak MnP dan laccase
bahan. tapi tidak terdeteksi menghasilkan LiP
Jamur pelapuk putih tidak hanya ketika ditumbuhkan pada beberapa media.
memproduksi sejumlah set enzim yang MnP memiliki peranan penting karena
penting untuk mendegradasi lignin tapi mampu mengoksidasi Mn(II) menjadi
juga berperan sebagai sistem transpor Mn(III) yang selanjutnya mengoksidasi
untuk enzim-enzim ini dengan bahan fenolik.
membawanya menembus ke dalam kayu Selama 90-an, usaha di tingkat
dan menciptakan kondisi fisiologis yang genetika molekuler pada sistem

72
Jurnal Teknologi Pertanian Vol. 9 No.2 (Agustus 2008) 69 - 74

degradasi lignin, selulosa maupun inokulasi seperti pada C.subvermispora,


hemiselulosa banyak dilakukan yang akan tetapi penggunaan Phlebiosis
meliputi pengklonan, sequencing dan gigantea dapat diaplikasi langsung pada
pengekspresian gen baik pada inang bahan segar (Behrendt et al., 2000).
homolog maupun heterolog sehingga Penambahan sumber karbon selama
banyak yang mulai diketahui tentang perlakuan pendahuluan dengan jamur
struktur, organisasi genom dan regulasi dilaporkan tidak memberi pengaruh
pengkodean gen pada protein-protein ini signifikan ( Mosai et al., 1999).
(Perez et al., 2002). Penelitian spesifik Karena jamur pelapuk putih tidak
jenis proses pulping tertentu dengan memproduksi spora, maka miselium
menggunakan jamur white rot seperti digunakan sebagai inokulum. Besarnya
dilakukan Mosai et al. (1999) jumlah inokulum yang dibutuhkan dapat
memperlihatkan C. subvermispora paling dikurangi dengan penambahan nutrisi
baik digunakan untuk biosulfit pulping. yang mampu memacu pertumbuhan jamur
Penggunaan white rot pada material non selama inkubasi (Akhtar et al., 1997).
kayu seperti jerami gandum mampu Usaha yang dilakukan berupa
menjelaskan hubungan antara penambahan nutrisi berharga murah
penghilangan lignin, pemisahan serat terkait kelayakan dari segi ekonomi. Corn
sklerenkematik dan kondisi pulping steep liquor terbukti dapat mengurangi
(Martinez et al., 1994). jumlah pemakaian inokulum pada bahan
karena mampu memacu pertumbuhan
PENGKONDISIAN SUBSTRAT jamur (Akhtar et al., 1997; Yaghoubi et
al., 2008).
Banyak penelitian dilakukan untuk
menjawab kelemahan proses biologis. KESIMPULAN
Diantaranya penggunaan jamur yang telah
direkayasa genetika, pengkondisian Ikatan yang kuat antar komponen
substrat dengan perlakuan pendahuluan, penyusun biomassa berlignoselulosa
maupun dengan penambahan nutrisi menghalangi proses pembuatan pulp.
tertentu pada waktu proses dan Penggunaan jamur pelapuk putih mampu
penjagaan kondisi fisik selama proses. mendegradasi lignin secara selektif
Penggunaan inokulum dalam bentuk sehingga serat selulosa sebagai bahan
suspensi dengan masa inkubasi bervariasi pulp tidak rusak. Untuk mengoptimalkan
dari 5 hari hingga 8 minggu menunjukkan pertumbuhan jamur pada substrat
tingkat degradasi lignin yang berbeda berlignoselulosa, penambahan nutrisi dan
(Mosai et al., 1999). penciptaan kondisi proses baik secara
Karena enzim dihasilkan dalam biologis maupun fisik dapat dilakukan.
medium pertumbuhan, maka medium
harus dikontrol agar mampu DAFTAR PUSTAKA
meningkatkan produksi enzim. Inokulasi
jamur pada bahan dilakukan dengan cara Akhtar, M., M.J. Lentz, R. A. Blanchette,
disemprotkan maupun dengan cara and T.K. Kirk. 1997. Peer
submerged culture (terendam) (Mosai et Reviewed. NCorn steep liquor
lowers the amount of inoculum for
al., 1999: Behrendt et al., 2000: Yaghoub
biopulping. TAPPI Journal 80(6)
et al., 2008). Pemberian uap panas pada Bajpai, P., P.K. Bajpai, and R. Kondo,
bahan sebelum inokulasi, penambahan 1999. Biotechnology for environ-
nutrisi selama inokulasi dan aerasi yang mental protection in the pulp and
cukup pada suhu dan kelembaban paper industry. Springer-Verlag.
terkontrol dibutuhkan untuk mencapai Berlin
nilai optimum. Penggunaan jamur Holmberg, J. M. and L. Gustavsson.
memerlukan proses sterilisasi sebelum 2007. Biomass use in chemical
and mechanical pulping with

73
Tinjauan Pengolahan Biomassa Berlignoselulosa secara Enzimatis (Fitria)

biomass-based energy supply. Perez, J., J. Munoz-Dorado, T. de ls


Resources, Conservation and Rubia, and J. Martinez. 2002.
Recycling 52 (2007) 331350 Biodegradation and biological
Hossain, S.M. and N. Anantharaman. treatments of cellulose,
2006. Activity enhancement of hemicellulose and lignin: an
ligninolytic enzymes of Trametes overview. Int Microbiology 5: 53-63
versicolor with bagasse powder: Scott, G. M., M. Akhtar, and R. E.
Full Length Research Paper. Swaney. 1998. Economic
African Journal of Biotechnology Evaluation of Biopulping. 7th
5(1): 189-194 International Conference on
Howard, R.L., E. Abotsi, E. L. J. van Biotechnology Pulp and Paper
Rensburg, and S. Howard. 2003. Industry. June, 16-19, 1998,
Review: Lignocellulose biotechno- Vancouver
logy: issues of bioconversion and Shukla, O. P., U. N. Rau, and S. V.
enzyme production. African Subramanyam. 2004. Biopulping
Journal of Biotechnology 2(12): and Biobleaching: an energy and
602-619 environment saving technology for
Karlsson, H. 2006. Fibre Guide: Fibre indian pulp and paper industry.
Analysis and Process Applications Newsletter of ISEB. India Vol 10,
in The Pulp and paper Industry, a April
handbook, Lorentzen & Wettre, Tran, A. V. 2006. Chemical analysis and
Sweden pulping study of pineapple crown
Kirk, T.K., W. J. Connors, and J.G. leaves. Industrial Crops and
Zeikus. 1976. Requirement for a Products 24: 6674
growth substrate during lignin Virtanen, T., S. L. Maunu, T. Tamminen,
decomposition by two wood-rotting B. Hortling, and T. Liitia. 2008.
fungi. Applied and Environmental Changes in fiber ultrastructure
Microbiology 32(1): 192-194 during various kraft pulping
Lobos, S., M. Tello, R. Polanco, L. F. conditions evaluated by 13C
Larrondo, A. Manubens, L. Salas CPMAS NMR spectroscopy.
and R. Vicua. 2001. Enzymology Carbohydrate Polymers 73: 56163
and molecular genetics of the Widsten, P. and A. Kandelbauer. 2008.
ligninolytic system of the Laccase applications in the forest
basidiomycete Ceriporiopsis products industry: a review.
subvermispora. Current Science Enzyme and Microbial Technology
81(8) 42: 293307
Maijala, P. 2005. Co-culturing of White Yaghoubi, K. M., S. A. Pazouki, and
rot Fungi on Wood Potential in Shojaosadati. 2008. Variable
Biopulping? Seminar on Forest optimazation for biopulping of
Pathology, 4th April 2005, Finland agricultural residues by
Martinez, A. T., S. Camarero, F. Guillen, Ceriporiopsis subvermi spora.
A. Gutierez, C. Munoz, E. Varela, Bioresource Technology 99: 4321
M. J. Martinez., J. M. Barrasa, K. 4328
Ruel, and J. M. Pelayo. 1994.
progress in biopulping of non
woody materials: chemical,
enzymatic and ultra-structural
aspects of wheat straw
delignification with ligninolytic
fungi from the genus pleurotus.
FEMS Microbiology Reviews
13:265-274
Mosai, S., J. F. Wolfaardt, B. A. Prior,
and L. P. Christov. 1999.
evaluation of selected white rot
fungi for biosilfite pulping.
Bioresource Technology 68: 89-93

74