Anda di halaman 1dari 14

Laporan Pratikum

Mikrobiologi
Preparasi Alat dan Media Pertumbuhan Bakteri

Kelompok 6
Sandra Sekarsari (1411105035)
I Gede Arie Mahendra Putra(1411105036)
Almadea Sela Gracia Ginting (1411105037)
Nidya Elvira (1411105038)
Ni Made Inten Kusuma Dewi (1411105039)
Ferdinandus Otniesl Sahilatua (1411105040)
Dewa Gede Eka Prayoga (1411105041)

Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan


Fakultas Teknologi Pertanian
Universitas Udayana
2015
I. Pendahuluan
II.1 Latar Belakang
Menurut Schelgel (1994), sebagian besar mikroorganisme yang tidak dapat
tumbuh tumbuh subur dalam larutan tertentu. Larutan tersebut dapat menopang
perkembangan mikroorganisme karena mengandung senyawa-senyawa khusus yang
dijadikan makanan oleh bakteri. Larutan yang dapat dibuat dari senyawa-senyawa
kimia tertentu disebut media sintetik.
Pembiakan mikroorganisme dalam laboratorium memerlukan media yang
berisi zat hara serta lingkungan pertumbuhan yang sesuai bagi mikroorganisme. Zat
hara digunakan untuk pertumbuhan, sterilisasi, keperluan energi dalam metabolism
dan pergerakan (Munir, 2004). Pembuatan media adalah bagaimana media dibuat
untuk pertumbuhan mikroba. Media yang digunakan oleh pertumbuhan mikroba juga
harus diencerkan karena media tersebut banyak yang berbentuk serbuk.
Sebelum melakukan proses penanaman, perlu dilakukan tindakan sterilisasi
agar alat dan media steril dan tidak kontaminan dengan bakteri lain. Jika terjadi
kontaminan, maka bakteri yang diinginkan untuk tumbuh tidak akan tumbuh dengan
baik dan cenderung akan rusak dan mati. Maka dari itu proses sterlisasi sangat
penting dilakuakan. Sterilisasi merupakan suatu usaha untuk membebaskan alat-alat
dan bahan-bahan dari segala macam bentuk kehidupan, terutama mikroba, sehingga
dalam sterilisasi nanti alat-alat tidak terkontaminasi dengan pihak luar.
Oleh karena itu, bagi seorang pemula di bidang mikrobiologi sangat perlu
mengenal teknik sterilisasi karena merupakan dasar-dasar kerja dalam laboratorium
mikrobiologi. Steril merupakan syarat mutlak keberhasilan kerja dalam pengerjaan
penelitian dibidang mikrobiologi. Saat melakukan sterilisasi, diperlukan teknik-
teknik agar sterilisasi dapat dilakukan secara sempurna, dalam arti tidak ada
mikroorganisme lain yang mengkontaminasi media.
II.2 Tujuan
Untuk mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan untuk proses penanaman
sampel.
II.3 Manfaat
Untuk mengetahui dan menghitung kebutuhan alat dan bahan yang digunakan untuk
proses penanaman sampel
II. Tinjauan Pustaka
II.1 Sterilisasi
Alat yang akan digunakan dalam suatu penelitian atau praktikum harus
disterilisasi terlebih dahulu untuk membebaskan semua bahan dan peralatan tersebut dari
semua bentuk kehidupan. Sterilisasi adalah suatu proses untuk membunuh semua jasad
renik yang ada, sehingga jika ditumbuhkan di dalam suatu medium tidak ada lagi jasad
renik yang dapat berkembangbiak. Sterilisasi harus dapat membunuh jasad renik yang
paling tahan panas yaitu spora bakteri (Fardiaz, 1992).
Pada prinsipnya sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara mekanik,
fisik dan kimiawi. Sterilisai secara mekanik (filtrasi) menggunakan suatu saringan yang
berpori sangat kecil (0,22 mikron atau 0,45 mikrob) sehingga mikroba tertahan pada
saringan tersebut. Proses ini ditujukan untuk sterilisasi bahan yang peka panas, misalnya
larutan enzim dan antibiotik. Sterilisasi secara fisik dilakukan dengan cara pemanasan atau
penyinaran. Pemanasan dapat dilakukan dengan cara pemijaran, pemanasan kering,
menggunakan uap air panas, dan menggunakan uap air panas bertekanan (Agalloco, 2008).
Sterilisasi panas basah adalah sterilisasi dengan menggunakan uap panas dibawah
tekanan berlangsung didalam autoklaf, umumnya dilakukan dalam uap jenuh dalam waktu
30 menit dengan suhu 115 C 116 C, lama dan suhu tergantung bahan yang disterilisasi.
Pada umumnya metode sterilisasi ini digunakan untuk sediaan farmasi dan bahan-bahan
yang dapat tahan terhadap temperature yang dipergunakan dan penembusan uap air, tetapi
tidak timbul efek yang tidak di kehendaki akibat uapair tersebut. Metode ini juga di
pergunakan untuk larutan dalam jumlah besar, alat-alat gelas, pembalut oprasi, dan
instrument. Tidak digunakan untuk mensterilkan minyak-minyak , lemak-lemak, sediaan
berminyak, dan sediaan-sediaan lain yang tidak dapat di tembus oleh uap air atau
pensterilan serbuk terbuka yang mungkin rusak oleh uap air jenuh. Alat-alat dan air
disterilkan selama 1 jam, tetapi media antara 20-40 menit tergantung dari volume bahan
yang disterilakn. Sterilisasi media yang terlalu lama menyebabkan:
Penguraian gula.
Degradasi vitamin dan asam-asam amino.
Inakfasi sitokinin zeatin riboside.
Perubahan pH yang berakibat depolimerisasi agar. (Razuna, 2010)
Autoklaf (Autoclave) adalah alat pemanasan tertutup yang digunakan untuk
mensterilisasikan suatu benda menggunakan uap bersuhu dan bertekanan tinggi (121 oC, 15
lbs) selama kurang lebih 15 menit. Makin besar tekanan yang digunak makin tinggi
temperature yang di capai dan makin pendek waktu yang di butuhkan untuk sterilisasi.
Sebagiaan besar autoklaf dioprasikan secara rutin biasanya pada temperature 121C, yang
di ukur pada saat uap air mulai keluar dari autoklaf.
Penurunan tekanan pada autoklaf tidak dimaksudkan untuk membunuh
mikroorganisme, melainkan meningkatkan suhu dalam autoklaf. Suhu yang tinggi inilah
yang akan membunuh mikroorganisme. Suhu dan tekanan tinggi yang diberikan kepada
alat dan media yang disterilisasi memberikan kekuatan-kekuatan yang lebih besar untuk
membunuh sel dibanding dengan udara panas. Biasanya untuk mensterilkan media
digunakan suhu 121oC dan tekanan 15 lb/in2 (SI = 103,4 Kpa) selama 15 menit. Alasan
digunakan suhu 121oC atau 249,8oF karena air mendidih pada suhu tersebut jika digunakan
tekanan 15 psi. untuk tekanan 0 psi pada ketinggian dipermukaan laut air mendidih pada
suhu 100oC, sedangkan untuk autoklaf yang diletakkan diketinggian sama, mengunakan
tekanan 15 psi maka air akan mendidih pada suhu 121 oC. Kejadian ini hanya berlaku untuk
dipermukaan laut, jika dilaboratorium terletak pada ketinggian tertentu, maka pengaturan
tekanan perlu disetting ulang. Misalnya autoklaf diletakkan pada ketinggian 2700 dari
permuakaan laut, maka tekanan dinaikkan menjadi 20 psi supaya tercapai suhu 121 oC
untuk mendidihkan air. Autoklaf ditujukan untuk membunuh endospora, yaitu sel resisten
yang diproduksi oleh bakteri, sel ini tahan terhadap pemanasan, kekeringan dan antibiotik.
Pada spesies yang sama, endospora dapat bertahan pada kondisi lingkungan yang dapat
membunuh sel vegetatif bakteri tersebut. Endospora dapat dibunuh pada suhu 100 oC, yang
merupakan titik didih air pada tekanan atmosfer normal. Pada suhu 121 oC, endospora dapat
dibunuh dalam waktu 4-5 menit, dimana sel vegetatif bakteri dibunuh hanya dalam waktu
6-30 detik pada suhu 60oC (Stefanus, 2006).
Menurut Sumarsih (2010), sterilisasi menggunakan autoklaf merupakan cara yang
paling baik karena uap air panas dengan tekanan tinggi menyebabkan penetrasi uap air ke
dalam sel-sel mikroba menjadi optimal sehingga langsung mematikan mikroba.
Cara penggunaan autoklaf:
1) Banyaknya air dalam autoklaf dicek terlebih dahulu. Jika air kurang dari batas
yang ditentukan, maka dapat ditambah air sampai batas tersebut. Menggunakan
air hasil destilasi, untuk menghindari terbentuknya kerak dan karat.
2) Peralatan dan bahan dimasukkan biasanya dimasukan keranjang.
3) Autoklaf ditutup dengan rapat lalu kencangkan baut pengaman agar tidak ada uap
yang keluar dari bibir autoklaf. Klep pengaman jangan dikencangkan terlebih
dahulu.
4) Nyalakan autoklaf, diatur timer dengan waktu minimal 15 menit pada suhu 121oC.
5) Tunggu sampai air mendidih sehingga uapnya memenuhi kompartemen
autoklaf dan terdesak keluar dari klep pengaman. Kemudian klep pengaman
ditutup (dikencangkan) dan tunggu sampai selesai. Penghitungan waktu 15
dimulai sejak tekanan mencapai 2 atm.
6) Jika alarm tanda selesai berbunyi, maka tunggu tekanan dalam kompartemen
turun hingga sama dengan tekanan udara di lingkungan (jarum pada preisure
gauge menunjuk ke angka nol). Kemudian klep-klep pengaman dibuka dan
keluarkan isi autoklaf dengan hati-hati.
II.2 Medium
Medium adalah substansi yang terdiri atas campuran zat-zat makanan (nutrien)
yang digunakan untukpemeliharaan dan pertumbuhan mikroorganisme. Mikroorganisme
juga merupakan makhluk hidup, untuk memeliharanya dibutuhkan medium yang harus
mengandung semua zat yang dibutuhkan untuk pertumbuhannya, yaitu senyawa-senyawa
organik yang terdiri atas protein, karbohidrat, lemak, mineral dan vitamin. Medium
digunakan untuk melihat gerakan dari suatu mikrooranisme apakah bersifat motil atau
nonmotil, medium ini ditambahkan bahan pemadat 50% (Ratna, 1990).
Medium dapat diklasifikasikan berdasar atas susunan kimia, konsistensi dan
fungsinya. Klasifikasi medium berdasarkan susunan kimianya, yakni medium organik,
yaitu medium yang tersusun dari bahan-bahan organik; medium anorganik, yaitu medium
yang tersusun dari bahan-bahan anorganik; medium sintetik, yaitu medium yang susunan
kimiawinya dapat diketahui dengan pasti; dan medium nonsintetik, yaitu medium yang
susunan kimiawinya tidak dapat diketahui dengan pasti (Anonim, 2011). Bahan yang
sering digunakan dalam pembuatan media, antara lain:
1) Agar
Agar dapat diperoleh dalam bentuk batangan, granula atau bubuk dan terbuat dari
beberapa jenis rumput laut. Kegunaannya adalah sebagai pemadat (gelling) yang
pertama kali digunakan oleh Fraw & Walther Hesse untuk membuat media. Jika
dicampur dengan air dingin, agar tidak akan larut. Untuk melarutkannya harus diaduk
dan dipanasi, pencairan dan pemadatan berkali-kali atau sterilisasi yang terlalu lama
dapat menurunkan kekuatan agar, terutama pada pH yang asam.
2) Peptone
Peptone adalah produk hidrolisis protein hewani atau nabati seperti otot, liver, darah,
susu, casein, lactalbumin, gelatin, dan kedelai. Komposisinya tergantung pada bahan
asalnya dan bagaimana cara memperolehnya.
3) Meat extract
Meat extract mengandung basa organik terbuat dari otak, limpa, plasenta, dan daging
sapi.
4) Yeast extract
Yeast extract terbuat dari ragi pengembang roti atau pembuat alkohol. Yeast extract
mengandung asam amino yang lengkap & vitamin B kompleks.
5) Karbohidrat
Karbohidrat ditambahkan untuk memperkaya pembentukan asam amino dan gas dari
karbohidrat. Jenis karbohidrat yang umumnya digunakan dalam amilum, glukosa,
fruktosa, galaktosa, sukrosa, manitol, dan lain-lain. Konsentrasi yang ditambahkan
untuk analisis fermentasi adalah 0,5-1%.
Menurut Pelczar (1996), klasifikasi medium berdasarkan fungsinya digolongkan
menjadi 7 golongan, yaitu:
1) Medium umum, merupakan media yang ditambahkan bahan-bahan yang bertujuan
menstimulasi pertumbuhan mikroba secara umum. Contoh: Nutrien Agar (NA) untuk
menstimulasi pertumbuhan bakteri, Potato Dextose Agar (PDA) untuk menstimulasi
pertumbuhan fungi.
2) Medium khusus, merupakan medium untuk menentukan tipe pertumbuhan mikroba
dan kemampuannya untuk mengadakan perubahan-perubahan kimia tertentu. Contoh:
medium tetes tebu untuk Saccharomyces cerevisiae.
3) Media diperkaya (enrichment media), merupakan media yang ditambahkan bahan-
bahan tertentu untuk menstimulasi pertumbuhan mikroba yang diinginkan. Hal ini
dilakukan untuk menstimulasi pertumbuhan mikroba yang jumlahnya sedikit dalam
suatu campuran berbagai mikroba. Contoh: Chocolatemedia dan Yeast-Extract-
poptasium Nitrat Agar.
4) Media selektif, merupakan media yang ditambahkan bahan-bahan tertentu yang akan
menghambat pertumbuhan mikroba yang tidak diinginkan yang ada dalam suatu
spesimen. Inhibitor yang digunakan berupa antibiotik, garam dan bahan-bahan kimia
lainnya.
5) Media differensial, merupakan media yang ditambahkan bahan-bahan kimia atau
reagensia tertentu yang menyebabkan mikroba yang tumbuh memperlihatkan
perubahan-perubahan spesifik sehingga dapat dibedakan dengan jenis lainnya.
6) Medium penguji (Assay medium), merupakan medium dengan susunan ertentu yang
digunakan untuk pengujian senyawa-senyawa tertentu dengan bantuan bakteri.
Contoh: medium untuk menguji vitamin-vitamin, antibiotik, dan lain-lain.
7) Medium perhitungan jumlah mikroba yaitu medium spesifik yang digunakan untuk
menghitung jumlah mikroba dalam suatu bahan. Contoh: medium untuk menghitung
jumlah bakteri E. Coli air sumur.
III. Metode Pratikum
III.1 Alat dan Bahan
A. ALAT
- Cawan petri: 6 buah
- Tabung reaksi: 6 buah
- Erlenmeyer: 1 buah
- Beaker glass 250ml: 1 buah
- Pipet tip: 10 buah
- Autoklaf
- Hot plate stirer
- Neraca analitik
- Sendok
- Spatula
- Botol coklat: 1 buah
- Keranjang
- Pipet mikro
- Batang pengaduk
- Pipet volume + bulb: 1 pasang
B. BAHAN
- Aquadest
- Media agar Sulfid Indol Motility (SIM)
- NaCl 0,85%
- Kapas
- Plastik
- Kertas buram
- Aluminium foil
- Tisu
III.2 Cara Kerja
Diagram Alir Penyiapan Larutan NaCl
Diagram Alir Pembuatan Media

Diagram Alir Sterilisasi Alat

Diagram Alir Sterilisasi Alat dan Bahan


Diagram Alir Pembuatan Agar Padat

IV. Hasil Pengamatan dan Pembahasan


Pertama disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Disiapkan cawan petri
sebanyak 6 buah, karena yang digunakan sebagai sample adalah 10-7, 10-6, 10-5 dan cawan
petri yang digunakan setiap sample sebanyak dua (duplo) maka cawan petri yang disiapkan
sebanyak 6 buah. Kemudian bungkus cawan petri dengan kertas buram, masukkan kedalam
plastik, siap untuk disterilisasi. Disiapkan 10 pipet tip, lalu dibungkus dengan auminium
foil, dimasukkan ke dalam plastik, siap untuk disterilisasi. Disiapkan tabung reaksi
sebanyak 6 buah, karena akan dilakukan pengenceran sebanyak 10 -7 dan pengenceran
pertama dilakukan di erlenmeyer.
Selanjutnya dilakukan pengenceran NaCl 0,85%. Serbuk NaCl 0,85% ditimbang
sebanyak 0,85 gram, kemudian didalam beaker glass NaCl 0,85% diencerkan dengan
aquadest sebanyak 100ml. Digunakan aquadest sebanyak 100ml karena jumah larutan
pengencer yang dibutuhkan untuk melakukan pengenceran sebanyak 100ml. Diaduk
hingga homogen dengan batang pengaduk.
Perhitungan jumlah aquadest yang digunakan:
Pengenceran pertama dilakukan sebanyak = 10-1 = 45ml
Pengenceran selanjutnya dilakukan sebanyak 6x = 10-6 = 9ml x 6 tabung reaksi = 54ml
Total larutan pengencer = 45ml + 54 ml
= 99ml 100ml
Perhitungan jumlah serbuk NaCl 0,85% yang ditimbang:
0,85
x 100 ml = 0,85 gram
100

Dimasukkan 45ml NaCl 0,85% yang telah diencerkan ke dalam botol coklat dan
tutup mulut botol coklat dengan kapas dan ditutup lagi dengan aluminium foil.
Dimasukkan masing-masing 9ml NaCl 0,85% yang telah diencerkan ke dalam 6 tabung
reaksi. Mulut tabung ditutup dengan kapas dan ditutup lagi dengan aluminium foil,
kemudian dimasukkan kedalam plastik, siap untuk disterilisasi.
Pembuatan media agar SIM (Sulfit Indol Motility) dilakukan dengan menimbang
media SIM sebanyak 1,5 gram, kemudian didalam erlemeyer media SIM diencerkan
dengan aquadest sebanyak 50ml (dianggap 120ml). Digunakan aquadest sebanyak 120ml
karena jumah larutan pengencer yang dibutuhkan untuk melakukan pengenceran sebanyak
120ml. Diaduk hingga homogen dengan hot plate stirer. Mulut erlemeyer ditutup dengan
kapas dan ditutup lagi dengan aluminium foil, siap untuk disterilisasi.
Perhitungan jumlah aquadest yang digunakan:
Karena cawan petri yang digunakan adalah 6 dan setiap cawan petri ditambahkan
15-20ml media SIM maka perhitungan aquadest yang digunakan adalah 6 x 20ml = 120ml.
Perhitungan jumlah media SIM yang ditimbang:
Pada kemasan media SIM sudah tertera 30/1000ml
30/1000ml x 50ml (dianggap 120ml) = 1,5 gram.
Semua alat yang sudah siap untuk disterilisasi dimasukkan ke dalam keranjang.
Keranjang dimasukkan ke dalam autoklaf yang sudah disetting dengan suhu 121 oC dan
dengan waktu 15 menit. Jenis sterilisasi yang digunakan adalah sterilisasi komersial.
Setelah sterilisasi selesai maka alat dan bahan siap untuk digunakan.
Pembuatan media agar padat diakukan dengan mendekatkan cawan petri ke api
dari pembakar spirtus sambil menuang 15-20ml media SIM yang telah steril. Dilakukan
dengan cara mendekatkan ke api bertujuan untuk menghindari kontaminasi dari udara
sekitar karena tidek dilakukan ditempat yang steril. Setelah itu didiamkan dan ditunggu
sampai memadat. Selanjutnya bahan siap untuk digunakan.
V. Kesimpulan
Daftar Pustaka
Lampiran