Anda di halaman 1dari 7

Draff Surat Perlindungan Hukum

Jakarta, xx November 2008


No. :xx/DN/x/08

Kepada yth.
KAPOLDA JAWA TENGAH
Jl. Pahlawan No. 1 Semarang
Jawa Tengah.

Up. Direktur Reserse Kriminal

Hal :Mohon Perlindungan Hukum

Dengan Hormat,

Perkenankanlah kami, xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx, SH, Advokat, berkantor pada


xxxxxxxxxxxxxxxxxxx & Partners, dengan ini memohon perlindungan hukum
kepada Bapak sehubungan dengan dilakukannya upaya pemeriksaan kepada
kami sebagai saksi dan tersangka oleh Kasat II Reskrim Polda Jateng, yang
mana pemeriksaan dilakukan pada saat kami sedang melaksanakan tugas profesi
dalam mendampingi Klien kami -------------------------------------------------- melawan PT.
--------------------, PT. ------------------------ dan --------------------------.

Bahwa kami sebagai Advokat saat ini sedang bertindak untuk dan atas nama Klien
kami ----------------------------------------berdasarkan:

1. Surat Kuasa dalam mengajukan permohonan pailit No. --------------------------------


2. Surat Kuasa dalam mendampingi klien sebagai Saksi No. ----------------------------
tanggal 17 Maret 2008;

Permohonan ini kami ajukan berdasarkan kejadian sebagai berikut:

Bahwa berdasarkan Surat Kuasa No. ---------------------------di atas, kami bertindak


untuk dan atas nama -------------------------------------- yang meminta bantuan hukum
kami untuk mengajukan tagihan kredit macet terhadap PT. ---------------------, PT.
--------------------- dan -------------------------, dimana PT. ---------------------------------- dan
-------------------------------- bertindak selaku penjamin kredit atas utang
PT.-----------------------------------------.

Bahwa berdasarkan Surat Kuasa tersebut, kami mengajukan permohonan pailit ke


Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Semarang sebagaimana terdaftar dalam
register perkara No. xx/PAILIT/2008/PN.SMG tertanggal 22 Januari 2008. Untuk
selanjutnya Termohon Pailit meminta perdamaian dan melakukan pembayaran tunai
setelah dipotong bunga. Dengan demikian sengketa antara
--------------------------------------- dengan PT. ---------------------, PT. dan
---------------------------- telah dinyatakan berakhir, sehingga antara para pihak tidak
terdapat lagi hubugan hukum dan posisi hukum masing-masing pihak tidak lagi
sebagai kreditur, debitur dan penjamin utang.

Bahwa tiba-tiba setelah terjadinya perdamaian tersebut, PT. ------------------------dan


------------------------------ meng-ultimatum Tim Likuidasi PT. -------------------------- untuk
membuat pernyataan maaf melalui Koran yang berisikan pernyataan bahwa mereka
(PT. ------------------ dan -------------------) bukan lagi sebagai penjamin. Atas
permintaan ini, klien kami menolak dan merasa keberatan.

Bahwa selanjutnya PT. --------------------------, PT. -------------------------- dan


-------------------------------------tersebut kemudian membuat laporan pidana dengan
tuduhan pencemaran nama baik sehingga Klien kami diperiksa sebagai saksi, yang
mana kami sebagai kuasa hukum, mendampingi Klien kami dalam pemeriksaan
sebagai saksi, sesuai dengan Surat Kuasa No. ---------------------------------- yang
masing-masingnya tertanggal xx Maret 2008.

Bahwa kemudian pada tanggal xx Mei 2008, Penyidik memanggil kami sebagai
Advokat untuk diperiksa sebagai saksi, dimana dalam pemeriksaan dimaksud kami
menyatakan bahwa dalam perkara yang terjadi kami hanya bertindak untuk dan atas
nama Klien kami, sehingga kami merasa keberatan untuk dimintai keterangan
mengenai perkara yang sedang kami tangani, yang mana jika kami memberikan
keterangan dalam pemeriksaan dimaksud, hal ini bertentangan dengan pasal 19
Undang-undang No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat jo Pasal 4 huruf h Kode Etik
Advokat Indonesia yang mewajibkan Advokat tetap merahasiakan segala sesuatu
yang diketahui atau diperoleh dari Kliennya karena hubungan profesinya sekalipun
hubungan hukum dengan Kliennya telah berakhir. Dan untuk itu kami menyerahkan
surat dari PERADI mengenai Advokat tidak dapat dimintai keterangan mengenai
perkara yang sedang ditangani.

Bahwa kemudian pada tanggal xx November 2008 Polda Jawa Tengah memanggil
kami sebagai Tersangka, dan untuk itu kami kembali menjelaskan bahwa kami tidak
dapat memberikan keterangan sehubungan dengan perkara yang sedang ditangani
karena bertentangan dengan kode etik profesi karena pada dasarnya kami
melakukan tindakan hukum untuk dan atas nama Klien kami, dimana kedudukan
kami tidak dapat diartikan sama dengan kedudukan Klien yang sedang kami
dampingi.

Demikianlah permohonan perlindungan hukum ini kami sampaikan, mohon kiranya


kearifan dan kebijaksanaan Bapak, agar kami yang sedang menjalankan tugas
profesi sebagai Advokat berdasarkan Undang-undang Advokat yang berlaku di
Indonesia tidak diliputi oleh perasaan was-was dan kekhawatiran yang disebabkan
oleh tindakan pemeriksaan sewaktu-waktu, dimana seolah-olah kami kami langsung
menjadi pihak dalam perkara yang sedang kami tangani.

Kami berharap fungsi dan organ penegak hukum yang salah satunya adalah profesi
yang sedang kami jalankan mendapat tempat dan kepastian perlindungan hukum
sehingga berguna dalam menjunjung tinggi demokrasi dan keadilan terhadap semua
pihak. Untuk itu kiranya Bapak berkenan memberikan perlindungan hukum kepada
kami dan dibebaskan dari segala tindakan pemeriksaan yang sedang dilakukan
terhadap kami.
Demikianlah surat ini kami sampaikan, atas perhatian dan kerjasama Bapak, kami
ucapkan terima kasih.

Hormat kami,
xxxxxxxxxxxxxxxx & Partners

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx, SH

contoh : permohonan perlindungan saksi

Kepada Yth,

MENTERI HUKUM DAN HAM RI


Up.
Di Tempat

Perihal : Permohonan Perlindungan Saksi


Lamp. : 1. Kronologis Kejadian
3. 1 Lembar potocopy KTP a/n
4. Surat Kuasa

Dengan hormat,
Kami yang bertanda tangan dibawah ini :

TEUKU BARRUN, SH.


Yang beralamat di KANTOR HUKUM TEUKU BARRUN, SH & Associates,
Jl. ., yang berdasarkan Surat Kuasa Khusus tertanggal
. selaku . KUASA HUKUM yang ditunjuk oleh :

. yang beralamat di ..
Sehubungan dengan perkara hukum yang menimpa Bp. . dan mantan isterinya,
... (Puteri dari klien kami), yang disangka telah turut serta melakukan tindak pidana
korupsi proses Pengajuan Pinjaman Uang di Bank MIUN dalam perkara Tindak Pidana
Korupsi dan atau Perbankan dan atau Pencucian Uang dan atau Pidana membuat Surat Palsu
atau Memalsukan surat yang dapat menerbitkan sesuatu hak dan atau menempatkan
keterangan palsu kedalam akta otentik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan Pasal 3
Undang-undang No.20 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 31 Tahun
1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan atau Pasal . dan Pasal dan atau
Pasal .ayat (.) Undang-undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dan atau Pasal . ayat (1) huruf a dan atau
Pasal . ayat (.) huruf b Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan
sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1988 JO pasal ayat
(.) ke (....) KUHP dan atau Pasal KUHP dan atau Pasal .. KUHP dan atau Pasal
. KUHP dengan tersangka ..

Bahwa Klien kami sebelum kemudian statusnya menjadi SAKSI, telah dilakukan serangkaian
tindakan hukum berupa PENGGELEDAHAN dan PENYITAAN barang-barang miik
pribadi yang dianggap sebagai Barang Bukti oleh Tim Penyidik dari MABES POLRI
berjumlah (..) orang yang dipimpin langsung oleh ......: , bahwa dalam melakukan
tindakan tersebut terdapat hal-hal/tindakan-tindakan yang menurut kami sangat JANGGAL
dan tidak sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) POLRI (Kronologi kejadian
terlampir).

Kami menegaskan bahwa tindakan para Penyidik Polri tersebut PATUT DIDUGA telah
melanggar HAK ASASI MANUSIA sesuai dalam :

pasal 9 ayat 2 UU no. 39 tahun 1999 tentang HAM: "Setiap orang


berhak hidup tenteram, aman, damai, bahagia, sejahtera lahir dan batin".
Tentang Hak atas rasa aman dalam Pasal 31 ayat (1) UU no.
39/1999 dijelaskan sebagai : Tempat kediaman siapapun tidak boleh
diganggu.
Dalam penjelasan diterangkan yang dimaksud dengan"tidak boleh diganggu adalah hak yang
berkaitan dengan kehidupan pribadi (privacy) di dalam tempat kediamannya.
Pasal 31 ayat (2) UU no. 39/1999 menyebutkan: Menginjak atau
memasuki suatu pekarangan tempat kediaman atau memasuki suatu
rumah bertentangan dengan kehendak orang yang mendiaminya, hanya
diperbolehkan dalam hal-hal yang telah ditetapkan oleh undang-undang."
Dimana para Penyidik melakukan tindakannya tersebut secara berulang-ulang di hari yang
berbeda untuk perbuatan yang sama, Penggeledahan dan Penyitaan atas barang/benda milik
pribadi, secara membabi-buta dan banyak sekali berlaku yang tidak sesuai dengan kepatutan
sebagai Penegak Hukum yang melanggar :
pasal 33 ayat (1) Perkap HAM No. 8 tahun 2009 tentang
Implementasi prinsip dan Standard HAM dalam penyelenggaraan
tugas Kepolsian RI: dalam melakukan tindakan penggeledahan
tempat/rumah, petugas wajib: (c) memberitahukan penghuni tentang
kepentingan dan sasaran Penggeledahan, (d) menunjukkan surat
perintah tugas dan/atau kartu identitas petugas, (e). melakukan
penggeledahan untuk mendapatkan barang atau orang dengan cara yang
teliti, sopan, etis dan simpatik dan harus didampingi oleh Penghuni,
(g) menerapkan taktik penggeledahan untuk mendapatkan hasil
seoptimal mungkin, dengan cara yang sedikit mungkin menimbulkan
kerugian atau gangguan terhadap pihak yang digeledah atau pihak
lain.
Pasal 33, ayat (2): dalam melakukan penggeledahan tempat/rumah,
petugas dilarang: (a) tanpa dilengkapi administrasi penyidikan, (c)
tanpa memberitahukan penghuni tentang kepentingan dan sasaran
penggeledahan, tanpa alasan yang sah; (d) melakukan
penggeledahan dengan cara yang sewenang-wenang, sehingga
merusakkan barang atau merugikan pihak yang digeledah, (f)
melakukan penggeledahan dengan cara berlebihan sehingga
menimbulkan kerugian atau gangguan terhadap hak-hak pihak
yang digeledah; (i) bertindak arogan atau tidak menghargai
harkat dan martabat orang yang digeledah.
Pasal 125 KUHP:"Dalam hal penyidik melakukan penggeledahan rumah
terlebih dahulu menunjukkan tanda pengenalnya kepada tersangka atau
keluarganya. Hal ini bertujuan untuk menghindari tindakan sewenang-
wenang yang dilakukan terhadap seorang (penjelasan pasal 125)."
Sebagai Warga Negara yang baik dan Sepenuhnya berhak atas perlindungan HUKUM sesuai
PERUNDANG-UNDANGAN yang berlaku, Klien kami . selalu siap memberikan
kesaksiannya atas perkara TIPIKOR yang melibatkan puterinya, ..

Dalam hal perlunya mendapatkan perlindungan oleh LPSK kepada Klien kami, ..,
dikarenakan dalam proses pencarian keterangan dan pengumpulan barang bukti oleh MABES
POLRI di kediaman ., kebetulan saat itu saksi berada di rumah tersebut
menunggui kedua cucunya, yang dilakukan berulang kali dengan cara yang TIDAK
SIMPATIK sama sekali, tindakan-tindakan yang dilakukan para Penyidik Mabes Polri
tersebut, termasuk dengan dilakukannya penggeledahan dan penyitaan berulang-kali /
berkali-kali dilakukan, atas barang-barang pribadi yang bukan merupakan bagian dari hasil
tindakan kejahatan yang dituduhkan, menjadikan tanda tanya besar bagi kami, apakah
LAYAK Status Klien kami yang hanya sebagai SAKSI kemudian mendapatkan perlakuan
REPRESIF diluar Standar Operasional Prosedur (SOP) dan bahkan diperlakukan
selayaknya TERSANGKA yang hendak melarikan diri?

Dan bahkan dalam hal ini Saksi berikut cucunya, secara langsung juga telah menjadi korban
tindakan kesewenang-wenangan para Penyidik Mabes Polri yang menciderai ketenangan
hidup mereka dan merubah rasa aman yang selama ini mereka nikmati menjadi semacam
bentuk TEROR ditempat tinggal mereka sendiri. Tindakan-tindakan sewenang-wenang para
penyidik yang dialami oleh Klien kami dan seluruh anggota keluarganya tersebut telah
menimbulkan luka secara PSIKOLOGIS yang dirasakan langsung oleh Klien
terutama bahkan oleh cucu Klien kami yang masih kecil-kecil, yang
Traumanya masih dapat dirasakan hingga saat ini dan kami khawatir dengan perkembangan
Psikologis cucu Klien kami tersebut kelak dikemudian hari.

Dengan latar belakang kejadian itu, maka kami memohon agar Klien kami, .,
dalam posisinya sebagai SAKSI dalam perkara hukum yang dialami oleh puter saksi,
. , dapat mendapatkan perlindungan oleh LPSK dari Tindakan SEWENANG-
WENANG yang sangat potensial untuk kembali dilakukan oleh para penyidik selama proses
penyidikan berlangsung.

Permohonan ini berdasarkan pada ketentuan-ketentuan tentang Perlindungan Saksi yang ada,
yaitu :

Pasal 1 ayat 4 UU PSK, Ancaman adalah segala bentuk perbuatan yang menimbulkan
akibat, baik langsung maupun tidak langsung, yang mengakibatkan saksi dan/atau korban
merasa takut dan/atau dipaksa untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu hal yang
berkenaan dengan pemberian kesaksiannya dalam suatu proses peradilan pidana
Pasal 1 ayat 6 UU PSK, Perlindungan adalah segala upaya pemenuhan Hak dan pemberian
bantuan untuk memberikan rasa aman kepada saksi dan/atau korban yang wajib dilaksanakan
oleh LPSK atau lembaga lainnya sesuai dengan ketentuan Undang-undang ini
Pasal 3 UU PSK yang berasaskan pada, Penghargaan pada harkat & martabat manusia; Rasa
aman; Keadilan; Tidak diskriminatif; dan Kepastian hukum.
Pasal 5 UU PSK, ayat 1 poin :
a. Memperoleh perlindungan atas keamanan pribadi, keluarga, dan harta bendanya, serta bebas
dari ancaman berkenaan dengan kesaksian yang akan, sedang, atau telah diberikannya;
b. Ikut serta dalam proses memilih dan menentukan bentuk perlindungan dan dukungan
keamanan;
c. Memberikan keterangan tanpa tekanan;
e. Bebas dari pertanyaan yang menjerat;
l. Mendapatkan nasihat hukum;
dan seluruh bentuk perlindungan lainnya dalam pasal ini.
Maka demi kepentingan proses penegakan hukum yang baik dan benar, dengan
terlindungnya SAKSI dalam perlindungan LPSK, maka kami mohon agar Klien kami, .,
dalam kapasitasnya sebagai SAKSI, dapat mendapatkan Perlindungan sepenuhnya oleh
LPSK.

Demikian surat Permohonan ini kami buat semata-mata demi Tegaknya Hukum dengan Baik
dan Benar.
Atas perhatiannya kami ucapkan Terima Kasih.
Jakarta, .

Hormat Kami,

Kuasa Hukum

TEUKU BARRUN, SH

Tembusan :

1. Yth. PRESIDEN Republik Indonesia


2. Yth. Kepala Kepolisian Republik Indonesia cq. Dit. PROPAM MABES POLRI
3. Yth. Ketua Komisi Kepolisian Nasional
4. Yth. Kepala Kejaksaan Agung Republik Indonesia cq. Jaksa Agung Muda Pengawas
5. Yth. Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia cq. Direktorat Jenderal HAK ASASI
MANUSIA
6. Yth. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia
7. Yth. Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia
8. Yth. Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia
9. Yth. Ketua Komisi Nasional Perlindungan Perempuan Indonesia
10. Klien

11. Arsip