Anda di halaman 1dari 31

Kelebihan dan Kekurangan Metode Geofisika

serta Aplikasinya dalam Bidang Geologi

I. Metode Pasif
1) Metode Gravitasi

Metode gravitasi digunakan untuk mengetahui keadaan bawah permukaan


berdasarkan perbedaan rapat massa cebakan mineral dari daerah sekeliling.
Metode ini sensitive terhadap perubahan rapat massa secara lateral, sehingga
metode ini sering digunakan untuk mempelajari kontak intrusi, batuan dasar,
struktur geologi, endapan sungai purba, lubang di dalam masa batuan, shaff
terpendam dan lain-lain.

Kelebihan metode gravitasi dengan metode geofisika yang lain:


Relatif lebih murah
Bersifat non dekstruktif
Instrumen yang ideal (gravimeter kecil dan portable)

Kekurangan metode gravitasi dengan metode geofisika yang lain:


Metode dengan tingkat ambiguitas yang tinggi
Perlu adanya pemahaman geologi yang mendalam dengan metode lainnya
Pengolahan data gravitasi yang lebih rumit dan memakan waktu yang cukup
lama dari pada metode lainnya

Aplikasi metode gravitasi dalam bidang Geologi:

A. Eksplorasi Panas Bumi


Untuk menemukan potensi pansa bumi metode gravitasi mengidentifikasi
tubuh batuan intrusive dibawah permukaan bumi serta sifat dari bawah
permukaan bumi dengan menggunakan perubahan rapat massa bawah
permukaan. Metode gravitasi juga juga dapat mengidentifikasi jalur patahan
bawah permukaan yang mana sering diidentifikasi sebagai lokasi
pengeboran utama dengan rapat massa yang jauh lebih kecil daripada
materi sekitarnya. Perubahan tingkat air tanah juga dapat diukur dan
diidentifikasi dengan metode gravitasi. Unsur resapan sangat penting dalam
menciptakan panas bumi yang produktif. Kerapatan dan kepadatan pori
keseluruhan selanjutnya dipengaruhi oleh aliran fluida sehingga mengubah
medan gravitasi. Jika dikoreksi terhadap kondisi cuaca, metoda ini dapat
mengukur dan memodelkan perkiraan laju resapan dalam reservoir panas
bumi. Respon medan gravitasi yang diukur di lapangan panasbumi tentu
berasal dari bagian-bagian 13 sistem panasbumi yang berupa obyek 3-
dimensi. Oleh karena itu, analisis terhadap data pengukuran gravitasi harus
bisa menghasilkan model sistem panasbumi secara 3-dimensi. Akan tetapi,
hasil analisis data gravitasi masih terbatas pada pemodelan 2-dimensi. Hal
ini menimbulkan ambiguitas ketika hasil analisis tersebut diinterpretasikan
ke bentuk sistem panasbumi yang sesungguhnya.
B. Eksplorasi Minyak Bumi
Kendala pada survei seismik ketika harus memetakan basement yang
kedalamanya sering tidak diprofilkan oleh data seismik. Survei gravity
secara sederhana akan menghitung variasi dan perbedaan gaya gravitasi
bumi yang disebabkan variasi densitas pada struktur geologi yang berbeda.
Setiap formasi batuan memiliki percepatan gravitasi yang berbeda-beda
bergantung pada massa dari batuan tersebut. Formasi batuan yang
membentuk trap dengan massa rendah seperti saltdome dapat dideteksi
dengan gravity karena percepatan gravitasinya lebih rendah daripada
percepatan gravitasi normal. Formasi batuan yang membentuk trap dengan
massa besar yang berada dekat permukaan seperti anticline dapat dideteksi
karena percepatan gravitasi nya lebih tinggi daripada percepatan gravitasi
normal. Gravity sendiri memetakan basement dengan menganggap densitas
batuan diatasnya lebih rendah daripada densitas basement itu
sendiri,memang dapat dibedakan dengan data gravity melalui perbedaan
densitasnya. Pemodelan basement dan formasi diatasnya didekati dengan
pendekatan formasi yang ada di atasnya dan menggunakan data regional
untuk densitas yang sudah dilakukan melalui sampel bor. Pemodelan
Gravity secara lateral akan menggambarkan bentuk subsurface dari
basement dan tiap-tiap formasi sehingga area sinklin dan area antiklin di
bawah permukaan terlihat sehingga idenfitikasi source rock dan
kemenerusanya di gambarkan. Pendekatan model ini didukung dengan data
tambahan seperti data well dan lainya untuk meyakinkan koreksi yang di
dapat dari data gravity ketika menentukan kedalaman dan ketebalan dari
tiap formasi.
C. Eksplorasi Bijih Besi
Masing-masing mineral tambang/endapan bijih besi memiliki densitas yang
berbeda-beda. Oleh karena itu variasi mineral pada lingkungan homogen
akan menghasilkan anomaly yang berbeda, sehingga mineral yang terdapat
didalam wilayah tersebut dapat ditentukan. Beberapa endapan seperti bijih
besi dapat dideteksi dengan metoda gaya berat (gravity), tapi hanya untuk
mengetahui profil batuan sampingnya (tidak dapat langsung mendeteksi
bijihnya) melalui anomali densiti.
D. Eksplorasi Batubara
Dalam eksplorasi batubara metode gravitasi digunakan untuk mengetahui
keberadaan struktur dan cekungan yang diperkirakan mengandung lapisan
batubara Perbedaan rapat massa (density) antar batuan menimbulkan
variasi gravitasi yang merupakan dasar dari metode ini. Adanya suatu
sumber yang berupa suatu massa (masif, lensa, atau bongkah besar) di
bawah permukaan akan menyebabkan terjadinya gangguan gravitasi yang
relative. Densitas dari batubara sendiri ummnya lebih rendah dari batuan
sekitarnya sehingga lapisan batubara ini akan mempunyai kontras densitas
yang jelas (significant) pada saat dideteksi oleh gravimeter.
E. Eksplorasi Air tanah
Penggunaan metode gravitasi tidak efektif karena air tidak memiliki
anomali. Air relatif dapat menembus semua lapisan batuan, sehingga tidak
ada yang namanya jebakan air. Karena metode ini menganggap air yang
terkandung dalam suatu batuan dianggap sebagai massa dari batuannya itu
sendiri.

2) Metode Geomagnetik

Metode magnet adalah salah satu metode geofisika yang digunakan untuk
menyelidiki kondisi permukaan bumi dengan memanfaatkan sifat kemagnetan
batuan yang diidentifikasikan oleh kerentanan magnet batuan. Metode ini
didasarkan pada pengukuran variasi intensitas magnetik di permukaan bumi
yang
disebabkan adanya variasi distribusi (anomali) benda termagnetisasi di bawah
permukaan bumi. Anomaly magnetic bias dihubungkan dengan batuan beku
primer atau proses sedimentasi yang membentuk mineral magnetic, atau
alterasi sekunder yang menghadirka atau menghilangkan mineral magnetic.

Kelebihan metode magnetik dibanding metode yang lain:


Metode ini sensitive terhadap perubahan vertikal, umumnya digunakan untuk
mempelajari tubuh intrusi, batuan dasar, urat hydrothermal yang kaya akan
mineral ferromagnetic, struktur geologi. Umumnya tubuh intrusi, urat
hydrothermal kaya akan mineral ferromagnetic(Fe3O4, Fe2O3) yang memberi
kontras pada batuan sekelilingnya.

Mineral-mineral ferromagnetic akan kehilangan sifat kemagnetannya bila


dipanasi mendekati temperatur Curie oleh karena itu efektif digunakan untuk
mempelajari daerah yang dicurigai mempunyai potensi Geothermal.

Data akuisisi dan data prosesing dilakukan tidak serumit metoda gravitasi.
Penggunaan filter matematis umum dilakukan untuk memisahkan
anomaly berdasarkan panjang gelombang maupun kedalaman sumber
anomali magnetik yang ingin diselidiki.

Kekurangan metode magnetik dibanding metode yang lain:


Setiap jenis batuan di bumi walaupun dalam pengklasifikasian atau
penamaannya sama, dapat saja mempunyai sifat dan karakteristik yang spesifik
akibat peristiwa geologi yang dialaminya. Sehingga bias memberikan data yang
didapat bisa berbeda dengan kenyataan yang sebenarnya di bawah permukaan.

Aplikasi metode gravitasi dalam bidang Geologi:

A. Eksplorasi Minyak Bumi


Metode geomagnetik mengukur variasi medan magnetik bumi yang
disebabkan perbedaan properti geomagnetik dari bebatuan di bawah
permukaan. Metode ini digunakan untuk memetakan variasi medan
magnetik bumi yang diakibatkan oleh perubahan strutktur, suseptibilitas
atau remanensi dalam batuan di dekat permukaan. Batuan sedimen
memikiki suseptibilitas yang rendah, sedangkan batuan beku dan
metamorf memiliki kandungan magnetik yang cukup tinggi. Survei
geomagnetik ini digunakan untuk memetakan struktur pada atau batuan
dasar untuk mendeteksi mineral magnetik yang terkandung didalamnya.
Metode ini awalnya digunakan pada eksplorasi minyak bumi di daerah
dengan struktur lapisan sedimen tertentu,yang dilihat dari topografi
permukaan dasar batuan. Kemudian digunakan metode geomagnetik-
dara untuk mengetahui tebal lapisan sediman yang menampung minyak
bumi. Dalam eksplorasi migas metoda geomagnetik memang hanya
dipergunakan untuk tahap awal , terutama guna tujuan regional untuk
mengetahui konfigurasi basement (batuan dasar). Tujuan utamanya
adalah untuk mengetahui ketebalan sedimen, makin tebal makin bagus
dan potensial untuk source rock.
B. Eksplorasi Panas Bumi
Salah satu metode geofisika untuk melihat potensi panas bumi adalah
metode geomagnet. Metode tersebut diterapkan untuk mengetahui sifat-
sifat fisik batuan yang ada di bawah permukaan. Dalam eksplorasi
panas bumi, metode magnetik digunakan untuk mengetahui variasi
medan magnet di suatu daerah. Variasi magnet disebabkan oleh sifat
kemagnetan yang tidak homogen dari kerak bumi. Dimana batuan di
dalam sistem panas bumi pada umumnya memiliki magnetisasi rendah
dibanding batuan sekitarnya. Hal ini disebabkan adanya proses
demagnetisasi oleh proses alterasi hidrotermal, dimana proses tersebut
mengubah mineral yang ada menjadi mineral-mineral paramagnetik
atau bahkan diamagnetik. Nilai magnet yang rendah tersebut dapat
menginterpretasikan zona- ona potensial sebagai reservoar dan sumber
panas Bumi. Sasaran utama dari penelitian geomagnetik adalah untuk
mendapatkan data bawah permukaan yang berkaitan dengan manifestasi
panas bumi di daerah penelitian dan sekaligus untuk melokalisir daerah
anomali magnetik rendah (low magnetic anomaly) yang diperkirakan
berkaitan erat dengan manifestasi panas bumi di daerah tersebut.
C. Eksplorasi Bijih Besi
Eksplorasi Biji besi dengan menggunakan metode geomagnetik sudah
lama digunakan karena keefektifanya melakukan pemisahan antara
batuan dengan nilai kemagnetan rendah dengan tinggi, dan biji besi
sendiri merupakan batuan dengan nilai kemagnetan tinggi atau
ferromagnetik. Besaran ini adalah parameter dasar yang dipergunakan
dalam metode magnetik. Harga k (suscepbilitas) pada batuan semakin
besar apabila dalam batuan tersebut semakin banyak dijumpai
mineralmineral yang bersifat magnetik. Suseptibilitas magnetik batuan
merupakan harga magnet suatu batuan terhadap pengaruh magnet yang
erat kaitannya dengan kandungan mineral dan oksida besi. Semakin
besar kandungan mineral magnetit di dalam batuan, semakin besar
harga suseptibilitasnya. Secara geologi, biji besi di bentuk dalam proses
ineralisasi batuan beku (andesit, vulkanik dll) dan lokasi keberadaan biji
besi sendiri di daerah yang mempunyai jalur pegunungan atau daerah
aktif sehingga lokasi dan aksesnya lumayan lebih sulit jika
dibandingkan dengan mineral lain. Kalau batubara dan mangan di
dekati dengan pemisahan batuan beku dan batuan sedimen tetapi biji
besi susah tapi lebih banyak mudahnya karena biji besi dominan
melekat pada zona mineralisasi batuan beku sehingga perbedaan
kemagnetan dari batuan beku dengan biji besi sendiri tidak terlalu jauh
sehingga di butuhkan pemodelan yang lebih rumit dan melakukan
pemodelan susceptibilitas untuk membedakan range nilai kemagnetan
batuan beku dan biji besi.
D. Eksplorasi Batubara
Eksplorasi batubara dengan menggunakan metode geomagnet memang
jarang dilakukan karena barang tambang ini memiliki nilai kemagnetan
yang rendah dan pengendapanya merupakan berbentuk sedimentasi.
Ada beberapa analisis sebelum melakukan dan menerapkan metode ini,
yaitu salah satunya adalah mengidentifikasi daerah batubara itu
sendiri,maksudnya dalam sejarah geologi ada informasi tentang
formasi,struktur dan batuan sekitar, batubara dengan struktur tinggi
akan emudahkan kita mengidentifikasinya,sedangkan dengan struktur
rendah agak sulit,tetapi didaerah dengan batuan vulkanik atau intrusi ini
sangat membantu mengidentifikasi batubara. Identifikasi batubara
didaerah lingkungan intrusi atau daerah vulkanik bukan langsung
mengarah ke batubara itu sendiri tapi mengejar respon sekundernya,
yaitu dengan mengidentifikasi daerah sedimentnya, batubara akan
terdapat didaerah ini karena sejarah pengendapanya yang sama, tapi
memunkinkan di intrusinya itu sendiri terdapat batubara tapi umumnya
tipis dan mempunyai kalori yang tinggi. Daerah sedimen di data magnet
sendiri akan mencerminkan nilai kemagnetan yang rendah, sedangkan
nilai tinggi berkorelasi dengan nilai batuan yang tinggi pula
(kemagnetanya) ini termasuk batuan vulkanik dan intrusinya itu sendiri.
Survei Geomagnet untuk batubara berbeda dengan survey untuk
eksplorasi mineral seperti biji besi,mangan,dan lainya. Karakter sebaran
batubara (endapan) yang menyebar horizontal dan berbentuk lapisan
membuat design pengukuran dan plan nya berbeda. Salah satu
langkahnya yaitu menganalisa secara geologi sejarah batubara di daerah
tersebut apakah strukturnya tinggi ataupun Cuma datar-datar dengan
struktur yang tidak terlalu komplek. Identifikasinya yaitu dengan
melihat dimana formasi yang berupa sedimen dan batuan lainya.
Batubara lebih banyak tersingkap di daerah sedimen dengan pola
endapan seperti daerah pasir,clay dan sedimen lainya,sangat jarang
ditemui di daerah andesit dan vulkanik, kalaupun ada tipis tetapi
mempunyai kalori yang lebih tinggi. Design survey dari geomagnet
sendiri akan lebih mudah untuk design regional, ketika data sudah
menunjukan sebaran kemagnetan rendah dan tingginya kita tinggal
dengan di daerah yang kita anggap sedimen, dari survei regional
tersebut kita tambah dan rapatkan lintasanya untuk mendapatkan
akurasi sebaran dari sedimenya tersebut.
E. Eksplorasi Air Tanah
Air tanah dapat menyebabkan suatu endapan yang menimbulkan arus
lemah (battery action). Arus ini akan menghasilkan medan magnet.
Pengukuranpengukuran tegangan (voltase) secara sistematis di
permukaan dapat memperlihatkan suatu perubahan yang signifikan jika
terdapat mineralisasi di bawah permukaan sehingga akan terjadi
perubahan nilai susceptibilitas batuannya.
3) Metode Radioaktif (Gamma-Ray Methods)
Gamma-Ray Methods menggunakan scintillometry untuk mengidentifikasi
kehadiran radioelement alamiah potassium, uranium dan thorium. Multi-
channel dapat menyediakan ukuran dari kelimpahan raidoelemen di alam.
Metode Gamma-Ray memiliki penerapan yang luas dalam eksplorasi uranium.
Metode ini dapat memberikan ukuran kuantitatif langsung dari radioelements
alami, memberikan informasi geoenvironmental mengenai dosis radiasi dan
potensi radon. Karena uranium dan (atau) kalium biasanya diperkaya atau
berdekatan dengan beberapa deposito, kehadiran mereka mungkin sering
digunakan untuk secara tidak langsung menilai potensi pelepasan bahan
berbahaya dari bijih atau limbah tumpukan. Di mana mineral-mineral sulfida
yang hadir oksidasi mempercepat mobilisasi uranium.
4) Metode Aliran Panas (Thermal Methods)
Dua teknik yang berbeda yang termasuk dalam metode termal: (a) pengeboran
atau metode penyelidikan dangkal untuk mengukur gradien termal, yang
berguna sendiri, dan dengan pengetahuan tentang konduktivitas termal
menyediakan ukuran aliran panas, dan (b) udara atau pengukuran berbasis
satelit, yang dapat digunakan untuk menentukan suhu permukaan bumi dan
inersia termal materi di permukaan, radiasi inframerah termal yang dipancarkan
di permukaan bumi. thermal noise meliputi topografi, variasi konduktivitas
termal, dan intrinsic sumber endotermik dan eksotermis. Metode pengeboran
termal telah diterapkn dalam eksplorasi panas bumi, namun jarang digunakan di
eksplorasi mineral. Namun, metode ini memiliki potensi kegunaan dalam
eksplorasi dan geoenvironmental. Penyebab anomali fluks panas meliputi
mineral oksidasi sulfida dan konsentrasi radioelement. Dalam aplikasi
geoenvironmental, oksidasi tubuh sulfida di-tempat atau di atas tumpukan
sampah, jika cukup cepat, dapat menghasilkan anomali termal terukur, yang
dapat memberikan ukuran jumlah logam yang dilepaskan ke lingkungan. Suhu
lubang bor juga mungkin mencerminkan sistem hidrologi dan hidrotermal yang
memiliki eksplorasi dan konsekuensi geoenvironmental. Pengukuran Airborne
inframerah termal memiliki aplikasi dalam eksplorasi panas bumi, dan mungkin
memiliki potensi dalam eksplorasi mineral dan dalam aplikasi
geoenvironmental setiap kali suhu permukaan tanah adalah anomali karena
oksidasi sulfida, kondisi hidrologi, atau gangguan aliran panas karena struktur
atau litologi.
5) Metode Seismik Pasif
Metode seismic pasif ini menggunakan gelombang seismik yang dihasilkan
oleh alarm dengan frekuensi rendah yang bisa digunakan untuk pemantauan
aktivitas gunung api, pemantauan patahan aktif, strategi mitigasi bencana dalam
gempa bumi dan perkiraan bencana gempabumi, dan untuk pemantauan sistem
panas bumi. Secara umum, sinyal mikroseismik terekam dan terproses hampir
sama dengan sinyal gempa tektonik. Namun, pada analisa sinyal gempa
tektonik berbicara mengenai magnitude diatas 5Mw, sedangkan analissa gempa
mikro di area geothermal berada pada magnitude kurang dari 3 Mw (Julian and
Foulger, 2009).
Pertama sinyal kontinyu yang terekam dianalisa dengan deteksi algoritma
gempa bumi untuk mengetahui kapan sumber energy impulsive muncul.
Kemudian seismogram menyimpan sinyal termasuk beberapa trigger time
window yang digunakan untuk menangkap data dalam bentuk sinyal digital.
Pada aplikasi borehole, sensor triaxial ini digunakan dalam menjelaskan
mengenai orientasi raypath dari fase insiden. Pada pemodelan kecepatan secara
detail dalam industry minyak dan gas bisa direkontruksi melalui sonic logs dan
event location dikalkulasi pada titik yang cocok dengan analisa waktu tiba pada
beda fase dan orientasi raypath. Atribut seismic yang bisa diketahui melalui
perekaman ini yang dijelaskan melalui amplitudo dan frekuensi yaitu
magnitudo, energy potensial, dan asumsi dari beberapa patahan dari stress, dan
zona area patahan dapat berguna untuk interpretasi dari seismik ini yang juga
bisa langsung terkomputasi. Salah satu aspek dari teknologi seismik pasif ini
hampir sama dengan aktif seismic.
Pada eksplorasi panas bumi dilakukan berbagai tahap sampai dilakukannya
produksi panas bumi yaitu: survey awal, eksplorasi, pengeboran, quality
control, eksploitasi, dan pemanfaatannya. Hampir di semua tahap seismik alam
dapat digunakan untuk memaksimalkan hasil yang diperloeh. Mulai dari
identifikasi seismik alam hingga perkiraan cadangan yang tersedia di tempat
berpotensi panas bumi.
Fungsi pertama dari penggunaan data mikroseismik pada pemantauan sumur
tua yaitu injeksi fluida (uap atau air) yang mengakibatkan penambahan tekanan
pada sumur yang melawan formasi batuan menciptakan hydraulic fracturing
sehingga menyebabkan timbulnya gempa kecil (microearthquake) yang
melepaskan gelombang seismic (Phillips et al,2001).Tidak hanya hydraulic
fracturing, patahan alami yang aktif karena adanya hydraulic fracturing juga
memainkan peran penting di dalam pengembangan dan produksi pada panas
bumi. Dari data gelombang seismic yang dihasilkan tersebut bisa digunakan
untuk menggambarkan orientasi, tinggi, lebar, kompleksitas, dan pertumbuhan
temporal dari patahan yang diinduksi. Pada aktivitas perekaman event selama
injeksi, data mikroseismik juga bisa digunakan untuk pengukuran secara
langsung patahan secara dimensi dan geometry.
Fungsi yang lain dalam pengaplikasian metode mikroseismik adalah untuk
identifikasi struktur batuan di bawah permukaan bumi dengan parameter
parameter yang digunakan untuk menyelesaikan masalah geomekanik untuk
menjaga kelangsungan hidup dari reservoir. Pergerakan patahan bisa di deteksi
dengan pengawasan menggunakan mikroseismik contoh nya pada perekaman
sinyal mikroseismik selama 18 hari di Ekofisk Field yang bisa mendeteksi pola
patahan yang terisi gas. Keuntungan lainnya yaitu patahan yang kecil dapat
langsung terdeteksi yang merupakan patahan mendatar yang tidak dapat
dideteksi secara langsung dengan menggunakan seismic refleksi menggunakan
offset horizons.
Metode mikroseismik ini juga bisa digunakan sebagai survey pendahuluan pada
zona yang berpotensi panas bumi selain metode gravity, magnetik, dan IP yang
biasa digunakan. Metode ini digunakan untuk pemetaan mengenai mikrozonasi
gempa untuk mengetahui seberapa sering daerah tersebut terjadi gempa dan
mengetahui percepatan getaran tanah yang terjadi akibat adanya gempa bumi
yang beramplifikasi dengan seismik alam disekitarnya. Manfaat ini dapat
digunakan untuk menjadi pertimbangan melakukan ekploitasi di lapangan
berpotensi panas bumi dan dapat dijadikan tolak ukur untuk pemasangan pipa
dan casing dari sumur tersebut, sehingga dapat dijadi standar keamanan
operasional.
Data mikroseismik juga dapat digunakan untuk memonitor pergerakan massa
batuan akibat dari deformasi batuan dan mengetahui ketebalan lapisan lapuk
yang dapat menyebabkan pemasangan sumur untuk kegiatan eksploitasi
menjadi gagal. Pengaplikasian fungsi ini pernah dilakukan di Valhall dan Cold
Lake Field untuk mengidentifikasi aktivitas mikroseismik akibat deformasi
yang berada di wilayah potensial dari panas bumi, sehingga dapat dipetakan
daerah yang tepat untuk dilakukannya pemasangan pipa sumur untuk kegiatan
ekplorasi dan untuk pemasangan casing untuk keamanan operasional.
Selain dari manfaat di atas, dari segi biaya survey dan operasional dari metode
ini lebih murah dibandingkan dengan menggunakan well seismik yang mahal
seharga 2 4 juta dolar karena menggunakan sumber yang sudah tersedia di
alam dan bersifat kontinyu, berbeda dengan seismic aktif yang bersifat
diskontinyu sehingga dapat dipantau terus menerus.
Tetapi Metode ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk penelitian
untuk kasus kasus tertentu dan perlu dibuktikan dengan teknologi yang
mendukung untuk meningkatkan kepastian dari hasil yang didapat dari metode
ini. Bukan tidak mungkin mikroseismik / seismik pasif ini dapat menjadi alasan
tergantikan metode seismic aktif yang sudah menjadi standar di dalam dunia
eksplorasi minyak dan gas bumi.
6) Metode Potensial Diri
Potensial alami dapat terjadi akibat adanya perbedaan material, konsentrasi
larutan eletroktrolit dan atau adanya suatu aliran fluida. Beberapa kejadian lain
adalah terbentuknya potensial spontan (spontaneous potentials) seperti akibat
adanya perbedaan mineralisasi, reaksi elektrokimia, aktivitas geotermal, dan
bioelektrik yang dihasilkan oleh tumbuhan. Interpretasi bawah permukaan
dapat dilakukan dengan memetakan potensial spontan tersebut. Metode SP
adalah metode yang pasif, beda potensial alami yang dihasilkan oleh suatu
material geologi di suatu daerah survey diukur diantara dua titik elektroda di
permukaan tanah. Beda potensial yang terukur mulai dari beberapa milivolt
hingga lebih dari satu volt. Positif dan negatif harga beda potensial adalah
faktor yang penting di dalam interpretasi anomali SP. Potensial alami terdiri
dari dua komponen, komponen pertama bernilai konstan dan tak berarah,
sedangkan komponen berikutnya berfluktuasi dengan waktu. Komponen
konstan berhubungan dengan proses elektrokimia sedangkan komponen
variabel berhubungan dengan variasi dari berbagai proses, seperti induksi arus
bolak balik akibat adanya petir dan medan magnetik bumi. Metode SP ini mulai
digunakan sejak 1920 sebagai salah satu metode untuk eksplorasi logam dasar,
lebih khusus lagi untuk mendeteksi adanyha suatu badan bijih. Beberapa
mineral yang mungkin di prospeksi dengan metode SP adalah Pirit, Pirhotit,
Grafit, Kalkopirit, Kovelit, Bornit, Kalkosit, Antrasit, dan Galena karena
mineral-mineral tersebut dapat berfungsi sebagai konduktor. Sedangkan Sfalerit
karena bersifat nonkonduktor maka mineral ini tidak dapat diprospeksi dengan
metode SP.

II. Metode Aktif


1) Metode Seismik Aktif
Metoda seismik adalah salah satu metoda eksplorasi yang didasarkan pada
pengukuran respon gelombang seismik (suara) yang dimasukkan ke dalam
tanah dan kemudian direleksikan atau direfraksikan sepanjang perbedaan
lapisan tanah
atau batas-batas batuan. Terdapat dua macam metoda dasar seismik yang sering
digunakan, yaitu seismik refraksi dan seismik refleksi.
Metoda seismik refraksi mengukur gelombang datang yang dipantulkan
sepanjang formasi geologi di bawah permukaan tanah. Peristiwa refraksi
umumnya terjadi pada muka air tanah dan bagian paling atas formasi bantalan
batuan cadas. Grafik waktu datang gelombang pertama seismik pada masing-
masing geofon memberikan informasi mengenai kedalaman dan lokasi dari
horison-horison geologi ini. Informasi ini kemudian digambarkan dalam suatu
penampang silang untuk menunjukkan kedalaman dari muka air tanah dan
lapisan pertama dari bantalan batuan cadas. Seismik bias dihitung berdasarkan
waktu jalar gelombang pada tanah/batuan dari posisi sumber ke penerima pada
berbagai jarak tertentu. Pada metode ini, gelombang yang terjadi setelah usikan
pertama (first break) diabaikan, sehingga sebenarnya hanya data first break
sajayang dibutuhkan. Parameter jarak (offset) dan waktu jalar dihubungkan
oleh sepat rambat gelombang dalam medium. Kecepatan tersebut dikontrol oleh
sekelompok konstanta fisis yang ada di dalam material dan dikenal sebagai
parameter elastisitas.
Sedangkan metode seismik refleksi menggunakan gelombang kejut (shock-
wave) buatan yang diarahkan untuk melalui bebatuan menuju target reservoir
dan daerah sekitarnya. Oleh berbagai lapisan material di bawah tanah,
gelombang kejut ini akan dipantulkan ke permukaan dan ditangkap oleh alat
receivers sebagai pulsa tekanan (oleh hydrophone di daerah perairan) atau
sebagai percepatan (oleh geophone di darat). Variasi waktu datang gelombang
pantul tersebut akan mencerminkan adanya kondisi struktural tertentu dari
lapisan di bawah permukaan. Kedalaman bidang antar lapisan dapat dihitung
jika kita ketahui waktu datang gelombang pantul serta data kecepatan
gelombang di dalam lapisan batuan.
Kelebihan metode seismik refraksi dibandingkan dengan metode seismik
refleksi:
Pengamatan refraksi membutuhkan lokasi sumber dan penerima yang kecil,
sehingga relatif murah dalam pengambilan datanya
Prosesing refraksi relatif simpel dilakukan kecuali proses filtering untuk
memperkuat sinyal first break yang dibaca.
Karena pengambilan data dan lokasi yang cukup kecil, maka pengembangan
model untuk interpretasi tidak terlalu sulit dilakukan seperti metode geofisika
lainnya.
Kekurangan metode seismik refraksi dibandingkan dengan metode
seismik refleksi:
Dalam pengukuran yg regional ,membutuhkan offset yang lebih lebar.
Hanya bekerja jika kecepatan gelombang meningkat sebagai fungsi
kedalaman.
Biasanya diinterpretasikan dalam bentuk lapisan-lapisan. Masing lapisan
memiliki dip & topografi.
Hanya menggunakan waktu tiba sebagai fungsi jarak (offset).
Model yang dibuat didesain untuk menghasilkan
Kelebihan metode seismik refleksi dibandingkan dengan metode seismik
refraksi:
Pengukuran seismik pantul menggunakan offset yang lebih kecil.
Seismik pantul dapat bekerja bagaimanapun perubahan kecepatan sebagai
fungsi kedalaman.
Seismik pantul lebih mampu melihat struktur yang lebih kompleks
Seismik pantul merekam dan menggunakan semua medan gelombang yang
terekam.
Bawah permukaan dapat tergambar secara langsung dari data terukur.
Kekurangan metode seismik refleksi dibandingkan dengan metode seismik
refraksi:
Karena lokasi sumber & penerima yang cukup lebar untuk memberikan citra
bawah permukaan yang lebih baik, maka biaya akuisisi menjadi lebih mahal.
Memerluakn komputer yang lebih mahal, dan sistem data base yang jauh
lebih handal.
Karena banyaknya data yang direkam, pengetahuan terhadap data base harus
kuat, diperlukan juga beberapa asumsi tentang model yang kompleks dan
interpretasi.
Kelebihan metode seismic aktif dibandingkan dengan metode geofisika
yang lain:
Dapat mendeteksi variasi baik lateral maupun kedalaman dalam parameter
fisis yang relevan, yaitu kecepatan seismik
Dapat menghasilkan citra kenampakan struktur di bawah permukan
Dapat dipergunakan untuk membatasi kenampakan stratigrafi dan beberapa
kenampakan pengendapan.
Respon pada penjalaran gelombang seismik bergantung dari densitas batuan
dan konstanta elastisitas lainnya. Sehingga, setiap perubahan konstanta tersebut
(porositas, permeabilitas, kompaksi, dll) pada prinsipnya dapat diketahui dari
metode seismik.
Memungkinkan untuk deteksi langsung terhadap keberadaan hidrokarbon.
Kekurangan metode seismic aktif dibandingkan dengan metode geofisika
yang lain:
Banyaknya data yang dikumpulkan dalam sebuah survei akan sangat besar
jika diinginkan data yang baik
Perolehan data sangat mahal baik akuisisi dan logistik dibandingkan dengan
metode geofisika lainnya.
Reduksi dan prosesing membutuhkan banyak waktu, membutuhkan komputer
mahal dan ahli-ahli yang banyak.
Peralatan yang diperlukan dalam akuisisi umumnya lebih mahal dari metode
geofisika lainnya.
Deteksi langsung terhadap kontaminan, misalnya pembuangan limbah, tidak
dapat dilakukan.
Aplikasi metode seismic aktif dalam bidang Geologi:
A. Eksplorasi Minyak Bumi
Respon pada penjalaran gelombang seismik bergantung dari densitas
batuan dan konstanta elastisitas lainnya. Sehingga, setiap perubahan
konstanta tersebut (porositas, permeabilitas, kompaksi, dll) pada
prinsipnya dapat diketahui dari metode seismik. Gelombang seismik
akan dipantulkan bila mengenai kontras acoustic impedance, yang
merupakan produk dari densitas dan kecepatan gelombang seismik dari
suatu medium. Metode seismik refleksi dapat digunakan untuk
mendeteksi parameter fisis baik secara lateral (horizontal) maupun
kedalaman (vertikal). Sehingga metoda seismik mampu untuk
menghasilkan peta struktural dari setiap horison geologi yang
memberikan harga pantulan, tetapi horison itu sendiri tidak dapat
diidentifikasi tanpa informasi geologi berdasarkan data lubang
pemboran. Data seismik pantul dapat digunakan untuk menentukan
harga kecepatan rata-rata, dan sesuatu yang penting dari kacamata
geologi, kecepatan interval pada lapisan yang kurang dari beberapa
ratus meter. Informasi ini menyajikan setidak-tidaknya suatu indikator
statistik tentang litologi. Dengan metoda seismik pantul maka dapat
dilokalisasi dan dipetakan adanya struktur antiklin, patahan, kubah
garam, dan terumbu. Beberapa darinya berasosiasi dengan akumulasi
minyak bumi dan gas. Beberapa bentuk penipisan stratigrafi semacam
bentuk melidah atau perubahan fasies.
B. Eksplorasi Panas Bumi
Aktivitas micro earthauke /kegempaan merupakan salah satu fenomena
yang terjadi pada area produksi Geothermal. Injeksi fluida pada saat
proses produksi akan menghasilkan tekanan yang melawan formasi
batuan dan menciptakan hydraulyc fracture. Dari fracture yang
terbentuk akan menyebabkan timbulnya micro erathquake yang
melepaskan energi gelombang seismik. Oleh karena adanya aktivitas
kegempaan ini, untuk melakukan monitoring pada zona reservoir
Geothermal digunakan metode micro erathquake (MEQ) yang
merupakan metode passive seismic untuk melihat distribusi gelombang
mikro yang terjadi pada zona reservoir. Melalui pengukuran dengan
metode ini akan didapatkan nilai kecepatan gelombang-p dan
gelombang-s yang merambat pada medium bumi. Nilai ini dapat
digunakan untuk mengestimasi sebaran nilai Rasio poisson pada suatu
batuan pada zona reservoir Geothermal. Rasio poisson merupakan sifat
mekanik batuan yang mengindikasikan tingkat fracturing pada batuan
tersebut yang mana nilai Rasio poisson akan lebih tinggi dari kondisi
normal pada batuan yang terisi liquid (cairan). Selanjutnya nilai Rasio
poisson digunakan untuk memprediksi presentase saturasi air sehingga
dapat dilakukan evaluasi terhadap kondisi zona reservoir Geothermal.
C. Eksplorasi Batubara
Dalam eksplorasi batubara umumnya seismik refleksi digunakan untuk
struktur geologi lapisan batubara. Secara fisis, batubara dicirikan
dengan densitas dan kecepatan gelombang P (Vp) yang sangat rendah
dibandingkan dengan lapisan penutupnya. Dikarenakan memiliki
densitas dan Vp yang sangat rendah, maka pada rekaman seismik,
batubara akan menunjukkan respon amplitude yang mencolok. Oleh
karena itu, walaupun ketebalan batubara yang umumnya tipis, akan
tetapi karena adanya respon amplitudo yang mencolok tersebut maka
batas resolusinya menjadi /8 bukan lagi /4. Untuk eksplorasi batubara
dengan target yang dangkal, maka metode seismik yang tepat untuk
diterapkan adalah High Resolution Seismic, dimana rentang frekuensi
dominan-nya antara 50-150Hz.
D. Eksplorasi Air Tanah
Untuk pencarian air tanah bisanya digunakan metoda seismik refraksi
karena lebih efektif untuk target yang lebih dangkal. Dengan Mengukur
gelombang datang yang dipantulkan sepanjang formasi geologi dibawah
permukaan tanah. Peristiwa refraksi umumnya terjadi pada muka air
tanah dan bagian paling atas formasi bantalan batuan cadas. Mengingat
batuan yang lebih kompak akan memiliki densitas yang lebih besar dari
batuan berpori(yang kemungkinan terisi fluida/air).
Metode ini didasarkan pada sifat penjalaran gelombang yang
mengalami bias dengan sudut kritis dalam perambatannya, gelombang
tersebut melalui bidang batas yang memisahkan suatu lapisan dengan
lapisan lain di bawahnya, yang mempunyai kecepatan gelombang lebih
besar. Parameter yang diamati adalah karakteristik dan waktu tiba
gelombang pada masing-masing geophone. Interpretasi dilakukan
terhadap kurva waktu tempuh gelombang yang menyatakan hubungan
linear antara nilai waktu tiba gelombang dengan jarak offset geophone.
Adanya nilai variasi kecepatan yang berbeda dari tiap lapisan. Dari nilai
variasi kecepatan yang berbeda ini menunjukan adanya jenis batuan
penyusun dari tiap lapisan yang berbeda, sehingga dari analisis tiap
lapisannya memperlihatkan kedalaman serta ketebalan tiap lapisannya,
yang digunakan untuk menganalisis letak lapisan akuifer, geometri
akuifer dangkal.
2) Metode Geolistrik (Ressistivity)
Geolistrik merupakan salah satu metoda geofisika yang mempelajari sifat
aliran listrik di dalam bumi dan bagaimana cara mendeteksinya di dalam bumi
dan bagaiman cara mendeteksinya di permukaan bumi. Pada metode ini arus
listrik diinjeksikan ke dalam bumi melalui elektroda arus dan dilakukan
pengukuran beda potensial melalui elektroda potensial. Dari hasil pengukuran
arus dan beda potensial listrik akan dapat dihitung variasi harga resistivitas
pada lapisan permukaan bumi di bawah titik ukur (Sounding point).
Kelebihan metode geolistrik dengan metode geofisika yang lain:
Harga peralatan murah
Biaya relatif lebih murah
Peralatan lebih kecil dan ringan
Waktu yang dibutuhkan cepat, bisa mendapatkan 6 7 titik dalam sehari
Pengolahan data yang tidak rumit
Kekurangan metode geolistrik dengan metode geofisika yang lain:
Kurang efektif untuk pemakaian di kawasan karst
Untuk mendeteksi air tidak dapat diketahui berapa jumlah volume (debit)
pasti air tersebut
Tidak dapat membedakan air mengalir dan yang statis
Tidak dapat menjangkau wilayah yang dalam karena jankauannya berkisar
1000-1500 kaki dibawah permukaan bumi
Aplikasi metode geolistrik (resistivity) dalam bidang Geologi:
A. Eksplorasi Air Tanah
Metode geolistrik yang paling tepat untuk digunakan dalam pencarian
reservoir air tanah adalah metode tahanan jenis/resistivitas, karena
metode ini lebih efektif untuk eksplorasi yang sifatnya dangkal yaitu
pada kedalaman sekitar 30-150 meter. Parameter yang diukur adalah
harga resistensi batuan dimana batuan yang mengandung banyak air
memiliki konduktivitas semakin besar, sehingga resistivitasnya akan
semakin kecil. Begitu pula sebaliknya, konduktivitas akan semakin
kecil jika kandungan air dalam batuan semakin sedikit, sehingga
resistivitasnya akan semakin besar. Berdasarkan nilai tahanan jenis
sebenarnya, dapat diinterpretasi jenis batuan, kedalaman, ketebalan, dan
kemungkinan kandungan air bawah tanahnya. Dengan demikian dapat
diperoleh gambaran daerah-daerah yang berpotensi mengandung air
tanah. Untuk membatasi zona yang berpotensi mengandung air tanah,
dilakukan analisis spasial dengan memadukan peta ketebalan akuifer
dan overburden, peta kemiringan lereng (slope), peta kelurusan
(lineament), dan peta drainase sehingga menghasilkan peta potensi air
tanah.
B. Eksplorasi Minyak Bumi
Umumnya metode geolistrik jarang digunakan untuk eksplorasi minyak
dan gas bumi dikarenakan metode ini tidak dapat menjangkau wilayah
yang dalam karena jangkauannya berkisar 1000-1500 kaki dibawah
permukaan bumi. Padahal minyak bumi umumnya terakumulasi
kedalaman di atas 1000 meter dibawah permukaan bumi. Namun untuk
kasus reservoir minyak bumi yang dangkal metode geolistrik ini bias
digunakan. Prinsip dasarnya adalah bahwa setiap batuan berpori akan di
isi oleh fluida. Fluida ini bisa berupa air, minyak ataupun gas.
Membedakan kandungan fluida di dalam batuan salah satunya dengan
menggunakan sifat resistan yang ada pada fluida. Fluida air memiliki
nilai resistan yang rendah dibandingkan dengan minyak, demikian pula
nilai resistan minyak lebih rendah dari pada gas. dari data log kita hanya
bisa membedakan resistan rendah dan resistan tinggi, bukan jenis fluida
karena nilai resitan fluida berbeda beda dari tiap daerah. sebagai dasar
analisis fluida perlu kita ambil sampel fluida di dalam batuan daerah
tersebut sebagai acuan kita dalam interpretasi jenis fluida dari data
resistiviti yang kita miliki.
C. Eksplorasi Batubara
Salah satu metoda geofisika yang dapat digunakan untuk
memperkirakan keberadaan dan ketebalan batubara di bawah
permukaan adalah metoda geolistrik tahanan jenis. Metoda geolistrik
dapat mendeteksi lapisan batubara pada posisi miring, tegak dan sejajar
bidang perlapisan di bawah permukaan akibat perbedaan resistansi
perlapisan batuan yang satu dengan yang lain, karena pada umumnya
batubara memiliki harga resistansi tertentu. Metode geolistrik memiliki
beberapa variasi konfigurasi, beberapa yang umum digunakan antara
lain ; konfigurasi schlumberger, wenner dan dipole dipole. Setiap
konfigurasi memiliki hasil pemodelan dan resolusi yang berbedabeda.
Dalam eksplorasi batubara sering kali beberapa peneliti menggunakan
konfigurasi dipole dipole atau yang berifat pole (mengutub). Hal ini
menjadi tidak tepat karena biasanya kondisi seam batubara adalah
berlapis / melampar, selain itu kedalaman yang dicapai cukup dangkal,
sehingga target seam yang dalam tidak ter-cover. Metode yang lebih
tepat digunakan adalah konfigurasi wennerschlumberger, konfigurasi ini
memiliki resolusi yang baik dan penentrasi kedalaman yang lebih
dalam. Akan tetapi tetap harus disesuaikan dengan kondisi geologi
daerah survei. Ambiguitas yang tinggi menyebabkan tingkat kesalahan
interpretasi menjadi tinggi. Batubara memiliki respon yang resistif
terhadap arus listrik, respon ini pula yang diberikan oleh batupasir,
batugamping dan batuan beku. Oleh karena itu perlu sekali kalibrasi
terhadap harga resistivitas batubara di lapangan, sehingga harga tersebut
dapat digunakan sebagai acuan respon batubara.
D. Eksplorasi Geothermal
Metoda tahanan jenis digunakan untuk mengetahui sebaran zona
prospek panas bumi, struktur resistivitas dan hubungannya dengan
system hidrologi dan termal yang berasosiasi dengan reservoar panas
bumi. Dalam eksplorasi panas bumi digunakan metode geolistrik
tahanan jenis untuk memetakan harga tahanan jenis batuan di daerah
penelitian dalam rangka menentukan daerah konduktif yang merupakan
batas reservoir panas bumi. Peninjauan yang dilakukan dengan cara
profiling untuk memperoleh gambaran umum daerah prospek
panasbumi.
E. Eksplorasi Mineral Logam/Bijih Besi
Dalam eksplorasi mineral atau bijih besi digunakan metode geolistrik
polarisasi terimbas. Metode polarisasi terimpas ini mampu mengukur
nilai chargeability atau kemampuan suatu medium untuk menyimpan
muatan. Mengenai polarisasi yang terjadi pada batuan dan tanah adalah
melingkupi penyebaran atau difusi ion-ion menuju mineral-mineral
logam dan pergerakan ion-ion di dalam pore-filling elektrolit. Yang
menjadi efek utama atau mekanisme utama yang terjadi dalam suatu
proses polarisasi adalah polarisasi elektroda atau electrode polarization.
Sehingga adanya kandungan mineral logam dalam batuan akan
meningkatkan nilai chargeability batuannya.
F. Eksplorasi Batugamping
Batugamping merupakan salah satu golongan batuan sedimen yang
paling banyak jumlahnya.Batugamping itu sendiri terdiri dari
batugamping non-klastik dan batugamping klastik. Secara umum batu
gamping memiliki tekstur batuan yang kompak dan memiliki sifat
porositas sekunder yang menyebabkan batugamping ini memiliki sifat
yang khas daripada batuan yang lainnya. Batugamping yang memiliki
tekstur yang kompak akan memberian kontras nilai resistivitas yang
besar dibandingkan batuan sekitarnya mengingat semakin kompak suatu
batuan maka nilai resistivitas akan semakin besar. Batugamping juga
dapat memiliki sifat porositas dan permeabilitas yang tinggi yang bias
menjadi suatu akifer produktif di kawasan karst. Sehingga dapat
menurunkan nilai resistivitasnya.
Metode Geolistrik resistivitas digunakan untuk memperkirakan formasi
batuan bawah tanah melalui analisis kemampuan medium untuk
menghantarkan listrik atau kemampuan menghambat arus listrik
(resistivitas). Oleh karena itu, geolistrik banyak digunakan untuk
pencarian sasaran yang memiliki kontras resistivitas yang tinggi dari
penyusun lapisan tanah yang lain. Batu gamping yang yang memiliki
tekstur yang kompak akan memberikan harga nilai resistivitas yang
besar dari batuan sekelilingnya. Namun ketika batugamping tersebut
mengalami proses kartstifikasi maka batu gamping tersebut akan
berubah menjadi akuifer air tanah yang baik. Adanya air tanah pada
rongga-ronga batugamping ini memungkinkan menurunnya harga
resistivitas batuannya. Sehingga dalam identifikasi batugamping sangat
diperlukan data-data tambahan seperti sample nilai resistivitas
batugamping yang ada dipermukaan, data konduktivitas dengan metode
elektromagnetik dan informasi geologi (outcrop dan struktur lokal) yang
sangat dibutuhkan agar dapat mempermudah dalam tahap interpretasi.
3) Metode GPR (Ground Penetrating Radar)
Metode ground penetrating radar atau georadar merupakan salah satu metode
geofisika yang mempelajari kondisi bawah permukaan berdasarkan sifat
elektromagnetik dengan menggunakan gelombang radio dengan frekuensi
antara 1-1000 MHz. Georadar menggunakan gelombang elektromagnet dan
memanfaatkan sifat radiasinya yang memperlihatkan refleksi seperti pada
metode seismik refleksi. Pengukuran dengan menggunakan GPR ini
merupakan metode yang tepat untuk mendeteksi benda benda kecil yang
berada di dekat permukaan bumi (0,1-3 meter) dengan resolusi yang tinggi
yang artinya konstanta dielektriknya menjadi rendah. Ada tiga jenis
pengukuran yaitu refleksi, velocity sounding, dan transiluminasi. Pengukuran
refleksi biasa disebut Continuous Reflection Profiling (CRP). Pengukuran
velocity Sounding disebut Common Mid Point (CMP) untuk mementukan
kecepatan versus kedalaman, dan transiluminasi disebut juga GPR Tomografi.
Kelebihan metode GPR dengan metode geofisika yang lain:
Biaya operasional lebih murah
Resolusi yang sangat tinggi karena menggunakan frekuensi tinggi
(broadband atau wideband)
Pengoperasian yang cukup mudah
Merupakan metoda non destructive sehingga aman digunakan.

Kekurangan metode GPR dengan metode geofisika yang lain:


Tidak bisa melakukan penetrasi / deteksi sedalam gelombang bunyi.
Kemampuan radar hanya puluhan meter (kurang lebi 100 meter)
Antena GPR umum hanya untuk durasi pulsa tertentu

Aplikasi metode GPR dalam bidang Geologi:

A. Aplikasi GPR untuk Nikel Laterit


Teknologi radar memiliki kemampuan untuk menggambarkan secara
terus menerus rincian profil pelapukan. Karakteristik intrinsic
lingkungan laterit adalah variabilitas ekstrim lateral mereka di
kedalaman. Perubahan mendadak mereka pada dataran tinggi biasanya
tidak terdeteksi dengan pengeboran pada wilayah jaringan ekonomis
apapun. Menghadapi keterbatasan dalam eksplorasi laterit berbasis
pengeboran membutuhkan pendekatan statistik inferensial untuk
mengestimasikan sumber daya mineral. Dengan menggunakan
teknologi radar untuk memetakan secara akurat volume penyimpanan,
ditambah dengan sedikit jumlah lubang pengeboran dengan posisi
strategis untuk mengkonfirmasi identifikasi lapisan dan kelas, estimasi
sumber daya dengan menggunakan ukuran geoscientific akan
mempercepat proses dan lebih ekonomis.
GPR frekuensi rendah telah dirancang khusus untuk kebutuhan
pencitraan yang mendalam. Dibandingkan dengan instrumen GPR
komersial, GPR frekuensi rendah menawarkan penetrasi meningkat,
akurasi lebih, kemudahan penggunaan, kecepatan survei dan
kehandalan. Real-time teknologi sampling telah memungkinkan refleksi
pencitraan lebih dalam dari yang sebelumnya dengan sistem yang
tersedia secara komersial. Kedalaman hingga 75 m telah dicapai dalam
profil pelapukan laterit, sementara resolusi profil terjaga dengan sangat
baik. Dengan menghilangkan semua kabel dan kabel serat optik, serta
unit dan baterai kontrol yang rumit, GPR frekuensi rendah telah
direduksi menjadi sebuah tabung tunggal sepanjang 9 m. Unit ini benar-
benar tahan air dan dapat digunakan untuk melalui medan yang paling
menantang.
B. Aplikasi GPR untuk Batubara
Metode GPR untuk idenfitikasi batubara masih sangat jarang dilakukan
oleh pihak swasta ataupun pemerintah,bahkan diluar indonesia juga
GPR masih digunakan untuk eksplorasi dangkal dan bersifat mudah
dalam sisi perbedaan konstanta dielektrik yang dominan antara objek
satu dengan yang lainya. Batubara mempunya nilai konstanta dielektrik
yang tidak jauh dengan lapisan atau batuan lain seperti pasir,lempung
dan lainya dan yang paling susah terkadang dengan ketebalan yang tipis
GPR tidak begitu jelas mengidentifikasinya.
Ada beberapa hal yang perlu dilakukan sebelum melakukan analisis
lanjut(frekuensi dan spectrum lain) terdapat batubara disuatu lokasi
survey dalam pengukuran yaitu perlu adanya data-data tambahan seperti
informasi geologi(outcrop,struktur lokal), range kalori dari batubara dan
juga informasi stratigrafi jika memungkinkan. Informasi-informasi
tersebut merupakan hal yang ideal untuk dijadikan pendukung
interpretasi dan identifikasi batubara tetapi dilapangan tidak semua
informasi tersebut tersedia sehingga diperlukan analisis lanjut yang bias
mewakili dan membedakan antara lapisan satu dengan yang lainya.
Analisis lanjutan untuk mengidentifikasi batubara kadang tidak ditemui
di software-software biasa sehingga kadang harus melakukan di
software lain seperti software seismik. Di software seismik banyak
sekali analisis yang bisa digunakan, tetapi bukan tanpa resiko untuk
melakukan konversi dari data awal ke data yang support ke software
seismik tersebut. Adanya kesalahan dan geometri yang kadang membuat
data GPR ada pergeseran dan tidak utuh membuat data baru harus di
bandingkan dengan data awal(sesudah di proses dalam domain time)
sehingga kesalahan bisa di minimalisasi. Dari analisis tersebut akan
menjadi acuan dan referensi untuk nilai frekuensi atau spectrum di
setiap lapisan batuan atau setiap wilayah.
C. Aplikasi GPR untuk Biji Besi
Endapan biji besi sering menunjukkan kemampuan yang sangat rendah,
berkisar antara 0.12 1 mS/m, dan umumnya sangat kering, hal ini
menjadikannya bijih besi merupakan bahan yang ideal untuk penilaian
sumber daya GPR frekuensi rendah . walaupun bentuk rangkaian
endapan besi hanya sering ditemukan di kedalaman ratusan meter, tapi
sistim GPR frekuensi rendah telah menyiapkan resolusi yang tinggi
untuk membedakan antara tanah gembur dan tanah tidak gembur pada
kedalaman 80 M pertama, perbedaan yang tidak dengan mudah
terpantau oleh mata bor.
D. Aplikasi GPR untuk Aluvial
Seperti halnya identifikasi bedrock dan endapan pada sungai atau
danau, GPR sangat baik mengidentifikasi batas antara endapan aluvial
dengan batuan sekitar. Perbedaan konstanta dielektrik dan kekompakan
batuan atau endapan tersebut sangat memungkinkan perbedaan yang
jelas dengan batuan di bawahnya. Secara geologi, pada umumnya
aluvial di endapkan di daerah sungai, danau atau lautan dan biasanya
lapisan yang di bawahnya jauh lebih kompak dengan kata lain
perbedaan konstanta dielektriknya besar sehingga sangat mudah untuk
melihat perlapisanya.
Dengan frekuensi rendah seperti 25MHz yang dikeluarkan oleh mala,
identifikasi batas lapisan tersebut dengan baik tetapi terkadang hanya
bias mengidentifikasi batas lapisan di atasnya, ketika melihat batas
lapisan di bawahnya yang mempunyai kedalaman >30m tidak begitu
bagus.Dengan teknologi baru yang di kembangkan UltraGPR maka
penetrasi kedalaman akan lebih dalam dan identifikasi batas-batas
lapisan selain aluvial dan lapisan yang dibawahnya juga bisa
mengidentifikasi batas-batas lapisan yang di bawahnya.
E. Aplikasi GPR untuk Sedimen Pasir
Perhitungan jumlah sumber daya untuk endapan pasir mineral yang
besar adalah proses pengumpulan semua data yang sudah diketahui
secara sistematik untuk menggambarkan volume dari bijih yang
terkandung dan nilai ekonomis yang sesungguhnya. Biasanya, proses ini
masih berupa rekaan alami, karena ketebalan lapisan tanah pada daerah
sekitar lubang bor bisa sangat bervariasi. Kelestarian alam adalah
permasalahan yang paling penting didalam pertambangan dan definisi
mengenai sumber daya alam. Pengukuran volume secara akurat sangat
sulit jika diambildari data penggalian saja, dan ruang pengeboran yang
layak secara ekonomis dalam sebuah proses penambangan sering lebih
besar dari ketebalan profil bagian varian terpenting. Batasan yang
berhubungan dengan pendekatan inferensial pada perkiraan sumber
alam, bisa dikurangi dengan penggunaan teknologi ini, dengan
demikian pengoptimalan penambangan bisa di maksimalkan dengan
mengurangi pencemaran dan dan kehilangan inti bijih.
Evaluasi sumber daya endapan mineral yang berat termasuk parameter
yang mempertimbangkan ketebalan, kadar dan perbedaan kimia dinti
pasir. Didalam endapan datar seperti mineral berat perhitungan sumber
daya yang akurat tergantung kepada perhitungan ketebalan yang benar.
Hal ini bisa menjadi masalah besar ketika ketebalan dari endapan lebih
tidak pasti dari kadarnya. Kemampuan UltraGPR untuk menentukan
dengan cepat dasar dari profil dan unsur perantara endapan adalah nilai
yang sangat penting untuk penyelidikan dan bahan sumber bagi ahli
geologi karena permasalahan ini berkaitan dengan kondisi tanah yang
sangat rumit sama halnya dengan keberagaman ketebalan profile tanah.
Secara khusus, bagian ini dibatasi pada upaya pengeboran di dinding
tanah yang liat daripada memusatkan pada perkiraan volume yang
stabil. Teknolohgi ini sudah digunakan dalam eksplorasi besi mineral
hingga kedalaman lebih dari 120 M.
F. Aplikasi GPR untuk Bouksit
Dalam bauksit, perkiraan tonase tergantung pada perhitungan volume
yang dapat diandalkan. Bila ketebalannya lebih bervariasi daripada
kelasnya, keandalan estimasi sumber daya kemungkinan tergantung
terutama pada perkiraan ketebalan. Estimasi ketebalan tradisional
berasal dari jarak teratur pengeboran yang jarang mampu menjadi
model secara kurat horison bijih besi. GPR frekuensi rendah mampu
secara akurat mengidentifikasi bagian bawah bijih dengan lebih detail
disbanding pengeboran dan dengan biaya yang lebih kecil. Hasilnya
adalah perhitungan volume yang lebih akurat. Di sebagian besar bauksit
Laterit dan Karstik, pengeboran sering tidak memadai untuk
memastikan bentuk endapan sebenarnya. Model radar tiga dimensi
dibangun dengan memindai wilayah sepanjang profil yang liat.
Kedalaman menuju posisi bauksit serta ketebalan bauksit diperlihatkan
dalam waktu yang bersamaan selama penelitian, yang memungkinkan
penelitian disesuaikan untuk memastikan penentuan volume yang tepat.
G. Aplikasi GPR untuk Geoteknik
Aplikasi jangka panjang GPR untuk proyek-proyek geoteknik
umumnya terkait dengan mendeteksi ruang kosong(bawah tanah)/void
detection dan pemetaan kedalaman batuan dasar. Teknologi radar
menawarkan resolusi tertinggi dari setiap metode geofisika, tetapi hanya
berlaku untuk kondisi geologi tertentu. Secara umum, sedimen
lapuk dan batuan padat sangat baik bila dibedakan dengan data radar,
sedangkan tanah liat dan silts adalah lingkungan geologi yang tidak
terlalu cocok untuk data radar. Namun, ada banyak pengecualian untuk
aturan ini, seperti tanah liat tropis (laterit), di mana GPR dengan
frekuensi rendah dapat gambar lebih dari 50 m. Salah satu penggunaan
GPR frekuensi rendah yang paling umum dalam beberapa tahun terakhir
ini adalah mendeteksi ruang hampa, yang umumnya terdapat pada
bentangan batu kapur atau dibawah tambang terbuka. Meskipun GPR
telah lama diterapkan untuk penelitian deteksi ruang hampa yang
dangkal, GPR berfrekuensi rendah sekarang telah memungkinkan
penyelesaian masalah pencitraan ruang hampa serta terowongan yang
terlewati menuju ke kedalaman lebih dari 40 m. Selain dari keuntungan
pada penekanan yang dalam, kemudahan penggunaan GPR ini telah
menghasilkan biaya penggunaan radar untuk penelitian area yang liat
turun drastis lebih rendah daripada metode geofisika tradisional untuk
deteksi ruang hampa, seperti gayaberat mikro. GPR dengan frekuensi
rendah sering diterapkan untuk mempelajari profil batuan dasar/bedrock
untuk mendesain fasilitas-fasilitas pengikut seperti jalur rel kereta api,
jalan lintas, rancangan bandara, dan proyek-proyek infrastruktur sipil
lainnya. Kesesuaian GPR hanya terbatas pada lingkungan tertentu, dan
tidak seperti penelitian lapisan tanah, GPR tidak memberikan sifat
bahan massal (seperti modulus dinamis dan kemampuan tanah). Namun,
GPR dapat memberikan gambaran yang cepat dan akurat dari topografi
batuan dasar di medan kasar, dan sebagian kecil dampak dari metode
geofisik yang lain.
4) Metode Elektromagnetik
Metode elektromagnetik ini biasanya digunakan untuk eksplorasi benda-benda
konduktif. Kegunaan metode elektromagnetik ini yaitu untuk menentukan
kontras konduktivitas bawah permukaan berdasarkan perubahan dalam kualitas
air tanah dan tipe tanah dan batuan. Perubahan komponen-komponen medan
akibat variasi konduktivitas dimanfaatkan untuk menentukan struktur bawah
permukaan.
Kelebihan metode seismik dengan metode geofisika yang lain:
Mobilitas yang tinggi dan pengambilan data yang cepat.
Resolusi dan penafsiran data cepat di lapangan.
Aksesibilitas yang tinggi, dan sangat efektif dalam analisa dari
konduktivitas tinggi.
Kekurangan metode elektromagnetik dengan metode geofisika yang lain:
Mudah dipengaruhi oleh permukaan atau sumber-sumber daya bawah
permukaan (Instrumen merekam banyak noise dari induksi gelombang
elektromagnetik dari permukaan maupun luar permukaan)
Resolusi vertikal kurang dibandingkan metode lain.
Aplikasi metode GPR dalam bidang Geologi:
A. Eksplorasi Panas Bumi
Pengukuran Metode Elektromagnetik khususnya dengan teknik
pengukuran CSAMT / Magnetotellurics (MT) dapat mendeteksi
anomali resistivitas terkait dengan struktur produktif panas bumi,
termasuk patahan dan adanya batuan perangkap, juga untuk estimasi
suhu reservoir panas bumi di berbagai kedalaman. CSAMT / MT telah
berhasil memberikan kontribusi terhadap pemetaan dan pengembangan
sumber daya panas bumi. Materi geologi pada umumnya bersifat
konduktor listrik lemah dan memiliki resistivitas tinggi. Namun, cairan
hidrotermal dalam pori-pori dan patahan bumi meningkatkan
konduktivitas dari bahan bawah permukaan. Perubahan konduktivitas
ini digunakan untuk memetakan geologi bawah permukaan dan
memperkirakan kandungan bahan bawah permukaan.
B. Eksplorasi Minyak Bumi
Salah satu metode yang sering digunakan dalam eksplorasi awal minyak
bumi adalah Metode Elektromagnetik yaitu metode Magnetotelurik.
Metode MT merupakan metode elektromagnetik pasif yang melibatkan
pengukuran fluktuasi medan listrik dan medan magnet alami yang
saling tegak lurus di permukaan bumi yang dapat digunakan untuk
mengetahui nilai konduktivitas batuan di bawah permukaan bumi dari
kedalaman beberapa meter hingga ratusan kilometer. Induksi medan
magnet di bawah permukaan bumi dihubungkan dengan medan EM dan
resistivitas batuan. Pada umumnya, kebanyakan batuan adalah
konduktor yang buruk. Resistivitas batuan tersebut akan besar secara
ekstrim jika batuan tersebut bersifat kompak. Sehingga dalam eksplorasi
Minyak bumi metoda Elektromagnetik (MT) mampu memetakan
struktur geologi serta menampilkan zona interest berdasarkan kontras
tahanan jenis material bawah permukaan secara baik serta sejalan
dengan data pendukung.
C. Eksplorasi Endapan Bijih Besi
Endapan biji besi sering menunjukkan kemampuan konduktivitas yang
sangat rendah dan umumnya sangat kering, hal ini menjadikannya bijih
besi merupakan bahan yang ideal untuk penilaian sumber daya. Metode
elektromagnetik (EM) memanfaatkan perubahan komponen-komponen
medan akibat variasi konduktivitas dimanfaatkan untuk menentukan
struktur bawah permukaan. Suatu sumber medan magnet diinduksikan
ke dalam bumi. Adanya bijih besi dibawah permukaan akan
mempolarkan medan magnet. Dengan menjumlahkan medan magnet
primer dan sekunder maka ada/tidaknya mineral bijih besi dapat
diketahui.
D. Eskplorasi Batubara
Daerah yang kaya akan batubara, banyak bersinggungan dengan area
rawa. Rawa yang terdiri dari unconsolidated soil. Endapan rawa yang
tebal menimbulkan kesulitan baik dalam hal akses eksplorasi maupun
dalam usaha eksploitasi batubara. Metode Elektromagnetik adalah salah
satu metode geofisika yang memanfaatkan aplikasi gelombang
elektromagnetik (radio) dalam mengidentifikan lapisan batuan. Metode
Elektromagnetik dapat membandingkan perbedaan konstanta dielektrik
yang dominan antara objek satu dengan yang lainya. Batubara
mempunya nilai konstanta dielektrik yang tidak jauh dengan lapisan
atau batuan lain seperti pasir,lempung dan lainya. Frekuensi gelombang
radio yang tinggi memungkinkan gelombang radio mengidentifikasi
lapisan yang tipis, termasuk didalamnya endapan rawa. Penetrasi
gelombang radio yang dangkal dan mampu mengidentifikasi lapisan
yang tipis tersebut sesuai dengan kebutuhan identifikasi dimensi rawa
pada area potensi batubara. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan
sebelum melakukan analisis lanjut(frekuensi dan spectrum lain) terdapat
batubara disuatu lokasi survey dalam pengukuran yaitu perlu adanya
data-data tambahan seperti informasi geologi(outcrop,struktur lokal),
range kalori dari batubara dan juga informasi stratigrafi jika
memunkginkan. Informasi-informasi tersebut merupakan hal yang ideal
untuk dijadikan pendukung interpretasi dan identifikasi batubara tetapi
dilapangan tidak semua informasi tersebut tersedia sehingga diperlukan
analisis lanjut yang bisa mewakili dan membedakan antara lapisan satu
dengan yang lainnya.
E. Eksplorasi Air Tanah
Metode Elektromagnetik merupakan salah satu metode geofisika yang
biasa digunakan dalam investigasi air (hidrogeofisika). Metode ini
mempunyai resolusi yang cukup baik untuk menganalisis kondisi bawah
permukaandan menentukan bidang batas (interface) serta jumlah lapisan
berdasarkan variasi resistivitas listriknya. Arus induksi pada tanah
didifusikan ke bawah dan akan menjalar ke bawah permukaan
(subsurface) sehingga akan menghasilkan medan magnetic sekunder
yang diukur di permukaan dengan oleh sebuah receiver. Sifat resistivitas
listrik batuannya sangat dipengaruhi oleh jumlah air, kadar garam, dan
bagaimana cara air didistribusikan ke dalam batuan. Batuan yang pori-
porinya terisi air, nilai resistivitas listriknya berkurang dengan
bertambahnya kandungan air. Oleh karena itu, keberadaan air dalam
batuan akan memberikan kontras nilai resistivitas yang berbeda dengan
daerah sekitarnya. Sehingga didapatkan indikasi adanya daerah
konduktif dengan nilai rapat arus ekivalen yang tinggi.
F. Eksplorasi Batugamping
Batugamping merupakan salah satu golongan batuan sedimen yang
paling banyak jumlahnya.Batugamping itu sendiri terdiri dari
batugamping non-klastik dan batugamping klastik. Secara umum batu
gamping memiliki tekstur batuan yang kompak dan memiliki sifat
porositas sekunder yang menyebabkan batugamping ini
memiliki sifat yang khas daripada batuan yang lainnya. Identifikasi
tentang keberadaan batugamping di bawah permukaan enggunakan
metode geofisika umumnya menggunakan Metode EM. Salah satunya
adalah metode Very Low Frequency Vertical Gradient (VLF V-Grad)
yang digunakan untuk eksplorasi benda- enda konduktif sehingga
dimanfaatkan dalam menentukan struktur bawah permukaan. Variasi
nilai konduktivitas ini menunjukkan adanya perbedaan kemudahan arus
listrik untuk mengalir pada setiap material penyusun batuan yang
dilaluinya. Perbedaan kuat arus untuk mengalir dalam medium lapisan
batuan sangat bergantung pada sifat fisik material yang dilaluinya. Sifat
fisik tersebut antara lain adalah porositas, permeabilitas, rapat massa,
dan distribusi ukuran butiran.
Metode VLF V-Grad pada prinsipnya berdasarkan selisih medan
magnetic di ketinggian berbeda, dimana selisih tersebut hanya
disebabkan oleh benda konduktif di bawah permukaan. Batugamping
yang memiliki tekstur yang kompak akan memberian kontras nilai
konduktivitas dibandingkan batuan sekitarnya mengingat semakin
kompak suatu batuan maka nilai konduktivitasnya akan semakin kecil.
Batugamping juga dapat memiliki sifat porositas dan permeabilitas yang
tinggi yang bias menjadi suatu akifer produktif di kawasan karst.
Sehingga dapat meningkatkan nilai konduktivitasnya.
Namun Adanya perbedaan nilai konduktivitas inilah yang menunjukkan
sebaran batuan di bawah permukaan. Adapun tujuan penggunaan
metode VLF VGrad adalah mendapatkan interpretasi kualitatif dan
kuantitatif. Interpretasi kualitatif dilakukan dengan menggunakan filter
moving average dan filter fraser. Penggunaan filter moving average
untuk menghilangkan noise frekuensi tinggi an filter fraser bertujuan
untuk mengetahui lokalisir konduktif batuan secara horizontal. Sample
nilai resistivitas batugamping yang ada dipermukaan dan adanya data-
data tambahan seperti data resistivitas dengan metode geolistrik,
informasi geologi (outcrop,struktur lokal) sangat dibutuhkan agar dapat
mempermudah dalam tahap interpretasi.
5) Metode Polarisasi Terinduksi
Metode IP mengukur adanya polarisasi didalam suatu medium karena
pengaruh arus listrik yang melewatinya, dimana polarisasi banyak terjadi pada
medium yang mengandung mineral logam. Metode IP mengamati beda
potensial yang terjadi setelah arus listrik yang kita alirkan dihentikan. Sehingga
metode IP sangat cocok digunakan untuk eksplorasi mineral logam karena
keberadaan mineral logam dapat dideteksi sesuai dengan sifat fisika yang
dimiliki, misalnya nilai Chargeability yang besar. Prinsip dasar metode IP, arus
dialirkan ke dalam tanah melalui elektrode arus dan mengukur potensi dengan
elektrode potensial. Jika arus listrik diputus, seharusnya potensial atau
tegangan terukur akan langsung berharga nol. Dalam kenyataannya tegangan
tidak langsung berharga nol, tetapi ada selang waktu beberapa saat untuk
tegangan menuju nol. Kejadian inilah yang dinamakan efek polarisasi
terinduksi, sedang mediumnya (dalam hal ini adalah batuan) dinamakan
medium atau batuan polarisabel.
Kelebihan metode IP dibandingkan dengan metode yang lain, adalah dapat
dideteksi adanya mineral mineral sulfida yang letaknya tersebar dan tak teratur
(disseminated). Dengan demikian maka metode ini cocok sekali digunakan
untuk melokalisir dan memperoleh cadangan mineral sulfida yang berasosiasi
dengan bijih besi, emas, dan bijih logam yang lainnya.
Pengukuran dengan metode IP biasa digunakan untuk keperluan pemetaan,
sehingga digunakan konfigurasi dipoledipole. Dalam konfigurasi dipole-
dipole, elektroda arus dan elektroda potensial bergerak bersama-sama,
sehingga diperoleh harga tahanan jenis semu secara lateral (horizontal).
Dengan konfigurasi dipole-dipole akan diperoleh pseudosection dari parameter
resistivitas, metal factor dan chargaebility pada setiap lintasannya.

DAFTAR PUSTAKA

SubSurface Surveys & Associates, Inc., 1988, Geophysical Methods &


Applications, Corte Del Nogal, Suite W Carlsbad, California.
Hoover, Donald B., Douglas P. Klein, and David C. Campbell, 1995,
GEOPHYSICAL METHODS IN EXPLORATION AND MINERAL
ENVIRONMENTAL INVESTIGATIONS, USA.
Ahmad, Faisal., 2015, Kelebihan Dan Kekurangan Setiap Metode Geofisika Dan
Hubungannya Dengan Model Eksplorasi Obyek Geofisika, tidak diterbitkan.
https://seisxploresurvey.wordpress.com/aplikasi-geofisika/metode-gprgeoradar/.
Diakses pada tanggal 8 Februari 2017 18:57 WIB.
http://hmgf.fmipa.ugm.ac.id/pemanfaatan-metode-seismik-pasif-dalam-sistem-
panas-bumi/. Diakses pada tanggal 8 Februari 2017 19:14 WIB.
http://www.pusdiklat-minerba.esdm.go.id/index.php/kerjasama/item/353-metode-
geofisika-potensial-diri-self-potential. Diakses pada tanggal 8 Februari 2017 21:03
WIB.
http://hmgf.fmipa.ugm.ac.id/metode-induced-polarization/. Diakses pada tanggal 8
Februari 2017 22:14 WIB.