Anda di halaman 1dari 6

Nama Kelompok :

Weni Thresia (1351138)


Liliyana Wulandari Putri (1351227)
Lidya Natalia (1351229)
Anggreti debora (1351298)

PENDAHULUAN

Latar Belakang PT PELINDO II

PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara
(BUMN) di sektor perhubungan yang bergerak dalam bidang jasa kepelabuhanan dan
logistik. entuk Perusahaan Umum (Perum) diubah menjadi Perusahaan Perseroan (Persero)
berdasarkan PP No.57 tahun 1991 yang sahamnya sepenuhnya dimiliki oleh Negara Republik
Indonesia sehingga namanya berubah menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) PT Pelabuhan
Indonesia II, sebagaimana termuat dalam Akta Pendirian Nomor 3 tanggal 1 Desember 1992.

Selanjutnya bentuk Perusahaan Umum (Perum) diubah menjadi Perusahaan Perseroan


(Persero) berdasarkan PP No.57 tahun 1991 yang sahamnya sepenuhnya dimiliki oleh Negara
Republik Indonesia sehingga namanya berubah menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) PT
Pelabuhan Indonesia II, sebagaimana termuat dalam Akta Pendirian Nomor 3 tanggal 1
Desember 1992, sebagaimana diubah dengan Akta Nomor 4 tanggal 5 Mei 1998 yang
keduanya dibuat oleh Imas Fatimah, SH., Notaris di Jakarta serta telah disetujui oleh Menteri
Kehakiman RI dengan Surat Keputusan Nomor C2-17612-HTO1O1TH.98 tanggal 6 Oktober
1998.

Perubahan Anggaran Dasar Perusahaan terakhir adalah berdasarkan keputusan Rapat Umum
Pemegang Saham yang dituangkan dalam Akta Notaris No. 2 dari Notaris Agus Sudiono
Kuntjoro, SH., tanggal 15 Agustus 2008 jo. Akta Nomor 3 tanggal 30 Juli 2009. Perubahan
Anggaran Dasar tersebut telah mendapatkan pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi
Manusia Republik
Indonesia No. AHU-80894.AH.01.02.2008 tanggal 3 November 2008. Dasar hukum bagi PT
Pelabuhan Indonesia II sebagai BUMN penyelenggara usaha pelabuhan adalah Undang-
Undang No.19 tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara, Undang-Undang Nomor 40
tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan Undang-Undang Nomor 17 tahun 2008 tentang
Pelayanan serta Peraturan Pemerintah No.61 tahun 2009.

Pada tanggal 22 Februari 2012, PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau Pelindo II


meluncurkan identitas baru Pelindo II dalam bertransformasi menjadi IPC (indonesia Port
Corporation), perusahaan penyedia layanan kepelabuhanan di Indonesia yang lebih efisien
dan modern dalam berbagai aspek operasinya guna mencapai tujuan menjadi operator
pelabuhan berkelas dunia. Nilainilai yang terkandung di dalam warna jingga di logo baru ini
adalah semangat perubahan, kekuatan, optimisme, serta kebanggaan setiap karyawan, untuk
bersama-sama berdiri di garis terdepan dalam mencapai tujuan organisasi. Sisi biru pada logo
menggambarkan kesiapan memasuki erabaru yang dinamis dan fleksibilitas setiap komponen
dalam perusahaan menghadapi berbagai tantangan guna mencapai tujuan perusahaan, sebagai
a world-class port operator.

Logo baru IPC mewakili semangat transformasi kami, serta harapan akan awal yang baru
demi menyongsong masa depan yang lebih cerah. Untuk mencapai goal kami, kami percaya
perubahan dan kemajuan yang konstan, penuh dengan kejenakaan dan energi, agresif tetapi
tetap ramah, memberikan semangat yang unik untuk Indonesia. Logo IPC juga merupakan
simbol kebanggaan bagi semua pihak di dalam organisasi saat kami membawa IPC ke depan.
KASUS PT PELINDO II

Ini Temuan BPK Soal Korupsi Pengadaan Crane PT Pelindo II

SABTU, 05 SEPTEMBER 2015 | 22:00 WIB

Unit harbour mobile crane (HMC) milik Pelindo II/IPC disegel Polisi di Dermaga 002
Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 3 September 2015. Penyegelan alat bongkar muat itu
terkait adanya dugaan mark up pengadaan sejumlah alat bongkar muat di lingkungan kerja
Pelindo II. Tempo/Tony Hartawan .

TEMPO.CO, Jakarta - Kasus korupsi pengadaan Crane di PT Pelindo II mengundang


Polemik. Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri, Komisaris Jenderal Budi Waseso
bahkan harus rela dicopot karena mengusut kasus ini. Wakil Presiden Jusuf Kalla membela
Pelindo dan menganggap kasus ini bukan masuk ke dalam ranah pidana.

Berdasarkan penelusuran Tempo, kasus ini pertama kali mencuat setelah adanya perwakilan
dari Serikat Pekerja Pelabuhan Indonesia (SPPI) II mendatangi Mabes Polri. Beberapa bekas
karyawan Pelindo II yang sedang bersengketa dengan direksi terkait pemutusan hubungan
kerja, menyerahkan setumpuk dokumen terkait pengadaan 10 unit alat angkat pelabuhan itu.
Laporan kami sudah cukup lama, kata Hendra Budi, salah satu pelapor dari Serikat Pekerja
Pelindo II, Rabu lalu.

Satu dari 10 dokumen itu adalah dokumen audit Badan Pemeriksa Keuangan. Berdasarkan
dokumen audit BPK, proses pengadaan ini melalui dua kali addendum atau tambahan klausul
dalam perjanjian kontrak. Addendum pertama pada 3 Desember 2012 dengan perubahan
skema pembayaran dan perubahan kurs pada jaminan pembayaran. Addendum II pada 8
Agustus 2013 dengan perubahan pada tempat penyerahan semula ke delapan cabang menjadi
hanya ke Pelabuhan Tanjung Priok. Perubahan ini disertai pengurangan biaya Rp 190 juta.

Menurut Anggota Badan Pemeriksa Keuangan, Achsanul Qosasih, BPK tak menemukan
indikasi kerugian negara. BPK menemukan adanya ketidakcermatan dalam pengadaan 10
unit alat angkat, katanya.

BPK menemukan adanya kekurangan penerimaan sebesar Rp 456,5 juta sebagai penalty atas
keterlambatan pengiriman. Namun, kata Achsanul kekurangan penerimaan ini sudah
diselesaikan Pelindo II.

Menurut Achsanul, 10 unit alat angkat ini memang awalnya untuk cabang kemudian
dialihkan penggunaannya untuk Terminal Kalibaru yang masih dalam proses pembangunan.
Sudah ada persetujuan empat dari enam direksi, kata Achsanul. Hasil audit, kata Achsanul
telah diserahkan sejak Februari 2015 kepada Presiden, Menteri BUMN dan direksi Pelindo II.

Menurut Corporate secretary PT Pelindo II Bayu Astrini, seluruh pengadaan barang telah
diaudit oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan dan Badan Pemeriksa
Keuangan dan auditor independen. Pelindo II, katanya mengakomodasi kedua lembaga
tersebut untuk mengumpulkan data seluruh proyek yang dijalankan Pelindo. "Perusahaan
mengajak semua pihak untuk menghormati proses hukum yang berjalan," kata Banu.

Berbeda dengan hasil audit independen dan BPK, Budi Waseso bersikeras pengadaan alat
angkat ini tidak hanya persoalan administrasi. Polisi menduga adanya tindak pidana korupsi
dan pencucian uang. Ada beberapa modus dalam kasus ini. Pertama, melakukan perencanaan
yang tidak benar dan tidak dilakukan analisis kebutuhan terhadap pengadaan tersebut.

Kedua, penunjukan penyedia barang Guangxhi Narishi yang tidak memiliki pengalaman dan
kapabilitas dalam pengadaan alat angkat. Ketiga, menguntungkan diri sendiri dan atau
korporasi dengan perubahan sistem pembayaran dari lumpsum menjadi pembayaran termin
20 persen untuk down payment dan sisanya pembayaran cicilan.

Hingga akhir pekan lalu, polisi telah menetapkan satu orang tersangka. Kasusnya tidak
sesederhana itu. Selama ini yang dipermasalahkan hanya mal administrasi. Mari kita buktikan
(kasus lebih besar dari itu), katanya. (Baca selengkapnya di Majalah Tempo pekan depan)

Berikut ini Teori yang berkaitan dengan kasus :

1.Materialitas adalah besarnya penghapusan atau salah saji informasi akuntansi yang dengan
memperhitungkan situasinya,menyebabkan pertimbnagan seseorang yang bijaksana dan
menghandalkan informasi tersebut mungki akat berubah terpengaruh oleh penghapusan atau
salah saji tersebut

Kasus : kasus ini sudah termasuk material karena jumlah yang ditemukan BPK sebesar Rp
456,5 juta lebih besar dari pada pengurangan dalam perubahan addendum yaitu sebesar Rp
190 juta.

2. Tanggungjawab manajemen atas pengendalian internal :

Efektivitas pelaksanaan pengendalian : manajemen harus menguji efektivitas pelaksaan


pengendalia. Tujuannya untuk menentukan apakah pengendalian telah berjalan seperti yang
dirancang, dan apakah orang yang melaksanakan memiliki kewenangan serta kualifikasi yang
diperlukan untuk melaksanakan pengendalian itu secara efektif.

Kasus terkait :
- Tidak adanya kesepakatan untuk mengalihkan 10 unit alat angkat untuk digunakan di
Terminal Kalibaru.

- Persetujuan hanya dilakukan oleh empat dari enam direksi

3. Tujuan pengendalian internal berkaitan dengan efisiensi dan efektivitas operasi yaitu
pengendalian dalam perusahaan akan mendorong pemakaian sumberdaya secara efisien dan
efektif untuk mengoptimalkan sasaran perusahaan.

Kasus terkait :

- Penunjukan penyedia barang yang tidak memiliki pengalaman dan kapabilitas dalam
pengadaan alat angkat.

4. Jenis-jenis Bukti Audit

Pemeriksaan fisik
Merupakan inspeksi atau perhitungan yang dilakukan auditor atas aktiva atau
asset berwujud. Jenis bukti ini paling sering berkaitan dengan persediaan dank
as.
Inspeksi
Merupakan pemeriksaan oleh auditor atas dokumen dan catatan klien untuk
mendukung informasi yang tersaji dalam laporan keuangan.
Prosedur analitis mengenai ketepatan jenis bukti
Terdiri dari evaluasi informasi keuangan melalui analisis atas hubungan yang
masuk akal antara data keuangan dan non keuangan.

Kasus terkait :

Pemeriksaan fisik
BPK menemukan adanya ketidakcermatan dalam pengadaan 10 unit alat
angkat yang seharusnya dialokasikan ke delapan cabang menjadi hanya ke
Pelabuhan Tanjung Priok.
Inspeksi
Pada saat addendum diketahui ada pengurangan biaya Rp. 190 juta tapi BPK
menemukan adanya kekurangan penerimaan sebesar Rp. 456,5 juta.
Prosedur analitis mengenai ketepatan jenis bukti
Berdasarkan kontrak bahwa 10 unit alat berat akan dialokasikan ke cabang.
Ternyata setelah diselidiki kelapangan alat berat tersebut hanya dialokasikan
ke Pelabuhan Tanjung Priok.