Anda di halaman 1dari 5

Demikian yang dapat kami sampaikan semoga dapat bermanfaat bagi semua warga SMK

NEGERI 1 PURBALINGGA. Kami sadar, bahwa penyusunan tugas ini banyak kekurangan, untuk
itu kritik dan saran sangat kami harapkan agar menjadi lebih baik. Sekian dan terima kasih.

WassalamualaikumWr. Wb
Purbalingga, 1 November 2013
Penulis

Katon Gilang Bagaskara


Yanuar Kerissetiawan

ii

Daftar isi

Halaman judul..................... i
Kata pengantar............................................................ ii
Daftar isi........................................................................ iii
Bab 1 PENDAHULUAN............................................... 1
1.1 Latar belekang masalah.............................. 1
1.2 Rumusan masalah......................................... 2
1.3 Tujuan penelitian........................................... 2
1.4 Manfaat penelitian......................................... 2
Bab 2 Isi............................................................................3
Bab 3 Penutup.6
v Kesimpulan............................................................. 8
v Saran.......................................................................... 8

iii

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG MASALAH
Dengan semakin meningkatnya ilmu pengetahun dan teknologi (IPTEK), semakin tinggi pula
aktivitas kegiatan ekonomi manusia, di antaranya dengan semakin pesatnya perkembangan sektor
industri dan sistem transportasi. Sebagai konsekuensi logis, maka semakin dampaknya akan
meningkatkan pula zat-zat polutan yang dikeluarkan kegiatan industri maupun transportasi
tersebut. Keberadaan zat-zat polutan di udara ini tentu akan berpengaruh terhadap proses-proses
fisik dan kimia yang terjadi di udara. Beberapa contoh efek negatif perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang menjadi isu-isu global antara lain efek rumah kaca, pemanasan
global, polusi, sampah, dan hujan asam.
Istilah hujan asam pertama kali digunakan Robert Angus Smith pada tahun 1972. Ia menguraikan
tentang keadaan di Manchester, sebuah kawasan industri di bagian utara Inggris. Hujan asam ini
pada dasarnya merupakan bagian dari peristiwa terjadinya deposisi asam. Ia mengatakan bahwa
bahan pencemar di udara yang bercampur dengan air hujan bersenyawa menjadi asam dan
menyebabkan kerusakan bangunan dan monumen bersejarah. Pada dasarnya, air hujan normal
memang sudah asam dengan kadar keasaman antara pH 5,6- 5,0. Keasaman ini dihasilkan ketika
karbondioksida dan materi asam alami lainnya terurai dalam uap air yang bercampur di udara.
Masalah itu masih terjadi hingga kini dan kita tahu bahwa banyak gas polutan yang menyebabkan
pencemaran udara. Ini termasuk sulfur dioksida yang umumnya dihasilkan oleh pembangkit
tenaga listrik yang menggunakan batubara, dan nitrogen oksida dari kendaraan bermotor serta
bahan bakar fosil yang digunakan oleh industri. Kedua unsur tersebut bersenyawa di atmosfer
dengan air, oksigen, dan oksidan dari senyawa-senyawa asam lainnya. Persenyawaan ini
membentuk semacam lapisan gabungan antara asam sulfur dan asam nitrat. Cahaya matahari
mempercepat laju reaksi proses itu. Hujan asam menyebabkan peningkatan kadar asam di tanah,
danau-danau, sungai serta menyebabkan kematian pohon. Selain itu asam juga merusak material
gedung, patung-patung dan peninggalan sejarah.
Mengingat begitu besar dampak yang ditimbulkan oleh hujan asam terhadap kehidupan manusia
dan lingkungan, maka pada makalah ini akan dibahas mengenai bagaimana hujan asam terbentuk,
dampak hujan asam terhadap manusia dan lingkungan, serta usaha yang dapat kita lakukan untuk
mengurangi dan mencegah terjadinya hujan asam.

1
1.2 RUMUSAN MASALAH
Ada beberapa rumusan yang ingin dibahas dalam makalah yang akan membahas tentang hujan
asam, antara lain
Apa yang dimaksud dengan hujan asam?
Bagaimanakah proses terbentuknya hujan asam?
Bagaimanakah dampak atau akibat yang ditimbulkan oleh hujan asam terhadap kehidupan
manusia dan lingkungan?
Upaya apasajakah yang dapat ditempuh untuk mengurangi dan menegah terjadinya hujan asam?

1.3 TUJUAN PENELITIAN


Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dikemukakan diatas, maka penulis merumuskan
beberapa tujuan yang ingin dicapai, antara lain:
Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan hujan asam.
Untukmengetahui proses terbentuknya hujan asam.
Untuk mengetahui dampak atau akibat yang ditimbulkan oleh hujan asam terhadap kehidupan
manusia dan lingkungan.
Untuk mengetahui upaya yang dapat ditempuh untuk mengurangi dan menegah terjadinya hujan
asam.

1.4 MANFAAT PENELITIAN


Manfaat yang diharapkan dari penulisan makalah ini adalah memberikan kita pengentahuan dan
wawasan mengenai apa yang dimaksud dengan hujan asam, mengetahui tentang proses terjadinya
hujan asam, dampak yang ditimbulkan oleh hujan asam terhadap kehidupan manusia dan
lingkungan, dan usaha yang dapat kita lakukan untuk mengurangi dan mencegah dampak buruk
yang ditimbulkan oleh hujan asam. Pengetahuan ini diharapkan semoga mampu meningkatkan
kesadaran kita untuk menjaga lingkungan serta mengubah pola hidup untuk mendukung
pelestarian lingkungan hidup.

2
Bab ii ISI

A. PENGERTIAN
Hujan asam adalah suatu masalah lingkungan yang serius yang harus benar-benar difikirkan oleh
umat manusia. Hujan asam merupakan istilah umum untuk menggambarkan turunnya asam dari
atmosfir ke bumi. Sebenarnya turunnya asam dari atmosfir ke bumi bukan hanya dalam kondisi
basah Tetapi juga kering. Sehingga dikenal pula dengan istilah deposisi ( penurunan /
pengendapan ) basah dan deposisi kering. Hujan asam dapat terjadi ketika ada reaksi antara air,
oksigen dan zat-zat asam lainnya di atmosfer. Sinar matahari akan mempercepat terjadinya reaksi
antar zat-zat tersebut.
Deposisi basah mengacu pada hujan asam , kabut dan salju. Ketika hujan asam ini mengenai
tanah, ia dapat berdampak buruk bagi tumbuhan dan hewan , tergantung dari konsentrasi asamnya,
kandungan kimia tanah , buffering capacity ( kemampuan air atau tanah untuk menahan
perubahan pH ), dan jenis tumbuhan/hewan yang terkena. Deposisi kering mengacu pada gas dan
partikel yang mengandung asam. Sekitar 50% keasaman di atmosfir jatuh kembali ke bumi
melalui deposisi kering. Kemudian angin membawa gas dan partikel asam tersebut mengenai
bangunan, mobil, rumah dan pohon. Ketika hujan turun, partikel asam yang menempel di
bangunan atau pohon tersebut akan terbilas, menghasilkan air permukaan (runoff) yang asam.
Angin dapat membawa material asam pada deposisi kering dan basah melintasi batas kota dan
Negara sampai ratusan kilometer. Untuk mengukur keasaman hujan asam igunakan pH meter.
Hujan dikatakan hujan asam jika telah memiliki pH dibawah 5,0 ( Air murni mempunyai pH 7 ).
Makin rendah pH air hujan tersebut , makin berat dampaknya bagi mahluk hidup.
Beberapa pengertian hujan asam yabg lainnya sepertisegala macam hujan dengan pH di bawah 5,6
yang bersifat basa karena karbondioksida (CO2) di udara yang larut dengan air hujan memiliki
bentuk sebagai asam lemah.
B. SUMBER

Ada 3 jenis polutan utama yang menyebabkan terjadinya hujan asam yaitu sulfur dioksida(SO2),
nitrogen oksida (NOx) dan volatile organic compounds (VOCs) atau zat-zat organic yang mudah
menguap. Sumber dari kandungan sulfur alami diudara sebagian besar sekitar 25 sampai 30%
berasal dari letusan gunungapi seperti di El Chichon tahun 1982 atau
3
Gunung Pinatubo pada tahun 1991. Hidrokarbon juga dapat menyebabkan hujan asam, asam
karboksilik, HCOO, dan asam metilkarboksilik, CH3CO, merupakan hasil dari oksidasi emisi
biota laut maupun darat. Selain secara alami gas sulfur juga berasal dari pembakaran batubara dan
berasal dari emisi industri. . Pada tahun 1983 United Nations Environment Programme
memperkirakan besarnya sulfur yang dilepaskan antara 80-288 juta ton tiap tahunnya dan sekitar
69 juta ton diantaranya berasal dari aktivitas manusia.
Nitrogen oksida (NOr = NO + NO2) selain berasal dari letusan gunungapi, sumber dari zat ini
adalah dari emisi tanah, kilat, pertukaran gas stratosfer-troposfer, dan pembakaran biomassa. NO
merupakan hasil pembakaran bahan bakar hidrokarbon, baik bahan bakar fosil maupun dari
biomassa. besarnya oksida nitrogen yang dilepaskan antara 20-90 juta ton tiap tahunnya dari alam
dan sekitar 24 juta ton diantaranya berasal dari aktivitas manusia. Amoniak dihasilkan dari emisi
pupuk. Sumber-sumber pencemar ini berasar dari pembuangan asap mesin (kendaraan bermotor
dan stasiun pembangkit energy) dan pembakaran biomassa. Produksi N2O (termasuk CO2,
HNO3, dan CH4) dapat menyebabkan dampak lain yaitu efek rumah kaca dimana N2O memiliki
masa tinggal lebih dari 150 tahun di atmosfer sebelum terurai.

Adapun beberapa penyebab terjadinya hujan asam secara umum:


1. Penyebab alami
Hujan asam secara alami bisa disebabkan oleh semburan dari sebuah gunung berapi, serta proses
biologis yang bisa terjadi di tanah rawa atau lautan. Hujan asam secara alami cukup jarang terjadi.
2. Penyebab manusia
Hujan asam yang disebabkan oleh manusia merupakan permasalahan lingkungan yang cukup
serius. Aktivitas industri biasanya merupakan kontributor utama terjadinya hujan asam. Beberapa
industri yang cukup sering memberikan dampak hujan asam diantaranya adalah industri kendaraan
bermotor, industri pembangkit listrik, industri pertanian (amonia). Unsur sulfur dan nitrogen dari
proses industri dibawa terbang ke atmosfer, selanjutnya bereaksi dengan oksigen di udara
menyebabkan sulfur dioksida dan nitrogen oksida yang akan larut dalam air hujan dan selanjutnya
terdeposit ke tanah
C. PROSES TERJADI HUJAN ASAM

Hujan asam terjadi melalui skema berikut ini :


Udara tercemar gas Sulfur Oksida dan Nitrogen Oksida. Gas-gas ini didominasi oleh asap pabrik,
asap kendaraan, kebakaran hutan, dan lain-lain.
Gas Sulfur Oksida dan gas Nitrogen Oksida bereaksi dengan uap air membentuk Asam Sulfat dan
Asam Nitrat.

Asam sulfat dan Asam Nitrat bercampur dengan air hujan membentuk hujan asam.

D. CARA PENGUKURAN

Hujan asam diukur menggunakan skala pH, air murni memiliki pH sekitar 7 sedangkan hujan
yang normal bersifat agak asam karena adanya kandungan karbon dioksida yang terlarut
didalamnya sehingga pH-nya sekitar 5,5. Pengukuran hujan asam dapat menggunakan botol,
kemudian air hujan ditampung dalam botol tersebut. Dengan menggunakan indicator pH maka
tingkat kebasaan maupun keasaman hujan dapat diketahui. Jika ingin mengetahui pengaruh hujan
asam pada batuan sesuatu yang dapat dilakukan adalah menampung air hujan pada botol dengan
corong terbalik, kemudian air yang tertampung diteteskan pada batuan yang diuji. Pengujian dapat
dilakukaan pada batuan beku dan batuan sedimen. Sebagai contoh batuan beku yang diambil
untuk sampel adalah batu andesit sedangkan batu sedimen berupa batu gamping. Sifat batu granit
yang sudah asam maka ketika terkena tetes air hujan yang asam, batu tersebut tidak ikut terlarut.
Sebaliknya, pada batu gamping yang memiliki sifat basa, maka batu gamping akan terlarut dan air
yang melarutkan batu tersebut menjadi keruh.

E. DAMPAK HUJAN ASAM


Semakin tinggi tingkat keasaman dari sebuah hujan asam, maka akan semakin buruk dampaknya
bagi lingkungan, diantaranya adalah semakin tingginya konsentrasi logam-logam tertentu pada
daerah yang mengalami hujan asam, karena keasaman akan mempengaruhi tingkat kelarutan
logam-logam yang tersedia. Organisme sulit untuk tumbuh, seperti sebuah sungai yang memiliki
tingkat keasaman yang tinggi, maka bisa dipastikan hewan seperti ikan tak akan bisa hidup dengan
kondisi pH yang sangat rendah.
Hujan asam juga berdampak pada terjadinya korosi yang lebih meningkat. Beberapa material
logam yang terpapar dengan hujan asam secara langsung akan lebih cepat mengalami korosi atau
pengkaratan.

Dampak lain yang mungkin terjadi karena hujan asam antara lain :
Mempengaruhi kualitas air bagi biota yang hidup di dalamnya.
Merusak tanaman.
Melarutkan logam-logam berat yang terdapat di dalam tanah.
Bersifat korosif.
Menyebabkan penyakit pernapasan.
Dapat menyebabkan kelahiran bayi prematur bahkan kematian.
Melarutkan kalsium, potasium dan nutrien lain yang berada dalam tanah. Akibatnya tanah
menjadi kurang subur dan tanaman mati.
Menyebabkan pH air turun di bawah normal sehingga ekosistem air terganggu.

F. CARA MENCEGAH HUJAN ASAM


Hujan asam sebagai salah satu permasalahan serius terhadap lingkungan perlu diatasi secara
terpadu. Beberapa cara yang telah dilakukan di negara-negara maju adalah dengan membuat
formula peralatan industri yang mampu menetralisir polutan sebelum sampai ke udara dan
bereaksi dengan oksigen di udara. Penggunaan Flue gas desulfurization (FGD) yang mampu
menetralisir belerang sebelum sampai ke udara merupakan salah satu cara yang cukup populer
dilakukan saat ini, di negera-negara maju seperti Amerika Serikat.
Cara lain yang juga dapat digunakan untuk mengurangi hujan asam :
penghematan energi yang menggunakan hasil olahan batu bara dan minyak bumi
pengontrolan pembakaran batu bara dan minyak bumi
bila telah tanah telah menjadi asam, tambahkan kapur untuk menetralkan kembali pH tanah
tersebut

Bab iii Penutup

v KESIMPULAN
1. Hujan asam didefinisikan sebagai segala macam hujan dengan pH di bawah 5,6. Hujan secara
alami bersifat asam (pH sedikit di bawah 6) karena karbondioksida di udara yang larut dengan air
hujan memiliki bentuk sebagai asam lemah.
2. Hujan asam disebabkan oleh belerang (sulfur) yang merupakan pengotor dalam bahan bakar
fosil serta nitrogen di udara yang bereaksi dengan oksigen membentuk sulfur dioksida dan
nitrogen oksida. Zat-zat ini berdifusi ke atmosfer dan bereaksi dengan air untuk membentuk asam
sulfat dan asam nitrat yang mudah larut sehingga jatuh bersama air hujan
3. Adapun beberapa dampak yang ditimbulkan oleh hujan asam antara lain Kelebihan zat asam
pada danau akan mengakibatkan sedikitnya species yang bertahan, hujan asam yang larut bersama
nutrisi didalam tanah akan menyapu kandungan tersebut sebelum pohon-pohon dapat
menggunakannya untuk tumbuh, korosi dan menyebabkan terganggunya kesehatan manusia.
4. Usaha untuk mengendalikan deposisi asam ialah menggunakan bahan bakar yang
mengandung sedikit zat pencemar, menghindari terbentuknya zat pencemar saar terjadinya
pembakaran, menangkap zat pencemar dari gas buangan dan penghematan energi serta
penambahan zat kapur.

v SARAN
Agar pemerintah dan masyarakat baik dari kalangan industri maupun umum, untuk bekerja sama
dalam menjalankan peraturan yang berkaitan dengan upaya penurunan polusi udara agar dapat
terlaksana dan diterapkan dengan baik dan seksama. Dengan penurunan polusi udara, diharapkan
akan mampu mencegah terjadinya hujan asam yang membawa akibat buruk tidak hanya erhadap
lingkungan namun terhadap kelangsungan hidup manusia.