Anda di halaman 1dari 37

ASUHAN KEPERAWATAN TRAUMA PELVIS

PERAWATAN TRAUMA

OLEH:
Kelompok 7
Liasanil ulfa Ilaika 1411311002
Winda Juwita 1411311018
Rahma Febrianti 1411312023
Ranti Anggasari 1411312024

PROGRA STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2017
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Fraktur pelvis berkekuatan tinggi merupakan cedera yang membahayakan jiwa.
Perdarahan luas sehubungan dengan fraktur pelvis relatif umum namun terutama lazim
dengan fraktur berkekuatan tinggi. Kira-kira 1530% pasien dengan cedera pelvis
berkekuatan tinggi tidak stabil secara hemodinamik, yang mungkin secara langsung
dihubungkan dengan hilangnya darah dari cedera pelvis. Perdarahan merupakan
penyebab utama kematian pada pasien dengan fraktur pelvis, dengan keseluruhan angka
kematian antara 6-35% pada fraktur pelvis berkekuatan-tinggi rangkaian besar (chris
jack, 2009).
Karena trauma multipel biasanya terjadi pada pasien dengan fraktur pelvis, hipotensi
yang terjadi belum tentu berasal dari fraktur pelvis yang terjadi. Pasien dengan fraktur
pelvis mempunyai 4 daerah potensial perdarahan hebat, yaitu permukaan tulang yang
fraktur, trauma pada arteri di pelvis, trauma pada plexus venosus pelvis, sumber dari luar
pelvis.
Berdasarkan uraian diatas kelompok akan menjelaskan bagaimana mekanisme fraktur
pelvis sehingga menyebabkan gangguan serta bagaimana penangan yang dapat
dilakukan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana anatomi pelvis?
2. Apa saja klasifikasi trauma pelvis?
3. Bagaimana mekanisme injuri yang menyebabkan trauma pelvis?
4. Apa sitem penilaian fraktur pelvis?
5. Apa saja komplikasi trauma pelvis?
6. Bagaimana penatalaksanaan trauma pelvis?
7. Apa saja pemeriksaan diagnosis trauma pelvis?

1.3 Tujuan
Tujuan makalah ini di buat adalah:
1. Mengetahui bagaimana anatomi pelvis.
2. Mengetahui apa saja klasifikasi trauma pelvis.
3. Mengetahui bagaimana mekanisme injuri yang menyebabkan trauma pelvis.
4. Mengetahui apa sitem penilaian fraktur pelvis.
5. Mengetahui apa saja komplikasi trauma pelvis.
6. Mengetahui bagaimana penatalaksanaan trauma pelvis.
7. Mengetahui apa saja pemeriksaan diagnosis trauma pelvis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi Pelvis
Pelvis adalah daerah batang tubuh yang berada di sebelah dorsokaudal terhadap
abdomen dan merupakan daerah peralihan dari batang tubuh ke extremitas inferior.
Pelvis bersendi dengan vertebra lumbalis ke-5 di bagian atas dan dengan caput femoris
kanan dan kiri pada acetabulum yang sesuai. Pelvis dibatasi oleh dinding yang dibentuk
oleh tulang, ligamentum, dan otot. Kavitas pelvis yang berbentuk seperti corong,
memberi tempat kepada vesicaurinaria, alat kelamin pelvic, rectum, pembuluh darah dan
limfe, dan saraf (Syaifuddin, 2014).

Pelvis merupakan struktur mirip-cincin yang terbentuk dari tiga tulang yaitu sacrum
dan dua tulang innominata, yang masing-masing terdiri dari ilium, ischium dan pubis.
Tulang-tulang innominata menyatu dengan sacrum di bagian posterior pada dua
persendian sacroiliaca di bagian anterior, tulang-tulang ini bersatu pada simfisis pubis.
Simfisis bertindak sebagai penopang sepanjang memikul beban berat badan untuk
mempertahankan struktur cincin pelvis. Kerangka pelvis terdiri dari: dua os coxae yang
masing-masing dibentuk oleh tiga tulang : os ilii, os ischii, dan os pubis, os sacrum
(Syaifuddin, 2014).

1 Os sacrum terdiri dari lima vertebrae rudimenter yang bersatu membentuk tulang
berbentuk baji yang cekung kearah anterior. Pinggir atas atau basis ossis sacri
bersendi dengan vertebra lumbalis V. Pinggir inferior yang sempit bersendi dengan os
coceygis. Di lateral, os sacrum bersendi dengan kedua os coxae membentuk
articulation sacroiliaca. Pinggir anterior dan atas vertebra sacralis pertama menonjol
ke depan sebagai batas posterior apertura pelvis superior, disebut promontorium os
sacrum, yang merupakan bagian penting bagi ahli kandungan untuk menentukan
ukuran pelvis. Foramina vertebralia bersama-sama membentuk canalis sacralis.
Canalis sacralis berisi radix anterior dan posterior nervi lumbales, sacrales, dan
coccygeus filum terminale dan lemak fibrosa. Os coccygis berartikulasi dengan
sacrum di superior. Tulang ini terdiri dari empat vertebra rudimenter yang bersatu
membentuk tulang segitiga kecil yang basisnya bersendi dengan ujung bawah sacrum.
Vertebra koksigeus hanya terdiri atas korpus, namun vertebra pertama mempunyai
processus transverses rudimenter dan cornu coccygeum. Kornu adalah sisa pedikulus
dan processus articularis superior yang menonjol ke atas untuk bersendi dengan kornu
sakral. Saat dewasa tulang innominata menyatu selurunya pada asetabulum.
2 Ilium. Batas atas tulang ini adalah Krista iliaka. Krista iliaka berjalan ke belakang dari
spina iliaka anterior superior menuju spina iliaka posterior superior. Di bawah
tonjolan tulang ini terdapat spina inferiornya. Permukaan aurikularis ilium disebut
permukaan glutealis karena disitulah pelekatan m. gluteus. Linea glutealis inferior,
anterior, dan posterior membatasi pelekatan glutei ke tulang. Permukaan dalam ilium
halus dan berongga membentuk fosailiaka. Fosailiaka merupakan tempat melekatnya
m. iliakus. Permukaan aurikularis ilium berartikulasi dengan sacrum pada sendi sakro
iliaka (sendi sinovial). Ligamentum sakro iliaka posterior, interoseus, dan anterior
memperkuat sendi sakro iliaka. Linea iliopektinealis berjalan di sebelah anterior
permukaan dalam ilium dari permukaan aurikularis menuju pubis.
3 Iskium. Iskium terdiri dari spina di bagian posterior yang membatasi insisura
iskiadika mayor (atas) dan minor (bawah). Tuberositas iskia adalah penebalan bagian
bawah korpus iskium yang menyangga berat badan saat duduk. Ramus iskium
menonjol ke depan dari tuberositas ini dan bertemu serta menyatu dengan ramus pubis
inferior.
4 Pubis, terdiri dari korpus serta rami pubis superior dan inferior. Tulang ini
berartikulasi dengan tulang pubis di tiap sisi simfisis pubis. Permukaan superior dari
korpus memiliki krista pubikum dan tuberkulum pubikum.
(Syaifuddin, 2014 dan Rabe, 2003)
Foramen obturatorium merupakan lubang besar yang dibatasi oleh rami pubis dan
iskium. Tiga tulang dan tiga persendian tersebut menjadikan cincin pelvis stabil oleh
struktur ligamentosa, yang terkuat dan paling penting adalah ligamentum-ligamentum
sacroiliaca posterior. Ligamentum-ligamentum ini terbuat dari serat oblik pendek yang
melintang dari tonjolan posterior sacrum sampai ke spina iliaca posterior superior (SIPS)
dan spina iliaca posterior inferior (SIPI) seperti halnya serat longitudinal yang lebih
panjang melintang dari sacrum lateral sampai ke spina iliaca posterior superior (SIPS)
dan bergabung dengan ligamentum sacrotuberale (Rabe, 2003).

Gambar 1. Pandangan posterior (A) dan anterior (B) dari ligamentum pelvis. Sumber:
https://ningrumwahyuni.files.wordpress.com/2009/12/447f01.jpg

Ligamentum sacroiliaca anterior jauh kurang kuat dibandingkan dengan ligamentum


sacroiliaca posterior. Ligamentum sacrotuberale adalah sebuah jalinan kuat yang
melintang dari sacrum posterolateral dan aspek dorsal spina iliaca posterior sampai ke
tuber ischiadicum. Ligamentum ini, bersama dengan ligamentum sacroiliaca posterior,
memberikan stabilitas vertikal pada pelvis. Ligamentum sacrospinosum melintang dari
batas lateral sacrum dan coccygeus sampai ke ligamentum sacrotuberale dan masuk ke
spina ischiadica. Ligamentum iliolumbale melintang dari processus transversus lumbalis
keempat dan kelima sampai ke crista iliaca posterior; ligamentum lumbosacrale
melintang dari processus transversus lumbalis ke lima sampai ke ala ossis sacri
(Syaifuddin, 2014).

Gambar 2. Aspek internal pelvis yang memperlihatkan pembuluh darah mayor yang terletak pada dinding dalam
pelvis. Sumber: https://ningrumwahyuni.files.wordpress.com/2009/12/447f02.jpg.

Arteri iliaca communis terbagi, menjadi arteri iliaca externa, memyang terdapat pada
pelvis anterior diatas pinggiran pelvis. Arteri iliaca interna terletak diatas pinggiran
pelvis. Arteri tersebut mengalir ke anterior dan dalam dekat dengan sendi sacroliliaca.
Cabang posterior arteri iliaca interna termasuk arteri iliolumbalis, arteri glutea superior
dan arteri sacralis lateralis. Arteri glutea superior berjalan ke sekeliling menuju bentuk
panggul lebih besar, yang terletak secara langsung diatas tulang. Cabang anterior arteri
iliaca interna termasuk arteri obturatoria, arteri umbilicalis, arteri vesicalis, arteri
pudenda, arteri glutea inferior, arteri rectalis dan arteri hemoroidalis. Arteri pudenda dan
obturatoria secara anatomis berhubungan dengan rami pubis dan dapat cedera dengan
fraktur atau perlukaan pada struktur ini. Arteri-arteri ini dan juga vena-vena yang
menyertainya seluruhnya dapat cedera selama adanya disrupsi pelvis. Arteri iliaca
externa memperdarahu otot dan tulang paha, kulit genetalia externa, dan dinding
abdomen bagian luar (Rabe, 2003).

Pemahaman tentang anatomi pelvis akan membantu untuk mengenali pola fraktur
mana yang lebih mungkin menyebabkan kerusakan langsung terhadap pembuluh darah
mayor dan mengakibatkan perdarahan retroperitoneal signifikan.

Dinding pelvis dapat dibedakan atas dinding ventral, dua dinding lateral, dinding
dorsal, dan sebuah dasar pelvis
1 Dinding pelvis ventral pertama-tama dibentuk oleh kedua corpus ossis pubis dan
ramus ossis pubis serta symphisis pubica.
2 Dinding-dinding pelvis lateral memiliki kerangka tulang yang dibentuk oleh bagian-
bagian os coxae. Musculus obturator internus menutupi hampir seluruh dinding-
dinding ini. Medial terhadap musculus obturator internus terdapat nervus obturatorius
dan pembuluh obturatoria, dan cabang lain dari pembuluh iliaca interna. Masing-
masing musculus obturator internus meninggalkan pelvis melalui foramen
ischiadicum minus dan melekat pada femur (os femoris).
3 Dinding pelvis dorsal dibentuk oleh sacrum, bagian-bagian os ischii yang berdekatan,
dan articulation sacroiliaca serta ligamenta sacroiliaca. Musculus piriformis melapisi
dinding ini di sebelah lateral. Masing-masing musculus piriformis meninggalkan
pelvis minor melalui foramen ischiadicum (sciaticum) majus. Medial terhadap
musculus piriformis terdapat saraf-saraf dari plexus sacralis dan pembuluh iliaca
interna serta cabangnya.
4 Dasar pelvis dibentuk oleh diaphragma pelvis yang dibentuk oleh musculus levator
ani dan musculus coccygeus serta fascia-fascia yang menutupi permukaan cranial dan
permukaan kaudal otot tersebut.
Diaphragma pelvis terbentang antara os pubis di sebelah ventral, dan os coccyges di
sebelah dorsal, dan dari dinding-dinding pelvis lateral yang satu ke dinding-dinding
pelvis lateral di seberangnya. Karena itu, diaphragma pelvis menyerupai sebuah corong
yang tergantung pada tempat perlekatan tadi (Rabe, 2003).

Berikut perbedaan bentuk panggul pria dan wanita

Pria Wanita
Dinding pelvis spurium tajam / curam, Dinding pelvis spurium dangkal,
SIAS menghadap ke medial SIAS menghadap ke ventra
Apertura pelvis superior berbentuk heart- Apertura pelvis superior berbentuk
shaped, lengkung, dengan promontorium oval.
os sacrum menonjol ke anterior.
Pelvis verum merupakan segmen Pelvis verum merupakan segmen
panjang suatu kerucut pendek. pendek suatu kerucut panjang.
Rongga panggul lebih kecil 0,5-1,5 cm Pada wanita, ukuran-ukuran
dibandingkan wanita. diameter rongga panggul lebih besar
(perbedaan sampai sebesar 0.5-1.5
cm).
Apertura pelvis inferior berbentuk Apertura pelvis inferior berbentuk
lonjong dan kecil. bundar, diameter lebih besar.
Angulus subpubicus merupakan sudut Angulus subpubicus adalah sudut
tajam / kecil. lebar / besar.
Kelenjar prostat, vesikulaseminalis, Organ genetalia yang berada di
penis, testis. cavum pelvis yaitu ovarium, tuba
uteri falopii, uterus, mons veneris,
labia mayor kanan dan kiri, labia
minora kanan dan kiri diatas
bertemu menbentuk klitoris, O.U.E
(orivisium uretra externum)
dibawahnya terdapat orivisium
vagina (lubang vagina).

Gambar 3. Sumber: https://image.slidesharecdn.com/anatomipelvis-160127041740/95/anatomi-pelvis-4-638.jpg?


cb=1453868572

2.2 Klasifikasi Taruma Pelvis


1. Klaifikasi Tile
Menurut Tile (1988) ia membagi fraktur pelvis ke dalam cidera yang stabil,
cidera yang secara rotasi tak stabil dan cidera yang secara rotasi dan vertikal tak
stabil.
a Tipe A/stabil
Tipe A/stabil ini temasuk avulse dan fraktur pada cincin pelvis dengan sedikit
atau tanpa pergeseran,

b Tipe B/ rotasi tak stabil


Tipe B/ rotasi tak stabil yaitu secara rotasi tidak stabil tapi secara vertikal stabil.
Daya rotasi luar yang mengena pada satu sisi pelvis dapat merusak dan
membuka simfisis biasa disebut fraktur open book atau daya rotasi internal yaitu
tekanan lateral yang dapat menyebabkan fraktur pada rami iskiopubik pada
salah satu atau kedua sisi juga disertai cidera posterior tetapi tida ada
pembukaan simfisis.

c Tipe C/ secara rotasi dan vertikal tak stabil


Tipe C yaitu secara rotasi dan vertical tak stabil, terdapat kerusakan pada
ligament posterior yang keras dengan cidera pada salah satu atau kedua sisi dan
pergeseran vertical pada salah satu sisi pelvis, mungkin juga terdapat fraktur
acetabulum.

2. Klasifikasi Young dan Burgess


Klasifikasi Young-Burgess membagi disrupsi pelvis kedalam cedera-cedera
kompresi anterior-posterior (APC), kompresi lateral (LC), shear vertikal (VS), dan
mekanisme kombinasi (CM). Kategori APC dan LC lebih lanjut disubklasifikasi
dari tipe I III berdasarkan pada meningkatnya perburukan cedera yang dihasilkan
oleh peningkatan tekanan besar.
a Cedera APC
Cedera APC disebabkan oleh tubrukan anterior terhadap pelvis, sering
mendorong ke arah diastase simfisis pubis. Ada cedera open book yang
mengganggu ligamentum sacroiliaca anterior seperti halnya ligamentum
sacrospinale ipsilateral dan ligamentum sacrotuberale. Cedera APC
dipertimbangkan menjadi penanda radiografi yang baik untuk cabang-cabang
pembuluh darah iliaca interna, yang berada dalam penjajaran dekat dengan
persendian sacroiliaca anterior.
1) Tipe APCI (diastasis simfisis <2,5 cm dengan sisi posterior yang intak)
cedera yang stabil.
2) Tipe APCII (Diastasis simfisis >2,5 cm dengan terbukanya SI joint tapi tidak
terdapat instabilitas vertikal).
3) Tipe APCIII (Disrupsi komplit dari anterior dan posterior pelvis dengan
kemungkinan adanya pergeseran vertikal).

b Cedera LC
Cedera LC sebagai akibat dari benturan lateral pada pelvis yang memutar pelvis
pada sisi benturan ke arah midline. Ligamentum sacrotuberale dan ligamentum
sacrospinale, serta pembuluh darah iliaca interna, memendek dan tidak terkena
gaya tarik. Disrupsi pembuluh darah besar bernama (misal, arteri iliaca interna,
arteri glutea superior) relatif luar biasa dengan cedera LC; ketika hal ini terjadi,
diduga sebagai akibat dari laserasi fragmen fraktur. dibedakan dari pemindahan
vertikal hemipelvis. Perpindahan hemipelvis mungkin dibarengi dengan cedera
vaskuler lokal yang parah.

1) Tipe LCI (impaksi sakral dengan fraktur ramus pubis sisi yang sama
(ipsilateral)cedera yang stabil.
2) Tipe LCII (impaksi sakral dengan fraktur iliac wing ipsilateral atau
terbukanya SI joint posterior dan fraktur ramus pubis)
3) Tipe LCIII (sama dengan tipe AII dengan tambahan cedera rotasional
eksterna dengan SI joint kontralateral dan fraktur ramus pubis)

c Cedera VS
Cedera VS dibedakan dari pemindahan vertikal hemipelvis. Perpindahan
hemipelvis mungkin dibarengi dengan cedera vaskuler lokal yang parah.
d Cedera CM
Pola cedera CM meliputi fraktur pelvis berkekuatan tinggi yang ditimbulkan
oleh kombinasi dua vektor tekanan terpisah.
(Frakes dan Evan, 2004)

2.3 Mekanisme Injury yang Menyebabkan Trauma Pelvis


Pada saat seseorang mengalami kecelakaan, hantaman, jatuh dari ketinggian,
dsb secara langsung akan menekan tulang pelvis. Tulang tidak mampu meredam
energi yang terlalu besar sehingga terjadi fraktur. Karena fraktur terbentuk, terjadi
pergeseran fragmen tulang sehingga merusak jaringan, otot, vaskuler disekitar pelvis.
Trauma langsung bisa menembus kulit sehingga mengalami perlukaan maka
terjadi pelepasan mediator inflamasi lalu terjadilah vasodilatasi yang mengakibatkan
peningkatan aliran darah dan permeabelitas kapiler lalu terjadilah kebocoran
interstisial dan terbentuk oedema. Oedema ini akan menekan pembuluh darah
sehingga terjadilah inefektif perfusi jaringan perifer. Penekanan pembuluh darah
perifer menyebabkan pelepasan mediator nyeri (histamine, prostaglandine, dan
bradikinin) yang ditangkap oleh reseptor nyeri perifer lalu terjadi implus ke otak yang
menyebabkan persepsi nyeri oleh penderita. Perlukaan tadi juga mengakibatkan
kerusakan integritas kulit sehingga pertahanan primer tubuh terhadap infeksi rusak
yang dapat menyebabkan port de entry kuman resiko syok sepsis.
Pada saat trauma langsung pada pelvis juga mengakibatkan deformitas yang
menyebabkan hambatan mobilitas tubuh. Trauma langsung pada pelvis juga
menyebabkan gangguan pada arteri dan vena disekitar sehingga terjadilah perdarahan
yang tidak terkontrol yang mengakibatkan kehilangan volume cairan dan elektrolit
sehingga terjadilah resiko syok hipovolemic.
Jika fraktur parah, tubuh tidak mampu menahan beban energi dari luar, maka
dilakukanlah prosedur pembedahan. Sebelum prsedur pembedahan terkadang pasien
kurang terpapar informasi terkait pembedahan yang akan dilakukan sehingga pasien
mengalami kecemasan.

2.4 Manifestasi Klinis


1. Fraktur pelvis sering merupkana bagian dari salh satu traumamultiple yang dapat
mengenai organ-organ lain dalam panggul. Keluhan berupa gejala pembengkakan,
deformitas serta perdarahan subkutan sekitar panggul. Pasien datang dalam
keadaan anemidan syok karena perdarahan yang hebat. Terdapat gangguan fungsi
anggota gerak bawah.
2. Pada cedera tipe A pasien tidak mengalami syok berat tetapi merasa nyeri bila
berusaha berjalan. Terdapat nyeri tekan lokal tetapi jarang terdapat kerusakan pada
visera pelvis.
3. Pada tipe cedera B dan C pasien mengalami syok berat, sangat nyeri dan tak dapat
berdiri, pasien mungkin juga tidak dapat kencing. Mungkin terdapat darah di
meatus eksternus. Nyeri tekan dapat bersifat lokal tetapi sering meluas.

2.5 Penilaian untuk Fraktur Pelvis


Penilaian paling praktis untuk penilaian trauma pada kondisi gawat darurat dan
paling sederhana adalah GCS dan RTS. Keduanya dapat dikerjakan oleh dokter dan
perawat, dan dapat digunakan untuk menentukan tatalaksana dan memantau
perubahan klinis. Namun, sulit untuk menilai GCS pada pasien terintubasi atau
paralisis. Metode kombinasi mengusahakan cara terbaik karena membutuhkan data
yang banyak. Untuk tujuan penelitian, pembelajaran dan kontrol kualitas, TRISS
dapat diterapkan karena dpat memperkirakan probabilitas kelangsungan hidup dan
telah banyak digunakan daripada sistem penilaian lain dan dinilai cukup efektif karena
memasukkan penilaian anatomis, fisiologis, usia, dan mekanisme cedera. ASCOT
dikatakan lebih baik daripada TRISS, namun perhitungannya kompleks (Carolina,
2015).
1. Penilaian menggunakan GCS
Sistem ini merupakan system penilaian fisiologis pertama dan diperkenalkan pada
tahun 1974 oleh Teasdale dan Jennett. Nilai membuka mata, respons verbal, dan
motorik dijumlah nilai berkisar antara 3 dan 15. Perhitungan GCS cepat dan
sederhana, dan pengulangan perhitungan dapat menginformasikan perkembangan
atau perburukan pasien. GCS adalah metode yang diakui untuk cedera
kepala. Cedera kepala yang dapat disebabkan oleh gangguan anatomi atau fisiologi
tubuh yang lainnya. GCS diklasifikasikan menjadi 3 yaitu ringan (GCS 13-15),
sedang (GCS 9-12), atau berat (GCS 3-8). Nilai rendah menggambarkan cedera yang
lebih berat dan memiliki risiko mortalitas yang lebih tinggi.

2. Penilaian menggunakan RTS


Sistem ini paling banyak digunakan sebagai sistem penilaian fisiologis. Sistem
ini menggabungkan nilai GCS dengan laju respirasi dan tekanan darah sistolik.
RTS lebih sensitif daripada TS. Berikut penghitungan TS:
Terdapat dua tipe, untuk triase dan penelitian. RTS triase digunakan sebagai instrumen
tenaga kesehatan pra-rumah sakit untuk membantu memutuskan apakah pasien trauma
harus dibawa ke fasilitas pelayanan primer atau ke pusat trauma. Untuk tenaga
kesehatan rumah sakit, RTS membantu memutuskan tingkat respons yang diaktifkan.
RTS 11 berhubungan dengan mortalitas 30% dan harus segera dibawa ke pusat
trauma. RTS penelitian berbeda dari triase dalam hal penggunaan faktor pemberat dan
didesain untuk pengumpulan data retrospektif dibandingkan penilaian prospektif.
Faktor pemberat tersebut berupa komponen respirasi dikalikan dengan koefisien
0,2908, tekanan darah sistolik dikalikan 0,7326, dan GCS dikalikan 0,9368. Koefisien
diperoleh dari regresi logistik data MTOS (Major Trauma Outcome Study), dan jika
dijumlahkan memberikan nilai berkisar dari 0 hingga 7,8408, nilai rendah
menunjukkan cedera lebih berat.
3. Penilaian menggunakan TRISS
Sistem penilaian kombinasi digunakan untuk mengatasi kelemahan sistem anatomis
dan fisiologis. Nilai trauma dan nilai keparahan cedera digabung dalam metodologi
TRISS (Trauma Score-Injury Severity Score) yang dikembangkan pada tahun 1987
oleh Champion, dkk. Sistem ini menggabungkan usia, ISS, mekanisme cedera, dan
komponen RTS penelitian untuk menghitung kemungkinan hidup (Ps/Probability of
survival). Ps hanya gambaran statistik dan bukan prediksi dampak yang akurat, namun
dapat memberikan dasar perhitungan probabilitas hidup.
4. Penilaian menggunakan ASCOT
ASCOT adalah sistem penilaian kombinasi yang menggunakan GCS, AIS, usia,
tekanan darah sistolik, dan laju respirasi untuk memperkirakan probabilitas hidup.
ASCOT diperkenalkan oleh Champion, dkk. pada tahun 1996 untuk mengurangi
kelemahan TRISS. ASCOT menggunakan AP menggantikan ISS dan menggolongkan
usia ke dalam bilangan desimal. ASCOT tampaknya dapat memberikan prediksi
kematian yang lebih baik daripada TRISS, tetapi memiliki kompleksitas perhitungan
lebih besar.
5. Penilaian menggunakan KTS
Di negara berkembang KTS paling banyak digunakan. KTS merupakan
penyerdehanaan ISS dan RTS, serta mirip dengan TRIS. KTS dapat digunakan pada
dewasa dan anak-anak. KTS dan RTS dapat memperkiraan kematian. Cedera berat
<11, cedera sedang 11-13, dan cedera ringan 14-16.
Sistem penilaian diatas dapat digunakan untuk prioritaskan masalah apa yang akan
kita berikan tindakan terlebih dahulu untuk mempertahankan kelangsungan hidup pasien.
2.6 Komplikasi
1. Komplikasi awal
a. Shock Hipovolemik/traumatik
Fraktur (ekstremitas, vertebra, pelvis, femur) perdarahan kehilangan cairan
ekstrasel ke jaringan yang rusak shock hipovolemi.
b. Emboli lemak
c. Tromboemboli vena
Berhubungan dengan penurunan aktivitas/kontraksi otot/bedrest.
d. Infeksi
Fraktur terbuka: kontaminasi infeksi sehingga perlu monitor tanda infeksi dan
terapi antibiotik.
e. Sindrom kompartemen

2. Komplikasi lambat
a. Delayed union
Proses penyembuhan fraktur sangat lambat dari yang diharapkan biasanya lebih
dari 4 bulan. Proses ini berhubungan dengan proses infeksi. Distraksi/tarikan
bagian fragmen tulang.
b. Non union
Proses penyembuhan gagal meskipun sudah diberi pengobatan. Hal ini disebabkan
oleh fibrous union atau pseudoarthrosis.
c. Mal union
Proses penyembuhan terjadi tetapi tidak memuaskan (ada perubahan bentuk).
d. Nekrosis avaskuler di tulang
Karena suplai darah menurun sehingga menurunkan fungsi tulang.
2.7 Penatalaksanaan
1. Rekognisi
Menyangkut diagnosa fraktur pada tempat kejadian kecelakaan dan kemudian di
rumah sakit.
a. Riwayat kecelakaan
b. Parah tidaknya luka
c. Diskripsi kejadian oleh pasien
d. Menentukan kemungkinan tulang yang patah
e. Krepitus
2. Reduksi
Reposisi fragmen fraktur sedekat mungkin dengan letak normalnya. Reduksi terbagi
menjadi dua yaitu:
a. Reduksi tertutup: untuk mensejajarkan tulang secara manual dengan traksi atau gips
b. Reduksi terbuka: dengan metode insisi dibuat dan diluruskan melalui pembedahan,
biasanya melalui internal fiksasi dengan alat misalnya; pin, plat yang langsung
kedalam medula tulang.
3. Retensi
Menyatakan metode-metode yang dilaksanakan untuk mempertahankan fragmen-
fragmen tersebut selama penyembuhan (gips/traksi)
4. Rehabilitasi
Langsung dimulai segera dan sudah dilaksanakan bersamaan dengan pengobatan
fraktur karena sering kali pengaruh cedera dan program pengobatan hasilnya kurang
sempurna (latihan gerak dengan kruck).
Untuk penanganan fraktur, sebagai berikut:
a) Fraktur tipe A
Hanya membutuhkan istirahat total di tempat tidur, dikombinasi denagn traksi tungkai
bawah kurang lebih 4-6 minggu.
b) Fraktur tipe B
Apabila cidera open book kurang dari 2,5cm biasanya dapat diterapi dengan bed rest
total dengan pemasangan korset elastic bermanfaat untuk mengembalikan ke posisi
semula. Apabila lebih dari 2,5 cm dapat dicoba dengan membaringkan pasien miring
dan menekan ala ossis ilii. Selain itu juga dapat dilakukan fiksasi internal apabila
fiksasi eksternal tidak berhasil dilakukan.
c) Fraktur tipe C
Merupakan fraktur yang paling berbahaya dan paling sulit diterapi. Pasien harus
bedrest total kurang lebih selama 10 minggu. Operasi berbahaya dilakukan karena
bisa terjadi perdarahan masif dan infeksi. Pemakaian traksi kerangka dan fiksasi luar
mungkin lebih aman
2.8 Pemeriksaan Diagnosis
1. Pemeriksaan rontgen: menentukan lokasi/luasnya fraktur/trauma
2. Kreatinin: trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk ginjal
3. Hitung darah lengkap: Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau menurun
(perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma multiple).
Peningkatan jumlah SDP adalah respons stress normal setelah trauma.
4. CT scan merupakan pemeriksaan diagnostic yang perlu dilakukan untuk mengkaji
injuri intrra abdomen Angiografi, pielografi intravena dan pemeriksaan lain dapat
dilakukan untuk mengkaji derajat trauma pada organ yang berbeda.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA TRAUMA PELVIS
3.1 Pengkajian
A. Primary Survey
Primary survey dilakukan melalui beberapa tahapan (Gilbert, 2009):
1. General Impressions
a. Memeriksa kondisi yang mengancam nyawa secara umum
b. memenentukan keluhan utama atau mekanisme cidera
c. menentukan status mental dan orientasi (waktu, tempat, orang)
2. Airway dengan kontrol servikal
Tindakan pertama kali yang harus dilakukan adalah memeriksa responsivitas
pasien dengan mengajak pasien berbicara untuk memastikan ada atau tidaknya
sumbatan jalan nafas. Seorang pasien yang dapat berbicara dengan jelas maka jalan
nafas pasien terbuka. Pasien yang tidak sadar mungkin memerlukan bantuan
airway dan ventilasi. Tulang belakang leher harus dilindungi selama intubasi
endotrakeal jika dicurigai terjadi cedera pada kepala, leher atau dada. Obstruksi
jalan nafas paling sering disebabkan oleh obstruksi lidah pada kondisi pasien tidak
sadar.
Yang perlu diperhatikan dalam pengkajian airway pada pasien antara lain:
Kaji kepatenan jalan nafas pasien. Apakah pasien dapat berbicara atau bernafas
dengan bebas?
Tanda-tanda terjadinya obstruksi jalan nafas pada pasien antara lain:
Adanya snoring atau gurgling
Stridor atau suara napas tidak normal
Agitasi (hipoksia)
Penggunaan otot bantu pernafasan / paradoxical chest movements
Sianosis
Look dan listen bukti adanya masalah pada saluran napas bagian atas dan
potensial penyebab obstruksi :
Muntahan
Perdarahan
Gigi lepas atau hilang
Gigi palsu
Trauma wajah
Jika terjadi obstruksi jalan nafas, maka pastikan jalan nafas pasien terbuka.
Lindungi tulang belakang dari gerakan yang tidak perlu pada pasien yang
berisiko untuk mengalami cedera tulang belakang.
Gunakan berbagai alat bantu untuk mempatenkan jalan nafas pasien sesuai
indikasi :
Chin lift/jaw thrust
Lakukan suction (jika tersedia)
Oropharyngeal airway/nasopharyngeal airway, Laryngeal Mask Airway
Lakukan intubasi
3. Breathing dan Ventilasi-Oksigenasi
Pengkajian pada pernafasan dilakukan untuk menilai kepatenan jalan nafas
dan keadekuatan pernafasan pada pasien. Jika pernafasan pada pasien tidak
memadai, maka langkah-langkah yang harus dipertimbangkan adalah: dekompresi
dan drainase tension pneumothorax/haemothorax, closure of open chest injury dan
ventilasi buatan (Wilkinson & Skinner, 2000).
Yang perlu diperhatikan dalam pengkajian breathing pada pasien antara lain :
Look, listen dan feel; lakukan penilaian terhadap ventilasi dan oksigenasi pasien.
Inspeksi dari tingkat pernapasan sangat penting. Apakah ada tanda-tanda
sebagai berikut : cyanosis, penetrating injury, flail chest, sucking chest
wounds, dan penggunaan otot bantu pernafasan.
Palpasi untuk adanya : pergeseran trakea, fraktur ruling iga, subcutaneous
emphysema, perkusi berguna untuk diagnosis haemothorax dan
pneumotoraks.
Auskultasi untuk adanya : suara abnormal pada dada.
Buka dada pasien dan observasi pergerakan dinding dada pasien jika perlu.
Tentukan laju dan tingkat kedalaman nafas pasien; kaji lebih lanjut mengenai
karakter dan kualitas pernafasan pasien.
Penilaian kembali status mental pasien.
Dapatkan bacaan pulse oksimetri jika diperlukan
Pemberian intervensi untuk ventilasi yang tidak adekuat dan / atau oksigenasi:
Pemberian terapi oksigen
Bag-Valve Masker
Intubasi (endotrakeal atau nasal dengan konfirmasi penempatan yang benar),
jika diindikasikan
Catatan: defibrilasi tidak boleh ditunda untuk advanced airway procedures
Kaji adanya masalah pernapasan yang mengancam jiwa lainnya dan berikan
terapi sesuai kebutuhan.
4. Circulation Dengan Kontrol Perdarahan
Langkah-langkah dalam pengkajian terhadap status sirkulasi pasien, antara
lain :
Cek nadi dan mulai lakukan CPR jika diperlukan.
CPR harus terus dilakukan sampai defibrilasi siap untuk digunakan.
Kontrol perdarahan yang dapat mengancam kehidupan dengan pemberian
penekanan secara langsung.
Palpasi nadi radial jika diperlukan:
Menentukan ada atau tidaknya
Menilai kualitas secara umum (kuat/lemah)
Identifikasi rate (lambat, normal, atau cepat)
Regularity
Kaji kulit untuk melihat adanya tanda-tanda hipoperfusi atau hipoksia (capillary
refill).
Lakukan treatment terhadap hipoperfusi
5. Disability
Pada primary survey, disability dikaji dengan menggunakan skala AVPU :
A - alert, yaitu merespon suara dengan tepat, misalnya mematuhi perintah yang
diberikan
V - vocalises, mungkin tidak sesuai atau mengeluarkan suara yang tidak bias
dimengerti
P - responds to pain only (harus dinilai semua keempat tungkai jika ekstremitas
awal yang digunakan untuk mengkaji gagal untuk merespon)
U - unresponsive to pain, jika pasien tidak merespon baik stimulus nyeri
maupun stimulus verbal.
6. Exposure/Environment
Menanggalkan pakaian pasien dan memeriksa cedera pada pasien. Jika pasien
diduga memiliki cedera leher atau tulang belakang, imobilisasi in-line penting
untuk dilakukan. Lakukan log roll ketika melakukan pemeriksaan pada punggung
pasien. Yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemeriksaan pada pasien adalah
mengekspos pasien hanya selama pemeriksaan eksternal. Setelah semua
pemeriksaan telah selesai dilakukan, tutup pasien dengan selimut hangat dan jaga
privasi pasien, kecuali jika diperlukan pemeriksaan ulang.
Dalam situasi yang diduga telah terjadi mekanisme trauma yang mengancam
jiwa, maka Rapid Trauma Assessment harus segera dilakukan:
Lakukan pemeriksaan kepala, leher, dan ekstremitas pada pasien
Perlakukan setiap temuan luka baru yang dapat mengancam nyawa pasien luka
dan mulai melakukan transportasi pada pasien yang berpotensi tidak stabil atau
kritis.
B. Secondary Survey
1. Anamnesa
a. Identitas Klien
Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa, status perkawinan,
pendidikan, pekerjaan, no registrasi, tanggal MRS, diagnosa medis.
b. Keluhan Utama
Pada umumnya keluhan utama pada fraktur adalah nyeri. Nyeri bisa akut
maupun kronik, tergantung lamanya serangan.
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Pada umumnya pasien mengeluh nyeri saat bergerak, adanya deformitas atau
gerakan abnormal setelah terjadi trauma langsung yang mengenai tulang.
d. Riwayat Penyakit Dahulu
Apakah pasien pernah mengalami fraktur sebelumnya, apakah klien mempunyai
penyakit tulang seperti osteoporosis, kanker tulang, atau penyakit penyerta
lainnya. Penyakit tulang merupakan faktor resiko terjadinya fratur pelvis klien
dengan kecelakaan.
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Apakah keluarga ada yang mengalami hal serupa dengan pasien, dan apakah
keluarga memiliki penyakit tulang / penyakit lainnya yang diturunkan.
f. Riwayat Psikososial
Merupakan respon emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan peran
klien dalam keluarga dan masyarakat serta respon dan pengaruhnya dalam
kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga maupun masyarakat.
g. Riwayat AMPLE
A : Alergi (adakah alergi pada pasien, seperti obat-obatan, plester, makanan)
M: Medikasi/obat-obatan (obat-obatan yang diminum seperti sedang menjalani
pengobatan hipertensi, kencing manis, jantung, dosis, atau penyalahgunaan obat
P : Pertinent medical history (riwayat medis pasien seperti penyakit yang
pernah diderita, obatnya apa, berapa dosisnya, penggunaan obat-obatan herbal)
L: Last meal (obat atau makanan yang baru saja dikonsumsi, dikonsumsi berapa
jam sebelum kejadian, selain itu juga periode menstruasi termasuk dalam
komponen ini)
E: Events, hal-hal yang bersangkutan dengan sebab cedera (kejadian yang
menyebabkan adanya keluhan utama)
(Emergency Nursing Association, 2007)
2. Pemeriksaan fisik
Meliputi inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi pada :
a. Kulit Kepala
b. Wajah
c. Vertebra Servikalis dan Leher
d. Thoraks
e. Abdomen
1) Inspeksi : abdomen bagian depan dan belakang untuk melihat adanya trauma
tajam atau tumpul serta lihat apakah ada perdarahan
2) Auskultasi : auskultasi apabila adanya penurunan bising usus
3) Palpasi : untuk mengetahui adanya nyeri tekan, defans muskuler, nyeri lepas
yang jelas
4) Perkusi : untuk mengetahui adanya nyeri ketok, timpani akibat dilatasi
lambung akut atau redup bila ada hemoperitoneum.
5) Bila ragu akan adanya perdarahan intra abdominal dapat dilakukan
pemeriksaan DPL (diagnostic peritoneal lavage)
f. Pelvis
Cedera pelvis yang berat akan tampak pada pemeriksaan fisik, yaitu pelvis
menjadi tidak stabil. Pada cidera berat, kemungkinan penderita akan masuk
dalam keadaan syok yang harus segera diatasi. Bila ada indikasi pasang PASG/
gurita untuk mengontrol perdarahan dari fraktur pelvis.
Pelvis dan perineum diperiksa akan adanya luka, laserasi , ruam, lesi,
edema, atau kontusio, hematoma, dan perdarahan uretra. Colok dubur harus
dilakukan sebelum memasang kateter uretra. Harus diteliti akan kemungkinan
adanya darah dari lumen rectum, prostat letak tinggi, adanya fraktur pelvis, utuh
tidaknya rectum dan tonus musculo sfinkter ani. Pada wanita, pemeriksaan
colok vagina dapat menentukan adanya darah dalam vagina atau laserasi, jika
terdapat perdarahan vagina dicatat, karakter dan jumlah kehilangan darah harus
dilaporkan (pada tampon yang penuh memegang 20 sampai 30 mL darah). Juga
harus dilakuakn tes kehamilan pada semua wanita usia subur. Permasalahan
yang ada adalah ketika terjadi kerusakan uretra pada wanita, walaupun jarang
dapat terjadi pada fraktur pelvis dan straddle injury. Bila terjadi, kelainan ini
sulit dikenali, jika pasien hamil, denyut jantung janin (pertama kali mendengar
dengan Doppler ultrasonografi pada sekitar 10 sampai 12 kehamilan minggu)
yang dinilai untuk frekuensi, lokasi, dan tempat. Pasien dengan keluhan kemih
harus ditanya tentang rasa sakit atau terbakar dengan buang air kecil, frekuensi,
hematuria, kencing berkurang, sebuah sampel urin harus diperoleh untuk
analisis.
g. Ekstremitas
Pemeriksaan dilakukan dengan look-feel-move. Pada saat inspeksi, jangan lupa
untuk memeriksa adanya luka dekat daerah fraktur terbuka, pada saat palpasi
jangan lupa untuk memeriksa denyut nadidistal dari fraktur dan jangan
dipaksakan untuk bergerak apabila sudah jelas mengalmi fraktur.
C. Focused Assessment
Focused assessment adalah tahap pengkajian pada area keperawatan yang dilakukan
setelah primary dan secondary survey. Pengkajian ini dilakukan untuk melengkapi
data secondary sesuai masalh yang ditemukan atau tempat dimana injury ditemukan.
Yang paling banyak dilakukan dalam tahapan ini adalah beberapa pemeriksaan
penunjang diagnostik atau bahkan dilakukan pemeriksaan ulang dengan tujuan segera
dapat dilakukan tindakan definitif
D. Reassessment
Mengkaji ulang untuk melengkapi primary survey

Komponen Pertimbangan
Airway Pastikan bahwa peralatan airway : Oro Pharyngeal Airway,
Laryngeal Mask Airway , maupun Endotracheal Tube (salah
satu dari peralatan airway) tetap efektif untuk menjamin
kelancaran jalan napas. Pertimbangkan penggunaaan peralatan
dengan manfaat yang optimal dengan risiko yang minimal.
Breathing Pastikan oksigenasi sesuai dengan kebutuhan pasien :
Pemeriksaan definitive rongga dada dengan rontgen foto
thoraks, untuk meyakinkan ada tidaknya masalah seperti
Tension pneumothoraks, hematotoraks atau trauma pelvis
yang bisa mengakibatkan gangguan oksigenasi tidak adekuat
Penggunaan ventilator mekanik
Circulation Pastikan bahwa dukungan sirkulasi menjamin perfusi jaringan
khususnya organ vital tetap terjaga, hemodinamik tetap
termonitor serta menjamin tidak terjadi over hidrasi pada saat
penanganan resusitasicairan.
Pemasangan cateter vena central
Pemeriksaan analisa gas darah
Balance cairan
Pemasangan kateter urin (jika memungkinkan)
Disability Setelah pemeriksaan GCS pada primary survey, perlu didukung
dengan :
Pemeriksaan spesifik neurologic yang lain seperti reflex
patologis, deficit neurologi, pemeriksaan persepsi sensori
dan pemeriksaan yang lainnya.
CT scan kepala, atau MRI
Exposure Konfirmasi hasil data primary survey dengan
Rontgen foto paada daerah yang mungkin dicurigai trauma
atau fraktu
USG abdomen atau pelvis

3.2 NANDA NOC NIC


Pada kejadian trauma pelvis hebat biasanya seluruh asuhan keperawatan dilakukan
dalam waktu singkat sehingga pendokumentasian dilakukan pada akhir setelah
melakukan tindakan dan evaluasi terhadap pasien.
Berikut NANDA NON NIC klien dengan trauma pelvis ringan:

Diagnosa NOC NIC


Resiko Keseimbangan cairan Pencegahan pendarahan
Kekurangan
Indikator: Aktivitas:
Volume Cairan b.d
perdarahan - Tekanan darah : DBH a. Monitor kemungkinan
- Tekanan arteri rata-rata :
terjadinya perdarahan pada pasien
DBN
b. Catat kadar HB dan Ht setelah
- Tekanan vena sentral :
pasien mengalami kehilangan banyak
DBH
- Kesimbangan intake & darah
output c. Pantau gejala dan tanda
- Rasa haus abnormal (-)
timbulnya perdarahan yang
- Perubahan suara napas
berkelanjutan (cek sekresi pasien baik
(-)
- Elektrolit serum : DBN yang terlihat maupun yang tidak
- Hemoglobin : DBN
disadari perawat)
- Hematokrit : DBN
d. Pantau factor koagulasi,
Kontrol Resiko termasuk protrombin (Pt), waktu paruh
Indikator: tromboplastin (PTT), fibrinogen,
- Pantau faktor resiko degradasi fibrin, dan kadar platelet
lingkungan dalam darah)
- Pantau faktor resiko
e. Pantau tanda-tanda vital,
prilaku personal
osmotic, termasuk TD
- Atur strategi kontrol
f. Atur pasien agar pasien tetap
resiko sesuai kebutuhan
- Gunakan sistem bed rest juka masih ada indikasi
pendukung personal pendarahan
untuk mengontrol g. Atur kepatenan/ kualitas produk
resiko. / alat yang berhubungan dengan
- Pantau perubahan status
perdarahan
kesehatan.
h. Lindungai pasien dari hal-hal
yang menimbulkan trauma dan bias
menimbulkan perdarahan
Pengurangan pendarahan
Aktivitas:
a. Identifikasi etiologi perdarahan
b. Monitor pasien secara ketat akan
perdarahan
c. Monitor jumlah dan karakter
(nature) kehilangan darah pasien
d. Catat kadar Hb/Ht sebelum dan
setelah kehilanga darah sebagai indikasi
e. Monitor TD dan paameter
hemodinamik, jika tersedia (contoh:
tekanan vena sentral dan kapiler
paru/tekanan arteri temporalis)
f. Monitor status/keadaan cairan
termasuk intake dan output
g. Kaji koagulasi, termasuk
prothrombin time (PT), partial
thomboplastin time (PTT), fibrinogen,
degradasi fibrin/split products, dan
jumlah platelet jika diperlukan
Pengontrolan perdarahan
Aktivitas:
- Mengenal penyebab perdarahan
- Monitor jumlah dan sifat darah yang
hilang
- Catat nilai hemoglobin / hematokrit
sebelum dan sesudah kehilangan darah
sesuai indikasi
- Evaluasi respon psikologi pasien
terhadap perdarahan dan persepsi
terhadap peristiwa yang terjadi
- Monitor tanda dan gejala perdarahan
persisten
- Monitor fungsi neurologi
Manajemen Cairan
Aktivitas:
- Monitor status hidrasi (seperti
:kelebapan mukosa membrane, nadi)
- Monitor TTV
- Monitor respon pasien untuk
meresepkan terapi elektrolit
- Konsultasi dengan dokter, jika gejala
dan tanda kehilangan cairan makin
buruk
- Kaji ketersediaan produk darah untuk
trsanfusi
- Berikan resusitasi cairan IV

Nyeri Akut b.d Kontrol nyeri Manajemen nyeri


Cidera Pelvic Indikator: Aktivitas:
- Menggunakan buku harian
- Lakukan penilaian nyeri secara
untuk memantau gejala
komprehensif dimulai dari lokasi,
dari waktu ke waktu
- Menggunakan langkah- karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas,

langkah pencegahan intensitas dan penyebab.

gejala nyeri - Kaji ketidaknyamanan secara


- Menggunakan langkah- nonverbal, terutama untuk pasien yang
langkah bantuan non tidak bisa mengkomunikasikannya
analgesik secara efektif
- Menggunakan analgesik
- Pastikan pasien mendapatkan
seperti yang
perawatan dengan analgesic
direkomendasikan
- Mengenali gejala nyeri - Tentukan dampak nyeri terhadap
- Laporan nyeri dikontrol kehidupan sehari-hari (tidur, nafsu

Tingkat nyeri makan, aktivitas, kesadaran, mood,


Indikator: hubungan sosial, performance kerja dan
- Klien melaporkan nyeri
melakukan tanggung jawab sehari-hari)
yang dirasakan telah
- Kontrol faktor lingkungan yang dapat
berkurang atau
menimbulkan ketidaknyamanan pada
menghilang
- Panjangnya episode pasien (suhu ruangan, pencahayaan,

nyeri berkurang keributan)


- Klien tidak lagi - Pertimbangkan tipe dan sumber nyeri
mengekpresikan wajah ketika memilih metoda mengurangi
nyeri nyeri
- Klien tidak merasa
- Menyediakan analgesic yang
gelisah lagi
- TTV dalm batas normal dibutuhkan dalam mengatasi nyeri
- Nafsu makan klien - Gunakan pendekatan dari berbagai
diharapkan meningkat. disiplin ilmu dalam manajemen nyeri
- Monitor kepuasan pasien terhadap
manajemen nyeri ynag diberikan dalam
interval yang ditetapkan.

Pemberian analgesic
Aktivitas:
- Menentukan lokasi , karakteristik,
mutu, dan intensitas nyeri sebelum
mengobati pasien
- Periksa order/pesanan medis untuk
obat, dosis, dan frekuensi yang
ditentukan analgesik
- Cek riwayat alergi obat
- Tentukan analgesik yang cocok, rute
pemberian dan dosis optimal.
- Tentukan jenis analgesik yang
digunakan (narkotik, non narkotik atau
NSAID) berdasarkan tipe dan tingkat
nyeri.
- Monitor TTV sebelum dan sesudah
pemberian obat narkotik dengan dosis
pertama atau jika ada catatan luar biasa.
- Cek pemberian analgesik selama 24
jam untuk mencegah terjadinya puncak
nyeri tanpa rasa sakit, terutama dengan
nyeri yang menjengkelkan
- Dokumentasikan respon pasien tentang
analgesik, catat efek yang merugikan
- Kolaborasikan dengan dokter jika
terjadi perubahan obat, dosis, rute
pemberian, atau interval, serta membuat
rekomendasi spesifik berdasar pada
prinsip equianalgesic.
Resiko tinggi Kontrol Risiko Kontrol Infeksi
infeksi b.d luka
Indikator: Aktivitas :
terbuka
Mengetahui faktor risiko a. Bersikan lingkungan secara tepat
Memonitor faktor risiko setelah digunakan oleh pasien
lingkungan b. Ganti peralatan pasien setiap selesai
Mengembangkan strategi tindakan
pengendalian risiko yang c. Ajarkan cuci tangan untuk menjaga

efektif kesehatan individu


d. Anjurkan pengunjung untuk mencuci
Menghindari paparan
tangan sebelum dan setelah
ancaman kesehatan
Memantau perubahan status meninggalkan ruangan pasien
e. Cuci tangan sebelum dan sesudah
kesehatan
kontak dengan pasien
f. Lakukan universal precautions
Kontrol Risiko : Proses g. Gunakan sarung tangan steril
Infeksi h. Lakukan perawatan aseptic pada semua
jalur IV
Indikator:
i. Lakukan teknik perawatan luka yang
Mencari validasi risiko tepat
infeksi yang dirasakan j. Tingkatkan asupan nutrisi
Memonitor lingkungan k. Anjurkan asupan cairan
l. Anjurkan istirahat
untuk faktor yang terkait m. Berikan terapi antibiotik
dengan risiko infeksi
Mempertahankan Infection Protection
Aktivitas :
lingkungan yang bersih
Menggunakan kewaspadaan a. Monitor tanda dan gejala infeksi
universal sistemik dan lokal
Memantau perubahan status b. Monitor kerentanan terhadap infeksi
c. Monitor angka granulosit, WBC dan
kesehatan umum
hasil yang berbeda
d. Partahankan teknik aspesis pada pasien
yang beresiko
e. Berikan perawatan kulit yang tepat pada
area edematous
f. Inspeksi kulit dan membran mukosa
terhadap kemerahan, panas, atau
drainase
g. Ispeksi kondisi luka
h. Dukungan masukkan nutrisi yang cukup
i. Dukungan masukan cairan
j. Dukungan istirahat
k. Instruksikan pasien untuk minum
antibiotik sesuai resep

Perawatan luka
Aktivitas :
a. Monitor karakteristik luka meliputi
drainase, warna, ukuran dan bau
b. Bersihkan luka dengan NaCl (normal
saline)
c. Pertahankan teknik steril dalam
perawatan luka
d. Inspeksi luka setiap melakukan
pergantian dreesing
e. Bandingkan dan laporkan adanya
perubahan pada luka secara reguler
f. Atur posisi untuk mencegah tekanan pada
daerah luka
g. Tingkatkan intake cairan
h. Ajarkan pada pasien/anggota keluarga
tentang prosedur perawatan luka
i. Ajarkan pada pasien/anggota keluarga
tentang tanda dan gejala infeksi
j. Dokumentasikan lokasi luka, ukuran, dan
penampakannya.
BAB IV
KESIMPULAN

Patah tulang panggul adalah putusnya kontinuitas tulang, tulang rawan epifisis atau
tulang rawan sendi dan gangguan struktur tulang dari pelvis. Pada orang tua penyebab
paling umum adalah jatuh dari posisi berdiri. Namun, fraktur yang berhubungan dengan
morbiditas dan mortalitas terbesar melibatkan pasukan yang signifikan misalnya dari
kecelakaan kendaraan bermotor atau jatuh dari ketinggian.

Penyebab dari fraktur pelvis diantaranya karena trauma langsung, trauma tidak
langsung, proses penyakit, compresion forcedan, muscle (otot). Komplikasi yang
mungkin terjadi pada fraktur pelvis adalah shock hipovolemik, emboli lemak,
tromboemboli vena, infeksi dan kompartemen.

Dalam penatalaksanaan, prinsip utama yang harus diperhatikan adalah airway,


breathing, circulation, disability dan exposure. Diagnosa keperawatan yang bisa diangkat
dalam kasus fraktur pelvis diantaranya resiko perdarahan, nyeri akut, gangguan mobilitas
fisik dan resiko infeksi.

DAFTAR PUSTAKA

Chris, Jack. 2009. Assessment and Management of Trauma. University of Southern


California: Division of Trauma and Surgical Critical Care.
Emergency Nurses Association (2007). Sheehy`s manual of emergency care 6th edition. St.
Louis Missouri : Elsevier Mosby.
Frakes dan Evan. 2004. Major Pelvic Fractures. Journal of Critical Care Nurse
Gilbert, Gregory., DSouza, Peter., Pletz, Barbara. (2009). Patient assessment routine medical
care primary and secondary survey. San Mateo County EMS Agency.
Musliha. (2010). Keperawatan Gawat Darurat. Yogyakarta : Nuha Medika.
Muttaqin, Arif. (2008). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem
Muskuloskeletal. Jakarta : EGC.
Purwadianto, Agus, dkk. (2000). Kedaruratan Medik. Jakarta Barat : Binarupa Aksara.

Rabe, Thomas. 2003. Buku Saku Ilmu Kandungan. Jakarta: Hipokrates

Salim, Carolina. 2015. Sistem Penilaian Trauma. CDK-232/ vol. 42 no. 9, th,2015
Syaifuddin. 2014. Anatomi Fisiologi Ed. 4. Jakarta: EGC

Thomas, Mark A. (2011). Terapi dan rehabilitasi Fraktur. Jakarta : EGC.

Lampiran
FORMAT PENGKAJIAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT PADA ORANG DEWASA
No. Rekam Medis ... ... ... Diagnosa Medis ... ... ...
IDENTITAS

Nama : Jenis Kelamin : L/P Umur :


Agama : Status Perkawinan : Pendidikan :
Pekerjaan : Sumber informasi : Alamat :

TRIAGE P1 P2 P3 P4
PRIMER SURVEY

GENERAL IMPRESSION
Keluhan Utama :

Mekanisme Cedera :

Orientasi (Tempat, Waktu, dan Orang) : Baik Tidak Baik, ... ... ...
Diagnosa Keperawatan:
AIRWAY Inefektif airway b/d
Jalan Nafas : Paten Tidak Paten Kriteria Hasil :
Obstruksi : Lidah Cairan Benda Asing N/A
Intervensi :
Suara Nafas : Snoring Gurgling 1. Manajemen airway;headtilt-chin lift/jaw
thrust
Stridor N/A 2. Pengambilan benda asing dengan
Keluhan Lain: ... ... forcep
3.
4.

Diagnosa Keperawatan:
1. Inefektif pola nafas b/d
BREATHING 2. Kerusakan pertukaran gas b/d

Gerakan dada: Simetris Asimetris Kriteria Hasil :


Irama Nafas : Cepat Dangkal Normal
Intervensi :
Pola Nafas : Teratur Tidak Teratur 1. Pemberian terapi oksigen
ltr/mnt, via
Retraksi otot dada : Ada N/A 2. Bantuan dengan Bag Valve Mask
Sesak Nafas : Ada N/A RR : ... ... x/mnt 3. Persiapan ventilator mekanik
4.
Keluhan Lain: 5.

Diagnosa Keperawatan:
1. Penurunan curah jantung b/d
CIRCULATION 2. Inefektif perfusi jaringan b/d

Nadi : Teraba Tidak teraba Kriteria Hasil :


Sianosis : Ya Tidak
Intervensi :
CRT : < 2 detik > 2 detik 1. Lakukan CPR dan Defibrilasi
2. Kontrol perdarahan
Pendarahan : Ya Tidak ada 3.
Keluhan Lain: ... ... 4.

Diagnosa Keperawatan:
1. Inefektif perfusi serebral b/d
DISABILITY 2. Intoleransi aktivias b/d
3.

Respon : Alert Verbal Pain Unrespon Kriteria Hasil :


PRIMER SURVEY

Kesadaran : CM Delirium Somnolen


Intervensi :
... ... ... 1. Berikan posisi head up 30 derajat
2. Periksa kesadaran dann GCS tiap 5
GCS : Eye ... Verbal ... Motorik ... menit
Pupil : Isokor Unisokor Pinpoint 3.
4.
Medriasis 5.
Refleks Cahaya: Ada Tidak Ada
Keluhan Lain :

Diagnosa Keperawatan:
1. Kerusakan integritas jaringan b/d

EXPOSURE 2. Kerusakan mobilitas fisik b/d
3.

Deformitas : Ya Tidak Kriteria Hasil :


Contusio : Ya Tidak
Abrasi : Ya Tidak Intervensi :
Penetrasi : Ya Tidak 1. Perawatan luka
Laserasi : Ya Tidak 2. Heacting
Edema : Ya Tidak 3.
Keluhan Lain: 4.

SECONDARY SURVEY

Diagnosa Keperawatan:
1. Regimen terapiutik inefektif b/d

ANAMNESA 2. Nyeri Akut b/d
3.

Riwayat Penyakit Saat Ini : Kriteria Hasil :

Intervensi :
1.
2.
Alergi :

Medikasi :

Riwayat Penyakit Sebelumnya:

Makan Minum Terakhir:

Even/Peristiwa Penyebab:

Tanda Vital :
BP : N: S: RR :
PEMERIKSAAN FISIK Diagnosa Keperawatan:
1.
2.

Kepala dan Leher: Kriteria Hasil :


Inspeksi ... ...
Intervensi :
Palpasi ... ... 3.
4.
Dada:
Inspeksi ... ...
SECONDARY SURVEY

Palpasi ... ...


Perkusi ... ...
Auskultasi ... ...
Abdomen:
Inspeksi ... ...
Palpasi ... ...
Perkusi ... ...
Auskultasi ... ...
Pelvis:
Inspeksi ... ...
Palpasi ... ...
Ektremitas Atas/Bawah:
Inspeksi ... ...
Palpasi ... ...
Punggung :
Inspeksi ... ...
Palpasi ... ...
Neurologis :

Diagnosa Keperawatan:
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1.
2.
RONTGEN CT-SCAN USG EKG Kriteria Hasil :
ENDOSKOPI Lain-lain, ... ...
Intervensi :
Hasil : 1.
2.

Tanggal Pengkajian : TANDA TANGAN PENGKAJI:


Jam :
Keterangan : NAMA TERANG :