Anda di halaman 1dari 12

RINGKASAN

ETIKA BISNIS DAN PROFESI

(TEORI-TEORI ETIKA)

Disusun Oleh

NAMA : Kevin Alexandro Massie

STAMBUK : 2013 30 092

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI MAKASSAR

STIEM BONGAYA
1
PEMBAHASAN

2.1 Etika Absolut dan Relative

2.1.1 Pengertian Etika Absolut

Absolut artinya mutlak, merupakan paham yang percaya bahwa segala

sesuatu yang ada itu bersifat mutlak dan universal. Dengan ini, etika absolut dapat

didefinisikan sebagai paham etika yang menekankan bahwa prinsip moral itu

universal, berlaku untuk siapa saja, dan di mana saja, Tidak ada tawar menawar

dalam prinsip ini, juga tidak tergantung pada adanya kondisi yang membuat

prinsip moral dapat berubah sewaktu-waktu.

Etika absolut erat hubungannya dengan moralitas seorang individu

atau manusia, etika ini juga memberikan atau menekankan setiap norma dan

aturan yang ada dengan tegas dan terkadang bersifat memaksa tidak pandang

bulu, etika yang berarti adat atau kebiasaan dari seorang individu sesuai dengan

lingkungan dan tempat dimana ia lahir dan tinggal sehingga mampu menata hidup

dengan baik melalui etika dan moral yang baik pula. Terkadang seorang individu

membutuhkan paham yang bersifat mutlak untuk menjadi pedoman hidup dan tata

cara bagaimana ia hidup dan bersosialisasi dengan sesama manusia dengan alam,

hewan, tumbuhan.

Di dalam etika absolut dapat dicontohkan melalui kepercayaan seorang

individu yaitu agama yang dianutnya sesuai dengan apa yang ia yakini. Agama

juga bersifat universal namun mutlak karena apa yang di yakini harus ditaati dan

dilaksakan perintahnya dan tidak dapat di tawar atau ditinggalkan setiap

aturannya, karena segalanya berhungan dengan tuhan.

2
2.1.2 Pengertian Etika Relatif

Relatif artinya menurut bahasa adalah bergantung kepada sesuatu.

Etika relatif itu sendiri berarti paham yang percaya bahwa segala sesuatu itu

bersifat tidak mutlak, mulai dari pengetahuan maupun prinsip. Terkait dengan

istilah relativisme etika, Shomali telah memberikan definisi yang cukup mudah

dipahami yaitu relativisme etika adalah pandangan bahwa tidak ada prinsip

moral yang benar secara universal, kebenaran semua prinsip moral bersifat relatif

terhadap budaya atau pilihan individu..Relativisme juga tidak memungkinkan

untuk adanya serangkaian mutlak etika. Logikanya, jika tidak ada etika yang

mutlak, maka tidak ada Absolute Ilahi Etika Pemberi. Mewajibkan set mutlak

etika menyiratkan Pemberi Etika Absolute, yang dengan mudah dapat

diekstrapolasi sebagai Tuhan.

Ini akan bertentangan dengan relativisme etis. Oleh karena itu,

relativisme etika tidak akan mendukung gagasan Allah yang mutlak, dan itu akan

mengecualikan sistem keagamaan didasarkan pada moral mutlak, yaitu, itu akan

mutlak dalam kutukannya terhadap etika mutlak. Dalam hal ini, relativisme akan

menjadi tidak konsisten, karena akan menyangkal kepercayaan dari nilai absolut.

Selain itu, jika etika telah berubah dari waktu ke waktu, ada masalah

kontradiksi diri dalam perspektif relativistik. 200 tahun yang lalu perbdakan

diterima secara sosial dan benar. Sekarang tidak, telah ada perubahan dalam etika

sosial di Amerika mengenai masalah ini.

Masalahnya adalah bahwa jika perbudakan menjadi dapat diterima lagi dalam 200

tahun ke depan, siapa yang mengatakan apakah itu benar atau salah? Kami akan

memiliki satu set kontradiktif benar dan salah mengenai masalah yang sama.

3
Dalam relativisme etika, benar dan salah tidak mutlak dan harus

ditentukan dalam masyarakat dengan kombinasi observasi, logika , sosial dan pola

preferensi, pengalaman, emosi, dan "aturan" yang tampaknya membawa manfaat

yang paling. Tentu saja, tak usah dikatakan bahwa masyarakat yang terlibat dalam

konflik moral yang konstan tidak akan mampu bertahan untuk waktu yang lama.

Moralitas adalah lem yang memegang masyarakat bersama-sama. Harus ada

konsensus benar dan salah bagi masyarakat untuk berfungsi dengan baik.

Tampaknya menjadi universal di antara budaya yang salah untuk

membunuh, mencuri, dan berbohong. Kita melihat bahwa ketika individu

mempraktekkan etika kontra produktif, mereka segera di penjara atau dihukum.

Karena etika konseptual di alam, dan ada beberapa etika yang tampaknya

melampaui semua budaya (berlaku untuk semua masyarakat).

2.1.3 Contoh etika absolut

Bagaimana pun dan apa pun alasannya membunuh adalah perbuatan tidak

bermoral

Memperkosa adalah perbuatan yang keji dan tidak bermoral

Mengambil hak orang lain adalah perbuatan yang tidak bermoral.

Contoh kasus etika Absolut

Seorang pejabat A yang bekerja di badan yudikatif negara melakukan

tindakan korupsi dari anggaran suatu proyek yang dijalankan atas dasar untuk

memenuhi keinginan pribadi dan membeli barang-barang mewah yang ia inginkan

dengan nominal yang cukup tinggi dan merugikan negara.

4
Dari kasus menurut etika absolut dapat disimpulkan bahwa memakan hak

orang lain adalah perbuatan yang salah. Maka pejabat A apapun posisinya dan

kedudukannya perbuatan A adalah perbuatan yang tidak bermoral dan tidak

beretika serta menyalahi aturan yang ada karena telah merugikan rakyat banyak.

2.1.4 Contoh etika relatif

Membunuh itu bisa benar dan juga bisa salah tergantung apa tujuan orang

melakukan pembunuhan.

Contoh kasus etika relatif

Callatia memakan ayah mereka yang telah mati sebagai penghormatan dan

kebanyakan dari tanggapan kita terhadap hal itu adalah tidak bermoral. Tetapi bagi

orang Callatia membakar atau mengubur orang mati adalah perbuatan menakutkan

dan menjijikkan atau tidak bermoral.

Dari kasus diatas dapat disimpulkan bahwa moral yang baik menurut suku

callatia sesuai dengan adat dan kebiasaan mereka terlepas apa yang orang lain

pikirkan atas apa yang mereka lakukan karena apa yang mereka lakukan tentang

upacara kematian adalah apa yang mereka yakini.

2.3 Teori-teori Etika

Etika sebagai disiplin ilmu berhubungan dengan kajian secara

kritis tentang adat kebiasaan, nilai-nilai, dan norma perilaku manusia yang

dianggap baik atau tidak baik. Dalam etika masih dijumpai banyak teori yang

5
mencoba untuk menjelaskan suatu tindakan, sifat, atau objek perilaku yang sama

dari sudut pandang atau perspektif yang berlainan.

Berikut teori-teori Etika :

1. Egoisme

Rachels (2004) memperkenalkan dua konsep yang berhubungan dengan egoisme.

Pertama, egoisme psikologis, adalah suatu teori yang menjelaskan bahwa semua

tindakan manusia dimotivasi oleh kepentingan berkutat diri (self servis). Menurut

teori ini, orang boleh saja yakin ada tindakan mereka yang bersifat luhur dan suka

berkorban, namun semua tindakan yang terkesan luhur dan/ atau tindakan yang

suka berkorban tersebut hanyalah sebuah ilusi. Pada kenyataannya, setiap orang

hanya peduli pada dirinya sendiri.

2. Utilitarianisme

Menurut teori ini, suatu tindakan dikatakan baik jika membawa manfaat bagi

sebanyak mungkin anggota masyarakat (the greatest happiness of the greatest

number). Ukuran baik tidaknya suatu tindakan dilihat dari akibat, konsekuensi,

atau tujuan dari tindakan itu, apakah memberi manfaat atau tidak dalam mengukur

akibat dari suatu tindakan, satu-satunya parameter yang penting adalah

jumlah kebahagiaan atau jumlah ketidakbahagiaan, kesejahteraan setiap orang

sama pentingnya.

Perbedaan paham utilitarianisme dengan paham egoisme etis terletak pada siapa

yang memperoleh manfaat. Egoisme etis melihat dari sudut pandang kepentingan

individu, sedangkan paham utilitarianisme melihat dari sudut pandang

kepentingan orang banyak.

6
3. Deontologi

Paradigma teori deontologi saham berbeda dengan paham egoisme dan

utilitarianisme, yang keduanya sama-sama menilai baik buruknya suatu tindakan

memberikan manfaat entah untuk individu (egoisme) atau untuk banyak

orang/kelompok masyarakat (utilitarianisme), maka tindakan itu dikatakan etis.

Sebaliknya, jika akibat suatu tindakan merugikan individu atau sebagian besar

kelompok masyarakat, maka tindakan tersebut dikatakan tidak etis. Teori

yang menilai suatu tindakan berdasarkan hasil, konsekuensi, atau tujuan dari

tindakan tersebut disebut teori teleologiSangat berbeda dengan paham teleologi

yang menilai etis atau tidaknya suatu tindakan berdasarkan hasil, tujuan, atau

konsekuensi dari tindakan tersebut, paham deontologi justru mengatakan bahwa

etis tidaknya suatu tindakan tidak ada kaitannya sama sekali dengan tujuan,

konsekuensi, atau akibat dari tindakan tersebut. Konsekuensi suatu tindakan

tidak boleh menjdi pertimbangan untuk menilai etis atau tidaknya suatu tindakan.

Kant berpendapat bahwa kewajiban moral harus dilaksanakan demi kewajiban itu

sendiri bukan karena keinginan untuk memperoleh tujuan kebahagiaan, bukan

juga karena kewajiban moral iu diperintahkan oleh Tuhan. Moralitas hendaknya

bersifat otonom dan harus berpusat pada pengertian manusia berdasarkan akal

sehat yang dimiliki manusia itu sendiri, yang berarti kewajiban moral mutlak itu

bersifat rasional.

Walaupun teori deontologi tidak lagi mengkaitkan kriteria kebaikan moral dengan

tujuan tindakan sebagaimana teori egoisme dan tlitarianisme, namun teori ini juga

mendapat kritikan tajam terutama dari kaum agamawan. Kant mencoba

membangun teorinya hanya berlandaskan pemikiran rasional dengan berangkat

7
dari asumsi bahwa karena manusiabermartabat, maka setiap perlakuan manusia

terhadap manusia lainnya harus dilandasi olehkewajiban moral universal. Tidak

ada tujuan lain selain mematuhi kewajiban moral demi kewajiban itu sendiri.

4. Teori Hak

Suatu tindakan atau perbuatan dianggap baik bila perbuatan atau tindakan tersebut

sesuai dengan HAM. Menurut Bentens (200), teori hak merupakan suatu aspek

dari deontologi (teori kewajiban) karena hak tidak dapat dipisahkan dengan

kewajiban. Bila suatu tindakan merupakan hak bagi seseorang, maka sebenarnya

tindakan yang sama merupakan kewajibanbagi orang lain. Teori hak sebenarnya

didsarkan atas asumsi bahwa manusiamempunyai martabat dan semua manusia

mempunyai martabat yang sama.

5. Teori Keutamaan (Virtue Theory)

Teori keutamaan berangkat dari manusianya (Bertens,2000). Teori keutamaan

tidak menanyakan tindakan mana yang etis dan tindakan mana yang tidak etis.

Teori ini tidak lagi mempertanyakan suatu tindakan, tetapi berangkat dari

pertanyaan mengenai sifat-sifat atau karakter yang harus dimiliki oleh seseorang

agar bisa disebut sebagai manusia utama, dan sifat-sifat atau karakter yang

mencerminkan manusia hina. Karakter/sifat utama dapat didefinisikan sebagai

disposisi sifat/watak yang telah melekat/dimiliki oleh seseorang

dan memungkinkan dia untuk selalu bertingkah laku yang secara moral dinilai

baik. Mereka yang selalu melakukan tingkah laku buruk secar amoral disebut

manusia hina. (Bertens,2000) memberikan contoh sifat keutamaan, antara lain:

kebijaksanaan, keadilan, dan kerendahan hati. Sedangkan untuk pelaku bisnis,

8
sifat utama yang perlu dimiliki antara lain: kejujuran, kewajaran (fairness),

kepercayaan dan keuletan.

6. Teori Etika Teonom

Sebagaimana dianut oleh semua penganut agama di dunia bahwa ada tujuan akhir

yang ingin dicapai umat manusia selain tujuan yang bersifat duniawi, yaitu untuk

memperoleh kebahagiaan surgawi. Teori etika teonom dilandasi oleh filsafat

kristen, yang mengatakan bahwa karakter moral manusia ditentukan secara hakiki

oleh kesesuaian hubungannya dengan kehendak Allah. Perilaku manusia secara

moral dianggap baik jika sepadan dengan kehendak Allah, dan perilaku manusia

dianggap tidak baik bila tidak mengikuti aturan/perintah Allah sebagaiman

dituangkan dalam kitab suci.

Sebagaimana teori etika yang memperkenalkan konsep kewajiban tak bersyarat

diperlukan untuk mencapai tujuan tertinggi yang bersifat mutlak. Kelemahan teori

etika Kant teletak pada pengabaian adanya tujuan mutlak, tujuan tertinggi yang

harus dicapai umat manusia, walaupun ia memperkenalkan etika kewajiban

mutlak. Moralitas dikatakan bersifat mutlak hanya bila moralitas itu dikatakan

dengan tujuan tertinggi umat manusia. Segala sesuatu yang bersifat mutlak tidak

dapat diperdebatkan dengan pendekatan rasional karena semua yang bersifat

mutlak melampaui tingkat kecerdasan rasional yang dimiliki manusia.

2.4 Etika Abad ke-20

1. Arti Kata Baik Menurut George Edward Moore

Kata baik adalah kunci dari moralitas, namun Moore merasa heran tidak

satupun etikawan yang berbicara tentang kata baik tersebut, seakan-akan hal itu

9
sudah jelas dengan sendirinya. Menurut Moore, disinilah letak permasalahan

sehingga terdapat kekacauan dalam menafsirkan kata baik tersebut. Anggapan inti

Moore sangat sederhana bahwa kata baik tidak dapat didefinisikan, suatu kata

dapat didefinisikan jika kata tersebut tidak lagi terdiri atas bagian-bagian sehingga

tidak dapat dianalisis. Baik adalah baik, titik. Setiap usaha untuk mendefinisikan

akan selalu menimbulkan kerancuan.

2. Tatanan Nilai Max Scheller

Max Scheller sebenarnya membantah anggapan teori imperative category

Immanuel Kant. Nilai-nilai bersifat material dan apriori. Material disini bukan

dalam arti ada kaitan dengan materi, tetapi sebagai lawan dari kata formal.

Bersifat apriori artinya kebernilaian suatu nilai tersebut mendahului segala

pengalaman.

Menurut Max Scheller, ada 4 gugus nilai yang masing-masing mandiri dan

berbeda antara satu dengan yang lain, yaitu:

I. Nilai-nilai sekitar enak dan tidak enak,

II. Nilai-nilai vital,

III. Nilai-nilai rohani murni,

IV. Dan nilai-nilai sekitar roh kudus.

3. Etika Situasi Joseph Fletcher

Joseph Fletcher termasuk tokoh yang menentang adanya prinsip etika

yang bersifat mutlak. Ia berpendapat bahwa setiap kewajiban moral selalu

bergantung pada situasi konkret. Sesuatu ketika berada dalam situasi tertentu bisa

jadi baik dan tepat, tetapi ketika berada dalam situasi yang lain bisa jadi jelek dan

salah. Itulah sebabnya, moralitas hanya dapat dipahami dalam situasi konkret-

10
padahal, situasi konkret tidak selalu sama-sehingga etika Fletcher sering disebut

etika situasi.

4. Pandangan Penuh Kasih Iris Murdoch

Menurut Murdoch, khas dari teori-teori etika pasca-Kant adalah bahwa nilai-nilai

moral dibuang dari dunia nyata. Bukan kemampuan otonom yang menciptakan

nilai, melainkan kemampuan untuk melihat dengan penuh kasih dan adil.

5. Pengelolaan Kelakuan Byrrhus Frederic Skinner

Skinner mengatakan bahwa pendekatan filsafat tradisional dan ilmu manusia tidak

memadai sehingga yang diperlukan bukanlah ilmu etika, tetapi sebuah teknologi

kelakuan. Ide dasar Skinner adalah menemukan teknologi/ cara untuk mengubah

perilaku.

6. Prinsip Tanggung Jawab Hans Jonas

Walaupun kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan telah membawa kemajuan,

menimbulkan masalah baru berupa ancaman kelanjutan kehidupan manusia.

Intinya adalah kewajiban manusia untuk bertanggung jawab atas keutuhan

kondisi-kondisi kehidupan manusia di masa depan.

7. Kegagalan Etika Pencerahan Alasdair Maclntyre

Bahwa etika pencerahan telah gagal karena pencerahan atas nama rasionalitas

justru telah membuang apa yang menjadi dasar rasionalitas setiap ajaran moral,

yaitu pandangan teleologis tentang manusia. Maclntyre menganjurkan agar etika

kembali pada paham teleologis tentang manusia.

2.5 Teori Etika dan Paradigma Hakikat Manusia

Pokok-pokok pikirannya meliputi:

11
1. Muncul berbagai paham teori etika, masing-masing teori memiliki pendukung

dan penentang yang cukup berpengaruh,

2. Munculnya beragam teori etika karena adanya perbedaan paradigma, pola pikir,

atau pemahaman tentang hakikat hidup sebagai manusia,

3. Setiap teori hanya ditinjau dari proses penalaran,

4. Semua teori yang ada menjelaskan tahapan-tahapan sejalan dengan

pertumbuhan tingkat kesadaran diri.

5. Teori yang tampak bagaikan potongan-potongan dapat dipadukan menjadi satu

teori tunggal.

6. Inti dari etika manusia adalah adanya keseimbangan antara kepentingan pribadi,

keseimbangan modal PQ, IQ, EQ, kebahagiaan lahir batin, keseimbangan hak dan

kewajiban.

12