Anda di halaman 1dari 14

TUGAS TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL

Validasi Metode Sterilisasi Panas Kering (Oven)

Anggota Kelompok:

Sutatik 142210101037

Nadya Rosada 142210101038

Mohammad Resa Hermawan 142210101101

Huuril Maula Ahdy 142210101103

TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL BAGIAN FARMASETIKA

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS JEMBER

2017
PENDAHULUAN

Sterilisasi atau suci hama yaitu suatu proses membunuh segala bentuk kehidupan
mikroorganisme yang ada dalam sample/contoh, alat-alat atau lingkungan tertentu. Dalam
bidang bakteriologi, kata sterilisasi sering dipakai untuk menggambarkan langkah yang
diambil agar mencapai tujuan meniadakan atau membunuh semua bentuk kehidupan
mikroorganisme. Teknik sterilisasi pada dasarnya dapat ditempuh melalui dua cara:

1. Secara Fisis
2. Secara Kimia

1. Sterilisasi Secara Fisis

a. Metode radiasi
Dalam mikrobiologi radiasi gelombang elektromagnetik yang banyak
digunakan adalah radiasi sinar ultraviolet, radiasi sinar gamma atau sinar X dan sinar
matahari. Sinar matahari banyak mengandung sinar ultraviolet, sehingga secara
langsung dapat dipakai untuk proses sterilisasi; hal ini telah lama diketahui orang.
Sinar ultraviolet bisa diperoleh dengan menggunakan katoda panas (emisi termis)
yaitu ke dalam tabung katoda bertekanan rendah diisi dengan uang air raksa; panjang
gelombang yang dihasilkan dalam proses ini biasanya dalam orde 2.500 s/d 2.600
Angstrom. Lampu merkuri yang banyak terpasang di jalan-jalan sesungguhnya banyak
mengandung sinar ultraviolet. Namun sinar ultraviolet yang dihasilkan itu banyak
diserap oleh tabung gelas yang dilainnya, sehingga dalam proses sterilisasi hendaknya
memperhatikan dosis ultraviolet.
Sinar ultraviolet yang diserap oleh sel organisme yang hidup, khususnya oleh
nukleotida maka elektron-elektron dari molekul sel hidup akan mendapat tambahan
energi. Tambahan energi ini kadang-kadang cukup kuat untuk mengganggu bahkan
merusak ikatan intramolekuler, misalnya ikatan atom hidrogen dalam DNA.
Perubahan intramolekuler ini menyebabkan kematian pada sel-sel tersebut. Beberapa
plasma sangat peka terhadap sinar ultraviolet sehingga mudah menjadi rusak.
Sinar gamma mempunyai tenaga yang lebih besar dari pada sinar ultraviolet
dan merupakan radiasi pengion. Interaksi antara sinar gamma dengan materi biologis
sangat tinggi sehingga mampu memukul elektron pada kulit atom sehingga
menghasilkan pasangan ion (pair production). Cairan sel baik intraselluler maupum
ekstraselluler akan terionisasi sehingga menyebabkan kerusakan dan kematian pada
mikroorganisme tersebut.
Sterilisasi dengan penyinaran sinar gamma berdaya tinggi dioergunakan untuk
objek-objek yang tertutup plastik (stick untuk swab, jarum suntik). Untuk makanan
maupun obat-obatan tidak boleh menggunakan sinar gamma untuk sterilisasi oleh
karena akan terjadi perubahan struktur kimia pada makanan maupun obat-obatan
tersebut.
b. Metode pemanasan dengan uap air dan pengaruh tekanan (autoclave)
Benda yang akan disuci hamakan diletakkan diatas lempengan saringan dan
tidak langsung mengenai air dibawahnya. Pemanasan dilakukan hingga air mendidih
(diperkirakan pada suhu 100 C), pada tekanan 15 lb temperatur mencapai 121 C.
Organisme yang tidak berspora dapat dimatikan dalam tempo 10 menit saja. Banyak
jenis spora hanya dapat mati dengan pemanasan 100 C selama 30 menit tetapi ada
beberapa jenis spora dapat bertahan pada temperatur ini selama beberapa jam. Spora-
spora yang dapat bertahan selama 10 jam pada temperatur 100 C dapat dimatikan
hanya dalam waktu 30 menit apabila air yang mendidih ini ditambah dengan natrium
carbonat (Na2CO3).
c. Metode pemanasan secara kering
Pemanasan kering ini kurang efektif apabila temperatur kurang tinggi. Untuk
mencapai efektivitas diperlukan pemanasan mencapai temperatur antara 160 C s/d
180 C. Pada temperatur ini akan menyebabkan kerusakan pada sel-sel hidup dan
jaringan; hal ini disebabkan terjadinya auto oksidasi sehingga bakteri pathogen dapat
terbakar. Pada sistem pemanasan kering terdapat udara; hal mana telah diketahui
bahwa udara merupakan penghantar panas yang buruk sehingga sterilisasi melalui
pemanasan kering memerlukan waktu cukup lama, rata-rata waktu yang diperlukan 45
menit. Pada temperatur 160 C memerlukan waktu 1 jam, sedangkan pada temperatur
180 C memerlukan waktu 30 menit. Pada metode pemanasan kering ini secara rutin
dipergukan untuk mensterilkan alat-alat pipet, tabung reaksi, stick swab, jarum
operasi, jarum suntik, syringe. Oleh karena itu temperatur tinggi sangat mempengaruhi
ketajaman jarum atau gunting maka hindarilah tindakan sterilisasi dengan metode
panas kering terhadap jarum dan gunting.
d. Metode pemanasan secara intermittent/terputus-putus
John Tyndall (1877) memperoleh dari hasil penelitiannya bahwa pada
temperatur didih (100 C) selama 1 jam tidak dapat membunuh semua
mikroorganisme tetapi apabila air dididihkan berulang-ulang sampai lima kali dan
setiap air mendidih istirahat berlangsung 1 menit akan sangat berhasil untuk
membunuh kuman. Hal ini dapat dimengerti oleh karena dengan pemanasan
intermittent lingkaran hidup pembentukan spora dapat diputuskan.
e. Metode incineration (pembakaran langsung)
Alat-alat platina, khrome yang akan disteril dapat dilakukan melalui
pembakaran secara langsung pada nyala lampu bunzen hingga mencapai merah
padam. Hanya saja dalam proses pembakaran langsung ini lat-alat tersebut lama
kelamaan menjadi rusak. Keuntungannya: mikroorganisme akan hancur semuanya.
f. Metode penyaringan (filtration)
Metode penyaringan berbeda dengan metode pemanasan. Sterilisasi dengan
metode pemanasan dapat membunuh mikroorganisme tetapi mikroorganisme yang
mati tetap berada pada material tersebut, sedangkan sterilisasi dengan metode
penyaringan mikroorganisme tetap hidup hanya dipisahkan dari material. Bahan
filter/penyaringan adalah sejenis porselin yang berpori yang dibuat khusus dari
masing-masing pabrik.
Ada banyak macam filter yaitu:
1) Berkefeld V.
2) Coarse N, M dan W.
3) Fine
4) Chamberland
5) Seitz
6) Sintered glass

Metode filtrasi ini hanya dipakai untuk sterilisasi larutan gula, cairan lain
seperti serum atau sterilisasi hasil produksi mikroorgnisme seperti enzim dan exotoxin
dan untuk memisahkan fitrable virus dari bakteria dan organisme lain.

2. Sterilisasi Secara Kimia

Sterilisasi secara kimia tidak dibahas secara terperinci di sini, namun lazim
digunakan adalah alkohol 96%, aceton tab formalin, sulfur dioxida dan chlorine.
Materi yang akan disuci hamakan dibersihkan terlebih dahulu kemudian direndam
dalam alkohol atau aceton atau tab formalin selama 24 jam.

Alat yang digunakan untuk sterilisasi biasanya sebelum digunakan secara operasional
perlu dilakukan validasi alat. Validasi adalah langkah konfirmasi melalui pengujian dan
pengadaan bukti yang objektif bahwa persyaratan tertentu untuk suatu maksud khusus
dipenuhi. Validasi metode sangat diperlukan karena beberapa alasan yaitu validasi metode
merupakan elemen penting dari kontrol kualitas, validasi membantu memberikan jaminan
bahwa pengukuran akan dapat diandalkan. Dalam beberapa bidang, validasi metode adalah
persyaratan peraturan. Pada makalah ini Kami akan menjelaskan tentang validasi metode
sterilisasi panas kering yaitu oven.
Alat dan Bahan Pendukung yang Diperlukan
Thermocontrol
Termokopel
Steritape
LAL Standard, sensitivity 0,125 EU/ml
LAL Reagent Water
Beker Gelas berisi minyak silikon yang dilengkapi dengan thermometer
standard atauThermoblock
Vortex mixer
Airborne Particle Counter
Stopwatch

Validasi Sterilisasi Panas Kering (Oven)


1. Pemeriksaan Jumlah Partikel dalam Oven
a. Hidupkan oven tanpa pemanasan
b. Ukur partikel pada tiga titik di depan masing-masing HEPA Filter (ada tiga
HEPAfilter) dengan menggunakan Particle Counter
c. Lakukan 3 kali pengukuran
d. Lampirkan data yang diperoleh ke Dokumen Kualifikasi
e. Hidupkan oven tanpa pemanasan

Kriteria keberterimaan: Jumlah partikel dalam oven harus memenuhi persyaratan


untuk kelas A.
Analisis:

Jumlah Partikel di tiga titik


( 0,5m)

1 2 3

3.000 3.200 3.310

3.100 3.220 3.320

3.110 3.230 3.340

Pada persyaratan kelas A jumlah partikel maksimum yang diperbolehkan yaitu


3.520 untuk partikel yang 0,5m, Sehingga data tersebut sudah memenuhi kriteria
kebertrimaan

2. Verifikasi Kebocoran Oven


a. Tutup pintu pada sisi steril maupun sisi nonsteril dan pasang grendel pintu
b. Set oven pada temperatur rendah (40C) dan nyalakan oven dengan memutar
tombol oven-pressure fan
c. Uji kebocoran dengan menggunakan asap yang diciptakan dengan smoke stick
merekdi sepanjang sela-sela pintu. Kebocoran ditandai dengan hembusan angin
dari sela-sela pintu yang menghalau asap
Kriteriakeberterimaan: Tidak ada kebocoran dari dalam oven baik keruangan nons
terile maupun ruangan steril yang ditunjukkan dengan tidak adah embusan angin dari
sela-sela pintu yang menghalau asap baik pada sisi steril maupun sisi nonsteril.
Analisis:
Pada uji kebocoran oven, dilakukan sesuai dengan prosedur diatas, dan
diperoleh hasil bahwa oven tidak mengalami kebocoran ditunjukkan dengan tidak
adanya hembusan angin dari sela-sela pintu yang menghalau asap.

3. Kalibrasi Termokopel
Kalibrasi Termokopel harus dilaksanakan segera sebelum dan sesudah Kualifikasi
Kinerja Oven.

a. Kalibrasi dilakukan dengan cara memasukkan secara bersamaan semua


termokopel ke dalam Beker Gelas yang berisi minyak silikon yang dilengkapi
dengan thermometer standar dipanaskan dengan menggunakan pelat pemanas dan
pengaduk otomatis sampai temperatur 230 C
b. Setelah temperatur 230 C tercapai selama 10 menit, catat hasil dari 5 kali
pengukuran pada waktu berbeda
c. Tentukan temperatur tertinggi dan terendah pada tiap pengukuran
d. Lakukan penghitungan perbedaan antara temperatur tertinggi dan temperatur
terendah
e. Tentukan juga perbedaan hasil pengukuran terbesar antara termokopel yang
sedang diukur dan termokopel standar

Kriteria keberterimaan:
Perbedaan terbesar (maksimum) temperatur antara semua termokopel (rata-rata
dTmaks (1)) tidak boleh lebihdari 1,0 C.
Perbedaan terbesar (maksimum) temperatur antara sebuah termokopel dan
termokopel standar (rata-rata dTmaks (2)) tidak boleh lebih dari 0,5 C.
Analisis:
Termokopel 1
Waktu (Menit) T terendah (0C) T tertinggi (0C)
3 229 230
6 228,7 229,5
9 229,6 230
12 228,8 229,5
15 228,6 229

dTmaks = Tx (Maks)-Ty(Min)
t=3 dTmaks(1) = 230 229 = 1
t=6 dTmaks(1) =229,5 - 228,7= 0,8
t=9 dTmaks (1) = 230-229,6 = o,4
t=12 dTmaks(1) = 229,5 228,8 = 0,7
t=15 dTmak(1) =229 - 228,6 =o,4
Rata-rata dTmak(1) = 1+0.8+0,4+0,7+0,4
4
= 0,825 (Memenuhi kriteria keberterimaan, tidak boleh lebih
dari 1,0 C)
Termokopel 2
Waktu (Menit) T terendah (0C) T tertinggi (0C)
3 229,6 230
6 228,9 229
9 228,9 229,5
12 229,4 230
15 229,3 229,5

t=3 dTmaks(2) = 230 229,6 = 0,4


t=6 dTmaks(2) =229 228,9 = 0,1
t=9 dTmaks (2) = 229,5- 228,9 = o,6
t=12 dTmaks(2) = 230- 229,4 = 0,6
t=15 dTmak(2) =229,5-229,3 =o,2
Rata-rata dTmak(1) = 0,4+0,1+0,6+0,6+0,2
4
= 0,475, (Memenuhi kriteria keberterimaan, yaitu tidak boleh
lebih dari 0,5 C)

4. Pengamatan Distribusi Panas dalam Keadaan Kosong


Untuk mengetahui distribusi panas atau keseragaman panas di dalam oven kosong.
a. Pasang minimal 10 - 12 buah termokopel dalam chamber secara horizontal,
vertikal dan lateral pada titik-titik yang ditunjuk pada Lampiran 1. Gambar Titik
Penempatan Termokopel)
b. Hubungkan termokopel dengan recorder
c. Mulai siklus pemanasan
d. Catat hasil pada Lembar Kerja
e. Lampirkan hasil rekam grafik sterilisasi
Perhitungan :
1. Rata-rata temperatur dari masing-masing termokopel
T rata-rata = T1 + T2 + T3+ .TN/N
T = Bacaan temperatur dari masing-masing termokopel
N = Jumlah termokopel yang digunakan pada Temperatur Distribusi

2. Perbedaan temperatur daerah tertinggi dan daerah terendah dari masing-masing


termokopel.
T = T hot - T cold
T = Perbedaan temperatur yang terbesar
T hot = Temperatur yang tertinggi
T cold = Temperatur yang terendah

3. Perbedaan temperatur terendah dan temperatur setting pada tiap termokopel


T = T cold - T set point.
T = Perbedaan temperatur yang terkecil
T cold = Temperatur yang terendah
T set point = Temperature Setting yang diatur pada alat

Kriteria keberterimaan:
Perbedaan antara temperatur yang tertinggi (hottest point) dan temperatur yang
terendah (coldest point) : Maksimal 5 oC.

Analisis:

Termokopel Suhu
1 229 230 227,9
2 230 227,5 228,5
3 228 228,6 229,4
4 227 229 227,8
5 227,5 229,5 229,9
6 228,1 227,8 230
7 229,5 229 230
8 227,7 230 227,9
9 228,5 228,5 228,5
10 230 229,5 228
Rata-rata 228,53 228,94 228,79
Tmax 230 230 230
Tmin 227 227,5 227,8
t1 3 2,5 2,2
t2 3 2,5 2,2

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa data tersebut sudah memenuhi kriteria
keberterimaan yaitu perbedaan antara temperatur tertinggi dan terrendah maksimal
50C

5. Pengamatan Distribusi Panas dengan Muatan


Untuk menentukan daerah dengan temperatur terendah pada tiap jenis muatan oven /
peralatan yang disterilkan.
a. Masukkan ampul 2 ml kosong ke dalam oven sampai penuh (Konfigurasi
Muatan 1) atau tangki baja serta peralatan (Konfigurasi Muatan 2)
b. Pasang termokopel pada oven pada posisi yang sama dengan yang digambarkan
pada Lampiran 1. Gambar Titik Penempatan Termokopel
c. Jalankan oven dan mulai sterilisasi / depirogenisasi pada setting 230 oC selama
90 menit
d. Catat temperatur pada saat program tersebut dimulai sampai dengan siklus
sterilisasi otomatis dimulai
e. Pada saat siklus sterilisasi dimulai, catat temperatur pada lembar kerja
(Lampiran 2. Hasil Pengamatan dan Perhitungan), lanjutkan pencatatan sampai
siklus sterilisasi berakhir
f. Lampirkan hasil rekam grafik sterilisasi
Kriteria keberterimaan:
Perbedaan temperatur antara temperatur tertinggi dengan temperatur terendah
tidak boleh melebihi 15C pada siklus depirogenisasi.
o Perbedaan temperatur terendah dengan temperature setting tidak boleh lebih
dari 2C.

Analisis:
Waktu
(Menit
) Pengamatan 1 Pengamatan 2 Pengamatan 3
10 235 237 233
20 229 236 231
30 229,5 237 228
40 231 229 231
50 230 229,5 234
60 229,5 229,4 235
70 233 229,9 231
80 231.5 230 230
90 230 231 229
Tmax 235 237 233
Tmin 229 229 228
t1 6 8 5
t2 1 1 2

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa data tersebut sudah memenuhi kriteria
keberterimaan yaitu perbedaan antara temperatur tertinggi dan terrendah
maksimal (t1) tidak boleh melebihi 15C pada siklus depirogenisasi.
Perbedaan temperatur terendah dengan temperature setting tidak boleh lebih
dari 2C (t2)

6. Uji Tantang Endotoksin


Uji ini dapat dilakukan bersamaan dengan pengamatan penetrasi panas dengan
menempatkan endotoksin di dekat semua termokopel, atau bila dilakukan setelah
pengamatan penetrasi panas, endotoksin ditempatkan dekat dengan 50% jumlah
termokopel dan pada daerah temperatur terendah.
Prosedur :
1. Gunakan minimal 10 buah indikator biologi endotoksin untuk masing-masing pola
pengujian.
2. Tentukan kadar endotoksin sebelum digunakan untuk Uji Tantang Endotoksin.
3. Letakkan minimal 50 % endotoksin pada daerah yang diketahui temperaturnya
terendah dan letakkan endotoksin berdekatan dengan ujung termokopel pada
bagian dalam alatyang disterilkan.
4. Catat hasil pada lembar kerja (Lampiran 2. Hasil Pengamatan dan Perhitungan).
Lakukan 3 kali pengamatan
Kriteria keberterimaan :
Penurunan jumlah endotoksin tidak kurang dari 3log atau 1000 EU pada tiap
lokasi.
Kontrol positif endotoksin menunjukkan jumlah minimal 1000 EU.
Kontrol negatif endotoksin tidak menunjukkan adanya endotoksin.

Analisis:

Hasil Pengamatan Uji Tantan Endotoksin dan Mikroba

Kontrol positif-negatif

MIKROBA ENDOTOKSIN

PERCOBAAN I

Kontrol Negatif - -

Kontrol Positif - 1200

PERCOBAAN II

Kontrol Negatif - -

Kontrol Positif - 1100

PERCOBAAN III

Kontrol Negatif - -

Kontrol Positif - 1300

Uji Tantan Endotoksin dan Mikroba

Termokopel Jumlah Endotoksin Mikroba

Awal Akhir Tumbuh Tidak


Tumbuh

Percobaan I
1 2000 3000 - -

2 2100 4500 - -

3 2500 6000 - -

4 1900 3500 - -

5 2300 4500 - -

6 4500 6500 - -

7 6500 8000 - -

8 5000 7500 - -

9 1500 3000 - -

10 2000 4300 - -

Percobaan II

1 5000 7000 - -

2 5000 6500 - -

3 4500 7200 - -

4 8000 10000 - -

5 6200 8100 - -

6 3000 5700 - -

7 2100 4200 - -

8 1400 5000 - -

9 1260 4560 - -

10 5400 7100 - -

Percobaan III

1 6500 8300 - -

2 2300 1000 - -

3 7700 9800 - -

4 3700 6000 - -

5 4300 8100 - -

6 3400 5300 - -

7 5600 7200 - -
8 3400 6500 - -

9 6230 8740 - -

10 2130 6507 - -

Dari analisis data diatas dapat disimpulkan bahwa uji tantangg endotoksin sudah
memenuhi kriteria keberterimaan yaitu

- penurunan jumlah endotoksin tidak kurang dari 1000 EU pada tiap lokasi

- Kontrol positif endotokasin menunjukkan jumlah minimal 1000 EU

- Kontrol negatif endotoksin tidak tidak menunjukkan endotoksin

Dari ke 6 uji yang dilakukan untuk memvalidasi oven semuanya memenuhi kriteria
keberterimaan sehingga dapat disimpulkan bahwa oven dalam keadaan baik dan tidak
mengalami gangguan atau kerusakan sehingga oven sudah tervalidasi.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2014. Petunjuk Operasional Penerapan Pedoman Cara Pembuatan Obat Yang
Baik.Jakarta : BPOM RI
dr. J. F. Gabriel.1988.Fisika Kedokteran.Jakarta:Buku kedokteran EGC.
Riyanto, Ph.D.2014. Validasi dan Verifikasi Metode Uji.Yogyakarta:Deepublish.