Anda di halaman 1dari 23

PANDUAN

TRIASE

RUMAH SAKIT UMUM


ANUTAPURA PALU
2016
KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah, kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas


limpahan rahmad-Nya kami telah menyelesaikan penyusunan buku
Panduan Triase di Rumah Sakit Umum Anutapura Palu.
Buku ini disusun sebagai panduan transfer terhadap pasien Rumah Sakit
khususnya dan pimpinan serta pelaksana yang ada di semua bagian/unit yang ada
di rumah sakit dalam melaksanakan upaya peningkatan mutu rumah sakit yang
disesuaikan dengan standar akreditasi rumah sakit.
Semoga dengan tersusunnya buku Panduan Triase ini dapat memberikan
sumbangsih kami dalam memberikan batasan-batasan untuk melaksanakan tugas
pelayanan di rumah sakit.
Kami menyadari buku ini jauh dari sempurna untuk itu kami berharap
kritik dan saran yang membangun untuk kesempurnaan buku ini.

Palu, 2016
Tim Penyusun
DAFTAR ISI

Halaman Judul ................................................................................................. i


Surat Keputusan Direktur Rumah Sakit Umum Anutapura Palu Nomor :
. tentang Panduan Triase Pasien ........................... ii
Kata Pengantar ................................................................................................. iii
Daftar Isi .......................................................................................................... iv

BAB I Pendahuluan
A. Latar Belakang ......................................................................... 1
B. Tujuan ...................................................................................... 5
C. Pengertian ................................................................................. 3
BAB II Tata Laksana
A. Penilaian Point A ...................................................................... 8
B Penilaian Point B ...................................................................... 9
C. Penilaian Point C ...................................................................... 10
D. Penilaian Point D ..................................................................... 11
BAB III Dokumentasi .................................................................................. 13
BAB IV Penutup .......................................................................................... 16

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 17

BAB I
PENDAHULUAN
I. Latar Belakang
Triage, suatu sistem untuk menyeleksi, pasien mana yang harus
mendapat penolongan terlebih dahulu, pertamakali dilakukan pada medan
pertempuran abad ke-18 masa Nepoleon. Tujuan Triage pada saat itu adalah
untuk memberi penanganan kepada prajurit-prajurit yang mempunyai resiko
tinggi untuk meninggal, jika tidak segera ditolong. Saat ini Triage diterapkan
pada berbagai macam latar belakang pelayanan kesehatan, seperti kejadian
musibah missal, Instalasi Pelayanan Intensif (IPI), dan Instalasi Gawat
Darurat (IGD)(Van der Wulp,2010).
Ada beberapa macam sistem Triage :
1.1 Metode START (Simple Triage and Rapid Treatment):
a. Biasa dilakukan di luar rumah sakit (kasus musibah massal)
b. Dapat dilakukan oleh orang awam, atau orang yang kurang
berpengetahuan tentang medis.
c. Korban dikelompokkan menjadi 4 kategori, yaitu :
1) Meninggal, tak perlu diberi pertolongan
2) Kondisi cederanya berat tapi masih bisa ditolong dan harus
segera dikirim ke rumah sakit.
3) Kondisi cederanya tidak begitu berat, dan pengiriman ke
rumah sakit masih bisa ditunda.
4) Kondisi cederanya ringan, dan tidak perlu dikirim ke rumah
sakit.
1.2 Metode Advance Triage :
a. Dilakukan oleh petugas medis atau petugas yang terlatih.
b. Korban dikelompokkan menjadi 4 (empat) macam prioritas atau
dengan menggunakan label warna :
1) Merah atau prioritas (satu)
Dilakukan pada korban atau penderita yang mempunyai
harapan hidup, tetapi dapat meninggal jika tidak segera
mendapat pertolongan.
2) Kuning atau Prioritas 2 (dua)
Digunakan pada korban atau penderita yang cederanya cukup
berat atau sakitnya akut, tetapi kondisinya stabil atau tidak
mengancam nyawa jika sementara dilakukan penundaan
pertolongan. Sementara dapat diobservasi dan bila perlu
dapat dilakukan triage ulang, jika terdapat tanda-tanda
perubahan status korban.

3) Hijau atau Prioritas 3 (tiga)


Digunakan pada korban dengan cedera tidak berat atau sakit
akut, tapi masih dapat berjalan, namun masih tetap
memerlukan penanganan medis nantinya, setelah cideranya
yang parah sudah teratasi.

4) Hitam atau Prioritas 0 (nol)


Digunakan pada korban atau penderita yang meninggal, atau
kondisinya sangat parah, sehingga walaupun mendapat
pertolongan segera, tetap meninggal (Mikal Rose, 2009,
Stoppler,2007)
Sistem triage cenderung bergantung pada 3 (tiga) macam nilai
pelayanan kesehatan Yang berbeda. Pertama, triage bertujuan mencegah
bahaya fatal terhadap nyawa dan kesehatan manusia. Pada sistem ini,
memprioritaskan pasien yang membutuhkan pelayanan kesehatan segera,
sementara pasien lain yang kondisi penyakit atau lukanya tidak berat,
dipastikan dapat menunggu giliran dengan aman. Kedua, triage bertujuan
untuk efisiensi sumber daya yang tersedia. Pada kondisi dimana ada beberapa
pasien yang membutuhkan penanganan Life Saving, sementara ada seseorang
pasien yang membutuhkan banyak petugas penolong, maka pasien seorang
tersebut tidak harus diberikan penanganan terlebih dahulu karena jumlah
petugas di pelayanan kesehatan terbatas, maka petugas-petugas kesehatan
tersebut lebih dialokasikan pada pasien yang paling membutuhkan dengan
kemungkinan yang hidup yang besar. Ketiga, nilai terakhir sistem triage
bergantung pada kejujuran dan berpegangan pada guidelines atau pedoman
yang sudah ditetapkan dalam hal pengalokasian sumberdaya (sarana atau
prasarana kesehatan). Dengan guidelines tersebut, keputusan dibuat
berdasarkan standart atau bukan keinginan perorangan (Vander Wult), 2010.
Sistem triage sering diterapkan di Instalasi Gawat Darurat, hal ini
disebabkan oleh adanya peningkatan tuntutan untuk bekerja secara terlatih
dan peningkatan beban kerja, akibat banyaknya pasien untuk tidak gawat
tidak darurat yang memilih berobat ke Instalasi Gawat Darurat, terutama pada
hari libur dan diluar jam praktek pribadi dokter.
Triage merupakan penilaian keperawatan yang dimulai dari saat pasien tiba
di Instalasi Gawat Darurat. Triage merupakan kunci dimana penaganan
kegawat-daruratan dimulai. Tiage merupakan proses yang berkesinambungan
meliputi penilaian yang terus menerus dan penilaian ulang.

Ada beberapa macam metode triage Instalasi Gawat Darurat yang digunakan
diberbagai rumah sakit diseluruh dunia, diantaranya adalah:
1. Austrazilian triage-scaler, menggunakan lima tinggat skala triage.
2. Carnazilian triage and acury scaler, menggunakan lima scala triage.
3. Manchester Triage, menggunakan 5 tingkat skala Triage dan, 52 macam
flow chart. Mula mula perawat mengidentifikasi keluhan utama
pasien, kemudian mengambil flow chart yang sesuai untuk memenuhi
wawancara yang berstuktur, kemudian menetapkan tingkat triage dari 1
(perlu penanganan segera) sampai 5 (dapat menunggu selama 4 jam).
4. Emergency Savety Indeks (ESI), menggunakan 5 tingkat skala trige dan
4 point kunci yang digunakan untuk menentukan tingkat skala trige.
Dokter jaga dan perawat IGD dibagi menjadi 3 (tiga) shift, pagi, sore
dan malam. Pada saat bertugas dokter IGD juga menerima konsulan dari
ruang rawat inap apabila dibutuhkan.
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka IGD Rumah Sakit Umum
Anutapura Palu juga menggunakan sistem triage dalam memberikan
pelayanan terhadap pasien, terutama pada kondisi dimana beberapa pasien
datang hampir bersamaan, dan adanya konsulan dari ruang rawat inap. Sistem
triage yang kami anggap tepat diterapkan di IGD Rumah Sakit Umum
Anutapura Palu adalah Metode ESI.
Triage ESI dapat dilakukan oleh perawat IGD yang sudah
berpengalaman oleh karena itu pengalaman perawat di IGD sangat penting
untuk menghindari terjadinya kesalahan dalam penggolongan tingkat
kegawatan pasien (under triage atau over triage).
Seperti metode triage lainnya (ATS, CTAS, Menchester), triage ESI,
mengelompokkan pasien menjadi 5 berdasarkan tingkat. Perbedaan utamanya
adalah tujuan triage ATS, CTAS, Manchester lebih kepada menentukan
beberapa lama pasien dapat menunggu untuk ditangani di Instalasi Gawat
Darurat, sedangkan Triage ESI tidak menentukan lama waktu tunggu evaluasi
oleh dokter (Response Time), melainkan pemulihan secara cepat pasien mana
yang harus dievaluasi lebih dahulu oleh dokter. Selain itu Triage ESI
mempunyai keunikan dimana perawat triage juga harus mampu
memperkirakan banyaknya sumber daya yang dibutuhkan untuk memilah lagi
tingkat triage pasien yang kondisinya tidak akut. Jadi Triage ESI adalah
proses pemilihan yang cepat menjadi 5 kelompok dengan proyeksi kebutuhan
sumber daya yang sangat berbeda secara klinis, sehingga berpengaruh juga
pada kebutuhan operasional.
Dengan menggunakan ESI, aliran pasien ke IGD lebih lancar. Begitu
tingkat Triage ESI ditegakkan, pasien dapat ditetapkan apakah pemeriksaan
yang lengkap dulu, pendaftaran dulu, langsung terapi awal, atau menunggu,
berdasarkan pada tingkat kegawatan (acuity) mereka dan perkiraan
banyaknya sumber daya yang mereka perlukan. Contoh, tingkat 1 dan 2,
dapat langsung diterima di area penanganan untuk evaluasi dan terapi yang
cepat, sedangkan pasien tingkat 4 dan 5 dipersilakan ke pendaftaran dulu,
kemudian menunggu sampai ada tempat atau tenaga kosong.
2. Tujuan
2.1 Penilaian dan penentuan yang cepat terhadap kondisi pasien, mana yang
harus segera ditangani dan mana yang dapat ditunda penangananya,
atau mana yang tidak memerlukan penanganan lebih lanjut.
2.2 Memberikan pelayanan gawat darurat atau kesehatan berdasarkan
prioritas.
2.3 Efisiensi Sumber Daya.
2.4 Pengalokasian Sumber Daya yang sesuai dengan standart atau pedoman
yang ditetapkan.
2.5 Memberikan pelayanan kesehatan yang tepat waktu.

3. Pengertian
3.1 Evaluasi dan pengkategorian atau pengelompokkan terhadap penderita
maupun terhadap penderita maupun korban luka, dimana tidak tersedia
sumber daya manusia atau petugas kesehatan yang cukup untuk
memberikan pertolongan. Medis bagi semua orang dalam waktu yang
bersamaan.
3.2 Pada kondisi musibah massal. Triage adalah menentukan siapa yang
paling membutuhkan untuk segera dikirim ke rumah sakit atau perawatan
segera (yaitu umumnya yang mempunyai harapan hidup, tetapi yang
dapat meninggal jika tidak segera ditangani), dan siapa yang dianggap
lebih ringan luka lukanya sehingga dapat ditunda pengirimanya ke
rumah sakit.
3.3 Triage juga diterapkan di Instalasi Gawat Darurat dari poliklinik yang
ramai, untuk menentukan siapa yang harus diperiksa dan terapi terlebih
dahulu.
3.4 Triage juga untuk memilah-milah atau memprioritaskan pemakaian ruang
dan peralatan media, misalnya penggunaan kamar operasi pada rumah
sakit yang ramai. (Mikal Rose, 2009, Types Of Triage System).
a. Triage Acuity adalah :
Tingkat kegawatan (Urgentcy) sebagaimana ditampilkan dengan skala
triage. Acuity ditentukan oleh : stabilitas fungsi vital dan harapan hidup,
ancaman terhadap organ atau sistem tulang belakang. Suatu Triage
Acuity Systems digunakan sebagai panduan bagi perawat Instalasi Gawat
Darurat untuk menentukan pasien mana yang masih bisa menunggu
dengan aman dan pasien mana yang harus segera diperiksa atau
ditangani. (Gilboy at al, 2003).

b. Instalasi Gawat Darurat :


Salah satu unit di rumah sakit yang memberikan pelayanan gawat darurat
bagi pasien yang baru datang berobat ke rumah sakit. Dalam
kenyataanya, banyak juga pasien yang tidak gawat tidak darurat datang
berobat ke Instalasi Gawat Darurat.

c. Triage Instalasi Gawat Darurat :


Suatu proses yang dinamis, cepat dan sistematis dalam pengelompokkan
pasien berdasarkan beratnya penyakit atau cidera dan tingkat prioritas
pasien untuk mendapat penanganan, dengan tujuan efisiensi penggunaan
sumber daya di Instalasi Gawat Darurat (Van Der Wulp, 2010).

d. Sumber Daya :
1. Alat alat medis
2. Infus untuk dehidrasi
3. Obat obat injeksi
4. Laboratorium darah dan urin
5. Radiologi (Rontgent, CT Scan, MRI, ECG)
6. Prosedur simple (jahit luka, pasang kateter)
7. Prosedur kompleks (pembiusan)
8. Konsul spesialis
e. Istilah umum yang banyak ditemui di triage
1 Response Time atau Waktu Tunggu
Respon Time adalah : banyaknya waktu yang diperlukan sejak pasien
tiba di tempat pelayanan kesehatan sampai diperiksa oleh dokter.
2. Ruang Resusitasi
Ruang resusitasi adalah ruangan untuk melakukan tindakan life
saving bagi pasien pasien yang datang dengan kondisi gawat
darurat yang mengancam nyawa atau tergolong dalam prioritas I.
3. Dying atau sekarat
Dying adalah kondisi dimana seseoran sudah hampir meninggal, atau
pasti meninggal jika tidak segera diberi tindakan life saving, contoh :
henti napas, henti jantung, distress napas, napas gasping, tidak sadar.
4. Tindakan life saving meliputi :
Pembebasan jalan nafas (Intubasi, pasang oropharingeal tube),
oksigenasi dengan bagging, pemberian cairan intravena yang
massive, obat obatan emergency, control perdarahan mayor.

BAB II
TATA LAKSANA

Pada saat pasien datang, pasien disambut atau diterima oleh perawat jaga IGD
1. Point A
1.1. Perawat jaga melakukan penilaian, apakah pasien dalam kondisi sekarat
(memerlukan intervensi life saving segera)atau tidak ada respon.
1.2. Jika YA, maka pasien di kategorikan sebagai ESI 1, dan segera dibawa
ke ruang resusitasi untuk segera diperiksa dokter dan diberi tindakan
life saving.
Yang dimaksud kondisi sekarat adalah : Apnue, nadi tak teraba distress
nafas berat, SPO2 < 90% perubahan kondisi mental akut, tidak respon.
Yang dimaksud tidak responsive adalah :
1) Non verbal atau tidak mengikuti perintah.
2) Memerlukan stimulus nyeri.
Tindakan live saving yang dimaksud adalah :
Air way, obat-obatan emergensi, intervensi hemodinamik (IV,O2.
MONITOR, ECG, Laboratorium dam lain-lain).
Yang tergolong dalam ESI 1 adalah:
1) Cardiac arrest.
2) Respiratory arrest.
3) Safetty respiratory Dextress.
4) SpO2 < 90.
5) Cidera berat dan tidak ada respon.
6) Over dosis obat dengan frekuensi nafas < 6, nafas regional
(gasping).
7) Takikardi dan beradikardi berat dengan tanda-tanda hipoperfusi.
8) Hipertensi dengan tanda-tanda hipoperfusi.
9) Chest paint disertai dengan pucat, keringat dingin, dan nyeri dada
sebelah kiri.
10) Lemah dan pusing dengan HB < 2, syok anafilatik.
11) Bayi dangan kondisi flaccid.
12) Hiperglikemi dengan penurunan kesadaran.
2. Poin B
Jika pasien tidak dalam kondisi sekarat, perawat IGD menilai apakah
penangan pasien boleh ditunda atau tidak, dengan cara dinilai apakah pasien
mengalami salah satu dari berikut ini :
2.1. Apakah pasien dalam resiko tinggi ?
1) Anamnese. riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu.
2) Curiga infak myokard acute, stroke perdarahan, intracranial, tapi
masih stabil dan tidak memerlukan tindakan live saving segera.
3) Cidera tusukan oleh jarum suntik oleh petugas rumah sakit.
4) Kehamilan ektopik terganggu dengan hemoginamik yang stabil.
5) Pasien keracunan dan percobaan bunuh diri.
2.2. Apakah pasien tampak disorientasi, letargi, bingung ?
2.3. Apakah pasien mengalami nyeri berat?
Didapat dari anamnesa dan tampilan pasien, misalnya : Keringat dingin,
posisi tubuh, muntah-muntah, ekspresi wajah, vital sign, serta skala
nyeri (< 7) .
Jika jawabnya ya, maka pasien masuk kategori ESI 2.
Pada esi 2, walaupun pasien dalam kondisi sakit berat, tidak perlu harus
langsung ditangani dokter, tetapi perawat IGD boleh melakukan
tindakan live saving sederhana lebih dahulu, misalnya : pemberian O2
nasalkanul, pemasangan infuse maintenance, pemeriksaan ECG, GDS,
pemasangan kateter, sambil menunggu pemeriksaan dan instruksi lebih
lanjut dari dokter.

3. Poin C
3.1. Jika pada poin b jawabanya tidak, maka selanjutnya perawat IGD
melakukan penilaian dengan poin c, meliputi : berapa banyak sumber
daya ( laboratorium, radiologi, tindakan bedah minor, pasang kateter,
nebulisasi, cairan infus untuk dehidrasi, obat-obat simtomatik, konsul
spesialis) yang mungkin dibutuhkan dalam menangani keluhan pasien
tersebut.
3.2. Perawat IGD menggunakan informasi subyektif (anamneses) maupun
obyektif yang didapat dan penilaian singkat terhadap kondisi pasien,
meliputi : riwayat penyakit, pengobatan, umur, jenis kelamin untuk
memperkirakan berapa sumber daya yang diperlukan oleh pasien.
Jika jawabanya :
1) Diperkirakan tidak ada memerlukan sumber daya sama sekali,
maka masuk kategori ESI 5.
2) Diperkirakan perlu satu macam sumber daya, maka masuk kategori
ESI 4.
3) Diperkirakan perlu lebih dari satu macam sumber daya, maka
sementara di masukkan kategori ESI 3, perawat melanjutkan
kepenilaian dengan pain D.

Sumber Daya dari Sistem Triage ESI

Kel Sumber Daya Riwayat Sumber Daya

ESI 5 Laaboratorium ( Darah, Urin ) Riwayat Penyakit dan


Pemeriksaan fisik
ESI 4 ECG
ESI 3 X Ray, CT Scan, MRI,
Angiografi Point of care testing
USG
Cairan infuse untuk hidrasi Saline / heplock
Obat-obat injeksi IV / IM Obat-obat oral, Immunisasi
Nebulizer tetanus.
Penulisan resep
Konsultasi specialis Telepon ke PCP
Prosedur = 1 Perawatan luka sederhana
(jahit luka robek, pasang kateter (control luka, luka lecet)
urin)

Prosedur komplek = 2
(pembiusan) Pemasangan bidai, slink

4. Poin D
Pada poin D, focus pada vital sign pasien, meliputi :
4.1. Tekanan darah
4.2. Frekuensi nadi
4.3. Frekuensi nafas
4.4. Suhu, terutama pada anak < 3 tahun
4.5. SpO2
4.6. Nyeri
Jika batas bahaya vital sign terlampui, maka perawat IGD yang melakukan
triage harus betul betul mempertimbangkan, bahwa pasien perlu naik dari
ESI 3 menjadi ESI 2. Jika vital sign dalam batas normal (tidak melampaui
batas bahaya, maka pasien tetap kategori ESI 3).
Batas Bahaya Vital Sign
Umur HR RR SpO2
< 3 bulan > 180 > 50 > 92%
3 bulan 3 tahun > 160 > 40 > 92 %
3 tahun 8 tahun > 140 > 30 > 92 %
> 8 tahun > 100 > 20 > 92 %

5. Pertimbangan Panas Anak


5.1. Umur 0-28 hari, panas > 38 C ESI 2
5.2. Umur 1 bulan 3 bulan, panas > 38C Pertimbangkan ESI 2
5.3. Umur 3 bulan 3 tahun, panas > 39 C Status Imunisasi tidak lengkap
atau penyabab panas tak jelas pertimbangkan ESI 3

Adapun kriteria perawat IGD RS Umum Anutapura Palu yang melakukan


triage adalah :
1. Minimal lulusan D3 Keperawatan.
2. Minimal bekerja di IGD RS Umum Anutapura Palu pernah mengikuti
pelatihan PPGD.
BAB III
DOKUMENTASI
1. Status pasien Instalasi Gawat Darurat yang diisi oleh perawat dan dokter
pemeriksa yang jaga pada shift tersebut.
2. Status pasien rawat jalan yang diisi oleh perawat dan dokter pemeriksa yang
jaga pada shift tersebut.

BAB IV
PENUTUP
Panduan ini disusun untuk menjadi acuan pelaksanaan triage pasien sesuai
prosedur di RS Umum Anutapura Palu. Tentunya masih banyak kekurangan dan
kelemahan dalam pembuatan panduan ini, karena terbatasnya pengetahuan dan
kurangnya rujukan atau referensi.
Tim penyusun banyak berharap para pembaca memberikan kritik dan
saran yang membangun kepada tim penyusun demi kesempurnaan panduan di
kesempatan berikutnya. Semoga panduan ini berguna bagi tim Akses Ke
Pelayanan dan Kontinuitas Pelayanan Rumah Sakit Umum Anutapura Palu pada
khususnya juga untuk para pembaca pada umumnya.

yes

yes

consider

ALGORITMA TRIAGE DENGAN ESI

ESI Triage Algorithm, v.4

ESI Triage Research Team, 2014


A
requires immediate 1
life-saving
intervention?

B
high risk situation?
or
confused/leth
argic/disoriented?
or
severe pain/distrese? 2
C
how many different resources
are needed?
none one many

C
Notes : 5 4 danger zone
vitale?
<3mm >180
>50
A. Immadiate life - saving intervention required:
3m-3y >160 airway,
>40
emergency medication, or other hemodynamic
3-9 y interventiona
>140 (IV,
>30
supplemental O2, monitor ECG or lab. DO >-5y
NOT counte>100
and for any the
>20
following clerical conditions : intubated, opneic, pulneleon, severs
respiratori distreon, SPO, < 90.
3
4
Terjemahan :
Catatan :
Intervensi yang diperlukan dalam penyelamatan jiwa adalah : Nafas. Obat
Darurat atau intervensi hemodialisa lainnya (IV, Suplemen O2, memantau
EKG atau Laboratorium.

Hati-hati jika pasien dalam keadaan : pasien intubasi, apnoe, distress


pernafasan berat, SPO, < 90.
DAFTAR PUSTAKA

Ardiyani, V.M., Andri, M.T., dan Eko, R. 2015. Analisis Peran Perawat Triase
Terhadap Waiting Time dan Length of Stay Pada Ruang Triage di Instalasi Gawat
Darurat Rumah Sakit dr.Saiful Anwar Malang. Jurnal CARE 3 (1): 39-50.
Astuti, E. 2016. Kebijakan Standar Layanan dan Fasilitas IGD. Pelatihan Triase
Keperawatan Gawat Darurat di Rumah Sakit. Optimalisasi Pelaksanaan Triase
Keperawatan Gawat Darurat Sebagai Upaya Efisiensi dan Efektifitas Pelayanan
Pasien di IGD Untuk Mendukung Pelayanan yang Berkualitas Serta Menunjang
Akreditasi KARS-JCI. 13-15 Mei 2016. Yogyakarta.

Ayuningtyas, D. 2014. Kebijakan Kesehatan Prinsip dan Praktik. Edisi 2. Rajawali


Pers. Jakarta: 8.

Azwar, A. 1996. Pengantar Administrasi Kesehatan. Edisi 3. Binarupa Aksara.


Jakarta: 17-25, 78-82.

Bounds, G., Yorks, L., Adams, M., dan Ranney, G. 1994. Beyond Total Quality
Management, Toward The Emerging Paradigm. Mc Graw-Hill Inc. Singapore:
30,34,31,79.

Budiartha, P. 2009. Pengkajian Keperawatan. http://nursingbegin.com/ pengkajian-


keperawatan. 20 April 2009.

Chairunnisa, Y.A., Aviasti, dan Amaranti, R. 2015. Penentuan Jumlah Loket


Pendaftaran Pasien dan Unit Pelayanan Dokter dengan Model Tingkat Aspirasi di
Rumah Sakit Khusus Gigi dan Mulut (RSKGM) Kota Bandung. Prosiding
Penelitian Sivitas Akademika (Sains dan Teknologi): 40.

Christ, M., Grossmann, F., Winter, D., Bingisser, R., dan Platz, E. 2010. Modern
Triage in The Emergency Department. Dtsch Arztebl Int 107(50): 892-898.

Daniels, J.H. 2007. Outcomes of Emergency Severity Index Five Level Triage
Implementation. Advanced Emergency Noursing Journal 29(1): 58-67.

Datusanantyo, R.A. 2013. Emergency Severity Index (ESI): Salah Satu Sistem Triase
Berbasis Bukti. RAD Journal 10(7):1-3.
Departemen Kesehatan RI. 2007. Pedoman Teknis Sarana dan Prasarana Rumah
Sakit Kelas C. Jakarta: 53-56.

Direktorat Jenderal Pelayanan Medik-Direktorat Rumah Sakit Khusus dan Swasta.


1992. Pedoman Pelayanan Gawat Darurat. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. Jakarta.
Gilboy, N., Tanabe, P., Travers, D., dan Rosenau, A.M. 2012. Emergency Severity
Index (ESI): A Triage Tool for Emergency Department. Implementation Handbook
.4th ed.AHRQ Publication.
Ginting, D.S. 2014. Instalasi Gawat Darurat. http://repository.usu .ac.id/
bitstream/123456789/40684/4/Chapter%20II.pdf. 15 Januari 2016 (16:43).

Hafizurrachman. 2009. Sumber Daya Manusia Rumah Sakit di Q-Hospital. Majalah


Kedokteran Indonesia 59 (8): 343-347.

Handel, D., Epstein, S., Khare, R., Abernethy, D., Klauer, K., Pilgrim,
R., Soremekun, O., dan Sayan, O. 2011. Interventions to Improve
the Timeliness of Emergency Care. Academic Emergency
Medicine 18(12): 1295-1302.

Hanum, F., Djasri, H., dan Kuntjoro, T. 2006. Pengalaman dalam Penyusunan
Standar-Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit Sebagai Bagian dari Persyaratan
Badan Layanan Umum. Buletin IHQN 2 (3):1-8.

Hariyati, T.S. 2014. Perencanaan, Pengembangan Dan Utilisasi Tenaga


Keperawatan. Edisi 1. PT. RajaGrafindo Persada. Jakarta: 57.

Heizer, J. dan Render, B. 2004. Operations Management Flexible Version. Seventh


Edition. Prentice Hall. Boston.

Hidayati, H. 2014. Standar Pelayanan Kesehatan Pasien IGD di Rumah Sakit Umum
Abdul Wahab Sjahranie Samarinda. eJournal Administrasi Negara 3(2): 653-665.

Hidayati, A.N., Suryawati, C., Sriatmi, A. 2014. Analisis Hubungan Karakteristik


Pasien Dengan Kepuasan Pelayanan Rawat Jalan Semarang Eye Center (SEC)
Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-
Journal) 2 (1): 9-14.

Ilyas, Y. 1999. Kinerja. Teori, Penilaian, dan Penelitian. Edisi 1. FKM UI. Depok:
48-50.

Jus, E. 2008. Factors Influencing Length of Stay in The Emergency Department in a


Private Hospital in North Jakarta. Univ Med 27 (4): 165-173.

Kemenkes RI. 2012. Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit Ruang Gawat Darurat.
Jakarta:1-8.
___________. 2014. Pedoman Teknis Penilaian Kinerja Individu Direktur Utama
Rumah Sakit dan Kepala Balai. Jakarta: 29,30,65,68.

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 129/Menkes/SK/II/2008.


Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit. 6 Februari 2008. Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia. Jakarta.

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 856/Menkes/SK/IX/2009.


Standar Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit. 25 September 2009.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta.
Maatilu, V., Mulyadi, dan Malara, R.T. 2014. Faktor-Faktor yang Berhubungan
dengan Response Time Perawat pada Penanganan Pasien Gawat Darurat di IGD
RSUP. Prof. Dr. R.D. Kandou Manado. Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas
Kedokteran Universitas Sam Ratulangi.Manado.

Mace, S.E., dan Mayer, T.A. 2008. Chapter 155 Triage. In Jill M.Baren, Rothrock
SG, Brennan JA, Brown L, editors. Pediatric Emergency Medicine. 1st ed.
Philadelphia: Elsevier Health Sciences.p 1087-1096.

Mahmoodian, F., Eqtesadi, R., dan Ghareghani, A. 2014. Waiting Times in


Emergency Department After Using The Emergency Severity Index Triage Tool.
Arch Trauma Res 3(4): e19507. http://www.ncbi
.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4329231/. 7 November 2014

Mahrur, A. 2015. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Lamanya Waktu Tanggap dalam


Pelayanan Gawat Darurat di Instalasi Gawat Darurat RSUD Dr. Soedirman
Kebumen. Skripsi. Program Studi S1 Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Muhammadiyah. Gombong.

Mahyawati. 2015. Hubungan Kegawatdaruratan Pasien dengan Waktu Tanggap


Perawat di IGD RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Yogyakarta: Stikes
Aisyiyah.

Mashuri, A. 2012. Analisis Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Waktu Tunggu


Persiapan Operasi Cito di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Karya Medika I
Kabupaten Bekasi Tahun 2011. Tesis. Program Studi Kajian Administrasi Rumah
Sakit Universitas Indonesia. Depok.

McCarthy, M.L., Ding, R., Pines, J.M., dan Zeger, S.L. 2011. Comparison of Methods
for Measuring Crowding and Its Effects on Length of Stay in the Emergency
Department. Academic Emergency Medicine 18(12): 1269-1277.

Najmah. 2011. Manajemen dan Analisa Data Kesehatan Kombinasi Teori dan
Aplikasi SPSS. Edisi 1. Nuha Medika. Yogyakarta.

Nasution, R. 2003. Teknik sampling. FKM USU. Medan.


Natasia, N., Loekqijana, A., dan Kurniawati, J. 2014. Faktor yang Mempengaruhi
Kepatuhan Pelaksanaan SOP Asuhan Keperawatan di ICU-ICCU RSUD Gambiran
Kota Kediri. Jurnal Kedokteran Brawijaya 28(1): 21-25.

Notoadmodjo, S. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Edisi 2.


Rineka Cipta. Jakarta: 127-128.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 56 Tahun 2014. Klasifikasi


dan Perizinan Rumah Sakit. 18 Agustus 2014. Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia. Jakarta
Qibtiyah, E.M., Sudiro, Wulan, L.R.K.. 2015. Manajemen Mutu Pelayanan Instalasi
Gawat Darurat (IGD) RSUD Kudus (Studi Kualitatif). Jurnal Manajemen
Kesehatan Indonesia 3(1): 11-17.

Rejeki, S. 2012. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Dokter di Poliklinik


Rawat Jalan Rumah Sakit Angkatan Laut Dr. Mintohardjo Jakarta Tahun 2012.
Tesis. Program Studi Kajian Administrasi Rumah Sakit Universitas Indonesia.
Depok.

Rijadi, S. 1997. Pelatihan Manajemen Unit Gawat Darurat. Pokja Kajian Pelayanan
Kesehatan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia.

RS Yos Sudarso. 2016. Laporan Tahunan RS Yos Sudarso Tahun 2014-2016. Padang.
______________. 2016. Profil RS Yos Sudarso Tahun 2016. Padang.
______________. 2016. Standar Prosedur Operasional. Padang.

Sabriyati, W.O.N.I., Islam, A.A., dan Gaus, S. 2012. Faktor-Faktor Yang


Berhubungan Dengan Ketepatan Waktu Tanggap Penanganan Kasus Pada
Response Time I Di Instalasi Gawat Darurat Bedah Dan Non-Bedah RSUP Dr.
Wahidin Sudirohusodo. Universitas Hasanuddin. Makasar.

Satrianegara, M.F. 2014. Organisasi dan Manajemen Pelayanan Kesehatan. Teori


dan Aplikasi dalam Pelayanan Puskesmas dan Rumah Sakit. Salemba Medika
Jakarta: 25, 34-35.

Singer, A.J., Thode, H.C., Viccellio, P., dan Pines, J.M.. 2011. The Association
Between Length of Emergency Department Boarding and Mortality. Academic
Emergency Medicine 18 (12): 1324-1329.

Stauber, M.A. 2013. Advanced Nursing Interventions and Length of Stay in The
Emergency Department. Journal of Emergency Nursing 39 (3): 221-225.

Subkhi, A., dan Jauhar, M. 2013. Pengantar Teori dan Prilaku Organisasi. Edisi1.
Prestasi Pustaka. Jakarta: 24-36.

Surabagiarta, I.K., dan Handayani, S. 2012. Pengaruh Kualitas Pelayanan


Penanganan Kegawatdaruratan Terhadap Kepuasan Pasien di Instalasi Gawat
Darurat di Rumah Sakit PHC Surabaya. Surabaya.

Sunyoto D. 2012. Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi

Syahrial, B. 2010. Standar Prosedur Operasional UGD RS Restu Ibu Balikpapan.


http://documents.tips/documents/sop-ugdrevisi-font.html#. 3 Oktober 2015
Taboulete, P., Moreira, V., Haas, L., Porcher, R., Braganca, A., Fountaine, J.P., dan
Poncet, M.C. 2009. Triage with The French Emergency Nurses Classification in
Hospital Scale: reliability and validity. European Journal of Emergency Medicine
16 (2): 61-67.

Virgin, F. 2000. Analisis Proses Pelayanan Terhadap Pasien Yang Akan Menjalani
Operasi Cito di Instalasi Rawat Darurat RSUP Fatmawati Pada Periode 14 Juni-13
Juli 2000. Tesis. Program Studi Kajian Administrasi Rumah Sakit Universitas
Indonesia. Depok.

Wibowo A. 2014. Metodologi Penelitian Praktis Bidang Kesehatan. Edisi 1. PT.Raja


Grafindo Persada. Jakarta.

Wuerz, R.C., Milne, L.W., Eitel, D.R., Travers, D., dan Gilboy, N. 2000. Reliability
and Validity of a New Five-level Triage Instrument. Academic Emergency
Medicine 7 (3): 236-242.

Yoon, P., Steiner, I., dan Reinhardt, G. 2003. Analysis of Factors


Influencing Length of Stay in The Emergency Department. Can J
Emerg Med 5 (3): 155-161.