Anda di halaman 1dari 102

8

I'
III
11II
"
..
n
I'
11II
II'
f
,
r
n
..
H
n
J
III
..
D
II'
n
"
,
D
II
III
...
I
'8
III
,
iIII
II I
a
II
\I
D
P!':JB'BWJBpBun5@qwad
1___
P!':JB''BWJBpBUn5'MMM/rd\!4
I~
rdlll:I:I:'.I.':I:~
DAFTAR 151

PRAKATA I
DAFTARISI ii

BAB I. FLUIDA DAN SIFAT-SIFATNYA 1


1.1. Definisi Fluida 1
1.2. Fluida Dalam Kehidupan Sehari-hari 1
1.3. Beberapa Istilah Dalam Mekanika Fluida 2
1.4. Konsep Kontinum 3
1.5. Tegangan Permukaan 4

BAB II. STATIKA FLUIDA 8


2.1. Tekanan Di Suatu Titik 8
2.2. Persamaan Dasar Statika Fluida 10
2.3. Pengukuran Tekanan 13
2.4. Gaya Terhadap Bidang Datar 14
2.5. Gaya Apung 15
2.6. Stabilitas Benda Yang Terapung dan Tenggelam 18

BAB III. KINEMATIKA FLUIDA o


20
3.1. Metode lagrange dan Metode Euler 20
3.2. SistemdanVolumeAtur . ___. 21
3.3. Medan Kecepatan dan Percepatan dalam Fluida 22
3.4. Penggunaan Suatu Sistem Referensi Dalam
Menginterpretasikan
BentukGerakan . 23

BAB IV. ALIRAN FLUIDA DAN PERSAMAAN DASAR 25


4.1. KlasifikasiAliran 25
4.2. Beberapa Persamaan Dasar 26

BAB V. ANAL/SA DIMENSIONAL 30


5.1. Pendahuluan 30
5.2. Kelompok Tanpa Dimensi 33
5.3. Hukum Keseragaman Dimensi 33
5.4. Teorema PI Dari Buckingham 34
5.5. Jumlah Suku-suku 11dan Dimensi Dasar 39
5.6. Kelompok Tak Berdimensi Yang Penting Dalam
Mekanika Fluida 41
5.7. Penurunan Parameter Keserupaan (Kelompok Tak Berdimensi)
dari Persamaan Dasar 42
5.8. Keserupaan (Similitude) 44
5.9. Analisa Keserupaan Dengan Menggunakan Persamaan Dasar _ 45
5.10. Arti Fisik dari Parameter Keserupaan yang Penting 49
BABvi. ALiRANDALAM
P/PA " . 50
6.1. Pendahuluan 50
6.2. AliranLaminerDanAliranTurbulen 50
6.3. DistribusiTeganganGeserDalamPipa
BerpenampangLingkaran 53
6.4. Jari-Jari Hidraulik_ 54
6.5. AliranLaminerStationerDalamPipa 55
6.6. AliranTuerbulenMelaluiPipaLilin Hasil-hasilExperiment 57
6.7. TurbulendanTeganganReynolds 59

BAB VII. LAP/SANBATAS 62


7.1. KonsepLapisanBatas 62
7.2. PemecahanPendekatanUntukLapisanBatas 64
7.3. LpisanBatasLaminer- PenyelesaianPendekatan 66
7.4. lapisan Batas Turbulen - Penyelesaian Pendekatan 68

BAB VIII. HAMBATANDAN GAYA ANGKAT 70


8.1. Gaya-gayaFluidaPadaSebuahBendaDalamSuatuAliran _ 70
8.2. Hambatan 70
8.3. GayaAngkat 77
BAB IX. 0 ALIRAN MA MPUMA MPA ToO 0 80

9.1. GasSempurna 80
9.2. KecepatanGelombangSuara; BilanganMach 81
9.3. GelombangKejut 82
9.4. AliranMelaluiLubangPancar 83

BAB X. PENGUKURANALIRAN 86
10.1. Pengukuran-pengukuran Kecepatan 86
10.2. LajuAliranZat CairDalamPipa 88
10.3. LajuAliranZat CairDalamTangkiTerbukaAtau
SaluranTerbuka 91
10.4. LajuAliranGasSubsonikDalamPipa 92

DAFTARPUSTAKA 0 95
Lampiran1. Viskositasmutlakgasdancairantertentu 96
Lampiran2. DiagramMoody 97
1

BABI
FLUIDA DAN 31FAT-SIFATNYA

1.1 .Definisi Fluida


Definisi yang Jebih tepat unt~k membedakan zat padat dengan fluida adaJah dari
karskteristik deforma.c;ibahan-ballan tersebut. Zat padat dianggap sebagai bahan yang
menutYukk3JIreaksi deformasi yang terbatas ketika menerima atau mengaJami snatu gaya
geser (shear). Sedangkan fluida ,memperlihatkan penomena sebagai zat yang teros
meneros berubah bentuk apabila mengalami tekanan geser; dengan kata lain yang
dikategorikan sebagai fluida adaIah suatu zat yang tidak mampu mcnahan tekanan geser
tanpa berubah bentuk.

1-2. Plaida dalam kehidapao sehari-hari


Setiap hari kita selalu berhobungall del1gan fluida hampir tBnpa sadar. Banyak
gejaJa alam yang indah dan menakjubkan, seperti bukit-bukit pasir dan ngarai-ngarai
yang dalam, terjadi skibat gaya-gaya yang ditimbulkan oleh aJiran udara atan air serta
perilaku aliran fuida itu ketika me~umpai halangan.
Pipa air, baik yang dialiri air bersih maupun air limbah, sarna sekali bukan barang
yang aneh. Boleh jadi kita sadar bahwa pipa air minum, misalnya, harns mempunyai
diameter yang lebih besar dari suatu harga minimum agar aJiran air di keran-keran dapat
mencukupi kebutuhan. Kita mungkin juga terbiasa dengan benturan antara air dan pipa
ketika keran air ditutup secara tiba-tiba. PUS8f811
air yang kita tihat ketika air dalam bak
mandi dikeluarkan melalui lobang pembuangannya pOOadasamya 8ama dengan pusaran
tornado atau pusaran air di batik jembatan. Radiator air atau uap panas untuk
memanaskan rumab de radiator pendingin dalam sebuah Mobil bergantung pada alinm
fluida agar dapat memindahkan panas dengan efektiL
Hambatan aerodinamik bilamana kita sedang berjalan atau berlcendara menentang
angin yang cukup kencang. Kalan kita sedang berlmyuh dengan perahu terasn bahwa kitn
harns mengayuh lebih keras agar dapat melaju lebih cepat, bukun hanya untuk
mempercepat laju perahu tet~pi juga untuk mempert3hankan kecepatan yang tinggi.
Pennukaan lambung kapal dan sayap serta badan pesnwat terbang dibuat rata agar dapat
2

mengurangi hambatan, bola golf justru diberi pennukann kasar guna me.nguraogi
hambatan dalam geraknya.
Babkan pakar fisiologi pun berkepentingan dengan konsep-konsep mekallika
fluida. Jantung adalah sebuM pompa yang mendorong sebuM fluida (dm-aIl)melalui
sebuah sistim pipa (pembuluh-pembuluh darah). Pendek kata kita selalu berurusan
dengan fluida baik yang diam maupun yang bergerak.
Kemajuan yang dicapai selama abad ini meliputi studi-studi baik secara analitik.
numerik (komputer). maupun eksperimen tentang aliran dan pengendalian lapisan batas,
smlktur turbulensi, kemantapan aJiran, aliran multifase. pemindahan panas ke dan dari
fluida yang mengaIir serta banyak masalah daIam penerapan.

1.2 Beberapa Istilah Dalam Mekanika Fluida


. Kerapatan(dellsity): adalah jum)ah / kwantitas suatu zat pada suatu unit volume
density dapat dinyatakan dalwn 6ga bentuk :
1. Mass density (p) satuan dalam SI adalah (kglm\
2. Berat spesifik (specific weight) (y) = p . g satuan dalam 31 = N/m3 dimana g=
percepatan gravitasi (~9,81 mls2)
3. Spesifik gravity (s.g) merupakan perbandin053I1antara density dengan berat
spesifik suatu zat terhadap density atau bera~ spesifik suatu standard zat(
umumnya terhadap air). Jadi s.g tidak mempunyai satuan.
. Viskositns. Viskositas suatu fluida merupakan UkW-Sllketuh811ansmuu fluida
terhadap deformasi stau perubahan bentuk
Dalam sistim SI tegangan ('t)= ~l(duldy), atau dengan kata lain tegangan geser
diekspresikan dalam N/m2 (Pa) dan gradien kecepatan (duldy) dalam (mIs)/m,
karena itu satuan 31 untuk viskositm;dinamik adalah : N.s/m2 atau kg/m.s.
Sedang viskositas kinematik (v) didefernisikan Eebagaiperbandingan viskositas
dinamik t~hadap kerapatan (density) v = J.l/p dalam SI viskositas
kinematik mempunyai satuan m2ls.
3

Contoh :
Suatu fluida dengan viskositas dinamik J.1=0,080 kg/m.s dan kerapatan p =825 kg/m3
mengalir sepanjang sebuah permukaan dengan profil kecepatan yang diberikall melalui
persamaan J.l= 50 y - 10 4 Y2 (m/s),dimana y jarak dari pennukaan batas daJam meter.
Hitung tegangan geser di permukaan batas itu?
Jawab: Gradien kecepatan pOOay = 0 OOalah(duldy}y:o= 50 (m/s)/m jOOi:
(1:)=J.l(duldy) y=o= (0,080)(50) =4 Pa.

Dalam menganalisa fluids, sering diperlukan konsep penyederhanaan. Salah satu


konsep demikian adalah konsep fluida ideal, yaitu fluida yang tak viskous. Dengau
demikian fluida ideal sarna sekali tidak dapat menahan gaya geser. Anggapan bahwa
suatu fluida tidak viskous sanga! menyederhanakan analisa, dan dalam banyak hal
membantu penyelesaian persoalan-persoalan teknik yang lebih rumit sebagai sebagai
pendekatan pertama. Selain itu penyederhanaan demikian masih dapat diterima selama
penyederhanaan tersebut memberikan pedoman untuk memperolehjawaban yang masuk
akal.

1 KOBsepKontiBum
Dalam zat yang bersifat bersifat kontinum, p~ titik sebarang orang dapat
mendefinisikan suatu sifat atau suatu besaran. Misalnyn, massa jenis adaJah fungsi dari
kedudukanjOOi:
P = p(x,y,z,t)
Disini kita menjumpai apa yang disebut medan, yaitu suatu besaran yang merupakao
fungsi dari kedudukan atau ruang.:
Ada tiga macam medan yaitu :
1. Medan skalar, misalnya massajenis, temperatur, viskositas
2. Medan vektor, misalnya kecepatan, percepatan; gaya
3. Medan tensor, misalnya tegangan pada suatu titik.
4

Selwn itu, dalarn fluida yang bersifat kontinuum, dapat dijumpai tiga macarn
gaya, yaitu :
1. Gaya permukaan, misalnya tekanan, tegangan geser, yang bekerja pada titik
pada pennukaan
2. Gaya badan, rnisalnya gaya elektrostatik~ elektromegnetik. gaya Lorentz, dan
gaya sentrifugal. Gaya ini merupakan akibatdari adanya.medan potensial
3. Te.ganganpermukaan, gaya yang hanya bekerja pada pennukaan yaitu bidang
pertemuan antara dua macanl atau lebih zat atau fasa).

1.5. Tegallgan Permukaan.


Tegangan permukaan adalah gaya perentang yang diperlukan untuk membentuk
selaput, yang diperoleh dengan membagi suku energi permukaan denga.npanjang sutuRn
selaput dalam kesetimbangan. Tegangan permukaan ini terjadi akibat perbedaan tarik
menarik timbal-baJik antara. molekul-molekul zat cair dekat permukaan dan molekul-
molekul yang terletak agak lebihjauh dari permukaan dalarn zat cair yang sarna.
Untuk tetes kecil yang berbentuk bola dengan jari-jari r dimana, tekanall p yang
perIu untuk mengimbangi gaya tarik yang disebabkan oleh tegangan permukaan a
dihitung sebagai berikut :
Gaya akibat tekanan dalam (pn~ ) = gaya akibat tegangan permukaan yang
mengelilinginya(2onr), sehingga dapat ditulis p = 2alr ,
Untuk sebuah persamaall lengkuug yang umumnya dengan 1'1dun r2 sebagai jm-i-jari
utama , persamaan tersebut berbentuk :

untuk sebuah siIinder, salah satujari-jari bidang lengkungnya tak terhingg~ maka berlaku

p = air
Persamaan tersebut menUl~ukkanbahwa tekanan mel~adi lebih besar bagi jari-jHri tetes
atan sHinderyang arnat kecil.
5

Apabila suaiu antard. muka zat cair-gas bersinggungan dengan sebuah permukaan
zat pOOat,berarti disitu terdapat tiga buah gaya antar muka; antara gas dan zat eair, antara
gas dan zat pOOat, serta antara zm eair dan zat pOOat (lihat garnbar 1-1 ).keseimbangan
yang tet:jadi menghasilkan hubungan skalar sebagai berikut :
0' ~ = 0' &1 + O'gl eose

Gas la! cair

IT,)
lat padat

Gambar: 1-1: Sudut korstak.untuk antar r.ouka 8lis-zat cair-zat padat

Dari sini sudut kontak e dapat dihitung. Sebuah zat emr di udara disebut membasahi
sebuah permukaan bila e < 1t/2, dan tingkat kebasahan itu meningkat sejalan dengan
berkurangnya e hingga nilainya sarna dengan nol. Sudut kontak e untuk air, udara, dan
pennukaan kaca yang bersih pada dasrnya adalah nol. Apabila e > 1t12.zat eair disebut
tidak membasahi permukaan.

Gejala Kapiler.
Naiknya kolom zat eair dalam suatu pipa keeil adalah akibat tegangan permukaan
clandisebut gejala kapiler.

--r" .

Gas

~- -
la! cairo kerapatan p

Gambar: 1-2: Kenaibn kapiler suatu zal cair


6

Padagambar 1-2 memperlibatkan berat kolom zat eair dalam pip~ yaitu gaya dari selisih
tekanan antara seberang-menyeberang antar muka zat eair kali luas penampang sebanding
gaya periferal di seputar lingkaran tabung. Secara matematik ditulis :
pgh (7tr2)=Ap7tr2=o27tf cos e
sehingga kenaikan akibat gejala kapiler adalah :
2cr
h=- cose
grp

apabila e < 1f.f2.kenaikankapiler akan terjadi. apabila e = 7t12.baik kenakan maupul1


penurunan tidal<:akan dialami oleh zat eair dalam tabun& dan bila mana e > 7t/2.zat em
dalam tabung akan meng~ami pemU11nan(depresi), untuk jelasnya Hhat gambar 1-3.
Persamaan terakhir ini berlaku untuk diameter pipa relatifkecil ( dibawah 1 em).

-
Zat cair Zat cair o
"'-.,

(a) 8 <.!!: (b) 0 =.!!: Ic) 0 >~


2 2

Gambar: 1-3 . Pengaruh sudut kontak pada kapil&ritasdaJamsuatu pipa keciJ


Dengan bertambahnya diameter pipa, jari-jari lengkung semakin besar dan kenmkan
kapiler berkurang. Pada penggunaan alat ukur seperti manometer seJaJu dibindari
terjadinya efek-efek tegangan permukaan. Maka dipakai cairan yang mempunyai
tegangan permukaan yang tinggi seperti air raksa.
Contoh :
Sampai keinggian h berapa air pada temperatur kamsr akan naik dalam sebuah pipa kaca
bersih berdiameter. 2.5 mm. ( jika diketahui tegangan permukaan air di udara sekitar
0,073 N/m).
Jawab :
7

2cr
h = .-- cos6 dengane = 0 0
grp

( 2)(O,073Xl)
h=
(9,81 )(O,OOI25XI000)

h = 0,012 m = 12 mID
8

BAB II
STATIKA FLUIDA

Pengetahuan tentang statika Ouida dibahas ualam dua bagian yaitu:

> Studi telltang lekanan serta variasinya pada.seluruh bagiau t1uida


dllilstudi mengrl1<\igaya-gaya tekanan pada permukaan yang terbatas besarnya_

IIJ Tel\;anan di matn titik.

Tekanan rata-rata dihitung dengan membagi ~aya normal ( gaya tegak-Iurus )


yang rnendorong suatu bidang datm-dengan luas bidang tersebut. Tckanan di suatu titik
adalah limit perballdingan gaya normal terhadap luas bidall~ bila bidullg tersebut
rncndckati ukuran nol pada titik itu.
Di :-:natntitik, Huida yall~ tidak hergerak mempHnY:litekanan yang 8ama daJam semua
arah. lIal illi berm'li bahwa suatu bidang clemen ()A yang sangat kecil luasllYa,yang
bebas berputar t~rhadap pusatnya biJa tercndam daJam fluida yang tidak b~rgerak>akan
mendapat gaya Ycmgbesarnya konstan Y~U1g
beke~ia pada kedua sisinya, bagaimanapun
ori0l1tasillya.

Ouna melHJl~iukkanhaJ ini, kita mempcrhatikan suatu bt"'ndabebas keci' yang


berbentuk b~ii dengan lebar satuan di titik (x, Y ) dalam fIuida yang tidak
bergerak(Gb.2.1). Kart?na tidak dapat terjadi gaya geser. maka gaya-gaya yang ada
hanyalah gaya-gaya pennukaan normal dan gaya berat; maka. persamaal1-persamaan
gcrnkan dalam arab x dan y masing-masing adalah :
.~ ~. Oxoy
~ Fr "" Pxay - psu,')sm 8 = -pax ::: 0
2

dan

r; ;r.~:..:;p,8.x.- p sO:;cos {}- r &8y


2 = ~pa,:;O
lixoy

dimana px.1\"psadalah te-kananrata-rata pada ketiga permukaan, r iaJah berat jenis fli1ida.
p ken)patannya, dan a~, Bypercepatan. Bila diambiJ limitnya bila benda bebas tersebut
9

diperkeciJ mendekati ukuran nol dengan membuat permukaan miringnya mendekati (x,y)
sambiI mempertahankan sudut 6 yang sarna dan bila kita menggunakan hubungan-
hubungan geometri

8,~sin 0 :: 0)' Oseos 0 :; &-

maka persamaun-persamaaulersebut tersederhanakall menjadi

Suku terakhir persamaan yang kedua adaJah keeil takbingga dengan orde kekecilan yang
ling~i
. ..' dan dapat diabaikan. Bila persamaal1-persamaandi atas diba~i masing-masin,~
.

dcngan l5ydan l~X,maimpersamaan-persmnaan tcrsebut dapat digabungkan :


ps = px = py. . . . . . . . . . . . . . ., . .. . . . . .. ... . .. . .. . . . . . . . . . . .2.1

Karenu e mempakan sembarang sudut, maka persamaall illi membuktikan bahwa


t~kanan adalah sarna dalam semna arab di suatu titik dmam fluida statik. Walaupun
pembllktian tersebul rlilaksanakan untuk kasus dua rlimensi, nanUlJ1dapat dihuklikan bagi
kasus tiga dimensi del1gall persamaan-persamaan kes~ilIlbangan ulltuk sebuh bidang
empat kecil fJuida dengan tiga nmka dalam bidang-bidang koordinat dill] muka keempat
miring sembarang.

__4 ___.___
-------
----
----

. .f p.6s

p,,6y

_z

GambaI' 2.1 Dia>tram bl~nda-bebas suatu partikel yang bcrbentuk baji.

Jika fluida bergerak sedemikian hingga satu lapisau bergerak relatif terhadap
lapisan yang hordclmtan, teljadilah teg~Ulgan-teganp,an besar, clan tcgangan-tcgangan
10

normal di~:ualutitil~ rata-rata scmbarang tiga tegangan tekan yang saling tegak lunls
disuatu titik,

p,+p,+p,.
p'" - ~--
"'

Dalrnn fJllida khayaJi yang viskosihumya nol. yakni tluida tampa gesekan, tidak ciapat
terjadi tegal1gal1geser llutuk gerak~m Huida yang bagaimanapull. D~m uengan demikian
h~bnan di snatu tifik sama dalam scmua arah.

1I.2 Persamaan Dasar Statika Fll1ida

Gaya-gaya ymlg beraksi pada suatu elemen fluida dalam keadaan diam (Gb.2.2)
t~rdjri dari gaya-gaya permnkaan (Rurfaceforces) clan gaya-gaya b;Jdau (body forces).
Deugau u;aya berat Rebagai satu-satunya gaya badan yang beraksi, den,gau mengambil
E:umbny vcrtikal kc atas maka gaya tcrscbut adalah -y6xooz dalam arab y. Dengan
'~ka.nanp elipusatnya (x, y, z), gaya yang beraksi terhadap si8i yang tegak Jurus terhadap
slimbu y dan yang lerdekat dengan titik nol adalab kurallg -lebih

'
' dp 8v
l
"

p -- .~- -~- t'ix&


. ,Jy: .)

drul gaya yang beraksi terhadap sisi yang berseberangall adalah

I p Iii,:'
f
\.
Jp .'~.1&&
' 2 .I

di mana 6y/2 i~Jabjarak dari pusal ke muka yang tega.k-Iurus tcrhadap y. dengan
mcnjmnlahkan gaya-gaya yang beraksi tcrhadap elemen tersebut dalam arah y kita
mendnpal
11

Gambar 2.2 Elemen tluida dalam keadaan diarn yang berbent.lIkbalok genjang sikll-siku.

Untuk arab x dan Z,kare.natiadanya gaya badan yang beraksi.

~
of :: - . Oyu.;~_
op &::
6 0%

Vektor gaya elemental of dibcrikan oleb

Jika clemen tcrsebut diperkecil mendekati ukuran nol. setelah dibagi dengan oxoyoz=
0\1. nmms tersebut m{'!njadieksak

limoy ~ 0 (2.2)
.~~ ~ '{i'~ +j * + k ~ )p- Jr
Inilab gays.resultanre per volume satuan di snatu tit.ik.yang barns disamakan dengan nol
untuk fluida dalam keadaan diwn. Besaran yang dalam kurung adalah gradien, yang
disebut V (del). Pasal 8.2.
a a a (2.3)
'i1 ~:i .-- + j -:-.k .-
ax 0' Cz
12

dan grndien negatif p, -Vp, adalah medan vektor f untuk gaya tekanan permukaan per
volume 8atm111,

f = -Vp (2.4)
Makahukumstatikafluidatentangvariasi tekananadal3h
f -jy = 0 (2.5)
Bagi fluida tak viskos yang bergerak, atau suatu fluida yang bergerak sedemikiall hingga
tegangan gasar di mana-mananol, hukum Newton yang kcdua berbentuk
f:jy = pa. (2.6)
dengan a percepatan elemen fluida tersebut.f - .i'Yadalah resultante gaya fluida apabila
gaya berat adalah satu-satunya gaya badan yang beraksi. Dahun bentuk komponen,
P~rs (2.6) menjadi

op = 0 op = __r ap = 0 (2.6)
ox 0t az

Turunan-turunall parsial untuk variasi ,dalam arab horisontal mernpakan snatu belltuk
hukum Pascal; persamaan-persamaan itu menyatakan bahwa dua titik pada ketinggian
yang sama dalam masa fluida yang sama dan yang tidak bergerak mempunyai tekanan
yang sarna.
Karena p m~rupakanfungsi y saj~
dp=-ydy (2.7)
Persamaan diferensial sederhana ini menghubungkan perubahan tekanan dengan berat
jenis serta pernbahan ketinggian dan berlaku untukl fl1!idayan.gmampumampat maupun
yang tak mampumampat.
Bagi fluida yang dapat diwlggap homogen serta tak mampumampat, r adalah
konstal1dan pel's (2.7) bila diintegrasikan mel~iadi
p=-yy+c
dengan c konstanta integrasi. Hukum hidrostatika tentang variasi tekanan seringkali
ditulis dalam bentuk.
p = yh (2.8)
dengml h diukllr vertikal ke bawah (h = -y) dari pe!lnukaan cairan bebas dan p adalab
kenaikan tekanan dm'i pada permukaau bebas itu. Persamaan (2..8) dapaJ. diturunkan
dengan rnenggunakan sebuah kolom bertikaJ cairan c!engan tinggi te=rbatash ymJg
13

pennulcaan-atasnya terletak di permukaan bebas sebagai benda bebas fluida. Penurunan


ini kami sediakan sebagai latihan ba.gianda.

Il.J PENGUKURANTEKANAN
Tekanan dapa! dinyaiakan dengan mengacu kepada sembarang datum. Datum
yang lazim ia1ahnol absolut (nol mutlak) dan tekanan atmosfer 10kal.Bila suatu tekanan
dinyatakan sebagai beda 3ntara nilainya dan hampa sempurna, maka tekanan tersebut
dinamakan tekanan absolut. Bi1atelcananitu dinyaiakan sebagai beda antara nilainya dan
lekanan atmoster toka]. maka tek811antersebut dinamakan tekanan relatif
Gambar 2.3 melukiskan data serta hubungan autar3:satuan-satuan ukuran tekanan
yang lazim. Tekanan atmosf~ standar adaIah takanan rata-rata pada pennukaan Jaut,
29,92 inch H~ Tekanan yang dinyatakan dalam panjang kolom suatu cairan adaJah setara
dengan gaya pcrluas satuan di dasar koJom itu. Hubungan untuk perubahan tekanan
terhadap ketinggian daJwll suatu cairan p = 'Yh. menunjukkan hubungan antara tinggi-
tekan h.dalam p~jang kolom fluida dengan berat jenis 'Y,dan tekanan p. Satuan tekanan
p dalaIt1pascal, 'YdaImn newton per meter kubik, dan h daIam meter. Dengan berat jenis
setiap cairnn yang dinyatakan daJam gravitasi jenisnya S kaJi berat jenis air. sehingga
dapat ditulis :
P =r. Sh (2.9)

Untuk air "fwdapal diambil sebagai 9806 N/m3.


2
Tekanan atmosfer standar

Tekanan atmosfer lokel


----- -------------
14,7 psi negati f
2116 Ib/ft2 Tekanan relatif hisap
29.92InHg { vakum
Penunjukan
33.91 f1H20 barometer 1
1 atmosfer
lokal
760 mmHg
101,325 PI
10,34 mH20 Tekanan mutlak

Nol mutlak IVakum sempumal

Gambar 2.3 Satuan clan skala ukuran tekanan.

Dalam gambar 2-3 kita dapat menempatkan suat!J tekanan pada diagram, yang
D1enu~iukkan hubun~annya dengan lloi absolut dan dengan tekanan atmosfir toka!. Jika
14

titik yang bersangkutan berada di bawah garis tekanan-atmosfir lokaJ dan ditunjuk
terhadap datum (acuan) relatif, maka tekanan yang bersangkutan disebut ne,gatif, hisap
atau hampa.
Pe-rludip~rhatjkanbahwa :
p Ib, = P bar + P relatit'

IL <t.Gaya-~aya terbadap bidaDl datar

Dalam parawap-paragrap yang lain kila telah membahas variasi tekanan di dalam
fluida. Gaya.gaya terbagi yang diakibatkan oleh aksi fluida terhadap suatu bidang yang
Inasnya terb8t9~ mnrlah diganti dengan gays resultante, sejauh menyangknt reaksi hmT
terhadap sistim gaya. Dalam paragrdp ini besar gaya resultante dan garis aksi nya (pusaf
tekan) di tentukan dengan integrasi, dengan mmus, dan dengan meonggunakankonsepsi
prisma tekanau.

r-i
I
r--"

."

Gambar 2.4 l'~ota~i untuk tnt'nt'ntukan garis aksi sualu gaya.

Sebuah permukaan datru"(rata) dalam posisi horisoutal dalam tlnidu Y~U1.~


tidal<
bcrgerak mengalami tekanan yang konstan. Besar gaya yang beraksi tcrhadap' saiu sisi
pennnkaan itn adaJah

f p ciA = p f dA = pA
Gaya-gaya dell1~ntaJ p dA yan~ berak~i terhadap A semmU1ya ~e.iaiar dan dalam ~u'<'.h
yang s:una~ kar~lm itu. pl'njumlahan skala!" tbrhadap s('genap delm~n dl'rnikiall
IS

menghasilkan besar .gaya resultante. Arahnya tegnk-Iurus terhadap pemmkaan dan ke


arab pennukaan jika p posisti Guna menemukan garis aksi gaya resultant.e, yaitu titik
pada bidang tempat n10men gaya terbagi terhadap setiap 8umbu yang melalui titik itu
adalah nol, kita dapat memilih sumbu-8umbu xy sembw"ang,seperti dalam Gb. 2.4. Maka,
karena momen gaya resultante harns sama dengan momen sistim gaya terbagi t.erhadap
setiap slimbu, misalnya sumbu y, 'mnka

pAx' :.;:J ldA

Dengan x' jarak 8umbu y ke resultante . karena p konstan. maka


) ...
,='"
~ -. ',4 Jx'fA
,4'
-. :>.:
--.

Di sini X adalah j,arak ke sentJ"oidbicbmgters('bu(. Maka dari

itu, bagi bidm1g horisontal yang mengalami tekanan fluida. statik, resultallte melalni
sentroid bidtmg(erscbut.

11.5. G aya Apung

Gaya resultante yang dilakukan terhadap Buatu benda oleh fluida statik tempat
benda itu tt~rendamatau terapung dinamakan gaya apung. Gaya apung selalu beraksi
vertikal ke atas. Tidak mungkin terdapat komponen horisontal dari resultantenya karena
proycksi benda yang terendam atau bagian yang terendam daribcnda terapung itu pada
hidang vE!rtika.lsl~lajunol.

Gamba!" 2.5 Gaya apung pada benda yang terapung dan bends yang terendam.

Gaya apullg pada benda yang terendam adclah beda antara komponen vertikaJ
~aya tckammterhadap sisi atas benda tersebut. Dalaa-nGb 2.5 ga.yake 31aspada sisi
bawah 8ama dengan berat cairan, yang nyata atau yan~ khayali, yang tcrdapat vertika1 di
16

at:m pC'rmnkn:UJ
ABC yang ditur~iukkanolclt ben1t cairan di-daJmn ABCEFA. Gaya kC'
bawah pada permukaall atas sama dengan bcrat cairaIl ,L\DCEFA.Perbedaan antara kedua
gaya torsobut adalah snatu gaya, yang vCltikaJke at:JSdisebabkan oleh berat fluida ABCD
yang djpindahkan oleb benda paat itu. DaJambentuk p(~'-R:mmam
FH= v 'Y
Dcngan Fu gaya apllng, v volufi1l:.~
Huida yang dipindahkan, dan y adalah bera( jenis
fluida. Rumns yang sarna bcrlaku ulltuk benda yang t~rapungbila sebagai v dipergunakan
volume cairan yang dipindahkan. Hal ini nyata da1'ipemeriksaan tcrhadap benda yang
terapullg dalam Ob 2.5.

C'T8Cnbar
2.5. Komponen-kClfnponen gaya vertikal pada elemen benda.

DaJam Gb 2.6 gaya vertikal yang dilakukaJ1terhOOapsuatu elemen benda tersebut


yang berbentuk prisma vertikaJ yang berpenampa.llgoA adalah
o Fa = (1'2-PI)oA = yh oA = y dv
Dengan OVvolume prisma. Integrasi pOOaseluruh benda menghasilkan

FB . .
=r J dv = r v
Bila y dianggap konstan di SehJJ11h
volume.
Guna mendapatk3J1 garis aksi gaya apung kita mengambil mom.en-momen

.
terhadap suatu sumbu 0 yang mudall dipergunakan dan mempersembahkan dengan
momeo resutantenya; jadi,

yrxdv=rv; atau x=~rxdv


Jv v J.

\
. .. -. ----
17

Dengan x sebagai jarak dari sumbu tersebut ke garis aksi. Persamaan ini menghasilkan
jar-ak ke sentroid volume~ maka dari jlu gaya apung beraksi melalui sentroid volume
fluida yang dipindahkan. Hal ini berlaku baile untuk benda yang terendam maupun benda
yang terapung. Sentroid volume fluida yang dipindahkan disebut pusat apung.
Dalam meuyelesaikan BOalstatik~ yang menyangkut benda-benda yang terendam
atau yang tempung, pada umumnya kits menganggap benda tersebut sebagai benda bebas
..,

d~ kita men~gambar diagram benda bebas. Aksi f1uida dig~U1ti


dengan gaya apung. Bera!
benda hams ditunjl1kkan(yang beraksi melalui titik beratnya), demikian pula semua gaya
konblk lainnya.

Gambar 2.7 Diagram-diagram benda bebas untuk.benda yang digantung dalam fluida.

Menimbang benda berbentuk aneh yang tergantung daJam dua fluida yang
berlaimm memberikan cukup data guua menelltukan berat, volume jenis, dati gravitasi
jenisnya. Gambar 2.7 menunjukkan dua diagram benda bebas untuk benda y~mgsanm
Y~U1g
diga!ltung serta ditimbaug dahun dua fluida. F1.F~ adalah benil dahun keadaan
tcrendam, 11.12 ada1ah berat jenis fluida-fluida tersel:mt.Kita hams mcncari W dan V,
yaitu bl'!ratserta volume henda itu.
Kita menuliskan persmnaan-persamaaI1keseirnba1~ga.n
FI + v 11= W ; F;: V 12 = W
Dan menyelesaikmmya

/.Ian W = Ftf2 -. F~rl


r 1- r .1
18

- - - - - -----------

II~I:~_
fJj~1
---------
t=====:=:::=:::::::
\iF:::::::::::::::
----------
.--------------------
---------------------
.--------------------
---------------------

GambftJ"'2.8 Hidromet.er di dalam air dan di dalam cah'aJ1yang gravitasi jenisnya S.

COII!oh: Sebongkah bijih yang beratnya 1,5 N di udara te.myataberatnya 1,1 N


bila terendam air. Berapakah volumenya dalam sentimeter kubik dan berapakah gravitasi
jenisnya?
Penyelesaian. Gaya apung yang disebabkan oleh u<:!m.a
dapat diabaikan Dari Gb 2.7
1,5 N ==1,1 N + (9806 N/m3) v
v = 0,0000408m"3 = 40,8 em 3

S - -w -
__ __ 1,5N - .3,75
__

i' v (9806 Wm 3)(0,0000408 m 3)

11.6. Stabilitas benda yang terap~ng dan yang tenggelam

Suatu benda yang terapung dalam cairan yang statik mempunyai stabilitas
vertikal. Suatu perpindahan ke atas yang keci1 skan mengurang! volume cOO.anyang
rlipindahkan. dt'!l1ganskibat adanya gaya ke bawah yang tidak terimbangi dan yang
cendernng untuk mengembaJikan benda itu ke posisinya semula.demikian - pula,
perpindahnn ke bawah yang keeil menghasilkan gaya apung YaJ)glebih besar. yang
menyebabkan gaya ke atas yang tidak terimbangi.
19

Snatubt'ndamempunyaistabilitaslinear biJaperpindahanlinear yangkecil daJam


sctiap arah manapun mengakibatkal1 terjadinya gaya pengemba1ian yang cenderung
mengemba1ikanbenda itu ke'posisinya semuls_ snatu benda mempunyai stabilitas putar
bila suatuperpindahan sudut yang kecil menyebabkan terjadinya kopel pengembalian.
Dalwn pembahasan berikut akan dikembangkan metode-metode untuk
menentukan stabilitas putar. Suatu benda dapat mengapung dalam keseinban~ stabiJ,
tak stabil mau netra1. Bita sumu benda ada dalam keadaan tak stabil. maka snatu
perpindahan sudut yang kecil akan menyebabkan terjadinya kopel yang ccndhmg
memperbeRarperpindahan sudut itu. Dalam hat benda dalam kesetimbangan netraJ. yaitu
perpindaban sudut tidak menyebabksIl terjadinya momen apapUIl
20
BAB.III

KINEMA TIKA FLUIDA

III I. Metode Lagrange dmlMctode euler

Mctodc ini menguraikan hubungan 3ntara kedudukan berbagai partikel fluida


dengall waktu, dimana fluida dianggap sebagai kontinuum. Hal ini berJaku selama ukuran
dari partikel fluida yall,ll;diamati jrnlh lebih besar dari jarak 1i11tasanbebasrata-rata dari
molekul.
Ada dUBem-a d~\lammenenmgkan gerak fluida moo bentuk persamaan medan
da1amfluida, yaitu metode Lagrange dan metode Euler. Perbedaannya terletak pOOacara
p~nentu8n kedudukan .llaJnm medan, yang 8atu bers811gkntandengwJ apa yang terjadi
pOOapartikel lluida' dengall identitas tetap selama waktu yang tertentu, bagaimana
lintasannya, berapa besar kecepatan dan percepatannya.
Mt~l()delagnuJge yang bers3ngkut3n den~an partikel fluida dengan identitas letap.
Dalam meode ini, vru'iabcl sep~rti lintasan, kecepatan, perccpatan dan variabel fisika
13illllyaciilulislmnuntuk partikel fJnida dengan identitas tetap. Ko~rdinat (x,y, z) adaJah
koordinat dari elemen fluida, dan karena elemen fluida yang ditinjau jdentitasnya tctap
Ianbergerak pada lintasanQYa,maka koordinat tersebut terg~tung pada waktu. Dengan
kata laill koordinat tersebut mempakal1variabel depe12d~ndalanl bentuk Lagrange. Suatu
clemen fluida dikonali dari kedudukannya medan fluida pada aoatu waktu sebarang. yang
bias~Ulyadipilih sebagai t =0. Gorak dari partikel fJuida ini tertentu bila kita ketahui
persrummn kcdudukannya terhadap waldu.. Jadi jika r menyatakan kedudukan suatu
par1ikeJtluida dellgan identitas tetap, maka:
R = r (a, b, c, t)
i\tmr

x ,~,X (~J,b, c. l)

y c' y (a, b, c. f)

;1,::::/. (a, b, c. t)

Dan luedaH kecepatan dinya1akall sebagai:

V ,c:-
v (a, b, c. t)
21

Dengan koordinat (a, b, c) menyataJmn kedudukan ~waJ dari partikel fluida dengan
identitas tetap. Variabel aJiran l1uida yang lain, yang merupakan fungsi-fungsi dari
kordinat tadi, dapat dit.uliskan dengall canl yang sama. Metode Lagrange Jarang
dipe-rgunakandalam .mekanika fluida, karena jt>nis infl'nnasi yang diinginkall bukannlah
harga vw-iubel fluida yang dialami smuu partikel fluida sepB1:l:.iang
lintasannya, letapi
hanya variabel fluida pad~ suatu t.itik tetap dalarn mango Meskipun demikian mdode
Lagrange dapat dihubungkan den,lI;andengan metode rnmlisaberdasark3l1 sistem.
Metode Euler' memcberikan harga variabel fluida pada snatu titik pacta suatu
waktu. Da}ambentuk fnngsjonil, meoan kecepatan dnpat ditulisknn sebagai herikllt:
V = v ( x. y, z, t)
Dimana x, y, z, clan t semuanya merupakan variabel beban untuk smdu titik tertentu (XI,
yJ, ZI) dan waktu tl . metode Euler clapat dihubullgkall dellgal1metode analisa dengan
volume atur.

Ill.2. Sistim dan ,'oll1nte atul'

Sualu sislim yang kadang-kadang disebut benda terisolasi, didefenisikan sebagai


kumpulan zat sebarnng yang mernpllnyai identitas teiap. Segala sesuatu yang ada di Illar
sistilJIdisebut lingkungan. Balas dm-isistn~ didJnisikan sebagai snatu perrnukaan, yang
dapat berbentuk riil (nyafa) al~1Uirnaginer (khayaJ), yang IIll~misabkansistim dari
lingkungannya.
Persamaan kOlltinuitas mengungkapkall persyaratan bahwa suaLu t1uida harns
kontinu serta bahwa massa f1uida b~rgjfat kekaJ- yakni tidak dapat djciptak~ atau
dimusnahkan.
Sednng kekekaJan massa fluida mernpersyaratkan bahwa da1am8uatu volume zat
massa selalu konst.an)dan karena itu laju perubahan massanya.sarna rlengan nol. Berbagai
bentuk persamaali kontinuitas untuk suafu volume atur (volume konn-ot) diturungkan
dengan menyatakan secara matematik bahwa I~u netto influks rnassa ke dalam suatu
daerah tertentu sanIa dengan l~u perubahan massa di daerah tersebul Gambar 3.1a
memperlihatkan sebuah volume kontrol yang dibatasi oleh dinding-dinding tangki
pengosong, yaitu tangki yang massa di daJamnyaberkurang terhadap waktu. Oleb karena
22

itu, yang dibutuhkan disini adaJah bentuk persamaan kontinuitas yang tidal<steady, Jika
volume konb'ol ditetapkan seperti ganlbar 3-1b, pengosongan tangki lebih I3I!iut
menyebabkan adanya aliran masuk (inflov"r)melalui batas volume kontr61 se bel3h atas,
akan tetapj aliran itll steady asalkan laju aliran keluar (out How) tidak bemba11.Ini
memll~iukkan bahwa penetapan volume kontrol serta hal-hal lain yang bersal1gkutan
harus ditakukan d~ngan teliti, 'wahmpun bila masing-masing kac;usjlu ditaf.c;irkanseeara
benar, semua men~jn ke h~juanyang sarna.
Bentuk umum untuk kontinuitas dimana, ruas di sebelah kiri sarna dengan nol
(karena massa dari voJum zat yan,gtidak berubah) dan dengan kt".fapntantluida p sebagai
fun~Hititik YaJl~bernilai tunggal, maimteorema t~rseb.utmenjadi :

o -= ~j J p dV + (. p 0". d3)
at""""" 1<""'"'1 }p<n11IlI: bmboJ .

r
I
, Volume kon!rol

I
I Udara Udara
I
I
I
I
I
1=
I
I Aliran keluar r--- j
I I
I 1 I
I
II Za! cair I
I
I
I
I I I
I I
L________ L J

(a) (b)

Gambar: 3.1 DlIacara pengandaian volume kontrol untt~{ scbuah tangki pengosong

PerSi1maanini menyatakal1ballwa l~iu peliambahan masa di dalam volume kontrol plus


etluks massa neUo yang rnernintas pennuk3311kontrol sarna dengan nol. .Tadilaju influks
massa lletto yang melalui permukaall kontrol maupun dari sumber-sulIlber yang berada
di daJamvolume konlrol.

Ill.3. Medan Kecepatan dan Percepatan dalam flllida

Bila r ( X, y, Z ) menyatakan koordinat pmiikel fluid~ maim 1Ilcdan keeepatan


dinyatakan sebagai.
23

dr (x, v, z, t)

V(v(u,v,w)=
dt

atan:
II = dx/dt v = dy/dt w = dzldt

selanjutnya kecepatan daJam urah x dihlfun,tkan sebagai berikut ~

au au au au
du = -dx = ---dy + -dz + -dt
ox 3y QZ at
du. du d"l: du dy ,du. dz du
ax :7 ,-;' --, --- -+--- +( ) + --
dt dr. rft dy dt dz dt" dt
/'}lI. du. au OU OU. all.
ax == --::: -- --I-u -- + - + w- + " -
at dt ax ~y az at

demikian puta:

Dv
ay == -Dt == -dv
dt
:::: U -av
ax
av av
+ '"- + -
at at
[)w dw 8'1-11 O~11 ow OW
az. ==--== - ==u-+ v-+ w--+--
Dt dt I~- t';!y ()z AX
jadi dalam nolasi vektor

p~-;;.: ~+ (\I + !::.)\.


Dt at - ,

yang menyatakan babwa percepatan pada sualu titik dalal)) ruan.~ ( yaitu tW1.IIUUl
total dari
kecepatan pada titik yang bersangkutan) adalah sama dengan pel1lbahan kecepatan pada
titik terset>ut ( suku pertama pada ruas kamJ) clan peruhahan kaTena adanya konveksi (
suku kedua pada 11Ja."3
kanan). Untukaliran yang staiioner
ov/ot= 0

Ill.4. Pcngguuaan suatu sistim referensi dalam menginterpretasikan bentuk


gerakan.

Pemilihan sistim koordinat se~agai referensi terhadap gerakm~fluida mempunyaii


manfaf yang besar. Dalam keadaan tertentn kita dapat mengubah snatu a1iralltak stationer
menjadi stationer clansebaliknya.
24

Hal ini dapat dimJaJisa dengan memperthatikan aliran melalui tiang jembatan
dengan sistim referensi (atau pen,gamat) diam, atau ju.ejaterjadi pada morrong pesaw31
yang terbang dengan kecep31antetap seperti yang dilihat oleh seorang pengamat dalam
pr.sawat fe-rbang.Kedua contoh tersebut merupakan gerakan stationer. Gambar 3-2.
Mentt1Ukkan~aris lintasan yang berimpitan dengan garis gores dan garis ams.

Gambar. 3-2; garis an.ISpada aliran stationer

Benda k (w8ma hitwn) dianggap sanga! l?~jallg sehingga pengaruh aliran di


bagian beJakang benda pada aliran di bagian depan dapat diabaikan.
Bila pOOatitik A diteteskan su31u cairan belWama, maka tetesan belWama
tersebut akan terletak pOOagaris artIs.
Seba.liknyajika aJiran tidal<stationer, keadaan berbeda. lni dap31terjadi bila kita
memperhatikan aliran t1uida melalui suatu pesawat terbang dari suatu kedudukan yang
cHamterhadapfluidayangmasihterganggu.Gambar3-3 memperJihatkan
garis arus,garis
IiJltasan dan garis gores sekarang mempullyai belltuk yang berbeda-beda. Benda
memindahkan partikel f1uida sedemikian sehingga partikel di depan di dorong ke depan,
sedallgkanpartikel pada hap sisi didorongserempak ke depan dan k~ samping. Garis ams
lertihat bergerak bersama-sama dengan benda.

\ r /
garis-Un tasa
... n.

Gambm'; 3-3. Garis ,U1JS,garis linlasan clangaris gores dalam aliranl.idak stationer.
BAB. IV
ALIRAN FLUIDA DAN PERSAMAAN DASAR

IV.t. Klasifikasi aliran


Banyak kriteria yang cIapatdigunakan uuntuk mengklasifikasikanfluida sebagai
contob aliran dHpatdigolongkan sebagai aliran steady atau unsteady, satu, du~ atoo tiga
dim~nsi, Reragam alan ticlak seragam laminer atau turbulen clan dapat mampat atau
tidukdupat mampat. Selain itu, aliran gas ada yang 8ubsonik, transonik. supersonik alau
hipe-rsonik,sedangkan zat eair yang mengalir disaJUI1d1
terbuka ada yang sub kritis, kritis
atan super kritis.
Namun sccara garis besar dapat dibedakan atau dikelompokkan jcnis aJiran
aclftlahRebngajberikul :
1. Aliran tunak(steady): suatu aliran dimana kecepatannya tidak terpengamh oleh
perubalmn \\'aktu, sehingga kecepatan konstan pada setiap titik (tidak mernpunyai
perce.patan)
2. Aliran scraganl (uniform): suain aliran yang tidnk tcrjadi perubahan baik besar
maupun arah, dengan k~ta lain tidak terjadi perubahan kecepatan .clan penampang
Iintas311.
3. Tidak tunak:smltu aJiran dimana terjadi pembahan keeepatan terhadap waktu.
-1. AlinUl tidak scraglliu(non unif()fm): suatu aJiran yang daJarnkondisi bembab baik
kecepatan mal1punpenampID1gberubah.

TITE ALIRAN
a) AlirIDllaminer:
u) Alinm tnmsisi
c) Aliran turbulen
d) Berdasarkan ordillatnya : alirnn satu, dua, dan tiga ctimensi
~~)AlinUlsnbsonik: adalah snafu aJinm yang lebih keeiI dm"ikeeepatIDlsuam
f) Transonik: suatu aJinUlyang sarna dengsI1keeepatan SU8Jll
g) Supersonik: suatu a1iranyang melebihi kecepatan f;uara
h) Hypersonik:suatu aliran yang sangat tinggi (sang~tbesar dibanding kecepatan suara)
i) DU
26

Dari b('rbagai jenis maupun tipe aJinm tt'rseb!!t, harm~memeouhi hubungan-hubungnn


berikul :

Hukum-hukum Newton tentang gerakan, yang hanls berlaku untuk tiap partikel pada
st:'!tiapsaat
Hubungau kOlltinuitas, yaitu hukum kekekahUlmas:::a
Hukum pertama dan hukum kedua termodinamika
Syarat-syarat bat3s.

IV.2. BelJerapa IJtrsamaan da~ar

a) Persamaan Kontinnitas
Aliran.steadipada suatuvolumekendali(pk) , gambat,.4-1. llerlaku persamaall:

fpk pv.d.A =0 .. .(4.1)

yang m'nyatakanbahwa lajn bersih aliran massa kehmr dari volume kendaJi itu hams
nol.di penampang 1 l~ju bersih aliran massa keluar adaJah PIVI(iAJ dan dipenampang 2
laju tersebut : P2V2dA2. kat'ena tidak ada alirall melalui dindillg tabung, tnaka:
...(4-2)

adalah persmnaan kontinuita.'3 yang diterapkan pada clua penampang dj sepanjang sebuah
tabung aIiran dalam aIiraIl steadi.

Volume kendall

Gambar; 4-1. .tViransteadi melalui tabung aliran


b) P~n;amaall Bcmoulli
,
.., .. 1) . .. .(4-2)
gz = -- -I- ~- ::: ki.JI"Islan
2 p

suku tcrakbir, pip adalah ker:i aliran atau energi aliran per ffiaBSasatuan. Ker:ia aliran
adaJah kerjn bersih (n~to) yang diJakukan oleh elemen fluida terhadap lingkungannya
selagi I1uidatersebut mengalir. Perlla1ikangambar berikut :

Gambar. 4-2. Kerja yang dilak.ukanoleh lekanan yang bekerja lerus menerus

Gambar tersebnt memperlihatkan snatu analogi tnrbin yang terdiri dati suatu
satuRnbersudul yang berputar bila lluida mengalir melaluinya, dengau melakukan torsi
pada porosnya. Persamaan untuk dua titik pada 8uatu garis a1iranada]ah :
~ 2
- z..+ P1 . p2
;::1 ..,
+ vI - V2 :: 0 (4-3)
r 2g
contob.l. air mengaJir dalam suatu saluran terbuka, dengan. kedaJaman 2 m dan
kecepatan 3 m/s. kemudian air itu menga1ir turun melalui saluran peluncur yang
menyempit ke Sa1ltraDlain dimana kedalamannya 110 dan kecepatannya 10 mls. dengan
asumsi aliran tanpa-gesekan, tentukan beda elevasi (ketinggian) dasar sa1urantersebul
Garnbar aJiran da/am saJuran terbuka

2
__L ~ _10 m/s
28

Jawab; kita mengasumsikan bahwa Iwcepatan-kcccpatan 8(jaJah serngam pad:!


penampang-penampang, dan bahwa tekanan adalah hidrostatik"Kita dapat memilih titik 1
clan2 pada pcrrnuk33Ilbebas, seperti ditUlijukkandalam gambar, atau kita dapat memilih
litik-titik itu pada kedalaman-kedalaman lain. Jika beda elevasi da98f sJuran-saluran
adalah y, maka.persamaan Bernoulli me~iadi:

maka 7.;= Y + 2, 27.=1, "I = 3 mis, vo?=10 mIs, dan PI =Pl = I)

3~ \O~
+ 0 + yi- 2 = "--- -I"0 + 1
2U,80(j) 2(~,806)

sehillgga: y = 3,64 III

Contoh.2. (a)Telltukan kecepatm1 aliran kelual" dari 110Seipada dinding reservoar gambaI"
bcrikut.(b). berapa debit melalui nosel tersebut.

- f:~-::::::::::~::~::~:3

il~!illlll!
~-~~t ~t 100 mm
: Air. :1 2 -r.
j~~~1~~~~~~!!!!~1
~:~:::::;:::::: =:--- .:.::=:-:-:-:- :--'

GambaI"; Alil"aIldad I"eservoar melalui nose!.

Jawab:
(a) Jet keluar sebagaj silinder dengan tekanan atmosfir pada kelilingnya. Untuk kegunaan
praktis, tekanan sepmijang sumbunya adalsh tekanan atmosfir. Kita menerapkan
penmnumnBernoulli antara suatu titik pada permukaan air dan suatu titik di sebelab
hilir nosel.
29

dengan tl"'knnan atmosfir lokaJ sebagai damn tekanan, pl=p2 =0. Dengan datum
ketinggian melalui titik 2, z2 = 0, zl = H. kecepatan pOOapermukaan reservoar adalah
(pr~kti8)uol; maka:
O+O+H=(v~2I2g+0+0 ,dimana:
V2 = 8,86 III/S
Yang m~nY3takanbahwa: k~cepatan aliran keluar sarna dengan kecepataJlj3tuh bebas
dari permukaan reservOaf. ( dikenal dengan dalil TOITicelli).
(b) Dcbit Q sarna dengan hasil kaJi kecepatan keluar dari luas aliran,
30
BAB V
ANALISA DIMENSIONAL

5.1 Pendabuluan
Beberapa persoalan yang dijumpai dalam mekanika fluida telah dipecahakan
dengan menganalisa persoalan yang sudah diformulasikan secara matematis. Dalam soal
yang demikian, baik variabel yang berpengaruh maupun hubungan antara variabel
tersebut telab diketahui. Seringkali formulasi demikian diperoleh dengan menggunakan
anggapan penyederhanaan. Untuk memperhitungkao efek yang diabaikan, dalam
pendekatan selanjutnya digunakan koefisien yang ditentukan secara eksperimental. Hal
ini seringkali merupakan eara penyelesaian yang praktis, karena penyelesaian persamaan
yang memperhitungkan efek yang diabaikan tadi sangal rumit dan sukar dipecahkan.
Sebagai contoh , persamaan Navier-stokes pada umumnya tidak dapat dipecahkan secara
kwantitatif. kecuali untuk beberapa hal yang sederhana Cara lain yang dapat digunakan
sebagai penyelesaian pendekatan diperoleh dengan mencoba menentukan secara umwn
bagaimana koefisien yang dapat ditetapkan secara eksperimental tersebut bergantung
pada variabel yang mempengaruhi persoalan. Cara demikian ini, yang akan diuraikan
lebih lanjut dalam boo illi dan dikenal sebagai analisa dimensional, dipergunakan bila
variabel yang mempengaruhi suatu gejala fisik diketahui, akan tetapi hubungan antara
masing-masing belum diketabui.
a. variabcl fisik yang ditinjau, yang timbul akibat gerak benda daJam fluida atau
sebaJiknya, misalnya gaya, tegangan geser, dan sebagainya.
b. Variabel geometri benda saluran atau kedua-duanya, seperti ukuran panjang, bentuk,
dan sebagainya.
c. Variabel yang menyangkut gerak benda dalam fluida atau sebalikny~ misalnya
kecepatan V, pereepatan a dan sebagainya.
d. Variabel yang menyatakan sifid fluida, misalnya massajenis 0, tekanan p, viskositas
M-tegangan permukaall 0, dan sebagainya.
, 31

e. Variabel yang menyatakan sifat bend~ misaJnya massa jenis m, modulus elastisitas E,
dan sebagainya. (dalam mekanika fluida, variabel ini umumnya dapat diabaikan;
daJam persoalan aeroelastisitas atau hydroelastisitas, variabel perlu diperhatikan).
Dengan analisa dimensional, gejaJa fisik dapat diformulasikan sebagai hubungan
antara variabel yang berpengaruh ini, yang telah dikelompokkan dalam serangkaian
kelompok bilangan yang tak berdimcnsi. j~mLah kelompok bilangan yang tak berdimensi
ini janh lebih sedikit dari jumlah variabel yang semuja. Carn ini sangat berguna dalam
metoda analisa persoalan secara eksperimental, terutama karena jumlah eksperimen yang
harus dilakukan dapat.diperkeciJ, dan eksperimennya s~ndiri dapat lebih disederhanakan.
Sebagai contoh, tinjau persoalan yang dibadapi untuk menentukan gaya tahanau
D dari su8tu bola berdiameter d dan. yang permukaannya licin yang bergerak dengan
kecepatan V, di dalam fluida viskos yang illkompresibel. Variabel geometri benda adalah
d, variabel gerak benda adalah V, variabel yang menyatnkan sifat fluida adalah p dan Jl.
sedangkan besarm.1isik yang ditinjau ad~8h gaya tahRIlanD. perlu diperhatikan, bahwa
langkah pertama yang penting di sini adalah pengenalan variabel yang berpengaruh ini,
dan dengan berdasarlC'dnpada analisn, observasi dan anggapan penyederhanaan, jumlah
variabel yang diperhitungkan hanyalah variabel yang penting saja.
F'

~
J F YJy
~v2
~/Yl
~ PIJ.It
pberubah-ubah
Plte1aP V'-~
.~//
/ 2Yl

'Plp.."

~~y: -~YI
r:~f~:~ PIP-;r
D
. FI_~:'PIDPI
(:rftrnt'f1r5. J . J) digarnbnrkan sebagai fungsi dar.j d I.Intukbermacarn-rnaca!1'l n!!ai V, untuk tinp killi nihi
pdan ~ yang tetup.

Setelah variabel-vaiabel inidikenali, gaya tahanan D dapat dituliskan sebagai fungsi dari
variabel-variabel tersebut, yaitu :
F(D, d, V, p, Jl.) = 0 ...5.1
Atau D = f{d, V,p,J.1) 5.2
Di mana F(~~ V, p, Jl.)= 0 dan f{~ V, p, J.1)menyatakan fungsi dari d, V, p, Jl.yang
masih belum diketahui.
32
Untuk mengetahui hubungan 5.2 (atau5.I) SCC3J1i
eksperimentiJ diperlukan waKtu
yang cukup lama. Karena setiap kali hanya satu variabel di dalam tanda kurung yang
diperbolehkan untuk diubah-ubah. Contoh dari prosedar demikian ditunjukkan dalam
gambar 5.1

11'2= PVD
J.l.

Galnbar 5.2. Grafik suatu kcsperimen dimana 1t} diukur untuk belmacam-macam 1t'2(1t2 merupakan
v:3I";abe1 v, d, p atau 1-1.)

Dapat dilihat bahwa percobaan yang dilaksanakan secara ini memerlukan penggunaan
bola dengan berbagai diameter, dan beberapa jenis fluida dengan massa jenis dan
viskositas yang berbeda-beda. Percob8HOyang demikian 8angat memakan aktu dan biaya.
Dengan analisa dimensiooil dapat ditunjukkan adanya hubuogan antara dua kelompok
bilangan tak berdimensi sebagai berikut:

D pVd
merupakan soatu fungsi dari
yang menyatakan bahwa
( pV '2 d '2 ) ( ),
)J
seperti

diperlihatkan padagambar 5.2 sebagai suatu kurva.


Jelas bahwa basil yang digambarkan pada gambar 5.2 diperoleh dengan eksperimen yang
lebih sedemana, Jebih murah dan lebih pendek Disini J.l1diukllr untuk bermacam-macam
nilai ~. Sedangkan ~ dapat diubah hanya deogan mengubahsalah satu variabel p, V, d
atau J.lyang temp.
Kurva di atas dapat diperoJeh dengan menggunakan windtunnel, di mana 1t2dapat
diubah dengan hanya meogubah V (kecepatan angin), dan D diukur.
33

Prosedur pemiliban kombinasi dari beberapa variabel yang terdapat dalam suatu
persoa1an sehingga berkelompok metYadi bilangan tak berdimensi disebut ana1isa
dimensionil.

5.2. Kelompok tanpa dimensi


Variabel atau besaran fisik dinyatakan dengan dimensi yang dpat dituliskan daJam
beberapa dimensi dasar. Sebagai contoh, kecepatan secara dimensionil dinyatakan oleh
hubungan dimensi (V) = (L) I (t). Beberapa variabel dapat dikelompokkan sedemikian
sehingga tidak berdimensi, dan kelompok tanpa dimensi. Sebagai contoh, 'besaran pVdlJ.l
tidak berdimensi. karena :

Yang berarti bahwa pVd/J! tidak berdimel1si. Besaran ini kita kenalsebagai bilangan
Reynolds, salah satu kelompok tanpa dimensi yang penting dalam mekanikafluida.

5.3. Hukum keseragaman dimensi


Suatu persamaan dikatakan memiliki kescragaman dimensi bita bentuk
persamaaan tersebut tidak tergantung pada satuan pengukuran das~. Hukum
keseragaman dimensi menyatakan bahwa suatu persamaan uang diturunkan secara
analitik dan yang menyatakan suatu geja1aflsik hams b~rlaku semua untuk sistim satuan.
Sebagain cOlltoh.persamaan uDtukperioda aYUDanBuatubandul sederhana, yaitu
T = 2 1t'" Ug, berlaku untuk tiap sistim satuan, misalnya apakah L diukur da1am fee~
meter, atau mil, dan t diukur da1am meDit, hari atau detik. Jadi I')ersamaan tersebut
memiliki keseragaman dimensi dan dapat dikatakan menyatakun gejala fisik. Hukum
tersebut dapat diselami mengingat bahwa gejala alami berlangsung tanpa dipengaruhi
oleh satuan yang dibuat secara sembarang oleh manusia, dan karena itu persamaan yang
menjelaskan gejala demikian harns berlaku untuk segala sisten satuan, jadi harns
memiliki ke~eragaman dimensi.
Dari asas keseragaman dimensi iui dapat disimpulkan bahwa suatu persamaan
yang berbentuk : x = a + b + c akan seJ"888DI
secara dimensionil hanya bita x, ~ b,
34

C.....memilild dimensi yang sama. Hokum ini sangat bel"lDan&atuntuk memeriksa,


apakah suatu persamaan yang menyatakan gejala fisik dan yang diturunkan secara
analitik. sudah benar dan lengkap. Seperti contoh dibawah ini :
X = yz;v,f + a3f2

Agar persamaan diatas memiliki keseragaman dimensi, persamaan tersebut harnSberlaku


untuk semua sistim satuan. Agar demildan perubahan skala tiap suku hams sama bila
sistem satuannya diubah. Jadi, bila satuan suku yzv/- dikalikan dua dalam sistim satuan
yang baru, balyang sama barus terjadi pula pada x ~an a3f2.Untuk itu tiap Buku dalam
persamaan diatas harns mempunyai dimensi yang sama. Sebagai contoh lain, dari
pengamatan diperoIeh hukum Newton kedua yang menyatakan bahwa F = ma dengan
dimensi m (M) dan a (LT -2); di sini keseragaman dimensi digunakan uotuk
melldefinisikansuatu dimensi yang bw"U,yaitu dimem;igaya F.

5.4. Teorema PI dari ButkiDcham


Bila persamaan yang berlaku uotuk suatu soal tidak diketahui, diperluktm suatu
cara lain dalam penggunaan analisa dimensional. Pada awalnya, perIu diketahui atau
diduga, variable bebas yang menentukau kalakuan dari variable independen yang ingin
kita ketahui. Ini biasanya dapat kita peroleh dengan logika atau institusi yang tumbuh dari
pengalaman terdahulu dengan soal yang semps, tetapi tidak ada jaminan bahwa semua
besaran yang penting telah disertakan. Rayleigh pertama kali menggunakan metode ini
dan hukum aljabar untuk menggabungkan variable yang banyak dalam suatu soal di
dalam sustu kelompok yang tak berdimensi.
Untuk menentukan kelompok tak berdimensi ini. Bucldngham mengusulkan 8uatu
teorema yang dikenal sebagai teorema-pi, yang secara dinyatakan sebagai berikut :
Bita ada n besaran fisik yang penting dan m dimensi dasar, maleaterdapat suatu
biJangan n maksimun (r) yang menyatakan jumlah besaran ini yang diantara mereka
seudiri tidak dapat membentuk kelmpok talcberdimensi. dimana r ~ n2. Maka dengan
menggabungkan secara berturut-turut satu dari besaran yang selebinhnya dengan r
besaran tadi, dapat dibentuk i kelompok tak berdimensi, d,imanai = n-f. Kelompok tak
berdimellsi yang dibelltuk ini disebut suku-sukll 1t dan dikenali dengan simbol 1t1.1t2
".i1tl
35

Ada dua eara pellyelesaian yang dapat diikuti, yaitu cara Rayleigh dan cara Buckingham.

a. Metode Rayleigh:
Misalkan diinginkan untuk menyatakall suatu variable yang penting, ai, sebagai
fungsi dari ariable bebas lainnya, a2, a3,.... . .. . ... ... an, dalam bentuk :
<X.I= tl 1.2, <1..3, u"()) .. ... ... ... . ..5.3a
atoo f(al, a2, u..,J= 0 ...5.3b

PerS8I1laan sehmjutnya yang diinginkan berbelltuk :


01 ( Jtl ,Jt2 , ...Jtl ) = 0 5.4a
atoo ... . .. . . . . .. . . . . 5.4b

Akau telapi diatl<j:I,~ap


baltwa ada m dimensi dasar, clanjumlah kelompok tak berdimensi
I := n-Ill.

tJntuk menentukan suku-suku Jt dalam persamaan 5.4,anggap bahwa persamaan


5.3 dapat dillyatakan sebagai pel~umlahalldari sejumlah deret ukur clari variabel tersebut,
jadi:
A ) Oilr~
""2 a2 . . . ""f1
u. + B v..t b I
0111
""2 b2 . . . VIda
n bn =0
Di mana A,B . . . dan seterusnya adalah koefisien tanpa dimensi dan aI, a2 . . . an, bl . . .
bn. . . adalah eksponen. Persamaan di atas ni dapat ditulis sebagai :
l+(B/A) eL]bl.31eL2b2-a2 ... an bn_an+ .. =0
Agar azaz keseraganlall dimensi dipenuhi, sernua suku dalarn persamaan yang terakhir
ipni harns tak berdirnensi seperti snku Yallg pertama. Jadi keseragaman dimensi dari
per-samaantersebut clapatdinyatakan dalam bentuk :
I "b
LaI a 2 ".. a" x j-= [M' L v"t
0>
] . . .. ... .. . .. .. .. . ... .. .. . .. .. .. 5.5

ini benu1i bahwa bila tiap-tiap variable yang dinyatakan dengan dimensinya dan
dipangkatkan dengan suatu bilangan tertentu saling diperkalikan dan menghasilkan
dirnensi nol, maka hubungan fungsional demikian mt:nyatakan gejala fisik yang benar.
dan kelmpok tak berdimensi dapat diperoleh.
36

Prosedur yang terperinci akan dijelaskan dengan contoh berikut. misaInya penurunw
tekanwl. A P. sepanjang suatu pipa diketahui pergantung pOOa pmYang pipa, S
diameternya, d, massa jenis fluida yang mengaIir dalam pipa, p, kecepatannya fluida Y
dan viskositas fluids, J.1.
, jadi :
Ap = n ( S, d, p, V, ~t)
atau f( Ap, S, d. P. V. I-l) = 0
dalam belltuk dimensional dapat dituliskan :

teorema-pi menyatakan bahwa bita n = 6, m = 3. maIm1.- 3,jadi ada tiga kelompoktak


berdimensi (1t). Dari 8Z8S keseragaman dimensi dgpat disimpulkan bahW8 kerlaku
persamaan berikut :
untuk M : a + d + 1 = 0 ( a)
untuk L : -a + b = c - 3d + e = () . (b)
untuk t : -2a - e - 1 = 0 ( c)
persamaan ini menghasilkan ( karena asa 5 anu dWl3 persamaall ).
d= a- 1
e=2a-1
c = -b - 1
jadi dapat dituliskan
Aba Sb d -b-l p-a-l J.1.= [MoLto]

bila suku-suku dengan pangkat yang sarna dikelompokkan, diperoleh :

[(",,:,'H~)'(.~d)] [M.L.r.] ~ ..5.6

Tiap suku dalani persarnaan 3.5. tidak berdimensi, jadi merupakan suku -1t. Bentuk
fungsionil yang berlaku :

01 D.p !~ =0 ...5.7a
( pV2'd'pVd )

atau D.p _ 0 8 J1 ... . .. . .. . .. . ... .. . .. . ... .. . ... ..5. 7b


pV ~ - ( d ' pVd )
37

Jadi disini _ f::..n S P


1f 1 - -2:..-
pVd' 1! 2 = d 1! 3 = pVd

Pertu diperhatikan babwa, walaupun teorema-pi menyatakan jumlah suku pi (1t) yang
minimum untuk menerangkan hubungan fisik, pasangam ini tidak unik. Pasangan suku pi
yang lain juga mungkin, dan dapat meqjelaskan hubunganfisik yang berlaku; waJaupun
mungkin kw-angbermanfaal
Jumlah kombinasi N dari suleu pi yang mungkin dibentuk dari n variable dengan m
dimensi dasar dinyatakan oleb :
n!
N = (m + l)(n - m - 1)
dengan n = 6 dan m = 3, makaN = 15.Diatas telah kita temukantiga suku pi (n). Untuk
mencari yang lain, prosedur aljabar untuk memecahkan pasangan persamaan yang
dibentuk oleh eksponen dapat diubah, akan tetapi yang lebih mudah adaJah dengan
membuat kombinasdi dari suku pi yang telah diperoleh. Karena tiap 8uku pi tidak
b\Tdimensi,suku tersebut dapat dipangkatkan dan dikombinasikan dengan 8atU atau
beberapa suku pi yang lain untuk membentuk suku tak berdimensi yang barn. Misalny?
suku y dapat dibentuk sebagai :

km-enahanya tiga suku 1t yang independen yang diperlukan untuk menyatakan hubungan
fisik, untuk itu dapat dipilih 1t1,7t2,
dan 1t4atau 7t3,7t2,dan 7t4-Tetapi 7th 7t3dan 1t4tidak
merupakan kombinasi yang benar karena saling bergantungan.

b. Metoda Buck.iDcham
Di daJam penggunaan teof'ema pi ini. menurut Buckingham attu1Ulberikut perin
diperhatikan :
a) Kumpulkan suatu daftar dari variable yang penting, misaJnya ada n variable ai.. ...an.
persamaan 11sikyang bersangkutan dapat dinyatakan sebagai :
f{ al, a2, ...<Xn)= 0
38

b) Tentukan dimensi dasar dari variable di mas. misa1nya ada m dimensi dasar. Bna
semua variable di atas dapat dinyatakan da1amempatdimensi dasar, misa1nyaM, L, t
dan T ( temperatur ), maka m = 4
c) Pilih basaran fisik ( variable) a sebanyak r, yang disebut sebagai besaran a primer,
yang di antara mereka sendiri tidak dapat membentuk kelompok tak berdimensi.
Hampir pOOasemua keadaan r = m, sehinggasuatu aturan yang berguna yangdapat
diikuti daJam memilih besaran a sedemikian sehingga tiap a mengandung satu
dimensi dasar setidah-tidaknya sekali.
d) Tentukanjumlah suku- x yang perlu, yaitu sebanyak i = n-r.
e) Tentukan suku - x dengan menyatakan hasil bagi dad besaran a yang tertinggal
deng31lprodek dari a primer yang masing-masing dipangkatkan dengan eksponen
yang akan ditentukan lebih ImYut.Eksponen ini dspat ditentukan dari persyaratan
bahwa tiap suku 1ttidak berdimensi. Jadi untuk tisp 1tpersyaratan ini menghaSilkanr
persamaan, dengan r eksponen yang barus dicari :

Untuk x) : a,+l
]
[ a 1"'a 2 II, aT II.:;] [..yoLOtO .....

Untuk X2 : a,+2
[ a/"a/,' arb. ] ;: [MOLOtO ]

Untuk Xj

f) Pecahkan persamaan simultan di atas untuk memperoleh eksponen dari tiap suku 1t,
dan dengan demikian suku-suku 1tdapat dibentuk.
g) Maka 1tl = 0 ( 1t2, .1tj)

Metode ini sangan menarik karena sistimatik dan suku 1tyang diperlukan dapat langsung
diperoleh dengan menggunakan persamaan yang jumlahnya benar dan tiap variable
disertakan paling tidak satu kali.
Manfuat dari metoda ini adalah :

f
39

1. Tiap kelompok tak berdimensi ( suku-suku 1C) dibentuk secara terpisah dan mudah
drngan me.meriksadimensinya.
2. Bentuk dari suku 1Cini dapat ditetapkan sebelumnya, misa1nyabila ada variable YWlg
ingin dihindari dalam pemilihan r variable yang tidak membentuk kalompak tampa
dirnensi. variable ini hanya timbulsekali dalam suku n.
Perlu diperhatikan pula bahwa pemilihan r variahle yang tidak dapat membentuk
kalampok tampa dimensi ini dapat dilakukall dengan mudah dengan menyertakan
variable dengan dimensi yang hanya muueul seka1i pada variable tersebut. Sel~iutnya
bila dalam mebentuk suku 1tterdapat dua vw'iable YWlgdimensinya tepat sama, suku 1t
tersebut dapat diperoleh sebagai bilangan perbandingan kedua variable tersebut. tampa
dengan melaksanakan prosedur aljabar diatas ( 1t}= Sid dapat langsung diperoleh )

5.5. JUMLAB SUKU-SUK1J 7t DAN DIMENSI DASAR.

jumlah suku 1t~.ng perlu untuk menyatakan hubungan fisik. dinyatakmlsebagai i = n -- r.


ada dua cara ulltuk menentukan r. cara. yang paling sederhana adalah cara Van Driest,
yang menyataJmnbahwa r adaJah S3ma dengan jumlah variable yang diantara meraka
tidak clapat menghasilkan kelompok tampa dimensi. Karena r tidak dapat melebihi n.
jumlah dirnensi dasar. maka bila n variable tidak dapat membentuk kelompak tnk
berdirnensi. hm-usdicoba n - 1 variable. dmt seternsnya. Dalam memilib dirnensi dasar .
harus dijaga agar dimensi tersebut benar saling independen. Ada kemungkinan bahwa
walaupun rnisalnya M. L. dan t sernuanya diperlukan untuk menyatakan variable yang
ada, dua diantaranya selalu timbul dalarn hubungan yang sarna. Sebagai contob bila M
dan T sclalu timbul dalam bentuk l\fIf pada variable yang ditinjau . M dan T bukan
variable independen. dan kornbinasi WY yang dapat didefinisikaJ1sabaga.i dirnensi baru
N. lllerupakan dilllensi dasar.jadijumlah dilllensi dasar berkurang dengan satu.
Cara lain nntuk rnenentukan r adalah dengan cara laghaar. dirnana r ditetapkan sebaga.i
rank dari lllatriks. Prosedurnya adalah sebagai berikut. Variable Ct.!. Ct.2. .<X.n.
.
dituliskan pada sumbu horisontaJ dan dimensi dasar M. L. t dan seterusnya dituliskan
pada snrnbu vertikal. Di bawah tiap variable dituliskan kolom mtgka yang menyatakan
pangkat da!"udimensi dasar padabariable tersebut. Untuk contah diatas dapat dituliskan :
40

V f1
Ai> I SId I p_1_

[1L~I
M 1 0 1 1
--
q +
-.--.
-.-- L ~-l__~:~..t__~~._. _ -~ - _ -I -1
-
T -2 I.~ 0
I, -1

Matriks yang terbentuk disebut matriks dimensional, dan dinyatakan sebagai :

1 1 1 1 o 1
-1 o o -3 1 -1
-2 o o o -1 -1

set31liutnyadapat diajukan pertanyaall sebagi berikut. Bita matriks ini uan dijadikan
matriks bujW"sangkar ( square matrix), berapa ukuran terkecil dad matriks bqjw' sangkar
tersebut yang merupakan penyederhanaan dari matriks semuta. agar determinannya tidak
sanla dengan nol? Jumlab kololll atau baris dari mmriks b~jur sangkar ini merupakan
rank dari malriks semula. Untuk matriks diatas, matriks bujur sangkar yang dimaksud
adalah:

dengan determinan:

o 1
1
-1
- 11 = 2- .::- 1
- 1

karena jumlall kolom aiau haris dari matriks bujur sangkar yang determinannya ~ 0 ini
S8madenga.ntigs, malearank matriks r = 3. Dan r ini tl1P-rupakan
r daJam teorema -1tdari
Buckingham.
41

5.6. KELOMPOK TAK BERDIMENSI YANG PENTING DALAM MEKANIKA


FLUID A.

Dalam kebanyakan gejala fluida dengan perpindahan yang dapat diabaikan, variable
berikut perlu diperhatikan :
1. Tekanan fluids, p.
2. P~jang benda, L.
3. Viskositas fluids, J.L
4. Tegangan permukaan fluids, 0'.
5. Kecepatan soara dalam fluids, c.
6. Percepatan grafitasi bumi, g.
7. Masajenis fluids, p.
8. Kecepatan relatif antara fluida dan bends, V.
Dari variable di atas, dengan analis8. .dimensbnal dopat diperoleh kelompok talc
berdimensi atau parameter keserupaan berikut :

1. Rey = pVd -bilangan Reynolds.


}J

2. Fr = -v2 -bilanganFroude
Lg

3. M = -v -bilanganMach
c

4. W = pv2r -bilangan Weber


CT

.5. Eo = p - bilangan Euler.


pv2

Kelima bilangan ini dapat ditw1Jnkandengan menggunakan teorema-pi dan metoda


Buckinghamdari ke delapanvariable di atas; dan merupakanparameterkeserupaanyang
salingindependen.
42

5.7. PENURUNAN PARAMETER KESERPAAN (KELOMPOK TAK


BERDIMENSI) DARI PERSAMAAN DASAR.

Supaya f:ederhana,kita akan perhatikan fIuida yang inkompresibel. Persamaan


kontinUltasnyaada1ah:
au a~. Ow ... ... .. ..5.9
-+-+-=0
ax ay Oz
clankita perhatikan salah satl! komponen persamaan Navierstokes, yang menyatakan suku
grafitasi :

Di samping persamaan deferensial, syarat batas barns pula ditetapkan untuk melengkapi
persyaratan pen;oalan :
Duajanis syarat batas yang penting adalah :
(a) Kecepatan fluida pada semua permukaan ditetapkan ( diketahui )
(b) Kecepatan fIuida pada sebagian permukaan ditetapkan sedangkan permukaan yang
lain adalah pennukaan bebas, dimana tekanannya ditetapkan, walaupun kedudukan
eksak dari pennukaan tidak di tetapkan.
Aliran melalui suatu tabung venturi atoo disekitar suatu silinder merupakan contob dari
syarat batas yang pertama sedangkan aliran air di dalam saluran yang terbuka dengan
pennukaan bebas adalah contoh dari syarat batas yang kedua.
Secara simbolis, jenis syarat batas yang pertama dapat dinyatakan sebagai :

padaf( Xb,Yb,Zb) = 0 . . .. . ... .. . .. . .. . .. . .. . .. ..5.11

di manaf( Xb.Yb,Zb) = 0 adalah persamaan yang mendefinisikan kedudukan permukaan


batas.

Untuk syarat batas jenis kedua. spesifikasi dari pennukaan batas dengan benda padat
dapat dinyatakan seperti di atas. Untuk bagian permukaan batas, dengan mengabaikan
tegangan permukaan, dapat dituliskan:
P = Pbpada F ( Xf.Yr,Zf) = 0
Di mana fungsi F mula tidak diketahui:
43

DaJam mengubaJl persamaan 5.9 dan 5.10 menjOOituk berdimensi. perlu dipiJih besaran
karakteristik atan patokan untuk tiap veriable. Untuk itu kita gunakan Uo sebagai
kecepatan patokan. 10sebagai panjang patokan. dan Po sebagai tekanan patokan. Untuk
waldu kita gunakan IJuo sebagai waldu patokan. Besaran patokan ini dapat dipilih sesuka
kita, tetapi harns merupakan besaran teTtentu dalam 80al yang bersangkutan. Misalnya,
untuk aJirdIl didaJam tabung Venturi, diameter penampang yang tersempit dapat
digunakan sebagai patokan dan seterusnya. SelanjutnySlkitaukur tiap variable dalam
besaran patokan yang sesuai dan dengan demikian didefinisikan variable tampa dimensi
berikut dengan tanda *:
u = uo u*
v = 110 v*
x = loX*

t = IJuo.t*
P = PoP*,dan sebagainya.
Persamaan kontinuitas dari Navier-stokes menjadi :

au. + a". + aw. _ 0 5.12


ax. oy" Oz.-
dan

au" au" au" au.


-+u-+v-+w-=
at" Ox. 0''' Oz. 5.13.

demikian pula syarat-syarat batas menjOOi:

u* = lib*
v* = Vb* padaf( Xb*.Yb*,Zb*)= 0 . . .. .... ... ... ... .. . ..5.14
w* -- Wb*
clan p* = Pb* pOOaF (Xf*, Yr*, Zf*) = 0

yang terakhir ini berlaku bila pOOapennukaan bebas, dan bila tegangan dapat diabaikan .
44

dapat kita lihat bahwa dengan anaJisa semacam ini ditemukan tiga keJomok tak
berdimensi atau parameter keserupaan :

~.8. KRSERUPAAN (SIMILITUDE)


keserupaan daJam pengerti8ll yang umum berarti indikasi adanya keadaan tertentu yang
diketahui antara dua fenomena. Dalam mekanika fluida hubungan ini merupakan
hubungan aJiran sesuangguhnya dengan aJirao yang menyangkut model yang batas-
batasnya sempaseeara geometris tetapi lebih keeil ukurannya.walaupun demikian [perlu
dijeJaskan, bahwa dalam mekanika fluida berlakupula hukum keserupaan untuk aliran
dengan batas yang tidak serupa. MisaJnya, ada hubungan kesempaan antara aJimn
subsunik kompressibel ( M < 1) sekitas suatu benda dengan aliran inkompresibel sekitar
benda yang kedua yang bentuknya serupa dengan benda peertama yang diseformasikan
menurut eara tertentu, dan ini dikebnaJ sebagai atW11D
kesempaan Gotherl Demikian pula
daJam hidrologi diperlukan suatu modeJ dari sungai-sungai yang pandangan atasnya
sempa, tetapi dalamnya tidak serupa. Selanjutnya akan dibahas aliran seC8rageometris.
Dua alimn yang mempunyai garis arus yang sempa disebut aliran yang serupa secara
kinematis. Karena batas benda merupakan garis arns, tentunya aliran yang sempa
kinematis h8ll18pula sempa secara geometris. Akan tetapi hal sebaliknya belum tentu
benar, seperti ditunjukkan dalam gambar 5.3. disim digambarkan garis &rUSsekitar benda
yang berbentuk belah ketupak dalam aJiran dua dimensi. Gambar a. menutriukkan aliran
subsonik, M<l. sedangkan gambar b. aliran super Bonik,M<l. Dapat dilihat bahwa garis
aJurnyatidak sempa.
45'

Gambar 5.3. Garis arus sekitar benda berbentuk belah ketupat 2 Dimensi

Selanjutnya dua aliran dikatakan serupa secara dinarnis, bila distribusi gaya pada
kedua aJiran adoJah sedemikian, sehingga pada titik yang berkorespondensi, gaya yang
sejkenis ( misalnya gaya geser, tekanan, dan sebagainya) saling sejajar. dan memunyai
peroaodingan yang sarna dengao pada pasangan tink yang berkorenspondensi Jainnya.
Sehuyutny~ angka perbandingan inl juga sarna untuk jenis gaya yang lain. Karena gaya
seperti gaya angkat dan tahanan untuk skala sebenamya biasanya diramalkan dengan
mengukur ygaya. yang serupa pada model-model yang lebih keci~, jelaslan mengapa
keserupaan dinamis sanga! penting daIanl pengujian.
Akan ditunjukkan bahwa keserupaan dinamis mensyaratkan dipenuhinya
keserupaan kinematik, clan syarat bahwa distribusi massa adalah sedemikian sehingga.
pcrbandingan maaa jenis pOOatitik dalam aliran yang berkt>prespondensi mempunyai
harga yang sarna pada setiap pas~mgtitik. Atiran yang memenuhi syarat yang terakbir ini
disebut aliran distribusi masa yang serupa. Syarat keserupaan kinematis berarti babwa
kecepatan dan percepatan pOOa titik yang berkorespondensi. adalah sejtYlr clan
perbanclinganbesar harga mutlaknyaadalab kOllstan.Aliran yang serupa secara kinematis
dan mempunyai distribus masa yang serupa, dari hukum newton, juga mempunyai gaya
resultan yang perbandingan harga mutlaknya sarna untuk titik yang saling
berkorespondensi. Selain itu pada tink yang berkorespondensi juga sej~ar. JOOialiran
yang serupa secara kinematis dan distribusi masanya serupa memenuhi syarat
kesempaan.

5.9. ANALISA KESERUP AAN DENGAN MENGGUNAKAN PERSAMAAN


DASAR.

Kita perhatikan sekarang dua soal yang menyangkut aliran f1uida inkopresibel.
yang syarat batasnya sarna bila dinyatakan dengan bilangan tak berdimensi.
Misalnya kedua soal ini adalal1aliran disekitar dua ailinder. yang satu lebih besar dari
yang lain, srayat batas menyatakan bahwa kecepatan pada permukaan silinder" sarna
dengan nol dan kecepatan pada takl terbingga adaklah tetap dan sarna dengan kecepatan
fluida bila silinder tidal<ada. Kita gunakan kecepatan ini sebag-cUkecepatan patokan,
46

diameter sHinder sebagai panjang patokan, dan tekanan s~agnasi sebagai tekananpatokan.
Bila syarat batasnyajuga dinyatakan dalam besaran tak berdimensi, terlihat bahwa kedua-
duanya sarna. Dengan demikian pemecahan kedua soal ini, bila dinyatakan dengan
bilangan tak berdimensi, temyata akan sarna bila persamaan diferensialnya juga sarna.
Bila kita perhatikan persamaan yang berlaku, terlihat bahwa persamaan kontinuitas
dengan sendirinya memenuhi syarat tersebut, sedangkan persamaan Navier-Stokes akan
sarna untuk kedua hal di atas ini hila ketiga paramet~r : po/pu,,2, v/uolo dan g l./u02
mempunyai harga yang samadalam kedua soal diatas. Bita demikian kedua soal di atas
dapat dikatakan sempa"secara dinarnis, disamping secara geometris (konggruen).
Pemecahal1 untuk soal Y311gpertama, misalnya dapat diperoleh secara
eksperimen, dan hasil ~ksperimen ini akan berlaku untuk aliran di sekitar silinder yang
kedua.

Sekarang kita periksa secara lebih mendalam ketiga parameter yang timbul dalam
persamaan Navier-Stokes. Bilangan po/put/ menyangkut hasil bagi antara tekanan
patokall dengan tinggi kecepatan yang didasarkan pada kecepatan patokan. Dengan
menganalisa parameter ini secara fisik dan bukan matematis, kita lihat bahwa hasil bagi
ini hanya berarti bila tekanan absolut dari alinm mempunyai arti yang penting, yaitu bila
hanya absolut dari po penting. Dalam banyak soal, harga absolut dari p tidak
mempengaruhi besaran pu/ (atau ~ pU02),dan yang t.erakhirini dapat diambil sebagai
ukuran tekanan, dan bukan po.
Deng311demikian jumlah besaran patokan dapat dikurangi dan parameter pI puo2
del1gan demikian menjadi berharga satu (atau 1/2) clan tidak perlu dibitung sebagai
parameter yang tersendiri. Kedua, karena harga absolut dari tekanan tidak mempengamhi
aliran, tekanan dapat diukur terhadap tiap patokan yang. memudahkan analisa. Misalnya,
tekanan pada permukaan bebas dapat digunakan sebagai tekanan patokan, schingga
haerga relatif dari tekanan pada. permukaan tersebnt ada1ah nol. Da1anl 80aJ di mana.
penyederhanaan yang demikian mungkin, jumlah parameter ada dua.,yaitu u IUoLodan
gl./uo2.
Penyederbanaan yang demikian tidak selalu mungkiu. Dalam beberapa alirall,
tckanan pada titik tertentu menjadi sangat rendah sehingga mencapai tckanan uap dari
cairan sehingga terbentuk kavitasi uap, suatu geja1a yang disebnt kavitasi. Da1ama1iran
47

d'mikianharga absolut dari tekanan merupakan fakt"f y:mgpenting. kar'natekanan yang


tinggi akan mencegah kavitasi. POOasuatu titik sil~der, tekanannya adaIah poo.uo2 .
Tekanan (Poo_uo
2) mungkin sarna dengan uap air. Dalam contob semacarn ini, parameter
po /puo merupakan suatu faktor yang penting. Karena itu dalam BOalsemacarn tekanan
diukur relatifterhadap tekanan uap.
Jadi :
po = poo Pv-
sehingga

Po _ POI>- P,
~1~-PUn 1.1
72pU" 2

karena l,;.:iPU 0 2 mempunyai arti khusus, parameter yang sering digunakan adalah :
/2

Po _ Pro - p,
,I,{pu() 2 - MpUo 2

yang dikenalsebagai bilangan Euler, Eu.

kedua parameter lain OOaJah-2-


uolo
dan ~
Uo
; yang lebib dikenaJ adaJah nol / v, yaitu

bilangan Reynolds, Re, clan bilangan Froude Fr = Uo . Bila bilangan Euler dapat
gso

diabaik8ll, maka bilangan Froude clan bilangan Reynolds merupakan parameter yang
menentukan karakteristik aliran. Ini berarti bahwa bila dua aJiran mempunyai bilangan
Reynolds yang sarna dan bilangan Froude yang sarna, uraian kedua aliran ini daJam
besaran tak berdimensi akan sarna, asalkan syarai batas ( tak berdimensi ) dari kedua
persoalan inijuga sarna.
Sekarang kita perbatikan satu jenis soal mana penyederhanaan yang lebih lanjut dapat
dilakukan. Misainya aliran cairan tampa pennukaan bebas di daJam suatu pipa. Fluida
dianggap inkompresibel clanbilangan Euler dianggap tidak penting untuk soal ini. Bila
fluida di daJampipa tidak mengaJir, maka berlaku :
48

Yang dapat diperoleh dari persmnaan Navier-Stokes. Subskrip r digunakan di sini untuk
menunjukkan bahwa tekanan yang bersangkutan ditemui bila fluida tidak mengalir.
Dengan menggunakan persamaan di atas dari persamaan Navier-Stokes diperoleh:

dimana Pn = P - Proclandisebuttekanannon gravitasi. Di sini dapatdilihat bahwa suku


gravitasi dan bilangan Froude dapat dihilangkan dari persmnaan garak. Selanjutnya kita
periksa syarat batasnya. Bila b-yarat batas ini termasuk jenis yang kecepatannya
ditentukan pada batas yang tetop dalam ruang. maka syarnt batas ini tidak berubah
dengan adanya substitusi tekanan sebenamya dengan tekanan non gravitasi. Demikian
pula persamaan kontinuitas tidak dipengarubi oleb substitusi dua persamRRndiferensial
dan syarat batas dalam bentuk tak berdimensi yaitu bilangan Reynolds. Untuk soal seperti
illi. syarat untuk keserupaan dinamis adaIah bahwa bilangan Reynotdsnya sarna besar.
Aliran semacam ini banyak dijumpai dalmn mesin fluid&. serak benda di miara pada
kecepatan rendah dan sel?againya.
Sekarang kita perhatikan satu jenis soal di mana dijumpai permukaan bebas, yaitu
pennukaan batas yang bentuknya tergantung pOOa gerak. Dengan demikian konsep
tekanan non gravitasi talcdapat menghasilkan penyederbanaan, karena pr harns diperoleh
untuk bentuk permmukaan bebas yang terjadi sewaktu fluida mengalir.
Bentuk permukaan ini harns ditentukan dari persamaan dinamik lengkap yang
penyertakan efek gravitasi. Karana itu suku gravitasi tidak dapat dihilangkan dari
persamaan dasar, dan bilangan Froude harus diperhatikan sebagai parameter terpisah. Hal
scmacam ini tcrjadi misalnya pada a1iranmela1uisa1urmtterbuka, perambatan ombak dan
aJiran disekitar akpa1.
Sebagai ringkasan, dopat kita katakan bahwa keserupaan dinanlis dari aliran
fluida yang tidak kompresibel yang dipengaruhi ole}}gravitasi clanviskositas umumnya
ditentukan olah tiga parameter, yaitu bilangan Euler (Foo - Py) /lh PUo2.bilangan Froude
UoIv g10dan bilangan Reynolds UoIJv .
Bila gravitasi tidalc penting. bilangan Eulel" dopat diabaik~ sehingga bilangan
Reynolds menlpakan parameter yang penting untuk keserupaan dinamis.
49

Untuk aljran dengmrpermukaan bebas. baik bi1anganReynolds maupun bi1anganFroude


harns diperhatikan.
Disamping bilangan tak berdimensi yang disebutlcandi mas yang penting daJam
alirantak kompresibel. masih ada beberapa bilangan tak berdimensi yang penting,
misaJoyabila efek kompresibilitas. eleldromagnetik dan sebagainya perlu di perbatikan.

5.10. ARTI FISIK DARI PARAMETER KESERUPAAN YANG PENTING

1. Bilangan Reynolds: Perl>andinganantaragaya inersia terbadap gaya gesekan


2. Bilangan Mach: Perbandingan antara akar dari gaya inersia terhadap akar gaya
akibat kompresibilitas fluida
3. Bilangan Fronde: Perbandingan aIltara gaya inersia terhadap gaya akibat
gravitasi
4. Bilangan Weber: Perl>andingan antara gaya ioersia temadap tegangan
pennukaan
5. Bilangan Euler: Perl>andioganantara gaya tekanan terhadap gaya ioersia
50

BAB VI
ALIRAN DALAM PIPA

6.1. Pendahuillan

Pada umumuya aliran fluida dapat dibedakan atas (1) aliran dalam saluran, yaitu
aliran yang dibatasi oleh permukaan-permukasn keras, dan (2) a1iransekitar benda, yang
dikelilingi oleh fluida yang sel~jutnya tidak terbatas. Pebedaan demikian hanyalah untuk
memudahkall peni1liauan saja, karena gejaIa dasar dan kelakuam fluida berlal..'UpOOa
kedua keadaan tersebut. Aliran melaJui pipa dipilih untuk mewakiJi bentuk penampang
lain karena dilapangan secara garis besar dapat kita jumpai dalam aplikasi lapangall.

6.2. Aliran l.aminer dan aliran Turbulen.


Koefisicn gesek untuk pipa silinder merupakan fungsi dad Re (bilangan
Reynolds). Kenyataan ini ditunjang oleh hasil-hasil eksperimen. Diagram fterhadap Re
untuk pipa-pipa silinder ini memu!iukkankarakter yang dernikian (lihat gambar 6-1):

f pada bilangan Reynolds yang


rendah f berkurang dengan
-- bertambahnya Re sebagai keba-
likan harganya.

Re

Gambar 6. 1 . hubungan antara koefisien gese(f) dan angka Reynold (Re)

Sedang<1kandi sekitar hcu'gaRe yang tertentu (sekitar 30(0)terdapat pembalmn harga f,


yaitu yang IIlrnllnjllkkanketergantul1ganfpOOaRe yang h.:bihkeei!.
Ontuk menyelidiki sebab perubahan tersebut perlu kita periksa alirannya secara
hUlj?,snng.Unluk tujuan illi kita rellcanakan suatu eksperimen dengan mengalirkall air
mclalui suafu pipa yang transparan. Bilangan Reynoidsnya dapat diubah-uabah dcngan
mengnbah laju aJiran maS3. Untuk membuat aliran lerlihat, kita dapat menyuntikkan
cairan \V~U"lla
scpaI1iculgtengab-tengah pipa seperti tcrlihaf pada gambar 6.2.Untuk
51

mudahnya akan kita anggap bahwa aJirnndiamati pOOasuatu kedudukan yang cukup jauh
dari penampang masuk pipa sedemikian sehingga prot1l kecepatan tidak berubah dengan
jarak. AHran demikian dikatakan telah mencapai kesetimbangan, atau sudah 'berkembang
penuh(atau 'tunak').

.- ."- .-. -. -- -.-.

Gambar 6.2. Penyunt.ikan zat Wa(I1ake dalam pipa untuk. menentukan


apakap a\iran laminer stau turbulen

Bilakita mulai dengan l~u aJiran masa yang kecil, maka terlihat bahwa a1irnnL.at
wama akan meugikuti suatu gans lW11syang jelas yang sejajar dengall 8umbu pipa.
Goresan zat wama tetap lurus pada waldu laju aJirnn seeara perlahan-Iahan diperbcsar.
Akan tetapj, setelah laju aJiran masa.melebihi suatu harga tortentu, seeara tiba-tiba.garis-
garis yang tegas aka.n hilang dan zat wama akan menyebar secara seraganl pOOaselwllh
pipa. Eksperimen ini pertama ka1i dilakukan oJeh Osborne-Reynolds, dan ditunjukkannya
bahwa OOadua modus yang mungkin pOOaa1iran mela1ui pipa. Da1am modus yang
pertama partikel-partikel fluida (air) mengikuti garis lurns yang sejnjar dengan pipa,' akran
tetapi dalam modus yang kedua tiap partikel fluida rupanya mengikuti suatu lintasan yang
sebarang di seluruh pip&,hanya gerakan rata-ratanya yang mengikuti sumbu pipa. Modus
pertama disebut aliran IamineI', sed8l1gkan modus yang kedua turbulen. Transisi dari
aliran laminer ke .a1iranurbulen tentunya merupakan fungsi dari bilangan Reynolds dan
bukan hanya pada kecepatan saja, yang dapat dituqjukkan dengan eksperimen. MaJaban
traosisi terjadi pada bilangan Reynolds yang bersangkutan dengan teljadinya
penambahan koefisien gesek secara tiba-tiba clankarena itu perubahan modus aliran ini
dapat dianggap sebagai sebab efek tersebut
Transisi terjadi karena di atas bilangan reynolds yang ter1entu a1iran lanliner
menjadi tidak stabit, bila suatu gangguan keeil diberikan pada aliran. Pengaruh gangguan
ini makin membesar dengan bertambabnya waktu. Suatu aliran dikatakan stabil bila
gangguan-gangguan diredamkan. Temyata bahwa di bawah bilangan Reynolds yang
52

t('rtentu aJiran pipa yang laminer bersifat stabil untuk tiap gangguan yang kecil dan
karena itu tetap laminer.Bila bilangan Reynolds diperbesar, aliran pipa laminer menjadi
tidal<stabil bila ada gangguan yang ti-ekwensinya tertentu dan akhimya untuk setiap
gangguan kecil. Parla bilangan Reynolds yang tinggi ini gangguan-gallgguan tumbuh dan
berinteraksi satu sama lain yang mengakibatkan gerakan fluktuasi yang sebarang yang
memberikan ciri pada aliran turbulen.
Karena Iransisi tergantung pada ganguan-gangguan yang dapat berasal dari luar
(karena getaran misalnya ) atau karena kekasaran permukaan pipa, fr.msisi tersebut clapat
terjadi dalam snafu selang biJangan Reynolds. DaJam eksperimen-eksperimen yang diatur
secara ha1i-hati.aliran laminer dalam pipa yang liill dapat diusabakan hillgga bilangan
Reynolds 2000 sampai 3000. Di bawab Re = 2000 aliran benar-benar bersifat stabil da
seialu laminer. Batas atas yang eksak dari hingga harga Re yang masih memungkillkan
terjadinya alirnn laminar belum diketahui. dan aliran laminer dengan Re sampai 40.000
telah diamati dalam 8uasana istimewa.
Alifan tw-bulcn dan turbulensi tidak terbatas pads alirall dalanl pipa saja,tetapi
juga terjadi pada aliran-aliran melalui permukaan atan benda-benda. MaJaban turbulensi
dapat teIjadi pada tiap jenis aliran asalkan bilangan Reynolds-nya cukup tinggi.
Tubulensi juga merupakan ciri dari beberapa aliran yang dijumpai sehari-hari. Sebagai
contoh, atmosfir hampir selalu ada dalam keadaan hJrbulen.
Jelaslab bahwa aliran tw-bulen tidak dapat dipandang sebagai aJiran yang benar-
benat stationer; selanjutnya lintasan aliran dari bagian-bagian fluida tertentu tidak dapat
diramalkan seem"a a. priori, walaupun untuk syarat batas geometris yang paling
sedehanapun. Paling baik harga rata-rata terhadap wal1u dan aJiran dapat dianggap
stasioner. clan arab rata-rata dari aliran dapat ditentukan. Bila kita menyederhanakan
persamaan Navier-Stokes, dengan menganggap aliran yang benar-benar stasioner atau
dengan menentukan lintasan aliran dari partikel-pm"tikelflnida secara a priori~ maim
dellga selldirillya kita telah membatasi tinjauan kita pada aJiran lanliner.
53

6.3 DISTRmUSI TEGANGAN GESER DALAM PIPA BIRPENAMPANG


LINGKARAN.

Kita akan menganalisa aHran dalam pipa bulat (berpenampang lingkaran), dan
pertama-tama akan mellUfuukanpersamaan yang umum yang menghubungkan tegangan
geser , penurunan t~kanan dan jari-jari, dan tidak menggunakan persamaan Navier-Stokes
secara langsung. Untuk ini, kita perhatikan suatu bagian dari pipa bulat dengan
penampang tetap, yang mengalirkan fluids dengan massa jenis yang tetap. Akan kita
anggap babwa alinm telah mencapai kesetimbangan (jadi telah berkembang penuh) daD
karena itu gradien tekanannya telah mencapai harga yang kostan.panjang pipa 1clanjari-
jari pipa r. sedangkan beda tekanan sepaqiang I besamya Ap (lihat gambar 6.3)

Gambar 6.3. disbibusi tegangan geser dalam pipe

Tekanan pada tiap penampang bersifat seragam karena pipanya lw'us dan karena itu
aJiran rata-rata arahnya mengikuti garis-garis sej~ar sumbu pipa. Untuk silinder keeil
yang tergambar dengan garis potus-putus, syarat kesetimbangan gaya-gaya
menghasilkan:

Ap. 1t~ =- 2 1tr t 1 6-1


di mana t tegangan geser pada koHt silinder yang bersangkutan. Bila rcJari-jari pip~
maka 6.1. menjadi :
Ap. 1tr~ = 21troto I (6-2)
Dapat dilihat dari 6.1 dan6.2 babwa:
r
T''='T'o'- (6-3)
ro
yang menyatakan bahwa tegangan geser harns berubah secara tinier dengan jari-jari.
Tegangan geser dinding 'to tentu ada hubungannya dengan koefisien gesek koefisien

gesek didefmisikan sebagai :6p = f.!-2 pv 'l.1_d (6-4)


54

Jadi, dari 6.2 dan 6.4 :


i r 1 2 I (6-5)
2.. --0:=J .- pv .-.
ro 2 d
atau
1 1 2 (6-6)
To = 4.J zpv

6.4 JAIU-.TAR! HIDRAUI,IK

Untuk saluran dengan penampang yang buka lingkaran, hubungan antura tekanan
dengan teganAangeser dapat dinyatakan sebag'cU:

P A- (p + dp) A + to S d x = 0 (6-7)
di mana s adalm. parameter (keliIiugpenampang). sehingga diperoleh :

.." :: ~.Ap
$ l
(6-8)

di mana I panjang pipa.


Untuk pipa berpenampang lingkaran, dari persamaan 6.2 dan 6.4 dapat
digabungkan menjadi :

To = t.p ro.
21 (6-9a)

:: f .~Pv2 (6-9b)
4 2

atan

r = 4.<> (6-9c)
- 1
__pv2[
2

Jadi bila harga eksperimental 'toatan f diketahni. maka besaran yang lain dapat dihitnng.
Deugau cara yang serupa, nntnk saluran betpenampang bnkan lingkaran. dapat
diturunkan.
55

bp = f. ;It
4A
PV2
2

Suku 4 Als menggantikan d, dan disebut drmeter ekivalen, de.Als adalah hasil b38i luas
penarnpang aliran dengan perimeter yang terbasahi dan disebut radius (jari-jari) hidraulik,
rhoUntuk saJnran dengan penampang tidak beraturan, digunakan diameter ekivalende di
tempat d, demikian pula unluk perhilungan bilangan Reynolds.
Untuk empat persegi panjang, dengan sisi-sisi a dan b, de = 4 ab/2(a+b)
= 2 ab/(a+b). wtuk annulus dengan diameter dalam d1dan diameter IU8l"d2,
de = n (d - d 12)/1,(
~ d 2 + d 1) =d2 - d 1.

Berdasarkan definisi diameter ekivalen di atas, maka untuk saluran yang tidak
sepenuhnya'diaJirif1uida, maka s hanyalah mencakup sebagian perimeter saja, yaitu
yang berselltuhan del1ganfluids, dan adanya permukaan bebas tidak diperhitungkan.
Konsep diameter ini temyata sangat berguna untuk mengorelasikan sifat-sifat
saJuran ya.n,gtidak berpenampa11glingkarang. Ada bcberapa penyimpa.ngan, terutama
pada saluran-saluran dengan sudut-sudut yang t~am, karena a.daQyaaliran sekunder yang
cuknp berarti dan menyebabkan kemgia.n-kemgianta.n1bahanpads nliran turbulen.

6.5 ALmAN LAl\fINER STASIONER DALAM PIPA.


Ulltuk aliran laminer, eksperimen ReY110ldsmenwljukkan bahwa tiap partikel
bergerak sepanjang garis lurns yang sejajar dengan sumbu pipa. Persamaan geraknya
d.'1patdisederhanakan sekaJi, d~U1dapat ditunjukkan bahwa tegangan gesemya sarna
dengal1:
du
(6-7)
~ :: Jl -d7
Dari persamaan ini yang menyatakan hubungan antarn gaya-gaya geser dengan .profil
kecepatsll untuk aJiran lamiller dalumpipa, dan dari 6.i diperoleh :

dll Ap (6-8)
-=-r
dr 21p
56

persamaan ini berlaku terbatas pada aJiran laminer karena mencakup anggapanbahwa
aliran bersifat stationer dan bahwa garis-garis ants merupakan garis-garis lurus yang
sejsY3fdengan sumbu.setelah integrasi diperoleh :
2
Ap ~ + konstan (6-9)
u = Zip 2

kecepatan fluida pada dinding pipa (r = ro), sarnadengan kecepatandinding, yaitl1nol,


karena syarat tidak OOanyapergeseran (no slip). Konstanta integrasillya dengan demikiall
dapat"dihitung sehingga :

...(6-10)

Tanda negatif di depan Ap menUl~iukkanbahwa hanya bila tekanan pOOadaerah hulu


(leiriOlebih besar dari hilir (kanan), fluida mengalir ke arab hilir (kanan). Persamaan di
atas menyatakan pula bahwa untuk alinui laminer daJam pip~ distribusi kecepatannya
bersif8t parabolik. Contoh di atas ini menunjukkan, bagaimana dengan syarat umum
kesetimbangRD,dan hukum tegangan geser, prpfil kecepatan dapat ditentukan. Dengan
menggunakan persamaan 7.10, I~u massa pipa dapat dihitung. yaitu :

Q = I~u2"rrdr

=- 6.p n.r~4 (6-11)


81J,t

sedangkan kecepatan rata-ratanya :

(6-12)

yangtemyata sarna dengan setengah harga kecepatan maksimun yang terjadi pOOa
tengah-tengah pipa. Persarnaan 6.12-dapat disusun kembali dalam bentuk:

D.p= hI.g
p
57

= 64l. ~
pvd.~ . 2

64 1'2 l
-. ----- .. ...(6-13)
F:e 2 d

Persamaall yang terakhir ini dapa1 diballdiugkan dengan pers3m3an untuk kell.lgiall
gc::.:ck~m
di dalam pipa. Untuk kasus khusus alinmlaminer, terlihat ballwa:

l v2 64 y2 l (6-14)
:: -J-=
d 2
__0-
Re 2 d

:ltau:

Jr _ 64
_. -- .. ...(6-15)
Re

yang menunjukkan bahwa f merupakan fungsi sederhana dari bilangan Reynolds.


Eksperimen menunjukkan persamaan dengan hasil Idi atas. Aliran laminer dengan profil
kecepatan parabolik dalam tabung silindrik ini dikenaJ sebagai aJiran PoiseuiUe atau
aliran Hagen-Poiseuille. Periu ditekankan bahwa distribusi kecepatan (persamaan 6.10)
\

dapat diperoleh dengan integrasi persamaan Navier-Stokes sec9J1llangsung.

6.6. Atiran turbute~ melalui pipa lidn; basiJ...hasiieksperimen.

Untuk menentukan profit kecepatan turbulrn di dalam pipu. kelihatannya sangat


logis hil1lkitn melaknknn 1ma.lisayang sempa clenganalinm huniner. T~tapi 3naJisa yang
demikian tidak alum berlmsil km"ellaaliranlak lagi stasioner da'llintasan partikel-partikel
t1uida sangat seharang, yang Inengakibatkan tidak mungkinnya peramalan gans-gans
ami::!.

Akan tetapi ada beberapa hal yang sepintas laJu dapat dikatakan dalam
menganalisa dish'ihusi kecepatannya. Harga rata-rata. clari kecepatan (terhadap waletu)
hm'us searah dengan sumbu pipa, profil kecepata.l1rata-rata harus simetrik terhadap
58

sumbupjp~ dan pada dinding pipa kecepatan fluida hw"usnol. karena syarat tidak adanya
pergeseran. Bentuk mnurn dari profit kecepatan ditunjukkan pada gambar 6.4.

A
B -. -. -. -. -.-

Gambar 6.4 Benlk umurn profil kecepatan

Eksperimen Rynolds menmyukkan bahwa dalam aliran turbulm, elernen-elemen


fluida.(yangjauh lebih besar dari satu molekul) bergerak sep31yangpipa secara sebarang.
Bila suatu partikel fluida bergerak tegak lurus pada arab kecepatan rata-rata (misalnya
dari A kc B daIam gambar 6.4). ia bergerak dad daerah yang momentum rata-ratanya
dalmn arab x yang lebih rendah ke daerah yang momentum (dalam arab x) rata-ratanya
~ebihtinggi. Oleh kan~n3ifu partikel tersebut akan mengadakwl gaya tahanan pada fluida
di 8ekitar B. demikian pula, bila suatu partikel bergerak menjauhi 8umbu pipa, ia ak.an
mempercepat fluida di sekitm.tempat bam yang didudukinya. Gaya-gaya ini merupakan
hasil dari gernk lintang turbulen dari partikel-partikel fluida dan merupakan sebab dari
geser (gaya geser nyata) dalam tluida. Dapat kita ingat bahwa gaya~gaya viskos dalam
gas semplUl13dapat dijelasakan berdasarkan gerak molekuler yang sebarang; yaitu bahwa
gaya-gaya gt'ser diha~ilkan oleh transfer momentum oleh gerak termal dari molekul-
molekul. Gejala yang s~ienis ter:iadidalam gerak turbulen. tetapi dalam skala yang lebih
besar.
Dapst kita mengerti bahwa persoalan aIiran turbulen dalam pipa akan bersifat
kompleks. Harga-harga koefisien gesek yang digunakan dalwll penggunaan teknik
s~b8gjan b~sar bersifat ernpirik, nkan tetapi dengail menggunakan analisa diperoleh
penjelas~Ul-pellielasanyang memuaskan tentang kecenderungan-kecenderungan yang
diamati. Lebih dahulu akan dibatasi data ek~perimental1jntukpipa liein. Analisa teoritis
akau menyusu1. Sela1~jutnya akan dibicarakan persoalan pipa-pipa kasar Yang
dimaksudkan dengan pipa licin adaIah pipa-pipa denga:1permukaan seperti gelas, plastik
59

atuu logam yaJ1gdihaluskan. Pipa-pipa kasar m~.ncakuppipa-pipa lain seperti pipa-pipa


baja, pipa-pipa besi dan pipa-pipa beton.
Korelasi tentang koefisien gesek dalam 8li~ turbulen pertama-tama diajukan
oleh Blasius (1911), dengaD melakukan survei secara kritis pada data dan
menfonuulasikan persamaan empirik berikut :
0,36
f=
Rl~ 114
YC1J1g
berlakl1untuk pipa licin sampai bilangan Reynofcis 10 3. Dapat dilihat bahwa faktor
ge.Rek dalam aliran turbulen berubah lebih pelan dengflll bilangan Reynolds dibanding
dellp,an pada aliran lamincr. Bila dimlAA3pbahwa pada Re = 2300 baik aliran laminer
maupun turbulen dapat terjadi, maka untuk aliran lamip-erf ~ 64IRe .

6-6..Turbulensi dan tegangan Reynolds

Tw.bulensi adalah gerak p3J1ikel fluida yang sebarang dan fak teratur, baik
mcnurut waJdu maupun ruang."Tak teratur" berarti bahwa gerak tersebut tak dapat
ditentukan flecarajelas sedangkan"sebarang "(random) berarti walupun tak teratur) harga
stalistik dari berbagai besaran dapat ditentukall.
Turbulensi dibangkitkan oleh gaya-gaya viskos dan oleh gerakan lapisan .fluida
yang berdampingall pada kecepa1anyang berbeda. Suatu gerak turbulen cenderung untuk
tcredam bjla tidak ada sumber energi luar. Sebagai contoh, bila. suatu jaring kawat
diletakkan di dalam terowongan angin, ulakan-ulakan yang bersekala agak besar akan
t~rbentuk dibelak:mg kawat-kaw:Jt terscbut. Ulakan-ulakan ini saling berinteraksi, dan
berdi~ipasi mel'undi uiakun-ulukull yang Ie-bih kecil, smnpai akhirnya disipasi 1111
berlall~sulIg akiba1 elek viskos lIIw"ni (juili bcrsekala molekuler). Oleh karena itu
turbulensi ml;'ncakupk~lompokpmtikel-partikel fluida.
Terdapat bcberapa kendalabila kita mencoba menyelesaik311secara analitik d3l'i
a1irnn tw-bulen, hal ini discbabkan karena alirnn tersebut bersifat sebarang dan tidak
Rtationer. Meskipull demikj8J) pemecahan tersebut dnpat didekati den,gan persamaan
Navier-Stokes. Persamaan ini mencakup aliran turbulen, dan karena itu masih dapat
diterapkan. Untuk rnernlliai analisa vektor, kecepatatl di dalam alirnn tlu.bulen kita
60

bedakan atas kornponen mta-rata (atau bulk), dan komponen kecepatan sekunder yang
berfluktuasi yang disuperposisikan pada yang pertama. Komponen sekunder ini
bersangkutan dengan gemk tal<teratur dan sebarang dalam arah komponen rata-rata. Jadi
bila 11,y clanw merupakan kOlllponensessat dalum arab x,y dan z dari snatu aliran
stationer'y, maka:

U = 1f+ u'
V ~.-v..I.y'

W=w+w'

Dimana u ,v w adalah kompouen rata-rata dan u', y' clan w' adalah komponen-
kompollcn 11ukturn;i. IJerJu.diperhatiklUl bahwa daJam aJiran tw'buien satu dimensi daJam
arah XI walaupun,v dan, w s~m1adongan nol, y' dan w' bclum tentu DOl.Sclanjutnya
sital fluida sepl~11itckanan dan maSSH jcnis juga memiliki komponen sesaat p dan p,
dell,",ankomponen fluktllHsi p' elmlp'. PengukunUl kecl~patan fluicla yang bedl uktum:Jiini

memcrlukan alat khusus, ya.itu anemometer J:awat pana.';, Y1mgmempunyai komponcn


ntama kawat balns ( diameter .10-..jsampai .5x 10..4 inei). Kawat ini dipanaskan dengan
alirall lis(rik stationer, clan laha1l31lnya diukur. Tahanan seballding dengall temperatw'
ka\.vat, yang selanjutnya t('rgantung pada k~e~patan aJiran fluida melaJni kawat tersebut.
KureJla kapasitas termiknya yang rendab, kawat terseLut bersifat saugat peka. terbadap
fluktuasi k0ccpatan yang cukup kedl dari aliran turbnlen. Isyarat yang keluar dari
ft.llometerkawat paml8 ini dapat. ditUJ~ukkan pada gambar berikut ini.
61

" t
I

\I

------

Garnbar; 6-5 : Ouktusi aliran lI.;;-DIJlen


62

BAR VII
LAPISAN BA T AS
o 7.1. KonsepLapisan batas

Lapisan batas (boundary layer) mempaksn suafu kons~p untuk aliran yang
terhambat, pertama kati diperkenalkall oleh Prandtl dalam thun 1904. Lapisan batas dava!
dianalisa pada bagialJ pipa dekat masuk, dimana profil kecepat~nya masih berkembang
dengan jarak dari penampang masuk. Disini pola alirallnya bukan merupakan pola aliran
yang setimbang aiau tckcmbang ponuh. Hal ini dapat dijumpai pada suatu tangki aL'W
rf;!s~rvojr,profit kecepata pada awaj penampang pipa akan terbentuk seragHID,dan fluida
mengalir ke arab bilir dan mengalcuni pel1.lbahanprofit kecepatall sampai gaya-gaya
gesekan teJah memperlambat fluida di dekat dinding dan profi} kecepatan akhir yang
tekemballg penuh tercapai. Pada daerah masuk, fluida dekat tengah-tengah pipa
tampaknya tidak dipengaruhi oleh gesekan. sedangkan fluida debt dinding telah
dipengaruhi oleh gesekan. Daerah dima.na efek gesekan terlihat dengan jelas disebl1t
lapisan batas. Scwaktu fluida ke hilir, lapisan batas ini tumbuh dan akhimya memenuhi
seluOlhpips.

-.-------- .~._~
Lapisan \Jalas

panjang masukan
la)

'//.
Lapisan batas
--Panjang masukan-
Ih)

Gambar 7-I. Pp.Jtumbuhan lapisan batas pada pipa .a). a1iranlamincr ;b).aliran turbulen.
63

Tebal Japisan batas, tegaJlgan geser didnding setempat (1oksJ) atoo koe.fisien atau
ha.mbatan setempat, dan tegangan geser rata-rata atan koeiisien gesekan rata-rata
morupakan haJ yang perln diperhatikan .
Tehallapisan batns dapat diekspresikan dalam sejumlah cara :
1. Dahull salah sat.udefinisi, teballapisan batas mengacu ke tebal sesungguhnya daer8h
aJiran yang tertmmbat, o.
2. KecepHJaJ)U daJam lapisan batas mendekati kecepatan ants bebas Us di titi asimptot,
dalam pengukuran profiI kecepatan lapis8Ubatas 0' lazim didefenisikan sebagai jarak
dmi batas ke titik dimana U = 0,99 Us.
.3. Tebal perpindahano.* didetiIlisikansebagai-jarnkI b~tas ,sesnngguhnyayang barus
dipindahkan agar l~u aliran sesmlggu~nyasarna dt1lJganlaju aliran fluida ideal yang
melewati batas yang berpindah tersebut.

1 IS IS . TJ
o 111
=-
Us
l (u:;- u)dv = ! (1 - ..:-)dy
. .. 0, Us.'

1. TebaJ momentum oi. didefinisikan sebagai jarak dari batas sesungguhnya yang
sedemikian rupa sehin.;~a i1uks momentum melalui daerah lapisan batassama deogan
fIuks momentum yang akan teJjadi dengan kecep~dankonstan Us melaJui kedaJaman
aliran yang dikurangi dengan 6i.

6 u u
8j=-:
. ! (J- - )-dy
0 u.s 11.:;

Jika uius diekspresikan menurut y, maka 0* dan oi dapat dikspresikan menurut o. Harga
o pada gilirall11Ya,
dapat ditemukall dari sebuah solusi pe"SIDUWlIl
lapisan batas.
64

o 7.2. Pemecahan pendekatan untuk lapisan batas


Untuk mempelajari metode pendekatan uotuk men.ghitung pertumbuhan lapisan
bata<;rnclalui pelst datar dan tegangan gesemya pOOa~)ermukaan)digunakan suatu model
s~df.'!rhalla)
yaitu dimana kita anggap bahwa kecepataIJmencapai harga aJiran bebas yang
tepat pada .im.~tk() dari petat. Tebal lapisan batns 0 ini bembah separyang petal. Jadi

Elemen Volume atur

x
I-dx-l Plat

Gamba!". }-2. Volume atur untuk penyelesaian pendekalan untuk aliran lapisan batas

Di luar garis batns yang menyatakan tebaJ lapisan batas, kecepatan fluida dianggap sarna
dengnn k~copatnnalinm bebas U(I,dan dnlnm lnpisan batas kecepfltannynperJahan-lahan
turnn <.InriU(Ipada y =0 sampai nol pada dinding.
Bcrbcda dengan anaJisa yang tcrdahulu, lIraian di sisni bcrlalm baik untuk aJiran
Imniner maupun turbnJen. tJntuk aJiran turbuJen, semua keCl"patan harns dianggap
8~bagaihm"sarata-ratanya terhaclapwaktu.
Sebmjutnya kita tinjau suatu eJemen volume atur yang dibatasi oJeh peln!, garis
batas dan dua gru-isvertikal sejarak dx. Lebar volume dapa! diambil satu-satuan.
AnaJisa rrInsamelalui pcnnukaan tegak kiri :
b

!n '" f~ 1'1<. (~,..

dan melalui permuka,,"Ultegak kanan :

~
.,1/1 ;;
J .Ii , .
m t dx:;-=- J {.IU dy + -- ( J pu dv ,\'~"K
c.Y: ("t . ax "" . .
selisih kedua aJirml ini adalah :
65

clandari pers::unmmkontinuitas, hams menga1irdari batas atas. Alin:mmomentum dalam


arab x melaJuipennukaan kiri :
5

M. ::.: J pu 2 dy
." I.'

dan melalui pcrmukaan kanan :

.M' , +
?NI.f, a
= --- (,J (Ill
.5 2.
(~y)dy:
6
+ j u dy
2
ax &;n II

dan bedallya adalah :


oj
3M, elx ::.:~d pu:Jdy)(b:
--Jx .Jx 0

L3jll alinm momentum rtari atas :


.. 0 .5 .J'.J
(M.< )<t", :::: U 1/ -( j f'l/JF4,Y)(-<'-x.:
ax II

kru'cna f1uida yang l1lengalir batm: atas mempunyai kecepatan Uo Dengan anggapall
OIx<l, maim alinm utama tidak terganggu oleh lapisan batas\ Dengan demikian tekanan

malalui lapisan batassl tetap kon8tan. Demikian pula kro-eoa lapisan bat.as tipis, semua
tW1Ulantcrhadap x sangat kecil dibandingkan turunan terhadap y, dan dapat diabaikan.
Satn gaya yang bekerja pads volume atur ada1ag gays geser pada. pelal, yaitu - t" dx.

Hukum momentum 110tukaliran stasiooer menyatakan bahwa jumlab semua gaya yang
bekcrja pada vlmue atm" pada arah -tertentu harns 8ama dengan jumlaj aljabar flux
momentum keluar dari volme ini daJam arab yang sam~jadi :

~ a
~ ( pu.).dy )dx - un -
ax a~; 0
(I udy )dx = -.r ndJ:
atau
, I
,j TT 2 ... r ' I u Ii (.I '--,
Y \ :::'
.
( ,.0 '. tl U Jt . ... ..n_. ) 0
".
",x 0 (I 0" rr 0 (' .
U

yang diperoleh setelah dilakukan pengalian dan pembagian dengan 0 di dalam tanda
kurnug dan mengeluarkan 0 dari tanda illtrgral, karena 0 hanya merupakan fungsi dari x.
sela1~ilJtnyaalum dianggap l>ahwaprofil kecep~an pada berbagai-bagai jarak sepmYang
pelat dapat dmmmya serupa, yaitu :
66

Selama tnk ada gmdien teJmn3n sepal1jang pelat, anggapan ini cukup baik. Dengan
anggapmlllil harga integral pad a.penmmnalJ <Iiatas sudah t~rtentu, miRalnya ct,.
Jadi persamaan lersebut me1tiadi:

d8
"U a
f"
2.
0 dx.
-
_.
f"u

knn'"a 0 hanya HI~rllpakall limg~i (Iari x sajn. K'onHt;.mta (1. InJlf:ih b(~Jnm diketahni.

Temyaia bahwa Ct.,yniptu :


I u.
'

[( I .- -
U
) -- ,.'"I _- v;>
d (-)
o Un un(r

kw'ang sellsitif terhadap hubun~an fUllgsionalyang teput antara ulU~ dengan y/~. Oleh
knr~na itu, tinp profil pendckatau yang cukup ba.ikmCl/ghasilkanharga a. yang mcndekati
harga sebenamya. Suatu profil k~cep~1t3nyang cukup baik adaJah profil kecepatan yang
memenuhi syarat-syarat pada dinding dan syan\t balas. Sebagai conloh :
y
-=U ,n
8111-- (kurva sinus)
Un 2 cJ

dan

l4. )l )ll
-- =; 2 (-) (parabola)
UtJ 0 0'

CJ 7.3. LapisaDbatas la~iDer-peDyelesaiaD peDdekataD


'

Untuk aliran laminer yang sejajar pel~ tegangan gesemya adalah :


o-u
'f=p-
oy

tegangan geser pada dinding:

d -~
.flu _ U(J ~ y=o
TO = P ( ~y ) ,.0 -T ! d; }
tunman ini dihilung deligan menggunakan profil yang sanla ya.ng kita misaIkan daIam
mf!nentukana.. Misalnya dengan df!mikian:
67

yang konstall. flehinggapersamaan me~jadi :


2 ciS "(..To
(}u ex -- == !.l---Ii
o dx . 8

yang mernpaJmll persamaan diferensial sederhana untuk ().


D!nganx = 0 pada l~1Jngd!panpel at) diperol!h :

atau

Tegangau geser pada dindiug :


- I
(}U 0 2 fij3a r=
...0 == - 2 V.IRe .V ,

clantekanan pada pel at :

f t"odx p- TT
<.0:1 r;::;--ji:_-, w
D == == '---lv2pa -,:=-
o 2 ~Re,

jadi

_ 2.J2Pa
CD __
-' D
--
~2 pTJ t 1 JRe t

Deugau memilih profil kecepatan yang sesuai. persamaan-persamaan di atas dapat


diselesaikan dan hasilnya dapat dibandingkan dengan penyeJesaian eksak. Kegunaan
metoda pelldekatan terutama terletak pada pemecahan soal-soal, dimana pel1yelesaian
eksak tidak atan sukar didapat. Hasit-hasil matoda pendekatan diatas unluk aliran laminer
(Jihat Schlichting) menunjukkan jawaban yang memenuhi persyaratan teknik.
68

CJ 7.4. Lapisan batas turbulen- penyelesaian pendekatan

Dahun mcnghitung karakteristik lapisan batas turbulen kita dapat menggunakan


prosedur yang sempa dengan untuk a1iran laminer. Akan tetapi, ada perbedaan. Untrik
aliran lamine..,kita hitung tegangan geser fluida permukaan dan gradien kecepatan duldy,
d~J1unluk itu kita gunakan suatu profit kecepatan yang kita misalkan. Menerka Buatu
protil yang teliti dengan gradien yang tepat adalah sukar, walaupun uutuk aliran laminer
me.nghasiJkan penyclesaian yang dapat diterima. lTiltuk aJiran tprbulen dijumpai
kesukaran, salah satu sebabnya adalah karena adanya sub-lapisan huniner dan transisi.
Untllk memecahkan kesukaran ini akan digunakan hsil-hasiul eksperimen, yang dapat
dinyataknn dengan bermacmn-:macam earn. S8tn bentuk' sebagai kelo.tYutan hasll
eksperimen adalah :

dan persamaan lapisan batac;diatas setclah diintegrasikan menjadi :

dimana 00 .h. tcballapisan bata.')pada titik transisi dari Imniner ke tw'bilen. Umumnya 00
dapat diabaikan bila kita tiJ1iau daenlh aJiran yang cu\mp panjang; d(~ngan demikian 00
dapat diabaikan, clan
" ,v l.{ X ' 4,,-
o = 0,058(--) iJ (__ .) /J
Uo 'a

. a V p. r; 02
'0 ::: (.) 0 4 65 (-," )
Re"

dan koefisiell gesekan untuk satu sisi :

CD = O.118(~-)!1
Ret

untuk menghitung, dapat digunakan profiJ turbulen berdasarkan hukum pangkat :


69

pOOadaerah yang turbulen penuh. Dengan menghitcng harga u pada ;) > dimana u = Do.
pt:'rbandillgan ke.dua ke.cepatan ini menjadi:
I
~_::: (X)1
TT
',,' u c'5

yang dapat digunakan daJam:

a ,'" JI,(1 -- --)


u., u
d ( --- )
y,

0' "0 Tlo '8'

untnk menghihmg (J,.


70

BAnvnI
J-tA[\'1BATAN DAN GAYA ANGKAT

8.1 Gaya-gaya lluida pada sebaab benda dalam suatu aliran


Apabila sebuah fluida yang viskous. tak <lapat mampat, dan banyak sekali
mengalir melailli ~ebllah beJlda yang t~rbenam di dalamnya, atau apabila sehnah benda.
b::rgt~j'ak dalmn Hc:idH yang ~ama (tlnida dalmn keadaan diam), ada 'dua macam gaya
yang bekelja di pemmlman benda itlt. Yang menyebabkan gaya-gaya di permukaan benda
illi adalah iekamm dan geseran vi~kous. Pada l>agiau pennukaan bellda yan~ tuasnya
rmngat kecil (infinitef;ima! area), gaya tekanaIJ rnempunyai arah normal terhadap bagiru1
itu sedan,f!kan .~a\la .gesenUJ viskolls
. . I . sehlJar atan 1I10Jlvinggung ba~iml tl~rselm1.
~ _ ... ". _..~ ....

f:ompoii:;"n gya-gaya ini yang searah dengau' arah gerak benda (atan arah gcrak tluirla
tf.~rha<lapbC'lIda) apabila di j!JlIIlahkall untuk keseluruhan permukaan benda akan
lIIengha~ilkall hambatan pro1il alau hambatan beutuk (form drag). Geloll1bang IllUllgkin
j:lga terb:JlJgkilblJ di p(~rrrltlk:rafJzal eair ap<1bilaada b~~nda yang h~Q;er3k di fJt"wmukaan
al<m dd:a\. pL~rn1UkaanIlYa. Km-eua penj~}Janu1 p'cdombang-gelombang ters~but
1I1~~mbutuhk;Ul
encrgi. mal~a hams ada gaya yang ter:iadi dalmn interaksi antara bcnda dan
!lnida. fJ:lJl!hat~1Iyang h~ljmfi ~{ihal pemhangkilan g'lomhang ini disdmt Immbatan
He/oman?, (...v:-\vt;>
drag) . Pada alinm gas dapal lIIampal juga dikc,ml kt'julall kOlllpresi
(compressIOn ~h()ck)_

ApalJila kOll1pOl1en-komponellgaya akibat t~kanau dun gest'orallVi8ko~ di chterah


yang sangat' kC'cil dimnbil dalam arah normal terhadap' 'fluida terhadap benda dan
dijumhthkalJ IIntuk kesel1l1111mnpermukaan benda, gay~ yang dihasi}kan disebnt gaya
aiigbl (Iill). Pada ~~fofil,gaya angkat ini juga mcnimbulkan gaya hambata11 yang dis~but
Immhatan fc.ri"duksi.

Dalam aliraIl sieadi Huida idea.l tidak viskos yang baJlyaknya tidal< t.erhingga,
h;J!lY~;gaya"gaya akibal kk:man yang acla sedangkan .gaya hambatan pada umuJlUJya
'-
:';('tw<!
dengall nol k(~cl1a.Jj
daJmualinUl.tree-caYi~y.Maka gaya angkat bisa teljadi daJrun
J!uida ideal hila b~~mlayallg bcrsangkutan dipengaruhi oleh vorteks nonrotasi, mall
sirkuJa81.Jadi haik cialamfJl.lirlaviskos mauplJndaJam fluida ideal, untuk menghasilkan
gay~ angkat dipedukall adanya\rorieksmau sirkulasi.
71

'
t"fl. l
' '

~"I hi ) (' i of n fl) I"<> n O '1 1'1' ) ' ' } I tt"r ) I.". I' (, id '<,i
t l. d''':::I\. l rl 1 iv t'
1)( inll) ! :... tn <:!Il
In a
'
l
')"l
4"' ,~... .,:::-' ...
L:1 V to.~!. } '.. Ild
)
t,K..~
] } I }...(,(.
1 (.,.
l )I) t.,...

dengall harnbalan prolil, yang ditiUlbulkan oleh teka.nan dan geserml vu::kos. Hambatan
profll l>i~:a t~ljadi k:1r~fJa gCr::\;"'faIlvi~kos sepemlhl!ya, !\~kanan 8l'penuhnya, al:111

knmbinasi kc:dmUlY,},j)alam kaSHSyang tcrakhir. gay;\ g\;'~,H;~ran


vinkos memai nl-mllperml
yang pi)ilting dalam IKrk:nnbang.U1 lapis<.ill batas dan dalmn penentuan letak Wik
pemi~~I!fpJl lapiRan batas dari pp.nlll1lwnIJb~l1c1a.Ini pmla gilinmnya b~"l)eng<lnJh parla
ulwrall \.I-'(.;kt:.d<ln peroedmm tekamUJ clidalanmya. kL'dmmya (111'111
mCiwlI{ukan lws:.u'
hambatal1 akibat tekanau, Bt?da tekanan YRngposif di baginI1 depml sebuah bt'llda juga.
belvellgm'llh t~rhadap hambatulekamm,
TTamhalun dick~pn':;ikml I:l'bagai ba:;;il bli ko('fisil~n hamhalun, l('kanall dinamil,
~ms bebaR. dnn \lIm~k;lnlkteri~tik. Hambar% di~k~presikan Rebagai:

p(1I:;)2
Hmnbalan =C A (X-I)
'2

('= coeJisjet1 hambatan

:\'" Ina}; km'akleri:;lik

Dalam ha1 hmnbalau.u.esdum gesekan klllit., lllas kar~u<lerislik mia-Iall 111(1;'''


daerah
yang mcngalami gcseran. Seem."aumum hambatan yang mcliputi baik geseran kulit dan
hambatan bentuk, I1mskarakteristik ada.lah luas proyeksi y~Ulgsejajar dongan arah a1iran.
~ '

Gambru' 8-1a untuk sebuah sHinder dips d~ngrul panjallg c, sumbu pendek a yang
diproyeksikan ke garis arus clan sumbu pm~jang b yang sej~jar denga.n aliran, hms
hambatan benluk adalah He sedanQ,kan
_. luas gava
. .. an,gkal
_0 adalah be. Karenu gava
...

al1gkatol~h f1uid~:biasanya berhubungan dengrul m~rofiJ(lihat gcunbm"8.1 b), disini sudut


t.~I:jang (angle of altac:k) ('J..bennacam-maca.rn t~rhadap antS yang ciat:lng, Inas
karakterisiik gaya angkat seringkali adalillll11aschord, yaitu pa1~jallgde kali lebar aerofil
buka.nnya luas yang !';ejajar dengan ants yang datang. Karena harga kOt~fisi(mC da}am
72

77--------
~~ ,
r b

('odisil'll h:.ullbulllil ,~T dipell,~(tl1Ihi oldl iapisau baias turhulen 'aLaI! lallliw,'f, Jib

lapi:';:lll b;:'::~: !;I/"iller, ('f Ih'rgnlllug pada mlgka R:.~ynols alinm yang did:l~ark;1JI pad:!

kt~l'epa{lI arus b~ba~ 1\::;dan palJjall~ peJat x. jika lapisilll bata." Il1rbulen, Cf terg.antung
pada angka Rcynols aliran, kd~asarml pc/a 1 clan tingkat tm-tHllcnsi ams bebHs.

I<lIIva-kurva koctj~ieJ1 hambataJl yang dibual seb~gai .tImgsi <lngka Reynolds


untuk p~1rllll.lk<mJl-permukaall pe.laL yang rnulus sepelii gambm" 8-2,
73

HamJ}atan tekanan (Cu)::


Ilambalan ti.'kanan mumi dialami oleh alinlll yang lIlelt~\.valiscbl1ah Iwlal rata

yang normal lerhadap garis CUl.lS.


Gaya~gaya g;:~senUlbd<Cl:ia dalaJII arah normal icrhauap
anw !:nn~na ilu tidak mt~mber;kan slIrn))(Hlgan langslIJJg k~pmia gaya hambat;:Hl.,NmnllJJ,

g,aya ini bifm be:'l)engaruh lerhad~1p pcrtumbuhan lapsan balaf\ di:,;eI,HIJ~j(\lI,g


per'nlUkaan
dan 1Iil'1lI{i:.:Iigall!hi
distriblJsi tebman ~,\'alaupun/.::eeil.

perrJlllb';i; dan :lllgka ;dir:m !<.e).'uolds alira): yaliS di,!<warkfU. p~tila slI:li:. di:n~~m,;i
b,n,k1':ri~,:lik!) !H'la a!!nl!! (1;111di~:tnb!lsi !('bmHn lIIil!!1-::!lil WI d.i:,! <ilme II'.'! d! r'o:'v.ibr

Iwmbat~1!l !Jlltuk ;)cbuuh pel:.;! y;mg p~lI~ia!lgnya tcr!t:ntu !wrganh!llg !"Hb IIdnlh ])/1... ~;'.'rt:i

nej. k<irena elek-eii.-k dibartall IIllIng. I)ntHk harga DiL dan OA hlll!.!ga 1.0 pad a ReI'"

"
'"
t, j " U" III
'

1 1()). " 1')",.,


llll lt llJ-'~' t ""'" II!', lf} <~, II.~" '''1
'
''
{,.: t IIJ .,.,:..
I"" II, t'., ,c.'
.~ . \ ('" '.(! ( '...' U . ~ \.\.. 1;
V'I
i {. ,,7"(.
11}{..

~ "1

D
I
l
::~ (a)
+1

,b)
c - p - p,
o

, - pu~/2
-I

~.wi'uall r:.,!al. ral.(I y,ln;;: lIonn>11 i(1lJCJ<j'.lr'anl~,: !,,,'h;J:'~,(:1) pola

Ilambat:m Kombina:~i yallg mckwali gL~::;8kart


kulit dan tekau:tII ( halllbalan kuli!)
A1irml yang. nwl('wati schuHh silinder lingk>tnl alall sebuah bola dapat rlimmlisH
se\.'ara auali(ik meng.gmmkan ha.rga-harga p~~lIdeka(aL;(erleniu yang b~rlaku uniuk a/ircUl
!am;,"'!', Hm:iI-IJ;IHI d~~:pJ'l'im:'H IIflllIl~ :,Iiranltllb"lell dapal diHl'aihm dl~Il!~(lJ1JIll'lIgacli h'

pt'rhlJnblih,m dan p~mj:'~ahmlJapj~.all balas. ( Jihat ~aJnhar 8-4).


74

1000 . . . ... ., .. . ..... . . . ". ".,


. . i., " .. !.....,.. :;,.:... ," ,

;i!j(J ). LUji..:: l.) :: . t.;',! (j;iii(.tI /;jW'(! ',t: JU::.:-.()JJ ch:)J';:l;


r-x.:.Bola ;$.:'; !.':-;.T: J_bH"\, ..).;; t';i t ,+w...,. ,,:'
100 ',f,$ t:',..i..' .;, i-;':'*(' .

, .\.>-."..:.,. .?I.-:......... .. .: '. . ; ..t", ' t...: of' t :, I .. "


;r " -
,.S".. to"'" .:..,....;....,<'' .'i .....;"...' ",,;...,J' .,..,.... -. ,;. (. .
"....... ..:':;y !''1- 'v.:..' . "'.'f""<--', . .... ': ' . . . . .. '. ,
Co 10 SilirideL . .-.,', . .'-' -. .'
8
..........,..."('::' '. .'
4
it '.':'.': . r:, '," \ii - . '. ....,. .. .
",.., ....:' ",:. . ..:..... . t. .
2 ,., . . Silin:fer,
, r--.;;:, ;
.' tSofa
. ..: '!. , " .
Efek kekasaran atau, turbu L--' ,"\.-
.-..
0.1 . - ......t. ............ .1l)sl.s .!;":".::.;::;.:I..:;, ...f.. .r
10' I 10. 102 IOJ 10'
R 11,0
co=-;-

(jalllhm. 8-,1. i,:Ut'/i:-:i..'II-kodisielJ ham()a(ml 1I\lluk bola d~UJ sililJdcr lillgkm'Hn i"JiniL
'}.:.IIIV:rI: ~iJi'I(It>,.;kllrva:? dall] twwitlg sesll3i dengan penmmml1l 8-3 dan 8-4.

l'~l!r"":1ulI!lIk glTak yaup; ~;~Ulgaflambal dalam hal 8ililHkr. IJll'lIcm'j CD clapat


rJigllJmk~n per~amaaJ) rlm-i N:1Vicr-~t()l\e8.

(\J :.: .------------------------

untllk Rei.' kllnlJlg elm" 0,5 . penyeleRajan yang mirip Ilnluk hola dibuat oleh
s(ok..-:sIIJ,:'\Jg<lha~ilakall/mlHbalan ~ 3J.lus 1t D ...( 8-2)
Ini hl'rlaku uutuk RC'I)'"0,1.

J ilea perRammUl 8. I Urul g.2 digabungkau, didapatkall baJl\ya uutuk reutang <lngka
Reynolds ini: CD ,. 24/ RCD ,. .(8-3)

Stokt'R jn~a IUPlllperJilmtl<an bHhwa St'j>{'!'1iga <tar; hambatan ;Iu adalah Immbafan
ll'kamlll dan dua i'erijA~tadahdt hambalan akil>at geseran vi~kous.

OSl'l'11flK'uYl'fJlpllnmkaJl ~()IIIsi Stokes d~ngan menyel1al:an pendekahm suku-


~Ilku kelemimnmn (inersia) yanszc1iabajkalloleh stokeR. sehjngga Oseen men_~ha8ilkall:
2/1 3
('c. '.'- (11- . . RC'jj ) .. .(8-,' )
Hl~!) 16

Y~IO(!b~rlaku unlllk Rl~ -:' 1


7S

S('cJ:mgl:an IllItl/l::tngka Reynolds Ilingga 100.

24 ..
_J
_I'
,.."
C'..
;) .-" . . ... (1 . ReD) ,'-.
Rei) 16

Jib. s~"'hllaIJbola jaluh di daJam ~ua!u Huida :;.-'angbanyaknya lidak terhingga


(dimensi fluida .iauh l~bih bt~sm-dibanding diam~ter. boia). gaya apung dilll gaya hmubat.
pada kecepalan tcrmi nal atau kcccpatan stcady sama dcngal1 gaya gravitasi yang dialami
oleh hot:'!, J"di IIntllk RCf) < ()..l
. hukmn RlokeR akan berlaku dan: "

nD' nD-'
..rf'
i' -:::-: + 3 .~!n~ n1) = 'fB, ___nu
6 6

Jib kccl'(wtan.iatuh liS, bend jcnis Huida yf clanbcratjenis bola 'Yfl,dall diam~t(;'r bola D
diket~lmi, yiBko:-:itm;f.hJidamhdah :

l' ,c-''/''' ------------- {8-6)


1.8U~

pl~rBmnmJ!ltlli ll!('nglwsi!kan lI1C'todc yang be/ul-hetul mudah.untuk nlcngllkur viskositm;


dlllaullk. Jika .t\uida lerdapat dalam JumJah yang tCfl-ala'), pcugaruh tlinding-dinding
\.vadahnya sc<bmiki:m rupa sehingga kodisien bambatan y~mg dihasilkm1 lebih tinggi
kt-,timhaugbila fI/Jida tidak terlmtas. Hila Huida tt'pat jatuh pada pusat sebuah silinder
Vt'liikal b('rdiallil~kr Dc. kt~cepaiaHrelatif llujda yang bereblahan de ligan bola menill~kat, j

hmnhutan jl!ga n,)f..t)ing!G:t,dan bola akan jatuh dengan kecepatan Ie-hillrendal1 dibanding
di Iill~l:UII?:W 11"ida yam~ imllyak nya lidak krbalas. Kcc~patan hasi I pen,RukuntJI Um hams

dikon'k::i L'rlJ::diip L::cqJatali ;,,:'!arallya dalalil fllli(:a tak h.\rbalas lis digunakan

J)
...,'~
76

1:.\'llailwlt H,>:.' ~IKaJ1 IlwlJghasilk(1]1 s\?huah wah~ lurLnku. dillJaHa pad:1 chwrah h~n;d>1lt

at:1II ~illlHl'>f'. Pt'l'gl"Sl>I'HHtltik pisah IlIIluk almm y:urg melewati sebll<lh bola alall f,'iliudcr
Jin9J<anm dapai dilihai dalam galllhHI' (8-5).

IIa11lhalCliigelombaug ( \.vavlAdrag) dapat terjmii pda ~l~blmhperahu aran kapaJ


berh.;yar eli /w111mkaanair, ge1ojl1bang k>rbaJ1gkifkanb:~jk di hall/an m:tllpllll eli hl1ritan.
Dihulllhk~U1ener~i gmla melHmlasi hmnbalau g("~clm:Jkulj.!. Halllb~ll:m ~H'iollliJaIl.~jm;a
dialami olch kaki po,)udarat pada pesawat amfibi, dati oleh kapal SChUHs~~rfahidl"Ofi)il
tetapi tidak c1!knpclalamsr.hingga nH'lF:ih
Y~Hgt!:"r~~ndam biflftmemlnmgki1k~!Igelombang
dipennuk:.!<.Ulair.

Ilmnbatan gelombang tfdak diukur secant hUJgsung, telapi diperhihmgkan sebagai


hambalan sisa sesmidah semu3. hambatall yang dapat dihitung atan didnga diklU"angkan
dari hambatan folaL Jadi,

lIambatau gclombang:" hambatan ~ol~1-- hfllubatan gcsd:an.


77

8.3. Gi1}'i1.Angl~at

Gcjala tentaug gaya angkat yang terjadi dalmn sebuah Huida ideal (tidak viskous)
akiliat p0nambahHHsr.:!nmhvortt'ks bebas (sirkuI3si) di seputar sebuah silinder dalmn
smiiu alinUi re;<lililler. Dalam Iluida Hejati (viskos), efek ini dapai tcriadi pada bola
pimp('ng, mi~;a!1!ya.deHgan Tlwmbuat bola iln herplltar kefika tf'rlontar di !Idilr~ Karaml
kect'pabm reiaiif aJltara udara dan bnia HamHd::ngan uol di pOIlHII!:a:!1Ibola. P\win~mH
(~;pin(1bola IIIclighasilkcm si:,bmih sirkulasi yang mcnY'::'l1lpajsdH!ah vortl'b.: be-has

disd)e\:'dJ hmr I~pjs~mhalHR.Sebuah top spin meng~lilsill<tln gay~ ke haw~h, ~edangkrm'


boUom spill m~lJglmsilkan gaya ke ata!>.

Gaya angJ:;1t

Gerak
bola

C;ambat".:';-5. Erd: hoftc'rn ~~pillp:1dasehu::!h bola yang bergcraL: dal:ml tluida 'lid:ou~:

Gaya ai1.~kat ulltuk i1wngaH~kat bid~Ulg HlIgkat ulTlulnnya dideft'oisilmll de-ngan


porsmnmm:

-'
p (usr
Gaya angkat.;:;; C 1; A
2

D~ngan C1ko~fisicn gaya angkat. p (lI~i:12 tekanan dinamik MUSbl~bas.dan a hms


chord bidang a.ngkat.
Bidang angkat (lifting vane) adalh bentuk-beutuk ymlg menghasitk~1IJgaya
angkat, misalnya Jayang-Iayang , aprofoit, hidrofbiL dan bilah haJin,g-bHIiug.J(arena
semua gaya angkat pada dasamya sama, maka cukup mempeh~jaript~lJmnenasalah satu
diantanmya.
78

KilHtS B;1ling-haJing.

Baling-baling adalah sl':huah bidang angkat selain gaya angkat juga hambatan
dialami oldl scuah dem'n kipasnya turut mcnghasilk@1 gayn dorong clan momen
gaya.(pcrh:-ilikan gambm' 8-7). Jika gerak lII<~!Ubaling-baling dalam air yalJg
, temmg
adal::lh U~, m~ka air mcnddwli baling..baling baling-baling tersl'"!butdengan kecepata11
yang sama clan sej~ar dengan poros. Jika laju gerak te-pilingkar baJing-bahng ~uhlJah
tit = (or, dan air mel1dekati baling-baling dengankecepatan tallgeusial lit , maka ger.~k

relalif yang dihasilkan dinyatakan dengan gerak \iektor UR. daJam ha] ini, sueIut teljang
saHIBdengan u. , dnn :,;U(lntkipas pada radius tertenlu ad3J~h p. Gaya dorong, yang s~.i~iaI'

dengan porm; untllk schuall elemen kipas sepw~i~g '~r, adahul :


gaya dorong ,-~gaya ~Ulgk(ltcos U3 -(1. )... hmllbatan Sill (p ,"u.)
<Ianmomen gaya tlo("ongada1alt :
Momon gaya ~= (gaY3 3ngkal 81J1O~ -(1.) + hamb~stan cos (13-(1.) ) r

Gaya angkat

Kecepatan
akibat
rotasi
Kecepatan
akibal
gerak maju

(jaya angkat ym1g diahulJi oleh aerofil d~pat dihitung ataH dinkuf socara 1angsung
drum]) sebuah terowongan augin (wind tunel) alau dahun tt!roW()Ug:UJ
air. Uutuk alimn
t.

dua dimensi. pengukm"an dalam terowol1gan bisa dilaksmmkan ~ecara tidal< laugsung
dcngan mengintegrasi tekanmt-tckanan yang diukur pada dillding-dinding bagian UJI
h~row()ngan at an telmmuHekanan di sellJnJh pemunpang nerotoil.
79

Sdi:.;ih a!jah:u- ::nI:Jr:1 anlara tekanmHe/:amu' yang umulllnya negatjf dj

pemlllkaaJl alas ,f()jJ (hill lekmmn.-tckanan yang umumnya po~ilif di perml1lm~U1ba\I\-'ah


abn ril~;llghm:iIbm i.;dmah g~lya ndto yang normal !erha<lap chord. Schagai pendekatan
pi~rla11la,kompollt;'11gaya ini ynll.!j normal Iprhadap Hn~i'bf'bas yang mrlldekat ad~lah
g~ya angkat udto ~h>roloil.
.fik:t px :!!l:1l:Jhkbmm p\>nnukmlIl pada jara); ,,~d:lI-i I('pi rlt'P,ffi f:t~bllabcwro[oil

Px. p~: :I,


! 'p ., (
p(H~r' I? "

J:lahull ~'(>II(H:a!:!II i!li fluid:! r!imtd;:ikan tid:d: ',..i~!ww~


80

BAB.IX

ALl RAN MAMP{J MAMPAT

Suatu keadaan dimana terdapat perubahan pada IDassa jenis fluid~akibat


pembahall kecepatan besar, yang menyangkut efek termodiuamika (umumnya terjadi
pada gas), biasa disebut alinm mampumampat. Ikompresibel. Variabel kerapatan
memegang peranan penting daJam aJiran fluida tersebut. Persamaan kontinuitas,
momentum, hukum termodinamika diperlukan daJam analisis situasi aJiran fluida
mampnmampat.

IX.I. Gas 5cmpurna

Fluida yang memenuhi persamaan p = pRT dikatakan gas sempurna (ped'eet),


Dimana p adaJah tekan8n mutlak, T subu mutlak, p kerapatan, clanR konstanta gAS.Panas
j~nis baik untuk volume konstan cv mapun ulltuk tekanan konstan cp sering dibubungkan
dengan !constantagac;.
Pada umunya panas jenis pada volume konstan, cv didefinisikan daJam bentuk
persamaan:

(' <3u ')


('V 0= I\, "~:- ' I
l.. r l}r

dan ;' ah '\

cp'" l,()T ),.

dimal1au adalah enel'gi dalam, h entalpi dengan ( h := \I +p/p). Karena pip 8ama dengan
RT dan bagi gas sempuma 11adalah tlmgsi suhu ',saja, maIm h bergantung hanya pada
s1IIni.Perbandingan panas jenis k bf:rdefimisi; k = ep/ev,atmldapa!ditulis:
Ir R
CIJ :: .-:..::_-R clan C\T:: ---
. k ,- I k -- 1
81

IX.2. Kecepatan gelombang Slrira; bilangan Mach.


Keeepahm suatu gangguan keeil di dalam konduit dapat ditentukan dengan
menerapk~mpersamaan momentum dan persamaan kontinuitas.
pVA = (p + dp)(V + dV)A
dimwm A adalah IU38penampang saluran. Persamaan tersebut dapat disederhanakan
menjadi ;
pdV+ Vdp) = {)
bila persamaan momentum diterapkau pada volume kendali : (di dalam garis putus-
putus),
pA- (p+ dp)A= pVA(V + dV-V)
atau : dp ==-p V dV, jika pdV dilenyapkal1di antara kedua persamaan tersebut, maIm:
V2=dp /dp

~ +dv

p p+dp
P p+dp
A A

Gambar. 9.1 aliran steadi di dataIll swan prosmatik dengall perubal131lkecil kecepatan.
tekanan, dan kcrapatan.

Suatu gangguan keeil atau perubahan mendadak yang keeil dalam kondisi-kondisi di
dalam alimll st~di lumya dapat terjadi bila di dalam konduit terdapat kecepatan khusus
V = (dp/dp)lf2 . untuk gangguanyang besar sepedi ledakanborn, dapat melintas lebih
eepat daripada keeepatan suara. Persamaan untuk kecepatan suara.

c= Jf
Contoh: 1, Ka1bon tetrakholorida mempunyai modus elastisitas curahan sebesar 1.124 GPa dan
kerapatan 1593 kg/m)' Berapa kecepatan suara dalam medium ini?
Penyelesaian :

1.124xl09 N 1m2
3 = 840m Is
1593kg 1m
82

IX.3. G-elombang kejut


Da1mllalinm satu dimcnsi satu-satunya jenis gelombang kejut yang dapat terjadi
adalah gelombang kejut kompresi normal. Seperti gambar 9-2:
1 2

:: Va -:\-- ~ ! 2.______

IIIIIII
Gambar. 9-2. Gelombang kejut kompresi tegak lurus
Gelombang kejut terjadi dalam aliran isentropi~ dan mereduksi aIiran menjadi a1iran
subsonik. OeJomb8l1gkejutmempllnyai ketebaJan yang sangat kecil. yal1g berorde-
kebesanm lintasan bebas rata-rata molekular gas yang bersangkutan. Persamaan yang
mengendaJikan aliran adiabatik ia1ah:

kontinuita s

m
a =-:::
A
P.VI = P2V2
Energt :
v2 V2
-L + hI
2
= -L
2
+ hi = ho =-V22 + --k
k-lp
p

Untuk hat tanpa perubahan ketinggian, tanpa perpindahan panas, clan tanpa
diJakukannya ketja. b = u + pIp = cpT iaJahentalpi,bo adaJahnilai entaJpistagnasi,yaitu
uilai di reselVoar atau di tempat fluida tidak bergerak. Persamaan tersebut berlaku untuk
fluida nyata baik di sebe-Iabbulu maupun di sebelah hilir suatu gelombang kejut
83

IX. 4. Aliran melalui lubang pancar.


.
Aliran gas meJaJuilubang pancar (nozzle) yang menyempit biasanya dipasok dari
sebuah tangki bertekanan atau bak penampung dimana kecepatan sarna dengan 1101mau
mendekati not Oleh sebab ibJ, tangki pemasok berada dalam, suatu kondisi stagnasi yang
diketahui, sedangkan kecepatan, temperatm-, dan tekanan di potongan lain dalam aliran
bertllrut-tm-utdiperoleh dari persamaan sbb:

v= ~2CP70(1-,~)
untuk aliran isentropik
. <Ie-I)
V =.12qJTo [ 1- L YT
(, po)

Temperatur pada sebuah potongall dimana angka Mach M diketahui dihitung


melaJui

-- _ 1 +-t-l
To M2
T 2
dan tekanan pada potonsn manaplUl kaJu3 angka Mach. diketahui
J:

po = -
k 1 2 (i-I)
-
( 1+ -M
)
.

p 2.
serla kecepalan dihitung dari persarnaan gas p= p RT
I
-po = 1+ -M Ie -.} 2 (.H)
)
p ( 2.

Pada poto1)gandi mana kecepatan sarna dengan laju bunyi (di leher salm-an),angka Mach
sarna dengan satu dan alirannya disebut aliran kritis.
Apnbiln aliran kelmU"anBonik dan tekanan di daerah penerimaan kurang dari
kritis, aIiran menjadi supersonik selepas clari lubang pancar lalu terdisipasi dengall
sendirinya melalui serangkaian gejala kejut yang berllrutan di luar lubang pa1!car
84

Tangki pemasok

I'll
3 (Daerah penerimaan)
To
Vo=0 .-

(a)

Bagian Daerah
leher penerimaan
Bagian
Tangki keluaran
I 2 3
pemasok
/10 p
To
Vo= 0
B
Masukan Lahar Kaluaran
(h)
(e)

',J:unb3I" ~j.3, ::Jliran gas melalui lubang pancar, (a) lubang !Janca!' tipe menyempit (0). lAlbang pancar tipe
menyempil-m~.1ebar. (c). Tekanan sumbu dalam lubang pancar.

Distribusi tekanan terhadap 8umbu di antara bagian masukan dan Jeher lubang pancar tipe
menyempit-meJebar dalam ganlbar. 9.3 C, Juga berlaku untuk lubang pancar tipe
menyempit.
Untuk lublmg pancar tipe menyempit-melebar (converging-diverging nozzle)
gambar 9.3 (b), Hliran tidak tel:jadi bila P3 = po (=PI = P2), dan seterusnya).Ketika
tekanan di daernh pent:!rimaanp3 menjadi rendall, aJiran keJuar melalui lubang pancar.
dengan tekanan yang minimum dan kecepatan ~g maksimum di bagian lehernya.
Apabila kecepatan di bagian leher sonik, laju aliran massa diperoleh dad hasil
kaJj VAp. Harga-hargakecepatnndan kernpatanbisa diperoleh untuk potongan yang
ma11apullasalkan tekanan clantemperatur disitu diketahui.

Contob :
Udara 700kPa &uutlal<pada suhu 40C mengalir dari sebuah tangki melalui sebuM
lubang pancar tipe menyeITIJ)it
yang luas keluarannya adalah 5 x 10 --4m2.Berapa teknnan
keluaran, temperatur keluaran, dan laju aliran apabila tekanan di bagian penerimaai1
adalah: (a.). 500 kPamutiak dan (b). satl1atmosfir (101 kPa mutlak).
85

(a). karena t~kanall di daerah penerirnaan lebih besar dari titik kritis (700)(0,528) = 370
kPa rnutlak, aliran di keiuran lubang pancar akan susonik, dan pI = 500 kPa mutlak.

U.286
.. (.1:,1:-1 .500
T, = To -pi '

( )
= 313 700
- = 284,2 K
l po J
m = V,A,PI
dengan
--
.5x 105 . I..,' 3
VI == ..12t:P I.'710 .- T l) = - = 6,1.)..::0; m
(287,1)(284 ,2)

:~ehmgga : rn = O,736kg I:;;

(b). 1'ekanan di da.erahpenerimaan di bawah titik kritis, karena itu tekanan keluaran kritis
pada pI = 370 kPa rnntlak. Temperatur ke)uara.l11'1 = 5 To/6 = 261 K ; VI sonik, karena
itu:

VI := JkR1'1 ::: J(2)(287 ,1)(261) = 323 m Is

1= = 370xl03 :: 4 94 J,~'m ~
fJ RT. (287,1)(261) , ~.

maka, m :=VIAlpl = (323)(Sxl0-4 )(4,94) = 0,798 kgls


.4,700x10-3 .
m ~ (0,0404)(5 x 10) . {?,
313 = 0,798 kg/s
<86

BAD.X
1\ I' "-.i { I TT [' T' n
J' ii~l~ \.j \.} 1.'I.\)j\.i",i~ {l 1
,\.11.T ~ r r 1 ,\."
! \.h..i~

IWlllllnll,:lnnllg, (2) P('f/gl~ljall !1I~i1lk kel:ja peralalall-peraJalau sl'pvrli pompa> turbin,

kipa};. biower, baling-baliug, dan m>rofoiL (3)studi-stlldi hidr()i(),~;i sdlllbun.t;'rlll d~ngan

cnn!.h !l!IiaH, draimlf;(' da:.'rah gl'mmgan air dan pernhagian St~rta1)('lIgt.'IIdaJianair dajam
:.nSII!lH~dilll inc:.lsl: (II) pelll~lIllIanharga :lp~lbil<lsmItH :Imda dipl'qmll helikan. lIIisalnya
air, gas, !lap IIlItut pr():~es atan p::mlanasan, dan hahan bakar f.:air: dan (5) kegi::tan-
b~gi(llaJl ek~periml.~11
dalam prpgnulI-progJ1111ltiset selta pengelllhaJJ,g';I.II.
Pada bah iui aka.n dibahas t~nla.!}g pengulmnm-pengukuran k~cepaJ.aJl clan
Pl'lIf.jukllran h~i" ~Iiran. .Pc'ngllkllnm alir:m adalah f:('buah illl1l1yang 1I1::'mh(lhaf:koeJh:il>1I
k~1"enau11Iomnya meneraplmn pt'nmmmlJl Bemoulli uni.uk ahran Z~ltCHII'dan penmm(}an
011crgi aliran st.::ady untuk aJiraii gas iscntropik (lIa.huH masing-nla.'iing kasus fluida
rli~nd(ljka" lanpa gnsckan) dan kemlldian mcmh(lndinp'lwH perilakn 1Jnida s~jati (viskolJs)
(itmgan i1uida ideal ~n~h.tluipembandiugan koe(iI,;ic8-kodisi~n ke.cepatan atau debit.

10-1. Pengukufan-pengukuran kecef)atan

K~ccpatan di sebuah titik a1au discjumlah titik, pada scbuah potongan senng
diperlukan untnk menggmnbarkan proiil kecepatan. Prom kecepatml bimmuya climinati
da1am tueli-studi dasar mt~ngena.ilapis3n batas atan \-vake, :ltau untuk menclapatkan
kecepatan rata-rata di selunJh polongan dari integraF-1i
profil kecl"'patan1.1ntuk
me.nentukan
l~ju aliran. Kecepatan titik adaJah Rebuah be~mranyang lmmpir tidak mungkin diukm",
km-l'1J8
alat sensor manapun nwmpunyai daerrul cakupanymJg tcrbata.~.NamuIl, jika hHL,)
ahran yang ditemr.>atioleh alat sensor fmngat.kecjl dibanding hm38 lotal aJinUl,kita boleh
beranggapan bahwa kecepatan yang diukur rli situ pada dasarnya adalab kecepatan titik.
Se:bagnj contoh, sr-hnah pen,gukur anls yang mempunyaj jangkalJan 20 em di sebuah
sungai yang besru' akan menghasilkan kecepatan titik. Laill lmlnya bila alaJ ukur ilu
.berada d::dam sC'buahpipa.
87

Tahun~ Pitot
Kalan s('bnah tilbung t~'rblikayang ditelmk di!i.~mpal.kanmenghadap ke arah hulu
dalmn :matu aJiran z.at e:1irtL'rlmka.,zal cair akan naik dalam tahung ilu setinggi h (efek
kapiler diabaik~Ul)iihar ga1l1bar10-1a. peI"smnaanBemoulli yang ditulis dari sebuah titik
,Ii fwldaJI hull! (~jllflgtabling yang ten~lIdarn~(lrnpaik(~qjung tabllug ilu s,~ndiriad31alI:

7 )
P \ '\-
+
1
p'::po ...~. .{lO-l}
J

karen:l <Ii daJam tabung krseout tl'l:iadi suatu koudisi 1':tagnasi. Km'('mm PI ~: r Yl clan

po = y (y1 + h). sf:'hinggak~cepatan arus (VI) rnel~jadi:


r::;:-,-
'
2 (II - /.., ",
". 1 -.- _. ~,

- "'-6 11 ...(10-2)
~ P

bila kecepatan 3J11Sdisebnah titikdaJam pipa yang hendak diukur ( g~mbHr lO-lb)
persamaan yang samajuga herlaku. Jika tekanan statik setinggi, yl akan besar sehillgga
pembacaan tinggi piezometrik yJ dan yl + h mungkin suiit ( yl akan sckitar 61 m untuk
air pada tekanan 600 kPa dahun sehuah pipa. Tabung d~lhun gambm' 10- 1b harns
terhubung dengan sebuah manometer seperti dalam gmnbru- lO-le untuk sistim yang lebih
baik. SeJisih antara tekanan stagnasi dan tekanan statik (aros beba'3) ada1ah :

po .-, pIc"" hm (I'm .'11)


dcngan hm ada1ah det1eksi manometer, dan ym selia "ff berturut-tnrut ada1ah berat jenis
1Ilanomeh~rclan l1uida yang mengalir. Kecepa1rul arus dengH11demikian menjadi :

. ..(lO-2)

Head total 8t~rat nknran tabung impact dan hnkmmnYfi hams :,;ekecil-I{I;~cilnyaagar yang
diuklu' b(>tul-betul sebuah kecepaian titik
88

,/////////// /.iLL-.

Qr
y, .

(a)
0 ~'E
I~
VI '0

'///////////////// YI/HA ,
(h)
I
1

Gmnbar 10.1 . Tabun~ pitat daiam (CJ')alira""12at.cair t.erbl.lka,(b) sebuah pipa, clan (c) st:bu:IDpip<Iyang

10-2. L~jualiran zat cair dalrunpipa

Berbagai cara Y~J1lgdapat digunakan mengukur lai11aliran zat call' dillmH plpa,
y,mg s(~rjllg diguuakau <Ii rumnh tangga sepcrti disk Int.'ter dan rot<.lto meter lInluk
Tl,Iengllkurpt-mHlutian ai", Pengukunm aJinm dalam piP3 pad prinRipnya mnmmrthatkan
beda lekallHn khmmsllva pada hagi~Ulmellyempil atan meuyiku pada pipa tel:;.;ebliLAda
dw! melod{~pt'nd~katan yang biasa digunakml yaitu :

1. Penggabungan p;;fsamiJanBernanlli dml persmmmnkontinuitas,


) AlaI ukn!" nJiran (now meter) hmgsnng yang telah dikalihrnsi

;;.- Amdish Venturi me-teT, :NoZ1.:h~meter, daD Orifi~~e meter.

Pcrsmnaan Bt:l11oulli dan persamaan kontilluitas yang diterapkan diautara


potoogan .i d::JH2 pmla gambaI' 10-2. arlalah :

-'~?-~~.-..i
2.g
ELt- =1 -.,
}'
~f
~g
~ E..?:t
r
z2

clan A: V t ." i\;~V 2


89

V2 :::.

dengan suku-suku da.lam ktU'ung di bawah 1~U}daakr menyatakan pernbaha.tl head


piezometl'ik Vh antara potongan 1 clan 2.pernbahan head piezometrik ini boleh diukm"
dengan ,o.1Oometer diferensial , dimana defleksil1ya merupakan ukuran langsung
\

nntukVh tidak peduJi bagaimana inklinasinya sumbu meternya (mungkill hori~ontaJ,


\ . .
vprtikaJ,(thinmiring). Ontuk laju aliran yang idea] dapat rliekspresikansebagai :

(10-3)

untukaliran steady untuk zat cair pcrsamaan energi adalab:

V2)i V2;'2
a 1 + ---'-. I 1.._ + ;;;1 '-. a 2 1 . _.L I L_._ l z 2 + hI
2g r 2g r .

--~t-
I
(a) -
2 . 3
T ctP_ J
D
1-
---fd----- -+-
~ f
(b)
2 3
T
D,
<:::>
--t- .
...L ......-
d

Gamber: 10-2. Meter-meter \.U1tukeliran pipe. (a) Venturi. (b) Nozz1~.(c). Orifice
-,

suku-suku (al.a2 dan HL) hams diperhitungkan, ini merupakan efek-efek viskous dan
kekasaran dinding. I)enyertaan koefisien aliran K pada persamaan 10-3, menghasilkan
bentuk-yang sederhana untuk laju ~inm sesungguhnya Q;
90

dengan d diameter leher me:t.er., Ini ada1ahdiameterpada potongan2 untukventwi. dan


nozle meter dalam gambar 10-3, dan diameter lubang sebelah hnln potong81l 2 untuk
orifice meter. Harga K dapat dituHs :
K = K (bentuk meter, (dID). Red)
Harga-hargakoefisien dapat dilihat dalam gambar 10-3.

Gafnbar 10-3. K,)(:fisicn-koefisiCf!:)til'anpendekalrtllunluk meter-r~ti:r dalam pipa.

Sehingga~

K'" ,...:..".i.r...=
(;iT; ,\ ),/2g ~h
dan Hnga reynolds dopat ditnlislmn seba~~l.i:
91

10-3. h1jnaUran z.~t r..ir do;lam tangki tcrbnka at.HI s;duran terbuk.l.

T ;tuf.ki terbuka.

Alin1l1zaf cair dari sdnwh lubang bunda,. pada ~.jsj sebuah tangki t~rbuka diduga
dt~Hgan ml~lluliskan pl~rsamaan Bemoulli dari sebuah lilik palla permukauft bebag ~.e
panc:.:ran yang scmpit. dimana g31"is-garis <lnw8l~iliar(dari titik 1 hingga titik 2 dalam
g:unbar 10.-)). K"~ci~plandi titik I tmkikatnya nol, Ian tekanan parla .1 d"n ? adalaj]
B~fnouJJi dalam IlaI tntadalah :
tek<man ainw~{ir, jadi PC!f::;iIUl:li!H

"': .:
=1..,. ..~J.. + -?
Z';,;

Ah=zl -Zl'

LJU--Zl I Y1

. KAo

'::hurl'.-1J" I i)-:1.. Alinn melalui !':cbuah1ubang bcJ:.as

Dan:

hun alimn seslluggnhnya ad~,lall:

D~ng;:JnAo 111m:;
l11b:mgp:lJ1car;.dml K ko~1i8ien atiran, yang h~rgantung p<toa kontnlksi
pancanlllluhang p~mcar ko polCJuga!12>clan pada efek~dck aliran tidak idl~a.lsepcrli mgi-
rugi hea.d yang be-rRantnng pacla k'kH8moan pcrmukaan seht'lah d~hun tangki dekat
lubang serta.l~iu a1inmoUntuk Huida ideal. dan ulltuk lub~mg kecil pada tangki yang besar
ditUf~ukkan balmm:
92

untuk Huida scjati, kontraksi bergantung pada kelcl.gkungan pinggiran sebelah bulu
luhaJlgkr.lllaran.Barga 1<yang JdmsIJntnklubang bel1>ingginmh~am arlaJah~ekilm'0,62.

10.4. Lain AUrao Gas f;ubsonik dalam pipa


Luju aliran gar, cJalam pipa dBpat diukur menw'ut alinm mas:;anya. Seperti uJltuk
l~iu a1iran zat cmr, meter aliran ga<;hams dikahbrasi unluk pengukunm-pengulmrnn yang
teliti.

Pada gambm- :10-2. Persamaanent'!rgi aliran steady, persmnaan kontinuitan, dan


persamaan isentropik dapat diterapkan diantara. potongan 1.dan p()longa~' 2 unluk meler
venturi dan IIJekr no;;:z.Je.PenmrmtaIl tt~rsebut.arl:tlah :

v~ '1,2
!- + hI =_.~'- + II2
'Zg 2g

. ,(i-I)/k
T2 p2 P
Dan : ~ = ( ,Pl. J atau 'pF =k(\n~t.an
Pcnggabungan persamaan-persamaan ini menghasitkan taju aJiran massa dalam
suku-suku menurut besaran-besaran pada potongan 2 dan potongan 1)

r r::;
m-_ A2 v2kp1 pILP2/pI) - (p2/ pI)(kool)!k -
211< l
',,/1 - (A2! .41./(p2/ p1)2fk

Persmnann ini boleh ditu]iskan d~dambentuk ymlg ]ebih sederhan, dibanding untllk a1iran
zat cair, dengan menyeltakan koefisien a1inmK (y~mgsarna sepe11iuntuk a1inmzat cair)
dan faktor ekspansi Y. Jadi.
93

r..-----.-----...
m o. KY.'\~42pl(pJ - fi2)

dimana, unluk venturi dan meter nozzle,

.
1
'--"
(
( -
.._~. \
,
,( I.. . \ :j..~-
..-

I
.
._'-'~
, :(~::;;J
\
k-
If-.-, (

'
::--~.~..l
.f \
,; ! r
[ !I "/~-I ) -- (j::~ ! II I .- l D) .J
)I .J: .... 1) '. '.'.__'.
... Pf I L I,. P I j ... JL . _. _.n..

\
\i
J '- rI! ( p 2') 1f11- I,' ..:-:
I )
ci ~ "p 2 '1
;. 1
.
1
W'

-'
]
. .
~ I \ pl. .1
[. \, l/ '.. p i,i

Persammm iui menun.iukl<anbahwa Y adalal.1sebuah tim!.sili.ga nisbah tak herdilllcnsi


yaitu :

r,/, t. ?
~.i
.
~

I'i' '.. 1'- II


__
"f.,..,.\.\

\I,'I. 1'1 '-I{) I

jal.li, untuk gm.: tN-tr:Ulu(dengall k tertcntll, Y besm- harm.:lah sl."'buahlimgsi p2/pl yang
unik unluk ~:eti:lpharga dlf) yang t~rknll1. Gratik nn'ak faklor ekspam:i Y clapa! dilihat

dahun gambar 10-5. Si.filt.alinm yang dapa. mampat (.~oe~ungguhnyagaB memnai kehka
lnel2\Vati Ichef meter) merethlksi laju aliran gas untuk kondisi awal dan pemU1man
kkanan yaut; dil':0t:lhui, dibanding bila alirml cliandaikan iidak dapat m<lmpat Tekanan
minimum dibagian h:her met~r venturi atau nozzle 83ma d..~Ilg<U1
tekanan kritis gas, yang
hila dinyalakan menllrut tebmm ~tagnasi: po, adalah :

( 1 ',k ;',Ie-.J)
1 I
,,,,',
I' "p ~J + 1 }

HaRd-tuiNil p~ngl~iianTIl(!mborikanfakt()r-J~iktor ekspansi sebagai berik'ui :

"r :.::1.. J j (I
.'. I~."1
.. p2
I I.11 + II- -,,,
"\..I ..
t-
.. ., -,. 'I '. to.
r, pI
!
94

d
li

0.7 J
j

~..I .;.., , :.
".

0.6
1.0 0.9 0.8 0.7 0.6
Nisbah lekanan, p./PI
Daftnr Pustaka.

1. HohmUl.J.P. ;'?xpe.rime!ltal
mcthodsjor EngiNeers.McGraw-Hili Book, Inc. 1984
2. Reuben M. Olso, Steven J. Wraighl Essentials of Engineering Fluid Mechanics.
Harper & Row Publisher, inc. 1990
3. Robert. 1 Daugherty, ~~t.at Fluid }'1echanics.Eighth Edition. 1985
4. Victor I. Streeter, Fluid Mechanics. McGraw-Hill, Inc. 1985.
96

Lampiran 1.

Suhu . QC
,0 o 20 40 (,() 80 100 120"

Ix10-2
8

1 x 10 I
8

, , 4
.1
6,1

4
-,.
w 2
"
J
.....
1 " 10" 2 c:
2 <L>
t(!.;
-.4 ,..JID j"6 ....
1-10
...
.....-..-6_.. , E
8
..._.. ,
4 ..,. E
\,

4
:"T 2
Z
.
.
..:0
'ca

a
(,)

'"0
... Air rakl8 E
..
i .2 1
8
X 10-3 !!
..
0
i
!.. _._ 6 ..
:> -
>1><10-51\ 4
-=
e
b
g
4 2 'm
0
3
"

... ... 1 x 10"4 ,-


f.I1
:>
... 8
.... . 6
1><106
8
b
...m ,4
.4 '2
3

2
HidrogeOf

1><10 0
1
50
mrnm
100 150
-..~.-
200 250
o '
Suhu, ' F
~
~~
'-'
~
:::
N

0,'
0,09,
.;,
0,08 TUrbulenli penuh, pip. k8ur
0,05
0,07
~ :.
....... 0,04
0,06 . !,l.LLJ. ;'~-ill
0,03
". ~ -_B~:=,:;~ltT=.~~-~::~;:=~-~ t1H"~+1
,.l_ -_. --.". ~ ,t"lfi
.~~--. J+~~::'.n_~ +_:';_. :::;+.f;.;":~::4~='::;:-:: ;i;H~'~
+~!!::-
,, -
~-'-'- --~-~
---
---.---....

I
. I:= . J I : ; ,. i'.v I I :- t....._
B
eo
II.
r- e... E.mm
I
! 0,015
B';' dik"ing C.OO3.0.03 0$-9.0
BOt<>" 0.001-0.01 0.3<1.0 ..l.Ll
p'P8n k.Y'oI 0.0006-0.003 0.18-0.8 i 11 10,0001
8" tY8ng 0.00085 0.:5 -;-n- I
e_i dlplb8nl 0.0005 0.15 i
a.i tuon; befjIW.Jj 0.0004 0.12 ' ,. PIP81~ln 0,000.05
I 0,01 ,,'
8.,. . bc'ti i
i 'TID. db;H\!"Ig" 0.000\5 0.0.8 ' ;'
"act,lr: tarik.1"I 0.000005 0,0015 :0,009 I"
0,008 0,000.01
7,)01) 3 . ~ ;.:, 9 1110'J 6; 1
';0\ "IC; 10' 10~

Bilengan Revnolds n.. ;P- satuan-utuan konsirten

Diagram Moody
~
98

LampiraD).

oI &'
20
&
Suhu. 9C
40
I .
60
I
80
&
100
.
1200
I
.
8
6

. .

. \1m 2
Hldrooen

4
~
to
E
2 ~.

1 X 11,5 '1
8 :;c
6
... ;
o
.. ~
:;
2

1 X 10-6
8 .
6

1 X 10-7
1~10- 0 SO 100 150 200 250
SUhu.oF
&.unbar Visltolitu Idnematik pa clan calrm tertentu. Gu bertekanan atiuu1u.