Anda di halaman 1dari 19

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi Sistem Respirasi


Pengertian pernafasan atau respirasi adalah suatu proses mulai
dari pengambilan oksigen, pengeluaran karbohidrat hingga
penggunaan energi di dalam tubuh. Manusia dalam bernapas
menghirup oksigen dalam udara bebas dan membuang karbondioksida
ke lingkungan.
Respirasi dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu :
1. Respirasi Luar yang merupakan pertukaran antara O2 dan CO2
antara darah dan udara.
2. Respirasi Dalam yang merupakan pertukaran O2 dan CO2 dari
aliran darah ke sel-sel tubuh.
Dalam mengambil nafas ke dalam tubuh dan membuang napas
ke udara dilakukan dengan dua cara pernapasan, yaitu :
1. Respirasi/Pernapasan Dada
a. Otot antar tulang rusuk luar berkontraksi atau mengerut
b. Tulang rusuk terangkat ke atas
c. Rongga dada membesar yang mengakibatkan tekanan udara
dalam dada kecil sehingga udara masuk ke dalam badan.
2. Respirasi/Pernapasan Perut
a. Otot difragma pada perut mengalami kontraksi
b. Diafragma datar
c. Volume rongga dada menjadi besar yang mengakibatkan
tekanan udara pada dada mengecil sehingga udara pasuk ke
paru-paru.
Normalnya manusia butuh kurang lebih 300 liter oksigen perhari.
Dalam keadaan tubuh bekerja berat maka oksigen yang diperlukan pun
menjadi berlipat-lipat kali dan bisa sampai 10 hingga 15 kali lipat.
Ketika oksigen tembus selaput alveolus, hemoglobin akan mengikat
oksigen yang banyaknya akan disesuaikan dengan besar kecil tekanan
udara.

3
4

Pada pembuluh darah arteri, tekanan oksigen dapat mencapat


100 mmHg dengan 19 cc oksigen. Sedangkan pada pembuluh darah
vena tekanannya hanya 40 milimeter air raksa dengan 12 cc oksigen.
Oksigen yang kita hasilkan dalam tubuh kurang lebih sebanyak 200 cc
dimana setiap liter darah mampu melarutkan 4,3 cc karbondioksida.
Karbondioksida yang dihasilkan akan keluar dari jaringan menuju paru-
paru dengan bantuan darah.
Proses Kimiawi Respirasi Pada Tubuh Manusia :
Pembuangan CO2 dari paru-paru : H + HCO3 ---> H2CO3 ---> H2 +
CO2
Pengikatan oksigen oleh hemoglobin : Hb + O2 ---> HbO2
Pemisahan oksigen dari hemoglobin ke cairan sel : HbO2 ---> Hb +
O2
Pengangkutan karbondioksida di dalam tubuh : CO2 + H2O ---> H2
+ CO2
Alat-alat pernapasan berfungsi memasukkan udara yang
mengandung oksigen dan mengeluarkan udara yang mengandung
karbon dioksida dan uap air. Tujuan proses pernapasan yaitu untuk
memperoleh energi. Pada peristiwa bernapas terjadi pelepasan energi.
Sistem Pernapasan pada Manusia terdiri atas:
1. Rongga Hidung (Cavum Nasalis)
Udara dari luar akan masuk lewat rongga hidung (cavum
nasalis). Rongga hidung berlapis selaput lendir, di dalamnya
terdapat kelenjar minyak (kelenjar sebasea) dan kelenjar keringat
(kelenjar sudorifera). Selaput lendir berfungsi menangkap benda
asing yang masuk lewat saluran pernapasan. Selain itu, terdapat
juga rambut pendek dan tebal yang berfungsi menyaring partikel
kotoran yang masuk bersama udara. Juga terdapat konka yang
mempunyai banyak kapiler darah yang berfungsi menghangatkan
udara yang masuk.Di sebelah belakang rongga hidung terhubung
dengan nasofaring melalui dua lubang yang disebut choanae.
Pada permukaan rongga hidung terdapat rambut-rambut
halus dan selaput lendir yang berfungsi untuk menyaring udara
yang masuk ke dalam rongga hidung.
2. Faring (Tenggorokan)
5

Udara dari rongga hidung masuk ke faring. Faring


merupakan percabangan 2 saluran, yaitu saluran pernapasan
(nasofarings) pada bagian depan dan saluran pencernaan
(orofarings) pada bagian belakang.
Pada bagian belakang faring (posterior) terdapat laring
(tekak) tempat terletaknya pita suara (pita vocalis). Masuknya
udara melalui faring akan menyebabkan pita suara bergetar dan
terdengar sebagai suara.
Makan sambil berbicara dapat mengakibatkan makanan
masuk ke saluran pernapasan karena saluran pernapasan pada
saat tersebut sedang terbuka. Walaupun demikian, saraf kita akan
mengatur agar peristiwa menelan, bernapas, dan berbicara tidak
terjadi bersamaan sehingga mengakibatkan gangguan kesehatan.
Fungsi utama faring adalah menyediakan saluran bagi udara
yang keluar masuk dan juga sebagi jalan makanan dan minuman
yang ditelan, faring juga menyediakan ruang dengung(resonansi)
untuk suara percakapan.
3. Batang Tenggorokan (Trakea)
Tenggorokan berupa pipa yang panjangnya 10 cm, terletak
sebagian di leher dan sebagian di rongga dada (torak). Dinding
tenggorokan tipis dan kaku, dikelilingi oleh cincin tulang rawan, dan
pada bagian dalam rongga bersilia. Silia-silia ini berfungsi
menyaring benda-benda asing yang masuk ke saluran pernapasan.
Batang tenggorok (trakea) terletak di sebelah depan
kerongkongan. Di dalam rongga dada, batang tenggorok bercabang
menjadi dua cabang tenggorok (bronkus). Di dalam paru-paru,
cabang tenggorok bercabang-cabang lagi menjadi saluran yang
sangat kecil disebut bronkiolus. Ujung bronkiolus berupa
gelembung kecil yang disebut gelembung paru-paru (alveolus).
4. Pangkal Tenggorokan (laring)
Laring merupakan suatu saluran yang dikelilingi oleh tulang
rawan. Laring berada diantara orofaring dan trakea, didepan
lariofaring. Salah satu tulang rawan pada laring disebut epiglotis.
Epiglotis terletak di ujung bagian pangkal laring.
6

Laring diselaputi oleh membrane mukosa yang terdiri dari


epitel berlapis pipih yang cukup tebal sehingga kuat untuk
menahan getaran-getaran suara pada laring. Fungsi utama laring
adalah menghasilkan suara dan juga sebagai tempat keluar
masuknya udara.
Pangkal tenggorok disusun oleh beberapa tulang rawan yang
membentuk jakun. Pangkal tenggorok dapat ditutup oleh katup
pangkal tenggorok (epiglotis). Pada waktu menelan makanan,
katup tersebut menutup pangkal tenggorok dan pada waktu
bernapas katu membuka. Pada pangkal tenggorok terdapat selaput
suara yang akan bergetar bila ada udara dari paru-paru, misalnya
pada waktu kita bicara.
5. Cabang Batang Tenggorokan (Bronkus)
Tenggorokan (trakea) bercabang menjadi dua bagian, yaitu
bronkus kanan dan bronkus kiri. Struktur lapisan mukosa bronkus
sama dengan trakea, hanya tulang rawan bronkus bentuknya tidak
teratur dan pada bagian bronkus yang lebih besar cincin tulang
rawannya melingkari lumen dengan sempurna. Bronkus bercabang-
cabang lagi menjadi bronkiolus.
Batang tenggorokan bercabang menjadi dua bronkus, yaitu
bronkus sebelah kiri dan sebelah kanan. Kedua bronkus menuju
paru-paru, bronkus bercabang lagi menjadi bronkiolus. Bronkus
sebelah kanan(bronkus primer) bercabang menjadi tiga bronkus
lobaris (bronkus sekunder), sedangkan bronkus sebelah kiri
bercabang menjadi dua bronkiolus. Cabang-cabang yang paling
kecil masuk ke dalam gelembung paru-paru atau alveolus. Dinding
alveolus mengandung kapiler darah, melalui kapiler-kapiler darah
dalam alveolus inilah oksigen dan udara berdifusi ke dalam darah.
Fungsi utama bronkus adalah menyediakan jalan bagi udara yang
masuk dan keluar paru-paru.
6. Paru-paru (Pulmo)
Paru-paru terletak di dalam rongga dada bagian atas, di
bagian samping dibatasi oleh otot dan rusuk dan di bagian bawah
dibatasi oleh diafragma yang berotot kuat. Paru-paru ada dua
bagian yaitu paru-paru kanan (pulmo dekster) yang terdiri atas 3
7

lobus dan paru-paru kiri (pulmo sinister) yang terdiri atas 2 lobus.
Paru-paru dibungkus oleh dua selaput yang tipis, disebut pleura.
Selaput bagian dalam yang langsung menyelaputi paru-paru
disebut pleura dalam (pleura visceralis) dan selaput yang
menyelaputi rongga dada yang bersebelahan dengan tulang rusuk
disebut pleura luar (pleura parietalis). Paru-paru tersusun oleh
bronkiolus, alveolus, jaringan elastik, dan pembuluh darah.
Bronkiolus tidak mempunyai tulang rawan,tetapi ronga bronkus
masih bersilia dan dibagian ujungnya mempunyai epitelium
berbentuk kubus bersilia. Setiap bronkiolus terminalis bercabang-
cabang lagi menjadi bronkiolus respirasi, kemudian menjadi duktus
alveolaris. Pada dinding duktus alveolaris mangandung gelembung-
gelembung yang disebut alveolus.

Kapasitas Paru-Paru
Udara yang keluar masuk paru-paru pada waktu melakukan
pernapasan biasa disebut udara pernapasan (udara tidal). Volume
udara pernapasan pada orang dewasa lebih kurang 500 ml. Volume
udara tidal orang dewasa pada pernapasan biasa kira-kira 500 ml.
ketika menarik napas dalam-dalam maka volume udara yang dapat
kita tarik mencapai 1500 ml. Udara ini dinamakan udara
komplementer. Ketika kita menarik napas sekuat-kuatnya, volume
udara yang dapat diembuskan juga sekitar 1500 ml. Udara ini
dinamakan udara suplementer. Meskipun telah mengeluarkan
napas sekuat-kuatnya, tetapi masih ada sisa udara dalam paru-
paru yang volumenya kira-kira 1500 mL. Udara sisa ini dinamakan
udara residu. Jadi, Kapasitas paru-paru total = kapasitas vital +
volume residu =4500 ml/wanita dan 5500 ml/pria.
8

Pertukaran Gas dalam Alveolus


Oksigen yang diperlukan untuk oksidasi diambil dari udara
yang kita hirup pada waktu kita bernapas. Pada waktu bernapas
udara masuk melalu saluran pernapasan dan akhirnyan masuk ke
dalam alveolus. Oksigen yang terdapat dalam alveolus berdifusi
menembus dinding sel alveolus. Akhirnya masuk ke dalam
pembuluh darah dan diikat oleh hemoglobin yang terdapat dalam
darah menjadi oksihemoglobin. Selanjutnya diedarkan oleh darah
ke seluruh tubuh.
Oksigennya dilepaskan ke dalam sel-sel tubuh sehingga
oksihemoglobin kembali menjadi hemoglobin. Karbondioksida yang
dihasilkan dari pernapasan diangkut oleh darah melalui pembuluh
darah yang akhirnya sampai pada alveolus Dari alveolus karbon
dioksida dikeluarkan melalui saluran pernapasan pada waktu kita
mengeluarkan napas.
Dengan demikian dalam alveolus terjadi pertukaran gas yaitu
oksigen masuk dan karnbondioksida keluar.

2.2 Anatomi dan Fisiologi Paru-paru


2.2.1 Trakea
Trakea (batang tenggorok) adalah tabung berbentuk pita
seperti huruf C yang di bentuk oleh tulang-tulang rawan yang di
sempurnakan oleh selaput. Trakea terletak di antara vertebrata
servikalis ke-6 sampai ke tepi bawah kartilago.Trakea mempunyai
dinding fibroelastis yang panjang nya sekitar 13 cm, berdiameter
2,5 cm dan dilapisi oleh otot polos. Diameter trakea tidak sama
pada seluruh bagian, pada daerah servikal agak sempit, bagian
pertengahan agak sedikit melebar dan mengecil lagi dekat
percabangan bronkus.
Bagian dalam trakea terdapat sel-sel bersilia untuk
mengeluarkan benda asing yang masuk. Bagian dalam trakea
terdapat septum yang disebut karina yang terletak agak ke kiri
dari bidang median.
2.2.2 Bronkus
9

Bronkus (cabang tenggorok) merupakan lanjutan trakea


yang terdapat ketinggian vertebrata torakalis ke-4 dan ke-5.
Bronkus memiliki struktur yang sama dengan trakea, yang dilapisi
oleh sejenis sel yang sama dengan trakea yang berjalan ke bawah
menuju tampuk paru-paru.
Bronkus terbagi menjadi dua cabang:
a. Bronkus prinsipalis dekstra
Panjangnya sekitar 2,5 cm masuk ke hilus pulmonalis paru-
paru kanan dan mempercabangkan bronkus lobularis superior.
Pada masuk ke hilus, bronkus prinsipalis dekstra bercabang
tiga menjadi bronkus lobularis medius, bronkus lobularis
inferior, bronkus lobularis superior.
b. Bronkus prinsipalis sinistra
Lebih sempit dan lebih panjang serta lebih horizontal
dibanding bronkus kanan, panjangnya sekitar 5 cm berjalan ke
bawah aorta dan di depan esophagus, masuk ke hilus
pulmonalis kiri dan bercabang menjadi dua, yaitu bronkus
lobularis inferior, bronkus lobularis superior.
Dari tiap-tiap bronkiolus masuk ke dalam lobus dan
bercabang lebih banyakdengan diameter kira-kira 0,5 mm.
bronkus yang terakhir membangkitkan pernapasan dan
melepaskan udara ke permukaan pernapasan di paru-paru.
Pernapasan bronkiolus membuka dengan cara memperluas
ruangan pembuluh alveoli yang merupakan tempat terjadinya
pertukaran udara antara oksigen dengan karbondioksida.
2.2.3 Paru-paru
Paru-paru adalah salah satu organ sistem pernapasan
yang berada di dalam kantong yang di bentuk oleh pleura
parietalis dan viseralis. Kedua paru sangat lunak, elastic dan
berada dalam rongga torak, sifatnya ringan dan terapung di air.
Masing-masing paru memiliki apeks yang tumpul yang menjorok
ke atas mencapai bagian atas iga pertama.
1. Paru-paru kiri:
Pada paru-paru kiri terdapat satu fisura yaitu fisura
obliges. Fisura ini membagi paru-paru kiri atas menjadi dua
lobus, yaitu:
10

a. Lobus superior, bagian yang terletak di atas dan di depan


fisura.
b. Lobus inferior, bagian paru-paru yang terletak di belakang
dan di bawah fisura.
2. Paru-paru kanan:
Pada paru-paru kanan terdapat dua fisura, yaitu: fisura
oblique (interlobularis primer) dan fisura transversal
(interlobularis sekunder). Kedua fisura ini membagi paru-paru
kanan menjadi tiga lobus, lobius atas, lobus tengah dan lobus
bawah.
2.2.4 Pleura
Pleura adalah suatu membaran serosa yang halus
membentuk suatu kantong tempat paru-paru berada yang
jumlahnya ada dua buah dan masing-masing tidak berhubungan.
Pleura mempunyai dua lapisan, parietalis dan viseralis:
1. Lapisan permukaan disebut permukaan parietalis, lapisan ini
langsung berhubungan dengan paru-paru serta memasuki
fisura dan memisahkan lobus-lobus dari paru-paru.
2. Lapisan dalam disebut pleura viseralis, lapisan ini
berhubungan denganfasia endotorakika dan merupakan
permukaan dalam dari dinding toraks.
Sinus pleura adalah tidak seluruh kantong yang dibentuk
oleh lapisan pleura diisi secara sempurna oleh paru-paru, baik
kearah bawah maupun ke arah depan. Kavum pleura dibentuk
oleh lapisan pleura parietalis saja, rongga ini disebut sinus pleura.
Pada waktu inspirasi, bagian paru-paru memasuki sinus dan pada
waktu ekspirasi ditarik kembali dari rongga tersebut.

2.3 Definisi Kanker Paru


Keganasan yang terjadi 90% di epitelium bronkus yang tumbuh
lambat memakan waktu 8-10 tahun dan tumor mencapai ukuran 1 cm,
dimana lesi terkecil dapat dideteksi dengan x-Ray.

2.4 Etiologi
Mayoritas kanker paru disebabkan oleh merokok dan juga akibat
terpapar oleh asap rokok. Semakin banyak rokok yang dihisap maka
11

akan semakin besar kemungkinan terkena kanker paru. Rokok


dipercaya dapat merusak sel yang melapisi paru-paru. Ketika
menghisap rokok yang penuh dengan zat karsinogen (zat penyebab
kanker), perubahan pada jaringan paru-paru pun segera dimulai. Pada
awalnya tubuh Anda mungkin dapat m

emperbaiki kerusakan ini, tetapi bila terjadi berulang, sel-sel


normal yang melapisi paru-paru pun semakin lama akan mengalami
kerusakan yang semakin parah dan menyebabkan sel tersebut
bertindak tidak normal, pada fase inilah kanker pun dapat
berkembang.

Adapun faktor lain penyebab kanker paru antara lain paparan


gas radon, paparan asbes dan bahan kimia lainnya, riwayat kesehatan
keluarga, konsumsi alkohol yang berlebihan.

2.5 Patofisiologi
Kasinoma bronkogenik adalah kanker yang timbul dari lapisan
epitelial bronki; ini merupakan bentuk kanker paru yang paling umum
dan mencapai sekitar 90% kasus (Finkelmeier 2000). Jenis kanker ini
kemudian dibagi lebih jauh lagi seperti diilustrasikan pada gambar 6.1.
Adenokarsinoma mencapai 50% tumor paru (DAmico & sabiston
1995). Insidensinya semakin meningkat dan terjadi lebih banyak pada
wanita dibandingkan pria. Ini merupakan kanker paru yang paling
mungkin terjadi pada bukan perokok (Sirdhar & Raub 1992). Angka
ketahanan hidup lebih besar pada jenis ini dibandingkan yang lainnya.
Karsinoma skuamosa merupakan 30-35% kanker paru, terjadi
paling sering ada orang dengan riwayat merokok yang lama.

Kanker paru

Karsinoma bronkogenik Karsinoma


(90% dari semua kanker bronkoalveolar
paru)
12

Karsinoma bukan sel Karsinoma sel kecil


kecil (non small cell) (small cell)

Adenokarsinoma (50% dari


semua kanker paru)
karsinoma skuamosa /
epidemoid (30-35%)
karsinoma sel besar ()large
Karsinoma sel kecil (small cell) merupakan 20-25% kanker paru;
sebagian besar penderita kanker ini memiliki riwayat merokok. Jenis ini
sangat ganas dan ditandai oleh waktu perkembangan tumor yang
cepat, penyebaran dini dan meluas, dan ketahanan hidup pasien yang
reloatif rendah. Akibat penyebarannya yang cepat, reseksi bedah
jarang dilakukan.
Karsinoma bronkoalveolar berasal dari parenkim paru. Jenis ini
menyebar di sepanjanhg dinding alveolar. Jenis ini juga dikenal sebagai
karsinoma alveolar, karsinoma bronkioalveolar, dan karsinoma
bronkiolar.
Tumor paru dapat menyebar ke seluruh tubuh melalui tiga jalur
utama : pertama dengan perluasan langsung, kedua menyebar melalui
sistem limfatik, dan terakhir dengan penyebaran hhematologi.

2.6 Manifestasi Klinis

Kanker paru-paru biasanya tidak menyebabkan tanda dan gejala


pada tahap awal. Tanda dan gejala kanker paru biasanya terjadi hanya
ketika penyakit sudah lanjut.

Tanda dan gejala kanker paru-paru dapat meliputi:

- Batuk yang tidak kunjung sembuh (lebih dari 2 minggu)

- Perubahan batuk kronis


13

- Batuk berdarah

- Perubahan warna dan meningkatnya jumlah dahak

- Bunyi seperti yang terjadi pada penderita asma saat bernafas pada
bukan penderita asma

- Sesak nafas

- Nyeri pada dada dan tulang

- Nyeri pada saat menarik nafas dalam-dalam

- Perubahan suara menjadi serak

- Penurunan berat badan yang drastis

- Sakit kepala

- Pembengkakan di wajah atau leher

2.7 Faktor Resiko Kanker Paru


1. Merokok
Kanker paru beresiko 10 kali lebih tinggi dialami perokok berat
dibandingkan dengan bukan perokok. Peningkatan faktorr
risiko ini berkaitan dengan riwayat jumlah merokok dalam
tahun (jumlah bungkus rokok yang digunakan setiap hari
dikali jumlah tahun merokok) serta faktor saat mulai merokok
(semakin muda individu memulai merokok, semakin besar
resiko terjadinya kanker paru). Faktor lain yang
dipertimbangan juga termasuk di dalamnya jenis rokok yang
diisap (kandungan tar, rokok filter, dan kretek).
Perokok pasif beresiko tinggi untuk mengalami kanker paru.
Dengan kata lain, individu yang secara tidak sengaja terpajan
asap rokok (di dalam mobil, gedun, atau tempat lainnya) juga
beresiko tinggi mengalami kanker paru.
2. Polusi udara
14

Ada berbagai karsinogen telah diidentifikasi, termasuk di


dalamnya adalah sulfur, emisi kendaraan bermotor, dan
polutan dari pengolahan dan pabrik. Bukti-bukti menunjukkan
bahwa insiden kanker paru lebih besar di daerah perkotaan
sebagai akibat penumpukan polutan dan emisi kendaraan
bermotor.
3. Polusi lingkungan kerja
Pada keadaan tertentu, karsinoma paru tampaknya
merupakan suatu penyakit akibat polusi di lingkungan kerja.
Dari berbagai bahaya industri, yang paling berbahaya adalah
asbes yang kini banyak sekali diproduksi dan igunakan pada
bangunan. Risiko kanker paru di antara para pekerja yang
berhubungan atau lingkungannya mengandung asbes 10
kali lebih besar daripada masyarakat umum. Peningkatan
risiko ini juga dialami oleh mereka yang bekerja dengan
uranium, kromat, arsen (misalnya insektisida yang digunakan
untuk pertanian), besi, dan oksida besi. Risiko kanker paru
baik akibat kontak dengan asbes maupun uranium akan
menjadi lebih besar lagi jika orang itu juga perokok.
4. Rendahnya asupan vitamin A
Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa perokok yang
dietnya rendah vitamin A dapar memperbesar risiko
terjadinya kanker paru. Hipotesis ini didapatkan dari
penelitian yang menyimpulkan bahwa vitamin A dapat
menurunkan risiko peningkatan jumlah sel-sel kanker. Hal ini
berkaitan dengan fungsi utama vitamin A yang turut berperan
dalam pengaturan diferensiasi sel.
5. Faktor herediter
Terdapat juga bukti bahwa anggota keluarga dari penderita
kanker paru memiliki resiko lebih besar mengalami penyakit
yang sama. Walaupun demikian masih belum diketahui
dengan pasti apakah hal ini benar-benar herediter atau karena
faktor-faktor familial.
6. Usia
a. Faktor Risiko ringan: Usia > 50 tahun atau
Merokok > 20 tahun
b. Faktor risiko sedang: Usia > 50 tahun
15

> 30 tahun merokok atau perokok


pasif
Tidak ada faktor risiko tambahan
c. Faktor risiko Berat: Kategori 1: Usia 50-74
tahun
>30 tahun riwayat metrokok
Berhenti merokok < 15
tahun
Kategori 2: Usia > 50 tahun
> 30 tahun riwayat meroko
Terdapat faktor risiko
tambahan

2.8 Tanda Bahaya Kanker Paru


1. Hoarsenes
2. Perubahan pola napas
3. Batuk persisten
4. Sputum darah
5. Sputum purulen
6. Hemoptisis
7. Nyeri dada, punggung dan lengan
8. Pleur efusi, pneumonia, atau bronkitis
9. Dispnea
10.Demam berhubungan dengan satu atau dua tanda lain
11.Wheezing
12.Penurunan berat badan

2.9 Stadium
Oleh karena sepertiga pasien SCLC mengalami metastasis,
penentuan stadium dilakukan berdasarkan:
Pindai tulang
CT scan abdomen
Biopsi hati
Biopsi sumsum tulang
MRI kepala
Jika kanker tersebut dianggap dapat direseksi, pemeriksaan fungsi
paru dan gas darah diperlukan untuk menentukan apakah pasien
tersebut dapat menjalani pneumektomi atau reseksi pulmo. Stadium
NSCLC juga dilakukan berdasarkan beberapa kriteria:
Limited/Terbatas penyakit terbatas pada satu hemitoraks dengan
metastasis kelenjar limfe hilus, mediastinal ipsilateral dan
kontralateral dan/atau supraklavikula dan termasuk adanya efusi
pleura tanpa melihat hasil sitologi.
16

Extensive/Meluas penyakit di luar definisi di atas dengan


metastasis ke hati, tulang, sumsum tulang, otak, adrenal dan
kelenjar limfe.

2.10 Metastasis
1. Invasi langsung
Tumor bronkial dpat menyebar dengan menginvasi secara
langsung dan berkembang untuk menghambat bronkus
secara parsial atau total. Invasi dinding bronkial atau
obstruksi jalan napas dapat juga timbul. Penyebaran pada
paru-paru dapat menekan struktur paru-paru yang lainnya
selain jalan napas termasuk alveoli, saraf, pembuluh darah,
atau pembuluh limfatik.
2. Invasi limfatik
Pola metastasis tergantung kepada tipe sel tumor dan lokasi
anatomi dari tumor. Penyebaran ke limfatik biasanya
berhubungan dengan embolisasi dan invasi oleh tumor.
Mediastinum, paratrakheal, dan hilus sentral nodus limfatikus
merupakan daerah yang sering terkena. Tumor lobus bawah
cenderung untuk menyebar secara difusi lebih sering oleh
jalur loimfatik daripada oleh tumor yang berada pada daerah
lain di paru-paru.
3. Hematogenous (melalui aliran darha)
Metastasis kanker paru-paru terjadi akibat invasi dari sistem
vena pulmonari. Tumor emboli menyebar ke daerah yang jauh
dari tubuh. Tempat yang jauh dari metastasis termasuk lower
thoracic dan upper lumbar vertebrae, tulang panjang, kelenjar
adrenal, CNS, dan hati
Kanker paru bermetastasis ke berbagai tempat termasuk
sumsum tulang, perikardium dan jantung, ginjal dan kelenjar adrenal.
Tempat yang paling sering mengalami metastasis adalah paru
sebelahnya dan pleura, otak, tulang, hati, dan kelenjar limfe.

2.11 Penatalaksanaan
1. Non-Small Cell Lung Cancer
17

a. Pembedahan
Pembedahan merupakan terapi pilihan untuk NSCLC
stadium I dan II. Pneumektomi untuk stadium I dan II
diperlukan, kecuali jika disertai penyakit kardiopulmonar.
Lobektomi dengan diseksi kelenjar limfe regional
merupakan terapi yang optimal untuk penyakit stadium
awal jika memungkinkan. Komplikasi akibat prosedur ini
adalah pneumotoraks, emboli paru, pneumonia,
perdarahan dan infeksi.
b. Radiasi
Dosis optimal untuk radiasi adalah sekitar 60Gy. Kontrol
terhadap tumor memberikan hasil yang baik dengan
penggunaan terapi radiasi dengan lima kali penyinaran
per minggu selama enam sampai tujuh minggu tanpa
terputus, aefek samping yang berhubungan dengan terapi
ini adalah eritema, esofagitis, disfagia, pneumonitis,
perikarditis, mielosupresi, dan kelelahan.
c. Brakiterapi
Teknologi ini memerlukan penempatan kateter secara
hati-hati pada daerah terdekat dengan tumor. Kemudian,
dengan pengendali terkomputerisasi, iridium HDR
diberikan melalui kateter tersebut. Dalam beberapa menit,
pada saat pemberi terapi bebas dari paparan, radiasi yang
sangat besar dihantarkan ke jaringan tertentu tanpa
menimbulokan cedera atau luka pada jaringan sehat yang
berdekatan, terutama yang secara anatomis berbahaya.
Sesi terapi dapat diulangi setiap 1 sampai 2 minggu untuk
mencapai dosis kumulatif berkisar antara 20 sampai 43,6
Gy.
d. Kemoterapi
Agens tunggal yang paling aktif untuk NSCLC antara lain
mitomisin-C, vindesin, vinblastin, etoposid, ifosfamid,
sisplatin, karboplatin, siklosfosfamid, vinkristin,
doksorubisin, bleomisi, dan pasilitaksel, dan karboplatin.
2. Small Cell Lung Cancer
a. Pembedahan
Terapi yang saat ini dianjurkan untuk SCLC berupa nodul
tunggal pada paru adalah pembedahan, yang diikuti oleh
18

kemoterapi tambahan dan iradiasi kranial sebagai


profilaksis dengan atau tanpa radiasi toraks.
b. Radiasi
Pada penyakit yang terbatas, percobaan radiasi toraks dan
kemoterapi telah menunjukkan kemajuan dalam harapan
hidup jangka panjang dan pengurangan rekurensi lokal.
c. Kemoterapi
Agens tunggal, meliputi siklofosfamid, doksorubisin,
vinkristin, metotreksat, mustard nitrogen,
heksametilmelamin dan lomustin. Regimen kemoterapi
yang digunakan secara kombinasi adalah lomustin,
metotreksat, siklofosfamid, doksorubisin, vinkristin,
sisplatin, karboplatin, dan etoposid.
3. Terapi Metastasis
a. Metastasis Otak
Terapi yang digunakan adalah terapi paliatif untuk
memperbaiki defisit neurologispasien, yang akan
memberikan perbaikan kualitas hidup pasien. Pengelolaan
akut akibat peningkatan tekanan intrakranial, adalah
dengan memberikan kortikosteroid dosis tinggi atau
triamsinolon, diikuti dengan radiasi seluruh otak. Pasien
tertentu dapat memperoleh manfaat dengan dilakukannya
reseksi lesi soliter diikuti dengan radiasi.
b. Metastasis tulang
Pengobatan narkotik, obat-obatan antiinflamasi lokal
nonsterois dan radiasi merupakan teapi yang biasa
dilakukan dan memberikan hasil yang baik dengan
meningkatkan kenyamanan dan kemampuan pasien
bergerak dan berjalan. Pengelolaan ortopedik dapat
dilakukan untuk membuat keadaan spinal yang stabil dan
mencegah penekanan sumsum tulang belakang. Fiksasi
profilaksis lesi metastasis pada tulang panjang dengan
kawat atau implan dapat mencegah fraktur patologis dan
memastikan kemampuan bergerak atau kontrol
ekstremitas atas yang baik. Kombinasi kemoterapi juga
19

dapat membantu meringankan atau menghilangkan


proses yang menyakitkan ini.
c. Metastasis hati
Kemoterapi sistemik mungkin memberikan hasil yang
efektif untuk mengatasi gejala dalam waktu singkat, tetapi
bagaimanapun juga, metastasis ke hati merupakan proses
keganasan yang seringkali cepat mematikan. Pasien
dengan metastasis ke hati yang menyakitkan dapat
merasa lebih nyaman dengan pemberian narkotik dan
blok pleksus abdominal.
d. Metastasis jantung
Terapi pada umumnya bersifat konservatif dan berupa
perikardiosentris, kemoterapi sistemik, atau pemberian
zat-zat lainnya secara intraperikardial. Tamponade jantung
dapat diterapi dengan baik dan mudah dengan
pembuatan lubang di bawah anestesi lokal
e. Efusi pleura
Berbagai metode terapi untuk efusi pleura telah ilakukan
termasuk torakosentesis, pemberian kemoterapi
intrapleura, pemberian koloid radioaktif intrakavitas
melalui slang dada, dan pleurektomi.

2.12 Pemeriksaan Diagnosis


1. Radiologi
Nodula soliter terbatas yang disebut coin lesion pada
radiogram dada sangat penting dan mungkin merupakan
petunjuk awal untuk mendeteksi adanya karsinoma paru
meskipun dapat juga ditemukan pada banyak keadaan
lainnya. Penggunaan CT scan mungkin dapat memberikan
bantuan lebih lanjut dalam membedakan lesi-lesi yang
dicurigai.
2. Bronkhoskopi
Bronkhoskopi yang disertai biopsi adalah teknik yang paling
baik dalam mendiagnosa karsinoma yang biasanya terletak di
daerah sentral paru. Pelaksanaan bronkhoskopi yang paling
20

sering adalah menggunakan bronkhoskopi serat optik.


Tindakan ini bertujuan sebagai tindakan diagnostik, caranya
dengan mengambil sampel langsung ke tempat lesi untuk
dilakukan pemriksaan sitologi.
3. Sitologi
Biopsi kelenjar skalenus adalah cara terbaik untuk
mendiagnosis sel-sel kanker yang tidak terjangkau oleh
bronkhoskopi. Pemeriksaan sitologi sputum, bilasan bronkhus,
dan pemeriksaan cairan pleura juga memainkan peranan
penting dalam menegakkan diagnosis kanker paru.
4. Histologi
Pemeriksaan ini sangat penting untuk penentuan stadium
penyakit sangat penting untuk menentukan prognosis dan
rencana pengobatan. Penentuan stadium kanker paru terbagi
dua, yakni pembagian stadium dari segi anatomis untuk
menentukan luasnya penyebaran tumor dan kemungkinannya
untuk dioperasi; dan stadium dari segi fisiologis untuk
menentukan kemampuan klien untuk bertahan terhadap
berbagai pengobatan anti tumor.
5. Mediastinoskopi
Seringkali berguna untuk menentukan diagnosis dan
memisahkan tumor-tumor yang dapat atau tidak dapat
dioperasi.
6. Uji galium
Dilakukan untuk mendeteksi metastasis ke distal termasuk
sidik tulang, sisik otan, pemeriksaan fungsi hati, dan sidik
hati, limpa dan tulang.

2.13 Komplikasi

Sesak nafas
Batuk darah
Rasa nyeri akibat penyebaran kanker
Penumpukan cairan di dada (efusi pleura)
Penyebaran kanker ke organ tubuh lainnya (metastasis)
Kematian
21

2.14 Prognosis
Prognosis secara keseluruhan bagi klien dengan karsinoma paru
adalah buruk (kelangsungan hidup lima tahun) dan hanya sedikit
meningkat dalam beberapa tahun terakhir ini, meskipun telah
diperkenalkan berbagai agen kemoterapi yang baru.

2.15 Pencegahan

Kanker paru tidak dapat dicegah secara pasti, namun risiko


dapat dikurangi dengan beberapa cara berikut :

-Hindari rokok dan asap rokok

-Pola makan sehat, perbanyak makan buah dan sayur

-Kurangi minum alkohol

-Berolahraga secara teratur