Anda di halaman 1dari 9

Bertubuh Pendek Sebagai Faktor Risiko Bebas terhadap

Disproporsi Kepala Panggul di Negara dengan Ibu yang


Relatif Berbadan Kecil

Pendahuluan

Morbiditas dan mortalitas maternal tetap menjadi masalah utama


untuk sistem kesehatan di seluruh dunia, terutama pada negara-negara
berkembang. Data terbaru yang diperoleh menunjukkan bahwa lebih dari
300.000 wanita meninggal dunia pada tahun 2008. Di negara-negara
berkembang, sejumlah besar kematian ibu disebabkan oleh komplikasi
persalinan macet yang menyebabkan trauma jalan lahir, perdarahan
postpartum, dan infeksi genital, dll. Pada pasien dengan distosia, lamanya
waktu pasien menuju pelayanan medis atau keterlambatan menuju ke
fasilitas pelayanan medis yang tepat banyak terdapat di rumah sakit
pedesaan.

Deteksi ibu pada risiko tinggi terhadap kejadian distosia penting


dilakukan untuk meningkatkan pencegahan, dipelukan perhatian khusus,
persiapan operasi caesar maupun induksi persalinan pada saat kapapun
dimana diperlukan banyak tenaga medis pria dan dokter berpengalaman.
Hal ini terutama penting dalam kondisi di mana operasi caesar tidak dapat
dilakukan, sehingga wanita yang berisiko tinggi untuk CPD dapat dirujuk ke
rumah sakit yang terdapat tenaga kesahatan dokter obgyn sebelum
timbulnya tanda persalinan.

Tinggi badan ibu menggambarkan ukuran panggul ibu, yang terkait


dengan distosia, telah terbukti dapat menyebabkan persalinan macet.
Memang, tinggi badan ibu, sebagai faktor yang tidak memerlukan keahlian
khusus apapun, telah diteliti secara luas terutama di negara-negara
berkembang untuk memprediksi persalinan macet. Namun, hubungan

1
terbalik antara tinggi badan ibu dan tingkat sesar telah secara konsisten
ditunjukkan, penerapan tinggi badan untuk memprediksi risiko kelahiran
yang bermasalah atau operasi caesar tetap menjadi hal yang kontroversial.

Selanjutnya, tidak ada definisi menyeluruh tentang perawakan


pendek pada wanita hamil yang menjadi dasar pengukuran. Hal ini
disebabkan fakta bahwa distribusi tinggi badan ibu bervariasi pada
kelompok geografis atau etnis yang berbeda dari penelitian. Ibu dari
Thailand atau Asia Tenggara biasanya lebih pendek daripada di Barat. Tentu
saja, penerapan tinggi badan ibu scara klinis berdasarkan studi di berbagai
bagian dunia adalah tidak ditemukan kesamaan. Oleh karena itu, penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas tinggi badan ibu dalam
memprediksi risiko operasi caesar yang disebabkan disproporsi kepala
panggul pada populasi Thailand.

Bahan dan metode

Sebuah penelitian kohort retrospektif dilakukan di Rumah Sakit


Maharaj Nakorn Chiang Mai, Universitas Chiang Mai, Thailand selama
2006-2010. Etika penelitian ini telah disetujui oleh Dewan Institusional
setempat. Database unit pengobatan ibu-janin dan beberapa catatan medis
ditinjau untuk karakteristik dasar, tinggi ibu dan hasil persalinan. Beberapa
data yang hilang, terutama tinggi ibu, dicari dari pasien baik melalui surat,
telepon atau pencarian langsung dari pendaftaran sensus dari Departemen
Pemerintah Provinsi. Rincian persalinan yang secara prospektif dicatat oleh
dokter kandungan dan dikumpulkan secara komputerisasi setiap hari oleh
penelitian yang bantu perawat.

Kriteria inklusi adalah (1) usia kehamilan lebih dari 34 minggu


berdasarkan gambaran klinis yang dihitung menurut rekam medis, (2)
kehamilan tunggal, dan (3) terdapat data rekam medis persalinan dengan
indikasi disproporsi kepala panggul (CPD). Dalam temuan dilapangan, CPD
atau kegagalan untuk perkembangan persalinan didefinisikan menurut Royal

2
Thai College of Obstetricians and Gynecologists, sebagai berikut: (1) fase
aktif persalinan didefinisikan oleh dilatasi serviks minimal 4 cm dan
penipisan 80 %, (2) kontraksi uterus yang teratur dan adekuat minimal 2 jam
sebelum pemilihan tindakan, dan (3) partograf abnormal, seperti gangguan
protraksi, terhenti atau kegagalan penurunan kala II. Variabel yang
dimasukkan untuk analisis adalah tinggi badan ibu, usia ibu, paritas, jenis
pelayanan pemeriksaan kehamilan (pemeriksaan kehamilan mandiri atau
antenatal care dengan dokter yang bergantian pada umumnya, berat bayi
lahir dan metode persalinan. Para wanita hamil dikategorikan menjadi
beberapa kelompok kecil berdasarkan peringkat persentil dari distribusi
tinggi badan ibu, paritas, dan jenis pelayanan. Hasil utama adalah tingkat
operasi caesar yang ditunjukkan oleh CPD dalam berbagai kelompok kecil
tinggi badan ibu.

Analisis statistik

Mean dan standar deviasi untuk variabel yang berbeda di masing-


masing kelompok dihitung dan diuji untuk signifikansinya. Ditentukan odd
rasio dengan confidence interval 95% untuk tingkat caesar yang disebabkan
CPD pada kelompok tinggi badan ibu. p <0,05 dianggap terdapat hubungan
bermakna secara statistik. Sebuah analisis regresi logistik dilakukan untuk
mengidentifikasi apakah ada faktor terhadap tinggi badan tertentu serta
variabel lain seperti usia ibu, paritas atau jenis pelayanan di mana risiko
memiliki operasi caesar yang meningkat secara signifikan.

3
Hasil

Pada periode penelitian ini, 11.026 persalinan tunggal diteliti.


Sebanyak 1.828 data dieksklusikan karena data yang tidak lengkap dari hasil
persalinan atau tinggi badan ibu. Sisanya 9198 dijadikan sampel untuk
analisis. Dari jumlah tersebut, 5.201 (56,5%) adalah nulipara dan 3997
(43,5%) adalah perempuan multipara. Selain itu, sebagian besar ibu (7743
atau 84,2%) datang ke klinik antenatal umum yang dilakukan oleh dokter
kandungan yang bergantian, sebanyak 1.455 (15,8%) dirawat oleh salah satu
dokter kandungan khusus sebagai layanan pribadi.

Nilai meanSD (range) dari usia ibu, usia kehamilan saat


melahirkan, dan berat lahir adalah 28.02 6,02 tahun (13- 44 tahun), 38,19
1,54 minggu (34-43 minggu), dan 2,983.7 447,9 g (1,790- 5.300 g).
Mean SD (range) tinggi ibu adalah 155,4 6,2 cm (100-192 cm), median
(50 persentil) adalah 155,0 cm. Distribusi persentil dari tinggi badan ibu di
persentil 5, 10, 20, 50, 80, 90, 95 masing-masing adalah 145, 148, 150, 155,
160, 163 dan 165 cm.

Dalam total 9198, metode persalinan terdiri dari persalinan


pervaginam normal 70,2%, persalinan per vaginam operatif 7,5%, dan
operasi caesar 22,3%. Tingkat operasi caesar karena CPD adalah 8,1% dari
seluruh persalinan. Yang menarik, secara keseluruhan tingkat operasi caesar
pada nullipara sedikit tetapi secara signifikan lebih rendah dibandingkan
pada kelompok multipara (20,7 vs 24,4%; p <0,001, odds ratio 0,92).
Namun demikian, sebaliknya, tingkat sesar sekunder atau caesar untuk
kehamilan ke dua pada ibu dengan CPD lebih tinggi pada kelompok
nulipara (12,2 vs 2,7%, p <0,001, odds ratio 4,9).

Tingkat operasi caesar karena CPD dengan odds rasio dalam


kelompok yang dikategorikan dengan tinggi badan ibu dan jenis pelayanan,
dan paritas disajikan pada Tabel 1. Pada kelompok ibu yang pendek,
menggunakan nilai batas bawah dari 145 cm, memiliki tingkat sesar 16,3%

4
dan odds rasio 2,4. Perhatikan bahwa tingkat operasi caesar karena CPD
menurun dari 16,3% pada batas bawah 145 cm menjadi 11,4% pada 150 cm
dan 9,6% pada 155 cm. Menariknya, tingkat sesar karena CPD pada
pelayanan pribadi adalah 13,6% dengan odds rasio 2.1. Ketika bertubuh
pendek didefinisikan nilai batas bawah dari 145 cm, mean SD dari usia
ibu dengan tinggi tubuh pendek dan ibu normal tidak berbeda secara
signifikan (27,6 6.1 vs 28.0 6,0 tahun, p> 0,05) sedangkan mean SD
dari berat bayi lahir pada ibu dengan tubuh pendek secara signifikan lebih
rendah dibandingkan pada kelompok tinggi yang normal (2854 430 vs
2991 447 g, p <0,05).

Dalam analisis regresi logistik menggunakan tinggi ibu sebagai


variabel tunggal bebas, ditemukan bahwa tinggi badan ibu secara signifikan
berkorelasi dengan tingkat operasi caesar karena CPD (p <0,0001).
Perhitungan hubungan adalah sebagai berikut (Gambar 1.):

Odds = exp (4,048 - 0,042 x Ht); dimana, Ht adalah tinggi ibu


dalam cm, odds merupakan rasio kemungkinan operasi caesar
hingga kemungkinan persalinam per vaginam.

5
Variabel lain yang ditemukan signifikan dalam analisis regresi
logistik multipel diantaranya adalah usia ibu, berat lahir, paritas, dan
layanan pribadi. perhitungannya adalah sebagai berikut:

Odds = exp (-1,455 -0,078 x Ht + 0,085 x usia + 0,002 x BB +


0,566 x pribadi + 2,427 x paritas); dimana, Ht adalah tinggi ibu
dalam cm, usia merupakan usia ibu di tahun persalinan, pribadi
adalah 1 jika pelayanan kehamilan dilakukan dalam pelayanan
pribadi, paritas adalah 1 untuk nulipara).

Pembahasan

Meskipun beberapa penelitian telah dipublikasikan dalam penelitian


ini berbeda karena meneliti kelompok etnis tertentu dan hasil penelitian
kami harus mendorong semua kelompok lain di seluruh dunia untuk
mengevaluasi risiko berdasarkan distribusi tinggi pada populasi mereka
sendiri.

Dalam penelitian ini, pada umunya menggunakan nilai batas bawah


sebesar 145cm untuk mendiagnosis perawakan pendek, diberi tanda sebagai
risiko tinggi, tentu berbeda dibagian Barat karena ibu kami memiliki ukuran
yang relatif kecil, namun praktek pelayanan mandiri belum pernah diteliti
untuk menyamakan antar etnis tertentu. Seperti yang terlihat dalam hasil,
meskipun kecenderungan untuk memiliki bayi yang relatif kecil, ibu dengan
perawakan pendek lebih cenderung memiliki kesempatan lebih tinggi untuk
mengalami persalinan macet.

Berdasarkan penelitian kami, sedangkan variabel lainnya tidak


dianggap, nilai batas bawah dari 145, yang terdiri dari 5% dari populasi
obstetri kami, dibenarkan karena tingkat CPD adalah sekitar 16,3% dan
odds rasio adalah 2,4 sedangkan tingkat sesar keseluruhan adalah 8,1%.
Oleh karena itu, tinggi ibu dapat digunakan sebagai indikasi sederhana
untuk menyaring faktor risiko untuk CPD dan perlukan tindakan khusus
oleh dokter spesialis. Analisis regresi logistik telah menunjukkan kurva

6
dengan penurunan bertahap dalam risiko operasi caesar karena CPD dengan
meningkatnya tinggi ibu. Hubungan ini adalah panduan yang berguna untuk
konseling pasangan dalam hal risiko klinis untuk operasi caesar. Namun,
dalam praktik nyata, variabel lain selain tinggi ibu biasanya diperhitungkan.

Tentu seorang ibu yang pendek dengan perkiraan berat badan lahir
rendah tidak membawa risiko tinggi untuk CPD. Meskipun sedikit lebih
rumit, perhitungan yang berasal dari analisis regresi logistik multipel dalam
penelitian ini mungkin membantu untuk mengukur risiko dengan lebih
akurat. Memang, di era dunia digital, probabilitas dan perhitungan
kemungkinan untuk operasi caesar karena CPD berdasarkan perhitungan
yang disebut di atas dapat digunakan segera di mana saja bahkan di daerah
pedesaan. Oleh karena itu, kami menyarankan perhitungan regresi logistik
multiple dalam perhitungan risiko dari pada tinggi ibu saja.

Perhatikan bahwa, ibu dengan usia kehamilan kurang dari 34


minggu tidak dimasukkan pada penelitian, karena sangat jarang ditemukan
angka kejadian CPD pada usia kehamilan awal terlepas dari tinggi badan
ibu. Penelitian ini melibatkan populasi di mana ibu lebih pendek dari pada
kelompok lain yang pernah diteliti bahkan dalam kelompok Asia seperti
Jepang.

Data kami juga menunjukkan bahwa tingkat sesar yang lebih tinggi karena
CPD diperkirakan terjadi pada penduduk Thailand atau ibu Asia tenggara
dengan perawakan pendek, bahkan bagi mereka dengan bayi yang relatif
kecil. Informasi ini penting untuk konseling yang tepat dari pasangan,
terutama di negara-negara berkembang atau bahkan di negara-negara maju
dengan kelompok etnis campuran. Informasi tentang risiko yang lebih tinggi
untuk CPD sangat penting untuk praktek klinis yang baik. tindakan
pencegahan yang lebih tinggi harus diberikan untuk ibu dengan risiko yang
lebih tinggi dalam hal perhatian atau persiapan operasi caesar atau induksi

7
persalinan tepat waktu di siang hari ketika lebih banyak tenaga kesehatan
dan dokter berpengalaman yang tersedia.

Penelitian ini telah menunjukkan bahwa tinggi ibu itu berbanding


terbalik dengan tingkat kelahiran caesar berikutnya karena disproporsi
kepala panggul. Seperti yang sudah diketahui, tinggi ibu dalam populasi
kami tentu lebih pendek dari populasi yang ada di barat. Oleh karena itu,
pertama kita menentukan rentang persentil dari distribusi tinggi pada wanita
hamil kami, dan kemudian mengkategorikan mereka berdasarkan pada
kelompok tinggi persentil. Distribusi tinggi dalam penelitian ini
menunjukkan bahwa ketinggian 145 cm mungkin merupakan batas bawah
yang sesuai untuk perawakan pendek dalam populasi Thailand, bukannya
mengadopsi nilai batas bawah tertentu seperti yang direkomendasikan
dalam beberapa penelitian sebelumnya yang berada di kisaran 150-160 cm.

Jelas, hanya dengan mengadopsi nilai batas bawah dari 150 atau 155
atau 160 cm untuk menentukan perwakan pendek dalam kelompok etnis
Thailand atau lainnya di wilayah geografis yang sama seperti Laos atau
Kamboja adalah tidak sesuai. Misalnya, dengan definisi 155 cm sebagai
nilai batas bawah yang merupakan nilai persentil lima untuk Jerman, 60%
dari populasi kita, bukan 5% seperti yang ditunjukkan oleh beberapa
penulis, akan diklasifikasikan sebagai risiko tinggi untuk CPD dan
kemungkinan besar akan menghasilkan hasil yang tidak meyakinkan. Itu
adalah angka yang tidak dapat diterima secara besar untuk merawat ibu
yang berisiko tinggi.

Terlepas dari kenyataan bahwa ibu yang lebih pendek, semakin


rendah berat lahirnya, tinggi badan ibu berbanding terbalik dengan risiko
yang lebih tinggi dari sesar karena disproporsi kepala panggul. Pengaruh
tinggi ibu pada tingkat sesar tersebut tampaknya terus berlanjut tanpa nilai
batas yang pasti.

8
Berdasarkan penelitian kami dan penelitian sebelumnya lainnya di
barat, kriteria untuk perawakan pendek harus jelas berdasarkan kelompok
etnis dan harus dikelompokkan menurut kisaran persentil tinggi dari pada
tinggi mutlak yang memungkinkan perbandingan antara populasi yang
berbeda pada efek pada hasil persalinan.

Tentu saja, berat badan lahir berhubungan langsung dengan tingkat


operasi caesar karena CPD. Bahkan, bayi yang lahir dari ibu dengan tinggi
normal dan CPD yang terjadi akan lebih berat dibandingkan pada mereka
yang tidak mengalami CPD. Sebaliknya, bayi yang kurang berat lahir dari
ibu dengan perawakan pendek mungkin telah mampu melakukan persalinan
secara normal. Namun demikian, setelah penambahan berat lahir dalam
model regresi logistik, korelasi antara CPD dan tinggi ibu tetap masih
tinggi. Selanjutnya, rerata berat lahir dalam kelompok bertubuh pendek
adalah kurang dibandingkan kelompok normal. Oleh karena itu, mungkin
nilai untuk menggabungkan tinggi ibu dan berat janin yang dihitung untuk
menilai risiko CPD, meskipun sebelum lahir taksiran berat lahir mungkin
tidak akurat secara sempurna. Demikian juga, nullipara dan praktek pribadi
secara signifikan berkontribusi pada risiko yang lebih tinggi untuk CPD dan
juga harus diperhitungkan.

Kesimpulannya, ibu dengan perawakan pendek sebagai variabel


bebas berkorelasi dengan tingkat CPD yang lebih tinggi. Poin klinis dapat
ditarik dari penelitian ini diantaranya adalah (1) definisi perawakan pendek
harus dikembangkan berdasarkan kelompok geografis atau etnis tertentu.
Pada populasi Thailand, menggunakan 145 cm sebagai nilai batas bawah,
kemungkinan CPD adalah 2.4 (2) kemungkinan CPD dapat diperkirakan
dengan tinggi badan ibu sebagai variabel tunggal atau beberapa variabel
menggunakan perhitungan regresi logistik.