Anda di halaman 1dari 38

LAPORAN

TUGAS UJIAN
Pertumbuhan dan Perkembangan pada Anak

OLEH:
Angga Dwianto.
2005730003

Dokter Pembimbing :
Dr. Ommy Ariansih , Sp.A
Dr. Rachimiah

1
i
Anak memiliki suatu ciri yang khas yaitu selalu tumbuh dan berkembang. Hal inilah yang

membedakan anak dengan orang dewasa. Jadi anak tidak bisa diidentikkan dengan dewasa dalam

bentuk kecil (Tanuwidjaya S, 2002). Proses tumbuh kembang merupakan proses yang

berkesinambungan mulai dari pembuahan sampai berakhirnya masa remaja yang mengikuti pola

tertentu yang khas pada setiap anak.

Setiap anak adalah individu yang unik, karena faktor bawaan dan lingkungan yang

berbeda, maka pertumbuhan dan pencapaian kemampuan perkembangannya juga berbeda, tetapi

tetap menuruti patokan umum sehingga diperlukan suatu penilaian apakah pertumbuhan dan

perkembangan seseorang anak masih berjalan normal atau tidak (Markum AH, 1991).

Sekitar 5-10% dari populasi anak-anak mempunyai gangguan perkembangan namun

deteksi dini dan diagnosa gangguan perkembangan ini masih sulit dilaksanakan. Namun usaha

sedang dilakukan untuk mempromosi pendeteksian dan intervensi dini agar dapat mengurangi

disability jangka panjang (Lewis R.F& Judith S.P, 1994). Dengan menilai perkembangan secara

teratur selain melihat perjalanan pertumbuhannya normal atau tidak kita dapat mendeteksi secara

dini adanya penyimpangan atau gangguan perkembangan pada anak (Markum AH, 1991).

Pertumbuhan (growth) perubahan besar, jumlah,ukuran atau dimensi tingkat sel, organ

maupun individu.

Tahapan tumbuh kembang

. Masa pranatal (intra uterin) dibagi 2 :

a. Masa embrio konsepsi umur 8 minggu

b. Masa fetus umur 9 minggu kelahiran Fetus dini (9 mgg trimester 2)

percepatan tumbuh, pembentukan jasad,

alat tubuh telah terbentuk & mulai

1
2

berfungsi.

- Fetus lanjut trimester akhir pertumbuhan berlangsung pesat & adanya perkembangan

fung-fungsi transfer Ig G, akumulasi asam lemak esensial (omega 3 & omega 6)

Masa postnatal (setelah lahir)

1. Masa neonatal (0-28 hari) adaptasi terhadap lingkungan, perubahan sirkulasi darah, mulai

berfungsi organ tubuh

2. Masa bayi

- Masa bayi dini (1-12 bulan) pertumbuhan pesat, proses pematangan berlangsung

kontinu, meningkatnya fungsi sistem saraf

- Masa bayi akhir (1-2 tahun) kecepatan pertumbuhan mulai menurun, kemajuan

perkembangan motor & fungsi ekskresi

3.Masa prasekolah (2-6 tahun) pertumbuhan stabil aktifitas jasmani bertambah &

meningkatny ketrampilan dan proses berfikir

4. Masa sekolah ( 6-10 tahun, 8-12 tahun) pertumbuhan lebih cepat, ketrampilan dan

intelektual makin berkembang, senang bermain berkelompok

5. Masa adolesen /remaja (10-18 th,12-20 th) masa transisi dari periode anak ke

dewasa, terjadi percepatan tumbuh, tanda-tanda kelamin / seks sekunder

Ciri-ciri pertumbuhan

1. Perubahan ukuran fisik ; organ tubuh akan bertambah besar peningkatan

kebutuhan tubuh

2. Perubahan proporsi bayi baru lahir kepala relatif mempunyai proporsi lebih besar

dibanding umur selanjutnya. Pusat tubuh di umbilikus, dewasa setinggi simpisis pubis

3. Hilangnya ciri-ciri lama proses pertumbuhan menghilangnya kel timus, gigi

susu tanggal, hilangnya refleks primitif


3

4. Timbulnya ciri-ciri baru akibat pematangan fungsi organ gigi tetap, tanda-tanda

seks sekunder

Pola pertumbuhan umum

- Khas tinggi badan

- Sampai usia 2 tahun cepat stabil (pengaruh hormon pertumbuhan)

- Pubertas hormon kelamin berperan pertumbuhan berlangsung dengan cepat

henti

- Tumbuh secara cepat sampai 200 % pada usia 12 tahun, berangsur menurun sampai usia

dewasa menjadi 100% anak pada masa pubertas daya tahan relatif lebih kuat

- Otak & kepala tumbuh lebih cepat dibandingkan organ lain sejak intrauterin

- Masa anak tumbuh kembang organ kelamin sangat lambat

- Masa pubertas percepatan yang luar biasa

- Pertumbuhan organ reproduksi sejalan dengan perkembangan kemampuan seksual

Peningkatan ukuran tubuh :

- tinggi badan / panjang badan

- berat badan

- lingkar kepala

Faktor penentu pertumbuhan anak

- Internal :

- genetik : ayah, ibu, nenek, kakek, dst

- proses selama kehamilan : nutrisi, penyakit, obat, polusi, dll

- Eksternal: nutrisi, penyakit, polusi, aktivitas fisik

Definisi Perkembangan

Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan struktur dan fungsi tubuh yang lebih

kompleks, jadi bersifat kualitatif yang pengukurannya jauh lebih sulit daripada pengukuran
4

pertumbuhan. Perkembangan merupakan sederetan perubahan fungsi organ tubuh yang

berkelanjutan, teratur, dan saling berkait. Perkembangan terjadi secara simultan dengan

pertumbuhan dan merupakan hasil interaksi kematangan susunan saraf pusat dengan organ yang

dipengaruhinya (Tanuwidjaya S, 2002).

Perkembangan anak merupakan hasil dari maturasi organ-organ tubuh terutama susunan

saraf pusat. Perkembangan dipengaruhi oleh lingkungan biofisikopsikososial dan faktor genetik.

Dalam perkembangan terdapat beberapa tahapan yang harus dilalui anak untuk menjadi dewasa.

Tahapan yang terpenting adalah pada masa 3 tahun pertama, karena dalam 3 tahun pertama ini

tumbuh kembang berlangsung pesat dan menentukan masa depan anak kelak. Perkembangan

anak meliputi masa perkembangan fisik, kognitif, emosi dan bahasa, motorik (kasar dan halus),

personal sosial dan adaptif. Berbagai masalah gangguan perkembangan dapat timbul. Deteksi dini

dan intervensi dini sangat membantu agar anak tumbuh kembang dapat berlangsung seoptimal

mungkin. Peran orang tua dalam tumbuh kembang anak juga sangat besar artinya (Soetjiningsih,

2002).

Ciri-ciri Perkembangan

Perkembangan melibatkan perubahan

Karena perkembangan terjadi bersamaan dengan pertumbuhan, maka setiap pertumbuhan

disertai dengan perubahan fungsi. Perkembangan system reproduksi misalnya disertai dengan

perubahan pada organ kelamin, perkembangan inteligensia menyertai pertumbuhan otak dan

serabut saraf. Perubahan-perubahan ini meliputi perubahan ukuran tubuh secara umum,

perubahan proporsi tubuh, berubahnya ciri-ciri lama dan timbulnya ciri-ciri baru sebagai tanda

kematangan suatu organ tubuh tertentu (Tanuwidjaya S, 2002).

Perkembangan awal menentukan pertumbuhan selanjutnya

Seseorang tidak akan bisa melewati satu tahap perkembangan sebelum melewati tahapan

sebelumnnya. Sebagai contoh seorang anak tidak akan bisa berjalan sebelum bisa berdiri. Karena
5

itu perkembangan awal ini merupakan masa kritis karena akan menentukan perkembangan

selanjutnya (Tanuwidjaya S, 2002).

Perkembangan mempunyai pola yang tetap

Perkembangan fungsi organ tubuh terjadi menurut dua hukum yang tetap yaitu

(Tanuwidjaya S, 2002):

a) Perkembangan terjadi terlebih dahulu di daerah kepala, kemudian menuju ke arah

kaudal.Pola ini disebut pola sefalokaudal

b) Perkembangan terjadi terlebih dahulu di daerah proksimal (gerakan kasar) lalu

berkembang ke bagian distal seperti jari-jari yang mempunyai kemampuan dalam

gerakan halus.Pola ini disebut proksimodistal.

Perkembangan memiliki tahap yang berurutan

Tahap ini dilalui seorang anak mengikuti pola yang teratur dan berurutan, tahap-tahap

tidak bisa terjadi terbalik, misalnya anak terlebih dahulu mampu membuat lingkaran sebelum

mampu membuat gambaran kotak, berdiri sebelum berjalan dan sebagainya (Tanuwidjaya S,

2002).

Perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda

Seperti halnya pertumbuhan, perkembangan berlangsung dalam kecepatan yang berbeda-

beda. Kaki dan tangan berkembang pesat pada awal masa remaja sedangkan bagian tubuh yang

lain mungkin berkembang pesat pada masa lainnya (Tanuwidjaya S, 2002).

Perkembangan berkorelasi dengan pertumbuhan

Pada saat pertumbuhan berlangsung cepat, perkembangan pun demikian, terjadi

peningkatan mental, ingatan, daya nalar, asosiasi dan lain-lain (Tanuwidjaya S, 2002).

Selain itu, perkembangan anak menurut Soetjiningsih (2002) memiliki ciri-ciri sebagai

berikut :
6

1. Perkembangan dimulai pada saat pranatal dan proses belajar dimulai setelah lahir. Sering

dikira bahwa proses belajar baru dimulai pada saat anak anak masuk sekolah formal.

Padahal proses belajar sudah dimulai sebelum anak masuk sekolah. Oleh karena itu

perhatian terhadap perkembangn dan prose belajar harus dimulai pada waktu pre-natal

dan pascanatal dan ini berlangsung terus.

2. Perkembangan mempunyai berbagai dimensi yang saling berhubungan. Perkembangan

termasuk fisik, kognitif, sosial, spritual, dan emosional saling mempengaruhi satu sama

lain dan semuanya tumbuh secara simultan. Kemajuan di satu bidang akan

mempengaruhi kemajuan di bidang lainnya. Sebaliknya bila terdapat

kesalahan/keterlambatan pada satu bidang akan berdampak pula pada bidang yang lain.

Sebagai contoh, pada anak yang malnutrisi kemampuan untuk untuk belajar di bawah

anak yang normal; anak yang punya masalah belajar sering kurang percaya diri, dan

sebagainya. Sehingga anak memerlukan suatu program yang mengacu pada pengertian

bahwa perkembangan adalah suatu yang holistik, yang berarti memperhatikan anak

secara utuh baik pada kesehatan, nutrisi, kognitif, maupun pada kebutuhan sosial-

emosional. Oleh karena itu intervensi harus memberikan perhatian yang terintegrasi, yang

meliputi perhatian terhadap kebutuhan untuk perlindungan, makanan kesehatan, kasih

sayang, interaksi dan simulasi, rasa aman yang konsisten, serta permainan yang

memungkinkan anak untuk berekplorasi. Semua elemen ini harus ada untuk mendukung

perkembangan anak.

3. Perkembangan berlangsung pada tahap yang dapat diramalkan dan proses belajar

diramalkan pada sekuen yang dapat dimengerti, tetapi terdapat variasi yang besar dari

individu dalam kecepatan perkembangan dan cara belajarnya. Ini penting untuk orang tua

agar menggunakan cara yang sesuai dengan pola perkembangan anaknya. Tidak hanya

dalam bidang kognitif, tetapi juga afektif, persepsi, dan motorik. Segala aktifitas harus
7

memberikan tantangan terhadap perkembangan sesuai umurnya. Tidak ada manfaatnya

memberikan konsep dan memberikan tugas sebelum perkembangan anak siap untuk itu.

Intervensi yang terintegrasi dalam mengoptimalkan perkembangan sosial, emosional,

spiritual, dan kognitif dapat memberikan keuntungan dalam proses belajar.

4. Perkembangan dan belajar berlangsung berkelanjutan sebagi hasil berinteraksi dengan

orang, benda dan di lingkungan sekitarnya. Peran orang dewasa baik dirumah maupun di

tempat lain dalam mendukung proses belajar anak, adalah memberi kesempatan kepada

anak untuk bekerja dengan benda yang konkrit, mempunyai kesempatan untuk memilih,

melakukan eksplorasi pada benda atau ide, bereksperimen dan mendapatkan suatu

penemuan. Anak juga membutuhkan kesempatan untuk berinteraksi dengan teman sebaya

dan orang dewasa di dalam lingkungan yang aman, sehingga memberikan anak keamanan

dan kenyamanan.

5. Anak sebagai peserta yang aktif dalam proses perkembangan dan belajarnya. Proses

belajar dan perkembangan yang terkait akan mempengaruhi bagaimana anak membangun

pengetahuan sendiri, bukan informasi yang tidak tepat dari orang dewasa. Keterampilan

sebagai dasar membangun pengetahuan akan meningkat dengan praktek. Oleh karena itu

anak harus diberi kesempatan membangun pengetahuannya melalui eksplorasi, interaksi

dengan bahan dan meniru peran. Oleh karena itu intervensi harus termasuk kesempatan

membangun pengetahuannya melalui eksplorasi, interaksi dengan bahan dan meniru

peran termasuk kesempatan pada anak untuk belajar sambil praktek, terlihat dalam

pemecahan masalah, dan belajar bahasa dan kemampuan berkomunikasi. Kesempatan

untuk terlibat aktif aktif dalam kegiatan sehari-hari di rumah atau pada suatu tempat yang

lebih terorganisir di luar rumah, seperti Taman Bermain, Taman kanak-kanak, atau

sekolah formal lainnya.


KETERLAMBATAN PERKEMBANGAN

Keterlambatan perkembangan terjadi apabila seseorang anak tidak mencapai milestone

yang seharusnya sesuai umurnya. Keterlambatan perkembangan dapat terjadi pada salah satu

ataupun kesemua aspek pertumbuhan. Faktor risiko keterlambatan perkembangan dapat berupa

faktor genetik ataupun lingkungan. Contoh dari risiko genetik adalah sindroma down dimana

keterlambatan perkembangan terjadi akibat kelainan kromosom. Risiko lingkungan termasuk

paparan terhadap bahan toksik, infeksi intrauterine, depresi maternal dan prematuritas. Faktor

risiko mempunyai efek kumulatif terhadap perkembangan. Semakin banyak faktor risiko maka

semakin besar risiko sesorang anak itu mengalami keterlambatan perkembangan (Lewis R.F&

Judith S.P, 1994 ; David dkk, 2005).

Aspek Perkembangan

Perkembangan terdiri dari beberapa aspek yaitu motorik kasar, motorik halus, bahasa,

personal sosial dan kognitif.

Motorik Kasar

Merupakan suatu proses kemampuan sefalokaudal dalam mengontrol kelompok otot-otot

besar untuk mengatur kepala, duduk, berdiri, berjalan, dan perubahan posisi. Berfungsi juga

mempertahankan keseimbangan, cara dan gaya berjalan.

Motorik halus

Merupakan suatu proses kemampuan proksimodistal dalam memanipulasi ekstremitas

atas jari tangan dan koordinasi mata dan tangan. Untuk menilai aspek ini, pada bayi digunakan

kubus kayu. Pada anak yang lebih besar menggunakan gambar-gambar untuk mengetahui

kemampuan visuomotor.

8
9

Perkembangan motorik kasar, halus dan reflek primitif

Perkembangan motorik kasar meliputi perkembangan postur tubuh dan lokomotor.

Perkembangan motorik kasar dimulai dari munculnya reflek primitif yang bersifat sebagai

perlindungan terhadap bayi. Reflek ini akan menghilang dalam umur sekitar 6 bulan diganti

reflek postural yang terdiri dan reflek righting yang muncul pada umur 6-18 bulan. Menetapnya

reflek primitif menunjukkan adanya gangguan perkembangan susunan saraf pusat.

Pada usia baru lahir tampak gerakan simetris pada keempat ekstremitas disertai tonus

otot. Pada usia ini terjadi perkembangan kemampuan mengontrol kepala. Pada usia 1 bulan

kemampuan kortikal dan kontrol volunter dari kepala dan leher menjadl lebih baik: Usia 2 bulan

pada posisi tengkurap, bayi dapat mengangkat kepala. Usia 2-3 bulan pada posisi tengkurap, bayi

dapat mengubah posisi kepala dari kiri ke kanan atau sebaliknya. Pada usia 5 bulan pada posisi

terlentang, bayi sudah dapat mengangkat kepala. Kemampuan motorik halus pada usia 4-5 bulan

adalah telapak tangan telah terbuka, bayi dapat menggenggam objek dengan seluruh jari atau dan

telapak tangan. Usia 6 bulan bayi telah mampu berguling dari posisi terlentang ke tengkurap dan

kemampuan motorik halusnya adalah tangan telah dapat mengenggam objek dengan seluruh jari

serta memindahkannya dari satu tangan ke tangan yang lain.

Kecurigaan adanya gangguan perkembangan motorik kasar dan halus (tanda bahaya), bila

dijumpai keadaan:

Usia 1 bulan: reflek isap lemah, hipotoni atau hipertoni, gangguan penglihatan

atau pendengaran

Usia 4 bulan belum dapat mengangkat kepala, dan telapak tangan menggenggam

Usia 8 bulan belum dapat tengkurap

Usia 12 buian belum dapat duduk

Usia 18 bulan belum dapat berjalan


10

Bahasa

Bidang ini yang paling mencerminkan kemampuan intelektual. Beberapa hal dini yang

dapat dilihat dari aspek bahasa yaitu: (1) perkembangan produksi bahasa. (2) kapasitas untuk

mengu!ang bahasa. (3) keinginan untuk berkomunikasi. (4) kemampuan untuk mengingat dan

menyimpan dalam ingatan. Keempat hal tersebut merupakan struktur dasar yang harus dikuasai

sebelum usia 4 tahun. Beberapa hal dasar yang harus dikuasai adalah: pengertian kata umur 8-10

bulan, produksi kata umur 11-13 bulan, kombinasi kata umur 20-24 bulan, tata bahasa umur 28

bulan.

Kecurigaan adanya gangguan perkembangan bahasa, bila dijumpai keadaan:

Usia 6 bulan: belum bisa babling ( haba, gagaga)

Usia 10 bulan belum bisa mencari arah suara

Usia 15 bulan belum bisa menyebut 3-5 huruf konsonan

Usia 22 bulan belum bisa bicara terarah (ekholali)

Personal sosial

Bidang ini berhubungan dengan interaksi sosial, pemberian makanan, mandi, dan

berpakaian yang secara budaya berbeda dan sedikit tergantung pada faktor biologis. Kecurigaan

adanya gangguan perkembangan personal sosial (tanda bahaya); bila dijumpai keadaan:

Usia 3-6 bulan belum bisa senyum

Usia 6-9 bulan belum ada interaksi dengan orang yang belum dikenalnya

Usia 15-18 bulan bergaul atau berinteraksi dengan sekitarnya

Usia 21-24 bulan sangat sedikit interaksi dengan sekitarnya


11

Kognitif

Bidang perkembangan ini herhubungan dengan kemampuan untuk belajar, mengerti, dan

menyelesaikan masalah melalui intuisi, pengertian verbal dan non verbal. Menurut teori

perkembangan kognitif Jean Piagets, metode belajar meliputi: observasi, mendengar, dan imitasi.

Milestone Perkembangan

Penggunaan milestone perkembangan adalah untuk menilai perkembangan diskrit. Hal ini

bisa diobservasi oleh dokternya sendiri ataupun mendapat informasi dari orang tuanya. Pada

dasarnya milestone membandingkan kemampuan pasien dengan anak-anak seumurnya. Pola

perkembangan anak yang normal pada dasarnya hampir sama, sehingga kemungkinan untuk

mengevaluasinya dapat dilakukan menurut normalnya usia anak tersebut. Monitoring

perkembangan anak secara berkala perlu dilakukan, agar penyimpangan/keterlambatan

perkembangan dapat diketahui secara dini. Parameter perkembangan anak normal menurut umur

adalah sebagai berikut : (DEPKES, 1997, Soetjiningsih, 1998, Needlman, 2000).

Usia 0-3 bulan

Personal Sosial (PS) : Melihat ke muka orang dengan tersenyum.

Motorik Kasar (MK) : Belajar mengangkat kepala

Motorik Halus (MH) : Belajar mengikuti objek dengan matanya

Bahasa (B) : Bereaksi terhadap suara/bunyi.

Usia 3-6 bulan

Personal Sosial (PS) : Mulai belajar kontak sosisal, tertawa dan menjerit karena

gembira bila diajak bermain.

Motorik Kasar (MK) : Mengangkat kepala 90 derajat dan mengangkat dada dengan bertopang

tangan.

Motorik Halus (MH) : Meraih benda-benda yang ada dalam jangkauanya atau di luar

juangkauannya.

Bahasa (B) : Dapat mengucapkan aah, ngah.


12

Usia 6-9 bulan

Personal Sosial (PS) : Mulai berpartisipasi dalam permainan.

Motorik Kasar (MK) : Dapat duduk tanpa dibantu

Motorik Halus (MH) : Memegang benda kecil dan melempar benda-benda

Bahasa (B) : Mengeluarkan kata-kata tanpa arti.

Usia 9-12 bulan

Personal Sosial (PS) : Memperlihatkan minat yang besar dalam mengekspresikan sekitarnya,

ingin menyentuh apa saja dan memasukan benda ke mulutnya.

Motorik Kasar (MK) : Dapat berdisi sendiri tanpa dibantu, berjalan dengan dituntun

Motorik Halus (MH) : Dapat menyusun balok dan mainan

Bahasa (B) : Menirukan suara, belajar menyatakan satu atau dua kata

Usia12-15 bulan

Personal Sosial (PS) : Memperlihatkan rasa cemburu dan rasa bersaing.

Motorik Kasar (MK) : Berjalan sambil berjinjit, berjalan mundur

Motorik Halus (MH) : Menyusun 2 atau 3 balok

Bahasa (B) : Dapat menyebut nama bagian tubuh.

Usia 15-18 bulan

Personal Sosial (PS) : Mampu melakukan permainan petak umpet.

Motorik Kasar (MK) : Dapat bermain dan menendang bola

Motorik Halus (MH) : Mampu membuat untaian benda-benda

Bahasa (B) : Mampu memberitakan sesuatu mengenai gambar-gambar.

Usia 18-24 bulan

Personal Sosial (PS) : Mulai belajar mengontrol buangair besar dan air kecil.

Motorik Kasar (MK) : Mampu berjalan naik turun tangga

Motorik Halus (MH) : Menyusun 6 kotak/balok

Bahasa (B) : Mampu bernyasi /bersajak


13

Usia 2-3 tahun

Personal Sosial (PS) : Bermain bersama dengan anak lain dan menyadari adanya lingkungan

di luar keluarganya.

Motorik Kasar (MK) : Belajar meloncat, mamanjat melompat dengan satu kaki

Motorik Halus (MH) : Mampu mencocokan gambar dan benda

Bahasa (B) : Mampu menyusun kalimat

Usia 3-4 tahun

Personal Sosial (PS) : Belajar berpakaian dan membuka pakaian sendiri.

Motorik Kasar (MK) : Berjalan mengikutu garis , melempar bendabenda kecil keatas

Motorik Halus (MH) : Mengenal 2-3 warna

Bahasa (B) : Bicara dengan baik

Usia 4-5 tahun

Personal Sosial (PS) : Bermain kretif dengan teman-temanya..

Motorik Kasar (MK) : Mampu lomba karung, melompati tali

Motorik Halus (MH) : Dapat menghitung jari-jarinya

Bahasa (B) : Mengigat mendengar dan mengulan hal-hal penting serta mampu

bercerita

Usia 5-6 tahun

Personal Sosial (PS) : Bergaul dan membutuhkan teman sebaya untuk bermain dan

berkomunikasi .

Motorik Kasar (MK) : Belajar Dapat bersepeda dan main sepatu roda

Motorik Halus (MH) : Mampu menggunakan perkakas , mengenal waktu

Bahasa (B) : Senang bertanya dan dapat menjawab pertanyaan mengapa.


14

Gambar 2.1 Perkembangan Motorik Kasar (Lissauer; Clayden. 2005)


15

Gambar 2.2 Perkembangan Motorik Kasar Halus dan Penglihatan (Lissauer; Clayden. 2005)
16

Gambar 2.3 Perkembangan Bicara, Bahasa dan Pendengaran


(Lissauer; Clayden. 2005)
17

Gambar 2.4 Perkembangan Sosial, Emosi dan Prilaku (Lissauer; Clayden. 2005)
18

Kepentingan deteksi dini

Perlu tidaknya deteksi dini terhadap keterlambatan perkembangan menjadi kontroversi

antara beberapa ahli. Ini disebabkan tidak adanya suatu diagnosis ataupun terapi yang spesifik

untuk mengatasi development delay ini. Namun, ada bukti yang menunjukkan bahwa deteksi dini

membantu anak dan juga orang tuanya. Deteksi dini dapat mencegah keterlambatan

perkembangannya menjadi lebih berat. Selain itu, deteksi dini penting agar apabila ditemukan

gangguan perkembangan, dapat segera dilakukan intervensi dengan latihan atau stimulasi.

Diagnosis dini dari penyakit seperti muscular dystrophy dapat memberi informasi yang berharga

kepada orang tua untuk kehamilan selanjutnya. Namun mendeteksi dini suatu keterlambatan

perkembangan itu cukup sulit disebabkan variasi besar yang normal pada anak-anak, penilaian

aspek perkembangan yang bervariasi dan kesulitan dari pihak keluarga dan juga klinisi untuk

menghadapi kenyataan bahwa seseorang anak itu mengalami keterlambatan perkembangan

sehingga deteksi sering terlewat (Lewis R.F& Judith S.P, 1994).

Bagaimana mendeteksi dini

Untuk mendeteksi secara dini keterlambatan perkembangan, hal yang paling sederhana

yang bisa dilakukan oleh pemeriksa adalah anamnesis dan observasi yang lengkap. Apabila

anamnesis dan observasi mengarah kepada suatu keterlambatan dalam perkembangan, maka

dilanjutkan dengan skrining. Penilaian perkembangan anak secara dini sangat dibutuhkan untuk

menghadapi masalah tumbuh kembang yang angka kejadiannya semakin meningkat, sehingga

dapat dilakukan intervensi dini. Intervensi dini ini dapat dilakukan karena adanya kemampuan

plastisitas otak dari anak (Blackman JA, 1999 ; Johnson C.P, 1997).

Konsep Skrining Perkembangan

Skring perkembangan adalah suatu proses pemeriksaan anak (prosedur pra skrining dan

skrining) untuk mengidentifikasikan apakah mereka memerlukan penilaian lebih lanjut. Hal ini

hanya untuk mencari atau mengkategorikan kepada kecurigaan gangguan perkembangan


19

(Needlman R.D, 2000). Skrining perkembangan dapat dibedakan atas skrining informal, skrining

formal, dan skrining yang terfokus pada anak yang mempunyai faktor risiko saat prenatal,

perinatal dan post natal (Blackman JA, 1999).

Skring perkembangan informal dapat dinilai sendiri oleh para orang tua dengan mengisi

keusioner atau kartu menuju sehat (KMS) tumbuh kembang dan juga melalui petugas kesehatan

pada saat pemeriksaan rutin. Hal tersebut merupakan upaya praskrining dan tingkat usia dini anak

yang perlu diperiksa adalah : saat lahir, 6 minggu, 6 bulan, 10 bulan, 18 bulan, 2 tahun, 3 tahun, 4

tahun. Bila ditemukan penyimpangan tumbuh kembang setelah dinilai dengan kuesioner atau

KMS preskrining dapat segera dirujuk untuk dilakukan skrning atau bila penyimpangan

perkembangannya belum melewati tanda bahaya dapat distimulasi sesuai petunjuk KMS tumbuh

kembang (Blackman JA, 1999)

Tabel 2.1 Beberapa hal yang sebaiknya tergali dalam anamnesis

Skrining formal dapat dilakukan dengan menggunakan alat atau instrumen yang telah

memenuhi prinsip validitas, reabilitas, spesifitas, dan sensitifitas. Tes ini harus menguji fungsi

anak dalam berbagai bidang perkembangan serta menggambarkan informasi tentang lingkungan

dan interaksi anak dengan orang tua.

Banyak alat untuk menguji perkembangan yang telah dipakai banyak negara yang dibuat

berdasarkan pengharapan pencapaian perkembangan pada umur-umur kronologis tertentu.


20

Sebagai contoh: jika seorang anak perempuan tidak mampu duduk sendiri pada umur tertentu

dimana 90% anak lain mampu maka anak tersebut dianggap gagal.

Validitas mengacu pada kemampuan alat untuk memeriksa apa yang ingin diperiksa.

Sebuah uji dikatakan memiliki reliabilitas yang baik jika setelah dilakukan beberapa kali tetap

memberikan hasil yang sama atau jika uji dilakukan oleh penguji yang berbeda hasilnya sama.

Hasil yang dapat dipercaya (realibel) tergantung pada intruksi yang jelas tentang cara melakukan

uji dan cara menginterpretasikan hasil uji serta pelatihan yang cukup untuk orang-orang yang

melakukan uji tersebut.

Validitas dan reabilitas tes skrining juga harus dianalisa menurut kriteria yang lain seperti

dapat diterima untuk jenis uji atau orang-orang yang diuji, dan orang-orang yang menerima

rujukan hail uji. Akan timbul konflik antara para penguji dan pusat program pelayanan

masyarakat jika alat-alat uji jika alat uji dianggap tidak valid. Tentu saja banyak sekali alat-alat

untuk tes skrining rumahan yang belum divalidasi (Blackman JA, 1999).

Skrining perkembangan tidak dapat (Blackman JA, 1999; Reyes AL, 1999):

(1) Mendiagnosa retardasi mental, cerebral palsy, dan mental superior pada bayi usia dini.

(2) Memperkirakan hilangnya reflek primitif.

(3) Membuktikan bahwa retardasi mental dan cerebral palsy pada anak disebabkan trauma lahir.

(4) Memperkirakan gangguan perkembangan akibat tekanan emosi.

(5) Memperkirakan seorang anak pada suatu saat akan sulit belajar.

(6) Memperkirakan kemampuan masa depan anak yang buruk.

Alat Praskrining

Alat praskrining perkembangan dapat menggunakan kuesioner pra skrining

perkembangan anak/Parents Evaluation of Developmental Status (PEDS).

Kuesioner pra skrining perkembangan anak adalah suatu daftar pertanyaan singkat yang

ditujukan kepada orang tua dan dipergunakan sebagai alat untuk melakukan skrining pendahuluan
21

perkembangan anak sejak lahir sampai 8 tahun. Terdapat 10 pertanyaan yaang merangkumi

aspek global/kognitif, bahasa ekspresif dan artikulasi, bahasa reseptif, motorik halus, motorik

kasar, perilaku, emosi sosial, kemandirian, sekolah, lain-lain.

Kuesioner ini dapat dipakai untuk meningkatkan keyakinan dan membuat keputusan yang

akurat mengenai perkembangan dan tingkah laku. Pelaksanaan hanya memerlukan kurang lebih 2

menit untuk mengisi dan menghitung jika dibantu dengan tanya jawab. PEDS mempunyai

spesifitas 70-80% dan sensitifitas 74-80%. PEDS dapat mudah dikerjakan oleh tenaga

profesional, para profesional atau petugas administrasi. Dapat juga dikerjakan sendiri oleh orang

tua di ruang tunggu, ruang pemeriksaan atau rumah.

Alat Skrining

Para klinisi lebih berperan untuk melakukan tes perkembangan tahap ini. Dari hasil tes

dapat digolongkan adalah variasi normal, gangguan fungsi atau kegagalan perkembangan sesuai

golongan umur anak. Beberapa alat/ instrumen skrining dapat dilihat pada tabel. Sebagian tes

penyaring atau instrumen yang telah lazim dilaksanakan akan dijelaskan di bawah ini.

Denver II

Tes Denver yang dipakai adalah Denver II yang berisi 125 gugus pertanyaan yang

mewakili aspek motorik halus, motorik kasar, verbal dan personal sosial. Bila anak dapat

menjawab semua pertanyaan sesuai garis umur atau hanya 1 caution maka anak dianggap normal,

bila ada kegagalan atau 2 caution maka dianggap suspek dan perlu pemeriksaan ulang. Bila anak

menolak berarti tidak dapat dinilai.

Muenchen

Tes Muenchen dipakai pada anak 0-3 tahun dengan melihat aspek umur merangkak,

duduk, berjalan, memegang, persepsi, berbicara, pengertian bahasa, dan sosialisasi. Penilaian

sesuai kemampuan setelah di cari garis umur kronologis.


22

BINS

Tes BINS digunakan untuk anak umur 0-2 tahun dengan mengevaluasi 4 aspek

yaitukognisi, ekspresif, reseptif dan neurologi. Tes ini menggambarkan perkembangan anak dan

juga aspek neurologiknya. Anak dikelompokkan dalam beberapa kelompok umur dan dinilai

apakah memiliki risiko tinggi, sedang ataukah ringan.

Tabel 2.1 Perangkat Skrining Perkembangan

Penilaian Atau Diagnostik Gangguan Perkembangan

Setelah dilakukan skrining perkembangan akan didapat 3 hasil yaitu: keterlambatan

(delay), disosiasi, dan deviasi (Reyes Al, 1999).


23

Keterlambatan adalah hasil yang digambarkan sebagai ketinggalan yang signifikan dalam

rangkian perkembangan. Keterlambatan digambarkan sebagai perkembngan yang kurang dari 75

%. Ini merupakan suatu gejala dan bukan merupakan suatu diagnosa sehingga perlu diperiksa

labih lanjut, karena dapat ditemukan berbagai macam penyebab.

Disosiasi adalah penyimpangan yang muncul jika dalam suatu urutan perkembangan

tidak sesuai dalam urutan tersebut. Hal ini bisanya muncul pada anak dengan gangguan

perkembangan seperti cerebral palsy dimana kemampuan berbahasa dan gerak motorik yang jauh

tertinggal dibanding anak-anak lain.

Deviasi adalah penilaian perkembangan yang terjadi pada anak melewati suatu

tahapan perkembangan tidak melalui tahapan perkembangan tidak melalui tahap semestinya.

Contohnya; seorang anak langsung berjalan tanpa pernah merangkak atau bisa mengucapkan 75

kata, tapi tidak membentuk kalimat. Ini sering terjadi pada anak dengan gangguan komunikasi

seperti autisme.
Daftar Pustaka

Blackman, JA. Developmental screening: infant, toddlers and preschoolers. Dalam: Levin MD,

penyunting. Developmental behavioral pediatrics. Edisi ke 3. Saunders. Philadelphia.

1999;669-695

David, R; Michael, S; Anactte, M; Maryam, O. 2005. Developmental screening. Journal of Child Neurology.

20(1):4:21

Lewis, R; Judith, S. 1997. The Infant or Young Child with Developmental Delay. N Eng Med J. 330(7):478

Lissauer, T; Clayden, G. 2005. Child development, hearing and vision. In: Illustrated Textbook of Pediatrics.

2nd Edition. International edition. Mosby

Markum AH. Tumbuh kembang. Dalam: Markum AH, Ismael S. Alatas H. Akib A, Firmansyah A,

Sastroasmoro S, penyunting. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak: jilid 1. Jakarta: FKUI, 1991;

9-41.

Needlman RD. Growth and Development. Dalam: Berhman RE, Kliegman RM, Jenson HB.

penyunting. Nelson textbook of pediatrics. Edisi 16. Philadelphia. Saunders. 2000;83-90

Reyes AL. Concept or developmental screening. Assessment and survillence. UP College of

medicine, 1999

Soetjiningsih. 2002. Perkembangan anak dan permasalahannya. Dalam: Narendra, M; Sularyo, T;

Soetjiningsih; Suyitno, H; Ranuh, I. Penyunting. Tumbuh Kembang Anak dan Remaja. Edisi 1. CV.

Sagung Seto. Jakarta

Stephan, B; Nienke, P. 2003. Developmental and behavioral pediatrics. In. Nelson Essential of Pediatrics, 4th

Edition. Philadelphia. Saunders

Tanuwidjaya, S. 2002. Konsep umum tumbuh dan kembang. Dalam: Narendra, M; Sularyo, T; Soetjiningsih;

Suyitno, H; Ranuh, I. Penyunting. Tumbuh Kembang Anak dan Remaja. Edisi 1. CV. Sagung Seto.

Jakarta

24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36