Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN

TRAUMA AMPUTATUM

Disusun untuk Memenuhi Tugas Individu Pendidikan Profesi Ners Departemen Emergensi
Di IGD Rumah Sakit Dr.Soepraoen Malang

Disusun Oleh :

TITIK ZAHROTUL AINIYAH

NIM. 150070300011125

PROGRAM PROFESI NERS ILMU KEPERAWATANFAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2016
TRAUMA AMPUTATUM

1. Definisi
Trauma amputasi adalah hilangnya bagian tubuh biasanya jari, jari kaki,
lengan, atau kaki yang terjadi sebagai hasil dari kecelakaan atau trauma. Sebuah
amputasi traumatik dapat melibatkan bagian tubuh, termasuk lengan, tangan, jari
tangan, kaki, jari kaki, telinga, hidung, kelopak mata dan alat kelamin. Anggota tubuh
bagian atas termasuk jari-jari (falang), tangan (metakarpal), pergelangan tangan
(carpals), lengan (radius/ulna), lengan atas (humerus), tulang belikat (tulang belikat)
dan tulang kerah (klavikula).
Menurut para ahli ada beberapa pengertian tentang trauma dan amputasi, antara
lain:
Menurut (Garrison, 2001:30) amputasi adalah hilangnya suatu bagian tubuh
atau bagian dari tubuh. Kehilangan tersebut bisa sekecil ujung hidung atau
seluas keseluruhan tubuh di bawah vertebra lumbalis bawah.
Sedangkan menurut (Carpenito, 1999:459) amputasi adalah pembedahan
memotong dan mengangkut tungkai dan lengan. Amputasi yang disebabkan
kecelakaan (23%), penyakit (74%) kelainan kongenital (3%).
Sehingga dapat disimpulkan bahwa traumatik amputasi adalah penghilangan
sebuah ekstremitas tubuh oleh trauma fisik yang dialami individu seperti
kecelakaan atau kekerasan.

2. Etiologi
Penyebab utama amputasi ekstremitas atas adalah trauma berat (cedera
akut, luka bakar listrik, luka bakar dingin), tumor ganas, infeksi gas ganggren
fulminal, osteomielitis kronis dan malforasi kongenital. (Smeltzer, 2002: 2387).
Trauma amputasi biasanya hasil langsung dari pabrik, peternakan, atau kecelakaan
perkakas listrik atau dari kecelakaan kendaraan bermotor. Bencana alam, perang,
dan serangan teroris juga bisa menyebabkan amputasi traumatik. Trauma adalah
penyebab paling sering dari suatu amputasi, cedera terkait pekerjaan, aktivitas di
alam bebas, kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kendaraan bermotor dan cedera
terkait pekerjaan. Terdapat suatu insiden yang lebih besar dari hilangnya ekstermitas
bawah, meliputi hampir 10% tindakan amputasi, terutama pada kecelakaan kerja.

3. Faktor Resiko
Klien yang memerlukan amputasi biasanya orang muda dengan trauma
ekstremitas berat atau lanjut usia dengan penyakit vaskuler perifer. Orang muda
umumnya sehat, sembuh dengan cepat, dan berpartisipasi dalam program
rehabilitasi segera. Karena amputasi sering merupakan akibat dari cedera, klien
memerlukan lebih banyak dukungan psikologis untuk menerima perubahan
mendadak citra diri dan menerima stress akibat hospitalisasi, rehabilitasi jangka
panjang, dan penyesuaian gaya hidup. Klien ini memerlukan waktu untuk mengatasi
perasaan mereka mengenai kehilangan permanen tadi. Reaksi mereka sudah diduga
dan dapat berupa kesedihan terbuka dan bermusuhan (Liu, William, 2010, Smeltzer,
2010). Sebaliknya lanjut usia dengan penyakit vaskuler perifer sering mengidap
masalah kesehatan lain, termasuk diabetes melitus dan arteriosklerosis. Amputasi
terapeutik untuk kondisi yang sudah berlangsung lama dapat membebaskan klien
dari nyeri, disabilitas, dan ketergantungan. Klien ini biasanya sudah siap mengatasi
perasaannya dan siap menerima amputasi. Perencanaan untuk rehabilitasi
psikologik dan fisiologik dimulai sebelum amputasi dilaksanakan. Namun, kelainan
kardiovaskuler respirasi, atau neurologik mungkin dapat membatasi kemajuan
rehabilitasi (Lukman, 2009).

4. Tanda dan Gejala


Nekrosis jaringan
Fraktur tulang yang tidak dapat tertolong lagi
Pertumbuhan sel yang abnormal (hiperplasia jaringan).

5. Patofisiologi
Terjadinya amputasi (kehilangan bagian tubuh) pada seseorang dapat
disebabkan karena berbagai faktor antara lain penyakit vaskuler perifer yaitu
penyakit pada pembuluh darah, trauma disebabkan kerena kecelakaan, tumor ganas
seperti osteosarkoma (tumor tulang) serta congenital (bawaan sejak lahir). Amputasi
sendiri bisa diartikan sebagai diskontinuitas jaringan tulang dan otot yang dapat
mengakibatkan terputusnya pembuluh darah dan syaraf serta kehilangan bagian
tubuh, dimana pada terputusnya pembuluh darah dan syaraf ini akan menimbulkan
rasa nyeri yang sering kali berdampak pada resiko terjadinya infeksi pada luka yang
ada dan gangguan mobilitas fisik yang dapat menimbulkan resiko kontraktur fleksi
pinggul. Selain disebabkan oleh nyeri, gangguan mobilitas fisik juga bisa disebabkan
oleh kehilangannya bagian tubuh terutama pada ekstremitas bawah. Kehilangan
bagian tubuh juga dapat menimbulkan stress emosional dikarenakan gangguan
psikologis yang disebabkan oleh adanya perubahan dari struktur tubuh yang
berdampak pada timbulnya gangguan citra diri dan penurunan intake oral. Pada
penurunan intaka oral ini biasanya akan menimbulkan resiko kurangnya pemenuhan
nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh dan akan terjadi kelemahan fisik serta resiko
penyembuhan luka yang lambat.

6. Jenis-Jenis Amputasi
Berdasarkan pelaksanaan amputasi, dibedakan menjadi:
Amputasi selektif atau terencana, amputasi jenis ini dilakukan pada penyakit
yang terdiognosis dan mendapat penanganan yang baik serta terpantau
secara terus-menerus. Amputasi dilakukan sebagai salah satu tindakan
alternatif terakhir.
Amputasi akibat trauma, ini merupakan amputasi yang terjadi sebagai akibat
trauma dan tidak terencana. Kegiatan tim kesehatan adalah memperbaiki
kondisi lokasi amputasi serta memperbaiki kondisi umum klien.
Amputasi darurat, kegiatan amputasi ini dilakukan secara darurat oleh tim
kesehatan. Biasanya merupakan tindakan yang memerlukan kerja yang cepat
seperti trauma dengan patah tulang multiple dan kerusakan kulit yang luas.

7. Komplikasi
Komplikasi amputasi meliputi perdarahan, infeksi, dan kerusakan kulit.
Karena ada pembuluh darah besar yang dipotong, dapat terjadi perdarahan masif.
Infeksi merupakan infeksi pada semua pembedahan. Dengan peredaran darah yang
buruk atau kontaminasi luka setelah amputasi traumatika, risiko infeksi meningkat.
Penyembuhan luka yang buruk dan iritasi akibat prostesis dapat menyebabkan
kerusakan kulit. (Smeltzer, 2002:2389)

8. Penatalaksanaan
Tujuan utama pembedahan adalah mencapai penyembuhan luka amputasi
dan menghasilkan sisa tungkai (puntung) yang tidak nyeri tekan dengan kulit yang
sehat . pada lansia mungkin mengalami kelembatan penyembuhan luka karena
nutrisi yang buruk dan masalah kesehatan lainnya. Percepatan penyembuhan dapat
dilakukan dengan penanganan yang lembut terhadap sisa tungkai, pengontrolan
edema sisa tungkai dengan balutan kompres lunak (rigid) dan menggunakan teknik
aseptik dalam perawatan luka untuk menghindari infeksi.
Balutan rigid tertutup
Balutan rigid adalah balutan yang menggunakan plaster of paris yang dipasang
waktu dikamar operasi. Pada waktu memasang balutan ini harus direncanakan
apakah penderita harus imobilisasi atau tidak dan pemasangan dilengkapi tempat
memasang ekstensi prosthesis sementara (pylon) dan kaki buatan. Balutan ini sering
digunakan untuk mendapatkan kompresi yang merata, menyangga jaringan lunak
dan mengontrol nyeri dan mencegah kontraktur. Kaoskaki steril dipasang pada sisi
steril dan bantalan dipasang pada daerah peka tekanan. Sisa tungkai (punting)
kemudian dibalut dengan gips elastic yang ketika mengeras akan memberikan
tekanan yang merata. Hati-hati jangan sampai menjerat pembuluh darah. Gips
diganti sekitar 10-14 hari. Bila terjadi peningkatan suhu tubuh, nyeri berat atau gips
mulai longgar harus segara diganti.
Balutan lunak
Balutan lunak dengan atau tanpa kompresi dapat digunakan bila diperlukan inspeksi
berkala sisa tungkai (puntung) sesuai kebutuhan. Bidai imobilisasi dapat dibalutkan
pada balutan. Hematoma puntung dikontrol dengan alat drainase luka untuk
meminimalkan infeksi.
Amputasi bertahap
Amputasi bertahap dilakukan bila ada gangren atau infeksi. Pertama-tama dilakukan
amputasi guillotine untuk mengangkat semua jaringan nekrosis dan sepsis. Luka
didebridemen dan dibiarkan mengering. Jika dalam beberapa hari infeksi telah
terkontrol dank lien telah stabil, dilakukan amputasi definitife dengan penutupan kulit.
Protesis
Kadang diberikan pada hari pertama pasca bedah sehingga latihan segera dapat
dimulai. Keuntungan menggunakan protesis sementara adalah membiasakan klien
menggunakan protesis sedini mungkin. Kadang protesis darurat baru diberikan
setelah satu minggu luka sembuh. Pada amputasi, untuk penyakit pembuluh darah
proteis sementara diberikan setelah 4 minggu. Protesis ini bertujuan untuk
mengganti bagian ekstremitas yang hilang. Artinya defek system musculoskeletal
harus diatasi, temasuk defek faal. Pada ekstremitas bawah, tujuan protesis ini
sebagian besar dapat dicapai. Sebaliknya untuk ekstremitas atas tujuan itu sulit
dicapai, bahkan dengan tangan miolektrik canggih yang bekerja atas sinyal miolektrik
dari otot biseps dan triseps. (Smeltzer, 2002:2388-2389)

9. Pemeriksaan Diagnostik
Foto rontgen untuk mengidentifikasi abnormalitas tulang
CT Scan untuk mengidentifikasi lesi neoplastik, osteomielitis, dan pembentukan
hematoma.
Aniografi dan pemeriksaan aliran untuk mengevaluasi perubahan sirkulasi/perfusi
jaringan dan membantu memperkirakan potensi penyembuhan jaringan setelah
amputasi.
Ultrasound Doppler, flowmetri Doppler dilakukan untuk mengkaji dan mengukur
aliran darah
Tekanan O2 transkutaneus untuk member peta pada area perfusi paling besar
dan paling kecil dalam ketrelibatan ekstremitas.
Termografi untuk mengukur perbedaan suhu pada tungkai iskemik di dua sisi dari
jaringan kutaneus ketengah tulang. Perbedaan yang rendah antara dua
pembacaan, makin besar untuk sembuh.
Plestimografi untuk mengukur TD segmental bawah terhadap ekstremitas bawah
mengevaluasi aliran darah arterial.
LED, peningkatan mengidentifikasikan respon inflamasi.
Kultur luka untuk mengidentifikasi adanya infeksi dan organisme penyebab.
Biopsi, menginformasi diagnosis massa/benigna.
Hitung darah lengkap/diferensial, peninggian dan pergeseran ke kiri diduga
proses infeksi.

10. Komplikasi
Komplikasi amputasi meliputi perdarahan, infeksi, dan kerusakan kulit.
Karena ada pembuluh darah besar yang dipotong, dapat terjadi perdarahan masif.
Infeksi merupakan infeksi pada semua pembedahan, dengan peredaran darah buruk
atau kontaminasi luka setelah amputasi traumatika, risiko infeksi meningkat.
Penyembuhan luka yang buruk dan iritasi akibat prostesis dapat menyebabkan
kerusakan kulit (Smeltzer, 2008). Hemorage masif akibat lepasnya jahitan
merupakan masalah yang paling membahayakan. Klien harus dipantau secara
cermat mengenai setiap tanda dan gejala perdarahan. Tanda vital klien harus
dipantau, dan drainase berpengisap harus diobservasi sesering mungkin.
Perdarahan segera setelah pasca operasi dapat terjadi perlahan atau dalam bentuk
hemorage masif akibat lepasnya jahitan. Torniket besar harus tersedia dengan
mudah disisi pasien sehingga bila sewaktu-waktu terjadi perdarahan hebat, dapat
segera dipasang pada sisa tungkai untuk mengontrol perdarahan. Ahli bedah harus
diberi tahu dengan segera bila ada hemorage berlebihan (Smeltzer, 2010).

11. Diagnosa Keperawatan


Perumusan diagnosa keperawatan adalah bagaimana diagnosa keperawatan
digunakan dalam proses pemecahan masalah. Melalui identifikasi, dapat
digambarkan berbagai masalah keperawatan yang membutuhkan asuhan
keperawatan (Hidayat, 2002:24) Diagnosa keperawatan menurut Doenges
(2000:787-793) yang mungkin muncul pada klien amputasi sebagai berikut:
Gangguan citra diri berhubungan dengan faktor biopsiko atau kehilangan bagian
tubuh
Nyeri berhubungan dengan cidera fisik/jaringan dan trauma syaraf. Dampak
psikologis dari kehilangan bagian tubuh
Perfusi jaringan, perubuhan perifer berhubungan dengan penurunan aliran
darah, edema jaringan
Kerusakan integritas jaringan b/d faktor mekanik: prubahan sirkulasi, imobilitas
dan penurunan sensabilitas (neuropati).
Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan
pertahanan primer (kulit robek, jaringan traumatik) prosedur invasif, terpajan
pada lingkungan

no Dx keperawatan noc
Perfusi jaringan, perubuhan Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1x24 Pantau t
perifer berhubungan jam menunjukkan perfusi jaringan yang baik dengan perifer, p
dengan penurunan aliran kriteria hasil:
darah, edema jaringan - Sianosis (-) Lak
- Suhu ekstermitas hangat neurovas
- Denyut proksimal dan perifer distal kuat sensasi
- N: 60-100x/mnt
- Warna kulit normal. Inspek
perh
kar
Berikan t
sisi pe
perdar

Evaluas
tidak d

Kolab
IV/d
Gunakan
untuk ka
Pantau pe

Gangguan citra diri Antisipasi perubahan pola hidup Kaji/memp


berhubungan dengan faktor - Perasaan negatif tentang tubuh pasien da
biopsiko atau kehilangan bagian - Fokus pada kekuatan masa lalu, fungsi AMPUT
tubuh atau penampilan ketakutan
- Perasaan tidak berdaya, putus asa kehilang
- Berfokus pada kehilangan bagian pengua
tubuh, tidak melihat/menyentuh bagian operas
tubuh AMPUT
- Menerima perubahan dalam pola tepat (se
tanggung jawab/kapasitas fisikal yang tindakan p
biasa untuk melakukan peran kontrol ny
derajat du
pasien Dis
tentang
deng
bagaiman
dalam p
biasa
kunjunga
diAMPUT
yan
rehabilitas
terbuk
mendisku
seksuali
menarik
tentang h
penyangka
melihat p
diterimaK
tersedia
co
psikiatrik/
Nyeri akut b.d agen injuri NOC: 1.
- Ka
biologis - Tingkat nyeri
ka
- Nyeri terkontrol
f
- Tingkat kenyamanan
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama
-
4 x 24 jam, klien dapat :
ke
1. Mengontrol nyeri, dengan indikator :
v
- Mengenal faktor-faktor penyebab - Pa
- Mengenal onset nyeri
- Tindakan pertolongan non farmakologi
- Menggunakan analgetik
- Melaporkan gejala-gejala nyeri kepada -
tim kesehatan. k
- Nyeri terkontrol
un

2. Menunjukkan tingkat nyeri, dengan indikator:


Melaporkan nyeri
- -
- Frekuensi nyeri
pe
- Lamanya episode nyeri
- Mo
- Ekspresi nyeri; wajah
- Perubahan respirasi rate
- Perubahan tekanan darah
- Kehilangan nafsu makan
- Se
Skala :
- Ku
1 = tidak pernah dilakukan
2 = jarang dilakukan
3 = kadang-kadang dilakukan
- Aja
4 = sering dilakukan
r
5 = selalu dilakukan
ses

- K

m
o

- Ti

2. Man
-
d
c
d
- Mo

- M
s

- M
-
ke
efe
-

me

3. Pe
- P

fr
-
- Pil

- P
ata

- Mo
d

- K
a
- E
an
da
mi
m

- K
u

-
ka

- D
d

2 Kerusakan integritas jaringan Setelah dilakukan tindakan selama 6 hari wound 1. Woun
- Ca
b/d faktor mekanik: prubahan healing meningkat dengan kriteria:
ten
sirkulasi, imobilitas dan luka mengecil dalam ukuran dan peningkatan
ked
penurunan sensabilitas granulasi jaringan.
kla
(neuropati). Skala :
- Ca
1 = tidak pernah dilakukan
sek
2 = jarang dilakukan - Ber
3 = kadang-kadang dilakukan ant
- Bila
4 = sering dilakukan
0,9
5 = selalu dilakukan
- Lak
- Lak
ses
- Dre
ses
- Lak
- Per
dre
me
- Am
pad
- Ban
set
pad
- Ber
dar

3 Risiko infeksi b.d. prosedur 1 Infectio


invasif, tidak adekuatnya NOC Labels: Infeksi)
pertahanan tubuh sekunder Immune Status - Ber
(penurunan hemoglobin) Kriteria hasil: set
- Bat
- Tak ada tanda infeksi berulang (rubor,
per
kalor, tumor, dolor, fungsiolesa)
- Ins
- Status respirasi dalam batas normal
- Suhu tubuh dalam batas normal pen
- WBC dan differensial dalam batas
tan
normal
dan
me
Knowledge : Infection Control - Gu
Kriteria hasil: ant
- Menerangkan cara-cara penyebaran tan
- Cu
infeksi dan faktor yang berkontribusi
- Menjelaskan tanda dan gejala infeksi seb
- Menjelaskan aktivitas yang dapat
tind
meningkatkan resistensi terhadap infeksi - Gu
3. Risk Control tan
Kriteria Hasil : pel
- Per
- Mengakui adanya risiko
- Monitor faktor risiko lingkungan. ase
- Mengembangkan strategi kontrol risiko
pem
yang efektif. - Ga
- Menghindari eksposur yang mengancam
line
kesehatan.
- Mengenali perubahan status kesehatan ses
um
- Gu
Skala :
inte
1 = tidak pernah dilakukan
me
2 = jarang dilakukan
kan
3 = kadang-kadang dilakukan
- Tin
4 = sering dilakukan - kel
5 = selalu dilakukan per

2 Infectio
Infeksi)
- Mo
infe
- Mo
sep
WB
- Mo
terh
- Bat
- Sar
terh
- Par
ase
ber
- Per
k/p
- Ber
pad
- Ins
mu
kem
dra
- Dis
kul
- Do
cai
cuk
- Mo
ene
- Do
mo
- Ins
min
res
- Aja
kel
infe
- Aja
infe
- Lap
infe
- Lap

3 Monitor
- Pan
jam

4 Envirom
- Bat
sed
dem
infe

5 Health e
- Jel
dan
me
infe
- Anj
kes
me
- Aja
unt
pen
ma
- Pen
Aja
tan
- Aja
- Anj
per
dira
infe

6 Medica
- Kel
adv
- Pan
yan
pem
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Zaidin. 2001. Dasar-Dasar Keperawatan Profesional.Widya Medika, Jakarta
Capernito, Lynda Juall. 1999. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, Diagnosa
Keperawatan dan Kolaboratif; Alih Bahasa Monica Ester, Setiawan, EGC, Jakarta
Deswani. 2009. Proses Keperawatan dan Berpikir Kritis. Salemba Medika, Jakarta
Doenges, Marylinn E. 1999,2000. Rencana Keperawatan:Pedoman untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien, EGC,Jakarta.
Garrison, Susan J. 2001:Handbook Of Physical Medicine and Rehabilitation Basics, alih
bahasa:Anton Cahaya Widjaja, Editor:Virgi Saputra, Ivo Novita Salim, Hipokrates,
Jakarta
Hidayat, A. Aziz Alimul.2001/2002, Pengantar Dokumentasi Proses Keperawatan,EGC,
Jakarta
Kasim, Fauzi. 2008. ISO:Informasi Spesialite Obat Idonesia.ISFI, Jakarta
Nursalam. 2001. Proses dan Dokumentasi Keperawatan, Konsep dan Praktik. Jakarta,
Salemba Medika.
Smeltzer, Suzanne C. & Bare, Brenda G. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.
Edisi 8 Vol. 3 Brunner & Suddarth. EGC. Jakarta