Anda di halaman 1dari 19

Case Report Session Rotasi II

ARTRITIS GOUT

Oleh :

Ariadi 1110312069

Preseptor :

dr. M. Fardhan

KEPANITERAAN KLINIK ROTASI TAHAP II


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PUSKESMAS LUBUK BUAYA, PADANG
2017

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI 1

ABSTRAK 2

BAB I. PENDAHULUAN
1 Latar Belakang 3
2 Tujuan Laporan kasus 4
1 Tujuan Umum 4
2 Tujuan Khusus 4
3 Manfaat Laporan kasus 5
BAB II. LAPORAN KASUS 6
BAB III. DISKUSI 12
DAFTAR PUSTAKA 16

ABSTRAK

1
Penyakit asam urat atau biasa dikenal sebagai penyakit gout merupakan
suatu penyakit yang diakibatkan karena penimbunan kristal monosodium urat di
dalam tubuh. Asam urat merupakan hasil samping dari pembecahan sel yang
terdapat di dalam darah, karena tubuh secara berkesinmabungan memecah dan
membentuk sel yang baru. Kadar asam urat meningkat atau abnormal ketika ginjal
tidak mampu mengeluarkannya melalaui urin, sehingga dapat menyebabkan nyeri
sendi, terbentuknya benjolan-benjolan pada bagian tubuh tertentu (thopi) seperti
pada jari kaki, serta gangguan pada saluran kemih. Oleh karena itu penyakit gout
terutama Gout Arthritis merupakan penyakit metabolik, yaitu penyakit yang
disebabkan oleh gangguan metabolisme, yang dalam hal ini ialah gangguan
metbabolisme asam urat.1
Kondisi klinis dari asam urat, yang merupakan manifestasi dari kesalahan
dalam metabolisme purin, mempunyai karakteristik meningkatnya serum asam
urat (hyperuricemia), serangan terjadi berulang dari gout arthritis akut pada sendi
peripheral dan pada akhirnya, gout arthritis kronis yang berhubungan dengan
periarticular dan menurunnya jaringan subkutan, atau topus, garam urat, gout juga
dapat berhubungan dengan penyakit ginjal dan nefrolitiasis asam urat.2

BAB I

PENDAHULUAN

2
1.1.1 Latar Belakang

Penyakit asam urat atau biasa dikenal dengan artritis gout merupakan

suatu penyakit yang diakibatkan karena penimbunan kristal monosodium

urat di jaringan atau cairan ekstraseluler. Hal ini disebabkan karena

tingginya kadar asam urat di dalam darah (hiperurisemia). Hiperurisemia

merupakan salah satu kondisi yang sering ditemukan pada lansia sebagai

manifestasi dari adanya gangguan metabolisme.

Selain osteoartritis, asam urat merupakan jenis rematik artikuler

terbanyak yang menyerang penduduk Indonesia, terutama pada lansia.

Penyakit ini didominasi oleh laki-laki, dengan rasio laki-laki : wanita

menjadi 20:1. Pada laki-laki bisa terjadi pada usia muda, namun

puncaknya setelah usia 40 tahun. Sedangkan pada perempuan jarang

menderita penyakit ini sebelum menopause.

Salah satu tujuan upaya kesehatan masyarakat pada kelompok umur

lansia adalah meningkatkan kualitas hidupnya. Puskesmas sebagai pusat

kesehatan masyarakat yang mengupayakan kesehatan perorang dan

masyarakat memiliki peranan penting untuk mencapai tujuan tersebut.

Puskesmas Padang Pasir mempunyai program khusus untuk

mengupayakan kesehatan lansia. Artritis gout merupakan penyakit sendi

terbanyak setelah osteoartritis di bagian lansia Puskesmas Padang Pasir.

3
Pendekatan dan pengobatan yang tepat pada pasien dengan artritis gout

kan membantu mengurangi morbiditas dan disabilitas yang ditimbulkan

oleh pasien dengan artritis gout. Dengan demikian kualitas hidup lansia

akan menjadi lebih baik. Karena imobilisasi akibat kecacatan yang

disebabkan oleh komplikasi artritis gout merupakan salah satu faktor yang

menyebabkan gangguan kesehatan pada lansia. Diagnosis dini dan

penganan awal yang tepat akan membantu mengurangi angka morbiditas

dan disabilitas yang ditimbulkan oleh artritis gout.

Oleh karena itu penulis merasa perlu membahas laporan kasus pasien

dengan artritis gout. Laporan kasus ini membahas artritis gout pada wanita

usia 66 tahun Dalam laporan kasus ini penulis mencoba memaparkan

mulai dari faktor risiko, manifestasi klinis, diagnosis, pengobatan, serta

edukasi kepada pasien lansia dengan artritis gout.

1.2 Rumusan Masalah

Laporan kasus ini membahas tentang hubungan gejala klinis, aspek latar

belakang social, ekonomi, demografi, lingkungan keluarga pasien secara

komprehensif dengan tinjauan pustaka atau ilmu mengenai artritis gout.

1.3 Tujuan Laporan Kasus

1.3.1 Tujuan Umum

4
Penulisan laporan kasus ini merupakan salah satu syarat untuk

menyelesaikan kepaniteraan klinik rotasi tahap II di Puskesmas Padang

Pasir.

1.3.2. Tujuan Khusus

1. Menambah pengetahuan penulis dan pembaca rekan-rekan sejawat dokter

muda mengenai penyakit artritis gout dan pendekatannya secara

komprehensif.

2. Mampu menegakkan diagnostik artritis gout dan penatalaksanaannya.

3. Mampu mengenali berbagai faktor yang terkait dengan artritis gout

berdasarkan studi terkait.

1.4 Manfaat Laporan Kasus

Dengan dibuatnya penulisan laporan kasus diharapkan dapat menambah

wawasan dan pengalaman untuk menerapkan pengetahuan yang didaptkan selama

kuliah dan masa klinik serta diterapkan kedalam kehidupan sehari-hari.

5
6
BAB 2
LAPORAN KASUS

1. Identitas Pasien

Nama : Ny. Nurlaili

Umur : 66 Tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Alamat : Lubuk Buaya

2. Latar belakang sosial ekonomi demografi lingkungan


keluarga

a. Status perkawinan : Menikah

b. Jumlah saudara/ Anak : Anak ke-9 dari 9 bersaudara / 4 anak

c. Status ekonomi keluarga : Cukup Mampu

d. Kondisi rumah :

- Rumah permanen. Pekarangan sempit. Lantai semen. Ventilasi ada


disetiap ruangan, pencahayaan kurang.

- Terdapat 3 buah ruang, 1 ruang tidur, 1 ruang santai, dan 1 ruang tamu

- Kamar mandi ada 1 buah dalam ruang

- Sumber air rumah tangga air tanah

- Pengelolaan sampah dibuang ke tempat pembuangan sampah


sementara

Kesan: Higien dan sanitasi kurang baik

e. Kondisi lingkungan keluarga :

7
Pasien tinggal di lingkungan perumahan yang tidak terlalu padat penduduk
dan lingkungan sekitar cukup bersih. Pasien tinggal hanya bersama suami.

f. Aspek psikologis di keluarga

- Pasien dekat dengan semua anggota keluarga

- Hubungan dengan keluarga baik.

3. Keluhan Utama : Nyeri pada lutut kanan sejak 1 minggu


yang lalu.

4. Riwayat Penyakit Sekarang


Nyeri pada lutut kanan dirasakan sejak 1 minggu yang lalu, awalnya nyeri
seperti ini telah dirasakan sejak 2 tahun sebelumnya.
Nyeri terasa seperti ditusuk dan ngilu saat digerakkan.
Tidur dan aktifitas harian menjadi terganggu saat nyeri timbul

Nyeri tidak disertai demam, mual, muntah, serta kelemahan pada tungkai.

Riwayat trauma sebelumnya disangkal.

5. Riwayat Penyakit Dahulu


- Riwayat hipertensi tidak ada.
- Riwayat diabetes mellitus tidak ada.
- Riwayat penyakit jantung tidak ada.
- Sejak 2015 pasien telah menderita sakit-sakit sendi terutama lutut kanan
akan tetapi pasien hanya mengonsumsi obat-obatan penghilang sakit.
- Riwayat bersin-bersin pada pagi hari tidak ada.
- Riwayat alergi obat-obatan ataupun makanan tidak ada.

6. Riwayat Penyakit Keluarga


- Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama seperti
pasien
7. Pemeriksaaan Fisik

8
Status Generalis
Keadaan Umum : Sedang
Kesadaran : CMC
Nadi : 72x/ menit
Nafas : 18x/menit
TD : 120/80 mmHg
Suhu : afebris
BB : 70 kg

TB : 158 cm

BMI : 28,0

Mata : Konjungtiva tidak anemis, Sklera tidak


ikterik
Kulit : Pucat tidak ada, sianosis tidak ada, ikterik
tidak ada
THT : tidak ada kelainan
Leher : tidak ada pembesaran KGB
Dada :
Paru
Inspeksi : simetris kiri dan kanan
Palpasi : fremitus kiri sama dengan kanan
Perkusi : sonor
Auskultasi : vesikuler, wheezing (-), ronkhi (-)
Jantung
Inspeksi : iktus tidak terlihat
Palpasi : iktus teraba 1 jari medial LMCS RIC V
Perkusi : Kiri : 1 jari medial LMCS RIC V
Kanan: LSD
Atas : RIC II
Auskultasi : bunyi jantung murni,irama teratur,bising(-)
Abdomen
Inspeksi : Perut tidak tampak membuncit
Palpasi : Hati dan lien tidak teraba, Nyeri Tekan (+)
di epigastrium
Perkusi : Timpani
Auskultasi : BU (+) N
Punggung : Nyeri tekan dan nyeri ketok CVA tidak ada.
Alat kelamin : Tidak diperiksa
Anggota gerak : Akral hangat, refilling kapiler baik, Rf +/+, Rp -/-, ROM
terbatas

9
8. Laboratorium : asam urat 8,5 mg/dl
9. Diagnosa Kerja : suspek Gout Arthritis
10. Diagnosa Banding : Osteoarthritis
11. Manajemen :
Preventif

a. Menjaga pola makan dan pastikan asupan nutrisi cukup untuk


memenuhi aktifitas harian pasien

b. Usahakan agar pasien istirahat cukup selama lebih kurang 7-8 jam
perhari

c. Mengurangi konsumsi makanan tinggi purin, seperti sayur sayuran


hijau

d. Minum susu setiap hari malam sebelum tidur untuk nutrisi tubuh
dan tulang
Promotif

a. Memberikan edukasi kepada pasien tentang penyakit asam urat/

gout arthritis

b. Memberikan edukasi kepada pasien tentang apa saja yang

menjadi penyebab munculnya gout arthritis dan penatalaksanaan


c. Memberikan semangat kepada pasien untuk mengurangi atau

memodifikasi faktor pemicu


d. Menjelaskan tentang pola hidup bersih dan sehat
Kuratif
- Natrium Diklofenak 25 mg 2x1 (VI)
- Allopurinol 100 mg 2x1 (X)

Rehabilitatif
- Menghentikan konsumsi alopurinol dan segera ke puskesmas jika

benjolan menjadi merah dan terasa panas.


- Menganjurkan untuk dirujuk ketika kondisi tidak membaik

dengan terapi medikamentosa.

10
11
Resep

Dinas Kesehatan Kodya Padang


Puskesmas Lubuk Buaya

Dokter : Fulan
Tanggal : 27 April 2017

R/ Na Diklofenak tab 25 mg No. VI


2 dd tab I
__________________________________________
R/ Allupurinol tab 100 mg No. X
2 dd tab I
__________________________________________
Pro : Ny. N
Umur : 66 tahun
Alamat : Lubuk Buaya

12
BAB III

DISKUSI

Telah diperiksa seorang pasien perempuan 66 tahun yang datang ke

Puskesmas Lubuk Buaya Padang , dengan diagnosa kerja gout artritis

Diagnosa kerja ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik

Dari anamnesis didapatkan bahwa pasien merasa nyeri lutut kanan sejak 1 minggu

sebelum ke puskesmas, dimana nyeri awalnya telah dirasakan pertama kali sejak 2

tahun yang lalu dan telah mendapatkan pengobatan. Nyeri dirasakan hanya

terlokalisir pada lutut bagian kanan, semankin nyerisaat digerakkan. Riwayat

mengkonsumsi sering mengkonsumsi banyak sayuran hijau dan lalapan (+),

kacang-kacangan (+), hati, usus, limpa, dan jeroan (+).

Dari pemeriksaan status generalis dan neurologis tidak didapatkan

kelainan, kecuali status gizi pasien overweight. Pada pemeriksaan lutu kanan,

tidak ditemukan bengkak, merah, nyeri (+), ROM sedikit terbatas, dan krepitasi

(+). Dari pemeriksaan kadar asam urat darah, didapatkan asam urat 8,5 mg/dl.

Dengan demikian penulis mendiagnosis dengan gout arthritis. Diagnosis

osteoartritis masih belum bisa disingkirkan. Pasien overweigth, adanya riwayat

nyeri lutut sejak 2 tahun yang lalu, krepitasi (+) membuat penulis masih

memikirkan adanya osteoartritis juga pada pasien ini. Oleh karena itu dibutuhkan

pemeriksaan foto polos genu AP/Lateral pada kedua sendi lutut untuk menunjang

diagnosis yang lebih pasti.

13
Kasus ini merupakan artritis gout sekunder. Faktor resiko terjadinya gout

artritis sekunder antara lain berupa pola makan yang tidak terkontrol dan

mengandung purin, produksi asam urat berlebihan karena suatu penyakit

(polisitemia, anemia hemolitik, penyakit sumsum tulang) atau obat-obatan

(alkohol, obat- obat kanker, vitamin B12, diuretika, asam salisilat dosis rendah),

kegemukan dan intoksikasi.1,2 Pasien ini sering memakan makanan yang banyak

mengandung purin seperti sayuran hijau dan lalapan, kacang-kacangan, hati, usus,

limpa, dan jeroan. BMI pasien menunjukkan status gizi yang overweight sehingga

menambah resiko terjadnya artritis gout.

Pada pemeriksaan laboratorium seseorang dikatakan menderita gout

arthritis jika ditemukan kadar asam urat dalam darah di atas 6 mg/dL untuk pria

dan lebih dari 5,5 mg/dL untuk wanita. Pada pasien ditemukan kadar asam urat

8,5 mg/dL. Pada pemeriksaasn radiologi berdasarkan American Rheumatism

Association (ARA), seseorang menderita asam urat jika memenuhi kriteria:

terdapat kristal MSU di cairan sendi, pembengkakan jaringan lunak, kelainan

bentuk struktur tulang (punch out lession), atau terdapat bentuk tofus.7

Pemeriksaan cairan sendi dilakukan di bawah mikroskop yang bertujuan

untuk melihat kristal urat dalam cairan sendi. Terapi untuk gout artritis dapat

berupa terapi nonfarmakologis dan farmakologis.4 Terapi non farmakologis yaitu

perubahan gaya hidup, berupa diet seperti banyak minum air, menghindari

minuman beralkohol, mengurangi makanan berlemak dan mengandung protein

tinggi, dan mengurangi berat badan jika memiliki berat badan berlebihan. Terapi

farmakologis berupa pemberian NSAID dan colchicine pada serangan akut, atau

14
glucocorticoid jika kontraindikasi terhadap NSAID. Serta pemberian allopurinol

untuk mengurangi timbunan asam urat dalam darah.3

Pada pasien diberikan terapi Allupurinol 2x100 mg, dan Na diklofenak 2 x

25 mg. Pasien tidak menunjukkan tanda-tana peradangan yang jelas oleh karena

itu dapat diberikan Allopurinol untuk mennurunkan kadar asam urat di darah.

Karena kadar asam urat yang sangat tinggi dan gejala yang sedang dibutuhkan

Allupurinol. Na diklofenak diberikan untuk mengurang nyeri dan peradangan

yang terjadi.5

Selanjutnya pada pasien ini juga diberikan manajemen secara preventif

dan promotif. Manajemen secara preventif meliputi menjaga pola makan dan

asupan nutrisi cukup untuk memenuhi aktifitas harian pasien, istirahat cukup

selama lebih kurang 7-8 jam perhari, aktivitas fisik dan olahraga teratur, 2-3

kali/minggu, 30-60 menit, olahraga yang dianjurkan berenang, mengurangi

konsumsi makanan tinggi purin seperti: sayur-saayuran hijau terutama bayam,

kacang-kacangan terutama kacang polong, buncis, dan kacang panjang, jamur

maksimal 50 gr sehari. Sardin, kerang, jantung, hati, usus, limpa, kaldu ayam/sapi.

Tahu, tempe, oncom maksimal 50 gr sehari. Alkohol dan ragi seperti tape, legen,

dan lain-lain.6

Terapi promotif untuk pasien ini meliputi : memberikan edukasi kepada

pasien bahwa penyakit ini dipengaruhi oleh diet dan metabolisme tubuhnya,

olehkarena itu sangat penting untuk menjaga pola makan dan diet untuk

kedepannya, menjelaskan kepada pasien, pola hidup pasien mulai saat ini akan

mempengaruhi kualitas hidupnya untuk kedepannya, jika tidak dilaksanakan

15
mulai saat ini kemungkinan terjadinya komplikasi sangat mungkin terjadi, seperti

kekakuan sendi, tofus, batu saluran kemih, dan lain-lain.

16
BAB IV
KESIMPULAN

1. Artritis gout merupakan suatu penyakit yang diakibatkan karena


penimbunan kristal monosodium urat di jaringan atau cairan ekstraseluler.

2. Pendekatan dan pengobatan yang tepat pada pasien dengan artritis gout
akan membantu mengurangi morbiditas dan disabilitas yang ditimbulkan
oleh pasien dengan artritis gout

3. Pemeriksaan cairan sendi dilakukan di bawah mikroskop dianjurkan untuk


melihat kristal urat dalam cairan sendi

17
DAFTAR PUSTAKA

1. Tehupeiroy ES. Artrtritis pirai (arthritis gout). Buku Ajar Ilmu


Penyakit Dalam. Edisi 5. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam
FKUI; 2009.hal.2556-2560.
2. Putra TR. Hiperurisemia. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 5.
Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FKUI; 2009.hal.2550-2555.
3. Suresh E.Diagnosis and management of gout: a rational approach.
Postgrad Med J 2005;81:572579.
4. Fiona Marion McQueen, Quentin Reeves, Nicola Dalbeth.New
insights into an old disease: advanced imaging in the diagnosis and
management of gout. Postgrad Med J 2013;89:8793.
5. Tom G. Rider, Kelsey M. Jordan. The modern management of
gout.Rheumatology 2010;49:514.
6. Dalbeth N., Merriman T. Crystal ball gazing: new therapeutic
target for hyperuricaemia and gout. Rheumatology 2009;48:222226.
7. Wortmann RL. Gout and hyperuricemia. Kelley`s Textbook of
Rheumatlogy. 8th ed.Philadeplhia:Saunders;2001.p.1481-506.

18