Anda di halaman 1dari 41

ANALISIS SATUAN KEMAMPUAN LAHAN (SKL)

1. Analisis Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Morfologi


Tujuan analisis SKL Morfologi adalah memilah bentuk bentang
alam/morfologi pada wilayah dan/atau kawasan perencanaan yang
mampu untuk dikembangkan sesuai dengan fungsinya. Dalam
analisis SKL Morfologi melibatkan data masukan berupa peta
morfologi dan peta kelerengan dengan keluaran peta SKL Morfologi
dengan penjelasannya. Hasil analisis SKL Morfologi dapat dilihat
dalam tabel
Tabel 4.1
Analisis SKL Morfologi
No Peta
Peta
. Keleren SKL Morfologi Nilai
Morfologi
gan

Kemampuan
1 Bergunung > 40 % lahan dari 1
morfologi tinggi

Kemampuan
Berbukit,
2 15 40 % lahan dari 2
bergelombang
morfologi cukup

Kemampuan
3 Berombak 8 15 % lahan dari 3
morfologi sedang

Kemampuan
4 Landai 28% lahan dari 4
morfologi kurang

Kemampuan
5 Datar 02% lahan dari 5
morfologi rendah
Sumber : Hasil Analisis Tahun 2016

2. Analisis Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Kemudahan


Dikerjakan
Tujuan analisis SKL Kemudahan Dikerjakan adalah untuk mengetahui
tingkat kemudahan lahan di wilayah dan/atau kawasan untuk
digali/dimatangkan dalam proses pembangunan/ pengembangan
kawasan. Dalam analisis ini membutuhkan masukan berupa peta
topografi, peta morfologi, peta kemiringan lereng, peta jenis tanah,
peta penggunaan lahan eksisting, dengan keluaran peta SKL
Kemudahan Dikerjakan dan penjelasannya. Sebelum melakukan
analisis SKL Kemudahan Dikerjakan, terlebih dahulu harus diketahui
penjelasan dari data yang terlibat dalam analisa yaitu jenis tanah
Dalam analisis ini, akan ditinjau faktor pembentukan tanah dari
aspek waktu pembentukkannya di mana tanah merupakan benda
alam yang terus menerus berubah, akibat pelapukan dan pencucian
yang terus menerus. Oleh karena itu tanah akan menjadi semakin
tua dan kurus. Mineral yang banyak mengandung unsur hara telah
habis mengalami pelapukan sehingga tinggal mineral yang sukar
lapuk seperti kuarsa. Karena proses pembentukan tanah yang terus
berjalan, maka induk tanah berubah berturut-turut menjadi tanah
muda, tanah dewasa, dan tanah tua. Tanah Muda ditandai oleh
proses pembentukan tanah yang masih tampak pencampuran
antara bahan organik dan bahan mineral atau masih tampak
struktur bahan induknya. Contoh tanah muda adalah tanah aluvial,
regosol dan litosol. Tanah Dewasa ditandai oleh proses yang lebih
lanjut sehingga tanah muda dapat berubah menjadi tanah dewasa,
yaitu dengan proses pembentukan horison B. Contoh tanah dewasa
adalah andosol, latosol, grumosol. Tanah Tua proses pembentukan
tanah berlangsung lebih lanjut sehingga terjadi proses perubahan-
perubahan yang nyata pada horizon-horoson A dan B. Akibatnya
terbentuk horizon A1, A2, A3, B1, B2, B3. Contoh tanah pada tingkat
tua adalah jenis tanah podsolik dan latosol tua (laterit).

Tabel 4.3
Penjelasan Jenis Tanah dan Sifat-Sifat yang Dibawanya dalam Analisis SKL
Kemudahan Dikerjakan
No Jenis
Sifat Nilai
. Tanah
Jenis tanah ini masih muda, belum mengalami
perkembangan, berasal dari bahan induk
aluvium, tekstur beraneka ragam, belum
terbentuk struktur , konsistensi dalam keadaan
1. Alluvial basah lekat, pH bermacam-macam, kesuburan 5
sedang hingga tinggi. Penyebarannya di
daerah dataran aluvial sungai, dataran aluvial
pantai dan daerah cekungan (depresi).
(Suhendar, Soleh)
Jenis tanah mineral yang telah mengalami
perkembangan profil, solum agak tebal, warna
agak coklat kekelabuan hingga hitam,
kandungan organik tinggi, tekstur geluh
berdebu, struktur remah, konsistensi gembur
dan bersifat licin berminyak (smeary), kadang-
2. Andosol 3
kadang berpadas lunak, agak asam, kejenuhan
basa tinggi dan daya absorpsi sedang,
kelembaban tinggi, permeabilitas sedang dan
peka terhadap erosi. Tanah ini berasal dari
batuan induk abu atau tuf vulkanik. (Suhendar,
Soleh)
Tanah yang baru terbentuk, perkembangan
horison tanah belum terlihat secara jelas.
Tanah entisol umumnya dijumpai pada sedimen
3. Gleisol 4
yang belum terkonsolidasi, seperti pasir, dan
beberapa memperlihatkan horison diatas
lapisan batuan dasar. (Djauhari, Noor)
Tanah mineral yang mempunyai perkembangan
profil, agak tebal, tekstur lempung berat,
struktur kersai (granular) di lapisan atas dan
gumpal hingga pejal di lapisan bawah,
konsistensi bila basah sangat lekat dan plastis,
bila kering sangat keras dan tanah retak-retak,
Grumos umumnya bersifat alkalis, kejenuhan basa, dan
4. 2
ol kapasitas absorpsi tinggi, permeabilitas lambat
dan peka erosi. Jenis ini berasal dari batu
kapur, mergel, batuan lempung atau tuf
vulkanik bersifat basa. Penyebarannya di
daerah iklim sub humid atau sub arid, curah
hujan kurang dari 2500 mm/tahun. (Suhendar,
Soleh)
No Jenis
Sifat Nilai
. Tanah
Jenis tanah ini telah berkembang atau terjadi
diferensiasi horizon, kedalaman dalam, tekstur
lempung, struktur remah hingga gumpal,
konsistensi gembur hingga agak teguh, warna
5. Latosol coklat merah hingga kuning. Penyebarannya di 2
daerah beriklim basah, curah hujan lebih dari
300 1000 meter, batuan induk dari tuf,
material vulkanik, breksi batuan beku intrusi.
(Suhendar, Soleh)
Tanah mineral tanpa atau sedikit
perkembangan profil, batuan induknya batuan
beku atau batuan sedimen keras, kedalaman
tanah dangkal (< 30 cm) bahkan kadang-
kadang merupakan singkapan batuan induk
(outerop). Tekstur tanah beranekaragam, dan
6. Litosol 4
pada umumnya berpasir, umumnya tidak
berstruktur, terdapat kandungan batu, kerikil
dan kesuburannya bervariasi. Tanah litosol
dapat dijumpai pada segala iklim, umumnya di
topografi berbukit, pegunungan, lereng miring
sampai curam. (Suhendar, Soleh)
Tanah mempunyai perkembangan profil, solum
sedang hingga dangkal, warna coklat hingga
merah, mempunyai horizon B argilik, tekstur
geluh hingga lempung, struktur gumpal
bersudut, konsistensi teguh dan lekat bila
basah, pH netral hingga agak basa, kejenuhan
basa tinggi, daya absorpsi sedang,
permeabilitas sedang dan peka erosi, berasal
Meditera
7. dari batuan kapur keras (limestone) dan tuf 1
n
vulkanis bersifat basa. Penyebaran di daerah
beriklim sub humid, bulan kering nyata. Curah
hujan kurang dari 2500 mm/tahun, di daerah
pegunungan lipatan, topografi Karst dan lereng
vulkan ketinggian di bawah 400 m. Khusus
tanah mediteran merah kuning di daerah
topografi Karst disebut terra rossa. (Suhendar,
Soleh)
8. Non Cal 3
9. Regosol Jenis tanah ini masih muda, belum mengalami 4
diferensiasi horizon, tekstur pasir, struktur
berbukit tunggal, konsistensi lepas-lepas, pH
umumnya netral, kesuburan sedang, berasal
dari bahan induk material vulkanik piroklastis
No Jenis
Sifat Nilai
. Tanah
atau pasir pantai. Penyebarannya di daerah
lereng vulkanik muda dan di daerah beting
pantai dan gumuk-gumuk pasir pantai.
(Suhendar, Soleh)
Sumber : Hasil Analisa Tahun 2016

Tabel 4.4
Analisis SKL Kemudahan Dikerjakan

Peta SKL
Peta Peta Peta Penggun Kemudah
No Peta
Kelereng Ketingg Jenis aan an Nilai
. Morfologi
an ian Tanah Lahan Dikerjaka
Eksisting n

Kemudah
>3000 Mediter an
1. Bergunung > 40 % Hutan 1
m an dikerjaka
n rendah

Pertanian,
Perkebun
Kemudah
Berbukit, an,
2000 an
2. bergelomb 15 40 % Latosol Pertanian 2
3000 m dikerjaka
ang tanah
n kurang
kering
semusim

Kemudah
1000 Semak an
3. Berombak 8 15 % Andosol 3
2000 m belukar dikerjaka
n sedang
4. Landai 2 8% 500 Regosol Tegalan, Kemudah 4
Peta SKL
Peta Peta Peta Penggun Kemudah
No Peta
Kelereng Ketingg Jenis aan an Nilai
. Morfologi
an ian Tanah Lahan Dikerjaka
Eksisting n

an
Tanah
1000 m dikerjaka
kosong
n cukup

Kemudah
0 500 Permukim an
5. Datar 02% Alluvial 5
m an dikerjaka
n tinggi
Sumber : Hasil Analisis Tahun 2016

3. Analisis Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Kestabilan Lereng


Tujuan analisis SKL Kestabilan Lereng adalah untuk mengetahui
tingkat kemantapan lereng di wilayah pengembangan dalam
menerima beban. Dalam analisis ini membutuhkan masukan berupa
peta topografi, peta morfologi, peta kemiringan lereng, peta jenis
tanah, peta hidrogeologi, peta curah hujan, peta bencana alam
(rawan bencana gunung berapi dan kerentanan gerakan tanah) dan
peta penggunaan lahan, dengan keluaran peta SKL Kestabilan
Lereng dan penjelasannya. Sebelum melakukan analisis SKL
Kestabilan Lereng, terlebih dahulu harus diketahui penjelasan dari
data yang terlibat dalam analisa yaitu jenis tanah.
Tabel 4.6
Penjelasan Jenis Tanah dan Sifat-Sifat yang Dibawanya dalam Analisis SKL
Kestabilan Lereng
No Jenis
Sifat Nilai
. Tanah
Jenis tanah ini masih muda, belum
mengalami perkembangan, berasal dari
bahan induk aluvium, tekstur beraneka
ragam, belum terbentuk struktur ,
konsistensi dalam keadaan basah lekat,
1. Alluvial 2
pH bermacam-macam, kesuburan sedang
hingga tinggi. Penyebarannya di daerah
dataran aluvial sungai, dataran aluvial
pantai dan daerah cekungan (depresi).
(Suhendar, Soleh)
Jenis tanah mineral yang telah mengalami
perkembangan profil, solum agak tebal,
warna agak coklat kekelabuan hingga
hitam, kandungan organik tinggi, tekstur
geluh berdebu, struktur remah, konsistensi
gembur dan bersifat licin berminyak
2. Andosol 1
(smeary), kadang-kadang berpadas lunak,
agak asam, kejenuhan basa tinggi dan
daya absorpsi sedang, kelembaban tinggi,
permeabilitas sedang dan peka terhadap
erosi. Tanah ini berasal dari batuan induk
abu atau tuf vulkanik. (Suhendar, Soleh)
Tanah yang baru terbentuk,
perkembangan horison tanah belum
terlihat secara jelas. Tanah entisol
3. Gleisol umumnya dijumpai pada sedimen yang 2
belum terkonsolidasi, seperti pasir, dan
beberapa memperlihatkan horison diatas
lapisan batuan dasar. (Djauhari, Noor)
Tanah mineral yang mempunyai
perkembangan profil, agak tebal, tekstur
lempung berat, struktur kersai (granular)
di lapisan atas dan gumpal hingga pejal di
lapisan bawah, konsistensi bila basah
sangat lekat dan plastis, bila kering sangat
keras dan tanah retak-retak, umumnya
Grumos
4. bersifat alkalis, kejenuhan basa, dan 3
ol
kapasitas absorpsi tinggi, permeabilitas
lambat dan peka erosi. Jenis ini berasal
dari batu kapur, mergel, batuan lempung
atau tuf vulkanik bersifat basa.
Penyebarannya di daerah iklim sub humid
atau sub arid, curah hujan kurang dari
2500 mm/tahun. (Suhendar, Soleh)
No Jenis
Sifat Nilai
. Tanah
Jenis tanah ini telah berkembang atau
terjadi diferensiasi horizon, kedalaman
dalam, tekstur lempung, struktur remah
hingga gumpal, konsistensi gembur
hingga agak teguh, warna coklat merah
5. Latosol 5
hingga kuning. Penyebarannya di daerah
beriklim basah, curah hujan lebih dari 300
1000 meter, batuan induk dari tuf,
material vulkanik, breksi batuan beku
intrusi. (Suhendar, Soleh)
Tanah mineral tanpa atau sedikit
perkembangan profil, batuan induknya
batuan beku atau batuan sedimen keras,
kedalaman tanah dangkal (< 30 cm)
bahkan kadang-kadang merupakan
singkapan batuan induk (outerop). Tekstur
tanah beranekaragam, dan pada
6. Litosol 4
umumnya berpasir, umumnya tidak
berstruktur, terdapat kandungan batu,
kerikil dan kesuburannya bervariasi. Tanah
litosol dapat dijumpai pada segala iklim,
umumnya di topografi berbukit,
pegunungan, lereng miring sampai curam.
(Suhendar, Soleh)
Tanah mempunyai perkembangan profil,
solum sedang hingga dangkal, warna
coklat hingga merah, mempunyai horizon
B argilik, tekstur geluh hingga lempung,
struktur gumpal bersudut, konsistensi
teguh dan lekat bila basah, pH netral
hingga agak basa, kejenuhan basa tinggi,
daya absorpsi sedang, permeabilitas
sedang dan peka erosi, berasal dari
Meditera
7. batuan kapur keras (limestone) dan tuf 3
n
vulkanis bersifat basa. Penyebaran di
daerah beriklim sub humid, bulan kering
nyata. Curah hujan kurang dari 2500
mm/tahun, di daerah pegunungan lipatan,
topografi Karst dan lereng vulkan
ketinggian di bawah 400 m. Khusus tanah
mediteran merah kuning di daerah
topografi Karst disebut terra rossa.
(Suhendar, Soleh)
8. Non Cal 3
No Jenis
Sifat Nilai
. Tanah
Jenis tanah ini masih muda, belum
mengalami diferensiasi horizon, tekstur
pasir, struktur berbukit tunggal,
konsistensi lepas-lepas, pH umumnya
netral, kesuburan sedang, berasal dari
9. Regosol 2
bahan induk material vulkanik piroklastis
atau pasir pantai. Penyebarannya di
daerah lereng vulkanik muda dan di
daerah beting pantai dan gumuk-gumuk
pasir pantai. (Suhendar, Soleh)
Sumber : Hasil Analisis Tahun 2016
Tabel 4.7
Analisis SKL Kestabilan Lereng
Peta
Penggun Peta
Peta Peta Peta Peta SKL
Peta aan Kerentana
No. Keler Ketinggi Jenis Curah Kestabilan Nilai
Morfologi Lahan n Gerakan
engan an Tanah Hujan Lereng
Eksistin Tanah
g

Tegalan, > 3000 sangat Kestabilan


> 40 Andos
1 Bergunung >3000 m Tanah mm/tahu rawan lereng 1
% ol
kosong n rendah

Regos 1500
Berbukit, Kestabilan
15 2000 ol, Semak 3000
2 Bergelomba Rawan lereng 2
40 % 3000 m Alluvia belukar mm/tahu
ng kurang
l n

1000
Kestabilan
8 15 1000 Medite 1500
3 Berombak Hutan agak rawan lereng 3
% 2000 m ran mm/tahu
sedang
n

4 Landai 2 8 500 Pertanian, < 1000 Aman Kestabilan 4


% 1000 m Perkebun mm/tahu lereng tinggi
an, n
Pertanian
tanah
kering
Peta
Penggun Peta
Peta Peta Peta Peta SKL
Peta aan Kerentana
No. Keler Ketinggi Jenis Curah Kestabilan Nilai
Morfologi Lahan n Gerakan
engan an Tanah Hujan Lereng
Eksistin Tanah
g

semusim

0 2 Permukim Aman
5 Datar 0 500 m Latosol 5
% an
Sumber : Hasil Analisis Tahun 2016
4. Analisis Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Kestabilan Pondasi
Tujuan analisis SKL Kestabilan Pondasi adalah untuk mengetahui
tingkat kemampuan lahan untuk mendukung bangunan berat dalam
pengembangan perkotaan, serta jenis-jenis pondasi yang sesuai
untuk masing-masing tingkatan. Dalam analisis ini membutuhkan
masukan berupa peta SKL kestabilan lereng, peta jenis tanah, peta
kedalaman efektif tanah, peta tekstur tanah, peta hidrogeologi dan
peta penggunaan lahan eksisting dengan keluaran peta SKL
Kestabilan Pondasi dan penjelasannya. Sebelum melaksanakan
analisis SKL Kestabilan pondasi, harus diketahui terlebih dahulu sifat
faktor pendukungnya terhadap analisis kestabilan pondasi meliputi
jenis tanah.
Tabel 4.9
Penjelasan Jenis Tanah dan Sifat-Sifat yang Dibawanya dalam Analisis
Kestabilan Pondasi
No Jenis
Sifat Nilai
. Tanah
Jenis tanah ini masih muda, belum
mengalami perkembangan, berasal dari
bahan induk aluvium, tekstur beraneka
ragam, belum terbentuk struktur ,
konsistensi dalam keadaan basah lekat,
1. Alluvial 1
pH bermacam-macam, kesuburan sedang
hingga tinggi. Penyebarannya di daerah
dataran aluvial sungai, dataran aluvial
pantai dan daerah cekungan (depresi).
(Suhendar, Soleh)
Jenis tanah mineral yang telah mengalami
perkembangan profil, solum agak tebal,
warna agak coklat kekelabuan hingga
hitam, kandungan organik tinggi, tekstur
geluh berdebu, struktur remah, konsistensi
gembur dan bersifat licin berminyak
2. Andosol 2
(smeary), kadang-kadang berpadas lunak,
agak asam, kejenuhan basa tinggi dan
daya absorpsi sedang, kelembaban tinggi,
permeabilitas sedang dan peka terhadap
erosi. Tanah ini berasal dari batuan induk
abu atau tuf vulkanik. (Suhendar, Soleh)
No Jenis
Sifat Nilai
. Tanah
Tanah yang baru terbentuk,
perkembangan horison tanah belum
terlihat secara jelas. Tanah entisol
3. Gleisol umumnya dijumpai pada sedimen yang 2
belum terkonsolidasi, seperti pasir, dan
beberapa memperlihatkan horison diatas
lapisan batuan dasar. (Djauhari, Noor)
Tanah mineral yang mempunyai
perkembangan profil, agak tebal, tekstur
lempung berat, struktur kersai (granular)
di lapisan atas dan gumpal hingga pejal di
lapisan bawah, konsistensi bila basah
sangat lekat dan plastis, bila kering sangat
keras dan tanah retak-retak, umumnya
Grumos
4. bersifat alkalis, kejenuhan basa, dan 3
ol
kapasitas absorpsi tinggi, permeabilitas
lambat dan peka erosi. Jenis ini berasal
dari batu kapur, mergel, batuan lempung
atau tuf vulkanik bersifat basa.
Penyebarannya di daerah iklim sub humid
atau sub arid, curah hujan kurang dari
2500 mm/tahun. (Suhendar, Soleh)
Jenis tanah ini telah berkembang atau
terjadi diferensiasi horizon, kedalaman
dalam, tekstur lempung, struktur remah
hingga gumpal, konsistensi gembur
hingga agak teguh, warna coklat merah
5. Latosol 5
hingga kuning. Penyebarannya di daerah
beriklim basah, curah hujan lebih dari 300
1000 meter, batuan induk dari tuf,
material vulkanik, breksi batuan beku
intrusi. (Suhendar, Soleh)
6. Litosol Tanah mineral tanpa atau sedikit 4
perkembangan profil, batuan induknya
batuan beku atau batuan sedimen keras,
kedalaman tanah dangkal (< 30 cm)
bahkan kadang-kadang merupakan
singkapan batuan induk (outerop). Tekstur
tanah beranekaragam, dan pada
umumnya berpasir, umumnya tidak
berstruktur, terdapat kandungan batu,
kerikil dan kesuburannya bervariasi. Tanah
litosol dapat dijumpai pada segala iklim,
umumnya di topografi berbukit,
No Jenis
Sifat Nilai
. Tanah
pegunungan, lereng miring sampai curam.
(Suhendar, Soleh)
Tanah mempunyai perkembangan profil,
solum sedang hingga dangkal, warna
coklat hingga merah, mempunyai horizon
B argilik, tekstur geluh hingga lempung,
struktur gumpal bersudut, konsistensi
teguh dan lekat bila basah, pH netral
hingga agak basa, kejenuhan basa tinggi,
daya absorpsi sedang, permeabilitas
sedang dan peka erosi, berasal dari
Meditera
7. batuan kapur keras (limestone) dan tuf 3
n
vulkanis bersifat basa. Penyebaran di
daerah beriklim sub humid, bulan kering
nyata. Curah hujan kurang dari 2500
mm/tahun, di daerah pegunungan lipatan,
topografi Karst dan lereng vulkan
ketinggian di bawah 400 m. Khusus tanah
mediteran merah kuning di daerah
topografi Karst disebut terra rossa.
(Suhendar, Soleh)
8. Non Cal 3
Jenis tanah ini masih muda, belum
mengalami diferensiasi horizon, tekstur
pasir, struktur berbukit tunggal,
konsistensi lepas-lepas, pH umumnya
netral, kesuburan sedang, berasal dari
9. Regosol 2
bahan induk material vulkanik piroklastis
atau pasir pantai. Penyebarannya di
daerah lereng vulkanik muda dan di
daerah beting pantai dan gumuk-gumuk
pasir pantai. (Suhendar, Soleh)
Sumber : Hasil Analisa Tahun 2016
Tabel 4.10
Analisis SKL Kestabilan Pondasi

Peta Peta
No SKL Kestabilan Peta Jenis Tekstur Penggunaan SKL Kestabilan Nil
. Lereng Tanah Tanah Lahan Pondasi ai
Eksisting

Daya dukung dan


Kestabilan lereng Tegalan, Tanah
1. Alluvial kestabilan 1
rendah kosong
Kasar (Pasir) pondasi rendah

Kestabilan lereng Andosol,


2. Semak belukar Daya dukung dan 2
kurang Regosol
kestabilan
Kestabilan lereng Sedang pondasi kurang
3. Mediteran Hutan 3
sedang (lempung)

Pertanian,
Perkebunan, Daya dukung dan
4. Kestabilan lereng 4
Halus (liat) Pertanian tanah kestabilan
tinggi kering semusim pondasi tinggi
5. Latosol Permukiman 5

Sumber : Hasil Analisa Tahun 2016


5. Analisis Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Ketersediaan Air
Tujuan analisis SKL Ketersediaan Air adalah untuk mengetahui
tingkat ketersediaan air dan kemampuan penyediaan air pada
masing-masing tingkatan, guna pengembangan kawasan. Dalam
analisis ini membutuhkan masukan berupa peta morfologi, peta
kelerengan, peta curah hujan, peta hidrogeologi, peta jenis tanah
dan peta penggunaan lahan eksisting dengan keluaran peta SKL
Ketersediaan Air dan penjelasannya. Sebelum melakukan analisis
SKL Ketersediaan Air , terlebih dahulu harus diketahui penjelasan
dari data yang terlibat dalam analisa yaitu jenis tanah.
Tabel 4.12
Penjelasan Jenis Tanah dan Sifat-Sifat yang Dibawanya dalam Analisis SKL
Ketersediaan Air
No Jenis
Sifat Nilai
. Tanah
Daya mengikat air kurang,apabila kena hujan
1. Aluvial akan menjadi lengket dan bila kekeringan akan 2
mengeras. (Rachmiati, Yati).
Tanah Andosol mempunyai sifat fisik yang baik,
daya pengikatan air yang sangat tinggi,
sehingga selalu jenuh air jika tertutup
vegetasi. Sangat gembur, struktur remah atau
granuler dengan granulasi yang tak pulih.
2. Andosol Permeabilitas sangat tinggi karena 5
mengandung banyak makropori, fraksi
lempung sebagian besar alofan dengan berat
jenis kurang dari 0,85 dan kandungan bahan
organik biasanya tinggi, yaitu antara 8% -
30%.( Sri Damayanti, Lusiana, 2005).
3. Gleisol Jenis tanah ini perkembangannya lebih 4
dipengaruhi oleh faktor lokal, yaitu topografi
merupakan dataran rendah atau cekungan,
hampir selalu tergenang air, solum tanah
sedang, warna kelabu hingga kekuningan,
tekstur geluh hingga lempung, struktur
berlumpur hingga masif, konsistensi lekat,
bersifat asam (pH 4.5 6.0), kandungan bahan
organik. Ciri khas tanah ini adanya lapisan glei
kontinu yang berwarna kelabu pucat pada
kedalaman kurang dari 0.5 meter akibat dari
No Jenis
Sifat Nilai
. Tanah
profil tanah selalu jenuh air.
Penyebaran di daerah beriklim humid hingga
sub humid, curah hujan lebih dari 2000
mm/tahun.(Suhendar, Soleh).
Tanah Grumosol mempunyai sifat struktur
lapisan atas granuler dan lapisan bawah
gumpal atau pejal, jenis lempung yang
terbanyak montmorillonit sehingga tanah
4. Grumosol 2
mempunyai daya adsorpsi yang tinggi yang
menyebabkan gerakan air dan keadaan aerasi
buruk dan sangat peka terhadap erosi. ( Sri
Damayanti, Lusiana, 2005).
Daya mengikat air kurang,apabila kena hujan
akan menjadi lengket dan bila kekeringan akan
5. Latosol 1
mengeras dengan struktur remah. (Rachmiati,
Yati).
Tanah mineral tanpa atau sedikit
perkembangan profil, batuan induknya batuan
beku atau batuan sedimen keras, kedalaman
tanah dangkal (< 30 cm) bahkan kadang-
kadang merupakan singkapan batuan induk
(outerop). Tekstur tanah beranekaragam, dan
6. Litosol 3
pada umumnya berpasir, umumnya tidak
berstruktur, terdapat kandungan batu, kerikil
dan kesuburannya bervariasi. Tanah litosol
dapat dijumpai pada segala iklim, umumnya di
topografi berbukit, pegunungan, lereng miring
sampai curam. (Suhendar, Soleh).
7. Mediteran Tanah mempunyai perkembangan profil, solum 3
sedang hingga dangkal, warna coklat hingga
merah, mempunyai horizon B argilik, tekstur
geluh hingga lempung, struktur gumpal
bersudut, konsistensi teguh dan lekat bila
basah, pH netral hingga agak basa, kejenuhan
basa tinggi, daya absorpsi sedang,
permeabilitas sedang dan peka erosi, berasal
dari batuan kapur keras (limestone) dan tuf
vulkanis bersifat basa. Penyebaran di daerah
beriklim sub humid, bulan kering nyata. Curah
hujan kurang dari 2500 mm/tahun, di daerah
pegunungan lipatan, topografi Karst dan lereng
vulkan ketinggian di bawah 400 m. Khusus
tanah mediteran merah kuning di daerah
topografi Karst disebut terra rossa. (Suhendar,
No Jenis
Sifat Nilai
. Tanah
Soleh).
8. Non Cal 2
Jenis tanah ini masih muda, belum mengalami
diferensiasi horizon, tekstur pasir, struktur
berbukit tunggal, konsistensi lepas-lepas, pH
umumnya netral, kesuburan sedang, berasal
9. Regosol dari bahan induk material vulkanik piroklastis 3
atau pasir pantai. Penyebarannya di daerah
lereng vulkanik muda dan di daerah beting
pantai dan gumuk-gumuk pasir pantai.
(Suhendar, Soleh).
Sumber : Hasil Analisa Tahun 2016
Tabel 4.13
Analisis SKL Ketersediaan Air

Peta
Peta Peta Peta Peta
No Peta Pengguna SKL
Keleren Ketinggia Jenis Curah Nilai
. Morfologi an Lahan Ketersediaan Air
gan n Tanah Hujan
Eksisting

Tegalan,
Bergunun Ketersediaan air
1 > 40 % >3000 m Latosol Tanah 1
g sangat rendah
kosong

Berbukit, < 1000


2000 Semak Ketersediaan air
2 Bergelom 15 40 % Alluvial mm/tahu 2
3000 m belukar rendah
bang n

1000
Mediter
1000 1500 Ketersediaan air
3 Berombak 8 15 % an, Hutan 3
2000 m mm/tahu sedang
Regosol
n

Pertanian,
Perkebunan 1500
500 , Pertanian 3000
4 Landai 28% 4
1000 m tanah mm/tahu
kering n Ketersediaan air
semusim tinggi

> 3000
Permukima
5 Datar 02% 0 500 m Andosol mm/tahu 5
n
n
Sumber : Hasil Analisis Tahun 2016
6. Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Untuk Drainase
Tujuan analisis SKL untuk Drainase adalah untuk mengetahui tingkat
kemampuan lahan dalam mengalirkan air hujan secara alami,
sehingga kemungkinan genangan baik bersifat lokal maupun meluas
dapat dihindari. Dalam analisis ini membutuhkan masukan berupa
peta morfologi, peta kemiringan lereng, peta topografi, peta jenis
tanah, peta curah hujan, peta kedalaman efektif tanah, dan
penggunaan lahan eksisting dengan keluaran peta SKL untuk
Drainase dan penjelasannya. Sebelum melakukan analisis SKL untuk
Drainase, terlebih dahulu harus diketahui penjelasan dari data yang
terlibat dalam analisa yaitu jenis tanah.
Tabel 4.15
Penjelasan Jenis Tanah dan Sifat-Sifat yang Dibawanya dalam Analisis SKL
untuk Drainase
No Jenis
Sifat Nilai
. Tanah
1. Aluvial Merupakan tanah-tanah muda, yang 1
belum mempunyai perkembangan profil,
dengan susunan horison A-C atau A-C-R,
atau A-R. Tanah ini terbentuk dari bahan
aluvium, aluvium-marin, marin, dan
volkan. Umumnya pada landform dataran,
fluvio-marin, dan volkan. Penampang
tanah bervariasi, tekstur lempung berpasir
sampai pasir berlempung, dan berlapis-
lapis (stratified) atau berselang seling.
Adanya perbedaan tekstur berlapis-lapis
tersebut menunjukkan proses
pengendapan dari limpasan sungai yang
berulang; sebagian mengandung kerikil di
dalam penampang tanah. Warna tanah
coklat tua sampai gelap, drainase buruk
sampai cepat, struktur lepas sampai
masif, konsistensi gembur dan keras pada
kondisi kering. Reaksi tanah umumnya
agak netral (pH 7), kadar C organik sangat
rendah sampai sedang, kadar P2O5 dan
K2O potensial sedang sampai tinggi, basa-
basa dapat tukar rendah sampai tinggi
No Jenis
Sifat Nilai
. Tanah
dan didominasi oleh Ca dan Mg. KTK tanah
rendah, tetapi kejenuhan basanya tinggi.
Penggunaan lahan umumnya bervariasi.
(Blog TANI MUDA)
Merupakan tanah-tanah muda, yang
belum/sedikit mempunyai perkembangan
profil, dengan susunan horison A-C, A-C-R.
Tanah ini terbentuk dari bahan abu volkan
(debu, pasir, dan kerikil). Umumnya
terbentuk pada landform volkanik.
Penampang tanah dangkal sampai dalam,
tekstur lempung berpasir sampai pasir
berlempung. Warna tanah coklat tua
sampai coklat tua kekuningan, drainase
sedang, struktur lepas sampai masif,
konsistensi gembur dan keras pada kondisi
2. Andosol 4
kering. Reaksi tanah umumnya netral,
kadar C organik sangat rendah sampai
sedang, kadar P2O5 dan K2O potensial
sedang sampai tinggi, basa-basa dapat
tukar rendah dan didominasi oleh Ca dan
Mg. KTK tanah rendah sampai sedang,
tetapi kejenuhan basanya tinggi.
Umumnya Andisols di kabupaten Bima
beriklim kering (ustic). Penggunaan lahan
umumnya tegalan, semak, rumput,
belukar, semak, dan hutan. (Blog TANI
MUDA)
Tanah yang baru terbentuk,
perkembangan horison tanah belum
terlihat secara jelas. Tanah entisol
3. Gleisol umumnya dijumpai pada sedimen yang 2
belum terkonsolidasi, seperti pasir, dan
beberapa memperlihatkan horison diatas
lapisan batuan dasar. (Djauhari, Noor)
Jenis tanah grumosol sifat tanahnya
Grumos
4. mudah longsor dan memiliki drainase 1
ol
buruk. (Kota Probolinggo)
5. Latosol Tanah yang sudah menunjukkan adanya 5
perkembangan profil, dengan susunan
horison A-Bw-C pada lahan kering dengan
drainase baik, atau susunan horison A-Bg-
C pada lahan basah dengan drainase
terhambat. Tanah terbentuk dari berbagai
No Jenis
Sifat Nilai
. Tanah
macam bahan induk, yaitu tuf volkan
masam, tuf volkan intermedier (andesitik),
tufa pasiran, dan granodiorit serta skis.
Tanah ini mempunyai penyebaran paling
luas, menempati grup landform dataran
volkan, perbukitan volkan, dan dataran
tektonik. Tanah dari bahan volkan
intermedier berwarna coklat kemerahan,
tekstur lempung berliat sampai liat,
penampang dalam, dan struktur cukup
baik, konsistensi gembur sampai teguh.
Reaksi tanah netral, kadar C dan N organik
sangat rendah sampai sedang, kadar P
dan K potensial sedang sampai tinggi.
Kadar basa-basa dapat tukar didominasi
oleh Ca dan Mg, KTK tanah rendah, KTK
liat rendah sampai tinggi, dan kejenuhan
basa tinggi. Pada landform dataran volkan
sifat tanah dipengaruhi oleh bahan
induknya. Tanah penampang cukup dalam,
berwarna coklat kekuningan sampai
kemerahan, drainase baik, tekstur halus
sampai agak halus, konsistensi gembur
sampai teguh, dan reaksi tanah agak
masam sampai masam. Sebagian besar
telah diusahakan untuk lahan pertanian,
seperti persawahan, tegalan dan kebun
campuran. Sisanya masih berupa semak
belukar dan hutan. (Blog TANI MUDA)
Tanah mineral tanpa atau sedikit
perkembangan profil, batuan induknya
batuan beku atau batuan sedimen keras,
kedalaman tanah dangkal (< 30 cm)
bahkan kadang-kadang merupakan
singkapan batuan induk (outerop). Tekstur
tanah beranekaragam, dan pada
6. Litosol 3
umumnya berpasir, umumnya tidak
berstruktur, terdapat kandungan batu,
kerikil dan kesuburannya bervariasi. Tanah
litosol dapat dijumpai pada segala iklim,
umumnya di topografi berbukit,
pegunungan, lereng miring sampai curam.
(Suhendar, Soleh).
7. Meditera Sama dengan inceptisol/latosol 5
No Jenis
Sifat Nilai
. Tanah
n
8. Non Cal 2
Jenis tanah ini masih muda, belum
mengalami diferensiasi horizon, tekstur
pasir, struktur berbukit tunggal,
konsistensi lepas-lepas, pH umumnya
netral, kesuburan sedang, berasal dari
9. Regosol 2
bahan induk material vulkanik piroklastis
atau pasir pantai. Penyebarannya di
daerah lereng vulkanik muda dan di
daerah beting pantai dan gumuk-gumuk
pasir pantai. (Suhendar, Soleh).
Sumber : Hasil Analisa Tahun 2016

Tabel 4.16
Tabel Analisis SKL Untuk Drainase

Peta
Peta
Penggun
Peta Peta Peta Peta Cura SKL
No aan Nil
Morfolo Kelereng Keting Jenis h Draina
. Lahan ai
gi an gian Tanah Huja se
Eksistin
n
g

Bergunu >3000 Permuki


1 > 40 % Andosol 5
ng m man
Draina
<
Berbukit, Tegalan, se
2000 Alluvial, 1000
2 Bergelom 15 40 % Tanah tinggi 4
3000 m Regosol mm/t
bang kosong
ahun
Peta
Peta
Penggun
Peta Peta Peta Peta Cura SKL
No aan Nil
Morfolo Kelereng Keting Jenis h Draina
. Lahan ai
gi an gian Tanah Huja se
Eksistin
n
g

Pertanian
,
1000
Perkebun
Draina
Beromba 1000 Mediter an,
3 8 15 % 1500 se 3
k 2000 m an Pertanian
mm/t cukup
tanah
ahun
kering
semusim

1500
500 3000
4 Landai 28% Hutan 2
1000 m mm/t Draina
ahun se
> kuran
0 500 3000 Semak g
5 Datar 02% Latosol 1
m mm/t belukar
ahun
Sumber : Hasil Analisa 2016

7. Analisis Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Terhadap Erosi


Tujuan analisis SKL Terhadap Erosi adalah untuk mengetahui daerah-
daerah yang mengalami keterkikisan tanah, sehingga dapat
diketahui tingkat ketahanan lahan terhadap erosi serta antispasi
dampaknya pada daerah yang lebih hilir. Dalam analisis ini
membutuhkan masukan berupa peta morfologi, peta kemiringan
lereng, peta jenis tanah, peta hidrogeologi, peta tekstur tanah, peta
curah hujan dan peta penggunaan lahan eksisting dengan keluaran
peta SKL Terhadap Erosi dan penjelasannya. Sebelum melakukan
analisis SKL Terhadap Erosi, terlebih dahulu harus diketahui
penjelasan dari data yang terlibat dalam analisa yaitu jenis tanah.

Tabel 4.18
Penjelasan Jenis Tanah dan Sifat-Sifat yang Dibawanya dalam
Analisis SKL Terhadap Erosi
No Jenis
Sifat Nilai
. Tanah
1. Aluvial Jenis-jenis tanah yang tidak peka terhadap 5
2. Andosol erosi: 2
3. Gleisol Aluvial 5
Grumos Gleisol
4. Jenis tanah yang agak peka erosi: 2
ol
5. Latosol Latosol 4
Jenis tanah dengan kepekaan sedang:
6. Litosol 1
Non Cal
Meditera
7. Mediteran 3
n
Jenis tanah yang peka terhadap erosi:
8. Non Cal 3
Andosol
Grumosol
Jenis tanah yang sangat peka erosi:
9. Regosol Regosol 1
Litosol

Sumber: Studi Sub DAS Citarik


Sumber : Hasil Analisa Tahun 2016
Tabel 4.19
Analisis SKL Terhadap Erosi

Peta
Peta Peta Peta Peta
No Peta Pengguna Nil
Keleren Jenis Tekstur Curah SKL Erosi
. Morfologi an Lahan ai
gan Tanah Tanah Hujan
Eksisting

> 3000
Bergunun Semak
1 > 40 % Regosol mm/tahu Erosi tinggi 1
g belukar
n
Kasar (Pasir) 1500
Berbukit, Tegalan,
3000 Erosi cukup
2 Bergelom 15 40 % Andosol Tanah 2
mm/tahu tinggi
bang kosong
n

Pertanian,
1000 Perkebunan
Meditera Sedang 1500 , Pertanian
3 Berombak 8 15 % Erosi sedang 3
n (lempung) mm/tahu tanah
n kering
semusim

Halus (liat) < 1000


Permukima Erosi sangat
4 Landai 28% Latosol mm/tahu 4
n rendah
n

5 Datar 02% Alluvial Hutan Tidak ada 5


Peta
Peta Peta Peta Peta
No Peta Pengguna Nil
Keleren Jenis Tekstur Curah SKL Erosi
. Morfologi an Lahan ai
gan Tanah Tanah Hujan
Eksisting

erosi

Sumber : Hasil Analisa Tahun 2016


8. Analisis Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Pembuangan
Limbah
Tujuan analisis SKL Pembuangan Limbah adalah untuk mengetahui
mengetahui daerah-daerah yang mampu untuk ditempati sebagai
lokasi penampungan akhir dan pengeolahan limbah, baik limbah
padat maupun cair. Dalam analisis ini membutuhkan masukan
berupa peta morfologi, peta kemiringan, peta topografi, peta jenis
tanah, peta hidrogeologi, peta curah hujan dan peta penggunaan
lahan eksisting dengan keluaran peta SKL Pembuangan Limbah dan
penjelasannya. Sebelum melakukan analisis SKL Pembuangan
Limbah, terlebih dahulu harus diketahui penjelasan dari data yang
terlibat dalam analisa yaitu jenis tanah.
Tabel 4.21
Penjelasan Jenis Tanah dan Sifat-Sifat yang Dibawanya dalam
Analisis SKL Pembuangan Limbah
No Jenis
Sifat Nilai
. Tanah
1. Aluvial Dalam penilaian ini digunakan kepekaan 5
terhadap erosi dimana jenis tanah untuk
2. Andosol lokais pembuangan limbah harus tidak 2
3. Gleisol peka terhadap erosi. 5
Grumos
4. Jenis-jenis tanah yang tidak peka terhadap 2
ol
erosi:
5. Latosol 4
Aluvial
6. Litosol Gleisol 1
Meditera Jenis tanah yang agak peka erosi:
7. 3
n Latosol
8. Non Cal Jenis tanah dengan kepekaan sedang: 3
9. Regosol Non Cal 1
Mediteran
Jenis tanah yang peka terhadap erosi:
Andosol
Grumosol
Jenis tanah yang sangat peka erosi:
Regosol
Litosol
No Jenis
Sifat Nilai
. Tanah

Sumber: Citarik
Sumber : Hasil Analisa Tahun 2016
Tabel 4.22
Analisis SKL Pembuangan Limbah

Peta
Peta Peta Peta Peta SKL
N Peta Penggunaa Nil
Keleren Ketinggia Jenis Curah Pembuangan
o. Morfologi n Lahan ai
gan n Tanah Hujan Limbah
Eksisting

> 3000
Regoso
1 Bergunung > 40 % >3000 m mm/tahu Hutan 1
l
n Kemampuan
lahan untuk
Pertanian, pembuangan
1500
Berbukit, Perkebunan, limbah
2000 Andoso 3000
2 Bergelomb 15 40 % Pertanian kurang 2
3000 m l mm/tahu
ang tanah kering
n
semusim

Kemampuan
1000
lahan untuk
1000 Medite 1500
3 Berombak 8 15 % Permukiman pembuangan 3
2000 m ran mm/tahu
limbah
n
sedang

< 1000 Kemampuan


500 Semak
4 Landai 28% Latosol mm/tahu lahan untuk 4
1000 m belukar
n pembuangan
limbah cukup
5 Datar 02% 0 500 m Alluvial Tegalan, 5
tanah
Peta
Peta Peta Peta Peta SKL
N Peta Penggunaa Nil
Keleren Ketinggia Jenis Curah Pembuangan
o. Morfologi n Lahan ai
gan n Tanah Hujan Limbah
Eksisting

kosong
Sumber : Hasil Analisa Tahun 2016
9. Analisis Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Terhadap Bencana
Alam
Tujuan analisis SKL terhadap Bencana Alam adalah untuk
mengetahui tingkat kemampuan lahan dalam menerima bencana
alam khususnya dari sisi geologi, untuk menghindari/mengurangi
kerugian dari korban akibat bencana tersebut. Dalam analisis ini
membutuhkan masukan berupa peta peta morfologi, peta
kemiringan lereng, peta topografi, peta jenis tanah, peta tekstur
tanah, peta curah hujan, peta bencana alam (rawan gunung berapi
dan kerentanan gerakan tanah) dan peta penggunaan lahan
eksisting dengan keluaran peta SKL Terhadap Bencana Alam dan
penjelasannya. Analisis SKL terhadap Bencana Alam juga
mengikutsertakan analisis terhadap jenis tanah yang sama dengan
SKL Terhadap Erosi.
Tabel 4.24
Analisis SKL Terhadap Bencana Alam

Peta Peta
Peta Peta Peta Penggun Peta Peta Kerenta SKL
N Peta Nil
Kelere Ketinggi Jenis aan Curah Tekstur nan Bencana
o. Morfologi ai
ngan an Tanah Lahan Hujan Tanah Gerakan Alam
Eksisting Tanah

Tegalan, > 3000 sangat


1 Bergunung > 40 % >3000 m Regosol Tanah mm/tahu rawan 1
kosong n
Potensi
Kasar
bencana
1500 (Pasir)
Berbukit, alam tinggi
15 40 2000 Semak 3000
2 Bergelomb Andosol rawan 2
% 3000 m belukar mm/tahu
ang
n

1000
Sedang Potensi
8 15 1000 Mediter 1500 agak
3 Berombak Hutan (lempun bencana 3
% 2000 m an mm/tahu rawan
g) alam cukup
n

4 Landai 28% 500 Latosol Pertanian, < 1000 Halus Aman Potensi 4
1000 m Perkebuna mm/tahu (liat) bencana
n, n alam
Pertanian kurang
Tanah
Kering
Semusim
Peta Peta
Peta Peta Peta Penggun Peta Peta Kerenta SKL
N Peta Nil
Kelere Ketinggi Jenis aan Curah Tekstur nan Bencana
o. Morfologi ai
ngan an Tanah Lahan Hujan Tanah Gerakan Alam
Eksisting Tanah

Permukim Aman
5 Datar 02% 0 500 m Alluvial 5
an

Sumber Hasil Analisa Tahun 2016


10. Analisis Kemampuan Lahan

Analisis ini dilaksanakan untuk memperoleh gambaran tingkat


kemampuan lahan untuk dikembangkan sebagai perkotaan, sebagai
acuan bagi arahan-arahan kesesuaian lahan pada tahap analisis
berikutnya. Data-data yang dibutuhkan meliputi peta-peta hasil
analisis SKL. Keluaran dari analisis ini meliputi:
a. Peta klasifikasi kemampuan lahan untuk pengembangan kawasan
b. Kelas kemampuan lahan untuk dikembangkan sesuai fungsi
kawasan
c. Potensi dan kendala fisik pengembangan lahan

Langkah pelaksanaan:
1) Analisis satuan-satuan kemampuan lahan, untuk memperoleh
gambaran tingkat kemampuan pada masing-masing satuan
kemampuan lahan.
2) Menentukan nilai kemampuan setiap tingkatan pada masing-
masing satuan kemampuan lahan, dengan penilaian 5 (lima)
untuk nilai tertinggi dan 1 (satu) untuk nilai terendah.
3) Mengalikan nilai-nilai tersebut dengan bobot dari masing-masing
satuan kemampuan lahan. Bobot ini didasarkan pada seberapa
jauh pengaruh satuan kemampuan lahan tersebut pada
pengembangan perkotaan. Bobot yang digunakan sesuai dengan
tabel...
4) Melakukan superimpose semua satuan-satuan kemampuan lahan,
dengan cara menjumlahkan hasil perkalian nilai kali bobot dari
seluruh satuan-satuan kemampuan lahan dalam satu peta,
sehingga diperoleh kisaran nilai yang menunjukkan nilai
kemampuan lahan di wilayah perencanaan.
5) Menentukan selang nilai yang akan digunakan sebagai pembagi
kelas-kelas kemampuan lahan, sehingga diperoleh zona-zona
kemampuan lahan dengan nilai tertentu yang menunjukkan
tingkatan kemampuan lahan di wilayah perencanaan dan
digambarkan dalam satu peta klasifikasi kemampuan lahan untuk
perencanaan RDTR Petasia Barat.

Pembuatan peta nilai kemampuan lahan merupakan penjumlahan


nilai dikalikan bobot, yaitu:
1) Melakukan superimpose setiap satuan kemampuan lahan yang
telah diperoleh hasil pengalian nilai dengan bobotnya secara satu
per satu, sehingga kemudian diperoleh peta jumlah nilai dikalikan
bobot seluruh satuan secara kumulatif.
2) Membagi peta masing-masing satuan kemampuan lahan dalam
sistem grid, kemudian memasukkan nilai dikalikan bobot masing-
masing satuan kemampuan lahan ke dalam grid tersebut.
Penjumlahan nilai dikalikan bobot secara keseluruhan adalah
tetap dengan menggunakan grid, yakni menjumlahkan hasil nilai
dikalikan bobot seluruh satuan kemampuan lahan pada setiap
grid yang sama
Tabel 4.27

Tabel Pembobotan SKL

SKL
SKL SKL SKL
SKL Kemuda SKL SKL SKL SKL Kemamp
Kestabil Kestabil Pembuan
Morfolog han Ketersedi Untuk Terhadap Bencan uan
an an gan
i Dikerjak aan Air Drainase Erosi a Alam Lahan
Lereng Pondasi Limbah
an
Bobot:
Bobot: 5 Bobot: 1 Bobot: 5 Bobot: 3 Bobot: 5 Bobot: 5 Bobot: 3 Bobot: 0 Total Nilai
5
5 1 5 3 5 5 3 0 5 32
Bob
10 2 10 6 10 10 6 0 10 64
ot x
15 3 15 9 15 15 9 0 15 96
Nila
20 4 20 12 20 20 12 0 20 128
i
25 5 25 15 25 25 15 0 25 160
Dari total nilai dibuat beberapa kelas yang memperhatikan nilai
minimum dan maksimum total nilai. Dari angka di atas, nilai
minimum yang mungkin diperoleh ada;ah 32 sedangkan nilai
maksimum yang dapat diperoleh adalah 160. Dengan demikian,
pengkelasan dari total nilai ini adalah:
1) Kelas a dengan nilai 32 58
2) Kelas b dengan nilai 59 83
3) Kelas c dengan nilai 84 109
4) Kelas d dengan nilai 110 134
5) Kelas e dengan nilai 135 160
Setiap kelas lahan memiliki kemampuan yang berbeda-beda
seperti pada tabel:

Tabel 4.27
Tabel Klasifikasi
Kelas Kemampuan
Total Nilai Klasifikasi Pengemba
Lahan
32 58 Kelas a Kemampuan pengembangan sangat ren
59 83 Kelas b Kemampuan pengembangan rendah
84 109 Kelas c Kemampuan pengembangan sedang
110 134 Kelas d Kemampuan pengembangan agak tingg
135 160 Kelas e Kemampuan pengembangan sangat tin