Anda di halaman 1dari 6

TUGAS MANAJEMEN RANTAI PASOK

REKOMENDASI RANTAI PASOK SAPI POTONG

Mata Kuliah : Manajemen Rantai Pasok [e]


Program Studi : Teknik Industri
Nama Dosen : Setijadi, S.T., M.T.

Oleh :

Muhammad Syahidil Islam 0516124022


Kelas B, Reguler B2

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS WIDYATAMA
BANDUNG
2017

Muhammad Syahidil Islam / 0516124022 0


FAKULTAS : EKONOMI - BISNIS & MANAJEMEN - TEKNIK BAHASA DKV
Jl. Cikutra No. 204 A Bandung 40125 Telp. (022) 7275855

Soal:
Rekomendasi apa saja yang bisa dilakukan pemerintah pada kasus rantai pasok sapi
potong? Jelaskan

Jawab:

Pertama-tama saya akan menjelaskan terlebih dahulu mengenai peran pemerintah


dalam pengembangan rantai pasok sapi potong di Indonesia.

Pengembangan peternakan sapi potong dilakukan bersama oleh pemerintah,


masyarakat (peternak skala kecil), dan swasta. Pemerintah menetapkan aturan main,
memfasilitasi serta mengawasi aliran dan ketersediaan produk, baik jumlah maupun
mutunya agar memenuhi persyaratan halal, aman, bergizi, dan sehat. Swasta dan
masyarakat berperan dalam mewujudkan kecukupan produk peternakan melalui
kegiatan produksi, impor, pengolahan, pemasaran, dan distribusi produk sapi potong
(Bamualim, 2011).

Secara umum pengembangan suatu jenis usaha dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah
satunya adalah dukungan aturan dan kebijakan (rules and policies) pemerintah. Dalam
hal ini, kemauan pemerintah (govermental will) dan legislatif berperan penting, selain
lembaga penelitian dan perguruan tinggi (Mudikdjo dan Muladno,1999).

Tawaf dan Kuswaryan (2006) menyatakan, kebijakan pemerintah dalam pembangunan


peternakan masih bersifat top down. Kebijakan seperti ini pada akhirnya menyulitkan
berbagai pihak, terutama stakeholder. Pertanyaannya bagaimana membuat kebijakan
public yang didasarkan hasil riset dengan melibatkan stakeholder dan pembuat
kebijakan melalui forum dialog, kemudian hasilnya diagendakan sehingga dapat
digunakan dalam merumuskan kebijakan nasional, regional, dan internasional.

Muhammad Syahidil Islam / 0516124022 1


Budi daya sapi potong telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 tahun 2009
tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Kebijakan ini diatur dalam pasal 29 dan 30.

Penjelasan singkat kondisi kebutuhan daging sapi di Indonesia.

Berdasarkan data Badan Ketahanan Pangan Kementan 2010, konsumsi daging sapi
nasional sebesar 1,27 kg per kapita per tahun, Ditjen Peternakan Kementan sebesar 1,7
kg per kapita per tahun, Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia (Aspidi) 2,1 kg
per kapita per tahun dan Asosiasi Feedloter Indonesia (Apfindo) 2,09 kg per kapita per
tahun.Selanjutnya Menurut data Susenas (2002) yang dikeluarkan oleh Badan Pusat
Statistik (BPS), konsumsi daging sapi dan jeroan masyarakat Indonesia sebesar 2,14
kg/kapita/tahun.Tingginya tingkat konsumsi sapi di indonesia disebabkan oleh 1)
jumlah penduduk penduduk selalu meningkat dari tahun ke tahun dengan tingkat
pertumbuhan sebesar 1,49 % per tahun; 2) konsumsi daging per kapita mengalami
peningkatan dari waktu ke waktu sebesar 0,1 kg/kapita/tahun.

Tabel dibawah ini merupakan proyeksi kebutuhan daging sapi secara Nasional.

Data dalam tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa diperkirakan populasi sapi potong
pada tahun 2009 hanya mampu memasok 60 % dari total kebutuhan daging dalam
negeri. Kondisi seperti ini sangat mengkhawatirkan karena suatu saat akan terjadi
kondisi dimana kebutuhan daging sapi dalam negeri sangat tergantung kepada
import. Dengan demikian, ketergantungan tersebut tentu akan mempengaruhi harga
sapi lokal. Namun disisi lain dengan adanya kebutuhan akan daging yang semakin
meningkat, membuka peluang usaha dalam Agribisnis sapi potong.

Muhammad Syahidil Islam / 0516124022 2


Rekomendasi pemerintah pada kasus rantai pasok sapi potong.

Upaya pengembangan sapi potong telah lama dilakukan oleh pemerintah.


Nasoetion dalam Winarso et al. (2005) menyatakan bahwa dalam upaya
pengembangan sapi potong, pemerintah menempuh dua kebijakan, yaitu ekstensifikasi
dan intensifikasi. Pengembangan sapi potong secara ekstensifikasi menitikberatkan
pada peningkatan populasi ternak yang didukung oleh pengadaan dan peningkatan
mutu bibit, penanggulangan penyakit, penyuluhan dan pembinaan usaha, bantuan
perkreditan, pengadaan dan peningkatan mutu pakan, dan pemasaran.

Pemerintah harus menginisiasi pembangunan peternakan sapi skala industri di dalam


negeri yang mampu menghasilkan 40-50 juta sapi siap potong setiap tahunnya. Saat
ini, meskipun populasi sapi potong tercatat 12,69 juta ekor namun polemik harga
daging sapi di Tanah Air masih terus terjadi. Sebab, populasi sebanyak itu berada pada
peternak individu atau peternak rakyat yang tidak bisa sewaktu-waktu digelontorkan
ke pasar, mereka baru melepasnya ketika membutuhkan uang.

Pemerintah harus membangun peternakan sapi skala industri di dalam negeri. Dengan
demikian, populasi sapi bisa memenuhi kebutuhan nasional. dengan mengembangkan
peternakan sapi skala industri, maka populasi sapi lokal Indonesia bisa didesain dengan
produksi sebanyak 40-50 juta ekor setiap tahunnya. Untuk merealisasikannya,
pemerintah perlu membuat cetak biru pengembangan peternakan sapi skala industri
untuk jangka menengah-panjang, termasuk di dalamnya strategi pemerintah dalam
menarik investor untuk membangun peternakan berbasis industri.

Saat ini di Indonesia banyak pulau kosong yang bisa dimanfaatkan, pemerintah bisa
melakukan survei wilayah-wilayah yang layak, dan mengarahkan untuk menjadi
kawasan peternakan skala industri.

Muhammad Syahidil Islam / 0516124022 3


Pengembangan usaha ternak perlu ditunjang dengan kebijakan pemerintah yang
relevan sehingga memberikan dampak positif terhadap peningkatan kesejahteraan
petani-peternak. Kebijakan pemerintah melalui pengembangan agribisnis sapi potong
pada masyarakat diarahkan untuk mencapai swasembada daging dan mengurangi
ketergantungan terhadap import sapi potong

Menurut Rustijarno dan Sudaryanto (2006), kebijakan pengembangan ternak sapi


potong ditempuh melalui dua jalur.

1. Ekstensifikasi usaha ternak sapi potong dengan menitikberatkan pada


peningkatan populasi ternak yang didukung oleh pengadaan dan peningkatan
mutu bibit, penanggulangan penyakit dan parasit ternak, peningkatan
penyuluhan, bantuan perkreditan, pengadaan dan peningkatan mutu pakan atau
hijauan, dan pemasaran.
2. Intensifikasi atau peningkatan produksi per satuan ternak melalui penggunaan
bibit unggul, pakan ternak, dan penerapan manajemen yang baik.

Berikut ini beberapa rekomendasi yang bisa dilakukan oleh pemerintah dalam kasus
rantai pasok sapi potong adalah sebagai berikut:
a) Pemerintah daerah melakukan perlindungan terhadap wilayah-wilayah kantong
ternak, terutama dukungan kebijakan tentang tata ruang ternak serta
pengawasan terhadap alih fungsi lahan pertanian yang berfungsi sebagai
penyangga budi daya ternak.
b) Pemerintah mendukung dan berperan aktif dalam pengembangan teknologi
pakan terutama pada wilayah padat ternak, antara lain dengan memanfaatkan
limbah industri dan perkebunan. Pengembangan sapi potong di Indonesia perlu
dikembangkan dengan teknologi yang moderen. Hal ini bertujuan agar peternak
mampu bersaing dalam jaringan pemasaran dan menghasilkan swasembada
daging yang ada di Indonesia.

Muhammad Syahidil Islam / 0516124022 4


c) Untuk menjaga sumber plasma nutfah sapi potong, pemerintah harus membuat
kebijakan impor bibit atau sapi bakalan agar tidak terjadi pengurasan terhadap
ternak lokal dalam upaya memenuhi kebutuhan konsumsi daging dalam negeri.

Berikut ini salah satu contoh regulasi yang berpotensi menimbulkan masalah dalam
ranai pasok sapi potong yang berkaitan dengan peran pemerintah sebagai berikut:
Persyaratan dokumen (akta, surat jalan, surat pengantar hewan, surat izin
angkut, dll.).
Pembatasan kuota pengiriman.
Potensi kerugian:
Risiko kelangkaan di wilayah tertentu.
Risiko fluktuasi harga.
Risiko disparitas harga.
Risiko keberlanjutan
Rekomendasi:
Pengembangan sistem informasi ternak terpadu.
Dengan diterapkannya pengembangan sistem informasi ternak terpadu ini. maka
diharapkan akan mengurangi bahkan menghilangkan potensi-potensi kerugian
yang akan terjadi. Seperti resiko kelangkaan di wilayah tertentu, resiko fluktuasi
harga, risiko disparitas harga, dan risiko keberlanjutan. Maka dari itu peran
pemerintah sangatlah penting dalam mendukung dan memperbaiki sistem rantai
pasok sapi potong menjadi lebih baik sehingga kebutuhan daging sapi dalam negeri
dapat terpenuhi, tidak perlu melakukan import daging sapi dari luar, dan pada
akhirnya industri sapi potong dalam negeri dapat bersaing dengan pasar luar negeri.

Sumber informasi terkait:


(Bahan Ajar Studi_Kasus_Rantai_Pasok_Sapi_Potong_01-12-2015.pdf)
(http://supplychainindonesia.com/new/industri-penggemukan-sapi-di-indonesia/)
(http://www.ilmuternak.com)

Muhammad Syahidil Islam / 0516124022 5