Anda di halaman 1dari 12

PENGKAJIAN FISIK PADA MATA

Mata adalah organ penglihatan yang mendeteksi cahaya. Yang dilakukan mata yang
paling sederhana tak lain hanya mengetahui apakah lingkungan sekitarnya adalah terang atau
gelap. Mata yang lebih kompleks dipergunakan untuk memberikan pengertian visual. Mata
adalah suatu struktur sferis berisi cairan yang dibungkus oleh tiga lapisan. Sebagian besar
mata dilapisi oleh jaringan ikat yang protektif dan kuat di sebelah luar, sklera, yang
membentuk bagian putih mata.
Di anterior (ke arah depan), lapisan luar terdiri atas kornea transparan tempat
lewatnya berkasberkas cahaya ke interior mata. Lapisan tengah dibawah sklera adalah
koroid yang sangat berpigmen dan mengandung pembuluh-pembuluh darah untuk memberi
makan retina. Lapisan paling dalam dibawah koroid adalah retina, yang terdiri atas lapisan
yang sangat berpigmen di sebelah luar dan sebuah lapisan syaraf di dalam. Retina
mengandung sel batang dan sel kerucut, fotoreseptor yang mengubah energi cahaya menjadi
impuls syaraf.
Struktur mata manusia berfungsi utama untuk memfokuskan cahaya ke retina. Semua
komponenkomponen yang dilewati cahaya sebelum sampai ke retina mayoritas berwarna
gelap untuk meminimalisir pembentukan bayangan gelap dari cahaya. Kornea dan lensa
berguna untuk mengumpulkan cahaya yang akan difokuskan ke retina, cahaya ini akan
menyebabkan perubahan kimiawi pada sel fotosensitif di retina. Hal ini akan merangsang
impulsimpuls syaraf ini dan menjalarkannya ke otak.
Cahaya masuk ke mata dari media ekstenal seperti, udara, air, melewati kornea dan
masuk ke dalam aqueous humor. Refraksi cahaya kebanyakan terjadi di kornea dimana
terdapat pembentukan bayangan yang tepat. Aqueous humor tersebut merupakan massa yang
jernih yang menghubungkan kornea dengan lensa mata, membantu untuk mempertahankan
bentuk konveks dari kornea (penting untuk konvergensi cahaya di lensa) dan menyediakan
nutrisi untuk endothelium kornea. Iris yang berada antara lensa dan aqueous humor,
merupakan cincin berwarna dari serabut otot. Cahaya pertama kali harus melewati pusat dari
iris yaitu pupil. Ukuran pupil itu secara aktif dikendalikan oleh otot radial dan sirkular untuk
mempertahankan level yang tetap secara relatif dari cahaya yang masuk ke mata. Terlalu
banyaknya cahaya yang masuk dapat merusak retina.
Namun bila terlalu sedikit dapat menyebabkan kesulitan dalam melihat. Lensa yang
berada di belakang iris berbentuk lempeng konveks yang memfokuskan cahaya melewati
humour kedua untuk menuju ke retina. Untuk dapat melihat dengan jelas objek yang jauh,
susunan otot siliare yang teratur secara sirkular akan akan mendorong lensa dan membuatnya
lebih pipih. Tanpa otot tersebut, lensa akan tetap menjadi lebih tebal, dan berbentuk lebih
konveks. Manusia secara perlahan akan kehilangan fleksibilitas karena usia, yang dapat
mengakibatkan kesulitan untuk memfokuskan objek yang dekat yang disebut juga presbiopi.
Ada beberapa gangguan refraksi lainnya yang mempengaruhi bantuk kornea dan lensa atau
bola mata, yaitu miopi, hipermetropi dan astigmatisma.
Selain lensa, terdapat humor kedua yaitu vitreous humor yang semua bagiannya
dikelilingi oleh lensa, badan siliar, ligamentum suspensorium dan retina. Dia membiarkan
cahaya lewat tanpa refraksi dan membantu mempertahankan bentuk mata. Bola mata
terbenam dalam corpus adiposum orbitae, namun terpisah darinya oleh selubung fascia bola
mata. Bola mata terdiri atas tiga lapisan dari luar ke dalam, yaitu :

1. Tunica Fibrosa
Tunica fibrosa terdiri atas bagian posterior yang opaque atau sklera dan bagian
anterior yang transparan atau kornea. Sklera merupakan jaringan ikat padat fibrosa
dan tampak putih. Daerah ini relatif lemah dan dapat menonjol ke dalam bola mata
oleh perbesaran cavum subarachnoidea yang mengelilingi nervus opticus. Jika
tekanan intraokular meningkat, lamina fibrosa akan menonjol ke luar yang
menyebabkan discus menjadi cekung bila dilihat melalui oftalmoskop.

Sklera juga ditembus oleh n. ciliaris dan pembuluh balik yang terkait yaitu
vv.vorticosae. Sklera langsung tersambung dengan kornea di depannya pada batas
limbus. Kornea yang transparan, mempunyai fungsi utama merefraksikan cahaya
yang masuk ke mata. Tersusun atas lapisan-lapisan berikut ini dari luar ke dalam sama
dengan: (1) epitel kornea (epithelium anterius) yang bersambung dengan epitel
konjungtiva. (2) substansia propria, terdiri atas jaringan ikat transparan. (3) lamina
limitans posterior dan (4) endothel (epithelium posterius) yang berhubungan dengan
aqueous humour.

2. Lamina vasculosa
Dari belakang ke depan disusun oleh sama dengan : (1) choroidea (terdiri atas lapis
luar berpigmen dan lapis dalam yang sangat vaskular) (2) corpus ciliare (ke belakang
bersambung dengan choroidea dan ke anterior terletak di belakang tepi perifer iris)
terdiri atas corona ciliaris, procesus ciliaris dan musculus ciliaris (3) iris (adalah
diafragma berpigmen yang tipis dan kontraktil dengan lubang di pusatnya yaitu pupil)
iris membagi ruang diantara lensa dan kornea menjadi camera anterior dan posterior,
serat-serat otot iris bersifat involunter dan terdiri atas serat-serat sirkuler dan radier.

3. Tunica sensoria (retina)


Retina terdiri atas pars pigmentosa luar dan pars nervosa di dalamnya. Permukaan
luarnya melekat pada choroidea dan permukaan dalamnya berkontak dengan corpus
vitreum. Tiga perempat posterior retina merupakan organ reseptornya. Ujung anterior
membentuk cincin berombak, yaitu ora serrata, di tempat inilah jaringan syaraf
berakhir. Bagian anterior retina bersifat non-reseptif dan hanya terdiri atas sel-sel
pigmen dengan lapisan epitel silindris di bawahnya. Bagian anterior retina ini
menutupi procesus ciliaris dan bagian belakang iris.
Di pusat bagian posterior retina terdapat daerah lonjong kekuningan, macula lutea,
merupakan daerah retina untuk penglihatan paling jelas. Bagian tengahnya berlekuk
disebut fovea sentralis.
Nervus opticus meninggalkan retina lebih kurang 3 mm medial dari macula lutea
melalui discus nervus optici. Discus nervus optici agak berlekuk di pusatnya yaitu
tempat dimana ditembus oleh a. centralis retinae. Pada discus ini sama sekali tidak
ditemui coni dan bacili, sehingga tidak peka terhadap cahaya dan disebut sebagai
bintik buta. Pada pengamatan dengan oftalmoskop, bintik buta ini tampak berwarna
merah muda pucat, jauh lebih pucat dari retina di sekitarnya.
BAB II
Organ mata manusia

2.1 Organ luar :


Bulu mata
Alis mata
Kelopak mata

2.2 Organ dalam :


Bagian-bagian pada organ mata bekerjasama mengantarkan cahaya dari sumbernya
menuju ke otak untuk dapat dicerna oleh sistem saraf manusia. Bagian-bagian tersebut
adalah:
2.2.1 Kornea Merupakan bagian terluar dari bola mata yang menerima cahaya dari sumber
cahaya.
2.2.2 Pupil dan Iris = Dari kornea, cahaya akan diteruskan ke pupil. Pupil menentukan
kuantitas cahaya yang masuk ke bagian mata yang lebih dalam. Pupil mata akan melebar jika
kondisi ruangan yang gelap, dan akan menyempit jika kondisi ruangan terang. Lebar pupil
dipengaruhi oleh iris di sekelilingnya.Iris berfungsi sebagai diafragma. Iris inilah terlihat
sebagai bagian yang berwarna pada mata.
2.2.3 Lensa mata Lensa mata menerima cahaya dari pupil dan meneruskannya pada retina.
Fungsi lensa mata adalah mengatur fokus cahaya, sehingga cahaya jatuh tepat pada bintik
kuning retina. Untuk melihat objek yang jauh (cahaya datang dari jauh), lensa mata akan
menipis. Sedangkan untuk melihat objek yang dekat (cahaya datang dari dekat), lensa mata
akan menebal.
2.2.4 Retina adalah bagian mata yang paling peka terhadap cahaya, khususnya bagian retina
yang disebut bintik kuning. Setelah retina, cahaya diteruskan ke saraf optik.
2.2.5 Saraf optik = Saraf yang memasuki sel tali dan kerucut dalam retina, untuk menuju ke
otak.
2.2.6 Miopi = yakni seseorang yang tidak dapat melihat benda yang berjarak jauh. Biasanya
terjadi pada pelajar.
2.2.7 Hipermetropi yaitu seseroang yang tidak dapat melihat benda yang berjarak dekat dari
mata.
2.2.8 Presbiopi adalah seseorang yang tidak dapat melihat benda yang berjarak dekat maupun
berjarak jauh. Biasa terjadi pada lansia.
2.2.9 Kerabunan dan kebutaan
Buta berarti seseorang tidak dapat melihat benda apapun sama sekali. Buta bisa saja
diakibatkan keturunan, maupun kecelakaan. Rabun berarti seseorang hanya dapat melihat
dengan samar-samar. Orang-orang yang buta maupun rabun biasanya "membaca" dengan
jari-jarinya. Ini disebut huruf Braille.
2.2.10 Buta warna adalah suatu kondisi dimana seseorang sama sekali tidak dapat
membedakan warna. Yang dapat dilihat hanyalah warna hitam, abu-abu, dan putih. Buta
warna biasanya merupakan penyakit turunan. Artinya jika seseorang buta warna, hampir pasti
anaknya juga buta warna.
2.2.11 Katarak adalah suatu penyakit mata di mana lensa mata menjadi buram dan terjadi
pada orang lanjut usia (lansia).

Deteksi penyakit melalui kelainan mata

Penyakit lain juga dapat dideteksi melalui mata dengan tanda-tanda sebagai berikut.
Mata menonjol dapat berarti kelainan kelenjar gondok, kanker darah, tumor yang berasal dari
organ lain seperti paru, payudara, kelenjar getah bening. Kadang-kadang disertai engan
gangguan pergerakan bola mata sehingga penderita mengeluh berpenglihatan ganda.
Kelainan kelopak mata:
o Kelopak mata menurun (kelainan saraf, usia tua, atau kencing manis).
o Kelopak mata tidak bisa menutup rapat (kelainan kelenjar gondok, kelainan saraf atau
tumor).
o Kelopak mata bengkak (ginjal, jantung, alergi, dan sinusitis).
o Kelopak mata tidak dapat berkedip (lepra).
o Kelopak mata berkedip secara berlebihan (kelainan saraf/ otak).
Mata juling (gangguan saraf/otak, stroke, kencing manis, tumor, dan gondok)
Mata merah
o tanpa nyeri (cacingan, TBC, alergi ringan karena debu atau makanan, alergi berat karena
obat, tiroid, HIV/AIDS, tumor)
o dengan nyeri hebat (rematik, sifilis, sarkoidosis, lupus (penyakit), kencing manis (kadang
kadang mata nyeri saat dibuka diwaktu bangun)
o disertai dengan kornea yang kering dan penebalan selaput lendir (kekurangan vitamin A).
Lingkaran putih disekeliling kornea pada usia muda (tingginya kolesterol).
Katarak pada usia dini (dibawah usia 61 tahun) menandakan kencing manis. Ibu hamil yang
selama masa kehamilan terinfeksi campak juga dapat menyebabkan anaknya lahir dengan
katarak.
BAB III
Seluk Beluk Pemeriksaan Mata

Dalam pemeriksaan mata, akan dimulai dengan anamnesa kepada pasien. Dalam
wawancara ini pasien akan ditanyakan mengenai keluhannya, riwayat penyakit kini, penyakit
dahulu, dan penyakit keluarga. Dengan anamnesa dan kerja sama yang baik, maka akan
sangat membantu dalam pembuatan diagnosa.
Kelengkapan dan keluasaan pengkajian mata bergantung pada informasi yang
diperlukan. Secara umum tujuan pengkajian mata adalah mengetahui bentuk dan fungsi mata.
Sebelum melakukan pengkajian, perawat harus menyakinkan tentang tesedianya sumber
penerangan/lampu yang baik dan ruang gelap untuk tujuan tertentu. Pasien harus diberi tahu
sebelumnya sehingga ia dapat bekerja sama. Untuk mempermudah pengkajian, perawat dapat
berdiri atau duduk di hadapan pasien.

Dalam setiap pengkajian, selalu ingat bahwa normalnya mata berbentuk bulat/sferik.
Dalam pengkajian mata, inpeksi merupakan teknik yang paling penting yang dilakukan
sebelum palpasi. Peralatan yang perlu dipersiapkan bergantung pada tujuan pengkajian yang
dilakukan. Secara umum dapat di persiapkan Oftalmoskop dan Penutup mata.

INPEKSI

Dalam inpeksi, bagian-bagian mata yang perlu di amati adalah bola mata, kelopak
mata, konjungtiva, sclera, dan pupil.

Cara inpeksi mata


1. Amati bola mata terhadap adanya protrusi, gerakan mata, lapang pandang, dan visus

2. Amati kelopak mata, perhatikan bentuk dan setiap kelainan dengan cara sebagai
berikut :
a. Anjurkan pasien melihat ke depan
b. Bandingkan mata kanan dan mata kiri
c. Anjurkan pasien menutup kedua mata
d. Amati bentuk dan keadaan kulit pada kelopak mata, serta pada bagian pinggir
Kelopak mata, catat setiap ada kelainan, misalnya adanya kemerah-merahan.
e. Amati pertumbuhan rambut pada kelopak mata terkait dengan ada/tidaknya bulu mata, dan
posisi bulu mata.
f. Perhatikan keluasaan mata atas, atau dalam membuka atau sewaktu mata membuka (ptosis)
3. Amati konjungtiva dan sclera dengan cara sebagai berikut

a. Anjurkan pasien untuk melihat lurus ke depan


b. Amati konjungtiva untuk mengetahui ada/tidaknya kemerah-merahan , keadaan
vaskularisasi, serta lokasinya.
c. Tarik kelopak mata bagian bawah ke bawah dengan mengunakan ibu jari
d. Amati keadaan konjungtiva dan kantong konjungtiva bagian bawah, catat bila didapatkan
infeksi atau pus atau bila warnanya tidak normal, misalnya anemic.
e. Bila diperlukan, amati konjungtiva bagian atas, yaitu dengan cara membuk/membalik
kelopak mata atas dengan perawat berdiri di belakang pasien
f. Amati warna sklera saat memriksa konjungtiva yang pada keadaan tertentu warnanya dapat
menjadi ikterik.

4. Amati warna iris serta ukuran dan bentuk pupil . kemudian lanjutkan dengan
mengevaluasi reaksi pupil terhadap cahaya. Normalnya bentuk pupil adalah sama
besar (isokor). Pupil yang mengecil disebut miosis, amat kecil disebut pinpoint,
sedangkan pupil yang melebar/dilatasi disebut midriasis.
Cara inpeksi gerakan mata
a. Anjurkan pasien untuk melihat lurus kedepan
b. Amati apakah kedua mata tetap diam atau bergerak secar spontan (nistagmus) yaitu
gerakan ritmis bola mata, mula-mula lambat bergerak ke satu arah, kemudian dengna cepat
kembali keposisi semula.
c. Bila ditemukan adany nistagmus, amati bentuk, frekuensi (cepat atau lambat), amplitude
(luas/sempit), dan durasi nya (hari.minggu).
d. Amati apakah kedua mata memandang lurus ke depan ata salah satu mengalami deviasi
e. Luruskan jari telunjuk anda dan dekatkan dengan jarak sekitar 15-30 cm.
f. Beri tahu pasien untuk mengikuti gerakan jari anda dan pertahankan posisi kepala pasien.
Gerakkan jari anda kedelapan arah untukk mengetahui fungsi 6 otot mata

Cara inpeksi lapang pandang

a. Berdiri di depan pasien


b. Kaji kedua mata secara terpisah yaitu dengan cara menutup mata yang tidak diperiksa
c. Beri tahu pasien untuk melihat lurus kedepan dan menfokuskan pada satu titik pandang,,
misalnya hidung anda
d. Gerakan jari anda pada suatu garis vertical/dari samping, dekatkan ke mata pasien secara
perlahan lahan
e. Anjurkan pasien untuk memberi tahu sewaktu mulai melihat jari anda
f. Keji mata sebelahnya.

Pemeriksaan visus
a. Siapkan kartu Snellen atau kartu yang lain untuk pasien dewsa atau kartu gambar untuk
anak-anak.
b. Atur kursi tempat duduk pasien dengan jarak 5 atau 6 m dari kartu Snellen .
c. Atur penerangan yang memadai sehingga kartu dapat di baca dengan jelas.
d. Beri tahu pasien untuk menutup mata kiri dengan satu tangann.
e. Pemeriksaan mata kanan dilakukan dengan cara pasien disuruh membaca mulai dari huruf
yang paling besar menuju huruf yang kecil dan catat tulisan terkhir yang masih dapat dibaca
oleh pasien .
f. Selanjutnya lakukan pemeriksaan mata kiri.

Kartu Snellen di buat sedemikian rupa sehingga huruf tertentu yang dibaca dengan
pusat optic mata (nodal point) membentuk sudut sebesar 50 untuk jarak tertentu. Hasil
pemeriksaan visus ditulis secara terpisah antara mata kanan (OD) dan mata kiri (OS) yang
dinyatakan dengan pembilang/penyebut. Pembilang menyatakan jarak antara kartu Snellen
dengan mata, sedangkan penyebut menyatakan jarak suatu huruf tetentu harus dapat dilihat
oleh mata yang normal.

PALPASI

Palapasi pada mata dikerjakan dengan tujuan untuk mengetahui takanan bola mata
dan mengetahui adnya nyeri tekan. Untuk mengukur tekanan bola mata secara lebih teliti
diperlukan alat Tonometri yang memerlukan keahlian khusus.
Cara palpasi untuk mengetahui tekanan bola mata
1. Beri tahu pasien untuk duduk
2. Anjurkan pasien untuk memejamkan mata
3. Lakukan palpasi pada kedua mata. Bila tekanan bola mata meninggi, mata teraba keras.

Pengkajian tingkat mahir (pengkajian funduskopi)


Pengkajian mata tingkat mahir (funduskopi) dilakukan paling akhir. Pengkajian ini
dikerjakan untuk mengetahui susunan retina dengan mengunakan alat oftalmoskop. Untuk
dapat melakukan hal ini, diperlukan pengetahuan anatomi dan fisiologi mata yang memadai
serta keterampilan khusus dalam mengunakan alat

Cara kerja pengkajian Funduskopi


1. Atur posisi pasien duduk dikursi
2. Beri tahu pasien tentang tindakan yang akan dilakukan
3. Teteskan 1-2 tetes obat yang dapat melebarkan pupil dalam jangka pendek, misalnya
Tropikamid (bila tidak ada kontradiksi)
4. Atur cahaya ruangan agak redup
5. Duduk dikursi dihadapan pasien
6. Beri tahu pasien untuk melihat secara tetap pada titik tertentu dan anjurkan untuk tetap
mempertahankan sudut pandangnya tanpa berkedip.
7. Bila pasien atau anda memakai kacamata, hendaknya dlepas dahulu.
8. Pegang Oftalmoskop, atur lensa pada angka 0, nyalakan dan arahkan pada pupil mata dari
jarak sekitar 30 cm sampai anda temukan red reflex yang merupakan cahaya pancaran dari
retina. Bila letak oftalmoskop tidak tepat, reed reflex tidak akan muncul. Red reflex juga
tidak muncul pada berbagai gangguan, misalnya katarak.
9. Bila red reflex sudah ditemukan, dekatkan oftalmoskop secara perlahan kemata pasien.
Bila pasien myopia, atur control kearah negative (merah). Bila pasien hipertropia, atur control
ke arah positif (hitam).
10. Amati fundus secara sistematis yang di awali dengan mengamati pembuluh darah besar.
Catat bila ditemukan kelainan. Lanjutkan pengamatan dengan membandingkan ukuran arteri
dan vena yang normalnya mempunyai perbandingan 4:5. Kemudian amati warna macula
yang normalnya tampak lebih terang daripada retina. Berikutnya amati warna, batas, dan
pigmentasi dan diskus optikus. Normalnya diskus optikus berbentuk melingkar, berwarna
merah muda agak kuning, batas terang dan tetap dengan jumlah pigmen yang bervariasi. Lalu
amati warna retina, kemungkinan ada pendarahan, dan setiap ada kelainan.
11. Bandingkan mata kanan dan kiri.
12. Catat hasil pengkajian dengan jelas
13. Setelah pengkajian selesai, teteskan Pilokarpin 2% untuk menetralisasi dilatasi pada mata
yang di amati (pada pasien yang ditetesi Tropikamid)
14. Tunggu/pastikan pasien dapat melihat sepeti semula.

Pemeriksaan Tajam Penglihatan

Ini biasa dilakukan ketika Anda datang dengan keluhan, penglihatan memburam atau
perkiraan mata menjadi minus atau plus. Biasanya Anda akan diminta duduk dalam sebuah
kursi dan di hadapan Anda diberikan papan tulisan huruf (papan Snellen) atau angka sekitar 5
atau 6 meter di depan.

Anda akan diminta untuk membaca tulisan dari atas (terbesar) hingga tulisan
terbawah yang bisa Anda baca. Masing-masing tulisan memiliki nilai visus atau ketajaman
mata. Misalnya bila Anda bisa membaca tulisan teratas, maka ketajaman mata Anda adalah
6/60 (enam perenam puluh). Pemeriksaan dilanjutkan hingga tulisan terkecil yang dapat Anda
baca. Setelah diketahui nilai visus, Anda biasanya akan diberikan kacamata periksa, dimana
lensanya dapat digonta-ganti. Tujuannya adalah agar mata Anda dapat dengan baik membaca
tulisan terbawah dalam papan Snellen dengan visus 6/6. Ketajaman 6/6 adalah ketajaman
terbaik.

Bila visus mata sangat buruk, atau tulisan terbesar pun tak terbaca, biasanya
pemeriksa akan melakukan dengan memperagakan jumlah jari pada 1 meter di hadapan
Anda. Anda harus menghitung jumlah jarinya. Bila tidak terlihat, maka akan dilakukan
dengan lambaian tangan. Bila bahkan lambaian tak terlihat, maka dilakukan uji dengan
cahaya senter. Bila cahaya pun tak terlihat, maka mata mungkin mengalami kebutaan.
Pemeriksaan ini memang sangat subjektif (tergantung dari persepsi Anda sendiri). Namun,
kini sudah ada pemeriksaan yang lebih objektif yaitu dengan pemeriksaan komputer, yang
jelas sangat cepat, dibandingkan dengan menggunakan papan Snellen.

Pemeriksaan Posisi Bola dan Otot Mata

Posisi bola mata penting untuk pemeriksaan, apakah ada perubahan posisi mata,
apakah terdapat kejulingan mata. Dokter akan melakukan inspeksi (pemeriksaan dengan
mengamati) bola mata dan ia akan meminta Anda untuk menggerakkan bola mata, ke delapan
arah mata angin. Bila ada masalah pada otot atau juling, biasanya akan terlihat pada
pemeriksaan mata ini.

Pemeriksaan Kelopak Mata

Kelopak mata akan diperiksa bila terjadi trauma atau luka pada kelopak atau
terjadinya mata merah. Kelopak akan diamati apakah ada luka atau kemerahan karena
pembesaran pembuluh darah atau berdarah.

Pemeriksaan Bagian Mata Depan

Pemeriksaan ini untuk melihat beberapa keadaan di mata depan yaitu bagian kornea,
konjungtiva, iris, pupil, sklera, dan lensa. Pada pemeriksaan kornea, biasanya dokter ingin
mengetahui apakah ada luka pada kornea. Dokter akan melakukan tes floresensi. Pasien akan
diberikan obat floresen, kemudian dibilas dengan air suling, dan dilihat dengan lampu kobalt
biru. Bila ada luka, maka akan terlihat cahaya berpendar. Tes ini dilakukan bila terjadi luka
pada bola mata.

Namun saat ini pemeriksaan juga dibantu dengan alat slit lamp, yang lebih
mempermudah pemeriksaan bagian mata depan. Yang sering pula adalah pemeriksaan lensa.
Lensa diamati dan dilihat apakah terjadi kekeruhan, seperti yang sering terjadi pada penderita
katarak.
Pemeriksaan Bagian Mata Belakang

Pemeriksaan ini untuk mengamati bagian mata belakang dan dalam seperti retina dan
pembuluh darah mata. Dokter menggunakan alat yang disebut oftalmoskop. Biasanya pasien
akan ditetesi obat (obat midriatikum) untuk memperbesar pupil sehingga dapat
mempermudah pemeriksaan.

Pemeriksaan Tekanan Bola Mata

Ini dilakukan bila pasien diduga menderita glaukoma atau perubahan tekanan bola
mata lainnya. Pasien diminta berbaring dan diberikan obat bius lokal pada mata. Dokter akan
menggunakan alat yang disebut tonometri Schiotz. Alat ini diletakkan di atas kornea mata dan
dapat didapati angka tekanan bola matanya.

Pemeriksaan Lainnya

Ada banyak pemeriksaan penunjang lainnya pada mata seperti keratoskope ( bentuk
kornea), tes buta warna (Ishihara), Eksoptalmometer dari Hertel, Optalmodinamometer
( pengukur tekanan arteri di retina), x-ray : Foto orbita, Comberg tes, FFA (Flourecein Fundus
angiografi), USG, CT scan, MRI, elektroretinografi, metaloloketer, Visual Evoked Potensial
untuk menilai transmisi impuls dari rerina sampai korteks oksipital.

DAFTAR ISI

Robert Priharjo,(2002).Pengkajian Fisik Keperawatan.EGC


http://www.dua.yolasite.com/artikel blog
http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Menschliches_auge.jpg - file
http://www.mentorhealthcare.com/news.php?nID=83&action=detail
http://optiknisna.info/snellen-chart-dan-optotip-murahan-tidak-bisa-diandalkan.html